ANALISA KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL
DOTS LINGKAGE) DI KOTA MEDAN
TESIS
Oleh DILLA FITRIA 117032043/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
ANALISA KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS)DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL
DOTS LINGKAGE) DI KOTA MEDAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi Rumah Sakit pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DILLA FITRIA 117032043/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Tesis : ANALISA KINERJA PETUGAS TB
(TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL DOTS LINGKAGE) DI KOTA MEDAN
Nama Mahasiswa : Dilla Fitria Nomor Induk Mahasiswa : 117032043
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H) (dr. Heldy BZ, M.P.H
Ketua Anggota
)
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)
Telah diuji
Pada Tanggal : 12 Juni 2014 __
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H Anggota : 1. dr. Heldy BZ. M.P.H
PERNYATAAN
ANALISA KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL
DOTS LINGKAGE) DI KOTA MEDAN
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka
Medan, Juli 2014
ABSTRAK
Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan melakukan pengawasan dan pengendalian pengobatan penderita.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor predisposisi yaitu pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi; faktor pemungkin yaitu sarana dan prasarana atau fasilitas; maupun faktor penguat yaitu pengawasan dan pembinaan Direktur Rumah Sakit (kepemimpinan) terhadap kinerja petugas rumah sakit terhadap pelaksanaan strategi DOTS pada pasien TB di rumah sakit yang telah dilatih Program HDL (HospitalDOTSLingkage) di Kota Medan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petugas P2TB di rumah sakit yang telah memperoleh pelatihan program HDL dari Dinas Kesehatan terdiri dari 3 profesi yaitu dokter, paramedis, dan petugas laboratorium dengan total sebanyak 42 orang, maka seluruh populasi diambil sebagai sampel. Tahapan analisis data yaitu univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pengetahuan (p=0,009), motivasi (p=0,045), sarana dan prasarana (p=0,013) dan kepemimpinan (p=0,016) terhadap kinerja petugas dalam pelaksanaan strategi DOTS. Variabel yang paling dominan memengaruhi kinerja petugas adalah pengetahuan dengan nilai koefisien regresi 4,196. Petugas yang memiliki pengetahuan cukup, motivasi tinggi, sarana dan prasarana cukup dan kepemimpinan cukup memiliki probabilitas sebesar 99% untuk kinerja yang baik.
Diharapkan rumah sakit perlu berkomitmen dalam mendukung pelaksanaan P2TB dengan cara menginstruksikan, melakukan supervisi, memberikan reward, direktur langsung mengawasi pelaksanaan DOTS di rumah sakit. Dinas Kesehatan Kota Medan agar dapat melengkapi sarana maupun prasarana.
ABSTRACT
Tuberculosis is still a problem of public health in the world, especially in the developing countries, including Indonesia. DOTS (Directly Observed Treatment Short course) strategy recommended by WHO, is the most appropriate approach for this time and it should be seriously implemented by monitoring and controlling the medication for the patients.
The purpose of this study was to find out the relationship of the predisposing factor, such as knowledge, training, attitude and motivation; the enabling factor, such as facility and infrastructure; and the reinforcing factor, such as controlling and developing the Hospital Director (leadership) on the performance of hospital staff who has been trained through HDL (Hospital DOTS Lingkage) program in the implementation of DOTS strategy for the patients suffering from TB in the hospital in Medan.
The population of the study with cross sectional approach was all of the P2TB staff serving at the hospital who received HDL program training held by health service consisting of 3 profession as follows doctors, paramedics and laboratory staff which are 42 people in total, and all of them were selected to be the samples for this study. The data obtained were univariately, bivariately and multivariately analysed through multiple logistics regression tests.
The result of the study showed that knowledge (p=0.009), motivation (p=0.045), facility and infrastructure (p=0.013), and leadership (p=0.016) had influenced on the performance of staff in implementing the DOTS strategy. The most dominant variable influencing the performance of staff was knowledge with the value of coefficient regression of 4.196. The probability of staff with adequate knowledge, high motivation, adequate facility and infrastructure and adequate leadership to do good performance was 99%.
It is expected that the management of hospital need to have commitment in supporting the implementation of P2TB in order to motivate the performance of P2TB staff, to improve the attitude of the leader that she/he can direct motivate, directly and indirectly do a more effective supervision to the P2TB staff.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan
rahmat serta pertolongan-NYA yang berlimpah sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Analisa Kinerja
Petugas TB (Tuberculosis) di Rumah Sakit Yang Telah Dilatih Program HDL
(Hospital DOTS Lingkage) di Kota Medan”.
Penelitian tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat
Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
Dengan selesainya penyusunan tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
4. Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H, selaku Ketua Komisi Pembimbing dan
mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis hingga
penulisan tesis selesai.
5. Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H, selaku Ketua Komisi Penguji dan dr. Fauzi, S.K.M,
selaku Anggota Komisi Penguji yang telah memberi masukan guna
kesempurnaan penulisan tesis.
6. Drg. Hj. Usma Polita Nst, M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan Medan, yang
telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di rumah sakit
pelaksana DOTS yang telah dilatih HDL (Hospital DOTS Lngkage) di wilayah
Kota Medan.
7. Seluruh Direktur Rumah Sakit Pelaksana DOTS yang telah memberi izin untu
melakukan penelitian pada petugas TB yang telah dilatih program HDL
(Hospital DOTS Lngkage).
8. Seluruh staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat khususnya peminatan
Administrasi Rumah Sakit yang telah memberikan tambahan ilmu yang begitu
berharga untuk penulis.
9. Seluruh Staf Sekretariat Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Kesehatan
Masyarakat FKM USU yang telah banyak membantu penulis terutama yang
berkaitan dengan proses administrasi.
10. Terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang tercinta, Ibunda dr. Cut Zuliati
Muli, M.Kes, Ayahanda Drs. Suherman, MSP, adinda dr. Herwindo Ahmad,
11. Teristimewa buat suami terbaik Nufrizal, SE, dan ananda tersayang Naraya
Zivara Medina, atas pengertian, kesabaran, dan doa yang selalu terlantun dengan
ikhlas.
12. Rekan-rekan mahasiswa peminatan Administrasi Rumah Sakit Program Studi
IKM FKM USU 2011 atas bantuan dan kerjasamanya selama proses penulisan
tesis ini.
13. Pihak lain yang telah membantu kelancaran penulisan tesis ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.
Semoga semua kebaikan yang telah dicurahkan mendapatkan balasan yang
setimpal dari Allah SWT. Penulis menyadari atas segala keterbatasan penulisan tesis
ini, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan tesis ini, dengan harapan semoga tesis ini bermanfaat bagi
instansi rumah sakit dan instansi pelayanan kesehatan lainnya.
Medan, Juli 2014
RIWAYAT HIDUP
Dilla Fitria lahir pada tanggal 02 Juli 1986 di Kota Medan, anak pertama dari
2 bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. Suherman, MSP dan Ibunda dr.Cut Zuliati
Muli, M.Kes.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah
Dasar Kemala Bhayangkari Medan selesai tahun 1998, Sekolah Menengah Pertama
Negeri 1 Medan selesai tahun 2001, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Medan selesai
tahun 2004, dan melanjutkan pendidikan Strata 1 di Fakultas Kedokteran Universitas
Syah Kuala Banda Aceh.
Pada tahun 2011, penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2
Ilmu Kesehatan Masyarakat, minat studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas
DAFTAR ISI
2.1.1. Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia ... 10
2.1.2. Tujuan dan Sasaran Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia ... 12
2.1.3. Kebijakan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia ... 12
2.1.4. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014 ... 14
2.1.5. Organisasi Pelaksanaan Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia ... 14
2.2. Pelayanan Tuberkulosis dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 16
2.2.1. Kriteria Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 16
2.2.2. Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 17
2.2.3. Staf dan Pimpinan ... 18
2.2.4. Standar Ketenagaan Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 19
2.2.5. Pelatihan ... 24
2.3. Kinerja ... 28
2.3.1. Pengertian Kinerja ... 28
2.3.2. Penilaian Kinerja ... 29
2.3.3. Metode Penilaian Kinerja ... 31
2.4. Landasan Teori ... 40
3.7.2. Analisis Bivariat ... 53
3.7.3. Analisis Multivariat ... 54
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 55
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 55
4.1.1. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Medan ... 57
4.1.2. Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pembangunan Kesehatan ... 58
4.2. Karakteristik Responden ... 61
4.2.1. Distribusi Frekuensi Umur Responden ... 61
4.2.2. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden ... 61
4.2.3. Distribusi Frekuensi Masa Kerja Responden ... 62
4.2.4. Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden ... 62
4.4. Hubungan Faktor Predisposisi (Pengetahuan, Pelatihan, Sikap, Motivasi), Faktor Pemungkin (Sarana dan Prasarana), dan Faktor Penguat (Pengawasan dan Pembinaan Direktur RS) dengan Kinerja Petugas dalam Pelaksanaan Strategi
DOTS ... 84
4.4.1. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 84
4.4.2. Hubungan Pelatihan dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 85
4.4.3. Hubungan Sikap dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 86
4.4.4. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 86
4.4.5. Hubungan Sarana dan Prasarana dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 87
4.4.6. Hubungan Kepemimpinan dengan Kinerja Petugas RS terhadap Pelaksanaan Strategi DOTS ... 88
4.5. Faktor yang Paling Dominan Berhubungan dengan Kinerja Petugas ... 88
BAB 5. PEMBAHASAN ... 90
5.1. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Petugas ... 90
5.2. Hubungan Pelatihan dengan Kinerja Petugas ... 94
5.3. Hubungan Sikap dengan Kinerja Petugas ... 96
5.4. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Petugas ... 98
5.5. Hubungan Sarana dan Prasarana dengan Kinerja Petugas ... 100
5.6. Hubungan Kepemimpinan dengan Kinerja Petugas ... 101
5.7. Keterbatasan Penelitian ... 102
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 104
6.1 Kesimpulan ... 104
6.2 Saran ... 105
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
2.1. Uraian Tugas Program TB untuk Petugas di Rumah Sakit ... 23
3.1. Metode Pengukuran Variabel Independen dan Variabel Dependen ... 53
4.1. Daftar Alamat Rumah Sakit yang telah Dilatih HDL ... 57
4.2. Daftar Petugas P2TB yang Menjadi Responden ... 60
4.3. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Umur ... 61
4.4. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 62
4.5. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Masa Kerja ... 62
4.6. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 62
4.7. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dokter tentang Pelaksanaan Strategi DOTS ... 63
4.8. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Paramedis tentang Pelaksanaan Strategi DOTS ... 64
4.9. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Petugas Analis tentang Pelaksanaan Strategi DOTS ... 65
4.10. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Pengetahuan ... 66
4.11. Distribusi Frekuensi Jawaban Dokter terhadap Pelatihan tentang Pelaksanaan Strategi DOTS ... 66
4.13. Distribusi Frekuensi Jawaban Petugas Analis terhadap Pelatihan
tentang Pelaksanaan Strategi DOTS ... 68
4.14. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih
Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Pelatihan ... 69
4.15. Distribusi Frekuensi Sikap Dokter sebagai Petugas P2TB dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 69
4.16. Distribusi Frekuensi Sikap Paramedis sebagai Petugas P2TB dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 70
4.17. Distribusi Frekuensi Sikap Analis sebagai Petugas P2TB dalam
Pelaksanaan Strategi DOTSdi Rumah Sakit ... 71
4.18. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih
Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Sikap ... 72
4.19. Distribusi Frekuensi Motivasi Dokter sebagai Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 72
4.20. Distribusi Frekuensi Motivasi Paramedis sebagai Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 73
4.21. Distribusi Frekuensi Motivasi Analis sebagai Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS di Rumah Sakit ... 74
4.22. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih
Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Motivasi... 75
4.23. Distribusi Frekuensi Jawaban Dokter terhadap Sarana dan Prasarana . 76
4.24. Distribusi Frekuensi Jawaban Paramedis terhadap Sarana dan
Prasarana ... 77
4.25. Distribusi Frekuensi Jawaban Analis terhadap Sarana dan Prasarana .. 77
4.26. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih
Program HDL di Kota Medan Berdasarkan Sarana dan Prasarana ... 78
4.27. Distribusi Frekuensi Jawaban Dokter terhadap Kepemimpinan ... 78
4.30. Distribusi Frekuensi Petugas TB di Rumah Sakit yang telah Dilatih
Program HDL di Kota Medan Berdasarkan kepemimpinan ... 81
4.31. Distribusi Frekuensi Kinerja Dokter terhadap Pelaksanaan Strategi
DOTS ... 81
4.32. Distribusi Frekuensi Kinerja Paramedis terhadap Pelaksanaan
Strategi DOTS ... 82
4.33. Distribusi Frekuensi Kinerja Analis terhadap Pelaksanaan Strategi
DOTS ... 83
4.34. Distribusi Frekuensi Kinerja Petugas TB di Rumah Sakit yang telah
Dilatih Program HDL di Kota Medan ... 84
4.35. Tabulasi Silang Antara Pengetahuan dengan Kinerja Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS ... 85
4.36. Tabulasi Silang antara Pelatihan dengan Kinerja Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS ... 85
4.37. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Kinerja Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS ... 86
4.38. Tabulasi Silang antara Motivasi dengan Kinerja Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS ... 87
4.39. Tabulasi Silang antara Sarana dan Prasarana dengan Kinerja Petugas
dalam Pelaksanaan Strategi DOTS ... 87
4.40. Tabulasi Silang antara Kepemimpinan dengan Kinerja Petugas dalam
Pelaksanaan Strategi DOTS ... 88
4.41. Hasil Analisis Faktor yang Paling Dominan Berpengaruh terhadap
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Surat Izin Penelitian dari FKM ... 110
2. Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Medan ... 111
3. Kuesioner Penelitian ... 112
4. Master Tabel ... 129
5. Hasil Analisis Data ... 131
ABSTRAK
Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan melakukan pengawasan dan pengendalian pengobatan penderita.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor predisposisi yaitu pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi; faktor pemungkin yaitu sarana dan prasarana atau fasilitas; maupun faktor penguat yaitu pengawasan dan pembinaan Direktur Rumah Sakit (kepemimpinan) terhadap kinerja petugas rumah sakit terhadap pelaksanaan strategi DOTS pada pasien TB di rumah sakit yang telah dilatih Program HDL (HospitalDOTSLingkage) di Kota Medan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petugas P2TB di rumah sakit yang telah memperoleh pelatihan program HDL dari Dinas Kesehatan terdiri dari 3 profesi yaitu dokter, paramedis, dan petugas laboratorium dengan total sebanyak 42 orang, maka seluruh populasi diambil sebagai sampel. Tahapan analisis data yaitu univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pengetahuan (p=0,009), motivasi (p=0,045), sarana dan prasarana (p=0,013) dan kepemimpinan (p=0,016) terhadap kinerja petugas dalam pelaksanaan strategi DOTS. Variabel yang paling dominan memengaruhi kinerja petugas adalah pengetahuan dengan nilai koefisien regresi 4,196. Petugas yang memiliki pengetahuan cukup, motivasi tinggi, sarana dan prasarana cukup dan kepemimpinan cukup memiliki probabilitas sebesar 99% untuk kinerja yang baik.
Diharapkan rumah sakit perlu berkomitmen dalam mendukung pelaksanaan P2TB dengan cara menginstruksikan, melakukan supervisi, memberikan reward, direktur langsung mengawasi pelaksanaan DOTS di rumah sakit. Dinas Kesehatan Kota Medan agar dapat melengkapi sarana maupun prasarana.
ABSTRACT
Tuberculosis is still a problem of public health in the world, especially in the developing countries, including Indonesia. DOTS (Directly Observed Treatment Short course) strategy recommended by WHO, is the most appropriate approach for this time and it should be seriously implemented by monitoring and controlling the medication for the patients.
The purpose of this study was to find out the relationship of the predisposing factor, such as knowledge, training, attitude and motivation; the enabling factor, such as facility and infrastructure; and the reinforcing factor, such as controlling and developing the Hospital Director (leadership) on the performance of hospital staff who has been trained through HDL (Hospital DOTS Lingkage) program in the implementation of DOTS strategy for the patients suffering from TB in the hospital in Medan.
The population of the study with cross sectional approach was all of the P2TB staff serving at the hospital who received HDL program training held by health service consisting of 3 profession as follows doctors, paramedics and laboratory staff which are 42 people in total, and all of them were selected to be the samples for this study. The data obtained were univariately, bivariately and multivariately analysed through multiple logistics regression tests.
The result of the study showed that knowledge (p=0.009), motivation (p=0.045), facility and infrastructure (p=0.013), and leadership (p=0.016) had influenced on the performance of staff in implementing the DOTS strategy. The most dominant variable influencing the performance of staff was knowledge with the value of coefficient regression of 4.196. The probability of staff with adequate knowledge, high motivation, adequate facility and infrastructure and adequate leadership to do good performance was 99%.
It is expected that the management of hospital need to have commitment in supporting the implementation of P2TB in order to motivate the performance of P2TB staff, to improve the attitude of the leader that she/he can direct motivate, directly and indirectly do a more effective supervision to the P2TB staff.
1.1Latar Belakang
Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di
Indonesia telah dimulai sejak diadakan Simposium Pemberantasan TB Paru di Ciloto
pada tahun 1969. Namun sampai sekarang perkembangannya belum menunjukkan
hasil yang menggembirakan. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2001 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes
RI, TB berkonstribusi sekitar 9,4% terhadap total kematian di Indonesia. Dengan
demikian TB menempati peringkat ketiga penyebab kematian utama di Indonesia
setelah penyakit sistem kardiovaskuler (26,4%) dan penyakit sistem pernapasan
(12,7%). Pada kelompok penyakit infeksi, tuberkulosis berada pada tingkat pertama
penyebab kematian diatas tifus (4,3%) dan diare (3,8%)
(indonesian-publichealth.com).
Menurut laporan WHO (2009), Indonesia merupakan penyumbang penyakit
TB terbesar nomor lima di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan dan Nigeria.
(ppti.info, 2012)
Diperkirakan saat ini jumlah pasien Tuberkulosis di Indonesia sekitar 5,8%
dari total jumlah pasien Tuberkulosis di dunia dan setiap tahun terdapat 429.730
kasus baru dan kematian 62.246 orang. Tuberkulosis paru merupakan salah satu
Survei yang dilakukan National Network of Health (NNH) pada tahun 2005
menunjukkan kasus kematian Tuberkulosis menempati urutan ketiga setelah penyakit
kardiovaskular dan penyakit infeksi saluran pernafasan. Berdasarkan laporan Global
Tuberculosis Control Report WHO 2011 prevalensi TB diperkirakan sebesar 289 per
100.000 penduduk, insidensi TB sebesar 189 per 100.000 penduduk, dan angka
kematian sebesar 27 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2012).
Pada tahun 2012 penderita suspek TB di Sumatera Utara mencapai 172.767
orang dan dinyatakan positif TB sebanyak 18.257 orang. Dari 25 kabupaten dan kota
di Sumatera Utara, kasus TB di Medan yakni jumlah suspek TB 13.583 orang dan
sebanyak 1.717 orang yang dinyatakan positif TB (Dinkes Propsu, 2012).
Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia, strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO merupakan
pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus dapat dilaksanakan secara
sungguh-sungguh. Oleh karena itu peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak
yang terkait, sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan
terpadu yang bersifat nasional, yakni Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian
Tuberkulosis (Gerdunas TB) yang diresmikan pada tanggal 24 maret 1999 (Depkes,
2002).
Strategi DOTS merupakan suatu cara untuk menjamin keberhasilan program
pengobatan penderita Tuberkulosis Paru dengan ketaatan dan keteraturan penderita
selama masa pengobatan, yaitu dengan melakukan pengawasan dan pengendalian
komitmen politik, pemeriksaan laboratorium, ketersediaan obat, pencatatan pelaporan
dan pengawasan minum obat.
Pada awal penerapan strategi DOTS di Indonesia yang dimulai pada tahun
1995, Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan di masyarakat. Namun dengan
berjalannya waktu, strategi DOTS telah dimulai dikembangkan di Balai Pengobatan
Penyakit Paru-paru (BP4) yang saat ini berkembang menjadi Balai Kesehatan Paru
Masyarakat (BKPM) dan di rumah sakit, baik rumah sakit milik pemerintah maupun
swasta. Hasil survei prevalensi tuberkulosis tahun 2004 menunjukkan bahwa pola
pencarian pengobatan pasien tuberkulosis ke rumah sakit ternyata cukup tinggi, yaitu
sekitar 60% pasien tuberkulosis ketika pertama kali sakit mencari pengobatan ke
rumah sakit. Dengan demikian melibatkan rumah sakit dalam pelaksanaan strategi
DOTS menjadi satu upaya penting dan sangat strategis karena akan memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap upaya penemuan pasien tuberkulosis
(Depkes,2007).
Untuk menanggulangi masalah TB, strategi DOTS harus diperluas
jangkauannya pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait
termasuk rumah sakit pemerintah dan swasta, dengan mengikutsertakan secara aktif
semua pihak dalam kemitraan yang bersinergi untuk penanggulangan TB. Program
ini dikenal sebagai program HDL (Hospital DOTS Lingkage). Selain bertujuan untuk
menanggulangi masalah TB, program HDL saat ini telah diwajibkan dimiliki oleh
Pada saat ini penanggulangan TB dengan strategi DOTS di rumah sakit baru
berkisar 20% dengan kualitas yang bervariasi. Pada kenyataannya, strategi DOTS di
rumah sakit masih merupakan tantangan besar bagi keberhasilan Indonesia dalam
mengendalikan tuberkulosis. Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh
Team Tuberculosis External Monitoring Mission pada tahun 2005 menunjukkan
bahwa angka penemuan kasus Tuberkulosis di rumah sakit cukup tinggi sekitar 60%,
tetapi angka keberhasilan pengobatan rendah (umumnya masih di bawah 50%)
dengan angka putus berobat yang masih tinggi (50%-80%). Kondisi tersebut
berpotensi untuk menciptakan masalah besar yaitu peningkatan kemungkinan terjadi
resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (MDR-TB) (Kemenkes RI, 2010).
Untuk mengetahui keberhasilan rumah sakit dalam melaksanakan strategi
DOTS, pada bulan Juli 2009 telah dilakukan penilaian terhadap rumah sakit tingkat
provinsi di seluruh Indonesia (jumlah 18 rumah sakit). Data hasil penilaian
menunjukkan bahwa hanya 17% rumah sakit yang telah melakukan strategi DOTS
dengan hasil optimal, 44% rumah sakit keberhasilan sedang dan 39% rumah sakit
keberhasilan kurang (Kemenkes RI, 2010).
Data hasil penilaian juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antara
komitmen direktur rumah sakit terhadap keberhasilan penyelenggaraan DOTS di
rumah sakit. Sementara dari jumlah 59% rumah sakit yang telah memiliki Tim
DOTS, hanya 28% tim DOTS yang dibentuk bekerja optimal. Sementara 72% rumah
dokter spesialis, paramedik, petugas laboratorium maupun farmasi), namun tidak
dimanfaatkan secara baik oleh pihak manajemen rumah sakit (Kemenkes RI, 2010).
Sampai akhir tahun 2011 jumlah rumah sakit di Sumatera Utara adalah 191
unit dengan rincian 57 unit Rumah sakit pemerintah dan 134 rumah sakit swasta
(Dinkes Propsu 2012). Pada awalnya Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara telah
melatih program HDL di 25 rumah sakit, baik rumah sakit pemerintah maupun
swasta. Namun pada pertengahan Desember 2012, wewenang untuk menjalankan
program HDL ini diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan. Dinas Kesehatan
Kota Medan telah melaksanakan program strategi DOTS di Rumah Sakit Pemerintah
dan swasta berjumlah 25 rumah sakit. (Dinkes Kota Medan, 2012). Namun dari 25
rumah sakit yang telah dilatih program HDLoleh Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera
Utara terdapat rumah sakit yang belum menjalankan program strategi DOTS ini.
Sehingga dapat dikatakan bahwa upaya penanggulangan tuberkulosis dengan strategi
DOTS di Medan secara keseluruhan belum mencapai hasil yang diharapkan. Dari 25
rumah sakit tersebut diketahui 17 rumah sakit telah menjalankan program HDL, 7
rumah sakit belum menjalankan program HDL dengan sempurna dan 1 rumah sakit
telah tutup yaitu rumah sakit Tembakau Deli.
Petugas TB rumah sakit yang dilatih program HDL terdiri dari dokter,
paramedis, dan petugas laboratorium. Petugas TB rumah sakit yang telah dilatih oleh
Dinas Kesehatan harus melakukan pencatatan sesuai dengan standar operasional yang
perkembangan kasus TB yang terdapat di rumah sakit tersebut. Hal-hal yang harus
dilaporkan dari rumah sakit kepada Dinas Kesehatan Kota Medan tersebut antara lain:
Jumlah pasien TB secara keseluruhan (kasus TB BTA +/-), apakah strategi DOTS di
rumah sakit tersebut berjalan atau tidak dengan cara melihat jumlah pasien yang
sembuh (angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan), jumlah pasien yang putus
obat (drop-out), jumlah pasien konversi, dan juga melihat hasil pelaporan dari
laboratorium.
Petugas TB rumah sakit harus aktif melakukan semua kegiatan
penanggulangan TB sesuai dengan strategi DOTS. Semua kegiatan yang dilakukan
harus sesuai dengan materi program penanggulangan TB yang sudah diberikan pada
saat pelatihan. Menurut Dinas Kesehatan Kota Medan, indikator keaktifan petugas
TB rumah sakit dilihat dari : pelaporan yang harus tepat waktu, seluruh pemeriksaan
dan pengobatan TB harus sesuai dengan tahapan strategi DOTS, dan tidak ada pasien
yang putus obat (drop-out).
Apabila petugas TB rumah sakit tidak memberikan laporan kepada Dinas
Kesehatan Kota Medan maka dapat dikatakan petugas TB tersebut tidak aktif dalam
melaksanakan program HDL walaupun petugas TB rumah sakit tersebut telah
melakukan pemeriksaan dan pengobatan TB sesuai dengan tahapan strategi DOTS.
Dinas Kesehatan Kota Medan melakukan supervisi ke rumah sakit untuk
melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan program HDL.
Menurut Kemenkes RI 2011, dalam menangani pasien TB ada standar yang
tempat. Standar tersebut disebut sebagai ISTC (International Standard for
Tuberculosis Care). ISTC merupakan standar yang harus dipenuhi dalam menangani
pasien tuberkulosis, yang terdiri dari 6 standar untuk penegakan diagnosis, 11 standar
untuk pengobatan dan 4 standar untuk fungsi tanggung jawab kesehatan masyarakat.
Dengan kata lain ketentuan keaktifan di dalam tatalaksana standar tuberkulosis adalah
petugas harus melaksanakan anamnesa, pemeriksaan, diagnosa, pengobatan,
penyuluhan dan melaksanakan pencatatan pelaporan. Dari standar TB tersebut dapat
diketahui tingkat keaktifan petugas rumah sakit dalam pelaksanaan strategi DOTS.
Dengan pelaksanaan standar TB tersebut rumah sakit akan dapat memberikan
pelayanan maksimal agar dapat memberikan kepuasan pada pasien, sehingga dapat
juga didapatkan data penemuan kasus maupun data keberhasilan pengobatan juga
agar mencegah terjadinya multi- drugs resistance of Tuberculosis (MDR-TB). Namun
menurut Dinas Kesehatan Kota Medan, masih ada rumah sakit yang belum
mengirimkan pelaporan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan mengenai jalannya
program strategi DOTS di rumah sakit tersebut, dan ini dapat dikatakan bahwa
petugas Program Pemberantasan Tuberkulosis (P2TB) di rumah sakit tersebut masih
belum berjalan dengan sempurna, walaupun telah diberikan pelatihan program HDL.
Oleh karena masih adanya rumah sakit yang belum memberikan pelaporan kepada
Dinas Kesehatan Kota Medan, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian
untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi kinerja petugas rumah sakit terhadap
Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan faktor predisposisi (Predisposing Factors), faktor pemungkin
(Enabling Factors), maupun faktor penguat (Reinforcing Factors) dengan kinerja
petugas rumah sakit dalam pelaksanaan strategi DOTS pada pasien TB di rumah sakit
yang telah dilatih program HDL di Kota Medan.
1.2Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian ini adalah masih rendahnya kinerja petugas
TB rumah sakit yang sudah dilatih dengan strategi DOTS di Kota Medan.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor predisposisi
(Predisposing Factors) yaitu pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi; faktor
pemungkin (Enabling Factors) yaitu sarana dan prasarana atau fasilitas; maupun
faktor penguat (Reinforcing Factors) yaitu pengawasan dan pembinaan Direktur
Rumah Sakit (kepemimpinan) dengan kinerja petugas rumah sakit terhadap
pelaksanaan strategi DOTS pada pasien TB di rumah sakit yang telah dilatih Program
HDL di Kota Medan.
1.4 Hipotesis
Ada hubungan faktor predisposisi (Predisposing Factors) yaitu pengetahuan,
pelatihan, sikap, motivasi; faktor pemungkin (Enabling Factors) yaitu sarana dan
pengawasan dan pembinaan Direktur Rumah Sakit (kepemimpinan) dengan kinerja
petugas rumah sakit terhadap pelaksanaan strategi DOTS pada pasien TB di rumah
sakit yang telah dilatih Program HDL di Kota Medan.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan dan informasi bagi Rumah Sakit mengenai kinerja petugas
P2TB untuk meningkatkan upaya-upaya pelaksanaan strategi DOTS pada pasien
TB di Rumah Sakit Kota Medan.
2. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
salah satu sumbangan pemikiran dan sebagai masukan untuk meningkatkan
keberhasilan program Hospital DOTS Lingkage.
3. Bagi peneliti akan menambah pengalaman dan pengetahuan di bidang penelitian
2.1. Tuberkulosis
2.1.1. Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia
Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman
penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang
kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru
(BP-4). Sejak tahun 1969 pengendalian dilakukan secara nasional melalui Puskesmas.
Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar Isonoazid
(INH), Asam Para Amino Salisilat (PAS) dan Streptomisin selama satu sampai dua
tahun. Asam Para Amino Salisilat (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid.
Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH,
Rifampisin, Pirazinamid dan Ethambutol selama 6 bulan.
Pada tahun 1995, program nasional pengendalian TB mulai menerapkan
strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000
strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh Fasilitas pelayanan kesehatan
terutama Puskesmas yang diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.
Menurut laporan WHO (2009), Indonesia merupakan negara dengan pasien
TB terbanyak ke-5 di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan dan Nigeria (ppti.info,
2012). Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 5,8% dari total jumlah
pasien TB didunia. Diperkirakan, setiap tahun ada 429.730 kasus baru dan kematian
Faktor yang memengaruhi kemungkinan seseorang menjadi sakit TB adalah
daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV (Human Immunodeficiency
Virus) dan malnutrisi (gizi buruk). HIV merupakan factor resiko utama bagi yang
terinfeksi TB menjadi sakit. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas system daya
tahan tubuh seluler (cellular immunity). Jika terjadi infeksi penyerta (opportunistic)
seperti tuberkulosis, pasien akan menjadi sakit parah bahkan bias mengakibatkan
kematian. Bila jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat, maka pasien TB akan
meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.
Menurut WHO (2009), prevalensi HIV pada kelompok TB di Indonesia sekitar 2.8%.
Kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance) diantara
kasus TB baru sebesar 2%, sementara MDR diantara kasus pengobatan ulang sebesar
20% (Kemenkes RI, 2011).
Hasil Survei Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa
angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara
Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah,
yaitu: 1) wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk;
2) wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk; 3)
wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk.
Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000
Sampai tahun 2009, keterlibatan dalam program Pengendalian TB dengan
Strategi DOTS meliputi 98% Puskesmas, sementara rumah sakit umum, Balai
Kesehatan Paru Masyarakat mencapai sekitar 50%.
2.1.2. Tujuan dan Sasaran Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia
Pengendalian tuberkulosis di Indonesia bertujuan untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sasaran strategi nasional pengendalian TB ini mengacu pada rencana strategis
kementerian kesehatan dari 2009 sampai dengan tahun 2014 yaitu menurunkan
prevalensi TB dari 235 per 100.000 penduduk menjadi 224 per 100.000 penduduk.
Sasaran keluaran adalah: (1) meningkatkan prosentase kasus baru TB paru (BTA
positif) yang ditemukan dari 73% menjadi 90%; (2) meningkatkan prosentase
keberhasilan pengobatan kasus baru TB paru (BTA positif) mencapai 88%; (3)
meningkatkan prosentase provinsi dengan CDR di atas 70% mencapai 50%; (4)
meningkatkan prosentase provinsi dengan keberhasilan pengobatan di atas 85% dari
80% menjadi 88%.
2.1.3. Kebijakan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia
Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas
desentralisasi dalam kerangka otonomi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat
manajemen program, yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan
Pengendalian TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS dan
memperhatikan strategi Global Stop TB partnership. Penguatan kebijakan ditujukan
untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program pengendalian TB.
Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan
mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu
memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB.
Penemuan dan pengobatan dalam rangka pengendalian TB dilaksanakan oleh
seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes), meliputi Puskesmas, Rumah
Sakit Pemerintah Balai/Klinik Pengobatan, Dokter Praktek Swasta (DPS) dan fasilitas
kesehatan lainnya.
Pengendalian TB dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama dan
kemitraan diantara sektor pemerintah, non pemerintah, swasta dan masyarakat dalam
wujud Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian TB (Gerdunas TB).
Peningkatan kemampuan laboratorium di berbagai tingkat pelayanan ditujukan
untuk peningkatan mutu dan akses layanan. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk
pengendalian TB diberikan secara cuma-cuma dan dikelola dengan manajemen
logistik yang efektif demi menjamin ketersediaannya.
Ketersediaan tenaga yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk
meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Pengendalian TB lebih
diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan lainnya terhadap TB.
Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.
2.1.4. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari 7 strategi,
antara lain :
a. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu
b. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan masyarakat
miskin serta rentan lainnya
c. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat (sukarela),
perusahaan dan swasta melalui pendekatan Public-Private Mix dan menjamin
kepatuhan terhadap International Standards for TB Care.
d. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
e. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan manajemen
program pengendalian TB
f. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program TB
g. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi strategis.
2.1.5 Organisasi Pelaksanaan Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia Organisasi pelaksanaan strategi nasional pengendalian TB di Indonesia dilihat
melalui aspek manajemen program antara lain :
a. Tingkat Pusat
Upaya pengendalian TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional
Pengendalian Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum kemitraan
penanggung jawab teknis upaya pengendalian TB. Dalam pelaksanaannya
program TB secara Nasional dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, cq. Sub Direktorat Tuberkulosis.
b. Tingkat Propinsi
Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim
Pengarah dan Tim Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan
kebutuhan daerah. Dalam pelaksanaan program TB di tingkat propinsi
dilaksanakan Dinas Kesehatan Propinsi.
c. Tingkat Kabupaten/Kota
Di tingkat kabupaten/kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten/kota yang terdiri
dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan
dengan kebutuhan kabupaten/kota. Dalam pelaksanaan program TB di tingkat
Kabupaten/Kota dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Tatalaksana pasien TB dilaksanakan oleh Puskesmas, Rumah Sakit,
BP4/Klinik dan Dokter Praktek Swasta.
a. Puskesmas
Dalam pelaksanaan di Puskesmas, dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana
(KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM), dengan
dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS).
Pada keadaan geografis yang sulit, dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri
b. Rumah Sakit
Rumah Sakit Umum, Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM), dan klinik
lainnya dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB.
c. Dokter Praktek Swasta (DPS) dan fasilitas layanan lainnya. Secara umum konsep
pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah
sakit dan Balai Pengobatan (klinik) (KemenKes RI, 2011).
2.2 Pelayanan Tuberkulosis dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit
Pelayanan TB menggunakan strategi DOTS disediakan dan diberikan kepada
pasien sesuai dengan ilmu pengetahuan kedokteran mutakhir dan standar yang telah
disepakati oleh seluruh organisasi profesi di dunia, serta memanfaatkan kemampuan
dan fasilitas rumah sakit secara optimal.
Tujuan pelayanan TB dengan strategi DOTS di rumah sakit adalah untuk
meningkatkan mutu pelayanan medis TB di rumah sakit melalui penerapan strategi
DOTS secara optimal dengan mengupayakan kesembuhan dan pemulihan pasien
melalui prosedur dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan serta memenuhi
etika kedokteran.
2.2.1 Kriteria Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit
Setiap pelayanan TB dengan strategi DOTS bagi pasien TB harus berdasarkan
standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh Program Penanggulangan Tuberkulosis
Setiap pelayanan TB berdasarkan International Standard for Tuberculosis
Care (ISTC) atau Standar Diagnosis, Pengobatan dan Tanggung Jawab kesehatan
Masyarakat.(KemenKes RI,2010).
2.2.2 Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364/Menkes/SK/2009 tentang Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis mengamanatkan bahwa penanggulangan
terhadap TB merupakan program nasional yang wajib dilakukan oleh setiap institusi
pelayanan kesehatan dan menjadi dasar bagi semua pelaksanaan penanganan TB.
Mengingat pelaksanaan pelayanan TB di rumah sakit sangat rumit dengan
keterlibatan berbagai disiplin ilmu kedokteran serta penunjang medik, baik di
poliklinik maupun bangsal bagi pasien rawat jalan dan rawat inap serta rujukan
pasien dan spesimen. Maka dalam pengelolaan TB di rumah sakit dibutuhkan
manajemen tersendiri dengan dibentuknya Tim DOTS di Rumah Sakit.
Tim DOTS di Rumah Sakit dipimpin oleh seorang Direktur/Wakil Direktur
berfungsi sebagai administrator, yang berfungsi sebagai :
a. Membuat kebijakan dan melaksanakannya.
b. Mengintegrasikan, merencanakan, dan mengkoordinasikan pelayanan.
c. Melaksanakan pengembangan staf dan pendidikan/pelatihan.
d. Melakukan pengawasan terhadap penerapan standar pelayanan medis/kedokteran
e. Berkoordinasi dengan Komite Medik untuk memfasilitasi implemantasi etika
kedokteran dan mutu profesi, penetapan Standar Pelayanan Medis dan Standar
Pelayanan Operasional.
f. Membentuk Tim DOTS yang dipimpin oleh Ketua/pimpinan yang berfungsi :
Pengatur administrasi, pengatur pengembangan staf, pengawas kualitas pelayanan
agar sesuai dengan standar pelayanan medis, pengawas bahwa penanganan pasien
TB di rumah sakit menggunakan strategi DOTS dan jejaring internal berjalan
optimal serta aktif melaksanakan jejaring eksternal, pengawas bahwa pencatatan
dan pelaporan baik kepada Direktur maupun Dinas Kesehatan/Kota semuanya
terlaksana dengan benar dan tepat waktu.
2.2.3 Staf dan Pimpinan
Penempatan penetapan, hak dan kewajiban staf medis untuk pelayanan TB
dengan strategi DOTS oleh pimpinan rumah sakit. Terdapat pengorganisasian
kelompok Staf Medis Fungsional (SMF) berasal dari unit terkait dengan pasien TB
dalam wadah fungsional yaitu Tim DOTS. Tim DOTS mempunyai uraian tugas,
fungsi dan kewajiban yang jelas. Staf medis dalam Tim DOTS berperan aktif dalam
membuat Standar Prosedur Operasional (SPO) bagi pelayanan pasien TB.
Adapun kriteria staf dan pimpinan antara lain :
a. Pimpinan rumah sakit membentuk Tim DOTS sebagai wadah khusus dalam
pengelolaan pasien TB di rumah sakit.
b. Pembentukan Tim DOTS di rumah sakit bersifat fungsional ditetapkan melalui
c. Tim DOTS di rumah sakit berada di bawah koordinasi Direktur/Wakil Direktur
Pelayanan Medik.
Tugas, fungsi, serta wewenang Tim DOTS di rumah sakit ditetapkan
berdasarkan kompetensi dan diatur sebagai berikut:
a. Ketua Tim DOTS adalah seorang dokter spesialis paru atau penyakit dalam atau
dokter spesialis atau dokter umum yang bersertifikat Pelatihan Pelayanan
Tuberkulosis dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit (PPTS DOTS).
b. Ketua Tim DOTS merangkap sebagai anggota, dimana anggotanya terdiri dari
SMF Paru, SMF Penyakit Dalam, SMF Kesehatan Anak, SMF Lainnya bila ada
(Bedah, Obgyn, Kulit dan Kelamin, Saraf, dll), Instalasi Laboratorium (PA, PK,
Mikro), Instalasi Farmasi, perawat rawat inap dan perawat rawat jalan terlatih,
petugas pencatatan dan pelaporan, serta petugas Penyuluhan Kesehatan
Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS).
2.2.4 Standar Ketenagaan Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit
Standar ketenagaan pelayanan TB dengan strategi DOTS di Rumah Sakit
antara lain :
a. Rumah Sakit Umum Pemerintah
1) RS Kelas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6
dokter, 3 perawat/petugas TB, dan 1 tenaga laboratorium
2) RS Kelas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6
3) RS Kelas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4
dokter, 2 perawat/petugas TB, dan 1 tenaga laboratorium
4) RS Kelas D : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2
dokter, 2 perawat/petugas TB, dan 1 tenaga laboratorium
b. Rumah Sakit Swasta : menyesuaikan.
c. Dokter Praktek Swasta : minimal telah dilatih.
Apabila rumah sakit tidak dapat membentuk Tim DOTS karena keterbatasan
tenaga profesional, maka paling sedikit ada 3 orang staf rumah sakit yang
menjalankan tugas untuk mengkoordinir pelaksanaan strategi DOTS di rumah sakit,
yaitu : seorang Dokter, seorang Perawat (paramedis), seorang Petugas Laboratorium
(Kemenkes RI, 2010).
Dokter ataupun Dokter Spesialis bertugas untuk melakukan anamnesa,
pemeriksaan fisik pada pasien, penegakkan diagnosa hingga pemberian obat, juga
memberikan penjelasan (edukasi dan informasi) mengenai TB dan pentingnya
kepatuhan minum obat. Perawat (paramedis) bertugas untuk memberikan obat setelah
diagnosis ditegakkan oleh dokter, memberikan penjelasan (edukasi dan informasi)
mengenai TB dan pentingnya kepatuhan minum obat, juga melakukan pencatatan dan
pelaporan. Petugas laboratorium bertugas memeriksa sputum pasien TB dan
melakukan pencatatan dan pelaporan.
Ketiga petugas tersebut di atas harus bersertifikat Pelatihan Pelayanan
Tugas Tim DOTS di rumah sakit adalah menjamin terselenggaranya
pelayanan TB dengan membentuk unit DOTS di rumah sakit sesuai dengan strategi
DOTS termasuk sistem jejaring internal dan eksternal (KemenKes RI, 2011).
Petugas TB rumah sakit di Medan yang telah dilatih oleh Dinas Kesehatan
Propinsi Sumatera Utara harus melakukan pencatatan sesuai dengan standar
operasional yang ada dan memberikan pelaporan kepada Dinas Kesehatan Kota
Medan mengenai perkembangan kasus TB yang terdapat di rumah sakit tersebut.
Hal-hal yang harus dilaporkan dari rumah sakit kepada Dinas Kesehatan Kota Medan
tersebut antara lain :
a. Jumlah pasien TB secara keseluruhan (kasus TB BTA +/-)
b. Apakah strategi DOTS di rumah sakit tersebut berjalan atau tidak, dengan melihat
jumlah pasien yang sembuh (angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan),
jumlah pasien yang putus obat (drop-out), jumlah pasien konversi.
c. Hasil laboratorium
Petugas TB rumah sakit harus aktif melakukan semua kegiatan
penanggulangan TB sesuai dengan strategi DOTS. Semua kegiatan yang dilakukan
harus sesuai dengan materi saat pelatihan program penanggulangan TB yang sudah
diberikan dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara pada saat pelatihan. Menurut
Dinas Kesehatan Kota Medan, indikator keaktifan petugas TB rumah sakit dilihat
a. Pelaporan yang harus tepat waktu
b. Seluruh pemeriksaan dan pengobatan TB harus sesuai dengan tahapan strategi
DOTS
c. Tidak ada pasien yang putus obat (drop-out)
Apabila petugas TB rumah sakit tidak memberikan laporan kepada Dinas
Kesehatan Kota Medan maka dapat dikatakan petugas TB tersebut belum bekerja
secara maksimal dalam melaksanakan program HDL walaupun petugas TB rumah
sakit tersebut telah melakukan pemeriksaan dan pengobatan TB sesuai dengan
tahapan strategi DOTS.
Selain petugas TB rumah sakit, Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara
juga melatih supervisor untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan
program HDL. Untuk tingkat Kabupaten/Kota, kriteria supervisor tersebut adalah :
a. Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan.
b. Jumlah tergantung beban kerja yang secara umun ditentukan jumlah puskesmas,
RS dan fasyankes lain di wilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya.
Secara umum seorang supervisor membawahi 10-20 Fasyankes.
c. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 Fasyankes dapat memiliki lebih dari
Tabel 2.1. Uraian Tugas Program TB untuk Petugas di Rumah Sakit
No Uraian Tugas Dokter Paramedis Petugas
Lab 1 MENEMUKAN PENDERITA :
a. Memberikan penyuluhan tentang TB kepada pasien TB, keluarga dan PMO b. Menjaring suspek (penderita tersangka)
TB
c. Mengumpul dahak untuk pemeriksaan pasien TB
d. mengisi buku daftar suspek Form TB.06 e. Membuat sediaan hapus dahak.
f. Mewarnai dan membaca sediaan dahak, mengirim balik hasil bacaan, mengisi buku register laboratorium (TB.04), dan menyimpan sediaan untuk di cross check
g. Menegakkan diagnosis TB sesuai protap h. Membuat klasifikasi/tipe penderita i. Mengisi kartu penderita (Form TB.01)
dan kartu identitas penderita (Form TB.02)
j. Memeriksa kontak terutama kontak dengan penderita TB BTA positif
k. Memantau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah penderita TB yang ditemukan
2 MEMBERIKAN PENGOBATAN : a. Menetapkan jenis paduan obat
b. Memberikan obat tahap intensif dan tahap lanjutan
c. Mencatat pemberian obat tersebut dalam kartu penderita (Form TB.01) d. Menentukan PMO bersama penderita e. Memberikan KIE (penyuluhan) pada
penderita, keluarga dan PMO
Tabel 2.1. (Lanjutan)
No Uraian Tugas Dokter Paramedis Petugas
Lab f. Melakukan pemeriksaan dahak ulang
untuk follow-up pengobatan
g. Mengenal efek samping obat dan komplikasi lainnya serta cara penanganannya
h. Menentukan hasil pengobatan
i. Mencatat hasil pengobatan di kartu penderita
3 PENANGANAN LOGISTIK :
a. Menjamin tersedianya OAT di RS b. Menjamin tersedianya bahan pelengkap
lainnya (formulir, reagens, dll)
X
X X
4 PENGELOLAAN LABORATORIUM : a. Memelihara mikroskop dan alat
laboratorium lainnya
b. Menangani limbah laboratorium
c. Melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja
X
X X
5 JAGA MUTU PELAKSANAAN SEMUA KEGIATAN No. 1 s/d 4
X
Sumber : Kemenkes RI, 2011
2.2.5 Pelatihan
Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan
keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas.
Konsep pelatihan dalam program TB, terdiri dari :
a. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training)
Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi
DOTS dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan
(Fakultas Kedokteran, Fakultas Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
b. Pelatihan dalam tugas (in service training)
Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program : (1) Pelatihan
dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) yang terdiri
dari pelatihan penuh, pelatihan ulangan (retraining), pelatihan formal (yang
dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tapi masih
ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya dan tidak cukup hanya dilakukan
melalui supervisi), dan pelatihan penyegaran (pelatihan untuk peserta yang telah
mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun); (2) Pelatihan lanjutan
(continued training/advanced training) : pelatihan untuk mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. Materi berbeda dengan
pelatihan dasar.
Evaluasi pelatihan adalah proses penilaian secara sistematis untuk
menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak, untuk menentukan
mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan
mendatang.
Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaanya harus
terintegrasi dengan proses pelatihan.
Jenis dan tahap evaluasi pelatihan :
a. Selama pelatihan, terdiri dari : evaluasi reaksi dan evaluasi pembelajaran.
Evaluasi ini menilai penyelenggaraan pelatihan, peserta, fasilitator, materi dan
b. Paska pelatihan, terdiri dari : (1) Evaluasi kinerja, menilai kompetensi dan kinerja
ditempat tugas. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan supervisi dan
dilakukan setidaknya setelah 3-6 bulan setelah mengikuti pelatihan; (2) Evaluasi
dampak, menilai dampak pelatihan terhadap tujuan program/organisasi, dilakukan
sesuai dengan kebutuhan dapat dilakukan melalui penelitian operasional.
Materi-materi yang diberikan saat pelatihan tatalaksana TB antara lain
mengenai : (1) program pengendalian TB; (2) penemuan dan pengobatan TB; (3)
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) TB; (4) logistik program pengendalian TB
di Fasyankes; (5) pencegahan dan pengendalian infeksi TB; (6) jejaring program
pengendalian TB; (7) monitoring dan evaluasi program pengendalian TB.
2.2.6 Supervisi
Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas
dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara
langsung.
Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah observasi, diskusi, bantuan
teknis, bersama-sama mendiskusikan permasalahan yang ditemukan, mencari
pemecahan permasalahan bersama-sama, memberikan laporan berupa hasil temuan
serta memberikan rekomendasi dan saran perbaikan.
Supervisi merupakan salah satu kegiatan pokok dari manajemen. Kegiatan
supervisi ini erat hubungannya dengan kegiatan “monitoring langsung”, sedangkan
Tujuan supervisi untuk meningkatkan kinerja petugas, melalui suatu proses
yang sistematis dengan peningkatan pengetahuan petugas, peningkatan keterampilan
petugas, perbaikan sikap petugas dalam bekerja, peningkatan motivasi petugas.
Supervisi selain merupakan monitoring langsung, juga merupakan kegiatan
lanjutan pelatihan. Melalui supervisi dapat diketahui bagaimana petugas yang sudah
dilatih tersebut menerapkan semua pengetahuan dan keterampilannya. Selain itu
supervisi dapat juga berupa suatu proses pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
dalam bentuk on the job training.
Supervisi harus dilaksanakan di semua tingkat dan di semua unit pelaksana,
karena dimanapun petugas bekerja akan tetap memerlukan bantuan untuk mengatasi
masalah dan kesulitan yang mereka temukan. Suatu umpan balik tentang kinerja
harus selalu diberikan untuk memberikan dorongan semangat kerja.
Supervisi merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan
untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on job training. Supervisi juga dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan untuk bahan masukan perbaikan
pelatihan yang akan datang. Supervisi juga untuk mengevaluasi ketercukupan sumber
daya selain tenaga, misalnya : OAT, mikroskopik dan logistik, maupun non OAT
lainnya.
Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya, maka supervisi harus
direncanakan dengan baik. Supervisi harus dilaksanakan secara rutin dan teratur pada
semua tingkat. Seperti supervisi ke Fayankes dan ke kabupaten/kota dilaksanakan
sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. Sedangkan supervisi ke propinsi
2.3 Kinerja
2.3.1. Pengertian Kinerja
Kinerja berasal dari pengertian performance. Performance ialah hasil kerja
atau prestasi kerja. Namun, sebenarnya kinerja mempunyai makna yang lebih luas,
bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk berlangsungnya proses pekerjaan.
Menurut Stolovitch dan Keeps (1992) yang dikutip oleh Rivai (2005) kinerja
merupakan merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan
pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta. Untuk menyelesaikan
tugas dan pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat
kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif
untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Menurut Robbin (1996) dalam Rivai
(2005) pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolak ukur
kinerja individu. Ada tiga kriteria dalam melakukan penilaian kinerja individu, yakni
: (a) tugas individu ; (b) perilaku individu ; (c) ciri individu. (Rivai, 2005)
Menurut Mangkunegara (2009) kinerja merupakan suatu prestasi kerja
ataupun hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai karyawan
dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Pada hakikatnya kinerja merupakan prestasi yang dicapai oleh seseorang
dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya sesuai dengan standar dan kriteria
2.3.2. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan kajian sistematis tentang kondisi kerja karyawan
yang dilaksanakan secara formal yang dikaitkan dengan standar kerja yang telah
ditentukan perusahaan. Selain itu, kinerja sebagai suatu sistem pengukuran, dan
evaluasi, memengaruhi atribut-atribut yang berhubungan dengan pekerjaan karyawan,
perilaku dan keluaran, dan tingkat absensi untuk mengetahui tingkat kinerja
karyawan, perilaku dan kelaran, dan tingkat absensi untuk mengetahui tingkat kinerja
karyawan pada saat ini.
Penilaian kinerja merupakan analisis dan interpretasi keberhasilan atau
kegagalan pencapaian kinerja. Penilaian sebaiknya dikaitkan dengan sumber daya
(input) yang berada di bawah wewenangnya seperti SDM, dana/keuangan,
sarana-prasarana, metode kerja dan hal lain yang berkaitan. Tujuannya adalah agar dapat
diketahui dengan pasti apakah pencapaian kinerja yang tidak sesuai (kegagalan)
disebabkan oleh faktor input yang kurang mendukung atau kegagalan pihak
manajemen. (Rivai, 2005)
Menurut Ilyas (2001) yang dikutip oleh Munawaroh (2012) pada hakikatnya
penilaian kinerja merupakan suatu evaluasi terhadap penampilan kerja personel
dengan membandingkannya dengan standar baku penampilan. Dengan melakukan
penilaian demikian, seorang pemimpin akan menggunakan uraian-uraian pekerjaan
sebagai tolak ukur. Bila pekerjaan sesuai dengan uraian pekerjaan berarti pekerjaan
Menurut Mangkunegara (2009) tujuan penilaian kinerja adalah :
a. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk prestasi,
pemberhentian dan besarnya balas jasa.
b. Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya.
c. Sebagai dasar untuk mengevaluasikan efektifitas seluruh kegiatan dalam
perusahaan.
d. Sebagai dasar untuk mengevaluasikan program latihan dan keefektifan jadwal
kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja dan
pengawasan.
e. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan yang
berada di dalam organisasi.
f. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga dicapai
performance yang baik.
g. Sebagai alat untuk dapat melihat kekurangan atau kelemahan dan meningkatkan
kemampuan karyawan selanjutnya.
h. Sebagai kriteria menentukan, seleksi dan penempatan karyawan.
i. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan.
j. Sebagai dasar untuk memperbaiki atau mengembangkan uraian tugas (job
2.3.3. Metode Penilaian Kinerja
Menurut Rivai (2005) metode penilaian kinerja adalah sebagai berikut :
a. Metode Penilaian Subjektif
Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam system penilaian kinerja
subjektif antara lain adalah sebagai berikut :
1) Alphabetical/Numerial rating
Dalam metode ini, penilai diminta untuk merating/member peringkat
karyawan-karyawan dengan menggunakan angka yang mempunyai bobot
yang berbeda. Faktor yang dinilai antara lain :
a) Kualitas dan kuantitas pekerjaan
b) Pengetahuan tentang pekerjaan
c) Kemampuan dalam memecahkan masalah
Skala peringkat misalnya dengan menggunakan angka 1 sampai 5,
atau A sampai E yang menunjukkanperbedaan antara kinerja yang lebih baik
dan yang lebih buruk. Kelebihan dari metode ini adalah mudah dimengerti
dan digunakan. Sementara itu, kekurangannya adalah terkena bias.
2) Forced Choise Rating Index
Pada metode ini penilai diminta untuk membuat kata sifat atau
ungkapan-ungkapan yang dapat menggambarkan tentang kinerja karyawan
yang dinilai. Dalam hal ini, penilai hanya memilih salah satu dari dua
pernyataan yang dianggap sesuai atau mendekati kinerja karyawan yang
3) Personality Trait Rating
Metode ini terdiri dari lima atau enam poin kualitas personal dan
karakteristik kepribadian seperti : keyakinan diri (confidence), antusiasisme (enthusiasm), kedewasaan (maturity), (steadiness under preasure), initiative
dan lain-lain. Penilai diminta untuk memilih salah satu angka yang
menggambarkan kepribadian seseorang tersebut.
4) Graphic Rating Scale
Metode ini menggunakan skala grafik yang memberikan gambaran
mulai dari kinerja tertinggi sampai terendah. Penilai diminta memberikan
tanda pada grafik skala tersebut sesuai dengan karyawan yang dinilai.
Metode ini disamping mudah dipahami dan digunakan juga dapat
menghindari penempatan karyawan pada kategori yang spesifik (baik atau
bagus). Namun, rater bias, dan central tendency masih mungkin terjadi.
Disamping itu, sulit untuk menginterpretasikan skala tersebut.
5) Forced Distribution
Metode ini dapat menghindari masalah-masalah seperti central tendency yang terlalu longgar atau terlalu ketat, namun kinerja kelompok
mungkin tidak sesuai dengan pola normal. Selain itu metode ini sulit
diterapkan jika jumlah karyawan yang akan dinilai terlalu sedikit.
6) Ranking
Metode ini adalah metode yang paling sederhana. Penilaian hanya
mengurutkan karyawan berdasarkan peringkat atau rangking mulai dari yang
Metode ini selain mudah digunakan juga memaksa penilai untuk
membedakan antara tingkat-tingkat kinerja karyawan yang berbeda. Akan
tetapi kelompok yang ada mungkin tidak dapat memenuhi distribusi yang
diatur, misalnya karyawan yang berada dibawah atau diatas rata-rata.
7) Paired Comparisons
Metode ini, penilai diminta untuk membandingkan seorang karyawan
denngan karyawan lainnya, kemudian dinilai apakah kinerjanya lebih tinggi
atau lebih rendah dari karyawan lain.
Dengan menggunakan metode ini, penilai dituntut untuk
membandingkan kekuatan dan kelemahan dari para karyawan. Namun
demikian metode ini tidak memungkinkan perbandingan yang mudah antara
klompok-kelompok pekerja yang berbeda. Disamping itu, metode ini tidak
dapat memberikan umpan balik yang jelas kepada karyawan untuk
meningkatkan kinerja dimasa yang akan dating. Dan kelemahan ini adalah
penilai merasa enggan membuat perbandingan diantara para karyawan.
b. Metode Penilaian Objektif
Penilaian kinerja objektif dapat dilakukan dengan bermacam-macam metode
atau teknik. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam sistem penilaian kinerja