Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Jual Beli Kapal Berbendera Asing Di Batam

146  61  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN

JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING

DI BATAM

TESIS

Oleh

ZULKARNAIN

107011002/MKn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

2

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN

JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING

DI BATAM

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan dalam Program Studi Kenotariatan

pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh

ZULKARNAIN

107011002/MKn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

3

JUDUL : ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM

NAMA : ZULKARNAIN

NOMOR INDUK : 107011002

PROGRAM STUDI : MAGISTER KENOTARIATAN

Menyetujui

Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Ketua

(Notaris Dr. Syahril Sofyan,SH.MKn) (Dr.T. Keizerina Devi A, SH.CN M.Hum)

Anggota Anggota

Ketua Program Dekan

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H, MS, CN) (Prof.Dr.Runtung Sitepu,SH. M.Hum)

(4)

4

Telah diuji pada

tanggal : 5 Juni 2012

PANITIA UJIAN TESIS

Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS,CN

Anggota : 1. Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn

2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, Mhum

3. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum

(5)

5

ABSTRAK

Industri pelayaran dewasa ini mengalami kemajuan, hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menerapkan azas cabotage dalam undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran, bahwa dalam pelayaran antar pulau hanya dibolehkan terhadap kapal Bendera Kebangsaan Indonesia (BKI) dengan tujuan untuk menumbuh kembangkan industri pelayaran di tanah air.

Dengan terjadinya krisis yang berkepanjangan banyak dari pengusaha dibidang pelayaran membeli kapal bekas asing yang tentunya di dalam kontrak jual belinya melibatkan unsur asing dan dalam pelaksanaan kontrak jual belinya harus memperhatikan asas-asas ataupun prinsip-prinsip Hukum Perdata Internasional. Kontrak jual beli berasal dari kapal bekas asing dalam peraturan perundangan tidak ditemui petunjuk pelaksanaannya akan tetapi hanya mengatur mengenai pendaftaran kapalnya saja menjadi kapal berbendera kebangsaan Indonesia. Serta tidak ada menyebutkan siapa yang berwenang melakukan kontrak jual beli tersebut yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia khususnya di Batam sesuai dengan penelitian. Akan tetapi dalam pelaksanaan di Batam lazimnya dilakukan di hadapan notaris. Syahbandar berwenang membuat akte pendaftaran kapal yang salinan pertama dijadikan dasar diterbitkannya grosse akte kapal.

Adanya unsur asing di dalam kontrak jual beli kapal, salah satu unsur penting dalam perjanjian tersebut yaitu pada klausula terakhirnya harus menyebutkan pilihan hukum (choice of law) serta forum mana yang digunakan untuk menyelesaikan jika terjadi sengketa diantara pihak. Sesuai dengan ketentuan Hukum Perdata Internasional Indonesia menganut prinsip nasionaliteit, perjanjian yang dibuat di hadapan notaris di Batam dipakai hukum Indonesia dengan memperhatikan ketentuan dan prinsip yang berlaku menurut Hukum Perdata Internasional.

Terhadap kapal bekas berbendera asing hanya yang dapat didaftarkan menjadi bendera kebangsaan Indonesia hanya terhadap kapal yang berukuran 20 M3 /7 GT atau lebih, dapat diikat dengan hipotik kapal dan didaftarkan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum yang berdomisili atau didirikan di Indonesia.

Penyelesaian sengketa diantara pihak dapat berdasarkan kepada ketentuan hukum dimana perjanjian dibuat atau menunjuk hukum salah satu negara untuk menyelesaikannya sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam pasal 16, 17 dan 18 AB,serta dapat juga menunjuk lembaga arbitrase atau peradilan nasional atau internasional untuk menyelesaikannya tergantung dari kesepakatan dari para pihak.

(6)

6

ABSTRACT

Current progress experienced by shipping industry cannot be separated from the government policy in applying the princple of sabotage in Law No. 17/2008 on Shipping stating that inter-island shipping activities is only allowed for the Indonesian Flagged Vessels in order to develop the shipping industry in Indonesia.

With the prolonged crisis, many of the shipping entrepreneurs buy used ships from other countries, therefore, foreign elements are certainly involved in its trading agreement and the implementation of its trading agreement must pay attention to the principles of International Civil Law. The implementation guidelines of foreign used ship trading agreement are not found in the Indonesian regulation of legislation. The Indonesian regulation of legislation only regulates the registration of the change of the status of the used ship into an Indonesian-flagged vessel. Who has the authority to make the trading agreement done in the jurisdiction of Indonesia, especially in Batam in accordance with thw result of study, is not stated either in the Indonesian regulation of legislation. But in Batam, the tading agreement is commonly made before a notary. The harbormaster has the authority to issue the certificate of registration of the ship whose first copy is used as the basis of the issuance of ship graosse certificate.

With the presence of foreign element in the ship trading agreement, one of the important element in the agreement is that the final clause must state the choice of law and the forum to be used to settle ant dispute which may occur between the two parties. In accordance with the provisions of International Civil Law, Indonesia adheres to the principle of nationality that the agreement made before a notary in Batam applies the law of Indonesia by paying attention to the provision and principle applicable in accordance with the International Civil Law.

The used foreign-flagged ship that can be registered to be converted into Indonesian-flagged ship is only the one with the size of 20 M3/7 GT or more provided that it us ship mortgage bound and registered by Indonesian citizens or legal entities domiciled and established in Indonesia.

Dispute settlement between both parties can be done based on the legal provisions of where the agreement was made or choose the law of one of the two countries to settle the dispute in accordance with the principles stated in Article 16, 17 and 18 AB, and both parties can also appoint an arbitrary institution or national or international courts to settle the dispute depending on the agreement made by both parties.

(7)

7

KATA PENGANTAR

Syukur Alahamdulilah penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang dengan berkat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan enulisan tesis ini dengan judul “ ANALISIS YURIDIS PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM”.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan ( MKn ) Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan serta dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, Bapak Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn, Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, MS, CN selaku Komisi Pembimbing yang dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Dan juga, semua pihak yang telah berkenan memberikan masukan dan arahan dalam penulisan tesis ini sehingga tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.

Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang sebesar-besarnya kepada :

(8)

8

2. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, M.S, CN, selaku Ketua Program Magister Kenotariatan (MKn) dan Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, SN, MHum, beserta seluruh staf atas bantuan , kesempatan dan fasilitas yang diberikan sehingga dapat diselesaikan studi pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Studi Pascasarjana Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang penulis sayangi :

1. Ibunda Syamsinar dan mertua H. Ramayulis ismail dan Hj. Rainy.M yang telah memberikan doa dan semangat, serta seluruh keluarga besarku, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

(9)

9

3. Terima kasih yang mendalam kepada teman-teman seperjuangan khususnya kelas khusus angkatan 2010 yang telah memberikan motivasi satu sama lain 4. Rekan-rekan Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (MKn)

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bertujuan untuk menyempurnakan tesis ini. Mudah-mudahan tesis ini bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan bagi yang membacanya amin yaa rabbal a’lamin.

Medan, Juni 2012

Penulis

(10)

10

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ……….. i

ABSTRACK ………. ii

KATA PENGATAR ……… iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ……… vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ………... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Keaslian Penelitian ... 11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 12

1. Kerangka Teori ... 12

2. Konsepsi ... 21

G. Metode Penelitian ... 24

1. Sifat Penelitian dan Jenis Penelitian ... 24

a. Sifat penelitian ... 24

b. Jenis Penelitian ... 24

2. Teknik Pengumpulan Data... 25

(11)

11

a. Penelitian Lapangan (field research) ... 26

b. Penelitian Kepustakaan (library research) ... 26

4. Analisis Data ... 28

BAB II ATURAN HUKUM PELAKSANAAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING A. Tinjauan Umum Tentang Pengertian Umum Perjanjian Jual Beli... 29

1. Sifat dan Bentuk Perjanjian Jual Beli ... 31

2. Penyerahan Benda Yang Diperjual Belikan ... 32

3. Hak dan Kewajiban Penjual dan Pembeli ... 35

4. Resiko Dari Perjanjian Jual Beli ... 38

B. Hukum Kontrak Jual Beli Menurut Hukum Perdata Internasional 38 C. Asas-Asas dan Prinsip-Prinsip Hukum Perdata Internasional Dalam Kontrak Perjanjian ... 42

1. Asas-Asas Hukum Perdata Internasional ... 42

2. Prinsip-Prinsip Hukum Perdata Internasional ... 47

D. Sumber Hukum Perdata Internasional ... 48

1. Sumber Hukum Perdata Internasional Indonesia ... 48

2. Sumber Hukum Kontrak Internasional yang berasal dari Konvensi Internasional ... 51

3. Badan Hukum Dalam Sistem Hukum Perdata Indonesia .... 59

3.1 Nasionalitas Badan Hukum ... 62

3.2 Dokrin yang Berkaitan dengan Status Personel Badan Hukum Dalam Hukum Perdata Internasional.... 63

(12)

12

3.2.2. Prinsip Tempat Kedudukan Manajemen yang Efektif ... 65

3.2.3 Peraturan-Peraturan yang Berkaitan dengan

Jual Beli Kapal ... 65

BAB III PELAKSANAAN SERTA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA PIHAK TERHADAP JUAL BELI KAPAL

BERBENDERA ASING DI BATAM

A.. Pengertian Umum Tentang Kapal ... 67 B. Tinjauan Umum Tentang Status Kapal ... 72 1. Status Hukum Kapal Sebagai Benda Tetap ... 72 2. Kapal Bekas Asing Yang Dapat Dijadikan Sebagai Obbjek

Hipotik ... 73 C. Pelaksanaan Jual Beli Kapal Berbendera Asing Di Batam ... 74

1. Ketentuan Hukum Yang Digunakan Terhadap Kontrak Jual Beli Kapal Berbendera Asing ... 83 2. Status Hukum Kapal Yang di Scrapping ... 84 3. Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam

Jual Beli Kapal ... 85 4. Kebijakan Pemerintah dalam Pengadaan Kapal Nasional .... 90 5. Hipotik Kapal ... 91

(13)

13

BAB IV UPAYA HUKUM DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL

BERBENDERA ASING DI BATAM

A. Upaya Hukum Dalam Penyelesaian Sengketa Terhadap

Jual Beli Kapal Berbendera Asing ... 101

1. Prinsip- Prinsip dalam penyelesaian Sengketa ... 103

1.1 Prinsip Kesepakatan Para Pihak ... 103

1.2 Prinsip Kebebasan Memilih Cara Penyelesaian Sengketa ... 104

1.3 Prinsip Kebebasan Memilih Hukum (Choice of Law) 104

1.4 Prinsip Iktikad Baik (Good Faidh) ... 10

1.5 Prinsip Exhaution Of Lokal Remidies... 106

B. Forum Penyelesaian Sengketa ... 107

1. Arbitrase ... 107

1.1 Kekuatan Mengikat Putusan Arbitrase ... 111

2. Pengadilan (Nasional dan Internasional) ... 114

3. Penyelesaian Sengketa Terhadap Kapal Yang Terkait Hipotik ... 116

3.1 Akibat Hukum Dari Musnahnya Kapal Yang Jadi Objek Hipotik ... 118

3.2. Akibat Hukum Dari Pengantian Bendera Kapal Yang Menjadi Objek Hipotik ... 119

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 121

B. Saran ... 123

(14)

5

ABSTRAK

Industri pelayaran dewasa ini mengalami kemajuan, hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menerapkan azas cabotage dalam undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran, bahwa dalam pelayaran antar pulau hanya dibolehkan terhadap kapal Bendera Kebangsaan Indonesia (BKI) dengan tujuan untuk menumbuh kembangkan industri pelayaran di tanah air.

Dengan terjadinya krisis yang berkepanjangan banyak dari pengusaha dibidang pelayaran membeli kapal bekas asing yang tentunya di dalam kontrak jual belinya melibatkan unsur asing dan dalam pelaksanaan kontrak jual belinya harus memperhatikan asas-asas ataupun prinsip-prinsip Hukum Perdata Internasional. Kontrak jual beli berasal dari kapal bekas asing dalam peraturan perundangan tidak ditemui petunjuk pelaksanaannya akan tetapi hanya mengatur mengenai pendaftaran kapalnya saja menjadi kapal berbendera kebangsaan Indonesia. Serta tidak ada menyebutkan siapa yang berwenang melakukan kontrak jual beli tersebut yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia khususnya di Batam sesuai dengan penelitian. Akan tetapi dalam pelaksanaan di Batam lazimnya dilakukan di hadapan notaris. Syahbandar berwenang membuat akte pendaftaran kapal yang salinan pertama dijadikan dasar diterbitkannya grosse akte kapal.

Adanya unsur asing di dalam kontrak jual beli kapal, salah satu unsur penting dalam perjanjian tersebut yaitu pada klausula terakhirnya harus menyebutkan pilihan hukum (choice of law) serta forum mana yang digunakan untuk menyelesaikan jika terjadi sengketa diantara pihak. Sesuai dengan ketentuan Hukum Perdata Internasional Indonesia menganut prinsip nasionaliteit, perjanjian yang dibuat di hadapan notaris di Batam dipakai hukum Indonesia dengan memperhatikan ketentuan dan prinsip yang berlaku menurut Hukum Perdata Internasional.

Terhadap kapal bekas berbendera asing hanya yang dapat didaftarkan menjadi bendera kebangsaan Indonesia hanya terhadap kapal yang berukuran 20 M3 /7 GT atau lebih, dapat diikat dengan hipotik kapal dan didaftarkan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum yang berdomisili atau didirikan di Indonesia.

Penyelesaian sengketa diantara pihak dapat berdasarkan kepada ketentuan hukum dimana perjanjian dibuat atau menunjuk hukum salah satu negara untuk menyelesaikannya sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam pasal 16, 17 dan 18 AB,serta dapat juga menunjuk lembaga arbitrase atau peradilan nasional atau internasional untuk menyelesaikannya tergantung dari kesepakatan dari para pihak.

(15)

6

ABSTRACT

Current progress experienced by shipping industry cannot be separated from the government policy in applying the princple of sabotage in Law No. 17/2008 on Shipping stating that inter-island shipping activities is only allowed for the Indonesian Flagged Vessels in order to develop the shipping industry in Indonesia.

With the prolonged crisis, many of the shipping entrepreneurs buy used ships from other countries, therefore, foreign elements are certainly involved in its trading agreement and the implementation of its trading agreement must pay attention to the principles of International Civil Law. The implementation guidelines of foreign used ship trading agreement are not found in the Indonesian regulation of legislation. The Indonesian regulation of legislation only regulates the registration of the change of the status of the used ship into an Indonesian-flagged vessel. Who has the authority to make the trading agreement done in the jurisdiction of Indonesia, especially in Batam in accordance with thw result of study, is not stated either in the Indonesian regulation of legislation. But in Batam, the tading agreement is commonly made before a notary. The harbormaster has the authority to issue the certificate of registration of the ship whose first copy is used as the basis of the issuance of ship graosse certificate.

With the presence of foreign element in the ship trading agreement, one of the important element in the agreement is that the final clause must state the choice of law and the forum to be used to settle ant dispute which may occur between the two parties. In accordance with the provisions of International Civil Law, Indonesia adheres to the principle of nationality that the agreement made before a notary in Batam applies the law of Indonesia by paying attention to the provision and principle applicable in accordance with the International Civil Law.

The used foreign-flagged ship that can be registered to be converted into Indonesian-flagged ship is only the one with the size of 20 M3/7 GT or more provided that it us ship mortgage bound and registered by Indonesian citizens or legal entities domiciled and established in Indonesia.

Dispute settlement between both parties can be done based on the legal provisions of where the agreement was made or choose the law of one of the two countries to settle the dispute in accordance with the principles stated in Article 16, 17 and 18 AB, and both parties can also appoint an arbitrary institution or national or international courts to settle the dispute depending on the agreement made by both parties.

(16)

14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perjanjian jual-beli kapal merupakan jenis perjanjian timbal balik yang melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi jenis perjanjian yang mereka buat.

Sudikno Mertokusumo mendefinisikan perjanjian sebagai hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Suatu perjanjian didefinisikan sebagai hubungan hukum karena didalam perjanjian itu terdapat dua perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yaitu perbuatan penawaran (offer, aanbod) dan perbuatan penerimaan (acceptance, aanvaarding)1.

Menurut Abdulkadir Muhammad, perjanjian jual beli adalah perjanjian dimana ikatan bahwa penjual memindahkan hak miliknya atas barang kepada pembeli sebagai imbalan sejumlah uang yang disebut harga. Undang-Undang membedakan antara “Sell dan Agreement to SellSell adalah jual beli dan hak milik atas barang seketika berpindah kepada pembeli, misalnya jual beli tunai,

1

(17)

15

sedangkan agreement to sell adalah jual beli barang dimana pihak-pihak setuju barangnya berpindah kepada pembeli pada waktu yang akan datang.2

Dalam pasal 1457 KUHPerdata disebutkan bahwa jual-beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan,dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.3 Jadi pengertian jual-beli menurut KUHPerdata adalah suatu perjanjian bertimbal balik dalam mana pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan hak miliknya atas barang yang ditawarkan, sedangkan yang dijanjikan pihak lain, membayar harga yang telah disetujuinya4.

Perjanjian jual-beli dalam KUHPerdata menentukan bahwa objek perjanjian harus tertentu, atau setidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat akan diserahkan hak milik atas barang tersebut kepada pembeli.

Kewajiban penjual menyerahkan barang dan menanggungnya, adalah merupakan jaminan bagi pembeli bahwa barang yang dibelinya dapat dinikmati sesuai dengan kegunaannya. Dimama jual beli ini selanjutnya diatur mengenai hak dan kewajiban, ini yang mengisyaratkan bahwa jual beli dilindungi oleh undang-undang dan oleh karena jual beli ini merupakan dilakukan berdasarkan persetujuan, maka jual beli harus disesuaikan dengan syarat-syarat sahnya persetujuan.

Menurut ketentuan pasal 1320 KUHPerdata, menentukan untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi 4 syarat yaitu :

2

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 2006, hal 24 3

Lihat pasal 1457 KUHPerdata 4

(18)

16

1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. Suatu hal tertentu

4. Suatu sebab yang halal.

Di zaman era globalisasi sekarang ini hubungan jual beli yang dilakukan antar negara telah mengalami kemajuan yang harus diikuti dengan aturan-aturan hukum dinegara kita termasuk juga di dalamnya jual beli kapal yang didalamnya melibatkan unsur asing, baik penjual ataupun sipembelinya yang mempunyai kewarganegaraan yang berbeda.

Perjanjian jual beli kapal berbendera asing merupakan salah satu dari ketentuan perundang-undangan yang masuk pengaturan Hukum Perdata Internasional Indonesia. Jadi disini yang ditekankan adalah perbedaan dalam lingkungan kuasa, tempat dan soal-soal serta pembedaan dalam sistem hukum suatu negara dengan lain negara, artinya adanya unsur luar negerinya ( Foreign element )5

Untuk memudahkan terjadinya proses jual beli antar negara seperti halnya dalam transaksi jual beli kapal-kapal asing, atau kapal kapal berbendera Indonesia yag dibeli oleh orang atau badan hukum asing perlu adanya suatu payung hukum yang jelas karena hanya sedikit sekali aturan hukum yang mengatur tentang jual beli kapal yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia, baik itu yang berkaitan dengan

5

(19)

17

tata cara pelaksanaan jual beli kapal maupun dalam hal terjadinya sengketa terhadap jual beli kapal yang melibatkan unsur asing.

Dengan kapal-kapal timbul juga masalah Hukum Perdata Internasional, karena bendera dari kapal ini berbeda dari orang-orang yang mengadakan hubungan dengan kapal itu. Untuk kapal, bendera adalah seperti kewarganegaraan untuk orang dewasa. 6

Kaitannya dalam Hubungan Hukum Perdata Internasional titik taut pertalian primer (foreign element) mencakup beberapa hal yaitu : kewarganegaraan, bendera kapal, domisili, tempat kediaman, tempat kedudukan dan hubungan hukum di dalam hubungan intern. 7

Para pihak yang terlibat dalam pembuatan kontrak bisnis internasional pada dasarnya tidak menghendaki adanya sengketa dikemudian hari, namun tidak seorangpun dapat meramalkan akan terjadinya suatu kerugian yang mungkin timbul dalam pelaksanaan kontrak tersebut. Jika timbul suatu sengketa mengenai kontrak bisnis Internasional dengan kata lain sengketa mana mengandung unsur asing (foreign element) maka timbul persoalan mengenai hukum dari negara mana yang harus diterapkan yaitu apakah hukum negara dari pihak penjual atau hukum negara dari pihak pembeli, atau hukum dari forum sengketa dimana sengketa itu diajukan atau hukum yang dipilih oleh para pihak (choice of law by the parties). Terhadap proses jual beli kapal dapat dilakukan oleh manusia sebagai subyek hukum dan

6

S. Gautama, Op cit , hal 26 7

(20)

18

dapat juga dilakukan oleh badan hukum, baik itu badan hukum yang hukum yang didirikan dan berdomisili di Indonesia maupun terhadap badan hukum asing yang diakui oleh Hukum Perdata Internasional. Permasalahan yang timbul untuk menetukan pilihan hukum mana yang harus dipakai seandainya terjadi sengketa diantara pihak sesuai dengan ketentuan hukum berlaku dalam hubungan Hukum Perdata Internasional karena adanya unsur asing dalam perjanjian yang dibuat.

Masalah lain yang timbul dalam sengketa perjanjian jual beli internasional adalah apabila terjadinya wanprestasi dari salah satu pihak maka masalah forum mana yang berwenang untuk mengadili seandainya terjadi sengketa diantara pihak. Karena dalam sengketa internasional terbuka kemungkinan timbulnya banyak jurisdiksi yang mempunyai kewenangan atas sengketa tersebut, sebab kegiatan bisnis, termasuk jual beli internasional termasuk jual beli kapal melibatkan banyak negara dan masing-masing negara mempunyai hukum acara yang berbeda satu lainnya dalam menangani kasus bisnis internasional tersebut.8

Karena para pihak yang terlibat dalam kontrak jual beli internasional termasuk berasal dari negara yang berbeda, dan jika timbul sengketa maka terbuka kemungkinan bahwa sengketa tersebut dapat diajukan pada pengadilan dari masing-masing pihak. Selain itu pengadilan dari negara ke tiga dapat juga mempunyai

8

(21)

19

kewenangan untuk memeriksa suatu sengketa, jika tempat terjadinya kerugian berada dalam yurisdiksi pengadilan dari negara tersebut. 9

Dalam pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2002, secara tegas dinyatakan bahwa terhadap kapal yang dibeli atau diperoleh dari luar negeri dan sudah terdaftar dinegara asalnya harus dilengkapi dengan surat penghapusan dari daftar kapal yang diterbitkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan.10 Sering ketentuan ini berseberangan dengan keinginan para pihak, sebab dengan dilakukannya penghapus kebangsaan kapal di negara asalnya sebelum dilakukannya transaksi jual beli, sangat memungkinkan terjadinya resiko bagi pihak si penjual seandainya terjadinya pembatalan pembelian dari pihak si pembeli ataupun sebaliknya.

Permasalahan lain juga kekurang telitian dari pihak pembeli terhadap pembelian kapal yang berbendera asing, kemungkinan kapal yang akan di transaksikan tersebut masih terikat hipotik kapal di negara asalnya, hal ini tentu akan menimbulkan resiko bagi pihak pembeli.

Terhadap hal jual beli kapal berbendera asing dalam ketentauannya masuk kedalam hukum maritim indonesia yang dapat kita lihat dalam perundangan nasional seperti : Undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran, Peraturan pemerintah nomor 51 tahun 2002 tentang perkapalan, KUHPerdata, KUHDagang, serta perjanjian-perjanjian internasional oleh negara-negara seperti UNCLOS 1982,

9

www.fh.unair.ac.id/opini.hukum.php?id=5&respon=0 diakses tanggal 4 maret 2012 pukul 22.00 WIB

10

(22)

20

konvensi-konvensi yang dihasilkan dalam International Maritime Organization

(IMO) atau konvensi-konvensi dalam hukum maritime internasional perdata, perjanjian-perjanjian perdata yang dibuat oleh pelaku-pelaku aktivitas kemaritiman atau kontrak-kontrak dalam bidang transportasi dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam dunia pelayaran. 11

Sehubungannya dengan kenyataan itu maka penelitian ini akan menyoroti salah satu aspek hukum yang berkaitan dengan perjanjian jual beli kapal berbendera asing dalam kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai Serta Pengawasan Atas Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Serta Berada di Kawasan Yang Telah Ditunjuk Sebagai Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, guna untuk mengetahui dasar hukum, asas-asas, prinsip-prinsip serta ketentuan-ketentuan konvensi internasional yang mengatur tentang pelaksanan jual beli internasional dalam kaitannya dengan kapal berbendera asing yang pelaksanaannya dilakukan di wilayah Batam, guna mengtahui siapa yang berhak melakukan pengikatan terhadap perjanjian jual beli kapal berbendera asing tersebut dalam wilayah hukum Indonesia (khususnya Batam) dan sebagai acuan, apa-apa yang menjadi ketentuan hukum bagi

11

(23)

21

seorang notaris dalam melakukan pengikatan perjanjian jual beli kapal berbendera asing yang dilakukan di wilayah Batam.

Dalam permasalahan tersebut diatas, penulis menitik beratkan terhadap perjanjian jual beli kapal berbendera asing yang dilakukan di Batam, baik yang dilakukan oleh pribadi maupun yang dilakukan oleh badan hukum terhadap kapal yang mempunyai ukuran 20 M3 /tonase 7 (GT 7) atau lebih yang menjadi keharusan untuk dilakukan balik nama atau didaftarkan sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat (1 huruf a) Peraturan Menteri Perhubungan nomor : KM. 26 tahun 2006 tentang Penyederhanaan Sistem dan Prosedur Pengadaan Kapal dan Penggunaan/ Penggantian Bendera Kapal.

Hal ini juga sangat ditunjang dengan banyaknya perusahaan-perusahaan asing maupun nasional yang ada di Batam yang bergerak di bidang pembuatan kapal (shipyard) untuk terjadinya transaksi jual beli kapal di Batam, baik kapal Bendera Kebangsaan Indonesia (BKI ) maupun kapal yang berbendera asing Batam seperti halnya kapal-kapal negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

(24)

22

Tahun 2007 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4775 ).

Untuk itulah maka penulis memilih judul “ ANALISIS YURIDIS PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM “

B. Perumuan Masalah

1. Bagaimana ketentuan pelaksanaan perjanjian jual beli kapal antar negara yang digunakan di Batam.

2. Bagaimana proses perjanjian jual beli kapal berbendera asing serta perlindungan hukum bagi para pihak terhadap perjanjian jual beli tersebut yang transaksinya dilakukan di Batam.

3. Bagaimana upaya penyelesaian sengketa yang terjadi dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing yang transaksinya dilakukan di Batam.

C. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan uraian permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

(25)

23

3. Untuk mengetahui upaya penyelesaian sengketa dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing yang transaksinya dilakukan di wilayah hukum Indonesia khususnya Batam.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

Diharapkan dengan adanya pembahasan mengenai tinjauan hukum terhadap perjanjian jual beli kapal berbendera asing di Indonesia khususnya yang dilaksanakan di Batam dapat membantu praktisi hukum khususnya Notaris, pelaku transaksi dapat mengetahui tatacara pelaksanaan perjanjian jual beli kapal berbendera asing dan apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban para pihak sebelum penandatanganan kontrak perjanjian jual beli dan apa saja yang harus di tuangkan didalam suatu akta kontrak perjanjian jual beli khususnya mengenai transaksi kapal asing tersebut.

2. Secara Praktis

(26)

24

E. Keaslian Penelitian

Penulisan ini berjudul “Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Jual Beli Kapal Berbendera Asing di Batam” yang diajukan ini adalah dalam rangka memenuhi tugas-tugas dan syarat-syarat untuk memperoleh gelar Magister Konoktariatan.

Penulisan tesis ini mengenai tinjauan yuridis terhadap Jual Beli Kapal Berbendera Asing belum pernah dibahas dan diangkat dalam tesis. Akan tetapi apabila ada kesamaan dengan milik orang lain, bukanlah suatu kesengajaan dan pastilah memiliki isi, permasalahan, riset yang berbeda pula. Dengan demikian penulisan tesis ini, tidak sama dengan penulisan tesis yang pernah ada, karena tesis ini dibuat sendiri dengan menggunakan literatur-literatur, sehingga tesis ini masih asli dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademik.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lain atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan tentang dunia. Ia adalah sarana yang ringkas untuk berpikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja.12

Pembahasan tentang hubungan kontraktual para pihak pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan masalah keadilan.

12

(27)

25

Kontrak sebagai wadah yang mempertemukan kepentingan satu pihak dengan pihak lain menurut bentuk pertukaran kepentingan yang adil. Oleh karena itu, sangat tepat dan mendasar apabila dalam melakukan analisis tentang azas proporsionalitas dalam kontrak justru dimulai dari aspek filosofis keadilan berkontrak. 13

Menurut L.J. Van Apeldoorn, bahwa keadilan itu memperlakukan sama terhadap hal yang sama dan memperlakukan tidak sama sebanding dengan ketidaksamaannya.14

Sehubungan dengan hakekat keadilan dalam kontrak , beberapa sarjana mengajukan pemikirannya tentang keadilan yang berbasis kontrak, antara lain John Locke, Rosseau, Immanuael Kant, serta John Rawls. Para pemikir tersebut menyadari bahwa tanpa kontrak serta hak dan kewajiban yang ditimbulkannya, maka masyarakat bisnis tidak akan berjalan. Oleh karena itu tanpa adanya kontrak orang tidak akan bersedia terikat dan bergantung pada pernyataan pihak lain. Kontrak memberikan sebuah cara dalam menjamin bahwa masing-masing individu akan memenuhi janjinya, dan selanjutnya hal ini memungkinkan terjadinya transaksi diantara mereka. 15

Kebebasan berkontrak pada dasarnya merupakan perwujudan dari kehendak bebas, pacaran dari hak asasi manusia yang perberkembangannya dilandasi oleh

13

Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas Proporsionallitas Dalam Kontrak Komersil, Kencana, Jakarta, 2010, hal 47

14

L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Ketakan XXX, Pradya Paramita, Jakarta, 2004, hal 11

15

(28)

26

semangat liberalisme yang mengagungkan kekebasan individu.16 Menurut paham

indivudualisme setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendaki yang di dalam perjanjian diwujudkan di dalam asas kebebasan berkontrak.

Penelitian ini merupakan penelitian hukum yuridis normatif, dan oleh karena itu kerangka teori yang diarahkan secara khas oleh ilmu hukum, dimana penelitian ini berusaha untuk memahami ketentuan yang mengatur serta masalah yang timbul dari perjanjian jual beli kapal asing yang dilakukan di Batam.

Kerangka teori itu akan digunakan sebagai landasan berfikir untuk menganalisa permasalahan yang dibahas dalam tesis ini yaitu mengenai Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Jual Beli Kapal Berbendera Asing di Batam. Dalam hal ini teori yang digunakan adalah Teori Keadilan, hal ini dipergunakan untuk memperoleh kepastian hukum terhadap para pihak dalam perjanjian jual beli kapal yang dalam prosesnya dibebankan kewajiban-kewajiban bagi para pihak.

Asas yang dianut Kitab Undang- Undang Hukum Perdata dalam membuat suatu perjanjian, yaitu:

a. Asas Konsensualisme yaitu bahwa dalam suatu perjanjian cukup ada suatu kata sepakat dari mereka yang membuat perjanjian tanpa diikuti oleh perbuatan hukum lain, kecuali perjanjian itu bersifat formil. Ini berarti bahwa perjanjian itu telah dianggap ada dan mempunyai akibat hukum yang mengikat sejak tercapainya kata sepakat.

b. Asas Kekuatan Mengikat (asas Pacta Sunt Servanda) merupakan asas dalam perjanjian yang berhubungan dengan keterikatan suatu perjanjian oleh para

16

(29)

27

pihak. Jadi, setiap perjanjian yang dibuat secara sah oleh para pihak akan mengikat bagi mereka yang membuatnya.

c. Asas Kebebasan Berkontrak (Partij Autonomie) Asas ini mengandung beberapa unsur, yaitu:

1. seseorang bebas untuk mengadakan atau tidak mengadakan perjanjian, 2. seseorang bebas mengadakan perjanjian dengan siapapun juga,

3. isi, syarat, dan luasnya perjanjian bebas ditentukan sendiri oleh para pihak.

Asas kebebasan berkontrak yang dianut dalam Pasal 1338 alinea ke satu KUHPerdata para pihak yang sepakat melakukan perjanjian dianggap mempunyai kedudukan yang seimbang serta berada dalam situasi dan kondisi yang bebas menentukan kehendaknya untuk melakukan perjanjian. Pasal 1338 alinea ke satu tersebut seolah-olah membuat suatu pernyataan bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian apa saja dan itu akan mengikat kita sebagaimana mengikatnya undang-undang.17

Asas kebebasan berkontrak juga ditegaskan dalam Pasal 1321 KUH Perdata yang mana menyatakan bahwa suatu kesepakatan itu dibuat harus bersifat bebas. Kesepakatan tidaklah sah apabila diberikan berdasarkan kekhilafan, atau diperolehnya dengan penipuan atau paksaan.

Ketentuan mengenai klausula kontrak merupakan konsekuensi dari upaya kebijakan untuk memposisikan para pihak supaya dalam kondisi yang seimbang,

17

(30)

28

yakni terdapatnya suatu hubungan kontraktual antara penjual dan pembeli dalam prinsip kebebasan berkontrak.“Pasal-pasal dari hukum perjanjian merupakan apa yang dinamakan hukum pelengkap (optional law), yang berarti pasal-pasal itu boleh disingkirkan manakala dikehendaki oleh pihak-pihak yang membuat suatu perjanjian.”18 Para pihak diperbolehkan mengatur sendiri kepentingan mereka dalam perjanjian-perjanjian yang diadakannya.

Kebebasan berkontrak adalah bila para pihak dikala melakukan perjanjian berada dalam situasi dan kondisi yang bebas menentukan kehendaknya dalam konsep atau rumusan perjanjian yang disepakati. Kesepakatan dalam perjanjian merupakan perwujudan dari kehendak dua atau lebih pihak dalam perjanjian mengenai apa yang mereka kehendaki untuk dilaksanakan, bagaimana cara melaksanakannya, kapan harus dilaksanakan, dan siapa yang harus melaksanakan.

Ada 2 (dua) prinsip hukum yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan suatu perjanjian atau kontrak, yaitu:

a. Beginselen der contractsvrijheid atau partij autonomie

b. Pacta sunt servanda

Beginselen der contractsvrijheid atau partij autonomie, yaitu para pihak bebas untuk memperjanjikan apa yang mereka inginkan dengan syarat tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Sedangkan pacta sunt servanda berarti bahwa “setiap janji harus ditepati (ini berarti mengikat)”.19

18

Subekti (1), Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, 2005, hal. 13. 19

(31)

29

Asas kebebasan berkontrak setiap orang diakui memiliki kebebasan untuk membuat kontrak dengan siapapun juga, menentukan isi kontrak, menentukan bentuk kontrak, memilih hukum yang berlaku bagi kontrak yang bersangkutan. “Jika asas konsensualisme berkaitan dengan lahirnya kontrak, asas kekuatan mengikatnya kontrak berkaitan dengan akibat hukum, maka asas kebebasan berkontrak berkaitan dengan isi kontrak.”20

Subekti, sebagaimana dikutip oleh Felix O. Subagjo memberikan pendapat mengenai kebebasan berkontrak sebagai:

“Tuntutan akan adanya sungguh-sungguh suatu perjumpaan kehendak, memang tidak dapat dipertahankan lagi dalam zaman moderen ini. Pernyataan yang menjadi dasar sepakat adalah pernyataan yang secara objektif dapat dipercaya. Adanya perjumpaan kehendak (consensus) sudah tepat jika diukur dengan pernyataan yang bertimbal balik yang telah dikeluarkan. Hakim dapat mengkonstruksikan adanya sepakat dari perjanjian dengan adanya pernyataan bertimbal balik” 21

Pendapat yang sama juga diberikan Rutten terhadap asas kebebasan berkontrak, sebagaimana dikutip oleh Abdul Kadir Muhammad,. Dalam asas kebebasan berkontrak setiap orang bebas untuk:

a. Mengadakan perjanjian atau tidak mengadakan perjanjian; b. Memilih mengadakan perjanjian dengan siapapun;

c. Menentukan isi, syarat-syarat, dan bentuk perjanjian yang dibuat;

20

Ridwan Khairandy, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003, hal. 29.

21

Felix O. Subagjo, Perkembangan Asas-asas Hukum Kontrak dalam Praktek Bisnis, Badan Pembinaan

(32)

30

d. Menentukan ketentuan hukum mana yang berlaku bagi perjanjian yang dibuatnya.”22

Hasanudin Rahman juga mengemukakan, adapun ruang lingkup dari asas kebebasan berkontrak menurut hukum perjanjian Indonesia meliputi:

a. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian;

b. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian;

c. Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari perjanjian yang akan dibuat;

d. Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian; e. Kebebasan untuk menentukan bentuk perjanjian;

f. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional.23

PS. Atiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Ridwan Khairandy menyatakan bahwa kontrak didasarkan pada kehendak bebas para pihak dalam berkontrak, tidak hanya bagi terciptanya kontrak, tetapi juga definisi dan validitas isi kontraknya. Kebebasan berkontrak menolak kebiasaan yang mengatur isi kontrak, dan juga menolak ajaran bahwa “an objectively just price exist for any objects susceptible to exchange.”

Menurut Sutan Remi Sjahdeini yang dikutip oleh Agus Yudha Hernoko, asas kebebasan berkontrak menurut hukum perjanjian Indonesia meliputi ruang lingkup sebagai berikut :

a. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian.

b. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat

(33)

31

c. Kebebasan untuk menentukan atau memilih kausa dari perjanjian yang akan dibuat.

d. Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian. e. Kebebasan untuk menentukan bentuk perjanjian.

f. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional (aanvullend, optional).24

Di dalam Pasal 1338 alinea ke tiga KUHPerdata, hakim diberi kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan suatu perjanjian, agar pelaksanaan perjanjan yang dibuat sesuai dengan itikad baik dan agar jangan sampai perjanjian itu melanggar “kepatutan dan keadilan”. Ini berarti hakim berkuasa menindak penyimpangan dari isi perjanjian, manakala pelaksanaan perjanjian menurut klausula yang dicantumkan oleh para pihak bertentangan dengan itikad baik sebagai suatu tuntutan keadilan sesuai dengan ketentuan Pasal 1337 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa :

suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum.

Dalam lingkup KUHPerdata, contoh implementasi prinsip equity tampak jelas dalam dalam rumusan pasal 1339 KUHPerdata berbunyi :

Perjanjian –perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tapi juga untuk segala sesuatu yang menurut

24

(34)

32

sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan (billijkheid), kebiasaan, atau undang-undang.25

Substansi Pasal 1339 KUHPerdata ini mengarisbawahi pentingnya kepatutan (equity, billijkeheid) dalam kaitannya dengan keterikatan kontraktual para pihak, disamping apa yang telah disepakati dalam kontrak. Pasal 1339 KUHPerdata tersebut, khusus yang berhubungan dengan kepatutan pada umumnya selalu dihubungkan dengan pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata bahwa “Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikat baik”.

Dalam memutuskan suatu sengketa yang berhubungan dengan kontrak Hakim semestinya harus memperhatikan terlebih dahulu apa yang diperjanjikan oleh para pihak yang berkontrak, baru kemudian jika sesuatu hal tidak diatur dalam surat perjanjian dan dalam undang-undang tidak terdapat suatu ketetapan mengenai hal itu.26 Untuk itu disini hakim harus menyelidiki bagaimanakah biasanya hal yang semacam itu diaturnya di dalam praktek. Jika ini juga tidak diketahuinya, karena mungkin hal itu belum banyak terjadi, hakim harus menetapkannya menurut perasaan keadilan.

Perjanjian itu menimbulkan suatu perikatan antara orang yang membuatnya. Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Dorongan pembatasan

25

Lihat Pasal 1339, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 26

(35)

33

kebebasan berkontrak ini tampil kepermukaan guna lebih menyediakan ruang dan peluang yang lebih besar pada pengertian-pengertian keadilan, kebenaran, kesusilaan, serta ketertiban umum. Hal ini terjadi karena perjanjian merupakan dasar dari banyak kegiatan bisnis dan hampir semua kegiatan bisnis diawali dengan adanya perjanjian atau kontrak, meskipun dalam tampilan yang sangat sederhana sekalipun.27

Perjanjian yang memuat klausula eksonerasi muncul seiring dengan perkembangan asas kebebasan berkontrak. Klausula eksonerasi ini tidak hanya terdapat dalam perjanjian baku atau kontrak standar tetapi juga dalam perjanjian kerjasama yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih. Sebelum masuknya konsep

welfare state, asas kebebasan berkontrak yang muncul bersamaan dengan lahirnya paham ekonomi klasik yang dipelopori Adam Smith, mengagungkan laissez faire

(persaingan bebas).”28 Antara paham ekonomi klasik dan dan persaingan bebas saling mendukung dan berakar pada paham hukum alam. Kedua paham tersebut melihat individu mengetahui kepentingan mereka yang paling baik dan cara mencapainya, disebabkan karena manusia sebagai individu mempergunakan akalnya.

Menurut hukum alam individu-individu diberi kebebasan untuk menetapkan langkahnya dengan sekuat akal dan tenaganya untuk mencapai kesejahteraan yang optimal. Berhasilnya individu mencapai kesejahteraan maka masyarakat yang merupakan kumpulan dari individu-individu tersebut akan menjadi sejahtera pula,

27

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 9. 28

(36)

34

oleh karena itu untuk mencapai kesejahteraannya individu harus mempunyai kebebasan bersaing dan negara tidak boleh ikut campur tangan. “Seiring dengan asas

laissez faire tersebut, freedom of contract merupakan pula prinsip umum dalam mendukung berlangsungnya persaingan bebas tersebut.”29

2. Konsepsi

Para ahli memberikan pengertian mengenai klausula eksonerasi ini sebagai berikut:

Sebagaimana yang dikutip oleh Mariam Darus Badrulzaman, Rijken mengatakan bahwa: “klausula eksonerasi adalah klausula yang dicantumkan dalam suatu perjanjian dengan mana satu pihak menghindarkan diri untuk memenuhi kewajibannya membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas, yang terjadi karena ingkar janji atau perbuatan melanggar hukum”.30

Sutan Remi Sjahdeini mengartikan klausula eksonerasi dengan “klausul eksemsi”, yang dikatakan sebagai klausul yang bertujuan untuk membebaskan atau membatasi tanggungjawab salah satu pihak tehadap gugatan pihak lainnya dalam hal yang bersangkutan tidak atau tidak dengan semestinya melaksanakan kewajibannya yang ditentukan di dalam perjanjian tersebut.

Az. Nasution mengatakan klausula eksonerasi sebagai syarat-syarat yang membebaskan seseorang tertentu dari beban tanggungjawab karena terjadinya sesuatu

29

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalamPerjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Banking Indonesia, Jakarta 1993, hal. 8.

30

(37)

35

akibat perbuatan. Dengan kata lain, dibebaskannya seseorang tertentu dari suatu beban tanggungjawab.

Pasal 1313 KUHPerdata memberikan rumusan kontrak atau perjanjian adalah “suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.31

Abdul Kadir Muhammad menyatakan bahwa ketentuan Pasal 1313 KUH Perdata tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:

a. Hanya menyangkut sepihak saja. Hal ini diketahui dari perumusan “satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

b. Kata “perbuatan” mencakup juga tanpa konsensus. Sebaiknya dipakai kata “persetujuan”, bukan “perbuatan”, karena konsensus berarti sepakat atau setuju. Suatu perjanjian dinamakan persetujuan di mana dua pihak sudah setuju atau sepakat mengenai suatu hal.

c. Pengertian perjanjian dalam pasal tersebut terlalu luas, karena mencakup juga kelangsungan perkawinan, janji kawin, yang diatur dalam lapangan hukum keluarga. Padahal yang dimaksud adalah hubungan dalam lapangan hukum kekayaan. Perjanjian yang dikehendaki oleh Buku III KUH Perdata hanyalan perjanjian yang bersifat kebendaan, bukan perjanjian personal.

d. Tanpa menyebutkan tujuan. Dalam rumusan pengertian tersebut tidak disebutkan tujuan mengadakan perjanjian, sehingga pihak-pihak itu tidak jelas mengikatkan diri untuk apa.”32

Atas dasar alasan-alasan diatas, Abdul Kadir Muhammad merumuskan pengertian perjanjian yaitu: suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk hal dalam lapangan kekayaan.

31

Lihat pasal 1313 KUHPerdata 32

(38)

36

Menurut Wirjono Prodjodikoro, “suatu perjanjian diartikan sebagai suatu perbuatan hukum mengenai benda kekayaan antara dua pihak, dalam hal mana saja satu pihak berjanji untuk melakukan suatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan perjanjian itu.”33 Subekti menyatakan “perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seseorang berjanji kepada orang lain, atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melakukan suatu hal.

Menurut pendapat R. Setiawan bahwa “perjanjian adalah suatu perbuatan hukum, di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.”34

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang terdapat dari literature buku-buku maupun ilmu teknologi. Hal ini disebabkan, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secaraa sistematika, metodologis, dan konsisten. Metode yang diterapkan harus senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.35

1. Sifat dan Jenis Penelitian

a. Sifat Penelitian

33

Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perjanjian, PT. Bale, Bandung, 1983, hal. 5. 34

R. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 1987, hal. 49. 35

(39)

37

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Dikatakan bersifat deskriptif karena dalam penelitian ini diharapkan memperoleh gambaran yang menyeluruh, lengkap, dan sistematis mengenai bentuk-bentuk dan pelaksanaan klausula eksonerasi yang terdapat dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing di Batam

Bersifat analitis maksudnya bahwa penelitian ini tidak hanya memaparkan apa yang telah diteliti, akan tetapi juga dianalisis terhadap aspek hukum dari penggunaan klausula eksonerasi tersebut.

b. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang diterapkan adalah memakai metode pendekatan

yuridis normatif untuk mengkaji peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perjanjian jual beli kapal asing di Batam, sehingga diketahui apakah kontrak jual beli di antara pihak telah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku sesuai dengan ketentuan Hukum Perdata Internasional Indonesia dan ketentuan Hukum Perdata Internasional yang dianut oleh negara Internasional secara umumnya.

Maka dari itu dengan dilakukannya penelusuran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan serta konvensi-konvensi internsional yang berkaitan dengan jual beli antar negara dapat diketahui kebenaran dalam pelaksanaannya baik secara teori maupun praktek.

2. Teknik Pengumpulan Data

(40)

38

Observasi atau pengamatan yang dilakukan berupa observasi sistematis yang terikat pada syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan Claire Selltiz sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto, yaitu:

1. Pengamatan didasarkan pada suatu kerangka konsepsional dan teoritis.

2. Dilakukan secara sistematis, metodologis, dan konsisten.

3. Dilakukannya pencatatan data dari pengamatan.

4. Dapat diuji kebenarannya.”36

b. Melakukan wawancara dengan pihak pihak yang terkait dalam hal ini adalah pihak yang membuat perjanjian jual beli yaitu Notaris, Syahbandar dan Kantor Pelayanan Pajak.

c. Dalam pengumpulan data ini merupakan landasan utama penyusunan tesis, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dan penulis membaca literatur berupa Perundang-undangan dan sumber lain yang berhubungan dengan perjanjian jual beli.

3. Sumber Data

Penulisan tesis ini memerlukan data primer maupun data sekunder, dengan melakukan penelitian sebagai berikut :

a. Penelitian Lapangan (field research)

36

(41)

39

Penelitian lapangan ini bertujuan untuk memperoleh data primer yang langsung diperoleh di lapangan melalui wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan penulisan tesis ini seperti Notaris, Syahbandar, Kantor Pajak. Dalam penelitian ini akan diwawancara langsung notaris, Kepala Syahbandar dan Kepala Bagian Pelayanan Pajak di Batam.

b. Penelitian Kepustakaan (library research)

Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder dengan melakukan penelitian terhadap bahan-bahan hukum yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, dilakukan terhadap:

1. Bahan hukum primer, yaitu: bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat,

berupa peraturan perundang-undangan, diantaranya:

a. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), b. Kitab Undang Undang Hukum Dagang

c. Konvensi-konvensi Internasional tentang jual beli kemaritiman d. Putusan-putusan Mahkamah Internasional

(42)

40

Menteri Perhubungan Nomor : KM. 26 Tahun 2006 tentang Penyederhanaan Sistem dan Prosedur Pengadaan Kapal dan Penggunaan / Penggantian Bendera Kapal dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-46/PJ/2010 tentang Tata Cara Pemberian Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai Atas Impor atau Penyerahan Kapal Untuk Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu: bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, berupa buku atau karya ilmiah dari para ahli hukum;

3. Bahan hukum tersier, yaitu: bahan hukum pelengkap dari bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus hukum.

4. Analisis Data

(43)

41

kerangka konseptual. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bagaimana bentuk-bentuk serta pelaksanaan klausula eksonerasi dan kaitannnya dengan perlindungan para pihak khususnya dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing.

BAB II

KETENTUAN PELAKSANAAN JUAL BELI ANTAR NEGARA

MENURUT KETENTUAN HUKUM PERDATA INDONESIA

A.Tinjauan Umum Tentang Pengertian Umum Perjanjian Jual Beli

(44)

42

1457 sampai dengan pasal 1540 KUHPerdata. Yang dimaksud dengan perjanjian jual beli sebagaimana yang diatur dalam pasal 1457 KUHPerdata adalah persetujuan, dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan , dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah diperjanjikan. Perjanjian jual beli dikatakan pada umumnya merupakan perjanjian konsensual karena ada juga perjanjian jual beli termasuk perjanjian formal, yaitu yang mengharuskan dibuat dalam bentuk tertulis yang berupa akta autentik, yakni jual beli barang yang tidak bergerak.37

Menurut Subekti, didalam hukum Inggris perjanjian jual beli (contract of sale) dapat dibedakan menjadi 2 (dua ) macam, yaitu sale ( actual sale ) dan

agreement to sell. Hal ini terlihat dalam section 1 ayat (3 ) dan Sale of Goods Act

1893. Sale adalah suatu perjanjian sekaligus dengan pemindahan hak milik (compeyance ), sedangkan agreement to sell adalah tidak lebih dan suatu koop overeenkomt ( perjanjian jual beli ) biasa menurut KUHPerdata. Apabila dalam suatu sale sipenjual melakukan wanprestasi maka sipembeli dapat menggunakan upaya dari seseorang pemilik, sedangkan dalam agreement to sell, si pembeli hanya mempunyai personal remedy ( kesalahan perorangan) terhadap si penjual yang masih merupakan pemilik dari barangnya (penjual) jatuh pailit, barang itu masuk boedel kepailitan.38

37

Ahmadi Miru , Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011 hal 126-127.

38

(45)

43

Menurut Salim H.S. perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak penjual dan pembeli. Didalam perjanjian itu pihak penjual berkewajiban untuk menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga dan pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek tersebut. 39

Unsur yang terkandung dalam defenisi tersebut diatas adalah : a. Adanya subjek hukum yaitu penjual dan pembeli.

b. Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga; c. Adanya hak dan kewajiban yang timbul antara penjual dan pembeli.

Dalam hal jual beli barang misalnya; oleh karena penjual barang adalah berarti menyerahkan barang kepada orang lain dengan menerima uang dari pihak lain itu, maka dapat dikatakan , bahwa selama barangnya belum diserahkan, belum terjadi suatu penjualan , dan dengan sendirinya barang itu tetap masuk pertanggungan jawab orang yang memegangnya. Artinya kalau barang itu musnah diluar kesalahan si penjual , maka sipembeli terlepas dari kewajiban untuk membayar uang harga pembelian. Ini merupakan satu contoh dari hal yang suatu peraturan dari KHUPerdata sebaiknya tidak diambil alih dalam suatu kodifikasi dari Hukum Perdata Indonesia. 40

1. Sifat dan Bentuk Perjanjian Jual Beli

39

Salim, H.S, Hukum Kontrak dan Teknik Penyusunan Kontrak , cetakan Ketiga, Sinar Grafika, Jakarta, 2005,

hal 49. 40

(46)

44

Terkait isi kontrak , kepustakaan hukum kontrak membaginya dalam beberapa unsur, yaitu :

a. Unsur Esensialia, merupakan unsur yang mutlak harus ada dalam suatu kontrak .

Dalam hal jual beli kapal maka barang dan harga merupakan unsur

esensialia dalam perjanjian tersebut.

b. Unsur Naturalia, merupakan unsur yang ditentukan oleh undang-undang sebagai peraturan yang bersifat mengatur , namun demikian dapat disimpangkan oleh para pihak. Misalnya Penanggungan (vrijwaring) c. Unsur Accidentalia, merupakan unsur yang ditambahkan oleh para

pihak dalam hal undang-undang tidak mengaturnya. misalnya : jual beli rumah dan perabotnya. 41

Sifat dan bentuk perjanjian jual beli merupakan salah satu bagian dari azas dalam hukum perjanjian yang lebih kita kenal dengan azas konsensualisme, hal ini dapat kita lihat di dalam pasal 1320 jo pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Di dalam azas ini terkandung kehendak para pihak untuk saling mengikatkan diri dan menimbulkan kepercayaan diantara para pihak terhadap pemenuhan perjanjian.42

Azas konsensualisme merupakan roh dari suatu perjanjian dalam arti apabila kata sepakat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berada dalam kerangka yang sebenarnya, dalam arti terdapat cacat kehendak, maka hal ini akan mengancam eksistensi kontrak itu sendiri. Pada akhirnya pemahaman terhadap azas konsensualisme tidak terpaku sekedar mendasarkan kepada kata sepakat saja tetapi syarat-syarat lain dalam

41

Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Jakarta 1987, hal 57-58 42

(47)

45

pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata telah terpenuhi sehingga kontrak tersebut menjadi sah.43

Sebagaimana itegaskan dalam pasal 1457 KUH Perdata azas konsensualisme yang menjiwai hukum perdata , perjanjian jual beli itu dilahirkan pada detik tercapainya sepakat mengenai barang dan harga begitu kedua belah pihak setuju dengan harga barang-barang maka lahirlah perjanjian jual beli yang sah. 44

2. Penyerahan Benda Yang Diperjual Belikan

Pada dasarnya, di dalam KUHPerdata terjadinya kontrak jual beli antara penjual dan pembeli adalah pada saat terjadinya persesuaian kehendak dan pernyataan antara mereka tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar lunas.45

Walaupun perjanjian jual beli mengikat para pihak setelah tercapainya kesepakatan, namun tidak berarti bahwa hak milik atas barang yang diperjual belikan tersebut akan beralih pula bersamaan dengan tercapainya kesepakatan karena untuk beralihnya hak milik atas barang yang diperjual belikan dibutuhkan penyerahan. 46

43

Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Azas Proporsional dalam Kontrak Komersil “ Kencana, Jakarta, 2010, hal 122-123

44

Pasal 1457 KUHPerdata berbunyi : “Jual beli dianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika mereka mencapai sepakat tentang harga barang-barang, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar” .

45

Lihat pasal 1458 KUHPerdata 46

(48)

46

Cara penyerahan benda yang diperjual belikan berbeda berdasarkan kualifikasi barang yang diperjual belikan tersebut. Adapun cara penyerahan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Barang bergerak bertubuh, cara penyerahannya adalah penyerahan nyata dari tangan penjual atau atas nama penjual ke tangan pembeli, akan tetapi penyerahan secara langsung dari tangan ke tangan tersebut tidak terjadi jika barang tersebut dalam jumlah sangat banyak sehingga tidak mungkin diserahkan satu-persatu, sehingga dapat dilakukan dengan simbul tertentu ( penyerahan simbolis ), misalnya ; penyerahan kunci gudang sebagai simbol dari penyerahan barang yang ada dalam gudang tersebut.

Pengecualian lain yang bersifat umum atas penyerahan nyata dari tangan ke tangan tersebut adalah :

- Barang yang dibeli tersebut sudah ada ditangan pembeli sebelum penyerahan benda tersebut dilakukan, misalnya barang tersebut sebelumnya telah dipinjam oleh pembeli.

- Barang yang dibeli tersebut masih berada ditangan penjual pada saat penyerahan karena adanya perjanjian lain, misalnya barang yang sudah dijual tersebut langsung dipinjam oleh penjual;

(49)

47

2. Barang bergerak tidak bertubuh dan piutang atas nama, cara penyerahannya adalah dengan melalui akta dibawah tangan atau akta autentik. Akan tetapi, agar penyerahan piutang atas nama tersebut mengikat bagi siberutang , penyerahan tersebut harus diberi tahukan kepada siberutang atau disetujui atau diakui secara tertulis oleh siberutang.

3. Barang tidak bergerak atau tanah, cara penyerahannya adalah melalui pendaftaran atau balik nama.47

Dalam pasal 1460 KUHPerdata, menyebutkan bahwa : Benda/barang yang sudah ditentukan dijual maka barang itu saat pembelian menjadi tanggungan si pembeli, walaupun barang itu belum diserahkan. Namum ketentuan itu telah dicabut dengan SEMA Nomor 3 Tahun 1963, sehingga ketentuan itu tidak dapat diterapkan secara tegas, namun penerapannya harus memperhatikan :

a. Bergantung pada letak dan tempat beradanya barang itu, dan

b. Bergantung pada yang melakukan kesalahan atas musnahnya barang tersebut.

Apabila karena kelalaian penjual, penyerahan tersebut tidak dapat dilaksanakan, pembeli dapat menuntut pembatalan perjanjian atas alasan bahwa si penjual tidak memenuhi kewajibannya. Hal ini didasarkan pada ketentuan pasal

47

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...