• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis rasio keuangan dalam memperidiksi peringkat obligasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis rasio keuangan dalam memperidiksi peringkat obligasi"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI

PERINGKAT OBLIGASI

Skripsi

Oleh :

SUSANA APRILIA

NIM: 107081003275

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

LEMBAR PERNYATAAN

KEASLIAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Susana Aprilia

No. Induk Mahasiswa : 107081003275

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Jurusan : Manajemen

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:

1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain

3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa ijin dari pemilik karya.

4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.

5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya ini.

Jikalau dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggung – jawabkan, ternyata memang ditemukan bahwa saya telah melanggar pernyatan diatas, maka saya siap untuk dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, 13 Juni 2011 Yang menyatakan,

(6)

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS DIRI

Nama : Susana Aprilia

Tempat / Tanggal Lahir : Cirebon, 5 April 1988

Tinggi/Berat : 170 cm / 44 Kg

Agama : Islam

Alamat Asal : Desa Sidamulya, Rt.01/03 Kec. Astanajapura Kab. Cirebon

Alamat : Jl. Rajawali Raya Rt.03/05 Pisangan Tangerang

Telp / Hp : 021 95988809

E-mail : [email protected]

PENDIDIKAN FORMAL

2007-2011 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2003-2006 : SMKN 1 Lemahabang Cirebon

2000-2003 : SMPN 1 Lemahabang Cirebon

1994-2000 : SDN Sidamulya

PENDIDIKAN NON FORMAL

1. Peserta Seminar “Demokrasi Versus Kesejahteraan Rakyat” dalam Rangka Evaluasi 10 Tahun Reformasi

2. Peserta Simposium “Trend Bisnis 2008”

(7)

ii

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini ialah untuk memprediksi peringkat obligasi perusahaan melalui rasio-rasio keuangan. Dengan menggunakan Purposive Sampling, didapat sebanyak 107 obligasi yang dijadikan sampel. Data yang digunakan meliputi laporan keuangan tahun 2007-2010 yang telah diaudit dan peringkat obligasi yang dikeluarkan pada tahun 2008-2011. Uji statistik yang digunakan ialah Mann-Whitney, Analisis Faktor dan Regresi Logistik Binari.

Hasil Mann-Whitney diketahui bahwa rasio keuangan CACL, CAICL, LTDTE, TLTA, TLTE, SFA dan NITA secara signifikan dapat membedakan kinerja keuangan berupa rasio keuangan pada perusahaan yang obligasinya masuk

investment grade dan non-investment grade. Dengan menggunakan analisis faktor, 8 variabel rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini terbentuk menjadi 2 faktor yang kemudian akan diolah dengan menggunakan regresi logistik. Hasil analisis regresi logitik menyimpulkan bahwa kedua faktor tersebut secara signifikan mampu memprediksi peringkat obligasi. Tingkat ketepatan prediksi klasifikasi untuk obligasi yang masuk non-investment grade sebesar 56,7% sedangkan untuk obligasi yang masuk investment grade sebesar 94,8%. Secara keseluruhan, tingkat ketepatan prediksi ialah sebesar 84,1%.

(8)

iii

ABSTRACT

The purpose of this study is to predict bond rating firms through financial ratios. Using purposive sampling, obtained were 107 bond sampled. Data used include the financial year 2007-2010 which were audited and issued the bonds in years 2008-2011. The test statistic used is the Mann-Whitney, Factor Analysis and Logistic Regression Binary.

The result of Mann-Whitney is know that the financial ratios of CACL, CAICL, LTDTE, TLTA, TLTE, SFA and NITA can significantly differentiate a company that bonds into investment grade and non-investment grade. By using factor analysis, 8 variables of financial ratios used in this study formed into 2 factors that later will be processed by using logistic regression. Results Logistic regression analysis concluded that two factors are significantly able to predict the bond ratings. Level of prediction accuracy for bonds that enter non-investment grade 56,7% while for incoming investment grade bonds amounted to 94,8%. Overall, the level of prediction accuracy is at 84,1%.

(9)

iv KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada dapat menyelesaikan ini dengan judul

“Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Peringkat Obligasi”, sebagai salah

satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Banyak kendala dan hambatan yang dihadapi penulis dalam penyusunan skripsi ini, hingga akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penulis ingin mengucapkan terimakasih yang yang sebesar-besarnya kepada kepada:

1. Ayah dan Ibu atas segala kasih sayang, doa, kesabaran dan pengorbanan yang begitu besar dalam setiap langkah hidup penulis.

2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni. Selaku Pudek Bidang Akademik dan selaku dosen pembimbing I, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengarahkan, membimbing serta memotivasi. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Herni Ali, HT. Selaku pembimbing II, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengarahkan, membimbing serta memotivasi. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Suhendra, S.Ag., MM. Selaku Kepala Jurusan Prodi Manajemen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

(10)

v 7. Adik-adikku. Maulana Wahyudi, Kiki Rizky dan Diana Sari. Tanpa katapun kalian sudah mampu menyemangati. Syahrul (Alul) Bassam Yusuf, Si Bocah insomnia, yang suka ngerecokin dan menghibur. Dengan celoteh-celotehnya selalu terhibur, tertawa dan tersemangati. Dan kakakku Sayiful Arifin, walupun nun jauh di negeri orang, tetap terus menyemangati.

8. Para liliput (asyiah, olish, aya & ajul), celoteh dan wajah kalian membuat

semua serasa tanpa beban. Para emak liliput, nenek, kakek dan uwa’. Terima

kasih atas perhatian dan nasehat-nasehatnya.

9. Semua teman-teman Manajemen D angkatan 2007. Hmm, 5 semester. Bukan waktu yang sebentar ya. Terima kasih sudah mau menjadi temanku. Sangat berarti melawati waktu-waktu bersama kalian. Begitu jauh dari kata menyesal telah mengenal kalian. Semoga silaturahmi pertemanan kita tetap terus berjalan.

10. Semua teman-teman Manajemen Keuangan B angkatan 2007. Terima kasih atas sudah mau menjadi temaku. Walaupun hanya 2 semester, terasa lama dan penuh kesan. Semoga silaturahmi pertemanan kita tetap terus berjalan.

11. Sahabat-sahabatku. Istianah yang penyang, Rima Indriasari yang penyabar, Liawati yang lemah lembut, Sartika Sari yang religius dan ekspresif dan Safitri Setyo Utami yang humble. Selalu merasa nyaman bersama kalian. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, terima kasih.

Menyadari keterbatasan penulis, maka skripsi ini juga tidak luput dari kesalahan. Oleh karenanya, penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak. Meskipun demikian, semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya.

Jakarta, 13 Juni 2011 Penulis

(11)

vi

A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian BAB II. TNJAUAN PUSTAKA

A. Pasar Modal

1. Fungsi Rating Obligasi

(12)

vii E. Analisis Laporan keuangan

1. Pengertian Analisis Laporan Keuangan 2. Tujuan dan Manfaat

A. Ruang Lingkup Penelitian B. Metode Penentuan Sampel C. Metode Pengumpulan Data D. Metode Analisis Data

E. Operasional Variabel Penelitian

BAB IV.ANALISIS DAN PEMBAHASAN

(13)

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Arti Peringkat Obligasi Menurut PT PEFINDO Tabel 2.2 Ringkasan Penelitian Terdahulu

Tabel 3.1 Proses Pemilihan Sampel Tabel 3.2 Sampel Penelitian

Tabel 3.3 Model Fungsi Regresi Logistik. Tabel 3.4 Kategori Peringkat Obligasi Tabel 4.1 Deskripsi Sampel Penelitian

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Variabel Independen Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas

Tabel 4.4 Hasil Uji Mann-Whitney

Tabel 4.5 KMO and Bartlett’s Test Pengujian (1) Tabel 4.6 Anti Image Matrices pengujian (1) Tabel 4.7 KMO and Bartlett’s Test Pengujian (2) Tabel 4.8 Anti Image Matrices pengujian (2) Tabel 4.9 Component Matrix

Tabel 4.10 Rotated Component Matrix

Tabel 4.11 Pengelompokan Faktor

Tabel 4.12 Component Transformation Matrix

Tabel 4.13 Model Fit

Tabel 4.14 Tabel Klasifikasi Tabel 4.15 Koefisien Regresi

(14)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Keterkaitan Variabel Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Sampel Obligasi Beserta Peringkatnya

Lampiran 2 Data Rasio Keuangan Perusahaan yang Dijadikan Sampel Lampiran 3 Output SPSS

64 69

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar modal sebagai pasar dari berbagai instrumen keuangan

(sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjualbelikan, menjalankan

fungsi ekonomi dan keuangan yang dapat menunjang perkembangan

ekonomi dan keuangan dalam suatu negara. Oleh karena itu, pasar modal

juga merupakan indikator kemajuan perekonomian negara tersebut. Dalam

melaksanakan fungsinya, pasar modal menjadi penghubung bagi pihak

yang mempunyai kelebihan dana (investor) dan pihak yang membutuhkan

dana (emiten) dalam tranksaksi pemindahan dana. Bagi investor, pasar

modal dapat memberikan alternatif investasi yang lebih variatif sehingga

memberikan peluang untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Bagi

emiten, pasar modal dapat memberikan sumber pendanaan lain untuk

melakukan kegiatan operasional termasuk ekspansi usaha selain kredit

perbankan. Modal yang diperjualbelikan dalam pasar modal terbagi

menjadi dua, yaitu Debt Capital (modal hutang) dan Equity Capital

(modal ekuitas) (Linandarini, 2010).

Salah satu jenis modal hutang yang diperjual-belikan di pasar

modal ialah obligasi. Bursa Efek Indonesia (BEI) mendefinisikan obligasi

sebagai surat utang jangka menengah-panjang yang dapat

(16)

2 membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi

pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli

obligasi tersebut. Jadi surat obligasi merupakan selembar kertas yang

menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman kepada

perusahaan yang menerbitkan surat obligasi.

Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh emiten (dapat

berupa badan hukum/perusahaan/pemerintah) yang memerlukan dana

untuk kebutuhan operasi maupun ekspansi mereka. Secara umum dapat

juga diartikan obligasi adalah surat utang jangka panjang yang diterbitkan

oleh suatu lembaga, dengan nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu

jatuh tempo tertentu. Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN

atau pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah (Huda &

Nasustion, 2008:83).

Obligasi menarik bagi investor karena obligasi memiliki beberapa

kelebihan yang berkaitan dengan keamanan dibandingkan saham, yaitu (1)

volatilitas saham lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi sehingga daya

tarik saham berkurang, dan (2) obligasi menawarkan tingkat return yang

positif dan memberikan income yang tetap. Pada investasi saham, tidak

ada jaminan adanya pembagian deviden bagi para shareholder (Faeber,

2001 dalam Kesumawati, 2003). Obligasi akan memberikan income yang

tetap kepada investor berupa pembayaran bunga pada waktu yang sudah

terjadwal dan investor akan mendapatkan pokok utang pada saat jatuh

(17)

3 jaminan shareholder akan menerima deviden setiap tahun karena

pembagian deviden tergantung pada besarnya laba yang diperoleh

perusahaan dan hasil RUPS (Purwaningsih, 2008).

Terdapat beberapa pilihan utama obligasi, diantaranya Obligasi

pemerintah federal (Treasure Bonds) obligasi yang diterbitkan oleh

pemerintah guna membiayai pembangunan ekonomi, Obligasi perusahaan

(Corporate Bonds) obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dalam

rangka memenuhi struktur permodalan perusahaan, Obligasi pemerintah

daerah (Municipal Bonds) obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah

daerah dan Obligasi luar negeri. Masing-masing obligasi memiliki

kelebihan dan kekurangannya.

Seperti halnya investasi pada saham maupun efek lainnya, obligasi

juga memiliki peluang risiko, slah satunya ialah default risk, yaitu

peluang dimana emiten akan mengalami kondisi tidak mampu memenuhi

kewajiban keuangannya (gagal bayar) atau dengan kata lain risiko tidak

terbayarnya bunga dan pokok utang . Menurut Manurung dkk. (2008),

obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, biasanya mendapatkan

peringkat obligasi investment grade (level A), dikarenakan pemerintah

dianggap akan mampu untuk melunasi kupon dan pokok hutang saat

obligasi jatuh tempo. Namun obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan

(corporate bonds), terdapat default risk, yang bergantung pada kesehatan

(18)

4 harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah peringkat

obligasi perusahaan emiten.

Obligasi harus diperingkatkan terlebih dahulu oleh suatu lembaga

atau agen pemeringkat obligasi (Rating Agency) sebelum ditawarkan.

Agen pemeringkat obligasi tersebut adalah lembaga independen yang

memberikan informasi pemeringkatan skala risiko, dimana salah satunya

adalah sekuritas obligasi sebagai petunjuk sejauh mana keamanan suatu

obligasi bagi investor. Keamanan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan

suatu perusahaan dalam membayar kewajiban atau pinjamannya.

Peringkat obligasi merupakan sumber legal insurance bagi investor

dalam mengurangi kemungkinan terjadinya default risk dengan cara

melakukan investasi hanya pada obligasi yang memiliki peringkat tinggi,

seperti peringkat BBB ke atas (Foster, 1986: 501) dalam Anna

Purwaningsih (2008).

Rating merupakan salah satu variabel yang diperhatikan oleh

investor ketika memutuskan untuk melakukan investasi pada suatu

perusahaan. Informasi yang terkandung dalam rating akan menunjukkan

sejauh mana kemampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajibannya

atas dana yang diinvestasikan oleh investor. Perusahaan yang memiliki

rating yang tinggi, biasanya lebih disukai oleh investor dibandingkan

dengan perusahaan yang perusahaan yang memiliki rating yang sangat

rendah. Oleh sebab itu, agar obligasi suatu perusahaan yang memiliki

(19)

5 menentut suatu premi yang lebih tinggi, sebagai suatu kompensasi atas

resiko yang ditanggung oleh investor (Manurung dkk, 2008).

Peringkat obligasi diberikan oleh agen pemeringkat yang

independen, obyektif, dan dapat dipercaya. Investor dapat menilai tingkat

keamanan suatu obligasi dan kredibilitas obligasi berdasar informasi yang

diperoleh dari agen pemeringkat. Agen pemeringkat yang terbesar dan

terkenal di dunia adalah Moody‟s dan Standard & Poor‟s. Sedangkan di

Indonesia terdapat agen pemeringkat sekuritas hutang yaitu PT. PEFINDO

(Pemeringkat Efek Indonesia). Pemeringkatan rating tersebut dilakukan

untuk memperkirakan kemampuan dari penerbit obligasi untuk membayar

bunga dan pokok utang berdasarkan analisis keuangan dan kemampuan

membayar kredit. Semakin tinggi tingkat rating, maka hal tersebut

menunjukkan tingginya kemampuan penerbit obligasi untuk membayar

utangnya (Manurung dkk, 2008). Banyak faktor yang mempengaruhi agen

pemeringkat dalam melakukan pemeringkatan obligasi, salah satunya

adalah dengan rasio keuangan.

Namun, beberapa literatur menyatakan pemeringkatan obligasi

yang dilakukan oleh agen pemeringkatan obligasi yang dilakukan oleh

agen pemeringkat tidak selalu akurat. Menurut Chan dan Jegadeesh (1999

dalam Sari 2004: 3 dalam Amrullah 2008), salah satu alasan mengapa

pemeringkat obligasi yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat tersebut

bias karena agen Moody‟s dan S&P‟s tidak melakukan monitor terhadap

(20)

6 dalam Sari 2003: 3 dalam Amrullah), setelah proses penetapan peringkat

yang dilakukan oleh agen dan ternyata hasilnya tersebut tidak disetujui

oleh pihak eksekutif perusahaan, maka pihak eksekutif perusahaan

tersebut menyediakan informasi tambahan untuk dapat meminta agen agar

merevisi kembali keputusan pemeringkatan semula.

Beberapa pernyataan tersebut di atas memunculkan pertanyaan

apakah pemeringkatan obligasi yang dilakukan oleh agen pemeringkatan

obligasi di Indonesia sudah tepat dan akurat. Menurut Bringham dan

Davies (2002 dalam Purnomo 2003: 2 dalam Amrullah, 2007) agen

pemeringkat dalam menentukan pemeringkat suatu obligasi dipengaruhi

oleh beberapa kriteria diantaranya berbagai rasio keuangan, mortgage

provision, sinkin fund, maturity. Agen pemeringkatan tidak menyebutkan

lebih lanjut bagaimana laporan keuangan dapat digunakan dalam

menentukan peringkat obligasi. Hal ini yang memotivasi peneliti untuk

melakukan penelitian mengenai pemeringkatan obligasi dan sukuk dengan

menggunakan rasio-rasio keuangan yang didasarkan pada laporan

keuangan perusahaan, dengan anggapan bahwa laporan keuangan

perusahaan lebih menggambarkan kondisi perusahaan. Analisis laporan

keuangan yang berupa analisa rasio keuangan dan perhitungan statistik

dapat dipergunakan untuk mendeteksi under or overvalued suatu sekuritas

(Kaplan dan Urwitz, 1979 dalam Purnomo 2003: 3 dalam Amrullah,

(21)

7 Terdapat beberapa penelitian mengenai kemampuan rasio

keuangan dalam memprediksi peringkat obligasi. Diantaranya penelitian

yang dilakukan oleh Sari (2004), Aryanindita (2005), hasilnya

menunjukkan signifikan menggunakan MDA dengan tingkat ketepatan

sebesar 80%. Amrullah (2007), hasil penelitian dengan menggunakan uji

Independent Sample t Test menunjukan dari kelima rasio keuangan, kelima

rasio keuangan tersebut berbeda secara signifikan antara perusahaan yang

peringkatnya masuk invesment grade dan non-invesment grade. MDA

(Multiple Diskriminan Analysis) secara statistik menunjukan bukti bahwa

rasio keuangan yang diajukan yaitu: leverage dengan proxy Long Term

Liabilities/ Total Asset, likuiditas (Current Asset/ Current Liabilities),

solvabilitas (Cash Flow from Operating/ Total Liabilities), profitailitas

(Operating Income/ Sales), dan produktivitas (Sales/ Total Asset). Dari

kelima rasio keuangan tersebut 4 diantaranya, yaitu leverage, solvabilitas,

profitailitas, dan produktivitas mempunyai kemampuan dalam membentuk

model prediksi peringkat obligasi. Model prediksi yang terbentuk

mempunyai tingkat ketepatan mencapai 96,2 % dalam memprediksi

peringkat obligasi.

Purwaningsih (2008) menganalisis sebanyak 9 rasio keuangan

dalam memprediksi peringakat obligasi dengan menggunakan analisis

faktor dan regresi backward. Analisis faktor digunakan untuk mencari

rasio terbaik untuk memprediksi peringkat obligasi. Sedangkan regresi

(22)

8 digunakan untuk memprediksi peringakat obligasi. Hasil penelitiannya

menyimpulkan bahwa rasio CACL merupakan rasio keuangan terbaik

untuk memprediksi peringkat obligasi. Sedangkan rasio yang dapat

digunakan untuk memprediksi peringkat obligasi ialah rasio LTLTA,

NWTA, CFOTL dan SFA.

Rodoni et al. (2009) menguji sebanyak 18 rasio keuangan untuk

memprediksi kemungkinan terjadinya obligasi default. Penelitiannya

menyimpulkan bahwa berdasarkan hasiluji beda Independent Sample

T-test dan Mann-Whitney, hanya 7 rasio saja yang dapat membedakan secara

signifikan antara obligasi yang default dan yang non-default. Daya

ketepatan prediksi klasifikasi secara keseluruhan sebesar 88,5%.

Dari uraian di atas, penulis bermaksud melakukan penelitian yang

sama, yaitu mengenai kemampuan rasio keuangan dalam memprediksi

peringkat obligasi. Beberapa rasio yang umum digunakan dalam penelitian

ialah rasio leverage, likuiditas, aktivitas dan profitabilitas.

Likuiditas menunjukkan sejauh mana kemempuan perusahaan

dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Burton et al (2000) dalam

Magreta & Nurmayanti (2009) menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang

tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga

secara keuangan akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.

Penelitian Raharja dan Sari (2008) menyatakan bahwa rasio CACL dan

CAICL secara signifikan dapat membedakan antara perusahaan yang

(23)

9 Rasio leverage menunjukkan proporsi penggunaan hutang untuk

membiayai investasi terhadap modal sendiri (baik itu ekuitas maupun

aktiva). Semakin rendah leverage perusahaan semakin baik peringkat

perusahaan tersebut (Burton, Adam & Hardwick, 1998) dalam Raharja &

Sari (2008). Kasmir dalam bukunya Analisis Laporan Keuangan (2009)

leverage dapat diukur dengan rasio LTDTE, TLTA, TLTE.

Rasio aktivitas merupakan rasio yang menggambarkan aktivitas

yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam

kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. (Harahap, 2007:308).

Rasio aktivitas dalam penelitian ini diproxykan dengan rasio STA dan

SFA. Penelitian Raharja & Sari (2008) dan Rodoni et al (2009) kedua

rasio tersebut dapat membedakan secara signifikan antara perusahaan yang

termasuk dalam investment grade dan non-investment grade. Selain itu,

hasil kedua penelitian tersebut juga menyatakan bahwa rasio STA secara

signifikan mampu untuk memprediksi peringkat obligasi.

Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam mendapatkan laba. Apabila laba perusahaan tinggi,

maka akan memberikan peringkat yang naik pula Magreta dan Nurmayati

(2009). Menurut penalitian Meythi (2005) dalam Purwaningsih (2008),

rasio ROA atau NIAT merupakan rasio terbaik untuk untuk menjelaskan

pertumbuhan laba.

Penelitian ini hendak mereplikasi penelitian Purwaningsih (2008),

(24)

10 sampel dalam penelitian Purwaningsih hanya pada obligasi perusahaan

manufaktur, sedangkan penelitian ini menggunakan sample obligasi

perusahaan yang listed di BEI kecuali perusahaan sektor keuangan (bank,

finance atau asuransi). Kedua, penelitian Purwaningsih menggunakan

analisis faktor dan regresi backward, sedangkan dalam penelitian ini

menggunakan analisis faktor dan regresi logistik binary. Selain itu,

penelitian ini juga mencoba mengembangkan penelitian Purwaningsih

dengan menambahkan uji beda untuk mengetahui apakah terdapat

perbedaan rasio keuangan antara perusahaan yang obligasinya masuk

investment grade dengan yang masuk non-investment grade. Dengan

demikian judul dalam penelitian ini adalah “Analisis Faktor Dalam

Memprediksi Peringkat Obligasi”

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang dipaparkan diatas, dapat dirumuskan

permasalahan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan berupa rasio

keuangan (CACL, CAICL, CCL, LTDTE, TLTA, TLTE, SFA dan

NITA) antara perusahaan yang obligasinya masuk investment

grade (AAA, AA, A, dan BBB) dengan perusahaan yang obligasi

(25)

11 2. Apakah variabel rasio CACL, CAICL, CCL, LTDTE, TLTA,

TLTE, SFA dan NITA mampu membentuk faktor yang dapat

memprediksi peringkat obligasi.

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskin di atas, tujuan

yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan rasio CACL,

CAICL, CCL, LTDTE, TLTA, TLTE, SFA dan NITA perusahaan

yang obligasinya masuk investmen grade dan yang masuk

non-investment grade.

2. Untuk menganalisis apakah rasio CACL, CAICL, CCL, LTDTE,

TLTA, TLTE, SFA dan NITA mampu membentuk faktor yang

dapat memprediksi peringkat obligasi.

D. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dari penelitian ini diantaranya:

a. Bagi Peneliti / Akademisi

Diharapkan penelitian dapat menjadi referansi dan memberikan

landasan pijak untuk penelitian selanjutnya.

b. Bagi Perusahaan

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai

(26)

12 berpotensi mempengaruhi peringkat obligasi yang dijualnya di

pasar modal.

c. Bagi Investor dan calon investor

Hasil analisis ini dapat menjadi masukan untuk pengambil

keputusan dalam melakukan investasi di obligasi sehubungan

dengan peringkat dari obligasi itu sendiri dalam rangka

(27)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pasar Modal

Pasar modal adalah pasar keuangan untuk dana-dana jangka

panjang. Dana jangka panjang adalah dana yang jatuh temponya lebih dari

satu tahun.dalam arti sempit pasar modal adalah sutu tempat yang

terorganisir di mana efek-efek diperdagangkan yang disebut bursa efek.

Bursa efek atau stock exchange adalah suatu sistem yang terorganisisr

yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan secara

langsung maupun dengan melalui wakil-wakilnya. (Astuti, 2004:48)

Pasar modal dalam arti luas adalah keseluruhan sistem keuangan

yang terorganisasi termasuk bank-bank komersial dan semua perantara di

bidang keuangan serta surat-surat berjangka panjang dan pendek

(Sjahria..l, 2006:15). Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk

berbagai instrument keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan,

baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri. (Darmadji & Hendi,

2001:1). Pasar modal (capital market) adalah lembaga keuangan bukan

bank yang mempunyai kegiatan berupa penawaran dan perdagangan efek.

Selain itu, pasar modal juga memberikan lembaga profesi yang berkaitan

dengan transaksi jual beli efek dan perusahaan publik yang berkaitan

dengan efek. Dengan demikian, pasar modal dikenal sebagai tempat

(28)

14 bertemunya penjual dan pembeli modal/dana (Arthesa & Handiman,

2006:215).

Pasar modal berbeda dengan pasar uang, di mana perbedaannya

terletak pada jangka waktu atau jatuh tempo produknya. Pasar uang

dikenal sebagai pasar yang menyediakan sarana peminjaman dana dalam

jangka pendek (jatuh tempo kurang atau sama dengan satu tahun),

sedangkan pasar modal mempunyai jangka waktu panjang atau lebih dari

satu tahun (Arthesa & Handiman, 2006:215).

Pasar modal adalah pasar dalam artian abstrak yang

mempertemukan pihak yang mempunyai kelebihan dana dengan pihak

yang membutuhkan dana jangka menengah atau jangka panjang. Dengan

demikian di satu pihak merupakan salah satu alternatif sumber

pembelanjaan bagi perusahaan yang membutuhkan dana jangka panjang

atau jangka menengah, di pihak lain pasar modal sebagai alternatif

investasi smasyarakat (individu maupun lembaga) yang mempunyai

kelebihan dana. Melalui mekanisme kegiatan pasar modal dapat

diharapkan dana yang ada di masyarakat dapat disalurkan untuk

membiayai kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif yang dilaksanakan

oleh dunia usaha. (Siamat, 2001:249).

Lembaga Penunjang Pasar Modal

Lembaga penunjang pasar modal dapat dipisahkan antara

(29)

15

Market dan lembaga penunjang yang memberikan jasanya kepada

pasar sekunder / Secondary Market. (Astuti, 2004:48).

Pasar perdana atau pasar primer adalah penawaran langsung

sekuritas dari emiten atau peminta dana kepada pemodal atau

penyedia dana tanpa melalui bursa efek. Harga efek yang ditawarkan

ke pasar perdana disebut harga perdana. Masa penawaran efek pada

pasar perdana ini ada jangka waktunya. Setelah selesai masa waktu

penawaran, maka efek tersebut dicatatkan di bursa efek. Begitu efek

tersebut sudah dicatatkan di bursa efek maka efek tersebut secara terus

menerus diperdagangkan di bursa efek. Transaksi jual beli efek di

bursa efek ini disebut pasar sekunder atau secondari market dan harga

jualnya ditentukan oleh kekuatan demand and supply masing-masing

efek yang ada di pasar sekunder.

Dengan demikian, pasar modal ialah suatu tempat atau sistem

di mana orang dapat membeli maupun menjual efek (sekuritas) baik

itu dalam bentuk utang maupun modal saham. Dan juga tempat

dimana kebutuhan perusahaan akan dana dapat terpenuhi.

B. Obligasi

1. Pengertian Obligasi

Bursa Efek Indonesia (2010) mengartikan obligasi sebagai

surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan

(30)

16 imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang

pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi

tersebut. Jadi surat obligasi merupakan selembar kertas yang

menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman

kepada perusahaan yang menerbitkan surat obligasi.

Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi

kontrak antara pemberi pinjaman (investor) dengan yang di beri

pinjaman (issuer) atau pihak yang disebut emiten. Jadi surat obligasi

merupakan selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas

tersebut memberikan pinjaman kepada perusahaan yang menerbitkan

surat oblogasi (Karim Amrullah, 2007).

Bond atau obligasi adalah suatu kontrak jangka panjang, dimana

peminjam dana setuju untuk membayar bunga dan pokok pinjaman,

pada tanggal tertentu, kepada pemegang obligasi (Rodoni & Ali,

2010).

Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh emiten

9dapat berupa badan hukum/perusahaan/pemerintah) yang

memerlukan dana untuk kebutuhan operasi maupun ekspansi

mereka.secara umum dapat juga diartikan obligasi adalah surat utang

jangka panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga, dengan nilai

nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu. Penerbit

obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN atau pemerintah, baik

(31)

17 diperdagangkan di pasar modal kita saat ini adalah obligasi kupan

(coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku

obligasi (Huda & Nasution, 2008:83).

Empat ketentuan yang menjadi daya tarik obligasi, (PT BEJ,

1996 dalam Nurkhasanah 2003: 9):

a. Emiten membayar bunga dalam jumlah tertentu yang dibayar

secara reguler

b. Emiten akan membayar kembali pinjaman tersebut dengan

tepat waktu.

c. Obligasi mempunyai jatuh tempo yang telah ditentukan ketika

obligasi habis masanya dan pinjaman harus dibayar penuh

pada nilai normal.

d. Tingkat bunga kompetitif, dapat dibandingkan dengan

keuntungan yang didapat investor dari tempat lain.

2. Karakteristik Obligasi

Rahardjo (2004:8) Adapun karakteristik umum yang tercantum

pada sebuah obligasi hampir mirip dengan karakteristik pinjaman

utang pada umumnya yaitu meliputi:

a. Nilai Penerbitan Obligasi (jumalh pinjaman dana)

Dalam penerbitan obligasi pihak emiten akan dengan jelas

menyatakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan melalui

penjualan obligasi. Istilah yang ada yaitu dikenal dengan “jumlah

(32)

18 Milyar maka dengan jumlah yang sama akan diterbitkan obligasi

senilai dana tersebut. Penentuan besar kecilnya jumlah penerbitan

obligasi berdasarkan kemampuan aliran kas perusahaan serta

kinerja bisnisnya.

b. Jangka Waktu Obligasi

Setiap obligasi mempunyai jangka waktu jatuh tempo

(maturity). Masa jatuh tempo obligasi kebanyakan berjangka waktu

5 tahun. Untuk obligasi pemerintah bisa berjangka waktu lebih dari

5 tahun sampai 10 tahun. Semakin pendek jangka waktu obligasi

maka akan semakin diminati oleh investor karena dianggap

risikonya semakin kecil. Pada saat jatuh tempo pihak penerbit

obligasi berkewajiban melunasi pembayaran pokok obligasi

tersebut.

c. Tingkat Suku Bunga

Untuk menarik investor membeli obligasi tersebut maka

diberikan intensif berbentuk tingkat suku bunga yang menarik

misalnya 17%, 18% per tahunnya. Penentuan tingkat suku bunga

biasanya ditentukan dengan membandingkan tingkat suku bunga

perbankan pada umumnya. Istilah tingkat suku bunga obligasi

biasanya dikenal dengan nama kupon obligasi. Jenis kupon bisa

berbentuk fixed rate dan variable rate untuk alternatif pilihan bagi

investor. Ukuran terhadap tingkat suku bunga sangat dipengaruhi

(33)

19 tinggi, tentunya akan menawarkan tentunya akan menawarkan

tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi

yang memiliki risiko yang lebih rendah. Hal ini biasanya dapat

dianalisis berdasarkan peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh

sebuah perusahaan independen yang di Indonesia dikenal dengan

nama PEFINDO (Huda & Nasution, 2008:39).

d. Jadwal Pembayaran Suku Bunga

Kegiatan pembayaran kuponn(tingkat suku bunga obligasi)

dilakukan secara periodik sesuai kesepakatan sebellumnya, bisa

dilakukan triwulanan, atau semesteran. Ketepatan waktu

pembayaran kupon merupakan aspek penting dalam menjaga

reputasi penerbit obligasi.

e. Jaminan

Obligasi yang memberikan jaminan berbentuk aset perusahaan

akan lebih mempunyai daya tarik bagi calon pembeli obligasi

tersebut. Di dalam penerbitan obligasi sendiri kewajiban

penyediaan tidak harus mutlak. Apabila memberikan jaminan

berbentuk aset perusahaan ataupun tagihan piutang perusahaan

dapat menjadi alternatif yang menarik investor.

3. Klasifikasi Obligasi

Berdasarkan penerbitnya, obligasi diklasifikasi menjadi

(34)

20 a. Obligasi pemerintah federal (Treasure Bonds)

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah federal. Dimana

obligasi ini tidak memiliki risiko gagal bayar. Tetapi, harga

obligasi pemerintah mengalami penurunan jika tingkat suku

bunga menungkat, sehingga dapat dikatakan obligasi ini tidak

benar-benar bebasa dari segala risiko.

b. Obligasi perusahaan (Corporate Bonds)

Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, tidak seperti

obligasi pemerintah, obligasi perusahaan memiliki risiko gagal

bayar. Risiko gagal bayar disebut sebagai risiko kredit. Semakin

tinggi risiko gagal bayar atau kredit suatu obligasi semakin

tinggi pula tingkat bunga yang harus dibayar oleh perusahaan

yang menerbitkannya.

c. Obligasi pemerintah daerah (Municipal Bonds)

Obligasi yang diterbitkan olehpemerintah negara bagian

atau pemerintah lokal. Obligasi ini memiliki risiko gagal bayar.

Tetapi obligasi ini menawarkan satu keunggulan utama

dibandingkan dengan jenis-jenis obligasi lainnya, yaitu bahwa

bunga yang diperoleh atas kebanyaka obligasi pemerintah

daerah bersifat bebas pajak.

d. Obligasi luar negeri (Foreign Bonds)

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah luar negeri atau

(35)

21 tambahan muncul jika obligasi tersebut adalah dalam mata uang

selain mata uang dari negara investor.

Obligasi Berdasarkan Masa Jatuh Temponya, terbagi

menjadi:

a. Obligasi Berjangka (Term Bond)

Obligasi berjangka yaitu obligasi yang memiliki satu

tanggal jatuh tempo yang cukup panjang.

b. Obligasi Serial (Serial Bond)

Obligasi serial yaitu obligasi yang memiliki serangkaian

tanggal jatuh tempo.

Obligasi Berdasarkan Kupon Pembayaran, terbagi menjadi:

a. Obligasi Diskon (Discount Bond)

Obligasi diskon yaitu obligasi yang diperdagangkan dengan

harga pasar lebih rendah dari nilai par dan memberi kupon yang

lebih rendah dari obligasi keluaran baru.

b. Obligasi Premium (Premium Bond)

Obligasi premium yaitu obligasi dengan harga pasar lebih

tinggi dari nilai par dan memberi kupon yang lebih tinggi dari

obligasi keluaran baru.

Obligasi Berdasarkan Call Feature, terbagi menjadi:

a. Freely Callable

Freely callable artinya penerbit obligasi dapat menariknya

(36)

22 keuntungan kepada issuer bila dikaitkan dengan suku bunga. Jika

suku bunga obligasi jauh lebih tinggi dari suku bunga pinjaman,

maka issuer akan membeli kembali obligasi dana pinjaman. Dan

pemegang obligasi tidak dapat menolak pembelian kembali

tersebut.

b. Non Callable

Non callable artinya penerbit tidak dapat menariknya

sebelum jatuh tempo, kecuali issuer melalui mekanisme pasar.

c. Deferred Call

Deferred call artinya penerbit obligasi dapat menariknya

hanya setelah jangka waktu tertentu (umumnya 5 samapai 10

tahun). Deferred Call merupakan kombinasi antara Freely

callable bond dan Noncallable bond.

Obligasi Berdasarkan Jenis Jaminan (collateral) yang

Mendukung

a. Secured Bond

Secured bond yaitu obligasi yang sepenuhnya terjamin

karena didukung oleh tuntutan atau hak legal atas kekayaan

tertentu milik penerbit obligasi, seperti: (i) Obligasi hipotik

(mortgage bond), obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan

dengan menggunakan jaminan suatu aktiva riil, misalnya yang

dijamin oleh real estate; (ii) Sertifikat trust peralatan (equipment

(37)

23

b. Unsecured Bond

Unsecured bond yakni obligasi yang hanya dijamin dengan

janji penerbit untuk membayar bunga dan prinsipal berdasarkan:

 Tanda Hutang (debenture), yaitu tuntutan atau hak atas

penghasilan penerbit setelah hak dari obligasi lain;

 Obligasi Penghasilan (income bond), yaitu hutang yang

bunganya dibayar hanya setelah penghasilan penerbit

mencapai jumlah tertentu.

Obligasi Berdasarkan Pemegangnya, terbagi menjadi:

a. Obligasi Atas Nama (Register Bond)

Obligasi ini merupakan obligasi yang dikeluarkan kepada

pemilik tertentu, dan nama dari pemegang obligasi secara formal

terdaftar pada penerbit dan bunga dibayar otomatis kepada

pemilik.

b. Obligasi Atas Unjuk (Bearer Bond)

Obligasi yang ini merupakan obligasi yang pemeganganya

dianggap sebagai pemilik obligasi tersebut, dan penerbit tidak

mendaftar nama pemilik dan bunga dibayar berdasarkan kupon.

Obligasi Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunga, terbagi

menjadi:

a. Coupon Bond

Coupon Bond yaitu obligasi yang bunganya dibayarkan

(38)

24 tahunan. Pada surat berharga obligasi yang diterima oleh investor

terdapat bagian yang dapat dirobek untuk mengambil bunga dari

obligasi tersebut yang disebut kupon obligasi.

b. Zero Coupon Bond

Zero Coupon Bond merupakan obligasi yang tidak

mempunyai kupon, sehingga investor tidak menerima bunga

secara periodik. Namun bunga langsung dibayarkan sekaligus

pada saat pembelian.

Obligasi Berdasarkan Tingkat Bunga, terbagi menjadi:

a. Obligasi dengan Bunga Tetap (Fixed Rate Bond)

Obligasi dimana bunga pada obligasi tersebut ditetapkan

pada awal penjualan obligasi dan tidak berubah sampai masa

jatuh tempo.

b. Obligasi dengan Bunga Mengambang (Floating Rate Bond)

Obligasi dimana bunga pada obligasi ini ditetapkan pada

waktu pertama kali untuk kupon pertama, sedangkan pada waktu

jatuh tempo kupon pertama maka ditentukan tingkat bunga untuk

kupon berikutnya, demikian pula seterusnya.

c. Obligasi dengan Bunga Campuran (Mixed Rate Bond)

Obligasi dengan bunga campuran yaitu obligasi yang

merupakan gabungan dari obligasi dengan bunga tetap dan

(39)

25 periode tertentu biasanya pada periode awal dan selanjutnya

bunganya mengambang.

Obligasi berdasarkan Hak penukaran/Opsi, terbagi menjadi

(Arthesa & Handiman, 2006:227):

a. Convertible Bonds

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi

untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah

saham milik penerbitnya.

b. Exchangable Bond

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi

untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham

perusahaan afiliasi milik penerbitnya.

c. Callable Bonds

Obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk

membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur

obligasi tersebut.

d. Putable Bonds

Obligasi yang memberikan hak kepada investor yang

mengharuskan emiten membeli kembali obligasipada harga

tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

4. Risiko Investasi Obligasi

Dalam setiap investasi untuk mendapatkan keuntungan selalu

(40)

26 keuntungan investasi tersebut tidak sesuai dengan yang direncanakan

dan diinginkan. Seorang investor di pasar saham atau di pasar obligasi

menyadari sepenuhnya potensi risiko yang muncul dari tujuan

investasi yang dilakukannya (Rahardjo, 2004:47).

Berikut ini beberapa risiko yang dihadapi oleh investor dalam

investasi obligasi (Fabozzi,2000: 135) dalam Amrullah (2007), yaitu:

a. Risiko suku bunga atau Risiko tingkat bunga

Pada umumnya harga obligasi bergerak berlawanan arah

terhadap perubahan suku bunga. Apabila suku bunga naik,

harga obligasi akan turun, dan sebaliknya. Bagi investor yang

merencanakan untuk menyimpan obligasi sampai jatuh tempo,

perubahan harga obligasi sebelum maturity tidak menarik

perhatiannya akan tetapi bagi investor yang ingin menjual

obligasi sebelum tanggal jatuh tempo, suatu kenaikan suku

bunga setelah membeli obligasi berarti adanya capitalloss yang

direalisasikan. Risiko tersebut disebut interest rate risk atau

disebut juga price risk. Kenaikan tingkat bunga pasar

menyebabkan menurunnya harga obligasi karena sebesar

apapun tingkat bunga pasar mengalami peningkatan, pemegang

obligasi tetap hanya akan menerima tingkat bunga yang sudah

(41)

27

b. Reinvestment risk (Risiko reinvestasi)

Pendapatan obligasi berasal dari: (a) pembayaran suku

bunga dari coupon; (b) setiap capital gain atau capital loss bila

obligasi itu dicairkan, dijual atau jatuh tempo; (c) bunga yang

diperoleh dari reinvestasi interim cash flow. Agar seorang

investor merealisasikan suatu yield sama dengan yield pada saat

obligasi dibeli, interim cash flow tersebut harus diinvestasikan

pada suku bunga sama dengan yield yang ditentukan pada saat

obligasi dibeli. Risiko bahwa interim cash flow akan

diinvestasikan dengan suku bunga yang lebih rendah dan

investor akan menerima yield yang lebih rendah daripada yield

pada saat obligasi dibeli disebut reinvestment risk.

c. Default risk (Risiko bangkrut atau Risiko kredit)

Risiko kredit, yaitu risiko bahwa emiten akan tidak

mampu memenuhi pembayaran bunga dan pokok hutang, sesuai

dengan kontrak. Obligasi perusahaan mempunyai default risk

yang lebih besar daripada obligasi pemerintah. Tidak bagi

masyarakat umum untuk melihat besar kecilnya risiko ini. Cara

terbaik untuk melihat risiko ini adalah dengan terus memonitor

peringkat yang diberikan oleh perusahaan efek. Di Indonesia

badan tersebut dikenal dengan Pemeringkat Efek Indonesia

(42)

28 dan yang paling tidak aman atau paling banyak risikonya diberi

peringkat D.

d. Call Risk (Risiko waktu)

Risiko ini melekat pada callable bonds, yakni obligasi

yang dapat ditarik sewaktu-waktu oleh emitennya dengan harga

yang telah ditetapkan. Risiko waktu terjadi jika: (a) pola aliran

kas emiten tidak pasti; (b) penarikan dilakukan pada saat suku

bunga rendah dan (c) potensi kenaikan harga obligasi lebih

tinggi dari harga call-nya.

e. Risiko Inflasi

Risiko inflasi disebut pula risiko terhadap daya beli.

Risiko inflasi merupakan risiko bahwa return yang

direalisasikan dalam investasi obligasi tidak akan cukup untuk

menutupi kerugian menurunnya daya beli yang disebabkan

inflasi. Bila inflasi meningkat dan tingkat bunga obligasi tetap,

maka terjadi penurunan daya beli yang harus ditanggung

investor.

f. Risiko Kurs Valuta Asing

Orang Indonesia yang membeli obligasi perusahaan di

negara lain dapat mengalami kerugian perbedaan kurs valuta

(43)

29 g. Marketability risk (Risiko likuiditas)

Yakni risiko yang mengacu pada seberapa mudah

investor dapat menjual obligasinya, sedekat mungkin dengan

nilai dari obligasi tersebut. Cara untuk mengukur likuiditas

adalah dengan melihat besarnya spead (selisih) antara harga

permintaan dan harga penawaranya yang dipasang oleh

perantara pedagang efek. Semakin besar spead tersebut, makin

besar risiko likuiditas yang dihadapi.

h. Event risk

Seringkali kemampuan emiten untuk membayar bunga

dan pokok hutang tanpa terduga berubah karena, bencana alam

dan pengambilalihan.

C. Rating Obligasi

Seorang pemodal yang tertarik untuk membeli obligasi tentunya

harus memperhatikan rating obligasi (credit ratings). Credit ratings

merupakan skala resiko dari semua obligasi yang diperdagangkan. Skala

ini menunjukkan seberapa aman suatu obligasi bagi pemodal. Keamanan

ini ditunjukkan dari kemampuannya dalam membayar bunga dan

pelunasan pokok pinjaman. Penentuan tingkat skala tersebut

memperhitungkan beberapa variabel yang mempengaruhi rating obligasi.

(44)

30 jasa penilaian terhadap obligasi yang beredar untuk mendapatkan

informasi mengenai rating obligasi.

Peringkat obligasi perusahaan diharapkan dapat memberikan

informasi dan petunjuk bagi investor mengenai kualitas investasi terhadap

obligasi yang mereka minati, sehingga dapat memberikan sinyal bagi

investor untuk menentukan pilihannya dalam berinvestasi di obligasi itu

sendiri agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan seperti default risk.

Seperti halnya Standard & Poor’s Rating Service (S&P‟s) dan

Moody’s di Amerika, di Indonesia juga ada lembaga pemeringkat obligasi. Pemeringkatan obligasi di Indonesia dilakukan oleh dua lembaga, yaitu PT

PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) dan PT Kasnic Credit Rating.

Namun, PT Kasnic Credit Rating Indonesia sudah tidak lagi melakukan

pemeringkatan terhadap obligasi maupun sukuk. PEFINDO mempublikasi

peringkat obligasi setiap bulan, sedangkan Kasnic tidak. Selain itu,jumlah

perusahaan yang menggunakan jasa pemeringkatan obligasi PEFINDO

jauh lebih banyak dibandingkan yang menggunakan jasa pemeringkatan

Kasnic. PT Kasnic Credit Rating Indonesia telah berganti nama menjadi

Moody‟s Indonesia pada tahun 2007. Moody's beroperasi di Indonesia

sejak Januari 2007

PEFINDO menyediakan dua jenis dasar pemberian peringkat, yaitu

peringkat perusahaan dan peringkat instrument utang. Peringkat

perusahaan, juga disebut Nilai General Obligation (GO) atau Emiten

(45)

31 sebuah perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban keuangan. Peringkat

perusahaan tidak dapat secara otomatis diterapkan pada sekuritas utang

tertentu, karena mereka tidak memperhitungkan sifat dan ketentuan

keamanan utang, yang berada dalam proses kepailitan atau likuidasi,

preferensi perundang-undangan, atau legalitas dan enforceability

keamanan utang itu sendiri. Selain itu, peringkat perusahaan atau emiten

tinjauan tidak memperhitungkan kelayakan kredit dari penjamin, asuransi,

atau bentuk lain dari peningkatan kredit yang mendukung kualitas kredit

perusahaan. Jenis penilaian ini dapat digunakan oleh perusahaan atau

emiten untuk memberikan penilaian terlihat ukuran kelayakan kredit relatif

terhadap orang lain. Selanjutnya, peringkat perusahaan atau emiten

tinjauan dapat digunakan sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan

perusahaan.

Peringkat instrumen utang adalah pendapat mengenai kelayakan

kredit seorang obligor terhadap kewajiban keuangan tertentu, tingkat

tertentu kewajiban keuangan, atau program keuangan tertentu. Ini

didasarkan pada pertimbangan dari penjamin kredit, asuransi, atau bentuk

lain dari peningkatan kredit pada kewajiban. Pendapat ini mengevaluasi

kemampuan dan kemauan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan

saat mereka datang jatuh tempo. Jenis penilaian ini dapat membantu

penerbit dalam menentukan struktur utang penerbitan (tingkat bunga,

jangka waktu, peningkatan kredit). Di sisi lain, peringkat instrumen utang

(46)

32 masalah utang ketika membuat keputusan investasi dan mengelola

portofolio mereka.

Simbol peringkat yang digunakan PEFINDO sama dengan yang

digunakan oleh S&P‟s, yaitu peringkat tertinggi disimbolkan dengan

AAA, yang menggambarkan risiko obligasi yang terendah. Kesamaan

tersebut ada karena PEFINDO memang berafiliasi dengan S&P‟s,

sehingga S&P‟s mendorong PEFINDO dalam hal metodologi

pemeringkatan, kriteria, maupun proses pemeringkatan. Simbol dan makna

peringkat obligasi yang digunakan PT PEFINDO dapat dilihat pada Tabel

di bawah ini.

Tabel 2.1

Arti Peringkat Obligasi menurut PT.PEFINDO

Peringkat Arti

AAA Efek hutang dengan peringkat AAA merupakan

Efek Utang dengan peringkat tertinggi dari Pefindo yang didukung oleh kemampuan Obligor yang superior relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjang sesuai dengan yang diperjanjikan

AA Efek utang dengan peringkat AA memiliki kualitas

kredit sedikit di bawah peringkat tertinggi, didukung oleh kemampuan Obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajibn finasial jangka panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan relatif dibandingkan dengan entitas Indonesia lainnya

A Efek utang dengan peringkat A memiliki dukungan

(47)

33 Sumber: PEFINDO

1. Fungsi Rating Obligasi

Foster (1986:501-502) dalam penelitian Purwaningsih (2008)

mengemukakan ada beberapa fungsi peringkat obligasi, yaitu sebagai:

(1) Sumber informasi atas kemampuan perusahaan, pemerintah

daerah atau pemerintah dalam menaati ketepatan waktu

pembayaran kembali pokok utang dan tingkat bunga yang Lanjutan Tabel 2.1

Peringkat Arti

BBB Efek utang dengan BBB didukung oleh

kemampanan obligor yang memadai relatif dibandingkan dengan entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansial, namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan

BB Efek utang dengan peringkat BB menunjukan

dukungan kemampuan Obligor yang agak lemah relatif dibandingkan dengan entitas lainnya untukmemenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, serta peka terhadap keadaan bisnis dan perekonomian yang keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu

B Efek utang dengan peringkat B menunjukan

parameter perlindungan yang sangat lemah. Walapun Obligor masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya, namun adanya perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan obligor utuk memenuhi kewajiban finansialnya.

CCC Efek utang dengan peringkat CCC menunjukan

Efek hutang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban finansialnya, serta hanya tergantung kepada perbaikan keadaan eksternal.

D Efek utang dengan peringkat D menandakan Efek

(48)

34 dipinjam. Superioritas ini muncul dari kemampuan untuk

menganalisis informasi umum atau mengakses informasi

rahasia.

(2) Sumber informasi dengan biaya rendah bagi keluasan informasi

kredit yang terkait dengan cross section antar perusahaan,

pemerintah daerah, dan pemerintah. Biaya yang dibutuhkan

untuk mengumpulkan informasi sejumlah perusahaan swasta,

perusahaan pemerintah daerah, dan perusahaan pemerintah,

sangat mahal. Bagi investor, akan sangat efektif jika ada agen

yang mengumpulkan, memproses, dan meringkas informasi

tersebut dalam suatu format yang dapat diinterpretasikan

dengan mudah (misalnya dalam bentuk skala peringkat).

(3) Sumber legal insurance untuk pengawas investasi. Membatasi

investasi pada sekuritas utang yang memiliki peringkat tinggi

(misalnya peringkat BBB ke atas).

(4) Sumber informasi tambahan terhadap keuangan dan

representasi manajemen lainnya. Ketika peringkat utang

perusahaan ditetapkan, hal itu merupakan reputasi perusahaan

yang berupa risiko. Peringkat merupakan insentif bagi

perusahaan yang bersangkutan, mengenai kelengkapan dan

ketepatan waktu laporan keuangan dan data lain yang

(49)

35 (5) Sarana pengawasan terhadap aktivitas manajemen.

(6) Sarana untuk memfasilitasi kebijakan umum yang melarang

investasi spekulatif oleh institusi seperti bank, perusahaan

asuransi, dan dana pensiun.

2. Tujuan dan Manfaat Rating Obligasi

Tujuan utama proses rating adalah memberikan informasi

akurat mengenai kinerja keuangan, posisi bisnis industri perseroan

yang menerbitkan surat utang (obligasi) dalam bentuk peringkat

kepada calon investor. (Rahardjo, 2004:100).

Selain itu, manfaat umum dari proses pemeringkatan adalah:

1) Sistem informasi keterbukaan pasar yang transparan yang

menyangkut berbagai produk obligasi akan menciptakan pasar

obligasi yang sehat dan transparan juga.

2) Efisiensi biaya. Hasil rating yang bagus biasanya memberi

keuntungan, yaitu menghindari kewajiban persyaratan keuangan

yang biasanya memberatkan perusahaan seperti penyediaan

singking fund, ataupun jaminan aset.

3) Menentukan besarnya coupon, semakin bagus rating cenderung

semakin rendah nilai kupon begitu pula sebaliknya.

4) Memberikan informasi yang obyektif dan independen

menyangkut kemampuan pembayaran utang, tingkat risiko

investasi yang mungkin timbul, serta jenis dan tingkatan utang

(50)

36 5) Mampu menggambarkan kondisi pasar obligasi dan kondisi

ekonomi pada umumnya.

Manfaat Rating bagi Investor, beberapa manfaat rating bagi

investor adalah sebagai berikut:

a. Informasi risiko investasi. Tujuan utama investasi adalah untuk

meminimalkan risiko serta mendapatkanckeuntungan yang

maksimal. Oleh karena itu, dengan adanya „peringkat obligasi”

diharapkan informasi risiko dapat diketahui lebih jelas

posisinya.

b. Rekomendasi investasi. Investor akan dengan mudah mengambil

keputusan investasi berdasarkan hasil peringkat kinerja emiten

obligasi tersebut. Dengan demikian investor dapat melakukan

stategi investasi akan membeli atau menjual sesuai

perencanaannya.

c. Perbandingan. Hasil rating akan dijadikan patokan dalam

membandingkan obligasi yang satu dengan yang lain, serta

membandingkan struktur yang lain seperti suku bunga dan

metode penjaminannya.

Manfaat Rating bagi Perusahaan, beberapa manfaat yang

didapat dari emiten diantaranya adalah:

a. Informasi posisi bisnis. Dengan melakukan rating, pihak

perseroan akan dapat mengetahiu posisi bisnis dan kinerja

(51)

37 b. Menentukan struktur obligasi. Setelah diketahui keunggulan dan

kelemahan, bisa ditentukan beberapa syarat atau struktur

obligasi yang meliputi tingkat suku bunga, jenis obligasi, jangka

waktu jatuh tempo, jumlah emisi obligasi serta berbagai

struktur pendukung lainnya.

c. Mendukung kinerja. Apabila manajemen mendapatkan rating

yang cukup bagus maka kewajiban menyediakan singking fund

atau jaminan kredit bisa dijadikan pilihan pilihan alternatif.

d. Alat pemasaran. Dengan mendapatkan rating yang bagus, daya

tarik perusahaan di mata investor semakin meningkat. Dengan

demikian, adanya rating bisa membantu sistem pemasaran

obligasi tersebut supaya lebih menarik.

e. Manjaga kepercayaan investor. Hasil rating yang independen

akan membuat investor merasa aman, sehingga kepercayaan

investor bisa terjaga.

D. Laporan Keuangan

1. Pengertian Laporan Keuangan

Dalam pengertian sederhana, laporan keuangan adalah laporan

yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau

dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2009:7).

Yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah suatu proses

(52)

38 yang terakhir adalah interpretasi dari keadaan dan perkembangan

keuangan perusahaan dari waktu ke waktu yang pada dasarnya

laporan keuangan terseut berisi neraca dan laporan laba rugi yang

dilakukan pada akhir periode atau tahun buku yang bersangkutan.

(Savitri, 2010).

Laporan keuangan menjadi penting karena memberikan input

(informasi) yang bisa dipakai untuk mengambil keputusan. Banyak

pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan,

mulai dari investor dan calon investor sampai dengan manajemen

perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan akan memberikan informasi

mengenai profitabilitas, risiko, timing aliran kas, yang kesemuanya

akan mempengaruhi harapan pihak-pihak yang berkepentingan.

(Hanafi & Halim, 2009:69).

2. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang

menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi

keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar

pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. (SAK, 2007:3)

dalam Savitri (2010).

(Kasmir, 2009:10) berikut ini beberapa tujuan pembuatan atau

penyusunan laporan keuanga, yaitu:

a. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang

(53)

39 b. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan

modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini;

c. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang

diperoleh pada suatu periode tertentu;

d. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang

dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu;

e. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi

terhadap aktiva, pasiva dan modal perusahaan;

f. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan

dalam suatu periode;

g. Memberikan informasitentang catatan-catatan atas laporan

keuangan;

h. Informasi keuangan lainnya.

Statement of Financial Accounting Concept No. 1 Objective of

Financial Reporting by Business Enterprises (FASB, 1978)

menjelaskan bahwa tujuan pertama laporan keuangan adalah

menyediakan informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditur dan

pemakai lainnya, baik yang sekarang maupun pemakai potensial dalam

pembuatan keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis lainnya

secara rasional. Tujuan kedua adalah menyediakan informasi untuk

membantu investor, kreditur dan pemakai lainnya, baik pemakai saat

ini maupun pemakai potensial dalam menilai jumlah, waktu,

(54)

40 akan datang. Tujuan kedua ini mengandung makna bahwa investor

menginginkan informasi tentang return dan risiko atas investasi yang

dilakukan. (Meythi, 2007:1) dalam Savitri (2010).

Laporan keuangan yang disusun dan disajikan oleh perusahaan

pada organisasinya yang berkepentingan pada hakekatnya merupakan

alat komunikasi. Artinya laporan keuangan digunakan untuk

mengkomunikasikan informasi keuangan itu dan bagi mereka yang

berkepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil

keputusan (Savitri, 2010).

3. Jenis Laporan Keuangan

Kasmir (2009:28) Laporan keuangan yang dibuat oleh

perusahaan terdiri dari beberapa jenis, tergantung dari maksud dan

tujuan pembuatan laporan keuangan tersebut. Dalam prsktiknya,

secara umum ada lima macam jenis laporan keuangan yang biasa

disusun, yaitu:

a) Neraca

Neraca (balance sheet) merupakan laporan yang

menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu.

Arti dari posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi jumlah dan

jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu

perusahaan.

Neraca adalah dokumen dasar dari akun-akun. Secara

(55)

41 kolom yang masing-masing berjudul “kewajiban (liabilities)” dan

“Aktiva (asset).” Kata ekuitas (fund) seringkali digunakan secara

bersamaan dengan atau pada tempat “kewajiban”. (Walsh,

2004:12).

b) Laporan Laba rugi

Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan

keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam

suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar

jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang

diperoleh.

Laporan laba/rugi adalah laporan yang mengikhtisarkan

pendapatan dan beban perusahaan selama periode akuntansi

tertentu, yang umumnya setiap kuartal atau setiap tahun. Jadi,

laporan laba rugi melaporkan operasi perusahaan selama periode

tertentu, dan untuk tujuan perencanaan dan pengendalian. (Astuti,

2004:17).

c) Laporan Perubahan Modal

Laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi

jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian,

laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab

terjadinya perubahan modal diperusahaan. Laporan perubahan

modal jarang dibuat bila tidak terjadi perubahan modal. artinya

(56)

42 d) Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan

semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik

yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas.

Laporan arus kas harus disusun berdasarkan konsep kas selama

periode laporan. Laporan kas terdiri arus kas masuk (cash in) dan

arus kkas keluar (cash out) selama periode tertentu. Kas masuk

terdiri atas uang yang masuk ke perusahaan seperti hasil

penjualan atau penerimaan lainnya, sedangkan kas keluar

merupakan sejumlah jumlah pengeluaran dan jenis-jenis

pengeluarannya, seperti pembayaran biaya operasional

perusahaan.

e) Laporan Catatan atas Laporan Keuangan

Laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan

yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan

memerlukan penjelasan tertentu. Artinya terkadang ada

komponen atau nilai dalam laporan keuangan yang perlu diberi

penjelasan terlebih dulu sehingga jelas. Hal ini perlu dilakukan

agar pihak-pihak yang berkepentingan tidak salah dalam

Gambar

Gambar 2.1 Keterkaitan Variabel
Tabel 2.1 Arti Peringkat Obligasi menurut PT.PEFINDO
Tabel 2.2 Ringkasan Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Keterkaitan Antar Variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi keuangan perusahaan dan perkembangannya dapat diukur dengan menggunakan analisis rasio keuangan dengan menggunakan alat analisis rasio keuangan yang dapat menilai

Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pemeringkatan obligasi dengan menggunakan konservatisme akuntansi dan rasio keuangan ( laverage,

skripsi berjudul “ ANALISIS PENGARUH FAKTOR KEUANGAN DAN NON KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI (Studi Empiris.. pada Perusahaan Non Keuangan yang Terdaftar di

Dari pengujian persamaan t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara rasio leverage, likuiditas dan profitabilitas dalam memprediksi peringkat obligasi dengan

Hasil analisis menunjukan bahwa variabel leverage dan profitabilitas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi periode 2008-2010 pada

Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai peringkat obligasi menggunakan rasio-rasio keuangan yang didasarkan pada laporan keuangan perusahaan,

Maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ANALISIS LEVERAGE, RASIO LIKUIDITAS, RASIO SOLVABILITAS, RASIO PROVITABILITAS, RASIO PRODUKTIVITAS DALAM

Rangkuman mata kuliah Analisis Rasio Keuangan membahas pentingnya analisis rasio keuangan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan di industri kesehatan yang