• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik ekstraksi oleoresin dari berbagai jenis cabai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Teknik ekstraksi oleoresin dari berbagai jenis cabai"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Hasil-Hasil PPM IPB 2013 Vol. I : 177–185 ISBN : 978-602-8853-19-4

978-602-8853-20-0

TEKNIK EKSTRAKSI OLEORESIN DARI BERBAGAI JENIS CABAI

(Oleoresin Extraction Technique from Many Tipe of Chili)

Chilwan Pandji, Endang Warsiki, Rini Purnawati, Laras Wahyu

Dep. Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB

ABSTRAK

Cabai memiliki berbagai kandungan yang berguna bagi manusia. Zat aktif pada cabai disebut capsaicin. Zat ini yang berperan utama dalam memberi rasa pedas pada cabai. Dalam penelitian ini oleoresin cabai diekstrak dari tiga jenis cabai dengan tiga perlakuan pencucian. Jenis cabai yang digunakan adalah cabai merah, keriting, dan rawit dengan perlakuan perulangan pencucian sebanyak satu, dua, dan tiga kali. Cabai segar dicuci dan dikeringkan sampai mencapai kadar air 8–10%. Cabai kering kemudian diblender dan diayak dengan ukuran 50 mesh. Sebanyak 100 gram cabai bubuk ditambahkan kedalam pelarut etanol 96% dengan perbandingan bubuk cabai dan etanol dalam berat per volume (b/v) sebesar 1:5. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi berpengaduk dengan kecepatan pengadukan 700 rpm pada suhu 50oC selama 4 jam. Analisis dilakukan untuk menguji mutu oleoresin cabai yang meliputi rendemen, kadar sisa pelarut dan nilai warna. Hasil penelitan menunjukkan bahwa interaksi antara jenis cabai dan jumlah perulangan pencucian tidak berpengaruh nyata terhadap hasil yang diperoleh. Namun demikian cabai rawit menghasilkan rendemen tinggi dibandingkan dengan jenis cabe lain. Nilai warna dan kadar sisa pelarut oleoresin dari ketiga jenis cabe belum sesuai dengan ketentuan EOA (Essential Oil Association).

Kata kunci: Cabai, ekstraksi, pencucian, oleoresin.

ABSTRACT

The chili has a variety of content that is very useful for human being. The active substance in chili peppers is called capsaicin. This substance is the main substance in giving a sense of spicy. In this research, oleoresin of chili was extracted from three types of chili with three treatments of solvent cycle of washing. The chilies were red chili, curly chili, and cayenne pepper with once, twice and and three times of solvent washing. Fresh chili was washed then dried to achieve moisture content of 8–10%. Dryed chili was grounded and sieved in a mesh of 50. Chili extraction was done by 96% ethanol. A total of 100 grams of material was added into ethanol with a ratio between chili and etanol in weight per volume (w/v) of 1:5. Extraction was done by maceration method and stirred with a stirring speed of 700 rpm at temperature of 50°C, for 4 hours. Analysis was conducted to quality testing of chilli oleoresin including yield, solvent residual, and color values. The results showed that the interaction between types of chili and the cycles of washing had no significantly effect of the quality of the oleoresin. Among them, cayyene paper had the highest level of yield however color value and solvent residue of all kind of chili has not yet met EOA (Essential Oil Association) requirements.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan mengamati kerusakan mekanis, susut bobot, tingkat kekerasan, warna, dan kadar air pada cabai merah keriting segar dengan

Analisis risiko dilakukan berdasarkan pada fluktuasi harga dan pasokan cabai merah keriting dan cabai merah besar di Pasar Induk Kramat Jati yang ditinjau dari

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa capsaicin dari oleoresin cabai rawit yang berasal dari daerah Gorontalo dengan

Penelitian pendugaan umur simpan menggunakan bubuk cabai yang diperoleh dari penepungan cabai rawit dan cabai merah kering, kemudian disimpan untuk diduga umur

Telah dihasilkan teknologi pengeringan cabai merah dengan rendemen tertinggi yakni pengeringan cabai menggunakan oven dikombinasikan dengan perlakuan pencucian, teknologi

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan tanaman cabai merah varietas Branang memberikan rerata tertinggi pada berbagai parameter pengamatan dan pupuk kandang

Harga cabai merah keriting dan cabai merah TW mengalami penurunan disebabkan pasokan bertambah dari Jawa Barat yang sudah mulai masuk masa panen, sedangkan cabai rawit merah dan

gossypii cenderung lebih tinggi pada tanaman cabai merah keriting (90,67 ekor/100 tanaman) apabila dibandingkan dengan populasi pada tanaman cabai rawit (58 ekor/100