CRITICAL REVIEW ANALISIS KEBIJAKAN FISIKAL KOTA MEDAN DI ERA OTONOMI DAERAH
Oleh : Kasyful Mahalli
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia pelaksanaan otonomi daerah diwujudkan dalam bentuk pelimpahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 32 tahun 2004. Dalam kaitannya dengan desentralisasi fiskal perlu digaris bawahi bahwa UU tersebut tidak mengatur mengenai pembagian tugas penyediaan barang publik dan pelayanan masyarakat (khususnya, dibidang pendidikan dan kesehatan), sehingga dapat dikatakan bahwa uang yang dialokasikan ke daerah oleh pemerintah pusat mengikuti pelimpahan kewenangan. Jadi penerapan prinsip “uang mengikuti pendelegasian tugas” (money follow function) sebagaimana umumnya dijalankan dalam desentralisasi tidak.
Kebijakan fiskal adalah langkah-langkah pemerintah untuk membuat perubahan-perubahan dalam sistem pajak atau dalam perbelanjaannya dengan maksud untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi. Adapun kebijakan fiskal sebagai sarana menggalakan pembangunan ekonomi bermaksud mencapai tujuan untuk meningkatkan laju investasi, mendorong investasi optimal secara sosial, meningkatkan kesempatan kerja, menanggulangi inflasi, dan meningkatkan dan mendistribusikan pendapatan nasional.
1.2 Tujuan
Critical review ini pada dasarnya bertujuan agar :
- Mengevaluasi pola pengeluaran Pemerintah kota Medan sejak berlakunya otonomi daerah
- Menganalisis kebijakan fiskal utamanya pengeluaran pembangunan
- Merumuskan kebijakan fiskal yang seharusnya ditempuh oleh pemerintah kota Medan
1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari critical review ini antara lain :
- Mengetahui kebijakan fiskal utamanya pengeluaran pembangunan - Memahami kebijaakan fiskal utamanya pengeluaran pembangunan
2. PEMBAHASAN
Mengikuti undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daeah dan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang-Undang-Undang 25 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah, dikarenakan hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan yang cukup kuat dalam mengimplementasikan otonomi yang seluas-luasnya dan mampu bertanggung jawab untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan daerah oleh pemerintah daerah sehingga sejalan dengan aspirasi dan kebutuhan daerah.
Di lihat dari sisi lain untuk pembangunan yang berkesinambungan harus dapat memberi tekanan pada mekanisme ekonomi, sosial, politik dan kelembangaan, baik dari sektor swasta maupun pemerintah, untuk terciptanya suatu perbaikan terhadap standar hidup masyarakat secara cepat. Ada beberapa dorongan desentralisasi yang terjadi di berbagai negara di dunia terutama di negara-negara berkembang, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dengan itu, terciptalah UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan otonomi kepada daerah kabupaten dan kota untuk membentuk dan melaksanakan keijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakatnya.
Dari berbagai aspek umum, diyakini desentralisasi fiskal akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pendapat tersebut telah dilandasi oleh pandangan yang menyatakan bahwa kebutuhan masyarakat daerah terhadap pendidikan dan barang publik lebih baik dibandingkan jika diatur langsung oleh pemerintah pusat, maka dari itu Indonesia merespons fiskal dengan menggenjot kenaikan PAD melalui pajak dan retribusi tanpa diimbangi oleh peningkatan efektivitas pengeluaran APBD yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB).
penurunan. Beda dengan tahun 2003, pertumbuhan ekonomi mulai bangkit kembali terutama di sektor industri, utiliias, bangunan, angkutan dan jasa.
Bukan hanya pertumbuhan ekonomi di kota Medan saja yang mengalami peningkatan, APBD kota Medan juga mengalami peningkatan yang signifikan selama kurun waktu tahun 2000-2003. Pada periode tersebut, APBD mengalami pertumbuhan sebesar 41,77%, sedangkan PAD sebesar 40,18% per tahun. Namun bila dilihat dari nilai kontribusi terhadap total APBD dan PAD hanya menyumbang sebesar rata-rata 21,60%, sedangkan dana perimbangan memberikan kontribusi rata-rata 63,94%. Sementara itu belanja rutin yang dilakukan sudah menyerap rata-rata 75,76% dari total belanja daerah.
Salah satu fenomena yang menarik adalah dengan melihat seberapa besar kemampuan daerah dalam menarik pajak atas produksi daerah. Selama periode 2000-2003 terlihat bahwa tax ratio kota Medan hanya sebesar 0,40% per tahun. Dari hal tersebut, bisa kita simpulkan bahwa pemerintah kota Medan hanya mampu menarik pajak sebesar 0,40% dari total produksi yang dihasilkan.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pajak daerah yang ada pada era otonomi daerah merupakan sumber andalan pemerintah kota Medan memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain bila pajak daerah naik, maka akan berdampak pada penurunan ekonomi daerah. Hal tersebut terjadi dikarenakan pemerintah daerah umumnya keliru dalam menjalankan otonomi daerah utamanya bila dikaitkan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Sejalan dengan otonomi daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk megatur rumah tangga sendiri, pemerintah daerah seringkali mengeluarkan peraturan daerah dengan beralih peningkatan PAD. Tetapi perlu diingat, bahwa munculnya Perda yang ada tidak boleh mematikan kegiatan ekonomi, atau bahkan menimbulkan retriksi (trade barriers) perdagangan antar-daerah sendiri yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kesejahteraan daerah itu sendiri. Untuk itu, daerah perlu mengembangkan kerjasama horizontal dan vertical dengan daerah maupun pemerintahan di tingat yang lebih tinggi. Upaya untuk meningkatkan PAD di masa yang akan datang, perlu dilakukan melalui penyerahan taxing power.
3. CRITICAL REVIEW
cela dan kekurangan. Pelaksanaan otonomi daerah dan permasalahannya secara umum adalah terkait dengan kelemahan dan kekurangan yang masih terdapat dalam regulasi yang mengatur mengenai pelaksanaan otonomi daerah. Padahal sudah dijelaskan di dalam UU tentang pemerintahan daerah hingga saat ini telah mengalami perubahan hingga beberapa kali dan rencananya masih akan dilakukan perubahan.
Daerah juga hingga saat ini dianggap belum siap dalam melaksanakan otonomi daerah. Salah satu indikasinya adalah lemahnya kemampuan daerah dalam menyusun peraturan daerah yang sesuai dengan ketentuan. Sejumlah peraturan daerah telah dianulir oleh Kementerian Dalam Negeri karena dianggap tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi daerah. Sedangkan masalah pembagian tugas dan pembagian sumber daya ekonomi keuangan antara pemerintahan pusat dengan pemerintah daerah di Indonesia selalu tidak/belum pernah terselesaikan.
Di pembahasan jurnal ini, pemerintah daerah di kota Medan cenderung malah menggunakan tarif yang tinggi agar di daerah tersebut memperoleh total penerimaan pajak daerah yang makasimal. Padahal secara teoritis dengan menaikan tarif pajak yang lebih tinggi malah tidak selalu menghasilkan total penerimaan yang maksimum malah merugikan. Seharusnya pemerintah daerah lebih peduli terhadap pertumbuhan ekonomi bukan hanya tentang pengutipan pajak. Kewenangan Daerah untuk memungut pajak dan retribusi diatur dengan UU No. 18 Tahun 1997 dan ditindaklanjuti oleh peraturan pelaksanaannya dengan PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.
4. LESSON LEARNED
Pada jurnal yang membahas tentang kebijakan fiskal di kota Medan di era otonomi daerah banyak hal yang saya dapatkan, salah satu contohnya adalah meningkatkan kemampuan keuangan daerah. Artinya, daerah otonomi sendiri harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelanggaran pemerintah daerah. Secara umum, hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah melalui optimalisasi intensifikasi pemugutan pajak daerah dan retribusi daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Kasyful, Mahalli (2003), Analisa Kebijakan Fiskal Kota Medan di Era Otonomi Daerah, 10 Maret 2013 http://repository.usu.ac.id/
Ir. Brahmantio, Isdijoso, MS & Ir. Tri, Wibowo, MM (2002), Analisa Kebijakan Fiskal pada Era Otonomi Daerah (Studi Kasus: Sektor Pendidikan di Kota Surakarta), 16 Maret 2013 http://www.slideshare.net/Hennov/analisis-kebijakan-fiskal-pada-era-otonomi-daerah
DR. Machfud, Sidik, M.Sc (2002), Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebagai Pelaksanaan Desntralisasi Fiskal (Antara Teori dan Aplikasinya di Indonesia).
Anonim, Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, 17 Maret 2013
http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2004/32Tahun2004UU.HTM
Bonar, Marulitua, Sinaga (2005), Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Pembangunan
Ekonomi Daerah di Indonesia, 18 Maret 2015