Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

115  170  12 

Teks penuh

(1)

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Pola Tidur dan Gngguan Tidur Klien Hipertensi

di Puskesmas Helvetia Tri Suci

11101122

Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Medan. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam

menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien

hipertensi di Puskesmas Helvetia.

Saya mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu yang menjadi subjek dalam

penelitian ini dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang ada di kuesioner.

Identitas dan jawaban Bapak/Ibu akan dijamin kerahasiannya dan hanya

digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan. Bapak/Ibu dapat memilih

untuk menghentikan atau menolak berpartisipasi dalam penelitian ini kapan pun

tanpa ada tekanan.

Jika Bapak/Ibu bersedia menjadi peserta penelitian ini, silakan

menandatangani formulir ini. Terimakasih atas perhatian dan partisipasi yang

Bapak/Ibu berikan.

Medan, Mei 2015

Peneliti Responden,

(2)

Lampiran 2

Kode:

KUESIONER PENELITIAN

POLA TIDUR DAN GANGGUAN TIDUR KLIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS HELVETIA

Petunjuk pengisian:

A.Beri tanda check list () pada kotak yang tersedia.

B.Jawablah kuesioner dibawah ini dengan cara memilih salah satu jawaban dengan memberikan tanda check list () pada jawaban yang Bapak/Ibu pilih.

A.Data Demografi

Umur : ... Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Perempuan

Pendidikan : SD Perguruan tinggi

SMP Lain-lain

SMA

Agama : Islam Hindu

Kristen Lain-lain

Buddha

Status perkawinan : Belum menikah Janda/Duda

Menikah Lain-lain

Pekerjaan : PNS/ TNI/ POLRI Bertani

(3)

Jumlah teman sekamar : Sendiri

1-2 orang

3-4 orang

Lebih dari 4 orang

Ukuran kamar : ...

Penyakit lain yang diderita : ...

Obat yang dikonsumsi: Chlortalidone

Bendroflazid/bendroflumetazid

Hidroklorotiazid

Furosemide

Amilorid HCL

(4)

B.

Kuesioner Pola Tidur

Bagian ini akan menanyakan tentang kualitas tidur Bapak/ Ibu yang sebenarnya tadi malam.

1. Berapa lama waktu yang Bapak/ Ibu butuhkan untuk tidur di malam hari? 1. <5 jam

2. 5-6 jam 3. 6-7 jam 4. >7 jam

2. Berapa lama waktu yang Bapak/ Ibu butuhkan untuk dapat tertidur di malam hari?

1. >60 menit 2. 31-60 menit 3. 16-30 menit 4. <15 menit

3. Berapa kali Bapak/ Ibu terbangun dari tidur di malam hari? 1. >5 kali

2. 3-4 kali 3. 1-2 kali 4. Tidak ada

4. Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu ketika bangun tidur di pagi hari? 1. Sangat mengantuk

2. Mengantuk

(5)

5. Seberapa nyenyak tidur Bapak/ Ibu di malam hari? 1. Sebentar-bentar terbangun

2. Tidur dan kemudian terbangun 3. Tidur tetapi tidak nyenyak 4. Tidur sangat nyenyak

6. Apakah Bapak/ ibu merasa segar saat bangun tidur di pagi hari? 1. Tidak sama sekali

2. Cukup segar

3. Sedang

4. Sangat segar

7. Apakah Bapak/ Ibu merasa lemah/ lelah saat beraktivitas pada pagi hari? 1. Sangat lemah atau sangat lelah

2. Lemah atau lelah 3. Sedikit lemah atau lelah

(6)

C.Faktor-Faktor Gangguan Tidur

Berilah tanda () pada kolom yang tersedia dan pilih jawaban sesuai dengan keadaan sebenarnya. Pertanyaan berikut ini berhubungan dengan pendapat Bapak/ Ibu tentang faktor-faktor fisik dan linngkungan yang mengganggu tidur Bapak/ Ibu pada malam hari.

Faktor Gangguan Tidur Ya Tidak

Faktor-faktor Fisik 1. Pusing

2. Nyeri

3. Rasa tidak nyaman

4. Terbangun karena buang air kecil 5. Kelelahan

Faktor-faktor Lingkungan 1. Suara bising

(7)
(8)

Lampiran 4

TAKSASI DANA

No Kegiatan Biaya

1 PROPOSAL

• Kertas A4 80 gr 2 rim

• Biaya internet dan pulsa modem

• Fotocopy sumber-sumber tinjauan pustaka • Fotocopy perbanyak proposal

• Persiapan sidang proposal

2 PENGUMPULAN DATA

• Izin penelitian • Transportasi

• Fotocopy kuesioner dan lembar persetujuan • Cendramata

Rp 150. 000 Rp 150.000 Rp 20.000 Rp 350.000

3 ANALISA DATA DAN PENYAJAN DATA

• biaya print, kertas A4 80 gr 2 rim • penjilidan

• fotocopy laporan penelitian • persiapan sidang skripsi

(9)

Lampiran 5

Validitas Kuesioner Gangguan Tidur

No. Validator

1. 4

2. 4

3. 4

4. 4

5. 3

6. 4

7. 2

8. 3

(10)

Lampiran 6

Hasil Reliability Kuesioner

Kuesioner Pola Tidur

Scale: ALL VARIABLES

a. Listwise deletion based on all variables in the

procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

Cronbach's Alpha

Based on

Standardized Items N of Items

(11)

Item-Total Statistics

Scale Mean if

Item Deleted

Scale Variance

if Item Deleted

Corrected

Item-Total Correlation

Squared Multiple

Correlation

Cronbach's

Alpha if Item

Deleted

Total jam tidur malam 15.40 20.711 .595 .745 .744

Waktu untuk memulai

tidur

15.30 20.900 .663 .751 .734

Frekuensi tidur malam 15.60 20.933 .571 .553 .749

Kepuasan tidur 15.20 22.400 .443 .496 .774

Kedalaman tidur 15.70 18.678 .690 .825 .721

Rasa segar bangun pagi 15.30 27.122 .043 .436 .831

(12)

Tabel Hasil Uji Reliabilitas

Faktor Fisik (KR 20)

(13)
(14)

Lampiran 7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

(15)

Jenis kelamin

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Laki-laki 24 54.5 54.5 54.5

Perempuan 20 45.5 45.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid SD 4 9.1 9.1 9.1

SMP 4 9.1 9.1 18.2

SMA 16 36.4 36.4 54.5

Perguruan tinggi 18 40.9 40.9 95.5

Lain-lain 2 4.5 4.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Agama

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Islam 32 72.7 72.7 72.7

Kristen 12 27.3 27.3 100.0

Total 44 100.0 100.0

Status perkawinan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Belum menikah 12 27.3 27.3 27.3

Menikah 26 59.1 59.1 86.4

(16)

Status perkawinan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Belum menikah 12 27.3 27.3 27.3

Menikah 26 59.1 59.1 86.4

Janda/Duda 6 13.6 13.6 100.0

Total 44 100.0 100.0

Pekerjaan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid PNS/TNI/POLRI 4 9.1 9.1 9.1

Pegawai swasta/wiraswasta 13 29.5 29.5 38.6

Buruh 11 25.0 25.0 63.6

Bertani 3 6.8 6.8 70.5

Lain-lain 13 29.5 29.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Jumlah teman sekamar

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Sendiri 10 22.7 22.7 22.7

1-2 orang 33 75.0 75.0 97.7

3-4 orang 1 2.3 2.3 100.0

Total 44 100.0 100.0

Ukuran kamar

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid 2x3 3 6.8 6.8 6.8

(17)

3x4 33 75.0 75.0 84.1

4x4 7 15.9 15.9 100.0

Total 44 100.0 100.0

Penyakit lain yang diderita

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak ada 32 72.7 72.7 72.7

Jantung 4 9.1 9.1 81.8

Kolesterol 1 2.3 2.3 84.1

Asam urat 2 4.5 4.5 88.6

Lambung 1 2.3 2.3 90.9

Rematik 2 4.5 4.5 95.5

Diabetes 2 4.5 4.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Obat yang dikonsumsi

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Furosemide 1 2.3 2.3 2.3

Lain-lain 4 9.1 9.1 11.4

Tidak ada 39 88.6 88.6 100.0

(18)

Lampiran 8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid < 5 jam 8 18.2 18.2 18.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid > 60 menit 10 22.7 22.7 22.7

31-60 menit 15 34.1 34.1 56.8

16-30 menit 7 15.9 15.9 72.7

< 15 menit 12 27.3 27.3 100.0

(19)

Frekuensi tidur malam

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid > 5 kali 2 4.5 4.5 4.5

3-4 kali 13 29.5 29.5 34.1

1-2 kali 20 45.5 45.5 79.5

Tidak ada 9 20.5 20.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Kepuasan tidur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Sangat mengantuk 3 6.8 6.8 6.8

Mengantuk 16 36.4 36.4 43.2

Sedikit mengantuk 11 25.0 25.0 68.2

Segar 14 31.8 31.8 100.0

Total 44 100.0 100.0

Kedalaman tidur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Sebentar-bentar terbangun 7 15.9 15.9 15.9

Tidur dan kemudian terbangun 13 29.5 29.5 45.5

Tidur tetapi tidak nyenyak 9 20.5 20.5 65.9

Tidur sangat nyenyak 15 34.1 34.1 100.0

(20)

Rasa segar bangun pagi

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak sama sekali 6 13.6 13.6 13.6

Cukup segar 28 63.6 63.6 77.3

Sedang 8 18.2 18.2 95.5

Sangat segar 2 4.5 4.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Konsentrasi beraktivitas

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Sangat lemah atau sangat lelah 2 4.5 4.5 4.5

Lemah atau lemah 16 36.4 36.4 40.9

Sedikit lemah atau lelah 14 31.8 31.8 72.7

Tidak lemah/ lelah sama sekali 12 27.3 27.3 100.0

(21)

Lampiran 9

Frequencies Gangguan Tidur

Statistics

Pusing Nyeri

Rasa tidak

nyaman

Terbangun

buang air kecil Kelelahan Suara bising Penerangan Suhu ruangan

N Valid 44 44 44 44 44 44 44 44

Missing 0 0 0 0 0 0 0 0

Mean .55 .07 .48 .77 .73 .66 .70 .59

Std. Deviation .504 .255 .505 .424 .451 .479 .462 .497

Frequency Table Gangguan Tidur Fisik

Pusing

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 20 45.5 45.5 45.5

Ya 24 54.5 54.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Nyeri

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 41 93.2 93.2 93.2

Ya 3 6.8 6.8 100.0

(22)

Rasa tidak nyaman

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 23 52.3 52.3 52.3

Ya 21 47.7 47.7 100.0

Total 44 100.0 100.0

Terbangun buang air kecil

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 10 22.7 22.7 22.7

Ya 34 77.3 77.3 100.0

Total 44 100.0 100.0

Kelelahan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 12 27.3 27.3 27.3

Ya 32 72.7 72.7 100.0

Total 44 100.0 100.0

Frequency Table Gangguan Tidur Lingkungan

Suara bising

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 15 34.1 34.1 34.1

Ya 29 65.9 65.9 100.0

(23)

Penerangan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 13 29.5 29.5 29.5

Ya 31 70.5 70.5 100.0

Total 44 100.0 100.0

Suhu ruangan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Tidak 18 40.9 40.9 40.9

Ya 26 59.1 59.1 100.0

(24)

Lampiran 10

Master Tabel Data Demografi

(25)

38. 3 1 1 1 2 4 2 3 1 8 Status Perkawinan: 1 : Belum menikah

2 : Menikah

3 : Janda/duda 4 : Lain-lain

Pekerjaan : 1 : PNS/TNI/POLRI

(26)

4 : Bertani 5 : Lain-lain

Jumlah teman sekamar : 1 : Sendiri 2 : 1-2 orang 3 : 3-4 orang

4 : Lebih dari 4 orang

Ukuran kamar : 1 : 2x3 m²

2 : 3x3 m² 3 : 3x4 m² 4 : 4x4 m² Penyakit lain yang diderita : 1 : Tidak ada

2 : Jantung 3 : Kolesterol 4 : Asam urat 5 : Lambung 6 : Rematik 7 : Diabetes Obat yang dikonsumsi : 1 : Chlortalidone

2 : Bendroflazid/bendroflumetazi 3 : Hidroklorotiazid

(27)

Lampiran 11

Master Tabel Pola Tidur

(28)

38. 2 2 2 3 2 2 2 15

39. 1 1 2 2 3 1 2 12

40. 4 3 3 1 4 1 2 18

41. 2 2 2 2 2 2 2 14

42. 2 2 2 2 2 2 2 14

43. 2 1 2 2 3 2 2 14

(29)

Lampiran 12

Master Tabel Gangguan Tidur

(30)

38. 0 0 0 1 1 0 0 0 2

39. 1 0 0 0 1 1 1 1 5

40. 0 0 1 1 1 1 1 1 6

41. 1 0 1 1 1 0 1 0 5

42. 0 0 1 1 1 1 1 1 6

43. 1 0 0 1 1 0 1 1 5

(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)

Lampiran 20

RIWAYAT HIDUP

Nama

: Tri Suci

Tempat/ tanggal lahir

: Adil Makmur, 24 Februari 1993

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Merak Gg. Adil No.51 Kec. Sunggal,

Medan

Pendidikan

:

SD Negeri 094124 Dusun Pengkolan (1999-2005)

SMP Negeri 1 Bosar Maligas (2005-2008)

SMA Negeri 1 Bandar Perdagangan (2008-2011)

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Alawiyah. T. (2014). Gambaran gangguan pola tidur pada perawat di rs syarif

hidayatullah. Jurnal

Albertie, A. (2006). Headache and sleep. Sleep laboratory, neurologic clinic of

Perugia, via e. Dal pozzo, perugia, italy,http://www.clusterheadaches.com.

Asmadi. (2008). Teknik prosedural keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika

diunduh 24 Juni 2015

Boynton, L. (2003). Respiratory caredisclaimer: the material contained herein is provided for informational purposes only, and should not be construed as medical or legal advice on any subject matter. http://web.alsa.org

Bustan, M. N. (2007). Epidemiologi penyakit tidak menular. Jakarta: Rineka Cipta . diunduh 10 Oktober 2014.

Bastaman, T. K. (1988). Arti Tidur dalam Kehidupan Sehari-hari. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakart

Chopra, D. 2003. Tidur nyenyak, mengapa tidak? Ucapkan selamat tinggal pada insomnia. Yogyakarta: Ikon Teralitera

Cohen, Jerome. D. (2009). Hypertension epidemiology and economic burden: refining risk assesment to lower costs. Departement of nternal medicine (cardiology), St. Louis University School of

Medicine

Cortelli, R. J. (2006). Longitudinal clinical evaluation of adjunct minocycline in

the treatment of chronic periodontitis.

Juni 2015

Corwin, E. J. (2000). Buku saku patofisiologi. EGC: Jakarta. Corwin, E. J. (2009). Patofisiologi:buku sakuedisi 9. Jakarta: EGC

Craven, R. F., & Hirnle, C. J. (2000). Fundamental of nursing: human health and function (3 rd ed). Philadelphia: J.B. Lippincott Company

Detroit. (2012). Pusat gangguan tidur henry

ford. http://www.herbalengkap.com

Gangwich, et al..2006. Short Sleep Duration as a Risk Factor for Hypertension :Analyses of the First National health and Nutrition Examination Survey. American Heart Association: 7272 Greenville Avenue, Dallas

diunduh 10 Oktober 2014

(42)

Gotlieb, D. J. Et al. (2005). Association of sleep time with diabetes mellitus and

impaired glucose tolerance. Arch intern med.

diunduh 29 Juni 2015

Guyton, A. C. & Hall, J. E. (1997). Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 9. Jakarta: EGC

Hanning, C. (2009). Sleep disturbance and wind turbine noise on behalf of stop swinford wind farm action group (SSWFAG). http://docs.wind-watch.org.

Hanun, M. (2011). Mengenal sebab-sebab, akibat-akibat, dan cara terapi insomnia. Yogyakarta: FlashBooks

diunduh 24 Juni 2015

Hidayat, A. A. A. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Karota-Bukit. (2003). Sleep Quality and Factors Interfering with Sleep Among Hospitalized Elderly in Medical Units, Medan Indonesia. Master of Nursing Science Thesis in Adult Nursing. Prince of Songkla University, Thailand.

Khuswardhani, R.A.T. (2006). Penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut. Jurnal

Koch, R. (2003). The impact of shift work.

Australi

Lee WL, e. a. (2007). Risk Factors for Peripheral Intravenous Catheter Infection in Hospitalized Patients: A Prospective Study of 3165 Patients. Am J Inject Control.

Mansoor, G. A. (2002). Sleep Actigraphy in Hypertensive Patients with The 'Non-dipper' Blood Pressure Profile. Journal of Human Hypertensio

Miller, C. A. (1995). Nursingcare of older adults: theory & practice. Philadelphia: J. B. Lippincott

Notoatmodjo, S. (2005). Metode penelitian kesehatan edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2012). Metode penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nurmianto, E. (2004). Ergonomi: Konsep dasar & aplikasinyaedisi III. Surabaya: Guna Widya

(43)

Patlak, M. (2005). Your guide to healthy sleep. U. S. Department of health and human services. http://www.nhlbi.nih.gov

Polit, D. F. & Hungler, B. P. (1995). Nursing research: principle and methol (5th edition). Philadelphia: J. B Lippincontt Company

. diunduh 15 November 2014.

Potter, P. & Perry, A. G. (2009). Fundamental keperawatan edisi 7 volume 1. Jakarta: Salemba Medika

Potter, P. & Perry, A. G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan; konsep, proses dan praktik edisi 4 volume 2. Jakarta: EGC.

Puskesmas Helvetia. (2013). Data hipertensi di wilayah kecamatan helvetia. Medan: Puskesmas Helvetia Medan

Putriana. D. (2012). Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan. Jurnal

Rains, J. C. (2006). Sleep Disorders and Headache. Center for Sleep Evaluation at Elliot Hospital, Manchester.

Rasyidah. D. (2012). Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan.http://www.academia.edu. diunduh 02 Juli 2015

Rochers & Roth. (2000). Shift work and healt

Juni 2015

Riskedas. (2013). Laporan riskedas 2013. www.litbang.depkes.go.id

Sack, R. L. et al. (2007). Circadian Rhythm Sleep Disorders: Part I, Basic Principles, Shift Work and Jet Lag Disorders An American Academy of Sleep Medicine Review

diunduh 13 Januari 2015

Schachter, L. (2008). Sample Diagnostic Report. Sleep Services

AustraliDiunduh 24 Juni 2015

Sugiyono. (2005). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Tarwoto & Wartonah. (2006). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatanedisi 3. Jakarta: Salemba Medika

Youna, S. (2014). Hubungan tekanan darah sistolik dengan kualitas tidur pasien hipertensi di puskesmas bahu manado. Jurnal

(44)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tidur dan

gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. Banyak faktor yang

mempengaruhi tidur yaitu fisik seperti pusing, nyeri, rasa tidak nyaman,

terbangun karena BAK, dan mudah lelah; lingkungan seperti suara bising, lampu

ruangan terlalu terang, suhu ruangan panas, dan suhu ruangan dingin; psikologis

seperti stres emosional dan kecemasan; dan obat-obatan dan substansi seperti

hipnotik, diuretik, antidepresan, alkohol, penyekat beta, benzodiazepin dan

narkotika. Pada penelitian ini hanya meneliti fisik dan lingkungan karena

keterbatasan waktu penelitian dan kedua faktor ini sudah memenuhi untuk diteliti

(45)

Gambar 3.1. Kerangka penelitian Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien

- Rasa tidak nyaman - Terbangun karena BAK - Kelelahan

- Total jam tidur malam - Waktu memulai tidur - Frekuensi terbangun

malam

(46)

2. Definisi Operasional

2.1. Pola Tidur

Pola tidur adalah ritme jadwal tidur dan bangun seseorang dalam jangka

waktu tertentu pada malam hari yang dapat dinilaidari 7 aspek parameter tidur

yaitu total jam tidur malam, waktu memulai tidur, frekuensi terbangun malam,

kepuasan tidur, kedalaman tidur, rasa segar bangun pagi, konsentrasi beraktivitas.

Pola tidur diukur dengan menggunakan kuesioner SQQ. Skala yang digunakan

adalah skala ordinal untuk mengidentifikasi kualitas tidur responden baik atau

buruk.

2.2. Gangguan Tidur

Gangguan tidur adalahperubahan yang terjadi terhadap proses tidur akibat

dari masalah medis meliputi masalah fisik dan lingkungan.

Gangguan tidur fisik merupakan perubahan tidur yang berasal dari fungsi

sistem tubuh yaitu pusing, nyeri, rasa tidak nyaman, terbangun karena buang air

kecil, dan kelelahan.

Gangguan tidur lingkungan merupakan perubahan tidur yang berasal dari

lingkungan yaitu suara bising, penerangan, dan suhu ruangan.

Gangguan tidur diukur dengan menggunakan kuesioner. Dimana klien

akan memilih salah satu jawaban yaitu Ya atau Tidak. Skala yang digunakan

(47)

BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan

yaitu deskriptif dimana metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama

untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,

2012). Dimana tujuannya untuk mengidentifikasi gambaran pola tidur dan

gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia.

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 2.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti

(Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah klien hipertensi yang

berkunjung ke puskesmas Helvetia. Berdasarkan survei jumlah penderita

hipertensi pada tahun 2013 di puskesmas Helvetia terdiri dari 294 orang.

2.2. Sampel

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi

(Notoatmodjo, 2012). Sampel penelitian terdiri dari bagian populasi yang

terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian. Penetapan jumlah

(48)

2.3. Teknik Sampling

Metode sampling nonprobability yang digunakan adalah convenience

sampling yaitu pengambilan sampel yang tidak direncanakan terlebih dahulu,

melainkan secara kebetulan, yaitu subjek tersedia bagi peneliti saat pengumpulan

data dilakukan.

Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah klien yang terdiagnosis

hipertensi enam bulan ke atas yang berkunjung di puskesmas Helvetia, bersedia

menjadi responden, sehat jasmani dan rohani.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di Puskesmas Helvetia Jln. Kemuning

Perumnas Helvetia yang merupakan salah satu puskesmas rawat inap, dengan

pertimbangan jumlah sampel yang memadai, efisiensi waktu dan biaya penelitian.

Perencanaan waktu penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juni 2015.

4. Pertimbangan Etik

Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan etik dalam penelitian ini

yaitu:

Self determination, dalam penelitian ini peneliti memberikan kebebasan

kepada responden untuk menentukan apakah bersedia menjadi responden atau

tidak dalam penelitian ini setelah diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan

(49)

Privacy, peneliti menjelaskan pada responden bahwa semua informasi

yang diperoleh dari responden selama penelitian ini hanya digunakan untuk

kepentingan penelitian ini.

Anonymity, peneliti menjelaskan kepada responden bahwa menjamin

kerahasiaan responden dengan tidak menuliskan atau mencantumkan identitas

responden pada lembar pengumpulan data atau kuesioner.

Confidentially, peneliti menjelaskan kepada responden bahwa semua

informasi yang deperoleh dari responden tidak akan disajikan secara keseluruhan.

Protection from discomfort and harm, peneliti memperhatikan

kemungkinan ketidaknyamanan yang dirasakan responden selama pengisian

kuesioner. Untuk meminimalkan ketidaknyamanan maka peneliti mendampingi

responden selama pengisian kuesioner.

5. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan alat

pengumpul data dengan membacakan kuesioner. Instrumen ini terdiri atas tiga

bagian yaitu Data Demografi (KDD), Kuesioner Pola Tidur (KPT), dan Kuesioner

Gangguan Tidur (KGT).

Kuesioner Data Demografi (KDD) merupakan bagian pertama instrumen

penelitian berisi tentang pengkajian data demografi klien hipertensi yang

bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden yang meliputi umur,

jenis kelamin, agama, status perkawinan, pekerjaan, dan jumlah teman sekamar,

(50)

Kuesioner Pola Tidur (KPT) bertujuan untuk mengidentifikasi pola tidur

klien hipertensi. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang diadopsi dari

kuesioner pola tidur Karota Bukit (2005). Kuesioner pola tidur ini merupakan

kuesioner yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola tidur klien hipertensi

di puskesmas Helvetia. Kuesioner pola tidur meliputi: total jam tidur malam

(kuesioner nomor 1), waktu untuk memulai tidur (kuesioner nomor 2), frekuensi

terbangun di malam hari (kuesioner nomor 3), kepuasan tidur (kuesioner nomor

4), kedalaman tidur(kuesioner nomor 5), rasa segar bangun tidur (kuesioner

nomor 6), konsentrasi dalam beraktivitas (kuesioner nomor 7).

Kuesioner pola tidur ini terdiri dari tujuh pertanyaan tertutup dengan

empat pilihan. Kualitas tidur akan semakin buruk apabila nilai kuesioner semakin

rendah dan sebaliknya kualitas tidur akan semakin baik apabila nilainya tinggi

dimana nilainya 7-28.

Kuesioner gangguan tidur (KGT) bertujuan untuk mengidentifikasi ada

tidaknya gangguan tidur yang terjadi pada klien hipertensi. Kuesioner yang

digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya oleh

Vina Prismawati Sagala. Faktor-faktor Fisik: pusing (kuesioner nomor 1), nyeri

(kuesioner nomor 2), rasa tidak nyaman (kuesioner nomor 3), terbangunkarena

buang air kecil(kuesioner nomor 4), kelelahan(kuesioner nomor 5). Faktor-faktor

Lingkungan: suara bising(kuesioner nomor 1), penerangan(kuesioner nomor 2),

suhu ruangan(kuesioner nomor 3). Nilai dari kuesioner ini yaitu 0-8, semakin

tinggi nilai kuesioner maka semakin tinggi pula tingkat gangguan tidurnya.

(51)

6. Alat dan Bahan

Suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial

yang diamati (Sugiyono, 2005). Pada penelitian ini, alat yang digunakan adalah

berupa lembar kuesioner untuk memperoleh data tentang pola tidur dan gangguan

tidur klien hipertensi.

7. Validitas dan Reabilitas

7.1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan

atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu

mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang

diteliti secara tepat (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan tinjauan pustaka dalam

penggunaan instrumen penelitian yang merupakan adaptasi total dari SQQ (Sleep

Quality Questionaires)yang telah divalidasi sehingga dapat digunakan di berbagai

tatanan pelayanan kesehatan baik di rumah sakit, di komunitas maupun di

sekolah.

Sedangkan gangguan tidur klien hipertensi menggunakan kuesioner yang

dimodifikasi dari penelitian sebelumnya oleh Vina Prismawati Sagala. Dimana

instrumen ini telah divalidasikan oleh Dosen di Fakultas Keperawatan yang

memiliki kesesuaian bidang dengan judul penelitian dari Fakultas Keperawatan

(52)

7.2. Reliabilitas

Sebagai pemeriksaan pendahuluan sebelum melakukan penelitian,

menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan

alat ukur yang sama (Notoadmodjo, 2012). Uji reliabilitas instrumen bertujuan

untuk mengetahui seberapa besar derajat alat ukur dapat mengukur secara

konsisten objek yang akan diukur. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang

memberikan hasil yang relatif sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok

sampel yang sama.

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar derajat alat

ukur dapat mengukur secara konsisten objek yang akan diukur. Uji reliabilitas

telah dilakukan pada responden yang berkunjung ke Puskesmas Helvetia.

Kuesioner pola tidur sudah direliabilitas dengan internal konsistensi Cronbach’s

Alpha Coefficient dengan hasil 0,788 dan hasil ini dinyatakan reliab. Kuesioner

gangguan tidur telah di uji dengan menggunakan uji KR 20 dan dinyatakan relieb

apabila nilai 0,6-0,7 atau lebih. Hasil reliabilitas gangguan tidur fisik didapatkan

nilai 0,72 dan gangguan tidur lingkungan dengan nilai 1,02.

8. Pengumpulan Data

Pada tahap awal peneliti telah mengajukan permohonan izin pelaksanaan

penelitian pada institusi pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara, kemudian permohonan izin yang

(53)

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin,

peneliti melaksanakan pengumpulan data penelitian. Teknik pengumpulan data

dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarluaskan kuesioner kepada setiap

responden sesuai dengan inklusi kriteria dan telah bersedia menjadi responden

dengan mengisi lembar persetujuan. Responden dijelaskan tentang topik, manfaat

serta tujuan dari penelitian kemudian responden diminta untuk mengisi kuesioner

yang diberikan oleh peneliti, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi pada

responden, bila perlu peneliti mendampingi responden selama pengisian kuesioner

sehingga hal-hal yang kurang dimengerti responden dapat segera dijelaskan.

Setelah responden selesai mengisi kuesioner, maka seluruh data dikumpulkan

untuk dianalisa. Pada waktu yang bersamaan, responden diminta untuk

menyerahkan foto kopi transkrip nilai yang dibutuhkan.

9. Analisa Data

Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul melalui beberapa

tahap ditandai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan identitas dan data

responden serta memastikan semua bahwa semua jawaban telah diisi, kemudian

data yang sesuai diberi kode (coding) untuk memudahkan peneliti dalam

melakukan tabulasi dan analisa data. Selanjutnya mamasukan (entry) data

kedalam komputer dan melakukan pengolahan data dengan menggunakan

program statistik. Analisisdata mengunakan analisis dataunivariat yang dilakukan

untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase dari setiap variabel yang

(54)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian tentang pola tidur dan gangguan

tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia melalui proses pengumpulan data

yang telah dilakukan pada tanggal 25 Mei – 20 Juni 2015. Penyajian data meliputi

deskripsi karakteristik responden, pola tidur klien hipertensi dan gangguan tidur

klien hipertensi di Puskesmas Helvetia sejumlah 44 orang.

1.1. Deskripsi Karakteristik Responden

Hasil penelitian pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa mayoritas responden

yang didapatkan berusia 36-45 tahun yaitu sebanyak (41%), responden berjenis

kelamin laki-laki (55%) dan perempuan (45%), SMA (36%) dan tingkat

pendidikan perguruan tinggi (41%), agama responden mayoritas Islam (73%),

pekerjaan pegawai swasta/wiraswasta dan lain-lain (30%) dan buruh (25%),

jumlah teman sekamar 1-2 orang (75%), ukuran kamar 3x4 m² (75%), penyakit

lain yang diderita tidak ada (73%), dan klien tidak ada mengonsumsi obat sebesar

(89%).

Tabel 5.1Frekuensi dan persentase data demografi klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase

Umur

17-25 tahun (remaja akhir) 26-35 tahun (dewasa awal) 36-45 tahun (dewasa akhir) 46-55 tahun (lansia awal)

(55)

Tabel 5.1 (Lanjutan)

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase

(56)

Tabel 5.1 (Lanjutan)

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase

Penyakit Lain yang Diderita Tidak Ada

1.2. Pola Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola tidur klien hipertensi dapat diidentifikasi dari parameter tidur yaitu:

total jam tidur malam, waktu untuk memulai tidur, frekuensi terbangun malam,

kepuasan tidur, kedalaman tidur, rasa segar bangun pagi, konsentrasi beraktivitas.

Hasil persentase pola tidur klien dapat dilihat berdasarkan grafik 5.1 dan

tabel 5.2. Hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan tabel 5.2 menunjukkan

bahwa mayoritas 30% total jam tidur malam hari 5-6 jam (X= 2.61, SD=1.083),

57% waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (X= 2.48, SD=1.131),

45% frekuensi terbangun malam 1-2 kali (X= 2.82, SD= 0.815), 36% kepuasan

tidur klien merasa mengantuk (X= 2.82, SD= 0.971), 66% kedalaman tidur klien

tidur tetapi tidak nyenyak (X= 2.73, SD=1.107), 64% merasa cukup segar bangun

di pagi hari (X= 2.14, SD= 0.702), 36% merasa lemah atau lelah saat beraktivitas

(57)

Gambar 5.1 Grafik persentase pola tidur klien hipertensi di puskesmas helvetia

Tabel 5.2Frekuensi dan persentase parameter tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44).

Parameter Tidur Frekuensi Persentase

Total jam tidur malam hari < 5 jam

5 – 6 Jam > 6 - 7 jam > 7 jam

Waktu untuk memulai tidur > 60 menit

TJM WMT FTM KPD KDT RSB KBT

Skor Relatif Baik

Skor Relatif Cukup

Skor Relatif Rendah

(58)

Tabel 5.2 (Lanjutan)

Parameter Tidur Frekuensi Persentase

Kedalaman tidur

Sebentar-bentar terbangun Tidur dan kemudian terbangun Tidur tetapi tidak nyenyak Tidur sangat nyenyak Rasa segar bangun pagi

Tidak sama sekali Cukup segar Sedang Sangat segar

Konsentrasi beraktivitas

Sangat lemah atau sangat lelah Lemah atau lelah

Sedikit lemah atau lelah

Tidak lemah atau lelah sama sekali

7

1.3. Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

1.3.1. Faktor Fisik

Tabel 5.3 menunjukkan tanda gejala penyakit yang dialami oleh mayoritas

klien adalah pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil

(76%) dan kelelahan (71%).

(59)

1.3.2. Faktor Lingkungan

Gangguan tidur umumnya dari suara bising berbagai sumber, penerangan,

dan juga suhu ruangan yang tidak sesuai. Tabel 4 menunjukkan mayoritas klien

mengalami gangguan pada suara bising (65%), penerangan (69%) dan suhu

ruangan yang tidak sesuai sebesar (58%).

Tabel 5.4Frekuensi dan persentase gangguan tidur lingkungan klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)

Faktor Lingkungan Ya Tidak

F % f %

Pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu untuk

mengidentifikasi pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas

Helvetia.

2.1. Pola Tidur Klien Hipertensi

Pola Tidur adalah ritme jadwal tidur dan bangun seseorang dalam jangka

waktu tertentu pada malam harimeliputi waktu untuk memulai tidur, frekuensi

terbangun malam, kepuasan tidur, kedalaman tidur, dan konsentrasi beraktivitas

(Potter & Perry, 2005) serta total jam tidur dan rasa segar bangun pagi (Guyton &

(60)

berada pada pola tidur dengan karakteristik rendah pada aspek penilaian tujuh

komponen parameter tidur hal ini menunjukkan bahwa pola tidur klien dengan

hipertensi benar dalam kondisi tidak normal. Hal ini sesuai dengan penelitian

sebelumnya bahwa klien hipertensi mengalami pola tidur dalam kondisi yang

tidak normal (Sarah, 2014).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar total jam tidur malam

klien 5-6 jam (30%).Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya total jam tidur

malam klien hipertensi adalah 5-6 jam (Putriana, 2012), adapun penelitian

terhadap 230 klien hipertensi dari Unversitas Pisa di Italy menemukan bahwa

mayoritas responden tidur 6 jam atau kurang setiap malam,sedangkan kebutuhan

waktu tidur normal pada orang dewasa adalah 7-8 jam dalam sehari (Patlak,

2005). Secara umum kebutuhan tidur yang tidak normal tentunya akan

mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada hipertensi (Gangwisch, 2006),

bahkan apabila terjadi dalam waktu yang lama tentunya akan memperparah

peningkatan tekanan darah yang diderita (Chopra, 2003). Hal tersebut desebabkan

karena saat tidur tekanan darah dan denyut jantung akan menurun sebanyak

10-20% (Gotlieb, 2006).

Hasil penelitian menunjukkan waktu mulai tertidur 31-60 menit atau lebih

dialami 57% klien. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya waktu yang

dibutuhkan untuk mulai tidur 31-60 menit dialami 35% klien (Putriana, 2012).

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa penderita hipertensi memiliki waktu

lebih lama untuk mulai tertidur (Mansoor, 2002)sehingga akan berdampak pada

(61)

dalam waktu 20 menit (Schachter, 2008).Tidak nyaman, status kesehatan yang

memburuk dapat meningkatan waktu mulai tidur klien. Orang yang menderita

penyakit hipertensi tentunya akan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, sehingga

responden bisa mengalami insomnia dan klien akan sulit untuk tidur (Sarah,

2014). Hal ini juga berkaitan dengan mengonsumsi tembakau dan teh, adapun

kandungan nikotin yang terdapat dalam tembakau dan kandungan kafein yang

terdapat dalam teh akan menyebabkan seseorang sulit untuk memulai tidur

(Mukhlidah, 2011).

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa responden dapat terbangun 3-4

kali saat tidur malam hari (30%). Namun hampir dari sebagian responden

terbangun masih dalam batas normal 1-2 kali saat tidur malam hari (45%). Hal ini

tidak sesuai dengan pernyataan bahwa mayoritas responden hipertensi dapat

terbangun 3-4 kali saat tidur malam hari dialami 38% klien (Putriana 2012). Obat

yang diberikan pada klien hipertensi salah satunya diuretik akan menyebabkan

nokturia sehingga tidur menjadi terganggu karena sering berkemih dan klien akan

sering terbangun (Potter & Perry, 2005). Selain itu, menurut International

Classification of Sleep Disorders penggunaan obat stimulan yang kronik

(amfetamin, kafein, nikotin), antihipertensi, antidepresan dapat menimbulkan

terputus-putusnya fase tidur REM sehingga menyebabkan klien sering terbangun.

Pada penelitian ini klien hipertensi merasa kurang puas dengan tidurnya

dimana klien merasa mengantuk di pagi hari (36%). Hal ini sesuai dengan

penelitian di Sulawesi Utara dimanasebagian besar responden mengeluhkan

(62)

mengantuk di pagi hari (Sarah, 2012). Hal ini dapat terjadi karena klien terjaga di

malam hari dalam waktu yang panjang dan klien sering terbangun (Roehers &

Roth, 2000). Obat seperti penyekat-Beta yang diberikan pada klien hipertensi juga

dapat menyebabkan seseorang mimpi buruk, insomnia, menyebabkan terbangun

dari tidurnya dan klien pun akan mengalami gangguan pada tidurnya (Potter &

Perry, 2005).

Mayoritas klien hipertensi memiliki kedalaman tidur yang kurang baik

dimana klien merasa tidurnya tidak nyenyak (66%). Hal ini sesuai dengan

peneltian sebelumnya bahwa klien hipertensi memiliki kedalaman tidur yang tidak

baik karena sebentar-sebentar dapat terbangun saat tidur dialami 41% klien

(Rasyidah, 2012). Hal ini juga berkaitan dengan seringnya klien terbangun di

sela-sela tidurnya seperti yang sudah dipaparkan oleh Potter & Perry bahwa kondisi

klinis yang dialami klien hipertensi membuat klien tidak mendapatkan tidur yang

cukup dan juga efek samping obat hipertensi yang membuat klien tatap terjaga di

malam hari (Putriana, 2012).

Lebih dari setengah klien hipertensi merasa cukup segar saat bangun di

pagi hari (64%). Namun 14% klien hipertensi merasa tidak segar sama sekali saat

bangun pagi. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa mayoritas

klien hipertensi merasa tidak segar sama sekali saat bangun pagi dialami 32%

klien (Rasyidah,2012). Hal ini mengindikasikan bahwa tidak segar sewaktu

bangun di pagi hari dapat disebabkan berbagai faktor masalah kesehatan yang

meningkatkan frekuensi terbangun (Miller, 1995). Misalnya efek samping obat

(63)

Lemah atau lelah saat melakukan aktivitas di pagi hari juga dirasakan klien

hipertensi (36%). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa mayoritas

klien hipertensi merasa lelah saat beraktivitas di pagi hari dialami 38% klien

(Rasyidah, 2012). Hal ini juga berkaitan dengan hasil dari parameter tidur klien.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang

yang tidak mendapatkan tidur yang cukup akan merasa kelelahan saat beraktivitas

keesokan harinya (Bastaman, 1988).Pada klien hipertensi, gangguan tidur yang

berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur

biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah

tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat

mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain (Alawiyah, 2009).

2.2. Faktor-faktor Gangguan Tidur Klien Hipertensi

2.2.1. Faktor fisik

Pada penelitian ini 51% klien mengalami pusing karena tekanan darahnya

meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari hasil penelitian Cortelli (2006)

yang menunjukkan bahwa 46% klien hipertensi sering mengalami pusing yang

berdampak pada kualitas tidur yang buruk, dan apabila pusing tidak segera diatasi

dan semakin parah maka akan semakin meningkat juga tingkat gangguan tidurnya

(Albertie, 2006). Selain itu pusing pada klien hipertensi dapat membangunkan

klien dari tidurnya sehingga klien tidak mendapatkan tidur yang cukup yang

nantinya akan berdampak pada aktivitas di keesokan harinya (Potter & Perry,

2005). Menurut asumsi peneliti pada klien hipertensi yang mengalami pusing

(64)

kurang efekfif. Mereka menunjukkan tanda-tanda curiga dan gampangmarah serta

membuat mereka tidak mendapatkan tidur yang cukup dan tidak nyenyak dengan

tidurnya.

Klien hipertensi yang mengalami nyeri hanya 7% dan mereka mengatakan

hal tersebut disebabkan oleh adanya penyakit penyerta yang lain misalnya karena

peningkatan asam lambung yang diderita klien. Inilah yang menyebabkan

sedikitnya klien hipertensi yang mengalami nyeri. Berdasarkan hasil yang didapat,

peneliti memiliki asumsi bahwa nyeri yang dialami oleh klien hipertensi

dipengaruhi oleh adanya penyakit penyerta lain.

Sementara itu klien merasa tidak nyaman dengan tidurnya dikarenakan

kondisi klinis klien yang dialami berkaitan juga dengan pusing dan terbangun

karena buang air kecil (47%). Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa rasa tidak

nyaman merupakan salah satu faktor terjadinya gangguan tidur dimana seseorang

akan merasa gelisah dan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak (Potter &

Perry, 2005). Berdasarkan hasil yang didapat maka peneliti berasumsi bahwa

pusing yang berkepanjangan dialami klien hipertensi sangat berpengaruh pada

kenyamanan klien. Sehingga klien tidak nyaman dengan tidurnya dan klien

mengalami gangguan tidur.

Pada penelitian ini masalah yang sering dialami oleh klien hipertensi

sering terbangun karena buang air kecil pada malam hari (76%). Hal ini sesuai

dengan hasil penelitian Khuswardhani (2006) yang menunjukkan bahwa 68%

gejala tersering pada klien hipertensi adalah sering buang air kecil. Selain itu

(65)

hipertensi dapat menyebabkan seseorang terbangun berulang kali dari tidurnya

(Mansoor, 2002). Setelah seseorang berulang kali terbangun untuk berkemih,

menyebabkan kembali untuk tertidur lagi menjadi sulit (Potter & Perry, 2005).

Hasil penelitian menunjukkan klien hipertensi mengalami kelelahan (71%)

dikarenakan keadaannya sekarang. Hipotiroidisme menurunkan tidur tahap 4,

sebaliknya hipertiroidisme menyebabkan seorang perlu waktu yang banyak untuk

tertidur. Kelelahan dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya

seseorang yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun ketika tidur

dan biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam, (Potter & Perry, 2005).

2.2.2. Faktor lingkungan

Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, di

antaranya adalah suara bising, penerangan, dan suhu ruangan. Dari hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa 65% klien mengalami gangguan tidur bila berada pada

lingkungan yang menimbulkan suara bising. Hal ini sesuai dengan penelitian

Rasyidah bahwa 73% responden hipertensi mengalami gangguan tidur bila berada

pada lingkungan yang menimbulkan suara bising. Hal ini sesuai dengan

pernyataan bahwa kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur karena

terganggunya konsentrasi seseorang untuk memulai tidur (Mukhlidah, 2011) dan

juga dapat membangunkan seseorang dari tidur (Hanning, 2009). Hasil penelitian

oleh Robert Koch (2003) menunjukkan bahwa orang yang hidup di lingkungan

permukiman yang padat cenderung mengalami suara bising yang mengakibatkan

peningkatan tekanan darah dan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang

(66)

Penerangan juga mempengaruhi tidur seseorang dimana hasil penelitian

menunjukkan 69% klien terganggu dengan penerangan. Tingkat cahaya dapat

mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Beberapa klien menyukai sorot lampu

ruangan gelap, sementara yang lain menyukai cahaya remang yang tetap menyala

selama tidur (Potter & Perry, 2005). Menurut Guyton & Hall (1997), penerangan

dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat menghambat sekresi melatonin

pada tubuh yang akan menyebabkan seseorang tidak mengantuk. Hal ini tentunya

dapat menyebabkan terjadinya pergeseran sistem sirkadian, dimana jadwal tidur

maju secara bertahap dan mengakibatkan seseorang mengalami total jam tidur

yang kurang (Sack et al, 2007).

Keluhan klien 58% terganggu dengan suhu ruangan yang terlalu panas

atau terlalu dingin. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rasyidah bahwa 76%

melaporkan bahwa klien hipertensi mengalami gangguan tidur bila tidak berada di

ruangan dengan suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin. Seseorang akan

mengalami gangguan tidur apabila tidur di ruangan yang terlalu panas ataupun

terlalu dingin (Lee, 2007). Hal ini disebabkan karena saat tidur suhu ruangan akan

mempengaruhi suhu tubuh dan tekanan darah seseorang saat tidur, jika suhu

ruangan meningkat maka hypothalamus akan merangsang pembesaran pori-pori

kulit percepatan peredaran darah, pengeluaran keringat, dan reaksi-reaksi tubuh

lainnya yang bertujuan untuk mengurangi panas tubuh yang berlebihan.

3. Keterbatasan Penelitian

Pengelompokkan usia tidak diberi batasan dalam melakukan penelitian

(67)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan

mengenai pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia.

1. Kesimpulan Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang didapatkan pola tidur klien hipertensi mayoritas

berada pada pola tidur dengan karakteristik rendah pada aspek penilaian tujuh

komponen parameter tidur hal ini menunjukkan bahwa pola tidur klien dengan

hipertensi benar dalam kondisi tidak normal. Mayoritas total jam tidur malam hari

klien hipertensi 5 jam sampai 6 jam (30%), waktu untuk memulai tidur 31-60

menit atau lebih (57%), frekuensi terbangun malam 1-2 kali (45%), kepuasan

tidur klien merasa mengantuk (36%), kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak

nyenyak (66%), merasa cukup segar bangun di pagi hari (64%), merasa lemah

atau lelah saat beraktivitas di siang hari (36%). Berdasarkan pola tidur klien

dengan 7 parameter tidur maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya

maka semakin baik pula kualitas tidurnya.

Gangguan tidur utama dari faktor fisik adalah pusing (51%), rasa tidak

nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%), dan kelelahan (71%).Nyeri yang

mengganggu tidur klien di malam hari hanya sebagian kecil (7%). Sedangkan dari

lingkungan suara bising (65%), penerangan (69%), dan juga suhu ruangan (58%)

yang tidak sesuai sangat mempengaruhi tidur klien. Berdasarkan gambaran

gangguan tidur maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka

(68)

2. Saran

2.1. Bagi Pendidikan Keperawatan

Perlunya diberikan penekanan materi tentang pola tidur dan gangguan

tidur klien hipertensi di Puskesmas.

2.2. Bagi Pelayanan Keperawatan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan

keperawatan untuk memberikan pelayanan yang lebih komprehensif

berupa promosi kesehatan dalam meningkatkan kesadaran tentang pola

tidur dan gangguan tidur klien hipertensi dan bagaimana cara

mendapatkan kualitas tidur yang baik terkhusus ditujukan kepada klien

hipertensi.

2.3. Bagi Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini menunjukkan pola tidur dan gangguan tidur klien

hipertensi, hal ini dapat digunakan sebagai dasar dan referensi

penelitian selanjutnyatentang pola tidur dan gangguan tidur klien

(69)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Hipertensi 1.1. Definisi

Hipertensi secara umum dapat didefinisikan sebagai tekanan sistolik lebih dari

140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah manusia secara

alami berfluktuasi sepanjang hari. Tekanan darah tinggi menjadi masalah hanya bila

tekanan darah tersebut persisten. Tekanan darah tersebut membuat sistem sirkulasi

dan organ yang mendapat suplai darah (termasuk jantung dan otak) menjadi tegang

(Palmer, 2005). Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg

tekanan sistolik dan 80 – 90 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi adalah tekanan

darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang

berbeda (Corwin, 2009).

Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis

hipertensi harus bersifat spesifik usia (Corwin, 2009). Joint National Committee

on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure

yang ke 7 (dalam Corwin, 2009) telah mempublikasikan revisi panduan nilai

tekanan darah sistolik dan diastolik yang optimal dan hipertensif. Pada umumnya,

tekanan yang dianggap optimal adalah kurang dari 120 mmHg untuk tekanan

sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolik, sementara tekanan yang dianggap

hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk sistolik dan lebih dari 90 mmHg

untuk dastolik. Istilah “prahipertensi” adalh tekanan darah antara 120 mmHg dan

(70)

terutama yang memiliki faktor risiko kardiovaskuler bermakna, termasuk riwayat

yang kuat dalam keluarga untuk infark miokard atau stroke, atau riwayat diabetes

pada individu, bahkan pada nilai prahipertensif dianggap terlalu tinggi (Corwin,

2009).

1.2. Etiologi

Pada lebih dari 95% penderita hipertensi tidak dapat ditemukan

penyebabnya yang khusus. Para pasien ini didiagnosis sebagai pasien hipertensi

primer. Sebagian kecil dari pasien yang penyebab khususnya dapat diidentifikasi

telah didiagnosis sebagai pasien hipertensi sekunder ( Corwin, 2009).

Ada beberapa penyebab hipertensi yaitu:

Usia, insidens hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia.

Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikkan

insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur.

Kelamin, pada umumnya insidens pada pria lebih tinggi daripada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insidens pada wanita mulai

meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insidens pada wanita lebih tinggi.

Ras, hipertensi pada orang yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada orang yang berkulit putih. Akibat penyakit ini umumnya lebih berat pada ras

ulit hitam. Misalnya mortalitas pasien pria hitam dengan diastole 115 atau lebih,

3,3 kali lebih tinggi daripada pria berkulit putih, dan 5,6 kali bagi wanita putih.

Pola Hidup, faktor seperti pendidikan, penghasilan, dan faktor pola hidup

(71)

pendidikan rendah, dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh stres agaknya

berhubungan dengan insidens hipertensi yang lebih tinggi.

1.3.Faktor Risiko

Pada sebagian besar kasus, penyebab tekanan darah tinggi tidak diketahui.

Hal ini terutama terjadi pada hipertensi esensial. Walaupun demikian, terdapat

beberapa faktor risiko yang dapat membuat anda lebih mudah terkena tekanan

darah tinggi (Palmer, 2007).

Faktor risiko tersebut meliputi:

Kelebihan berat badan, didefenisikan sebagai indeks masa tubuh (BMI)

lebih besar dari 30KG/m². Hal tersebut sangat terkait erat dengan tekanan darah

tinggi.

Kurang berolahraga dan aktivitas fisik, sebuah gaya hidup tak

berpindah-pindah kontribusi untuk pengembangan kegemukan dan tekanan darah tinggi.

Mengonsumsi makanan berkadar garam tinggi, beberapa orag memiliki

kepekaan tinggi untuk sodium (garam), dan tekanan darah mereka akan

meningkat jika mereka menggunakan garam. Mengurangi konsumsi sodium

cenderung menurunkan tekanan darah. Makanan cepat saji merupakan makanan

yang terutama mengandung jumlah sodium yang tinggi. Banyak obat-obatan

seperti analgesik juga mengandung sodium dalam kadar yang lebih.

Usia tua, tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia,

terutama sistolik. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh arteriosklerosis.

Riwayat tekanan darah tinggi dalam keluarga, kita cenderung menyandang

(72)

Etnis, orang kulit hitam lebih besar risiko terkena darah tinggi daripada

orang kulit putih. Hal tersebut juga dapat muncul dengan kemungkinan lebih

besar pada usia muda dan berkembang menjadi komplikasi yang lebih cepat.

Gender, tekanan darah tinggi sedikit lebih sering terjadi pada pria daripada

wanita. Kemungkinan ini bervariasi dengan usia dan diantara kelompok etnis.

Obat, beberapa obat seperti amphetamine (stimulan), diet pil, dan beberapa

pil yang digunakan untuk keadaan dingin dan gejala alergi, cenderung untuk

meningkatkan tekanan darah.

Walaupun merokok hanya menyebabkan peningkatan tekanan darah

sesaat, namun merokok secara dramatis meningkatkan risiko penyakit jantung dan

stroke. Meskipun makan terlalu banyak lemak (terutama lemak jenuh yang

ditemukan pada daging dan produk susu) tidak secara langsung dikaitkan dengan

peningkatan tekanan darah, namun tetap merupakan faktor risiko penyakit

kardiovaskular karena hal tersebut terkait dengan tingginya kadar kolesterol dalam

darah (Palmer, 2007).

1.4. Klasifikasi

Hipertensi sering diklasifikasi menjadi hipertensi primer atau sekunder,

berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat diidentifikasi. Kebanyakan besar

kasus hipertensi primer atau esensial. Apabila penyebab hipertensi dapat diketahui

(73)

Hipertensi Esensial (primer)

Tipe ini terjadi pada sebagian besar kasus tekanan darah tinggi sebesar

95%. Penyebabnya tidak diketahui, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor

gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan (Corwin, 2009).

Hipertensi Sekunder

Salah satu contoh hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskuler renal,

yang terjadi akibat stenosis arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital

atau akibat aterosklerosis. Stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke

ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasan

renin, dan pembentukanangiotensin II. Angiotensin II secara langsung

meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan TPR, dan secara tidak

langsung dengan meningkatkan sintesis aldosteron dan reabsorpsi natrium.

Apabila dapat dilakukan perbaikan pada stenosis, atau apabila ginjal yang terkena

diangkat, tekanan darah akan kembali ke normal (Corwin, 2009).

1.5. Patofisiologi

Dimulai dengan atherosclerosis, gangguan struktur anatomi pembuluh darah

perifer yang berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah. Kekakuan pembuluh darah

disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang

mennghambat gangguan peredaran darah perifer. Kekakuan dan kelambanan aliran

darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang akhirnya dikompensasi

dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang memberikan gambaran

(74)

1.6. Komplikasi

Stroke merupakan salah satu komplikasi dari tekanan darah tinggi. Stroke

dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak

mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang

diperdarahinya berkurang. Komplikasi akibat hipertensi yang lain adalah

terjadinya infark miokard. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka

kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi

iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga hipertropi ventrikel

dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi

ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko

pembentukan bekuan (Corwin, 2009).

Gagal ginjal juga dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan

tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, dan glomerolus. Rusaknya membran

glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid

plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi

kronik. Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna

(hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan

peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium

diseluruh susunan saraf pusat. Selain itu, hipertensi Gagal jantung atau

ketidakmampuan jantung dalam memompa darah yang kembalinya kejantung

(75)

2. Konsep Tidur 2.1. Definisi Tidur

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh

semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang

memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh

melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada

dalam kondisi yang optimal. Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan

tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek

yang bagus terhadap kesehatan (Asmadi, 2008).

Tidur adalah suatu proses perubahan kesadaran yang terjadi

berulang-ulang selama periode tertentu (Potter & Perry, 2005). Tidur merupakan suatu

keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan

menurun atau hilang, dan adapat dibangunkan kembali dengan indra atau

rangsangan yang cukup. Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar

dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik

atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997).

2.2. Fisiologi Tidur

Tidur dimulai dengan aktifitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang

bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologi tubuh dan penurunan respon

terhadap rangsangan dari luar. Tidur merupakan sesuatu yang paling penting bagi

manusia, sama halnya seperti kesehatan yang baik secara umum (Guyton &

Hall,1997). Tiap individu membutuhkan jumlah yang berbeda untuk tidur. Tanpa

(76)

dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun, dan meningkatkan

iritabilitas (Potter & Perry, 2005).

Sebagian besar organisme hidup menunjukkan adanya fluktuasi fungsi

tubuh yang berirama sepanjang kurang lebih 24 jam, yaitu berirama sirkadian.

Umumnya, organisme –organisme tersebut menjadi terlatih seirama dengan siklus

cahaya siang-malam yang terjadi di lingkungannya (Ganong, 1998). Irama

sirkadian mempengaruhi pola fungsi biologis utama dan fungsi perilaku. Fluktuasi

dan prakiraan suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, sekresi hormon,

kemampuan sensorik, dan suasana hati tergantung pada pemeliharaan siklus

sirkadian 24 jam (Potter & Perry, 2005). Zona tidur otak depan basal meliputi

bagian-bagian dari hipotalamus. Dari hipotalamus, jalur endokrin dan saraf yang

menuju ke berbagai bagian tubuh, mengatur irama ini, termasuk pelepasan

melatonin di malam hari, yang berfungsi sebagai sinyal waktu sistemik (Ganong,

1998).

Irama biologis tidur sering menjadi sinkron dengan fungsi tubuh yang lain.

Jika siklus tidur bangun menjadi terganggu (misalnya perputaran dinas kerja),

maka fungsifisiologis lain dapat berubah juga. Kegagalan untuk mempertahankan

siklus tidur-bangun individual yang biasanya dapat secara berlawanan

mempengaruhi kesehatan keseluruhan seseorang (Potter & Perry, 2005).

Tidur melibatkan suatu urutan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh

integrasi fungsi aktivitas sistem saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan

dalam sistem saraf peripheral, endokrin, kardiovaskuler, pernapasan dan

(77)

aktivitas otak. Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur

aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG), yang mengukur

tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur gerakan mata,

memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur (Potter & Perry, 2005).

Kontrol dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan natara dua

mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermiten dan menekan pusat otak

tertinggi untuk mengontrol tidur dan terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan

terjaga dan yang lain menyebabkan tertidur. Siklus tidur-bangun mempengaruhi

dan mengatur fungsi fisiologis dan respon prilaku. Jika siklus tidur-bangun

seseorang terganggun, maka fungsi fisiologis tubuh yang lain juga dapat

terganggu atau berubah. Kegagalan untuk mempertahankan siklus tidur-bangun

individual yang normal dapat mempengaruhi kesehatan seseorang (Potter & Perry,

2005).

Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tetentu dalam

sistem tidur Raphe pada puas dan otak depan bagian tengah. Zat agonis serotonin

berguna untuk menekan tidur dan antagonis serotonin meningkatkan tidur

gelombang lambat pada manusia. Seseorang tetap tertidur atau terbangun

tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat yang lebih tinggi,

reseptor sensori perifer dan sistem limbik. Ketika seseorang mencoba untuk tidur

mereka akan menutup mata dan berada pada posisi rileks. Jika stimulus ke SAR

menurun maka aktivitas SAR juga akan menurun. Pada beberapa bagian lain,

BSR mengambil alih dan menyebabkan seseorang tidur (Ganong, 1998). Jumlah

(78)

menjadi berubah pada kebanyakan orang dewasa. Keluhan tentang kesulitan tidur

waktu malam seringkali terjadi di antara orang dewasa, seringkali akibat penyakit

yang diderita individu tersebut.

2.3. Fungsi Tidur

Fungsi secara jelas tidak diketahui, akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat

digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan,

mengurangi stress pada paru, kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Secara

umum terdapat dua efek fisiologis dari tidur : pertama, efek pada sistem saraf

yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di

antara berbagai susunan saraf, dan kedua, efek pada struktur tubuh dengan

memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi

penurunan (Hidayat, 2006).

Menurut hodgson, 1991 (di kutip dari Potter & Perry, 2005) kegunaan

tidur masih belum jelas, namun di yakini tidur diperlukan untuk menjaga

keseimbangan mental, emosional dan kesehatan.

Menurut Anch dkk, 1988 (di kutip dari Potter & Perry 2005) Teori Lain

tentang kegunaan tidur adalah tubuh menyimpan energi selama tidur. Otot skelet

berelaksasi secara progresif, dan tidak adanya kontraksi otot menyimpan energi

kimia untuk proses seluler. Penurunan laju metabolik basal lebih jauh menyimpan

persediaan energi tubuh.

Tidur diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara rutin, selama

tidur gelombang rendah yang dalam NREM (nonrapid eye movement tahap IV),

Figur

Tabel Hasil Uji Reliabilitas
Tabel Hasil Uji Reliabilitas . View in document p.12
Gambar 3.1.  Kerangka penelitian Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien
Gambar 3 1 Kerangka penelitian Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien . View in document p.45
Tabel 5.1Frekuensi dan persentase data demografi klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)
Tabel 5 1Frekuensi dan persentase data demografi klien hipertensi di Puskesmas Helvetia n 44 . View in document p.54
Tabel 5.1 (Lanjutan)
Tabel 5 1 Lanjutan . View in document p.55
Tabel 5.1 (Lanjutan)
Tabel 5 1 Lanjutan . View in document p.56
tabel 5.2. Hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan tabel 5.2 menunjukkan
Hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan tabel 5 2 menunjukkan . View in document p.56
Gambar 5.1 Grafik persentase pola tidur klien hipertensi di puskesmas helvetia
Gambar 5 1 Grafik persentase pola tidur klien hipertensi di puskesmas helvetia . View in document p.57
Tabel 5.2Frekuensi dan persentase parameter tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)
Tabel 5 2Frekuensi dan persentase parameter tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia n 44 . View in document p.57
Tabel 5.2 (Lanjutan)
Tabel 5 2 Lanjutan . View in document p.58
Tabel 5.3Frekuensi dan persentase gangguan tidur fisik klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)
Tabel 5 3Frekuensi dan persentase gangguan tidur fisik klien hipertensi di Puskesmas Helvetia n 44 . View in document p.58
Tabel 5.4Frekuensi dan persentase gangguan tidur lingkungan  klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44)
Tabel 5 4Frekuensi dan persentase gangguan tidur lingkungan klien hipertensi di Puskesmas Helvetia n 44 . View in document p.59
Gambar 2.1. Tahap-tahap tidur (Potter & Perry, 2005)
Gambar 2 1 Tahap tahap tidur Potter Perry 2005 . View in document p.81

Referensi

Memperbarui...