PERANAN PASAR BARU PANYABUNGAN TERHADAP
PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN
PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL
T E S I S
Oleh
AHMAD RIFAI SIMAMORA
107003015/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
S
EK O L
A
H
P A
S C
A S A R JA
N
PERANAN PASAR BARU PANYABUNGAN TERHADAP
PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN
PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
AHMAD RIFAI SIMAMORA
107003015/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PERANAN PASAR BARU PANYABUNGAN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN
PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL
Nama Mahasiswa : Ahmad Rifai Simamora
Nomor Pokok : 107003015
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
(PWD)
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Dr. Ir. Rahmanta, M.Si) (Dr. Rujiman, MA)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi Direktur
Telah diuji pada
Tanggal 27 Desember 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Rahmanta, M.Si
Anggota : 1. Dr. Rujiman, MA
2. Prof. Erlina, SE. M.Si, Ph.D. Ak
ABSTRAK
Ahmad Rifai Simamora NIM. 107003015 “ Peranan Pasar Baru Panyabungan Terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal ”, dibawah bimbingan Dr. Ir. Rahmanta, M.Si dan Dr. Rujiman, MA.
Sektor perdagangan di pasar baru Panyabungan diharapkan memberikan kontribusi bagi berkembangnya ekonomi daerah. Perkembangan pasar baru Panyabungan menyimpan potensi besar bagi peningkatan pendapatan pedagang dan membuka kesempatan kerja. Dalam peningkatan pendapatan pedagang, perlu dikaji pengaruh besarnya modal, jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha.
Penelitian ini dilakukan di pasar baru Panyabungan. Dalam penelitian ini ditetapkan 94 orang pedagang sebagai sampel. Alat analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang menjelaskan keadaan lapangan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai determinasi (R square) untuk semua variable seperti modal kerja, jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha terhadap pendapatan pedagang berpengaruh secara signifikan sebesar 99,4 %, sedangkan 0,6 % tidak dijelaskan didalam model. Kemudian uji serempak (F test) menunjukkan bahwa semua variable independent dapat mempengaruhi variable terikat (dependent variable) secara signifikan. Hasil secara parsial variable modal kerja, jam kerja, pengalaman kerja dan lokasi usaha di uji pada taraf signifikansi 1 % menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan pasar baru Panyabungan.
Peranan pasar baru Panyabungan terhadap pengembangan wilayah khususnya Kecamatan Panyabungan terlihat dari meningkatnya aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Melalui pasar baru ini terciptalah kesempatan kerja dan memberikan pendapatan bagi masyarakat. Ini merupakan salah satu indikator terjadinya pengembangan wilayah.
ABSTRACT
Ahmad Rifai Simamora. Student Registration Number. 107003015 “The Role of Pasar Baru Panyabungan in the Regional Development in Panyabungan
Subdistrict, Mandailing Natal District” under the supervision of Dr. Ir. Rahmanta,
M.Si and Dr. Rujiman, MA.
Trade sector in Pasar Baru Panyabungan is expected to contribute in the devcelopment of local economy. The development of Pasar Baru Panyabungan has a
big potential for the improvement of the traders’ income and provides job opportunity. In improving the traders’ income, it is important to study the influence of the amount of capital, working hours, work experience, and business location.
The samples for this descriptive study conducted at Pasar Baru Panyabungan were 94 persons. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests.
The result of this study showed that the value of determination (R square) of all of the variables such as the amount of capital, working hours, work experience, and business location had a significant influence on the income of the traders (99.4%), while the remaining 0.6% was not explained in the model. The result of F-test showed that all of the independent variables could significantly influence the dependent variable. Partially, the result of the variables of working capital, working hours, work experience and business location tested at level of significance 1% showed that they had a significant influence on the income of the traders at Pasar Baru Panyabungan.
The role of Pasar Baru Panyabungan in the regional development especially of Panyabungan Subdistrict is seen from the improvement of the community’s socio -economic activities. Through Pasar Baru, job opportunity providing income to the community members has been created. This is one of the progress indicators of regional development.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas
penyusunan tesis ini. Penulisan tesis penelitian dengan judul Peranan Pasar Baru
Panyabungan Terhadap Pengembangan Wilayah Di Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal, merupakan sebagaian persyaratan untuk mendapatkan
gelar Magister Sains di Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah
dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara.
Dalam Penulisan Tesis ini, Penulis banyak sekali mendapat bantuan dan
bimbingan dari semua pihak, maka dengan segala kerendahan hati Penulis
menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), Sp.A(K) selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Lic. rer. reg. Sirojuzilam, SE, selaku Ketua Program Studi
Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah
memberikan arahan kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan
baik.
4. Bapak Dr. Rujiman, MA selaku Anggota Komisi Pembimbing yang selalu
5. Bapak Bupati Kabupaten Mandailing Natal selaku pemberi ijin mengikuti
sekolah derajat sarjana S2.
6. Kepada Papa dan Mama tercinta Drs. H. Aslim Simamora dan Hj. Adidah
Hanum Lubis, Isteriku tercinta Wirda Khotimah Hrp, anakku tersayang Faiz
Fadel Muhammad Simamora, kakak, adik, dan keluarga besar saya yang selalu
mendoakan saya untuk maju dan berkembang.
7. Pihak-pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam penyusunan tesis ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa bentuk dan penyajian tesis ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu Penulis berharap adanya kritik dan saran yang
membangun sehingga tesis penelitian ini dapat lebih sempurna dan dapat memberikan
manfaat bagi daerah yang di teliti khususnya dan daerah lain umumnya.
Medan, 27 Desember 2012 Penulis,
RIWAYAT HIDUP
Ahmad Rifai Simamora lahir di Padangsidimpuan Propinsi Sumatera Utara
pada tanggal 27 Mei 1984, anak kelima dari enam bersaudara dari Bapak Drs. H.
Aslim Simamora dan Ibu Hj. Adidah Hanum Lubis.
Pendidikan Penulis di mulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 06
Padangsidimpuan lulus tahun 1996, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4
Padangsidimpuan lulus tahun 1999, dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4
Padangsidimpuan lulus tahun 2002 dan kuliah di Sekolah Tinggi Perikanan (STP)
Jakarta pada Jurusan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan lulus tahun 2007.
Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Mandailing Natal Propinsi Sumatera Utara dengan pangkat
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK i
ABSTRACT ii
KATA PENGANTAR iii
RIWAYAT HIDUP v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah 6
1.3 Tujuan Penelitian 7
1.4 Manfaat Penelitian 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9
2.1 Pasar Tradisional 9
2.2 Peranan Pasar Tradisional 10
2.3 Lapangan Pekerjaan 12
2.4 Konsep Pendapatan 17
2.5 Jam Kerja 19
2.6 Modal 20
2.8 Pengembangan Wilayah 25
2.9 Penelitian Sebelumnya 27
2.10 Kerangka Pemikiran 29
2.11 Hipotesis Penelitian 30
BAB III METODE PENELITIAN 31
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 31
3.2 Jenis dan Sumber Data 31
3.3 Populasi dan Sampel 32
3.4 Teknik Pengumpulan Data 33
3.5
3.6
Teknik Pengolahan Data
Uji Asumsi Klasik
33
35
3.7 Defenisi Operasional Variabel 37
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 39
4.1 Deskripsi Wilayah Kecamatan Panyabungan 39
4.2 Profil Pedagang Tradisional di Pasar Baru Panyabungan 43
4.3
4.4
Faktor yang mempengaruhi Pendapatan Pedagang Tradisional
Uji Asumsi Klasik
48
61
4.5 Peran Pedagang Tradisional di Pasar Baru Panyabungan dalam Menyerap Tenaga Kerja
62
4.6 Kontribusi Retribusi Pasar Baru Panyabungan Terhadap PAD 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 72
5.1 Kesimpulan 72
5.2 Saran 73
DAFTAR PUSTAKA 74
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
3.1 Jumlah Populasi dan Sampel Pedagang 33
4.1 Luas, Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan Rata-rata per Rumah Tangga di Kecamatan Panyabungan Menurut Penggunaan Tanah Dirinci Menurut Desa/ Kelurahan Tahun 2012
41
4.2 Umur Responden 44
4.3 Agama Responden 45
4.4 Suku/ Etnis Responden 46
4.5 Daerah Asal 46
4.6 Jumlah Tanggungan dalam Keluarga 47
4.7 Statistik Deskriptif 48
4.8 Pendapatan Responden Perhari 48
4.9 Modal Lancar yang Digunakan Responden Setiap Hari 50
4.10 Statistik Deskriptif 50
4.11 Modal Kerja Responden terhadap Responden 51
4.12 Jam Kerja yang Digunakan Responden 52
4.13 Jam Kerja Responden terhadap Pendapatan 52
4.14 Pengalaman Kerja yang Digunakan Responden 53
4.15 Pengalaman Kerja Responden terhadap Pendapatan 54
4.16 Lokasi Berjualan yang Digunakan Responden 54
4.17 Lokasi Berjualan Responden terhadap Pendapatan 55
4.18 Rangkuman Hasil Analisis Regresi Berganda 56
4.20 Jumlah Tenaga Kerja yang Digunakan 62
4.21 Status Tenaga Kerja yang Digunakan Responden 63
4.22 Gaji yang Diberikan Responden Perhari Kepada Karyawan 64
4.23 Kontribusi Retribusi Pasar Baru Panyabungan terhadap PAD Kabupten Mandailing Natal Tahun 2007-2011
66
4.24 Kontribusi PAD terhadap APBD Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2007-2011
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
1 Kuisioner Penelitian 77
2 Rekapitulasi Jawaban Responden 81
3 Hasil Penelitian 84
4 Hasil Uji Asumsi Klasik 95
ABSTRAK
Ahmad Rifai Simamora NIM. 107003015 “ Peranan Pasar Baru Panyabungan Terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal ”, dibawah bimbingan Dr. Ir. Rahmanta, M.Si dan Dr. Rujiman, MA.
Sektor perdagangan di pasar baru Panyabungan diharapkan memberikan kontribusi bagi berkembangnya ekonomi daerah. Perkembangan pasar baru Panyabungan menyimpan potensi besar bagi peningkatan pendapatan pedagang dan membuka kesempatan kerja. Dalam peningkatan pendapatan pedagang, perlu dikaji pengaruh besarnya modal, jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha.
Penelitian ini dilakukan di pasar baru Panyabungan. Dalam penelitian ini ditetapkan 94 orang pedagang sebagai sampel. Alat analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang menjelaskan keadaan lapangan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai determinasi (R square) untuk semua variable seperti modal kerja, jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha terhadap pendapatan pedagang berpengaruh secara signifikan sebesar 99,4 %, sedangkan 0,6 % tidak dijelaskan didalam model. Kemudian uji serempak (F test) menunjukkan bahwa semua variable independent dapat mempengaruhi variable terikat (dependent variable) secara signifikan. Hasil secara parsial variable modal kerja, jam kerja, pengalaman kerja dan lokasi usaha di uji pada taraf signifikansi 1 % menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan pasar baru Panyabungan.
Peranan pasar baru Panyabungan terhadap pengembangan wilayah khususnya Kecamatan Panyabungan terlihat dari meningkatnya aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Melalui pasar baru ini terciptalah kesempatan kerja dan memberikan pendapatan bagi masyarakat. Ini merupakan salah satu indikator terjadinya pengembangan wilayah.
ABSTRACT
Ahmad Rifai Simamora. Student Registration Number. 107003015 “The Role of Pasar Baru Panyabungan in the Regional Development in Panyabungan
Subdistrict, Mandailing Natal District” under the supervision of Dr. Ir. Rahmanta,
M.Si and Dr. Rujiman, MA.
Trade sector in Pasar Baru Panyabungan is expected to contribute in the devcelopment of local economy. The development of Pasar Baru Panyabungan has a
big potential for the improvement of the traders’ income and provides job opportunity. In improving the traders’ income, it is important to study the influence of the amount of capital, working hours, work experience, and business location.
The samples for this descriptive study conducted at Pasar Baru Panyabungan were 94 persons. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests.
The result of this study showed that the value of determination (R square) of all of the variables such as the amount of capital, working hours, work experience, and business location had a significant influence on the income of the traders (99.4%), while the remaining 0.6% was not explained in the model. The result of F-test showed that all of the independent variables could significantly influence the dependent variable. Partially, the result of the variables of working capital, working hours, work experience and business location tested at level of significance 1% showed that they had a significant influence on the income of the traders at Pasar Baru Panyabungan.
The role of Pasar Baru Panyabungan in the regional development especially of Panyabungan Subdistrict is seen from the improvement of the community’s socio -economic activities. Through Pasar Baru, job opportunity providing income to the community members has been created. This is one of the progress indicators of regional development.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya atau
dengan perkataan lain bahwa pembangunan yang dilaksanakan tidak saja ditujukan
untuk mengejar material, akan tetapi ditujukan juga kepada yang bersifat spiritual.
Tujuan dari pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Diterbitkannya undang–undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah
daerah dan undang–undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, merupakan perwujudan dari
kebijakan pemerintah pusat untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan
masyarakat di daerah dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. Kedua
undang-undang tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi daerah karena
adanya pemberian kewenangan dan pembiayaan, yang selama ini merupakan
tanggung jawab pemerintah pusat. Perubahan sistim pemerintahan dari yang dulunya
sentralisasi kini menjadi otonomi daerah bukanlah hal yang mudah. Dalam hal ini di
perlukan suatu strategi yang mampu memanfaatkan seluruh kekuatan potensi yang
dimiliki dan memperkecil kelemahan yang ada dengan memperhatikan peluang serta
Kewenangan tersebut mencakup seluruh bidang pemerintahan kecuali
kewenangan dalam politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, agama, serta
moneter dan fiskal. Kewenangan pembiayaannya yaitu daerah dapat menggali
sekaligus menikmati sumber-sumber potensi ekonomi serta sumber daya alamnya
tanpa adanya intervensi terlalu jauh dari pemerintah pusat. Hal tersebut akan dapat
berdampak terhadap kemajuan perekonomian daerah yang pada akhirnya tercipta
pembangunan di daerah.
Pembangunan daerah meliputi pembangunan perkotaan dan pembangunan
pedesaan yang harus dilaksanakan secara terpadu. Pembangunan daerah ditujukan
untuk meningkatkan taraf hidup, memperluas kesempatan usaha, kesempatan kerja
dan meningkatkan ketahanan serta daya saing perekonomian daerah terutama di
sektor perdagangan.
Pembangunan ekonomi selalu ditujukan untuk mempertinggi kesejahteraan
dalam arti yang seluas-luasnya. Kegiatan pembangunan ekonomi selalu dipandang
sebagai bagian dari keseluruhan usaha pembangunan yang dijalankan oleh
masyarakat. Pembangunan ekonomi meliputi usaha masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi dan mempertinggi tingkat pendapatan
masyarakat, sedangkan keseluruhan usaha pembangunan meliputi usaha-usaha
pembangunan sosial, politik, dan kebudayaan. Sehingga pembangunan ekonomi
sebagai suatu proses untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat dalam
Pasar tradisional merupakan sentra kehidupan masyarakat Indonesia, tumbuh
dan berkembang baik di desa maupun di kota seiring perkembangan masyarakat.
Pasar tradisional sendiri merupakan simbolisasi dari kemandirian rakyat karena
bertahun-tahun pasar tradisional menjadi tempat transaksi jual beli dan memberikan
peluang kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat sehingga
pembangunannya akan memberikan kontribusi bagi berkembangnya dinamika
ekonomi masyarakat. Disana bergabunglah segala elemen masyarakat yang tergabung
dalam transaksi jual beli.
Pasar tradisional adalah bentuk terawal dari pasar yang terdiri dari deretan
kios/stan yang umumnya berada di ruang terbuka, di tempat semacam inilah petani
dan pedagang sejak waktu dulu melakukan pertukaran hasil pertanian mereka. Pada
permukiman yang kecil, pasar tradisional mengambil tempat di sepanjang jalan utama
di daerah itu pada kedua sisinya (Gallion, 1986).
Pasar sebagai bentuk pelayanan umum tempat terjadinya transaksi jual beli
barang bagi masyarakat, merupakan salah satu cerminan perekonomian dan sosial
budaya setiap komunitas di dunia ini. Seiring dengan perkembangan zaman, dari
waktu ke waktu pasar mengalami evolusi bentuk tempat dan cara pengelolaannya,
dari yang bersifat tradisional menjadi modern. Perkembangan tempat perbelanjaan di
kota-kota dunia, baik dinegara Barat maupun Asia, semuanya melalui
tahapan-tahapan, mulai dari pasar tradisional, yang kemudian mengalami proses modernisasi
spesialisasi dan diversifikasi profesi, serta struktur social ekonomi dan perubahan
budaya masyarakat (West. A, 1994).
Hampir seluruh pasar tradisional di Indonesia masih bergelut dengan masalah
internal pasar seperti buruknya manajemen pasar, sarana dan prasarana pasar yang
sangat minim, pasar tradisional sebagai sapi perah untuk penerimaan retribusi,
menjamurnya pedagang kaki lima yang mengurangi pelanggan pedagang pasar, dan
minimnya bantuan permodalan yang tersedia bagi pedagang tradisional. Masalah
infrastruktur yang hingga kini masih menjadi masalah serius di pasar tradisional
adalah kebersihan dan tempat pembuangan sampah yang kurang terpelihara,
kurangnya lahan parkir, dan buruknya sirkulasi udara merupakan kondisi keberadaan
pasar tradisional, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan pedagang
tradisional. Permasalahan klasik seputar pengelolaan yang kurang professional dan
ketidaknyamanan berbelanja merupakan sisi lain dari fasilitas pasar tradisional.
Namun dengan kondisi yang tidak memadai tersebut pasar tradisional tetap
menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari.
Begitu juga dengan pasar tradisional yang terdapat di Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal. Sehingga dapat dilihat, akhir-akhir ini begitu banyak
bermunculan pasar tradisional dimana-mana, bahkan ada yang tidak layak untuk
disebutkan sebagai pasar. Begitu besar peranan pasar dalam kehidupan, sehingga
Menarik pengunjung sebanyak-banyaknya adalah tujuan utama dari para
pelaku pasar. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung berarti meningkat pula
transaksi jual beli di pasar tersebut. Secara langsung ini berpengaruh besar terhadap
pendapatan pedagang di pasar tersebut. Selain itu besarnya modal, jam kerja, dan
pengalaman kerja diduga akan berpengaruh terhadap pendapatan pedagang. Besarnya
modal kerja juga akan menentukan kelangsungan pedagang dalam membelanjai
operasinya sehari-hari. Untuk menjadikan pasar tradisional tersebut sebagai pasar
dengan tingkat pengunjung yang banyak ada beberapa faktor yang akan
mempengaruhinya, salah satunya adalah luas dan lokasi pasar. Salah satu pasar
tradisional yang sedang berkembang adalah pasar baru Panyabungan di Kecamatan
Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal.
Kecamatan Panyabungan dulunya hanya sebuah ibukota Kecamatan, kini
sudah berkembang menjadi sebuah ibukota Kabupaten Mandailing Natal, yang
sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan disegala bidang. Perubahan serta
kemajuan telah banyak dialami sebagai akibat dari perkembangan dan pembangunan
yang sedang dan terus dilaksanakan oleh pemerintah, baik pembangunan fisik,
maupun dibidang kemasyarakatan dan ekonomi.
Salah satu aspek yang telah dibangun dan sedang berkembang adalah pasar
tradisonal pasar baru Panyabungan. Keberadaan pasar tradisional di kecamatan
Panyabungan di awali dari sebuah pasar tradisional pasar lama Panyabungan yang
dulunya telah berkembang, namun keberadaan pedagang yang berada tepat ditepi
jalan besar Panyabungan telah mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas. Pasar
lama Panyabungan sudah tidak dapat menampung banyaknya pedagang, dan
banyaknya pembeli. Setelah ditingkatkannya status dari ibukota kecamatan menjadi
ibukota Kabupaten sebagai hasil pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi
Kabupaten Mandailing Natal (MADINA) dengan ibukotanya Panyabungan pada
Maret 1999, maka pembangunan sarana dan prasarana pendukung relokasi pasar lama
menjadi pasar baru Panyabungan mulai dilaksanakan. Dan akhirnya pada tahun 2004
pusat pasar lama yang sudah tidak memadai direlokasi ke pasar baru Panyabungan.
Pasar baru Panyabungan pada saat itu masih dikelola oleh Dinas Pasar Kabupaten
Mandailing Natal, kemudian pada tahun 2012 pasar baru Panyabungan dikelola oleh
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Dan Pasar.
Melihat perkembangan pasar tradisional pasar baru Panyabungan, yang
menyimpan potensi besar bagi pendapatan pedagang dan membuka kesempatan kerja,
maka dipandang perlu dilakukan penelitian tentang Peranan Pasar Baru Panyabungan
Terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Panyabungan Kabupaten
Mandailing Natal.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan maka permasalahan dalam
1. Bagaimana pengaruh modal, jam kerja, pengalaman kerja, lokasi usaha terhadap
pendapatan pedagang pasar baru Panyabungan.
2. Bagaimana peran pasar baru Panyabungan terhadap penyerapan tenaga kerja.
3. Seberapa besar kontribusi pasar baru Panyabungan terhadap Pendapatan Asli
Daerah.
4. Bagaimana peranan pasar baru Panyabungan dalam pengembangan wilayah.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang dipaparkan di atas, tujuan penelitian ini
adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh modal, jam kerja, lama kerja, dan lokasi usaha
terhadap pendapatan pedagang di pasar baru Panyabungan
2. Untuk menganalisis pengaruh pasar baru Panyabungan terhadap penyerapan
tenaga kerja
3. Untuk menganalisis besarnya kontribusi pasar tradisional terhadap peningkatan
Pendapatan Asli Daerah
4. Untuk menganalisis peranan pasar tradisional pasar baru Panyabungan terhadap
1.4. Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang perumusan masalah maka manfaat penelitian ini
adalah:
1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kabupaten Mandailing Natal khususnya
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pasar tentang peran pasar baru
Panyabungan dalam penciptaan lapangan kerja serta peningkatan pengelolaan
pasar tradisional pasar baru Panyabungan.
2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya dalam rangka
pengembangan Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pasar tradisional.
3. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang pasar tradisional pasar baru
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah bentuk terawal dari pasar yang terdiri dari deretan
kios/stan yang umumnya berada di ruang terbuka, ditempat semacam inilah petani
dan pedagang sejak waktu dulu melakukan pertukaran hasil pertanian mereka. Pada
pemukiman yang kecil, pasar tradisional mengambil tempat di sepanjang jalan utama
di daerah itu pada kedua sisinya (Gallion, 1986).
Kegiatan pasar tradisional merupakan kegiatan perekonomian tradisional yang
mempunyai ciri khas adanya sifat tawar menawar antara penjual dan pembeli. Karena
sifatnya untuk melayani kebutuhan penduduk sehari-hari, maka lokasi cenderung
mendekati atau berada di daerah perumahan penduduk (Tuti, 1992).
Pasar tradisional yang terdapat di Indonesia sekarang memiliki karakteristik.
Beberapa karakteristik umum pasar tradisional seperti :
1. Memiliki posisi strategis, dan berada di lingkungan padat penduduk.
2. Buka 24 jam, setengah hari, setiap hari, dua minggu sekali, seminggu sekali, atau
pada hari-hari tertentu (hari-hari pasar)
3. Menjual kebutuhan pokok sehari-hari, khususnya keperluan dapur, komoditi
4. Tidak teratur, terkesan kotor dan semraut, banyak pedagang kaki lima dan lokasi
pasar yang terbatas.
5. Rawan kebakaran, rawan copet dan rawan kejahatan lainnya.
6. Permodalan pedagang lemah dan bisnis rentenir tumbuh subur.
7. Transaksi perdagangan secara informal dan bersifat tawar menawar.
8. Pengelolaan pasar kurang professional.
Pasar merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam meningkatkan
pendapatan serta membuka kesempatan kerja yang luas terutama bagi masyarakat
yang berpendidikan rendah. Umumnya pasar terdapat baik di perkotaan maupun di
pedesaan. Pada kegiatan pasar, seharian berjualan dengan cara eceran untuk berbagai
jenis makanan dan keperluan rumah tangga dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sulistyowati (1999), mengartikan pasar secara fisik sebagai tempat pemusatan
beberapa pedagang tetap dan tidak tetap yang terdapat pada suatu ruangan terbuka
atau ruangan tertutup atau suatu bagian jalan. Selanjutnya pengelompokan para
pedagang eceran tersebut menempati bangunan-bangunan dengan kondisi bangunan
temporer, semi permanen ataupun permanen.
Para pedagang eceran ini di dalam pasar ada yang berjualan secara formal yaitu
berjualan dengan memiliki toko-toko ataupun kios-kios untuk barang dagangannya,
ada juga berjualan eceran dengan cara informal yaitu berjualan di pinggir-pinggir
2.2. Peranan Pasar Tradisional
Pasar tradisional sebagian besar muncul dari kebutuhan masyarakat yang
membutuhkan tempat untuk menjual barang yang dihasilkannya serta konsumen yang
membutuhkan barang-barang tertentu untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh
karenanya letak pasar tradisional banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan desa
(dalam perkembangan menjadi jalan utama), yang memudahkan penjual dan pembeli
menjangkaunya. Pasar yang terus tumbuh karena kebutuhan masyarakat tersebut
seiring dengan aktivitas perdagangan masyarakat sekitarnya.
Perlu disadari bahwa pasar tradisional memiliki beberapa fungsi yang positif
bagi peningkatan perekonomian daerah yaitu : sebagai pusat pengembangan ekonomi
rakyat, pasar sebagai sumber retribusi, pasar sebagai tempat pertukaran barang, pasar
sebagai pusat perputaran uang daerah, dan pasar sebagai lapangan pekerjaan.
Pasar merupakan salah satu sarana ekonomi untuk memberikan kemudahan
kepada kalangan masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli barang baik
barang-barang yang bersifat konsumtif maupun produktif. Selain itu, pasar juga memberikan
peluang kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat sehingga
pembangunannya akan memberikan kontribusi bagi dinamika ekonomi masyarakat
dan peningkatan pendapatan pemerintah.
Mempertahankan pasar tradisional secara fisik cukup mudah tetapi
mempertahankan fungsi pasar tradisional jauh lebih sulit. Perubahan prefensi
transportasi, urbanisasi, dan globalisasi akan mempengaruhi jumlah pengguna pasar
tradisional skala kecil sampai menengah. Peranan pasar tradisional tersebut akan
terus menurun. Selain itu, peran pasar tradisional juga dapat terancam oleh hadirnya
pedagang kaki lima dan warung-warung di perkampungan. Hal ini secara tidak
langsung akan mengakibatkan pasar tradisional yang harus tutup karena telah
kehilangan fungsinya.
Faktor lain yang juga menjadi penyebab kurang berkembangnya pasar
tradisional adalah minimnya daya dukung karakteristik pedagang tradisional, yakni
strategi perencanaan yang kurang baik, terbatasnya akses permodalan yang
disebabkan jaminan yang tidak mencukupi, tidak adanya skala ekonomi, tidak ada
jalinan kerjasama dengan pemasok besar, buruknya manajemen pengadaan, dan
ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan keinginan konsumen (Wiboonponse
dan Sriboonchitta, 2006).
2.3. Lapangan Pekerjaan
Pengertian pasar kerja adalah seluruh kebutuhan dan persediaan tenaga kerja
dengan semua jalan yang memungkinkan penjual tenaga kerja (pekerja) dan pembeli
tenaga (majikan) bertemu dan melakukan transaksi (penerimaan, penugasan,
pemberhentian, promosi, pemindahan dan sebagainya) (Soeroto, 1983). Dengan
demikian pasar kerja mencakup waktu sebelum orang memasuki pekerjaan dan
lapangan pekerjaan atau kesempatan yang tersedia untuk bekerja akibat dari suatu
kegiatan ekonomi (produksi). Dengan demikian pengertian kesempatan mencakup
lapangan pekerjaan yang masih lowong.
Pengertian tentang pasar kerja tersebut perlu disesuaikan dengan tingkat
perkembangan ekonomi negara atau wilayah yang bersangkutan. Dalam negara maju,
yang mempunyai sistem pasaran bebas, sebagian besar dari badan-badan
perekonomian sudah terorganisasikan dan hasil sudah memiliki bentuk yang lebih
bersifat tetap, sebaliknya sektor informal sedikit. Hal ini menyebabkan sebagian
terbesar dari ketenagakerjanya terikat dalam pekerja upahan. Keadaan dalam negara
berkembang sebaliknya, di dalam negara berkembang lebih banyak usaha-usaha yang
belum mempunyai bentuk tetap, keseluruhan usaha semacam ini biasa disebut sektor
informal.
Berdasarkan Undang-undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
secara umum memberikan sumbangan yang sangat positif terhadap berjalannya pasar
kerja di Indonesia. Undang-undang yang baru ini memperlihatkan konsensus dari
berbagai pihak terkait mengenai isu-isu yang sebelumnya sangat menimbulkan
pertentangan. Dalam Undang-undang tersebut adalah ditetapkannya aturan main
mengenai representasi pekerja dalam rangka proses perundingan kolektif.
Namun demikian, ada beberapa bagian yang apabila dijalankan secara kaku
justru akan mengurangi fleksibilitas pasar kerja. Dilaksanakan secara kaku
kecil atau rumah tangga, atau jenis usahanya. Kuncinya, aturan main pasar kerja tidak
seharusnya menimbulkan distorsi yang besar terhadap keputusan perusahaan
mengenai investasi dan penggunaan tenaga kerja. Pengaturan yang berlebihan
mengenai upah minimum, pekerja kontrak dan outsourcing, serta PHK berpotensi
untuk mengurangi fleksibilitas pasar kerja.
Sektor pekerjaan atau lapangan kerja adalah bidang kegiatan dari
pekerjaan/tempat bekerja/perusahaan/kantor dimana seseorang bekerja. Dalam
analisis ketenagakerjaan pengelompokan sektor pekerjaan biasanya dilakukan sesuai
dengan yang terdapat dalam buku Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLI) sebagai berikut :
1. Pertanian (termasuk perikanan, kehutanan, Perkebunan)
2. Pertambangan dan penggalian
3. Industri (termasuk jasa industri)
4. Listrik, gas dan air
5. Bangunan (termasuk instalatir dan tukang gali sumur)
6. Perdagangan (termasuk usaha jual beli, katering, rumah makan, hotel, motel,
losmen dan penginapan lainnya)
7. Angkutan, pergudangan dan telekomunikasi (termasuk jasa angkutan,
8. Keuangan (bank, asuransi, usaha persewaan bangunan/tanah, jasa perusahaan
dan lembaga keuangan lainnya seperti : Pasar modal, penggadaian, penukaran
uang asing dan sebagainya).
9. Jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan, seperti lembaga legislatif, lembaga
tinggi negara dan pemerintah, pertahanan keamanan, jasa pendidikan,
kebersihan, hiburan, kebudayaan, pembantu rumah tangga dan sebagainya.
10.Lainnya : Kegiatan/lapangan usaha atau perorangan, badan/lembaga yang tidak
tercakup dalam salah satu sektor di atas atau yang belum jelas batasannya seperti
tukang beling, pemulung, renternir dan lain-lain
Status pekerjaan adalah kedudukan seseorang dalam unit usaha/kegiatan
dalam melakukan kegiatan. Dengan demikian status pekerjaan seseorang dapat dibagi
kedalam 7 (tujuh) Kelompok, yaitu :
1. Berusaha Sendiri, adalah mereka yang bekerja atau berusaha dengan menanggung
resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang
telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan
pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya
memerlukan teknologi atau keahlian khusus.
2. Berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, adalah bekerja atau
berusaha atas resiko sendiri, dan menggunakan buruh/pekerja tak dibayar dan
3. Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar, adalah berusaha atas resiko sendiri
dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/ pekerja tetap yang dibayar.
4. Buruh/ Karyawan/ Pegawai, adalah seorang yang bekerja pada orang lain atau
instansi/ kantor/ perusahaan secara tetap dengan menerima upah/ gaji baik berupa
uang maupun barang.
5. Pekerja bebas dipertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/
majikan/ institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan
terakhir) diusaha pertanian baik berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha
rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik
berupa uang maupun borongan. Usaha pertanian meliputi : pertanian tanaman
pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan perburuan, termasuk
juga jasa pertanian.
6. Pekerja bebas di nonpertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/
majikan/ institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan
terakhir), diusaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa
uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun
borongan.
7. Pekerja keluarga adalah anggota rumah tangga yang membantu usaha untuk
memperoleh pengahasilan/ keuntungan yang dilakukan oleh salah seorang
anggota rumah tangga atau bukan anggota rumah tangga tanpa mendapat
Tenaga kerja terbagi atas tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria.
Pengelompokan tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin ini pada dasarnya agar
kualitas produksi bisa terjamin karena adanya kesesuaian antara tenaga dengan jenis
pekerjaannya. Berdasarkan kualitasnya tenaga kerja terbagi atas:
a. Tenaga kerja terdidik/ ahli yaitu tenaga kerja yang memiliki keahlian yang di
peroleh dari jenjang pendidikan formal seperti dokter, notaris, arsitektur dan
sebagainya.
b. Tenaga kerja terampil/ terlatih yaitu tenaga kerja yang memiliki keterampilan
yang diperoleh dari pengalaman atau kursus-kursus seperti monitor, tukang las.
Berdasarkan lapangan pekerjaan tenaga kerja dapat dibagi menjadi beberapa bagian :
a. Tenaga kerja profesional adalah tenaga kerja yang umumnya mempunyai
pendidikan tinggi yang menguasai suatu bidang ilmu pengetahuan khusus, seperti
arsitektur, dokter.
b. Tenaga kerja terampil (terlatih) tenaga yang memiliki keterampilan khusus dalam
bidang tertentu yang diperoleh dari pendidikan seperti pendidikan menengah plus
sampai setara Diploma 3, seperti tenaga pembukuan.
c. Tenaga kerja biasa adalah tenaga kerja yang tidak memerlukan keterampilan
khusus dalam melaksanakan pekerjaannya, seperti tukang gali sumur.
Konsep pendapatan biasanya dipakai untuk mengukur kondisi ekonomi suatu
perusahaan, rumah tangga ataupun perorangan, salah satu konsep yang paling sering
digunakan adalah melalui tingkat pendapatan. Pendapatan menunjuk pada seluruh
uang atau hasil materi lainnya yang diterima seseorang atau rumah tangga selama
kurun waktu tertentu pada suatu kegiatan ekonomi.
Menurut Winardi dalam Ediwarsyah (1987) yang dimaksud dengan
pendapatan adalah hasil berupa uang atau hasil berupa materil lainnya yang dicapai
dari pada penggunaan kekayaan atau jasa-jasa manusia. Bila diambil dari pengertian
pendapatan perseorangan, lebih lanjut Winardi mengatakan pendapatan perseorangan
bersih adalah pendapatan perseorangan yang tersedia untuk konsumsi atau investasi
atau tabungan.
Pendapatan atau sering disebut dengan penghasilan didefinisikan sebagai
bentuk balas-karya yang diperoleh sebagai imbalan atas balas jasa atau sumbangan
seseorang terhadap proses produksi. Jenis-jenis sumber pendapatan dapat berasal
dari:
1. Usaha sendiri (wiraswasta, misalnya berdagang, mengerjakan sawah)
2. Bekerja pada orang lain, misalnya bekerja dikantor atau perusahaan sebagai
pegawai atau karyawan (baik swasta ataupun pemerintah)
3. Hasil dari milik, misalnya mempunyai sawah yang disewakan, punya rumah
Pendapatan dan penerimaan anggota-anggota keluarga dibagi lagi dalam
pendapatan berupa uang, pendapatan berupa barang, dan lain-lain. Pendapatan berupa
uang adalah segala penghasilan berupa uang yang sifatnya regular dan diterima
sebagai balas jasa atau kontra prestasi. Sumber-sumber utama adalah gaji dan upah
serta lain-lain balas jasa serupa dari majikan; pendapatan bersih dari usaha sendiri
dan pekerjaan bebas; pendapatan dari penjual barang yang dipelihara di halaman
rumah, hasil investasi seperti bunga modal, tanah, uang pensiunan, jaminan social,
serta keuntungan sosial (Sumardi dan Evers, 1982).
Pendapatan/ penghasilan dapat diterima berupa uang, atau dalam bentuk
barang (seperti tunjangan beras, hasil dari sawah, atau pekarangan sendiri), atau
fasilitas-fasilitas (misalnya rumah dinas, pengobatan/kesehatan gratis), selain hal
tersebut diatas masih dijumpai pendapatan yang berasal dari : uang pensiun bagi
mereka yang sudah lanjut usia dan dulu bekerja pada pemerintah atau instansi
lainnya; sumbangan atau hadiah, misalnya sokongan dari saudara/family, warisan
dari nenek, hadiah tabungan. Pinjaman atau hutang, ini memang merupakan uang
masuk, tetapi pada suatu saat akan harus dilunasi/dikembalikan (Richardson, 2001).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa pengertian
pendapatan itu mempunyai aneka ragam, hal ini tergantung orientasi dari
permasalahan yang di hadapi, antara lain seperti :
a. Bila di tinjau dari beban biaya yang dikeluarkan dari hasil pendapatan yang di
1. Pendapatan dalam arti revenue, yaitu pendapatan yang belum dikurangi biaya
-biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut.
2. Pendapatan dalam arti income adalah pendapatan yang sudah dikurangi
dengan biaya-biaya untuk memperoleh pendapatan itu. Pengertian income itu
sendiri dibagi atas dua bagian, yaitu income sebelum dipotong pajak dan
income sesudah dipotong pajak.
b. Bila ditinjau dari cara memperolehnya, maka pengertian pendapatan itu dapat di
bagi atas dua bagian, yaitu :
1. Pendapatan yang diperoleh dengan mempergunakan modal.
2. Pendapatan yang diperoleh dengan mempergunakan jasa-jasa.
2.5. Jam Kerja
Curah jam kerja adalah jumlah jam kerja yang dicurahkan oleh setiap tenaga
kerja selama proses produksi artinya banyaknya jumlah jam kerja yang dikeluarkan
tenaga kerja dalam suatu proses produksi, sedangkan tingkat pencurahan jam kerja
adalah persentase banyaknya jam kerja yang dicurahkan terhadap jumlah kerja yang
tersedia artinya jumlah jam kerja yang dicurahkan terhadap suatu pekerjaan yang
dinyatakan dalam persentase (Mubyarto, 1990)
Seorang yang mempunyai nilai waktu yang tinggi akan menyebabkan nilai
waktunya bertambah mahal. Orang yang nilai waktunya relative mahal cenderung
partisipasi kerja akan menyebabkan terjadinya income dan subtitusion efek. Income
effect dimaksudkan orang yang berpendapat tinggi akan mengurangi waktu
bekerjanya dengan menggantikan waktu senggang sehingga partisipasi angkatan kerja
mengalami, sedangkan yang dimaksud dengan subtitusion efek adalah orang yang
berpendapatan rendah akan menambah waktu kerjanya karena waktu kerja semakin
mahal sehingga banyak orang menggantikan waktu senggangnya untuk bekerja yang
menyebabkan tingkat partisipasi angkatan kerjanya mengalami kenaikan.
2.6. Modal
Modal kerja merupakan kekayaan perusahaan yang sangat diperlukan untuk
membelanjai operasinya sehari-hari dan modal ini memiliki siklus selama kurang dari
satu tahun, besarnya modal kerja akan sangat menentukan kelangsungannya
perusahaan. Arti modal kerja dalam sejarahnya berkembang sesuai dengan
perkembangan modal kerja itu sendiri secara ilmiah, modal kerja yang kadang disebut
modal kerja bruto, tidak lain adalah aktiva lancar (Weston dan Brigham dalam
Mubyarto, 1993)
Modal kerja dapat dibagi dengan membaginya dalam tiga konsep yaitu :
(Riyanto, 1995 dalam Muklis, 2007).
1. Konsep kuantitatif
Menurut konsep ini, dana yang tertanam dalam aktiva akan kembali ke bentuk
adalah keseluruhan jumlah aktiva lancar, modal kerja dalam pengertian ini sering
disebut modal kerja bruto
2. Konsep kualitatif
Dalam konsep ini modal kerja disebut dengan modal kerja bersih dan dikaitkan
dengan jumlah aktivitas lancar dan hutang lancar. Sebagian aktiva lancar
perusahaan disediakan untuk membayar kewajiban lancarnya. Oleh karenanya
maka modal kerja menurut konsep ini adalah sebagai dari aktiva lancar yang
benar-benar dapat dipergunakan untuk membiayai operasional perusahaan tanpa
mengganggu likuidasi.
3. Konsep fungsional
Konsep ini berdasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan,
maksudnya pernyataan tersebut adalah bahwa dana yang tertanam dalam
perusahaan dipergunakan untuk menghasilkan pendapatan.
2.7. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah
yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan pendapatan hasil daerah dan bertujuan memberikan kewenangan kepada
Pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan
Pendapatan Asli Daerah adalah sumber pendapatan daerah yang murni digali
oleh daerah sendiri dan merupakan salah satu sumber pembiayaan investasi
Pemerintah daerah yang harus senantiasa diupayakan peningkatannya setiap tahun.
Dengan adanya peningkatan pendapatan asli daerah tersebut diharapkan akan
semakin besar kontribusinya terhadap APBD daerah.
Diterbitkannya undang–undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah
daerah dan undang–undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menyatakan bahwa sumber-sumber
penerimaan daerah adalah :
1. Pendapatan Asli Daerah
a. Pajak daerah
b. Retribusi daerah
c. Hasil perusahaan daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan
d. Lain-lain pendapatan yang sah.
2. Dana perimbangan
3. Pinjaman daerah
4. Pendapatan yang sah lainnya.
Adapun Sumber Pendapatan Asli Daerah tersebut menurut UU No. 33 Tahun
A. Pajak Daerah.
Menurut peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2001
tentangPajak Daerah, bahwa pajak daerah atau disebut pajak adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung, yang
dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan
daerah.
Menurut UU No. 34 Tahun 2000 ayat 2, jenis pajak Kabupaten/Kota terdiri
dari :
1. Pajak Hotel
2. Pajak Restoran
3. Pajak Hiburan
4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan Bahan Galian C
7. Pajak Parkir
B. Retribusi Daerah
Pengertian retribusi daerah menurut UU No.34 tahun 2000 adalah pungutan
atau yang diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan. Sehingga retribusi daerah dapat dicirikan sebagai berikut :
1. Retribusi dipungut daerah
2. Dalam pungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan daerah yang dapat
langsung dihunjuk.
3. Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan atau mengenyam jasa
yang disediakan oleh pemerintah daerah.
Adapun jenis retribusi daerah menurut Undang-undang No. 34 tahun 2000 adalah
yang dikelompokkan kedalam tiga golongan yaitu Jasa Umum, Jasa Usaha, dan
Perijinan Tertentu.
C. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya
yang dipisahkan.
Dalam hal ini, antara lain adalah bagian laba, deviden, dan penjualan saham milik
daerah. Menurut Devas (1989), dalam buku Keuangan Pemerintah Daerah di
Indonesia mengemukakan bahwa Pemerintah Daerah dimungkinkan untuk
mendirikan perusahaan Daerah dengan pertimbangan :
1. Menjalankan ideology yang dianut bahwa sarana produksi milik masyarakat.
2. Untuk melindungi konsumen dalam hal monopoli alami.
4. Untuk menciptakan lapangan kerja atau mendorong pembangunan ekonomi di
daerah.
5. Dianggap cara yang efisien untuk menyediakan layanan masyarakat, dan atau
menebus biaya, serta untuk menghasilkan penerimaan untuk pemerintah daerah.
D. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.
Menurut Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dinyatakan bahwa lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah antara lain, hasil penjualan asset daerah dan jasa
giro. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 8 Tahun 1987 tentang
penerimaan sumbangan pihak ketiga kepada daerah ditegaskan bahwa penerimaan
lain-lain antara lain berasal dari penerimaan sumbangan pihak ketiga oleh daerah atas
dasar sukarela dan tidak mengikat serta dengan persetujuan DPRD Tk. II.
2.8. Pengembangan Wilayah
Pengertian wilayah (region) adalah suatu unit geografi yang membentuk suatu
kesatuan. Yang dimaksud dengan unit geografi adalah ruang sehingga bukan
merupakan aspek fisik tanah saja, tetapi lebih dari itu aspek-aspek lain, seperti
biologi, ekonomi,social, dan budaya (Wibowo, 2004).
Menurut Hadjisaroso (1994), Pengembangan wilayah merupakan suatu
rangka usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat. Sandi (1992),
mengemukakan pengertian pengembangan wilayah pada hakekatnya adalah
pelaksanaan pembangunan nasional disuatu wilayah yang disesuaikan dengan
kemampuan fisik dan sosial wilayah tersebut serta tetap mentaati peraturan
perundangan yang berlaku. Jayadinata (1992), mengemukakan pengembangan
wilayah adalah memajukan atau memperbaiki serta meningkatkan sesuatu yang telah
ada. Sedangkan menurut Miraza (2005), pengembangan wilayah adalah pemanfaatan
potensi wilayah, baik potensi alam maupun potensi buatan. Pengembangan wilayah
harus dilaksanakan secara fully dan berdaya guna (efficientcy) agar pemanfaatan
potensi dimaksud berdampak pada kesejahteraan masyarakat secara maksimal.
Sasaran pengembangan wilayah harus dilihat dari tujuan pembangunan
nasional. Begitu juga dengan tujuan pembangunan daerah yang harus sesuai dengan
tujuan pembangunan nasional yang pada umumnya terdiri dari :
1. Mencapai pertumbuhan pendapatan per kapita yang cepat
2. Menyediakan kesempatan kerja yang cukup
3. Pemerataan pendapatan
4. Mengurangi perbedaan antara tingkat pendapatan, kemakmuran, pembangunan
serta kemampuan antar daerah.
5. Membangun struktur perekonomian agar tidak berat sebelah (Hardjisaroso, 1994).
Tujuan utama dari pengembangan wilayah adalah menyerasikan berbagai
ruang dan sumberdaya yang ada didalamnya dapat optimal mendukung kegiatan
kehidupan masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan wilayah yang
diharapkan.
Pengembangan wilayah (regional development) merupakan upaya untuk
memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilah, dan
menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Pengembangan wilayah
sangat diperlukan karena kondisi social ekonomi, budaya dan geografis yang sangat
berbeda antar suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Pada dasarnya pengembangan
wilayah harus disesuaikan dengan kondisi, potensi dan permasalahan wilayah
bersangkutan (Riyadi, 2002)
Menurut Tarigan (2005), keberhasilan pembanguan wilayah dapat diukur dari
beberapa parameter antara lain, meningkatnya pendapatan masyarakat, peningkatan
lapangan pekerjaan, dan pemerataan pendapatan.
Pembangunan masyarakat erat kaitannya denga pendapatan masyarakat.
Tingkat pendapatan masyarakat dapat di ukur dengan total pendapatan wilayah
maupun pendapatan rata-rata masyarakat pada daerah tersebut.
2.9. Penelitian Sebelumnya
Penelitian tentang pasar tradisional yang telah dilakukan, memberikan
gambaran yang hampir bersamaan tentang keberadaan pasar tradisional tersebut,
Hakim (2003), menunjukkan peran pasar tradisonal terhadap pendapatan
pedagang dan penyerapan tenaga kerja kaitannya dengan pengembangan wilayah
kota Medan (studi kasus pasar tradisional di PD Pasar Kota Medan). Pasar tradisional
berperan meningkatkan pendapatan pedagang, penyerapan tenaga kerja dan
penerimaan PD Pasar Kota Medan terhadap PDRB.
Haris (2001), melakukan studi tentang peranan pasar tradisional dalam
meningkatkan pendapatan pedagang dan kaitannya dengan pengembangan wilayah
kota Medan (studi kasus pasar tradisional di PD pasar Medan). Penelitian ini
menghasilkan bahwa pemberian bantuan modal berdagang sangat membantu
pedagang, dan secara umum modal yang diberikan semakin berkembang sehingga
semakin banyak pedagang yang mendapatkan bantuan modal, pengenaan tarif
kontribusi kepada pedagang berdasarkan luas tempat usaha, jenis barang yang
didagangkan dan kelas pasar tempat berdagang.
Sihombing (2010), melakukan penelitian mengenai peranan pasar tradisional
dalam pengembangan wilayah (studi di kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli
Serdang). Penelitian ini menghasilkan faktor modal, jam kerja, lokasi usaha, dan
tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap pendapatan pedagang tradisional
2.10. Kerangka Pemikiran
Untuk mempermudah pemahaman tentang konsep penelitian ini, maka dapat
dilihat pada bagan di bawah ini :
[image:47.612.111.525.216.657.2]
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
TENAGA KERJA
PENGEMBANGAN WILAYAH
PASAR TRADISION
PEDAGANG
PENDAPATAN PEDAGANG
PENDAPATAN ASLI DAERAH
2.11. Hipotesis Penelitian
1. Modal, jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha berpengaruh positif
terhadap pendapatan pedagang pasar baru panyabungan.
2. Pasar baru panyabungan memberikan kontribusi yang positif terhadap Pendapatan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pasar Tradisional Pasar Baru Panyabungan yang
berada di Kecamatan Panyabungan, Kabupataen Mandailing Natal. Pemilihan lokasi
penelitian ini disebabkan besarnya perkembangan aktivitas pasar tradisional yang
telah berkembang hingga menjadi Pusat Perdagangan yang terbesar di Kabupaten
Mandailing Natal. Obyek penelitian ini adalah pedagang yang berada di Pasar
Tradisional Pasar Baru Panyabungan. Waktu penelitiannya dilaksanakan selama 3
(tiga) bulan, yang akan dimulai pada bulan Juni sampai Agustus 2012.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data
primer. Data sekunder di dapat dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Perindustrian
Perdagangan Koperasi dan Pasar, serta dari studi kepustakaan yang bersumber dari
literatur dokumen-dokumen atau tulisan-tulisan yang ada hubungannya dengan
permasalahan penelitian. Sedangkan data Primer di peroleh langsung dari responden
3.3.Populasi dan Sampel
Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah pedagang yang berjualan di
Pasar Baru Panyabungan. Populasi penelitian ini meliputi seluruh pedagang yang ada
di pasar baru panyabungan sebanyak 1.066 pedagang yang terdiri dari pedagang
makanan/minuman, sayur-sayuran, buah-buahan, daging/ayam/ ikan, konveksi,
kelontong. Pemilihan sampel yang digunakan untuk mewakili populasi dilakukan
dengan cara purposive sampling, yaitu berdasarkan pedagang yang menjadi
responden penelitian. Untuk mengetahui besarnya jumlah respoden yang akan
dijadikan sampel digunakan rumus Frank Lynk :
Keterangan : n : Jumlah sampel
N : Jumlah Populasi
Z : Nilai normal dari variabel (1,96) untuk tingkat kepercayaan 95%
P : Harga Patokan tertinggi (0,5)
d : Sampling Error (0,1)
Bila di hitung dengan menggunakan rumus di atas, maka diketahui jumlah
responden pedagang tersebut sebagai berikut :
Responden yang diambil sebanyak 94 responden, untuk masing-masing
[image:51.612.109.530.192.348.2]pedagang diambil sampel sebagai berikut :
Tabel 3.1. Jumlah Populasi dan Sampel Pedagang
No Pedagang Jumlah Pedagang Perhitungan Sampel
1 Makanan/ Minuman 60
x 94 = 5,29 5
2 Sayur-sayuran 135
x 94 = 11,90 12
3 Buah-buahan 75
x 94 = 6,61 7
4 Daging/ Ayam/ Ikan 87
x 94 = 7,67 8
5 Konveksi 380
x 94 = 33,51 33
6 Kelontong 329
x 94 = 29,01 29
Jumlah 1066 93,99 94
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer (2012)
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan
responden secara mendalam berdasarkan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari badan atau
instansi atau lembaga terkait seperti Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan
Pasar, Badan Pusat Statistik, dan lain-lain.
3.5. Teknik Pengolahan Data
Untuk menyelesaikan masalah pertama dalam melihat pengaruh faktor modal,
jam kerja, pengalaman kerja, dan lokasi usaha terhadap pendapatan pedagang, maka
Y = β0+ β1x1+ β2x2+ β3x3+ β4x4 + µ
Dimana :
Y = Pendapatan pedagang tradisional (rupiah perhari)
X1 = Modal (rupiah perhari)
X2 = Jam Kerja (jam perhari)
X3 = Pengalaman Kerja (tahun)
X4 = Lokasi Usaha (depan, tengah, belakang)
β0 = Konstanta
β1…β4 = Koefisien Regresi
µ = Error term
Untuk menyelesaikan masalah kedua dalam melihat peran pasar baru
Panyabungan terhadap penyerapan tenaga kerja dilakukan analisis deskriptif. Dimana
data primer yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu disajikan dalam bentuk
table distribusi yang dinyatakan dalam sebaran frekuensi dan dianalisa secara
deskriptif baik secara angka maupun persentase.
Untuk menyelesaikan masalah ketiga dalam melihat seberapa besar kontribusi
pasar terhadap pendapatan asli daerah menggunakan rumus kontribusi pasar dengan
pendapatan asli daerah dikalikan 100 %, dengan rumus :
KPR =
Dimana :
KPR = Kontribusi Retribusi Pasar Terhadap PAD
PRth-n = Penerimaan Retribusi Pasar
PADth-n = Penerimaan PAD
Sedangkan untuk menyelesaikan masalah keempat dalam melihat peran pasar
baru Panyabungan terhadap pengembangan wilayah juga dilakukan dengan analisis
deskriptif. Dimana data primer yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu disajikan
dalam bentuk table distribusi yang dinyatakan dalam sebaran frekeunsi dan dianalisa
secara deskriptif baik secara angka maupun persentase. Dan untuk mengetahui
gambaran mengenai peran dan profil pedagang Pasar Baru Panyabungan juga
menggunakan analisis deskriptif. Profil pedagang di pasar baru panyabungan tersebut
meliputi gambaran umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan,
tenaga kerja yang digunakan, tempat tinggal atau domisili pedagang, suku/bangsa dan
jenis dagangan yang dijual pedagang.
3.6. Uji Asumsi Klasik
Uji penyimpangan asumsi klasik adalah pengujian terhadap beberapa asumsi
klasik yang dilakukan untuk melihat apakah suatu model dikatakan baik dan efisien.
a. Normalitas
Menurut ghozali (2005) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah populasi
data berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian menggunakan Uji Liliefors
(One sampel kolmogrov smirnov).
Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikan > 0.05. Jika nilai
signifikan < 0.05, maka distribusi data tidak normal.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variable mempunyai
hubungan yang linier (nilai harapan dalam parameter berpangkat satu) atau
nonlinier secara signifikan. Hubungan yang linier bila signifikansi (liniearity)
kurang dari 0,05. Selanjutnya dideteksi dengan menguji asumsi klasik
multikolinearitas dan heteroskedastisitas.
c. Uji Multikolinearitas
Multikoniaritas adalah alat untuk mengetahui suatu kondisi , apakah terdapat
korelasi variable independent diantara satu sama lainnya. Untuk melihat ada tidaknya
multikolinieritas dalam suatu model pengamatan, dapat dilakukan dengan regresi
antara variable independen, sehingga dapat diperoleh nilai koefisien determinan (R2)
independent tersebut dibandingkan dengan R2 hasil regresi model, sehingga diperoleh
sebagai berikut :
Jika nilai R2 hasil regresi (parsial) antar variable bebas > R2 model penelitian,
berarti terjadi multikolinieritas dalam model empiris yang digunakan.
Jika nilai R2 hasil regresi (parsial) antar variable bebas < R2 model penelitian,
berarti tidak terjadi multikolinieritas model empiris yang digunakan.
d. Uji Heterokedastisitas
Untuk menguji heterokedastisitas digunakan uji spearman rho yaitu uji yang
mengkorelasikan nilai residual (unstandardized residual) dengan masing-masing
variable independent. Jika signifikansi korelasi kurang dari 0.05 maka model regresi
terjadi masalah heterokkedastisitas.
3.7. Defenisi Operasional Variabel
Untuk memenuhi data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka ditetapkan
batasan-batasan operasionalnya yang akan digunakan sebagai indikator dari masing
-masing variabel yang akan di teliti :
1. Pasar baru Panyabungan adalah pasar tradisional yang dibangun dan dikelola oleh
pemerintah swasta, koperasi atau swadaya masyarakat dengan tempat–tempat
kecil dan menengah, dan koperasi dengan usaha skala kecil dan modal kecil, dan
dengan proses jual beli melalui tawar menawar.
2. Penyerapan tenaga kerja adalah kemampuan bidang dalam menciptakan lapangan
kerja bagi anggota masyarakat.
3. Pendapatan adalah penghasilan kotor yang diterima pedagang setiap hari (diukur
dalam satuan rupiah)
4. Modal yang dimaksud adalah modal lancar, yakni total pembelian bahan-bahan
baku yang akan dipergunakan untuk kebutuhan produksi atau berjualan setiap hari
(diukur dalam satuan rupiah).
5. Jam kerja adalah waktu yang dipergunakan responden untuk bekerja setiap hari
(diukur dalam satuan jam).
6. Pengalaman kerja adalah waktu lamanya bekerja pedagang dalam menjalankan
usaha/pekerjaan (diukur dalam satuan tahun).
7. Lokasi usaha adalah tempat strategis yang dapat mempengaruhi tingkat penjualan
yang dapat mempengaruhi tingkat penjualan pedagang, dibagi atas klasifikasi
bagian depan, tengah, dan belakang.
8. PAD adalah merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah daerah untuk
membiayai pembangunan daerah yang harus senantiasa diupayakan
9. Pengembangan wilayah adalah merupakan suatu tindakan mengembangkan
wilayah atau membangun daerah atau kawasan dalam rangka usaha memperbaiki
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Deskripsi Wilayah Kecamatan Panyabungan
4.1.1. Sejarah Singkat Kecamatan Panyabungan
Pada tanggal 23 November 1998, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan
Undang-Undang No. 12 Tahun 1998 yaitu Undang-Undang tentang Pembentukan
Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal menjadi daerah otonom yang berhak
mengatur rumah tangganya sendiri. Kabupaten Mandailing Natal secara geografis
terletak antara 00100 – 10500 Lintang Utara dan 980500 – 1000100 Bujur Timur.
Kabupaten Mandailing Natal merupakan pemecahan dari Kabupaten Tapanuli Selatan
dengan wilayah administrasi terdiri dari atas 8 Kecamatan dengan 273 desa.
Pada tanggal 29 Juli 2003 Kabupaten Mandailing Natal mengeluarkan
Peraturan daerah No. 7 dan 8 mengenai Pemekaran Kecamatan dan Desa. Dengan
dikeluarkannya Peraturan daerah tersebut maka Kabupaten Mandailing Natal
memiliki 17 Kecamatan dengan 322 desa dan 7 kelurahan.
Pada tanggal 15 Februari 2007 pemerintah Kabupaten Mandailing Natal
mengeluarkan Peraturan daerah No. 10 Tahun 2007 tentang Pembentukan 5
Kecamatan baru di Kabupaten Mandailing Natal.
Kemudian tanggal 7 Desember 2007 pemerintah Kabupaten Mandailing Natal