PERBEDAAN MORIL KERJA DITINJAU DARI SHIFT KERJA PAGI DAN MALAM PADA KARYAWAN PT.PLN (Persero) OPERATOR
GARDU DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
OLEH :
CORRY TRI YANTI
081301059
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya yang berjudul :
Perbedaan Moril Kerja Ditinjau Dari Shift Kerja Pagi Dan Malam Pada Karyawan PT.PLN (Persero) Operator Gardu Di Kota Medan
adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip adalah hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Februari 2014
Corry Tri Yanti NIM : 081301059
PERBEDAAN MORIL KERJA DITINJAU DARI SHIFT KERJA PAGI DAN MALAM PADA KARYAWAN PT.PLN (Persero) OPERATOR GARDU DI
KOTA MEDAN
Corry Tri Yanti dan Gustiarti Leila
ABSTRAK
Moril kerja merupakan kondisi dimana karyawan bekerja dengan antusias ditandai dengan kepercayaan diri, kegembiraan dan sikap positif terhadap perusahaan, serta kemauan untuk bekerja sama dengan rekan kerja demi mencapai tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan organisasi.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif bertujuan untuk mengetahui perbedaan moril kerja pada shift pagi dan shift malam. Hipotesis dalam penelitian ini mengatakan bahwa terdapat nilai moril kerja shift pagi lebih tinggi dibandingkan shift malam pada karyawan PT.PLN (Persero) Operator Gardu.
Penelitian ini melibatkan 32 orang karyawan PT.PLN (Persero) yang terbagi menjadi 8 gardu. Data dikumpulkan melalui skala moril kerja dan dianalisis secara statistik dengan Paired-Sampel T-Test. Hasil analisis data menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara moril kerja pada shift pagi dan shift malam dengan p = 0.00. Moril kerja pada operator shift pagi memiliki skor mean lebih rendah (103.9) dibandingkan dengan shift malam (124.2).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi PT.PLN (Persero) gardu induk di kota Medan mengenai pentingnya moril kerja yang tinggi dari karyawan demi tercapainya tujuan perusahaan.
Difference Of Work Morale Between Morning And Evening Work Shift On Substation Operator Employees In PT PLN (Persero) Medan
ABSTRACT
Corry Tri Yanti and Gustiarti Leila
Work morale is a condition under which employees work enthusiastically characterized by self confident, happiness, and positive attitude toward company, along with willingness to cooperate with workmates to achieve organization and company goals.
This is a quantitative comparative research which is held to find the difference of work morale between morning and evening work shift. This research hypothesizes that work morale of substation operators who work in the morning is higher than those who work in the evening in PT PLN (Persero) Medan.
This research involves 32 employees of PT PLN (Persero) in 8 different station. Data collected through work morale scale and statistically analyzed by paired-sample T-test. The results shows that work morale between morning and evening work shift differs significantly with p = 0.00. The work morale mean scores of operators who have morning shift is lower (103.9) than evening shift (124.2).
This result is expected to give information to the main substation of PT PLN (Persero) that high work morale of employees is important for the sake of achieving company goals.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis hanturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan ridho-Nya hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Perbedaan Moril Kerja Ditinjau Dari Shift Kerja Pagi Dan Malam Pada Karyawan PT.PLN (Persero) Operator Gardu Di Kota Medan” guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Berbagai proses telah penulis alami selama ini. Perlu banyak usaha, kerja keras dan kemauan yang tinggi dalam setiap prosesnya. Bagi penulis menyelesaikan penelitian ini merupakan titik awal untuk mencapai impian kedepan. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Terutama sekali penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis H. Juprianto dan Hj. Ely Minarni serta abang dan mbak yang telah memberikan perhatian, nasehat, dukungan moril serta do’a yang tiada henti-hentinya kepada penulis.
Penelitian ini juga tidak akan selesai tanpa bantuan dari banyak pihak, oleh karena itu penulus juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Irmawati selaku Dekan Fakultas Psikologi.
3. Bapak Ferry Novliadi, M.Si, psikolog dan Siti Zahreni, M.Psi, psikolog selaku dosen yang bersedia meluangkan waktu menguji penulis dalam mempertanggungjawabkan skripsi ini.
4. Kak Arliza Juairiani Lubis, M. Si, Psikolog selaku dosen pembimbing akademis, yang telah memberikan bimbingan, nasehat, semangat, cokelat dan perhatian selama masa perkuliahan di Fakultas Psikologi USU.
5. Kepada sahabat-sahabatku tersayang Olyfia, Naya, Astrini, Astri, Ami dan Ruth terima kasih untuk segala masukkan, bantuan, semangat, nasehat, kebersamaan serta kekeluargaan dalam suka maupun duka selama perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
6. Kepada teman-teman yang membantu semangat, dorongan, izin dan selalu memberikan dukungan Ridho Siregar, Putra Risdiato, Dina Rizka Utami, Tomy.
7. Pihak perusahaan tempat pengambilan data PT. PLN (Persero) P3B, UPT Tragi Glugur dan Tragi Paya Pasir serta partisipan yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.
8. Keluarga seperjuangan (’08) atas kebersamaannya, kasih sayang, perhatian serta kebersamaan yang selalu kita lakukan selama ini. Salam kompak selalu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya masukkan dan saran yang sifatnya membantu dan membangun dari semua pihak, guna menyempurnakan penelitian ini agar menjadi lebih baik lagi. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi banyak pihak.
Medan, Februari 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I . PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D.Manfaat Penelitian ... 7
E. Sitematika Penelitian... 7
BAB II. LANDASAN TEORI... 9
A.Moril Kerja ... 9
1. Definisi Moril Kerja... 10
2. Ciri-Ciri Moril Kerja... 10
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Moril Kerja ... 11
B. Shift Kerja... 14
1. Definisi Shift Kerja ... 14
2. Sistem Shift Kerja ... 16
4. Efek Shift Kerja ... 18
C. Perbedaan Shift Kerja Pagi dan Malam Terhadap Moril Kerja ... 20
D.Hipotesis Penelitian ... 22
BAB III. METODE PENELITIAN ... 23
A.Identifikasi Variabel ... 23
B. Definisi Operasional ... 24
1. Moril Kerja ... 24
2. Shift Kerja ... 25
C. Populasi Penelitian ... 25
D.Metode Pengumpulan Data ... 26
E. Uji Validitas, Reliabilitas Alat Ukur dan Daya Beda Aitem ... 29
1. Validitas Alat Ukur ... 29
2. Reliabilitas Alat Ukur ... 30
3. Uji Daya Beda Aitem ... 31
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 32
1. Hasil Uji Coba Skala Moril Kerja ... 32
G.Prosedur Penelitian ... 34
1. Persiapan Penelitian ... 34
2. Pelakasanaan Penelitian ... 35
3. Tahap Pengolahan Data ... 36
H.Metode Analisa Data... 36
2. Uji Homogenitas ... 37
BAB IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Gambaran Umum Partisipan Penelitian... 38
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 38
2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 39
3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Bekerja ... 40
B. Hasil Penelitian... 40
1. Hasil Uji Asumsi ... 40
a. Uji Normalitas ... 40
b. Uji Homogenitas ... 42
2. Hasil Uji Analisa Data ... 42
3. Kategorisasi Data Penelitian ... 44
C. Pembahasan ... 45
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 50
A. Kesimpulan ... 50
B. Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
TABEL
Tabel 1. Cara Penilaian Perbedaan Moril Kerja ...28
Tabel 2. Distribusi Aitem-Aitem Skala Moril Kerja ...28
Tabel 3. Distribusi Aitem-Aitem Kuesioner Moril Kerja Setelah Uji Coba ... 33
Tabel 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 38
Tabel 5. Gambaran SubjekPenelitian Berdasarkan Usia Subjek ... 39
Tabel 6. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Bekerja ... 40
Tabel 7. Uji Normalitas One-Sampel Kolmogorov-Smirnov Test ... 41
Tabel 8. Hasil Uji Homogenitas ... 42
Tabel 9. Hasil Uji T- Paired Sampel Statistics ... 43
Tabel 10. Hasil Uji Paired Sampel Statistics ... 43
Tabel 11. Hasil Perhitungan Mean Empirik dan Mean Hipotetik Moril Kerja .... 44
Tabel 12. Norma Moril Kerja ... 45
PERBEDAAN MORIL KERJA DITINJAU DARI SHIFT KERJA PAGI DAN MALAM PADA KARYAWAN PT.PLN (Persero) OPERATOR GARDU DI
KOTA MEDAN
Corry Tri Yanti dan Gustiarti Leila
ABSTRAK
Moril kerja merupakan kondisi dimana karyawan bekerja dengan antusias ditandai dengan kepercayaan diri, kegembiraan dan sikap positif terhadap perusahaan, serta kemauan untuk bekerja sama dengan rekan kerja demi mencapai tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan organisasi.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif bertujuan untuk mengetahui perbedaan moril kerja pada shift pagi dan shift malam. Hipotesis dalam penelitian ini mengatakan bahwa terdapat nilai moril kerja shift pagi lebih tinggi dibandingkan shift malam pada karyawan PT.PLN (Persero) Operator Gardu.
Penelitian ini melibatkan 32 orang karyawan PT.PLN (Persero) yang terbagi menjadi 8 gardu. Data dikumpulkan melalui skala moril kerja dan dianalisis secara statistik dengan Paired-Sampel T-Test. Hasil analisis data menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara moril kerja pada shift pagi dan shift malam dengan p = 0.00. Moril kerja pada operator shift pagi memiliki skor mean lebih rendah (103.9) dibandingkan dengan shift malam (124.2).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi PT.PLN (Persero) gardu induk di kota Medan mengenai pentingnya moril kerja yang tinggi dari karyawan demi tercapainya tujuan perusahaan.
Difference Of Work Morale Between Morning And Evening Work Shift On Substation Operator Employees In PT PLN (Persero) Medan
ABSTRACT
Corry Tri Yanti and Gustiarti Leila
Work morale is a condition under which employees work enthusiastically characterized by self confident, happiness, and positive attitude toward company, along with willingness to cooperate with workmates to achieve organization and company goals.
This is a quantitative comparative research which is held to find the difference of work morale between morning and evening work shift. This research hypothesizes that work morale of substation operators who work in the morning is higher than those who work in the evening in PT PLN (Persero) Medan.
This research involves 32 employees of PT PLN (Persero) in 8 different station. Data collected through work morale scale and statistically analyzed by paired-sample T-test. The results shows that work morale between morning and evening work shift differs significantly with p = 0.00. The work morale mean scores of operators who have morning shift is lower (103.9) than evening shift (124.2).
This result is expected to give information to the main substation of PT PLN (Persero) that high work morale of employees is important for the sake of achieving company goals.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia industri yang sangat pesat tidak hanya di Indonesia bahkan disemua negara telah mengalami perubahan secara terus menerus, sehingga membuat setiap perusahaan melakukan evaluasi untuk dapat meningkatkan produktifitasnya guna memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan diharapkan mampu untuk beroperasi 24 jam dalam sehari agar mendapatkan keuntungan. Selain keuntungan ada juga tugas-tugas yang dilakukan pekerja seperti menjaga mesin-mesin, instalasi-instalasi modern dan segala alat yang memiliki teknologi tinggi serta lahan bahaya bagi sumber daya manusia. Untuk dapat menjalankan perusahaan yang beroperasi selama optimal dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki moril kerja yang tinggi (Grandjean, 1988).
Moril kerja yang rendah dapat berdampak buruk terhadap tujuan perusahaan. Karyawan yang memiliki moril kerja yang rendah memiliki ciri-ciri : bosan, tidak bergairah dan bermalas-malasan dalam melaksanakan pekerjaan. Kondisi moril kerja seperti ini dapat menimbulkan masalah ditempat kerja, seperti kecenderungan karyawan untuk keluar dari pekerjaan, datang terlambat ketempat kerja, pulang kerja lebih awal dari pada waktu yang telah ditentukan (Gibson,2003). Berikut adalah pemaparan karyawan yang sudah bekerja selama empat tahun, yaitu :
“awalnya saya enggak tau kalo bakalan dapat kerja shift jadi operator. Karena dari awal diklat enggak dibilang. Waktu tahun-tahun pertama masih semangat la.. apalagi banggakan uda kerja, tapi lama kelamaan uda ngerasa malas rasanya ogah-ogahan. Apalagi kalo masuk malam, karena berangkat dari rumahnya juga uda malam, jamnya orang lain tidur saya kerja, jam kerjanya juga lebih panjang, bosen, ngantuk, gak bisa tidur.. tapi gimana la namanya juga uda kerjaan, tanggung jawab gak bisa bilang. Jam kerjanya rotasi, tim kerjanya juga rotasi jadinya kalo pas dapat tim yang enak, ya gak ngebosenin, tp emang pas malam ga enak kali,gak tau apa yang mau dikerjai. Cuma fokus sama monitor aja” (Komunikasi Personal, 15 April 2013).
Pemaparan hasil wawancara diatas menunjukkan kurangnya moril kerja pada karyawan, yang sudah tercermin dari rasa malas-malasan, mudah lelah, kurangnya tim kerja yang solid dan adanya waktu kerja yang menggunakan shift. Menurut Suma’mur (1994) shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan yang biasanya dibagi menjadi tiga shift kerja, yaitu pagi, sore dan malam.
“waktu kerja kami disini sehari ada tiga kali penggantian, biasanya kalo shift pagi dari jam 08.00 – 16.00, kalo shift sore 16.00-22.00, kalo shift malam dari jam 22.00-08.00. waktu pertukaran harinya 1 minggu gituu kami dapat dua hari pagi, dua hari siang, dua hari malam, baru kami libur dua atau tiga hari. Sebenarnya si, kalo paling yang gak enak masuk malam. Ngantuk, gak bisa tidur, capek juga, selalu aja kurang untuk tidurnya kalo uda abis masuk malam...” (Komunikasi Personal, 15 April 2013)
Ada pula karyawan yang sudah bekerja 15 tahun bekerja :
“bapak uda 15 tahun kerjanya dek, yaaa.. tetap sebagai operator tapi sekarangkan jadi SPVnya anak-anak ini. Tapi tetap operator uda begadang lebih kurang 15 tahun, makannya muka bapak kelihatan lebih tua kesehatan pun menurun suka sakit-sakitan. Kalo malam gak tidur bapak ngerokok sambil ngopi, supaya gak bosan. Angin malam juga kan, suka masuk angin.kadang jarang kumpul sama anak-anak kalo masuk malam bapak keluar rumah jam 9 kalo anak-anak dirumah siang atau sore gitu bapak memilih untuk istirahat. Jadinya waktunya susah bagi.” (Komunikasi Personal, 1 mei 2013)
Pemaparan dari karyawan diatas menunjukkan sistem shift kerja pada karyawan PLN yang memiliki pembagian shift berbeda-beda di setiap waktunya. PLN sebagaiperusahaan listrik negara yang memberikan jasa penerangan dan energi listrik kepada seluruh masyarakat dan industri, untuk dapat menjalankan perusahaan yang beroperasi selama 24 jam dibutuhkan adanya sumber daya manusia (tenaga kerja) yang sehat, efektif, produktif dan memiliki moril kerja yang tinggi. Menurut Fish (2000) efek positif dan negatif dari shift kerja salah satunya adalah terganggunya masalah kesehatan, yaitu munculnya kelelahan mengakibatkan menurunnya moril kerja pada karyawan, sehingga menimbulkan rasa keengganan untuk bekerja.
psikosomatik pada pekerja shift, yaitu keluhan-keluhan seperti kelelahan, badan lemas, suka nyeri pada perut yang ditemukan lebih banyak pada pekerja yang mengalami shift kerja malam.
Shift malam merupakan shift yang paling buruk dari semua sudut, karena kerja bergilir dengan pola waktu kerja yaitu 24 jam terus menerus dapat memberikan dampak yang besar terhadap tenaga kerja dan keluhan yang bersifat subyektif di antaranya tidak dapat tidur siang, kelelahan, gangguan kesehatan. Seharusnya malam hari tidak sesuai untuk bekerja, karena malam hari merupakan fase rileks dimana irama circardian yang mempengaruhi fungsi psikologis dan fisologis yang berhubungan dengan kapasitas kerja (Grandjean, 1988).
Wijaya (2006) juga mengungkapkan bahwa kerja shift berperan penting dalam operasional perusahaan. Namun bagi pekerja yang bekerja dengan shift dapat mengalami berbagai permasalahan, yang kemudian meluas menjadi gangguan tidur, gangguan fisik dan psikologis, dan gangguan sosial serta kehidupan keluarga. Seperti komunikasi personal berikut pada karyawan yang sudah 5 tahun bekerja :
Shift kerja memiliki pengaruh pada kinerja (Tayyari & Smith, 1997) kinerja pekerja termaksud ketelitian, kesalahan, dan kecelakaan, bekerja lebih baik diwaktu siang hari dari pada malam hari. Karena adanya gangguan fisik ataupun tekanan mental sehingga menurunkan konsentrasi yang mengakibatkan gangguan tidur serta gangguan pada circadian rhythms akibat shift kerja (Wicken, et al, 2004). Data ILO (2003) menunjukkan setiap hari rata-rata 6000 orang meninggal akibat sakit dan kecelakaan kerja atau 2,2 juta orang pertahun kecelakaan terbesar terjadi pada malam hari.
Dalam penelitian yang dilakukan Susi Purnawati (2005) juga melihatkan terjadi peningkatan kecelakaan kerja sekitar 17,8% dan terjadi pada shift malam dan sore dibandingkan shift pagi. Shift kerja jika tidak dikelola dengan baik oleh perusahaan akan berdampak pada gangguan fisiologis dan perilaku tenaga kerja, yang lambat laun akan menyebabkan gangguan psikopatologi. Shift kerja juga berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Hal ini berhubungan dengan circadium rhythm yang dapat menurunkan fungsi tubuh, seperti suhu tubuh, kemampuan mental, denyut jantung, tekanan darah, volume pernapasan dan lain-lain (Grandjean,1988).
rendah, shift sore menunjukkan kategori rendah dan sedang, dan shift malam menunjukkan kategori sedang.
Menurut Occupational Health Clinic (2005), yang melakukan studi tertang shiftwork menyatakan shift kerja malam telah terbukti dapat berpengaruh terhadap
konsentrasi, kewaspadaan, motivasi dan memori. Hal ini dapat memperlambat kinerja karyawan dan dapat meningkatkan resiko kecelakaan dan menurunkan moril kerja pada karyawan. Ada beberapa faktor pekerjaan yang sangat rentang terhadap kecelakaan kerja pada pekerja shift yaitu umur, kemampuan, pengalaman, obat-obatan/alkohol, gender, stress, kelelahan dan motivasi kerja (Grandjean, 1988).
Berdasarkan hal yang dipaparkan diatas, diketahui bahwa shift kerja sangat penting untuk suatu organisasi baik yang bergerak dibidang jasa ataupun industri yang banyak berkembang pada saat ini. Terutama PLN yang menyediakan pelayanan tenaga listrik pada seluruh masyarakat dan industri. Atas alasan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh moril kerja ditinjau dari shift kerja pagi dan malam pada karyawan PT.PLN (Persero) operator gardu di Kota Medan.
B. Rumusan Masalah
ditinjau dari shift kerja pagi dan malam karyawan PT.PLN (Persero) operator gardu di kota Medan?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan moril kerja ditinjau dari shift kerja pagi danmalam pada karyawan PT.PLN (Persero) operator gardu di kota Medan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini nantinya dapat memperoleh manfaat, yaitu baik manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis.
1. Manfaat teoritis, pada hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Industri dan Organisasi mengenai shift kerja dan morilkerja pada karyawan operator.
2. Manfaat Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data tentang moril kerja pada karyawan.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan pada penelitian ini adalah
Bab ini menjelaskan latar belakang masalah yaitu mengenai perbedaan moril kerja ditinjau dari shift kerja pagi dan malam pada karyawan PT.PLN, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini memuat tentang landasan teori yang mendasari masalah objek penelitian. Bab ini memuat landasan teori mengenai moril kerja, shift kerja, perbedaan shift kerja pagi dan malam terhadap morilkerja. Kemudian dijelaskan pula hipotesa sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
BAB III : Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan identifikasi variabel penelitian, defenisi operasional variabel, rancangan penelitian, teknik kontrol, partisipan penelitian, instrumen dan alat ukur, prosedur penelitian dan metode analisis data.
BAB IV : Analisa Data dan Pembahasan
Bab ini berisi uraian gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian dan pembahasan.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Moril Kerja 1. Definisi Moril
Moril adalah sikap atau semangat yang ditandai oleh adanya kepercayaan diri, motivasi yang kuat untuk meneruskan sesuatu usaha, kegembiraan dan pencapaian tujuan organisasi yang baik (Chaplin, 2006). Sedangkan menurut Nitisemito (1996), moril kerja adalah melakukan pekerjaan secara lebih giat sehingga pekerjaan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik. Sedangkan Hasibuan (2005) mengatakan moril sebagai keinginan dan kesungguhan seseorang mengerjakan pekerjaanya dengan baik serta berdisiplin untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa moril kerja adalah keinginan dan kesungguhan seseorang dalam melakukan pekerjaan secara giat, memiliki antusias yang tinggi serta ditandai dengan adanya kepercayaan diri, kegembiraan, sikap positif terhadap pekerjaan serta kemauan untuk bekerja sama dengan rekan kerja demi tercapainya tujuan bersama.
2. Ciri-Ciri Moril Kerja
Menurut Carlaw,dkk (2003) yang menjadi ciri-ciri dari karyawan yang memiliki moril kerja yang tinggi adalah mampu memperlihatkan keceriaan seperti tersenyum dan tertawa, memiliki inisiatif, dapat berfikir secara kreatif dan luas, menyenangi pekerjaan yang sedang dilakukan, tertarik dengan pekerjaannya tersebut, bertanggung jawab atas pekerjaannya, memiliki kemauan bekerja sama dengan individu lain sekaligus merasa nyaman berinteraksi dengan atasannya. Delapan ciri-ciri ini yang akan diangkat menjadi aspek pengukuran terhadap moril kerja karyawan.
Penjelasan lebih mendetil mengenai ciri-ciri moril kerja yang tinggi adalah sebagai berikut:
b. Memiliki Inisiatif, individu yang memiliki moril kerja yang tinggi akan memiliki kemauan diri untuk bekerja tanpa pengawasan dan perintah atasannya.
c. Berfikir kreatif dan luas, individu yang memiliki ide-ide baru, dan tidak mempunyai hambatan untuk menyalurkan ide-idenya dalam menyelesaikan tugas.
d. Menyenangi apa yang sedang dilakukan, individu lebih fokus terhadap pekerjaan daripada memperlihatkan gangguan selama melakukan pekerjaan.
e. Tertarik dengan pekerjaannya, individu menaruh minat pada pekerjaan karena sesuai keahlian dan keinginannya.
f. Bertanggung jawab, individu bersungguh-sungguh dalam menjalankan pekerjaan.
g. Memiliki kemauan bekerja sama, individu memiliki kesediaan untuk bekerja sama dengan individu yang lain untuk mempermudah atau mempertahankan kualitas kerja.
h. Berinteraksi dengan atasan, adanya interaksi yang baik dengan atasan, sehingga karyawan merasa nyaman tanpa ada rasa takut dan tertekan.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Moril Kerja
a. Upah.
Karyawan akan lebih antusias menyelesaikan kewajibannya, bila hak yang diperoleh sesuai dengan hasil jerih payahnya. Dengan kata lain, pemberian upah sesuai standard yang dapat memenuhi kebutuhan karyawannya akan mendorong karyawan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
b. Keamanan.
Adanya jaminan keamanan dari perusahaan membuat karyawan memiliki moril yang tinggi mengerjakan tugas-tugasnya.
c. Kondisi kerja.
Kondisi kerja yang kondusif akan menyebabkan karyawan lebih bermoril untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
d. Kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Moril kerja akan meningkat bila karyawan mempunyai kebanggan terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Sebaliknya, moril kerja akan menurun karena karyawan tidak memiliki kebanggaan terhadap pekerjaannya.
e. Pimpinan yang terbuka dan cakap.
Dengan adanya pemimpin yang terbuka dan cakap, karyawan merasa dapat berkomunikasi dengan baik mengenai kendala yang dirasakannya. Komunikasi ini dapat meminimalisir tuntutan dan pemogokan kerja serta dapat meningkatkan moril kerja karyawan untuk menyelesaikan tugasnya.
Moril kerja meningkat bila karyawan memiliki kesempatan untuk maju dan meningkatkan kemampuan yang dimilikinya. Tetapi bila karyawan tidak memiliki kesempatan untuk maju, maka moril kerjanya akan menurun.
g. Kecocokan dengan rekan kerja.
Kecocokan dengan rekan kerja akan menciptakan kondisi kerja yang kondusif, dimana karyawan akan merasa lebih bersemangat, aman dan nyaman untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya.
Nitisemito (1996) mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi moril kerja yaitu:
a. Kebanggan pekerja akan pekerjaan dan kepuasannya dalam bekerja.
Kebanggaan yang dimiliki karyawan terhadap pekerjaan dan kepuasannya dalam bekerja akan memacu moril kerja karyawan. Sebaliknya, jika tidak ada kebanggaan terhadap pekerjaan dan tidak ada kepuasan dalam bekerja, maka moril kerja karyawan akan cenderung statis bahkan dapat pula menurun. b. Sikap terhadap pimpinan.
Jika karyawan memiliki sikap positif terhadap pimpinan, maka moril kerja akan meningkat. Tapi bila karyawan bersikap negative terhadap pimpinannya maka moril kerja akan menurun.
c. Hasrat untuk maju.
d. Perasaan telah diperlakukan secara baik.
Moril kerja akan meningkat bila karyawan merasa telah diperlakukan dengan baik oleh perusahaannya. Namun bila karyawan merasa bahwa ia tidak diperlakukan dengan baik, maka moril kerjanya akan menurun.
e. Kemampuan untuk bergaul dengan karyawan sekerjanya.
Moril kerja akan meningkat bila didukung dengan kemampuan untuk bergaul dengan rekan sekerja, sehingga pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan. Tetapi sebaliknya, moril kerja karyawan akan menurun bila karyawan tidak mampu bergaul dan bekerja sama dengan rekan sekerjanya.
f. Kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan.
Moril kerja meningkat bila karyawan memiliki kesadaran akan tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, moril kerja menurun bila karyawan tidak memiliki kesadaran akan tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
B. Shift Kerja
1. Definisi Shift Kerja
biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam. Proporsi pekerja shift semakin meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan oleh investasi yang dikeluarkan untuk pembelian mesin-mesin yang mengharuskan penggunaannya secara terus menerus siang dan malam untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sebagai akibatnya pekerja juga harus bekerja siang dan malam. Hal ini menimbulkan banyak masalah terutama bagi tenaga kerja yang tidak atau kurang dapat menyesuaikan diri dengan jam kerja yang lazim.
Schermerhon (2001) menyatakan shift kerja adalah pembagian kerja yang dapat diartikan dimana suatu pekerjaan full-time dipilih di antara dua orang atau lebih. Pembagian tugas seringkali melibatkan masing-masing orang bekerja setengah hari, tetapi dapat juga dilakukan pada aransmen pembagian secara mingguan atau secara bulanan. Sedangkan Riggio (1996) mengemukakan shift kerja adalah bentuk penjadwalan dimana kelompok kerja mempunyai alternatif untuk tetap bekerja dalam perpanjangan operasi atau operasi yang terus-menerus. Pelaksanaan dari shift itu sendiri adalah dengan cara bergantian, yakni keryawan pada periode tertentu secara bergantian dengan karyawan pada periode berikutnya umtuk melakukan pekerjaan yang sama. Karyawan yang bekerja pada waktu normal dihunakan istilah diurnal, yaitu individu atau karyawan yang selalu aktif pada waktu siang hari setiap harinya. Sedangkan karyawan yang bekrja pada waktu malam hari menggunakan istilah nocturnal, yaitu individu atau karyawan yang bekerja atau aktif pada malam hari dan istirahat pada siang hari.
oleh perusahaan serta mempunyai alternatif untuk tetap bekerja dalam perpanjangan operasi dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam.
2. Sistem Shift Kerja
Sistem shift kerja dapat berbeda antar instansi atau perusahaan, walaupun biasanya menggunakan tiga shift setiap hari dan pada umumnya dengan delapan jam kerja setiap shift. Menurut William (1992) mengenalkan dua macam sistem shift kerja yang terdiri dari:
a. Shift Permanen
Karyawan yang bekerja seperti biasa setiap harinya dalam waktu yang sama, sesuai dengan jadwal. Jika karyawan masuk malam, maka jadwalnya malam hingga selanjutnya.
b. Sistem Rotasi
Pegawai yang bekerja pada waktu bekerja yang berbeda-beda, kadang mendapatkan shift pagi, sore atau malam, yang setiap waktu digilir hari kerjanya.
ILO (1982) menyatakan pergantian shift yang normal 8 jam/shift. Shift kerja yang dilaksanakan 24 jam termasuk hari Minggu dan hari libur memerlukan 4 regu kerja. Regu ini dikenal dengan regu kerja terus-menerus (3x8).
satu shift dilaksanakan 3 hari untuk 2 shift dilaksanakan 2 hari dan pada akhir periode shift diberikan libur 2 hari. Siklus ini bergantian untuk stiap shift. Pada akhir shift malam diperlukan istirahat sekurang-kurangnya 24 jam. Sistem rotasi ini dianjurkan oleh pakar yang berpandangan modern dengan mempertimbangkan faktor sosial dan psikologi untuk industri yang pada bagian manufaktur (Pulat, 1992).
Menurut Muchinsky (1997) tidak ada keseragaman waktu shift kerja, setiap perusahaan memiliki bermacam-macam shift yang berbeda. Biasanya dalam sehari dibagi menjadi tiga shift selama delapan jam, yaitu :shift pagi pukul 07.00 – 15.00, shift sore pukul 15.00 – 23.00, dan shift malam pukul 23.00 – 07.00.
Grandjean (1988) membagi sistem shift menjadi tiga periode yang sama dari delapan jam masing-masing, sistem secara umum adalah shift pagi pukul 06.00 – 14.00, shift sore pukul 14.00 – 22.00, dan shift malam pukul 22.00 – 06.00. Sistem rotasi yang beragam tergantung dari kebutuhan dan spesifikasi pada pekerjaan yang dilakukan. Sistem rotasi cepat perubahan shift setiap 2-3 hari dan rotasi tiap minggu disebut rotasi lambat. Di Indonesia sendiri menggunakan sistem rotasi metropolitan rotation rotasi pendek 2-2-2 dengan shift pagi-pagi-sore-sore-malam-malam-libur-libur, atau continental rotation 2-2-3.
3.Sikap Tenaga Kerja Terhadap Shift Kerja
Kuswadji (1997) juga mengemukakan bahwa tanggapan karyawan terhadap tiga shift kerja adalah sebagai berikut :
1. Shift pagi : memberikan waktu luang baik untuk kehidupan keluarga dan tidak terbatas kehidupan sosialnya.
2. Shift siang : terbatas kehidupan sosial, waktu siang terbuang dan sedikit lelah. 3. Shift malam : lelah, kehidupan sosial terbatas, kurang baik untuk kehidupan keluarga, gangguan tidur, memberikan banyak waktu luang terbuang.
4 Efek Shift Kerja
Menurut Fish (2000) mengemukakan bahwa efek shift kerja yang dapat dirasakan antara lain :
1. Efek fisiologis
a. Kualitas tidur : tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak gangguan dan biasanya dipelukan waktu istirahat untuk menebus kurang tidur selama kerja malam.
b. Menurunnya kapasitas kerja fisik kerja akibat timbulnya perasaan mengantuk dan lelah.
c. Menurunnya nafsu makan dan gangguan pencernaan. 2. Efek psikososial
untuk berinteraksi dengan teman, dan menggangu aktivitas kelompok dalam masyarakat.
Saksono (1991) menyatakan bahwa pekerjaan malam berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang biasanya dilakukan pada siang atau sore hari. Sementara pada saat itu bagi pekerja malam dipergunakan untuk istirahat atau tidur, sehingga tidak dapat beradaptasi aktif dalam kegiatan tersebut, akibat tersisih dari lingkungan masyarakat.
3. Efek kinerja
Kinerja menurun selama kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis dan psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan.
4. Efek terhadap kesehatan
Shift kerja menyebabkan gangguan gastrointesnal, masalah ini cenderung terjadi pada usia 40-50 tahun. Shift kerja juga dapat menjadi masalah terhadap keseimbangan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes.
5. Efek terhadap keselamatan kerja
kenyataan bahwa kecelakaan cenderung banyak terjadi pada shift malam (Adiwardana, 2001).
C.Perbedaan Shift Kerja Pagi dan Malam Terhadap Moril Kerja
Moril kerja merupakan sikap antusias yang ditandai dengan adanya kepercayaan diri, motivasi diri yang kuat untuk melaksanakan pekerjaannya, kegembiraan dan sikap positif terhadap perusahaan serta kemauan untuk bekerja sama dengan rekan kerja demi mencapai tujuan yang ingin dicapai perusahaan atau organisasi (Carlaw dkk, 2003).
Menurut Carlaw dkk (2003) ciri-ciri karyawan yang memiliki moril kerja yang tinggi adalah karyawan yang mampu memperlihatkan keceriaan seperti tersenyum dan tertawa, memiliki inisiatif, berfikir kreatif dan luas, menyenangi pekerjaan apa yang dilakukan, tertarik dengan pekerjaan, bertanggung jawab, memiliki kemauan bekerja sama, berinteraksi dengan atasan berpengaruh terhadap moril kerja.
Fish (2000) mengatakan dampak dari moril kerja memiliki efek pada kinerja karyawan, kinerja akan menurun pada karyawan yang bekerja shift.Sehinggadapat menimbulkan efek fisiologis dan psikososial. Efek fisiologis
disebabkan oleh faktor lingkungan (fisik) ditempat kerja, antara lain kualitas tidur yang tidak baik, menurunkan kapasitas kerja fisik akibat timbulnya perasaan mengantuk dan lelah, menurunnya nafsu makan dan gangguan pencernaan. Sedangkan efek psikososial dari kerja shift adalah gangguan kehidupan keluarga, hilangnya waktu luang, sedikitnya waktu untuk berinteraksi dengan teman atau kelompok masyarakat.
negatif yang lebih panjang, sehingga dapat menimbulkan moril kerja yang rendah pada karyawan.
D.Hipotesis Penelitian
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian sangat penting didalam penelitian karena menyangkut cara yang benar dalam pengumpulan data, analisa data dan pengambilan keputusan hasil penelitian. Pembahasan dalam metode penelitian meliputi : identifikasi variabel penelitian, definisi operasional, subjek penelitian, prosedur penelitian dan metode analisis (Hadi, 2000).
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data angka numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian komparatif. Metode komparatif merupakan metode penelitian yang bersifat membandingkan dua variabel atau lebih (Azwar, 2004).
A.Identifikasi Varibel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Variabel tergantung : Moril Kerja
B.Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati (Suryabrata, 2002).Definisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, yaitu :
a. Moril Kerja
Moril kerja merupakan kondisi dimana karyawan bekerja secara energik, antusias dan memiliki kemauan yang tinggi untuk bekerja yang ditandai dengan adanya ciri selalu tersenyum dan tertawa, memiliki inisiatif, dapat berfikir secara kreatif dan luas, menyenangi apa yang sedang dilakukan, tertarik dengan pekerjaannya, bertanggung jawab dan memiliki kemampuan bekerjasama dan berinteraksi dengan atasan.
Pengukuran moril kerja akan diukur dengan menggunakan skala moril kerja yang disusun berdasarkan cir-ciri morilkerja yang dikemukakan oleh Carlaw, dkk (2003) . Berikut ini adalah kriterianya, yaitu tersenyum dan tertawa, memiliki inisiatif, berfikir kreatif dan luas, menyenangi apa yang sedang dilakukan, tertarik dengan pekerjaannya, bertanggung jawab, memiliki kemajuan bekerja sama, dan berinteraksi dengan atasan.
b. Shift Kerja
Shift kerja merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu kerja yang dijadwalkan secara bergiliran dalam sehari atau 24 jam dengan waktu kerja terbagi menjadi dua periode, yaitu pagi dan malam.
Pada perusahaan yang akan diteliti memiliki sistem kerja shift, yaitu shift pagi dan malam. Menggunakan sistem rotasi pendek atau disebut rotasi 2-2-2. Perusahaan memiliki waktu kerja yang berbeda-beda disetiap shift,yaitu shift pagi pada pukul 08.00-16.00 (8 jam kerja) dan shift malam pada pukul 22.00-08.00 (10 jam kerja). Setiap karyawan akan mendapatkan dua skala moril kerja dengan pernyataan yang sama akan tetapi situasi waktu yang berbeda, karena masing-masing karyawan menjalankan shift pagi dan malam.
C.Populasi Penelitian
Teknik pengambilan sampel dari populasi dengan menggunakan prosedur tertentu dan memperhatikan sifat-sifat serta penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang dapat mewakili populasi.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling yang berarti setiap individu dalam populasi penelitian dijadikan sebagai sampel (Hadi, 2000).
Berdasarkan uraian tersebut, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 82 orang. Dengan perincian 50 subjek untuk diuji coba dan 32 orang subjek untuk penelitian.
D.Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pengambilan data dengan skala. Skala adalah suatu prosedur pengambilan data yang merupakan alat ukur aspek afektif yang merupakan kontruksi atau konsep psikologi yang menggambarkan aspek kepribadian individu (Azwar, 2007).
1. Skala Moril Kerja
pekerjaannya, bertanggung jawab, memiliki kemauan bekerja sama, berinteraksi dengan atasan.
Alasan menggunakan alat ukur skala didasarkan atas asumsi : 1. Subjek adalah individu yang paling tahu tentang dirinya
2. Apa yang dinyatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3. Interpretasi subjek terhadap pernyataan-pernyataan yang diajukan peneliti adalah sama dengan pemahaman dan interpretasi peneliti (Hadi, 2000). Skala yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan ciri-ciri moril kerja yang terdiri dari 8 ciri yaitu dimana masing-masing ciri memiliki pernyataan yang mendukung (favorable) dan sebagian yang tidak mendukung (unfavorable). Jumlah keseluruhan dalam skala ini adalah 64 aitem, yang terdiri dari 40 aitem favorable dan 24 item unfavorable.
Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala interval, dengan aitem-aitem yang disusun dengan penskalaan likert, yang mana setiap aitem-aitem memiliki lima kemungkinan jawaban. Penilaian subjek bergerak dari nilai satu sampai dengan lima, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Aitem tersebut disusun berdasarkan favorable dan unfavorable.
Tabel 1. Cara Penilaian Skala Moril Kerja
Benyuk Pertanyaan Skor
1 2 3 4 5
Favorable SS S N TS STS
Unfavorable STS TS N S SS
Skor total merupakan petunjuk tinggi rendahnya morilkerja pada karyawan yang bekerja pada shift pagi dan malam jika semakin tinggi skor yang dicapai maka semakin tinggi moril kerjanya. Sebaliknya, jika semakin rendah skor yang dicapai maka semakin rendah moril kerjanya. Pengklasifikasian tinggi rendahnya moril kerja pada karyawan dilakukan dengan metode SPSS 16.0 for Windows.
Tabel 2. Distribusi Aitem-Aitem Skala Moril Kerja
No. Ciri-ciri Item Jumlah Bobot 4. Menyenangi apa yang
sedang dilakukan
1, 20, 28, 37 12, 45, 54, 63 8 12,5%
5. Tertarik dengan
pekerjaannya
6. Bertanggung jawab 22, 30, 40, 46 7, 14, 52, 57 8 12,5% 7. Memiliki kemauan bekerja
sama
23, 31, 39, 47, 51, 59
6, 15 8 12,5%
8. Berinteraksi dengan atasan 8, 16, 24,32, 35, 41, 48
50 8 12,5%
Jumlah 40 24 64 100%
E.Uji Validitas, Reliabilitas Alat Ukur dan Daya Beda Aitem
Azwar (2000) mengatakan bahwa pengujian validitas diperlukan untuk mengetahui apakah skala penelitian ini mampu menghasilkan data akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Uji coba yang memiliki karakteristik hampir sama dengan karakteristik subjek penelitian.
1. Uji Validitas alat ukur
Menurut Azwar (2010) validitas diperlukan untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang akurat dengan tujuan ukurnya. Salah satu alat ukur dikatakan memiliki validitas tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau data yang dihasilkan relevan dengan tujuan pengukurannya. Suatu alat ukur yang tinggi validitasnya akan menghasilkan error pengukuran yang kecil, artinya skor setiap subjek yang akan diperoleh alat ukur tersebut tidak jauh berbeda dengan skor yang sesunggunya.
judgment. Validitas isi bertujuan untuk mengungkap sejauhmana aitem-aitem tes
tersebut mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana aitem-aitem tes mencerminkan ciri perilaku yang hendak di ukur (Azwar, 2010).
2. Uji Reliabilitas alat ukur
Reliabilitas adalah sejauh mana hasil dari suatu pengukuran dapat dipercaya. Artinya dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama selama aspek dalam diri subyek yang diukur memang belum berubah (Azwar, 2004).
Uji reliabilitas alat ukur menggunakan pendekatan konsistensi internal. Prosedurnya hanya memerlukan satu kali pengenaan tes kepada sekelompok responden (single-trail administration). Pendekatan ini dipandang ekonomis, praktis, dan berefisiensi tinggi. (Azwar, 2010).
Menurut Triton (2006) kategori reliabilitas pengukuran terbagi atas 5 (lima) bagian, yaitu:
1. 0,00 s/d 0,20 (kurang reliabel)
2. >0,20 s/d 0,40 (agak reliabel)
3. >0,40 s/d 0,60 (cukup reliabel)
4. >0,60 s/d 0,80 (reliabel)
5. >0,80 s/d 1,00 (sangat reliabel)
Teknik yang digunakan adalah teknik koefisiensi alpha Cronbach. Selanjutnya, pengujian reliabilitas ini akan menghasilkan reliabilitas dari skala. Uji reliabilitas alat ukur dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows Versi 16.0.
3.Uji Daya Beda Aitem
Daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Uji daya beda aitem untuk skala moril dilakukan dengan menghitung koefisien kolerasi antar skor aitem dengan skor total skala. Teknik analisa kolerasi
yang digunakan adalah teknik kolerasi product momentpearson. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan batasan program SPSS version 16.0 for windows.
keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya. Bila koefisien kolerasinya rendah mendekati nol maka fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik. Bila koefisien korelasi yang dimaksud ternyata bernilai negatif, artinya terdapat cacat serius pada aitem yang bersangkutan (Azwar, 2010).
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur
Uji coba dilakukan pada tanggal 4 November 2013 s/d 15 November 2013 yang dilakukan pada karyawan PT.PLN (Persero) yang bekerja sebagai operator di Sibolga dan Asahan. Skala disebarkan sebanyak 70 skala. Penyebaran dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh pihak PT.PLN. Kemudian dari 70 skala yang disebarkan, hanya 50 skala yang memenuhi persyaratan untuk pengolahan data. Untuk melihat daya beda aitem dilakukan analisis uji coba. Peneliti membandingkan nilai corrected item total correlation yang diperoleh dengan menggunakan koefisien korelasi product moment dengan interval kepercayaan 95% yang memiliki nilai kritis 0.3. Peneliti memakai kriteria pemilihan aitem berdasarkan koefisien korelasi sebesar 0.3 karena menurut Azwar (2000) semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.3 daya pembedanya dianggap memuaskan.
1. Hasil Uji Coba Skala Moril Kerja
aitem yang diterima dari 64 aitem yang diuji coba. Indeks diskriminasi item rix ≥ 0.3 dengan koefisien reliabilitas rxx = 0.927. Indeks aitem yang memiliki daya beda tinggi bergerak dari rix = 0.316 sampai dengan rix = 0.789.
Tabel 3. Distribusi Aitem – aitem Kuesioner Moril Kerja Setelah Uji Coba
No. Ciri-ciri Item Jumlah Bobot
Favorable Unfavorable
1. Tersenyum dan tertawa 5, 9, 17, 25, 36, 49
58 7 14.5%
2. Memiliki inisiatif 3, 26, 34, 44 18, 62 6 12.5 % 3. Berfikir kreatif dan luas 4, 19, 27, 55 33, 43, 61 7 14.5% 4. Menyenangi apa yang
sedang dilakukan
1, 20, 28, 37 12, 45, 63 7 14.5%
5. Tertarik dengan
pekerjaannya
2, 21, 29 13, 60, 64 6 12.5%
6. Bertanggung jawab 22, 30, 40, 46 7, 14, 57 7 14.5% 7. Memiliki kemauan bekerja
sama
23, 31, 51 15 4 8.5%
8. Berinteraksi dengan atasan 8, 16, 24, 35 - 4 8.5%
G.Prosedur Penelitian 1. Persiapan penelitian
Pelaksanaan penelitian ini memerlukan beberapa persiapan yang dilakukan peneliti, antara lain :
a. Pada tahap ini, skala moril dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya. Penyusunan aitem yang dibuat oleh peneliti dibantu oleh dosen pembimbing peneliti sebagai profesional judgment. Peneliti membuat 64 aitem untuk skala moril.
b. Skala ini dibuat dalam bentuk booklet ukuran kertas A4 dan setiap pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban sehingga memudahkan subjek dalam memberikan jawaban.
c. Permohonan izin, sebelum peneliti melakukan pengambilan data terlebih dahulu diawali dengan mengurus surat izin untuk pengambilan data.
1. Uji coba alat ukur, sebelum pengambilan data sebenarnya alat ukur dicoba terlebih dahulu, kepada subjek yang berbeda. Akan kita ketahui alat ukur yang digunakan sudah cukup baik atau tidak. Uji coba alat ukur dilakukan pada tangga 4 – 15 November 2013. Total skala yang disebar berjumlah 70 skala, skala yang dikembalikan kepada peneliti berjumlah 65 skala dan yang memenuhi syarat dan kriteria pengisian hanya 50 skala.
dengan menggunakan koefisien reliabilitas Alpha Cronbch dengan bantuan aplikasi SPSS 16.0 for windows. Setelah mengetahui daya beda aitem dan validitas isi skala, peneliti kemudian menjadikan aitem-aitem tersebut sebagai skala yang akan digunakan untuk mengambil data penelitian.
2.Pelaksanaan penelitian
Berikut tahap pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
a. Setelah alat ukur penelitian lulus dalam uji validitas dan reliabilitas, maka aitem dalam skala tersebut disusun kembali. Selanjutnya aitem-aitem yang sudah lulus dan yang telah disusun kembali dijadikan sebagai alat pengumpulan data pada sampel penelitian yang sesungguhnya.
b. Meminta izin kepada perusahaan untuk mengambil data di delapan gardu yang ada di kota Medan. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 18 November 2013 – 30 November 2013. Dengan jumlah sampel dalam penelitian 32 orang karyawan yang bekerja di shift pagi dan malam.
c. Setelah mendapatkan izin, peneliti kemudian menyebar skala tersebut kepada karyawan yang bekerja sebagai operator. Dan setiap operator mendapatkan dua skala yang harus di isi dan peneliti memberikan kepada SPV masing-masing gardu.
3. Tahap pengolahan data
Setelah skala terkumpul, maka data hasil penelitian dari skor skala moril kemudian diolah dan dianalisis dengan bantuan program komputer SPSS 16.0 for windo ws.
H.Metode Analisis Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistika dengan bantuan komputerisasi program SPSS version 16.0 for windows. Menurut Azwar (2000) menyatakan bahwa pengolahan data penelitian yang sudah diperoleh dimaksudkan sebagai suatu cara mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dapat diinterpretasikan. Alasan yang mendasari digunakannya analisis statistik adalah karena statistik dapat menunjukkan kesimpulan atau generalisasi penelitian.
a. Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah uji beda dua nilai yaitu menggunakan Paired-Sampel T Test. Paired-Sampel T Test digunakan untuk menguji perbedaan
moril kerja karyawan ditinjau dari shift kerja pagi dan malam. Syarat uji ini dapat dilakukan apabila data yang digunakan memenuhi uji asumsi yaitu normalitas.dan linearitas.
1. Uji Normalitas
diperlukan untuk menjawab pertanyaan apakah syarat sampel yang representatif terpenuhi atau tidak, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi (Hadi, 2000). Uji normalitas ini menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov test yang dikatakan normal jika p > 0,05. Menggunakan
uji Kolmogorov-Smirnov ini dikarenakan teknik ini dapat digunakan untuk semua ukuran sampel. Penghitungan uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS version 16.0 For Windows.
2. Uji Homogenitas
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan.
Pengolahan data sendiri dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.00 for
Windows.Berikut ini adalah penjelasan umum tentang penelitian, analisa, serta
hasil penelitian dan pembahasan.
A. Gambaran Umum Partisipan Penelitian
Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 32 orang pegawai yang bekerja
di PT. PLN (Persero) Medan yang memiliki bidang pekerjaan sebagai operator.
Semua partisipan berjenis kelamin pria. Berikut ini adalah gambaran Umum
partisipan penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lama bekerja.
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin subjek penelitian, maka penyebaran subjek
penelitian dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.
Tabel 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase
Laki – laki 32 orang 100%
Berdasarkan Tabel 4. di atas dapat dilihat bahwa keseluruhan subjek yang
berpartisipasi dalam penelitian ini adalah laki-laki yakni sejumlah 32 orang
(100%).
2. Berdasarkan Usia
Penggolongan subjek berdasarkan usia dilakukan berdasarkan teori Super
(1984) tentang perkembangan karier manusia. Pengelompokkan subjek
berdasarkan usia ini terdiri atas dua kategori, yaitu fase pemantaban
(establishment) antara usia 25-44 tahun dan fase kemandirian (maintenance)
antara usia 45-64 tahun, dengan gambaran penyebaran subjek seperti yang terlihat
pada tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia
No. Rentang Umur Jumlah %
1. <25 tahun – 44tahun 20 orang 62.5 %
2. 45 tahun – 64 tahun 12 orang 37.5 %
Total 32 orang 100 %
Sumber : Data Primer yang diolah
Berdasarkan data pada tabel 5, diketahui bahwa jumlah subjek yang
berusia < 25 tahun – 44 tahun adalah 20 orang (62.5%) dan usia 45 tahun – 64
3. Lama Bekerja
Berdasarkan pengelompokkan lamanya bekerja, maka diperoleh gambaran
penyebaran seperti pada tabel 6 berikut :
Tabel 6. Gambaran Subjek Penelitian Beradasarkan Lama Bekerja
Lama Bekerja Jumlah Subjek Persen
<6 thn 19 59.37 %
6-10 thn 5 15.63 %
>10 thn 8 25 %
Sumber : Data Primer yang diolah
Tabel 6 menunjukkan jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan
selama <6 tahun sejumlah 19 orang (59.37%), karyawan yang diantara 6-10 tahun
berjumlah 5 orang (15.63%), dan karyawan yang bekerja lebih dari 10 tahun
berjumlah 8 orang (25%).
B .Hasil Penelitian
1. Hasil Uji Asumsi
Sebelum dilakukan analisa data dengan menggunakan Paired Sampel
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data
penelitian setiap variabel telah menyebar secara normal. Uji normalitas
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov satu sampel. Kaidah yang digunakan yaitu
jika p > 0.05 maka sebaran data normal, sedangkan jika p < 0.05 maka sebaran
data tidak normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini :
Tabel 7.Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Shiftpagi shiftmalam
N 32 32
Normal Parametersa Mean 1.0394E2 124.2188
Std. Deviation 1.34595E1 15.19706
Most Extreme Differences Absolute .092 .134
Positive .091 .134
Negative -.092 -.098
Kolmogorov-Smirnov Z .521 .759
Asymp. Sig. (2-tailed) .949 .613
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan data pada tabel 7, dapat dilihat nilai probabilitas skor moril
kerja untuk shift pagi adalah p = 0.949 dan untuk shift malam adalah p = 0.613;
dengan p > 0.05, maka dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh telah
terdistribusi secara normal. Data yang terdistribusi secara normal berarti memiliki
sebaran yang normal juga, dengan profil data yang terdistribusi normal berarti
data yang peneliti gunakan dapat dikatakan mewakili.
b. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah subjek penelitian
adalah homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan anova
melalui Levene Statistic. Berikut ini hasil uji homogenitas subjek yang dilihat
pada Tabel 8 berikut ini :
Tabel 8 : Hasil Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variancesa
Pagi
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1.731 3 29 .201
Berdasarkan tabel 8, hasil uji homogenitas antara moril kerja shift pagi dan
shift malam diperoleh F = 1.731 dan p = 0.201, dimana Sig (0.201) > α (0.05),
maka dari hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel bersifat homogen.
2. Hasil Uji Analisa Data
Perbedaan Moril Kerja Ditinjau dari Shift Kerja Pagi dan Malam.
Pengajuan hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ho : Ada perbedaan moril kerja karyawan yang bekerja shift pagi, dibandingkan
dengan moril kerja karyawan yang bekerja shift malam.
Ha : Tidak ada perbedaan moril kerja karyawan yang bekerja shift pagi,
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Paired –Sampel
T-Test, dan analisis hasil penelitian ini dilakukan dengan program statistik SPSS for
Window verso 16.0.
Tabel 9. Hasil Uji T Penelitian Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 Shiftpagi 103.9 32 13.45947 2.37932
Shiftmalam 124.2 32 15.19706 2.68649
Tabel 10. Paired – Sampel T-test
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh mean pada shift malam lebih
besar dibandingkan dengan mean pada shift pagi (124.2 > 103.9). Sedangkan dari
uji Paired-sampel T-test, kita dapat melihat nilai sig.2-tailed adalah 0.000<0.05,
dengan demikian hipotesis nol dapat diterima dan menolak hipotesis alternatif
dimana moril kerja karyawan yang bekerja shift pagi lebih rendah, dibandingkan
dengan moril kerja karyawan yang bekerja shift malam. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan moril kerja antara karyawan yang bekerja
3. Kategorisasi Data Penelitian
Kategorisasi skor moril kerja subjek penelitian dapat diperoleh melalui uji
signifikansi perbedaan antara mean empirik dan mean teoritik (Azwar, 2000).
Data penelitian tentang kategori moril kerja seperti tertera pada tabel berikut :
Tabel 11. Perbandingan Mean Empirik dan Mean Hipotetik Moril Kerja
Purchase Variabel
Empirik Hipotetik
Min Max Mean SD Min Max Mean SD
Shift Pagi Moril
Kerja
83 143 103.9 13.45 48 240 144 32
Shift Malam 90 182 124.5 15.14 48 240 144 32
Skala moril kerja terdiri dari 48 aitem dengan 5 alternatif jawaban dengan
nilai yang bergerak dari rentang 1 sampai dengan 5, hingga diperoleh hasil total
skor minimum sebesar 48 dan skor maksimum sebesar 240. Hingga luas jarak
sebenarnya 240 – 48 = 192 dan standart deviasi sebesar 32. Perbandingan mean
empirik dan mean hipotetik dapat dilihat dari tabel 11.
Selanjutnya subjek akan digolongkan kepada tiga kategori moril, yaitu
rendah, sedang dan tinggi. Data dikelompokkan dalam tingkatan-tingkatan untuk
kemudian disusun menurut norma tertentu. Data diketegorikan menjadi tiga
Tabel 12. Norma Moril Kerja
Rentang Nilai Kategori
X < (μ-1.0 SD) Rendah
(μ-1.0 SD) ≤ X < (μ+1.0 SD) Sedang
X ≥ (μ+1.0 SD) Tinggi
Sehingga dari perhitungan tabel 11 diatas, dapat dibuat kategorisasi moril
kerja seperti yang diperoleh tabel 13 :
Tabel 13. Kategorisasi Data Variabel Penelitian
Shift Variabel Rentang Nilai Kategori
Jumlah
Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan analisa paired-sampel t-test
didapat bahwa hasil nilai t = -5.981 dimana p = 0.000 < 0.05. Hal ini
bekerja shift pagi, dibandingkan dengan moril kerja karyawan yang bekerja shift
malam.
Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti di PT. PLN (Persero) didapat
hasil yang menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja shift pagi memiliki
rata-rata 103.9, dengan skor moril tertinggi yang dialami oleh responden adalah 143
dan skor terendah 83. Sedangkan moril kerja shift malam berdasarkan nilai
rata-rata 124.5 dengan skor moril tertinggi adalah 182 dan skor terendah 90.
Hasil nilai dan jumlah kategorisasi data moril kerja, dimana didapat
jumlah subjek shift pagi memiliki nilai rendah sebanyak 25 orang, nilai sedang 7
orang dan tidak memiliki nilai tinggi. Shift malam memiliki nilai rendah 5 orang,
sedang 26 orang dan tinggi 1 orang. Berdasarkan nilai kategorisasi ada perbedaan
moril kerja karyawan pada saat bekerja shift pagi dan bekerja shift malam.
Menunjukkan ada 25 orang karyawan yang bekerja pada pagi hari memiliki nilai
moril yang rendah. Carlaw, dkk (2003) mengungkapkan moril kerja yang tinggi
merupakan hal yang penting karena karyawan yang memiliki moril kerja yang
tinggi akan melakukan pekerjaan dengan penuh energi, antusias dan kemauan
yang tinggi.
Flippo (2005) mengemukakan adapun beberapa faktor yang
mempengaruhi moril kerja pada karyawan. Salah satu faktornya adalah adanya
pemimpin yang terbuka dan cakap, maka karyawan merasa dapat berkomunikasi
dengan baik dengan kendala yang dialami. Individu yang pada ciri ini selalu
pimpinan, maka moril kerja tinggi, dan jika karyawan memiliki sikap negative
maka moril kerjanya juga rendah seperti yang diungkapkan Nitisemito (2000).
Hal ini juga sejalan dengan hasil statistik dan komunikasi personal dengan salah
satu karyawan AG :
“aku malas kerja kak, kalo ada managernya. Kalo spvnya baik-baik kak, ngertiin kami kali la kak. Makannya masuk pagi pasti ketemu manager, walaupun enaknya itu masuk pagi. Gara-gara ada managernya jadi malas-malasan la kak. Jarang pun kami bicara-bicara sama dia kak, anggap sepele kali dia sama kami” (Komunikasi Personal AG, 13 Januari 2014).
Berdasarkan komunikasi personal diatas yang dilakukan oleh salah
seorang karyawan yang memiliki moril kerja yang rendah karena adanya tekanan
dan pengawasan dari atasan saat jam kerja shift pagi sehingga karyawan tidak
leluasa untuk bekerja dan berkomunikasi dengan rekan kerja lainnya selama
bekerja.
Hasil observasi dan secara keseluruhan karyawan shift operator ini
memiliki jam kerja yang berbeda dan beban kerja yang sama, yang harus
berhadapan dengan mesin-mesin. Posisi waktu kerja pada karyawan terdiri dari
shift pagi 8 jam per haridan shift malam 10 jam per hari. Dengan waktu kerja yang
berbeda, dapat dipastikan kondisi kerja yang dihadapi juga sangat berbeda, dapat
dibayangkan resiko pekerjaan pada shift malam akan jauh berbeda dengan shift
pagi, ditambah kondisi fisik dan mental tenaga kerja pada malam hari cenderung
menurun.
Namun jika dilihat dari perbedaan kondisi waktu yaitu pagi dan malam
penurunan moril kerja. Hal ini desebabkan karena pada malam hari kondisi dan
fungsi fisologis tubuh kita tidak sama dengan pagi hari. Seharusnya pada malam
hari tubuh digunakan untuk beristirahat bukan untuk bekerja. Tingkat konsentrasi
juga telah menurun pada malam hari, terutama tengah malam menjelang subuh.
Dengan keadaan dan kondisi seperti ini tubuh sangat dipaksa untuk tetap
produktif pada malam hari, dan waktu kerja yang lebih lama serta panjang dapat
menimbulkan kelelahan fisik dan mental.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Grandjean (1988), shift malam
dapat menimbulkan efek negatif, karena efek ini secara langsung berhubungan
dengan pola circadian rhythm karena pada dasarnya jam malam digunakan untuk
beristirahat. Dengan adanya tuntutan tugas dan tanggung jawab maka jam malam
yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dalam keadaan normal, digunakan
untuk bekerja selayaknya pagi hari. Sehingga akibat dari perubahan yang dialami
karyawan dengan shift malam adalah perubahan fisik, psikologis, maupun
perilaku. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tenaga kerja yang bekerja
pada shift malam tentu merasa lebih lelah dan ngantuk. Akan tetapi tidak sejalan
dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Karyawan lebih memiliki moril kerja
pada malam hari dari pada pagi hari.
Sehingga penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak semua karyawan
nyaman dengan pekerjaan pada waktu shift pagi. Karena dilihat dari hasil
pengkategorisasian menunjukkan nilai karyawan yang bekerja pada shift pagi
shift, sehingga tidak memerlukan penyesuai diri dengan waktu kerja yang berbeda
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran berdasarkan dengan
hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Pada bagian pertama akan dijabarkan
kesimpulan penelitian dan pada bagian akhir akan dikemukakan saran-saran baik
yang bersifat praktis maupun metodologi yang mungkin dapat berguna bagi
penelitian yang akan datang dengan topik yang sama.
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian dan analisa data maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
1. Hasil uji hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa Hipotesa
Alternatif (Ho) diterima, karena ada perbedaan moril kerja karyawan
yang bekerja shift pagi, dibanding moril kerja karyawan pada shift
malam.
2. Pengkategorian dari penelitian ini menunjukkan bahwa moril kerja
shift pagi lebih rendah dari shift malam. Karena hasil pengkategorian
shift pagi 25 orang yang memiliki skor rendah, dan malam berjumlah 5
B. Saran
1. Saran Metodologi
Berdasarkan hasil penelitian ini, bagi peneliti yang berminat dengan
penelitian sejenis atau mengembangkan penelitian lebih lanjut hendaknya
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
a. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk memperhatikan karakter
sampel sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hasil penelitian.
Sebab faktor individu seperti umur, status, masa bekerja adalah aspek
penting yang dapat mempengaruhi moril kerja subjek.
b. Peneliti hendaknya memperhatikan masa kerja, karena masa kerja dapat
mempengaruh hasil dari penelitian ini. Masa kerja dapat membuat
karyawan mengalami keterbiasaan dan sudah dapat beradaptasi dengan
waktu kerja. Sehingga tidak memberikan hasil penelitian yang sesuai.
c. Dalam pembuatan alat ukur peneliti sebaiknya melakukan penggalian
data awal kepada perusahaan. Sehingga peneliti dapat mengetahui
masalah lebih dalam dan masalah apa saja yang berada diperusahaan.
2. Saran Praktis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan PT.PLN (Persero)
umumnya memiliki moril kerja yang rendah pada pagi hari. Hal ini diharapkan
dapat menjadi perhatian bagi perusahaan untuk meningkatkan hal-hal yang dapat
DAFTAR PUSTAKA
Adiwardana, Sewadi. (1989). Pencegahan Kecelakaan. PPM. Jakarta:
PT.Gramedia
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. (2004). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Azwar, Saifuddin. (2007). Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azwar,Saifuddin.(2010).Penyusunan Skala Psikologi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azwar, Saifuddin. (2010). Sikap Manusia : Teori Pengembangan Pengukurannya
(Edisi Kedua). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Berry, Lilly. M. (1998). Psychology at Work. McGraw-Hill
Budiono, S. (2003). Bunga Rampai HIPERKES & Kesehatan Kerja (cetakan ke-1). Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.
Carlaw, dkk. (2003). Managing and Motivating Contact Center Employess.
Singapore: Mc Graw Hill Publishing Company
Charplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.
Echols,J,M,. &Shadily, H.(1997). Kamus Inggris – Indonesia : An English Indonesia Dictionary. Jakarta : Indonesia. PT.Gramedia Pustaka Utama.
Firmansyah, H, et.al. (2010). Gambaran Tingkat Konsentrasi Perawat Shift
Malam Intensive Case Unit di Empat Rumah Sakit di Jakatra. Riset Tidak diPublikasikan. Jakarta: Universitas Indonesia
Fish, D., The Impact of Shift Work.Hot News, From Health Service. Australia. September 2000
Gibson, J.L. (2003). Organizations : Behavior Structure Processe. Eleventh
Edition. New York : Mc Graw Hill.
Grandjean, E. (1988). Fitting The Task To The Man. Taylor & Francis.