OSTEOTOMI LE FORT I PADA BEDAH ORTOGNATI
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
Diah P Sari
NIM : 080600080
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
Fakultas Kedokteran Gigi
Depatermen Bedah Mulut Dan Maksilofasial
Tahun 2014
Diah Permata Sari
Osteotomi Le Fort I Pada Bedah Ortognati.
x + 34 halaman
Bedah ortognati terbukti menjadi tindakan yang penting dalam mengoreksi
kelainan dento fasial yang berat. Hal ini merupakan upaya gabungan antara
ortodontis dengan ahli bedah mulut dan maksilo fasial untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien dalam mengoreksi ketidak harmonisan fungsional dan estetika. Pasien
dengan kelainan dentofasial menerima hasil yang terbaik dari perawatan bedah ketika
adanya komunikasi yang efektif dan jelas antara ortodontis dengan ahli bedah
maksilo fasial dari permulaan perawatan.
Osteotomi Le Fort I merupakan prosedur utama pada bedah ortognati yang
digunakan untuk mengoreksi berbagai masalah maksilo fasial, berdasarkan garis
imajiner pada fraktur Le Fort I yang digunakan pada pembedahan osteotomi maksila
horisontal. Prosedur ini dimulai dengan pembuatan insisi intraoral pada daerah muko
gingival junction pada maksila kemudian selanjutnya dilakukan pemotongan tulang
2-3 mm diatas apikal apeks gigi melewati septum nasi berlanjut dengan insisi yang
sama pada sisi berlawanan pada rahang atas. Setelah itu tulang dilepaskan dari basis
tengkorak kemudian direposisi sehingga gigi pada rahang atas berada tepat atau
Komplikasi dengan bedah meliputi perdarahan, kegagalan untuk reposisi
segmen tulang yang direposisi, kerusakan pada gigi (terutama akar) dan kehilangan
atau kerusakan pasokan darah segmen tulang sehingga tulang nekrotik, semua ini
harus dihindari. Fistula atau oro antral fistula dapat terjadi tetapi ini jarang terjadi.
Untungnya, nekrosis keseluruhan dari segmen tulang jarang terjadi, biasanya ketika
flap jaringan lunak telah rusak secara luas. Terapi oksigen hiperbarik kadang-kadang
membantu dalam situasi ini
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini tlah disetujui untuk dipertahankan
di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 24 Juli 2014
Pembimbing
Tanda tangan
Eddy A. Ketaren, drg., Sp.BM
NIP : 19530401 198003 1 006
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji
pada tanggal 24 Juli 2014
TIM PENGUJI
KETUA
:
Eddy A. Ketaren, drg., Sp.BM
ANGGOTA
:
1. Shaukat Osmani Hasbi, drg., Sp.BM
2. Rahmi Syaflida, drg., Sp.BM
iv
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa skripsi ini selesai
disusun sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala
kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Eddy Anwar Ketaren, drg., Sp. BM selaku Ketua Departemen Bedah Mulut
dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan dosen
pembimbing skripsi, atas keluangan waktu, saran, dukungan dan bantuan sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
2. Seluruh Staf Pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Pitu Wulandari, drg., S.Psi., Sp. Perio selaku penasehat akademik, yang
telah banyak memberikan motivasi, nasihat dan arahan selama penulis menjalani
masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Rasa hormat dan terima kasih yang tiada terhingga penulis persembahkan
kepada orangtua penulis, Ayah Alm. Ir. Karyono Rahardjo dan Ibu Hj. Dra.
Mardianis . Abang penulis Eko Surya Saputra S.t , Dwi Agus Saputra S.ikom ,
Wahyudi Utomo Saputra dan keponakan tersayang calista Kagumi dan Raditya Feldi
atas segala kasih sayang, doa, bimbingan, semangat, serta dukungan baik moril
v
Sahabat-sahabat tersayang penulis Adinda Soraya NST, Anggi Batubara ,
Dian Anggraini, Dara Puspita, Yudha Agriawan, Lestari Putri Juita, Elyza Caesaria,
Rini Nurrahmah, serta teman-teman stambuk 2008 lainnya yang tidak dapat
disebutkan satu per satu atas bantuan dan motivasi selama penulis melakukan
penelitian dan penulisan skripsi ini.
Kepada Royen Akbar, SE yang telah memberi dukungan dan perhatiannya
selama ini pada penulis.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan
skripsi ini dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk
menghasilkan karya yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan
masyarakat.
Medan, 22 Juli 2014 Penulis,
vi
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 BEDAH ORTOGNATI PADA MAKSILA 2.1 Definisi ... 3
2.2 Indikasi dan Kontra indikasi bedah ortognati ... 5
2.2.1 Indikasi Bedah Ortognati ... 5
2.2.2 Kontra indikasi Bedah Ortognati ... 7
2.3 Pemeriksaan Rencana Perawatan ... 8
2.3.1 Pemeriksan Klinis ... 8
2.3.1.1 Analisis Tampak Depan ... 9
2.3.1.2 Analisis Profil ... 9
2.3.2 Pemeriksaan Oral... 11
2.3.3 Analisis Radiografik dan Gambaran Sefalometrik ... 11
vii
2.3.5 Hal-hal Lain ... 18
BAB 3 OSTEOTOMI LE FORT I 3.1 Sejarah Osteotomi Le Fort I ... 19
3.2 Defenisi... 19
3.2 Indikasi dan Kontra indikasi ... 20
BAB 4 OSTEOTOMI LE FORT I PADA BEDAH ORTOGNATI 4.1 Persiapan Sebelum Prosedur Bedah ... 22
4.2 Prosedur Pembedahan ... 23
4.3 Laporan Kasus ... 27
4.3 Komplikasi Pasca Bedah ... 32
BAB 5 KESIMPULAN ... 33
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
ix
4. Garis Sella-Nasion Penentu Proporsi Wajah Divergen, Konvergen dan Normal ... 12
12. Diseksi Subperostal Untuk Mengidentifikasi Saraf Infraorbital, Celah Piriformis, Crest Zigomatikum, dan Maksila ... 26
13. Pemotongan Acuan Daerah Secara Vertikal dan Horisontal ... 26
14. Pemotongan Tulang Sesuai dengan Penandaan yang Dilakukan ... 26
15. Pemotongan Disesuaikan Dengan Garis Oklusal secara Pararel ... 26
x
17. Fiksasi Daerah Pemotongan Tulang Dengan Memasukkan Kawat
Intraoseus Kemudian Heting Mukosa ... 26
18. Profil Wajah Sebelum Perawatan... 27
19. Gambaran Klinis Intraoral Sebelum Perawatan ... 27
20. Foto Sefalometri Sebelum Perawatan ... 28
21. Profil Wajah Setelah Perawatan ... 31
22. Gambaran Klinis Setelah Perawatan ... 31
1
BAB I
PENDAHULUAN
Selama lebih dari 30 tahun, bedah ortognatik terbukti menjadi tindakan yang
penting dalam mengoreksi kelainan dento fasial yang berat.1 Hal ini merupakan
upaya gabungan dari ortodontis dan ahli bedah mulut dan maksilo fasial untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien dengan mengkoreksi ketidak harmonisan
fungsional dan estetika.1,2
Kelainan dento fasial adalah deviasi atau ketidak seimbangan proporsi fasial
disertai dengan hubungan gigi yang tidak baik sehingga mengganggu estetika profil
wajah. Kelainan dento fasial dapat berdampak pada gangguan fungsi rahang,
hubungan gigi dan penampilan wajah. 3
Prosedur bedah ortognatik dikembangkan telah lama pada pasien untuk
memperbaiki maloklusi skeletal. Kemudian dilanjutkan dengan kontrol ortodontik
untuk menghasilkan hasil terbaik. Sebagian besar kasus klinis dapat diselesaikan
dengan tiga dasar prosedur osteotomi yaitu: osteotomi Le Fort I maksila (LFI),
osteotomi sagittal bilateral split mandibula (BSSO) dan genioplasti. Osteotomi Le
Fort I, seperti yang dijelaskan oleh Obwegeser pada tahun 1965, dapat memperbaiki
midline wajah, dapat dilakukan sebagai teknik monoblok single-piece atau dapat
dijalankan sebagai prosedur multi segmen atau dengan pendekatan seperti SARPE
(Surgically Asissted Rapid Palatal Expansion).4
Osteotomi Le Fort I dan bedah ramus mandibula adalah metode yang paling
2
dilakukan menunjukkan bahwa 80% tingkat akurasi Osteotomi Le Fort I
menunjukkan keberhasilan yang baik. 1,5
Pembedahan ini juga mempunyai beberapa komplikasi yang biasa terjadi pada
pembedahan ortognatik. Komplikasi dalam pembedahan ini yaitu komplikasi jalan
nafas, gangguan aliran darah ke segmen, perdarahan, neurologi, koreksi dari posisi
segmen, sendi temporo mandibular, infeksi, serta pengaruh aspek gigi dan jaringan
periodontal.3,5,6
Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan secara garis besar mengenai
definisi perawatan Osteotomi Le Fort I pada bedah ortognatik dalam mengkoreksi
3
BAB 2
BEDAH ORTOGNATI PADA MAKSILA
2.1 Definisi
Bedah ortognatik adalah tindakan pembedahan pada kelainan yang terjadi
pada maksila, mandibula atau keduanya. Kelainan ini dapat terjadi kongenital dan
akan terlihat jelas ketika masa tumbuh kembang ataupun juga akibat trauma.7
Istilah ortognatik berasal dari bahasa Yunani, ortho yang berarti meluruskan,
dan gnathia, yang berarti rahang. Bedah orthognatik oleh karenanya bermakna
meluruskan rahang.4,7,8
Deformitas maksila dapat di klasifikasikan antara lain:8
1. Protrusif maksila, yaitu pertumbuhan yang berlebih dalam arah horisontal dalam
molar, kadang-kadang disertai dengan protrusi mandibula (protrusi bimax).
2. Defisiensi antero posterior (AP) maksila, yaitu pertumbuhan maksila yang tidak
adekuat terjadi dalam arah anterior. Keadaan ini dikenal juga sebagai kelas III
Angle.
3. Kelebihan pertumbuhan maksila vertikal, yaitu pertumbuhan berlebih pada bagian
alveolus maksila dalam arah inferior, dalam hal ini terlihat gambaran klinis gigi
dan gingival yang berlebihan, ketidakmampuan bibir menutup tanpa ketegangan
pada otot mentalis.
4. Defisiensi maksila vertikal, yaitu ditemukan keadaan edentulous yang
menunjukkan tidak ada gigi, gigitan dalam pada mandibula dengan ujung dagu
4
5. Defisiensi maksila transversal, yaitu deformasi skeletal dengan etiologi:
kongenital, pertumbuhan, traumatik, dan iatrogenik, misalnya etiologi
pertumbuhan – kebiasaan menghisap ibu jari, dan iatrogenik – pertumbuhan yang
terbatas yang disebabkan oleh pembentukan jaringan parut palatal.
6. Celah Alveolar, konstriksi maksila dalam dimensi transversal AP, yaitu didapati
deformitas mandibula yang meliputi: kelebihan dalam arah AP mandibula
(hyperplasia), defisiensi AP mandibula (hypoplasia), dan asimetri AP mandibula
(pergeseran garis tengah mandibula secara klinis).
Gabungan deformitas maksila – mandibula, meliputi:8
1. Sindrom Wajah Pendek. Brachifacial – defisiensi pertumbuhan wajah bagian
bawah, dalam hal dimensi vertikal, kelas II dataran mandibula yang rendah dengan
defisiensi AP mandibula, kadang-kadang dengan defisiensi maksila vertikal.
2. Sindrom Wajah Panjang. Dolicofacial – tinggi wajah bagian bawah berlebih, sudut
oklusal dan dataran mandibula meningkat, sering kombinasi dengan kelebihan
maksila vertikal dengan hipoplasia mandibular.
3. Apertognatia. Sering terjadi dengan sindrom wajah Panjang – Asimetri wajah
bagian bawah. Sedangkan deformitas dagu, terdiri dari Makrogenia yaitu dagu
kelihatan memanjang dan Mikrogenia yaitu dagu kelihatan pendek atau kurang
5
2.2 Indikasi dan Kontraindikasi bedah ortognatik
Pembedahan pada tulang maksila terdiri atas 2 jenis pembedahan, yaitu
osteotomi segmental yaitu pembedahan tulang maksila hanya pada segemen-segmen
tertentu dan osteotomi total maksila yaitu pembedahan tulang maksila seluruhnya.
Osteotomi segmental maksila terbagi atas Osteotomi satu gigi, Kortikotomi,
Osteotomi segmen anterior maksila, dan Osteotomi subapikal posterior maksila
(Kufner, Schuchardt, dan Perko dan Bell). Osteotomi segmen anterior maksila terbagi
lagi antara lain: Teknik Wassmund, Teknik Wunderer, Osteotomi anterior maksila
Epker, dan Teknik Cupar. Sedangkan Osteotomi total maksila terbagi menjadi
Osteotomi Lefort I, Osteotomi Lefort II dan Osteotomi Lefort III.9
Pembedahan pada tulang mandibula digolongkan dalam osteotomi pada ramus
(Osteotomi ramus vertikal ekstraoral, Osteotomi ramus vertikal intraoral, Osteotomi
split sagital), osteotomi subapikal (Osteotomi anterior subapikal, Osteotomi posterior
subapikal, dan Osteotomi subapikal total), dan Genioplasti (Osteotomi horisontal
dengan reduksi antero posterior, Osteotomi horisontal double sliding, Genioplasti
dengan reduksi vertikal dan augmentasi aloplastik).9
2.2.1 Indikasi Bedah orthognatik
Indikasi bedah ortognatik antara lain adalah diskrepansi skeletal kelas II atau
III yang parah, deep bite pada pasien yang tidak sedang bertumbuh, open bite anterior
yang parah, masalah dento alveolar yang parah (dalam hal ini terlalu parah untuk
dikoreksi dengan koreksi ortodontik semata), situasi periodontal yang sangat
6
Menurut American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons hubungan
antara kelainan bentuk tulang wajah dan disfungsi mastikasi, serta keterbatasan
terapi non-bedah untuk memperbaiki kelainan ini maka bedah ortognatik harus
memiliki pertimbangan medis yang tepat dalam situasi berikut ini yaitu:10
A. Deskrepansi Antero posterior: (normal = 2mm), yaitu ketidak harmonisan
kebutuhan ruang dalam arah antero posterior dengan ketentuan seperti:
1. Hubungan insisivus maksila/mandibula:
a. Overjet horisontal 5 mm atau lebih
b. Overjet horisontal nol atau bernilai negatif
2. Hubungan anteroposterior maksila/mandibula deskrepansi 4 mm atau lebih
(normal 0-1 mm)
B. Deskrepansi Vertikal, yaitu ketidak harmonisan kebutuhan ruang dalam arah
vertical dengan ketentuan seperti:
1. Deformitas skeletal vertikal wajah yang nilainya ± 2mm dari nilai normal.
2. Open bite
a. Tidak ada tumpang tindih vertikal gigi anterior.
b. Unilateral atau bilateral posterior open bite yang lebih besar dari 2 mm
3. Overbite yang dalam dengan pergeseran atau iritasi jaringan lunak bukal atau
lingual lengkung lawan.
7
C. Deskrepansi Transversal
1. Adanya deskrepansi transversal skeletal yang bernilai dua atau lebih dari
standar deviasi yang telah ditentukan.
2. Total deskrepansi cusp maksila palatal bilateral dengan fosa mandibula
sebesar 4 mm atau lebih, atau deskrepansi unilateral sebesar 3 mm atau lebih.
D. Asimetris
Antero posterior, lateral, tranversal atau asimetri lebih besar 3 mm dari
oklusal bersamaan dengan asimetri. Ricketts mengajukan 4 keadaan spesifik yang
merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan bedah yaitu apabila: 9
1. Perbaikan posisi dental yang diharapkan sukar dicapai dengan hanya
perawatan ortodonti, karena malposisi yang sangat parah.
2. Pola skeletal yang buruk untuk kemungkinan koreksi ortodonti yang baik.
3. Hanya dengan perawatan ortodonti saja kurang dapat diperoleh estetika
fasial yang serasi.
4. Hanya dengan perawatan ortodonti atau restorasi yang lain tidak dapat
dicapai oklusi fungsional. Sedangkan Alexander menyatakan bahwa
tindakan bedah ortognati dapat dilakukan apabila dengan perawatan
ortodonti saja tidak dapat diperoleh keseimbangan dentoalveolar dan profil
8
2.2.2 Kontra indikasi bedah ortognatik
Semua kondisi kesehtan umum dimana semua intervensi bedah di kontra
indikasikan. Alasan keunagan juga dapat mengarah keputusan untuk tidak melakukan
bedah ortognatik pada saat itu juga.10
Pada pasien muda, dianjurkan untuk memungkinkan pertumbuhan yang
lengkap sebelum dilakukan intervensi bedah. Pengecualian untuk ini adalah
perlakuan dari defisiensi mandibula dengan bidang miring, mandibula rendah
(morfologi konvergen), yang dapat ditangani dengan osteotomi split sagital yaitu
pembedahan tulang mandibula untuk mengoreksi prognati atau retrognati mandibula
sebelum pertumbuhan selesai.10
2.3 Pemeriksaan dan Rencana Perawatan
2.3.1 Pemeriksaan klinis
Analisa jaringan lunak terdiri atas analisis fasial, analisis tampak depan,
analisis profil, pemeriksaan oral dan sendi temporo mandibular. Wajah secara
keseluruhan dapat dibagi menjadi tiga bagian yang sama yaitu bagian sepertiga atas,
tengah, dan bawah. Adanya perubahan dalam proporsionalitas fasial ini sangat mudah
terlihat. 8,9
Untuk pemeriksaan analisi ini, pasien diminta duduk sedemikian rupa
sehingga:9
a. Papillary plane harus paralel dengan lantai.
9
c. Frankfurt horizontal plane, yaitu garis yang ditarik dari traguas telinga ke
tonjolan tepi infraorbita harus sejajar dengan lantai.
d. Gigi-gigi harus dalam posisi relatis sentrik selama pemeriksaan dilakukan
e. Bibir pasien tidak boleh tegang.
Gambar 1. Analisis Estetik Wajah.9
2.3.1.1 Analisis Tampak Depan.
Mata, hidung, bibir, dahi harus diperiksa akan simetritasnya. Jarak interkantus
normal 32 ± 3 mm, jarak antarpupil 65 ± 3 mm, dorsum nasal satu setengah kali jarak
intrakantus dan lebar lobul nasal dua pertiga jarak intrakantus, panjang bibir atas
adalah 22 ± 2 mm untuk laki-laki dan 20 ± 2 mm untuk perempuan.9
Garis tengah wajah, garis tengah hidung, garis tengah bibir, garis tengah
dental bila ditarik garis imajiner harus simetris, dalam arah vertikal dan transversal.
Jarak dari glabella ke subnasal dan dari subnasal ke menton seharusnya berbanding
1:1, dan panjang bibir atas harus sepertiga panjang dari sepertiga wajah bagian
10
2.3.1.2 Analisis Profil.
Merupakan pengukuran kecembungan atau kecekungan profil wajah. Sudut
acuan memiliki rentang antara -8º sampai -11º. Sudut ini dibentuk oleh plane kontur
wajah atas dengan perluasan ke atas dari permukaan kontur wajah bagian bawah. Jika
sudut berada di dataran interior kontur wajah atas, pengukuran dianggap negatif.9
Sudut nasolabial merupakan sudut yang dibentuk pada subnasal dengan suatu
garis yang ditarik melalui basis hidung dengan garis dari basis atas ke subnasal.
Rentang normal untuk laki-laki adalah 100-110º. Angulasi yang besar menunjukkan
suatu wajah yang cembung dengan dagu yang lebih ke belakang.9
Sudut bibir bawah, dagu, dan tenggorokan yaitu sudut antara garis yang
ditarik antara bibir bawah ke jaringan lunak pogonion dengan suatu garis yang ditarik
bersinggungan dengan kontur jaringan lunak di bawah tubuh mandibula. Sudut yang
normal adalah 110º ± 8º. Sudut yang besar menunjukkan dagu yang lebih ke belakang
sementara angulasi rendah menunjukkan dagu yang menonjol. Panjang jarak dagu ke
tenggorokan merupakan jarak antara sudut ke tenggorokan dengan jaringan lunak
menton. Panjang normal adalah 51 mm ± 6 mm. Peningkatan jarak menunjukkan
proganatisme, dan penurunan jarak menunjukkan retro gnatisme mandibula.9
11
2.3.2 Pemeriksaan Oral
Pemeriksaan oral membantu dalam menemukan deformitas fungsional dan
estetik pada struktur dentofasial. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain : hubungan
oklusal gigi geligi; deep bite atau cross bite anterior; overjet anterior dan semua jenis
gigitan silang, kesehatan gigi geligi, ketidaksesuaian ukuran gigi, kurva Wilson dan
kurva van Spee, diastema atau gigi berjejal, gigi yang hilang atau berlubang, evaluasi
periodontal, diskrepansi transversal, vertikal dan antero posterior, abnormalitas
bentuk anatomi, dan fungsi lidah serta atrisi pada gigi.9
2.3.3 Analisis radiografik dan gambaran analisa sefalometrik
Analisa sefalometrik menjadi alat bantu yang penting dalam mendiagnosa
masalah-masalah skeletal dan dental dan sebagai suatu alat untuk menstimulasi dalam
tindakan bedah dan orthodonti. Sejumlah analisis sefalometrik sering digunakan
untuk analisis kasus orthodonti. Analisis ini dirancang untuk mengharmonisasikan
antara gigi yang mengalami malposisi dengan pola skeletal yang ada.9
Untuk menilai proyeksi maksila dan mandibula pada dimensi antero posterior,
titik dan sudut-sudut SNA, SNB dan pogonion diukur pada suatu sefalogram.
Dimensi vertikal dinilai, tidak hanya dalam kaitannya dengan maksila tetapi juga
mandibula. Dataran oklusal dan angulasi insisal pada sisi atas dan bagian bawah dan
hubungan dari bibir dan jaringan lunak ke gigi dan ke tulang rahang diukur.9
Sefalometri berperan penting pada pemeriksaan objektif untuk membantu
12
pemebedahan tersebut. Analisi sefalometri digunakan untuk memeriksa kelainan
dontofasial yang relatif tidak diperlukan.9
Untuk memperoleh kesimpulan yang cepat dalam mengklasifikasikan
kelainan rahang pada pasien digunakan analisis Steiner-kole dengan mengikuti
titi-titik sebagai berikut:8,11
Sella (S) : titik tengah sella tursika
Nassion (N) : titik paling dalam pada sutura frontalis
Orbitale (O) : titik paling bawah dari cekungan infraorbital
UL : titik paling depan dari bibir atas
Mandibular Plane (MP) : garis yang menyentuh titik paling bawah dari tulang
pipi dan ramus mandibular ascendens.
Gambar 3. Titik –titik acuan sefalometri.8 Gambar 4. Garis Nasion menentukan
13
Gambar 5. Modifikasi analisis Kole, posisi dagu dapat ditentukan.8
Untuk tujuan analisa sefalometrik, penanda-penanda berikut penting pada
radiograf tengkorak lateral. Sella (S) merupakan titik yang menggambarkan titik
tengah fosa pituitari atau sella tursika. Titik ini merupakan titik yang tersusun dalam
mid sagittal plane. Nasion (N), suatu titik paling anterior, di tengah antara tulang
frontal dengan tulang nasal pada sutura frontonasal. Artikularis (Ar) merupakan titik
pada pertemuan tepi posterior ramos dengan tepi inferior bagian basilar tulang
oksipital. Titik Pterigomaksilari (Ptm) : titik ini merupakan titik paling posterior pada
bagian anterior tuberositas maksila. Subspinal atau titik A merupakan titik terdalam
pada garis tengah antara spina nasalis anterior dengan prosthion. Prosthion (Pr), suatu
titik paling dibawah dan paling anterior pada tulang alveolar dipertengahan antara
14
paling anterior tonjolan dagu dalam median plane. Supramental atau titik B adalah
titik paling dalam pada midsagital plane antara infradental dengan pogonion.
Biasanya di anterior dan sedikit dibawah apeks insisivus RB. Infradental adalah suatu
titik tertinggi dan paling anterior pada prosesus alveolaris, dalam median plane antara
insisivus sentralis RB. Spina Nasalis Anterior (ANS) : titik paling anterior dasar
nasal, ujung premaksila dalam midsagittal plane. Menton (Me) : titik garis tengah
paling inferior pada simfisis mandibula. Gnathion (Gn) : titik paling anteroinferior
pada simfisis dagu. Titik ini dibuat dengan menunjukkan suatu garis yang tegak lurus
dengan garis yang menghubungkan menton dan pogonion. Spina Nasalis Posterior
(PNS) yaitu titik paling posterior pada kontur palatum.11
Adapun permukaan-permukaan yang penting untuk analisa sefalometrik
adalah basis kranial (gambar 6), analisa profil skeletal horisontal, derajat konveksitas
skeletal dan analisa profil skeletal vertikal. 11
15
Studi sefalometrik harus dilakukan pada kondisi yang sesuai yaitu diperlukan
ruang gelap, layar penampil dengan pencahayaan cukup yang ditutup dengan kartu
untuk menciptakan suatu bentuk jendela yang cukup besar untuk radiografi, lembar
penapakkan berkualitas baik yang direkatkan dengan radiograf dengan menggunakan
plester adhesif bening, dan pensil keras. Radiografi diorientasikan dengan
menempatkan Frankfurt plane (atau dataran Frankfurt/HP plane) sejajar dengan tepi
bawah layar, karena sejumlah definisi landmark tergantung pada orientasi kepala.11
Dengan membandingkan pengukuran angular dengan nilai normal, seseorang
dapat menginterpretasikan hasil analisis untuk memberikan diagnosa akan pola
skeletal yang dimiliki pasien. Perbandingan temuan dari radiograf sefalometrik awal
dan akhir akan memungkinkan kita untuk memeriksa hasil perawatan.11
2.3.4 Analisis model gigi
Studi klinis oklusi pasien sangat membantu dalam menegakkan diagnosa,
akan tetapi analisa yang tepat dari oklusi gigi hanya bisa diperoleh dari penilaian
terhadap model studi dan biasanya ini harus ditempatkan pada artikulator anatomi.11
16
Analisa model yang baik diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan
penentuan pembuatan tujuan ortodonti prabedah.
Ada 10 evaluasi model dental dasar yang harus diperhatikan, yaitu :8
1. Panjang lengkung : pengukuran panjang lengkung harus berkorelasi dengan lebar
gigi dan ketersediaan tulang alveolar. Pengukuran ini memberikan keputusan
apakah gigi perlu dicabut atau tidak.
2. Analisa ukuran gigi : analisa ini berarti korelasi lebar mesiodistal gigi atas
terhadap gigi bawah. Hal ini utamanya terlihat dalam enam gigi anterior RA dan
RB.
3. Posisi gigi dalam konteks analisa ortognati : hal ini mengacu pada angulasi
insisivus RA dan RB relatif terhadap tulang basal. Analisa ini menentukan
apakah pencabutan diperlukan, apakah perlu diciptakan ruangan dan jenis
mekanis apa yang seharusnya digunakan untuk koreksi gigi.
4. Analisa lebar lengkung : hal ini mengacu pada evaluasi lebar interlengkung
antara maksila dan mandibula. Hal ini paling baik dianalisa dengan
mengoklusikan model yang ingin dicapai dengan koreksi orthodonti dan bedah
dan kemudian periksa hubungan transversal. Analisa lebar lengkung membantu
dalam menentukan mekanisme orthodonti prabedah serta dalam hal memilih
prosedur bedah yang tepat.
5. Kurva oklusi : hal ini memiliki peran yang signifikan pada koreksi secara
ortodonti, dengan ekstraksi diperlukan atau dengan intervensi bedah
17
6. Posisi kaninus-molar : hal ini menentukan fungsi oklusal. Lebih disukai memiliki
hubungan kaninus dan molar Kelas .
7. Hubungan overbite yaitu hubungan insisivus satu rahang atas dan bawah dalam
arah vertikal dam overjet yaitu hubungan insisvus satu rahang atas dan bawah
dalam arah horizontal, normal 3-4 mm.
8. Simetri lengkung gigi mungkin terdapat asimetri yang signifikan di dalam
masing-masing lengkung misalnya gigi kaninus pada satu sisi mungkin lebih ke
anterior disbanding gigi kaninus pada sisi lain. Koreksi mungkin memerlukan
mekanis ortodonti khusus, prosedur ekstraksi unilateral atau bedah tambahan.
9. Tipping gigi bukal (perbandingan simetri kiri dan kanan dalam masing-masing
rahang).
10. Gigi yang hilang, rusak atau bermahkota : hal ini mungkin akan mempengaruhi
desain perawatan. Jika gigi tidak dapat direstorasi dan membutuhkan pencabutan
pada daerah yang kemungkinan akan dilakukan osteotomi, ruang bekas
pencabutan mungkin harus ditutup secara orthodonti atau ruang tersebut
dipertahankan.11
Diagnosa dan perencanaan perawatan untuk kasus ortognati dapat diperoleh
melalui interaksi dan komunikasi yang baik antara ahli ortodonti dengan bedah
18
Tabel 1. Bedah ortognatik : diagnosa dan tahapan perencanaan perawatan.8
Fase I • Susun data dasar
• Buat daftar masalah
• Diagnosa
• Pertemuan tim
Fase II • Susun daftar masalah interdisipliner
• Masalah dentofasial berdasarkan urutan prioritas
• Solusi yang mungkin dilakukan
• Rencana perawatan sementara
• Pertemuan pasien/tim
• Rencana tetap
Fase III • Terapi persiapan – endodontik, periodontik, prostetik, dst.
• Ortodontik defenitif – perawatan bedah
• Pemantauan tim secara berkelanjutan, evaluasi ulang, interaksi, modifikasi terapi
Fase IV • Perawatan
2.3.4 Hal-hal lain
Disfungsi dan patologi TMJ harus dideteksi sebelum pembedahan. Trauma
nasal, obstruksi jalan napas hidung, masalah sinus, pernafasan mulut yang dominan
19
BAB 3
OSTEOTOMI LE FORT I
3.1 Sejarah Osteotomi Le Fort I
Tahun 1901, Rene Le Fort menjelaskan rencana perawatan natural fraktur
pada wajah bagian tengah. Teknik ini di demonstrasikan pertama kali oleh Ceever
tahun 1864 untuk mereseksi tumor rinofaringeal. Tahun 1921 Herman Wassmund
menggunakan teknik ini untuk mengoreksi kelainan dentofasial tanpa mobilisasi
intraoperatif yang menggunakan penarikan ortopedi pada waktu selesai operasi.
Peneliti lain seperti Auxhauser, Schuchardt, Obwegeser, Willmar dan lainnya
mengembangkan teknik bedah pada maksila untuk mengoreksi kelainan dentofasial.
Pada pertengahan tahun 1970, Bell dan asistensnya melakukan penemuan penting
tentang dasar biologi terhadap hemodinamika dan pasokan vascular pada maksila.
Hal ini berdampak pada kemampuan penyembuhan yang baik dan terhindarnya
terjadi jaringan nekrosis selama dan setelah pembedahan fraktur maksila, sehingga
osteotomi Le Fort I dijadikan sebagai ilmu pengetahuan dan seni yang diakui sampai
saat ini. Beberapa teknik dari osteotomi Le Fort I telah dikembangan dan menjadi
pedoman bagi banyak operator. Teknik ini dilakukan lebh dari 2.600 kasus selama 17
tahun terakhir.8,12,13
3.2 Defenisi Osteotomi Le Fort I
Osteotomi Le Fort I merupakan prosedur utama pada bedah ortognati yang
20
imajiner pada fraktur LeFort I yang digunakan pada pembedahan osteotomi maksila
horisontal. Prosedur ini dimulai dengan pembuatan insisi intraoral pada daerah
mukogingival junction pada maksila kemudian selanjutnya dilakukan pemotongan
tulang 2-3 mm diatas apikal apeks gigi melewati septum nasi berlanjut dengan insisi
yang sama pada sisi berlawanan pada rahang atas. Setelah itu tulang dilepaskan dari
basis tengkorak kemudian mereposisikannya sehingga gigi pada rahang atas berada
tepat atau berokklusi dengan gigi rahang bawah.4,12,13
Gambar 8. Osteotomi LeFort I.6
3.2 Indikasi dan Kontra indikasi
Indikasi osteotomi Le Fort I adalah pada kelainan pertumbuhan lebih besar
pada maksila secara vertikal, defisiensi maksila secara vertikal, dan defisiensi maksila
AP (hipoplasia maksila). Indikasi ini berhubungan dengan pengukuran klinis yang
telah diverifikasi untuk kelainan bentuk tulang, rahang atas dan rahang bawah,
kelainan bentuk tulang wajah yang berhubungan dengan maloklusi pengunyah. Selain
21
terdapat tanda-tanda adanya disfungsi saluran napas, seperti sleep apnea, gangguan
sendi temporo mandibular, gangguan psikososial dan gangguan berbicara.4,9,11,12
Kontra indikasi Osteotomi LeFort I adalah pada kelainan pertumbuhan dini
maksila lebih besar horisontal, defisiensi maksila secara horisontal dan pertumbuhan
dini maksila lebih besar AP. Selain kondisi diatas keadaan ekonomi pasien yang
kurang mendukung biaya operasi, umur pasien yang masih dalam fase pertumbuhan
dan adanya penyakit sistemik juga merupakan kontra indikasi prosedur osteotomi
22
BAB 4
OSTEOTOMI LE FORT I PADA BEDAH ORTOGNATI
4.1 Persiapan Sebelum Prosedur Pembedahan
Sebelum dilakukan pembedahan, dilakukan pencatatan riwayat kesehatan dan
pemeriksaan lengkap pada pasien. Pasien diharuskan untuk melakukan tes sebelum
operasi seperti hitung darah lengkap, golongan darah, urinalisis dan x-ray dada bila
perlu.4,12
Sebelum operasi dilakukan, foto x-ray dan fotografi pasien diambil, yang
mana digunakan oleh ahli bedah mulut untuk rencana perawatan pada pasien. Ahli
bedah mulut menentukan pengukuran pembedahan akhir, gigitan kerja, cetakan
model dan membuat panduan rahang dengan menggunakan facebow. 4
Operator mengembangkan rencana perawatan berdasarkan berbagai
pengukuran pasien. Rencana kemudian diuji dan dikonfirmasi pada tracing
sefalometrik, kemudian melakukan prosedur pembedahan sesuai dengan yang
direncanakan pada model dari rahang dan gigi pasien dan menggunakan model untuk
referensi selama operasi yang sebenarnya. Sebelumnya operator membuat belat
transisi plastik atau jig pada model dan menggunakan belat ini atau jig dalam operasi
untuk posisi rahang bawah sesuai dengan posisi rahang atas atau posisi rahang atas
berdasarkan posisi rahang bawah, tergantung pada preferensinya. Operator
menentukan posisi gigitan akhir dengan membuat pemotongan antara gigi pada
model rahang atas. Rahang dapat dibentuk kembali pada model sampai posisi yang
23
Operator mengambil pengukuran akhir gerakan bedah, penentuan gigitan, dan
pencetakan gigi untuk model studi dan membuat rahang khusus gabungan yang
disebut facebow kemudian ditransfer ke artikulator.4
Diruangan perawat menginstruksikan pasien bahwa tidak boleh makan
delapan jam sebelum operasi tapi cairan bening (misalnya, air, jus apel) dapat
dikonsumsi hingga empat jam sebelum operasi. Ketika pertanyaan-pertanyaan dari
pasien dan anggota keluarganya dijawab, ahli bedah memperoleh informed consent
dari pasien atau, jika pasien masih di bawah umur, dari wali pasien.4,13,15
Pada hari operasi, perawat meng identifikasi pasien riwayat kesehatan dan
bedah dan melakukan penilaian fisik. Perawat menjelaskan kepada pasien tentang
prosedur bedah dan instruksi pemulihan pasca operasi. Kemudian perawat
memasangkan selimut hangat untuk menjaga normotermia dan alat IV line pada
pasien. Setelah itu pasien diberikan antibiotik 60 menit sebelum sayatan bedah
dimulai.4
4.2 Prosedur Pembedahan
Prosedur pembedahan dilakukan dibawah pengaruh anestesi umum, jika
memungkinkan dipilih anestesi hipotensi. Lidokain 2% dengan epinefrin 1:100.000
diinfiltrasi ke dalam jaringan mukosa pada bibir atas. Insisi horizontal dibuat pada
vestibulum maksila dari sisi region molar kedua sampai ke area yang sama pada sisi
berlawanan. Flep muko periosteal dibuat tinggi untuk membuka lapisan dasar anterior
nasal, celah piriform, dinding lateral maksila, crest zigomatik, dan pertemuan
24
dari maksila. Tulang dipisahkan 3 sampai 4 mm di atas ujung apeks akar gigi dari
bagian lateral dari pinggiran piriform posterior melintasi fosa kanina dan melalui
crest zigomatik maksila. Bagian anterior, posterior, inferior dari dinding lateral nasal
dapat dipisahkan dengan pandangan langsung. Aspek posterior dari dinding lateral
maksila dan dinding posterolateral antral dipotong dengan tekanan spatula osteotomi
posterior hingga berkontak dengan lapisan padat tegak lurus dengan tulang palatinal.
Tahap akhir meliputi pterigo maksila dysjunction dengan melakukan osteotomi di
tengah-tengah dan anterior ke dalam sutura pterigomaksila untuk memisahkan
tuberositas maksila dari lapisan pterigoid dengan menggunakan instrumen tajam yang
berbentuk kurva.4,11,15,16
Maksila ditekuk ke bawah dengan tekanan inferior berlawanan dengan bagian
anterior maksila, dan tekanan ke depan berlawanan dengan tuberositas, dengan
demikian didapati patahan maksila tanpa menggunakan tang disimpaksi. Maksila
diposisikan sesuai oklusi dengan menggunakan splint fiksasi intermaksila. Maksila
yang telah dilepaskan dari basis tengkorak difiksasi dengan memamasukkan kawat
intraosseus yang dibur melalui bagin nasal dan tulang zigomatik maksila guna
menahan bagian proksimal dan distal maksila. Kawat stainless steel 26-gauge
digunakan untuk fiksasi intraosseus. Dinding lateral maksila dan zigomatik yang
menahan merupakan dua daerah kritis. Tulang corticocancellous autogenous
dihasilkan dari penyambungan tulang yang paling umum untuk blok
25
Gambar 9. Osteotomi Le Fort I impaksi : (A) pemotongan osteotomi, (B), (C) pemotongan osteotomi
pada kedua sisi, (D) osteotomi nasoseptal yang digunakan untuk memisahkan tulang nasal dari maksila, (E) pemisahan maksila dari lapisan pterigoid, (F), (G) pemisahan maksila secara lengkap, (H) fotografi prabedah, dan (I) fotografi pasca bedah. 11
26
Gambar 12. Diseksi subperiostal untuk Gambar 13. Penandaan acuan daerah secara mengidentifikasi saraf infraorbital, celah vertikal dan horizontal.8
pirifomis, crest zigomatikum, dan maksila posterior.8
Gambar 14. Lakukan pemotongan tulang sesuai Gambar 15. Pemotongan disesuaikan dengan garis
dengan penandaan yang dilakukan.8 oklusal secara pararel.8
Gambar 16. Fiksasi kedua rahang dengan splin Gambar 17. Fiksasi daerah pemotongan tulang
27
4.3 Laporan Kasus
Pasien pria 20 tahun datang ke klinik ortodontik pribadi Dr MJ, karena
masalah TMJ dan estetika-fungsional. Pasien mengeluh menderita sakit kepala dan
otot selama lebih dari 3 tahun di samping rasa sakit pada sendi temporomandibular
(TMJ) dan otot-otot pengunyahan. Pemeriksaan klinis menunjukkan pembukaan
mulut maksimum dan adanya keterbatasan gerakan lateral. Tidak ada pergeseran
mandibula pada saat pergerakan pembukaan atau penutupan.6
Gambar 18. Profil wajah sebelum perawatan.6
28
Gambar 20. Foto Sefalometri sebelum perawatan.6
Analisis sefalometri menunjukkan rahang pasien berada pada posisi retrusif,
dan proporsi mandibula yang besar, tersamarkan oleh tinggi wajah bagian bawah
anterior. Pemeriksaan wajah menunjukkan defisiensi horisontal midface pada
perhitungan tulang malar dan pipi, dan retrusion dari bibir atas (Gambar 18). Wajah
terlihat simetris dalam aspek frontal. Pemeriksaan intraoral menunjukkan hubungan
molar Kelas III ¾ di kanan dan kelas III ¼ di kiri 1,15. Relasi sentris, gigi posterior
dan gigi insisivus oklusi edge to edge (Gambar 2). Hubungan gigi geligi dan kurva
Spee normal, midline 2 mm bergeser kesebelah kanan. Insisivus sentralis kiri dirawat
secara endodonti dengan restorasi akhir resin komposit dan gelap, tetapi tidak terlihat
tanda-tanda klinis ankilosis. Gambaran sefalometri, gigi seri rahang atas diposisikan
pada tulang basal dan gigi seri rahang bawah yang lebih ke lingual.6
Tujuan perawatan pada pasien adalah untuk menghilangkan atau meringankan
29
fungsi pengunyahan dapat dicapai. Hubungan molar kelas I bilateral, overjet normal
dan overbite dapat dicapai dengan memperbaiki posisi gigi, dan memperluas dengan
memajukan rahang atas. Dengan memajukan rahang atas dan koreksi gigi akan
meningkatkan aspek retrognati dari midface dan penampilan intraoral.6
Terdapat tiga pilihan perawatan yang bisa diterima diajukan. Pertama
perawatan dengan penggunaan pesawat ortodontik tetap saja dengan cara
memanfaatkan kompensasi dento alveolar. Archwires rahang atas yang lebih luas
akan memperluas lengkung gigi yang terbatas, dan dengan elastis dapat diperbaiki
okklusi posterior dan crossbite anterior.
Pilihan kedua melibatkan pendekatan ortodontik dan bedah. Dengan cara ini,
tujuan perawatan secara keseluruhan bisa dicapai, meskipun terdapat risiko pada
prosedur ini. Ekspansi dengan pembedahan rahang atas membantu untuk mencapai
okklusi yang optimal dan fungsional yang benar serta didapati peningkatan yang
cukup besar dalam hal estetika wajah. Oleh karena sekaligus akan melakukan
ekspansi lengkung rahang atas, pilihan lain, yaitu pilihan ke tiga adalah dengan
osteotomi Le Fort I subtotal, atau one-piece operation yaitu dengan cara memajukan
rahang atas, bersamaan dengan memundurkan mandibular, serta segmentasi rahang di
empat sisi dengan tujuan untuk menghasilkan perluasan lengkung rahang atas. Oleh
karena pilihan utama pasien adalah untuk memprioritaskan perbaikan estetika pasien,
pilihan pertama ditolak dan pasien memilih untuk opsi ketiga oleh karena dilakukan
hanya dalam satu bedah intervensi. Untuk lengkung rahang bawah, pilihan perawatan
dilakukan dengan memakai pesawat ortodonti cekat saja, dan dengan menkompensasi
30
Osteotomi LeFort I dimulai dengan segmentasi rahang atas dalam empat
segmen pergerakan. Interdental vertical osteotomi dilakukan antara lateral rahang atas
gigi seri dan gigi taring . Dua osteotomi horisontal, yang sejajar dengan septum
dilakukan untuk memperluas maksila dalam arah transversal. Segmen anterior
maksila yang direposisi terhubung ke mandibula dalam hubungan oklusal yang benar.
Lengkung mandibula dan maksila difiksasi bersama-sama dan bertindak sebagai satu
unit. Pada perubahan posisi ini, oleh karena tidak adanya perpindahan posisi kondilar,
berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan hubungan temporo mandibular
praoperasi agar kondilus di anterior tetap berada pada fossa mandibula. Terakhir
dilakukan fiksasi dengan miniplates dan miniscrews pada segmen rahang atas. Pada
pasien dilakukan pemasangan ¼ inchi ligatur elastis intermaxilla selama 20 jam /
hari selama 45 hari dan kemudian secara bertahap mengurangi waktu pakai.6
Setelah perawatan ortodontik bedah , sakit kepala, nyeri pada TMJ dan otot
rahang, nyeri pada palpasi telah berhenti. Analisis fungsional menunjukkan adanya
pembukaan yang normal dari mandibula. Selain itu pasien dilaporkan menghentikan
bruksism dan clenching . Foto-foto wajah setelah perawatan menunjukkan hasil
perubahan yang memuaskan dalam pandangan frontal ( Gambar 4 ). Hubungan gigi
molar Kelas I bilateral, overjet dan overbite tercapai. Tiga tahun setelah perawatan
bedah ortodontik , tidak ada tanda-tanda atau gejala TMJ dan hasil oklusal tidak
berubah.6
31
Gambar 21. Profil wajah setelah perawatan6
32
Gambar 23. Foto sefalometri setelah perawatan6
4.4 Komplikasi Pasca Pembedahan
Komplikasi meliputi perdarahan, kegagalan untuk reposisi segmen, kerusakan
pada gigi (terutama akar) dan kehilangan atau kerusakan pada pasokan darah segmen
tulang yang di osteotomi sehingga tulang nekrotik; semua ini harus dihindari. Pasien
diperingatkan mengenai potensi risiko pembedahan. Fistula atau oroantral fistula
dapat terjadi tetapi ini jarang ditemui. Nekrosis keseluruhan dari segmen tulang
jarang terjadi, dan biasanya terjadi ketika flep jaringan lunak telah rusak secara
ekstensif. Terapi oksigen hiperbarik kadang-kadang membantu dalam situasi
33
BAB 5
KESIMPULAN
Kelainan skeletal dentofasial dan profil wajah yang abnormal
(prognati/retrognati mandibula) yang mempengaruhi estetika wajah sering dijumpai
oleh dokter gigi. Pada kondisi bahwa diperkirakan penggunaan alat-alat ortodontik
memiliki keterbatasan dalam mengkoreksi kelainan tersebut, maka pilihan yang dapat
dijalani adalah perawatan bedah rahang ortodonti atau bedah ortognati.
Bedah ortognatik didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan diagnosa,
perencanaan perawatan dan penentuan perawatan untuk memperbaiki deformitas
muskulo skeletal, dento-osseus, dan jaringan lunak pada rahang serta struktur-sturktur
yang berkaitan dengannya.
Komplikasi meliputi perdarahan, kegagalan untuk reposisi segmen, kerusakan
pada gigi (terutama akar) dan kehilangan atau kerusakan pada pasokan darah segmen
tulang yang di osteotomi sehingga tulang nekrotik; semua ini harus dihindari. Pasien
diperingatkan mengenai potensi risiko pembedahan. Fistula atau oro antral fistula
dapat terjadi tetapi ini jarang ditemui. Nekrosis keseluruhan dari segmen tulang
jarang terjadi, dan biasanya terjadi ketika flep jaringan lunak telah rusak secara
34
DAFTAR PUSTAKA
1. Jacobson R, Sarver DM. The predictability of maxilarry repositioning in Le
Fort I otrhognathic surgery. Am J Orthod Dentofacial Ortho 2002;122:142-54
2. Ayoub AF, Lalani Z, Moos FS, Wood GA. Complications following
orthognathic surgery that required early surgical intervention: Fifteen years’
experience. Int J Adult Orthod Orthognath Surg 2001;16:138–144.
3. Reyneke JP. Essential of orthognatic surgery 2nd edition. Chicago: Quintessence Publishing Co, 2010: 11-5.
4. Robinnson R, Holm R. Orthognathic Surgery for Patients with Maxillofacial
Deformities. AORN 2010;92: 1-52.
5. Arcuri F, Giarda M, Stelin L, Gatti M, Nicoloti M, Brucoli M. A Textbook of
Advanced Oral and Maxillofacial Surgery: Basic and Advanced Operative
Techniques in Orthognathic Surgery. 2010;26:697-714.
6. Janson M, Janson G, Santana E, Nakamura A, Freitas MR. Segmental LeFort
I Osteotomy For Treatment of a class III Maloclussion with
temporomandibular disorder. J Appl Oral Sci. 2008;16(4):302-9
7. Pederson GW. Buku ajar praktis bedah mulut: Koreksi dan rekonstruksi
kelainan bentuk orofasial. Jakarta, 1996;14: 325-52.
8. Sjamsuhidat R, Jong W. Buku ajar ilmu bedah: Kepala dan leher. Jakarta,
2004;24: 335-50.
9. America Assosiation of Oral dan Maksilofasial Surgeons. Clinical Paper:
Criteria of orthognathic surgery. 2013: 1-6.
10. Panula K. Corection of dentofacial deformities with orthognathic surgery.
Departement of oral and maxillofacial surgery institute of dentistry university
of oulu, Oulu 2003:15-8.
11. Balaji, S.M. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery. Elsevier ; 2007. p.
35
12. Satoshi Y. Indications and procedures for segmental dentoalveolar osteotomy:
A review of 13 patients. Int J Adult Orthod Orthognath Surg, 2002;17(4):
254-63.
13. Kole H, Epker BN. Sinopsys of oral and maxillofacial surgery: Excerpts of
orthognathic surgery. 2003;19: 132-8.
14. Mommaerts MY. A comprehensive guide to orthofacial surgery planning and
operative techniques. Miami, 2005:151-9.
15. Cortese A. The Role of Osteotomy in the Correction of Congenital and
Acquired Disorders of the Skeleton: Le Fort I Osteotomy for Maxillary
Repositioning and Distraction Techniques. Intech. 2012;2: 23-58.
16. Cortese A, Savastano G, Savastano M, Spagnuolo G, Papa F. New Technique:
Le Fort I Osteotomy for Maxillary Advancement and Palatal Distraction in 1
Stage. J Oral Maxillofac Surg, 2009;67:223-8.
17. Anonymous. Cosmetic jaw surgery.