ANALISIS PENGARUH MAKROEKONOMI TERHADAP
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA
EFEK INDONESIA
TESIS
Oleh
NAMIRA UFRIDA RAHMI
097017005 / Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS PENGARUH MAKROEKONOMI TERHADAP
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA
EFEK INDONESIA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi
Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
NAMIRA UFRIDA RAHMI
097017005/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : ANALISIS PENGARUH MAKRO EKONOMI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
Nama Mahasiswa : Namira Ufrida Rahmi Nomor Pokok : 097017005
Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Dr.Jonni Manurung,MS) (Iskandar Muda, M.Si, Ak) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Direktur
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak) (Prof.Dr.Ir.A. Rahim Matondang, MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 10 Agustus 2011
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr.Jonni Manurung,MS Anggota : 1.Iskandar Muda, M.Si., Ak
2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak 3. Dra. Sri Mulyani, MBA., Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan tesis yang berjudul : “Analisis Pengaruh Makro
Ekonomi Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia”
Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh
siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah
dinyatakan secara benar dan jelas.
Medan, ...2011
Yang membuat pernyataan :
ANALISIS PENGARUH MAKRO EKONOMI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
ABSTRAK
Tidak stabilnya situasi moneter yang tercermin dari nilai tukar rupiah, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) dapat mempengaruhi perekonomian. Hal tersebut menunjukkan eratnya pengaruh ekonomi makro terhadap indeks harga saham gabungan di pasar modal Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis mengenai pengaruh indikator ekonomi makro yang diproxikan dengan nilai tukar, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP terhadap indeks harga saham gabungan secara simultan maupun parsial selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi panel data. Data diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, Laporan Bulanan Bank Indonesia, dan Indikator Ekonomi dari Badan Pusat Statistik. Jumlah populasi penelitian sebanyak 180 data dengan perincian 20 time series dan 9 cross section dan data dikumpulkan dengan teknik mencatat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ekonomi makro, nilai tukar, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP berpengaruh signifikan terhadap indeks harga saham gabungan baik secara simultan maupun parsial. Selain itu diperoleh nilai adjusted R square adalah 74,53%. Ini berarti 74,53% pergerakan IHSG dapat diprediksi dari pergerakan keempat variabel independen tersebut.
THE ANALYSIS MACROECONOMI EFFECTS ON COMPOSITE INDEX IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
ABSTRACT
Instability of monetary situation which is reflected by foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP (Gross Domestic Product) growth can influence economic situation. The case above shows that macro economic has close correlation with IHSG in the Indonesian Stock Exchange. The purpose of this research is to analyze some indicators of macro economic was proxy with foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP growth that influence composite index when in simultaneous or partial during period 2005 until 2009.
The method employed in this research is using panel data regression analysis. Historical data was taken from Indonesian Stock Exchange, Bank of Indonesian monthly report and economic indicator from Center Beaurau of Statistic. The number of population on this research is 180 data in breakdown 20 time series and 9 cross section with documentation technique.
The results shows that macro economic variable, foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP growth are significan influence toward composite index when in simultaneous or partial. The value of adjusted R square is 74,53%. This means that 74,53% composite index movement can be predicted from the movement of the four independent variable.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdullilah ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya,
sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Shalawat beriring
dalam senantiasa berlimpah kepada Rasullah SAW, keluarga, para sahabat dan
orang-orang yang beriman yang mengikuti sunnahnya.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis menyadari bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi isi maupun cara penyajiannya. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan kemampuan penulis miliki. Namun demikian, penulis akan tetap
berusaha untuk memperbaiki diri lebih baik di masa yang akan datang.
Segala upaya yang telah dilakukan tentunya tidak terlepas dari bimbingan,
bantuan serta dorongan dari beberapa pihak. Oleh Karena itu penulis menyampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
membantu hingga terselesainya tesis ini, terutama disampaikan kepada yang
terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc(CTM), Sp.A(K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Master di Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
3. Ibu Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS.MBA,CPA , Ketua Prodi Magister Ilmu
Akuntansi Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan bagi
penulis untuk mengikuti kegiatan perkuliahan pada program studi Magister Ilmu
Akuntansi Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Jonni Manurung,MS dan Bapak Iskandar Muda, M.si,Ak selaku
pembimbing yang telah memberikan sumbangan pikiran dan memberikan
kesempatan untuk berdiskusi serta dorongan dalam penelitian ini.
5. Ibu Prof.Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS MBA,CPA, Ibu Dra. Sri Mulyani, MBA,
Ak dan Ibu Dra.Tapi Anda Sari Lubis,M.si, Ak selaku tim penguji tesis atas
saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.
6. Para Dosen dan Admisi Program Studi Magister Ilmu Akuntansi Universitas
Sumatera Utara yang telah membantu membuka wawasan berpikir dan
membantu kegiatan perkuliahan.
7. Ayah H.Zakaria,SH dan Ummi Alm.Hj.Sukmawati beserta seluruh keluarga
besar yang telah memberikan semangat dan dukungan baik secara spiritual
maupun moril dalam penyelesaian tesis ini.
8. Teman-teman kuliah pada Program Studi Magister Ilmu Akuntansi Angkatan
XVII Reguler atas persahabatan yang indah dan segala bantuan serta
kerjasamanya selama ini.
9. Berbagai pihak yang telah membantu pelaksanaan program studi dan perkuliahan
Semoga jasa, bantuan dan dorongan yang telah Bapak/Ibu diterima oleh Allah
SWT sebagai amal yang bermanfaat.
Amin Ya Robbal Alamin
Medan, September 2011
RIWAYAT HIDUP
Nama : Namira Ufrida Rahmi
Tempat/Tanggal Lahir : Medan/28 April 1983
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Orang tua :
Ayah : H.Zakaria,SH
Ibu : Alm. Hj.Sukmawati
Alamat : Jl. Bilal Ujung No.232 Medan 20239
Pendidikan : TK : TK Aisiyah Muhammadiyah Medan SD : SD Negeri 060866 Medan
SMP : SMP Negeri 27 Semarang SMA : SMA Negeri 9 Semarang
S1 : Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara S2 : Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Pekerjaan : Staf Administrasi di CV. Mussahaq Medan (2002- 2009)
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ………. i
ABSTRACT ……….. ii
KATA PENGANTAR ……….. iii
RIWAYAT HIDUP ……….. vi
DAFTAR ISI ……….. vii
DAFTAR TABEL ………. x
DAFTAR GAMBAR ………. xi
DAFTAR LAMPIRAN ………. xii
BAB I PENDAHULUAN ……….. 1
1.1 Latar Belakang ………. 1
1.2 Rumusan Masalah ………. 11
1.3 Tujuan Penelitian ……….. 11
1.4 Manfaat Penelitian ………. 11
1.5 Originalitas ……… 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………. 1.
2.1 Landasan Teori ……….. 14
2.1.1 Indeks Harga Saham Gabungan ………. 15
2.1.3 Faktor-Faktor Ekonomi Yang mempengaruhi Pasar Modal ….. 21
2.1.3.1 Nilai Tukar Uang ……… 22
2.1.3.2 Suku Bunga ………. 25
2.1.3.3 Laju Inflasi ……….. 26
2.1.3.4 Pertumbuhan GDP ……….. 28
2.2 Review Penelitian Terdahulu ………. 28
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ……….. 33
3.1 Kerangka Konsep ……… 33
3.2 Hipotesis Penelitian ………. 35
BAB IV METODE PENELITIAN ……… 36
4.1 Jenis Penelitian ……… 36
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ……… 36
4.3 Populasi ………. 36
4.4 Metode Pengumpulan Data ……… 37
4.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ……… 37
4.6 Metode Analisis Data……… 39
4.6.1 Pengujian Asumsi Klasik ………. 39
4.6.1.1 Uji Normalitas ……… 39
4.6.2 Pengujian Hipotesis ……… 41
4.6.2.1 Analisis Data Panel ……….. 41
4.6.2.1.1 Panel Data Model ………. 42
4.6.2.2 Pengujian Hipotesis ………. 44
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……….. 46
5.1 Deskriptif Data ……….. 46
5.2 Pengujian Asumsi Klasik ……….. 48
5.2.1 Uji Normalitas ……….. 48
5.2.2 Uji Multikoliniearitas ……… 49
5.3 Analisis Hasil Persamaan Regresi Panel ……….. 50
5.4 Pembahasan ……….. 54
5.4.1 Uji Hipotesis Untuk Menguji Pengaruh Nilai Tukar Dolar, Suku Bunga SBI, Laju Inflasi dan Pertumbuhan GDP Secara Simultan Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan…. 54
5.4.2 Uji Hipotesis Untuk Menguji Pengaruh Nilai Tukar Dolar, Suku Bunga SBI, Laju Inflasi dan Pertumbuhan GDP Secara Parsial Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan….. 55
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………. 65
6.2 Keterbatasan ……… 66
6.3 Saran ……… 66
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1.1 Perkembangan Bursa Efek Indonesia Tahun 1994-2009 …………. 6
1.2 Perkembangan Indeks Perusahaan Yang Listing di BEI Berdasarkan sektor 1997-2009 ………. 7
1.3 Perkembangan IHSG dan Beberapa Indikator Makroekonomi Di Indonesia Tahun 2003-2009 ……… 8
2.1 Review Penelitian Terdahulu ………. 30
4.1 Definisi Operasional Variabel ……….. 39
5.1 Statistik Deskriptif ……… 46
5.2 Uji Normalitas (Uji Jarque-Bera) ……… 48
5.3 Uji Multikoliniearitas ……….. 50
5.4 Pooled Least Square Fixed Effect ……….. 52
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
1.1 Hubungan antara Makroekonomi dengan Pasar Modal ………… 2
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1 Nilai Data Mentah ……… 72
2 Deskriptif Statistik ……… 74
3 Covariance dan Correlation ……….. 74
4 Random Effect Model (REM)……… 75
5 Fixed Effect Model (FEM)……… 78
ANALISIS PENGARUH MAKRO EKONOMI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
ABSTRAK
Tidak stabilnya situasi moneter yang tercermin dari nilai tukar rupiah, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) dapat mempengaruhi perekonomian. Hal tersebut menunjukkan eratnya pengaruh ekonomi makro terhadap indeks harga saham gabungan di pasar modal Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis mengenai pengaruh indikator ekonomi makro yang diproxikan dengan nilai tukar, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP terhadap indeks harga saham gabungan secara simultan maupun parsial selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi panel data. Data diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, Laporan Bulanan Bank Indonesia, dan Indikator Ekonomi dari Badan Pusat Statistik. Jumlah populasi penelitian sebanyak 180 data dengan perincian 20 time series dan 9 cross section dan data dikumpulkan dengan teknik mencatat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ekonomi makro, nilai tukar, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP berpengaruh signifikan terhadap indeks harga saham gabungan baik secara simultan maupun parsial. Selain itu diperoleh nilai adjusted R square adalah 74,53%. Ini berarti 74,53% pergerakan IHSG dapat diprediksi dari pergerakan keempat variabel independen tersebut.
THE ANALYSIS MACROECONOMI EFFECTS ON COMPOSITE INDEX IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
ABSTRACT
Instability of monetary situation which is reflected by foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP (Gross Domestic Product) growth can influence economic situation. The case above shows that macro economic has close correlation with IHSG in the Indonesian Stock Exchange. The purpose of this research is to analyze some indicators of macro economic was proxy with foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP growth that influence composite index when in simultaneous or partial during period 2005 until 2009.
The method employed in this research is using panel data regression analysis. Historical data was taken from Indonesian Stock Exchange, Bank of Indonesian monthly report and economic indicator from Center Beaurau of Statistic. The number of population on this research is 180 data in breakdown 20 time series and 9 cross section with documentation technique.
The results shows that macro economic variable, foreign exchange rate, SBI interest rate, inflation and GDP growth are significan influence toward composite index when in simultaneous or partial. The value of adjusted R square is 74,53%. This means that 74,53% composite index movement can be predicted from the movement of the four independent variable.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peran aktif lembaga pasar modal sangat diperlukan dalam membangun
perekonomian suatu negara. Dalam hal ini pasar modal memiliki peranan yang
strategis dalam perekonomian Indonesia. Secara umum pasar modal merupakan
tempat kegiatan perusahaan untuk mencari dana untuk mendanai kegiatan usahanya.
Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha penghimpunan dana masyarakat
secara langsung dengan menanamkan ke dalam perusahaan yang sehat dan baik
pengelolaannya. Fungsi utama pasar modal adalah sebagai sarana pembentukan
modal dan akumulasi dana bagi pembiayaan suatu perusahaan atau emiten. Dengan
demikian pasar modal merupakan salah satu sumber dana bagi pembiayaan
pembangunan nasional pada umumnya dan emiten pada khususnya di luar
sumber-sumber yang umum dikenal, seperti tabungan pemerintah, tabungan masyarakat,
kredit perbankan dan bantuan luar negeri.
Bagi kalangan masyarakat yang memiliki kelebihan dana dan berminat untuk
melakukan investasi, hadirnya lembaga pasar modal di Indonesia menambah deretan
alternatif untuk menanamkan dananya. Banyak jenis surat berharga (securities) yang
dijual di pasar tersebut, salah satunya adalah saham. Saham perusahaan go public
sebagai komoditi investasi tergolong beresiko tinggi karena sifatnya yang peka
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi baik oleh pengaruh yang bersumber dari
moneter, undang-undang atau peraturan maupun perubahan yang terjadi dalam
industri dan perusahaan yang mengeluarkan saham (emiten) itu sendiri.
Kinerja pasar modal dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja
ekonomi secara keseluruhan dan mencerminkan apa yang akan terjadi dalam
perekonomian secara makro. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kurs rupiah,
tingkat inflasi, tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi dan beberapa variabel
ekonomi makro lainnya merupakan cermin wajah ekonomi suatu Negara. Hubungan
antara kondisi makroekonomi dengan pasar modal digambarkan oleh Hall dan Marc
Lieberman (2005) berikut ini :
Gambar 1.1 Hubungan antara Makroekonomi dengan Pasar Modal
Shock to stock market
Shock to macro economy
Stock
market Shock to both stock market¯o economy
Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat tahun 2008 menyebabkan
keguncangan perekonomian global. Krisis yang ditandai dengan bangkrutnya
perusahaan sekuritas Lehman Brothers menjadi pertanda ambruknya sistem ekonomi
Kapitalis Amerika Serikat. Kolapsnya Lehman Brothers juga diikuti oleh rivalnya
Merril Lynch yang harus rela diakuisisi oleh Bank of Amerika. Begitu juga dengan
kolapsnya beberapa bank dan perusahaan besar lainnya di Amerika Serikat dan
diikuti oleh perusahaan sekuritas, penjamin kredit dan sejumlah bank investasi
lainnya yang jatuh satu per satu. Peristiwa ini menyebabkan keguncangan yang luar
biasa di lantai bursa Wallstreet. Jatuhnya pasar saham terbesar di dunia tersebut ikut
mengguncang pasar saham di beberapa negara lainnya termasuk Indonesia. Keadaan
ini menyebabkan IHSG terkoreksi cukup dalam. Berdasarkan uraian tersebut terlihat
bahwa IHSG mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun selama periode 1994-2009.
Fluktuasi IHSG sebagian besar diakibatkan oleh kejadian-kejadian di luar faktor
fundamental perusahaan, seperti keadaan makroekonomi dalam dan luar negeri.
Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang
berkembang yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi
makroekonomi secara umum serta kondisi ekonomi global dan pasar modal dunia.
Pengaruh makroekonomi tersebut tidak akan dengan seketika mempengaruhi kinerja
perusahaan, tetapi secara perlahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, harga saham
akan terpengaruh dengan seketika oleh perubahan faktor makroekonomi tersebut
yang negatif terhadap kinerja perusahaan beberapa tahun ke depan, kemudian
mengambil keputusan membeli, menjual atau menahan saham yang bersangkutan
( Muhammad Samsul, 2006). Oleh karena itu, harga saham lebih cepat menyesuaikan
diri terhadap perubahan makroekonomi daripada kinerja perusahaan yang
bersangkutan.
Ada dua pengaruh langsung krisis finansial global terhadap perekonomian di
Indonesia. Pertama pengaruh terhadap keadaan indeks bursa saham Indonesia.
Kepemilikan asing yang masih mendominasi dengan porsi 66% kepemilikan saham
di BEI, mengakibatkan bursa saham rentan terhadap keadaan finansial global karena
kemampuan finansial para pemilki modal tersebut (Tempo Interaktif,2008). Kedua,
ekspor impor, Amerika Serikat merupakan Negara tujuan ekspor nomor dua setelah
Jepang dengan porsi 20%-30% dari total ekspor (Depperin, 2008). Dengan
menurunnya kinerja ekonomi Amerika Serikat secara langsung mempengaruhi ekspor
impor Indonesia juga.
IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 sebagai
indikator pergerakan harga saham yang tercatat di bursa. Seiring dengan
perkembangan pasar dan tuntutan untuk lebih efisien serta daya saing di kawasan
regional, maka efektif sejak tanggal 3 Desember 2007 secara resmi PT. Bursa Efek
Jakarta (BEJ) digabungan dengan PT. Bursa Efek Surabaya (BES) dan berganti nama
Selain aktivitas transaksi yang meningkat, IHSG juga menunjukkan
kenaikan yang luar biasa. Pada akhir tahun 1994, IHSG masih berada pada level
469,640. Meskipun sempat mengalami penurunan pada saat krisis ekonomi melanda
Indonesia tahun 1997, akan tetapi pada era tahun 2000-an IHSG mengalami
pertumbuhan yang luar biasa. Pada tanggal 9 Januari 2008, IHSG mencapai level
2.830,263 atau meningkat sebesar 502,65% dibandingkan penutupan tahun 1994.
Tahun 1999 merupakan tahun pemulihan bagi pasar modal Indonesia setelah dalam
beberapa tahun mengalami krisis ekonomi. Membaiknya pasar ditandai dengan
kenaikan 278,88 bps menjadi 676,919 bps dibandingkan dengan tahun 1998. Dalam
tahun 1999, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan 1,8% dibandingkan tahun
1998 sebesar -13,2% dan inflasi turun tajam menjadi 2,01% dibandingkan dengan
inflasi pada tahun sebelumnya sebesar 77,6% (laporan tahunan BAPEPAM, 1999).
Setelah mengalami peningkatan pada tahun 1999, pada tahun 2000 IHSG mengalami
penurunan menjadi 416,321 bps dan pada tahun 2001 mengalami penurunan kembali
menjadi 392,036 bps. Penurunan IHSG tersebut terutama dipengaruhi oleh
melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya tingkat suku bunga diskonto menjadi 17%
serta melemahnya kinerja bursa regional (laporan tahunan BAPEPAM, 2001).
Tabel 1.1 Perkembangan Bursa Efek Indonesia Tahun 1994 – 2009
Rata-rata Transaksi Harian IHSG
Tahu
Tertinggi Terendah Akhir
Kapitali 1997 311.4 489.4 12.1 740.833 339.536 401.712 160 282 1998 366.9 403.6 14.2 554.107 256.834 398.038 176 288 1999 722.6 598.7 18.4 716.460 372.318 676.919 452 277 2000 562.9 513.7 19.2 703.483 404.115 416.321 260 287 2001 603.2 396.4 14.7 470.229 342.858 392.036 239 316 2002 698.8 492.9 12.6 551.607 337.475 424.945 268 331 2003 967.1 518.3 12.2 693.033 379.351 691.895 460 333
2004 1,708.6 1,024.9 15.5 1,004.430 668.477 1,000.233 680 331
Perkembangan Indeks Harga Sektoral (IHS) pada beberapa tahun
belakangan ini juga mengalami kenaikan dan penurunan. Penurunan rata-rata terjadi
pada tahun 1998 sebesar -9,18 jika dibandingkan dengan tahun 1997, hal ini
disebabkan oleh pada tahun tersebut terjadi pergolakan demokrasi dan politik di
Indonesia. Penurunan juga terjadi pada tahun 2000,2001 dan tahun 2008. Pada tahun
2008 terjadi penurunan indeks sektoral akibat dampak terjadinya krisis keuangan di
tahun 2007 dan kembali menguat pada tahun 2009. Indeks rata-rata dari tahun 1997
sampai tahun 2009, sektor pertambangan (735,73) merupakan sektor yang memiliki
indeks yang paling tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Di ikuti dengan
sektor pertanian (700,99), sektor transportasi dan infrastrukutr (351,19) dan sektor
industri barang konsumsi (255,19). Sektor properti dan real estate memiliki rata-rata
indeks yang paling kecil sebesar 79,53. Hal ini dapat di lihat pada tabel 1.2
Tabel 1.2 Perkembangan Indeks perusahaan yang listing di BEI berdasarkan sektor,1997-2009 1999 278.52 182.19 128.83 134.88 201.80 55.81 152.26 58 202.64 154.99 41.51 2000 176.18 129.67 60.09 95.23 141.12 27.86 82.13 36.69 130.62 97.73 -57.26 2001 119.05 118.84 40.53 73.48 129.10 26.97 112.84 36.69 111.28 85.42 -12.31 2002 144.36 94.87 36.92 88.13 135.47 24.33 129.41 51.03 107.61 90.24 4.82 2003 182.83 332.63 63.87 124.59 209.38 42.11 221.29 78.84 142.10 155.29 65.05 2004 304.66 491.16 98.33 192.01 233.32 68.22 332.54 133.72 171.14 225.01 69.72 2005 493.45 604.57 104.24 204.67 280.83 64.12 472.87 131.48 196 361.67 136.66 2006 1,218.45 933.21 147.10 284.12 392.46 122.9
2
771.62 206.57 275.08 483.50 121.83
2007 2,754.56 3,270.09 238.05 477.35 436.04 251.8 2
87.07 260.57 392.24 994.98 511.48
2008 918.77 877.68 134.99 214.94 326.84 103.4 9
490.35 176.33 148.33 376.86 -618.3
2009 1,753.09 2,203.48 273.93 601.47 671.31 146.8 728.53 301.42 275.76 772.87 396.01
Rata-rata
700.99 735.73 113.96 205.25 255.19 79.53 351.19 121.67 175.69
Sumber : BEI, 2009
Pengaruh lain krisis finansial global terhadap makroekonomi adalah dari sisi
tingkat suku bunga. Dengan naik turunnya nilai dolar, suku bunga akan naik karena
Bank Indonesia (BI) akan menahan rupiah sehingga akibatnya inflasi akan
meningkat. Pengaruhnya pada investasi pasar modal, krisis global ini akan mebuat
orang tidak lagi memilih pasar modal sebagai tempat menarik untuk berinvestasi
karena kondisi makro yang tidak mendukung (Adiwarman, 2008).
Menurut Sirait dan Siagian (2002), kinerja pasar modal dapat dilihat dari
indikator-indikator pasar modalnya, salah satunya IHSG. Indikator pasar modal ini
dapat berfluktuasi seiring dengan perubahan asumsi-asumsi makroekonomi yang ada.
Seiring dengan indikator pasar modal, indikator makroekonomi juga berfluktuasi.
Tabel 1.3 Perkembangan IHSG dan Beberapa Indikator Makroekonomi di Indoneia Tahun 2003-2009
Indikator
Tahun IHSG Kurs Suku Bunga(%) Inflasi (%) PDB(%)
2003 691.90 8465 8.31 5.06 4.7
2004 1,000.23 9290 7.43 6.23 4.9
2005 1,162.635 9830 12.75 16.21 5.69
2006 1,805.523 9020 9.75 6.41 5.49
2007 2,745.826 9419 8.00 6.41 6.34
2008 1,355.408 10,950 9.25 11.19 6
2009 2,534.356 9400 6.50 4.89 4.55
Sumber : IDX statistic, BPS dan SEKI berbagai tahun di olah
Penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih et al (2001) menunjukkan hasil
bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar berpengaruh negatif terhadap saham, apabila
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mengakibatkan nilai IHSG ikut
menguat ke posisi 691,90 bps di tahun 2003 dan pada tahun 2006. Nurdin (1999),
mengemukakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak memiliki pengaruh
terhadap resiko saham. Utami dan Rahayu (2003), mengemukakan bahwa nilai tukar
rupiah terhadap dolar berpengaruh positif terhadap saham.
Penelitian tentang hubungan antara suku bunga dengan harga saham terdapat
perbedaan hasil penelitian. Granger (dalam Mok, 1993), mengemukakan bahwa ada
terdapat pengaruh negatif antara suku bunga dengan harga saham. Sesuai dengan
teori Keynes (Nopirin, 1997), apabila tabungan mengalami kenaikan maka harga
saham akan mengalami penurunan dan begitu juga sebaliknya, hal ini tercermin pada
peningkatan IHSG di tahun 2003 sebesar 266,95 bps pada tahun 2004. Situasi
kembali berubah di pertengahan tahun 2005, harga minyak international naik tajam
hingga di atas US$ 70 an per barel. Hal ini kembali memaksa otoritas moneter dalam
ini BI utuk menaikkan suku bunga di tahun 2005-2006. Selain hal tersebut kebijakan
suku bunga tinggi dalam negeri dipicu oleh kondisi perekonomian global dimana
perekonomian Amerika Serikat, Eropa (Inggris), Asia (Jepang) juga menetapkan suku
bunga tinggi oleh otoritas moneter negara tersebut (Gatra edisi 27 Januari 2007).
Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Boedie et al (1995), mengemukakan bahwa ada
pengaruh antara suku bunga dengan harga saham, dan hasil penelitian ini di dukung
oleh penelitian Utami dan Rahayu (2003). Hal ini terlihat pada tahun 2004, suku
2004 ke posisi 1.805,52 bps di tahun 2006. Hal ini dapat terjadi karena adanya
harapan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat,
sehingga akan mendapatkan deviden yang lebih besar. Selain itu, peningkatan harga
dapat juga disebabkab adanya kemungkinan pasar mengharapkan akan terjadinya
penurunan suku bunga sehingga harga indeks naik.
Menurut Tandelilin (2000), kinerja bursa efek ikut mengalami penurunan
jika inflasi meningkat. Apabila melihat pergerakan inflasi dari tahun 2003 sampai
pada tahun 2009 bersifat fluktuatif. Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada tahun
2005 sebesar 9,98% dari tahun sebelumnya sebesar 6,23% ke tingkat 16,21% terlihat
penurunan pada IHSG ketika inflasi meningkat pada tahun 2008 sebesar -50% jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sesuai dengan pendapat Tandelilin tersebut,
IHSG mengalami penurunan ke tingkat 1.355,408 bps di tahun 2009 yang
sebelumnya pada tingkat 2.745,826 bps di tahun 2007. Namun hal ini tidak berlaku
untuk tahun 2005 di mana inflasi meningkat namun IHSG tetap naik sebesar 162,64
bps dari posisi tahun sebelumnya sebesar 1000,23 bps ke posisi 1.162,635 bps di
tahun 2005. Peningkatan IHSG di tahun 2005 lebih dipicu oleh keadaan fundamental
ekonomi dalam negeri yang stabil karena keberhasilan melaksanakan pemilu 2005,
sehingga investor masih percaya pada kinerja perusahaan (emiten) domestik.
Penelitian hubungan antara Gross Domestic Product (PDB) terhadap harga
saham yang telah dilakukan oleh Park (1997), yang melakukan penelitian tentang
bunga menunjukkan bahwa PDB saja yang berpengaruh positif tehadap harga saham
sedangkan yang lainnya tidak. Sedangkan Tandelilin (1997) mengemukakan bahwa
pertumbuhan PDB tidak berpengaruh terhadap indeks harga.
Berdasarkan latar belakang dan research gap dari penelitian terdahulu, maka
penelitian ini menganalisis pengaruh makroekonomi yaitu nilai tukar, suku bunga,
inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang di cerminkan dalam PDB terhadap kinerja
IHSG di BEI pada tahun 2005 sampai pada tahun 2009.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut , permasalahan yang akan diteliti
adalah “ Apakah pengaruh makroekonomi yang diproxikan dengan nilai tukar dolar
terhadap rupiah, suku bunga, laju inflasi dan PDB berpengaruh secara simultan dan
parsial terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI?”
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk “Menganalisis pengaruh makroekonomi yang
diproxikan dengan nilai tukar dolar terhadap rupiah, suku bunga, laju inflasi dan PDB
secara simultan dan parsial terhadap IHSG di BEI”.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pengaruh
faktor makroekonomi terhadap IHSG.
2. Bagi pelaku bisnis dan praktisi keuangan, penelitian ini diharapkan dapat
menjadi informasi yang menarik dan menjadi salah satu masukan dalam
mempertimbangkan keputusan investasi.
3. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan melengkapi temuan
empiris yang sudah ada di bidang akuntansi untuk kemajuan dan
pengembangan ilmiah di masa akan datang dan memperkaya khasanah
keilmuan pada umumnya.
1.5. Originalitas Penelitian
Penelitian ini merupakan replikasi terhadap penelitian sebelumnya yang
dilakukan Pasaribu et al (2009) yang berjudul Analisis pengaruh variabel
makroekonomi terhadap indeks harga saham gabungan. Variabel dependen yang
digunakan dalam penelitian Pasaribu et al adalah indeks harga saham gabungan
sedangkan variabel independen yang digunakan adalah inflasi, SBI, nilai tukar,
transaksi berjalan, indeks hangseng, minyak dunia, fed rate. Pasaribu et al
menyimpulkan bahwa inflasi, SBI, nilai tukar, minyak dunia dan fed rate tidak
berpengaruh dan tidak signifikan terhadap indeks harga saham gabungan. Sedangkan
transaksi berjalan, indeks hang seng berpengaruh positif signifikan terhadap indeks
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Pasaribu et al
(2009) adalah variabel independen yang digunakan adalah nilai tukar, suku bunga,
inflasi dan pertumbuhan PDB. Penambahan variabel pertumbuhan PDB pada
penelitian ini dikarenakan metode penelitian yang digunakan adalah Panel Data yang
menggabungkan data Time Series dan Cross Section. Peneliti tidak menggunakan
variabel transaksi berjalan, indeks hangseng, minyak dunia dan fed rate karena
peneliti ingin meneliti hanya pada faktor makroekonomi di dalam negeri. Perbedaan
lainnya adalah periode penelitian ini di mulai pada tahun 2005 sampai pada tahun
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Pasar modal merupakan alternatif penghimpunan dana selain sistem
perbankan. Menurut Husnan (1998), pasar modal adalah pasar dari berbagai
instrument keuangan (sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik
dalam bentuk hutang (obligasi) maupun modal sendiri (saham) yang diterbitkan
pemerintah dan perusahaan swasta. Sedangkan undang-undang Republik Indonesia
nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal memberikan pengertian pasar modal
sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan denagan Penawaran umum dan
perdagangan efek, perusahaan efek yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya,
serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek (Bapepam.go.id,2010).
Pengertian lainnya, pasar modal adalah salah satu sumber pembiayaan eksternal
jangka panjang bagi dunia usaha khususnya perusahaan yang go public dan sebagai
wahana investasi bagi masyarakat (Harianto dan Sudomo,1998).
Kepemilikan saham oleh masyarakat melalui pasar modal, dapat menjadikan
masyarakat bisa menikmati keberhasilan perusahaan melalui pembagian deviden dan
peningkatan harga saham yang diharapkan. Kepemilkan saham oleh masyarakat juga
dapat memberikan pengaruh positif terhadap perusahaan melalui pengawasan
2.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan
Seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan, kebutuhan untuk
memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat mengenai perkembangan
bursa juga semakin meningkat. Salah satu informasi yang diperlukan tersebut adalah
harga saham sebagai cerminan dari pergerakan harga saham. Indeks harga saham
merupakan indikator utama yang menggambarkan pergerakan harga saham. Indeks
harga saham gabungan merupakan gabungan dari seluruh jenis saham yang tercatat di
bursa efek (Samsul, 2006). Di pasar modal sebuah indeks diharapkan memiliki lima
fungsi (BEI, 2010) yaitu :
1. Sebagai indikator trend pasar
2. Sebagai indikator tingkat keuntungan
3. Sebagai tolok ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio
4. Memfasilitasi pembentukan portofolio dengan strategi pasif
5. Memfasilitasi berkembangnya produk derivatif.
Ada beberapa macam pendekatan atau metode perhitungan yang digunakan
untuk menghitung indeks, yaitu: (1) menghitung rata-rata (arimetic rate) harga saham
yang masuk dalam anggota indeks, (2) menghitung geometric rate dari indeks
tertimbang nilai pasar. Umumnya semua IHSG (composite) menggunakan metode
rata-rata tertimbang termasuk BEI (BEI, 2010).
Sekarang ini PT. BEI memiliki 11 macam harga saham yang secara terus
menerus disebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik, sebagai salah satu
pedoman bagi investor untuk berinvestasi di pasar modal (BEI, 2010). Kesebelas
macam indeks tersebut adalah :
1. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan semua emiten
yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks. IHSG seluruh
saham selalu disesuaikan dengan kejadian-kejadian seperti : initial public
offering (IPO), right issues, delisting dan konversi.
2. Indeks Sektoral, menggunakan semua emiten yang termasuk
masing-masing sektor. Ada Sembilan sektoral di BEI yaitu : (1) sektor usaha
primer meliputi sektor pertanian dan pertambangan, (2) sektor usaha
sekunder meliputi sektor industri dasar dan kimia, aneka industri dan
sektor industri barang konsumsi, dan (3) sektor usaha tersier meliputi
sektor properti dan real estate, sektor keuangan dan sektor perdagangan,
jasa dan investasi.
3. Indeks LQ45, menggunakan 45 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria
likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah
ditentukan dan disesuaikan setiap enam bulan sekali (setiap awal februari
4. Jakarta Islamic Indeks (JII), menggunakan 30 emiten yang masuk dalam
kriteria syariah dan termasuk saham yang memiliki kapitalisasi besar dan
likuiditas tinggi.
5. Indeks Kompas100, menggunakan 100 saham yang terpilih berdasarkan
kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar dengan kriteria-kriteria yang
telah ditentukan.
6. Indeks Bisnis-27, menggunakan 27 emiten yang dipilih berdasarkan
kriteria tertentu dan merupakan kerjasama anatara PT. BEI dengan
Harian Bisnis Indonesia.
7. Indeks PEFINDO 25, menggunakan 25 emiten yang dipilih berdasarkan
kriteria tertentu dan merupakan kerjasama anatara PT. BEI dengan
lembaga rating PEFINDO.
8. Indeks SRI-KEHATI, menggunakan 25 emiten yang dipilih berdasarkan
kriteria tertentu dan merupakan kerjasama anatara PT. BEI dengan
yayasan KEHATI.
9. Indeks PApan Utama, menggunakan emiten yang termasuk dalam
criteria papan utama.
10. Indeks Papan Pengembangan,
Seluruh indeks yang ada di BEI menggunakan metode perhitungan yang
sama, yaitu metode rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah saham tercatat.
Perbedaan utama yang terdapat pada masing-masing indeks adalah jumlah emiten dan
nilai dasar yang digunakan untuk perhitungan indeks. Misalnya untuk indeks LQ45
menggunakan 45 saham untuk perhitungan indeks sedangkan Jakarta Islamic Index
(JII) menggunakan 30 saham untuk perhitungan indeks. Indeks-indeks tersebut
ditampilkan terus menerus melalui display wall di lantai bursa dan disebarkan ke
masyarakat luas oleh data vendor melalui data feed.
Metodologi perhitungan indeks menggunakan rata-rata tertimbang nilai
pasar (market value weighted index) dengan rumus dasar perhitungan
(www.idx.co.id):
Nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikalikan harga pasar hari
ini (kapitalisasi pasar), sedangkan nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham pada
hari dasar di kali harga dasar pada hari dasar. Hari dasar di BEI adalah tanggal 10
agustus 1982 dengan nilai 100. Indeks harga sahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Indeks Harga Saham gabungan (IHSG). Nilai yang dipakai adalah harga
penutupan (closing price) setiap transaksi hari terakhir 3 bulanan. Indeks = Nilai pasar x 100%
2.1.2. Arbitrage Pricing Theory
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan
antara variabel-variabel ekonomi terhadap pasar modal suatu negara. Salah satu
pendekatan yang sering dan popular yang digunakan adalah pendekatan Arbitrage
Pricing theory (APT) yang dikembangkan oleh Ross (1976). Chen et al (1986),
dengan menggunakan pendekatan APT, membuktikan bahwa variabel-variabel
makroekonomi memiliki pengaruh sistematik terhadap tingkat pengembalian pasar
saham. Kondisi makroekonomi dianggap mempengaruhi tingkat diskonto (discount
rate), kemampuan perusahaan untuk menggerakkan aliran kas (cash flow), dan
pembayaran deviden pada masa yang akan datang (future deviden payout).
Abritase adalah memperoleh laba tanpa resiko dengan memanfaatkan
peluang perbedaan harga asset atau sekuitas yang sama. Konsep yang digunakan pada
APT adalah hukum satu harga (law of one price) menyebutkan bahwa jika dua aset
yang ekuivalen dalam seluruh aspek ekonomi yang relevan, maka keduanya
mempunyai harga yang sama. Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut di
jual dengan harga yang berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan
arbitrasi dengan membeli aktiva yang berharga lebih murah dan pada saat yang sama
menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sehingga memperoleh laba tanpa rsiko.
APT mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan sekuritas sangat
dipengaruhi oleh faktor dalam perekonomian dan industri. Korelasi antara tingkat
faktor-faktor yang sama. APT berpendapat bahwa ada hubungan postif antara tingkat
keuntungan yang diharapkan dengan resiko.
Tingkat keuntungan yang diharapkan dari setiap sekuritas yang
diperdagangkan di pasar keuangan terdiri dari dua komponen. Pertama, tingkat
keuntungan normal atau yang diharapkan. Tingkat keuntungan ini merupakan bagian
dari tingkat keuntungan akrual yang diperkirakan (diharapkan) oleh pemegang
saham. Tingkat keuntungan tersebut dipengaruhi oleh informasi yang dimiliki oleh
pemodal. Kedua, tingkat keuntungan yang tidak pasti atau beresiko. Bagian
keuntungan ini berasal dari informasi yang bersifat tak terduga.
Secara formal tingkat keuntungan suatu sekuritas dapat dituliskan menjadi
(Reilly,1992):
Dalam hal ini F adalah resiko sistematik juga disebut resiko pasar (market
risk), yang mempengaruhi semua perusahaan. Sedangkan e merupakan resiko yang
tidak sistematik, atau spesifik untuk perusahaan tertentu. Resiko tidak sistematik dari
perusahaan A tidak berkorelasi dengan resiko tidak sistematik dari perusahaan B,
dengan demikian maka korelasi A dan B = 0. ri = E(ri) + βiF + ei
Sedangkan jika kita mengasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu faktor
sistematik, maka kita dapat menggunalan APT Multifactor dengan rumus (R
eilly,1992):
Dimana setiap faktor memiliki keuntungan yang diharapkan sebesar nol
karena setiap variabel mengukur kejutan (surprise) dalam variabel sistematik, bukan
tingkat variabel tersebut. Demikian juga, komponen spesifik perusahaan dari
keuntungan yang tidak diharapkan, ei juga memiliki keuntungan yang diharapkan
sebesar nol.
2.1.3. Faktor-Faktor Ekonomi Yang Mempengaruhi Pasar Modal
Para pemodal dalam proses penilaian investasi harus memahami kondisi
ekonomi nasional suatu negara dimana mereka akan berinvestasi. Kondisi ekonomi
ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dan memberi dampak pada
pendapatan dan biaya perusahaan, serta mempengaruhi permintaan dan penawaran
terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan (Harianto, 1998).
Menurut Ang (1997) berbagai variabel ekonomi akan memberikan pengaruh
indeks harga saham adalah pertumbuhan PDB, keuntungan perusahaan, pertumbuhan
produksi industri, inflasi, tingkat bunga, kurs mata uang rupiah, pengangguran dan
jumlah uang beredar. Tandelilin (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor
makroekonomi secara empiris telah terbukti mempunyai pangaruh terhadap kondisi
pasar modal di beberapa negara. Faktor–faktor tersebut antara lain Produk Domestik
Bruto (PDB), laju pertumbuhan inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar mata uang
(exchange rate).
Tidak ada teori yang membantah adanya hubungan antara pasar saham
dengan keadaaan makroekonomi. Menurut Chen et all (dalam Sitinjak dan Widuri,
2003), perubahan harga saham biasanya merupakan respond dan kekuatan eksternal.
Selain itu memang ada kebijakan-kebijakan moneter (berkaitan dengan
makroekonomi) yang mempengaruhi pasar modal dan pasar uang secara
bersama-sama (Sitinjak dan Widuri, 2003).
Beberapa ahli ekonomi lainnya telah melakukan penelitian mengenai
hubungan antara kondisi makroekonomi dengan pasar saham. Chen (1991)
melakukan penelitian yang mempelajari hubungan antara perubahan peluang
investasi keuangan dan perubahan pada variabel-variabel makroekonomi. Variabel
makroekonomi yang digunakan adalah tingkat pertumbuhan produksi, default
premium, term premium, tingkat suku bunga jangka pendek dan rasio deviden harga
yang ditunjuk sebagai indikator pertumbuhan ekonomi masa kini dan masa yang akan
secara negatif dengan pertumbuhan ekonomi saat ini dan berhubungan positif
terhadap pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang.
2.1.3.1. Nilai Tukar Uang
Nilai tukar merupakan perbandingan nilai atau harga dua mata uang.
Pengertian nilai tukar uang menurut FASB adalah rasio antara suatu unit mata uang
dengan sejumlah mata uang lain yang bisa ditukar pada waktu tertentu. Perbedaan
nilai tukar riil dengan nilai tukar nominal penting untuk dipahami karena keduanya
mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap resiko nilai tukar (Sartono, 2001). Nilai
tukar nominal menunjukkan harga relatif mata uang dari dua Negara, sedangkan nilai
tukar riil menunjuukan harga relatif barang dari dua Negara.
Menurut Nopirin (1990) nilai tukar merupakan semacam harga didalam
pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran antara dua mata uang yang berbeda,
maka akan terjadi perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.
Perbandingan inilah yang seringkali disebut nilai tukar atau kurs (exchange rate).
Nilai tukar atau lazim juga disebut kurs valuta dalam berbagai transaksi ataupun jual
beli valuta asing dikenal ada empat jenis yakni (Dornbusch dan Fischer, 1992) :
a. Selling Rate (kurs jual), adalah kurs yang
ditentukan suatu bank untuk penjualan valuta asing tertentu pada waktu
b. Middle Rate ( kurs tengah), adalah kurs
tengah antara kurs jual dan kurs beli valuta asing terhadap mata uang
nasional, yang ditetapkan oleh Bank Central pada waktu tertentu.
c. Buying Rate (kurs beli), adalah kurs yang
ditentukan suatu bank untuk pembelian valuta asing tertentu pada waktu
tertentu.
d. Flat Rate (kurs tetap), adalah kurs yang
berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan traveler cheque, dimana
dalam kurs tersebut sudah diperhitungkan promosi dan biaya-biaya
lainnya.
Ada dua pendekatan yang digunakan untuk menentukan nilai tukar
(exchange rate) yaitu pendekatan moneter (monetary approach) dan pendekatan
pasar aset (asset market approach). Pada pendekatan moneter,nilai tukar
didefinisikan sebagai harga di mana mata uang asing (foreign currency/money) dijual
belikan terhadap mata uang domestik (domestic currency/money) dan harga tersebut
berhubungan dengan penawaran dan perminataan uang. Naik turunnya nilai tukar
mata uang bisa terjadi dengan berbagai cara, yakni dengan dilakukan secara resmi
oleh pemerintah suatu Negara yang menganut sistem managed floating exchange
rate, atau bisa juga karena tarik menariknya kekuatan-kekuatan penawaran dan
permintaan di dalam pasar (market mechanism) dan lazimnya perubahan nilai tukar
a. Depresiasi (depreciation), adalah
penurunan harga mata uang nasional terhadap mata uang asing lainnya
dikarenakan tarik menarik kekuatan permintaan dan penawaran (demand
and supply).
b. Appresiasi (appreciation), adalah
peningkatan harga mata uang nasional terhadap mata uang asing lainnya
dikarenakan tarik menarik kekuatan permintaan dan penawaran (demand
and supply).
c. Devaluasi (devaluation), adalah penurunan
harga mata uang nasional terhadap mata uang asing lainnya dikarenakan
dilakukan secara resmi oleh pemerintah.
d. Revaluasi (revaluation), peningkatan harga
mata uang nasional terhadap mata uang asing lainnya dikarenakan
dilakukan secara resmi oleh pemerintah.
Menurut Sirait dan Siagian (2002) pengaruh nilai tukar valuta asing dapat
menjadi positif terhadap indeks harga saham gabungan, jika rupiah mengalami
penguatan (appresiasi) maka akan menurunkan kemampuan domestik dalam
persaingan di perdagangan dunia karena mata uang domestik menjadi relatif lebih
mahal. Dalam kondisi normal, dimana fluktuasi nilai tukar uang tidak terlalu tinggi,
depresiasi atau appresiasi nilai tukar uang , maka hubungan nilai tukar uang dengan
pasar modal akan berpotensi negatif (Suciwati dan Machfoed, 2002).
2.1.3.2. Suku Bunga
Suku bunga merupakan harga atas dana yang dipinjam (Reilly, 1992).
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada prinsipnya adalah surat berharga atas unjuk
dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank Sentral sebagai pengakuan utang berjangka
waktu pendek dan diperjualbelikan dengan sistem diskonto (Hamzah, 2005). Menurut
Krugman dan Obstfed (1999) tingkat suku bunga merupakan jumlah sewa atau
imbalan yang diterima oleh seseorang atas kesediannya meminjamkan sejumlah dana
tertentu misalkan satu tahun. Tingkat suku bunga rata-rata tertimbang SBI jangka
waktu 1 (satu) bulan pada saat lelang SBI di Bank Indonesia.
Kebijakan moneter mengeluarkan tingkat suku bunga SBI ini bertujuan
untuk mengendalikan jumlah uang beredar, tingkat suku bunga SBI yang dikeluarkan
oleh BI diharapkan akan direspon searah oleh perbankan umum, jika tingkat suku
bunga SBI dinaikkan harapannya adalah suku bunga simpanan bank umum juga akan
mengalami kenaikan, disinilah fungsi tingkat suku bunga SBI mengendalikan
peredaran uang di masyarakat. Dampak lain dari pengendalian uang beredar ini
adalah untuk mengurangi kecenderungan masyarakat membelanjakan uangnya, yang
pada akhirnya akan menekan laju inflasi.
Hubungan antara tingkat suku bunga SBI dengan harga saham bursa tidak
bunga simpanan, bila tingkat suku bunga SBI mengalami kenaikan, maka suku bunga
simpanan akan mengalami kenaikan, hal ini akan diikuti kenaikan suku bunga
pinjaman para debitur. Jika suku bunga simpanan cenderung mengalami kenaikan
terus menerus akan mendorong investor memindahkan dana dari pasar modal kepada
perbankan. Bila hal ini terjadi maka harga saham akan mengalami penurunan harga,
begitu pula sebaliknya. Sehingga hubungan antara tingkat suku bunga SBI dengan
harga saham memiliki hubungan yang negatif. Dalam penelitian ini suku bunga yang
digunakan adalah nilai bunga deposito SBI triwulan dari tahun 2005 sampai pada
tahun 2009.
2.1.3.3. Laju Inflasi
Inflasi mempengaruhi perekonomian melalui pendapatan dan kekayaan, dan
melalui perubahan tingkat dan efisiensi produksi. Inflasi yang tidak dapat di ramalkan
biasanya menguntungkan para debitur, pencari dana dan spekulator pengambil resiko.
Inflasi akan merugikan para kreditur, kelompok berpendapatan tetap, dan investor
yang tidak berani beresiko (Samuelson, 1994).Inflasi adalah ukuran ekonomi yang
memberikan gambaran tentang meningkatnya harga rata-rata barang dan jasa yang
diproduksi pada suatu sistem perekonomian. Menurut Herman (2003), inflasi adalah
suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan harga-harga pada umumnya atau
Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang
terlalu panas (overhead). Artinya , kondisi ekonomi mengalami permintaan atas
produk yang melebihi kapasitas penawaran produknya, sehingga harga-harga
cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan
penurunan daya beli uang (purchasing power of money). Di samping itu, inflasi yang
tinggi juga bisa mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari
investasinya. Sebaliknya jika inflasi mengalami penurunan, maka hal ini akan
merupakan sinyal yang positif bagi investor seiring dengan turunnya resiko daya beli
uang dan resiko penurunan pendapatan riil (Tandelilin, 2003). Jadi inflasi yang tinggi
menyebabkan menurunnya keuntungan suatu perusahaan, sehingga menyebabkan
efek sekuritas menjadi kurang kompetitif Widjojo (dalam Almilia, 2003).
Sirait dan Siagian (2002) mengemukakan bahwa kenaikan inflasi dapat
menurunkan capital gain yang menyebabkan berkurangnya keuntungan yang diterima
oleh investor. Di sisi perusahaan, terjadinya peningkatan inflasi dimana
peningkatannya tidak dapat dibebankan kepada konsumen, dapat menurunkan tingkat
pendapatan perusahaan. Hal ini berarti resiko yang akan dihadapi perusahaan akan
lebih besar untuk tetap berinvestasi dalam bentuk saham, sehingga permintaan
terhadap saham akan turun. Inflasi dapat menurunkan keuntungan suatu perusahaan
sehingga sekuritas di pasar modal menjadi komoditi yang tidak menarik. Hal ini
inflasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lajuninflasi indeks harga umum 3
bulanan yang dikeluarkan oleh BPS dari tahun 2005 sampai pada tahun 2009.
2.1.3.4. Pertumbuhan PDB
PDB (Produk Domestik Bruto) adalah jumlah nilai dari semua produk akhir
barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu kawasan di dalam periode waktu tertentu.
PDB mencakup konsumsi pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi dan eksport
dikurangi impor di dalam kawasan tertentu (Antoderman,2010). PDB merupakan
salah satu indicator yang penting dalam melihat sehat tidaknya perekonomian suatu
kawasan selain untuk menakar tingkat kemakmuran di kawasan tersebut. Biasanya
PDB disajikan sebagai perbandingan ke kuartal atau tahun sebelumnya.
Laju pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses kenaikan output perkapita
jangka panjang. Penekanan pada proses karena mengandung unsur dinamis,
perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu pemakaian indikator pertumbuhan
ekonomi akan dilihat dalam kurun waktu tertentu. Laju pertumbuhan ekonomi akan
di ukur melalui perkembangan PDB yang diperoleh dari BPS. Adapun cara
menghitungnya (BPS, 2010):
Dimana : PDB = Laju pertumbuhan ekonomi PDBx = PDB tahun sekarang
PDBx-1 = PDB tahun sebelumnya
2.2. Review Penelitian Terdahulu
Harga saham juga mempengaruhi nilai tukar melalui permintan uang (money
demand equation) yang membentuk suatu basis model alokasi portofolio dan moneter
dari determinasi nilai tukar uang. Pada kondisi tertentu yang mencerminkan aktivitas
ekonomi riil, perubahan harga saham menyebabkan peningkatan permintaan uang riil
dan mata uang domestik. Di samping itu harga saham juga dapat mencerminkan
variabel makroekonomi, karena menunjukkan ekspektasi pasar terhadap aktivitas
ekonomi riil (Ibrahim, 2000). Nilai tukar mempengaruhi harga saham, tapi
pertumbuhan pasar saham juga mendesak pengaruh positif dari nilai tukar.
Bahmani – oskccee dan Sohrabian (1992) menawarkan penjelasan lain dari
efek harga saham terhadap perubahan nilai tukar, dimana hasil kenaikan dalam
keseimbangan riil akan menghasilkan kenaikan tingkat bunga. Akhirnya , asset
financial domestic akan menjadi lebih atraktif. Sebagai hasilnya, para investor akan
menyesuaikan portofolio dalam dan luar negeri melalui permintaan yang lebih
banyak aset domestik. Penyesuaian portofolio dari perusahaan tersebut akan
menghasilkan apresiasi mata uang domestik, karena mereka membutuhkan mata uang
domestik untuk transaksi tersebut.
Ketika suku bunga yang ditetapkan BI naik, maka pada dasarnya akan
menaikkan suku bunga kredit yang dikeluarkan oleh bank. Pengaruh signifikan dari
(dalam Mok, 1993) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara suku
bunga dengan indeks harga saham. Hal tersebut juga didukung oleh Utami dan
Rahayu (2003) yang menemukan secara empiris pengaruh negatif suku bunga
terhadap harga saham selama masa krisis di Indonesia.
Penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham seperti yang
dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) yang menyatakan bahwa makin tinggi
inflasi maka semakin menurunkan tingkat profabilitas perusahaan. Turunnya profit
perusahaan adalah informasi yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat
mengakibatkan turunnya harga saham perusahaan tersebut. Pada penelitian yang
dilakukan Utami dan Rahayu (2003) membuktikan secara empiris pengaruh inflasi
terhadap harga saham, semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham.
Park (1997) yang meneliti kaitan antara variabel makro, harga konsumen,
PDB, tingkat inflasi, suku bunga dan return saham menemukan adanya pengaruh
positif antara pertumbuhan PDB dengan return saham. Dengan meningkatnya kinerja
ekonomi yang dicerminkan oleh pertumbuhan PDB, investor akan cenderung lebih
banyak berinvestasi di pasar modal. Dengan meningkatnya pertumbuhan PDB juga
akan meningkatkan naiknya daya beli masyarakat yang imbasnya bisa saja dirasakan
oleh pasar modal.
Dari beberapa penelitian terdahulu dapat disajikan secara sistematis dalam
Tabel 2.1.Review Penelitian terdahulu
No Nama Peneliti/Tahun
IHSG sebagai 4 Mok (1993) Causality of interest
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1. Ada empat
faktor yang berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu :
nilai tukar, suku bunga, laju inflasi dan pertumbuhan PDB. Sehingga kerangka
konsep yang terbentuk sebagai berikut:
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Menurunnya dolar terhadap rupiah berpengaruh positif terhadap ekonomi
dan pasar modal, sebaliknya kurs dolar terhadap rupiah berpengaruh negatif
kurang menarik karena adanya resiko nilai tukar yang menyebabkan penurunan
investasi dan mempunyai hubungan negatif terhadap saham. Sebaliknya hubungan
antara nilai kurs dolar terhadap rupiah bisa saja berpengaruh positif bila investor
berasal dari luar negeri yang menggunakan mata uang asing sehingga semakin
terdepresiasi mata uang rupiah akan menyebabkan investor luar cenderung melepas
mata uang asingnya untuk membeli saham yang harganya turun karena pengaruh kurs
mata uang.
Suku bunga memiliki hubungan negatif terhadap saham. Hal ini disebabkan
jika suku bunga meningkat maka orang akan lebih memilih menabung uangnya
daripada menginvestasikan modalnya dengan harapan resiko yang diharapkan lebih
kecil daripada dalam bentuk saham. Jika tingkat suku bunga menurun maka investor
lebih cenderung investasikan modalnya dalam bentuk saham sehingga pemintaan
akan saham meningkat dan harga sahan juga akan meningkat.
Tingkat inflasi yang tinggi memiliki hubungan negatif terhadap indeks harga
saham. Jika peningkatan biaya faktor produksi lebih tinggi dari peningkatan harga
yang dinikmati oleh perusahaan, profabilitas akan menurun dan menyebakan efek
kurang berkompetisi dengan efek lainnya dan mengakibatkan harga saham juga
berpengaruh.
Perubahan ekonomi mempunyai hubungan yang positif terhadap harga
saham, karena dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka meningkatkan
satu indikator meningkatnya pertumbuhan ekonomi adalah meningkatnya PDB yang
merupakan kenaikan output perkapita jangka panjang.
3.2 Hipotesis Penelitian
Dari kerangka konseptual dan landasan teori yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka hipotesis yang di ajukan adalah sebagai berikut :
H1 : Terdapat pengaruh makroekonomi yang di proxikan oleh apresiasi nilai tukar
dolar terhadap rupiah, apresiasi suku bunga SBI, apresiasi laju inflasi dan
pertumbuhan PDB signifikan baik secara simultan dan pengaruh negatif nilai
tukar dolar terhadap rupiah, suku bunga SBI dan laju inflasi sebaliknya pengaruh
positif PDB secara parsial terhadap indeks harga saham gabungan di Bursa Efek
Indonesia.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah diuraikan pada
bagian sebelumnya, maka penelitian ini adalah desain kausal. Husein (2003)
menjelaskan desain kausal berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel
mempengaruhi variabel lain. Desain kausal berguna juga pada penelitian yang
bersifat eksperimen dimana variabel independennya diperlakukan secara terkendali
oleh peneliti untuk melihat dampaknya pada variabel dependennya secara langsung.
4.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bursa efek Indonesia. Periode pengamatan
adalah tahun 2005, 2006, 2007, 2008 dan tahun 2009.
4.3. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek maupun
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006).
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks harga saham gabungan di
populasi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 180 pengamatan yang terdiri
dari 20 time series ( 2005:1 sampai 2009:4) dan 9 cross section ( 9 sektoral).
4.4. Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan jenis data yang diperlukan yaitu data sekunder dan sampel
yang digunakan, maka metode pemgumpulan data dalam penelitian ini digunakan
dengan teknik dokumentasi yang didasarkan pada Indeks list pada data tiga bulanan
yang di keluarkan oleh BEI (www.idx.co.id). Untuk data kurs dan suku bunga SBI
diperoleh dari situs resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id) serta Badan Pusat Statistik
(BPS) (www.bps.co.id) untuk data laju inflasi dan pertumbuhan PDB. Dikarenakan
data pertumbuhan PDB diterbitkan oleh BPS setiap 3 bulan sekali maka untuk data
nilai tukar dolar terhadap rupiah data yang digunakan adalah data pada setiap tanggal
terakhir transaksi 3 bulanan, dan untuk data suku bunga SBI dan inflasi juga
digunakan setiap 3 bulanan.
4.5. Definisi Operasional dan pengukuran Variabel
Variabel penelitian ini terdiri dari :
a. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi
oleh variabel independen (Husein,2003). Variabel dependen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah IHSG yang merupakan indikator yang menunjukkan pergerakan
b. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel yang lain (Husein,2003). Variabel independen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Makroekonomi adalah ilmu tentang perilaku perekonomian secara keseluruhan,
yang mempelajari output nasional, kesempatan kerja, harga dan perdagangan
internasional.
2. Nilai tukar dolar terhadap rupiah (NT) adalah kenaikan (apresiasi) atau penurunan
(depresiasi) nilai tukar dolar terhadap rupiah pada tanggal terakhir transaksi setiap
3 bulan dan dinyatakan dalam persen.
3. Suku bunga (SB) adalah sertifikat dari BI sebagai pengakuan utang jangka pendek
dengan sistem diskonto. SBI yang digunakan adalah SBI dengan jangka waktu 3
bulan dan dinyatakan dalam persen.
4. Inflasi (LI) adalah kenaikan harga umum secara terus menerus di ukur dengan
menggunakan laju inflasi 3 bulanan yang diperoleh dari BPS dan dinyatakan
dalam persen.
5. Pertumbuhan PDB (PDB) adalah proses kenaikan output per kapita jangka
Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel
No Variabel Definisi Operasional Indikator Skala
1 Makroekonomi Ilmu tentang perilaku
perekonomian secara keseluruhan
Nilai tukar, suku bunga, inflasi dan perubahan di hitung oleh BEI
Rasio
3 Nilai tukar (NT) Perubahan kenaikan atau
penurunan nilai dolar terhadap rupiah
Kenaikan nilai tukar BI yang diterbitkan pada tanggal terakhir setiap 3 bulan BPS setiap 3 bulanan
Rasio
6 Pertumbuhan PDB
(PDB)
4.6.1. Pengujian Asumsi Klasik
4.6.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
variabel independen dan variabel dependen keduanya mempunyai distribusi normal
ataukah tidak (Ghozali,2006). Model regresi yang baik adalah model yang memiliki
menggunakan uji Jarque-Berra (JB) dan metode grafik. Penelitian ini akan
menggunakan metode Jarqque-Berra Test yang dilakukan dengan menghitung
skewness dan kurtosis. Adapun formula uji statistik Jarqque-Berra :
J-B hitung =
Dimana :
S = skewness statistik
K = kurtosis
Jika nilai propability Jarque-Berra hitung < 0,05, maka hipotesis yang
menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya. Dan untuk
melihat apakah terdapat fenomena time variying volatility dalam penelitian ini maka
dilihat dari nilai koefisien Skewness dan Kurtosis. Menurut Widarjono (2005), data
memiliki fenomena time variying volatility apabila nilai skewness ≠ 0 dan nilai
kurtosis > 3.
4.6.1.2. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas dilakukan untuk memastikan bahwa tidak terdapat
multikolinieritas dalam data dari variabel-variabel independennya. Maksudnya adalah
tidak ada korelasi yang sempurna atau korelasi yang tidak sempurna tetapi relatif
tinggi pada variabel-variabel independennya (Husein,2003). Adanya multikolinieritas
sempurna akan berakibat bahwa koefisien regresi tidak dapat ditentukan dengan
koefisien regresi meskipun terhingga akan mempunyai standar deviasi yang besar
sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan mudah. Untuk mendeteksi adanya
multikolinieritas juga dapat menggunakan korelasi (r) dimana korelasi diatas 0,8
menunjukkan adanya multikolinieritas (Gujarati,2003).
Cara mengatasi multikolinieritas sebagai beikut: (a) transformasi tabel. Jika
terlihat pada model awal dengan adanya gejala multikolinieritas maka dapat
dilakukan transformasi variabel yang bersangkutan ke dalam bentuk logaritma natural
atau bentuk-bentuk transformasi lainnya, sehingga nilai t hitung yang dihasilkan
secara individu variabel independen dapat secara signifikan mempengaruhi variabel
dependen. (b) meningkatkan jumlah data sampel. Dengan adanya peningkatan jumlah
data sampel diharapkan mampu menurunkan standars error disetiap variabel
independen dan akan diperoleh model yang benar-benar bisa menaksir koefisien
regresi secara tepat (Arief,2006).
4.6.2. Pengujian Hipotesis
4.6.2.2. Analisis Data panel
Dalam penelitian ini menggunakan analisis data panel dan dengan
menggunakan software Eviews. Data panel merupakan gabungan data cross section
dengan time series. Kombinasi data time series dan cross section dapat meningkatkan
kualitas dan kuantitas data dengan pendekatan yang tidak mungkin dilakukan dengan
menggunakan slaah satu dari data tersebut (Gujarati,2003). Time series dalam