INHIBISI EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica L.) DAN
TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) TERHADAP AKTIVITAS
ACE (Angiotensin Converting Enzyme)
LILLA BUDIMAN
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Degan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Inhibisi Pegagan (Centella asiatica L.) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skirpsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
LILLA BUDIMAN. Inhibisi Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L.) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Dibimbing oleh DYAH ISWANTINI PRADONO dan MIN RAHMINIWATI.
Pegagan dan tempuyung merupakan tanaman obat yang berpotensi sebagai antihipertensi. Ekstrak tanaman ini diteliti daya inhibisinya terhadap aktivitas enzim pengubah angiotensin I (ACE) secara in vitro. Penelitian dilakukan pada kondisi optimum menggunakan ekstrak tunggal dengan konsentrasi 50, 100, dan 150 ppm serta ekstrak gabungan dengan komposisi tertentu. Hasilnya dibandingkan dengan kaptopril sebagai kontrol positif. Uji inhibisi ACE dengan ekstrak tunggal pegagan dan tempuyung 50 ppm menghasilkan daya inhibisi paling tinggi yaitu 54% dan 31%. Esktrak gabungan pegagan tempuyung menghasilkan daya inhibisi yang lebih rendah dibandingkan ekstrak tunggal pegagan, yaitu 45% berbanding 54%. Kaptopril memiliki daya inhibisi yang paling tinggi dibandingkan ekstrak tunggal maupun gabungan, yaitu 88%.
Kata Kunci: Inhibisi ACE, kaptopril, pegagan, tempuyung
ABSTRACT
LILLA BUDIMAN. Inhibition of Pegagan (Centellaasiatica) and Tempuyung (Sonchusarvensis) Extracts towards Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Activity. Supervised by DYAH ISWANTINI PRADONO and MIN RAHMINIWATI
Pegagan and tempuyung are medicinal plants potential as antihypertension. Extracts of these plants were investigated towards angiotensin I converting enzyme (ACE) inhibition activity in vitro. The study was conducted at the optimum condition by using 50,100 and 150 ppm of single extract concentration, and combined extracts with specific compositions. The results were compared with captopril as positive control. Inhibition test of ACE with single extracts showed that 50 ppm pegagan and tempuyung have the highest inhibition of 54% and 31%. The combined extracts of pegagan and tempuyung showed lower inhibition than single pegagan extract, i.e. 45% versus 54%. Captopril still indicated the highest inhibition (88%) as compared to single or combined extracts.
INHIBISI PEGAGAN (Centella asiatica L.) DAN TEMPUYUNG
(Sonchus arvensis L.) TERHADAP AKTIVITAS ACE
(Angiotensin Converting Enzyme)
LILLA BUDIMAN
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
pada
Departemen Kimia
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Inhibisi Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L.) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme)
Nama : Lilla Budiman
NIM : G44090086
Disetujui oleh
Prof Dr Dyah Iswantini Pradono, MAgr drh Min Rahminiwati, MS, PhD
Pembimbing I Pembimbing II
Prof Dr Dra Purwantiningsih Sugita, MS Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya yang berlimpah penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian yang berjudul Inhibisi Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L.) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) sebagai salah satu syarat unutk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan laporan ini. Terima Kasih kepada Ibu Prof Dr Dyah Iswantini Pradono MscAgr, Ibu Dr drh Min Rahminiwati MS, dan Ibu Nunuk selaku pembimbing yang telah memberi bimbingan dan dukungan kepada penulis. Ucapan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kedua orang tua Bapak Djoko Sudjatmoko dan Ibu Suharmamiek Tjipto Wati; keluarga besar Ferdi Waluyo Kurniawan, Anang M Idris, Aris Suharmoko, dan Amien Iskandar; dan sanak saudara Susilaningsih, Tjahyo Budi Utomo, Surtiningsih, Sofyan Karim, Ardita Permata Sari, dan Devinta Ratna Sari yang telah memberi dukungan moril, semangat, doa, dan pengertiannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga kepada teman-teman kimia angkatan 46, yaitu Restu Widya, Agung Ardy Riyanto, Waskito Aji Atmadi, Fahrul Kamal, dan Damiyati atas semangat, kebersamaan, dan persahabatannya.
Semoga laporan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Bogor, Agustus 2014
1
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang ... 1
BAHAN DAN METODE 2 Bahan dan Alat ... 2
Ekstraksi Sampel ... 2
Analisis Kandungan Flavonoid Secara Kuantitatif ... 3
Penetapan Kadar Air ... 2
Uji Fitokimia Kualitatif ... 3
Penentuan Daya Inhibisi Terhadap Aktivitas ACE Secara In Vitro ... 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 4 Kadar air dan Maserasi ... 4
Uji Fitokimia ... 5
Uji Toksisitas Larva Udang ... 5
Inhibisi Ekstrak Tunggal terhadap Aktivitas ACE secara in vitro ... 6
Inhibisi Ekstrak Gabungan terhadap Aktivitas ACE secara in vitro ... 7
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN 13
DAFTAR TABEL
1 ... Uji fitokimia ekstrak kasar 5
DAFTAR GAMBAR
1 ... Tanaman pegagan dan tempuyung 4
2 ... Daya inhibisi ekstrak tunggal terhadap ACE 7
3 ... Daya inhibisi ekstrak gabungan terhadap ACE 8
4 ... Struktur kaptopril dan pengikatan tapak aktif ACE 8
5 ... Mekanisme hipertensi 9
DAFTAR LAMPIRAN
1 ... Diagram alir penelitian 13
2 ... Kadar flavanoid pegagan 14
3 ... Nilai LC50 ekstrak pegagan terhadap larva A. Salina 15
4 ... Kadar air simplisia tanaman 16
5 ... Daya inhibisi ekstrak tunggal sampel 16
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman obat telah diteliti aktivitasnya terhadap berbagai macam penyakit. Salah satu penyakit yang mengancam masyarakat sekarang ini adalah hipertensi. Hipertensi yaitu suatu kondisi meningkatnya tekanan darah pada pembuluh arteri. Penyakit hipertensi tidak memiliki gejala khusus bagi penderitanya sehingga banyak kasus hipertensi tidak terdeteksi.
Krishnaiah et al. (2009) telah meneliti komponen-komponen kimia yang terdapat pada 6 tanaman obat, salah satunya pegagan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa pegagan mengandung alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, dan fenol. Zainol et al. (2008) meneliti lebih jauh terhadap kandungan senyawa aktif yang terdapat pada tanaman pegagan. Tanaman ini mengandung senyawa aktif utama asiatikosida, madekasosida, dan asam asiatat. Pegagan berperan antara lain sebagai antimikrob dan antioksidan. Ullah et al. (2009) menyatakan bahwa hasil fraksionasi tanaman pegagan berpotensi sebagai antioksidan, dan juga berpotensi sebagai antimikrob serta antifungi. Tanaman tempuyung dikenal memiliki efek diuretik. Pada tahun 2006, Imelda dan Andani meneliti efek diuretik tanaman ini dibandingkan dengan furosemida. Furosemida merupakan obat diuretik kuat yang telah teruji secara medis dengan kemampuan 60% lebih tinggi dibandingkan dengan diuretik yang lain, dan hasil penelitian tersebut membuktikan tanaman tempuyung mempunyai efek diuretik yang lebih baik daripada furosemida.
Obat antihipertensi yang sekarang ini banyak digunakan adalah inhibitor enzim pengubah angiotensin I (ACE). Inhibitor ACE bekerja dengan cara menurunkan atau mencegah pembentukan angiotensin II yang dapat meningkatkan tekanan darah. Inhibitor ACE secara in vitro telah diteliti oleh Hansen et al. (1995) pada berbagai tanaman obat yang berasal dari India, Cina, dan Cili melalui pendekatan terhadap ACE, begitu pula Yingsukpisarn (2005) yang meneliti berbagai tanaman di Thailand. Tanaman lain yang juga telah diteliti sebagai inhibitor ACE antara lain Ruellia praetermissa oleh Salah et al.(2001) dan Tricholoma giganteum (Lee et al. 2004). Inhibitor ACE secara in vivo telah diteliti oleh Irda et al. (2003) pada umbi lapis kucai (Allium schoenoprasum L.) dengan dosis terbaik 50 mg/kg, begitu pula Armenia et al. (2007) meneliti daun tanaman akar mambu (Connarus grandis J.) yang dapat menghambat ACE sebesar 3.48%. Ekstrak tanaman lain untuk inhibitor ACE terbaik pada belimbing manis (Averrhoa carambola L.) pada dosis 1.6mL/100 g (Ruqiah 2000), dan jagung pada dosis 4.5 mg/mL selama 5 jam (Wen-Hao et al. 2011).
flavonoid sebagai antihipertensi, di antaranya kuersetin (Jalili 2004), flavonoid dari tanaman Passiflora sp. (Foo et al. 2006), dan flavonol glikosida (Verhoeyen 2008). Penelitian ini bertujuan mengetahui daya inhibisi ekstrak gabungan pegagan dan tempuyung terhadap ACE secara in vitro.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah simplisia pegagan, tempuyung, larva udang, etanol 96%, aseton, HCl, AlCl3, air, larutan dapar, larutan indikarot, enzim
pengaktif, NaCl, kuersetin, dan etil asetat. Alat-alat yang digunakan adalah spektrofotometer ultraviolet-tampak (UV-Vis) Hitachi, penguap putar, oven, pengering vakum, vial uji, dan inkubator.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu ekstraksi sampel, uji toksisitas larva udang, analisis kandungan flavonoid secara kuantitatif, penentuan kadar air, dan daya inhibisi terhadap ACE. (Lampiran 1).
Penetapan Kadar Air (ASTM 2003)
Cawan porselen yang bersih dipanaskan ke dalam oven bersuhu (105+3) °C selama 30 menit dan ditimbang hingga diperoleh bobot konstan cawan kosong. Serbuk simplisia kering ditimbang sebanyak ±2 g ke dalam cawan tersebut dan dipanaskan kembali dalam oven (105±3) °C selama 3 jam. Setelah itu, cawan dipindahkan ke dalam desikator selama 15 menit lalu ditimbang. Pengeringan dan penimbangan sampel dilakukan lagi setiap 1 jam sampai diperoleh bobot konstan (± 0.0002 g).
Ekstraksi Sampel (Darusman et al. 2009)
Serbuk kering simplisia pegagan sebanyak 5 g dimaserasi dengan pelarut etanol PA 96% (2×24 jam), lalu disaring. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan penguap putar hingga diperoleh ekstrak pekat, kemudian dikeringkan dengan pengering vakum dan disimpan pada suhu -20 °C sampai dilakukan analisis.
Uji Toksisitas Larva Udang (Meyer et al. 1982)
3
konsentrasi 500 ppm, 100 μL larutan ekstrak dan 1900 μL air laut untuk 100 ppm, dan 10 μL larutan ekstrak dan 1990 μL air laut untuk 10 ppm. Setiap konsentrasi dilakukan 3 kali pengulangan. Kontrol dilakukan tanpa penambahan larutan ekstrak. Setelah 24 jam, larva udang yang mati dihitung.
Analisis Kandungan Flavonoid (Depkes RI 2000)
Ekstrak etanol pegagan atau tempuyung ditimbang 200 mg lalu dimasukkan ke dalam labu alas bulat lalu ditambahkan 1.0 mL heksametilena tetramina 0.5% (b/v), 20 mL aseton, dan 2 mL larutan HCl 25%, kemudian dipanaskan sampai mendidih selama 30 menit, dan disaring menggunakan kapas. Selanjutnya ditambahkan kembali aseton sebanyak 20 mL untuk dididihkan kembali selama 30 menit. Pengerjaan dilakukan sebanyak 2 kali. Seluruh filtrat dikumpulkan ke dalam labu takar. Setelah labu mendingin, volume ditepatkan dengan aseton sampai 100 mL dan dikocok hingga tercampur sempurna.
Filtrat diambil sebanyak 20 mL, dimasukkan ke dalam corong pisah, ditambahkan akuades sebanyak 20 mL, kemudian ditambahkan 15 mL etil asetat untuk pengocokan pertama dan 10 mL etil asetat untuk pengocokan kedua dan ketiga. Fraksi etil asetat dikumpulkan ke dalam labu ukur 50 mL dan ditambahkan etil asetat sampai tepat 50 mL. Sepuluh mL filtrat yang dihasilkan dipindahkan ke dalam labu takar 25 mL, kemudian ditambahkan 1 mL larutan AlCl3 2% (b/v).
Larutan asam asetat glasial 5% (v/v) lalu ditambahkan secukupnya sampai tepat 25 mL. Absorbans diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 370.8 nm dengan kuersetin sebagai standar.
Uji Fitokimia Kualitatif (Harborne 1987)
Uji alkaloid dilakukan dengan menambahkan 1 g ekstrak dengan 0.5 mL NH3 dan 5 mL CHCl3 kemudian disaring dan filtratnya ditambahkan 0.5 mL
H2SO4 2 M, lalu lapisan asamnya diuji dengan pereaksi Dragendorf, Mayer, dan
Wagner.
Uji fenolik dilakukan dengan menambahkan 5 g esktrak dengan 10 mL akuades lalu dipanaskan selama 5 menit, kemudian disaring dan filtratnya dibagi menjadi 3. Filtrat pertama ditambahkan serbuk Mg, 1 mL HCl:EtOH (1:1), dan 0.5 mL amil alkohol sebagai uji flavonoid. Filtrat 2 ditambahkan 3 tetes FeCl3
10% sebagai uji tannin. Filtrat 3 dikocok yang kuat sebagai uji saponin.
Uji steroid dilakukan dengan menambahkan 1 g ekstrak dengan 3 mL etanol lalu dipanaskan hingga kering. Setelah kering ditambahkan 1 mL dietil eter. Sedangkan uji hidrokuinon dengan menambahkan 1 g ekstrak dengan 3 mL methanol lalu dipanaskan dan disaring. Filtratnya ditambahkan 3 tetes NaOH 10 %. Setiap pengujian dilihat perubahan warna yang terjadi.
Penentuan Daya Inhibisi Terhadap Aktivitas ACE Secara In Vitro (Le Hoang Lam et al. 2007)
Setelah itu ditambahkan buffer sebanyak 20 µL ke sampel, blangko1, dan
blangko2. Ditambahkan enzim pengaktif sebanyak 20 µL ke dalam sampel dan
blangko1 lalu diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37°C. Setelah itu
ditambahkan indikator sebanyak 200 µL ke dalam sampel, blangko1, dan
blangko2. Kemudian diukur absorbansnya menggunakan microplate reader pada
panjang gelombang 450 nm.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kadar air dan EkstraksiDaun pegagan (Centella asiatica L.) dan tempuyung (Sonchus arvensis L.) diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah Obat (BALITRO) dan dibuat menjadi simplisia untuk mengurangi kadar air pada pengujian tahap selanjutnya.
Gambar 1 Tanaman pegagan (a), tempuyung (b)
Kadar air dapat menentukan kesegaran dan keawetan suatu bahan. Kadar air yang tinggi memungkinkan tumbuhnya mikroorganisme, seperti bakteri, kapang, dan khamir. Kadar air pegagan dan tempuyung yang diperoleh adalah 7.11 % dan 8.07 %. Menurut Winarno (1997), apabila kadar air yang terkandung dalam suatu bahan kurang dari 10%, maka kestabilan optimum bahan akan tercapai dan pertumbuhan mikrob dapat dikurangi. Menurut Fardiaz (1989), air dapat memengaruhi penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan. Air juga akan memengaruhi daya tahan bahan pangan terhadap serangan mikrob yang dinyatakan dengan aw, yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Ekstrak merupakan pengambilan senyawa tunggal atau majemuk berdasarkan distribusinya dalam 2 fase dengan pelarut tertentu (Day dan Underwood 2002). Proses ekstraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya jenis pelarut yang digunakan dan luas permukaan simplisia. Ekstraksi yang digunakan dalam penelitian adalah metode maserasi. Teknik ini sederhana dan dapat mengurangi kerusakan komponen yang tidak tahan panas.
Pelarut yang digunakan adalah etanol 96% kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan evaporator vakum. Ekstrak etanol kemudian diekstraksi bertahap dengan tujuan menyederhanakan komponen untuk
5
pembebasan lipid sebelum ekstraksi diharapkan dapat mengurangi jumlah senyawa pengotor dalam sampel dan lebih ditekankan pada aspek ekonomis penggunaan pelarut pada saat partisi cair-cair menggunakan corong pisah. Hasil maserasi 10 g simplisia pegagan menghasilkan persentase maserat (ekstrak) lebih banyak dari tempuyung, yaitu 14.46% dengan 12.88%.
Uji Fitokimia
Ekstrak kental pegagan dan tempuyung diuji golongan senyawa tertentu yang terkandung di dalamnya dengan melakukan uji fitokimia, hasil ujinya dapat dilihat pada Tabel 1. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia tertentu yang terdapat di dalam ekstrak, sehingga hasil uji fitokimia dapat dijadikan sebagai dasar dalam meperkirakan golongan senyawa berkhasiat dalam ekstrak pegagan dan tempuyung. Berdasarkan hasil uji fitokimia, simplisia pegagan dan tempuyung mengandung flavanoid, steroid, saponin, dan tanin.
Tabel 1 Uji fitokimia ekstrak kasar
No Uji Nama Uji Pegagan Tempuyung Intensitas sangat pekat ++++
Uji Toksisitas Larva Udang
Nilai konsentrasi letal 50% (LC50) yang dihasilkan dari uji letalitas larva
udang (BSLT) secara umum memberikan indikasi adanya senyawa toksik yang terkandung dalam suatu bahan alam. Larva udang yang digunakan yaitu berada pada kondisi paling peka terhadap kondisi lingkungannya. Membran kulitnya yang sangat tipis, memungkinkan terjadinya difusi zat dari lingkungan yang memengaruhi metabolisme dalam tubuhnya. Larva udang yang digunakan berumur 2 hari atau 48 jam. Jika berumur lebih dari 48 jam, dikhawatirkan kematian larva bukan disebabkan toksisitas ekstrak, melainkan oleh terbatasnya persediaan makanan (Meyer et al. 1982).
Uji toksisitas diperlukan untuk mengetahui konsentrasi yang dapat menyebabkan keracunan sehingga dapat diketahui jumlah penggunaan yang tepat. LC50 adalah konsentrasi dari suatu bahan yang dapat menyebabkan 50% kematian
dalam suatu populasi, dalam hal ini A. salina. Jumlah larva udang yang mati dihitung setelah penambahan ekstrak selama 24 jam (Lampiran 3)
Nilai LC50 ekstrak pegagan ialah 1342.76 ppm sedangkan tempuyung
masing-masing ekstrak dapat dijadikan sebagai konsentrasi tertinggi pada penentuan ragam konsentrasi ekstrak dalam uji aktivitas ACE, dikarenakan formulasi obat akan lebih aman jika konsentrasinya dibuat di bawah LC50 (Setiawan 2006).
Inhibisi Ekstrak Tunggal Pegagan dan Tempuyung terhadap Aktivitas ACE secara in vitro
Pengujian inhibisi ACE dilakukan dengan variasi konsentrasi yang dimaksudkan untuk melihat pengaruh penambahan konsentrasi ekstrak terhadap peningkatan daya inhibisi. Pengujian dilakukan dengan blangko (tanpa penambahan ekstrak) dan kontrol positif (kaptopril pada konsentrasi 25ppm).
Hasil yang diperoleh berupa absorbans. Semakin rendah nilai absorbans yang dihasilkan, semakin besar daya inhibisi terhadap aktivitas ACE. Absorbans yang terukur berasal dari sisa asam hipurat hasil reaksi antara substrat dan ACE yang tidak dihambat oleh ekstrak tanaman. Esktrak tunggal pegagan dan tempuyung menghasilkan daya inhibisi maksimum pada konsentrasi 50 ppm, yaitu 53.86% dan 30.50 % (Gambar 2). Pada pegagan, daya inhibisi yang dihasilkan tidak berbeda jauh dengan Yulinda et al. (2011), yaitu konsentrasi 50 ppm mempunyai daya inhibisi sebesar 52.21 %, tetapi daya inhibisi tempuyung 50 ppm berbeda jauh, yaitu -26.30%. Hasil negatif pada inhibisi ACE tidak berarti bahwa tanaman tersebut tidak bekerja sebagai inhibitor ACE, tetapi dapat bekerja pada mekanisme reaksi diuretik pada pengobatan penyakit hipertensi. Pada tempuyung dengan konsentrasi 100 dan 150 ppm terjadi penurunan daya inhibisi yang bersifat diuretik . Senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak pegagan dan tempuyung yang diduga dapat menginhibisi aktivitas ACE adalah flavonoid. Berdasarkan data kadar flavonoid, inhibisi pegagan lebih besar daripada tempuyung. Hal ini menunjukan kadar flavonoid berbanding lurus dengan daya inhibisi esktrak tunggal pegagan maupun tempuyung terhadap ACE.
7
Flavonoid merupakan kelas utama senyawa polifenol yang menunjukkan berbagai aktivitas farmakologi. Senyawa bioaktif flavonoid yang telah diteliti dapat mencegah terjadinya hipertensi melalui pendekatan terhadap aktivitas ACE adalah flavan-3-ol, prosianidin Actis-Goretta et al. 2003) dan kuersetin (Duarte et al. 2001). Berdasarkan rekomendasi JNC VII (2003), mekanisme obat yang dapat digunakan sebagai antihipertensi adalah diuretik, penyekat-β, inhibitor ACE, antagonis kalsium (CCB), dan penghambat reseptor angiotensin (ARB). Inhibitor ACE menyebabkan penurunan angiotensin II dan kenaikan bradikinin, senyawa vasodilator yang potensial, sehingga menyebabkan efek samping hiperkalemia, angiodema, dan batuk kering, akibat dari kenaikan bradikinin.
Inhibisi Ekstrak Gabungan Pegagan dan Tempuyung terhadap Aktivitas ACE secara in vitro
et al. 2004), dan ekstrak air Pleurotus cornucopiae (78.0%), serta ekstrak metanol Pleurotus cornucopiae (55.0%) (Jang et al. 2011). Hal ini dikarenakan ketidakstabilan enzim ACE pada kondisi tertentu
Gambar 3 Daya inhibisi ekstrak gabungan
Pada kontrol positif kaptopril dengan konsentrasi 25 ppm, menghasilkan daya inhibisi paling tinggi dibandingkan ekstrak tunggal maupun gabungan. Kaptopril (Gambar 4a) merupakan obat yang lazim diberikan pada penderita hipertensi. Kaptopril memiliki afinitas yang tinggi terhadap ACE dan berkompetisi dengan angiotensin I, sebagai substrat alami untuk mencegah terjadinya angiotensin II.
Gambar 4 Struktur kaptopril (a) pengikatan pada tapak aktif ACE (b) (Guand dan Philips 2009)
9
Gambar 5 Mekanisme hipertensi (Guand dan Philips 2009)
Pengikatan tapak aktif pada struktur ACE dapat mencegah perubahan senyawa dari angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin I merupakan dekapeptida nonaktif yang menjaga tekanan darah normal 80/120 mmHg sedangkan Angiotensin II merupakan dekapeptida aktif berupa vasokonstriktor kuat dan juga menstimulasi sekresi aldosteron yang menyebabkan peningkatan cairan ekstraseluler. Penghambatan pembentukan angiotensin II akan mencegah terjadinya vasokonstriksi (pengecilan pembuluh darah) dan tekanan darah tetap.
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanKadar flavonoid pegagan lebih tinggi dibanding tempuyung. Daya inhibisi ACE berbanding lurus dengan kadar flavonoid. Ekstrak tunggal pegagan dan tempuyung 50 ppm menghasilkan daya inhibisi paling tinggi yaitu 53.86% dan 30.50%. Esktrak gabungan pegagan tempuyung menghasilkan daya inhibisi yang lebih rendah dibandingkan ekstrak tunggal pegagan. Ekstrak tunggal maupun gabungan memiliki daya inhibisi yang lebih rendah dibandingkan kaptopril sebagai kontrol positif.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Actis-Goretta L, Ottaviani JI, Keen CL, Fraga CG. 2003. Inhibition of angiotensin converting enzyme (ACE) activity by flavan-3-ols and procyanidin. FEBS Lett 555:597-600.
[ASTM] American Society for Testing and Materials. 2003. Standard test methods for direct moisture content measurement of wood and wood-base materials. ASTM D International 4442-92-2003. West Chonshohocken (US): ASTM
Barolli MG, Werner AR, Slep LD, Pamillo AB. 2000. Formation of complexes of flavonoids and metals, determination of the stochiometry and stability constants. Molecules 5:516-517.
Cushman DW, Cheung HW. 1995. Spectrophotometric assay and properties of the angiotensin converting enzyme of the rabbit lung. Biochem Pharmacol 20:1637-1648.
Darusman LK, Iswantini D, Indariani S. 2009. Formulasi dan mikroenkapsulasi ekstrak pegagan (Centella asiatica) dan tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai antihipertensi: Daya inhibisinya terhadap angiotensin I converting enzyme (ACE) secara in vitro [laporan penelitian]. Bogor: Pusat Studi Biofarmaka.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Penentuan Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Depkes RI.
Duarte J et al. 2001. Antihypertensive effects of the flavonoid quercetin in spontaneously hypertensive rats. Brit J Pharmacol 133:177-124.
Fardiaz S. 1989. Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta: Raja Grapindo Persada. Foo LY, Lu Y, Watson RR, penemu; New Zealand Patent. 2008. Extract of
passion fruit and uses there of. US 7390517 B2.
Hansen K et al. 1995. In vitro screening of traditional medicines for anti-hypertensive effect based on inhibiton of the angiotensin converting enzyme (ACE). J Ethnopharmacol 48:43-51.
Harboune JB. 1987. Metode Fitokimia. Padmawinata K, Soediro I, penerjemah; Niksolihin S, editor. Bandung (ID): ITB. Terjemahan dari: Phytochemical Methods
Irda F, Kosasih P, Soediro S. 2003. Efek antihipertensi dan Hipotensi beberapa fraksi dari ekstrak etanol umbi lapis kucai (allium schoenoprasumL.). J Matematika dan Sains 8 (4):147-150.
Iswantini D, Darusman LK, Hidayat R. 2009. Indonesian Sidaguri (Sida rhombifiolia L.) as antigout and inhibition kinetics of flavonoids crude extract no the activity of xanthine oxidase. J Biological Science 9 (5): 504-508.
Iswantini D, Ismarani, Darusman LK. 2011. Mikroenkapsulasi ekstrak pegagan, kumis kucing, sambiloto, dan tempuyung sebagai inhibitor angiotensin I converting enzyme secara in vitro. J Agribisnis dan Pengembangan Wilayah 3 (1): 11-24
11
[JNC] Joint National Committe. 2003. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Maryland: NIH Publication No. 03-5233.
Krishnaiah, Devi, Bono, Sarbatly. 2009. Studies of phytochemical constituents of six Malaysian medicinal plants. J Med Plan 3:067-072.
Le Hoang Lam, T. Shimamura, K. Sakaguchi, K. Noguchi, M Ishiyama, Y. Fujimura and H. Ukeda. 2007. Anal. Biochem. 364:104-109.
Lee DH, Kim JH, Park JS, Choi YJ, Lee JS. 2004. Isolation and characterization of a novel angiotensin I-converting enzyme inhibitory peptide derived from the edible mushroom Tricholoma giganteum. Peptides 25:621-627 Meyer BN. 1982. Brine shrimp: A convenient general bioassay for active plant
constituents. Planta Med 45:31-34.
Olah N-K, Radu L, Mogosan C, Hanganu D, Gocan S. 2003. Phytochemical and pharmacological studies on Orthosiphon stamineus Benth. (Lamiaceae) hydroalcoholic extract. J Pharm Biomed Anal 33:117-123.
Roy S, Rao K, Bhuvaneswari Ch, Giri A, Mangamoori LK. 2010. Phytochemical analysis of Andrographis paniculata extract and its antimicrobial activity. World J Microbiol Biotechnol 26:85-91.
Ruqiah Ganda Putri Panjaitan. Potensi sari buah belimbing manis (Averrhoa carambola L.) sebagai antihipertensi dan diuretik. [thesis]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor
Salah AM, Dongmo AB, Kamanyi A, Bopelet M, Wagner H. 2001. Angiotensin-converting enzyme-inhibitory effect by Ruellia praetermissa. Pharm Biol 39:16-19.
Setiawan MP. 2006. Inhibisi ekstrak air dan etanol sambiloto (Andographis paniculata [Burm.f.] Ness) terhadap aktivitas tirosin kinase [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Sriningsih et al. 2005. Analisa senyawa golongan flavonoid herba tempuyung (Sonchus arvensis L.). Jakarta: Universitas Pancasila.
Ullah MO, Sultana S, Haque A, Tasmin S. 2009. Antimicrobial, cytotoxic and antioxidant activity of Centella asiatica. Eur J Sci 30:260-264.
Verhoeyen ME, Wiseman SA. 2008. Use of plants with increased levels of flavonol glycosides in reducing hypertension. J Food Chemistry: 77: 954-964
Wen-Hao Huang, Jie Sun, Hui He, Hua-Wei Dong, Jiang-Tao Li. 2011. Antihypertensive effect of corn peptides, produced by a continous production in enzymatic membrane reactor, in spontaneously hypertensive rats. J Food Chemistry. 128:968-973.
Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Yulinda L. 2011. Inhibisi ekstrak etanol kumis kucing, pegagan, sambiloto, dan
tempuyung terhadap aktivitas enzim pengubah angiotensin I secara in vitro. [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Kimia, Institut Pertanian Bogor.
Zainol NA, Voo SC, Sarmidi MR, Aziz RA. 2008. Profiling of Centella asiatica (L.) urban extract. Malay J Anal Sci 12:322-327.
13
LAMPIRAN
Lampiran 1 Diagram Alir Penelitian
Penentuan
Lampiran 2 Kadar flavanoid pegagan
Kuersetin
(ppm) Absorbans
0 0.000
1 0.027
3 0.090
6 0.177
12 0.353
24 0.713
50 1.329
Sampel Ulangan Bobot wadah (g) Bobot isi Bobot Rendemen
kosong akhir (g) simplisia (g) (%)
Pegagan 1 36.7288 38.185 1.4562 10.0028 14.56
2 36.4514 37.8872 1.4358 10.0029 14.35
Tempuyung 1 36.8524 38.1369 1.2845 10.0029 12.84
2 36.6385 37.9304 1.2919 10.0027 12.92
Sampel Ulangan Absorbans Bobot
hidrolisis [Flavonoid]
Kadar flavonoid
(g) (ppm) (%)
Pegagan 1 0.047 0.2036 1.1925 0.79
2 0.045 0.2035 1.1261 0.74
Tempuyung 1 0.027 0.2002 0.4388 0.26
2 0.028 0.2095 0.4476 0.26
x
15
Lampiran 3 Nilai LC50 ekstrak pegagan terhadap larva A. Salina
Konsentrasi Ulangan
Jumlah larva udang
mati Total Mortalitas Probit LC50 (ppm) (ppm) pegagan tempuyung larva pegagan tempuyung pegagan tempuyung pegagan tempuyung
Lampiran 4 Kadar air simplisia sampel
Sampel Bobot sampel (g)
Bobot sampel kering
Lampiran 5 Daya inihibisi tunggal sampel terhadap ACE
Absrobans
blangko 1 blangko 2 Kaptopril (50 ppm)
ulangan 1 0.2930 0.0500 0.0800 Blangko 2 = Akuabides + buffer + Indikator
Konsentrasi Pegagan Tempuyung
(ppm) ulangan 1 ulangan 2 rerata % inhibisi ulangan 1 ulangan 2 rerata % inhibisi
50 0.1490 0.1750 0.1620 53.8569 0.2140 0.2210 0.2175 30.5049
100 0.1360 0.1920 0.1640 53.0154 0.2950 0.2940 0.2945 -1.8934
17
Lampiran 6 Daya inhibisi ekstrak gabungan
perbandingan Pegagan : Tempuyung
ulangan 1 ulangan 2 ulangan 3 rerata %inhibisi
1 : 1 0.1850 0.2280 0.2550 0.2227 28.3310
1 : 2 0.2470 0.2400 0.2230 0.2367 22.4404
2 : 1 0.2140 0.2080 0.1280 0.1833 44.8808
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Desember 1990 dari ayah Djoko Sudjatmoko dan Ibu Suhamamiek Tjipto Wati. Penulis adalah putra kelima dari lima bersaudara. Tahun 2006 penulis lulus dari SMPN 4 Bogor. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Ciomas dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Talenta Mandiri dan diterima di Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.