• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : DWI ATINI PUTRI NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : DWI ATINI PUTRI NIM"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

DWI ATINI PUTRI NIM. 130 500 043

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2016

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) Proses Pembuatan Kayu Lapis (Plywood) dan Kegiatan Camp Forestry (Camp Sekatak) di PT Intracawood Manufacturing, Tarakan Kalimantan Utara

Nama : Dwi Atini Putri NIM : 130 500 043

Program Studi : Teknologi Hasil Hutan Jurusan : Teknologi Pertanian

Pembimbing, Penguji I, Penguji II,

Eva Nurmarini,S. Hut, MP NIP.197508081999032002

Ir, Taman Alex, MP NIP.196012121989031008

Dr. Ita Merni P., SE, MM NIP. 197205252002122010

Menyetujui/Mengesahkan,

Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Eva Nurmarini,S. Hut, MP NIP. 197508081999032002

(3)

menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Intracawood Manufacturing Tarakan Kalimantan Utara sebagai salah satu syarat kelulusan dari Perguruan tinggi Politeknik Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Penulis menyadari bahwa penulis masih memiliki keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan dan penyelesaian laporan ini baik dari segi teknis penulisan maupun uji materi penulisan yang masih sangat jauh dari kesempurnaan dengan kemampuan yang penulis miliki. Namun berkat bantuan , berkat bimbingan, dan petunjuk dari berbagai pihak sehingga Laporan Praktek Kerja Lapangan ini dapat terselesaikan.

Pada kesempatan ini dengan segala kemurahan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada :

1. Ayahanda junaidi (Alm) tercinta dan Ibunda Ernani S.Pd tercinta yang telah banyak memberikan dukungan, berupa moril maupun material, selalu

merelakan berkurangnya perhatian dari awal perkuliahan sehingga penulis dapat ,menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan ini selama bersekolah di Perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda 2. Kakak tersayang Eldi Eggi Pratama Amd,Kep dan Adik tersayang Davi Tri

Nurhaliza, Mei Lika Syaroh yang telah banyak memberikan dukungan,

dorongan, serta perhatiannya dan merelakan berkurangnya perhatian dari awal perkuliahan sehingga penulis dapat, menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan ini selama bersekolah di Perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

3. Bapak Ir. Hasanudin,MP Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kalimantan Timur.

4. Bapak Hamka, STP,M.Sc selaku Ketua Jurusan Tekhnologi Pertanian di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

(4)

5. Ibu Hj. Eva Nurmarini S.Hut,MP selaku Ketua Program Studi Tekhnologi Hasil Hutan dan sebagai dosen pembimbing PKL yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan dalam penulisan.

6. Bapak Ir. Taman Alex,MP sebagai dosen penguji 1 PKL yang banyak memberikan masukan dan perbaikan dan Ibu Ita Merni Patulak,SE,MM sebagai dosen penguji 2 PKL yang telah memberikan bimbingan, saran, masukan untuk kesempurnaan laporan ini.

7. Bapak Mohammad Gesit,SH, selaku Pjs HRD Division Manager Industri Hilir di PT Intracawood Manufacturing Kalimantan Utara .

8. Bapak Markin, SH selaku suvervisior Industri Hilir di PT Intracawood Manufacturing yang berkenan menerima kami dengan baik selama Praktek Kerja Lapangan 2 bulan di Kalimantan Utara.

9. Bapak Sutrisno Aris selaku manager Industri Hulu di PT Intracawood Manufacturing yang berkenan mendampingi kami selama PKL di Industri Hulu

10. Bapak N.Thahir,SP selaku Suverintendent yang menjadi Pembimbing Lapangan selama Praktek Kerja Lapangan Industri Hilir di PT Intracawood Manufacturing

11. Bapak dan Ibu, Suverintendent, Supervisior, Foreman , dan Quality Control , Bapak M. saipul, Bapak Ir. Kaspani , Ibu Murniati dan rekan rekan sejawat lainnya yang berkenan membantu penulis selama berada di lapangan secara langsung saat kegiatan Prakek Kerja Lapangan tersebut berlangsung. 12. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh staf tekhnisi pendamping lapangan

program studi Teknologi Hasil Hutan.

13. Rekan-rekan mahasiswa/i program studi Teknologi Hasil Hutan yang telah memberikan saran-saran dan mengeluarkan ide-ide selama penulisan dan peyelesaian Laporan Praktek Kerja Lapangan ini.

14. M. Hendriansyah Jumari tercinta yang bersedia mendampingi penulis selama berada di bangku perkuliahan dengan kesabaran dan perhatiannya selama penulis menyelesaikan studi di Perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Laporan Praktek Kerja Lapangan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritik, saran dan

(5)

masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa mendatang.

Akhirnya, penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi dunia pertanian dan kehutanan, perusahaan, kampus, dan seluruh pihak yang satu komunitas dan segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa, amin.

Samarinda, Mei 2016

Penulis

(6)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv . xii . xiii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) ... 3

C. Hasil Yang Diharapkan ... 4

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN. ... 6

A. Tinjauan Umum Perusahaan ... 6

B. Manajemen Perusahaan ... 9

C. Lokasi dan Waktu Kegiatan Praktek Kerja Lapang ... 10

III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG A. Kegiatan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) ... 12

1. Forest Planning dan Rehabilitation ... 12

1. Perencanaan ... 13

1.1. Penataan Areal Kerja (PAK) ... 13

1.1.a. Maksud dan Tujuan PAK ... 13

1.1.b. Dasar Teori. ... 13

1.1.c. Prosedur kerja ... 14

1.1.d. Alat dan Bahan ... 16

1.1.e. Hasil yang dicapai ... 17

1.1.f. Pembahasan ... 18

1.2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) 19

1.2.a. Maksud dan Tujuan ... 19

1.2.b. Dasar Teori ... 19

1.2.c. Prosedur Kerja. ... 20

1.2.d. Alat dan Bahan ... 21

1.2.e. Hasil yang dicapai ... 22

1.2.f. Pembahasan ... 22

1.3. Perencanaan Pembukaan wilayah hutan (PPWH) .... 22

a. Maksud dan Tujuan ... 22

b. Dasar Teori ... 22

c. Prosedur Kerja. ... 23

d. Alat dan Bahan ... 24

f. Hasil yang dicapai ... 24

g. Pembahasan ... 24

2. Pembinaan Hutan ... 25

2.1. Penanaman Bekas TPn ... 25

2.1.a. Maksud dan Tujuan ... 25

(7)

2.1.c. Prosedur kerja ... 25

2.1.d .Alat dan Bahan ... 26

2.1.e. Hasil Yang dicapai ... 27

2.1.f. Pembahasan ... 27

3. Litbank (Uji Tananman) ... 27

3.1.a. Maksud dan Tujuan ... 27

3.1.b. Dasar Teori. ... 28

3.1.c. Prosedur kerja ... 28

3.1.d. Alat dan Bahan ... 29

3.1.e. Hasil Yang dicapai ... 29

3.1.f. Pembahasan ... 30

4. Lingkungan ... 30

4.1. Penanaman cover crop. ... 30

4.1.a. Maksud dan Tujuan ... 30

4.1.b. Dasar Teori. ... 30

4.1.c. Prosedur kerja ... 30

4.1.d. Alat dan Bahan ... 31

4.1.e. Hasil Yang dicapai ... 31

4.1.f. Pembahasan ... 32

4.2 Pemantauan Erosi metode stick ... 32

4.2.a. Maksud dan Tujuan ... 32

4.2.b. Dasar Teori. ... 32

4.2.c. Prosedur kerja ... 33

4.2.d. Alat dan Bahan ... 33

4.2.e. Hasil Yang dicapai ... 33

4.2.f. Pembahasan ... 34

4.3 Pemantauan erosi metode bak ukur ... 34

4.3.a. Maksud dan Tujuan ... 34

4.3.b. Dasar Teori. ... 35

4.3.c. Prosedur kerja ... 35

4.3.d. Alat dan Bahan ... 36

4.3.e. Hasil Yang dicapai ... 36

4.3.f. Pembahasan ... 37

5 . Harvesting (Produksi Area 1) ... 37

5.1 Pembukaan wilayah hutan (PWH) ... 37

5.1.a. Maksud dan Tujuan ... 37

5.1.b. ... 38

5.1.c. 39

5.1.d. Prosedur kerja ... 39

5.1.e. Alat dan Bahan ... 40

5.1.f . Hasil yang dicapai.. ... 41

5.1.g. ... 41

5.2 Pemanenan atau produksi ... 42

5.2.a. Maksud dan ... 42

5.2.b. ... 43

5.2.c. Definisi penebangan. ... 43

5.2.d. ... 45

5.2 e. ... 45

5.2.f. Hasil dan pembahasan. ... 45

(8)

5.2.2.a. Maksud dan Tujuan ... 46

5.2.2.b. ... 46

5.2.2.c. Definisi penyaradan ... 46

5.2.2.d. ... 47

5.2.2.e. ... 47

5.2.2.f. Hasil dan pembahasan.. ... 47

5.2.2.g. Pembahasan . ... 48

5.2.3.a. Maksud dan ... 48

5.2.3.b. Dasar Teo ... 48

5.2.3.c. Definisi pemasangan paku S, pengupasan . 48 5.2.3.d. ... 49

5.2.3.e. Prosedur ... 49

5.2.3.f. Hasil yang dicapai.. ... 49

5.2.3.g. ... 50

5.3. Pengukuran kayu log ... 50

5.3.a. Maksud dan ... 50

5.3.b. ... 51

5.3.c. Definisi pengukuran log ... 51

5.3.d. Prosedur kerja ... 51

5.3.e. Alat dan Bahan ... 55

5.3.f. Hasil yang dicapai.. ... 55

5.3.g ... 56

5.4 Hauling atau pengiriman log ... 56

5.4.a. Maksud dan ... 56

5.4.b. ... 57

5.4.c. Definisi pengiriman log. ... 57

5.4.d. Prosedur kerja ... 58

5.4.e. Alat Dan Bahan ... 58

5.4.f. Hasil yang dicapai.. ... 58

5.4.g. ... 59

6. Tata Usaha Kayu TUK (produksi area 2) ... 60

6.a. Maksud dan ... 60

6.b. ... 60

6.c. ... 63

6.d. Alat Dan Bahan ... 65

6.e. Hasil yang dicapai.. ... 65

6.f. ... 65

7. Silint (Silvikultur Intensif) ... 66

7.1. Penyiapan lahan ... 66

7.1.a. Maksud dan ... 66

7.1.b. ... 66

7.1.c. ... 67

7.1.d. Alat Dan Bahan ... 68

7.1.e. Hasil yang dicapai.. ... 68

7.1.f. ... 68

7.2 Persemaian ... 68

7.2. ... 68

7.2. ... 69

7.2.c ... 69

(9)

7.2.e. Hasil yang dicapai.. ... 70 7.2.f ... 71 7.3. Penanaman ... 71 7.3.a. Tujuan ... 71 7.3.b ... 72 7.3. ... 72

7.3.d. Alat Dan Bahan ... 72

7.3.e. Hasil yang dicapai.. ... 72

7.3.f ... 72

B. Proses Pembuatan Kayu Lapis (Plywood) diplymill. ... 73

1. Log Pond ... 74

. 1.a. Maksud dan ... 74

1.b. ... 74

1.c. Definisi Log pond . ... 74

1.d. ... 74

1.e. Alat Dan Bahan ... 74

1.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 75

2. Log Yard ... 75

. 2.a. Maksud dan ... 75

2.b. ... 76

2.c. Definisi Log Yard . ... 76

2.d. ... 76

2.e. Alat Dan Bahan ... 76

2.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 76

3. Log Cross Cutting ... 77

. 3.a. Maskud dan ... 77

3.b. ... 77

3.c. Definisi Log cross cutting . ... 77

3.d. ... 77

3.e. Alat Dan Bahan ... 78

3.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 78

4. Rotary Cutting ... 79

. 4.a. Maksud dan ... 79

4.b. ... 79

4.c. Definisi rotary cutting . ... 79

4.d. ... 79

4.e. Alat Dan Bahan ... 80

4.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 81

5. Dryer Section ... 87

. a. Maksud dan ... 87

b. ... 87

c. Definisi Dryer . ... 87

d. ... 87

e. Alat Dan Bahan ... 89

f. Hasil Dan Pembahasan . ... 89

6. Face back setting ... 93

. 6.a. Maksud dan ... 93

6.b. ... 93

6.c. Definisi face back setting . ... 93

(10)

6.e. Hasil Dan Pembahasan . ... 94

7.Composser Joint ... 99

. 7.a. Maksud dan ... 99

7.b. ... 99

7.c. ... 99

7.d. Alat Dan Bahan ... 99

7.e. Hasil Dan Pembahasan . ... 101

8. Assembly ... 109

. 8.a. Maksud dan ... 109

8.b. ... 109

8.c. Definisi Assembly . ... 109

8.d. ... 109

8.e. Alat Dan Bahan ... 111

8.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 112

9. Pengujian sampel ... 117

. 9.a. Maksud dan ... 117

9.b. ... 117

9.c. Definisi Pengujian sampel . ... 117

9.d. ... 117

9.e. Alat Dan Bahan ... 118

9.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 118

10. Finishing ... 121

. 10.a. Maksud dan ... 121

10.b. ... 121

10.c. Definisi Finishing . ... 121

10.d. ... 121

10.e. Alat Dan Bahan ... 123

10.f. .. 123

11. Grading Inspection ... 127

. 11.a. Maksud dan ... 127

11.b. Dasar ... 127

11.c. ... 127

11.d. Alat Dan Bahan . ... 128

11.e. Hasil Dan Pembahasan . ... 128

12. Packing ... 132

. 12.a. Maksud dan ... 133

12.b. ... 133

12.c. ... 133

12.d. Alat Dan Bahan ... 134

12.e. Hasil Dan Pembahasan . ... 134

13.Finish good wire house(FGWH) ... 134

. 13.a. Maksud dan ... 134

13.b. ... 134

13.c. Definisi FGWH ... 134

13.d. ... 134

13.e. Alat Dan Bahan ... 135

13.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 135

14. Pengapalan (Marketing) ... 136

. 14.a. Maksud dan ... 136

(11)

14.c. Definisi pengapalan. ... 136

14.d. ... 136

14.e. Alat Dan Bahan ... 136

14.f. Hasil Dan Pembahasan . ... 136

C. Proses pembuatan moulding di sawmill ... 137

. 1. Sawn Timber Lumber core ... 137

a. Definisi sawn timber lumber core . ... 137

b ... 137

c. Alat Dan Bahan ... 138

d. Hasil DanPembahasan . ... 138

2. Sawn wood working ... 138

a. Definisi sawn timber lumber core . ... 138

... 138

c. Alat Dan Bahan ... 139

d. Hasil DanPembahasan . ... 139

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 140

B. Saran ... 141

DAFTAR PUSTAKA . ... 142

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1. 95 2. 98 3. . 98 4. 113 5. Data 115 Lampiran

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Tubuh Utama Halaman

1 15

2 15

3 16

4 16

5 .. 17

6 Penanaman mucona di kanan kiri jalan KM 57... 32 7 Pembuatan takik rebah proses penebangan pohon di Blok RKT

47

8 ... 49

9 . 51

10 51

11 54

12 Pengukuran log melengkung ... 55

13 55

14 57

15 Kegiatan pengukuran log diameter besar 150 cm up... 57

16 Kegiatan 60

17 Jalur Tanam Sistem Silvikutur TPTI Intensif... 69

18 70

19 Persemaian bibit Meranti di KM 14 camp sekatak... 73

20 77

21 78

(14)

23 Kegiatan pengupasan veneer di mesin rotary cutting 88 Lampiran 23 144 24 ... 145 25 26

Struktur organisasi Plywood Production Departement

Data 146 147 27 ... 148 28 149 29 150 30 151 31 32 ... 152 153 33 . 154 34 35 Kegiatan.yaitu pemanenan ... Kegiatan di log yard (penumpukan kayu di darat)

154 155 36

37

Kegiatan ketiga pengukuran log sebelum di potong menjadi

Hasil

155

156

38 156

39 Kegiatan di rotary cutting no 03 yaitu pengupasan veneer . 157 40 Kegiatan dryer yaitu bahan output keluar 157

41 . 158

42 Kegiatan assembly proses penyambutan veneer dan perakitan. 158 43 Proses pengempaan dingin kegiatan di assembly 159 44 Proses pengempaan panas kegiatan di assembly 159 45 Pemotongan sisi panjang dan sisi lebar di mesin doublesaw

(15)

. 160 46 Kegiatan packing prroses ... 160

47 161

(16)

Lampiran

Nomor Tubuh Utama Halaman

24 Susunan manjemen 154

25 .. 155

26

27

Struktur organisasi Plyw ood Production Departement PT In Data 156 157 28 ... 158 29 159 30 Pengambilan data di 160 31 161 32 162 33 34 35 36 37 38

Pengambilan data di grading inpsection

Contoh Stemp JAS Grade 1 dan Grade .

Contoh Stamp JAS Grade 3 dan LVL

Contoh Stamp JAS Grade 1 dan Grade 2 berbeda Contoh Stamp JAS Grade B-C dan CP

Contoh Stamp Sheet JAS...

163 164 165 166 167 168 39 40 Kegiatan PAK di KM 08 169 169 41 170 42 170

43 Kegiatan PWH pembuatan jembatan samping 171

44 Kegiatan PWH pembuatan mating .. 171

45 ... 172

(17)

47 173

48 173

49 174

50 Kegiatan.yaitu penyaradan ... 174 52 Kegiatan hauling yaitu pengangkutan log menuju TPK antara 175

52 175

53 Kegiatan silint nursery (Persemaian Anakan) 176

54 Kegiatan di log pond ( 176

55 177

56 ... 177

57 Kegiatan pengangkatan log dari air menggunakan Hoist 178 58 Kegiatan ketiga pengukuran log sebelum di potong menjadi

178 59 Kegiatan keempat pemotongan log dengan chaiswaw 179

60 179

61 Kegiatan keenam log blok 180

62 180

63 181

64 181

65 Kegiatan di rotary cutting no 03 yaitu pengupasan veneer 182

66 ... 182

67 Bahan input masuk 183

68 Kegiatan dryer yaitu bahan output keluar 183

69 Face back setting Pemisahan .. 184

70 Tumpukan veneer 184

(18)

72 .. 185

73 Kegiatan 186

74 Kegiatan composer joint mesin meinan no 20 186 75 Mesin glue mixing kegiatan di assembly ... 187 76 Proses pengadukan perekat di kegiatan assembly ... 187

77 Mesin glue spreader 188

78 Kegiatan assembly proses penyambutan veneer dan perakitan. 188

79 Mesin Cold press / p 189

80 Proses pengempaan dingin kegiatan di assembly 189 81 Proses pengempaan panas kegiatan di assembly 190 82

83

Pemotongan sisi panjang dan sisi lebar di mesin doublesaw

.

190 191

84 Kegiatan finishing yaitu 191

85 Kegiatan grading inspection yaitu tahap penyeleksian 192 86

87 88

Kegiatan di laboratorium yaitu sampel uji boun

Produk yang sudah siap kemas .

192 193 193 89 Kegiatan packing prroses ... 194

90 194 91 195 92 Hasil 195 93 94 196 196

(19)

dan pada masa yang akan datang terus mengalami peningkatan, khususnya keperluan bangunan rumah untuk tempat tinggal, bangunan dan kontruksi ringan dan perabotan rumah tangga. Masalah lain yang dihadapi adalah jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah dan tingkat kehidupan rakyat semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan kekurangan pasokan kayu dalam jumlah besar bersama konsekuensinya. Kondisi seperti ini harus diantisipasi dengan mencari pengganti penggunaan kayu dengan bahan berkayu lain yang memiliki potensi cukup besar dan dapat dimanfaatkan dengan baik.

Salah satu sistem silvikultur yang diterapkan pada hutan alam produksi adalah Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), yang merupakan sistem yang paling sedikit mengubah ekosistem hutan, khususnya pada hutan alam campuran tak seumur. (Susanti, 1998).

Sistem Silvikultur TPTI adalah sistem silvikultur yang meliputi cara penebangan dengan batas diameter dan permudaan hutan. Sistem silvikultur ini dipandang yang paling tepat dan sesuai dari segi ekonomi, ekologi dan teknologi untuk digunakan pada hutan tropika basah atau hutan hujan tropis Indonesia. Sistem ini lebih aman bagi perlindungan dan kelestarian ekosistem hutan tropika basah karena ada bekas tebangan (Logged Over Area) tebang pilih hanya terganggu dan terbuka sedikit dibandingkan sistem tebang habis. Hutan alam produksi di Indonesia baik tetap maupun terbatas pada umumnya didominasi oleh pohon-pohon yang termasuk family Dipterocarpaceae, di samping terdapat jenis pohon-pohon komersial lainnya.

(20)

Industri kayu lapis di Indonesia mulai berdiri sejak tahun 1970-an yang langsung menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor kayu lapis terbesar di dunia. Perkembangan industri kayu lapis sendiri ternyata mampu meningkatkan ekspor non migas Indonesia dan banyak menyumbangkan devisa bagi negara, bahkan industri kayu lapis telah mampu menciptakan perpindahan penduduk seperti transmigrasi di seluruh pelosok tanah air.

Dengan kenyataan tersebut, maka sangat diperlukan pemahaman dan penelitian secara terus-menerus mengenai peningkatan proses mutu produk pada industri kayu lapis. Hal ini dimaksudkan agar produk yang dihasilkan setiap tahunnya semakin baik dengan tetap menghemat bahan baku yang ada. Pada akhirnya kita akan mengeksploitasi sumber daya hutan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia tetapi tetap meminimalisasi kerusakan pada lingkungan alam.

Dalam rangka memantapkan materi perkul iahan yang diperoleh, maka diadakan Praktek Kerja Lapang (PKL) selama kurang lebih dua bulan untuk menambah pengalaman mahasiswa. Dengan melakukan PKL tersebut, maka mahasiswa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai perusahaan atau industri tertentu sesuai dengan keahliannya yaitu dengan ikut serta bekerja sebagai tenaga kerja diperusahaan atau industri tersebut.

Pengalaman bekerja ini diharapkan para mahasiswa mampu mengaitkan antara pengetahuan akademik dengan pengetahuan praktis dan mam pu menghimpun data mengenai suatu kajian pokok dalam bidang keahliannya sehingga mahasiswa dapat lebih memahami apa yang telah di pelajari di perkuliahan.

(21)

Perusahaan yang mengolah hasil hutan memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran bagi mahasiswa kehutanan, terutama mahasiswa dengan kompetensi mayor teknologi hasil hutan sebelum memasuki dunia kerja. Pengamatan dan praktek pengolahan kayu di industri diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, wawasan, dan keterampilan mahasiswa sebagai calon Ahli Madya.

Salah satu industri perkayuan yang dipandang layak dan sesuai dengan jurusan sebagai tempat pelaksanaan PKL bagi mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda adalah PT Intracawood Manufacturing. PT Intracawood Manufacturing memiliki beberapa keunggulan diantaranya perusahaan ini mengelola Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang cukup luas. Perusahaan ini juga telah menerapkan standarisasi internasional seperti ISO 9002 dan telah disertifikasi secara internasional oleh Forest Stewardship Council serta Rain Forest Alliance sehingga memenuhi standar yang diterapkan pasar Eropa. Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, maka kegiatan PKL mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda antara lain dilaksanakan di PT Intracawood Manufacturing, Tarakan, Kalimantan Utara.

B. Tujuan Praktek Kerja Lapang

Adapun Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan praktek kerja lapang (PKL) di PT Intracawood Manufacturing adalah sebagai berikut:

a. Untuk memenuhi Tugas Akhir dari kampus sebagai salah satu syarat untuk kelulusan dan mendapat gelar Ahli Madya (A,md).

b. Untuk mengembangkan ilmu yang telah didapat di kampus dan mengapresiasikannya saat praktek.

(22)

c. Untuk meningkatkan kemampuan serta keterampilan mahasiswa dan mahasiswi.

d. Untuk menumbuhkan sikap kepedulian mahasiswa akan pentingnya pengelolaan hutan secara lestari (COC) dan berkelanjutan.

e. Untuk memperoleh pengetahuan, wawasan serta keahlian mengenai proses pembuatan plywood.

C. Hasil yang Diharapkan

Adapun hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) mempunyai tiga sasaran yaitu:

1. Mahasiswa

a. Agar mahasiswa dapat mengetahui kendala-kendala yang ada didalam industri sehingga dari pengalaman PKL mahasiswa dapat menyelesaikan masalah tersebut suatu saat ketika menjadi seorang tenaga kerja dimasa mendatang.

b. Untuk mendapatkan pengalaman serta keterampilan sehingga mahasiswa sebagai tenaga siap pakai, dan terbentuknya rasa tanggung jawab tehadap sebuah pekerjaan dan dapat menjadi ahli madya siap pakai.

c. Untuk menambah wawasan dan memiliki kreatifitas dalam mengembangkan hasil dari pengolahan kayu lapis persection. d. Untuk menciptakan kedisiplinan bagi mahasiswa dan mahasiswi

agar lebih bertanggung jawab dan menciptakan kreasi dan inovasi pada kegiatan praktek kerja lapangan.

e. Memberikan informasi mengenai pemanfaatan kayu yang berada dihutan dan pengolahannya setelah berhasil ditebang dan asal usul

(23)

bahan baku untuk pembuatan kayu lapis legal dan tidak melanggar aturan.

2. Perguruan Tinggi

Agar Politek nik Pertanian Negeri Samarinda menghasilkan Ahli Madya yang mampu menghadapi permasalahan dalam pembangunan industri hasil hutan.

3. Perusahaan

Perusahaan dapat menciptakan pola kebijakan mutu atau kualitas yang lebih inovatif dan kreatif. Dan memberikan kami banyak ilmu yang tidak kami dapatkan sebelumnya dibangku perkuliahan, kegiatan teori dan praktek yang sedikit berbeda namun dapat di pahami setelah terjun langsung mengikuti kegiatan dilapangan.

(24)

PT Intracawood Manufacturing berdiri pada tahun 1988 dan tergabung dalam CCM Group. CCM sendiri didirikan pada tahun 1984 sebagai Holding Company (pemegang saham) PT CIPTA CAKRA MURDAYA yang dibentuk dengan maksud untuk memberikan dukungan dan pelayanan manajemen dan supervisi 23 perusahaannya yang tersebar diseluruh penjuru nusantara dan manca negara. Semua aktivitas dipusatkan di Jl. Cikini Raya 78 Jakarta Pusat.

Intraca merupakan perusahaan yang didirikan atas anjuran pemerintah yang disampaikan oleh Bapak Menteri Ekuin Radius Prawiro kepada Foundre (pendiri) CCM Group Bapak Murdaya Widyaminarto Poo, hal ini bertujuan agar pihak swasta ikut serta berperan dalam usaha pemerataan pembangunan Nasional di Indonesia bagian timur terutama daerah terpencil seperti kota Tarakan. Maka dengan maksud menciptakan dampak positif bagi lingkungan setempat, serta membuka lapangan kerja ke negara tetangga serta meningkatkan ketahanan nasional dan pemerataan pembangunan daerah-daerah terpencil, didirikanlah perusahan yang idenya direalisasikan pada tahun 1988 dengan nama PT INTRACAWOOD MANUFACTURING.

Perusahaan ini merupakan joint venture dari tiga perusahaan yai tu :

a. PT INHUTANI I, bergerak dibidang penyediaan areal hutan untuk bahan baku industri.

(25)

b. PT ALTRAK 78, bergerak dibidang penyediaan alat-alat berat untuk operasional seperti traktor, loader (kepiting), whell, loging truck, dan lain-lain.

c. PT BERCA INDONESIA, bergerak dibidang penyediaan alat-alat kelistrikan dan penyediaan computer.

Perjanjian kerjasama dalam perseroan PT Intracawood manufacturing ini tercantum dalam :

a. Akte No. 43 Tanggal 10 Maret 1988 b. Akte No. 43 Tanggal 21 Juli 1988

c. Akte No. 43 Tanggal 13 September 1988 Beroperasi dibidang : 1. Plywood 2. Sawmill 3. Blockboard 4. Moulding 5. Secondary Processing 6. Wood Working

7. Multi Density Fiberboard (MDF) Dengan tujuan yang memiliki 6 keunggulan :

1. Unggul dalam mengelola hutan dan lingkungan secara lestari 2. Unggul dalam mengembangkan kualitas product

3. Unggul dalam membangun citra perusahaan

4. Unggul dalam memberikan kepuasan bagi custumer

5. Unggul dalam memberikan sumbangan kepada masyarakat 6. Unggul dalam memberikan sumbangan kepada dunia industri

(26)

Pada perjanjian tersebut masing-masing perusahaan tersebut memasukkan saham PT INHUTANI I mempunyai kepemilikan saham sebesar 25%, PT ALTRAK 78 mempunyai kepemilikan saham sebesar 50% dan untuk PT BERCA INDONESIA kepemilikan sahamnya adalah 25%. Pada tanggal 29 Desember 1983 No. 524 dan pada tanggal 3 Desember 1987 izin penawaran modal dalam negeri diterbitkan. Pada 21 Januari 1991 kayu lapis komersial pertama dilakukan penandatanganan prasasti oleh Presiden Ibu Siti Hartati Murdaya dan pada 10 April 1991 ekspor perdana yang menghasilkan devisa bagi negara cukup besar.

Industri PT Intracawood Manufacturing sebagai pabrik kayu lapis terakhir di Indonesia sadar bahwa keberadaannya dicatat pada daftar yang paling bawah. Kemudian management bersama dengan karyawan-karyawan bekerja keras untuk mencapai hasil yang maksimal. Karena itu dalam waktu yang relatif singkat PT Intracawood Manufacturing masuk peringkat lima besar yakni sebagai pabrik penghasil kayu lapis tipis yaitu 2,4 mm x 3feet x 6 feet dan 2,4 feet x 4 feet x 8 feet diant ara 118 pabrik di Indonesia.

PT Intracawood Manufacturing berpusat di Desa Juata Permai yang berjarak sekitar 14 km dari pusat kota Tarakan dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dengan waktu 30 menit.

Luas areal industri seluruhnya adalah sekitar 74,9 Ha yang terdiri dari areal-areal sebagai berikut :

1. Luas pabrik 42.80 Ha (57,21%)

2. Luas areal Perumahan Karyawan /ti (Mees) 7.12 Ha (9,51%) 3. Luas Areal Karyawan Berkeluarga Perumahan 15.00 Ha (20,05%) 4. Luas Jalur Hijau 9.90 Ha (13,23%)

(27)

2. Ketenagakerjaan

PT Intracawood Manufacturig memiliki 3250 orang tenaga kerja yang di bagi dalam beberapa section, yang pada setiap section jumlahnya tidak sama disesuaikan dengan frekuensi pekerjaan, dan waktu kerja dibagi menjadi tiga shift. Dengan jumlah karyawan tersebut, perusahaan ini dapat memproduksi sebanyak 300 m3 perhari dengan rendemen 50%.

B. Manajemen Perusahaan

1. Bahan baku

PT Intracawood Manufacturing dalam memperoleh bahan baku dengan cara mengambil langsung dari HPH yang terletak pada dua tempat yaitu Camp Bengalun dan Camp Sekatak. Untuk bahan baku yang paling sering di pergunakan ialah jenis meranti dan untuk pengelolaan HPH sendiri, PT Intracawood Manufacturing telah mendapatkan Sertifikasi Internasional ISO 9001:2008 karena pengelolaan hutan secara lestari. Pengangkutan log tersebut ke lokasi industri dilakukan dengan meggunakan ponton.

2. Produk yang dihasilkan

Produk yang dihasilkan PT Intracawood Manufacturing adalah : a. Polywood 2,4 mm,2,7 mm, 3,4 mm,3,6 mm, dll

b. LVB (Laminated Vaneer Board) 21,3 mm x 1230 mm x 2460 mm c. LVL (Laminated Vaneer Lamber) 40 mm x 920 mm x 2020 mm d. Floor base 11,5 mm x 945 mm x 1840 mm

e. Blockboard 18 mm x 1220 mm x 2440 mm f. Paper Overlay 2,4 mm x 920 mm x 1830 mm g. Concrete panel

(28)

3. Pemasaran

Semua produk yang dikerjakan pada PT Intracawood Manufacturing sesuai dengan pesanan atau permintaan dari pembeli (buyer). Dalam memasarkan produk yang dihasilkan PT Intracawood Manufacturing mengekspor keluar negeri,yaitu negara Jepang, USA, Hongkon g, Korea dan Negara Eropa. Pembagian ekspor rata-rata 95% yaitu ke Jepang ,sisanya untuk produk lokal yaitu ke Jakarta, Surabaya dan Tarakan.

C. Lokasi Dan Waktu Kegiatan PKL

1. Lokasi kegiatan PKL

Praktek Kerja Lapang (PKL) Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dengan mengikuti secara langsung kegiatan di lapangan mulai dari HPH di Bulungan (camp sekatak) Sampai pada produksi pembuatan Kayu Lapis di PT Intracawood Manufacturing di Tarakan.

2. Waktu kegiatan PKL

Kegiatan Praktek Kerja Lapang dilaksanakan mulai dari tanggal 3 Maret - 30 April 2016. Kegiatan Praktek Kerja Lapang dimulai dari HPH

Camp Sekatak milik PT Intracawood Manfacturing yang berada di KM 0 (Pangkalan), KM 14, Camp KM 32, Camp KM 36, dan Camp Km 61 camp sekatak . Pada tahapan kegiatan Praktek Kerja Lapang di wilayah PT. Intracawood Manufacturing terdiri dari 5 orang mahasiswa dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I dan kelompok II. Kegiatan Praktek kerja Lapang dilaksanakan setiap hari kerja kecuali hari libur. Jam kerja disesuaikan dengan karyawan dari hari Senin sampai har - 16.00 Wita dan kegiatan kerja hari Sabtu dimulai dari jam 07.50 - 15.00 Wita.

(29)

BAB III

HASIL PRAKTIK KERJA LAPANGAN A. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)

Kegiatan di HPH (Hak Penguasaan Hutan) PT. Intracawood Manufacturing menggunakan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) sebagai wujud dari komitmen perusahaan untuk mengelolah hutan secara lestari dan perusahaan ini telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 sebagai perusahaan yang mengelola hutan dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan sehingga dapat meminimalkan kerusakan hutan dari kegiatan pembalakan yang dilakukan. (Sutisna, 1998).

Adapun kegiatan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) di PT. Intracawood Manufacturing dikelompokan menjadi beberapa kegiatan sebagai berikut ;

Kegiatan forest planning dan rehabilitation meliputi beberapa kegiatan yaitu sebagai berikut :

1. Perencanaan 2. Pembinaan Hutan 3. Litbang

4. Lingkungan

5. Produksi Area 1 dan produksi area 2 6. TUK (Tata Usaha Kayu)

(30)

1. Perencanaan

1.1 Penataan Areal Kerja (PAK)

1.1.a. Maksud Dan Tujuan Penataan Areal Kerja (PAK)

Memberikan tanda batas yang nyata di lapangan pada unit pengelolaan hutan, blok kerja tahunan dan petak kerja sehingga pelaksanaan setiap kegiatan pengusahaan hutan dapat dilakukan dengan baik. Serta mempermudahkan pelaksanaan kegiatan pemantauan, pengendalian dan pengawasan dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan pada areal IUPHHK. Dengan tujuan mengatur kawasan hutan sehingga perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan dengan tertib dan efisien.

1.1.b Dasar Teori

Untuk mengatur, merencanakan, memudahkan pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan kegiatan pengelolaan hutan agar sesuai dengan rencana dan ketentuan yang berlaku, maka pada areal kerja dilakukan penataan dengan membagi areal kerja ke dalam unit unit terkecil (Blok RKU, Blok RKT dan Petak-petak kerja).

Penataan Areal Kerja (PAK) yang diterapkan berdasarkan Petunjuk Teknis TPTI yang dilaksanakan tidak lebih dari 4 tahun sebelum penebangan dengan melakukan pembagian areal kerja dalam unit terkecil (petak kerja) dengan luasan ± 100 ha per petak kerja, dimana alur batas blok/petak kerja tersebut idealnya mengikuti bentuk bentang alam seperti sungai, anak sungai, punggung bukit atau jalan dengan melakukan penandaan yang nyata dan jelas disepanjang alur batas.

(31)

1.1.c. Prosedur PAK

1. Pengukuhan areal Unit Pengelolaan Hutan yang bersangkutan serta pembagiannya ke dalam unit-unit produksi.

2. Penetapan Blok Kerja Tahunan dilakukan dengan membagi bagian hutan sesuai daur atau rotasi tebang yang ada.

3. Pembuatan alur batas blok kerja dan petak kerja idealnya mengikuti kondisi topografi datar maka dapat menggunakan batas buatan. 4. Penulisan pada pal sudut blok/petak kerja tahunan dilakukan sebagai

berikut :

a. Pada sisi pal sudut dituliskan :

Nomor Petak Kerja Tahunan (sesuai dengan sisi yang menghadap ke petak)

Tahun RKT menggunakan angka Romawi (ditulis pada semua sisi yang menghadap ke petak)

b. Pada bagian atas pal sudut diberi arah yang menunjukan alur batas blok/petak kerja.

c. Bentuk dan penulisan pada pal sudut blok/petak kerja seperti pada gambar berikut:

7 cm

a) Arah Batas

b) Nomor Petak c) Angka Tahun RKT

Gambar 1. Pal Sudut Petak / Blok kerja 7 cm 150 Keterangan: a) Arah batas b) Nomor Petak c) Angka Tahun RKT Warna dasar pal kuning tulisan warna

merah/hitam 7 cm

(32)

8. Pemberian nomor petak kerja dilakukan secara berurutan Lokasi titik ikat dan titik nol harus ditentukan koordinat geografisnya 9. dengan GPS dan dibuatkan plang yang mencantumkan koordinat 10. geografis tersebut. Seperti pada gambar :

Gambar 2. Plang titik ikat nol

11. Penentuan koordinat geografis sudut-sudut blok/petak kerja dengan GPS yang sedapat mungkin terletak menyebar di seluruh areal blok yang bersangkutan dan dicatat dalam register.

Alur batas blok kerja tahunan adalah batas yang mengelilingi blok kerja tahunan yang sedapat mungkin memanfaatkan jalan utama, jalan cabang dan batas alam yang ada misalnya sungai dan sebagainya atau rintisan yang dibersihkan dari semak semak atau tumbuhan bawah selebar kurang lebih 2 meter dan diberi tanda cat merah strip 3 (///) serta tanda tanda khusus pada pohon pohon di tepinya, seperti pada gambar berikut:

TITIK IKAT / TITIK NOL

BLOK URKT 2010 KOORDINAT :

(33)

cat merah

Gambar 3. Tanda Alur Batas Blok

Alur batas petak kerja adalah batas yang mengelilingi petak permanen yang berupa sungai, punggung bukit atau rintisan yang dibersihkan dari semak semak dan tumbuhan bawah selebar kurang lebih 1 meter dan diberi tanda cat merah strip 2 (//) serta tanda tanda khusus pada pohon pohon di tepinya., seperti pada gambar :

Cat merah

Gambar 4. Tanda Alur Batas petak

1.1. d. Alat Dan Bahan 1.1.d.1. Alat :

Peta rencana trace jalan skala 1:25.000 (dilapangan), peta rencana trace jalan skala 1:10.000 (di Pembuatan data), pita ukur (meteran panjang),GPS, kompas, Clino Meter, buku ukur (tally

HM HM

(34)

Sheet), Kalkulator, alat tulis menulis, kertas grafik kertas millimeter), parang, cat berwarna merah, kamera (untuk dokumentasi).

1.1.d.2. Bahan

Hutan penataan areal kerja (PAK) KM 08 camp sekatak. 1.1.e. Hasil yang di capai

Dalam Kegiatan perencanaan hutan yang meliputi penataan areal kerja (PAK) menghasilkan sebuah blok kerja yang di kerjakan di lapangan seluas 8,9 ha yang akan di lakukan pengerjaan dalam waktu berjalan yang cukup lama sehingga hasil yang di inginkan dapat memuaskan, pengerjaan di lakukan sesuai dengan petunjuk teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).

Gambar 5. Kegiatan Penataan Areal Kerja (PAK) KM 08 Camp Sekatak

1.1.f. Pembahasan

Pada kegiatan perencanaan hutan yaitu penataan areal kerja kami di damping oleh 10 orang perusahaan dan kami 5 orang anak PKL.

(35)

Kegiatan penataan areal kerja ini di lakukan di KM 08, dengan batas batas petak kerja yang di perbolehkan untuk di lakukan penataan areal kerja atau (PAK) yaitu bentuk bentang alam, sungai ,anak sungai, rawa, punggung bukit. Semua batas yang harus di beri tanda alur batas dengan cat berwarna merah sudah di tentukan oleh pihak perusahaan dari peta rencana trace jalan nya, starting point nya melalui GPS, titik koordinat nya, koordinat geografisnya atau di tentukan pada titik sudut yang sudah ada pada blok tebangan sebelum nya yang sudah di ketahui koordinatnya.

Dalam proses awal penataan areal kerja yaitu kegiatan menentukan starting point awal menetukan titik koordinat awal dan memasukkan nya kedalam GPS dengan koordinat UTM (UNIVERSAL TRANSFER MEKATOR) X :0502447 dan Y:360501 yang telah di sediakan , kemudian kita dapat membuat petak, tata batas petak, batas blok pada areal pasca tebang.Hasil yang diperoleh di KM 08 Camp Sekatak yaitu areal seluas 8,9 ha dengan 69 titik dari starting point.

Data kemudian diolah menjadi peta. Pengolahan data menggunakan cara manual menggunakan kalkulator dengan cara ini maka data yang ada di buku ukur di hitung kemudian data di muat kedalam kertas grafik (kertas millimeter) dan cara komputer menggunakan perhitungan excel yaitu data yang ada di buku ukur di masukkan kedalam Microsoft Excel yang sudah ada aplikasi software Arc GIS.

(36)

1.2 Inventarisasi Tegakan Sebelum penebangan (ITSP)

1.2.a. Maksud Dan Tujuan Inventarisi tegakan sebelum penebangan 1.2.a.1. Maksud dari Inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP)

a. Untuk memberikan pedoman unit manajemen dalam menyusun dan melaporkan kondisi tegakan dan informasi lainnya secara tertib dan benar yang meliputi jumlah batang dan volume pohon sebagai dasar penentuan target produksi dan informasi kondisi lapangan sebagai acuan dalam perencanaan penebangan yang efektif dan efisien

1.2.a.2. Tujuan dari Inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP)

a. Untuk mengetahui keadaan penyebaran pohon dalam tegakan yang meliputi jumlah dan komposisi jenis nya serta volume pohon yang akan di tebang

b. Untuk memperoleh dekripsi tegakan (pohon komersial, pohon inti, pohon induk, dan pohon dilindungi)

c. Menyajikan data jumlah komposisi pohon yang ada, khususnya pohon inti dan pohon di lindungi untuk merencanakan jumlah komposisi pohon yang akan di tinggal dilapangan untuk di pelihara sampai berikutnya.

1.2.b. Dasar Teori

Inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) yaitu meliputi kegiatan pengukuran, pengamatan, pencatatan, terhadap pohon yang di rencanakan akan di tebang, pohon inti, pohon yang di lindungi, pohon induk, data lapangan lainnya untuk mengetahui jenis pohon, jumlah

(37)

pohon, diameter pohon, tinggi pohon serta informasi tentang keadaan lapangan/lingkungan yang di laksanakan dengan intensitas 100%. 1.2.c. Prosedur ITSP

1. Penandaan pohon yang di inventarisasikan dilakukan dengan ketentuan berikut:

Pohon ditebang di tandai dengan memasang label ID barcde dan label merah yang memuat informasi tahun RKT, nomor Petak, nomor pohon, jenis pohon, dan nama perusahaan

Pohon inti dan pohon yang dilindungi ditandai dengan memasang label kuning yang memuat informasi tahun RKT, nomor petak, nomor pohon, jenis pohon dan diameter awal,.

Pohon induk ditandai dengan memasang label kuning cm, yang memuat informasi tahun RKT, nomor petak, nomor pohon, jenis pohon dan diameter awal dan di beri polet cat berwarna merah melingkar batang

2. Bila mana ditemukan jenis pohon dengan status RTE ( jarang, langka dan terancam punah), pada pohon tersebut diberi tanda label kuning. Jenis RTE tersebut adalah yang terdapat secara local di wilayah Kalimantan Utara.

3. Pengukuran diameter pohon dilakukan pada bagian pohon setinggi dada rata-rata (130 m dari permukaan tanah).

4. Pengukuran tinggi pohon dimulai dari permukaan tanah sampai dengan cabang pertama dari batang pohon.

5. Penandaan dan pemomoran jalur inventarisasi di lakukan dengan pemasangan label plastik berwarna merah ukuran 7 cm x 7 cm, yang

(38)

memuat informasi tahun RKT, nomor petak dan nomor jalur serta nama perusahaan.

6. Penandaan dan penomoran petak ukur (PU) dengan memasang label plastic berwarna orange ukuaran 7 cm x 8 cm, yang memuat informasi nomor petak, nomor jalur, dan nomor petak ukur (PU) serta nama perusahaan.

7. Baseline tengah di gunakan sebagai dasar pengukuran jalur topografi dan inventarisasi pohon

8. Jalur-jalur inventarisasi tegakan di buat dengan arah utara selatan, timur barat, dan jumlah jalur di sesuaikan dengan luasan petak tebangan. 9. lebar jalur inventarisasi 40 meter jarak datar dan ukuran petak ukur (PU)

20 meter x 40 meter jarak datar.

10. Melakukan pendataan tempat- tempat tertentu seperti:

Sumber Mata air / anak sungai, suaka alam atau margasatwa ,tebing tebing curam, situs budaya masyarakat (tempat-tempat keramat), habitat dan kondisi habitat satwa kiar (missal nya air asin, kubangan babi, dll), identifikasi satwa liar (menggunakan metode checklist), hasil Hutan bukan kayu (HHBK).

1.2.d. Alat Dan Bahan

1.2.d.1.Alat :

Peta hasil PAK skala 1:10.000, peta rencana ITSP skala 1: 4000, buku lapangan (tally sheet), kompas, clinometer, phiband, meteran, steak (tongkat ukur), buku Ukur (tally Sheet), alat tulis dan buku, kalkulator (standart type FX 3600P), paku label pohon ukuran 1,5 , label pohon, cat minyak warna merah, parang, dll.

(39)

1.2.d.2. Bahan

Hutan dan pohon yang akan di data dari hasil PAK di KM 08 camp Sekatak.

1.2.e. Hasil yang di capai

Inventarisasi tegakan sebelum penebangan di lakukan 3 tahun sebelum kegiatan produksi berlangsung.

1.2.f. Pembahasan

Kegiatan (ITSP) yang di lakukan di areal atau petak kerja yang sudah di rencanakan dan di survey pada kegiatan (PAK) sebelumnya. Kegiatan di lakukan di kantor kami tidak kelapangan karena tidak ada kendaraan, dan kami di damping oleh 3 orang perusahaan dan 5 orang anak PKL yang di lakukan tanggal 11 Maret 2016 . Kami membuatlah batas penyebaran pohon dipeta, serta batas batas seperti anak sungai , sungai, serta punggung bukit atau gunung.

1.3. Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PPWH)

1.3.a. Maksud dan Tujuan Perencanaan pembukaan wilayah hutan (PPWH) a. Pelaksanaan survai lokasi jalan dimaksudkan untuk menetapkan dan merencanakan posisi pembuatan jalan angkutan dan prasarana PWH lainnya. Dan bertujuan untuk menyiapkan data dan informasi mengenai kondisi lokasi jalan yang akan dibangun.

1.3.b. Dasar Teori

Kegiatan PPWH adalah kegiatan penyediaan sarana dan prasarana wilayah bagi kegiatan pengelolaan hutan seperti produksi, pembinaan hutan, Inspeksi kerja, transportasi dan komunikasi sarana kerja. Dimana perwujudannya berupa penyediaan jaringan jalan angkutan yang meliputi

(40)

bangunan-bangunan lain seperti jembatan, gorong-gorong dan rambu rambu lalu lintas.

Beberapa definisi Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PPWH) : 1. Jalan angkutan kayu merupakan jaringan jalan utama dan cabang menuju hutan yang sangat penting sebagai jalan untuk mengeluarkan kayu dari areal penebangan menuju log pond.

2. Jalan utama adalah jalan yang dapat digunakan selama jangka waktu pengusahaan hutan dengan lebar kurang lebih 12 meter.

3. Jalan cabang adalah jalan yang bermuara pada jalan utama yang dapat digunakan selama jangka waktu pengusahaan hutan dengan lebar kurang lebih 8 meter.

4. Jalan sarad adalah jalan yang bermuara pada jalan utama atau jalan cabang untuk kegiatan penyaradan kayu bulat dengan lebar kurang lebih 4 meter.

1.3.c Prosedur Kerja Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PPWH) 1. Pembuatan trace jalan tidak diperkenankan melalui hutan lindung

atau kawasan konservasi (Taman Nasional, Swaka Alam), dll, kecuali dengan ijin instansi terkait.

2. Perencanaan panjang trace jalan angkutan diupayakan merupakan jarak terpendek.

3. Sesuai dengan standard Reduced Impact Logging (RIL) kepadatan (density) jalan utama dan cabang tidak boleh lebih dari 1,2 % dari luas blok tebangan.

(41)

4. Pohon yang dilakukan inventarisasi pada trace jalan utama dan cabang adalah jenis komersial berdiameter 20 cm keatas dan diberi label merah

1.3.d. Alat Dan Bahan 1.3.d.1. Alat

R Peta kerja skala 1 : 10.000 hasil PAK, peta garis bentuk skala 1 : 25.000, peta sebaran pohon ditebang yang dilengkapi dengan

kontur hasil ITSP, alat GPS, kompas, clinometers, pita ukur (meteran), kalkulator, buku ukur (tally Sheet), alat tulis dan gambar, kertas grafik (kertas millimeter), cat Kuning, seng aluminium, label pohon, parang, dll

1.3.d.2. Bahan

R Hutan hasil PAK KM 08 camp sekatak yang ada dipeta yang sudah dibuat.

1.3.e. Hasil yang dicapai

Dalam Kegiatan Inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) menghasilkan sebuah blok kerja yang di kerjakan di lapangan seluas 8,9 ha yang akan di lakukan sesuai dengan petunjuk teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).

1.3.f. Pembahasan

Kegiatan (PPWH) pada tanggal 12 Maret 2016, kami di damping oleh 3 orang perusahaan dan 5 orang anak PKL.

2. Pembinaan Hutan

2.1. Penanaman bekas TPn

(42)

2.1.a.1.Maksud dari Penanaman di bekas TPn

a. Memanfaat lahan bekas pemanenan dengan menanam pohon dengan jenis yang dapat di manfaatkan lagi untuk di ambil kayu nya seperti jenis pohon meranti, pohon akasia dll.

b. Mengamati sejauh mana pertumbuhan dari bibit pohon fast growing yang ditanam pada bekas-bekas TPn yang ada.

2.1.a.2. Tujuan dari Penanaman di bekas TPN

a. Agar bibit pohon yang ditanam bisa selalu di jaga perkembangan pertumbuhannya dan jika ada yang mati, maka segera digantikan dengan bibit pohon yang baru.

b. Pohon yang sudah di tanam di lahan bekas TPN yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produksi sehingga proses pembuatan kayu lapis akan terus berlanjut atau berkesinambungan.

2.1.b. Dasar Teori

Areal Bekas TPn adalah areal terbuka bekas Tempat Pengumpulan Kayu pada saat kegiatan pemanenan berlangsung dalam suatu blok tebangan. Sesuai SOP 2 Juni 2012

2.1.c. Prosedur kerja Penanaman bekas TPN

R Mempersiapkan peta kerja skala 1 : 10.000, menghitung jumlah bibit yang di perlukan

a. Ploting Jalan :

Penanaman di areal bekas TPN dan bekas jalan utama dan jalan cabang yang dimulai dari pal km.

Pengukuran dilakukan dengan jarak datar Peralatan : Compass, Clinometer, Meteran

(43)

Hasil pengukuran dipetakan dengan skala 1 : 1000 b. Pembuatan Jalur Tanam

Menebas/merintis tumbuhan bawah yang menggangu tanaman seperti semak, paku-pakuan dan akar-akaran selebar 2 meter arah Utara Selatan, sesuai dengan tanah kosong yang akan di tanami.

c. Penentuan Titik Ukur Jarak Tanam

Jarak tanam 5 m x 5 m apabila pada titik ukur/lubang tanam dalam radius 1,5 m terdapat anakan alam jenis komersial unggulan setempat maka tidak perlu diadakan penanaman, cukup dilakukan penyiangan.

d. Penggalian Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat pada titik ukur jarak tanam dengan ketentuan luas lubang tanam 30 cm x 30 cm dan dalamnya 30 cm.

2.1.d. Alat dan Bahan 2.1.d.1. Alat :

Peta Kerja, compass, clinometers, peralatan Camping, alat tulis menulis, meteran, parang, cangkul .

2.1.d.2. Bahan :

Lahan bekas TPN KM 57 camp sektak dan bibit pohon yang akan ditanam.

2.1.e. Hasil yang Di capai

Kegiatan penanaman di bekas TPN di lakukan untuk memanfaatkan lahan yang sudah disediakan hasil dari di

(44)

lakukannya kegiatan pemanenan dan memanfaatkan bibit yang sudah di sediakan untuk proses kelanjutan produksi.

2.1.f. Pembahasan

Kegiatan penanaman di bekas TPn di lakuakan di KM 57 camp

sekatak dengan kegiatan penanaman di bekas TPn ini yaitu bagaimana menindaklanjuti keadaan atau kondisi suatu areal bekas TPn yang tanahnya telah mengalami kerusakan akibat penumpukan dan bongkar muat log, sehingga dampak-dampak yang akan lebih merugikan lagi dapat ditanggulangi dengan metode dan perlakuan yang tepat guna dengan biaya yang dapat ditekan dan hasil yang nyata dan hutannya pun tetap lestari.

Penanaman di bekas TPN di Km 57 camp sekatak dengan bibit pohon yang sudah di tanam seperti jenis pohon meranti, akasia, jabon, kapur, keruing. Pada kegiatan yang di lakukan tanggal 14 Maret 2016, kami di dampingi 7 orang perusahaan yang ada di camp sekatak, dan kami 5 orang anak PKL.

3. Litbang ( Uji Tanaman)

3.1.a Maksud dan Tujuan dari Uji tanaman 3.1.a.1. Maksud dari uji tanaman

Maksud dari Uji tanaman ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan membedakan riap dengan mengumpulkan informasi / data tentang pertumbuhan tanaman tersebut.

3.1.a.2. Tujuan dari Uji tanaman

a. Mengetahui pengaruh intensitas cahaya pada pertumbuhan jenis Dipterokarpa.

(45)

b. Mengetahui pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan jenis Dipterokarpa.

c. Mengetahui jenis Dipterokarpa yang memiliki pertumbuhan paling baik pada areal uji tanaman.

3.1.b. Dasar teori

Uji tanaman merupakan langkah awal dalam proses membangun hutan tanaman Dipterokarpa. Uji tanaman ini lebih menekankan pada manipulasi lingkungan untuk mempercepat pertumbuhan jenis yang akan dikembangkan pada hutan tanaman Dipterokarpaseae.

3.1.c. Prosedur litbang

1. Sebelum bibit ditanam di lapangan, bibit harus diatur dan disusun menurut kesamaan jenis, asal bibit dan ukuran tinggi bibit. Bibit yang sejenis dengan ketinggian seragam kemudian dikelompokkan. Masing-masing kelompok berjumlah 10 bibit dalam polybag, kemudian polybag-polybag ini ditempatkan dalam kantong plastik jumbo.

2. Setelah semai yang dikelompokkan menurut ukuran semai dalam kantong plastik jumbo, semai-semai tersebut siap untuk dikirim ke lapangan tanam, setelah persiapan lapangan selesai.

3. Uji tanaman pada areal datar, satu blok uji memiliki berukuran panjang 5 m x 2m x 2m x 12m, angka 5 adalah jarak jalur, angka 2 adalah intensitas cahaya, angka 2 adalah level pupuk dan angka 12 berasal dari 4 jenis dengan masing-masing diwakili oleh 3 jalur.

(46)

4. Lebar blok berukuran 3 m x 10 m. Luas blok ini sedapat mungkin uniform / seragam. Dalam kondisi lapangan sangat heterogen, masing-masing blok letaknya bisa terpisah.

5. Angkutan yang berisi satu blok lengkap berarti berisi basket dari seluruh jenis yang diuji.

6. Pengangkutan bibit harus disesuaikan dengan kemampuan tenaga lapangan untuk menanam bibit pada hari itu. Bila penanaman hari itu hanya cukup untuk 2 blok, jangan sampai melakukan pengangkutan bibit ke-3.

7. Penanaman dilakukan dengan sistem cemplongan. Agar tidak terjadi kesalahan, penanaman dilakukan blok per blok.

3.1.d Alat dan Bahan 3.4.1. Alat :

R Kompas, clinometers, meteran 20 m, parang, ajir, plastik mika (label bibit, tanda PU dan jalur), sandak dan cangkul, keranjang bibit (basket), mobil pick-up (langsir bibit), tally sheet dan alat tulis, micro kaliper, kalkulator.

2. Bahan :

R Bibit (jumlahnya sesuai dengan rancangan yang telah dibuat). 3.1.e Hasil yang dicapai

Dari kegiatan yang di lakukan dapat diperoleh hasil pengujian yang terbaik dengan rentetan pengujian yang di lakukan pada tanaman dari family Dipterocarpaceae.

(47)

3.1.f. Pembahasan

Uji tanaman yang di fokuskan untuk family Dipterocarpaceae ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan membedakan riap dengan mengumpulkan informasi/data tentang pertumbuhan tanaman tersebut 4. Lingkungan

4.1. Penanaman Cover Crop (Tanaman Mucona)

4.1.a. Maksud Dan Tujuan Penanaman Cover Crop (Tanaman Mucona). 4.1.a.1.Maksud dari penanaman cover crop

a. Supaya tanah yang terbuka akan segera tertutup oleh tumbuhan kacang-kacangan ini sehingga tidak terjadi erosi atau longsor. 4.1.a.2. Tujuan dari penanaman cover crop

a. Mencegah terjadinya erosi di sekitar kanan - kiri jalan hutan. b. Supaya lahan di sekitar kanan - kiri jalan hutan dapat segera

tertutupi. 4.1.b. Dasar teori

Kegiatan pemanenan hutan adalah merupakan foktor utama penyebab timbulnya dampak terhadap lingkungan. Untuk mengurangi dampak tersebut maka perlu di lakukan penanaman jenis tanaman yang cepat tumbuh pada daerah -daerah yang terkena dampak tersebut, seperti di kiri kanan jalan angkutan, bekas-bekas TPn, lereng-lereng curam dan di tempat lain yang memerlukan penanaman. Sesuai dengan standart operating prosedure 2 Juni 2016.

4.1.c. Prosedur Penanaman cover crop a. Persiapan

(48)

b. Pelaksanaan di lapangan

Penanaman cover crop dilaksanakan dikiri kanan jalan utama, jalan cabang, tebing terjal dan daerah lain yang dianggap perlu.

Dibuat lubang sedalam ±20 cm dan diisi dengan top soil, 4.1.d. Alat Dan Bahan

4.1.d.1. Alat :

Peta Kerja, parang, cangkul, tugal, sarung tangan, GPS, keranjang 4.1.d.2. Bahan :

Tanah dan Polybag b. Top soil tanah c. Biji Mucona

4.1.e. Hasil yang dicapai

Kegiatan penanaman yang dilakukan di KM 57 camp sekatak

(49)

4.1.f. Pembahasan

kegiatan penanaman tanaman mucona yang kami lakukan kami di dampingi oleh 6 orang perusahaan dan kami 5 orang anak PKL di Km 57 di lakukan di kiri dan kanan jalan utama yamg di lakukan pada tanggal 14 Maret 2016, dengan bibit mucona 6 keranjang sebanyak 300 polybag isi nya.

4.2. Pemantauan Erosi dengan Metode Stick (tongkat)

4.2.a. Maksud Dan Tujuan dari pemantauan Erosi dengan metode Stick 4.2.a.1. Maksud dari pemantauan erosi dengan metode stick

a. Pemantauan erosi dengan metode stick untuk mengetahui banyak nya jumlah tanah yang terkikis dan mengenai tongkat atau stick yang sudah di pasang.

4.2.a.2. Tujuan dari pemantauan erosi dengan metode stick

a. Untuk mengetahui sudah sejauh mana tingkat erosi tanah yang terjadi akibat kegiatan pengelolaan hutan.

b. Dapat memberikan tindakan konservasi tanah tepat guna, sehingga mengurangi laju erosi yang akan terjadi.

c. Untuk pencapaian kawasan hutan produksi lestari tetap terjaga dan terpelihara.

4.2.b. Dasar Teori

Pemantauan adalah usaha untuk mengetahui keadaan sesuatu dengan cara yang sistematis dan dilakukan secara periodik untuk selanjutnya data yang didapat digunakan untuk bahan evaluasi ataupun menentukan upaya-upaya yang harus dilakukan.

(50)

Pemantauan erosi tanah (metode stick) adalah usaha untuk mengetahui dampak dari pengikisan tanah atau bagian tanah yang disebabkan oleh aliran air dengan cara yang sistematis Sesuai dengan standart operating procedure 2 Juni 2012.

4.2.c. Prosedur Kerja

Bentuk plot erosi tanah ini berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 10 m. Di dalam plot tersebut di pasang tongkat atau besi yang sudah diberi tanda batas permukaan tanah dengan cat. Jarak antar tongkat atau besi tersebut adalah 1 m x 1 m atau 0.5 m x 0.5 m. Penentuan plot ini harus representatif / mewakili terhadap kemiringan kelerengan.

4.2.d. Alat dan Bahan 4.2.d.1. Alat :

a. Perlengkapan pemetaan dan navigasi (compas, clinometer). b. Perlengkapan pembuatan plot erosi (meteran, tongkat kayu /

besi, parang, cat penanda dan tali pembatas plot).

c. Perlengkapan Pengukuran Plot Erosi ( penggaris, taly sheet dan alat tulis ).

4.2.d.2. Bahan :

- Tongkat stick kayu 4.2.e. Hasil yang Dicapai

Kegiatan yang kami lakukan pada pemantauan erosi dengan metode stick di KM 57 camp sekatak. Diketahui tidak terjadi perubahaan pada stick yang di jadikan pengukur tingkat erosi pada tanah yang mana

(51)

hal itu dikarenakan kondisi kemarau yang terjadi disaat pengamatan berlangsung.

4.2.f. Pembahasan

Kegiatan pengamatan ditujukan pada areal pemantauan erosi dengan metode stick yang sudah jadi dan juga sudah dilakukan pengamatan sebelumnya oleh pihak perusahaan.

Pemantauan terhadap erosi tanah berupa pengukuran besarnya erosi (ton/ha/tahun) yang berkaitan dengan pengukuran, pemantauan terhadap sifat fisik (tekstur, struktur dan permeabilitas tanah) dan kimia (kandungan bahan organik) tanah.

Pemantauan erosi terhadap tanah dengan metode stick di bekas tebangan produksi TPTI 2015, pada pemantauan erosi ada setiap blok atau petak kerja bekas TPN ada 3 titik yang di pasang dengan tanda plot sedang, plot curam dan plot datar .

4.3. Pemantauan Erosi (Metode Bak Ukur)

4.3.a. Maksud dan Tujuan dari pemantauan erosi metode Bak Ukur 4.3.a.1. Maksud dari pemantauan erosi metode bak ukur

a. Dari pembuatan pemantauan erosi dengan metode bak ukur hasil dari air hujan yang terkumpul di bak ukur yang di alirkan kedalam drum kemudian di cek haasil nya setiap satu bulan sekali

4.3.a.2. Tujuan dari pemantauan erosi metode bak ukur

a. Untuk mengetahui sudah sejauh mana tingkat erosi tanah yang terjadi akibat kegiatan pengelolaan hutan, dapat memberikan tindakan konservasi tanah tepat guna, sehingga mengurangi laju erosi yang akan

(52)

terjadi, untuk pencapaian kawasan hutan produksi lestari tetap terjaga dan terpelihara.

4.3.b. Dasar teori

Pemantauan erosi tanah (metode bak ukur) adalah usaha untuk mengetahui dampak dari pengikisan tanah atau bagian tanah yang disebabkan oleh aliran air dengan cara yang sistematis dan dilakukan secara periodik untuk selanjutnya menentukan upaya-upaya yang harus dilakukan. Kegiatan setiap sebulan sekali sesuai dengan standart operating procedure 2 Juni 2012.

4.3.c. Prosedur kerja

a. Siapkan plot pengamatan erosi terbuat dari papan / kayu dan seng dengan ukuran yang disesuaikan areal amatan dengan dimensi konstruksi panjang : 15 m, lebar : 2 m, tinggi : 25 cm.

b. Plot Ukur tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga pada setiap hari-hari hujan, tanah permukaan yang tererosi serta volume aliran permukaan dapat tertampung pada penampung/kolektor yang tersedia dan diletakkan pada bagian bawah bidang kemiringan.

c. Plot Ukur tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga pada setiap hari-hari hujan, tanah permukaan yang tererosi serta volume aliran permukaan dapat tertampung pada penampung/kolektor yang tersedia dan diletakkan pada bagian bawah bidang kemiringan.

d. Segera setelah berhenti hujan dilakukan pengukuran berat terhadap tanah yang tererosi dan pengukuran volume air permukaan yang melewati plot-plot erosi.

(53)

e. Penakar curah hujan ditempatkan pada plot penelitian untuk mengu kur besarnya curah hujan selama periode pemantauan.

f. Tanah dikeringkan dalam oven selama 2 jam dengan suhu 150 derajat celcius, yang selanjutnya ditimbang berat keringnya.

1. Diperoleh jumlah massa tanah yang tererosi :

2. Waktu pemantauan 3. Parameter yang diukur

4. Pemantauan terhadap erosi tanah berupa pengukuran besarnya erosi (ton/ha/thn) yang berkaitan dengan pengukuran pemantauan terhadap sifat fisik (tekstur, struktur dan permeabilitas tanah). 4.3.d. Alat dan Bahan

4.3.d.1. Alat :

Peralatan pemetaan dan navigasi (compas, clinometer), peralatan pengukuran (meteran, tali), peralatan pertukangan (cangkul, parang, sandak), bak pengukur erosi. Kayu (papan), pipa pvc, elbouw (siku), paku, tang, drum / tong plastic, lem pipa, seng. 4.3.d.2. Bahan : air dan tanah

4.3.e. Hasil yang dicapai

Untuk mengetahui seberapa besar dampak erosi pada tanah akibat dari kegiatan pengelolahan hutan yang telah berlangsung dan bahkan yang sedang berlangsung.

(54)

4.3.f. Pembahasan

Pada kegiatan yang pemantauan erosi dengan metode bak ukur yang telah di buat dengan 3 plot yaitu sedang, plot curam, dan plot datar, kegiatan pemantauan erosi ini di lakukan selama 1 bulan sekali.

Pada kegiatan ini saat pelaksanaan di lapangan kami tidak membuat bak ukur, maupun mempersiapkan drum untuk tempat penampungan air dan tanah hasil curah hujan yang tertampung di dalam bak ukur karena tempat yamg kami datangi sudah terpasang dan sudah terbuat namun belum di uji.

5. Harvesting ( Produksi Area 1) 5.1. Pembukaan wilayah Hutan

5.1.a.1. Maksud dan Tujuan dari pembukaan wilayah Hutan a. Maksud dari pembukaan wilayah hutan:

Agar pembuatan jalan sesuai dengan rencana jalan yang telah ada, agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan kerusakan tanah dan tegakan.

b. Tujuan dari pembukaan wilayah hutan :

Meminimalkan kerusakan akibat kegiatan PWH yang diakibat kesalahan pelaksanaan pembuatan jalan,mengurangi keterbukaan tanah akibat pembuatan jalan.

5.1.a.2. Maksud Dan tujuan dari pembuatan jalan angkutan

a. Maksud dan Tujuan dari pembuatan jalan angkutan adalah untuk mempermudahkan pengangkutan hasil kegiatan, sehingga hasil kegiatan tersebut dapat secepat mungkin sampai ke tujuan. Selain

(55)

itu sebagai fungsi pengawasan dan pengelolaan hutan secara lestari juga meningkatkan fungsi sosial dan ekonomi.

5.1.a.3. Maksud Dan tujuan dari Pembuatan jalan sarad

a. Maksud dan Tujuan dari pembuatan jalan sarad adalah untuk pedoman bagaimana tehnik membuat jalan sarad sesuai kaidah yang telah ditentukan, sehingga dampak yang ditimbulkan bias lebih berkurang.

5.1.b.1. Dasar teori pembukaan wilayah Hutan

Pelaksanaan pembukaan wilayah hutan dengan memperhatikan prinsip kelestarian, sesuai Standart Operasional Prosedure (SOP) 2 Juni 2012.

5.1.b.2. Dasar teori pembuatan jalan angkutan

Pembuatan jalan angkutan di mulai dari penandaan trace jalan angkutan dilapngan harus jelas, serta alat alat yang di gunakan untuk pembuatan jalan seperti alat berat, pembuatan jalan angkutan yang di lakukan oleh pihak perusahaan sesuai dengan standart operatimg procedure (SOP) 12 Agustus 2013.

5.1.b.3. Dasar teori pembuatan jalan Sarad

Jalan sarad adalah jalan yang di gunakan untuk menyarad kayu atau log setelah kegiatan pemanenan, jalan sarad di buat dengan melihat kondisi medan tempat produksi dan topografi nya, pembuatan jalan sarad yang di lakukan oleh pihak perusahaan sesuai dengan standart operating procedure (SOP) 2 Juni 2012.

(56)

5.1c.1. Definisi Pembukaan wilayah Hutan

Pembukaan wilayah hutan adalah kegiatan pembuatan jalan utama, cabang dan jalan sarad , dan terhadap pembuatan, pengawas jalan juga mengukur realisasi panjang jalan yang telah selesai dikerjakan

5.1.c.3. Definisi Pembuatan jalan sarad

Jalan sarad adalah jalan yang di gunakan untuk menyarad kayu atau log setelah kegiatan pemanenan, jalan sarad di buat dengan melihat kondisi medan tempat produksi dan topografi nya

5.1.d.1. Prosedur Kerja pembukaan wilayah hutan

a. Melihat peta realisasi perencanaan pembukaan wilayah hutan .

b. Menunjukkan posisi trace jalan utama dan cabang kepada operator, mengawasi proses pembuatan dan mengarahkan cara pembuatannya. c. Menunjukkan posisi Trace Jalan Sarad kepada operator penyaradan. d. Mengukur realisasi jalan utama dan jalan cabang.

e. Mengukur realisasi jalan sarad setelah selesai kegiatan penyaradan. f. Mendata dan mengukur pemakaian kayu untuk pembuatan jembatan,

gorong-gorong, mating-mating dan jembatan samping.

g. Mengukur bekas TPn dan areal yang terbuka akibat kegiatan pembalakan yang luasnya lebih dari 1 ha dan letaknya kompak atau mengelompok guna memberikan informasi kepada bidang terkait untuk dilakukan kegiatan penanaman pengayaan.

5.1.d.2. Prosedur kerja pembuatan jalan angkutan

a. Penandaan trace jalan angkutan hutan di lapangan harus jelas

b. Pembuatan jalan angkutan hutan harus mengikuti route trace jalan yang telah direncanakan di peta dan di tandai di lapangan.

(57)

c. Spesifikasi jalan angkutan harus sesuai dengan desain standar jalan yang ada.

d. Lebar jalan harus minimal disesuaikan dengan ukuran kendaraan yang melewatinya.

5.1.d.3. Prosedur kerja pembuatan jalan sarad

a. Sebagai panduan sebaiknya tentukan dahulu letak TPn dengan luas yang seminimal mungkin yang disesuaikan dengan jumlah kayu keluar.

b. Cari jalan yang terpendek yang dapat mencapai sebanyak mungkin pohon yang dapat ditebang.

c. Jalan sarad harus menghindari daerah curam, anak sungai, rawa dan daerah yang tidak stabil.

d. Panjang jalan sarad disesuaikan dengan penyebaran posisi pohon dan hanya direncanakan sesuai dengan keperluan.

e. Sebaiknya untuk topografi sedang, trase jalan sarad diletakan pada daerah pematang (punggung) agar tingkat erosi kecil.

f. Jalan sarad dibuat selurus mungkin dengan mengikuti garis kontur. g. Jalan sarad harus dipergunakan seintensif mungkin.

5.1.e. Alat Dan Bahan 5.1.e1. Alat :

Peta Kerja Rencana Trace Jalan Angkutan Hutan,skala 1 : 10.000, GPS, kompas, clinometer, meteran, kalkulator, buku ukur (tally Sheet), alat tulis dan gambar, kertas grafik (kertas millimeter), cat kuning, label pohon, parang.

5.1.e.2. Bahan :

(58)

5.1.f. Hasil yang Dicapai

5.1.f.1 Pembukaan wilayah hutan

kegiatan pembukaan wilayah hutan yang di lakukan setahun sebelum kegiatan produksi atau pemanenan di blok RKT 2017 yang dilakukan pada tahun 2016, data data untuk pembukaan wilayah hutan di ambil dari peta kerja (PAK) .

5.1.f.2. Pembuatan Jalan Angkutan

kegiatan pembuatan jalan angkutan yang di lakukan setahun sebelum

kegiatan produksi atau pemanenan agar alat berat dan kayu yang setelah di panen dapat di keluarkan melalui jalan angkutan yang sudah di buat di blok RKT 2017 yang dilakukan pada tahun 2016, data data untuk pembuatan jalan angkutan di ambil dari peta kerja (PAK).

5.1.f.3. Pembuatan Jalan Sarad

kegiatan pembuatan jalan sarad yang di lakukan setahun sebelum kegiatan produksi atau pemanenan agar alat berat mudah masuk dan kayu yang telah di panen mudah untuk di keluarkan dari petak kerja pemanenan di blok RKT 2017 yang dilakukan pada tahun 2016, data data untuk pembuatan jalan sarad pembukaan wilayah hutan di ambil dari peta kerja (PAK) .

5.1. g. Pembahasan

kegiatan pembukaan wilayah hutan, pembuatan jalan angkutan atau

jalan utama untuk logging truk membawa kayu atau log menuju TPn dan TPK antara, pembuatan jalan sarad untuk keluar masuk nya alat berat seperti Tractor D7G dan Dozer D7G untuk menyarad dan mengeluarkan kayu dari tempat penebangan atau pemanenan. 15 Maret 2016.

Gambar

Gambar 2. Plang titik ikat nol
Gambar 6.  Penanaman bibit Mucona di kanan kiri jalan KM 57
Gambar 8. Kegiatan pemasangan Paku S
Gambar 9. kegiatan Pengupasan kayu log   5.2.3.g. Pembahasan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian tentang dasar-dasar pembuatan desain produk mainan anak yang meliputi: ergonomis, bahan baku dan bahan finishing yang aman digunakan untuk anak-anak. Pada saat

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU, MESIN-MESIN, ALAT-ALAT PERLENGKAPAN SERTA SUKU CADANG UNTUK

Mesin Ball Mill merupakan mesin yang digunakan pada tahap awal proses pembuatan kloset yaitu mesin pencampur berbagai bahan baku dan air dengan putaran 970 rpm untuk

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU, MESIN-MESIN, ALAT-ALAT PERLENGKAPAN SERTA SUKU CADANG UNTUK

Sumatera Wood Industry merupakan salah satu perusahaan Make To Order , di mana pengolahan kayu untuk pembuatan daun pintu kayu menggunakan bahan baku jenis kayu sembarang

Dalam penelitian ini dilakukan hidrolisis terhadap tongkol jagung untuk menghasilkan xilosa yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan xilitol melalui proses

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan bahan baku serta mesin yang diperlukan untuk proses pembuatan produk panci, rantang soto, dandang nasi, dan dandang soto pada UD

ABSTRAK Pada industry otomotif, baja merupakan bahan baku yang sangat dibutuh dimana sifat kekerasan sangat dipertimbangkan dalam pembuatan komponen mesin untuk menahan gesekan yang