• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA LEGALITAS MARIJUANA MEDIS DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROBLEMATIKA LEGALITAS MARIJUANA MEDIS DI INDONESIA"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA LEGALITAS MARIJUANA MEDIS DI

INDONESIA

TIM PENGUSUL

Ketua : Karina Alifiana Karunia, S.H., M.H. Anggota 1 : Andi Alauddin, S.H., M.H.

Anggota 2 : Hamzah Arham, S.H., M.H.

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI)

MUHAMMADIYAH SINJAI

2020

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Problematika Legalitas Marijuana Medis di Indonesia Nama Peneliti : Karina Alifiana Karunia S.H., M.H.

NIDN/NIDK : 2114099003

Jabatan Fungsional : Anggota GPM FEHI Program Studi : Hukum Pidana Islam Fakultas : Ekonomi dan Hukum Islam Nomor HP : 081243476912

E-mail : [email protected]

Anggota 1

Nama Lengkap : Andi Alauddin, S.H., M.H. Anggota 2

Nama Lengkap : Hamzah Arham S.H., M.H.

Sumber Pendanaan : IAI Muhammadiyah Sinjai

Sinjai, 27 Februari 2020

Menyetujui,

Ketua LP2M Dosen Peneliti

Sudirman P, S.Pd., M.Pd.I Karina Alifiana Karunia, S.H., M.H.

NBM: 1191540 NIDN: 2114099003

Mengetahui Dekan FEHI

Dr. Muh. Anis, M.Hum NBM: 976724

(3)

iii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

RINGKASAN ... v BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 5 1.3. Tujuan Penelitian ... 5 1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Narkotika ... 7

2.2. Penggolongan Narkotika dalam UU ... 7

2.3. Pengertian Marijuana ... 8

2.4. Sejarah Marijuana ... 8

2.5. Kandungan Marijuana ... 13

2.6. Efek Marijuana pada Tubuh ... 15

2.7. Peraturan Hukum tentang Marijuana di Indonesia ... 22

2.8. Penelitian Terdahulu ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian ... 30

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 30

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 31

3.5 Instrumen Penelitian ... 31

3.5. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 4.1. Rencana Anggaran Biaya ... 33

(4)

iv BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 34 BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan ... 68 6.2 Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 70

(5)

v

RINGKASAN

Marijuana atau Ganja merupakan tanaman illegal di Indonesia karena mengandung zat terlarang dan dikategorikan Dalam Golongan I dalam UU Narkotika No. 35 Tahun 2009. Namun, beberapa tahun terakhir di dunia internasional, Marijuana telah dilegalkan di beberapa negara karena memiliki manfaat sebagai pengobatan medis di dunia kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problematika (pro dan kontra) legalitas Marijuana untuk pengobatan agar tidak digolongkan dalam penyalahgunaan narkoba. Hal ini untuk mengakomodasi penggunaan ganja khusus untuk pengobatan seperti yang terjadi pada kasus Fidelis yang ditangkap karena menggunakan narkoba secara mandiri Dalam proses pengobatan istrinya yang mengidap penyakit syringomyelia atau di sumsum tulang belakang karena hasil perawatan konvensional dan alternatif gagal. Adapun manfaat yang akan diharapkan dari penelitian ini adalah secara teoretis, Penelitian ini dapat bermanfaat bagi civitas akademi dalam memberikan konstribusi untuk memperkaya khazanah keilmuan dan salah satu masukan bagi upaya pengembangan ilmu pendidikan, khususnya yang terkait dengan pengetahuan tentang Legalitas Marijuana medis di Indonesia dan juga bagi pembuat dan penegak hukum sebagai salah satu pertimbangan dalam membuat dan menegakkan hukum perihal marijuana medis ini dan yang paing penting ialah meningkatkan kesadaran hukum masyarakat tentang makna dan pentingnya informasi tentang marijuana medis dan polemik legalitasnya agar tidak terjadi kesalahpahaman, maka upaya sosialisasi perlu ditingkatkan guna memberikan pemahaman hukum kepada Masyarakat.

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research) dengan metode kualitatif yang dilakukan secara deskriptif analisis. Lokasi penelitian dilakukan di BNN, Kementerian Kesehatan, dan Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi untuk selanjutnya data yang terkumpul dianalisis melalui penelusuran dokumentasi dengan cara membaca peraturan perundang-undangan, buku literatur, artikel, makalah dan bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan obyek penelitian.

(6)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Topik tentang Marijuana atau Ganja atau cannabis selama ini sering menjadi buah bibir dan bahan perdebatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini mengakibatkan Marijuana menjadi masalah yang kontroversial. Bagi Pihak yang pro terhadap Marijuana seringkali membela Marijuana yang memiliki banyak manfaat terutama di bidang medis. Marijuana dianggap sebagai tanaman tuhan yang tidak sia-sia, mengkonsumsinya dianggap sebuah meditasi untuk menenangkan dan mendatangkan kegembiraan, dipercaya dapat menyembuhkan Berbagai macam penyakit mulai dari epilepsi, Kanker sampai HIV AIDS. Bahkan bagi beberapa orang, Marijuana dijadikan Gaya Hidup mulai dari kalangan bawah sampai menengah ke atas. Begitu pula di Berbagai belahan dunia lain juga memiliki ciri khas tertentu dalam mengatur, menanam, memproduksi dan mengkonsumsi Marijuana. Marijuana pun dijadikan sebagai ladang bisnis yang mendatangkan banyak keuntungan. Berseberangan dengan Pihak yang Kontra, Marijuana dianggap sebagai sumber pertama efek kecanduan akan terjadi pada Manusia, Marijuana dikategorikan sebagai zat berbahaya golongan I sekelas putaw, shabu-shabu, pil ekstasi dan jenis narkotika lainnya. Sehingga Dalam penggunaannya pun sangat dibatasi sebatas untuk ilmu pengetahuan semata. Di Indonesia sendiri masih menganggap Marijuana adalah zat berbahaya dan tidak legal seperti beberapa negara lain yang membolehkan/melegalkan.

Di Indonesia, Marijuana atau Ganja merupakan tanaman yang dikategorikan sebagai salah satu bagian dari Narkoba. Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan berbahaya. Selain itu, juga dapat disebut Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, Psikotropika dan zat adiktif. Berdasarkan Lampiran I butir 8 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tanaman ganja termasuk dalam narkotika golongan I.

(7)

2

Ganja (Cannabis sativa Atau Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal sebagai obat psikotropika karena adanya kandungan zat tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok marijuana. Efek samping tubuh ketika mengkonsumsi Marijuana juga bermacam-macam, tergantung dari takaran atau dosis penggunaannya. Mulai dari efek tubuh berupa pusing, mual-mual Bahkan jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan gagal jantung.

Karena dampak buruk yang dianggap ditimbulkan dari Marijuana ini, maka dalam UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (selanjutnya disebut UU Narkotika), diatur bahwa Penggunaan ganja terancam hukuman minimal empat tahun dan maksimal dua belas tahun penjara. Serta pidana denda paling sedikit 800 juta dan paling banyak 8 miliar rupiah. Namun, dibalik dampak negatif dari tanaman ini, terdapat dampak positif yang tidak mendapat perhatian yang cukup. Banyak pihak yang sudah menyadari akan hal tersebut Bahkan sebenarnya sudah sejak berabad-abad lamanya dimanfaatkan baik sebagai sandang, pangan, papan dan industri di berbagai belahan dunia, jauh sebelum adanya aturan berupa konvensi internasional yang melarangnya. Beberapa Pihak yang menyadari manfaat Marijuana ini, diantaranya berusaha untuk menyebarluaskan informasi terkait pemanfaatan Marijuana secara positif, bahkan berusaha untuk membawa ganja ke dalam kehidupan masyarakat luas sebagai komoditas yang legal dan berdaya guna tinggi. Khususnya Dalam hal pengobatan atau di dunia internasional disebut sebagai Marijuana medis. Secara internasional sudah ada beberapa negara yang melegalkan marijuana atau ganja medis ini Bahkan ada beberapa negara yang melegalkan secara keseluruhan, bukan hanya marijuana medis tapi juga marijuana rekreasi atau yang digunakan para seniman untuk menumbuhkan dan mengembangkan kreativitasnya. Perbedaan jenis-jenis ganja ini tentu tidak diatur dalam UU Narkotika. Beberapa negara yang melegalkan tersebut Bahkan menjadikannya sebagai komoditas ekspor yang menguntungkan.

(8)

3

Misalnya, China sejak tahun 2003 menjadi negara pengekspor Marijuana terbesar di dunia. Selain itu, Kanada akhirnya melegalkan penggunaan ganja secara penuh per oktober 2018. Tidak hanya ganja Medis untuk tujuan pengobatan, tetapi juga untuk tujuan rekreasi atau kesenangan (Recreational Marijuana). Sedangkan Thailand telah melegalkan per tahun 2019 ini ganja khusus untuk pemakaian medis. Dan beberapa negara lain yang telah maupun hampir melegalkan Marijuana, seperti Malaysia, yang dikenal lebih konservatif. Adapun di Indonesia sendiri, melarang budidaya dan produksi semua jenis tanaman cannabis beserta turunannya melalui UU narkotika; “Tanaman ganja, semua tanaman genus genus cannabis dan

semua bagian dari tanaman termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasis.” 1 Hemp adalah salah satu genus dari tanaman cannabis yang masuk

ke dalam golongan 1 narkotika. Sama halnya dengan tanaman Papaver

somniferum, Opium Mentah dan Opium Masak, Daun Koka dan Kokain

Mentah, Heroin dan sebagainya. Marijuana medis dalam dosis tertentu memiliki banyak manfaat yakni untuk mengobati insomnia, gangguan kecemasan, epilepsi, dan beberapa penyakit lainnya.

Di Indonesia, perhatian tentang marijuana medis ini baru terpublikasi setelah terjadinya kasus Fidelis Ari, warga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dia dituduh menanam 39 batang ganja di rumahnya. Ekstrak ganja itu dia gunakan untuk pengobatan istrinya yang terkena penyakit syringomyelia atau Kista di sumsum tulang belakang. Sehingga berakibat Karena tindakannya itu, ia ditahan selama 32 hari. Selama fidelis ditahan, Yeni sang istri tidak mendapatkan pengobatan ekstrak ganja sehingga meninggal. Walaupun menggunakan ganja untuk pengobatan istrinya, Fidelis tidak ikut menggunakan ganja apalagi menjualnya.2 Dari kasus ini, banyak kontroversi mulai muncul tentang marijuana medis. Salah

1 Dhira Narayana, http://www.lgn.or.id/negara-produsen-hemp-terbesar-di-dunia/ diakses pada tanggal 26 Februari 2020

2 Enik Isnaini, “Penggunaan Ganja dalam Ilmu Pengobatan Menurut Undang-undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika”, Jurnal Independent Vol. V. Nomor 2, 2014, h. 49

(9)

4

satu yang menyoroti adalah lembaga swadaya masyarakat Lingkar Ganja Nusantara (selanjutnya disingkat LGN). Menurut LGN yang melakukan dokumentasi sejak 2010, ganja berkhasiat dalam pengobatan penyakit mematikan. Namun, kata LGN, penggunaan ganja dalam medis masih tabu di Indonesia. LGN berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan narkotika.

Penyalahgunaan pemakaian Marijuana atau ganja di negara ini, sering dilakukan oleh kalangan muda, biasanya mereka menggunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri. Data jumlah penyalahguna narkoba per provinsi menurut jenis narkoba tahun 2011, yang diterbitkan oleh BNN (Badan Nasional Narkotika) dan Puslitkes UI pada bulan Maret 2012, menyebutkan bahwa jumlah penyalahgunaan ganja adalah 2.816.429 orang. Dari data tersebut dapat dilihat dengan sangat jelas bahwa ganja menduduki peringkat pertama, 65.9% dari total penyalahguna narkoba di Indonesia.Hal ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan berdasarkan data terbaru dari BNN mengenai jumlah pengguna Narkoba di Indonesia hingga April 2013 yang telah mencapai 4 juta orang. Dari total pengguna Narkoba.3

Problematika legalitas marijuana medis ini merupakan hal yang sangat pelik dan serius karena beberapa pertimbangan baik dan buruk yang sangat berpengaruh terhadap kondisi Indonesia dewasa ini khususnya dalam bidang hukum, baik aturan, moralitas dan profesionalitas aparat penegak hukum serta kultur masyarakat. Yang paling membingungkan adalah fakta yang dipaparkan oleh Pihak pro dan Pihak kontra sama-sama kuat terutama dengan adanya pegangan jurnal penelitian yang mendasari pendapat masing-masing Pihak. Hal yang rumit memang, karena Belum adanya penelitian yang murni dilakukan oleh Indonesia sendiri. Padahal Penggunaan Ganja atau Marijuana untuk kepentingan kesehatan dapat diakomodir dalam aturan UU Narkotika, yakni bagi golongan I hanya dapat digunakan sebatas untuk ilmu

3 Mira Natasya Aulia Siregar, “Sikap Mahasiswa Terhadap Gagasan Legislasi Ganja Di

Indonesia (Studi pada Mahasiswa Aktif Program Sarjana Universitas Indonesia Tahun Ajaran 2013/2014)”, Skripsi (Jakarta: Universitas Indonesia, 2014), h. 30

(10)

5

pengetahuan. Namun, Belum pernah ada yang berhasil menuntaskan penelitian tentang Marijuana atau Ganja ini. Selama ini, Penelitian yang digunakan semuanya dilakukan oleh Pihak luar dan posisi mereka sebagai Pihak pro dan Pihak kontra sangat mempengaruhi hasil penelitian mereka sehingga nampaknya keduanya benar. Hal inilah yang menyebabkan problematika Marijuana ini secara keseluruhan tidak pernah mencapai titik final dalam perdebatannya.

Oleh karena itu, perlu untuk mengetahui Kontradiksi berbagai pendapat dengan dalil yang kuat oleh Pihak kontra maupun Pro sehingga dapat dijadikan pertimbangan yang jelas tentang legalitas Marijuana khususnya untuk medis ini di Indonesia. Selain itu untuk melengkapi pemaparan Pihak pro dan kontra legalitas Marijuana medis maka akan dipaparkan pula Bagaimana peran pemerintah dalam menyikapi kontroversi legalitas marijuana medis ini, dengan mempertimbangkan banyak aspek termasuk keadaan penegakan hukum di Indonesia jika memutuskan untuk melegalkan marijuana medis ini. Namun, perlu diputuskan pula apa yang terjadi jika ada kasus seperti Fidelis ari lagi. sehingga dikhawatirkan ada masing-masing efek samping jika marijuana medis dilegalkan atau tidak dilegalkan. Maka, Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan di atas, penulis ingin meneliti guna menganalisis permasalahannya dan mencarikan solusi pemecahannya.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Problematika Legalitas Marijuana Medis di Indonesia? 2. Bagaimana Peran Pemerintah dalam Menyelesaikan Problematika

Marijuana Medis di Indonesia? 1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui kontradiksi dari beberapa pendapat dengan alasan dan bukti yang kuat baik dari Pihak pro maupun Pihak kontra agar mendapat solusi mengenai problematika legalitas marijuana medis di Indonesia.

(11)

6

2. Untuk mengetahui dan menganalisis langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah dan sebaiknya akan dilakukan oleh pemerintah dalam menyelesaikan kontroversi marijuana medis di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk:

1. Secara teoritik, dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam lapangan ilmu pengetahuan hukum, yang berhubungan dengan bidang hukum Pidana terutama hukum pidana khusus yakni narkotika.

2. Secara praktik, dapat dijadikan referensi, bahan acuan bagi para aparat penegak hukum, para kalangan profesi hukum, masyarakat pemerhati hukum dan masyarakat pencari keadilan pada umumnya, dalam memahami dan menyikapi problematika legalitas marijuana medis di Indonesia.

(12)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Narkotika

Menurut UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU Narkotika), Pasal 1 Ayat 1 yakni Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.

2.2 Penggolongan Narkotika

1. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Heroin, Kokain, Daun Koka, Opium, Ganja, Jicing, Katinon, MDMDA/Ecstasy, dan lebih dari 65 macam jenis Narkotika Golongan I adalah narkotika hanya dapat digunakan untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

2. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Morfin, Petidin, Fentanil, Metadon dan lain-lain.

3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat dan berkhasiat untuk pengobatan dan penelitian. Golongan 3 narkotika ini banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Codein, Buprenorfin, Etilmorfina, Kodeina, Nikokodina, Polkodina, Propiram, dan ada 13 (tiga

(13)

8

mendalam tentang jenis narkotika dalam ketiga golongan tersebut dapat dilihat di lampiran undang-undang narkotika nomor 35 tahun 2009.

2.3 Pengertian Marijuana atau Ganja

Marijuana atau Ganja (Cannabis) adalah nama singkatan untuk tanaman Cannabis sativa. Istilah ganja umumnya mengacu kepada pucuk daun, bunga dan batang dari tanaman yang dipotong, dikeringkan dan dicacah dan biasanya dibentuk menjadi rokok. Nama lain untuk tanaman ganja adalah marijuana, grass, weed, pot, tea, Mary jane dan produknya hemp, hashish,

charas, bhang, ganja, dagga dan sinsemilla.4 Ganja adalah tanaman perdu

dengan daun menyerupai daun singkong yang tepinya bergerigi dan berbulu halus. Ganja terdiri dari tiga varietas yang berbeda yaitu Cannabis Sativa, Cannabis Indica, dan Cannabis Ruderalis. Tanaman ganja ini tumbuh menyebar hampir di seluruh dunia. Perbedaan dari ganja ini yaitu dari kandungan ∆-9 tetrahydrocannabinoid (THC) yang dimilikinya.5 THC ini

dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab).

Di luar negeri, ganja dibedakan menjadi dua bagian, yaitu ganja untuk kepentingan industri maupun medis yaitu ganja jenis Hemp, dan ganja terlarang sering disebut Cannabis. Hemp mengandung THC di bawah 0,3%, sedangkan cannabis bisa mencapai 6% sampai 20%. Sementara di Indonesia tidak mengenal perbedaan ini, seperti yang tercantum dalam UU Narkotika disebutkan bahwa ganja termasuk sebagai narkotika golongan 1.6

2.4 Sejarah Marijuana atau Ganja

Marijuana atau Ganja baru resmi dicatat Dalam kerajaan tanaman dengan nama ilmiah “Cannabis Sativa” oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753, sebelumnya Manusia sudah mengenal ganja dengan Berbagai nama

4 Luh Nyoman Alit Aryani, “Gangguan Psikotik pada Penggunaan Ganja”, Tesis, (Bali: Universitas Udayana, 2017), h. 4

5 Fajriah Intan Purnama, “SUBKULTUR LEGALISASI GANJA (Studi Tentang Lingkar Ganja Nusantara dalam Memperjuangkan Legalisasi Ganja di Indonesia)”, Skripsi (Jakarta: Universitas Negeri Jakarta, 2015), h. 15

6 Mira Natasya Aulia Siregar, “Sikap Mahasiswa Terhadap Gagasan Legislasi Ganja Di Indonesia…, h. 20

(14)

9

sepanjang zaman. Fakta sejarah mengungkapkan sendiri kalua “Cannabis” atau ganja adalah salah satu kata dengan akar Bahasa tertua di dunia. Catatan pertama yang lengkap tentang tanaman liat yang ditulis dalam huruf paku (cuneiform) oleh bangsa Sumeria pada masa 3000 tahun sebelum Masehi. Akar kata “Cannabis” Bahkan juga muncul dalam perjanjian lama pada kitab Exodus (Kitab Keluaran) 30:23. Orang-orang semit sendiri kemudian menyebarkan istilah ini lewat jalur-jalur perdagangan di daerah Asia kecil, sementara orang-orang Syria, yang pada waktu itu berhubungan dekat secara geografis dan berdagang dengan orang-orang Semit, menyebutnya “Qanpa” atau “Qunnapa”.7

Bangsa Yunani lewat para ilmuwannya di Zaman Romawi seperti Dioscorides dan Galen kemudian mengabadikan ganja dalam literature pengobatan Romawi dengan nama “Kannabis”. Setelah Yunani ditaklukkan oleh Romawi, “Kannabis” berubah Dalam Bahasa Latin “Cannabis” untuk pertama kali. Tanaman Ganja dalam peradaban Romawi merupakan tanaman strategic dengan Berbagai kegunaan. Ganja dimanfaatkan sebagai analgesik (penghilang rasa sakit) dalam situasi perang, bahan tali temali, tekstil, minyak untuk penerangan, memasak, dan lainnya. Fungsi yang banyak ini melahirkan istilah “Cannapecus” atau “Canape” yang bermakna “segala sesuatuyang dibuat dari Cannabis”. Dalam Bahasa Anglo-French (Prancis Kuno), “Canape” diadaptasi menjadi “Canevaz” atau “Chaneve” yang kemudian bertahan Dalam Bahasa prancis Modern dengan nama “Chanvre”.

Di benua Eropa sendiri jejak Cannabis sebagai serat utama untuk kain, tali-temali, dan kertas selama berabad-abad juga masih jelas terdengar istilah “Canvas”. Istilah yang masih dipakai luas sampai sekarang. Istilah Ganja dari Bahasa Sanskrit menempuh Jalur yang berbeda. Istilah ini menyebar ke Asia Tenggara ke Laos dengan nama Kan-Xa. Bergeser ke Vietnam dengan nama “Can-Xa” dan berubah sedikit di Thailand serta Kamboja dengan nama “Kancha”, sampai akhirnya diperkenalkan oleh orang-orang India yang dibawa sebagai budah oleh Inggris pada tahun 1838 ke

(15)

10

Kepualaun Karibia terutama Jamaika Bersama dengan Rambut Gimbal dan ritual keagamaannya yang memakai Ganja. 8 Sebutan lain Ganja ialah

Marijuana yang berasal dari Bahasa Portugis, yaitu Maringuango berarti barang memabukkan.9

Peradaban Ganja sudah mulai berkembang sejak di Asia, Afrika, Eurasia, Amerika Selatan, Eropa, Amerika, dan belahan dunia lainnya sejak berabad-abad lamanya. Contohnya saja, Pada Tahun 2737 SM (Sebelum Masehi), di Cina Pertama kali orang menanamnya secara bersamaan. Masyarakat Cina telah mengenal Ganja sejak zaman batu. Mereka menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan bahan pakaian, pukat, obat-obatan, dan terapi penyembuhan seperti penyakit rematik, sakit perut, beri-beri hingga Malaria. Juga digunakan untuk minyak lampu dan bahan upacara keagamaan.10 Ganja menjadi symbol budaya hippies yang pernah popular di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu, ganja dan opium juga didengungkan sebagai symbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang.11

Peradaban Ganja di Bangsa Arab khususnya dalam penggunaan Medis pertama kali dinyatakan oleh Ibnu Masaway (875 M) yang adalah dokter pertama yang menyebutkan kegunaan medis ganja dalam literature pengobatan Arab. Masawayh menyebutkan bahwa minyak yang didapat dari biji ganja bila diteteskan ke dalam lubang telinga dapat menyembuhkan sakit di telinga yang disebabkan oleh kelembapan (rutuba) yang diproduksi oleh organ telinga. Pada Abad ke-10, Ishaq b Sulayman menyatakan hal yang sama dengan tambahan minyak ganja itu dapat mengeluarkan benda-benda asing yang menghalangi atau menutupi lubang telinga. Avicenna, yang dikenal di dunia Arab dengan nama Ibnu Sina, pada Abad ke- 10 M

8 Ibid, h. 5-6

9 Abdul Khaliq, “Dunia dalam Ganja”, (Yogjakarta: Penerbit Jalan Baru dan Katalika, 2017), h. 20

10 Ibid, h. 19

11 Juliana lisa FR dan Nengah Sutrisna W, Narkoba, “Psikotropika dan gangguan jiwa tinjauan kesehatan dan hukum”, (Yogjakarta: Nuha Medika, 2019), h. 8

(16)

11

memasukkan ganja ke dalam catatan kumpulan tanaman obat. Didalamnya ia menganjurkan daun dan biji ganja untuk mengobati dan mengeluarkan gas dari perut.12 Dan masih banyak lagi pemanfaatan Ganja sebagai bahan obat di

dunia medis.

Di Indonesia sendiri, Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara, Inang Winarso, ganja pertama kali dibawa oleh pedagang dan pelaut Gujarat dari India ke Aceh sekitar abad ke-14. ganja digunakan oleh orang Gujarat sebagai alat transaksi perdagangan dan ditukar dengan cengkeh, kopi, lada, vanili, dan jenis rempah-rempah lainnya. Suku Gujarat juga diperkirakan membawa ganja ke wilayah Nusantara bagian timur, seperti Maluku yang saat itu menjadi pusat rempah-rempah dunia. Selain itu, terdapat juga relief gambar daun ganja yang ditemukan di Candi Kendalisodo yang berada di Gunung Penanggungan, Mojokerto. Candi Kendalisodo adalah candi Syiwa bertingkat tiga. Di tingat dua, terdapat pahatan daun ganja yang menurutnya memiliki makna dalam ritual keagamaan Hindu saat itu, yang saat ini lagi diteliti secara artefak. Jika itu daun ganja, berarti di Jawa, jauh lebih tua mengenal tanaman ganja dibandingkan Aceh.13

Beliau mengatakan bahwa Selama beratus tahun, ganja dimanfaatkan oleh masyarakat Nusantara untuk kepentingan ritual, pengobatan, bahan makanan dan pertanian. Dan Masyarakat Aceh yang paling aktif memanfaatkan ganja dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ganja pun tertulis dalam bab pengobatan di manuskrip kitab kuno Tajul Muluk (naskah kun dari Arab) di Aceh. Kitab ini adalah bukti awal yang telah terkonfirmasi tentang jejak ganja dan penggunaannya di Indonesia. Dalam kitab Tajul Muluk, ganja dijadikan obat untuk penyakit kencing manis atau diabetes. Akar ganja direbus dan airnya diminum untuk kencing manis. Ganja juga digunakan oleh masyarakat masyarakat Serambi Mekkah itu untuk bumbu penyedap rasa masakan dan menambah nafsu makan, seperti untuk kuah beulangong, kari kuah bebek, bubur rempah bernama ie bu peudah dan

12 Tim LGN, Hikayat Pohon Ganja…, h. 64-65

13 BBC, https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51441909 diakses pada tanggal 26 Februari 2020

(17)

12

makanan rempah lain. Kemudian, ganja digunakan sebagai campuran kopi. Bahkan, pohon ganja juga berfungsi sebagai pengusir hama tanaman.14

Untuk pertanian, ganja ditanam di pinggir area persawahan, sehingga hama serangga tidak akan makan padi karena aroma dari daun bunga dan biji itu sudah menyengat buat hewan. Menurut beliau, hal ini membuktikan bahwa Ganja sudah menjadi bagian budaya masyarakat Aceh selama ratusan tahun. Bukan hanya di Aceh, jejak ganja juga tercatat di Maluku, khususnya Ambon. Ahli botani Jerman-Belanda, G. E. Rumphius pada tahun 1741 menulis buku berjudul Herbarium Amboinense. Dalam buku itu, ganja digunakan oleh masyarakat Maluku untuk kepentingan ritual dan pengobatan.15 Di Padang, daun ganja disumpal ke hidung untuk mengobati mimisan. Di jawa, kita menemukan istilah ganja dalam anatomi keris. Di Sulawesi, terdapat istilah Taiganja sebagai liontin yang diberikan pada calon pengantin wanita.16

Pada akhir abad ke-19, iklan ganja kadang-kadang muncul dalam beberapa koran berbahasa Belanda di Hindia Belanda, sebagian besar iklan-iklan itu berusaha untuk mempromosikan rokok ganja sebagai obat untuk beragam penyakit mulai dari asma, batuk dan penyakit tenggorokan, kesulitan bernafas dan sulit tidur. Penting untuk diingat, bagaimanapun, bahwa iklan-iklan tersebut pada umumnya diarahkan untuk masyarakat Eropa yang berada di Hindia Belanda, mengingat penggunaan ganja secara medis yang umum di Eropa pada waktu itu. Namun, dengan meningkatnya dukungan untuk memperluas skala pelarangan ganja di dalam perkembangan dunia internasional, pemerintah Belanda memutuskan untuk membatasi akses ganja di Hindia Belanda melalui penerapan Verdoovende Middelen Ordonnantie (Dekrit Narkotika) tahun 1927 ini adalah akibat dari masuknya ganja dalam

14 Ibid

15 Ibid

16 Dhira Narayana, http://www.lgn.or.id/hikayat-ganja-nusantara/ diakses pada tanggal 26 Februari 2020

(18)

13

Konvensi Opium Internasional tahun 1925, sehingga membuat ganja harus tunduk pada sebuah sistem otorisasi ekspor dan sertifikasi impor.17

2.5 Kandungan Marijuana

Ganja adalah obat yang sangat kuat yang diidentifikasi terdiri dari 483 konstituen kimia yang berbeda. 66 diantaranya disebut cannabinoid – senyawa ganja yang memainkan peran penting dalam kualitas ganja sebagai obat. Tapi bukan berarti ada 66 efek/interaksi cannabinoid yang berbeda. Berikut adalah senyawa ganja yang paling jelas kehadiran dan manfaatnya yakni sebagai berikut:18

1. Delta-9-tetrahydrocannabinol (Δ9-THC)

Komponen utama ganja adalah Delta-9-tetrahydrocannabinol (Δ9-THC). Tanaman ganja mengandung lebih dari 400 bahan kimia, dimana sekitar 60 secara kimia berhubungan dengan THC. Pada manusia, Δ9-THC diubah dengan cepat menjadi 11-hidroksi-Δ9-Δ9-THC, metabolit yang aktif di sistem saraf pusat (SSP).19 Secara medis, komposisi kimia yang terkandung dalam ganja adalah cannabinol. Cannabidinol atau THC yang terdiri dari Delta-9-tetrahydrocannabinol (Δ9-THC) dan

Delta-8-tetrahydrocannabinol (Δ8-THC). Δ9-THC sendiri, mempengaruhi pola

pikir otak Manusia melalui cara melihat sesuatu, mendengar, dan mempengaruhi suasana hati pemakainya. Selain Delta Δ9-THC, ada 61 unsur kimia yang sejenis, dan lebih dari 400 bahan kimia lainnya yang beracun. Bahkan setelah ganja dibakar, sisa pembakaran masih mengandung bahan-bahan racun yang kuat. Unsur kimia yang terdapat di dalam ganja tidak hanya negatif bagi petumbuhan otak dan fisik semata. Δ9-THC diyakini para ilmuwan medis juga mampu mengobati Berbagai macam penyakit, seperti daun dan biji, untuk membantu penyembuhan penyakit tumor dan kanker. Akar dan batangnya bisa dibuat sebagai jamu

17 Dania Putri dan Tom Blickman, https://www.tni.org/files/publication-downloads/dpb_44_web_def_bahasaindonesia.pdf diakses pada tanggal 26 Februari 2020

18 Iva laksamana, http://www.lgn.or.id/manfaat-ganja-untuk-medis/ diakses tanggal 29 Februari 2020

(19)

14

yang mampu menyembuhkan penyakit kejang perut, disentri, anthrax, asma, keracunan darah, batuk, diare, luka bakar, bronkritis, dan masih banyak lagi yang digunakan dari bagian tanaman ini. Secara medis, bahan kimia pada ganja mempunyai sifat-sifat yang membantu penyembuhan penyakit dalam tubuh, seperti tonic (penguat), analgesic, stomachic, dan

anti spasmodic (penghilang rasa sakit), sedative, anodyne (penenang), dan intoxicant (racun kertas).20 THC adalah senyawa yang memiliki sifat

psikoaktif pada tanaman ganja. Bertahun-tahun, tanaman ganja dibudidaya seringkali dengan harapan untuk mendapatkan kandungan THC yang tinggi.

2. (E)–BCP (Beta-caryophyllene)

(E)-BCP adalah komponen anti-inflamasi alami dan kuat yang juga ditemukan dalam makanan seperti lada hitam, oregano, kemangi, jeruk nipis, kayu manis, wortel, dan seledri. Tidak seperti THC, cannabinoid ini tidak mempengaruhi otak, yang berarti tidak menghasilkan efek psikotropika.

3. CBC ((Cannabichromene)

Sering kali, cannabinoid saling bekerja sama untuk menciptakan sifat penyembuhan pada ganja. CBC adalah contoh baik dari hal tersebut, karena CBC mendorong efek dari THC

4. CBD (Cannabidiol)

setelah dilakukan penelitian, diketahui bahwa CBD (Cannabidiol) adalah senyawa yang tidak psikoaktif seperti THC dan sebenernya berfungsi sebagai penghalang efek psikoaktif THC, juga mempunyai sifat sebagai anti inflamasi dan pereda sakit.21 CBD adalah senyawa ganja yang

bersifat non psikoaktif yang memiliki sifat terapi yang bagus untuk kesehatan. CBD tingkat tinggi dapat meningkatkan efek positif dari THC disaat menekan efek negatif dari THC seperti paranoid dan perasaan tidak tentu. CBD bekerjasama dengan THC dalam cara kerjanya. Jika digunakan

20 Abdul Khaliq, Dunia dalam Ganja…., h. 22

21 Dhira Narayana, http://www.lgn.or.id/pentingnya-penelitian-ganja-medis/ diakses tanggal 29 Februari 2020

(20)

15

secara terpisah, CBD atau THC tidak akan seefektif mengobati sakit kronis seperti jika mereka digunakan secara bersamaan. Masalahnya, para petani menyadari bahwa sejak dulu THC lah sebagai daya tarik ganja yang menjual, THC memberi rasa giting dan euphoria dan inilah yang selalu dikait-kaitkan dengan ganja.

5. CBG (Cannabigerol)

CBG adalah cannabinoid pertama yang diproduksi oleh tanaman ini. CBG adalah pencetus biogenetis dari semua senyawa ganja. CBG memiliki efek sedatif dan sifat antimikroba, dan menyebabkan rasa kantuk.

2.6 Efek Marijuana pada tubuh

1. Efek negatif Marijuana atau Ganja pada tubuh

Ganja memiliki dua golongan, yakni golongan A dan B dan seterusnya. Golongan A dikenal sebagai golongan ganja yang mempunyai efek mabuk dan candu yang keras. Kalau di Indonesia, karena biasanya ganja golongan A adalah ganja kualitas bagus. Lalu, Marijuana atau ganja mempunyai sifat toksik, yaitu racun yang menyebabkan pusing. Dan lebih besar terletak pada bagian tangkai dan bunga. Biji dan batang juga mengandung toksik tapi tidak terlalu besar. Akibat toksik ini dapat menyebabkan Berbagai efek dalam tubuh seperti pusing-pusing, mual-mual, kehilangan konsentrasi, susah berjalan, mulut kering, kebingungan, paranoid, inkoordinasi otot, penglihatan kabur dan muntah. Jika mengonsumsi ganja secara berlebihan dapat mengakibatkan induksi koma hingga gagal jantung dan kanker. Pengaruhnya bervariasi untuk Setiap orang tergantung dari kekuatan ganja, bagaimana digunakan dan apakah ada oat-obatan lain atau alholol yang terlibat. Efek yang dialami sering dipengaruhi oleh keturunan, pengalaman, dan yang diharapkan pemakai, seperti juga obat itu sendiri.22

Dalam dosis kecil, ganja dapat menimbulkan kegelisahan, keadaan santai melamun, mata memerah, dan nafsu makan yang meningkat. Dosis

(21)

16

rendah cenderung menimbulkan perasaan tenteram dan relaksasi melamun, yang dapat diikuti dengan indra penglihatan, penciuman, pengecap, dan pendengaran yang lebih jelas, juga sedikit perubahan pada pola piker dan ekspresi. Dosis yang lebih kuat dapat mengakibatkan penglihatan kabur, perubahan emosi dengan cepat, perubahan dalam perasaan jati diri, fantasi, halusinasi atau gangguan penglihatan dan kerusakan daya ingat. 23

Penggunaan ganja memiliki pengaruh yang buruk terhadap kesehatan fisik (pada saluran pernafasan dan kardiovaskuler) maupun psikis (mental). Ganja juga mempengaruhi fungsi kognitif, yakni Cannabis, THC dan Cannabinoid sintetis lainnya juga menyebabkan gangguan kognitif sementara, yang berhubungan dengan dosis, terutama pada pembelajaran verbal, memori jangka pendek, fungsi eksekutif, kemampuan abstrak, pengambilan keputusan, perhatian dan konsentrasi.

Penggunaan ganja akut umumnya menyebabkan gangguan pada aspek perencanaan dan pengambilan keputusan, misalnya kecepatan respon, akurasi dan latency. Beberapa penelitian juga menemukan peningkatan risiko dengan dosis ganja yang tinggi. Solowij dan battisti menyimpulkan bahwa penggunaan ganja berat dan kronis dikaitkan dengan gangguan memori yang berlangsung diluar periode intoksikasi akut dan terkait dengan frekuensi, durasi, dosis dan usia onset dari penggunaan ganja. 24 Selain menyebabkan masalah fisik ganja juga mempengaruhi kesehatan mental, seperti gangguan bipolar, bunuh diri, depresi, kecemasan dan psikotik. riwayat keluarga positif skizofrenia dapat meningkatkan resiko gangguan psikotik yang diinduksi ganja. Faktor genetik memperparah efek ganja terhadap kesehatan mental.

Kemudian, Dalam konteks ini, penggunaan ganja dan kesulitan masa kanak-kanak telah dikaitkan dengan peningkatan risiko menjadi psikosis pada sampel klinis dan non-klinis. Namun, tidak semua orang yang terpapar kesulitan masa kecil berkembang menjadi gejala psikotik di

23 Ibid, h. 36

(22)

17

kemudian hari. Demikian pula, hanya sebagian kecil pengguna ganja yang menjadi psikotik yang menunjukkan implikasi faktor lain dalam kaitan ini. Dalam hal ini, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa keterpaparan bersama terhadap dua faktor lingkungan, penggunaan ganja dan kesulitan masa kecil, dapat meningkatkan kemungkinan gejala psikotik sampai tingkat yang lebih tinggi daripada risiko yang diharapkan untuk setiap faktor yang bekerja secara independent.25

Namun, tentunya bukti-bukti ilmiah diatas dibantah oleh Pihak yang pro legalisasi Marijuana, mereka mengungkapkan bahwa ada 6 efek penggunaan ganja yang ditemui bukti yang bertentangan dengan bukti ilmiah pula, yakni sebagai berikut:26

a. Penyalahgunaan/Ketergantungan

Penggunaan kronis ganja dapat mengakibatkan ketergantungan fisik dan psikologis, serta mengalami gejala putus zat sesaat setelah berhenti menggunakan. Gejala ini dapat muncul setelah penggunaan kronis selama minimal 3 mingggu. Gejala ini mencapai puncaknya pada hari ke 4, dan mulai dapat teratasi dalam 2 minggu dihitung dari terakhir kali mengggunakan ganja. karakteristik gejala putus zat ini adalah kegelisahan, penurunan nafsu makan, mual, mudah marah dan ganggguan tidur. Secara umum, gejala ini hanya akan membuat pengguna merasa tidak nyaman namun tidak mengancaman kehidupan.

pandangan bahwa penggunaan ganja merupakan suatu kebiasaan berubah menjadi seorang morfinis atau manusia tidak bermoral. Laporan penelitian ini memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap persepsi negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan ganja.

25 Ibid, h. 18-20 dan 22

26 Dhira Narayana, http://www.lgn.or.id/6-efek-jangka-panjang-penggunaan-ganja-bukti-yang-bertentangan/ tanggal 29 Februari 2020

(23)

18

Sampai sekarang Tidak ada bukti ilmiah bahwa ganja dapat menyebabkan ketergantungan fisik27

b. Disfungsi kognitif

Chronic Cannabis Syndrom yang lebih dikenal dengan

istilah Amotivational Syndrom adalah kerusakan kognitif pada pengguna kronis yang mengakibatkan penurunan kemampuan dalam merencanakan ataupun mendapatkan tujuan hidup; kemudian menyebabkan pengguna ditempatkan pada pekerjaan yang hanya membutuhkan level kognisi rendah. Penelitian terhadap manusia dan binatang menunjukan bahwa penggunaan ganja pada usia dini berdampak panjang pada kognisi dan meningkatkan kemungkinan kelainan neuropsikis. Wilson membandingkan pengguna jangka panjang ganja yang mulai mengganja pada usia 17 tahun ke bawah dengan 17 tahun ke atas. Pada pengganja yang mulai di usia 17 tahun ke bawah menunjukan rendahnya persentase otak kecerdasan (neuron dan dendrit, dimana proses berpikir terjadi) dan tingginya persentase sumsum otak (myelinated axons) dibandingkan dengan seluruh volume otak.

c. Penyakit jiwa

Banyak penelitian menunjukan bahwa ada keterkaitan antara penggunaan ganja dengan tingginya resiko psikosis dan beberapa penelitian menemukan keterkaitan antara dosis dengan respon psikosis (Fergusson, Poulton, Smith, Boden, Zammit , Allebeck, Andreasson, Lundberg, & Lewis). setelah dilakukan penelusuran melalui bukti-bukti yang ada, dari sekian banyak hasil penelitian yang dipublikasikan dapat disimpulkan bahwa penggunaan ganja dapat meningkatkan resiko psikosis pada kalangan muda, tapi memiliki efek signifikan pada mereka yang memiliki predisposisi psikosis.

27 Dhira Narayana, http://www.lgn.or.id/kapan-pertama-kali-ganja-digolongkan-sebagai-narkotika/ diakses tanggal 29 februari 2020

(24)

19 d. Kanker

Penelitian dalam ranah ini manunjukan banyak pertentangan. Sidney, Quesenberry, Friedman, & Tekawa menemukan bahwa merokok ganja sama sekali tidak berkaitan dengan peningkatan resiko kanker. Sedangkan di tempat yang berbeda, Fligiel, menemukan bahwa secara histologik dan molekuler terjadi perubahan epitelium bronkial yang serupa antara merokok ganja dengan merokok tembakau. Kesimpulan yang dapat ditarik sementara, studi yang ada belum cukup untuk memberikan evaluasi yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa merokok ganja berkaitan dengan resiko kanker. e. Reproduksi

Satu studi menemukan bahwa penggunaan ganja berkaitan dengan penurunan level testoteron, jumlah sperma, dan motilitas sperma pada pengguna kronis/intensif ganja. Salah satu akibatnya, sampai saat ini ganja dikenal sebagai zat yang dapat menyebabkan ketidaksuburan pria. Kenyataannya, tidak ada penelitian yang pernah melihat keterkaitan antara pengunaan ganja dan kesuburan pria.

f. Efek pernapasan

Gong, Fligiel, Tashkin, & Barber menunjukan bahwa merokok 3-4 linting ganja dalam sehari sama dengan merokok 20 linting tembakau dalam sehari dan mengakibatkan batuk, wheeze, dan produksi dahak. Penelitian terbaru gagal menemukan keterkaitan antara pengggunaan ganja jangka panjang dengan FEV1/FVC (forced

expiratory volume in the first second setelah mengambil napas

panjang), kapasitas difusi, atau hiperaktif pernapasan seperti yang terjadi pada perokok tembakau

2. Efek positif Marijuana atau Ganja28

Sebenarnya banyak sekali testimoni yang mengungkapkan dan mengklaim efek positif ganja pada kesehatan tubuh Manusia, Namun tidak dipaparkan

28 Iva laksamana, http://www.lgn.or.id/manfaat-ganja-untuk-medis/ diakses tanggal 29 Februari 2020

(25)

20

dalam penelitian ini karena Belum ada bukti penelitian yang kuat dari testimoni-testimoni tersebut. Oleh karena itu, yang akan dipaparkan lebih kepada statemen atau teori yang telah memiliki pembuktian berupa riset dari luar negeri oleh para peneliti, ilmuwan, pemerintah negara tertentu maupun Pihak swasta yang memiliki kepentingan di bidang perekonomian. a. Kandungan CBD dalam Marijuana dapat memperbaiki kerusakan otak akibat alkohol, Menurut penelitian di Universitas Kentucky, CBD merubah otak secara fisiologis dan bisa memperbaiki kerusakan karena alkoholik akut. Penelitian menemukan bahwa CBD bisa mengurangi kerusakan saraf sebanyak 48,8% di entorhinal korteks. Sudah banyak yang tahu jika beberapa hisap ganja bisa meredakan hangover, tapi penelitian ini mengangkat potensi pengobatan ganja ke tingkat yang baru.29 CBD efektif mengatasi kecemasan sosial yang parah, Banyak yang mengaku bahwa ganja meredakan kecemasan mereka sementara yang lain mengatakan sebaliknya. Hal ini dikarenakan kandungan CBD di setiap tanaman ganja berbeda. Sebuah penelitian yang sengaja diadakan untuk mengetahui dampak CBD pada kecemasan sosial dalam berbicara di depan publik. Ternyata mereka yang sebelumnya diberi dosis CBD, rasa cemas dan grogi mereka berkurang selama mereka berbicara di depan publik. Para peneliti menyatakan bahwa CBD memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan obat anti depresan lainnya karena efeknya yang cepat dengan tidak menimbulkan rasa ketergantungan.

Kemudian CBD mematikan sel kanker yang ditemukan dalam metastasis [organ lain yang ikut terjalar sel kanker]. Peneliti di California Pacific Medical Center menemukan bahwa CBD mematikan sel kanker untuk menyebar. Penelitian ini juga menjadikan penelitian UCLA tentang ganja tidak menyebabkan kanker paru-paru menjadi lebih menarik; Apakah mungkin cannabinoids sendiri dapat menghilangkan carcinogen [penyebab kanker] yg ditemukan dalam

(26)

21

rokok? Apakah benar ganja adalah obat anti kanker yang sebenarnya?30 Selanjutnya, CBD adalah obat anti-psikotik yang kuat. Percobaan klinik di Jerman menemukan bahwa CBD efektif mengobati schizophrenia sebagai obat anti-psikotik biasa dengan efek samping yang sedikit. Hal ini menunjukan yin-yang pada senyawa ganja dimana THC dosis tinggi mempunyai efek psikotik. CBD-lah yang menekan sifat negatif dari THC. Dan karena alasan inilah CBD baik untuk mereka yang mempunyai sejarah gangguan mental dalam keluarga.31

Dan yang terakhir adalah, legal. di beberapa negara hukum ganja sudah dilegalkan untuk medis. Mereka bisa menanam, mengolah, bahkan membeli ganja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah mereka. Hal ini berarti mereka mempunyai akses yang mudah terhadap obat murah. CBD dapat diolah menjadi makanan, minuman, minyak, kapsul, lotion, bahkan permen karet. Salah satu alasan mengapa ganja di Indonesia masih ilegal karena umumnya mereka menyamaratakan ganja sebagai tanaman yang bisa bikin si pemakai merasa “giting” dan karenanya bahaya untuk kesehatan. Pemerintah pun memasukkan ganja pada Golongan 1 Narkotika dimana mereka menganggap ganja tidak mempunyai fungsi medis.32

b. THC adalah senyawa yang paling aktif dalam psikologis ganja, dan juga salah satu yang sangat memberi terapi bagi para penggunanya. THC memiliki efek analgesik [penghilang rasa sakit], sifat anti-spasmodik [mencegah/menghilangkan kejang-kejang], anti-getaran, anti-inflamasi [mencegah pembengkakan], perangsang nafsu makan dan anti muntah yang digunakan untuk berbagai penyakit seperti: gangguan makan, efek samping dari kemoterapi, multiple sclerosis [penyakit autoimun yang mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang (sistem syaraf pusat)], spasticity [kontraksi konstan dan tidak

30 ibid

31 Iva laksamana, http://www.lgn.or.id/manfaat-ganja-untuk-medis/ diakses tanggal 29 Februari 2020

(27)

22

diinginkan dari satu atau lebih kelompok otot sebagai hasil dari stroke atau lainnya ke otak atau sumsum tulang belakang] , kejang-kejang dan lain-lain. Selain itu, THC telah diketahui untuk mengurangi pertumbuhan tumor dan mengurangi perkembangan aterosklerosis [penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh kelebihan lemak di dinding arteri] pada tikus.

c. (E)-BCP adalah komponen anti-inflamasi alami dan kuat yang juga ditemukan dalam makanan seperti lada hitam, oregano, kemangi, jeruk nipis, kayu manis, wortel, dan seledri. Tidak seperti THC, cannabinoid ini tidak mempengaruhi otak, yang berarti tidak menghasilkan efek psikotropika. Para peneliti mengatakan (E)-BCP bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk nyeri, arthritis [peradangan sendi], sirosis [peradangan & fungsi buruk pada hati], mual, osteoarthritis [penyakit sendi], aterosklerosis [suatu kondisi di mana dinding arteri menebal sebagai akibat dari kelebihan lemak seperti kolesterol], dan penyakit lainnya tanpa membuat pasien merasa “tinggi”.

d. CBC juga memiliki efek sedatif dan analgesik.

e. CBG adalah pencetus biogenetis dari semua senyawa ganja. CBG memiliki efek sedatif dan sifat antimikroba, dan menyebabkan rasa kantuk. Studi menunjukkan bahwa CBG dapat mengurangi tekanan intraokular [tekanan cairan pada mata] pada pasien glaukoma [pasien yang mengalami gangguan mata di mana saraf optik mengalami kerusakan pada penglihatan yang permanen dan bisa mengakibatkan kebutaan jika tidak diobati] dan berkontribusi terhadap sifat antibiotik pada ganja itu sendiri

2.7 Peraturan Hukum tentang Marijuana di Indonesia

Ganja merupakan jenis narkoba yang secara ilegal digunakan paling banyak di dunia dan paling mungkin untuk diubah kebijakannya. Saat ini ganja secara politik merupakan satu-satunya kandidat yang berkemungkinan untuk disahkan, baik secara dekriminalisasi (penghapusan sanksi kriminal bagi

(28)

23

pengguna atau pemilik) atau bahkan legalisasi secara menyeluruh (mengizinkan budidaya dan penjualan). Hal ini disebabkan karena jika dibandingkan dengan narkoba jenis lainnya, bahaya yang ditimbulkannya baik secara psikologi maupun tingkah laku lebih ringan dan ganja terintegrasi lebih baik dengan budaya pada Umumnya.33 Beberapa negara pun sudah secara terang-terangan melegalkan dan menjadikannya komoditas ekspor baik untuk ganja rekreasi maupun beberapa negara khusus hanya untuk ganja medis. Sejatinya, Lahirnya UU tentang tanaman ganja dilandasi oleh terbitnya UN

Single Convention on Narcotic and Drugs tahun 1961. Konvensi ini

merupakan konvensi narkotika internasional pertama yang melarang penggunaan maupun peredaran ganja berdasarkan hasil riset yang disusun oleh lembaga kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) tahun 1954. Penerapan regulasi ganja, dalam konteks kebijakan nasional, tidak terlepas dari dinamika politik internasional, terutama menyangkut dinamika relasi antar negara dan badan internasional, yakni antara Indonesia dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang berjalan secara kontingen. Di masa kepemimpinan Soekarno, Indonesia pernah keluar dari PBB, sebagai akibat dukungan negara-negara Barat terhadap Malaysia dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia. Maka dari itu, UN Single Convention 1961 belum diratifikasi pada masa ini. Baru ketika memasuki Orde Baru, UN Single

Convention 1961 diratifikasi menjadi UU nasional.34

Regulasi Ganja di Indonesia, diawali dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 1971 kepada Kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Kabakin) agar membentuk Badan Koordinasi Pelaksana Instruksi Presiden (Bakolak Inpres) untuk menangani enam masalah nasional, salah satunya narkoba, hal ini berlanjut kepada terbitnya Undang-undang (UU) No. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika yang disahkan melalui Dewan Perwakilan Rakyat

33 Pebrianto Nainggolan, “Kepentingan Pemerintah Uruguay melegalisasi Ganja pada masa pemerintahan Jose Alberto Mujica Cordano tahun 2010-2015”, Jom Fisip Vol. II. Nomor 2, 2015, h. 1

34 Khalid Syaifullah, “Kontestasi Ganja: Diskursus Legitimasi Ganja Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lingkar Ganja Nusantara (LGN) Tahun 2011-2016. Skripsi (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2017), h. 2

(29)

24

(DPR). Dalam UU itu, ganja masuk sebagai jenis tanaman yang sesuai dengan definisi narkotika sebagaimana tersebut dalam pasal 1 ayat 1 UU tersebut. Pada bagian “Menimbang”, UU ini dibuat berdasarkan pada beberapa hal, salah satunya, “Narkotika dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan yang saksama.” Setelahnya, beberapa regulasi terkait tanaman ganja dapat dilihat dalam UU No. 8/1976, UU No. 22/1997, dan UU No. 35/2009. Dua UU yang disebut terakhir merupakan “pemutakhiran” aturan-aturan mengenai narkotika, termasuk ganja. Dominannya peran negara dalam mengatur ganja kian diperkuat melalui pembentukan Badan Narkotika Nasional (BNN). Badan ini dibentuk melalui terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) No. 17/2002. Keppres ini merupakan „penyempurnaan‟ Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) sebelumnya. Fungsi dari lembaga ini terutama adalah mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam perumusan kebijakan dan strategi penanggulagan narkoba serta mengkoordinasikan pelaksanaannya (BNN, 2013: 39). Selanjutnya, dengan diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) No. 83/2007, fungsi BNN kian luas dengan struktur komando hingga ke tingkat daerah provinsi dan kabupaten/kota. Salah satu wujud fungsi BNN dalam mengatur regulasi tanaman ganja, dengan jenis narkotika lainnya, adalah keterlibatannya dalam perumusan UU No. 35/2009. Dalam UU tersebut, BNN diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan, penyelidikan, dan persekusor kasus-kasus narkoba sebagaimana tercantum dalam pasal 70 UU tersebut.35

Sehingga dapat diketahui bahwa Pemerintah Indonesia sendiri, terkait penolakan legalisasi ganja didasarkan pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 Beserta Protokol yang Mengubahnya. Pemerintah juga sudah pernah mengatur secara khusus pertanian ganja lewat Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1980 tentang Ketentuan Penanaman Papaver, Koka, dan Ganja. Berdasarkan PP ini lembaga pendidikan atau lembaga pengetahuan bisa menanam ganja setelah

(30)

25

memperoleh izin. Lembaga ini harus membuat laporan setiap enam bulan sekali mengenai lokasi, luas tanaman, dan hasil. Kalau ada kehilangan, lembaga dimaksud harus melapor ke polisi. Secara umum ganja tidak menimbulkan ketagihan (withdrawal) seperti halnya morfin. Bila seorang pecandu morfin memutuskan untuk berhenti, dia akan merasakan rasa sakit di tubuh, lazim disebut sakaw. Dari studi literatur, ganja hampir sama dengan rokok. Ganja tidak pernah menimbulkan overdosis dan tidak menimbulkan sifat agresif. Tetapi semua itu harus dibuktikan lewat penelitian.36

Berdasarkan Lampiran I butir 8 UU Narkotika, tanaman tersebut termasuk dalam narkotika golongan I. Berdasarkan Pasal 7 UU Narkotika, narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam Penjelasan Pasal 7 UU Narkotika, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pelayanan kesehatan” adalah termasuk pelayanan rehabilitasi medis. Yang dimaksud dengan “pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” adalah penggunaan narkotika terutama untuk kepentingan pengobatan dan rehabilitasi, termasuk untuk kepentingan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan serta keterampilan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang tugas dan fungsinya melakukan pengawasan, penyelidikan, penyidikan, dan pemberantasan peredaran gelap narkotika. Kepentingan pendidikan, pelatihan dan keterampilan adalah termasuk untuk kepentingan melatih anjing pelacak narkotika dari pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia, Bea dan Cukai dan Badan Narkotika Nasional serta instansi lainnya.

Atas ketentuan Pasal 7 UU Narkotika ini, terdapat pengecualiannya, yaitu Pasal 8 ayat (1) yang mengatakan bahwa narkotika golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Akan tetapi, dalam jumlah terbatas, narkotika golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan

36 Enik Isnaini, “Penggunaan Ganja dalam Ilmu Pengobatan Menurut Undang-undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika…, h. 47

(31)

26

Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Pasal 8 ayat [2] UU Narkotika). Dalam Pasal 11 UU Narkotika dikatakan bahwa Menteri memberi izin khusus untuk memproduksi narkotika kepada industri farmasi tertentu yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah dilakukan audit oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Tetapi, berdasarkan Pasal 12 ayat (1) UU Narkotika, narkotika golongan I dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi, kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini berarti bahwa penggunaan narkotika golongan I terbatas pada hal-hal tertentu saja yang diatur dalam UU Narkotika dan harus dengan izin dari Menteri. Salah satunya adalah dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di antaranya adalah untuk kepentingan pengobatan dan rehabilitasi. Ini berarti bahwa untuk kepentingan imu pengetahuan dalam hal pengobatan, tanaman cannabis dapat dipergunakan, tetapi dengan adanya izin dari Menteri terlebih dahulu. Selain itu, lembaga ilmu pengetahuan yang berupa lembaga pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta juga dapat memperoleh, menanam, menyimpan, dan menggunakan narkotika untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi setelah mendapatkan izin Menteri (Pasal 13 ayat [1] UU Narkotika).37

Selain itu, lembaga ilmu pengetahuan yang berupa lembaga pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta juga dapat memperoleh, menanam, menyimpan, dan menggunakan narkotika untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi setelah mendapatkan izin Menteri (Pasal 13 ayat [1] UU Narkotika). Berdasarkan Pasal 111 UU Narkotika, setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I dalam bentuk

37Letezia, https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt522150607489f/hukum-menanam-cannabis-ganja/ diakses tanggal 27 Februari 2020

(32)

27

tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.800 juta dan paling banyak Rp8 miliar. Jika perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I dalam bentuk tanaman tersebut beratnya melebihi 1 kilogram atau melebihi 5 batang pohon, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).38

2.8.Penelitian Terdahulu

1. Enik Isnaini, dalam jurnalnya yang berjudul Penggunaan Ganja Dalam ilmu pengobatan Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jika menggunakan ganja sebagai obat medis di beberapa negara, termasuk Indonesia. Di satu sisi, penggunaan Cannabis sativa untuk pengobatan beberapa penyakit memang bermanfaat. Namun di sisi lain, legalitas hukum dilanggar dan efek samping akibat penggunaan ganja medis masih diperdebatkan. Padahal, kebutuhan ganja sebagai salah satu obat dalam dunia medis sudah ada sejak berabad-abad lalu. Di dalam ganja, para peneliti menemukan komponen zat aktif yang kemungkinan bisa membantu pengobatan. Komponen itu ialah senyawa kimia yang disebut cannabinoids. Cannabinoids banyak ditemukan dalam ganja. Dua senyawa aktif cannabinoids yang sudah diteliti antara lain delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD).

Persamaan penelitian dengan penulis adalah sama-sama menjadikan ganja obat (Marijuana Medis) sebagai objek penelitian. Namun, perbedaannya, untuk penelitian Enik lebih menyoroti dan fokus pada satu sisi saja yakni dari kacamata/perspektif peraturan perundang-undangan (aspek legal) dalam menempatkan dan mengatur masalah ganja. 2. Alex Kreit, dalam Jurnalnya yang berjudul The Federal Response to State

Marijuana Legalization: Room for Compromise? dari hasil penelitian

38 Ibid

(33)

28

menunjukkan bahwa dalam menyikapi hukum pelegalan itu, dapat dilakukan kompromi yang disesuaikan dengan kepentingan masing-masing negara bagian.

Persamaan penelitian sama-sama menyoroti wacana legalitas ganja. Dan perbedaannya, penelitian Alex lebih menganalisis bagaimana kebijakan pengaturan ganja ketika sudah dilegalkan oleh masing-masing negara yang telah melegalkannya.

3. J. Michael Olivero, dalam Jurnalnya yang berjudul Marijuana

Legalization, Medical and Recreactional. dari hasil penelitian

menunjukkan bahwa Dampak legalisasi marijuana untuk keperluan medis di Washington terhadap organisasi criminal Mexico yang bergerak di bidang ganja. Adanya larangan ganja yang dahulu diterapkan oleh AS menciptakan cartel-cartel yang kaya dan kejam. Dengan adanya legalisasi ganja untuk keperluan medis dan rekreasional di Washington, maka cartel-cartel ini kemudian merasa kesulitan untuk bergerak di kawasan tersebut. Beberapa Negara bagian lain selain Washington bahkan sudah melegalkan produksi ganja dalam skala tertentu. Sehingga data menunjukkan terdapat peningkatan konsumsi ganja produksi AS dibandingkan produksi Meksiko.

Persamaan penelitian yakni sama-sama melihat legalisasi ganja Namun perbedaannya, Michael lebih spesifik menyoroti perbedaan keadaan Amerika sebelum dan sesudah legalisasi ganja dan hubungannya dengan keberadaan kartel-kartel ganja. Selin itu juga ingin menyampaikan bahwa legalisasi ganja oleh Amerika akan lebih mudah dikontrol pengaturan dan penggunaannya dibandingkan sebelumnya ketika illegal sehingga Menciptakan tindak pidana kejahatan berupa perekonomian illegal oleh kartel-kartel di Amerika.

4. Mira Natasya Aulia Siregar, dalam Skripsinya yang berjudul Sikap Mahasiswa terhadap gagasan legalisasi ganja di Indonesia. dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa ternyata bersikap netral terhadap gagasan legalisasi ganja di Indonesia, dengan penjelasan setuju

(34)

29

kepada pemanfaatan ganja untuk industri dan medis, namun tidak setuju untuk rekreasional. Dan sikap tersebut dipengaruhi oleh empat faktor, yakni gender, self experience, significant others, dan media.

Persamaannya, membahas wacana legalisasi ganja. Perbedaannya Mira melihat dari sikap Mahasiswa saja sedangkan penelitian ini melihat segala aspek dan perspektif/pendapat Semua kalangan.

(35)

30 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil Lokasi di BNN, Kementerian Kesehatan, dan Organisasi penggiat legalisasi dan pemanfaatan Ganja, yakni Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Hal ini dikarenakan yang akan diteliti adalah aturan hukum, teori hukum, dan penegakan hukum terkait Marijuana Medis dan kemungkinan legalitas marijuana medis berdasarkan segala aspek hukum yang berlaku di Indonesia.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dimaksudkan jenis penelitian dimana data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik”.39 Jadi, penelitian ini bersifat deskriptif kuatitatif yakni penulis menganalisis dan menggambarkan secara objektif dan akurat sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak tentang Problematika Marijuana Medis di Indonesia. Sumber data penelitian ini Penulis dalam penelitian ini menggunakan dua sumber data yakni data primer dan data sekunder dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Sumber Data primer

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung di lapangan (field

research) seperti melalui hasil pengamatan (observasi), wawancara

(interview) dan dokumentasi. b. Sumber Data sekunder

Data sekunder atau data teoritis yaitu data yang bersifat tidak langsung, yang diperoleh melalui berbagai literatur berupa Buku, jurnal, karya ilmiah pustaka dan website resmi yang relevan dengan Narkotika khususnya Marijuana atau Ganja.

39 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). (Bandung: Alfabeta, 2017), h. 11

(36)

31 3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara atau metode yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian yang terdiri atas:

1. Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Dalam konteks ini, peneliti melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan.

2. Wawancara, yaitu suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewawancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diinterview dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Tujuan wawancara dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data secara jelas dan akurat tentang penelitian dengan objek wawancara yakni PNS di BNN, Kementerian Kesehatan dan Ketua Organisasi Lingkar Ganja Nusantara (LGN).

Observasi dan wawancara dalam pengumpulan data pada penelitian ini mutlak dilakukan karena penelitian ini murni kuantitatif. Wawancara menjadi media utama dalam pengumpulan data untuk menghindari salah penafsiran. Apapun keterangan yang didapat dari hasil wawancara harus diyakini bahwa keterangan itu yang benar. Sebagai alat penguat pemaknaan terhadap fenomena digunakan hasil observasi, sekaligus menjadi tambahan materi dalam uraian-uraian dalam pembahasan penelitian ini.

3.4. Instrumen Penelitian

Untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan penelitian ini maka penelitian ini menggunakan instrumen penelitian. Adapun instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, yaitu:

1. Pedoman Observasi yaitu berupa catatan-catatan yang menjadi pokok permasalahan yang akan peneliti Observasi

2. Pedoman Wawancara yaitu berupa catatan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan untuk menggali informasi dari informan dalam pengumpulan data penelitian. Instrumen wawancara yang dimaksud berkaitan dengan pertanyaan-penyataan tentang bagaimana Problematika

(37)

32

Legalitas Marijuana Medis di Indonesia dan Peran Pemerintah dalam menyelesaikan Problematika Marijuana Medis di Indonesia

3.5. Teknis Analisis data

Analisis yang digunakan adalah analisis deskripstif, yang dimulai dengan mengelompokkan data yang dilakukan secara induksi sehingga memberikan hasil secara sempurna, untuk memperoleh informasi yang akurat dengan begitu penelitian dapat lebih terfokus pada masalah yang spesifik. Maka metode yang digunakan dalam menganalis data-data penelitian yang telah dikumpulkan selama penelitian baik yang bersumber dari data primer (observasi dan wawancara) maupun data sekunder terkait dengan Problematika Legalitas Marijuana Medis dan Peran pemerintah dalam menyelesaikan Problematika Marijuana Medis di Indonesia.

(38)

33 BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1. Rencana Anggaran Biaya

Adapun rencana anggaran biaya penelitian ini adalah sebagai berikut:

No Komposisi Pembiayaan Kuantitas Harga Satuan (Rp) Jumlah Harga (Rp) 1 Transportasi 3 Orang Rp. 100.000 Rp. 300.000 2 Konsumsi Peneliti 3 Orang Rp. 50.000 Rp. 300.000 3 Pengumpulan data 3 Orang Rp. 50.000 Rp. 150.000

4 Buku 4 Buku Rp. 50.000 Rp. 200.000

5 ATK 1 Paket Rp. 100.000 Rp. 100.000

5 Penggandaan atau percetakan laporan

5 Paket Rp. 50.000 Rp. 250.000

6 Kuota dan telepon 2 Orang Rp. 100.000 Rp. 200.000

Sub Total Rp. 1.500.000

4.2. Jadwal Penelitian

No Kegiatan

Bulan

November Desember Januari Februari 1 Penyusunan Proposal Penelitian 2 Penyusunan Instrumen dan Pengimpulan Data 3 Analisis Data 4 Penyusunan Laporan Penelitian

(39)

34 BAB V

HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Problematika Legalitas Marijuana Medis di Indonesia

Di Indonesia, status dan pendapat atau teori tentang Marijuana sejak 1970an setelah diratifikasinya Konvensi Internasional yakni UN Single Convention on Narcotic and Drugs tahun 1961, mayoritas memiliki satu pendapat yakni Ganja merupakan zat berbahaya yang buruk bagi kesehatan Manusia dan layak digolongkan dalam golongan I UU Narkotika. Sejak saat itu, Marijuana atau Ganja merupakan barang illegal dan “haram”. Namun, semakin berkembangnya zaman mulai bermunculan pribadi-pribadi maupun komunitas dan organisasi yang mencari tahu tentang Marijuana karena juga dipengaruhi oleh fakta sejarah yang menyimpulkan bahwa Marijuana telah dikenal dan dimanfaatkan berabad-abad yang lalu Bahkan Sebelum Masehi. Selain itu, keadaan dunia luar yakni beberapa negara internasional yang mengubah kebijakan negaranya terkait Marijuana dari illegal menjadi legal atau diakui, diizinkan, dimanfaatkan dan diatur dalam hukum.

Dewasa ini, wacana tentang legalisasi Marijuana medis semakin sering terdengar. Beberapa bulan yang lalu wacana ini kembali mencuat setelah adanya statemen dari Anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS, Rafli Kande, mengusulkan pemerintah Indonesia menjadikan ganja sebagai komoditas ekspor. Hal ini ia kemukakan dalam rapat kerja dengan Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto yang membahas perjanjian dagang ASEAN dengan Jepang. Saat ini, masalah Marijuana medis menjadi kontroversial dan hangat diperdebatkan. Bahkan efeknya, sebagian Masyarakat mulai Menggali informasi tentang bagaimana sebenarnya sosok Marijuana ini? Salah satu buktinya yakni dapat diliat dari statistika penelitian tentang ganja dikalangan akademisi, Mahasiswa dan praktisi semakin meningkat. Walaupun untuk buku tentang ganja sendiri, di

Gambar

Gambar 1. Reklasifikasi Spesies Cannabis
Tabel 1. Reklasifikasi spesies cannabis
Gambar 2.Klasifikasi ganja
Gambar 3. Perbedaan Kandungan dan Manfaat Hemp serta Marijuana
+2

Referensi

Dokumen terkait

Perancangan yang digunakan aliran sistem informasi melibatkan variabel atau bagian organisasi yang berupa proses atau langkah-langkah pada bagian operasi yang diperlukan (Pernando

Untuk mencari jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam proses produksi pembuatan  beton tiang pancang bulat ( spunt piles) dapat dilakukan dengan membagi waktu proses  produksi

46., Váradon a négy egyetemet végzett esperes (két decretorum doctor, egy magister artium, egy baccalaureus artium) mellett 11 olyan esperes ismert, akik nem folytattak egye-

"eteksi parasit yaitu menemukan mikro9ilaria di dalam darah, #airan hidrokel atau #airan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal dan teknik konsentrasi Knott Pada

730 EDY HARIYANTO SDN 3 KALIGAYAM KLT A5 SDN 2 MOJAYAN-1 SD N KARANGANOM KLATEN UTARA 731 SUJIYANTI SDN 3 JOMBORAN KLT A5 SDN 2 MOJAYAN-1 SD N KARANGANOM KLATEN UTARA 732 PURWANTI SDN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan media pasir dan kascing 1:0 menunjukkan pertumbuhan paling bagus di setiap parameter penelitian tetapi pada parameter

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) kontribusi pemanfaatan perpustakaaan terhadap hasil belajar auditing,2) kontribusi intensitas belajar terhadap

Analisa bentuk bangunan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan bentuk bangunan baru yang akan dirancang yang sesuai dengan konsep bangunan lama Stasiun Pemalang