PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
BERBANTUAN TEKNIK PERMAINAN MISSING LETTER
UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA
BAHASA JEPANG PADA SISWA KELAS X SMA
BHAKTIYASA SINGARAJA TAHUN AJARAN 2015/2016
N. K. A. Mandiastari
1, I W. Sadyana
1, K. E. K. Adnyani
2Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected]
1,
[email protected]
2Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peningkatan penguasaan kosakata dalam pembelajaran bahasa Jepang setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter, (2) mendeskripsikan respon siswa dalam pembelajaran bahasa Jepang pada saat diterapkan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA
Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 10 orang siswa. (1) Hasil penelitian menunjukkan persentase ketuntasan klasikal 20% sebelum diadakan tindakan, pada siklus I mengalami peningkatan persentase ketuntasan klasikal 80%, dan pada siklus II meningkat lagi dengan persentase ketuntasan klasikal 100%. (2) Dari hasil analisis kuesioner, siswa memberikan respon positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter pada pembelajaran kosakata.
Kata kunci: model pembelajaran kooperatif, teknik permainan missing letter,
penguasaan kosakata
要旨
この研究の目的は、(1)「ミッシングレター」ゲームを使用したグループ学習法 による学習者の日本語語彙力の向上を知ること、(2) 授業内 でこの学習法を用いた 場合の学習者の反応を明らかにすることである。この研究の対象は、2015 年度シ ンガラジャバクティヤサ高等学校 10 年生の 10 名である。 (1) 研究の結果、この学 習法を用いる前の予備テストの標準値を超えた割合が 20%、第一周期終了後は 80%、第二周期終了後では 100%であった。(2) この結果から、このゲームを使用 した学習法は学習者の日本語語彙能力を高められるということがわかる。 キーワード:グループ学習法、「ミッシングレター」ゲーム、語彙 PENDAHULUANBahasa Jepang merupakan salah satu bahasa asing yang dipelajari di Indonesia. Tidak hanya Indonesia, bahasa Jepang juga dipelajari di banyak negara dan jumlah peminatnya terus bertambah.
Hal ini disebabkan oleh kedudukan Jepang yang semakin meningkat di kancah dunia.
Peminat pembelajar bahasa Jepang di Indonesia tahun 2015, yaitu 872.000
orang dan menduduki peringkat kedua dunia setelah Cina. Pembelajar bahasa Jepang tingkat Pendidikan Menengah di Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia dengan jumlah 840.000 orang siswa ( Morikawa, 2015).
Bahasa Jepang dimasukkan dalam kurikulum 2006 di tingkat SMA atau sederajat. Walaupun demikian, di tingkat TK, SD dan SMP pun sudah ada yang mendapatkan pelajaran bahasa Jepang. Hal tersebut tergantung dari kebijakan sekolah masing-masing.
Belajar bahasa pada umumnya terdiri dari empat aspek keterampilan. Dalam bahasa Jepang juga mempelajari empat aspek keterampilan tersebut, yaitu keterampilan mendengar ( 聞 く 技 能 ), keterampilan berbicara ( 話 す 技 能 ), keterampilan membaca ( 読む技能 ), dan keterampilan menulis ( 書 く 技 能 ) (Hendriansyah, 2013:1). Akan tetapi, tingkat kesulitan dalam belajar bahasa Jepang jauh lebih susah dan rumit. Hal yang menyebabkan kerumitan tersebut karena bahasa ibu yang berbeda dengan bahasa Jepang. Dalam belajar bahasa Jepang, selain bahasanya yang berbeda, tulisannya pun berbeda. Tulisan dalam bahasa Jepang menggunakan huruf hiragana, katakana, dan kanji. Akan tetapi, sebelum mempelajari tulisan atau tata bahasanya, harus menguasai kosakatanya terlebih dahulu.
Kosakata merupakan kunci dasar dan berperan penting dalam berbahasa, semakin kaya kosakata yang dikuasai maka semakin besar keterampilan bahasa yang dimiliki seseorang, yakni keterampilan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Tarigan, 1993). Bahasa digunakan untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Dengan demikian, perlu adanya pemahaman dan mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tersebut. Salah satu hal dasar yang penting untuk dikuasai dalam mempelajari bahasa Jepang adalah tentang pengetahuan kosakata. Untuk dapat membuat suatu kalimat dan mampu berbicara ataupun menulis dalam bahasa Jepang harus menguasai kosakatanya.
Berdasarkan hasil tes awal yang dilakukan untuk meneliti penguasaan kosakata siswa dalam pelajaran bahasa Jepang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan sekolah yaitu 75. Hasil tes awal siswa tentang penguasaan kosakata hanya 20% yang mencapai atau memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan sekolah, yaitu 2 orang siswa dari jumlah keseluruhan 10 orang siswa. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 62, nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 80, dan nilai terendah adalah 35.
Dari hasil observasi saat pelajaran bahasa Jepang siswa belum mampu melakukan pengulangan kosakata dengan tepat. Kurangnya penguasaan kosakata tersebut yang membuat siswa di kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja terlihat kurang aktif saat menerima pelajaran.
Berdasarkan triangulasi data dari hasil wawancara dengan guru dan perwakilan siswa dengan kriteria siswa yang pintar, berkemampuan sedang, dan berkemampuan rendah menyatakan bahwa memang benar siswa mengalami kesulitan dalam penguasaan kosakata.
Menurut Usman (dalam Paizaluddin, 2014) model pembelajaran yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif jika menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Model pembelajaran dan teknik dalam pembelajaran mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan mengajar guru dalam pengelolaan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif dengan berbantuan teknik permainan missing letter.
Menurut Tampubolon (2014) model pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur pada kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerjasama sangat dipengaruhi oleh keterlibatan setiap anggota kelompok itu sendiri. Karakteristik siswa yang heterogen dari hasil kemampuan siswa, ada siswa yang
sangat pintar dan sangat lemah dalam menerima pembelajaran. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif siswa yang kemampuannya sangat heterogen dikelompokkan dalam memecahkan permasalahan agar kemampuan siswa menjadi seimbang. Siswa yang pintar dapat membantu siswa yang lemah dalam menerima pembelajaran.
Menurut Jhon (2015) teknik permainan missing letter merupakan teknik permainan yang menyenangkan untuk anak semua usia. Pembelajar bahasa pemula dapat berlatih pengenalan huruf dengan mencoba mencari huruf yang hilang untuk melengkapi kosakata. Dengan menerapkan teknik permainan
missing letter, karakteristik siswa yang
pasif dan kurang bersemangat dapat menjadikan siswa aktif dan termotivasi dalam belajar. Siswa akan tertantang untuk mencari huruf yang hilang dalam permainan sehingga siswa menjadi aktif dan termotivasi. Kemudian teknik ini cocok diterapkan karena siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja adalah pebelajar bahasa Jepang pemula. Jadi teknik ini sesuai untuk diterapkan di kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja.
Menurut Santrock (dalam Resmisari: 2014) hakikat permainan bahasa adalah kelompok media pengajaran bahasa yang hanya sesuai dilaksanakan pada kelompok kelas kecil karena teknik permainan missing letter akan terlaksana dengan lebih maksimal pada kelompok kelas kecil. Dengan demikian guru dapat membimbing siswa dengan lebih maksimal menggunakan teknik permainan
missing letter dalam kelompok kelas kecil.
Permainan dapat menguji kemampuan siswa dalam beberapa hal salah satunya penguasaan kosakata (Suparyono, 2010). Teknik permainan disajikan untuk meningkatkan berbagai aspek, seperti mengembangkan daya ingat, melatih kemandirian, dan meningkatkan pembendaharaan kata (kosakata). Permainan missing letter merupakan permainan melengkapi huruf yang hilang dalam sebuah kata agar kata tersebut menjadi kata yang sesuai dan memiliki makna. Teknik permainan ini menggunakan soal yang huruf dari bagian
katanya tidak lengkap. Teknik ini merupakan teknik yang menyenangkan dan akan memotivasi siswa sehingga siswa bersemangat dalam belajar, tentunya juga mengerti dengan kosakata yang diajarkan dan dapat mengaplikasikannya dalam percakapan ataupun karangan.
Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter dalam pembelajaran bahasa Jepang pada siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016, diharapkan dapat meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang siswa. Dengan demikian maka harapan dan tujuan sekolah dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan yaitu nilai siswa memenuhi kriteria ketuntasan minimal.
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing
letter dapat meningkatkan penguasaan
kosakata bahasa Jepang pada siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016? dan (2) Bagaimanakah respon siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016 terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter dalam proses pembelajaran
kosakata bahasa Jepang?
Mengacu pada rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui peningkatan penguasaan kosakata dalam pembelajaran bahasa Jepang setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter pada siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016 dan (2) untuk mendeskripsikan respon siswa dalam pembelajaran bahasa Jepang pada saat diterapkan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter pada siswa siswa kelas X
SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016.
Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama
dalam struktur kerjasama yang teratur pada kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerjasama sangat dipengaruhi oleh keterlibatan setiap anggota kelompok itu sendiri (Tampubolon, 2014).
Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari pemikiran, nilai-nilai demokrasi, belajar aktif, perilaku kerjasama dan menghargai dalam masyarakat multikultural. Menurut Arends (dalam Tampubolon, 2014) setidaknya terdapat tiga tujuan utama dari pembelajaran kooperatif, yaitu (1) peningkatan prestasi akademis, (2) hubungan sosial, (3) keterampilan bekerjasama dalam memecahkan permasalahan.
Hakikat pembelajaran kooperatif adalah terjadi keterlibatan seluruh peserta didik dalam suatu kelompok yang terstruktur. Struktur tersebut meliputi tugas, tujuan, dan penghargaan (reward). Akuntabilitas individu, keterampilan sosial, saling ketergantungan secara positif, dan bekerjasama dalam kelompok adalah karakteristik dari model pembelajaran kooperatif.
Karakteristik khusus pembelajaran kooperatif adalah (1) siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis (kognitif), (2) anggota kelompok terdiri dari siswa berkemampuan rendah, sedang, tinggi, dan (3) sistem penghargaan berorientasi pada kelompok.
Menurut Jhon (2015) definisi
missing letter adalah permainan yang
memberikan kesempatan pada para siswa untuk mencari tahu huruf mana yang hilang dari sebuah kata.
missing letter merupakan permainan yang
menyenangkan untuk anak semua usia. Bahkan pembelajar bahasa pemulapun dapat berlatih pengenalan huruf dengan mencoba mencari huruf yang hilang untuk melengkapi ejaan atau kosakata.
Permainan missing letter ini bertujuan untuk mengasah dan mengembangkan penguasaan kosakata. Dalam hal ini dikhususkan dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang. Dengan melakukan permainan ini siswa akan berlatih kosakata dan dapat
memperkuat daya ingat tentang kosakata tersebut.
Tahapan teknik permainan missing
letter menurut Suparyono (2010) yaitu, (1)
guru mengenalkan kosakata baru dengan
flashcard melalui LCD, dalam program
power point secara berulang-ulang
sampai dipandang siswa paham dan hafal, (2) guru menunjukkan salah satu gambar yang disertai kartu kata dibawahnya, dengan dihilangkan satu atau dua huruf, (3) guru menyuruh siswa menebak dan mencari huruf yang hilang tadi agar menjadi kata yang tepat sesuai dengan gambar yang ditunjukkan tadi (dapat dilakukan secara individu dan kelompok).
Keunggulan teknik permainan
missing letter dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa dengan mengisi bagian-bagian rumpang dalam sebuah kata yang dibantu dengan gambar dari kosakata yang dimaksud. Dengan menggunakan teknik permainan missing
letter siswa juga tidak akan bosan karena
mendapatkan tantangan untuk mengisi bagian-bagian rumpang tersebut dan harus sesuai dengan gambar yang disediakan. Dengan keunggulan tersebut ingatan siswa dengan kosakata akan lebih tajam (Suparyono, 2010).
Kelemahan dalam penerapan teknik permainan missing letter adalah cenderung membuat kelas menjadi gaduh. Pemilihan gambar dalam permainan
missing letter harus tepat sesuai dengan
kosakata yang dimaksud agar tidak menimbulkan kerancuan dalam mengisi huruf yang rumpang (Suparyono, 2010).
Penguasaan kosakata menurut Zuchdi (dalam Astariati, 2014) adalah kemampuan seseorang untuk mengenal, memahami, dan menggunakan kata-kata dengan baik dan benar dengan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
Hiromitsu (dalam Sudjianto dan Dahidi, 2004 menyebutkan kosakata dalam bahasa Jepang sesuai karakteristik gramatikal, yaitu: doushi, i-keiyoushi,
na-keiyoushi, meishi, rentaishi, fukushi,
kandoushi, setsuzokushi, jodoushi, joshi.
Dalam penelitian ini kosakata yang diteliti adalah doushi, i-keiyoushi, na-keiyoushi, dan meishi.
Untuk siswa yang duduk di kelas X SMA sederajat mendapatkan pembelajaran kosakata bahasa Jepang. Sebagai pembelajar bahasa Jepang pemula tentu saja siswa akan banyak mengalami kesulitan dalam pembelajaran kosakata bahasa Jepang. Dengan demikian guru dituntut untuk mampu memilih model pembelajaran dan teknik yang tepat dalam pembelajaran bahasa Jepang.
METODE
Mengacu pada judul penelitian dan rumusan masalah yang diajukan, penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan jenis penelitian yang mengkaji masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. Disebut penelitian tindakan kelas karena dalam penelitian dilakukan tindakan guna meningkatkan kemampuan penguasaan kosakata bahasa Jepang pada siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Rangkaian kegiatan dalam PTK dimulai dari menyadari adanya masalah, kemudian tindakan untuk memecahkan masalah, dan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan (Sanjaya, 2012 : 26).
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Bhaktiyasa tahun ajaran 2015/2016. Alasan memilih subjek penelitian tersebut karena penguasaan kosakata bahasa Jepang sebagian besar siswa yaitu 80% belum mencapai target yang ditentukan yaitu sesuai kriteria ketuntasan minimal sekolah sebesar 75.
Menurut Wendra (2009), objek penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu objek yang mencerminkan proses dan objek yang mencerminkan produk. Dalam hal ini objek yang mencerminkan proses adalah aktivitas dan respon siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter. Objek yang berkaitan dengan produk adalah
hasil kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu instrumen untuk melaksanakan tindakan dan instrumen pengumpulan data. Instrumen untuk melaksanakan tindakan adalah skenario pembelajaran, sedangkan instrumen untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, tes, dan kuesioner.
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Pelaksanaan tindakan terdiri dari beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis gabungan, yaitu dilakukan secara deskriptif kuantitatif kemudian deskriptif kualitatif. Analisis data secara kuantitatif dapat berupa penyusunan data berupa tabel atau grafik, atau hasil perhitungan nilai. Sedangkan data hasil observasi siswa, dan hasil kuesioner siswa dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif.
Untuk mengetahui skor rata-rata klasikal siswa digunakan rumus sebagai berikut.
∑ Keterangan:
x : skor rata-rata siswa ∑x : jumlah semua nilai siswa
n : jumlah siswa
Data respon kuesioner siswa dianalisis dengan menggunakan rumus berikut.
Keterangan:
P : persentase jawaban
f : frekuensi jawaban setiap responden
n : jumlah responden
Hasil analisis kuesioner respon siswa juga dilakukan dengan mencari nilai rata-rata respon siswa (X) yang kemudian dikategorikan berdasarkan pedoman penilaian berikut.
Tabel 1. Pedoman Penilaian Respon Siswa Skor Kriteria X > 32 Sangat Positif 24 < X < 32 Positif 16 < X < 24 Cukup Positif 8 < X < 16 Kurang Positif
X < 8 Sangat Kurang Positif Penelitian ini dikatakan berhasil
apabila 75% atau lebih dari jumlah keseluruhan siswa memiliki nilai posttest sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75 dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang. Sedangkan berdasarkan respon siswa, penelitian dikatakan berhasil apabila 75% atau lebih dari jumlah keseluruhan siswa memberikan respon pada kategori positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing
letter untuk meningkatkan penguasaan
kosakata bahasa Jepang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan sistem siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan hasil dari pemberian tindakan yang sudah dilaksanakan dengan diperkuat data hasil observasi, tes, dan kuesioner.
Sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan, maka terlebih dahulu dilakukan observasi awal, wawancara, dan pemberian pretest untuk mengetahui kemampuan awal penguasaan kosakata bahasa Jepang siswa.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, guru sudah terlihat menguasai materi dengan baik. Akan tetapi, teknik pengajaran yang diterapkan masih kurang optimal untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa. Guru juga tidak menggunakan media dalam mengajar, sehingga siswa kurang antusias mendengarkan penjelasan guru. Saat guru menginstruksikan agar siswa mengucapkan perintah kepada temannya.
Siswa terlihat lebih banyak bercanda dan dengan sengaja tidak memperhatikan guru. Siswa juga terlihat pasif. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran dan teknik pengajaran yang diterapkan guru belum efektif dalam meningkatkan penguasaan kosakata siswa sehingga perlu ditingkatkan lagi.
Selain melakukan observasi terhadap kondisi awal siswa, dilakukan juga wawancara dengan guru dan siswa untuk triangulasi data tentang permasalahan siswa. Dari hasil wawancara dari siswa dan guru menyatakan bahwa memang benar siswa kesulitan dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang.
Hasil pretest penguasaan kosakata siswa kelas X, menunjukkan bahwa kemampuan siswa masih tergolong rendah dengan rata-rata nilai pretest 62. Persentase ketuntasan pretest siswa adalah 20%. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan kosakata bahasa Jepang siswa masih rendah dan perlu dilakukan tindakan dalam pelaksanaan pembelajaran agar penguasaan kosakata bahasa Jepang siswa menjadi meningkat.
Pelaksanaan siklus I diawali dengan tahap perencanaan. Pada tahap perencanaan siklus I dipersiapkan berbagai keperluan untuk pelaksanaan tindakan seperti skenario pembelajaran, RPP, media pembelajaran yaitu kertas permainan missing letter, tes, dan kuesioner.
Pelaksanaan tindakan pada siklus I diawali dengan tahap pendahuluan. Pada tahap pendahuluan dilakukan kegiatan memberikan salam dalam bahasa Jepang, absensi kehadiran siswa, penyampaian apersepsi dan tujuan pembelajaran.
Pada tahapan kegiatan inti, dilakukan pengenalan kosakata pekerjaan dan tempat usaha. Siswa disuruh menyebutkan kosakata dalam bahasa Indonesia. Kemudian ditampilkan gambar kosakatanya dalam bahasa Jepang dalam bentuk power point. Siswa dilatih untuk mengucapkan kosakata sambil memperlihatkan tulisan kosakata dalam bahasa Jepang, siswa dilatih mengucapkan kosakata sampai 3 kali pengulangan. Siswa satu per satu ditunjuk secara acak untuk menyebutkan kosakata yang beberapa hurufnya dihilangkan. Kemudian siswa diajarkan tentang pola kalimat.
Tahap pelaksanaan permainan
missing letter, siswa dikelompokkan
terlebih dahulu. Pengelompokkan dipilih berdasarkan kemampuan siswa. Siswa disuruh untuk menjawab kertas permainan
missing letter setelah paham tentang cara
menjawab kertas permainan missing letter tersebut. Siswa ditunjuk secara acak untuk menjawab soal. Siswa ditunjuk untuk menyimpulkan kosakata. Kemudian dilakukan penegasan materi. Dan diakhiri dengan salam penutup.
Berdasarkan hasil observasi siklus I pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran. Siswa sangat antusias dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter. Namun beberapa siswa
masih mengalami kesulitan.
Setelah pelaksanaan tindakan siswa diberikan posttest untuk mengukur kemampuan siswa sebagai pengaruh dari tindakan yang diberikan. Berdasarkan hasil posttest siklus I siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 80% dan 20% siswa yang tidak tuntas. Sedangkan rata-rata nilai yang didapat siswa adalah 75.
Berdasarkan hasil posttest pada siklus I, terjadi peningkatan persentase ketuntasan klasikal dari 20% siswa yang tuntas pada pretest meningkat menjadi 80% siswa yang tuntas pada posttest siklus I. Hal ini sudah dianggap memenuhi kriteria keberhasilan yaitu secara klasikal 75% siswa mendapatkan nilai sesuai dengan KKM. Namun penelitian perlu dilanjutkan ke siklus
berikutnya untuk validitas data yang diperoleh.
Berdasarkan kuesioner respon siswa pada siklus I diketahui bahwa sebanyak 30% atau sebagian kecil siswa memberi respon positif dan sebanyak 70% atau sebagian besar siswa memberi respon sangat positif. Tidak ada siswa yang memberi respon cukup positif, kurang positif maupun sangat kurang positif. Sedangkan nilai rata-rata respon siswa sebesar 36,2 sehingga dapat dikategorikan sangat positif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Respon Siswa Siklus 1 Berbagai temuan pada siklus I dijadikan bahan refleksi untuk melakukan penyempurnaan pada siklus berikutnya. Pada siklus I ditemui beberapa kendala kurangnya penegasan materi, memperbanyak porsi latihan, dan siswa ditunjuk secara acak agar seluruh siswa fokus dalam pembelajaran. Semua kendala tersebut dijadikan bahan evaluasi dan disempurnakan agar tidak terulang lagi pada tindakan berikutnya.
Berdasarkan hasil posttest dan kuesioner respon siswa pada siklus I, hasil penelitian telah memenuhi kriteria keberhasilan. Namun penelitian perlu dilanjutkan ke siklus II untuk menguji validitas data yang diperoleh dan menyempurnakan berbagai kekurangan yang ditemui pada siklus I.
Sama halnya dengan siklus I, pelaksanaan siklus II diawali dengan tahap perencanaan untuk mempersiapkan berbagai instrumen dan penambahan refleksi pada siklus I.
Adapun materi yang diberikan pada siklus II adalah sifat dan gambaran fisik serta pakaian. Pelaksanaan tindakan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I. Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pelajaran kemudian
70% 30%
Respon Kuesioner Tertutup Siswa Keseluruhan
Sangat Positif Positif
dilanjutkan dengan kegiatan inti pembelajaran dan diakhiri dengan menutup pelajaran. Akan tetapi porsi latihan ditambahkan menjadi 5 kali pengulangan dan untuk siswa yang berkemampuan rendah diberikan porsi menjawab lebih banyak.
Hasil observasi siklus II pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran. Masih sama dengan siklus I, siswa sangat antusias. Pada pelaksanaan siklus II siswa sudah mampu mengingat dan mengaplikasikan kosakata dengan tepat.
Hal ini terbukti dengan partisipasi siswa yang aktif dalam pembelajaran serta siswa fokus dalam pembelajaran.
Berdasarkan hasil posttest siklus II diketahui bahwa seluruh siswa (100%) mendapatkan nilai tuntas dalam penguasaan kosakata dengan nilai rata-rata klasikal 86,5. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan siklus I. Perbandingan ketuntasan siswa dari pelaksanaan pretest hingga siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Perbandingan Ketuntasan Siswa
Ketuntasan Pretest Siklus I Siklus II
Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Tuntas 2 20% 8 80% 10 100%
Tidak
tuntas 8 80% 2 20% 0 0%
Perbandingan nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan yang cukup konsisten. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Perbandingan Nilai Rata-Rata Siswa
Berdasarkan hasil posttest siklus II, terjadi peningkatan persentase ketuntasan klasikal dari 80% siswa yang tuntas pada posttest siklus I menjadi 100% siswa yang tuntas pada siklus II. Hal ini sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan penelitian dapat dihentikan.
Sementara itu, hasil analisis angket respon siswa pada siklus II dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Respon Siswa Siklus II
Berdasarkan analisis kuesioner respon siswa pada siklus II diketahui bahwa respon siswa secara keseluruhan menunjukkan respon sangat positif sebanyak 100%. Skor rata-rata respon siswa sebesar 39,3 dapat dikategorikan sangat positif. Dengan demikian respon siswa sudah memenuhi kriteria keberhasilan dan penelitian dapat dihentikan.
Berdasarkan hasil analisis data secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter mampu meningkatkan
penguasaan kosakata bahasa Jepang siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja. Hal ini terlihat jelas dari pelaksanaan
pretest ketuntasan klasikal siswa hanya
20%, meningkat menjadi 80% pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 100% pada siklus II.
Dengan melihat respon siswa dari kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka dari siklus I hingga siklus II dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang dan respon siswa sudah
62 75 86.5 0 100 Pretest Posttest Siklus I Posttest Siklus II Perbandingan Nilai Pretest, Posttest
Siklus I, dan Posttest Siklus II
Perbandingan Nilai Pretest, Posttest Siklus I, dan Posttest Siklus II
100%
Respon Siswa Keseluruhan dalam Siklus II
Sangat Positif
memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditentukan.
Keberhasilan ini juga dinyatakan oleh Henriansyah (2013) dari hasil penelitian yang diperoleh, yaitu teknik permainan missing letter efektif untuk meningkatkan kemampuan kosakata dasar bahasa Jepang dan respon positif dari siswa kelas X SMA Laboratorium Percontohan UPI tahun ajaran 2013/2014.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data-data hasil penelitian yang didapat dari pelaksanaan tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang pada siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja, dapat ditarik kesimpulan (1) hasil analisis dan pengolahan data dari pretest, posttest I dan posttest II, mengalami peningkatan. Pada pretest persentase ketuntasan klasikal 20%. Pada posttest siklus I persentase ketuntasan klasikal 80%. Pada
posttest siklus II persentase ketuntasan
klasikal 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing
letter mampu meningkatkan penguasaan
kosakata bahasa Jepang pada siswa kelas X SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun ajaran 2015/2016 dan (2) hasil analisis data kuesioner siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter.
Kepada peserta didik diharapkan menerapkan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan
missing letter dalam belajar kosakata
karena sudah terbukti mampu meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang.
Kepada pendidik disarankan untuk memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa agar dapat meningkatkan prestasi siswa, keaktifan siswa, dan membuat siswa merasa senang dalam menerima pelajaran.
Peneliti lain yang melakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbantuan teknik permainan missing letter
diharapkan dapat mengembangkan model pembelajaran ini agar menjadi lebih inovatif.
DAFTAR PUSTAKA
Astariati, M. 2014. “Penerapan Permainan Crossword Puzzle untuk Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Siswa di Kelas X Bahasa dan Budaya 1 SMA Negeri 3 Singaraja Tahun Ajaran 2013/2014”. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.
Henriansyah D. 2013. “Efektivitas Teknik Permainan Missing Letter
Terhadap Kemampuan
Penguasaan Kosakata Dasar Bahasa Jepang”. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia dalam
http://repository.upi.edu/4963/8/S_
JEP_0801213_Chapter1.pdf
(diakses tanggal 16 Juni 2015) Jhon. 2015. “Definisi Missing Letter.
Spellingcity”. Tersedia dalam http://www.spellingcity.com/Games
/missing-letter.html (diakses
tanggal 16 Juni 2015)
Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Morikawa, H. 2015. “Pembelajaran Bahasa Jepang di Indonesia Peringkat Kedua Dunia”. Berita Sore, 2 November 2015. Tersedia dalam
http://www.beritasore.com/2015/11 /02/pembelajaran-bahasa-jepang- di-indonesia-peringkat-kedua-dunia.html (diakses tanggal 26 Februari 2016)
Resmisari, N. 2014. “Penggunaan Teknik Permainan Missing Letter dalam
Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Perancis Siswa Tingkat A1 di SMA 1 Cicalengka Tahun Ajaran 2013/2014”. Skripsi (tidak diterbitkan). Departement de Francais, FPBS Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia dalam
http://repository.upi.edu/12804/1/S _PRS_0907159_Title.pdf (diakses tanggal 16 Juni 2015)
Sanjaya, W. 2012. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, Cetakan Kesembilan.
Jakarta : Kencana.
Sudjianto dan Dahidi. 2004. Pengantar
Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta:
Kesaint Blanc.
Suparyono, E. 2010. “Peningkatan Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris Melalui Permainan Bahasa What are the Missing Letters Pada Siswa Kelas III, SDN Gemaharjo 4, Tegalombo, Pacitan (Penelitian Tindakan Kelas)”. Tesis (tidak diterbitkan). Tersedia pada
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/ article/view (diakses tanggal 16 Juni 2015)
Tampubolon, S. 2014. Penelitian
Tindakan Kelas sebagai
Pengembangan Profesi Pendidik dan Keilmuan. Jakarta: Erlangga.
Tarigan, H. 1993. Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa.
Wendra. 2012. Buku Ajar Penulisan Karya