BERAT TESTIS DAN STRUKTUR HISTOLOGIS TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) AKIBAT PAPARAN KEBISINGAN

57  99 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

BERAT TESTIS DAN STRUKTUR HISTOLOGIS TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) AKIBAT PAPARAN KEBISINGAN

Abstrak

Oleh

Rizka Arifianti

Kemajuan teknologi dan industri menghasilkan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif tersebut adalah pencemaran suara berupa kebisingan. Bising dapat menyebabkan kelainan pada sistem reproduksi sehingga meningkatkan CRH (Corticotropin Releasing Hormon) yang berperan penting dalam pembentukan testosteron dan proses spermatogenesis. Proses spermatogenesis merupakan salah satu indikator untuk mengetahui perubahan struktur histologis testis akibat kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologis testis mencit (Mus musculus L.) akibat paparan kebisingan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2013 di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit, sedangkan pembuatan preparat histologi testis dilaksanakan di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III Bandar Lampung dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) terbagi atas 5 kelompok perlakuan. Masing-masing perlakuan dan kontrol memiliki ulangan 5 ekor mencit dengan intensitas bising 85-90 dB selama 21 hari yaitu K (kontrol), P1 (6 jam/hari), P2 (8 jam/hari), P3 (10 jam/hari), P4 (12 jam/hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat testis mencit pada paparan 8 jam/hari terjadi penurunan secara signifikan (p<0,05), sedangkan pada paparan 12 jam/hari terjadi kenaikan berat testis secara signifikan (p>0,05) dibandingkan dengan kontrol. Kerusakan sel tubulus seminiferus pada 6 jam/hari berupa kongesti, dan edema. Pada 8 jam/hari ditemukan kerusakan atrofi tubulus seminiferus, kongesti, dan edema. Pada 10 jam/hari ditemukan kongesti, atrofi tubulus seminiferus, piknosis, nekrosis, inti sel mati, dan karioreksis. Kerusakan pada 12 jam/hari berupa pemadatan tubulus seminiferus, atrofi, piknosis, inti sel mati, kongesti, dan nekrosis.

(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

2. Karakteristik Kebisingan yang Dapat Mengganggu ... 7

(6)

vi

6. Kejadian patologi testis ... 28

III. METODE KERJA ... 31

A. Tempat dan waktu penelitian ... 31

B. Alat dan bahan ... 31

C. Pelaksanaan penelitian ... 33

D. Parameter yang diamati... 42

E. Rancangan penelitian dan analisis data .. ... 42

F. Diagram alir penelitian... 43

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Hasil penelitian dan pembahasan ... 44

1. Berat testis mencit (Mus musculus L.) ... 44

2. Analisis deskriptif histologis testis mencit (Mus musculus L.) ... 46

B. Pembahasan ... 57

1. Berat testis mencit (Mus musculus L.) ... 57

2. Analisis deskriptif histologis testis mencit (Mus musculus L.) ... 59

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 64

A. Simpulan ... 64

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

(7)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan teknologi dan industri menghasilkan banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Namun, selain menghasilkan dampak positif, kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif dalam kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif tersebut adalah pencemaran lingkungan. Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya makhluk hidup, zat energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas lingkungan menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan

peruntukannya (Undang-Undang Republik Indonesia No. 23/1997 Pasal 1 Ayat 12).

Menurut tempatnya, pencemaran lingkungan terdiri dari pencemaran air, tanah, udara dan suara. Salah satu jenis pencemaran lingkungan yang paling umum terjadi di kota-kota besar dan desa adalah pencemaran suara berupa kebisingan. Berdasarkan SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No:

(8)

gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan, termasuk ternak, satwa, dan sistem alam.

Kebisingan mempengaruhi kesehatan manusia baik secara fisik maupun

psikologis. Pada tahun 1993, WHO mengakui efek kesehatan penduduk yang

berasal dari kebisingan, antara lain ketergangguan pola tidur, kardiovaskuler,

sistem pernafasan, psikologis, fisiologis, dan pendengaran. Hubungan antara kebisingan dengan kemungkinan timbulnya gangguan terhadap kesehatan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, dan lamanya seseorang berada di tempat atau di dekat bunyi

tersebut, baik dari hari ke hari ataupun seumur hidupnya. Intensitas kebisingan yang berada di lingkungan sekitar dapat diukur menggunakan alat SLM

(Sound Level Meter) dengan cara menangkap perubahan tekanan udara yang terjadi akibat adanya benda bergetar yang selanjutnya akan menggerakkan meter penunjuk pada SLM. Alat yang digunakan untuk mengukur nilai ambang pendengaran adalah Audiometer. Nilai Ambang batas untuk kebisingan adalah 8 jam per hari terus menerus pada level tekanan 85 dB (Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 51/Men/1999).

(9)

Salah satu organ reproduksi jantan yang dapat mengalami kerusakan akibat bising ini adalah organ testis. Testis merupakan organ kelamin jantan yang berfungsi sebagai tempat sintesis hormon androgen (terutama testosteron) dan tempat berlangsungnya proses spermatogenesis. Kedua fungsi testis ini menempati lokasi yang terpisah di dalam testis. Biosintesis androgen berlangsung dalam sel Leydig di jaringan intertubuler, sedangkan proses spermatogenesis berlangsung dalam epitel tubulus seminiferus (Syahrum, 1994). Dinkes Sulawesi Selatan, 2000 menyatakan bahwa salah satu faktor penunjang resiko kanker testis adalah faktor lingkungan yakni polusi udara, sinar radiasi (komputer, kompor listrik, microwave, handphone) dan kebisingan juga merupakan faktor pathogen.

Stres bising dapat mengaktifkan respon sentral dan perifer pada sistem endokrin dan syaraf otonom sebagai bentuk adaptasi sehingga terjadi pengeluaran Corticotropin Releasing Hormon (CRH) yang mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH dan kortisol. Akibat kebisingan, kadar CRH mengalami peningkatan melalui pengaktifan secara langsung pada nukleus paraventrikuler. Rangsangan neuron CRH nukleus paraventrikuler mengurangi pengambilan sel Gonadotrophin Realeasing Hormon (GnRH) sehingga

(10)

memproduksi testosteron. Jika terjadi penurunan LH, FSH, dan testosteron maka akan mengganggu spermatogenesis. Hal ini dikarenakan LH, FSH dan testosteron bekerja sinergis dalam proses spermatogenesis

(Selvage and Rivier, 2003).

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek paparan kebisingan terhadap penurunan berat testis dan kerusakan struktur histologis testis mencit (Mus musculus L.).

C. Manfaat Penelitian

Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai akibat paparan kebisingan terhadap kesehatan, khususnya sistem reproduksi pria melalui analisis berat testis dan struktur histologis testis mencit (Mus musculus L.) agar selanjutnya dapat diteliti kepada hewan tingkat tinggi lainnya.

D. Kerangka Pemikiran

(11)

Dampak dari kebisingan ini bukan hanya pada kota – kota besar tetapi kota kecil dan desa yang lokasinya di dekat tempat industri juga ikut terpengaruh. Masalah ini semakin lama menjadi semakin besar akan tetapi masalah ini kurang mendapat perhatian bahkan di negara maju sekalipun. Kebisingan dapat mempengaruhi kesehatan manusia seperti menyebabkan hipertensi, dapat menghambat kemampuan kognitif pada anak – anak dan mengganggu organ reproduksi baik pria ataupun wanita. Salah satu gangguan organ reproduksi yaitu organ testis yang berfungsi sebagai tempat sintesis hormon androgen (terutama testosteron) dan tempat berlangsungnya proses spermatogenesis. Karena adanya gangguan organ reproduksi yang terjadi pada testis, maka kerja dari testis dalam mensintesis testosteron akan tidak sinergis dengan proses spermatogenesis.

Dengan demikian, banyak hal yang menjadi dampak negatif dari kebisingan baik psikologis ataupun fisiologis manusia. Selanjutnya kita perlu meneliti apakah kebisingan memiliki pengaruh terhadap struktur histologis organ testis.

E. Hipotesis

(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebisingan

1. Definisi Kebisingan

Menurut batasan WHO (dalam Bell, 2005), kebisingan adalah suara-suara yang tidak dikehendaki oleh karena itu kebisingan sangat mengganggu aktivitas kehidupan. Kebisingan adalah sesuatu yang sifatnya subjektif dan psikologis. Dikatakan subjektif karena sangat bergantung pada orang yang bersangkutan, misalnya suara bercakap-cakap di dalam bioskop yang mengganggu sebagian orang, namun suara ribut di suatu pasar bukanlah masalah bagi orang

di sekelilingnya.

Beberapa jenis suara dapat lebih mengganggu daripada yang lain, suara

(13)

Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki dan mengganggu manusia. Berdasarkan SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No:

Kep.Men-48/MEN.LH/11/1996, kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan, termasuk ternak, satwa, dan sistem alam.

2. Karakteristik Kebisingan yang Dapat Mengganggu

Tiga karakteristik kebisingan yang dapat mengganggu (Bell, 2005) adalah : 1. Besar kecilnya suara (Volume)

Semakin keras sumber kebisingan, semakin besar pengaruhnya dalam komunikasi verbal dan semakin tinggi perhatian dan stres yang diasosiasikan dengan kerasnya kebisingan.

2. Prediksi (Predictability)

Semakin tidak terprediksi sumber kebisingan, semakin besar perhatian yang kita curahkan untuk memahami tugas yang kita lakukan.

3. Persepsi Kontrol (Perceived Control)

Semakin lemah kontrol yang dapat kita lakukan terhadap kebisingan, maka semakin sulit bagi kita untuk beradaptasi terhadap kebisingan.

3. Sumber Kebisingan

(14)

dan bersifat sangat subjektif tergantung situasi dan kondisi dan sensitivitas pendengarnya. Dua setting umum dimana kebisingan dapat menjadi sebuah masalah :

a. Kebisingan Transportasi (Transportation Noise)

Keributan yang disebabkan oleh mobil, truk, kereta api, dan pesawat dan alat transportasi yang lain merupakan alasan yang paling besar karena pertama, hal tersebut sangat berkembang luas. Kedua, biasanya hal tersebut sangat bising. b. Kebisingan Kerja (Occupational Noise)

Salah satu karakteristiknya adalah kebisingan ini sangat besar karena terdiri dari banyak suara yang berbeda. Jika sangat ekstrim, hal ini dapat

mengakibatkan keributan yang dapat di-cover dan kondisinya dapat

ditoleransi, akan tetapi jika tidak demikian, hasil dari keributan ini menjadi resistan untuk diadaptasi dan lebih mungkin untuk menyebabkan keributan dan distres. Occupational noise ini juga sangat pervasive dan tingkat bunyi pada beberapa tempat sangat kuat. Hal penting lainnya menjadi sumber

keributan di derah perumahan adalah air conditioner.

Bermacam-macam sumber kebisingan yang merupakan dampak dari aktivitas berbagai proyek pembangunan dapat dibagi ke dalam empat tipe pembangunan yaitu:

1. Sumber kebisingan dari tipe pembangunan pemukiman.

(15)

sakit, sekolah dan lain sebagainya.

3. Sumber kebisingan dari tipe pembangunan industri.

4. Sumber kebisingan dari tipe pekerjaan umum, misalnya jalan, saluran induk air, selokan induk air, dan lainnya.

Dilihat dari sifat sumber kebisingan dibagi menjadi dua yaitu:

1. Sumber kebisingan statis, misalnya pabrik, mesin, tape, dan lainnya. 2. Sumber kebisingan dinamis, misalnya mobil, pesawat terbang, kapal laut, dan lainnya.

Sedangkan sumber bising yang dilihat dari bentuk sumber suara yang dikeluarkannya ada dua:

1. Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu titik/bola/lingkaran. Contohnya sumber bising dari mesin-mesin industri/mesin yang tak bergerak.

2. Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu garis, contohnya kebisingan yang timbul karena kendaraan-kendaraan yang bergerak di jalan.

Berdasarkan letak sumber suaranya, kebisingan dibagi menjadi: 1. Bising Interior

(16)

pencuci piring dan lain-lain. 2. Bising Eksterior

Bising yang dihasilkan oleh kendaraan transportasi darat, laut, maupun udara, dan alat-alat konstruksi.

4. Jenis-jenis Kebisingan

Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan adalah:

1. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi luas (steady state, wide band noise), misalnya suara yang ditimbulkan oleh kipas angin.

2. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narrow band noise), misalnya suara yang ditimbulkan oleh gergaji sirkuler dan katup gas.

3. Kebisingan terputus-putus (intermitten), misalnya suara lalu lintas, suara kapal terbang dilapangan udara.

4. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise), misalnya suara tembakan atau meriam.

5. Kebisingan impulsif berulang, misalnya suara yang ditimbulkan mesin tempa.

5. Nilai Ambang Batas Kebisingan

(17)

Satuan tingkat intensitas bunyi adalah decibel (dB). Sound Level Meter (SLM) adalah alat standar untuk mengukur intensitas kebisingan. Prinsip kerja alat tersebut adalah dengan mengukur tingkat tekanan bunyi. Tekanan bunyi adalah penyimpangan dalam tekanan atmosfir yang disebabkan oleh getaran partikel udara karena adanya gelombang yang dinyatakan sebagai amplitudo dari fluktuasi tekanan. SLM menunjukkan skala A, B dan C yang merupakan skala pengukuran tiga jenis karakter respon frekuensi. Skala A merupakan skala yang paling

mewakili batasan pendengaran manusia dan respons telinga terhadap kebisingan. Jadi dB (A) adalah satuan tingkat kebisingan dalam kelas A, yaitu kelas yang sesuai dengan respon telinga manusia normal. Kebisingan akibat lalu lintas dan kebisingan yang dapat mengganggu pendengaran manusia termasuk dalam skala A yang dinyatakan dalam satuan dB (A).

Tabel 1. Baku Tingkat Kebisingan

Peruntukan Kawasan/ Lingkungan Kegiatan

Tingkat Kebisingan dB (A)

1. Peruntukan Kawasan

a. Perumahan dan Pemukiman 55

b. Perdagangan dan Jasa 70

c. Perkantoran dan Perdagangan 65

d. Ruang Terbuka Hijau 50

(18)

Tabel 1. Baku Tingkat Kebisingan ...( lanjutan) Peruntukan Kawasan/ Lingkungan

Kegiatan

Tingkat Kebisingan dB (A)

f. Pemerintahan dan Fasilitas Umum

60 g. Rekreasi

70 2. Lingkungan Kegiatan

a. Rumah Sakit atau sejenisnya 55

b. Sekolah atau sejenisnya 55

c. Tempat ibadah atau sejenisnya 55

Sumber : Kep.Men-48/MEN.LH/11/1996

6. Intensitas Kebisingan

Intensitas kebisingan (bunyi) adalah arus energi per satuan luas yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB), dengan membandingkannya dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm2 yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat dapat di dengar oleh manusia normal. Desibel adalah satu per sepuluh bel, sebuah satuan yang dinamakan untuk menghormati Alexander Graham Bell. Satuan bel terlalu besar untuk digunakan dalam kebanyakan keperluan, maka digunakan satuan desibel yang disingkat dB. Tabel 2 menunjukkan skala intensitas kebisingan yang dikelompokkan berdasarkan sumber kebisingan.

Tabel 2. Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya

Skala Intensitas

(dB)

Sumber Kebisingan

Kerusakan alat pendengaran

120 Batas dengar tertinggi Menyebabkan tuli 100 – 110 Halilintar, meriam, mesin

(19)

Tabel 2. Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya ...(lanjutan)

Skala Intensitas

(dB)

Sumber Kebisingan

Sangat hiruk 80 – 90

Hiruk pikuk jalan raya, perusahaan sangat gaduh, peluit

polisi

Kuat 60 – 70 Kantor bising, jalanan pada umumnya, radio, perusahaan

Sedang 40 – 50

Rumah gaduh, kantor pada umumnya, percakapan kuat, Sumber : Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES), 2005

7. Mengukur Tingkat Kebisingan

Alat SLM (Sound Level Meter) adalah alat pengukur suara dengan metode kerjanya menangkap perubahan tekanan udara yang terjadi akibat adanya benda bergetar yang selanjutnya akan menggerakkan meter penunjuk pada SLM.

(20)

8. Kebisingan Terhadap Organ Reproduksi (Testis)

Stres bising dapat mengaktifkan respon sentral dan perifer pada sistem endokrin dan saraf otonom sebagai bentuk adaptasi sehingga terjadi pengeluaran

Corticotropin Releasing Hormon (CRH) yang mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH dan kortisol. Akibat kebisingan, kadar CRH mengalami peningkatan melalui pengaktifan secara langsung pada nukleus paraventrikuler. Rangsangan neuron CRH nukleus paraventrikuler mengurangi pengambilan sel Gonadotrophin Realeasing Hormon (GnRH) sehingga menurunkan frekuensi sekresi GnRH (Dobson, 2002).

(21)

B. Biologi Mencit (Mus musculus L.)

Gambar 1. Morfologi mencit (Mus musculus L.) (Smith dan Mangkoewidjojo, 1998).

Klasifikasi mencit

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Sub-Filum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

Ordo : Rodentia

Sub-Ordo : Myoimorphia

Famili : Muridae

Genus : Mus

Spesies : Mus musculus L.

(22)

dan digolongkan ke dalam ordo rodentia dan famili muridae karena kebiasaannya sebagai hewan pengerat (Kimbal, 1983).

Mencit merupakan hewan asli yang berasal dari Asia, India, dan Eropa Barat. Tetapi pada saat ini kita dapat menemukan mencit dimanapun karena adanya pengenalan dan distribusi mencit di alam yang luas. Mencit merupakan hewan yang dapat hidup dengan lingkungan yang baru atau lingkungan yang dibuat berbeda secara sengaja oleh manusia, karena mencit merupakan salah satu hewan yang mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru (Amori, 1996).

Mencit mempunyai peran yang sangat penting bagi manusia terutama untuk penelitian di laboratorium. Mencit merupakan hewan nokturnal (hewan yang aktif pada malam hari). Mencit memiliki sifat penakut yang dalam hidupnya cenderung berkelompok, dan aktivitasnya akan terhenti apabila ada kehadiran manusia di sekitar tempat mencit tersebut melakukan aktivitas (Rahayu, 2006).

Mencit memiliki panjang tubuh antara 6-10 cm, hidung runcing, dan telinga yang tegak, dan memiliki ekor yang tidak berambut dengan panjang 7-11 m

(Priyambodo, 2003).

(23)

Pada umur 8 minggu mencit sudah siap untuk dikawinkan, mencit betina yang berhasil melakukan perkawinan akan mengalami gestasi selama 19-21 hari. Perkawinan mencit ini dapat terjadi apabila mencit betina sedang mengalami estrus. Mencit betina dapat melahirkan 6-10 ekor anak. Rata-rata mencit dapat bertahan hidup 1-2 tahun, tetapi ada juga yang dapat bertahan sampai umur 3 tahun (Smith dan Mangkoewidjojo, 1998).

C. Organ Testis

Testis merupakan organ kelamin jantan yang berfungsi sebagai tempat sintesis hormon androgen (terutama testosteron) dan tempat berlangsungnya proses

spermatogenesis. Kedua fungsi testis ini menempati lokasi yang terpisah di dalam testis. Biosintesis androgen berlangsung dalam sel Leydig di jaringan intertubuler, sedangkan proses spermatogenesis berlangsung dalam epitel tubulus seminiferus (Syahrum, 1994).

(24)

Setiap testis ditutupi dengan jaringan ikat fibrosa, tunika albuginea, bagian tipisnya atau septa akan memasuki organ untuk membelah menjadi lobus yang mengandung beberapa tubulus disebut tubulus seminiferus. Bagian tunika memasuki testis dan bagian arteri testikular yang masuk disebut sebagai hilus. Arteri memberi nutrisi setiap bagian testis, dan kemudian akan kontak dengan vena testikular yang menghasilkan hilus (Rugh, 1976).

Gambar 2. Sayatan histologis testis normal mencit (Mus musculus L.) (Hill, 2010)

1. Tubulus Seminiferus

(25)

beberapa lapis fibroblast. Lapisan paling dalam yang melekat pada lamina basalis terdiri dari sel-sel mioid gepeng, yang memperlihatkan ciri otot polos.

Epitel tubulus seminiferus terdiri atas dua jenis sel yaitu sel Sertoli atau sel penyokong dan sel-sel yang merupakan garis turunan spermatogenik (Junqueira, 2007).

Epitel tubulus seminiferus berada tepat di bawah membran basalis yang dikelilingi oleh jaringan ikat fibrosa yang tipis. Antara tubulus adalah stroma interstisial, terdiri atas gumpalan sel Leydig ataupun sel Sertoli dan kaya akan darah dan cairan limfe. Sel interstisial testis mempunyai inti bulat yang besar dan mengandung granul yang kasar. Sitoplasmanya bersifat eosinofilik. Diyakini bahwa jaringan interstisial menguraikan hormon testosteron jantan. Epitel seminiferus tidak mengandung sel spermatogenik secara eksklusif, tetapi

mempunyai nutrisi yang menjaga sel Sertoli, yang tidak dijumpai di tubuh lain. Sel Sertoli bersentuhan dengan dasarnya ke membran basalis dan menuju lumen tubulus seminiferus (Rugh, 1976).

(26)

Pada ujung setiap lobulus, lumennya menyempit dan berlanjut ke dalam ruas pendek yang dikenal sebagai tubulus rektus, atau tubulus lurus, yang

menghubungkan tubulus seminiferus dengan labirin saluran-saluran berlapis epitel yang berkesinambungan yaitu rete testis. Rete ini, terdapat dalam jaringan ikat mediastinum yang dihubungkan dengan bagian kepala epididimis oleh 10-20 duktus eferent (Junqueira, 2007).

Pada mencit, siklus epitel seminiferus terdiri dari 12 stadia. Waktu yang

diperlukan untuk satu siklus epitel seminiferus pada mencit antara 201-203 jam (8-9 hari). Dengan demikian waktu seluruhnya yang diperlukan untuk proses spermatogenesis yang terdiri dari empat siklus epitel seminiferus, adalah berkisar antara 34,5-35,5 hari. Proses spermatogenesis ini baru dimulai secara aktif pada hari ke-9 setelah lahir (Rugh, 1976).

2. Sel-Sel Germinal

Spermatogonium adalah sel primitif benih, yang terletak di samping lamina basalis. Sel spermatogonium relatif kecil, bergaris tengah sekitar 12 μm dan intinya mengandung kromatin pucat. Pada keadaan kematangan kelamin, sel ini mengalami sederetan mitosis lalu terbentuklah sel induk atau spermatogonium tipe A, dan mereka berdiferensiasi selama siklus mitotik yang progresif menjadi

(27)

Spermatosit primer adalah sel terbesar dalam garis turunan spermatogenik ini dan ditandai adanya kromosom dalam tahap proses penggelungan yang berbeda di dalam intinya. Spermatosit primer memiliki 46 (44+XY) kromosom dan 4N DNA (Junqueira, 2007).

Spermatosit sekunder sulit diamati dalam sediaan testis karena merupakan sel berumur pendek yang berada dalam fase interfase yang sangat singkat dan dengan cepat memasuki pembelahan kedua. Spermatosit sekunder memiliki 23 kromosom (22+X atau 22+Y) dengan pengurangan DNA per sel (dari 4N menjadi 2N). Pembelahan spermatosit sekunder menghasilkan spermatid. Spermatid memiliki ukuran yang kecil garis tengahnya 7-8 μm. Inti dengan daerah-daerah kromatin padat dan lokasi jukstaluminal dalam tubulus seminiferus.

Spermatid mengandung 23 kromosom. Karena tidak ada fase S (sintesis DNA) yang terjadi antara pembelahan meiosis pertama dan kedua dari spermatosit, maka jumlah DNA per sel dikurangi setengahnya selama pembelahan kedua ini

menghasilkan sel-sel haploid (1 N) (Junqueira, 2007).

3. Jaringan Interstisial

Celah di antara tubulus seminiferus dalam testis diisi kumpulan jaringan ikat, saraf, pembuluh darah dan limfe. Kapiler testis adalah dari jenis bertingkat yang memungkinkan perpindahan antarmolekul secara bebas seperti darah. Jaringan ikat terdiri atas berbagai jenis sel, termasuk fibroblast, sel jaringan ikat

(28)

Selama pubertas, muncul jenis sel tambahan yang berbentuk bulat atau poligonal, memiliki inti di pusat dan sitoplasma eosinofilik dengan banyak tetesan lipid. Sel tersebut adalah sel interstisial atau sel Leydig dari testis, yang memiliki ciri sel pensekresi steroid. Sel-sel ini menghasilkan hormon pria testosteron, yang berfungsi bagi perkembangan ciri kelamin pria sekunder (Junqueira, 2007).

Sel interstisial Leydig merupakan sel yang memberikan gambaran mencolok untuk jaringan tersebut. Sel-sel Leydig letaknya berkelompok memadat pada daerah segitiga yang terbentuk oleh susunan-susunan tubulus seminiferus. Sel-sel

tersebut besar, dengan sitoplasma sering bervakuol pada sajian mikroskop cahaya. Inti selnya mengandung butir-butir kromatin kasar dan anak inti yang jelas. Umumnya pula dijumpai sel yang memiliki dua inti. Sitoplasma sel kaya dengan benda-benda inklusi seperti titik lipid, dan pada manusia juga mengandung kristaloid berbentuk batang (Leeson and Summers, 2001).

Sel Sertoli adalah sel piramid memanjang yang sebagian memeluk sel-sel dari garis keturunan spermatogenik. Dasar sel Sertoli melekat pada lamina basalis, sedangkan ujung apeksnya sering meluas ke dalam lumen tubulus seminiferus. Dengan mikroskop cahaya, bentuk sel Sertoli tidak jelas terlihat karena banyaknya juluran lateral yang mengelilingi sel spermatogenik. Kajian dengan mikroskop elektron mengungkapkan bahwa sel ini mengandung banyak retikulum

(29)

Inti yang memanjang yang sering berbentuk segitiga, memiliki banyak lipatan dan sebuah anak inti yang mencolok, memiliki sedikit heterokromatin. Fungsi utama sel Sertoli adalah untuk menunjang, melindungi dan mengatur nutrisi spermatozoa. Selain itu, sel Sertoli juga berfungsi untuk fagositosis kelebihan sitoplasma selama spermatogenesis, sekresi sebuah protein pengikat androgen dan inhibin, dan produksi hormon anti-Mullerian (Junqueira, 2007).

4. Spermatogenesis

Spermatogenesis merupakan suatu proses pembentukan spermatozoa yang mencakup tiga tahapan yaitu spermatositogenesis, meiosis dan spermiogenesis (Dorland, 2002). Spermatogenesis ini berlangsung pada epitel germinal di dalam tubulus seminiferus.

(30)

Spermatogenesis ini terdiri dari tiga tahapan yaitu: a. Spermatositogenesis (pembelahan mitosis)

Dimulai dengan proliferasi spermatogonia asal yang disebut spermatogonia tipe A yang berinti lonjong dan nukleus di pinggir, menjadi spermatogonia tipe B yang berinti bundar dan bernukleus agak di tengah. Spermatogonia tipe B inilah yang akan mengalami mitosis berkali-kali menjadi spermatosit I (primer).

Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

Spermatosit I berada di lapisan kedua tubulus ke arah lumen. Pada setiap

spermatogonium, salah satu dari pasangan kromosom membawa informasi genetik yang menentukan seks dari turunan terakhir. Pasangan ini terdiri dari satu

kromosom “X” dan kromosom “Y” (Tortora & Derrickson, 2006).

b. Meiosis

Pembelahan Meiosis disebut juga pembelahan reduksi, karena terjadinya

(31)

Dalam pembelahan Meiosis terjadi dua kali pembelahan sel secara berturut –turut, tanpa diselingi adanya interfase, yaitu tahap meiosis 1 dan meiosis 2 dengan hasil akhir 4 sel anak dengan jumlah kromosom haploid (n).

Spermatosit I hasil spermasitogenesis ini kemudian menjauh dari lamina basalis dan sitoplasmanya semakin banyak. Spermatosit I mengalami meiosis I, sehingga terbentuk spermatosit II. Spermatosit II ini kemudian mengalami meiosis II untuk membentuk spermatid. Pada meisosis I, spermatosit I mengalami subfase leptoten, zigoten, pakiten, diploten, dan diakinesis dari profase, disusul metaphase,

anaphase, dan telofase. Pada meiosis II, ia juga menempuh profase, metaphase, anaphase, dan telofase. Cytokinesis pada meiosis I dan II tidak membagi sel benih secara lengkap namun terpisah oleh interseluler bridge. Melalui jembatan ini, berlangsung komunikasi antar sel bertetangga. Meiosis I menghasilkan spermatosit II yang berinti lebih gelap yang kemudian mengalami meiosis II untuk membentuk spermatid yang berinti lonjong runcing, mempunyai ekor halus dan pendek dalam sitoplasmanya (Tortora & Derrickson, 2009).

c. Spermiogenesis

Spermiogenesis adalah perkembangan dari spermatid haploid menjadi sperma. Tidak ada pembelahan sel yang terjadi pada tahap spermiogenesis.

(32)

mitokondria membelah. Proses spermatogenesis ini berlangsung di sel Sertoli, ketika sel Sertoli terdisposisi karena adanya kelebihan sitoplasma yang terkelupas, maka sel Sertoli beserta sperma yang ada ikut keluar, proses ini dinamakan

spermiasi. Sperma kemudian masuk ke lumen tubulus semineferus. Cairan disekresikan oleh sel Sertoli mendorong sperma masuk ke saluran di testis.

Gambar 4. Perubahan Utama pada Spermatid selama Spermiogenesis (Junqueira, 2007).

5. Fisiologi Reproduksi

(33)

Hormone-Releasing Factor). Hipofisis mengasilkan hormon FSH dan LH atau ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) (Susetyarini,2005).

Sekresi testosteron di bawah pengawasan LH dengan mekanisme hormon LH merangsang sel Leydig melalui peningkatan siklik AMP. Siklik AMP

meningkatkan pembentukan kolesterol dari ester kolesterol dan perubahan kolesterol menjadi pregnenolon melalui pengaktifan protein kinase (Ganong, 1996).

Proses spermatogenesis, selain dipengaruhi oleh testosteron dan LH, juga dipengaruhi hormon FSH. FSH berfungsi untuk merangsang testis dan memacu proses spermatogenesis. Selain itu, FSH juga merangsang sel Sertoli dalam pembentukan protein pengikat androgen (Androgen Protein Binding/ABP) yang berperan dalam pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis. Mekanisme ini penting untuk mencapai kadar testosteron yang

dibutuhkan untuk terjadinya spermatogenesis. Selain membentuk protein pengikat androgen, sel Sertoli juga membentuk inhibin. Inhibin adalah suatu hormon non steroid yang mempunyai mekanisme umpan balik untuk menghambat produksi FSH yang berlebihan (Susetyarini, 2005).

(34)

Penurunan FSH akan menyebabkan perubahan sitoskeletal sel Sertoli sehingga menyebabkan suplai laktat dan piruvat pada spermatosit primer dan spermatid juga akan menurun.

6. Kejadian Patologi Testis

A. Menurut Underwood (1992), beberapa kejadian patologi pada organ testis, seperti:

1. Cryptorchidism merupakan keadaan testis yang tidak turun dari rongga abdominal ke canalis inguinalis, dapat terjadi pada salah satu testis maupun pada keduanya.

2. Hydrocele merupakan pembengkakan pada intraskrotal akibat akumulasi cairan serous antara tunica vaginalis dengan testis. 3. Haematocel merupakan perdarahan yang terjadi di dalam tunica

vaginalis.

4. Orchitis merupakan kondisi peradangan yang terjadi pada jaringan testis.

5. Tumor testikuler adalah terjadinya infiltrasi sel tumor ke dalam jaringan testis.

(35)

lokal sering terjadi pada organ dan jaringan. Secara mikroskopik, ketika suatu jaringan mengalami edema maka ruang antar sel, fibril, dan struktur lainnya akan mengalami pembesaran dan cairan edema akan meninggalkan warna merah muda.

Edema dapat disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular, penyumbatan vena atau pembuluh limfatik, atau akibat penurunan tekanan osmosis plasma.

B. Jones et al.(1997) menyatakan bahwa kongesti merupakan istilah yang menunjukkan kelebihan volume darah pada suatu bagian pembuluh darah.

Hal ini dapat terjadi karena terlalu banyak darah yang masuk ke arteri atau terlalu kecilnya darah yang menuju vena. Secara mikroskopis kongesti dicirikan dengan adanya dilatasi pada dinding arteri atau kapiler yang disebabkan oleh banyaknya volume darah pada bagian tersebut.

C. Menurut Cheville (2006), Hemoragi adalah ekstravasasi darah akibat ruptur pembuluh darah. Jones et al. (1997) mengemukakan hemoragi merupakan keadaan keluarnya darah dari dalam pembuluh darah, dapat terjadi di tubuh bagian luar, di dalam rongga tubuh, dan di dalam jaringan. Secara

(36)

D. Carneiro (2007) mengemukakan nekrosis merupakan kematian jaringan fokal yang secara morfologik dikenal oleh destruksi inti sel. Perubahan yang terjadi pada sel yang mengalami nekrosis adalah dilihat dari perubahan pada inti selnya seperti piknosis, kariolisis, dan karioreksis. Piknosis adalah keadaan dimana inti sel mengecil dan membulat (menjadi padat dan berbentuk bulat) atau lebih dikenal dengan istilah pengerutan inti. Kariolisis (penghancuran inti) yaitu keadaan ketika inti sel mengalami lisis. Pada kariolisis yang terjadi secara sempurna maka inti sel akan menghilang. Dan yang ketiga adalah karioreksis yang lebih dikenal dengan sebutan fragmentasi inti.

E. Robbins dan Kumar (1992) menyatakan bahwa atrofi adalah salah satu jenis kerusakan pada testis yang disebabkan karena cedera lokal atau generalisasi sehingga sebagian ataupun keseluruhan spermatogenesis

(37)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA Universitas Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

pembuatan preparat histologis testis dilaksanakan di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April 2013 sampai dengan Mei 2013.

B. Alat dan Bahan

1. Hewan Percobaan

Penelitian ini menggunakan mencit (Mus musculus L.) jantan yang berasal dari BPPV Regional III Bandar Lampung sebanyak 25 ekor. Mencit yang digunakan dalam penelitian ini memiliki berat rata-rata sekitar 30-35 gram berumur ± 3 bulan.

(38)

Sebelum diberi perlakuan, mencit diaklimatisasi terlebih dahulu selama kurang lebih 1 minggu. Aklimatisasi ini dilakukan dengan tujuan agar mencit terbiasa dengan tempat tinggal yang baru dan tidak stress.

2. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang mencit yang berbentuk persegi berukuran 15x15 cm dengan penutup kawat sebanyak 20 kandang. Sumber kebisingan berasal dari software soundcard scope. SLM (Sound Level Meter) digunakan untuk mengukur intensitas bunyi dan steroform digunakan sebagai alat peredam suara. Alat lainnya yang

digunakan adalah gelas kimia, timbangan mencit, kotak mencit, papan fiksasi, botol minum mencit, kaca penutup (cover glass), stopwatch, mikroskop cahaya dan seperangkat alat untuk pembuatan preparat histologis testis.

3. Bahan

(39)

C. Pelaksanaan Penelitian

1. Pemberian perlakuan

Paparan yang diberikan sebagai perlakuan terhadap mencit adalah sebagai berikut:

1. Kebisingan yang diberikan sebagai perlakuan terhadap mencit bersumber dari software soundcard scope yang diberi tambahan pengeras suara dengan intensitas kebisingan 85-90 dBA.

2. Mencit ditempatkan pada ruangan yang diberi paparan suara kebisingan dengan jarak 1 meter dari tempat mencit berada.

3. 25 ekor mencit jantan dewasa dibagi mejadi 5 kelompok dengan masing- masing kelompok tersebut terdiri dari 5 ekor mencit jantan dewasa. Berikut adalah uraian dari masing-masing kelompok :

a. Kelompok kontrol (K) : kelompok kontrol ini tidak diberi perlakuan karena sebagai pembanding yang normal terhadap kelompok mencit yang diberi perlakuan paparan kebisingan.

b. Kelompok paparan I (P1): kelompok ini diberi paparan kebisingan 85-90 dB dengan intensitas paparan sebesar 6 jam per hari selama 21 hari.

(40)

d. Kelompok paparan III (P3): kelompok ini diberi paparan kebisingan 85-90 dB dengan intensitas paparan sebesar 10 jam per hari selama 21 hari.

e. Kelompok paparan IV (P4): kelompok ini diberi paparan kebisingan 85-90 dB dengan intensitas paparan sebesar 12 jam per hari selama 21 hari.

(Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51 tentang Nilai Ambang Batas Kebisingan,1999).

2. Sketsa penelitian

(41)

Gambar 5. Sketsa penelitian paparan kebisingan

3. Proses Pembedahan Mencit (Mus musculus L.)

(42)

Kemudian organ testis tersebut dibawa ke laboratorium Patologi, Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III Bandar Lampung, untuk seterusnya dibuat preparat histologisnya.

4. Pembuatan Preparat Histologis Testis Mencit (Mus musculus L.)

Pembuatan preparat histologis testis mencit ini dilakukan di Laboratorium Patologi, Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III. Adapun cara pembuatan preparat histologis testis adalah sebagai berikut :

a. Trimming

Trimming adalah suatu proses tahapan yang dilakukan setelah proses fiksasi, dimana buffer formalin 10% dihilangkan menggunakan air mengalir selama 30 menit. Berikut ini adalah proses tahapan trimming : 1. Spesimen berupa potongan organ atau jaringan tubuh yang telah dipilih segera difiksasi dengan larutan pengawet berupa buffer formalin atau 10% formalin.

2. Organ tersebut dicuci dengan air mengalir. 3. Jaringan dipotong setebal 2-4 mm.

4. Potongan-potongan jaringan dimasukkan ke dalam embedding casette. Dalam satu embedding casette dapat diisi 1-5 buah potongan jaringan yang disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya potongan.

(43)

b. Dehidrasi

Dehidrasi adalah proses penarikan molekul air dari dalam jaringan. Tujuan dari dehidrasi adalah agar seluruh ruang-ruang antar sel dalam jaringan dapat diisi dengan molekul parafin. Berikut ini adalah proses tahapan dehidrasi :

1. Air dituntaskan dengan meletakkan embedding casette pada kertas tisu. 2. Berturut-turut dilakukan perlakuan sebagai berikut :

Tabel 3. Tahapan proses dehidrasi

Tahap Waktu Zat kimia 1 jam Alkohol absolut III

(44)

c. Embedding

Adapun proses tahapan embedding adalah sebagai berikut :

1. Sisa-sisa parafin pada pan dibersihkan dengan memanaskan beberapa saat di atas api kemudian diusap dengan kapas.

2. Parafin cair dimasukkan ke dalam cangkir logam dan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu di atas 58 oC.

3. Parafin cair dituangkan ke dalam pan.

4. Jaringan dipindahkan satu persatu dari embedding casette ke dasar pan dengan mengatur jarak satu dengan lainnya.

5. Pan dimasukkan ke dalam air.

6. Parafin yang berisi jaringan tersebut dilepaskan dari pan dengan memasukkan ke dalam oven dengan suhu 4-6 oC beberapa saat. 7. Parafin dipotong sesuai dengan letak jaringan yang ada menggunakan skalpel atau pisau hangat.

8. Potongan parafin diletakkan pada balok kayu, pinggirnya diratakan dan ujungnya dibuat sedikit meruncing.

9. Blok parafin siap dipotong dengan mikrotom.

d. Cutting

(45)

Berikut ini adalah proses tahapan cutting :

1. Sebelum jaringan dipotong, blok terlebih dahulu didinginkan.

2. Dilakukan pemotongan kasar dan dilanjutkan dengan pemotongan halus dengan ketebalan 4-5 mikron.

3. Setelah pemotongan dipilih lembaran jaringan yang paling baik, diapungkan pada air dan dihilangkan kerutannya dengan cara menekan salah satu sisi lembaran jaringan tersebut dengan ujung jarum dan sisi yang lain ditarik dengan menggunakan kuas runcing.

4. Lembaran jaringan tersebut dipindahkan ke dalam water bath selama beberapa detik sampai mengembang sempurna.

5. Dengan gerakan menyendok, lembaran jaringan diambil dengan slide bersih dan ditempatkan di tengah atau atau pada sepertiga atas atau bawah, dicegah jangan sampai ada gelembung udara di bawah jaringan. 6. Slide yang berisi jaringan ditempatkan pada inkubator (suhu 37 oC) selama 24 jam sampai jaringan melekat sempurna.

e. Stainning

(46)

Tabel 4. Tahapan proses stainning

Zat kimia Waktu

Xylol I 5 menit

Xylol II 5 menit

Xylol III 5 menit

Alkohol absolut I 5 menit

Alkohol absolut II 5 menit

Aquadest 1 menit

Harris Hematoxylin 20 menit

Aquadest 1 menit

Acid Alkohol 2-3 celupan

Aquadest 1 menit

Aquadest 15 menit

Eosin 2 menit

Alkohol 96 % I 2 menit

Alkohol 96 % II 3 menit

Alkohol absolut III 3 menit

Alkohol absolut IV 3 menit

Xylol IV 5 menit

(47)

Zat kimia yang digunakan dalam pewarnaan ini adalah sebagai berikut: 1. Hematoxylin Kristal : 5 g

2. Alkohol absolute : 50 ml

3. Ammonium : 100g/L

4. Aquadest : 1000 mL

5. Mercury oxide : 2,5 g

f. Mounting

Setelah pewarnaan slide selesai, slide ditempelkan di atas kertas tisu pada tempat yang datar, selanjutnya ditetesi Canada Balsam dan ditutup dengan cover glass. Hal yang harus dihindari adalah jangan sampai terbentuk gelembung udara.

g. Pengamatan/Pembacaan slide

(48)

D. Parameter yang Diamati

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Berat testis

2. Derajat kerusakan struktur histologis testis mencit.

E. Rancangan Penelitian dan Analisis Data

(49)

F. Diagram Alir Penelitian

Gambar 6. Diagram Alir Penelitian 25 mencit jantan diaklimatisasi

selama 7 hari (1 minggu)

Mencit dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing 5 ekor mencit

(50)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap berat testis dan struktur histologis testis mencit (Mus musculus L.) akibat paparan kebisingan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Berat testis mencit pada paparan 8 jam/hari terjadi penurunan secara

signifikan (p<0,05), sedangkan pada paparan 12 jam/hari terjadi kenaikan berat testis secara signifikan (p>0,05) dibandingkan dengan kontrol. 2. Kebisingan dengan intensitas 85 dB – 90 dB selama 6 jam/hari,

(51)

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan maka disarankan untuk peneliti selanjutnya agar :

1. Melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap histologis sel Leydig, sel Sertoli, hormon testosteron, proses spermatogenesis dan penentuan intensitas bising lebih akurat.

2. Melakukan penelitian lebih lanjut pada hewan tingkat tinggi (vertebrata) lainnya seperti tikus atau pada manusia agar memberikan informasi dan manfaat bagi manusia.

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, N. 2012. Kesan Ekstrak Soya, Bisfenol A dan 17ß-Estradiol pada Testis dan Aras Edaran Testosteron dan Estradiol di Kalangan Tikus Remaja Perpuberti Jantan Sprague-Dawley. Jurnal Sains Malaysiana 41(1)(2012): 63–69.

Annisa, R. 2011. Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa) terhadap Gambaran Histopatologi Organ Testis Mencit (Mus musculus). Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Besselsen, D.G. 2004. Biology of Laboratory Rodent. Medical Books. New York.

Chandralekha G.Swami. 2007. Noise Exposure Effection Testicular Histology,Morphology and On Male Steroidogenic Hormone. Malaysian Journal of Medical Sciences, Vol. 14, No. 1, January (28-35).

Carneiro J., R.O. Kelley. 2007. Histologi Dasar. Edisi ke-5. Tambayang J., penerjemah. Terjemahan dari Basic Histology. EGC. Jakarta. Cheville N.F. 2006. Introduction to Veterinary Pathology. Ed ke-3. Oxford:

Blackwell Publishing.

Dobson, H., Ghuman, Prabhakar dan Smith. 2003. A Conceptual Model of the influence of Stress on Female Reproductions. Reproductions : 151-163.

Drickamer, L. 2002. Animal Behaviour. New York : Mc Graw-Hill Higler Education.

Friska, P.S. 2008. Struktur Histologis Testis Mencit (Mus musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus L.).

Skripsi. Sarjana Universitas Lampung. Bandar Lampung.

(53)

Hari, M.S. 2013. Struktur Histologis Insang dan Kadar Hemoglobin Ikan Asang (Osteochilus hasseltii C.V) di Danau Singkarak dan Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas. Vol : 133-144. Hill, M. 2010. Spermatogenesis. Acknowledgements. Australia.

Hiperkes. 2005. Laporan Hasil Kegiatan Pemantahuan Lingkungan Seksi Hiperkes. PT. Semen Tonasa Persero Pangkep. Provinsi Sulawesi Selatan.

Indah, F.B. 2012. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Pinang Terhadap Histologi Testis Mencit (Mus musculus L.). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Jones T.C., R.D. Hunt, N.W. King. 1997. Veterinary Pathology. Ed ke-6. USA: Williams & Wilkins.

Junqueira L.C., J.Carneiro, R.O. Kelley. 2007. Histologi Dasar. Edisi ke-5. Tambayang J., penerjemah. Terjemahan dari Basic Histology. EGC. Jakarta.

Junqueira L.C., J.Carneiro, R.O. Kelley. 1997. Histologi Dasar. Ed ke-8. Tambayang J, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Basic

Histology.

Kimbal, J. W. 1983. Biologi Jilid 3. Edisi 5. Erlangga. Jakarta. Hal. 942. Kristiana, Y. 2000. Pengaruh Depot Medroksi Progesteron Asetat (DMPA)

Terhadap Dt Harian, Berat Badan dan Aktivitas Harian Mencit Jantan (Mus musculus L.). Skripsi Sarjana. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Kumar, V., R.S. Citran, S.L. Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Kedokteran EGC. Jakarta. 12 (1) : 189-1.

Leeson, S., J.D. Summers. 2001. Nutrition of the Chicken. Edisi ke-4. University Books. Canada.

(54)

Moeloek, N., Asmarinah, N.C. Siregar, S. Ilyas. 2008. Testosterone Undecanoate and Depo Medroxyprogesterone Acetate Induced Azoospermia Through Increased Expression of Spermatogenic Cell Caspase 3. Medical Journal of Indonesia. 17(3):149-56.

Priyambodo, S. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu Seri Agrikat. Penebar Swadaya. Jakarta. Vol : 6.

Rahayu, L. 2006. Penanganan Hewan Percobaan. Laboratorium Farmakologi. Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Jakarta. Rugh, R. 1976. The Mouse, It’s Reproduction and Development. Burgess

Publishing. Minneapolis.

Sheiner, P. 2002. Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Birarupa Aksara. Selvage and Rivier. 2003. Quantitative Analysis of Spermatogenesis of Rat :

A Revised Model For Renewel of Spermatogenesis Am.J.Ama.111:111-127.

Smith, B. J. B dan S. Mangkoewidjojo. 1998. Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas

Indonesia. Jakarta. Hlm. 228-233.

Susetyarini, Rr. E. 2005. Reproduksi dan Embriologi Hewan.UMM Press. Malang.

Syahrum, M. H. 1994. Reproduksi dan Embriologi Dari Satu Sel Menjadi Organisme. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 9-11.

Syarif, H. 2012. Kajian Kebisingan dan Persepsi Ketergangguan Masyarakat Akibat Penambangan Batu Andesit di Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan. Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana UNDIP. Hal.1-5.

Tortora G.J., B.H. Derrickson. 2009. Principles of anatomy and physiology. Asia Nations.

(55)

Kontrol 6jam/hari 8 jam/hari 10 jam/hari 12 jam/ hari

Tabel 8. Analysis Of Variance (Anova) Rata-rata Berat Testis Mencit (Mus musculus L.) Setelah Paparan Kebisingan.

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between Groups ,003 4 ,001 1,660 ,199

Within Groups ,008 20 ,000

Total ,011 24

Tabel 9. Descriptives Analysis Of Variance (Anova) Rata-rata Berat Testis Mencit (Mus musculus L.) Setelah Paparan Kebisingan.

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean

Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

(56)

(I) perlakuan (J) perlakuan Mean

Difference (I-J)

Std. Error Sig. 95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

Kontrol

(57)

Gambar 14. Organ Testis Mencit yang direndam Larutan Fiksatif (Formalin 10%)

Figur

Tabel 1.  Baku Tingkat Kebisingan
Tabel 1 Baku Tingkat Kebisingan . View in document p.17
Tabel 2. Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya
Tabel 2 Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya . View in document p.18
Tabel 1.  Baku Tingkat Kebisingan ...( lanjutan)
Tabel 1 Baku Tingkat Kebisingan lanjutan . View in document p.18
Tabel 2. Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya ...(lanjutan)
Tabel 2 Skala Intensitas Kebisingan dan Sumbernya lanjutan . View in document p.19
Gambar 1.  Morfologi mencit (Mus musculus L.) (Smith dan                 Mangkoewidjojo, 1998)
Gambar 1 Morfologi mencit Mus musculus L Smith dan Mangkoewidjojo 1998 . View in document p.21
Gambar 2.  Sayatan histologis testis normal mencit (Mus musculus L.) (Hill, 2010)
Gambar 2 Sayatan histologis testis normal mencit Mus musculus L Hill 2010 . View in document p.24
Gambar 4. Perubahan Utama pada Spermatid selama Spermiogenesis                                (Junqueira, 2007)
Gambar 4 Perubahan Utama pada Spermatid selama Spermiogenesis Junqueira 2007 . View in document p.32
Gambar 5. Sketsa penelitian paparan kebisingan
Gambar 5 Sketsa penelitian paparan kebisingan . View in document p.41
Tabel 3. Tahapan proses dehidrasi
Tabel 3 Tahapan proses dehidrasi . View in document p.43
Tabel 4. Tahapan proses stainning
Tabel 4 Tahapan proses stainning . View in document p.46
Gambar 6. Diagram Alir Penelitian
Gambar 6 Diagram Alir Penelitian . View in document p.49
Tabel 9. Descriptives Analysis Of Variance (Anova) Rata-rata Berat Testis Mencit (Mus musculus L.) Setelah Paparan Kebisingan
Tabel 9 Descriptives Analysis Of Variance Anova Rata rata Berat Testis Mencit Mus musculus L Setelah Paparan Kebisingan. View in document p.55
Tabel 8. Analysis Of Variance (Anova) Rata-rata Berat Testis Mencit (Mus musculus L.) Setelah Paparan Kebisingan
Tabel 8 Analysis Of Variance Anova Rata rata Berat Testis Mencit Mus musculus L Setelah Paparan Kebisingan. View in document p.55
Tabel 10. Multiple Comparisons LSD Rata-rata Berat Testis Mencit (Mus musculus L.)       Setelah Paparan Kebisingan
Tabel 10 Multiple Comparisons LSD Rata rata Berat Testis Mencit Mus musculus L Setelah Paparan Kebisingan. View in document p.56
Gambar 13.  Pembedahan Mencit dan Penimbangan Berat Testis Mencit
Gambar 13 Pembedahan Mencit dan Penimbangan Berat Testis Mencit . View in document p.57

Referensi

Memperbarui...