• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sifat Fisika, Kimia, Dan Biologi Tanah Pada Daerah Buffer Zone Dan Resort Sei Betung Di Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Sifat Fisika, Kimia, Dan Biologi Tanah Pada Daerah Buffer Zone Dan Resort Sei Betung Di Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SIFAT FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI TANAH PADA

DAERAH BUFFER ZONE DAN RESORT SEI BETUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER KECAMATAN BESITANG

SKRIPSI

OLEH :

AGUSTIA LIDYA NINGSIH 070303023

ILMU TANAH

DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS SIFAT FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI TANAH PADA

DAERAH BUFFER ZONE DAN RESORT SEI BETUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER KECAMATAN BESITANG

SKRIPSI

OLEH :

AGUSTIA LIDYA NINGSIH 070303023

ILMU TANAH

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Agar Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Depertemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

Menyetujui Komisi Pembimbing :

Ketua Anggota

( Ir. Hardy Guchi, MP. ) (Ir. Bachtiar Effendi Hasibuan, MS) NIP. 19560812 198603 1 001 NIP. 19470514 197412 1 001

DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Skripsi : Analisis Sifat Fisika, Kimia, Dan Biologi Tanah Pada Daerah Buffer Zone Dan Resort Sei Betung Di Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang

Nama : Agustia Lidya Ningsih NIM : 070303023

Departeman : Ilmu Tanah

Program Studi : Bioteknologi Tanah

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Ir. Hardy Guchi, MP. Ir. Bachtiar Effendi Hasibuan, Ms.

Ketua Anggota

Mengetahui

Ir.T. Sabrina MSc. PhD. Ketua Departemen Agroekoteknologi

DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah pada hutan dan hutan yang sudah dibuka pada daerah Buffer Zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Yang dimulai pada bulan April hingga Mei 2011. Penelitian ini mengambil 12 titik sampel tanah sebagai bahan penelitian, yaitu 6 sampel pada hutan asli dan 6 sampel pada hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian. Metode yang digunakan adalah Survei Bebas tingkat survei semi detail dan analisis data kandungan bahan organik tanah dengan metode Walkley and Black, hara Nitrogen total tanah dengan metode Kjeldhalterm, Tekstur tanah dengan metode Hidrometer, pH tanah dengan metode Elektrometri, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dengan metode Ekstraksi NH4OAc pH 7 serta nisbah C/N tanah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah dan rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). N-total tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan). Rasio C/N tanah digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), rendah, sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). pH tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni sangat masam, masam dan agak masam. Tekstur tanah lebih dominan lempung berpasir. Kapasitas Tukar Kation tanah digolongkan dalam 1 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan)

Kata kunci: Survei Tanah, Taman Nasional Gunung Leuser, NH4OAc pH 7,

Walkley & Black.

(5)

ABSTRACT

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “ Analisis Sifat Fisika, Kimia dan Biologi Tanah Pada Daerah Buffer Zone dan Resort Sei Betung di Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang”, yang merupakan salah satu syarat agar mendapat gelar sarjana dari Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Hardy Guchi, MP. dan Bapak Ir. Bachtiar Effendi Hasibuan, MS., selaku ketua

dan anggota komisi pembimbing, dan seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak.

Medan, September 2011

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... ... i

ABSTRACT... ... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP... ... iii

KATA PENGANTAR... ... iv

DAFTAR ISI...v

DAFTAR TABEL. ... vi

DAFTAR LAMPIRAN. ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ...1

Tujuan Penelitian. ...2

Kegunaan Penelitian ...2

TINJAUAN PUSTAKA Taman Nasional Gunung Leuser...3

Alih fungsi hutan Taman Nasional Gunung Leuser...5

Bahan Organik ...6

Tekstur Tanah ...9

pH (potensial hidrogen) ...10

Nitrogen total tanah ...11

Kapasitas Tukar Kation ...14

Rasio C/N ...15

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu ...17

Bahan dan Alat...17

Metode Penelitian ...18

Pelaksanaan Penelitian. ...18

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Wilayah. ...20

Bahan Organik ...21

Nitrogen total tanah ...23

Rasio C/N ...25

pH (potensial hidrogen) ...26

Tekstur Tanah ...27

(8)

KESIMPULAN DAN SARAN

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Teks

1. Hasil Analisis data C-Organik tanah ...21

2. Hasil Analisis data N-total tanah...23

3. Hasil Analisis data Rasio C/N tanah ...25

4. Hasil Analisis data pH tanah ...26

5. Hasil Analisis data Tekstur tanah...28

(10)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah pada hutan dan hutan yang sudah dibuka pada daerah Buffer Zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Yang dimulai pada bulan April hingga Mei 2011. Penelitian ini mengambil 12 titik sampel tanah sebagai bahan penelitian, yaitu 6 sampel pada hutan asli dan 6 sampel pada hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian. Metode yang digunakan adalah Survei Bebas tingkat survei semi detail dan analisis data kandungan bahan organik tanah dengan metode Walkley and Black, hara Nitrogen total tanah dengan metode Kjeldhalterm, Tekstur tanah dengan metode Hidrometer, pH tanah dengan metode Elektrometri, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dengan metode Ekstraksi NH4OAc pH 7 serta nisbah C/N tanah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah dan rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). N-total tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan). Rasio C/N tanah digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), rendah, sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). pH tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni sangat masam, masam dan agak masam. Tekstur tanah lebih dominan lempung berpasir. Kapasitas Tukar Kation tanah digolongkan dalam 1 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan)

Kata kunci: Survei Tanah, Taman Nasional Gunung Leuser, NH4OAc pH 7,

Walkley & Black.

(11)

ABSTRACT

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis terluas kedua didunia. Di sisi lain, tingkat deforestasi di Indonesia juga terkenal sangat tinggi, terutama dikarenakan illegal logging, perambahan hutan, konversi hutan untuk lahan pertanian, dan kebakaran hutan. Tingginya konversi hutan alam menjadi berbagai peruntukan lahan tersebut diyakini menjadi penyebab utama tingginya intensitas dan frekuensi bencana banjir dan tanah longsor sebagaimana kini banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu taman nasional terbesar di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi yang juga merupakan kawasan penyangga. Perlindungan terhadap TNGL dan kawasan disekitarnya sangat penting artinya bagi pembangunan regional, nasional dan bahkan internasional. Rusaknya kawasan TNGL mengakibatkan kerusakan fungsi ekosistemnya yang menyebabkan kerusakan hulu daerah aliran sungai yang berfungsi hidrologis untuk kelangsungan ketersediaan air, khususnya Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (CIFOR, 2009).

(13)

Faktor-faktor yang menekan proses kerusakan hutan di TNGL adalah disebabkan konversi hutan untuk kebutuhan pemukiman, lahan pertanian, perkebunan, dan industri. Penyebab lainnya adalah aktivitas illegal logging, dan kebakaran hutan. Cara yang paling sering ditempuh oleh pengusaha untuk memenuhi lahan perkebunan kelapa sawit adalah melakukan konversi kawasan hutan, karena mekanisme mendapatkannya relatif mudah dan memperoleh keuntungan dari kayu hasil tebangan. Hampir semua tanaman kelapa sawit yang ada sekarang adalah areal pertanaman baru berasal dari areal hutan produksi yang dikonversi (FWI, 2008).

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui sifat fisika, kimia, dan biologi tanah pada daerah buffer zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui sifat fisika, kimia, dan biologi tanah pada daerah buffer zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang.

Kegunaan Penelitian

- Sebagai bahan informasi bagi peneliti dan masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Leuser tentang perubahan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah akibat alih fungsi lahan hutan.

- Sebagai salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

(14)

TINJAUAN PUSTAKA

Taman Nasional Gunung Leuser

Bentang Alam Kawasan Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser luasnya adalah 2.600.000 hektar, meliputi: provinsi Nangroe Aceh Darussalam yaitu ± 2.255.577 Ha dan provinsi Sumatera Utara yaitu ± 384.294 Ha. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu taman nasional yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia, juga ditetapkan sebagai “Sister Park” dengan Taman Negara National Park di Malaysia. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan. Hampir seluruh kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun (TFCA Sumatera, 2010).

Berdasarkan ketinggian di atas permukaan laut, ekosistem di TNGL dibedakan menjadi:

1. Pantai dan Hutan Rawa

Di belakang pantai di Kluet tumbuh pohon dari jenis Casuarina, di belakangnya ada hutan rawa.

2. Hutan Hujan Dataran Rendah

(15)

rambutan, citrus, dan tanaman eksotik seperti pungeh dan puntoh. Rafflesia dan Rhizantes hidup di lantai hutan ini.

3. Hutan Sub Montana (1000 – 1500 mdpl)

Pepohonan lebih kecil dan padat, lebih banyak cahaya yang masuk. 4. Hutan Pegunungan (> 1500 mdpl)

Tipe tanah yang ada bersifat asam yang ditumbuhi oleh flora seperti anggrek, Rhododendron, semak-semak dan tanaman yang bermacam-macam warna.

5. Sub Alphine (> 2000 mdpl)

Didominasi oleh tanaman bunga dan tumbuhan obat. (TFCA Sumatera, 2010).

Di masa lalu, fungsi hidrologis hutan sempat menjadi topik diskusi yang hangat. Kelompok yang berpegang pada teori spon (sponge theory) menyatakan bahwa hutan melalui akar pohon, seresah, dan tanah mampu menyimpan air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Pada proses pengkonversian tutupan hutan, fungsi ”spon” pada hutan menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Dengan berkurangnya tutupan hutan, hasil air tahunan cenderung meningkat karena tidak ada atau berkurangnya jumlah air yang dilepaskan melalui transpirasi. Jika tutupan hutan yang dikonversi tidak terlalu besar, jumlah air yang disimpan masih dapat dilepaskan sepanjang tahun secara kontinyu sebagai aliran dasar. Sebaliknya, jika hutan dikonversi secara besar-besaran atau secara total, jumlah air yang tersimpan sebagai air tanah sangat minim jumlahnya sehingga pada saat

(16)

Alih Fungsi Hutan Taman Nasional Gunung Leuser

Konversi hutan alam menjadi berbagai peruntukan terus berlanjut dengan laju yang sangat cepat. Setiap menitnya hutan alam seluas enam kali lapangan sepak bola rusak atau berubah menjadi peruntukan lain. Bank Dunia menaksir bahwa hutan alam dataran rendah Sumatera habis pada tahun 2005 dan menyusul Kalimantan pada tahun 2010. Data terakhir menyebutkan bahwa laju deforestasi di Indonesia sudah mencapai 2,83 juta ha per tahun (Dephut, 2005).

Kondisi hutan Indonesia yang diindikasikan dari luas penutupannya menunjukkan gambaran yang makin memprihatinkan. Sejalan dengan konversi hingga kini desakan untuk perluasan kebun sawit makin kuat. Minyak sawit mentah (CPO) menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. Wilayah Sumatera dan Kalimantan merupakan wilayah utama pengembangan kelapa sawit. Pada tahun 2003, dari kurang lebih 5,25 juta ha lahan yang dialokasikan untuk kelapa sawit, sekitar 19 % ada di Kalimantan dan 72% di Sumatera. Perluasan areal tanaman ini dimulai sejak investasi asing dibuka kembali pada tahun 1967 dan mulai meningkat kejayaannya pada tahun 1990-an. Dari luas 105.808 ha pada tahun 1967, areal perkebunan kelapa sawit berkembang menjadi 5,59 juta ha pada tahun 2005. Diprediksi perluasan perkebunan kelapa sawit masih akan terus dilakukan sampai 13,8 juta ha pada tahun 2020 (FWI, 2008).

(17)

hutan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit antara tahun 1999-2000 (ISAI, 2007).

Bahan Organik

Beberapa tahun terakhir terjadi penebangan pepohonan besar-besaran dan serentak di hutan maupun perkebunan baik secara legal maupun ilegal (penjarahan). Akibatnya sama saja yaitu terbukanya permukaan tanah pada saat yang sama. Pada musim kemarau terik matahari mengenai permukaan tanah secara langsung, akibatnya terjadi percepatan proses-proses reaksi kimia dan biologi, salah satunya adalah penguraian bahan organik tanah (dekomposisi). Sebaliknya, air hujan yang jatuh selama musim penghujan tidak ada yang menghalangi sehingga memukul tanah secara langsung, berakibat pada pecahnya agregat tanah, meningkatnya aliran air dipermukaan, dan sekaligus mengangkut partikel tanah serta bahan lain termasuk bahan organik (Widianto, dkk, 2001).

Kandungan bahan organik tanah menentukan kepekaan tanah terhadap erosi karena bahan organik mempengaruhi kemantapan struktur tanah. Tanah-tanah yang cukup mengandung bahan organik umumnya menyebabkan struktur tanah menjadi mantap sehingga tahan terhadap erosi. Kandungan bahan organik yang kurang dari 2% umumnya peka terhadap erosi (Hardjowigeno, 2003).

(18)

tanah. Dalam memainkan peranannya bahan organik sangat ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh kelancaran dekomposisinya, serta hasil dekomposisi itu sendiri (Hakim, dkk, 1986).

Tahap akhir hasil dekomposisi bahan organik adalah : (1) senyawa resisten berupa humus, (2) senyawa sederhana berupa CO2 dan air, serta unsur hara

tersedia seperti nitrat, dan lain-lain. Hasil akhir berupa gas CO2 jika terakumulasi

dapat bereaksi dengan air membentuk asam karbonat yang meskipun asam lemah, namun jika terakumulasi akan terurai menjadi HCO3- + H+ yang memasamkan

tanah (Hanafiah, 2005).

Biasanya, perubahan besar terjadi bila tanah asli baik hutan maupun prairi, dibuka untuk ditanami. Biasanya penurunan kadar organik dan nitrogen berlangsung secara berangsur-angsur. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau didapatkan pada tanah yang sudah dibuka kandungan bahan organik jauh lebih

rendah, mungkin 30 sampai 60% bila dibandingkan dengan tanah asli (Buckman and Brady, 1982).

(19)

dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah (Marpaung, 2009).

Bahan organik berperan dalam perbaikan sifat fisik dan kimia tanah. Peranannya terhadap perbaikan sifat fisik menyangkut pemeliharaan struktur tanah dengan stabilitas agregat yang tinggi, memperbaiki distribusi ukuran pori dan kapasitas tanah menyimpan air (water holding capacity), serta meningkatkan daya retensi air. Adapun peranan bahan organik terhadap perbaikan sifat kimia, diantaranya menyangkut peningkatan kapasitas tukar kation atau cation exchange capacity (CEC), dan pelepasan unsur N, P, S dan unsur-unsur hara mikro dalam proses mineralisasinya. Disamping itu, bahan organik dapat mengimmobilisasi bahan-bahan kimia buatan yang diberikan ke tanah sehingga tidak memberi dampak merugikan terhadap pertumbuhan tanaman, mengkomplek logam-logam berat sehingga mengurangi tingkat pencemaran terhadap tanah dan air tanah, serta meningkatkan kapasitas sangga (buffer capacity) tanah. Bahan organik tanah merupakan indikator kunci kualitas tanah, baik untuk fungsi pertanian (produksi dan ekonomi) maupun fungsi lingkungan. Kandungan bahan organik tanah merupakan penentu aktivitas biologi tanah. Jumlah, keragaman dan aktivitas fauna dan mikrobia tanah secara langsung berhubungan dengan bahan organik. Agregasi dan kestabilan struktur tanah meningkat dengan meningkatnya kandungan bahan organik tanah (Nurmi, 2005).

(20)

tanah, tetapi dengan pengolahan tanah juga mengakibatkan meningkatnya oksidasi bahan organik tanah. Terdekomposisinya bahan organik tanah menyebabkan berkurangnya kandungan bahan organik tanah (Yulnafatmawita, dkk., 2007).

Tekstur Tanah

Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butir-butirnya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah- tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno, 2003).

(21)

Tekstur tanah sebagai faktor abiotik merupakan faktor penting yang mempengaruhi distribusi mineral, retensi bahan organik, biomassa mikroba dan sifat tanah lainnya (Scott and Robert, 2006).

Makin kecil ukuran separat berarti makin banyak jumlah dan makin luas permukaannya per satuan bobot tanah, yang menunjukkan makin padatnya partikel-partikel per satuan volume tanah. Hal ini berarti makin banyak ukuran pori mikro yang terbentuk, sebaliknya jika ukuran separat makin besar. Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (disebut lebih poreus), tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso (sedang) (agak poreus), sedangkan yang didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro (kecil) atau tidak poreus. Hal ini berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terbentuk, luas permukaan mencerminkan luas situs yang dapat bersentuhan dengan air, energi atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya menahan tanah terhadap ketiga material ini, dan sebaliknya jika liat yang dominan (Hanafiah, 2005).

Sifat-sifat bahan induk masih tetap terlihat bahkan pada tanah daerah humid yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut, misalnya tanah-tanah yang bertekstur pasir adalah akibat dari kandungan pasir yang tinggi dari bahan induk (Hardjowigeno, 2003).

pH (Potensial Hidrogen)

(22)

netral, karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al, sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Ca.

Nilai pH tanah tidak sekedar menunjukkan suatu tanah asam atau alkali, tetapi juga memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah yang lain, seperti ketersediaan fosfor, status kation-kation basa, status kation atau unsur racun, dsb. pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas kemasaman, bukan ukuran total masam yang ada ditanah tersebut. Pada tanah-tanah tertentu, seperti tanah liat berat, gambut yang mampu menahan perubahan pH atau kemasaman yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang berpasir. Tanah yang mampu menahan kemasaman tersebut dikenal sebagai tanah yang berpenyangga baik (well buffer soil) (Mukhlis, 2007).

Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5-7,5, maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH tanah kurang dari 6,0 maka ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium dan molibdenum menurun dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih besar dari 8,0 akan menyebabkan unsur-unsur nitrogen, besi, mangan, borium, tembaga dan seng ketersediannya relatif jadi sedikit (Sarief, 1986).

Nitrogen Total Tanah

(23)

diendapkan. Lagipula ada fiksasi nitrogen atmosfir yang diusahakan oleh mikroorganisme tanah tertentu. Hilangnya dari tanah disebabkan oleh tanaman yang dipanen dan diangkut, drainase, erosi, dan hilang sebagai gas dalam bentuk unsur dan amoniak (Buckman and Brady, 1982).

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Unsur ini bersifat labil karena mudah berubah bentuk dan mudah hilang baik lewat volatilisasi (gas N2) maupun lewat perlindian (NO3-). Di atmosfer unsur N

merupakan unsur dominan karena merupakan 80% dari gas yang ada, tetapi bentuk gas ini tidak secara langsung dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pemanfaatannya hanya dapat dilakukan lewat bantuan mikrobia pengikatnya (fiksasi), yang mengubah bentuk N2 menjadi ammonium (NH4+) yang tersedia

bagi tanaman, baik lewat mekanisme simbiotik maupun non simbiotik (Hanafiah, 2005).

Sejumlah besar nitrogen dalam tanah berada dalam bentuk organik. Dengan demikian dekomposisi nitrogen merupkan sumber utama nitrogen tanah, disamping juga dapat berasal dari air hujan dan irigasi. Dekomposisi merupakan proses kimia yang menghasilkan N dalam bentuk ammonium dan dioksidasi lagi menjadi nitrat. Proses dekomposisi hingga menjadi nitrat dapat digambarkan sebagai berikut:

N-organik---►Amonium---►Nitrit----►Nitrat ◄---►◄--- (protein, NH4+ NO2- NO3- Dekomposisi Nitrifikasi

asan amino) dan aminofikasi

(24)

ditambahkan ke tanah maka proses tersebut akan terbalik. Karena ada sumber energi yang banyak, jasad renik akan menggunakan N yang ada untuk pertumbuhan. Dengan demikian, N diikat pada tubuh jasad renikdan N akan kurng tersedia di tanah (Hakim, dkk, 1986).

Menurut Handayanto, dkk (1999) pelepasan N dari bahan organik tergantung pada sifat fisik, kimia bahan organik, kondisi lingkungan, dan komunitas organisme perombak. Terhambatnya pelepasan N mungkin disebabkan oleh tingginya rasio C/N bahan organik dan immobilisasi N mikrobia yang terikat. Saat immobilisasi, N tersedia yang ada sebelumnya di dalam tanah diambil mikroorganisme untuk mencukupi kebutuhannya, karena tidak tercukupi dari bahan organik yang dirombak sehingga keberadaan N tersedia tanah menjadi sangat sedikit bagi tanaman yang akan menyebabkan tanaman kekurangan N.

Kehilangan Nitrogen dalam bentuk gas lebih besar daripada kehilangan yang disebabkan oleh pencucian. Kehilangan lain dapat juga berupa panen, tercuci bersama air drainase dan terfiksasi oleh mineral. Kehilangan N juga akan diperbesar lagi bila jumlah pupuk N yang diberikan ke dalam tanah cukup besar dengan keadaan tanah yang reduksi. Kehilangan N dari urea yang diberikan pada sawah yang keadaan airnya macak-macak akan lebih besar. Hilangnya N dari tanah juga disebabkan karena digunakan oleh tanaman, N dalam bentuk NO3

-mudah dicuci oleh air hujan, banyak hujan sehingga N menjadi rendah dan tanah yang memilkiki tekstur pasir mudah melepaskan air sehingga N menjadi rendah daripada tanah liat (Hakim, dkk, 1986).

(25)

Dengan semakin lanjut dekomposisi suatu bahan organik maka semakin banyak pula nitrogen organik yang mengalami mineralisai sehingga akumulasi nitrogen di dalam tanah semakin besar jumlahnya (Yulnafatmawita, dkk., 2007).

Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dinyatakan dalam mg (milligram) per 100 g tanah (mg 100 g-1) kering oven sering disebut Cation Exchangeable Capacity (CEC). KTK merupakan jumlah muatan negatif tanah baik yang bersumber dari permukaan koloid anorganik (liat) maupun koloid

organik (humus) yang merupakan situs pertukaran kation-kation (Hanafiah, 2005).

Besarnya KTK tanah tergantung kepada (1) tekstur tanah, (2) tipe mineral liat, dan (3) kandungan bahan organik. Semakin tinggi kadar liat atau tekstur semakin halus maka KTK tanah akan semakin besar. Demikian juga pada kandungan bahan organik tanah, semakin tinggi bahan organik maka KTK tanah akan semakin tinggi. Jenis mineral liat sangat mempengaruhi KTK tanah, karena besarnya KTK dari masing-masing liat juga berbeda (Mukhlis, 2007).

Kapasitas tukar kation tanah sangat beragam pada setiap jenis tanah. Besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri antara lain (a) reaksi tanah (pH), (b) tekstur tanah atau jumlah liat, (c) jenis mineral liat, (d) bahan organik, dan (e) pengapuran dan pemupukan (Hakim, dkk, 1986).

(26)

ikatan antar muatan kation tinggi pada permukaan koloid dan menurun jika kation tersebut jauh jaraknya dari permukaan koloid (Hanafiah, 2005).

Hubungan pH dengan KTK sangat erat yaitu pada pH rendah, hanya muatan permanen liat, dan sebagian muatan koloid organik memegang ion yang dapat digantikan melalui pertukaran kation. Dengan demikian KTK relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh kebanyakan tempat pertukaran kation koloid organik dan beberapa fraksi liat, H+ dan mungkin hidroksi-Al terikat kuat, sehingga sukar dipertukarkan. Dengan meningkatnya pH, hidrogen yang diikat koloid organik dan liat berionisasi dan dapat digantikan. Demikian pula ion hidroksi-Al yang terjerap akan dilepaskan dan membentuk Al(OH)3. Dengan demikian terciptalah

tapak-tapak pertukaran baru pada koloid liat. Beriringan dengan perubahan-perubahan itu KTK pun meningkat (Hakim, dkk, 1986).

Rasio C/N

Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tetanaman tergantung pada laju proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor tanah. Faktor bahan organik meliputi komposisi kimiawi, nisbah C/N, kadar lignin dan ukuran bahan, sedangkan faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban, tekstur, struktur dan suplai oksigen, serta reaksi tanah, ketersediaan hara terutama N, P, K, dan S (Hanafiah, 2005).

(27)
(28)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan penyangga dan resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.

Analisis tanah dilakukan di laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dan dilaksanakan pada bulan April – Agustus 2011.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lokasi penelitian dengan skala 1:50000, sampel tanah yang diambil dari lokasi penelitian, dan bahan-bahan kimia untuk analisa di laboratorium.

(29)

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey Bebas tingkat survei semi detail dan analisis data kandungan bahan organik tanah dengan metode Walkley and Black, hara Nitrogen total tanah dengan metode Kjeldhalterm, Tekstur tanah dengan metode Hidrometer, pH tanah dengan metode Elektrometri, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dengan metode Ekstraksi NH4OAc pH 7 serta nisbah C/N tanah.

Pelaksanaan Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan. Adapun tahapan kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Persiapan Awal

Adapun kegiatan yang dilakukan adalah telaah pustaka, konsultasi dengan dosen pembimbing, penyusunan usulan penelitian, penyediaan lokasi penelitian, pengadaan peralatan yang digunakan di lapangan, pengadaan peta, studi literatur, dan penyusunan rencana kerja yang berguna untuk mempermudah pekerjaan secara sistematis sehingga didapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

2. Pelaksanaan

(30)

setiap pengambilan contoh tanah tersebut, maka dicatat hasil pembacaan koordinat pada GPS.

Setelah diperoleh sampel tanah dari pengeboran, maka diambil ± 2 kg untuk setiap contoh tanah dan dianalisis bahan organik, N total tanah, rasio C/N tanah, pH, Tekstur dan KTK.

Selama kegiatan pengambilan contoh tanah tersebut juga dilakukan pengamatan dan pencatatan keadaan lingkungan areal penelitian seperti penggunaan lahan, ketinggian tempat, dll.

3. Analisis Laboratorium

(31)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Wilayah

Secara administrasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) terletak di 2 (dua) provinsi, yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara, serta berbatasan dengan 9 kabupaten (Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Langkat, Dairi dan Karo).

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan satu kesatuan kawasan pelestarian alam, seluas 1.094.692 Hektar yang terletak di dua Provinsi, yaitu Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara. Kawasan TNGL berada pada koordinat 96º 35”- 98º 30” BT dan 2º 50” – 4º 10” LU.

Ditinjau dari segi topografi, kawasan TNGL memiliki topografi mulai dari 0 meter dari permukaan laut (mdpl) yaitu daerah pantai hingga ketinggian lebih lebih dari 3000 mdpl, namun secara rata-rata hampir 80% kawasan memiliki kemiringan di atas 40%.

Kawasan TNGL dalam pengaruh inter-tropical convergence zone. Oleh karena itu sebagian besar klasifikasi iklimnya masuk ke dalam kategori Klas A, yaitu wet and hot tropical rainforest climate. Dalam tipe iklim ini, temperatur bulanan mencapai 18ºC dan curah hujan tahunan lebih besar dari pada evaporasi tahunan aktual.

(32)

Bahan Organik

[image:32.595.113.510.395.609.2]

Bahan organik bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik mempunyai peran yang sangat penting bagi sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Pada sifat fisika bahan organik berfungsi sebagai pemantap agregat tanah, memperbaiki struktur tanah, dan lain-lain. Pada sifat kimia bahan organik berfungsi menghasilkan unsur hara seperti nitrogen dan dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Pada sifat biologi bahan organik berfungsi sebagai energi bagi organisme didalam tanah.

Tabel 1. Hasil Analisis Data C-Organik (Walkley and Black)

Sampel Keterangan C-Organik Kriteria

1 Hutan 2,18 Sedang

2 Hutan 1,36 Rendah

3 Hutan 3,26 Tinggi

4 Hutan 3,07 Tinggi

5 Hutan 3,8 Tinggi

6 Hutan 3,49 Tinggi

7 K. Sawit umur ± 20 thn 0,53 Sangat rendah 8 T. Sari sawit & jagung 1,14 Rendah 9 Coklat dan sawit 0,50 Sangat rendah

10 Coklat 0,48 Sangat rendah

11 Semak (dekat sungai) 1,29 Rendah 12 Coklat, kelapa, pinang 0,92 Sangat rendah

(33)

disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah karena adanya pembukaan hutan menjadi lahan pertanian yang dilakukan masyarakat sekitar sehingga pada

daerah tertentu kandungan bahan organik menurun. Hal ini sesuai dengan literatur Buckman and Brady (1982) bahwa biasanya, perubahan besar terjadi bila tanah

asli baik hutan maupun prairi, dibuka untuk ditanami. Biasanya penurunan kadar organik dan nitrogen berlangsung secara berangsur-angsur. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau didapatkan pada tanah yang sudah dibuka kandungan bahan organik jauh lebih rendah, mungkin 30 sampai 60% bila dibandingkan dengan tanah asli.

(34)

N-Total Tanah

[image:34.595.112.474.312.524.2]

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial yang berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Unsur ini bersifat labil karena mudah berubah bentuk dan mudah hilang. Hilangnya unsur hara N dapat disebabkan karena terangkut pada saat panen, terjadinya erosi, hilang dalam bentuk gas dan lain-lain. Kekurangan nitrogen akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan akar, pertumbuhan kerdil, serta kuningnya daun pada tanaman.

Tabel 2. Hasil Analisis Data N-Total tanah (Kjheldalterm) Sampel Keterangan N Total

Tanah Kriteria

1 Hutan 0,26 Sedang

2 Hutan 0,30 Sedang

3 Hutan 0,20 Rendah

4 Hutan 0,34 Sedang

5 Hutan 0,25 Sedang

6 Hutan 0,55 Tinggi

7 K. Sawit umur ± 20 thn 0,35 Sedang

4 T. Sari sawit & jagung 0,25 Sedang

5 Coklat dan sawit 0,36 Sedang

6 Coklat 0,29 Sedang

11 Semak (dekat sungai) 0,37 Sedang

12 Coklat, kelapa, pinang 0,28 Sedang

(35)

semakin banyak pula nitrogen organik yang mengalami mineralisai sehingga akumulasi nitrogen di dalam tanah semakin besar jumlahnya.

Rendahnya kandungan nitrogen pada sampel ke-3 pada tanah hutan TNGL disebabkan oleh tingginya rasio C/N bahan organik pada hutan tersebut, seperti terlihat pada Tabel 3 bahwa rasio C/N sampel ke-3 tinggi yaitu 16,3. Tingginya nilai C/N suatu bahan organik menyebabkan terhambatnya pelepasan N sehingga kandungan nitrogennya menjadi rendah. Menurut Handayanto, dkk (1999) bahwa pelepasan N dari bahan organik tergantung pada sifat fisik, kimia bahan organik, kondisi lingkungan, dan komunitas organisme perombak. Terhambatnya pelepasan N mungkin disebabkan oleh tingginya rasio C/N bahan organik dan immobilisasi N mikrobia yang terikat. Saat immobilisasi, N tersedia yang ada sebelumnya di dalam tanah diambil mikroorganisme untuk mencukupi kebutuhannya, karena tidak tercukupi dari bahan organik yang dirombak sehingga keberadaan N tersedia tanah menjadi sangat sedikit bagi tanaman yang akan menyebabkan tanaman kekurangan N.

Rasio C/N Tanah

(36)
[image:36.595.110.453.112.321.2]

Tabel 3. Hasil Analisis Rasio C/N tanah

Sampel Keterangan C/N Kriteria

1 Hutan 8,38 Rendah

2 Hutan 4,53 Sangat Rendah

3 Hutan 16,3 Tinggi

4 Hutan 9,02 Rendah

5 Hutan 15,2 Sedang

6 Hutan 6,34 Rendah

7 K. Sawit umur ± 20 thn 1,51 Sangat Rendah 4 T. Sari sawit & jagung 4,56 Sangat Rendah 5 Coklat dan sawit 1,39 Sangat Rendah

6 Coklat 1,65 Sangat Rendah

11 Semak (dekat sungai) 3,48 Sangat Rendah 12 Coklat, kelapa, pinang 3,28 Sangat Rendah

(37)

pH Tanah

pH adalah singkatan dari potensial hidrogen dengan skala 1-14 dalam menentukan keasaman, netral, atau kealkalian suatu tanah. Nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimia tanah karena dapat menggambarkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. pH tanah dapat diukur dengan berbagai cara, selain dengan menggunakan kertas lakmus, pH tanah dapat diukur di laboratorium dengan menggunakan beragai pelarut seperti H2O, KCl, dan

[image:37.595.111.484.340.540.2]

lain-lain.

Tabel 4. Hasil Analisis Data pH Tanah (pH H2O)

Sampel Keterangan pH H2O Kriteria

1 Hutan 4,19 Sangat masam

2 Hutan 4,38 Sangat masam

3 Hutan 5,59 Agak masam

4 Hutan 4,30 Sangat masam

5 Hutan 4,57 Masam

6 Hutan 4,81 Masam

7 K. Sawit umur ± 20 thn 4,44 Sangat masam 8 T. Sari sawit & jagung 4,42 Sangat masam

9 Coklat dan sawit 4,67 Masam

10 Coklat 4,90 Masam

11 Semak (dekat sungai) 5,36 Masam

12 Coklat, kelapa, pinang 5,53 Masam

Dari hasil analisis sampel tanah yang dapat dilihat pada Tabel 4, rata-rata pH tanah pada tanah hutan adalah masam. Salah satu faktor yang menyebabkan pH tanah hutan tersebut masam adalah dekomposisi akhir bahan organik yang menghasilkan senyawa-senyawa resisten seperti humus dan senyawa sederhana seperti CO2. Hasil dari senyawa sederhana yaitu CO2 terakumulasi dapat bereaksi

dengan air sehingga membentuk asam karbonat (H2CO3) yang dapat

(38)

berupa gas CO2 jika terakumulasi dapat bereaksi dengan air membentuk asam

karbonat yang meskipun asam lemah, namun jika terakumulasi akan terurai menjadi HCO3- + H+yang memasamkan tanah.

Tekstur

[image:38.595.106.522.458.684.2]

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, debu, dan liat yang dinyatakan dalam persen. Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butir-butirnya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah- tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar.

Tabel 5. Hasil Analisis Data Tekstur Tanah (Hidrometer Boyoucos) Sampel Keterangan Pasir

(%)

Debu (%)

Liat

(%) Tekstur

1 Hutan 76 10 14 Lempung berpasir

2 Hutan 76 12 12 Lempung berpasir

3 Hutan 64 24 12 Lempung berpasir

4 Hutan 60 20 20 Lempung berpasir

5 Hutan 80 10 10 Lempung berpasir

6 Hutan 66 18 16 Lempung berpasir

7 K. Sawit umur ± 20 thn 80 10 10 Pasir berlempung 8 T. Sari sawit & jagung 54 24 22 Lempung liat berpasir 9 Coklat dan sawit 52 32 16 Lempung berpasir

10 Coklat 52 32 16 Lempung berpasir

11 Semak (dekat sungai) 64 24 12 Lempung berpasir 12 Coklat, kelapa, pinang 56 32 12 Lempung berpasir

(39)

lebih dominan fraksi pasir dibandingkan fraksi debu dan liat, hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor pembentuk tanah seperti bahan induknya yg berupa

mineral kuarsa yang mengandung pasir. Sesuai dengan literatur Hardjowigeno (2003) bahwa sifat-sifat bahan induk masih tetap terlihat bahkan

pada tanah daerah humid yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut, misalnya tanah-tanah yang bertekstur pasir adalah akibat dari kandungan pasir yang tinggi dari bahan induk.

KTK Tanah

[image:39.595.111.479.484.684.2]

KTK merupakan jumlah muatan negatif tanah baik yang bersumber dari permukaan koloid anorganik (liat) maupun koloid organik (humus) yang merupakan situs pertukaran kation-kation. Jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dinyatakan dalam mg (milligram) per 100 g tanah (mg 100 g-1) kering oven sering disebut Cation Exchangeable Capacity (CEC).

Tabel 6. Hasil Analisis Data KTK Tanah (NH4OAc pH 7)

Sampel Keterangan KTK Tanah Kriteria

1 Hutan 13,1 Rendah

2 Hutan 10,0 Rendah

3 Hutan 12,0 Rendah

4 Hutan 11,4 Rendah

5 Hutan 10,4 Rendah

6 Hutan 12,7 Rendah

7 K. Sawit umur ± 20 thn 10,9 Rendah

4 T. Sari sawit & jagung 11,1 Rendah

5 Coklat dan sawit 14,3 Rendah

6 Coklat 11,6 Rendah

11 Semak (dekat sungai) 10,3 Rendah

12 Coklat, kelapa, pinang 10,1 Rendah

(40)

tanah tersebut rendah. Seharusnya pada tanah hutan yang tinggi bahan organiknya akan menyebabkan nilai KTK juga tinggi, hal ini dapat disebabkan bahan organik pada tanah hutan tersebut belum terdekomposisi sempurna. Karena jika bahan organik sudah terdekomposisi sempurna maka akan menyumbangkan koloid humus yang dapat meningkatkan nilai KTK. Hal ini sesuai dengan literatur Yulnafatmawita, dkk., (2007) bahwa bahan organik yang sudah sangat terdekomposisi jika diberikan ke tanah maka akan meningkatkan KTK tanah karena semakin besar pula koloid humus yang disumbangkan sehingga muatan negatif tanah meningkat yang mengakibatkan KTK tanah juga meningkat.

(41)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Kandungan C-organik pada hutan TNGL resort Sei Betung tergolong tinggi pada hutan asli dan tergolong rendah pada hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian.

2. Kandungan nitrogen pada hutan TNGL resort Sei Betung tergolong sedang pada hutan asli dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian

3. Rasio C/N pada hutan TNGL resort Sei Betung tergolong sedang pada daerah hutan asli dan tergolong sangat rendah pada daerah lahan pertanian.

4. pH pada hutan TNGL resort Sei Betung tergolong sangat masam hingga agak masam.

5. Tekstur pada hutan TNGL resort Sei Betung baik pada daerah hutan asli maupun daerah hutan yang dibuka untuk lahan pertanian.

6. Nilai KTK pada hutan TNGL resort Sei Betung tergolong rendah baik pada hutan asli maupun hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian.

Saran

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H. O. dan Nyle, C. B., 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bharata Karya Aksara. Jakarta.

CIFOR, 2009. Do Trees Grow On Money? The Implications of Deforestation Research for Policies to Promote REDD. Diterjemahkan oleh : Kanninen, M., Murdiyarso, B., Seymour, F., Angelsen, A., Wunder, S., German, L. Perspektif Kehutanan 4. Bogor. Indonesia.

Dephut, 2005. Kerusakan Hutan Alam di Indonesia

Foth, H. D., 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan S. Adisoemarto. Edisi keenam. Erlangga, Jakarta.

FWI (Forest Watch Indonesia). 2008. Perkembangan Tutupan Hutan Indonesia. http://www.fwi.or.id. [Diakses tanggal 9 November 2010]

Hakim, N, M. Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S. G. Nugroho, M. R. Saul, M. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey,. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. UNILA, Lampung.

Hanafiah, K. A., 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Handayanto, E., Y. Nuraini, dan Syekhfani. 1999. Stimulasi dekomposisi dan mineralisasi nitrogen dari bahan organik yang berbeda kualitas akibat penambahan bahan organik baru. Prosiding Kongres Nasional VII HITI. 2-4 November. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Bandung.

Hardjowigeno, S., 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta. Hasibuan, B. E. 2010. Pupuk dan Pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan.

ISAI. 2007. Potret Buram Hutan Indonesia. http://www.isai.or.id. [Diakses tanggal 9 November 2010]

Marpaung, B., 2009. Sifat Kimia Tanah.

http://boymarpaungs.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/. Diakses pada tanggal 4 November 2009.

(43)

Narendra, B. H., 2007. Alih Fungsi (Konversi) Kawasan Hutan Indonesia : Tinjauan Aspek Hidrologi dan Konservasi Tanah. Staf Peneliti Balai Penelitian Kehutanan Mataram.

Nurmi, 2005. Pengikatan (Sequestrasi) Karbon Melalui Pengolahan Konservasi dan Pengelolaan Residu Tanaman. Makalah Individu Pengantar Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sarief, S., 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.

Sarief, E. S. 1988. Fisika-Kimia Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. Scott, J and Robert, J. 2006. Soil Texture and Nitrogen Mineralization Potential

Across a Riparian Toposequence in a Semi-Arid Savanna. http://www.univsul.org / Dosekan_Mamostakan_U/ Reshearch. pdf [22 April 2011].

Sudiarto dan Gusmaini,. 2004. Pemanfaatan bahan organik In situ untuk efisiensi budi daya jahe yang berkelanjutan. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.

Tropical Forest Conservation Action Sumatera, 2010. www.tfcasumatera.org [Diakses tanggal 9 November 2010]

Widianto, D. Suprayogo, H. Noveras, R.H. Widodo, P. Purnomosidhi, dan M. van Noordwijk,. 2001. Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Pertanian : Apakah Fungsi Hidrologis Hutan Dapat Digantikan Dengan Sistem Kopi Monokultur. Jurusan Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Gambar

Tabel 1. Hasil Analisis Data C-Organik (Walkley and Black)
Tabel 2. Hasil Analisis Data N-Total tanah (Kjheldalterm)
Tabel 3. Hasil Analisis Rasio C/N tanah
Tabel 4. Hasil Analisis Data pH Tanah (pH H2O)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil Alamin, penulis bersyukur kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga dapat melakukan penelitian dilapangan

Penelitian mengenai “Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pong abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasonal Gunung Leuser” telah dilaksanakan pada

Penelitian mengenai “Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pong abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasonal Gunung Leuser” telah dilaksanakan pada

Fungi merupakan mikroba yang mempunyai kemampuan mengekstrak fosfat dari bentuk yang tidak larut menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman melalui sekresi asam-asam

Universitas Sumatera

dari bagian atas dan bagian bawah permukaan tanah pada suatu waktu tertentu.. Biomassa hutan dapat digunakan untuk menduga potensi serapan

Kriteria Sifat Kimia Tanah menurut Staf Pusat Penelitian 1983. Lampiran

Hal ini disebabkan jalur edge merupakan jalur persimpangan antara kawasan restorasi dan middle hutan, sehingga memungkinkan beberapa jenis burung yang dijumpai di