• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAPAT KERJA PANSUS RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD : RAPAT KERJA KE-3 : MENTER! DALAM NEGERI : 21MEI2003

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH RAPAT KERJA PANSUS RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD : RAPAT KERJA KE-3 : MENTER! DALAM NEGERI : 21MEI2003"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH

RAPAT KERJA PANSUS

RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD

RAPATKE JENIS RAPAT DENGAN TANGGAL

: 3

: RAPAT KERJA KE-3 : MENTER! DALAM NEGERI : 21MEI2003

(2)

RISALAH

PANSUS RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD Tahun Sidang Masa Persidangan Rapatke Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Tern pat Ketua Sekretaris Acara Hadir FRAKSIPDIPERJUANGAN : 2002-2003 : IV : Ke-8

: Rapat Kerja ke-3 : Menteri Dalam Negeri RI : Terbuka

: Rabu, 21 Mei 2003 : 14.50 s/d 16.15 WIB

: Ruang Rapat Pansus B, Lt. 3 Gedung Nusantara II

: M. Yahya Zaini, SH : Ors. lskandar N. Basri

: Membahas DIM Persandingan : 35 dari 50 Anggota 1. SUKOWALUJO MINTORAHARDJO 2. I MADE URIP 3. WILLIAM H. TUTUHARIMA 4. HERIAKHMADI 5. SOEWARNO 6. ZONED MOESNI 7. STERRA PIETERSZ 8. DIDISUPRIYANTO 9. SADJARWO SUKARDIMAN 10. RUTJI GUNUNG MULJONO 11. WOWO IBRAHIM

12. HOBBESSINAGA 13. SUPARLAN 14. JULIUS USMAN 15. OETOYO

FRAKSI PARTAI GOLKAR 1. M. YAHYAZAINI, SH 2. DRS.T.M. NURLIF

(3)

4. DRA. HJ. ROSNANIAR 5. HJ. EVITAASMALDA

6. DRS.H. HAJRIYANTO Y. THOHARI, MA 7. DRS. A.H. MUJIB ROHMAT

8. PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA 9. DRS. IMMANUEL E. BLEGUR

10. DRS.H. FACHRI ANDI LELUASA 11. DRS. IDRUS MARHAM

12. ALEXHESEGEM

ANGGOTA FRAKSI PPP 1. HM. THAHIR SAIMIMA, SH 2. HM. SJAIFUL RACHMAN, SH 3. NY. HJ. AISYAH AMINY, SH 4. DRS. HM. ABDUH PADDARE 5. PROF. DR. IR. AM. SAEFUDDIN 6. Dr. H. ZAIN BADJEBER

FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA 1. CHATIBUL UMAM WIRANU 2. DRS. ALI MASYKUR MUSA, M.Si 3. H. ANDI NAJMI FUAIDI, SH 4. DRA. IDA FAUZIAH

5. H. MUHYIDDIN SUWONDO, MA 6. G. SETO HARIANTO

FRAKSI REFORMASI 1. IR. A.M. LUTHFI

2. PROF. DR. MOH. ASK!N, SH 3. DRA. Hj. NURDIATI AKMA 4. H. TB. SOENMANDJAJA, SD FRAKSI TNl/POLRI

1. AMIR TOHAR, S.IP

2. PIETER L.D. WATTIMENA, S.IP. 3. KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc. 4. Drg. MOERYONO ALADIN, S.IP, MM

(4)

FRAKSI BULAN BINTANG H.M. ZUBAIR SAKRY FRAKSIKKI DRS. S. MASSARDY KAPHAT FRAKSI PDU DRS. H. ASNAWI LATIEF PEMERINTAH

(5)

KETUARAPAT (M. YAHYAZAINI, SH):

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Selamat siang, salam sejahtera untuk kita sekalian.

Berdasarkan catatan dari sekretariat telah hadir 30 orang, 17 yang hadir secara fisik, yang 13 orang izin dari 50 orang anggota, dari jumlah fraksi sejak kemarin memang F.PDU tidak bisa menghadirkan utusanya disini. Sedangkan FPPP sebagaimana kita ketahui sedang punya hajat melaksanakan muktamar sehingga tidak bisa hadir. Oleh karena itu atas dasar kahadiran tersebut maka skosing saya cabut dan rapat saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. (RAPAT DIBUKA PUKUL 15.50 WIB)

Bapak menteri beserta seluruh jajaran, para Anggota Pansus yang saya hormati, agenda kita adalah melanjutkan pembahasan DIM yang sudah diklasifikasi oleh sekretariat. Namun sebelum kita membahas DIM demi DIM, kita kemarin sudah menyelesaikan kurang lebih 309 DIM yang tetap dan dua yang masuk Timus. Dari hasil catatan yang sudah dirumuskan oleh Sekretariat Pansus barangkali masih ada yang ditanggapi dari Laporan Singkat ini, apa sudah dianggap disetujui pas ya, dengan catatan kalau nanti ada hal yang perlu dikoreksi kita koreksi dibelakang, dengan demikian Laporan Singkat ini dapat kita setujui.

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya kita memasuki DIM untuk klasifikasi yang kedua yaitu yang dikategorikan sebagai DIM untuk dibahas ke Timus atau Timsin. Disini ada catatan-catatan yang sudah dirumuskan oleh sekretariat sebanyak 69 DIM dikurangi beberapa DIM yang kemarin sudah dimasukan didalam kategori DIM yang tetap oleh karena itu kita akan bahas satu per satu mulai dari DIM 13.

DIM nomor 13, saya kira disini terkait dengan penomoran UU tentang Parpol baik nomor UU maupun nomor dari Lembaran Negara oleh karena itu saya kira kita semua sudah mengetahui bahwa UU yang dimaksud adalah UU Nomor 31 Tahun 2002. Kalau Lembaran Negaranya bisa kita eek, oleh karena itu ini kita setujui dan langsung kita bawa ke Timus. Jadi DIM nomor 13 kita setujui perumusanya memberikan tambahan nomor baik nomor UU maupun Lembaran Negara adalah ke Timus.

(KETOK SATU KALI) Berikutnya DIM nomor 14, silahkan.Pak.

PEMERINTAH:

Sebentar Pimpinan Pansus. Terima kasih atas waktunya, jadi apakah DIM-DIM yang akan diserahkan ke Timus/Timsin seandainya dalam pembicaraan singkat itu sudah ada kesepakatan sehingga bisa diketok kemudian tidak perlu

(6)

lagi dibawa ke Timus, Timsin juga akan bisa menambah, saya mengambil contoh misalnya menanggapi usulan fraksi-fraksi untuk melengkapi nomor UU Parpol. Jadi DIM 13 ini pemerintah dapat melengkapi UU Nomor 31 tentang Parpol, dengan demikian ya kalau langsung kita perbaiki kan langsung bisa kita ketok, kita sahkan sehingga nanti tidak membebani terlalu banyak Timsin begitu maksud kami, terima kasih.

KETUA RAPA T:

Bisa diterima usulanya pak karena ini cuma penomoran, kami tadi cuma ingin mempercepat saja sebenarnya. Jadi nomornya adalah Nomor 31 Tanun 2002 tentang Parpol, Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 138 dan Tambahan Lembaran Negaranya Nomor 4251, kita setujui ya?

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 14 saya kira sama kita langsung perbaiki yang lengkap dari F.KB ini UU Nomor 12 Tahun 2003 Lembaran Negara Nomor 37 dan Tambahan lembaran Negara Nomor 4277, kita setujui ya ?

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 15, ada dua fraksi disini yang mengajukan usul perubahan redaksional "Dengan Persetujuan Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia" Memutuskan, disini ada F.PPP "Dengan Persetujuan Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia" kemudian dari F.Reformasi "Dengan Persetujuan Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia" Memutuskan, jadi tata cara penulisanya saja yang berbeda, sebenarnya yang ini ahH bahasa cuma yang dikonsep pemerintah adalah yang sudah selama ini menjadi standart yang ada dalam UU, oleh karena itu saya kira ini langsung ke Timus ya?

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 19 ayat (2) "Dewan Perwakilan Rakyat selanjutnya disebut DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD'45. Disini ada beberapa penulisan yang melengkapi sebagaimana aslinya di dalam amandemen UUD'45 yaitu misalnya dari F.PG "Dewan Perwakilan Rakyat selanjutnya disebut DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Jadi ini memang sudah baku penyebutanya saya kira bisa disetujui kecuali F.KB ini minta klarifikasi apakah rumusan-rumusan ini tidak terlalu dangkal karena sulit diketahui perbedaan hakiki antara berbagai lembaga dimaksud. Barangkali sebelum disetujui kita mintakan kesempatan berikan kesempatan kepada F.PKB untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan minta klarifikasi disini. Sehingga

(7)

nanti pemerintah bisa memberikan jawaban, saya persilahkan kepada teman-teman dari F.PKB, Pak Andi barangkali.

F.KB (H. ANDI NAJMI FUADI, SH):

Ya sebenarnya ini terkait dengan DIM yang lain misalnya tentang MPR, tentang DPD karena rumusanya sangat baku selalu menyebut sebagaimana disebutkan dalam UUD. Kami minta klarifikasi apakah bisa tidak kita bisa membedakan yang lebih hakiki lagi MPR yang dimaksud itu apa, DPR yang dimaksud juga apa jadi lebih jelas lagi, saya kira itu.

KETUA RAPAT:

Ada usul tidak yang dimaksud hakiki itu misalnya penambahan keterangan barangkali, a:da usul tidak.

F.KB (H. ANDI NAJMI FUADI, SH):

Kalau di MPR kita ada penambahan usul untuk membedakan dengan DPR.

KETUA RAPAT:

Tadi kita sudah mendengar dari F.KB minta penjelasan apa sebetulnya perbedaan yang hakiki antara DPR :dengan lembaga negara yang lain. Oleh karena itu barangkali dari pemerintah bisa, karena ini memang klarifikasi, dari pemerintah saya persilahkan.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan. Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus. Terhadap usulan F.KB ini pemerintah berpendapat bahwa sesuai dengan Pasal 2 UUD'45, keberadaan MPR sebagai institusi terdiri atas Anggota DPR, dan Anggota DPD, yang memiliki tugas dan wewenang sesuai dengan Pasal 3 dan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD'45. Dari ketiga pasal itu maka dapat dikatakan bahwa MPR dari sudut kelembagaan mempu:nyai kedudukan dan kewenangan tersendiri yang berbeda sama sekali dengan kedudukan DPR dan DPD. Dengan demikian MPR bukan hanya merupakan persidangan gabungan tetapi lembaga tersendiri. 8elain itu MPR tidak lagi memang merupakan lembaga tertinggi negara sebab UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak lagi memposisikan MPR sebagai pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat sesuai Pasal 1 ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Selanjutnya pengertian umum mengenai MPR, DPR, DPD dan DPRD harus mengacu secara persis sesuai dengan maksud UUD'45 dan perbedaan hakiki antar lembaga-lembaga tersebut telah dijelaskan didalam Pasal-pasal UUD'45, ini keterangan dari pemerintah, terima kasih Pimpinan Pansus.

(8)

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Memang ini persoalanya ada dua saya kira barangkali kita setujui dulu yang perumusan cara penulisan. Jadi cara penulisan sudah diusulkan oleh fraksi-fraksi yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, saya kira ini kita ketok dulu ya?

(KETOK SATU KALI)

Sekarang yang terkait dengan batasan, ini selalu kita berdebat disini apakah batasan sama tidak dengan definisi sebagaimana yang biasa kita fahami. Oleh karena itu tadi pemerintah sudah menjelaskan merujuk saja kepada UUD, dari F.PKB kelihatanya ingin memberikan penegasan atau uraian yang lebih kira-kira begitu sehingga membedakan dengan lembaga negara yang lain dari Pak Seto masih ada.

F.KB (G. SETO HARIANTO):

Sebetulnya yang ingin kita mintakan klarifikasi dan sebetulnya bukan hanya kepada pemerintah tapi mungkin kepada kita sekalian. Selama ini kan kita mengenai ada lembaga tertinggi dan lembaga tinggi, dan itupun tidak pernah tertulis dalam UUD 1945. Jadi persoalan kita adalah apakah melalui UU Susduk ini kita mau menegaskan bahwa baik MPR, DPR itu adalah lembaga tinggi negara. Karena istilah itu memang tidak ada, apakah kita mau masukan disini atau tidak, atau kita cukup selanjutnya menyatakan kalau DPR, MPR itu ya lembaga negara saja tidak ada soal tinggi-tidak tinggi tapi biasa saja. Kalau kita memang sepakat kita katakan bahwa MPR, DPR, nanti BPK kita sebutkan sebagai lembaga tinggi negara. Semua kita sebutkan lembaga tinggi negara, untuk membedakan mungkin dengan lembaga negara lainya, bukan tinggi atau bagaimana itu posisi persoalan yang kami ajukan supaya Susduk ini mengaturnya, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya saya kira pada ahirnya agak menjadi substansi kalau kita mau tarik agak mendalam tapi sebenarnya kalau kita lihat secara bahasa adanya penyebutan lembaga tinggi karena ada lembaga tertinggi. Ssetelah tidak adanya lembaga tertinggi apakah masih diperlukan penyebutan lembaga tinggi ini juga suatu diskusi barangkali apa tidak sebaiknya kalau misalnya lembaga negara saja. Karena itu kami persilahkan fraksi-fraksi memberikan tanggapan, pertama dari Pak Hobbes, silahkan.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Sebenarnya di fraksi kamipun ini bukan tidak diperdebatkan cukup lama kita perdebatkan tapi kalau misalnya kita mencari rumusan dengan batasan yang seperti tadi yang diinginkan F.PKB memang nanti jadi agak sulit. Kita katakan bahwa MPR itu lembaga permusyawaratan, lantas waktu DPR apa namanya, waktu DPD apa namanya. jadi sebenarnya yang justru yang kita persoalkan adalah sebenarnya inikan memang dalam setiap UU selalu ada Ketentuan Umum.

(9)

Di dalam Ketentuan Umum ini dimaksukanlah MPR, DPR, dan seterusnya ini sebenarnya kalau menurut saya ini sebenarnya tidak apa-apa cuma karena mungkin selalu harus ada Ketentuan Umum jadi masuk ini karena akhirnya rumusanya ya sesederhana ini. MPR itu seperti yang dimaksud dalam UUD'45, DPR seperti yang dimaksud dalam UUD'45 dan seterusnya. lni sebenarnya seandainya misalnya tidak perlu harus ada Ketentuan Umum sebenarnya ketentuan ini juga sebenarnya tidak perlu ada karena nanti yang menjelaskan MPR itu apa adalah di pasal-pasal berikutnya itu, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Dari yang lain silahkan, F.TNl/Polri. F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):

Terima kasih Pimpinan. Saya coba menyoroti masalah tinggi dan tidak tinggi, saya kira ini saya berargumen pada kesetaraan pada UU yang sudah ada saja UU Parpol, UU Pemilu kita tidak pernah menyebut lambaga tinggi MPR, DPR tapi lembaga MPR, DPR, saya kira sesuaikan dengan itu saja, terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Kohirin, yang lain masih ada, dari F.PG silahkan. F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):

Terima kasih Ketua. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bapak Menteri beserta jajaranya dan bapak-ibu yang saya hormati. Kami melihat begini Pak Ketua. Jadi memang betul tadi ada usulan dari untuk dibahas lebih lanjut memang itu demikian tapi pengertian ini kita harus melihat bahwa masing-masing lembaga yang ada itu mempunyai keistimewaanya sendiri-sendiri. Sehingga kalau disebut MPR itu dia lembaga tinggi atau tertinggi juga jadi pertanyaan kembali. Karena sebetulnya karena yang mengubah menetapkan UU hanya diberi kewenangan MPR dia tertinggi tapi dengan DPR sendiri bagaimana, dia adalah lembaga yang mempunyai otonomi sendiri mengenai fungsi legislasi, diakan yang tertinggi dalam bidang legislasi. Jadi saya sependapat dengan pemerintah bahwa ini kembali kepada normatif yang katanya dengan acuanya UUD. Jadi tidak perlu karena bidangnya masing-masing, begitu juga MA, MA kan tertinggi dalam bidang kehakiman jadi dari sudut pandang tugasnya nanti yang akan terlihat, terima kasih Ketua.

KETUA RAPAT:

Dari fraksi-fraksi kelihatanya sudah, dari pemerintah apa masih ada yang perlu disampaikan atau ditambahkan Pak Menteri.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan Pansus. Memang menyebut sesuatu subjek posisinya seperti apa memang kadang-kadang tergantung konvensi atau

(10)

kelaziman yang selama ini seting diposisikan kepada lembaga itu. Kalau UUD itu sendiri sebelum diamandemen didalam penjelasanya pada saat menyebut Presiden adalah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi dibawah Majelis. Tentu dalam konteks pemerintahan itulah memang yang tertinggi Presiden. Sehingga masing-masing punya posisi yang tertinggi dalam bidangnya masing-masing, lalu karena Majelis itu sendiri MPR pada waktu itu terdiri atas Anggota DPR, Utusan Daerah, dan Golongan yang mempunyai tugas memilih Presiden, menetapkan GBHN dan seterusnya itu lalu orang memposisikan itu sebagai lembaga tertinggi diantara yang tertinggi-tertinggi dalam bidangnya itu. Jadi tentu kita tidak perlu terjebak mendiskusikan soal tinggi dan tertingginya itu. Saya mengambil analog! tetapi secara cuk itu barangkali, di militer itu ada perwira tinggi tetapi bisa saja orangnya pendek kaya saya begini, ini memang sebutan saja soalnya. Jadi apakah tertinggi lalu tapi dalam konteks kewenangan-kewenanganya.

Jadi pendapat kami dari pemerintah kita tidak usah terlalu masuk mendiskusikan tentang lembaga tertinggi atau tinggi, tetapi yang jelas dia adalah lembaga-lembaga negara yang diatur menurut konstitusi UUD, yang kewenangan dan fungsi-fungsinya masing-masing itu memang berbeda-beda. Dengan demikian MPR itu memang lalu menjadi satu lembaga yang memang walaupun isi anggotanya itu gabungan diantara Anggota DPR dan Anggota DPD. Jadi yang bergabung bukan DPR dan DPD-nya tetapi adalah Anggota DPR dan Anggota DPD itu masuk didalam keanggotaan kelembagaan yang namanya MPR itu, yang fungsi kewnenganya memang sudah diatur. Dengan demikian maka kembali kita cukup secara normatif merujuk kepada UUD'45 setelah diamandemen itu.

Disitulah kita memposisikan masing-masing lembaga tanpa harus

mempertentangkan ini tinggian mana. Saya kira tidak perlu kesana, karena semuanya adalah lembaga negara hanya kalau kita mendengar pembawa acara atau protokol kalau hadir atau tidak hadirpun mesti ada kata-kata yang terhormat pimpinan lembaga tinggi dan tertinggi negara itu. Sampai sekarang kita masih mendengar itu, soal hadir atau tidak tidak dipersoalkan tetapi ucapanya itu musti pimpinan lembaga tinggi dan tertinggi negara suka disebut maka secara kelaziman yang biasa selama ini disebut nanti tentu mengarah kepada pimpinan lembaga negara. Sebab kalau bicara tinggi-tinggian kan jadi nanti jadi persoalan saya kira demikian penjelasan pemerintah, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih pemerintah. Dari putaran ini kelihatanya baik pemerintah maupun fraksi-fraksi memang tidak berkehendak untuk memberikan penjelasan lebih mengenai posisi atau kedudukan tapi barangkali sebagai ingatan kita saja bahwa penyebutan lembaga tinggi dan tertinggi negara itu adalah Tap MPR tentang hubungan antar lembaga tinggi dan tertinggi. Disitulah interpretasi dari UUD oleh MPR juga, persoalanya apakah kita berhak memberikan penafsiran DPR ini

(11)

kepada UUD ini juga menjadi persoalan dibelakang hari, nanti teman-teman di PP bisa mempertanyakan. Oleh karena itu. ini satu hal yang menarik saya kira penting untuk dijadikan sebagai pembicaraan karena memang kita pernah mempunyai wacana dan bahkan aturan yang formal mengenai masalah ini dan itu adalah Tap MPR yang sampai sekarang belum dicabut walaupun nanti akan ditinjau. Oleh karena itu kita kembali kepada teman-teman F.PKB dengan penjelasan itu saya kira kita tetap kepada rumusan awal dengan penyempurnaan penyebutan sebagai yang sudah menjadi standart, apa bisa disetujui, disetujui ya Pak seto?

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya mengenai DIM 11omor 20 saya kira sama sudah ada penyebutan yang standart dan apa yang dimaksudkan teman-teman F.PKB juga sama substansinya, karena itu ini bisa kita setujui.

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 52 itu terkait dengan Bagian Keempat Tugas dan Wewenang Pasal 10, MPR mempunyai Tugas dan Wewenang: a. mengubah dan menetapkan UUD, dari F.PDIP susunan dan rumusan berubah Bagian Ketiga, ini penyesuaian saya kira pak ya. Jadi posisinya saja yang disesuaikan dengan usulan dari F.PDIP. Kemudian dari fraksi lain itu tidak ada, karena itu bisa kita setujui ya ?

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 56 Pasal 10 huruf d "melantik wakil Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melaksanakan kewajibanya dalam masa jabatanya", disini dari fraksi-fraksi hanya dari F.PDIP ini yang sebenarnya urut-urutanya saja yang berubah karena memang ada tambahan usulan oleh karena itu rumusan ini bisa kita setujui ya.

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 58 masih dalam Pasal 10 huruf f "memilih Presiden dan Wakil

Presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam masa

jabatanya. Dari dua paket calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh parpol atau bagungan parpol yang paket calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan sebelumnya sampai habis masa jabatanya. Disini untuk F.PDIP saya kira menyesuaikan posisinya bukan substansi, tetapi dari F.TNl/Polri yang kelihatanya ada sisipan, menurut F.TNl/Polri disesuaikan dengan rumusan yang ada dalam UUD'45 oleh karena itu kami minta penjelasan terlebih dahulu dari F.TNl/Polri.

(12)

F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):

Terima kasih Pimpinan. lni orientasinya atau latar belakangnya apabila kita menyebut pemilihan sebelumnya. Kami khawatir karena konteks ini adalah konteks pemilihan Presiden pada tugas MPR pada Pasal 7 dan 8 UUD'45 kalau tanpa menyebutkan pemilu takutnya ada penafsiran ini pada pemilihan sebelumnya untuk itu perlu dipertegas sesuai dengan UUD. Bahwa sebenarnya memilih Presiden atau Wakil Presiden itu melalui pemilu, demikian saja Pimpinan, terima kasih. KETUA RAPAT:

Jadi istilah pemilu itu dalam UUD pak ya penyebutanya, dari yang lain apa ada tanggapan, kita setujui ?

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

F.PDIP saya kira itu bukan hanya sekedar itu masalahnya jadi memilih dan melantik, dari usulan pemerintah memilih saja, jadi kita menambhakan kata melantik.

KETUA RAPAT:

Kita bahas usulan F.PDIP setelah usulan dari F.TNl/Polri dulu pak ya, dari F.TNl/Polri mengusulkan agar supaya pemilihan yang dimaksudkan disitu ditambahkan umum. Jadi pemilihan umum jadi lebih jelas, kemudian dari F.PDIP ada tambahan juga yaitu melantik, jadi memilih dan melantik selebihnya sama dengan konsep pemerintah oleh karena itu kepada F.PDIP kami berikan kesempatan untuk menjelaskan dulu, silahkan pak.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Memang kalau disebut hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden sedangkan di UUD'45 itu disitu bukan itu lagi yang menjadi tugas utama dari MPR justru disitu tugasnya adalah melantik Presiden. Jadi setelah memilih juga melantik, jadi kata melantik disi11i perlu dimasukan untuk mempertegas fungsi MPR disini, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Sebelum pemerintah barangkali ada dari fraksi lain akan ingin menanggapi kedua hal ini, kami persilahkan Pak Seto.

F.KB (G. SETO HARIANTO):

Terima kasih. Mananggapi usulan dari F.PDIP kata-kata melantik atau sebagai tugas MPR itu sudah ada pada DIM 53. Jadi tugas wewenang MPR a dan seterusnya b melantik Presiden dan Wakil Presiden. Jadi tugas MPR melantik itu sudah ada jadi menurut saya tidak perlu ditambahkan disini.

(13)

Yang kedua, usulan dari F.TNl/Polri bahwa ditambah dengan kata-kata umum ini menurut saya tidak ada salahnya supaya lebih jelas, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Dari yang lain, Fraksi Reformasi saya persilahkan.

F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA, SD): Terima kasih Ketua.

Kalau menurut hemat kami melihat usulan dari rekan F.PDIP ini itu akan menegaskan bahwa pelantikan itu berkenaan dengan paket yang dipilih dalam forum tersebut dalam pada Majelis itu. Jadi ini penegasan kami memandang satu hal yang cukup penting dicantumkan.

Yang kedua juga sama dengan usulan F.TNl/Polri itu penekanya bukan hanya sekedar redaksional tapi ini sangat prinsip. Karena itu kata pemilihan umum lebih relevan ditambahkan disini, saya kira itu pimpinan. Jadi kami tepatnya mengakomodasikan kedua pendapat ini, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Berikutnya dari fraksi lain ada yang perlu disampaikan. F.PBB (H.M. ZUBAIR BAKRY):

Terima kasih Pimpinan. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kelihatanya apa yang diusulkan oleh F.TNl/Polri ini memang satu penegasan karena adanya kata Wakil Presiden suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan memang bisa menimbulkan suatu pengetian lain. Jadi adanya kata pemilihan umum sebelumnya itu lebih tegas, sedangkan menurut kami kalau masalah melantik ya memang sudah tugas MPR melantik itu dan memang sudah dinyatakan dalam UUD melantik Presiden dan Wakil Presiden. Dalam segala posisi apakah langsung sudah memenuhi suara terbanyak juga melantik kemudian ada kejadian luar biasa juga melantik dan itu sudah otomatis pelantikan itu, jadi kami mendukung penegasan dari para usul F.TNl/Polri

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Jadi dari putaran ini kita setujui dulu usul dari F.TNl/Polri, kita setujui yang terkait dengan pemilihan ditambah umum, jadi pemilihan umum.

(KETOK SATU KALI)

Kemudian sekarang yang terkait dengan usulan F.PDIP, jadi pemerintah sudah memberikan penjelasan sama saya kira dengan pandangan dari beberapa fraksi tadi mengenai kewenangan mellantik sudah tertera didalam DIM nomor 53. Namun demikian kami tetap kembalikan kepada F.PDIP sebelum diambil keputusan.

(14)

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Saya mau minta perhatian kita semua sebenarnya ini mungkin tidak hanya sekedar melengkapi bahasa tapi mungkin juga waktu diamandemen UUD itu. Mungkin juga hampir-hampir tidak terpikirkan ini, tapi persoalan DIM 53 berbeda dengan DIM 58 ini, DIM 58 ini adalah menyangkut Presiden dan Wakil Presiden yang secara bersamaan berhenti total mungkin karena sesuatu hal dan dalam kondisi yang seperti itu maka MPR yang memilih Presiden dan Wakil Presiden itu. Lantas yang melantiknya siapa, karena bisa saja nanti suatu saat diperdebatkan bahwa yang melantik itukan hanya yang hasil pemilu lantas kayak yang seperti ini melantiknya siapa itu satu.

Yang kedua, itulah gunanya ada UU, undang-undang itu melaksanakan UUD, hal-hal yang belum diatur dalam UUD selama itu tidak bertentangan dengan UUD itu sendiri saya kira justru fungsi UU itu adalah melengkapi memperjelas apa yang ada di UUD, lebih memerinci karena dia melaksanakan karena fungsinya melaksanakan. Jadi dengan sangat hati-hati dan melihat ini sehingga kami mengusulkan untuk melengkapi kalimat ini memilih dan melantik supaya satu saat tidak timbul permasalahan dan itu. Jadi kami minta perhatian kita semua untuk melihat ini kedepan, ini bisa jadi masaiah dimasa yang akan datang, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Hobbes, yang ditanggapi saya kira mengena1 1m kewenangan dari MPR terkait dengan penambahan kata melantik yang sesungguhnya bukan sekedar rumusan memang ini tapi terkait dengan tugas wewenang MPR, silahkan Pak Seto.

F.PKB (G. SETO HARIANTO):

Ya tentunya saya ingin memperoleh klarifikasi dulu tentang posisi DIM 53 karena kalau DIM 53 ini usulan F.PDIP diterima sebetulnya kata-kata melantik di DIM 58 tidak perlu karena F.PDIP di DIM 53 merumuskan sesuatu yang bersifat umum. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden kapanpun. Jadi kalau itu yang kita terima sebetulnya dibelakang-belakang tidak usah lagi memilih dan melantik. Karena ini bunyinya umum kan, berbeda dengan naskah RUU yang mengatakan melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilu dalam Sidang Paripurna DPR memang itu spesifik. Jadi saya bisa memahami maksud Pak Hobbes karena itu saya mau mengembalikan apakah DIM 53 ini usulan F.PDIP diterima atau tidak. Kalau diterima sebetulnya DIM 58-nya tidak perlu dengan kata-kata melantik lagi karena ini sudah bersifat umum.

KETUA RAPAT:

Ya saya kira ada benarnya apa yang disampaikan Pak Seto karena memang rumusan asli UUD itu seperti DIM nomor 53. Jadi tugas atau posisi MPR itu hanya melantik sedangkan pemilihanya oleh rakyat kan begitu. ltu berbeda pada DIM nomor 58 dimana MPR juga mempunyai kewenangan memilih ditengah

(15)

jalan kalau kedua-duanya berhalangan. Tapi tidak menyebutkan dilantik pada hal juga ada proses pelantikan. Nah ini memang saya kira agak mendasar dalam pengertian karena ada kewenangan yang belum diatur dalam UUD yang hendak ditambahkan oleh teman-teman dari F.PDIP. Tetapi memang usul F.PDIP yang butir b ini agak berbeda, jadi kalau memang b ini diterima memang tidak perlu lagi usulan yang, sekarang kembali kepada F.PDIP, usulan yang mana yang mau dipertahankan, apakah yang DIM 58 walaupun kita tidak membahas yang 53 tapi ini terkait dan ini sangat mendasar. Saya kira karena bunyi-bunyian di DIM 53 ini memang tekstualnya sama dengan UUD, sedangkan teman-teman dari F.PDIP ingin memberikan rumusan lain yang berbeda dari rumusan UUD, saya kira ini Pak Hobbes perlu direspons terlebih dahulu, saya persilahkan.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

lni kalau tukar-tukaran jadi kita di DIM 53 ini posisinya tetap, jadi seperti yang diusulkan oleh pemerintah. Jadi kita mempertahankan di DIM 58 tapi DIM 58 ini memang ini sangat prinsip lho ini posisinya, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya sudah clear memang sehingga tidak bertentangan kira-kira begitu sementara usulan F.PDIP. Di DIM 53 dengan usulanya di DIM 58, sekarang kita terfokus kepada DIM 58. Karena di DIM 53 sudah dicabut, kita kembali di DIM 58 saya minta tanggapan dari fraksi-fraksi satu kali lagi putaran mengenai masalah ini. Kelihatanya ini bukan soal rumusan tapi substansi, karena kita sudah kadung membahas tentu kita akan putar sekali lagi untuk mengabil posisi untuk bisa dicapai kesepakatan, berikutnya F.TNl/Polri silahkan pak.

F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc): Terima kasih Pimpinan.

Kami mencoba bahwa setelah kami pelajari atau kami dalami memang ada relevansi yang menegaskan tentang memilih dan melantik, permasalahanya kata melantik ini dalam UUD-pun kita ada pasal tentang kontijensi yaitu apabila DPR dan MPR karena suatu hal tidak bisa bersidang, pelantikan bisa didepan Pimpinan disaksikan oleh MA, itu daiam UUD-pun kita berikan klausul pelantikan kalau ada Sidang Paripurna DPR atau MPR. Ada masalah, saya kira atas dasar itu saya sependapat dengan saran F.PDIP untuk kita lebih pertegas bahwa selain memilih maupun dalam memilih pasti Paripurna MPR maka sekaligus saja juga bisa melantik setelah forum itu dalam Paripurna MPR pula. Saya kira saya sependapat untuk lebih menegaskan apa yang diusulkan F.PDIP, sekian Pimpinan, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.TNl/Polri, berikutnya dari F.Reformasi. F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA, SD): Terima kasih Pimpinan.

(16)

KETUA RAPAT:

Dari F.PBB saya persilahkan. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):

Ya memang ini jadi pertimbangan ya, tapi saya mengacu kepada keharusan memilih, dari dua paket calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh parpol itulah yang dipilih salah satu diantara keduanya. Tentunya setelah terpilih ya terpulang kembali karena sudah ada Presiden yang menetap kembali lagi kepada kewajiban dan wewenang dari pada MPR untuk melantiknya. Tapi apakah perlu ditegaskan kembali dalam hal ini, kalau memang merupakan penegasan ya dalam satu UU yang lazimnya saya kira bisa diterima memHih dan melantik itu. Tapi karena urutan kalimat ini satu dan itu hanya pada faktor memilih sebenarnya dan apabila dimasukan dikaitkan dengan melantiknya barangkali karena melantik ini apakah perlu. Karena memilih dan melantik ini sementara kalimat ini keseluruhanya adalah bermakna memilih sehingga kata melantik disini terselip masuk dari pada sesuatu seharusnya kata ini melantik apakah ditaruh dibelakang disini susunan bahasa yang saya persoalkan.

KETUA RAPAT:

Saya kira ini ada usulan kajian baru dari F.PBB substansinya bisa diterima tetapi posisi kalimatnya agar tidak mengganggu substansi dari butir ini kan sustansinya memilih apakah tepat memberikan sisipan kata melantik disitu apa tidak sebaiknya dibelakang saya kira ini juga bisa menjadi pertimbangan, dari KKI saya persilahkan.

F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT): Terima.kasih.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Hobbes, untuk antisipasi kedepan saya kira akhirnya kami bisa menerima ini untuk menambahkan kata melantik itu, ini untuk antis1ipasi kalau terjadi hal-hal nanti dikemudian hari, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Kaphat.

Sebelum pemerintah, jadi dengan demikian maka ada dua kemungkinan

m1

satu diterima substansinya rumus.anya kemudian. Yang kedua kembali kepada rumusan pemerintah, ini saya kira posisinya seperti itu karena memang sebagian besar fraksi menyetujui usulan dari F.PDIP ini. Tapi ada analisa terakhir dari F .PBB memang apa tepat rumusan itu disisipkan ditengah sehingga tidak mengganggu substansinya saya kira juga menjadi pertimbangan, saya persilahkan pemerintah.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan Pansus. Didalam RUU ini memang pasal-pasal yang disitu adalah mengatur tentang memilih, tentu ini untuk membedakan mana

(17)

yang dipilih oleh rakyat dan apabila sudah dipilih kemudian dilantik oleh MPR. Kemudian ternyata berhalangan tetap kedua-duanya maka MPR diberi wewenang untuk memilih yang sebenarnya hak memilih itu ada dirakyat, apakah diplih oleh rakyat atau dipilih oleh MPR. Memang hak kewajiban MPR itu melantik, jadi sebenarnya inilah kita menempatkan urusan memilih ditempat memilih disitu tidak kita masukan kata melantik. Melantik itu sudah menjadi hak kewajibanya MPR karena dulu memang dipilih oleh MPR otomatis dilantik oleh MPR. Kemudian dipilih oleh rakyat sekarang ini tetap yang melantik adalah MPR, kalau ternyata kedua-duanya berhalangan tetap maka memilih Presiden - Wakil Presiden dikembalikan ke rakyat ternyata tidak. Jadi diberikan hak MPR untuk memilih pasangan itu, mau-tidak mau juga pelantikanya ada di MPR karena dipilih oleh rakyat langsung saja dilantik oleh MPR apalagi tentu dipilih oleh MPR itu sendiri. Jadi memang kata-kata melantik tidak kita insert disitu karena memang ini pasalnya mengatur mengenai hak memilihnya sedangkan hak melantiknya kedua-duanya baik dipilih oleh rakyat langsung ataupun oleh MPR sendiri ya dilantik di MPR tersebut, demikian Pimpinan Pansus, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya kira kita sudah mendengar penjelasan pemerintah, bisa saja DIM ini kita kaji lebih lanjut di Panja misalnya nanti jalan keluarnya pelantikanya ditambahkan di Penjelasan, artinya penatikan di DIM 53 itu termasuk misalnya yang tengah jalan itu juga bisa tapi posisinya kita masukan ke Panja ya. Jadi DIM 58 usulan F.PDIP Panja, usulan F.TNl/Polri diterima ya pak.

(KETOK SATU KALI)

Tapi gambaran jalan keluarnya kira-kira, berikutnya DIM nomor 61 ini terkait dengan Pasal ·11 Bagian Kelima Hak dan Kewajiban ayat (1) "dalam melaksanakan dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Anggota MPR mempunyai hak: a. mengajukan usul perubahan UUD", disini fraksi-fraksi kebanyakan tetap kecuali tiga fraksi pertama dari F.PDIP menyisipkan kata anggota, sehingga berubah menjadi "Hak dan Kewajiban Anggota" untuk melaksanakan tug as dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Anggota MPR mempunyai hak mengajukan usul perubahan UUD, kemudian dari F.KKI disini usul perubahanya mengajukan usul perubahan UUD, kemudian dari F.PDU juga sama mengajukan usul perubahan UUD, karena itu kami berikan kesempatan kepada F.PDIP untuk memberikan penjelasan, saya persilahkan Pak Hobbes. F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Baik terima kasih, memang karena ini masih dalam lingkup MPR itu yang disebut MPR itu adalah terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD jadi untuk mempertegas itu kita mengusulkan supaya Bagian Kelima ini di sub judulnya itu adalah Hak dan Kewajiban Anggota, kita pertegas anggota itu. Jadi bukan kewajiban MPR saja, jadi anggota untuk mempertegas MPR itu adalah terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD, terima kasih.

(18)

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Hobbes. Jadi saya kira sudah mendengar tadi penjelasanya memerlukan lembaga yang dimaksudkan oleh F.PDIP, tetapi anggota-anggota jadi disini posisinya menurut F.PDIP bukan lembaga tapi anggota. Oleh karena itu kami berikan kesempatan kepada fraksi-fraksi untuk memberikan tanggapan terhadap usul dari F.PDIP, saya persilahkan, kita urut dari F.TNl/Polri.

F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc): Terima kasih Pimpinan.

Kalau kita melihat a, b, c, dan e memang ini fokusnya untuk anggota jadi menentukan sikap dan pilihan sampai protokoler, keuangan dan administratif kalau kita konsisten dengan isi dari hak dan kewajiban tersebut dipertegas untuk anggota saya lebih sependapat untuk menambahkan hak dan kewajiban anggota karena ada beda antara hak dan kewajiban anggota dengan institusi.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, berikutnya F.KKI belum ada pak, dari F.PG saya persilahkan.

F.PG (ORA. HJ. ROSNANIAR):

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sesuai dengan apa yang kita tetapkan didalam DIM 61 Hak dan Kewajiban MPR kita tidak mencantumkan anggota, karena di dalam ayat (1) jelas itu kita sebut dengan anggota Pasal 10. Jadi kita perkuatnya melalui Pasal 10 itu Anggota MPR mempunyai hak. Jadi anggotanya itu di ayat pertama dari Pasal 11 jadi judulnya tetap kita sebutkan Hak dan Kewajiban. Yang dimaksud disitu adalah Hak dan Kewajiban Anggota MPR. Jadi tetap kita mempertahankan apa yang kita mu at di dalam Pasal 11, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.PG, intinya adalah dari substansi sudah masuk hak anggota walaupun sebetulnya tidak disebutkan, berikutnya dari F.Reformasi saya persilahkan.

F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA, SD):

Terima kasih Pimpinan. Hadirin yang saya hormati, kalau mencermati Bagian Kelima pada DIM 61 ini Pasal 1 ayat (1) a, b, c, dan d seperti juga saya merujuk keterangan dari F.TNl/Polri tadi memang menegaskan kepada status keanggotaan bukan kepada institusinya. Dengan demikian usul Bagian Kelima Hak dan Kewajiban ditambah kata anggota itu akan semakin menegaskan tentang peran anggota disitu bukan peran lembaga, jadi kami mendukung atas usul tersebut, terima kasih.

KETUA RAPAT:

(19)

F.PKB (G. SETO HARIANTO}:

Terima kasih Saudara Pimpinan. Sebetulnya kalau kita mencoba konkordan dengan DIM 52 Pasal 10 disana Bagian Keempat Tugas dan Wewenang tidak disebut apakah itu lembaga atau anggota. Tetapi ketika kita membaca uraianya memang dimaksudkan adalah lembaga. Sedangkan Bagian Kelima Hak dan Kewajiban j!uga tidak disebut apakah itu untuk lembaga atau anggota tetapi dari substansinya kita tahu itu anggota. Jadi bagi kami sebetulnya tidak terlalu prinsipil apakah mau ditambahkan atau tidak. Jadi andaikata kita sepakat tambahkan menurut saya juga boleh kalau tidak juga, karena toh tidak terlalu prinsipil, dipertegas ditambahkan cuma pertanyaanya tentu apakah pada bagian keempat DIM 52 tidak perlu ditambahkan Tugas dan Wewenang MPR supaya lalu konsisten, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Seto, berikutnya dari F.PBB silahkan pak. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):

Terima kasih Pimpinan. Kalau saya memperhatikan secara hirarki dari Bab II ini pertama substansi dasarnya adalah lembaga MPR. Kemudian tersusun menjadi bagian petama dan kemudian pada Pasal 1 dan Pasal 2 itu susunan dan keanggotaan, jadi lazimnya sudah mencakup keseluruhan, sehingga kalau di DIM ditambah dengan kata keanggoataan itu terlalu spesifik. Pada hal disini keadaan dimaksud lembaga dan keadaan dimaksud anggota semua tercakup dalam pasal demi pasal, jadi saya kira substansi sudah diatur dalam pasal. Maka untuk bagian kelima, bagian keenam dan lain-lain saya kira tidak perlu lagi dicantumkan didalam. Bahwa hak dan kewajiban siapa yang dimaksud nanti pada pasalnya yang menentukan dan hak dan kewajiban yang dimaksud disini bukan hanya kepada anggota tetapi dilain fihak juga MPR sebagai lembaga tapi karena langsung pasalnya menjelaskan anggota dan ini sudah dicakup. Sebagaimana dimaksud Anggota MPR mempunyai hak dan saya kira sudah lazim demikian kalau kita mau bicara herarki, jadi agak tidak tepat kalau dikatakan Bagian Kalima Hak dan Kewajiban Anggota, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Berikutnya sebelum pemerintah dari F.KKI ada? F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT}:

Terima kasih. Jadi kami juga sependapat bahwa usul pemerintah ini sudah tepat jadi oleh karena itu untuk penambahan kewajiban anggota itu saya kira tidak perlu terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Jadi saya kira dari pandangan fraksi-fraksi ada dua pendapat yang mengatakan pertama hak dan kewajiban itu. Karena mengacu kepada judul besar diatas sehingga tidak perlu disebutkan lagi secara spesifik

(20)

anggota. Tapi F.PDIP dan beberapa fraksi tadi yang lain memang mengatur soal lembaga kecuali ini saja yang mengatur tentang anggota. Selain yang bagian petama, dalam rangka memperjelas posisi maka perlu ditambahkan anggota, kami mintakan tanggapan dari pemerintah, kami persilahkan pak.

PEMERINTAH:

Untuk DIM 61 ini terhadap usulan F.PDIP memang kalau nanti dicoba sambil dilihat kembali diteliti kembali. Judul dengan isi, mana yang menyangkut soal institusi, mana yang menyangkut soal hak dan kewajiban anggota, yang satu tugas dan wewenang nanti di Timus supaya lebih bisa mempadukan agar jelas. Apa yang dimaksud dengan tugas dan wewenang dari kel,embagaan institusi itu dan didalam melaksanakan tugas dan wewenang dalam institusi itu. Anggota MPR mempunyai hak dan kewajiban tertentu yang dicantumkan. Jadi apakah di dalam judul dibagian itu langsung masuk kemudian isinya tinggal isi apa hak dan kewajibanya atau cukup seperti ini, tetapi rumusanya sudah bisa membedakan mana yang dimaksud hak dan kewajiban anggota dan mana yang menjadi tugas dan wewenang institusi. Jadi pada prinsipnya pemerintah tidak keberatan apabila ini nanti oleh Timus saja didalam menyerasikan dan merumuskan karena tentu kita ingin melahirkan suatu UU yang format, bentuk dan lain sebagainya juga bisa mudah difahami, demikian terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pemerintah. Saya kira posisi dari DIM 61 ini kita masukan ke Timus dan Timsin, karena tidaknya terkait dengan MPR. Saya kira juga nanti lembaga-lembaga lain dibelakangnya juga hampir sama nanti. Jadi memang perlu ada penyerasian karena itu DIM nomor 61 kita masukan ke Timus.

(KETOK SATU KALI)

Berikutnya DIM nomor 65 pasalnya sama huruf d mengenai keuangan dan administratif, dari F .PDIP sebenarnya ini terkait dengan substansi dan uruturutan, dari F.PG urut-urutan, dari F.PPP saya kira sama, F.PKB tetap kemudian dari F.KKI juga urut-urutan, darii F.PDU urut-urutan, keran itu kami minta penjelasan dari F.PDIP saya persilahkan.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Memang selain urut-urutan memang ada beberapa yang kami tambahkan. Jadi mungkin yang seperti ini perlu dalam Timsin nanti perlu itu karena juga dari fraksi-frasi lain juga mengusulkan urutan yang berbeda juga. Jadi saya kira ini bukan satu hal yang sangat prinsip tapi mungkin di Timus/Timsin nanti barangkali bisa dikompilasi setiap pendapat fraksi ini, karena fraksi-fraksi lain jug a hampir mengenai urutan juga dan tambahan menurut mereka, terima kasih.

(21)

KETUA RAPAT:

Persoalanya dari F.PDIP, apakah keuangan dan administratif tetap kemudian ditambahkan baru ini, mustinya jadi mengajukan pembelaan itu hal yang tersendiri mustinya, saya kira itu jadi DIM nomor 65 ini bisa disetujui ya, pemerintah setuju ya?

PEMERINTAH:

Ya kalau memang disetujui tentu lebih. KETUA RAPAT:

Ya ini keliru tempat pak, jadi teman-teman F.PDIP posisinya tetap cuma ini ada usulan baru mengajukan pembelaan.

PEMERINTAH:

Apakah kami juga harus merespons mengenai usulan pembelaan itu apakah dibatasi untuk,. belakangan ya jadi kalau memang sudah disetujui tentu kami juga lebih sependapat pak, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Kita setujui DIM 65 dengan catatan nanti yang urut-urutan disesuaikan usulan F.PDIP kita bahas tersendiri.

(KETOK SATU KALI) Berikutnya DIM 68 ayat (2) tata cara penggunaan. PEMERINTAH:

lnterupsi Pimpinan Pansus. lni yang dimaskud ususlan pembelaan itu mohon dibahas tersendiri itu apakah nanti di dalam tetap di dalam Pansus ini apakah nanti di Panja atau bagaimana ini.

KETUA RAPAT:

Di Pansus saja, karena terkait. PEMERINTAH:

Nanti waktu masuk kembali ke pembahasan ditingkat Pansus ini di DIM 65 berarti kita membahas usulan F.PDIP, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Lanjut DIM 68 ayat (2) saya bacakan ulang tata cara penggunaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan tata tetib MPR. Disini ada usul F.PPP sebenarnya penyesuaian ayat saja kemudian dari yang lain F.KKI saya kira juga sama penyesuaian, oleh karena itu bisa kita setujui ya?

(22)

Berikutnya DIM nomor 70 Pasal 12 huruf d melaksanakan UUD'45 dan peraturan perundang-undangan, dari F.PDIP sebenarnya tidak ada perubahan disini mungkin penyesuaian nanti kalau perlu. Dari F.PG tetap, di F.Reformasi ada penulisan yang seragam dan sama. Saya kira ini dapat disetujui ya, F.PBB agak berbeda ini dari F.PBB ada usulan peraturan perundang-undanganya dihapus. Kemudian dari F.PDU disempurnakan dengan kalimat yang panjang melaksnakan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menegakan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan YME, seta menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku lebih luas. Jadi pertama kita setujui dulu yang standart tentang tata cara penulisan usulan dari F.Reformasi dan F.TNl/Polri setujui pak ya ?

(KETOK SA TU KALI)

Berikutnya kita bahas usulan dari F.PBB, kami minta penjelasan terlebih dahulu dari F.PBB, saya persilahkan pak.

F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY}:

lni MPR lembaga anggota, apabila sudah disebutkan melaksanakan UUD'45 itu memang sudah kewajiban tapi apabila dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan, saya bertanya peraturan perundang-undangan yang mana. Apakah m1 kalau kita mau mengacu kepada peraturan perundangundangan itu, terlalu banyak yang harus dilakukan tapi apakah tidak cukup MPR ini kewajiban pokoknya ialahi mekasanakan UUD'45.

Ketua, ini ada penjelasan yang lebih diantara fraksi untuk menegaskan kembali, ini akan kembali kepada konsep pertama dari pada pemerintah.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.PBB. Barangkali kalau ini sebelum fraksi-fraksi akan lebih baik kalau pemerintah menjelaskan terlebih dahulu. Karena memang disini kewajiban anggota ini memang bukan hanya UUD tapi juga peraturan perundang-undangan. Jadi ada UU juga mungkin ada Keppres yang mengatur tentang kita juga, atau juga pengkajian kita dengan umum, mungkin itu yang dimaksud, namun supaya lebih afdol kami persilahkan pemerintah terlebih dahulu. PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan Pansus. Yag terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus, memang Anggota MPR yang sebenarnya sama dengan warga negara yang lain. Hanya karena posisi dan kedudukanya tentu ada hak-hak imunitas yang memang diatur dalam UU. Namun tentu di dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab, wewenangnya itu secara kelembagaan sudah diatur tetapi sebagai keanggotaanya. Anggota Majelis tentu kepada yang bersangkutan juga harus tunduk dan mengikatkan diri terhadap semua peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pengetian tentu, yang terkait dengan pelaksanaan tugas fungsinya itu sebab kalau hanya dicantumkan UUD semata, sedangkan

(23)

peraturan perundangan sesuai dengan pnns1p negara hukum, sebagimana diamanatkan dalam Pasal 1 ayat (3). Lalu bisa terjadi nanti seolah-olah anggota itu steril dari kewajiban, b.mduk atau patuh kepada peraturan perundang-undangan. Lah inilah yang mengingatkan kepada Anggota Majelis nanti bahwa sebagai lembaga memang institusinya cukup mempunyai posisi yang sangat terhormat dan cukup tinggi. Namun sebagai dicermati benar karena penuangan anak kalimat ini juga saya melihat ada dampak-dampak kedepan yang perlu sama-sama kita pikirkan, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.PG. Jadi kerukunan nasional itu sudah tercakup dalam keutuhan negara kesatuan. Namun demikian tentu sebelum fraksi-fraksi barangkali kami ingin mendapatkan, kita kembalikan terlebih dahulu kepada pemerintah, sebelum fraksi-fraksi lain nanti memberikan tanggapan, saya persilahkan pak.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan Pansus. Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus. Memang didalam konteks kalau kita kenapa kita masukan kata kerukunan nasional. Memang biasa dilihat dari dua sisi apakah seolah-olah selama ini tidak rukun atau kerukunan itu sendiri menjadi suatu kemutlakan. Misalnya kondisi yang itu menjadi mutlak, persoalanya memang kita tergantung frasanya misalnya dengan dicantumkanya itu lalu setiap anggota merasa bahwa ya memang kerukunan itu menjadi bagian yang tidak terepisahkan dalam kehidupan bangsa. Sehingga disadari bahwa setiap sikap, ucap, tindak, jangan sampai menimbulkan konflik baik internal di Majelis maupun secara rasional.

Jadi kalau kita berbicara berkali-kali tentang kerukunan, tentang kegotong-royongan, tentang persatuan-kesatuan, apakah bangsa ini tidak pernah bersatu ya pernah tapi kadang-kadang kondisinya juga kadang-kadang menurun. Sehingga pernyataan persatuan-kesatuan itu toh nyatanya juga didalam mulai dari dasar negara Pancasila sampai dengan orang selalu mengatakan persatuan dan kesatuan. Akhirnya juga memang kita yang memberikan pembenaran bahwa memang kondisi itu selalu istilahnya naik-turun dinamis. Nah inilah yang menjadi ingatan bahwa kalau sudah menjadi anggota yang terhormat ini maka sikap, ucap, tindak, dan paradigma berfikirnya itu dalam konteks bisa menjaga keutuhan tadi. Keutuhan apa, keutuhan dari NKRI itu secara teritoris, secara politis, secara sosio kultural dan seterusnya inilah yang memang dengan sengaja kita masukan untuk mengingatkan. Jadi jangan sampai nanti mohon maaf inikan nanti Anggota Majelis yang terdiri dari Anggota DPR dan DPD, dimana DPD itu wakil dari daerah-daerah yang dipilih langsung oleh rakyat. Maka kalau dia tidak memahami arti persatuan-kesatuan dan kerukunan dia bisa terjebak dalam rangka memperjuangkan kepentingan sesaat dan hanya sepihak itu bisa menimbulkan dis-harmoni diantara daerah atau antar anggota itu sendiri.

(24)

Nah itulah memang didalam RUU ini sengaja untuk bisa kita masukan dalam rangka untuk selalu menjaga atau mengingatkan bahwa masalah kerukunan. Yah bukan berati kemarin-kemarin setiap saat tidak rukun bukan begitu maksudnya, kalau itu dimasukan itu hanya mengingatkan, itu yang dimaksud oleh pemerintah, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih pemerintah. Jadi memang Anggota MPR yang terdiri dari Anggota DPR dan DPD diharapkan bisa menjaga keutuhan dan kerukunan. Dengan bahasa yang lain, barangkali yang sering disebut-sebut kalau keutuhan itu lebih kepada konflik vetikal kira-kira begitu. Tapi kalau kerukunan lebih kepada konflik horizontal sampai ada sikap penyataan ataupun hasil kira-kira begitu yang ditelorkan oleh MPR itu mengarah kepada kedua konflik itu. Kira-kira begitu saya menafsirkan dari pemerintah kita kembali kepada F.PG apakah sudah bisa difahami atau masih tetap pada pendirianya saya kembalikan.

F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):

Hanya dengan catatan tadi Ketua, kekhawatiran kami demikian sebetulnya kata kerukunan nasional dalam satu perangkat keutuhan. Kenapa kita membuat satu penambahan kalimat yang artian maksudnya untuk mengukuhkan tadi disisi lain untuk menunjukan bahwa kita ini memang sulit untuk menjaga keutuhanya itu sendiri. Jadi sekali lagi kami menganggap bahwa ini tentunya bukan hanya sekedar substansi sebenarnya. Kami juga ingin masukan dari teman-teman fraksi yang lain karena ini jadi kita adop, kita sepakati tanggungjawab kita semua. Kami, dengan ini menitik beratkan mengapa kita, jadi tidak melemparkan sesuatu yang nanti malah menyebabkan dikemudian hari yang kita rasakan semakin demikian. Kita tahu pola-pola lalu, kita harap ditinggalkan hanya berupa slogan-slogan saja, tapikan implementasinya sepeti apa. Yang lalu itukan selalu banyak dengan bahasa yang istilahnya berbunga-bunga, yang sebetulnya juga pengertian itu kurang begitu dapat dihayati dan melekat pada masing-masing diantara pengemban amanat itu sendiri, terima kasih Ketua.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.PG, sebelum kita ambil keputusan barangkali ada tambahan tanggapan atau penjelasan lain dari teman fraksi-fraksi sebelum kita ambil posisi mengenai masalah ini, saya persilahkan F.PDIP.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Fraksi PG menginginkan ada komentar dari kita, jadi dari F.PDIP sekarang mau memberikan komentar. Jadi kami mungkin sangat setuju dengan usul yang disampaikan oleh pemerintah sehingga bayangkan saja bikin lagi disini sampai dicantumkan disini pada hal isinya sama. Jadi memang betul, saya kira ini perlu dicantumkan karena memang terus terang saja kadang-kadang kita itu bisa saja betul sering mengatakan demi kesatuan bangsa tapi dia tidak mau

(25)

menyadari disini demi kesatuan bangsa NKRI. Tapi disini dikatakan untuk kepentingan tertentu yang bisa menimbulkan konflik horizontal. Jadi memang kadang-kadang kita yah memang betui itu harus ada ukuran yang jelas, atinya paling tidak kita dipedomani dengan satu normatif yang mengatakan bukan hanya kesatuan bangsa ini yang perlu dijaga, tapi kerukunan diantara masyarakat. Kerukunan nasional itu harus terjaga dengan baik, kita sebenarnya justru sekarang ini sulit untuk menegor kadang-kadang pemimpin-pemimpin bangsa ini mengatakan seperti ini seolah-olah itu kepentingan nasioanl. Pada hal kepentingan kelompok yang akibatnya juga kita lihat akibatnya kayak apa dan saya kira itu perlu kita ingatkan makanya kami sangat setuju sebenarnya, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari F.PDIP, berikutnya dari F.TNl/Polri, walaupun kita sudah tahu tapi sebaiknya diberikan penjelasan.

F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):

Terima kasih Pimpinan. Pada prinsipnya F.TNl/Polri sependapat apa yang dikonsepkan oleh pemerintah, dengan pemahaman bahwa kebiasaan yang lalu didepan negara kesatuan kita selalu mencantumkan persatuan dan kesatuan. Kita melihat bahwa persatuan dan kesatuan juga ada dis-interpretasi, apakah menjadi penyeragaman dan lain sebagainya padahal kita ingin persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan. Kalau itu rumusanya, saya kira terlalu bahasa dewa-dewa nampaknya pemerintah mengajukan sebuah rumusan yang sangat simpel dan mudah difahami oleh kita semua yaitu kerukunan nasional. Karena memang pada konteks persatuan-kesatuan kalau sudah rukun akan terjadi sebuah persatuan-kesatuan, atas dasar itulah F.TNl/Polri mendukung rumusan pemerintah yang lebi'h sederhana tapi nanti lebih mudah dimengeti oleh masyarakat banyak tentang kerukunan nasional dalam konteks persatuan-kesatuan dalam NKRI demikian, terima kasih Ketua.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Kohirin, tapi beliau sudah menyetujui istilah baru yang sama makna dan kadra derajatnya saya kira, berikutnya kepada F.KKI saya persilahkan.

F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT):

Terima kasih. Kami juga dapat menyetujui usul daripada pemerintah yaitu mengenai kerukunan nasional ini, sebab kalau kita melihat disini nampaknya kerukunan ini sudah mulai agak terganggu, jadi oleh karena itu sangat penting ini saya kira untuk dicantumkan, terima kasih.

(26)

KETUA RAPAT:

Berikutnya dari F.PBB, saya persilahkan pak. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):

Dua kata terkait utuh dan rukun ini sudah tidak ada lagi bahasa yang saya kira sudah betul-betul saling menguatkan yang boleh jadi, boleh saja utuh tapi tidak rukun, utuhnya bisa dipetahankan tapi belum tentu rukunya bisa, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Berikutnya dari F.PKB kami persilahkan. F.KB (G. SETO HARIANTO):

Terima kasih Saudara Pimpinan.. Pada dasarnya F.PKB juga setuju usulan dalam RUU ini alasanya sulit mencari yang lain yang lebih baik yang dirumuskan oleh Ketua tadi, sebagai katanya kesimpulan. Dari pendapat pemerintah bahwa keutuhan itu lebih mencerminkan bagaimana kita secara struktural-vetikal sedangkan kerukunan ini adallah horizontal kepada masyarakat, kedua kata ini memang secara majemuk dipertahankan keutuhan dan kerukunan, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Berikutnya kepada F.Reformasi, saya persilahkan. F.REFORMASI (DRA. HJ. NURDIATI AKMA): Terima kasih.

Yang berbahaya rukun tetapii tidak utuh, jadi sangat tepat sekali kalau keutuhan dan juga rukun ini lebih menguatkan, jadi kami tetap mengikuti apa yang telah disampaikan oleh pemerintah, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Jadi utuh dan rukun kemudian damai, setelah fraksi-fraksi menyampaikan pendapat dan memberikan dukungan penuh sampai ditulis ulang, kami kembalikan kepada F.PG untuk melihat kembali mengenai usulan ini, kami persilahkan.

F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):

Terima kasih Ketua. Dengan mendengar penjelasan dari rekan-rekan fraksi yang lain, tadi juga tambahan penjelasan dari pemerintah, kami dapat menerima dan mencabut usulan kami, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, dengan rendah hati F.PG bisa menerima dan selain F.TNl/Polri juga F.PG memang sangat akrab dengan istilah kesatuan dan persatuan dan sudall ditemukan istilah baru yaitu kerukunan nasional, oleh

(27)

karena itu kita setujui DIM nomor 71 ini ya.

(KETOK SATU KALI)

Sekarang sudah Pukul 16.00 WIB lewat apakah kita akan teruskan atau kita sudahi kami mohon persetujuan cukup, dari fraksi-fraksi kelihatanya ingin menyudahi sebelum kita akhiri kami persilahkan pemerintah.

PEMERINTAH:

Terima kasih. Karena untuk yang kedua kalinya saya tidak tepat waktu dan kalau saya tepat waktu dimana-mana saya juga tidak mempersoalkan yang terlambat. Jadi kalau memang akan disetujui tepat waktu, maka mulai pembahasan berikutnya kita tepat waktu karena saya juga tadi meninggalkan acara dengan Presiden memang saya mengambil waktu speling 15 menit pukul 13.45 WIB. Saya pamit dari Presiden dan tengah-tengahnya pembahasan demi mengharghai dan menghormati DPR, lbu juga langsung yah sudah berangkat sana. Tadi perkiraan saya kelaziman itu suka-suka terlambatnya itu hampir setengah jam dimana-mana Pansus, saya perkirakan kalau dua kurang seperempat sampai disini setengah tiga pas mulai biasanya. Tapi sampai di jembatan semanggi ternyata merayap sampai kemari, jadi mulai yang akan datang saya bisa betul-betul on-time tepat waktu. Saya juga akan tentu berusaha untuk menepati itu sehingga waktunya betul-betul bisa efisien. Jadi pembahasan berikutnya kami akan berusaha karena dua hari ini ternyata yang menyebabkan terlambat adalah pemerintah dalam hal ini Mendagri, saya minta maaf, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih pemerintah. Memang kami dari meja Pimpinan berkehendak sampai pukul 17.00 WIB pak, tapi kalau Pimpinan sendiri tidak ada anggota fraksi-fraksi agak susah juga kalau hanya kita dan pemerintah. Oleh karena itu kami tidak bisa memutuskan lain kecuali harus aspiratif mengenai waktu ini.

Kemudian yang kedua mengenai tadi ada permintaan dari F.PBB atau dari pemerintah kalau bisa kita tepat pukul 14.00 WIB. Kalau pemerintah memang berhalangan tadi, karena ada alasan tapi tadi juga pukul 14.30 WIB baru kuorum semua fraksi hadir. lni memang kita harapkan kalau bisa pukul 14.00 WIB bisa kita mulai. Dengan demikian kita sudah sampai kepada DIM nomor 71 dan kita besok akan mulai pukul 14.00 WIB untuk bahasan ini sampai dengan hari kedua ini masih lancar-lancar saja dan mudah-mudahan berikutnya kita juga bisa sama dengan yang sudah kita laksanakan selama dua hari ini. Demikian kurang lebihnya

(28)

saya mohon maaf, kita kembali besok. pukul 14.00 WIS rapat saya skors demikian terima kasih. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(RAPAT DISKORS PUKUL 16.15 WIB) Jakata, 21 Mei 2003

a.n. KETUA RAPAT, SEKRETARIS RAPAT

(ORS.ISKANDAR N. BASRI) NIP. 210001160

Referensi

Dokumen terkait

Pimpinan komisi terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua, yang dipilih dari dan oleh anggota komisi berdasarkan prinsip musyawarah untuk

Hasil terse- but menunjukkan bahwa pada pasien laki-laki de- ngan jumlah 26 pasang mata (52 mata) pasien dida- patkan tekanan intraokular normal pada mata ka- nan sebanyak 22

CATATAN RAPAT RAPAT KERJA PANSUS KE 7 T#CGAL 16 Desenber 1986 SEKRETARIAT PANSUS RUU ~~DAN CEWAN PERWAKILAN RA'< YAT REPUBLIK IH a'ESIA It OJSTRI DEWAN PERV/AKILAN RAKYAT REPUBLIK

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD/DPD dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pada konsumsi pakan, bobot badan, konversi pakan, karakteristik karkas, dan persentase kematian antara

8 JADWAL PEMBELAJARAN/KULIAH MINGGU KE CAPAIAN PEMBELAJARAN (Tujuan) BAHAN KAJIAN (Pokok Bahasan) SUB BAHAN KAJIAN (Pokok Bahasan) METODE PEMBELAJA RAN ALOKASI WAKTU

Penelitian pemberian sel punca CD34 + darah tepi manusia secara subkutan pada kulit tikus jantan wistar yang dipajan sinar ultraviolet B dengan pengamatan jumlah

Berdasarkan hasil analisis butir soal dari segi Validitas, Reliabilitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan Efektivitas Pengecoh, maka dapat disimpulkan bahwa soal