Pedoman Wawancara
Analisis Implementasi Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Kawasan Tanpa Rokok
di RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Tebing Tinggi Tahun 2016
2. Apakah Anda menegatahui Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR?
3. Dimana saja tempat-tempat yang ditetapkan untuk KTR ?
4. Apakah rumah sakit ini telah mendapatkan sosialisasi dari Pemerintah Kota tebing Tinggi mengenai Perwali No. 3 Tahun 2013 tentang KTR? 1. Bagaimana bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota
Tebing Tinggi kepada pihak rumah sakit tentang KTR? Apakah berbentuk surat edaran yang wajib atau hanya sekedar himbauan?
2. Bagaimana bentuk sosialisasi yang diberikan pihak rumah sakit kepada pelaksana kebijakan? Apakah berbentuk spanduk di dalam dan luar ruangan atau larangan merokok di ruangan khusus?
3. Siapa saja yang menjadi sasaran/pelaksana kebijakan KTR di rumah sakit ini?
5. Bagaimana tanggapan anda terhadap penerapan KTR di rumah sakit ini? 6. Apakah pernah ada pelanggaran yang terjadi selama penerapan KTR di
rumah sakit ini? Siapa saja yang melanggar?
7. Bagaimana tindakan anda terhadap pelanggaran tersebut?
8. Apakah dilakukan pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan KTR di rumah sakit ini?
9. Apa saja yang menjadi tugas dari komite atau kelompok kerja tersebut? 10.Bagaimana kinerja dari komite atau kelompok kerja tersebut?
11.Apakah komite atau kelompok kerja tersebut membentuk pengawas penerapan KTR?
12.Siapa sajakah yang menjadi pengawas penerapan KTR di rumah sakit ini? 13.Menurut anda, apa yang menjadi penghambat terlaksananya KTR di rumah
Pedoman Wawancara
Analisis Implementasi Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Kawasan Tanpa Rokok
di RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Tebing Tinggi Tahun 2016
Informan Utama : Perawat, Pasien, dan Keluarga Pasien. I. Identitas Informan
a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin :
d. Status di Rumah Sakit : e. Pendidikan Terakhir :
II.Pertanyaan :
1. Apakah Anda perokok?
2. Bagaimana pandangan Anda tentang rokok, serta apa yang dirasakan secara pribadi akan rokok itu sendiri?
3. Apakah anda mengetahui KTR?
4. Dimana saja tempat-tempat yang ditetapkan untuk KTR ?
5. Apakah Anda sebelumnya pernah mengetahui atau mendengar tentang KTR di rumah sakit ini? Jika pernah, bagaimana pandangan/komentar anda tentang pelaksanaan KTR di rumah sakit ini?
6. Apakah Anda pernah mendapat sosialisasi tentang KTR di rumah sakit ini?
7. Bagaimana bentuk sosialisasi yang diberikan pihak rumah sakit kepada anda?
8. Apakah dari sosialisasi yang diberikan pihak rumah sakit anda mendapatkan informasi untuk melaksanakan kebijakan KTR?
10.Apakah Anda mengetahui tempat yang dianjurkan bila ingin merokok di rumah sakit ini?
11.Bagaimana penggunaan tempat tersebut? Apakah sudah digunakan sesuai fungsinya?
12.Bagaimana tanggapan Anda tentang penerapan KTR di rumah sakit ini? 13.Apakah setelah diberlakukannya KTR ini masih ada yang merokok di
rumah sakit ini?
14.Apakah Anda pernah melihat petugas rumah sakit ini merokok?
15.Apakah semua petugas telah melaksanakan dan menaati kebijakan KTR di rumah sakit ini?
16.Apakah pihak rumah sakit memberikan sanksi kepada pengunjung/petugas yang merokok? Jika ada, bentuk penegasan seperti apa sajakah yang dilakukan olah pihak rumah sakit?
17.Apakah ada pengawasan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit terhadap kebjakan KTR di rumah sakit ini?
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, T, Y., 2002. Rokok dan Kesehatan. Jakarta: UI Press.
Anggara, Sahya., 2014. Kebijakan Publik. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Azhka, Nizwardi., 2013. Studi Efektivitas Penerapan Kebijakan Peraturan Daerah Kota tentang KTR dalam Upaya Menurunkan Perokok Aktif di Sumatera Barat Tahun 2013. Vol. 02. Hal : 171-179.
.
Hamidi, 2010. Metode Penelitian Kualitatif: Pendekatan Praktis, Penulisan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.
Imran, Ali., 2002. Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Ingan, Falentina Agun., 2016. Implementasi PERGUB Nomor 1 Tahun 2013 tentang KTR (Studi Kasus di RSUD Abdul Wahab Sjahraine Kota Samarinda). Jurnal Ilmu Pemerintahan. Vol. 04. Hal : 500-514.
Juanita, 2012. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) : Peluang dan Hambatan. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia. Vol. 01. Hal : 112-119.
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kemenkes RI, 2011. Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 188/Menkes/PB/2011 atau Permenkes Nomor 7 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok, Jakarta.
, 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan
Komnas HAM, 2012. Naskah Akademik RUU Pengesahan Framework Convention on Tobacco Control.
Palutturi, Sukri., 2010. Kesehatan itu Politik. Edisi 1 Cetakan 1 Semarang. Karya Aksara.
Panjaitan, Elisabeth Putri.. 2014. Analisis Implementasi Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok pada Sekolah di Kota Medan tahun 2014. Skripsi. FKM USU Medan.
Profil Pelayanan Kesehatan RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Tebing Tinggi, 2014. Pusat Promkes Kemenkes RI, 2011. Pedoman Pengembangan KTR. Jakarta :
Kemenkes RI
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2013.
Siregar, Erra Putri., 2015. Analisis Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2015. Skripsi. FKM USU Medan.
Solichin, Abdul Wahab., 1997. Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sumantri, 2013. Metodologi Penelitian Kesehatan. Kencana. Jakarta.
Sunggono, Bambang. 1994. Hukum dan Kebijaksanaan Publik. Jakarta : Sinar Grafika
Suparyanto, 2011. Rokok dan Perilaku Merokok. Diakses dari
http://dr.Suparyanto.blogspot.com/2011/7/rokok-dan-perilaku merokok.html pada tanggal 13 Januari 2016.
Tobacco Control Support Centre (TCSC), 2012. Kawasan Tanpa Rokok dan Implementasinya. Policy Paper Seri 4. Jakarta: TCSC.
, 2010. Fakta Tembakau dan Permasalahannya di Indonesia. Jakarta: TCSC.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. WHO (World Health Organozation), 2012. WHO. „The Tobacco Atlas (2012) in
FCA‟. Tobacco Facts. Fact Sheet. Diakses pada tanggal 2 Januari 2016.
,2013. WHO Advocates Total Ban On Tobacco Advertising, Promotion and Sponsorship. Diakses pada tanggal 7 Januari 2016.
Winarno, Budi., 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview) baik berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang ditentukan sebagai informan, dengan tujuan untuk menganalisis implementasi Peraturan Walikota Tebing Tinggi No.3 tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr.H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr.H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Pemilihan lokasi penelitian ini adalah karena rumah sakit merupakan salah satu tempat/lokasi yang harus melaksanakan kebijakan KTR (Kawasan Tanpa Rokok). 3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2016.
3.3 Pemilihan Informan
Pengambilan informan berdasarkan pertimbangan tertentu, yakni orang-orang yang terlibat dalam lokasi penelitian kawasan tanpa rokok yang akan dituju/menjadi sasaran. Informan penelitian terbagi atas :
1. Informan kunci (key informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan. Adapun informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur rumah sakit dan Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi.
2. Informan utama yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial. Adapun informan utama dalam penelitian ini adalah pegawai bagian umum, perawat, pasien, dan keluarga pasein.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang harus diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Selanjutnya dijelaskan oleh Sumantri (2013) bahwa pengumpulan data dapat diperoleh dari hasil wawancara mendalam, observasi, dan dokumen.
1. Wawancara
tanya jawab sambil bertatapan muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai.
2. Observasi
Observasi merupakan informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan pada ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan, untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu serta melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Sesuai dengan objek penelitian maka peneliti memilih observasi partisipan. Observasi partisipan yaitu suatu teknik pengamatan dimana peneliti ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diselidiki. Observasi ini dilakukan dengan mengamati dan mencatat langsung terhadap objek penelitian, yaitu dengan mengamati apakah yang disampaikan informan sesuai dengan fakta yang ada (perlakuan/penerapan/implmentasi).
3.5 Definisi Konsep
1. Peraturan Walikota Tebing Tinggi nomor 3 tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok merupakan kebijakan yang telah berlaku selama kurang lebih 3 tahun. Implemetasi dari kebijakan tersebut yang akan dianalisis di RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Tebing Tinggi yang telah menerapkan KTR.
a. Informasi merupakan hal yang dibutuhkan bagi pelaksana kebijakan berupa segala keterangan dalam bentuk tulisan atau pesan, pedoman, petunjuk, dan tata cara pelaksanaan untuk melaksanakan kebijakan. b. Sarana Prasarana merupakan hal yang mendukung secara langsung
pelaksanaan kebijakan.
3. Komunikasi merupakan jembatan antara masyarakat dengan pelaksana kebijakan, komunikasi yang baik akan menghasilkan implementasi kebijakan yang efektif karena pembuat kebijakan dan implementor mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Komunikasi kebijakan melalui 3 proses yaitu :
a. Transmisi merupakan penyampaian maksud dan tujuan kebijakan kepada pelaksana kebijakan yaitu pegawai dan pengunjung (pasein/keluarga pasien), maka diperlukan komunikasi yang akurat dan mudah dimengerti. b. Kejelasan pesan dari komunikasi kebijakan harus diperhatikan dapat
diterima dengan baik oleh pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan. c. Konsistensi merupakan keselarasan antara maksud dan tujuan kebijakan
4. Disposisi merupakan sikap dari pelaksana kebijakan terhadap kebijakan, tentang kemauan para pelaksana kebijakan mengimplementasikan kebijakan tersebut.
5. Birokrasi merupakan bentuk kerjasama banyak orang dalam implementasi kebijakan. Pelaksana kebijakan mendukung kebijakan melalui koordinasi yang baik. Dua karakteristik yang dapat mendukung kinerja birokrasi, yaitu dengan melakukan Standard Operating Procedures (SOP) dan melaksanakan fragmentasi.
a. Standard Operating Procedures (SOP) merupakan standar yang ditetapkan berupa kegiatan rutin yang memungkinkan para pelaksana kebijakan melakukan dengan fleksibel dan menghindari prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks.
b. Fragmentasi merupakan penyebaran tanggung jawab kegiatan pelaksana kebijakan menjadi beberapa unit.
3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis dan Digital Voice Record. Instrumen penelitian dalam penelitian kualitatif adalah penelitian itu sendiri dengan menggunakan pedoman wawancara berupa pertanyaan yang sesuai dengan implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok (KTR) (Hamidi, 2010).
3.7 Metode Analisis Data
kemudian meringkasnya dalam bentuk matriks yang disusun sesuai dengan bahasa baku jawaban informan. Ringkasan ini kemudian diuraikan kembali dalam bentuk narasi dan melakukan penyimpulan terhadap analisa yang telah didapat secara menyeluruh (Hamidi, 2010).
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisa domain yang dibuat berdasarkan hubungan semantik (semantic relationship) sebab akibat (cause effect). Untuk menjaga keabsahan data yang telah terkumpul maka peneliti melakukan dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode :
1. Triangulasi sumber yaitu membandingkan kebenaran informasi informan (petugas rumah sakit/petugas yang berwenang) dengan pasien atau keluarga pasien.
4.1.1 Lokasi dan Sejarah RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Kumpulan Pane terletak di Jalan Dr. Kumpulan Pane Tebing Tinggi dan berdiri sejak tahun 1958 yang sebelumnya bernama Rumah Sakit Kota Praja. Rumah sakit tersebut dibangun di atas areal tanah seluas 25.068,4 m2 dengan luas bangunan 18.635,18 m2.
4.1.2 Visi dan Misi
Visi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi adalah “Menjadi Rumah Sakit yang Terpercaya, Profesional, Terkini, Aman, Nyaman dan Terjangkau oleh Masyarakat Kota Tebing Tinggi dan Sekitarnya”. Visi tersebut berusaha diwujudkan melalui misi rumah sakit sebagai berikut :
a. Menyelenggarakan pelayanan rumah sakit dengan didasari komitmen tinggi dan partisipasi seluruh pegawai.
b. Meningkatkan mutu sumber daya manusianya melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.
c. Mengembangkan pelayanan unggulan.
d. Meningkatkan sarana dan prasarana yang mengikuti perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi secara terus-menerus.
e. Menyelenggarakan pelayanan rumah sakit yeng berorientasi dan terfokus pada kepuasan pelanggan termasuk masyarakat miskin.
f. Meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan fleksibilitas pengelolaan keuangan.
g. Penghargaan profesional kerja dengan peningkatan kesejahteraan pegawai. 4.1.3 Tupoksi dan Struktur Organisasi
4.1.3.1 Tugas Pokok dan Fungsi
Tinggi sesuai dengan Peraturan Walikota Tebing Tinggi tersebut adalah sebagai berikut :
1. RSUD merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dibidang pelayanan kesehatan, dipimpin oleh Direktur yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
2. RSUD mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang pelayanan kesehatan.
3. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) RSUD menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis dibidang pelayanan kesehatan;
b. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dibidang pelayanan kesehatan;
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pelayanan kesehatan; dan d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan
tugas dan fungsinya.
4.1.3.2 Struktur Organisasi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi Adapun Susunan Organisasi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi berdasarkan Perda Kota Tebing Tinggi Nomor 4 Tahun 2011 tanggal 21 Maret 2011, terdiri dari :
a. Direktur
b. Wakil Direktur Bidang Umum dan Keuangan, terdiri dari : 1. Bagian Keuangan;
- Sub.Bag Pelaporan dan Akuntansi 2. Bagian Program dan Rekam Medis;
- Sub.Bag Program
- Sub.Bag Rekam Medis dan Pengolahan Data 3. Bagian Tata Usaha;
- Sub.Bag Hukum, Kepegawaian, dan Pendidikan Pelatihan - Sub.Bag Umum dan Humas
c. Wakil Direktur Pelayanan, terdiri dari : 1. Bidang Pelayanan;
- Seksi Pelayanan Medik
- Seksi Ketenagaan dan Pengembangan Mutu Pelayanan Medik 2. Bidang Perawatan;
- Seksi Asuhan Keperawatan dan Logistik
- Seksi Sumber Daya Manusia dan Mutu Keperawatan 3. Seksi Penunjang Medik dan Non Medik;
- Seksi Penunjang Medik - Seksi Penunjang Non Medik d. Kelompok Jabatan Fungsional 4.2 Karakteristik Informan
memberi keterangan melalui wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini sebanyak delapan orang, yaitu Direktur, Kepala Bagian Tata Usaha, dua orang pegawai rumah sakit, dua orang perawat, pasien, dan keluarga pasien. Adapun karakteristik informan tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Informan di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
No Nama Informan Jenis Umur Pendidikan Status Kelamin (Tahun) terakhir di RS 1 Dr. H. Nanang Laki-laki 48 Spesialis Direktur Fitria Aulia, Sp. PK Patologi Klinis
2 Darwin Lubis, S.E Laki-laki 48 S1 Ekonomi Kabag.
Manajemen Tata Usaha
3 Sofyansyah, AMTE Laki-laki 47 Akademi Kasi.
Teknik Penunjang
Elektro Medik Non Medis
4 Halimatussakdiah Perempuan 34 D3 Teknik Pegawai
Elektro Bagian Umum
5 Nurabnida Perempuan 39 S1 Perawat Keperawatan
6 Reina Fransiska Perempuan 27 D3 Perawat
Keperawatan
7 Eko Rahmadi Laki-laki 40 SMA Pasien
(rawat jalan)
8 Hermansyah, S.Pd Laki-laki 42 S1 Penidikan Keluarga
4.3 Verbatim Wawancara Analisis Implementasi Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
4.3.1 Distribusi Status Perokok dari Informan
Dari 8 informan yang diwawancarai, terdapat 4 informan yang perokok dan 4 informan yang tidak perokok. Dua diantara informan yang perokok pernah merokok melanggar Perwali Nomor 3 tahun 2013. Mereka merokok di dalam ruangan dan di tempat parkir. Pernyataan informan tentang status perokok dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :
Tabel 4.2 Status Perokok dari Informan
Informan Pernyataan
Informan 1 Perokok
Informan 2 Perokok
Informan 3 Tidak Perokok
Informan 4 Tidak Perokok
Informan 5 Tidak Perokok
Informan 6 Tidak Perokok
Informan 7 Perokok
Informan 8 Perokok
4.3.2 Pernyataan Informan tentang Faktor Komunikasi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Pernyataan Informan tentang faktor komunikasi berbeda-beda, ada yang
Beberapa dari informan hanya sekedar mengetahui tetapi tidak tahu isi perwali tersebut, dan 2 orang informan yaitu pengunjung rumah sakit tidak pernah mendapatkan sosialisasi langsung dari pihak terkait tentang pelaksanaan KTR. Sosialisasi yang dilakukan kepada pegawai juga hanya pada awal pemberlakuan perwali saja. Rumah sakit RSUD Dr. H. Kumpulan Pane telah melaksanakan Kebijakan KTR bahkan sebelum sosialisasi Perwali dari pemerintah kota Tebing Tinggi. Seluruh informan menyatakan bahwa tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini : Tabel 4.3 Matriks Pernyataan Informan tentang Faktor Komunikasi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
Informan 1 Saya mengetahui Perwali tersebut yang berisi tentang KTR pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tempat Belajar Mengajar, dan Perkantoran. Kami juga sudah menerapkan Peraturan tersebut meskipun tidak ada petunjuk pelaksanaan dari Dinkes kepada pihak rumah sakit. Adapun kebijakan KTR tersebut sudah menjadi keputusan pihak rumah sakit bahkan sebelum dikeluarkannya Perwali tersebut. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan. Informan 2 Saya mengetahui, sudah membaca, dan sudah mendapatkan
sosialisasi dari Pemerintah Kota tentang Perwali tersebut. Tetapi, menurut saya isi Perwali tersebut masih lemah, karena tidak menyebutkan sanksi secara tegas. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
Informan 3 Saya mengatahui Perwali tersebut karena mendapatkan sosialisasi dari Pemko Tebing Tinggi. Saya hanya sebatas mengetahui bahwa Perwali tersebut tentang KTR, isi lebih rinci saya tidak tahu karena saya tidak pernah membacanya. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
Informan 4 Saya pernah mendapatkan sosialisasi dari Pemko Tebing Tinggi tentang Perwali tersebut. Namun saya tidak mengetahui isinya secara rinci. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
larangan merokok di ruangan rumah sakit. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
Informan 6 Saya pernah mendengar, namun tidak pernah mengikuti sosialisasi tersebut. Karena biasanya sosialisasi kepada pegawai dilakukan di pagi hari. Saya sering mendapatkan shift malam, sehingga saya kurang mengetahui Perwali tersebut. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
Informan 7 Saya tidak tahu Perwali tersebut dan juga tidak pernah mendapatkan sosialisasi dari pihak manapun. Tapi saya tahu bila di rumah sakit ini menyediakan tempat untuk merokok dan membuat larangan merokok di ruangan. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
Informan 8 Saya tidak tahu Perwali tersebut. Namun saya pernah mendengar dan membaca sekilas dari stiker larangan merokok di rumah sakit ini yang melampirkan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2014. Mungkin Perwali tersebut berisi tentang larangan merokok pada fasilitas pelayanan kesehatan. Tidak ada pedoman bagi pelaksana kebijakan.
4.3.3 Pernyataan Informan tentang Faktor Sumber Daya terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Seluruh informan menyatakan bahwa rumah sakit memiliki sumber daya yang mendukung untuk peleksanaan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2014 yaitu dengan menyediakan tempat khusus untuk merokok yang berjumlah 2 dan terletak di taman gedung perawatan. Namun, pihak rumah sakit belum belum menyediakan tempat khusus merokok di taman gedung perkantoran, sehingga pegawai masih ada pegawai yang merokok di ruangan.
tempat sampah. Namun,tempat tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4 Matriks Pernyataan Informan tentang Faktor Sumber Daya terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
Informan 1 Kami sudah menyediakan tempat khusus untuk merokok sebagaimana yang tertulis dalam Perwali. Kami menyediakan 2 tempat yang berada di taman gedung perawatan. Namun, untuk gedung kantor kami belum menyediakan tempat khusus seperti yang berada di gedung perawatan. Tempat hkusus merokok di gedung kantor hanya berupa pojok merokok. Kami sudah memiiki tim khusus membuat kebijakan KTR bahkan sebelum adanya perwali tersebut.
Informan 2 Ada 2 tempat yang disediakan khusus untuk perokok. Tempat itu berupa bangunan terbuka yang letaknya berdekatan di taman bagian perawatan. Namun, di baangunan kantor belum disediakan tempat khusus untuk merokok. Banyak InfrastrukturKTR berupa tanda larangan merokok di dinding rumah sakit.
Informan 3 Di rumah sakit ini sudah disediakan 2 tempat khusus unruk merokok. Tempat itu cukup strategis karena berada keluarga di tengah taman bagian perawatan pasien dan tempat tunggu keluarga pasien. Tetapi saya lebih sering melihat tempat tersebut digunakan untuk tempat peristirahatan.
Informan 4 Sepengetahuan saya, ada 2 yang berada di taman bagian gedung perawatan yang bertuliskan kawasan merokok. Itu tempat khusus bagi pengunjung rumah sakit untuk merokok. Namun di gedung kantor belum ada tempat khusus untuk merokok. Karena tempatnya agak jauh dari kantor, maka tempat khusus merokok jarang digunakan oleh pegawai.
Informan 5 Saya tahu ada 2 tempat yang disediakan khusus untuk orang yang ingin merokok di kawasan rumah sakit. Tempatnya cukup nyaman dan terbuka. Jadi, banyak orang yang bisa duduk di sana. Termasuk keluarga pasien yang menunggu juga sering duduk di sana. Oleh karena itu, menurut saya pemanfaatannya kurang maksimal. Infrastruktur KTR berupa poster larangan merokok di ruangan rumah sakit.
kantor. Infrastruktur KTR ada poster bertuliskan larangan merokok yang mangacu pada Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013. Informan 7 Kalau saya tidak salah, ada 2 tempat di taman yang saling
berdekatan dan bertuliskan kawasan merokok. Mungkin tempat itu yang dimaksudkan tempat khusus untuk merokok. Tetapi saya tidak pernah melihat pengunjung merokok di sana. Tempat itu lebih dugunakan untuk tempat menunggu keluarga pasien. Banyak Infastruktur KTR, ada poster dan spanduk larangan merokok. Informan 8 Ada 2 tempat yang disediakan rumah sakit ini. Saya pernah melihat
pengunjung merokok di tempat tersebut. Tetapi saya lebih sering merlihat keluarga pasien dan pasien yang duduk di sana. Jadi tempat tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Infrastruktur KTR berupa spanduk larangan merokok.
4.3.4 Pernyataan Informan tentang Faktor Disposisi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Tabel 4.5 Matriks Pernyataan Informan tentang Faktor Disposisi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
Informan 1 Sudah menjadi ketetapan Perwali bahwa setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan menerapkan KTR dan rumah sakit kami termasuk salah satu tempat yang ditentukan pemerintah kota Tebing Tinggi untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Sebagai seorang perokok, saya sangat mendukung kebijakan tersebut. Karena perwali tersebut mendukung terciptanya masyarakat sehat. Pelaksanaan Perwali sendiri belum maksimal, masih sekitar 75%. Kami akan berusaha untuk memaksimalkan kebijakan tersebut.
Informan 2 Saya sangat setuju dan mendukung penuh adanya perwali tersebut, karena hal itu akan mendukung terciptanya masyarakat yang sehat. Namun, bagi perokok aktif seperti saya memang perlu niat yang kuat untuk tidak melanggar kebijakan tersebut. Sampai saat ini pelaksanaan Perwali di rumah sakit ini cukup baik, namun belum maksimal. Perlu kesadaran dari pengunjung dan pegawai rumah sakit untuk memaksimalkan kebijakan tersebut.
Informan 3 Saya sebagai perokok pasif sangat mendukung kebijakan tersebut. Menurut saya, dengan membuat kawasan merokok, perokok pasif akan terhindar dari asap rokok yang berbahaya. Pelaksanaan Perwali sudah cukup baik, namun belum maksimal. Hal ini terlihat dengan pemasangan stiker berisi tanda larangan merokok pada setiap dinding ruangan.
Informan 4 Saya sangat setuju dengan adanya Perwali tersebut. Dengan adanya larangan merokok di ruangan, saya sebagai perokok pasif dapat terhindar dari asap rokok. Pelaksanaan Perwali di rumah sakit belum maksimal karena kurangnya kesadaran dari pegawai dan pengunjung.
Informan 5 Saya sangat mendukung adanya Perwali tersebut yang berisi larangan merokok dalam ruangan. Rumah sakit juga sudah menyediakan tempat merokok, sehingga keluarga pasien yang ingin merokok tidak merokok di ruang perawatan. Pelaksanaan Perwali di rumah sakit ini kurang maksimal karena kurangnya sosialisasi dari pihak rumah sakit.
Informan 6 Saya setuju dan sangat mendukung adanya Perwali tersebut bahwa kita harus memisahkan perokok aktif dengan perokok pasif. Tempat merokok yang disediaka tidak jauh dari tempat perawatan, sehingga keluarga pasien dekat dengan pasien.
sudah menyediakan tempat untuk merokok dan tanda larangan merokok dalam ruangan.
Informan 8 Saya mendukung Perwali tersebut. Meskipun bagi saya sebagai perokok aktif sangat sulit untuk mematuhi aturan tersebut. Meskipun tempat merokok sudah disediakan, sesekali saya juga merokok di tempat lain..
4.3.5 Pernyataan Informan tentang Faktor Birokrasi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Dari hasil wawancara, Direktur rumah sakit menyatakan bahwa belum ada komite pengawasan KTR di rumah sakit. Informan lain mengatakan tidak mengetahui ada atau tidak komite pengawasan KTR di rumah sakit. Seluruh informan cenderung menyatakan petugas keamanan di rumah sakit yang menjadi penanggung jawab terhadap pelanggaran yang ada.
Beberapa informan menyatakan bahwa pengawasan sepenuhnya diserahkan kepada satpam rumah sakit yang selalu berjaga di lingkungan rumah sakit. Informan kunci yaitu Direktur rumah sakit berencana untuk membuat komite pengwasan penerapan KTR yang bertugas untuk memantau setiap pelanggaran yang terjadi, namun harus melihat dari anggaran yang tersedia. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini :
Tabel 4.6 Matriks Pernyataan Informan tentang Faktor Birokrasi terhadap Implementasi Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
dengan anggaran yang tersedia. Pihak rumah sakit bekerja sama dengan satpam dalam pengawasan penerapan KTR.
Informan 2 Komite khusus yang mengawasi pelaksanaan perwali tersebut belum ada. Memang seharusnya ada petugas pengawasan agar perwali berjalan dengan maksimal. Pihak rumah sakit juga tidak bisa sembarangan membuat komite pengawasan mengingat perwali berada di bawah kebijaksanaan walikota, maka kami harus bekerja sama dengan pemerintah kota. Kami sudah memberi arahan kepada satpam rumah sakit untuk selalu mengawasi setiap pelanggaran yang dilakukan pegawai maupun pengunjung rumah sakit.
Informan 3 Sepengetahuan saya, tidak ada komite pengawasan penerapan KTR di rumah sakit ini. Satpam hanya sekedar mengingatkan dan menghimbau kepada pengunjung untuk tidak melanggar perwali tersebut.
Informan 4 Saya tidak tahu ada atau tidak komite pengawasan penerapan KTR di rumah sakit ini. Tapi, sepengetahuan saya ada satpam yang selalu mengawasi dan mengingatkan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pengunjung maupun pegawai.
Informan 5 Saya tidak tahu di rumah sakit ini ada atau tidak komite pengawasan penerapan KTR. Pengawasan dilakukan oleh seluruh pihak (pegawai) rumah sakit, khususnya satpam yang selalu berjaga-jaga di lingkungan rumah sakit.
Informan 6 Sepengetahuan saya, tidak ada komite pengawasan penerapan KTR. Saya tidak pernah mendengar adanya komite tersebut. Hanya saja ada satpam yang selalu mengawasi bila ada pengunjung yang melakukan pelanggaran terhadap kebijakan tersebut.
Informan 7 Saya tidak tahu ada atau tidak komite pengawasan KTR di rumah sakit ini. Sebagai orang yang sering berobat di rumah sakit ini, saya selalu merasa diawasi oleh perawat dan satpam saat berada di lingkungan rumah sakit, khusunya ruangan yang dilarang untuk merokok.
Informan 8 Sebagai pengunjung saya hanya mengetahui bahwa pengawasan KTR dilakukan oleh satpam yang berjaga di lingkungan rumah sakit. Saya tidak pernah melihat ada tim khusus yang mengawasi penerapan KTR.
4.3.6 Pernyataan Informan tentang Dampak Pelaksanaan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR bagi Kesehatan
bahaya asap rokok yang dapat menggangu kesehatan. Menurut beberapa informan, pelaksanaan perwali ini akan mendukung terciptanya masyarakat sehat yang bebas dari asap rokok dan lingkungan yang sehat. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini :
Tabel 4.7 Matriks Pernyataan Informan tetang Dampak Pelaksanaan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR bagi Kesehatan
Informan Pernyataan
Informan 1 Jelas ada dampaknya bagi kesehatan. Dengan memisahkan Perokok dan bukan perokok, maka selama beradaa di lingkungan rumah sakit, masyarakat perokok akan terhindar dari asap rokok yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Kebijakan ini adalah salah satu upaya untuk menciptakan masyarakat yang sehat.
Informan 2 Kebijakan ini akan berdampak bagi kesehatan, terutama bagi masyarakat bukan perokok. Mereka tidak akan menghirup asap rokok saat berada di ruangan. Dan jika berada di luar mereka juga terpisah dengan perokok karena sudah disediakan tempat merokok. Hal ini akan menghindari yang bukan perokok dari bahaya akibat asap rokok.
Informan 3 Menurut saya, kebijakan KTR akan berdampak bagi kesehatan. Dengan memisahkan yang bukan perokok dengan perokok maka mereka (bukan perokok) terhindar dari risiko penyakit akibat asap rokok. Karena yang bukan perokok memiliki risiko penyakit lebih besar daripada perokok.
Informan 4 Kebijakan tersebut akan berdampak bagi kesehatan, terutama bagi yang bukan perokok. Karena perokok telah disediakan tempatnya, maka yang bukan perokok akan terhindar dari asap rokok yang dapat membahayakan kesehatannnya.
Informan 5 Menurut saya, kebijakan tersebut akan berdampak bagi kesehatan. Saya sebagai yang bukan perokok tidak akan menghirup asap rokok yang dapat menimbulkan risiko penyakit bagi saya. Begitu juga dengan yang bukan perokok lainnya. Kebijakan ini mendukung terciptanya masyarakat sehat.
Informan 6 Kebijakan jelas berdampak bagi kesehatan. Salah satu upaya preventif adalah memisahkan perokok dengan yang tidak merokok. Jika hal itu kita laksanakan, maka risiko penyakit akibat asap rokok akan semakin berkurang.
berdampak bagi perokok. Karena perokok akan tetap merokok di tempat yang disediakan.
Informan 8 Menurut saya, kebijakan ini akan berdampak bagi kesehatan, khususnya yang bukan perokok. Mereka tidak akan menghirup asap rokok yang berbahaya bagi kesehatan. Kebijakan ini mendukung terciptanya masyarakat bebas asap rokok dan menjadikan lingkungan yang sehat.
4.3.7 Pernyataan Informan tentang Ada atau Tidaknya Pelanggaran dan Sanksi bagi yang Melanggar Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Beberapa informan menyatakan masih menemukan pelanggaran terhadap penerapan KTR di rumah sakit. Ada informan yang masih melihat pegawai merokok di ruangan dan ada informan yang melihat pengunjung merokok tidak di tempat khusus merokok. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa sanksi yang diberikan berupa himbauan dan teguran bukan hukuman. Hal ini karena isi perwali yang belum tegas dan jelas tentang sanksi bagi yang melangar, sehingga rumah sakit belum bisa memberikan sanksi yang jelas. Informan lain menyatakan bahwa tidak mengetahui ada atau tidaknya pemberian sanksi kepada pihak yang melanggar pelaksanaan perwali tersebut. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini :
Tabel 4.8 Matriks Pernyataan tentang Ada atau Tidaknya Pelanggaran dan Sanksi bagi yang Melanggar Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
untuk merokok di tempat yang disediakan. Pihak rumah sakit belum bisa memberikan sanksi pada setiap pelanggaran yang dilakukan karena isi perwali tidak menjelaskan sanksi secara rinci. Informan 2 Kita tidak bisa memungkiri bahwa setelah pemberlakuan perwali
masih ada pengunjung ataupun pegawai yang melakukan pelanggran terhadap perwali tersebut. Sanksi yang diberikan masih berupa teguran. Rumah sakit tidak memberikan punishment karean perwali masih sebatas himbauan. Rumah sakit juga tidak bisa sembarangan memberi sanksi kepada masyarakat karena tidak didukung aturan hukum yang tegas.
Informan 3 Saya pernah melihat salah satu pegawai merokok di ruangan dan pada saat itu Direktur melihat dan langsung menegur pegawai tersebut. Untuk pemberian sanksi yang diberikan kepada pihak yang melanggar kebijakan saya kurang mengetahuinya.
Informan 4 Masih ada pelanggaran yang terjadi. Saya pernah melihat pengunjung dan pegawai merokok di ruangan dan diluar tempat yang disediakan. Tidak ada sanksi yang berlaku, hanya himbauan saja. Mungkin karena saya berada di gedung kantor maka saya tidak pernah melihat satpam menegur pengunjung yang melanggar kebijakan KTR.
Informan 5 Saya pernah melihat pegawai merokok dalam ruangan. Namun, tidak ada sanksi yang diberikan. Ada juga keluarga pasien yang merokok di ruangan dan langsung ditegur oleh perawat. Bila pengunjung tidak mendengarkan perawat, maka kami akan memanggil satpam.
Informan 6 Pelanggaran masih terjadi terutama keluarga pasein yang menunggu pasien di ruang perawatan. Jika pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai saya tidak tahu karena saya jarang berada di gedung kantor. Sepengetahuan saya, tidak ada sanksi yang diberikan bagi yang melanggar perwali tersebut.
Informan 7 Pernah saya lihat pengunjung merokok di parkiran namun tidak ada teguran dari satpam. Saya tidak tahu ada atau tidak sanksi yang diberikan pihak rumah sakit kepada pihak yang melangar kebijakan tersebut.
4.3.8 Pernyataan Informan tentang Hambatan dalam Mengimplementasikan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Dari hasil wawancara, seluruh informan menyatakan bahwa masih ada hambatan dalam pelaksanaan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR di rumah sakit RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Beberapa informan menyatakan bahwa adanya hambatan disebabkan belum adanya sanksi yang jelas bagi yang melanggar sehingga belum menimbulkan efek jera bagi pelaku pelanggaran kebijakan KTR. Informan lain menyatakan bahwa kurangnya sosialiasi perwali dan kurang kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan menjadi penghambat terlaksananya perwali di rumah sakit tersebut. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini :
Tabel 4.9 Matriks Pernyataan tentang Hambatan dalam Mengimplementasikan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
Informan 1 Pasti ada hambatan dalam setiap pelaksanaan kebijakan. Untuk implementasi perwali, kendala berada pada lemahnya sanksi yang tertulis dalam isi perwali. Kesadaran masyarakat juga menjadi kendala dalam implementasi perwali karena sangat sulit untuk merubah perilaku seseorang. Pihak rumah sakit telah melakukan sosialisasi, pembuatan poster merokok, dan penyedediaan tempat khusus merokok. Namun, untuk palaksanaannya kami tidak bisa mengawasi dan memantau masyarakat di lingkungan rumah sakit setiap saat.
Informan 2 Hambatannya karena belum ada sanksi yang diberikan bagi setiap pelanggaran serta kurangnya kesadaran perokok untuk merokok di tempat yang disediakan. Perwali masih sebatas himbauan dan tidak tertulis sanksi yang tegas.
penghambat maksimalnya pelaksanaan perwali tersebut. Sanksi hanya berbentuk teguran bukan tindakan sehingga tidak ada efek jera.
Informan 4 Menurut saya, hambatan terbesar dalam pelaksanaan perwali adalah kesadaran masyarakat dan tindakan tegas dari rumah sakit bila ada yang melanggar peraturan. Letak tempat merokok juga kurang startegis karean berada di taman. Taman kan tempat orang menunggu jedi pengunjung lebih memanfaatkan untuk tempat perstirahatan.
Informan 5 Hambatannya itu karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebijakan KTR. Mungkin hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi. Kalau pegawai kan diberikan sosialisasi dari walikota, namun pengunjung tidak pernah mendapatkan sosialisasi langsung dari pihak rumah sakit.
Informan 6 Menurut saya, hambatan dari pelaksanaan KTR adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Bila mereka mengetahui bahwa merokok dapat membahayakan orang sekitar, mereka pasti tidak merokok di ruangan. Selain itu, karena kurangnya sosialisasi bahwa rumah sakit meyediakan tempat khusus merokok untuk perokok bukan untuk tempat peristirahatan. Informan 7 Menurut saya, hambatan dari pelaksanaan KTR di rumah sakit
yaitu kurangnya peran dari pihak rumah sakit. Mereka seharusnya menerapkan sanksi bagi pihak yang melanggar kebijakan, supaya menjadi pelajaran bagi yang lainnya untuk tidak melanggar kebijakan. Tempat yang disediakan tidak startegis, seharusnya diletakkan di ujung gedung perawatan.
Informan 8 Hambatan pelaksanaan perwali ini karena kurangnya sosialisasi ke pengunjung dan tidak ada sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Selain itu, masih ada pegawai yang melanggar. Pengunjung akan berfikir bahwa peraturan itu tidak berlaku di rumah sakit ini.
4.3.9 Pernyataan Informan tentang Saran untuk Perbaikan Pelaksanaan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
agar pihak rumah sakit memberikan sosialisasi kepada pengunjung rumah sakit serta membuat tempat khusus merokok di taman gedung perkatoran. Menurut beberapa informan, sanksi yang tegas sangat diperlukan agar ada efek jera agar pegawai dan pengunjung yang lain tidak melakukan kesalahan yang sama. Pernyataan informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini :
Tabel 4.10 Matriks Pernyataan tentang Saran untuk Perbaikan Pelaksanaan Perwali Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi
Informan Pernyataan
Informan 1 Untuk perbaikan pelaksanaan perwali, rumah sakit akan membuat tempat khusus merokok tertutup sehingga membuat perokok merasa tidak nyaman berada di ruang tersebut. Pihak rumah sakit juga berencana untuk membentuk komite pengawasan dan memberikan sanksi tegas kepada pihak yang melanggar kebijakan. Informan 2 Seharusnya isi perwali dievaluasi kembali agar lebih sistematis dan
tidak hanya berupa himbauan namun juga berisi sanksi yang tegas bagi yang melanggar kebijakan. Saya menyarankan kepada pihak rumah sakit untuk membentuk komite khusus pengawasan kebijakan KTR.
Informan 3 Saya berharap pemerintah mengevaluasi kembali isi perwali dan memperjelas tentang pemberian sanksi bukan hanya sebatas himbauan dan teguran. Meskipun isi perwali tidak menjelaskan tentang sanksi, seharusnya pihak rumah sakit bisa memberikan sanksi kepada yang melanggar kebijakan dan membuat tempat khusus merokok di gedung kantor.
Informan 4 Saran saya untuk pelaksanaan KTR di rumah sakit ini mungkin menambah kawasan khusus merokok tetapi jangan di tengah taman. Seharusnya diletakkan di sudut dekat kamar jenazah, supaya perokok mengetahui bahwa merokok dekat dengan kematian. Informan 5 Saran saya agar rumah sakit memberikan sosialisasi kepada
pengunjung. Misalnya sesekali mengadakan promosi kesehatan tentang KTR dan bahaya merokok. Rumah sakit juga harus mempertegas sanksi bagi para pelanggar kebijakan KTR.
sama. Hal ini dilakukan supaya pegawai dan pengunjung yang lain tidak mengulang hal yang sama.
Informan 7 Seharusnya diberikan sanksi yang tegas agar ada efek jera bagi yang lainnya. Rumah sakit juga harus memperketat pengawasan terhadap penerapan KTR. Bukan hanya satpam saja, tetapi juga membuat tim khusus pengawasannya. Harus ada juga sosialisasi dari pihak rumah sakit kepada pengunjung.
Salah satu tahapan penting dalam siklus kebijakan publik adalah implementasi kebijakan. Implementasi sering dianggap hanya merupakan pelaksanaan dari hal-hal yang telah diputuskan oleh legislatif atau para pengambil keputusan, seolah-olah tahapan ini kurang berpengaruh. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tahapan implementasi menjadi begitu penting karena suatu kebijakan tidak akan berarti jika tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Dengan kata lain, implementasi merupakan tahapan suatu kebijakan dilaksanakan secara maksimal dan dapat mencapai tujuan kebijakan.
Dua perpektif awal dalam studi implementasi didasarkan pada pertanyaan sejauh mana implementasi terpisah dari formulasi kebijakan, yakni suatu kebijakan dibuat oleh pusat dan diimplementasikan oleh daerah (bersifat top-down) atau dengan melibatkan aspirasi dari bawah termasuk yang akan menjadi para pelaksana (bottom-up). Persoalan ini hanya merupakan bagian dari permasalahan yang lebih luas, yakni mengidentifikasikan gambaran dari suatu proses yang sangat kompleks, dari berbagai ruang dan waktu, serta beragam aktor yang terlibat di dalamnya.
pemula serta memberikan perlindungan bagi perokok pasif dari bahaya akibat asap rokok.
Kebijakan merupakan salah satu keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk memperoleh tujuan tertentu berdasarkan permasalahan tertentu. Sama halnya dengan kebijakan KTR yang dibuat diwilayah pemerintahan Kota Tebing Tinggi yang saat ini sudah menjadi hak asasi manusia untuk mendapatkan udara segar, sehingga perlu adanya kebijakan KTR. Diharapkan dengan adanya kebijakan tersebut, masyarakat akan menyadari pentingnya kesehatan dan bahaya merokok. Adanya kerjasama dari berbagai pihak menyebabkan kebijakan akan berjalan dengan maksimal.
Menurut Edwards III, implementasi diartikan sebagai tahapan dalam proses kebijakan, yang berada diantara tahapan penyusunan kebijaksanaan dan hasil atau konsekuensi yang ditimbulkan oleh kebijaksanaan (output, outcome). Dalam model yang dikembangkannya, ia mengemukakan empat faktor kritis yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi. Keempat faktor tersebut, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi (sikap pelaksana kebijakan), dan struktur birokrasi. Keseluruhan faktor tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan implementasi.
5.2 Faktor Komunikasi
Kelemahan komunikasi ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada saat implementasinya, tetapi juga pada saat formulasi.
Dari berbagai pernyataan informan, dapat diketahui bahwa beberapa informan telah mendapatkan sosialisasi terkait Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2014 tentang KTR, namun masih ada yang belum mengetahui sama sekali tentang peraturan tersebut. Direktur rumah sakit juga tidak mendapatkan petunjuk pelaksanaan dari Pemerintah Kota untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Meskipun beberapa informan telah mendapatkan sosialiasi, namun mereka tidak mengetahui secara rinci isi dari perwali tersebut.
Menurut Anggara, 2014, komunikasi seharusnya sudah dibangun sejak formulasi, sehingga muatan-muatan atau materi yang akan menjadi “jiwa” suatu kebijakan dapat diketahui dan disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan yang berkembang. Intensitas dalam mengomunikasikan kebijakan publik pada tataran implementasi diperlukan agar dukungan dan komitmen pihak-pihak terkait dapat dibentuk.
Pemerintah Kota Tebing Tinggi sebenarnya sudah melakukan sosialisasi kepada pihak rumah sakit meneganai perwali tersebut, namun hanya dilakukan pada awal dan hanya pemberitahuan saja, bukan berupa arahan dan penyampaian isi perwali secara rinci, sehingga masih banyak pegawai rumah sakit yang belum mengetahui isi perwali tersebut. Direktur Rumah Sakit RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi menyatakan bahwa pihak rumah sakit telah membuat kebijakan KTR sebelum pemerintah kota menurunkan perwali tersebut.
2014 tentang KTR. Hal ini terlihat dari pengakuan informan (pengunjung) yang mengatakan tidak pernah mendapatkan sosialisasi dari rumah sakit dan sama sekali tidak mengetahui perwali tersebut. Itu berarti, dalam penerapan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR, penyampaian komunikasi dari atasan kepada bawahan tidak disampaikan dengan baik dan jelas. Komunikasi dari Walikota kepada pihak rumah sakit belum maksimal, begitu juga komunikasi dari rumah sakit kepada pengunjung rumah sakit, sehingga pelaksana kebijakan belum sepenuhnya mendapatkan kejelasan tentang pelaksanaan perwali di rumah sakit.
Menurut Anggara, 2014, kejelasan tujuan dan cara yang akan digunakan dalam sebuah kebijakan merupakan hal yang mutlak agar dapat diimplementasikan sebagaimana yang telah diputuskan. Implementasi yang efektif selain membutuhkan membutuhkan komunikasi yang jelas, juga membutuhkan komunikasi yang konsisten. Proses transmisi yang baik, namun dengan perintah yang tidak konsisten akan membingungkan pelaksana. Kesulitan yang muncul saat memulai implementasi kebijakan baru dan banyaknya pengaruh berbagai kelompok kepentingan atas isu yang dibawa oleh kebijakan tersebut.
Hasil penelitian Azhka, 2013 menyimpulkan bahwa setelah melakukan sosialisasi KTR pada tiga kota di Sumatera Barat, sebanyak 59% responden ingin atau berencana untuk berhenti merokok. Sosialisasi yang berkesinambungan dan terarah serta tepat sasaran tidak saja hanya akan dapat memberikan perlindungan kepada perokok pasif tapi sekaligus juga akan dapat mengurangi perokok aktif.
Dengan komunikasi yang baik, maka pelakasana kebijakan akan mengetahui cara melaksanakan kebijakan tersebut. Sehingga, implementasi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR bisa terlaksana secara maksimal.
5.3 Faktor Sumber Daya
Berdasarkan hasil wawancara, seluruh informan manyatakan bahwa rumah sakit telah memberikan informasi tentang Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR berupa poster dan stiker larangan merokok yang ditempal pada dinding rumah sakit. Rumah sakit juga menyediakan 2 tempat khusus merokok sebagaimana disebutkan dalam perwali bahwa setiap pelayanan kesehatan harus membuat kawasan merokok dan kawasan tanpa rokok. Tempat khusus merokok di rumah sakit terletak di taman bagian gedung perawatan dan bertuliskan kawasan merokok dilengkapi dengan tempat sampah.
Menurut Winarno, 2012 sumber daya merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kebijakan. Perintah-perintah implementasi mungkin diteruskan secara cermat dan konsisten, tetapi jika para pelaksana kekurangan sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan, maka implementasi ini pun akan cenderung tidak efektif.
memperlancar proses komunikasi kebijakan. Tanpa fasilitas fisik yang memadai, implementasi juga tidak akan efektif. Fasilitas fisik ini beragam bergantung pada kebutuhan kebijakan.
Meskipun sumber daya yang ada di rumah sakit telah memadai, namun beberapa informan menyatakan fasilitas yang disediakan rumah sakit untuk merokok belum digunakan sesuai fungsinya. Tempat khusus merokok sering dijadikan tempat menunggu pasien ataupun keluarga pasien. Hal tersebut dikarenakan pengunjung belum mendapatkan informasi yang jelas tentang penggunaan tempat tersebut. Kurangnya informasi dapat menyebabkan implementasi tidak efektif.
Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Siregar, 2015 yang menyimpulkan bahwa masih rendahnya informasi dan himbauan tentang KTR pada pegawai dan pengunjung rumah sakit Dr. Pirngadi Medan menyebabkan pelaksanaan implementasi belum dilaksanakan secara maksimal.
Selain itu, pihak rumah sakit belum menyediakan tempat khusus merokok pada wilayah gedung perkantoran seperti yang terdapat di taman gedung perawatan. Sehingga masih dijumpai pegawai yang merokok di ruangan (tempat yang dilarang untuk merokok). Sebaiknya pihak rumah sakit membuat tempat khusus merokok di taman gedung perkantoran dan memperhatikan penggunaan tempat merokok sehingga berfungsi secar meksimal.
5.4 Faktor Disposisi
untuk mengimplementasi kebijakan tersebut. Jika para pelaksana kebijakan bersikap baik terhadap suatu kebijakan tertentu, dan hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka akan melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal.
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa semua informan baik yang bukan perokok maupun perokok mendukung penuh terhadap pelaksanaan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Bahkan, rumah sakit memiliki tim dalam membuat kebijakan KTR sebelum adanya perwali tersebut. Namun, dukungan penuh saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan sikap yang ditunjukkan dengan ikut melaksanakan kebijakan tersebut.
Menurut Anggara, 2014 pemahaman terhadap tujuan kebijakan sangat penting bagi aparat pelaksana. Apabila sistem nilai yang memengaruhi sikapnya berbeda dengan sistem nilai pembuat kebijakan, implementasi kebijakan tidak akan berjalan efektif. Ketidakmampuan administratif dari pelaksana kebijakan, yaitu ketidakmampuan dalam menanggapi kebutuhan dan harapan yang disampaikan oleh masyarakat dapat menyebabkan pelaksanaan suatu program tidak efektif. Pelaksana kebijakan harus menerima dan tidak terjadi penolakan dalam menyikapi kebijaksanaan.
Dari berbagai pernyataan informan, dapat dilihat bahwa sebagai pelaksana kebijakan, mereka menyetujui Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 menjadi kebijakan di rumah sakit. Dengan adanya perwali tersebut, maka perokok pasif akan terhindar dari bahaya akibat asap rokok dan dapat mendukung terciptanya masyarakat yang sehat dari asap rokok.
5.5 Faktor Birokrasi
Struktur birokrasi Edwards III adalah mekasnisme kerja yang dibentuk untuk mengelola pelaksanaan sebuah kebijakan. Meskipun sumber-sumber untuk mengimplementasikan suatu kebijakan sudah mencukupi dan para implementor telah mengetahui apa dan bagaimana cara melakukannya, serta mereka mempunyai keinginan untuk melakukannya, implementasi kebijakan bisa jadi masih belum efektif, karena terdapat ketidakefisienan struktur birokrasi yang ada.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa belum ada dibentuk komite/tim pengawasan penerapan KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Direktur rumah sakit menyatakan bahwa pihak rumah skait memiliki rencana untuk membuat komite tersebut, namun harus menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Menurut Kasubag Tata Usaha, pihak rumah sakit tidak bisa sembarangan membuat komite pengawasan penerapan KTR, mengingat perwali dibawah kebijaksanaan walikota, sehingga perlu kerja sama dari pemerintah kota untuk membuat komite tersebut. Oleh karena itu, untuk saat ini pengawasan penerapan KTR pada pegawai dilakukan oleh Direktur rumah sakit dan untuk pengunjung dilakukan oleh satpam rumah sakit.
dilingkungan rumah sakit hal tersebut dikarenakan petugas maupun pegawai yang termasuk dalam tim satgas anti rokok lengah dalam melakukan pengawasan serta di pengaruhi lingkungan RSUD Abdul Wahab Sjahranie sangat luas dan besar lingkungannya sehingga sulit menjangkau sudut-sudut yang menjadi tempat pelarian para perokok untuk mencari aman menghndari petugas rumah sakit..
Seharusnya rumah sakit memiliki komite pengawasan penerapan KTR agar memantau setiap pelanggaran yang dilakukan sehingga implementasi kebijakan dapat berjalan dengan maksimal. Tidak adanya komite pengawasan menjadikan pengunjung dan pegawai berani untuk melanggar kebijakan sehingga implementasi kebijakan tidak efektif.
5.6 Dampak Pelaksanaan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR bagi Kesehatan
Dari hasil penelitian, seluruh informan menyatakan bahwa pelaksanaan KTR akan menimbulkan pengaruh bagi kesehatan, khususnya kepada yang bukan perokok (perokok pasif). Bahaya asap rokok bagi perokok pasif adalah meningkatkan risiko kanker paru-paru dan penyakit jantung, masalah pernafasan termasuk radang paru-paru dan bronkitis, sakit atau pedih mata, bersin dan batuk-batuk, sakit kerongkongan, dan sakit kepala. Dengan adanya kebijakan tersebut, maka perokok pasif dapat terhindar dari bahaya akibat asap rokok.
Undang-undang/PERDA tentang Lingkungan Bebas Asap Rokok memiliki
melindungi perokok pasif. Kegiatan itu adalah dengan membentuk suatu kawasan bebas asap rokok (TCSC, 2012).
Selain membahayakan kesehatan, merokok juga dapat mencemari lingkungan. Asap rokok dapat menyebabkan pencemaran udara. Beberapa informan menyatakan bahwa dampak lain dari implementasi kebijakan KTR tersebut adalah menjadikan lingkungan lebih bersih dan sehat sehingga masyarakat di lingkungan rumah sakit dapat menghirup udara segar.
5.7 Pelanggaran terhadap Pelaksanaan Perwali dan Sanksi Bagi yang Melanggar Perwali Tebing Tinggi tentang KTR
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui dari pernyataan informan bahwa masih ada pelanggaran yang terjadi di rumah sakit. Perawat rumah sakit masih mendapati keluarga pasien merokok di ruang perawatan, begitu juga dengan pegawai yang masih merokok di ruangan. RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi belum bisa memberikan sanksi yang tegas dikarenakan tidak ada acuan dari isi perwali untuk memberikan sanksi kepada pelanggaran kebijakan. Pihak rumah sakit menyadari bahwa tidak adanya sanksi yang tegas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masih terjadi pelanggaran terhadap kebijakan KTR.
Tahun 2011 tentang Pedoman Kawasan Tanpa Rokok tidak menyebutkan sanksi yang jelas terhadap pelanggaran yang terjadi.
Sama halnya dengan Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013 tentang KTR yang tidak menjelaskan sanksi secara jelas. Sehingga menyebabkan masih terjadi pelanggaran dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Hal ini terlihat dari pernyataan seluruh informan bahwa sanksi yang diberikan hanya berupa teguran belum sampai pada sanksi yang dapat menimbulkan efek jera bagi pihak yang melanggar kebijakan. Diperlukan partisipasi dari masyarakat untuk membantu penegakan hukum terkait kawasan dilarang merokok. Karena tanpa peran aktif dari masyarakat, hukum tidaklah dapat diterapkan secara maksimal dan efektif.
Hasil penelitian Ingan, 2016 meyimpulkan bahwa dalam proses pelaksanaan pemberian sanksi administratif terhadap larangan merokok di Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Kota Samarinda masih menjadi persoalan serius dikarenakan sanksi administratif berupa denda hanya masih di berlakukan untuk pegawai sementara untuk masyarakat itu sendiri hanya berupa sanksi teguran lisan, sedangkan yang lebih banyak ditemukan melanggar kebanyakan dari kalangan masyarakat. Hal tersebut membuat masyarakat semakin leluasa dalam melakukan aktifitas merokok dikarenakan sanksi teguran lisan dianggap formalitas sehingga demikian sanksi yang diberlakukan masih dianggap kurang efektif serta kurang memberikan efek jera kepada masyarakat.
menyertakan sanksi yang tegas dan jelas untuk yang melanggar kebijakan baik pegawai maupun pengunjung rumah sakit sehingga implementasi kebijakan berjalan efektif.
Dalam setiap unit bagian, rumah sakit seharusnya memberi tugas kepada setiap atasan untuk mengawasi berjalannya perwali tersebut. Sehingga, pengawasan berjenjang dapat dilakukan di semua tatanan di rumah sakit. Meskipun tidak ada komite khusus pengawasan penerapan KTR, seharusnya hal tersebut tidak menjadi alasan kebijakan belum terlaksana dengan baik. Pihak rumah sakit dapat menggabungkan tim pengawasan dengan bagian struktur rumah sakit, tidak perlu membuat unit tersendiri. Sehingga akan lebih memudahkan pihak rumah sakit dalam menjalankan kebijakan tersebut dan tidak perlu mengeluarkan dana tambahan seperti yang diungkapkan direktur rumah sakit. 5.8 Hambatan dalam Pengimplementasian Perwali Tebing Tinggi tentang
KTR
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa seluruh informan menyatakan dalam implementasi Perwali Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi masih ditemukan hambatan. Hambatan tersebut antara lain kurangnya kesadaran dari pelaksana kebijakan, kurangnya sosialisasi kepada pelaksana kebijakan, lokasi tempat khusus merokok yang kurang startegis, belum ada sanksi yang tegas, serta tidak adanya tim pengawas penerapan kawasan tanpa rokok di rumah sakit tersebut. Adanya beberapa hambatan tersebut akan menyebabkan implementasi kebijakan tidak efektif.
masyarakat, hal ini terutama karena selama ini tidak adanya pengaturan tentang merokok, sehingga penerapan KTR akan mendapat penolakan bagi para perokok
Menurut Sunggono, implementasi kebijakan mempunyai beberapa faktor penghambat, yaitu :
a. Isi kebijakan
Pertama, Implementasi kebijakan gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksudnya apa yang menjadi tujuan tidak cukup terperinci, sarana-sarana dan penerapan prioritas atau program-program kebijakan terlalu umum atau sama sekali tidak ada. Kedua, karena kurangnya ketetapan intern maupun ekstern dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan yang akan diimplementasikan dapat juga menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan yang sangat berarti. Keempat, penyebab lain dari timbulnya kegagalan implementasi suatu kebijakan dapat terjadi karena kekurangan-kekurangan yang menyangkut sumber daya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana, dan tenaga manusia.
b. Informasi
Implementasi kebijakan publik mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung mempunyai informasi yang perlu atau sangat berkaitan untuk dapat memainkan perannya dengan baik. Informasi ini justru tidak ada, akibat adanya gangguan komunikasi.
c. Dukungan
d. Pembagian Potensi
Sebab musabab yang berkaitan dengan gagalnya implementasi suatu kebijakan publik juga ditentukan aspek pembagian potensi antara para pelaku yang terlibat dalam implementasi. Dalam hal ini berkaitan dengan diferensiasi tugas dan wewenang organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksanaan dapat menimbulkan masalah-masalah apabila pembagian wewenang dan tanggung jawab kurang disesuaikan dengan pembagian tugas atau ditandai dengan adanya pembatasan-pembatasan yang kurang jelas.
Dalam penelitian Juanita, 2012 menyatakan bahwa hambatan dalam pelaksanaan KTR saat ini adalah Peraturan Pemerintah terkait tembakau/rokok masih diperdebatkan dan sampai saat ini pemerintah namun pemerintah belum menganggap hal ini menjadi penting karena adanya tarik menarik kepentingan antara ekonomi dan kesehatan.
Hambatan yang ada dalam implementasi Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR terjadi karena Pemerintah Kota Tebing Tinggi belum sepenuhnya siap dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut. Hal ini terlihat dari isi perwali yang kurang, sosialisasi yang dilakukan tidak merata, tidak adanya pedoman bagi pelaksana kebijakan, serta tidak ada tim pengawasan dalam penerapan implementasi kebijakan. Seharusnya dalam implementasinya, pihak yang membuat kebijakan memperjelas tujuan dan isi dari kebijakan serta pedoman bagi pelaksana kebijakan, sehingga implementasi berjalan secara efektif.
5.9 Perbaikan Pelaksanaan KTR
(SKPD) yang ditetapkan untuk melaksanakan kebijakan KTR. Fasilitas Pelayanan Kesehatan suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah Daerah Tebing Tinggi.
RSUD Dr. H. Kumpulan Pane merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang terletak di Kota Tebing Tinggi. Maka dari itu, dalam pelaksanaannya berdasarkan perwali tersebut maka rumah sakit harus menetapkan kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok. Kawasan tanpa rokok adalah tempat atau area yang dinyatakan dilarangnya kegiatan merokok sedangkan kawasan terbatas merokok adalah tempat atau area yang dinyatakan khusus untuk merokok (Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2013).
Namun, sampai saat ini masih pelaksanaan Perwali di rumah sakit tersebut belum berjalan dengan efektif, terlihat dari masih terdapat pelanggaran dan hambatan dalam pelaksanaannya. Pelanggaran yang terjadi contohnya masih ada pegawai yang merokok di ruangan, padahal dalam perwali jelas disebutkan bahwa ruang kerja, ruang rapat, dan ruang sidang adalah Kawasan Tanpa Rokok yang berarti dilarang kegiatan merokok.
tertutup agar membuat perokok tidak nyaman berada di sana, sehingga dapat merubah perilaku merokok dan dapat menciptakan kehidupan yang lebih sehat. Seharusnya, dalam agar implementasi berjalan dengan efektif, harus ada komitman yang jelas dan tegas dari semua pihak. Baik dari pihak rumah sakit, pemerintah, maupun pengunjung rumah sakit.
Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Juanita, 2012 yang menyimpulkan bahwa Penetapan Kawasan Tanpa Rokok diberbagai tatanan dapat diwujudkan melalui penggalangan komitmen bersama untuk melaksanakannya. Peran lintas sektor sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan dari penetapan Kawasan Tanpa Rokok sebagai salah satu upaya penanggulangan bahaya rokok.
Seharusnya, rumah sakit dapat memanfaatkan bagian promosi kesehatan untuk mempromosikan dan mensosialisasikan kebijakan KTR di rumah sakit. Sehuingga sosialisasi berjenjang bisa terlaksana dengan baik. Bukan hanya Direktur rumah sakit kepada pegawai, tetapi semua elemen masyarakat di rumah sakit mendapatkan sosialisasi tentang KTR. Rumah sakit harus memiliki kemampuan manajerial dalam menjabarkan ketentuan Walikota Tebing Tinggi, bukan hanya menerima begitu saja kebijakan untuk dilaksanakan. Dengan kurangnya kemampuan manajerial pimpinan rumah sakit dalam penjabaran kebijakan yang ada, maka kebijakan tersebut belum efektif.
Berdasarkan penelitian terhadap dapat disimpulkan bahwa Implementasi
Perwali Tebing Tinggi Nomor 3 tahun 2013 tentang KTR di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi belum terlaksana dengan baik dan belum efektif. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu :
1. Kurangnya kemampuan dan kemauan pimpinan rumah sakit untuk menjabarkan kebijakan KTR tersebut.
2. Kurangnya sosialisasi berjenjang terhadap penerapan KTR di tiap bagian/unit rumah sakit.
3. Tidak adanya penanggung jawab pengawasan penerapan KTR pada tiap bagian/unit di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane.
4. Masih disediakan tempat merokok yang nyaman dan strategis sehingga menyebabkan masih ada perokok di lingkungan rumah sakit.
5. Pimpinan rumah sakit yang kurang berkomitmen penuh terhadap pelaksanaan KTR di rumah sakit.
6.2 Saran
1. Kepada Direktur rumah sakit agar memberikan komitmen yang penuh berupa tindakan yang nyata dalam sosialisasi tentang KTR terhadap pegawai maupun pengunjung rumah sakit.
2. Kepada RSUD Dr. H. Kumpulan Pane agar :
a. Membuat penanggung jawab pengawasan kebijakan KTR dalam tiap bagian/unit rumah sakit yang dimasukkan dalam struktur organisasi rumah sakit.
b. Membuat sanksi yang tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, baik pelanggaran yang dilakukan pengunjung maupun pegawai.