• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP KONSUMEN TERHADAP BARANG-BARANG GRAY MARKET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIKAP KONSUMEN TERHADAP BARANG-BARANG GRAY MARKET"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

YUSUF DWI PRAKOSA 20130410489

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(2)

SIKAP KONSUMEN TERHADAP BARANG-BARANG GRAY

MARKET

ATTITUDE CONSUMERS ON GOODS GRAY MARKET

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh

Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh

YUSUF DWI PRAKOSA 20130410489

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(3)

iv

PERNYATAAN

Dengan ini saya,

Nama : Yusuf Dwi Prakosa Nomor Masiswa : 20130410489

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul: “SIKAP KONSUMEN TERHADAP BARANG-BARANG GRAY MARKET” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.

Yogyakarta, 20 April 2017 Materai, 6.000,-

(4)

v

Motto

”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh

Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut

menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga...”

(Nabi Muhammad SAW)

”…Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak

dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

(QS. Al-A’raaf : 179)

“Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku. Kalau dalam perjalanan bertemu kegagalan dan masalah berarti harus belajar lagi dan coba lagi. Terus berulang kali sampai berhasil InsyaAllah. Setiap hari adalah hari yang menyenangkan bagiku. Hari

dimana aku bisa belajar dari setiap orang yang aku temui, belajar mengenai apa arti hidup ini dan belajar untuk terus memperbaiki diri untuk menjadi hamba Allah SWT

(5)

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya tulis ini aku persembahkan untuk Ayah yang telah mengajarkanku cara

berinteraksi dan memafkan orang lain, untuk Ibu yang mengajarkan apa itu arti

ketegaran dan keikhlasan, untuk Kakak yang menjadi sahabat dan pembimbing

dalam perjuangan hijrah yang saya lewati, untuk Adek yang mengajarkanku arti

memberi dan berdiskusi, untuk semua keluarga dan sahabat yang tidak bisa saya

sebut satu-persatu.

Terimakasih untuk dukungan, semangat dan do’a yang selalu kalian berikan selama ini. Terimakasih telah memberikan kepercayaan penuh untuk menjadi

manusia yang lebih baik dan menjadi kebanggaan keluarga. Ucapan terima kasih

takkan pernah cukup untuk membalas kebaikan keluarga dan sahabat. Aku akan terus

berusaha mewujudkan harapan dari keluarga dan sahabat meski berat insyaAllah

dengan semangat dan do’a yang kalian berikan semua yang berat akan menjadi lebih mudah. Walaupun ribuan gunung dan ratusan jalan harus dilewati untuk mencapai

tujuan dan impian. Aku akan terus berjuang untuk membuat keluarga dan sahabatku

bahagia. Hanya sebuah karya sederhana dan untaian kata-kata ini yang dapat

(6)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telat memberikan karunia, kemudahan dan rahmat dalam penulisan skripsi dengan judul “Sikap Konsumen terhadap

Barang-Barang Gray Market”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Peneliti

mengambil tema ini dengan harapan dapat meberikan masukan positif bagi

perusahaan terkait sikap konsumen terhadap barang-barang gray market dan

memberikan ide pengembangan bagi penelitian selanjutnya.

Penyelesaian penyusunan skripsi ini tidak mungkin terlepas dari bimbingan

dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis

mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:

1. Bapak Dr. Nano Prawoto, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah meberikan buku

bimbingan, petunjuk, dan kemudahan selama peneliti menyelesaikan skripsi.

2. Bapak Misbahul Anwar, S.E., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang

telah memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran dan rela meluangkan

waktu untuk memberikan arahan selama proses penyusunan skripsi hingga

terselesaikannya karya tulis ini.

3. Segenap dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu

(7)

x

4. Teman-teman Prodi Manajemen angkatan 2013 satu perjuangan yang sering

menjadi tempat peneliti berdiskusi terkait penulisan skripsi dan khususnya

telah sangat membantu mengajari dalam program AMOS.

5. Para sahabat-sahabat khususnya Ilham, Rahmad, Bambang, Jepri, Arias,

Agam, dan Ivan yang telah meberikan semangat untuk segera menyelesaikan

skripsi.

6. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan segenap keluarga yang tidak bisa kami sebut

satu-persatu yang telah banyak membantu serta memberikan motivasi sebagai

pelecut untuk segera menyelesaikan karya tulis ini.

7. Semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu yang telah

memberikan dukungan, bantuan, kemudahan dan semangat didalam proses

penyelesaian karya tulis ini.

Peneliti mengucapkan banyak sekali terimakasih semoga karya tulis ini

dapat bermanfaat dan digunakan dengan baik. Semoga smuaa kebaikan yang telah

dilakukan memperoleh pahala dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta, 20 April 2017

(8)

xi

3. Inferensi kualitas berdasarkan harga (price-quality inference) ...11

4. Kecenderungan menghindari risiko ( risk averseness)…...12

(9)

xii

B. Hasil Penelitian Terdahulu ………...……....…...15

C. Hipotesis ………..………...17

D. Model Penelitian ………...…...…...26

BAB III METODE PENELITIAN ………...………...…..29 A. Subjek dan Objek Penelitian...………..……...….….…...29

B. Jenis Data ……….……….…...….30

C. Teknik Pengambilan Sampel ………...30

D. Teknik Pengumpulan Data ………..…....………...…32

E. Definisi Operasional Variabel ………...….34

F. Uji Kualitas Instrumen ………...37

G. Analisis Data dan Uji Hipotesis ……....……….………...….39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………...44

A. Gambaran Umum Objek dan Subjek Penelitian ………..……...44

B. Uji Kualitas Instrumen ………...………..58

C. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis) ……….………....………...61

D. Pembahasan (Interpretasi)………..………... 79

BAB V SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN …...92

A. Simpulan…….………92

B. Saran……….………..93

C. Keterbatasan Penelitian……….………....94

DAFTAR PUSTAKA……….…...95

(10)

xiii

DAFTAR TABEL

3.1. Bobot Penilaian ...…….……….…….33

4.1. Hasil Pengumpulan Data …...………52

4.2. Sampel Penelitian ……...………..…………...…..…54

4.3. Diskripsi Kareteristik Responden...………...……...…….…55

4.4. Hasil Uji Validitas ...………...………....59

4.5. Hasil Uji Reliabilitas……....………..……....………..…61

4.6. Hasil Uji Normalitas …………..………...………...64

4.7. Hasil Uji Outlier... …………..……..………...………...65

4.8. Regression Weight……...67

4.9. Standardized Direct Effects......…69

4.10. Standardized Indirect Effects...70

4.11. Computation of degrees of freedom ...………...72

4.12. Result...……...…...…...………...72

4.13. Pengujian Hubungan Antar Indikator dan Variabel ......…...73

4.14. Hasil Uji Goodness Of Fit Indeks...……...………..76

4.15. Variance.......……...…...….………77

(11)

xiv

DAFTAR GAMBAR

2.1. Model Penelitian Huang untuk menjadi dasar model penelitian barang-barang

gray market..…...27

2.2. Model penelitian yang di gunakan untuk penelitian barang-barang gray market...28

4.1. Diagram alur masuknya barang-barang gray market ………...…………....50

4.2. Jenis Kelamin ..…...…………....56

4.3. Usia ………...……....57

4.4. Fakultas ……...………...57

4.5. Diagram Jalur …………...………....62

4.6. Model Hipotesis..………...………....66

4.7. Output Model diagram awal…...……...…...76

(12)
(13)
(14)

vii

INTISARI

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kesadaran harga, inferensi kualitas berdasarkan harga, kecenderungan menghindari risiko terhadap sikap dan niat beli pada barang-barang gray market. Sampel penelitian adalah mahasiswa 8 Universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengetahui perbedaan antara barang-barang gray market dengan yang bukan barang-barang gray market. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan membagikan kuesioner kepada 160 responden yang ditentukan dengan menggunakan metode non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Alat analisis menggunakan Structural Equation Modeling dengan programAMOS 22.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kesadaran harga berpengaruh positif signifikan terhadap sikap. Inferensi kualitas berdasarkan harga berpengaruh negatif signifikan terhadap sikap. Kecenderungan menghindari risiko berpengaruh negatif signifikan terhadap sikap. Sikap berpengaruh positif signifikan terhadap niat beli. Kesadaran harga mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap niat beli. Inferensi kualitas berdasarkan harga tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat beli. Kecenderungan menghindari risiko tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat beli. Kesadaran harga mempunyai pengaruh secara positif signifikan terhadap niat beli melalui sikap. Inferensi kualitas berdasarkan harga tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat beli melalui sikap. Kecenderungan menghindari risiko tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat beli melalui sikap.

(15)

viii

who know the differences between goods gray market with those who are not goods gray market. The kind of research this is research survey by distributing the questionnaire to 160 respondents determined by using a method of non probability of sampling with a kind of purposive sampling. Instrument analysis using Structural Equation Modeling with the program AMOS 22 .

Price consciousness has a significant positive effect on attitude. Price-quality inference has a significant negative effect on attitude. Risk averseness has a significant negative effect on attitude. Attitude have a significant positive effect on purchase intentions. Price consciousness has a significant positive effect on purchase intentions. Price-quality inference has no significant effect on purchase intention. Risk averseness has no significant effect on purchasing intentions. Price consciousness has a significant positive effect on purchase intentions through attitude. Price-quality inference has no significant effect on purchase intentions through attitude. Risk averseness has no significant effect on purchase intentions through attitudes.

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Masuknya barang-barang gray market ke suatu negara terutama barang

elektronik ponsel pintar telah merebak dan menjadi suatu fenomena dunia.

Belanja atau membeli barang gray market merupakan suatu fenomena perilaku

konsumen yang juga terjadi di Indonesia. Banyak diantara mereka menganggap

bahwa membeli produk gray market adalah hal yang wajar dan bukan merupakan

hal yang merugikan perusahaan. Seiring berlangsungnya globalisasi dan kemajuan

teknologi, proses masuknya barang gray market ke suatu negara semakin mudah

untuk dilakukan, sehingga peredaran barang-barang gray market pada era

globalisasi dan era kemajuan teknologi saat ini semakin meningkat dan menjadi

permasalahan yang sangat penting bagi pihak produsen.

Kemajuan teknologi terutama dalam bidang distribusi tidak digunakan

untuk mengembangkan ide-ide dan menciptakan strategi baru yang inovatif,

melainkan disalahgunakan untuk mengejar keuntungan instan dengan memasukan

barang-barang gray market ke Indonesia. Konsumen biasanya juga tidak

menyadari bahwa sebenarnya membeli dan menggunakan barang-barang gray

market memiliki dampak dan akibat yang sangat serius baik ditinjau dari sudut

pandang ekonomi maupun sudut pandang pemakai produk. Dilihat dari bidang

(17)

kerugian pengusaha dari sisi penghasilan. Dari sisi konsumen, merugikan

konsumen karena tidak memiliki garansi resmi.

Salah satu kategori barang yang menjadi sasaran gray market belakangan ini

adalah handphone terutama ponsel pintar. Seiring perkembangan teknologi yang

sangat pesat, membuat animo masyarakat terhadap handphone ponsel pintar

semakin hari kian meningkat tajam. Bila dulunya ponsel pintar masuk dalam

daftar produk mewah yang dijual di pasaran dengan harga mahal, beberapa tahun

terakhir ini angka permintaan ponsel pintar di Indonesia cenderung meningkat

seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat terutama di beberapa kota

besar. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara

mengungkapkan sepanjang 2014, pembelian gadget atau ponsel pintar di

Indonesia menembus angka 3,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 40 triliun. Jika

digabung dengan transaksi pasar gelap (black market), nominal pembelian ponsel

pintar bahkan mencapai 4 triliun dolar AS (Republika, 2016).

Hal tersebut sesuai dengan kasus penjualan iPhone yang di ungkapkan oleh

Kotabe dan Halsen (2010) yaitu dalam beberapa jam peluncuran iPhone di tahun

2008, internet langsung dibanjiri dengan penawaran iPhone unlocked yang akan

bekerja dengan SIM apapun. Apple memiliki tujuan untuk menjual 10 juta iPhone

pada akhir 2008. Berdasarkan target penjualan iPhone sebanyak 10 juta dapat

diperhitungkan hilangnya pangsa penjualan dari iPhone resmi yang diakibatkan

penjulan gray market yang mengakibatkan hingga $ 500 juta pendapatan yang

(18)

3

bahwa seperempat dari 5 juta iPhone terjual sampai saat ini telah melalui gray

market empat kali dari jumlah resmi dijual di Eropa.

Faktor diatas merupakan faktor yang membuat banyak orang tertarik untuk

melakuan perdagangan ponsel pintar ini melawati jalur yang tidak resmi yaitu

jalur gray market. Berdasarkan data terkait pemalsuan produk baik di dunia

maupun yang terjadi di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa beberapa tahun

terakhir pertumbuhan produk-produk counterfeit maupun gray market khususnya

produk kategori ponsel pintar terus meningkat dengan pesat dan diprediksi dalam

beberapa tahun ke depan juga akan terus meningkat. Oleh karena itulah penelitian

ini dilakukan guna mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan niat

beli konsumen terhadap barang gray market. Meskipun produk gray market tidak

sama dengan produk counterfeit, akan tetapi produk gray market dan produk

counterfeit sering dijumpai secara bersama-sama (Lewis, 2010).

Data Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) tahun 2010, kerugian

akibat pemalsuan yang terjadi di Indonesia mencapai 37 trilyun rupiah, dan itu

mencakup 12 sektor industri. Angka tersebut naik sembilan kali lipat jika

dibandingkan data pada tahun 2005 dengan kerugian 4,4 trilyun rupiah. Dari ke-

12 industri yang dirugikan karena pemalsuan tersebut, proporsi kerugian terbesar

dialami oleh industri kosmetik dengan proporsi kerugian sebesar 16%; kemudian

diikuti oleh industri pestisida (15%); industri obat-obatan, minuman non-alkohol,

rokok, kulit, sepatu dan alas kaki, peralatan kantor dan elektronik, suku cadang

mobil (10%); industri pompa air, lampu (4%); dan terakhir industri pelumas mesin

(19)

Solusi untuk barang gray market dimiliki negara tertentu. Pertama, cek

dengan pengacara setempat untuk mengetahui apakah solusi tersedia dibawah

hukum merek dagang. Di beberapa negara, seperti Selandia Baru dan Kanada,

hukum merek dagang memungkinkan untuk impor paralel, meskipun hukum

lainnya (misalnya, hukum hak cipta) mungkin juga menyediakan solusi.

Sebaliknya, di Amerika Serikat baik UU Merek (Lanham Act) dan UU Tarif

memberikan solusi untuk barang gray market. Demikian pula, di Brazil pemilik

merek dagang dapat mencegah pihak ketiga mengimpor barang yang melanggar

hak dengan mengejar kedua tindakan pidana dan perdata (International

Trademark Association, 2015).

Saat ini distribusi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, di

manapun bisnis kita berada kita membutuhkan distribusi yang baik tapi dengan

berjalannya waktu banyak orang yang memanfaatkan celah di jalur distribusi

dengan cara yang kurang etis yaitu dengan cara mendistribusikan barang gray

market. Barang gray market bukan merupakan rahasia lagi di masyarakat

walaupun memang pembeli dan penjualnya cukup sulit ditemukan masyarakat

sudah mulai sadar akan keberadaan barang gray market.

Penelitian sejenis ini telah dilakukan sebelumnya salah satu penelitian

terdahulu yang mendasari penelitian jurnal yang di teliti oleh Huang, Lee, dan Ho

pada tahun 2004 dengan judul Consumer attitude toward gray market goods

merupakan jurnal yang meneliti terkait barang-barang gray market di Taiwan

penelitian ini menggunakan subjek mahasiswa dan mengunakan metode kuisioner

(20)

5

pengaruh kesadaran harga, inferensi kualitas berdasarkan harga, kecenderungan

menghindari risiko yang merupakan variabel penyebab yang memepengaruhi

sikap dan berpengaruh terhadap niat beli sebagai variabel dependent. Barang yang

di teliti oleh Huang ada tiga macam bavarge, watch, and mobile phone.

Berdasarkan penelitian terdahulu peneliti di sini akan meneliti sikap konsumen

terhadap barang-barang gray market di Indonesia.

Penelitian ini menjadi penting karena dengan masuknya barang gray market

ke Indonesia akan mengurangi penjualan produk resmi yang akan berdampak

kepada berkurangnya pemasukan perusahaan. Penelitian mengenai sikap

konsumen terhadap barang-barang gray market menjadi penting untuk manajer

suatu perusahaan mengerti dan mengetahui faktor yang mempengaruhi sikap

konsumen terhadap barang gray market agar bisa membuat strategi untuk

menghadapi efek yang akan terjadi dengan masuknya barang-barang gray market.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah kesadaran harga yang di rasakan oleh konsumen mempengaruhi

sikap konsumen terhadap barang gray market?

2. Apakah inferensi kualitas berdasarkan harga yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi sikap konsumen terhadap barang gray market?

3. Apakah kecenderungan menghindari risiko yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi sikap konsumen terhadap barang gray market?

4. Apakah sikap konsumen terhadap barang gray market mempengaruhi niat

(21)

5. Apakah kesadaran harga yang di rasakan oleh konsumen mempengaruhi niat

beli?

6. Apakah inferensi kualitas berdasarkan harga yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi niat beli?

7. Apakah kecenderungan menghindari risiko yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi niat beli?

8. Apakah kesadaran harga yang di rasakan oleh konsumen mempengaruhi niat

beli melalui sikap?

9. Apakah inferensi kualitas berdasarkan harga yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi niat beli melalui sikap?

10. Apakah kecenderungan menghindari risiko yang di rasakan oleh konsumen

mempengaruhi niat beli melalui sikap?

C. Tujuan Penelitian

1. Menganalisis pengaruh kesadaran harga terhadap sikap konsumen barang

gray market.

2. Menganalisis pengaruh inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap sikap

konsumen barang gray market.

3. Menganalisis pengaruh kecenderungan menghindari risiko terhadap sikap

konsumen barang gray market.

4. Menganalis sikap konsumen terhadap barang gray market yang

memepengaruhi niat beli.

(22)

7

6. Menganalisis pengaruh inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap niat

beli.

7. Menganalisis pengaruh kecenderungan menghindari risiko terhadap niat beli.

8. Menganalisis pengaruh kesadaran harga terhadap niat beli melalui sikap.

9. Menganalisis pengaruh inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap niat beli

melalui sikap.

10. Menganalisis pengaruh kecenderungan menghindari risiko terhadap niat beli

melalui sikap.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:

Penelitian tentang sikap konsumen terhadap barang-barang gray market ini

diharapkan bisa menjadi salah satu bahan masukan dan pertimbangan bagi

perusahaan untuk membuat rencana dan strategi di bidang pemasaran dalam

menjalankan usaha bisnis mereka dan membuat rencana dan strategi untuk

menghadapi barang-barang gray market yang terus masuk ke Indoensia.

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu bahan acuan bagi

penelitian-penelitian selanjutnya yang terkait terkait dengan penelitian

(23)

8 A. Landasan Teori

1. Gray market

Gray market mengacu pada transaksi ekspor/impor legal yang

melibatkan produk asli ke suatu negara dengan perantara selain distributor

resmi, dari sisi importir dikenal sebagai paralel impor (Kotabe dan Halsen,

2010).Barang-barang gray market adalah produk dengan merek tertentu yang

awalnya dijual di pasar dan distribusi yang di tunjuk tapi kemudian dijual

kembali melalui saluran tidak resmi ke pasar yang berbeda.

Istilah gray market juga dikenal sebagai paralel impor merupakan

barang yang memiliki merek asli yang diperoleh dari salah satu pasar (yaitu,

suatu negara atau wilayah ekonomi) yang kemudian diimpor ke pasar lain dan

dijual di sana tanpa persetujuan dari pemilik merek dagang, barang adalah

barang asli di bawah lisensi merek dagang tertentu dan di maksudkan dengan

standar negara tertentu dan diimpor ke negara yang tidak di masuki pemilik

merek (International Trademark Association, 2015).

Namun, barang gray market bukan merupakan barang palsu. Perbedaan

penting dari gray market adalah bahwa barang yang mereka jual tidak palsu.

Sementara barang palsu adalah salinan yang di buat secara identik baik dari

(24)

9

mereka beli adalah barang asli. Gray market adalah transaksi perdagangan

yang legal (Kotabe dan Halsen, 2010)

Gray market bisa muncul ketika transaksi dan pencarian biaya yang

cukup rendah untuk memungkinkan produk untuk lepas dari pengawasan dari

satu segmen pasar kembali ke yang lain, contoh industri dengan gray market

yang aktif termasuk obat-obatan, mobil, dan elektronik (Autrey dan Bova,

2012). Karena sifat dari gray market, sulit atau tidak mungkin untuk melacak

tepat jumlah penjualan gray market. Meskipun impor paralel bukan pemalsuan,

penggunaan istilah sinonim dengan gray market menunjukkan bahwa ada

sesuatu menduga tentang praktek ilegal. Duhan dan Sternquist (1998)

menyatakan bahwa gray market mungkin menyiratkan black market.

2. Kesadaran harga (price consciousness)

Kesadaran harga adalah kecenderungan konsumen untuk mencari

perbedaan harga (Pepadri, 2002). Konsumen yang memiliki kesadaran harga

cendrung mencari dan membandingkan suatu penawaran barang yang berada di

pasar dengan harga yang lebih rendah. Kenyataan bahwa konsumen

menggunakan harga di saluran resmi sebagai referensi harga masuk akal, dan

gray market akan mengambil keuntungan dari harga yang lebih rendah untuk

menarik minat konsumen (Huang et al., 2004).

Berdasarkan Lichtenstein et.al. (1993) ada lima konsepsi yang

mempunyai hubungan dengan persepsi harga :

(25)

Kesadaran harga adalah kesadaran yang berada dalam diri konsumen yang

mementingkan harga rendah ketika membeli produk, sehingga konsumen

lebih cenderung memilih harga rendah.

b. Kesadaran nilai fisik (Value Consciousness)

Kesadaran nilai fisik produk adalah kesadaran yang ada dalam diri

konsumen yang mementingkan nilai produk berdasarkan harga terhadap

fisiknya.

c. Potongan harga (Sale Proneness)

Potongan harga dipandang lebih memberi manfaat sebab harganya lebih

rendah dari harga normal, sehingga harga rendah yang menggunakan

potongan harga lebih dipilih.

d. Harga-Kualitas (Price Quality Scheme)

Harga-kualitas menggambarkan bahwa persepsi konsumen terkait harga

bagus kualitas bagus.Sehingga semakin tinggi harga suatu barang semakin

baik kualitas, semakin rendah harga suatu barang semakin menurun

kualitas.

e. Harga-Gengsi (Prestige Sensitivity)

Harga-gengsi menunjukkkan bahwa suatu barang yang dibeli

memperlihatkan status atau gengsi.

Konsumen yang dikatakan memiliki kesadaran harga adalah konsumen

yang cenderung membeli barang dengan harga lebih murah. Umumnya

(26)

11

yang memperhatikan price awareness dan price conciousness untuk

mengambil keputusan memiliki pendapatan rendah. Untuk itu umumnya

mereka akan melakukan proses seleksi yang tinggi dan berusaha mencari

informasi tentang harga (Pepadri, 2002).

Kualitas bukanlah menjadi hal utama bagi mereka dalam membeli atau

mengkonsumsi suatu produk. Ketika barang gray market dijual bersamaan dan

berdampingan dengan saluran resmi, konsumen dengan kesadaran harga yang

lebih tinggi dapat memilih barang dijual dengan harga yang lebih rendah di

gray market (Huang et al., 2004).

3. Inferensi kualitas berdasarkan harga (price-quality inference)

Inferensi kualitas berdasarkan harga merupakan atribut harga yang

memiliki definisi dimana keadaan konsumen memiliki perhatian terhadap rasio

kualitas produk terhadap harga (Mowen dan Minor, 2002). Menurut Kotler dan

Keller (2012) inferensi kualitas berdasarkan harga mengidentifikasi banyak

konsumen menggunakan harga sebagai indikator kualitas. Ketika informasi

tentang kualitas sebenarnya tersedia harga menjadi indikator kualitas yang

kurang signifikan, tetapi bila informasi ini tidak tersedia harga bertindak

sebagai sinyal kualitas (Kotler dan Keller, 2012). Beberapa merek mengadopsi

eksklusivitas dan kelangkaan untuk menandakan keunikan dan membenarkan

harga premium.

Kepercayaan pada Inferensi kualitas berdasarkan harga tinggi berarti

(27)

teori harga dan dalam menentukan perilaku konsumen. Menurut model

harga-harapan dari pilihan konsumen, konsumen mengevaluasi produk dengan

membandingkan harga sebenarnya dengan harga referensial atau diharapkan

ditentukan dari kualitas produk dan korelasi harga-kualitas kategori produk

(Ordonez, 1998).

Informasi yang melekat dalam produk dan juga seberapa besar informasi

tersebut dipahami oleh setiap individu sangat berpengaruh terhadap penilaian

suatu produk (Pepadri, 2002). Informasi tersebut bisa berupa informasi

interistik dan eksterinstik, informasi intrinsik merupakan informasi yang

didapat dari dalam produk itu sendiri. Sedangkan informasi ekstrinsik dijadikan

pertimbangan penilaian apabila individu belum memiliki pengalaman tentang

produk tersebut. Besaran harga sebagai salah satu faktor ekstrinsik dalam

persepsi konsumen dapat mencerminkan kualitas produk itu sendiri (Pepadri,

2002).

4. Kecenderungan menghindari risiko ( risk averseness)

Kecenderungan menghindari risiko dijelaskan sebagai kecenderungan

untuk menghindari risiko dan secara umum dipandang sebagai variabel

kepribadian (Bonoma dan Johnston, 1979). Keputusan yang di ambil

konsumen untuk menunda, memodifikasi, atau menghindari keputusan

pembelian sangat dipengaruhi oleh satu atau lebih jenis risiko yang dirasakan

(Kotler dan Keller, 2012). Kecenderungan menghindari risiko ini adalah sifat

yang ada pada konsumen dimana merupakan karakter penting yang

(28)

13

produk, terutama pada produk yang memiliki risiko. Konsumen yang membeli

barang dari gray market harus mengambil risiko probabilitas yang lebih tinggi

dari pembelian produk palsu dan menderita berbagai jenis risiko, termasuk

kinerja, keuangan, keamanan, sosial, psikologis, dan waktu/kesempatan risiko

(Huang et al., 2004).

Penerimaan merk sebagian besar di pengaruhi oleh kecenderungan

menghindari risiko (Kotabe dan Halsen, 2010). Risiko kedua muncul dalam

tahap pasca pembelian, termasuk hilangnya garansi dan layanan dari distributor

yang sah (Huang et al., 2004). Barang yang dipasarkan dalam gray market

sering menyebabkan segmentasi pasar, karena barang-barang ini biasanya

dijual dengan harga yang lebih rendah tetapi juga dengan layanan yang lebih

sedikit dan jaminan dibandingkan dengan barang dari saluran resmi.

Akibatnya, konsumen yang memiliki kecendrungan menghindari risiko

membayar harga yang lebih tinggi untuk membeli produk dengan jalur

distribusi resmi, sementara mereka yang dapat mentolerir risiko membeli

barang gray market dengan harga diskon (Jalali dan Moghadham, 2014).

Konsumen mengembangkan rutinitas untuk mengurangi ketidakpastian dan

konsekuensi negatif dari risiko, seperti menghindari keputusan, mengumpulkan

informasi dari teman, dan mengembangkan preferensi untuk nama dan garansi

merek nasional (Kotler dan Keller, 2012).

5. Sikap (attitude)

Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan

(29)

dan Judge, 2008). Sikap merupakan istilah yang menunjukkan rasa tidak

senang, senang, dan perasaan biasa-biasa saja yang dimiliki oleh seseorang

terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut biasanya di gambarkan berupa benda,

kelompok, kejadian, atau situasi, jika yang terlihat terhadap sesuatu adalah

perasaan senang merupakan sikap positif. Sedangkan perasaan tidak senang

merupakan sikap negatif. Sikap menempatkan kita ke dalam kerangka berpikir

menyukai atau tidak menyukai suatu objek, bergerak ke arah atau menjauh

darinya (Kotler dan Keller, 2012).

Menurut Kotler dan Keller (2012) Sikap adalah evaluasi yang

menguntungkan atau tidak menguntungkan dari seseorang, perasaan

emosional, dan kecenderungan tindakan terhadap beberapa objek atau gagasan.

Robbins dan Judge (2008) menyatakan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen

yaitu komponen kesadaran (kognitif), perasaan (afektif), dan perilaku.

Komponen kognitif merupakan segmen opini atau keyakinan dari sikap.

Komponen afektif merupakan segmen emosional atau perasaan dari sikap.

Sedangkan komponen perilaku merupakan niat untuk berperilaku dalam cara

tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Dalam penelitian ini merupakan niat

untuk melakukan pembelian atau niat beli.

6. Niat beli ( purchase intentions)

Niat beli merupakan kecenderungan untuk membeli suatu merek dan

secara umum umumnya didasarkan pada motif pembelian yang sesuai dengan

atribut atau karakteristik merek yang sedang dipertimbangkan (Belch, 2004).

(30)

15

yang terjadi ketika konsumen dirangsang oleh faktor eksternal dan datang

untuk membeli berdasarkan karakteristik keputusan mereka pribadi dan proses

pengambilan keputusan.

Menurut Ferdinand (2006) minat beli (niat beli) dapat dilihat melalui

indikator-indikator berikut :

a. Minat transaksional adalah kecenderungan yang dimiliki seseorang untuk

membeli suatu produk.

b. Minat refrensial merupakan kecenderungan yang dimiliki seseorang untuk

mereferensikan produk kepada orang lain.

c. Minat preferensial adalah minat yang memperlihatkan perilaku seseorang

yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya

bisa diganti apabila terjadi sesuatu terhadap produk preferensinya.

d. Minat eksploratif adalah minat yang menunjukkan perilaku seseorang yang

terus-menerus mencari informasi terkait produk yang diminatinya dan

mencari informasi yang mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas niat beli dapat dijelaskan

sebagai keinginan yang dimiliki oleh seseorang untuk membeli yang

merupakan proses menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh

seorang konsumen terhadap suatu barang.

B. Hasl Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian sejenis ini telah dilakukan sebelumnya, sebab

penelitian-penelitian terdahulu dirasa sangat penting dalam sebuah penelitian yang

(31)

antara lain: Penelitian terdahulu yang menjadi rujukan, adalah jurnal yang di teliti

oleh Huang, Lee, dan Ho pada tahun 2004 dengan judul Consumer attitude

toward gray market goods merupakan jurnal yang meneliti terkait semua barang

gray market di Taiwan penelitian ini menggunakan subjek mahasiswa dan

mengunakan metode kuisioner sebagai metode pengumpulan data. Penelitian ini

meneliti mengenai pengaruh kesadaran harga, inferensi kualitas berdasarkan

harga, kecenderungan menghindari risiko yang merupakan variabel penyebab

yang memepengaruhi sikap dan berpengaruh terhadap niat beli sebagai variabel

dependent. Barang yang di teliti di sini ada tiga macam bavarge, watch, and

mobile phone.

Penelitian terdahulu yang kedua yaitu thesis Siti Safira Ismail dari Ohio

State University pada tahun 2008 yang berjudul Factors Influencing attitudes

towards Gray Market Cars in Malaysia and Intention to Buy penelitian ini

meneliti faktor-faktor yang memepengaruhi pembelian mobil gray market di

Malaysia dan terdiri dari 4 variabel independen di mana variabelnya sebagai

berikut Kesadaran harga, Inferensi kualitas berdasarkan harga, kecenderungan

menghindari risiko, value consciousness yang berpengaruh terhadap sikap pada

barang gray market dan berpengaruh terhadap keputusan membeli.

Penelitian terdahulu yang ketiga, adalah jurnal yang di teliti oleh

Mollahosseini, Karbasi, dan Sadeghi pada tahun 2012 dengan judul Investigating

the Influential Factors on Purchase Intention the ‘Gray Market’ Goods in South

-East of Iran merupakan jurnal yang meneliti terkait barang gray market di Iran

(32)

17

untuk analisis dan mengunakan metode kuisioner sebagai metode pengumpulan

data. Penelitian ini meneliti mengenai pengaruh perceived risk, price

consciousness, perceived value, price-quality inference memepengaruhi sikap dan

pengaruh social cost, status consumption, consumption dependency, attitude

terhdap niat beli.

C. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2016) variabel penelitian merupakan suatu atribut nilai

yang berasal dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang di

putuskan peneliti untuk mempelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya. dilihat

dari hubungan hubungan variabel satu dengan variabel lain, maka macam variabel

dalam penelitian dibedakan menjadi variabel independen, varibael dependen,

variabel moderator, variabel intervening (mediasi), varibel kontrol.

Variabel independen adalah varibel bebas atau variabel yang mempengaruhi

variabel terkait.Varibel dependen adalah varibel terkait atau variabel yang di

pengaruhi oleh keberadaaan varibel bebas.Variabel moderator merupakan variabel

yang menjadi penentu kuat lemahnya hubungan antar variabel bebas dan variabel

terkait.Varibel intervening (mediasi) adalah variabel yang memberikan jeda antara

varibel bebas dengan varibel terkait, sehingga variabel terkait tidak langsung

dipengaruhi variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang membuat

konstan hubungan varabel bebas terhadap variabel terkait sehingga variabel terait

tidak di pengaruhi oleh faktor luar yang tidak di teliti.

Jadi dalam penelitian yang akan peneliti lakukan akan menjelaskan

(33)

kualitas berdasarkan harga, kecenderungan menghindari risiko yang merupakan

variabel penyebab yang memepengaruhi sikap sebagai atribut mediasi dan

berpengaruh terhadap niat beli sebagai variabel dependen.

Pada dasarnya ide pemunculan variabel mediasi berawal dari asumsi bahwa

variabel independen memiliki hubungan kausal dengan variabel dependen. Karena

itu variabel ini diperlukan bilamana diasumsikan ada variabel lain yang dapat

digunakan untuk menghubungkan kedua variabel itu.

1. Hubungan kesadaran harga terhadap sikap pada barang gray market

Kesadaran harga adalah kecenderungan konsumen untuk mencari

perbedaan harga (Pepadri, 2002). Aliawadi et al. (2001) dalam studi kesadaran

harga konsumen menemukan bahwa pembelian store brand dikaitkan dengan

kesadaran harga dan kesadaran harga telah dianggap sebagai isu utama dalam

promosi penjualan dan pembelian store brand. Ketika barang gray market

dijual bersamaan dan berdampingan dengan saluran resmi, konsumen dengan

kesadaran harga yang lebih tinggi dapat memilih barang dijual dengan harga

yang lebih rendah di gray market (Huang et al., 2004).

Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Mollahosseini et al.

(2012) mengungkapkan bahwa kesadaran konsumen terhadap harga pasar dan

perbedaan mencolok dibandingkan dengan barang gray market dapat

memberikan konsumen lebih banyak motif untuk tertarik pada barang gray

market. Kenyataan bahwa konsumen menggunakan harga di saluran resmi

sebagai referensi harga masuk akal, dan gray market akan mengambil

(34)

19

(Huang et al., 2004). Harga barang gray market memainkan peran penting

dalam mempengaruhi perilaku konsumen dan telah dipelajari secara mendalam

di dalam literatur. Dengan demikian dapat ditemukan hubungan positif antara

kesadaran harga dan sikap konsumen terhadap barang gray market.

H1: Semakin tinggi kesadaran harga yang dirasakan oleh konsumen

berpengaruh positif terhadap sikap konsumen pada barang gray market.

2. Hubungan inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap sikap pada barang gray market

Kepercayaan pada inferensi kualitas berdasarkan harga, harga tinggi,

kualitas tinggi dan harga rendah, rendah kualitas, adalah penting dalam teori

harga dan dalam menentukan perilaku konsumen (Huang et al., 2004). Hal itu

dapat dilihat dari sikap masyarakat yang beranggapan bahwa barang dengan

harga yang lebih tinggi memiliki kulaitas yang lebih baik dibandingkan dengan

barang dengan harga rendah. Menurut Mollahosseini et al. (2012) studi yang di

lakukan menunjukkan bahwa penggunaan faktor inferensi kualitas bedasarkan

harga memiliki dampak yang signifikan tapi lemah pada kesadaran harga

konsumen, Huang et al. (2004) dalam studi yang di lakukan juga menemukan

hasil yang sama tentang efektivitas faktor ini.

Dalam sebuah studi dari industri jasa oleh Murphy (2002) untuk

mengeksplorasi pola harga korelasi kualitas di sektor jasa yang berbeda

menemukan bahwa hanya beberapa industri menampilkan positif price-quality

(35)

menekankan kekhawatiran bahwa pluralitas industri melaporkan price-quality

negatif korelasi konsisten signifikan. Studi menemukan bahwa industri-industri

dengan biaya pencarian sangat rendah dan pembelian relatif sering umumnya

menampilkan korelasi positif yang signifikan antara harga dan kualitas.

Sebagian besar barang-barang gray market dijual dengan harga lebih

rendah, sehingga semakin konsumen mempertahankan inferensi kualitas

berdasarkan harga, semakin rendah kualitas yang dirasakan konsumen terhadap

barang gray market. Inferensi harga berdasarkan kualitas berpengaruh secara

negatif kepada sikap konsumen terhadap barang gray market.

H2: Semakin tinggi inferensi kualitas berdasarkan harga yang dirasakan

pelanggan, semakin negatif sikap konsumen terhadap barang gray

market.

3. Hubungan kecenderungan menghindari risikoterhadap sikap pada barang gray market

Kecenderungan menghindari risiko ini adalah sifat yang ada pada

konsumen dimana merupakan karakter penting yang membedakan antara

pembeli dan yang bukan merupakan pembeli pada sebuah produk, terutama

pada produk yang memiliki risiko. Konsumen yang membeli barang dari gray

market harus mengambil risiko probabilitas yang lebih tinggi dari pembelian

produk palsu dan menderita berbagai jenis risiko, termasuk kinerja, keuangan,

keamanan, sosial, psikologis, dan waktu/kesempatan risiko (Huang et al.,

(36)

21

Menurut Mollahosseini et al. (2012) menjelaskan bahwa risiko yang

dirasakan terjadi akibat tidak adanya pelayanan tepat purna jual jasa dan karena

ketersediaan kemungkinan jenis barang palsu mempengaruhi sikap konsumen,

dan didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian tersebut sejalan

dengan penelitian yang di lakukan Huang et al. (2004) dimana kenderungan

menghindari risiko mempengaruhi sikap konsumen terhadap barang-barang

gray market.

Akibatnya, konsumen yang memiliki kecendrungan menghindari risiko

membayar harga yang lebih tinggi untuk membeli produk dengan jalur

distribusi resmi, sementara mereka yang dapat mentolerir risiko membeli

barang gray market dengan harga diskon (Jalali dan mogadham, 2014).

Berdasarkan studi diatas peneliti ini menyimpulkan bahwa kecenderungan

menghindari risiko mempengaruhi sikap mereka terhadap barang-barang gray

market. Di pasar dengan impor paralel, importir paralel umumnya tidak

menawarkan jaminan sama dengan barang yang tersedia melalui saluran resmi.

H3: Semakin tinggi kecenderungan menghindari risiko yang dirasakan oleh

konsumen berpengaruh negatif terhadap sikap konsumen pada barang

gray market.

4. Hubungan sikap terhadap niat beli pada barang gray market

Huang et al. (2004) menemukan dalam studi yang di lakukan bahwa

sikap konsumen mempengaruhi secara positif terhadap niat pembelian barang

gray market dalam hal ini adalah jam tangan dan ponsel. Jalali dan mogadham

(37)

quality-price inference, perceived risk, perceived value, consumption state, attitude,

social expenses and dependency in consumption on the consumer‟s sangat

berpengaruh terhadap rangsangan sikap konsumen untuk memebeli barang

gray market.

Armstrong et al. (2000) menyatakan bahwa niat pembelian bisa

memberikan perkiraan yang lebih baik dari ekstrapolasi sederhana dari tren

penjualan masa lalu. Untuk produk dengan keterlibatan konsumen rendah,

konsumen cenderung membeli sikap terlepas dari sikap asli mereka terhadap

atribut produk. Sebaliknya, untuk produk dengan keterlibatan konsumen lebih

tinggi, konsumen akan menghabiskan lebih banyak energi pada kegiatan yang

berhubungan dengan konsumsi, dan karenanya membuat keputusan yang lebih

rasional. Dalam situasi seperti itu, konsumen yang memiliki sikap yang lebih

menguntungkan terhadap barang-barang gray market akan memiliki niat

pembelian lebih kuat, dan akan lebih mungkin untuk membeli barang gray

market.

H4: Semakin baik sikapkonsumenberpengaruh positif terhadap niat beli

pada barang-barang gray market.

5. Hubungan kesadaran harga terhadap niat beli

Kesadaran harga merupakan kesadaran yang dimiliki konsumen

terhadap pentingnya harga rendah ketika membeli produk. Berdasarkan

preferensi terhadap harga yang rendah, konsumen lebih cenderung memilih

harga rendah (Lichtenstein et.al., 1993). Batra dan Sinha (2000) juga

(38)

23

ditemukan dari 12 kategori produk yang berbeda menunjukkan bahwa

kesadaran harga langsung meningkatkan pembelian dan adalah prediktor

terkuat.

Kesadaran harga adalah kecenderungan konsumen untuk mencari

perbedaan harga (Pepadri, 2002). Sebuah hubungan positif diperoleh di antara

kesadaran harga dan niat beli merek pribadi dalam sebuah studi yang dilakukan

terhadap toko diskon Korea (Jin dan Suh, 2005). Harga barang gray market

memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku konsumen dan telah

dipelajari secara mendalam di dalam literatur. Dengan demikian dapat

ditemukan hubungan positif antara kesadaran harga dan niat beli.

H5: Semakin tinggi kesadaran harga yang dirasakan oleh konsumen

berpengaruh positif terhadap niat beli.

6. Hubungan inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap niat beli

Kepercayaan pada inferensi kualitas berdasarkan harga, harga tinggi,

kualitas tinggi dan harga rendah, rendah kualitas, adalah penting dalam teori

harga dan dalam menentukan perilaku konsumen (Huang et al., 2004). Menurut

Mollahosseini et al. (2012) studi yang di lakukan menunjukkan bahwa

penggunaan faktor inferensi kualitas bedasarkan harga memiliki dampak yang

signifikan tapi lemah pada kesadaran harga konsumen, Huang et al.

Ketika informasi tentang kualitas sebenarnya tersedia harga menjadi

indikator kualitas yang kurang signifikan, tetapi bila informasi ini tidak

tersedia harga bertindak sebagai sinyal kualitas (Kotler dan Keller, 2012).

(39)

beli. Kualitas merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam pikiran konsumen

ketika mengambil keputusan pembelian, hai itu disebabkan karena konsumen

percaya jika produk berkualitas tinggi mengurangi kesalahan pembelian yang

dilakukan dan menjamin keamanan produk makanan yang dikonsumsi

sehingga membangun hubungan kepercayaan dengan produk tertentu (Jaafar et

al., 2012).

H6: Semakin tinggi inferensi kualitas berdasarkan harga yang dirasakan

oleh konsumen berpengaruh positif terhadap niat beli.

7. Hubungan kecenderungan menghindari risikoterhadap niat beli

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa responden kurang mau

mengambil risiko sehingga mereka cenderung berpikir dua kali dalam memilih

dan membeli produk merek label makanan pribadi (Jafaar et al., 2012).

Semakin banyak informasi yang diperoleh konsumen terkait produk, semakin

besar kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian karena dapat

meningkatkan niat beli dan mengurangi risiko pembelian.

Menurut Jafaar et al. (2012) konsumen memperoleh lebih banyak

informasi tentang produk terutama bila ada barang makanan bermutu serupa di

pasaran. Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau

menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh satu atau lebih jenis

risiko yang dirasakan (Kotler dan Keller, 2012).

H7: Semakin tinggi kecenderungan menghindari risiko yang dirasakan oleh

konsumen berpengaruh negatif terhadap niat beli.

(40)

25

Menurut (Aisyah dan Sunaryo, 2014) nilai kesadaran berpengaruh positif

terhadap minat pembelian produk handbag merek tiruan melalui sikap

konsumen. Value consciousness dan price-quality association berpengaruh

signifikan positif terhadap private label brand purchase intention dengan

private labelbrand attitude sebagai variabel intervening (Rahmanita dan

Gunawan, 2017).

H8: Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kesadaran harga terhadap

niat beli melalui sikap.

9. Hubungan inferensi kualitas berdasarkan harga terhadap niat beli melalui sikap

Value consciousness dan price-quality association berpengaruh

signifikan positif terhadap private label brand purchase intention dengan

private labelbrand attitude sebagai variabel intervening (Rahmanita dan

Gunawan, 2017). Perbandingan kualitas-harga memiliki pengaruh positif

terhadap minat pembelian produk handbag merek tiruan melalui sikap

konsumen tiruan (Aisyah dan Sunaryo, 2014)

H9: Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara inferensi kualitas

berdasarkan harga terhadap niat beli melalui sikap.

10. Hubungan kecenderungan menghindari risiko terhadap niat beli melalui

sikap

Menurut Mollahosseini et al. (2012) menjelaskan bahwa risiko yang

(41)

ketersediaan kemungkinan jenis barang palsu mempengaruhi sikap konsumen,

dan didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Risiko dan sikap

Terhadap pembelian musik online adalah prediktor niat yang signifikan untuk

membeli musik melalui situs yang sah, uji menunjukkan bahwa risiko yang

dipersepsikan sebagian dimediasi melalui sikap dengan statistik uji sebesar

3,54 dan Signifikan pada tingkat 0,01 (Kekeff dan Webster, 2006).

H10: Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara inferensi kualitas

berdasarkan harga terhadap niat beli melalui sikap.

D. Model Penelitian

Model untuk penelitian ini merupakan pengembangan dari studi yang

dilakukan oleh Huang et al. (2004) consumer attitudes toward gray market goods.

Dalam studi ini ada tiga faktor yang mempengaruhi sikap konsumen terhadap

barang gray market. Tiga faktor yang di gunakan adalah kesadaran harga,

(42)

27

Sumber : Huang et al., 2004

Gambar 2.1.

Model Penelitian Huang untuk menjadi dasar model penelitian barang-barang gray market

Untuk memperjelas hubungan antara sikap dan niat beli, peneliti melakukan

pengembangan dari model yang di gunakan oleh Huang et al. (2004). Model

tersebut digunakan untuk mengukur hubungan kesadaran harga, inferensi kualitas

berdasarkan harga, kecenderungan menghindari risiko terhadap sikap dan niat

beli. Sehingga peneliti menjadikan model dari Huang et al. (2004) menjadi dasar

(43)

Sumber : Data diolah 2017

Gambar 2.2.

(44)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek penelitian

Subjek penelitian yang akan kami ambil adalah mahasiswa yang berada

di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengetahui perbedaan antara barang

gray market dan barang bukan gray market. Hal ini di dasarkan studi

pendahuluan kami lakukan menemukan bahwa pembeli barang gray market

terdiri dari berbagai kalangan baik remaja, orang dewasa, dan juga laki-laki

maupun perempuan.

2. Objek penelitian

Objek penelitian adalah barang-barang gray market dan tempat yang

dijadikan lokasi penelitian berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti

lakukan menemukan fenomena pembelian barang gray market juga terjadi di

Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga peneliti memilih Daerah Istimewa

Yogyakarta sebagai seting penelitian. Peniliti memilih 8 universitas di

Yogyakarta untuk menjadi tempat penelitian diantaranya: Universitas Gadjah

Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,

Universitas Islam Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas

Teknologi Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas

(45)

B. Jenis Data

Peneliti dalam penlitian ini menggunakan jenis data kuantitatif yang terdiri

dari angka-angka. Data kuantitatif tersebut diperoleh dari jawaban kuesioner yang

telah diberikan kepada responden. Data tersebut diperoleh dengan cara menyebar

kuesioner yang diberi skor dengan mengacu kepada pengukuran data interval

menggunakan skala likert.

Sumber data yang peneliti gunakan adalah sumber data primer. Sumber data

tersebut digunakan untuk menghasilkan data yang relevan dengan penelitian.

Sumber primer merupakan sumber data yang diperoleh pengumpul data secara

langsung (Sugiyono, 2016). Sumber yang pertama adalah sumber primer yang

merupakan catatan hasil kuisioner dan wawancara yang diperoleh melalui survei

yang peneliti lakukan. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi lapangan dan

mengumpulkan data dalam bentuk catatan tentang situasi dan kejadian di

Yogyakarta terkait penjualan barang gray market.

C. Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi dan sampel penelitian

Populasi merupakan kumpulan individu atau kumpulan dari seluruh

subjek penelitian yang peneliti teliti. Sedangkan menurut sugiyono populasi

merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas: subjek/objek yang memiliki

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari

dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016). Berdasarkan

(46)

31

menetapkan mahasiswa yang sedang melakukan studi di Daerah Istimewa

Yogyakarta sebagai populasi.

Menurut Sugiyono (2016) sampel adalah bagian atau jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi yang akan

diteliti besar, sehingga peneliti tidak dapat mempelajari semua yang ada pada

populasi dikarenakan keterbatasan tenaga, dana dan waktu, maka peneliti

mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang diperoleh dari sampel yang

telah diteliti, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh sebab itu

sampel yang digunakan dari populasi harus betul-betul menggambarkan

populasi (Sugiyono, 2016). Berdasarkan penjelasan ahli dan studi pendahuluan

yang kami lakukan kami menetapkan sampel peneliti dengan purposive

sampling di mana sampel yang di gunakan merupaka mahasiswa yang

mengetahui perbedaan barang gray market dan bukan barang gray market serta

memiliki pemasukan di atas Rp.300.000,-/ bulan.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah teknik Structural

Equation Modeling (SEM). Menurut Solimun (2002), beberapa pedoman

penentuan besarnya sample size untuk SEM diberikan sebagai berikut:

a. Bila pendugaan parameter menggunakan metode kemungkinan

maksimum (maximum likelihood estimation) besar sampel yang

disarankan adalah antara 100 hingga 200, dengan minimum sampel

adalah 50.

b. Sebanyak 5 hingga 10 kali jumlah parameter yang ada di dalam model.

(47)

keseluruhan variabel laten.

Pada penelitian ini melibatkan sebanyak 20 indikator, sehingga merujuk

pada aturan ketiga diperlukan ukuran sampel minimal 8 x 20 atau sebesar 160.

Merujuk pada aturan tersebut ukuran sampel minimum 100. Sehingga pada

penelitian ini menggunakan 160 responden sebagai subjek penelitian.

2. Kriteria pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel yang dipergunkan oleh peneliti adalah

purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

a. Mengetahui perbedaan barang gray market dan bukan barang gray market.

b. Memiliki pemasukan di atas Rp 300.000,-/ bulan.

c. Responden bebas menolak atau menerima survei, dan tidak memiliki

hubungan intimidasi, kekerabatan atau hadiah dalam bentuk apapun yang

dapat menurunkan derajat keyakinan terhadap kualitas data yang diperoleh.

D. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang peneliti gunakan adalah data kuantitatif yang bersumber dari

data primer. Metode pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah

kuesioner yang merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara field survei di mana peneliti mendatangi

responden dan menyerahkan kuisioner secara langsung.

Variabel-variabel yang ada pada penelitian ini akan diukur dengan instrumen

pengukur dalam bentuk kuesioner dengan tipe skala likert 7 poin yang terdiri dari

(48)

33

dan sangat setuju. Peneliti memiliki tiga alasan utama menggunakan skala likert 7

poin dia antaranya. Alasan pertama menurut Sugiyono (2016) skala likert digunakan

untuk mengukur pendapat, sikap, dan persepsi sekelompok orang atau seseorang

terhadap fenomena sosial. Hal tersebut merupakan dasar peneliti untuk menjadikan

sekala likert sebagai skala pengukur dalam penelitan yang di lakukan terkait sikap

konsumen terhadap barang-barang gray market.

Alasan kedua, dengan menggunakan skala Likert 7 poin, pemilihan kategori

dalam kuesioner akan menjadi lebih spesfik (Mustafa, 2009). Sehingga responden

dapat lebih leluasa memilih pilihan dengan lebih spesifik. Alasan ketiga karena

peneliti mengikuti penelitian sebelumnya Huang, Lee, dan Ho pada tahun 2004

dengan judul Consumer attitude toward gray market goods yang menggunakan skala

Likert 7 poin.

Responden hanya perlu memberi tanda checklist terhadap jawaban yang dipilih

sesuai pernyataan untuk menjawab skala likert dalam penelitian ini. Berikut ini

adalah bobot yang di gunakan peneliti untuk melakukan penilaian terhadap skala

likert:

Tabel 3.1. Bobot Penilaian

Pernyataan Skor Positif

Sangat Tidak Setuju 1

Tidak Setuju 2

(49)

Lanjutan Tabel 3.1.

Netral 4

Agak Setuju 5

Setuju 6

Sangat Setuju 7

Sumber : Data diolah 2017

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Variabel penelitian

Variabel yang akan digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah:

a. Variabel Independen :

(1) KH: Kesadaran harga.

(2) IKBH: Inferensi kualitas berdasarkan harga.

(3) KMR: Kecenderungan menghindari risiko.

b. Variabel Mediasi (S): Sikap.

c. Variabel dependen (NB): Niat beli.

2. Definisi oprasional a. Kesadaran harga

Kesadaran harga adalah konsumen yang cenderung membeli produk

dengan harga yang murah. Untuk itu mereka akan berusaha mencari

informasi tentang harga dan melalui proses seleksi yang tinggi (Pepadri,

2002).

Alat pengukuran untuk kesadaran harga (Huang et al., 2004).

(50)

35

(2) Uang yang disimpan utuk harga yang lebih murah dari produk lain

sangat berarti.

(3) Saya akan berbelanja lebih dari satu toko untuk menemukan harga yang

paling murah.

(4) Pengorbanan waktu yang di keluarkan sesaui dengan harga murah yang

di peroleh.

b. Inferensi kualitas berdasarkan harga

Inferensi kualitas berdasarkan harga merupakan atribut harga yang

memiliki definisi dimana keadaan konsumen memiliki perhatian terhadap

rasio kualitas produk terhadap harga (Mowen dan Minor, 2002).

Alat pengukuran untuk inferensi kualitas berdasarkan harga (Huang et al.,

2004).

(1) Secara umum, semakin tinggi harga suatu produk, semakin tinggi

kualitas.

(2) Harga produk adalah indikator yang baik dari kualitas.

(3) Anda selalu harus membayar sedikit lebih untuk yang terbaik.

c. Kecenderungan menghindari risiko

Kecenderungan menghindari risiko dijelaskan sebagai kecenderungan

untuk menghindari risiko dan secara umum dipandang sebagai variabel

kepribadian (Bonoma dan Johnston, 1979).

Alat pengukuran untuk kecenderungan menghindari risiko (Huang et al.,

2004).

(51)

(2) Saya tidak mau hidup dengan bayang-bayang risiko yang selalu ada

(3) Saya tidak memiliki keinginan untuk mengambil risiko yang tidak

perlu.

(4) Saya tidak suka bertaruh pada hal-hal berisiko.

d. Sikap konsumen terhadap barang gray market

Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan

maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa

(Robbins dan Judge, 2008). Alat pengukuran untuk sikap konsumen

terhadap barang gray market (Huang et al., 2004).

(1) Secara umum, membeli barang-barang gray market adalah pilihan

yang lebih baik

(2) Mengingat harga, saya lebih suka barang-barang gray market.

(3) Saya suka belanja barang gray market.

(4) Membeli barang-barang gray market umumnya menguntungkan

konsumen.

(5) Tidak ada yang salah dengan membeli barang gray market.

(6) Saya selalu memperhatikan barang-barang gray market ketika mau

membeli sesuatu.

e. Niat beli

Niat beli merupakan kecenderungan untuk membeli suatu merek

dan secara umum umumnya didasarkan pada motif pembelian yang sesuai

dengan atribut atau karakteristik merek yang sedang dipertimbangkan

(52)

37

(1) Saya akan membeli barang gray market.

(2) Saya akan mempertimbangkan membeli barang gray market.

(3) Probabilitas bahwa saya akan mempertimbangkan membeli barang gray

market adalah 80%.

F. Uji Kualitas Instrumen

1. Uji validitas

Pengujian validitas perlu dilakukan sebelum instrumen penelitian

digunakan untuk mengumpulkan data. Hal ini digunakan untuk memperoleh

data yang valid dari instrumen yang valid. Menurut Sugiyono (2016) hasil

penelitian dikatakan valid jika terdapat kesamaan antara data yang

dikumpulkan dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Uji validitas merupakan uji yang dilakukan untuk memastikan

kemempuan suatu skala untuk mengukur konsep yang dimaksudkan. Uji

validitas memiliki manfaat untuk mengetahui apakah item-item yang ada

dalam kuesioner benar-benar bisa mengungkapkan dengan pasti apa yang akan

diteliti. Nilai signifikan yang didapatkan dari setiap indikator < 0,05 maka butir

pernyataan tersebut dikatakan valid. Uji validitas diukur dengan menggunakan

program IBM SPSS 21.

2. Uji reliabilitas

Menurut Sugiyono (2016) instrumen yang reliabel adalah instrumen yang

bila digunakan beberapa kali untuk mengukur suatu obyek yang sama, akan

mendapat data yang mirip bahkan cendrung sama. Alat ukur dapat diandalkan

(53)

tidak berbeda jauh, sehingga uji reliabilitas harus dilakukan agar dapat

diketahui apakah suatu alat ukur yang dirancang dalam bentuk kuesioner dapat

diandalkan atau tidak.

Setelah instrumen di uji validitasnya maka langkah selanjutnya yaitu

menguji reliabilitas. Imam Ghozali (2011) mengemukakan bahwa pengukuran

reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Repeated Measure atau pengukuran ulang: disini seseorang akan disodori pertanyaan yang sama didalam waktu yang berbeda, dan selanjutnya dilihat apakah orang tersebut tetap konsisten dengan jawabannya.

b. One Shot atau pengukuran sekali saja: disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau pengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.

Penelitian yang akan dilakukan menggunakan pengukuran reliabilitas

cara kedua yaitu One Shot atau pengukuran sekali saja. Sekaran (2006)

menyatakan bahwa Alfa Croncbach’s adalah koefisien reliabilitas yang

memperlihatkan seberapa baik suatu item dalam kumpulan secara positif

berkorelasi satu sama lain. Semakin dekat Alfa Cronbach’s dengan 1, semakin

tinggi reliabilitas konsistensi internal. Secara empiris, di berikan ketentuan bahwa α < 0,6 menunjukkan reliabilitas konsistensi internal yang tidak

memuaskan. Dengan kata lain, reliabilitas konsistensi internal dapat di terima apabila α > 0,7.

Reliabilitas konsistensi internal 0,6 – 0,7 dapat di terima dengan syarat indikator lain dari validitas konstruk modelnya baik. Reliabilitas konsistensi

Gambar

Gambar 2.1.
Tabel 3.1.
tabel 4.3 sebagai berikut:
Gambar 4.3.
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif yang bertujuan untuk menguji pengaruh personal background serta interaksinya dengan kepahaman good governance dalam

[r]

(Sphyraenidae), ikan ekor kuning (Caesonidae), ikan kakak tua (Scaridae), ikan naso (Acan- thuridae), dan ikan jabong (Balistidae). Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka

Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui volume sedimen yang terjadi diakibatkan oleh erosi pada sungai Rapak Dalam , mendesain bangunan

[r]

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh antara modal intelektual (yang diukur melalui physical capital efficiency , human capital efficiency , dan structural

Pembelajaran IPS, khususnya di sekolah dasar mempunyai tujuan, agar peserta didik memiliki kemampuan memahami materi ajar tersebut, menjelaskan keterkaitan antar konsep

Sedangkan untuk kompetensi teknis dapat diidentifikasi 16 Kompetensi teknis untuk Jabatan Pengadministrasian Akademik Program Pascasarjana, 16 Kompetensi teknis untuk