KINERJA KOMITE SEKOLAH
DI SDIT AL-HIKMAH CILANDAK - JAKARTA SELATAN
Skripsi Ini Diajukan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh: ABDUL KHALIK NIM:106018200726
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
KEMENTERIAN AGA UIN JAKARTA FITK
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412
SURAT PER
: Mapilli, 16 Agustus 1986
: 106018200726
: Manajemen Pendidikan/ Kependidikan I
: Kinerja Komite Sekolah di SDIT Al-Hikm
Cilandak- Jakarta Selatan.
bing : Drs. Mudjahid AK, M.Sc
n bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil
wab secara akademis atas apa yang saya tulis
iv
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT. atas kemurahan dan
cintanya-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga seluruh penghuni alam semesta dapat
berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan
hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Shalawat dan salam kepada Muhammad SAW.
akhirul anbiya, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia sampai akhir
zaman.
Skripsi yang berjudul “Kinerja Komite Sekolah SDIT Al-Hikmah Cilandak - Jakarta
Selatan” ini penulis persembahkan kepada Bapak-Ibu saya H. Usman Umar, Hj. Azizah,
Tante Timah, Uncle Suhuriah (Usman Suhuriah), Abi Faidil (Tajuddin), Kama Naora (Ir.
Abidin Usman), Kindo Sardi (Cicci), Kama Unsia (Muh. Aswad, MA), Kama Nejad (Faizal),
Ir. Marwah Usman, Syamsi Usman., SE, dan Ulfah, S.Pd yang selalu memberikan kasih
sayang, perhatian, bimbingan, dukungan moril dan materil, semoga Allah membalas semua
kebaikan yang diberikan dengan surga Firdaus. Amiin.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis tidak terlepas dari berbagai bantuan,
bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Drs. Rusydy Zakaria, M.Ed, M. Phil., Ketua Jurusan KI-Manajemen Pendidikan.
3. Drs. Mu’arif SAM, M.Pd., Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. yang juga dosen penasehat akademik yang telah
membimbing dan meluangkan waktu, tenaga dan pikiran disela-sela kesibukannya
untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi.
4. Dra. Mudjahid AK, M.Sc, dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu
dan kemudahan selama proses bimbingan serta memberikan saran dan dukungan
v
5. Kepala Sekolah, Ketua Komite, dan tenaga kependidikan lainnya di lingkungan SDIT
Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan yang telah banyak membantu penulis
mendapatkan informasi dan data dalam menyelesaikan skripsi.
6. Sohib-Sohibku mahasiswa KI-MP angkatan 2005, Ridwan, Bung Kori Kurniawan,
Mas Hadi Wijaya, Syamsuariadi, Away (Anwar), Bang Miming, adik-adik satu
alumni dari Pondok Pesantren DDI-AD Mangkoso Sulawesi Selatan, Ryan Rizaldy,
Abdullah, Firman dan khusus pada adikku Muhammad Fadel yang banyak
memotivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
Kepada semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih
semuanya dan hanya Allah yang bisa membalas segala kebaikan yang telah diberikan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya serta menambah
wawasan pengetahuan keilmuan. Amin.
Jakarta, 16 September 2011
vi
ABSTRAK
Abdul Khalik, NIM: 106018200726, Kinerja Komite Sekolah Al Hikmah Cilandak - Jakarta Selatan, Skripsi Program Strata 1 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Komite Sekolah SDIT Al Hikmah Cilandak - Jakarta Selatan yang meliputi empat aspek yaitu; sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency), sebagai pendukung (supporting agency), sebagai pengontrol (controlling
agency), dan Sebagai mediator antara sekolah dengan masyarakat (orang tua siswa).
Penelitian ini dilakukan di SDIT Al Hikmah Cilandak - Jakarta Selatan pada bulan Juni 2010 sampai Desember 2010.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis data bersifat interaktif, Analisis kualitatif cenderung menggunakan pendekatan logika induktif, dimana silogisme dibangun berdasarkan pada hal-hal yang khusus atau data di lapangan dan bermuara pada kesimpulan-kesimpulan umum. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dalam penelitian ini, yaitu: kepala sekolah SDIT Al-Hikmah Cilandak, Pengurus Komite Sekolah di SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan terdiri dari: ketua komite, sekretaris, dan bendahara, anggota serta guru SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan yang berjumlah sepuluh orang dan orang tua non Komite Sekolah berjumlah empat sebagai penguat data. Data sekunder adalah dokumen-dokumen atau sumber tertulis lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian.
Hasil yang didapat lalu dianalisis dari hasil wawancara dari pengurus harian Komite Sekolah, guru, orang tua siswa non anggota Komite Sekolah dari hasil wawancara data tersebut dianalisis. Dari hasil analisis data diperoleh di simpulkan bahwa kinerja Komite Sekolah SDIT Al Hikmah Cilandak - Jakarta Selatan telah bekerja dengan baik dalam memberikan layanan terhadap sekolah dan orang tua siswa serta bermitra dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan sekolah.
Disarankan agar ketua Komite Sekolah dapat meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak terkait dalam layanan terhadap sekolah dan masyarakat (orang tua siswa) agar lebih maksimal.
vii
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pernyataan... i
Pengesahan Pembimbing Skripsi ... ii
Pengesahan Dosen Penguji ... iii
Kata Pengantar ... iv
Abstrak ... vi
Daftar Isi... vii
Daftar Tabel ... ix
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ... 1B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II: KAJIAN TEORI
A. Kinerja 1. Pengertian Kinerja ... 102. Faktor-Faktor Yang Mempegaruhi Kinerja ... 11
3. Penilaian Kinerja ... 13
4. Manfaat Penilaian Kinerja... 13
B. Komite Sekolah 1. Pengertian Komite Sekolah ... 14
2. Tujuan Komite Sekolah... 15
3. Tugas Pokok Komite Sekolah ... 17
4. Peran dan Fungsi Komite Sekolah ... 18
viii
7. Mekanisme Pembentukan Komite Sekolah ... 25
8. Komponen dan Indikator Kinerja Komite Sekolah ... 26
9. Membangun Kemitraan Dengan Masyarakat ... 29
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian ... 34B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
C. Metode Penelitian... 34
D. Sumber Data ... 35
E. Teknik Pengumpulan Data ... 36
F. Intrumen Pengumpulan Data ... 38
G. Teknik Analisis Data ... 41
BAB IV: HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Komite Sekolah SDIT Al-Hikmah Jakarta ... 43B. Deskripsi Data dan Analisis Data ... 50
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 77
B. Saran ... 79
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1: Indikator Komite Sekolah yang telah berfungsi dengan baik ... 31
Tabel 2: Pedoman wawancara kepala sekolah ... 39
Tabel 3: Pedoman wawancara Komite Sekolah ... 40
Tabel 4: Pedoman wawancara Orang Tua (Non komite) ... 41
Tabel 5: Susunan pengurus Komite Sekolah SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan periode 2004-2007 ... 52
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak berlakunya Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003
sebagaimana Bab XIV tentang Pengelolaan Pendidkan pasal 51 ayat 1
mengatakan pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar
pelayanan minimal dengan prinsip manajamen berbasis sekolah/madrasah.
Pengelolaan pendidikan telah mengalami perubahan sistem dari
sentralisasi menjadi desentralisasi. Perubahan paradigma pendidikan
tersebut menempatkan satuan pendidikan memiliki kewenangan dalam
mengelola pendidikan secara mandiri. Manajemen Berbasis sekolah
(MBS) bisa disebut sebagai paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan
yang menempatkan kepala sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan
di tingkat satuan pendidikan. Namun dalam pengelolaan pendidikan kepala
sekolah bukan satu-satunya pengambil kebijakan sekolah yang mutlak.
Dari sisi moral, sekolah dan masyarakatlah lebih mengetahui berbagai
persoalan pendidikan yang dapat menggambarkan peningkatan mutu
pendidikan. Dari segi teknis kependidikan kepala sekolah yang
mengetahui tentang bagaimana kinerja guru dan staff pendidikan di
sekolah, sarana prasarana pendidikan, kekurangan tenaga pendidikan,
2
Guru lebih mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh peserta
didik, mulai dari mengapa siswa malas belajar, nilai siswa yang rendah,
mengapa siswa nakal atau apatis terhadap mata pelajaran, dan lain-lain.
Sedangkan masyarakat adalah pengguna hasil (output) pendidikan. Dengan
demikian, antara kepala sekolah, guru, dan masyarakat harus sinergi dan
bekerjasama dalam pengelolaan pendidikan agar mutu pendidikan
berkualitas. Maka, MBS merupakan bentuk pengembalian kewenangan
pengambilan keputusan pada tingkat satuan pendidikan dan memberikan
kepada masyarakat akan rasa memiliki sekolah.
Ahkmad Sudrajat mengemukakan di dalam artikelnya, semenjak diluncurkannya konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah dalam sistem manajemen sekolah, Komite Sekolah sebagai organisasi mitra sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya turut serta mengembangkan pendidikan di sekolah. Kehadirannya tidak hanya sekedar sebagai stempel sekolah semata, khususnya dalam upaya memungut biaya dari orang tua siswa, namun lebih jauh Komite Sekolah harus dapat menjadi sebuah organisasi yang benar-benar dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa dari masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah serta dapat menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di sekolah.1
Di dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia No. 20
Tahun 2003 Komite sekolah adalah sebagai lembaga mandiri, dibentuk
dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan
memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan
prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.2
Komite itu dibentuk untuk mewadahi dan meningkatkan
partisipasi para stakeholders sekolah untuk turut merumuskan,
menetapkan, melaksanakan dan memonitor pelaksanaan kebijakan sekolah
1
Akhmad Sudrajat, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/16/peran-strategis-komite-sekolah/, Tanggal akses, 03 Nopember 2010
dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan terhadap
peserta didik secara proporsional dan terbuka.
Komite juga mewadahi partisipasi para stakeholders untuk turut
serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya,
berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah
secara proporsional. Namun, seringkali komite sekolah masih diterima
setengah hati. Pihak sekolah enggan dicampurtangani pihak lain. Selama
ini manajemen sekolah-sekolah, apalagi dalam hal keuangan cenderung
tertutup. Kehadiran komite dianggap bisa membahayakan kepentingan
sekolah secara internal. Tak mengherankan jika kemudian yang
berkembang adalah pandangan bahwa komite sekolah mandul dan hanya
menjadi pengesah saja dari kebijakan-kebijakan kepala sekolah.
Menurut Paulus Mujiran Komite sekolah dibentuk disentralisasi
dan diharapkan bekerjasama dengan kepala sekolah sebagai partner untuk
mengembangkan kualitas sekolah dengan menggunakan konsep
manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang demokratis, transparan,
dan akuntabel.3
Sejalan dengan semangat tersebut, segala keputusan yang
berkaitan dengan pengelolaan pendidikan diambil dan bertumpu pada
sekolah dan masyarakat. Dan ini sesuai dengan paradigma baru di bidang
pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah (MBS). Dalam MBS ini
sekolah ditempatkan sebagai suatu lembaga yang berada di tengah-tengah
masyarakat yang memiliki ciri khas tersendiri. Karena itu sekolah harus
memiliki unit perencana, unit pembuat keputusan, dan basis manajemen.
Komite Sekolah mencerminkan peran serta masyarakat dalam memajukan
pendidikan.
3
Paulus Mujiran, http://www.yipd.or.id/main/readnews/955, Tanggal akses 03
4
Komite Sekolah seharusnya bukan hanya formalitas, melainkan
memberikan sumbang saran, pendapat, kontrol terhadap penyelenggaraan
pendidikan. Luasnya peran Komite Sekolah tidak dimaksudkan untuk
mengurangi wibawa guru dan kepala sekolah. Justru porsi peran yang
berbeda memungkinkan kerjasama yang baik diantara sekolah dan Komite
Sekolah. Bentuk pengembangan potensi sekolah ini antara lain melalui
peningkatan kinerja para guru dan karyawan, keleluasaan mengelola
sumber daya sekolah, penyederhanaan birokrasi, dan mempererat
partisipasi masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong
kemajuan sekolah tanpa meninggalkan nilai-nilai setempat. Dan yang tidak
kalah penting adalah memperluas basis mitra sekolah, yang semula hanya
berbasis struktural dari pusat ke daerah. Sekarang menjadi lebih luas, di
samping berbasis struktural juga berbasis masyarakat, pemimpin atau
tokoh masyarakat, sektor swasta, dan LSM dibidang pendidikan.
Undangan komite sekolah kepada orangtua siswa bukan dalam
rangka membicarakan masalah perbaikan kualitas pendidikan, melainkan
untuk kepentingan penarikan dana pembangunan sekolah. Sehingga rapat
komite sekolah direduksi menjadi rapat pengumpulan dana. Karena itu
wajar jika muncul berbagai kasus ketidaktransparan pengelolaan dana
yang berasal dari orangtua atau wali yang berakibat pada munculnya
ketidakpuasan dan demonstrasi di berbagai sekolah.
Hal ini tidak perlu terjadi kalau komite sekolah benar-benar
berperan sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan
kebijakan pendidikan. Untuk itu perlu ditegakkan sistem perekrutan
personal komite sekolah yang proporsional, profesional, dan kompeten.
Komite berkepribadian independen, punya semangat tinggi untuk menjalin
kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan sekolah. Komite Sekolah
merupakan penyempurnaan dan perluasan badan kemitraan dan
komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Sampai tahun 1994 mitra
disebut dengan POMG (persatuan Orang Tua dan Guru), tahun 1994
sampai pertengahan 2002 dengan perluasan peran menjadi BP3 (Badan
Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan) yang personilnya terdiri atas
orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah. Sejak pertengahan tahun 2002
wadah tersebut bertambah peran dan fungsinya sekaligus perluasan
personilnya yang terdiri atas orang tua dan masyarakat luas yang peduli
terhadap pendidikan yang tidak hanya di sekitar sekolah. Perbedaan yang
prinsip antara BP3 dengan komite sekolah adalah dalam peran dan fungsi,
keanggotaan serta dalam pemilihan dan pembentukan kepengurusan.
Secara umum peran komite sekolah sebagai berikut:
1. Sebagai lembaga pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan. 2. Sebagai lembaga pendukung (supporting agency), baik yang berwujud
finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Sebagai lembaga pengontrol (controlling agency) dalam rangka ransparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
4. Sebagai lembaga mediator (mediator agency) antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan4.
Selain peran kegiatan tersebut diatas, juga dilakukan
pertemuan-pertemuan rutin yang membahas beberapa agenda penting dalam rangka
meningkatkan mutu sekolah antaran lain :
1. Pertemuan Komite Sekolah dengan kepala sekolah mengenai penerimaan siswa baru.
2. Pertemuan Komite Sekolah dan panitia penerimaan siswa baru
3. Pertemuan orang tua murid, komite sekolah, kepala sekolah, guru dan pegawai
4. Pertemuan pembahasan dana operasional sekolah (BOS)
5. Rapat koordinasi menghadapi mid semester, semester ganjil/genap, ujian sekolah dan ujian nasional
6. Pertemuan Khusus Komite Sekolah dengan kepala sekolah tentang ketenagaan.
7. Rapat Kepala Sekolah dengan Komite Sekolah tentang Pengadaan Sarana/Prasarana.5
6
Oleh karena itu Komite Sekolah harus benar-benar menunjukkan
kinerja professional dan menjadi dirinya sendiri sebagai lembaga
independen dan mampu menjadi mitra bagi satuan pendidikan. Selain itu,
Komite Sekolah harus bisa menumbuhkan perhatian dan persepsi
masyarakat lainnya pada kepemilikan sekolah. Sekolah adalah milik
masyarakat maka Komite Sekolah harus menampung dan menganalisis
aspirasi masyarakat serta mendorong, partisipasi orang tua guna
mendukung peningkatan mutu pendidikan. Komite Sekolah juga
mengevaluasi dan mengawasi kebijakan, program serta penyelenggaraan
pendidikan.
Dalam tulisan Suparlan.com mulai dari terbitnya Kepmendiknas
Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka
Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah telah berusia kurang lebih delapan
tahun sampai tahun 2011. Melalui program sosialisasi, pengembangan, dan
kemudian pembinaan yang telah dan sedang dilaksanakan oleh
pemerintah, dalam hal ini Ditjen Mandikdasmen, hasilnya dapat kita
ketahui sebagai berikut: (1) hampir semua kabupaten/kota di Indonesia
telah terbentuk Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota, (2) separuh provinsi
di Indonesia secara mandiri telah membentuk Dewan Pendidikan Provinsi,
(3) hampir semua satuan pendidikan telah membentuk Komite Sekolah.
Sekolah Dasar Islam terpadu Al-Hikmah (SDIT) Cilandak-Jakarta
Selatan sejak terbentuknya sekolah ini telah mempunyai POMG (persatuan
orang tua murud dan guru) seiring dengan adanya peraturan pemerintah
pada pertengahan 2002 terbentuklah Komite Sekolah yang bertambah
peran dan fungsinya sekaligus perluasan personil komite sekolah yang
terdiri dari orang tua, dan masyarakat luas yang peduli terhadap
pendidikan yang tidak hanya di sekitar sekolah. Diharapkan perubahan
POMG menjadi Komite Sekolah akah lebih baik dari sebelumnya. Pada
dasarnya pembentukan Komite Sekolah yang dilakukan di sekolahan ini
5 Program Komite Sekolah, http://smpn1-gunungsari.net/program.php, Tanggal
telah mengacu pada Acuan Operasional Kegiatan dan Indikator Kinerja
Komite Sekolah yang dikeluarkan Dinas Pendidikan pada tahun 2003.
Namun ada beberapa hal yang belum optimal mengenai keanggotaan
Komite Sekolah yang pada umumnya keanggotaannya masih dari orang
tua siswa belum melibatkan tokoh masyarakat, LSM pendidikan, dan
dunia usaha.
Melihat kondisi sekolah Kinerja Komite Sekolah belum terlibat
langsung dalam hal merumuskan RAPBS, pengadaan fasilitas pendidikan
dan hal yang berkaitan dengan pengembangan mutu pendidikan. Serta
belum mampu mensupport masyarakat ikut berpartisipasi dalam
pendidikan, rapat yang dilakukan pihak Komite Sekolah hanya sebatas
menggalang/pengumpulan dana bukan sebagai mediator dengan
masyarakat dan menampung aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan
pendidikan yang diajukan masyarakat dalam peningkatan kualitas mutu
pendidikan.
Ditambah lagi, Komite Sekolah belum mampu melibatkan
masyarakat dari luar hanya dari internal sekolah dalam setiap kegiatan
penyelenggaraan sekolah6. Dalam hal pengawasan dan evaluasi komite
belum terlihat secara langsung di sekolah, apalagi hal-hal yang berurusan
dengan financial komite sekolah hanya sebatas RAPBS Komite Sekolah
yang mendapat pengontrolan. Serta belum optimal bentuk kerja sama atau
mitra Komite Sekolah dengan lingkungan masyarakat sekitar. Dan dapat
katakan komite sekolah yang ada sekarang sekolah bukan hanya sebatas
penggalan dana, perbaikan gedung serta sebagai pengesah (stempel)
kebijakan sekolah, melainkan masih banyak peran dan fungsi Komite
Sekolah yang perlu dikerjakan agar dapat menunjang peningkatan mutu
pendidikan di sekolah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan
penelitian dengan judul “KINERJA KOMITE SEKOLAH DI SDIT
AL-HIKMAH CILANDAK - JAKARTA SELATAN”.
8
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas maka dapat
diidentifikasi masalahnya sebagai berikut:
1. Belum optimal peran dan fungsi pengurus sesuai struktur Komite
Sekolah yang ada, hal ini disebabkan yang menjadi pengurus belum
sesuai dengan standar Dinas Pendidikan .
2. Bagaimana mekanisme cara pembentukan Komite Sekolah?
3. Komite Sekolah, belum terlibat langsung merumuskan, melaksanakan
dan mengevaluasi kebijakan sekolah.
4. Komite Sekolah belum menunjukkan sebagai badan pemberi
pertimbangan di sekolah.
5. Kinerja Komite Sekolah belum efektif dalam menjalin kerja sama
dengan mitra sekolah
6. Sebagai lembaga pendukung (Supporting agency) Komite Sekolah
belum melibatkan masyarakat luar dalam penyelenggaraan kegiatan
pendidikan.
7. Apakah Komite Sekolah telah melakukan evaluasi dan pengawasan
sebagai badan pengontrol?
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar pembahasan tidak terlalu luas, maka perlu adanya
pembatasan masalah. Untuk itu, penyusun membatasi masalah pada
“Kinerja Komite Sekolah di SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan”.
Kinerja Komite Sekolah yang dimaksud, meliputi aspek peran dan fungsi
yang dilakukanya, yakni sebagai badan pertimbangan, pendukung,
pengawas dan badan mediator serta mekanisme pembentukan Komite
Sekolah sehingga berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di
sekolah.
Dengan demikian, perumusan masalahnya adalah Bagaimana
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai syarat untuk meraih gelar S1 (Strata satu) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan
bagi Komite Sekolah di SDIT Al-Hikmah Jakarta.
3. Secara teoritis hasil penelitian ini dapat menambah dan memperkaya
sumber bacaan mengenai kinerja Komite Sekolah di SDIT Al-Hikmah
Jakarta.
4. Secara praktis skripsi ini dapat memberikan kontribusi positif dalam
kinerja Komite Sekolah sesuai standar yang telah ditetapkan oleh
10
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kinerja1. Pengertian Kinerja
Istilah kinerja atau prestasi kerja berasal dari kata job
performance yaitu prestasi kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja diartikan juga sebagai tingkat atau derajat pelaksanaan tugas seseorang atas dasar kompetensi yang dimilikinya. Istilah kinerja tidak dapat dipisahkan dengan bekerja karena kinerja merupakan hasil dari proses bekerja. Dalam konteks tersebut maka kinerja adalah hasil kerja dalam mencapai suatu tujuan atau persyaratan pekerjaan yang telah ditetapkan. Kinerja dapat dimaknai sebagai ekspresi potensi seseorang berupa perilaku atau cara seseorang dalam melaksanakan tugas, sehingga menghasilkan suatu produk (hasil kerja) yang merupakan wujud dari semua tugas serta tanggung jawab pekerjaan yang diberikan kepadanya.1
Kinerja dapat ditunjukkan seseorang misalnya guru atau kepala
sekolah atau pengawas sekolah, dapat pula ditunjukkan pada unit kerja
atau organisasi tertentu misalnya sekolah, lembaga pendidikan,
kursus-kursus, dll. Atas dasar itu maka kinerja diartikan sebagai hasil kerja yang
dicapai seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai
wewenang dan tanggungjawabnya masing-masing dalam rangka mencapai
tujuan organisasi yang bersangkutan.
Hadipranata dalam buku perilaku organisasi mengartikan “Kinerja sebagai kinerja merupakan suatu yang lazim digunakan untuk memantau produktivitas kerja sumber daya manusia, baik yang beroriantasi pada produksi barang, jasa, pelayanan. Agar dicapai kinerja yang profesional, hal-hal seperti kesukarelaan, pengembangan diri pribadi, pengembangan kerja sama yang saling menguntungkan, serta partisipasi seutuhnya perlu dikembangkan”.2
Menurut E. Mulyasa “Kinerja atau performansi dapat diartikan
sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja atau
unjuk kerja”.3
Dan dapat disimpulkan bahwa kinerja prestasi seseorang dalam
suatu bidang tertentu dan bertanggung jawab atas tugas pokok yang
diembannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini
lebih mengarah kepada kinerja Komite Sekolah.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Pada dasarnya kinerja merupakan sesuatu hal yang bersifat
individual, karena setiap orang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda
dalam mengerjakan tugasnya. Kinerja tergantung pada kombinasi antara
kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam kinerja.
Menurut Timpe (1993) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu:
1. Kinerja baik dipengaruhi oleh dua faktor:
a. Internal (pribadi)
1) Kemampuan tinggi
2) Kerja keras
b. Eksternal (lingkungan)
1) Pekerjaan mudah
2) Nasib baik
3) Bantuan dari rekan-rekan
4) Pemimpin yang baik
2 Hairul Umam, Perilaku Organisasi, (Bandung: Pustaka Setia 2010), h. 187
12
2. Kinerja jelek dipengaruhi dua faktor:
a. Internal (pribadi)
1) Kemampuan rendah
2) Upaya sedikit
b. Eksternal (lingkungan)
1) Pekerjaan sulit
2) Nasib buruk
3) Rekan-rekan kerja tidak produktif.
4) Pemimpin yang tidak simpatik. 4
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja individu yaitu:
1. Kemampuan mereka
2. Motivasi
3. Dukungan yang diterima
4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan
5. Hubungan mereka dengan organisasi.5
Sedangkan Menurut Gibson (1987) ada 3 faktor yang berpengaruh
terhadap kinerja :
1. Faktor individu : kemampuan, ketrampilan, latar belakang keluarga,
pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang.
2. Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan
kepuasan kerja
3. Faktor organisasi : struktur organisasi, desain pekerjaan,
kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system).6
Berdasarkaan pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan
bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja
(output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang
4
http://mentalsukses.wordpress.com/2010/01/23/kinerja-karyawan-definisi-faktor-yang-mempengaruhi-dan-cara-meningkatkan-kinerja-karyawan/ Tanggal akses, 14/12/2010
diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari
proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.
3. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja (performance appraisal) pada dasarnya
merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara
efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik
atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja
individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara
keseluruhan.
Menurut Cascio dalam buku Perilaku Organisasi mengemukakan
“Penilaian kinerja adalah sebuah gambaran atau deskripsi yang sistematis
tentang kekuatan dan kelemahan yang terkait dari seseorang atau suatu
kelompok secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat
diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan”.7
Menurut Bambang wahyudi, “Penilaian kinerja adalah suatu
evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang prestasi
kerja (jabatan) seorang karyawan, termasuk potensi pengembangannya”.8
4. Manfaat Penilaian Kinerja
Kontribusis hasil-hasil penilaian merupakan suatu yang sangat
bermamfaat bagi perencanaan kebijakan organisasi. Secara terperinci,
penilaian kinerja bagi organisasi adalah:
a. penyesuaian-penyesuaian konpensasi
b. perbaikan kinerja
c. kebutuhan latihan dan pengembangan
d. pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi,
pemecatan, pemberhentian, dan perencanaan tenaga kerja
e. untuk kepentingan penelitian pegawai
14
f. membantu diagnosis terhadap kesalahan desaian pegawai. 9
B. Komite Sekolah
1. Pengertian Komite Sekolah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang
program pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004, dalam rangka
pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat perlu dibentuk
dewan pendidikan dan ditingkat kabupaten atau kota, dan Komite Sekolah
di tingkat satuan pendidikan. Amanat rakyat ini sejalan dengan konsepsi
desentralisasi pendidikan, baik ditingkat kabupaten atau kota maupun
ditingkat sekolah. Amanat rakyat dalam Undang-Undang tersebut telah
ditindak lanjuti dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor
044/U /2002 tanggal 2 April 20002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah.
Dibentuknya Komite Sekolah merupakan konsekuensi perluasan
makna partisipasi masyarakat serta menampung dan menyalurkannya
dalam penyelenggaraan pendidikan pada tingkat sekolah. Selain itu adanya
Komite Sekolah diharapkan Juga agar ada organisasi masyarakat sekolah
yang memiliki komitmen dan loyalitas tinggi serta peduli terhadap
peningkatan kualitas sekolah. Komite Sekolah yang dibangun harus
merupakan pengembangan kekayaan filosofis masyarakat secara kolektif,
artinya Komite Sekolah mengembangkan konsep yang berorientasi pada
pengguna, berbagai kewenangan dan kemitraan yang difokuskan pada
peningkatan mutu pelayanan pendidikan.
Berdasarkan Undang-undang Sisdiknas Pasal 56, Ayat (3),
“Komite Sekolah/Madrasah adalah sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan
berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan
pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta
pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”.10
9 Hairul Umam, Perilaku Organisasi ..., h. 191
Menurut Hasbullah dalam bukunya Otonomi pendidikan, berdasarkan keputusan Mendiknas No. 044/U/2002 tanggal 2 April 2002, “Komite Sekolah merupakan badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan pemerataan efesiensi pengelolaan pendidikan disatuan pendidikan baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun pendidikan luar sekolah. Anggota-anggota Komite sekolah terdiri dari Kepala Sekolah dan dewan guru, orang tua siswa dan masyarakat”.11
Menurut Umaedi dalam bukunya Manajemen Mutu Berbasis
sekolah/madrasah “Komite Sekolah/Madrasah adalah lembaga mandiri
yang beranggotakan Orang tua/Wali peserta didik, komunitas sekolah,
serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan”.12
Menurut Nanang Fattah, “Dewan Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non politis dan non profit, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholders pendidikan di tingkat sekolah, sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan”.13
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Komite Sekolah
adalah badan mandiri atau lembaga non politis dan non profit yang
beranggotakan Orang Tua/wali peserta didik komunitas sekolah, serta
tokoh masyarakat yang dibentuk berdasarkan musyawarah yang
demokratis dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan dan efisiensi
pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan dan rasa ikut memiliki
terhadap sistem pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah yang ada
dilingkungan masing-masing.
2. Tujuan Komite Sekolah
Pembentukan Dewan Pendidikan sebagai pemberi pertimbangan
dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan ditingkat
11 Hasbullah, Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya
Terhadap Penyelenggraan Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), Cet. 1, h. 47
12
Umaedi, Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/ Madrasah (MMBS) (Jakarta: Pusat Kajian Manajemen Mutu Pendidikan , 2004), Cet. 1 h. 55
16
kabupaten dan Komite Sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam
penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan ditingkat satuan
pendidikan merupakan langkah yang positif dari perencanaan
pembangunan pendidikan di negara ini. Langkah tersebut termasuk usaha
mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kepemilikan sekolah.
Oleh karna itu, pembentukan Komite Sekolah memiliki beberapa tujuan
dalam peningkatan mutu pendidikan.
Pembentukan Komite Sekolah dapat dilihat pada keputusan
menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002
tentang acuan Pembentukan dewan pendidikan dan Komite Sekolah.
Dewan pendidikan dan Komite Sekolah bertujuan untuk:
a. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program Pendidikan, (didaerah kabupaten/kota untuk Dewan Pendidikan, disatuan pendidikan untuk Komite Sekolah)
b. Meningkatkan tanggungjawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan disatuan pendidikan.
c. Menciptakan suasana dan kondisi transparansi, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu, didaerah kabupaten/kota untuk Dewan Pendidikan, Untuk Komite Sekolah).14
Nanang Fattah menjelaskan tujuan dibentuknya Komite Sekolah
yaitu adalah suatu organisasi “Masyarakat Sekolah” yang mempunyai
komitmen dan loyalitas serta peduli terhadap peningkatan kualitas peserta
didik.15 Nanang Fattah menjabarkan tujuan pembentukan Dewan sekolah
sebagai berikut:
a. Mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholder ada tingkat sekolah untuk turut serta merumuskan, menetapkan, melaksanakan dan
memonitoring pelaksanaan kebijakan sekolah dan
pertanggungjawabkan yang terfokus pada kualitas pelayanan peserta didik secara proporsional dan terbuka.
b. Mewadahi partisispasi para stakeholder untuk turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan
14
Pemberdayaan Komite Sekolah, Modul 2 : Peningkatan Kemampuan Organisasional
Komite Sekolah, (Depdiknas Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah secara proporsional.
c. Mewadahi partisipan baik individu maupun kelompok sukarela (volountir), pemerintah atau pakar pendidikan yang peduli kepada kualitas pendidikan, secara proporsional dan profesional selaras dengan kebutuhan sekolah.
d. Menjembatani dan turut serta memasyarakatkan kebijakan sekolah kepada pihak-pihak yang mempunyai keterkaitan dan kewenangan ditingkat daerah.16
Tujuan tersebut mengandung maksud bahwa peran yang
dimaksud tidak hanya berstatus involvement (keterlibatan) saja, tetapi juga
participation (keikutsertaan). 3. Tugas Pokok Komite Sekolah
Selaras dengan wewenangnya Komite Sekolah mempunyai tugas
pokok Sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan rapat-rapat sesuai dengan program yang ditetapkan. b. Bersama-sama sekolah merumuskan dan menetapkan visi dan misi c. Bersama-sama sekolah menyusun standar pelayanan pembelajaran di
sekolah
d. Bersama-sama sekolah menyusun rencana strategis pengembangan sekolah
e. Membahas dan turut menetapkan pemberian tambahan kesejahteraan berupa uang honorium yang diperoleh dari masyarakat kepada kepada sekolah, tenaga guru dan tenaga administrasi sekolah
f. Bersama-sama sekolah mengembangkan potensi prestasi unggulan, baik yang bersifat akademis (nilai test harian, cawu atau tahunan NEM), maupun yang bersifat non akademis (keagamaan, olah raga, seni dan keterampilan di tempat sekolah pertanian, kerajinan tangan dengan teknologi sederhana.
g. Menghimpun dan menggali sumber dana dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekolah
h. Mengelola kontribusi masyarakat berupa uang yang diberikan kepada sekolah.
i. Mengelola kontribusi masyarakat yang berupa non material (tenaga, pikiran) diberikan kepada sekolah.
j. Mengevaluasi program sekolah secara profesional sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah meliputi pengawasan sarana dan prasarana sekolah, pengawasan keuangan secara berkala dan berkesinambungan. k. Mengidentifikasi berbagai permasalahan dan memecahkan
bersama-sama dengan pihak sekolah
18
l. Memberikan respon terhadap kurikulum yang dikembangkan secara standar nasional maupun local
m.Memberikan motivasi, penghargaan (baik berupa materi maupun non materi) kepada tenaga kependidikan atau kepada seseorang yang berjasa kepada sekolah secara profesional sesuai dengan kaidah profesional guru atau tenaga administrasi sekolah.
n. Memberikan otonomi profesional kepada guru mata pelajaran dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikannya sesuai kaidah kompetensi guru.
o. membangun jaringan kerjasama dengan pihak luar sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan proses dan hasil pendidikan.
p. Memantau kualitas proses pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah q. Mengkaji laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program yang
dikonsultasikan oleh kepala sekolah.
r. menyampaikan usul atau rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah.17
4. Peran dan Fungsi
Komite Sekolah memiliki peran yang sangat penting terhadap
pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Peran Komite Sekolah
tersebut tidak hanya terbatas pada mobilisasi sumbangan sebagaimana
peran BP3, akan tetapi lebih berperan serta pada hal-hal yang yang lebih
substansial untuk membantu merencanakan, menetapkan, menjalankan,
mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian Komite Sekolah tidak hanya menjadi
pengurnpul dana atau sebuah lembaga yang pasif tetapi harus aktif dalam
mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Keberadaaan komite sekolah
harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan
kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah. Oleh karena itu
pembagian perannya harus sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun
peran Komite Sekolah adalah sebagai berikut:
a. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
b. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pcndidikan di satuan pendidikan
c. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
d. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD/legislatif) dengan masyarakat di satuan pendidikan.18
Menurut E. Mulyasa dalam bukunya Menjadi Kepala sekolah
professional. Dalam rangka memberdayakan masyarakat dan lingkungan
sekolah, peran dewan pendidikan dan Komite Sekolah antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a. memberi pertimbangan (advisory agency) dalam membardayakan masyarakat dan lingkungan sekolah, serta menentukan dan melaksanakan kebijakan pendidikan.
b. Mendukung (supporting agency) kerja sama sekolah dengan masyarakat, baik secara financial, pemikiran,maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan.
c. mengontrol (controlling agency) kerja sama sekolah dengan masyarakat dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan output pendidikan
d. Mediator antara sekolah, pemerintah (eksekutif), dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD/ legeslatif), dengan masyarakat
e. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
f. melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan atau organisasi), dan dunia kerja, pemerintah. dan DPRD dalam rangka penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas
g. menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan.
h. memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah dan DPRD, berkaitan dengan:
1) kebijakan dan program pendidikan 2) kriteria kinerja pendidikan di daerahnya
3) kriteria tenaga kependidikan termasuk kepala sekolah
4) kriteria sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kemampuan daerah
5) berbagai kebijakan lain
i. Mendorong orang tua dan masyarakat untuk secara aktif berpartispasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan kualitas, relevansi, dan pemerataan pendidikan
20
j. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap perencanaan, pelaksanaan, kebijakan, program dan output pendidikan.19
Untuk menjalankan perannya itu, maka Komite Sekolah memiliki
fungsi sebagai berikut:
a. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
b. Melakukan kerjasama dengan masyarakat
(perorangan/organisasi/dunia usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
c. Menampung dan menganalisa aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai bidang pendidikan yang diajukan oleh masyarakat
d. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai:
1) Kebijakan dan program pendidikan
2) Rencana Anggaran Pendidikan dan Belanja Sekolah (RAPBS) 3) Kriteria kinerja satuan pendidikan
4) Kinerja tenaga kependidikan 5) Kinerja fasilitas pendidikan
6) Hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan
e. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. f. Mengalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan
penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan
g. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.20
Dari beberapa penjelasan tentang peran dan fungsi Komite
Sekolah di atas, maka terlihat bahwa keberadaan Komite Sekolah
diharapkan berperan aktif terhadap kebijakan-kebijakan yang berkait
dengan upaya peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan,
perencanaan, pelaksanaan, sampai pada evaluasinya.
Peran aktif Komite Sekolah dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan ini dapat dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pihak
sekolah maupun pihak-pihak lain yang terkait dalam menghadapi disini
adalah peran yang universal, yaitu kerja sama yang erat dalam
merencanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil yang telah
tercapai.
19 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah…, h. 189-190
5. Program Komite Sekolah
Untuk melaksanakan roda organisasi sekolah harus menyusun
program kerja, baik dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Program kerja ini harus segera disusun setelah struktur kepengurusan dan
keanggotaannya dibentuk, serta telah memiliki AD/ART. Penyusunan
program kerja komite sekolah perlu memperhatikan atau berdasarkan
beberapa hal sebagai berikut:
a. Program kerja komite sekolah merupakan penjabaran peran dan fungsi
komite sekolah. Program kerja komite sekolah jangan sampai keluar
dari peran dan fungsi komite sekolah, apa yang dapat atau tidak dapat
dan harus dilakukan oleh komite sekolah tidak lain harus tetap dalam
koridor yang tertuang dalam peran dan fungsi komite sekolah.
b. Berdasarkan data dan informasi yang akurat yang diperoleh dari
kondisi dan permasalahan nyata yang dihadapi oleh sekolah. Proses
penyusunan program kerja komite sekolah perlu mempertimbangkan
masukan dan pertimbangan dari sekolah. Untuk memperoleh data dan
informasi yang lebih akurat, maka komite sekolah dapat melakukan
observasi langsung ke orang tua siswa. Misalnya untuk mengetahui
data yang akurat tentang jumlah siswa yang berasal dari keluarga yang
kurang mampu.
c. Sesuai dengan kaidah penyusunan program kerja pada umumnya,
program kerja komite sekolah disusun menganut kaidah SMART
(Specific, Measurable, achievable, time frame)
Dalam menyusun program kerja, komite sekolah harus
memperhatikan kaidah SMART, yakni:
1) Spesifik
2) Dapat diukur keberhasilan dan taraf pencapaiannya
3) Dapat dicapai dan dapat diperoleh
22
5) Dengan jadwal yang jelas. 21
d. Pelaksanaan program kerja komite sekolah harus
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Salah satu prinsip komite sekolah adalah akuntabilitas, oleh
karena itu hasil pelaksanaan program kerja komite sekolah harus
dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada orang tua tetapi juga kepada
masyarakat. Sekolah dan komite sekolah harus membuat laporan
pertanggungjawaban secara periodik atau setiap akhir tahun pelajaran
kepada orang tua siswa dan masyarakat.
6. Struktur Organisasi Komite Sekolah
Pembentukan komite sekolah dilakukan secara transparan,
akuntabel, dan demokratis. Dilakukan secara transparan adalah bahwa
komite sekolah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh
masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan,
proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses
seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, pengumuman calon
anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Dilakukan
secara akuntabel adalah bahwa panitia persiapan hendaknya
menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun
penggunaan dana kepanitiaan. Dilakukan secara demokratis adalah bahwa
dalam proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan
musyawarah dan mufakat. Jika dipandang perlu, pemilihan anggota dan
pengurus dilakukan melalui pemungutan suara.
a. Keanggotaan Komite Sekolah
Keanggotaan komite sekolah berasal dari unsur-unsur yang ada dalam masyarakat. Disamping itu unsur dewan guru, yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan, Badan Pertimbangan Desa (BPD) dapat pula dilibatkan sebagai anggota komite sekolah. Jumlah anggota komite sekolah sekurang-kurangnya sembilan orang. Syarat-syarat, hak
21 Sri Renata Pantjastuti, Suparlan, Komite Sekolah (sejarah dan Prospeknya di masa
dan kewajiban, serta masa keanggotaan komite sekolah ditetapkan di dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).22
Anggota komite sekolah dibentuk dengan ketentuan-ketentuan
unsur tertentu, misalnya:
1. Unsur masyarakat yang berasal dari orang tua atau wali peserta didik, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, dunia usaha atau industri, organisasi profesi tenaga pendidikan, wakil alumni, dan khusus untuk jenjang pendidikan menengah wakil peserta didik. 2. Unsur dewan guru paling banyak 15% dari jumlah anggota komite
sekolah.
3. Unsur yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan.
4. Badan Pertimbangan Desa dan lain-lain yang dianggap perlu dapat pula dilibatkan sebagai anggota komite sekolah (sebanyak-banyaknya berjumlah 3 orang).
5. Perwakilan dari organisasi siswa, bagi Madrasah Aliyah.23
b. Kepengurusan Komite Sekolah
Pengurus komite sekolah ditetapkan berdasarkan AD/ART
yang sekurang-kurangnya terdiri atas seorang ketua, sekretaris,
bendahara, dan bidang-bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Pengurus komite sekolah dipilih dari dan oleh anggota secara
demokratis. Khusus jabatan ketua komite dianjurkan bukan berasal dari
kepala satuan pendidikan. Yang menangani urusan administrasi komite
sekolah sebaiknya juga bukan pegawai sekolah.
Pengurus komite sekolah adalah personal yang ditetapkan
berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis dan terbuka dalam
musyawarah komite sekolah.
2. Masa kerja ditetapkan oleh musyawarah anggota komite sekolah.
3. Jika diperlukan komite sekolah dapat menunjuk atau dibantu oleh
tim ahli sebagai konsultan sesuai dengan bidang keahlianya.
Mekanisme kerja pengurus komite sekolah dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
22 Hasbullah, Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah…, h. 100
24
1. Pengurus komite sekolah terpilih bertanggungjawab kepada musyawarah anggota sebagai forum tertinggi AD dan ART.
2. Pengurus komite sekolah menyusun program-program kerja yang disetujui melalui musyawarah anggota yang berfokus pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan peserta didik.
3. Apabila pengurus komite sekolah terpilih dinilai tidak produktif dalam masa jabatannya, maka musyawarah anggota dapat memberhentikan dan mengganti dengan kepengurusan baru.
4. Pembiayaan pengurus komite sekolah diambil dari anggaran komite sekolah yang ditetapkan melalui musyawarah.24
Pengurus dari anggota komite sekolah yang telah dipilih secara
demokratis harus segera menyusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran
Rumah Tangga (ART). Oleh karena itu, pada umumnya ada pembentukan
tim kecil yang diberi tugas untuk menyusun rancangannya kemudian
dibahas dalam rapat-rapat pleno komite sekolah. Berdasarkan Keputusan
Mendiknas Nomor 044/U/202, Anggaran Dasar (AD) komite sekolah
sekurang-kurangnya memuat:
1. Nama dan tempat kedudukan,
2. Dasar, tujuan dan kegiatan,
3. Keanggotaan dan kepengurusan,
4. Hak dan kewajiban anggota dan pengurus,
5. Keuangan,
6. Mekanisme kerja-kerja dan rapat-rapat, dan
7. Perubahan AD dan ART, serta pembubaran organisasi.
Sedangkan untuk Anggaran Rumah Tangga (ART)
sekurangkurangnya memuat:
1. Mekanisme pemilihan dan penetapan anggota dan pengurus,
2. Rincian tugas komite sekolah,
3. Mekanisme rapat,
4. Kerjasama dengan pihak lain, dan
5. Ketentuan penutup.
7. Mekanisme Pembentukan Komite Sekolah
Komite Sekolah harus dibentuk berdasarkan pada prakarsa
masyarakat yang peduli pendidikan, bukan didasarkan pada arahan atau
intruksi dari lembaga pemerintah. Pembentukan Komite Sekolah harus
dilakukan transparan, akuntabel, dan demokratis.
Sejak awal disosialisasikan pembentukan Komite Sekolah melalui
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 diperkirakan
Komite Sekolah telah terbentuk di hampir lebih 200 ribu satuan
pendidikan mulai jenjang SD/MI sampai jenjang sekolah menengah.
Namun diperkirakan pula pembentukan Komite Sekolah tersebut tidak
atau belum mengikuti prinsip pembentukan Komite Sekolah yang
diharapkan. Oleh karena itu perlu disosialisasikan kembali mekanisme
pembentukan Komite Sekolah yang baku.
Pembentukan Komite Sekolah diawali dengan pembentukan.
Panitia persiapan sekurang-kurangnya 5 orang terdiri atas kalangan
praktisi pendidikan (guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara
pendidikan), pemerhati pendidikan (LSM berorientasi atau peduli
pendidikan, tokoh masyarakat/pemimpin informal, tokoh agama, dunia
usaha/dunia industri), serta orang tua/wali peserta didik.25
Pembentukan Komite Sekolah yang dipandu oleh panitia
persiapan seyogyanya mengikuti 7 langkah pokok, sebagai berikut :
1. Mengadakan Sosialisasi kepada orang tua dan masyarakat sekitar tentang rencana pembentukan Komite Sekolah. Langkah ini sangat penting bagi Masyarakat dapat memberikan saran dan masukan tentang apa itu Komite Sekolah, dan siapa yang cocok yang menjadi pengurus dan ketua Komite Sekolah.
2. Penyusunan kriteria dan identifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat. Bakal calon yang diusulkan tidak harus berdomisili di lingkungan sekolah, namun diketahui memiliki keterikatan batin dengan sekolah (misalnya alumni).
3. Seleksi bakal calon anggota yang diusulkan masyarakat, berdasarkan kriteria yang disepakati bersama pada langkah kedua.
4. Pengumuman bakal calon anggota yang telah diseleksi pada langkah ketiga, dan yang menyatakan kesediaannya dicalonkan sebagai calon
26
anggota Komite Sekolah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya keberatan dari masyarakat terhadap satu atau lebih bakal calon.
5. Penyusunan nama-nama calon anggota yang dinyatakan resmi sebagai calon anggota.
6. Pemilihan anggota Komite Sekolah oleh masyarakat. Pemilihan dapat dilakukan dalam suatu forum baik secara musyawarah mufakat ataupun melalui pemungutan suara.
7. Penyampaian nama-nama pimpinan dan anggota Komite Sekolah dan struktur organisasinya kepada satuan pendidikan untuk mendapat surat keputusan kepala satuan pendidikan. 26
Jika ketujuh langkah pembentukan Komite Sekolah tersebut
diikuti, maka diharapkan proses pembentukan Komite Sekolah dapat
menghasilkan Komite Sekolah yang benar-benar aspiratif, kredibel, dan
akuntabel, dan diharapkan mampu memberikan peran secara maksimal
bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
8. Komponen dan Indikator Kinerja Komite Sekolah
Komponen dan Indikator Kinerja Komite Sekolah terkait pada
peran dan fungsi yang dilakukannya yakni sebagai badan pertimbangan
atau penasehat (advisory agency, pendukung (supporting agency),
pengawas (controlling agency), dan badan mediator (mediator agency).27
Berkaitan peran dan fungsi Komite sekolah mencakup di
dalamnya pelaksanaan berbagai fungsi managemen pendidikan. rincian
badan-badan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Komite sekolah sebagai badan pertimbangan (advisory agency)
Komite Sekolah dalam fungsi perencanaan memiliki peran
mengidentifikasi sumber daya pendidikan di sekolah serta memberikan
masukan dan pertimbangan dalam menetapkan RAPBS, termasuk
dalam penyelenggaraan rapat RAPBS.
26
Acuan Operasional Dan Indikator Kinerja Komite Sekolah, (Direktoral Pendidikan Nasional, Direktoral Jendreral Pendidikan Dasar Dan Menengah, Jakarta 2003) h. 12-13
27 Ace Suryadi Dasim Budimansyah, Pendidikan Nasional Manuju Masyarakat Indonesia
Sementara itu, Komite Sekolah sebagai badan penasihat
berperan penting dalam memberikan pertimbangan dalam pelaksanaan
proses pengelolaan pendidikan di sekolah, termasuk proses
pembelajaranya. Hal ini penting, sebab pelakunya otonomi pendidikan
dengan pengelolaan pendidikan yang lebih otonom di sekolah, guru
memiliki peran yang penting dalam menciptakan proses pembelajaran
yang kondusif bagi sarana demokrasisasi pendidikan.
Komite Sekolah dalam fungsinya sebagai penasihat bagi
sekolah dalam kaitannya dengan pengelilaan daya pendidikan antara
lain berperan mengidentifikasi berbagai potensi sumber daya
pendidikan yang ada dalam masyarakat. Fungsi ini akan dapat berguna
dalam memberikan pertimbangan mengenai sumber daya pendidikan
yang ada dalam masyarakat.
b. Komite sekolah sebagai bahan pendukung (supporting agency)
Dalam perannya pendukung Komite Sekolah berfungsi
memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah.sebagai
bagian dari pelaksanaan proses pendidikan, sarana dan prasarana juga
harus mendapat perhatian penting. sekolah yang kurang memiliki
sarana dan prasarana tantu akan mengalami kendala dalam pencapaian
hasil belajar. tahap selanjutnya, tentu komite sekolah akan
memberdayakan bantuan sarana prasarana yang diperlukan di sekolah
melalui sumber daya yang ada pada masyarakat, dengan berkoordinasi
dengan dewan pendidikan. memberdayakan bantuan sarana dan
prasarana yang telah dilakukan Komite Sekolah dengan koordinasi pada
Dewan Pendidikan akan di pantau perkembangan melalui evaluasi
pelaksanaan dukungan atau bantuan tersebut.
Harus diakui, anggaran pendidikan yang ada pada pemerintah
daerah sangat terbatas, karna itu pemamfaatan sumber-sumber anggaran
pendidikan yang ada pada masyarakat menjadi kebutuhan yang
mendesak. Dalam era otonomi pendidikan yang meletakan ototnomi
28
terpenting dari masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kepedulian
dan rasa memiliki terhadap sekolah.
c. Komite Sekolah sebagai badan pengontrol (controling agency).
Bagian yang terpenting dalam manajemen adalah controlling.
Beberapa fungsi yang dapat dilakukan Komite Sekolah dalam
hubungannya dengan perannya sebagai pengontrol terhadap
perencanaan pendidikan antara lain: yaitu melakukan kontrol terhadap
pengambilan keputusan dan perencanaan pendidikan di sekolah,
termasuk kualitas kebijakan yang ada. Komite sekolah dalam hal ini
mengontrol pelaksanaan program sekolah, disamping alokasi dana dan
sumber-sumber daya bagi pelaksanaan program tersebut.
Komite Sekolah sebagai badan kontrol dalam hal ini adalah
melakukan penilaian terhadap angka partisipasi, mengulang, bertahan
transisi pendidikan di sekolah. Hal ini penting sebab penilaian ini akan
mampu menjadi evaluasi bagi keberhasilan program wajib 9 tahun.
Hasil penilaian sendiri merupakan masukan bagi para pengambil
kebijakan dalam rangka penyempurnaan kebijakan dan program dalam
rangka peningkatan angka keluaran pendidikan.
Program penuntasan wajib belajar 9 tahun, tidak
mengesampingkan mutu pendidikan. Sementara ini yang menjadi
ukuran keberhasilan adalah nilai pada ujian akhir. Dalam kaitannya
dengan ini, komite sekolah memiliki peran yang penting dalam
melakukan pemantauan terhadap penilaian terhadap hasil ujian akhir.
d. Komite sekolah sebagai mediator (Media agency)
Dalam perannya sebagai mediator, komite sekolah berfungsi
sebagai mediator dan menjadi penghubung sekolah dan masyarakat,
atau antara sekolah dengan dinas pendidikan.
Berbagai pesoalan yang sering dialami orang tua dalam
pelaksanaan pendidikan anak-anaknya di sekolah misalnya sering kali
kehadiran komite sekolah pada posisi ini sangat penting dalam
mengurangi berbagai keluhan orang tua tersebut.
Komite sekolah sebagai mediator dalam pelaksanaan program
sekolah, sehingga kebijakan dan program yang telah ditetapkan sekolah
dapat akuntabel kepada masyarakat. Bagi komite sekolah, fungsi yang
harus dijalankan dalam kaitannya dengan perannya sebagai mediator
adalah memberdayakan sumber daya yang ada pada orang tua bagi
pelaksanaan pendidikan di sekolah.
9. Membangun Kemitraan dengan Masyarakat
Kemitraan bukanlah sekedar sekumpulan aturan main yang
tertulis dan formal atau suatu kontrak kerja meliankan menunjukkan
perilaku hubungan yang bersifat intim antara dua pihak atau lebih dimana
masing-masing pihak saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan demikian kemitraan sekurang-kurangnya memiliki sifat
dasar sebagai berikut:
a. Lebih bersifat jangka panjang bukan sekedar hubungan sesaat oleh sebab tujuan-tujuan yang ingin dicapai biasanya lebih mendasar, disamping itu hubungan sesaat tidak dapat membangun relasi yang lebih mendalam.
b. Lebih fokuskan pada pemecahan persoalan bersama untuk mencapai tujuan bersama bukan sekedar menjual suatu produk (barang dan Jasa).
c. Didasarkan atas nilai-nilai luhur seperti lazimnya suatu kerjasama seperti kejujuran, keterbukaan, saling percaya, saling memperhatikan, kesetaraan, dsb.
d. Saling bergantung, dimana tiap pihak sesuai peran dan fungsi masing-masing saling membutuhkan agar tercapai tujuan bersama. 28
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemitraan adalah jenis hubungan
antara dua atau beberapa dengan sifat-sifat dasar sebagai tersebut di atas
(jangka panjang, beriontasi pemecahan persoalan bersama/tujuan bersama,
dilandasi nilai-nilai luhur dan saling bergantung).
30
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh kepala
sekolah/Komite Sekolah dan tenaga kependidikan untuk menggalang
partisipasi masyarakat, yaitu:
1. Melibatkan masyarakat dalam berbagai program dan kegiatan di sekolah yang bersifat sosial kemasyarakatan.
2. Mengidentifikasi tokoh masyarakat, yaitu orang-orang yang mampu mempengaruhi masyarakat pada umumnya. Tokoh tersebut yang pertama kali yang harus dihubungi, diajak kompromi, konsultasi, dan diminta bantuan untuk menarik masyarakat berpartisipasi dalm program dan kegiatan sekolah. Tokoh-tokoh tersebut mungkin bersal dari orang tua perserta didik, figure masyarakat (kiai), olahragawan, seniman, informal leaders, psikolog, dokter dan pengusaha.
3. Melibatkan tokoh masyarakat tersebut dalam berbagai program kegiatan sekolah yang sesuai dengan minatnya. Misalnya olahragawan dapat dilibatkan dalam kegiatan olah raga di sekolah, dokter dapat dilibatkan dalam usaha kesehatan sekolah (UKS), atau palang merah remaja (PMR), psikolog dapat dilibatkan dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Selanjutnya tokoh masyarakat tersebut dijadikan mediator dengan masyarakat pada umumnya.
4. Memilih waktu yang tepat untuk melibatan masyarakat sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat. Misalnya awal pelibatan olahragawan dikaitkan dengan kegiatan PORDA, ketika minat masyarakat terhadap olahraga sedang meningkat, awal pelibatan dokter dimulai pada hari hari kesehatan Nasional, atau pada saat kegiatan imunisasi di sekolah.29
Beberapa indikator yang dapat menjadi tolak ukur dalam
keberhasilan kinerja Komite Sekolah sebagai berikut30:
29
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah…, h. 173-174
Tabel 1
Indikator Komite Sekolah yang telah berfungsi dengan baik
No Fungsi Indikator
1. Mendorong tumbuhnya
perhatian dan komitmen
masyarakat terhadap
penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu
1. Memiliki AD/RT Dewan
pendidikan dan Komite Sekolah
2. Menyusun program kerja Dewan
pendidikan dan Komite Sekolah
3. Menjalin kominikasi efektif dengan
pemangku kepentingan
5. Melakukan kerja sama (MOU)
dengan institusi terkait
6. Memantau dan mengevaluasi
pelaksanaan kerja sama (MOU)
3 Menampung dan
menganalisis aspirasi, ide,
tuntutan, dan berbagai
32
4 Memberikan masukan
pertimbangan, dan
rekomendasikan kepada
pemerintah dan sekolah
tentang:
standar, norma, dan panduan yang
diperlukan dalam penyelenggaraan
pendidikan di daerah dan sekolah.
12.Memberikan andil yang besar dan
aktif dalam proses penyusunan
Peraturan Daerah (Perda)
Pendidikan.
5 Mendorong orangtua dan
masyarakat untuk
6 Melakukan evaluasi dan
16.Menyusun laporan pelaksanaan
program dan kegiatan serta hasil
kegiatan pengawasan.
17.Menyampaikan laporan kegiatan
dan hasil pengawasan kepada
pihak-pihak yang terkait.
Komite Sekolah akan dapat melaksanakan peran dan fungsinya
dengan baik jika memenuhi minimal 17 (tujuh belas) indikator tersebut.
Dengan demikian, Komite Sekolah benar-benar dapat menjadi lembaga
masyarakat, Komite Sekolah tidak boleh lagi hanya menjadi “lembaga
stempel”. Yang diharapkan adalah Komite Sekolah yang benar-benar
dapat mengembangkan pola kemitraan dengan orang tua siswa,
34
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui kinerja Komite Sekolah yang dicapai ketua dan pengurus
Komite Sekolah di SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan.
2. Untuk menemukan data dan informasi mengenai kinerja Komite Sekolah di
SDIT Al-Hikmah Cilandak-Jakarta Selatan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli s/d Desember 2010. Adapun
lokasi atau tempat dilaksanakan kegiatan penelitian yaitu Sekolah SDIT
Al-Hikmah Cilandak Jl. Al Barqah Rt 006/13 No. 56 A, Jakarta Selatan.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian
kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang
apa yang dialami subjek penelitian secara holistik dengan cara deskripsi dalam
kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah.1 Jenis penelitian ini adalah Penelitian
deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada
secara alamiah maupun rekayasa manusia. Penelitian deskriptif tidak