PENGGUNAAN MEDIA BANTU
PENAMPANG JANGKA SORONG DALAM
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
KELAS VII A SMP NEGERI 10 PROBOLINGGO
Oleh:
LILIS INDAYANI, S.Pd
NIP. 132145486
PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO DINAS PENDIDIKAN
Tahun 2007
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam Permendiknas nomor 22 th 2006 (Standar Isi) disebutkan bahwa Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SMP/MTs merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
SKL IPA SMP/MTs no. 1 “Melakukan pengamatan dengan peralatan yang sesuai, melaksanakan percobaan sesuai prosedur, mencatat hasil pengamatan dan pengukuran dalam tabel dan grafik yang sesuai, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikannya secara lisan dan tertulis sesuai dengan bukti yang diperoleh” (Permendiknas nomor 23 Th 2006 - Standar Kompetensi Lulusan)
mata pelajaran lainnya serta membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam teknologi (Depdikbud, 1993 : 1)
Banyak cara untuk menyampaikan materi pelajaran sains yang telah dikembangkan oleh pakar perancang pembelajaran. Pengajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika khususnya materi pelajaran yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Sehingga dengan model pengajaran langsung diharapkan pemahaman pengetahuan prosedural dan deklaratif siswa dapat meningkat.
Pengajaran langsung didasarkan pada prinsip-prinsip belajar perilaku dan teori belajar sosial. Pengajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang proses belajar yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang telah terstruktur dengan baik. Model pengajaran langsung ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan selangkah demi selangkah (Arends, 1997).
Pada materi IPA kelas VII semester 1 siswa mempelajari materi IPA dengan Standar Kompetensi 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan. Kompetensi Dasar 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada KD 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari siswa mempelajari cara menggunakan dan membaca hasil pengukuran beberapa jenis alat ukur yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Sehingga pembelajaran pada materi Pengukuran ini cocok menggunakan model pengajaran langsung.
dan mikrometer. Untuk pengukuran besaran massa siswa diajarkan cara menggunakan Neraca Ohaus. Sedangkan pengukuran besaran waktu siswa diajarkan cara menggunakan stop watch.
Banyaknya alat ukur yang digunakan pada kegiatan, dan banyaknya alat yang belum siswa kenal, menyebabkan dibutuhkannya waktu yang cukup banyak untuk membahas materi tersebut. Permasalahan yang dihadapi ternyata tidak hanya itu, karena jumlah alat yang dimiliki sekolah juga mempengaruhi berapa lama waktu yang diperlukan untuk membahas materi dan kedalaman materi yang dapat/mampu diserap oleh siswa.
Untuk membantu siswa dalam proses transfer pengetahuan yang baru mereka kenal seperti pengenalan alat ukur, kebutuhan adanya alat ukur yang digunakan mutlak diperlukan. Namun keterbatasan jumlah alat yang dimiliki sekolah, seharusnya tidak mempengaruhi semangat guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan keterbatasan kondisi peralatan laboratorium sekolah, guru dituntut untuk lebih kreatif. Guru harus dapat berinovasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki sekolah.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih materi Pengukuran (KD 1.3) khususnya tentang jangka sorong untuk kegiatan penelitian. Pemilihan ini didasarkan pada banyaknya pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural dalam materi tersebut. Penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang PENGGUNAAN MEDIA BANTU PENAMPANG JANGKA SORONG DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 10 PROBOLINGGO
2. Perumusan Masalah
Pertama, Nilai Ujian Tengah semester yang dicapai siswa khususnya pada pembacaan alat ukur jangka sorong rendah.
Kedua, Siswa tidak dapat atau tidak terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik.
Ketiga, Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka sorong terbatas (ada 2).
Keempat, Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam Silabus dan RPP kurang atau tidak sebanding dengan jumlah alat ukur yang dimiliki sekolah,
Dalam penelitian ini peneliti membatasi pada cakupan yang memungkinkan dilaksanakan. Adapun keterbatasan yang dimaksud adalah : 1) Penelitian dilakukan pada materi Pengukuran dan di khususkan pada
penggunaan dan cara membaca hasil pengukuran Jangka sorong.
2) Sasaran penelitian terbatas pada siswa kelas VII-A di SMP Negeri 10 Probolinggo.
3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang diidentifikasi di atas, penelitian ini bertujuan agar :
2) Siswa dapat atau terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran
jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik.
3) Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka
sorong bias ditambah.
4) Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam
Silabus dan RPP ditambah.
B. PEMBAHASAN
1. Kajian Teori
Fisika adalah bagian dari IPA atau Sains yang pada hakekatnya merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fakta, hasil pemikiran para ahli dan hasil-hasil eksperimen yang dilakukan para ahli. Perkembangan sains ditunjukkan oleh produk ilmiah berupa fakta, teori, konsep dan generalisasi.
Fungsi pembelajaran fisika di SMP juga mencakup komponen-komponen produk ilmiah, metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode dan sikap ilmiah tersebut meliputi : (1) mengembangkan dan menggunakan ketrampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep fisika ; (2) melatih siswa menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapinya ; (3) memupuk daya kreasi dan kemampuan bernalar ; (4) menunjang mata pelajaran IPA lain (Biologi) dan mata pelajaran lainnya serta membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam teknologi (Depdikbud, 1993 : 1).
Untuk menyampaikan materi pelajaran telah dikembangkan berbagai model pembelajaran oleh pakar perancang pembelajaran. Berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan dan banyak digunakan antara lain : model pembelajaran kooperative (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), dan model pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction).
Pengajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika khususnya materi pelajaran yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Dengan model pengajaran langsung diharapkan pemahaman pengetahuan prosedural dan deklaratif siswa dapat meningkat. Pengajaran langsung adalah pembelajaran yang dirancang khusus untuk membimbing siswa belajar pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang diajarkan langkah demi langkah (Arends, 1997).
Pengajaran langsung didasarkan pada prinsip-prinsip belajar perilaku dan teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, ada empat fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase reproduksi (reproduction phase) dan fase motivasi (motivasi phase).
Pengajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang proses belajar yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang telah terstruktur dengan baik. Model pengajaran langsung ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan selangkah demi selangkah (Arends, 1997).
Ada lima fase atau langkah penting dalam pengajaran langsung. Lima fase model pengajaran langsung itu diikhtisarkan sebagaimana tabel berikut :
Fase Perilaku Guru
Fase 3: Memberi latihan terbimbing
Fase 4: Mengecek pemahaman dan member umpan balik.
Fase 5: Memberi latihan lanjutan dan transfer.
Guru mengkomunikasikan garis besar tujuan pelajaran tersebut, member informasi latar belakang, dan menjelaskan mengapa pelajaran itu penting. Mempersiapkan siswa untuk belajar.
Guru mempresentasikan pengetahuan tersebut dengan benar atau
mendemonstrasikan ketrampilan langkah demi langkah.
Guru memberi dan membimbing latihan awal.
Guru mengecek untuk mencari tahu apakah siswa melakukan tugas dengan benar dan memberi umpan balik.
Guru mempersiapkan kondisi untuk latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer ketrampilan tersebut ke situasi-situasi lebih kompleks.
2. Proses Pembelajaran Inovasi
Pada kegiatan pembelajaran awal (sebelum dilakukan inovasi
pembelajaran) siswa telah mengikuti proses pembelajaran sebagaimana telah dituliskan dalam RPP. Namun tidak semua kelompok menerima alat secara lengkap, karena keterbatasan peralatan laboratorium yang dimiliki oleh sekolah.
Tabel Ketersediaan alat Laboratorium IPA untuk KD 1.3
Dengan kondisi peralatan yang terbatas maka siswa dibagi dalam lima kelompok, dimana masing-masing kelompok berjumlah delapan siswa. Pada pembahasan Neraca Ohauss dan Stop watch tidak terlalu bermasalah karena jumlah peralatan masih mencukupi untuk setiap kelompok. Namun pada pembahasan alat ukur panjang yaitu pada materi jangka sorong dan micrometer skrup tidak dapat dilakukan kegiatan sesuai dengan RPP karena keterbatasan peralatan yang ada. Pada materi jangka sorong siswa dilatih secara bergantian dan bergiliran secara berkelompok.
Karena hanya dua jangka sorong yang ada maka pembelajaran untuk materi jangka sorong kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa kelas VII A untuk materi jangka sorong pada Ulangan Tengah Semester hanya 37,5.
Dengan keterbatasan peralatan itu maka perlu dilakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran jangka sorong, sehingga semua siswa dapat melakukan kegiatan secara bersama. Sebagai pengganti jangka sorong yang digunakan siswa dalam pembelajaran dibuatlah media bantu Penampang Jangka sorong.
Penampang Jangka sorong dapat dibuat menggunakan plastic transparan untuk presentasi guru di depan kelas. Dan juga dapat dibuat dengan menggunakan kertas sebagaimana gambar terlampir yang dapat dipakai siswa untuk belajar membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong.
membaca hasil pengukuran. Untuk membuat dan menggunakan Penampang Jangka Sorong diperlukan peralatan sebagai berikut :
1. Plastik Transparan 2. Spidol
3. OHP
Dalam membuat Penampang Jangka Sorong, pada plastik transparan digambar Penampang Jangka Sorong yang terdiri dari dua macam skala, yaitu skala utama dan skala nonius yang dibuat pada plastik transparan atau kertas yang berbeda, agar dapat digerakkan atau dipindahkan sesuai dengan keinginan kita.
Untuk menggunakan Penampang Jangka Sorong diperlukan OHP dan Layar, Cara menggunakannya :
Letakkan Skala Utama Penampang Jangka Sorong pada OHP
Letakkan skala Nonius diatas skala utama.
Geser skala nonius sesuai dengan pengukuran yang dilakukan
Hasil pengukuran diperoleh dengan menggabungkan penunjukkan skala utama dengan skala nonius.
Dengan menggunakan media bantu penampang jangka sorong, akan mempermudah bagi guru dalam mempresentasikan pada siswa bagaimana cara pembacaan skala jangka sorong dengan lebih jelas, dan sekaligus untuk seluruh siswa di kelas. Jika tidak menggunakan media bantu penampang jangka sorong maka guru akan kesulitan menjelaskan kepada seluruh kelas secara langsung dan bersama karena alat ukur jangka sorong yang berukuran kecil.
Setelah siswa belajar membaca skala jangka sorong menggunakan media bantu, siswa secara bergantian dapat menerapkan lansung
menggunakan alat ukur yang sebenarnya
Setelah melakukan presentasi cara membaca skala jangka sorong menggunakan media bantu, dan siswa telah mencoba menerapkan lansung menggunakan alat ukur yang sebenarnya, untuk melihat hasil yang dicapai siswa dalam belajar maka siswa mengerjakan soal – soal berikut :
TULISLAH HASIL PENGUKURAN PANJANG MENGGUNAKAN JANGKA SORONG BERDASARKAN GAMBAR BERIKUT !
3 4
0 5 10
0 1
0 5 10
1 2
0 5 10
6
7
0
10
5
2 3
0 5 10
1 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.
2 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.
3 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.
4. Laporan Hasil Akhir Pembelajaran
Dengan menggunakan format penilaian diatas maka diperoleh hasil penilaian sebagaimana data berikut :
Tabel Hasil Penilaian Siswa Kelas VII A
NO NAMA NILAI SISWA
SEBELUM SESUDAH
1 ALVIN WAHYU ANGGRIANTO 80 80
2 ANGGUN ALIFIA UMMA 20 100
3 ARI SUBAKTI 80 80
4 BAYU ANDIKA CAHYO 20 80
5 CANDRA BINTARA YUDI 80 80
6 DESI RATNA LISTYA 10 66
7 DIMAS ADRI WICAKSONO 80 72
8 DIMAS ANGGA AFRIANTO 80 80
9 DWI CAHYO NUGROHO 20 96
10 DWI MEGA APRILIA 20 68
11 DWI YULIAN 0 78
12 EGA SUKMA PRATAMA 10 76
13 ERIKA YULIANTI 80 68
14 HENDRIATI PERTIWI 80 66
15 INDRA YULIANTOKO PUTRA 80 80
16 INTAN 80 60
17 IQBAL RAMADHAN 80 76
18 JEFRY ASISTIA 80 72
19 KURNIA ANGGI PRADANAN P 20 80
20 LAKSAMANA CAESAR P 20 80
21 LINA PURNAMA SARI 20 86
22 LUKMAN RASIDI 10 80
23 MAHAPUTRI ADE PRADANI N 10 80
24 MAYTRIKE RISKY WIDYA A 20 92
25 MEGA FAJARWATI 20 84
26 MUHAMMAD JAELANI 80 80
27 NINE DESSY HOSPITA WATIE 20 76
28 NUGROHO TRI MULYONO 80 80
29 NURAINI HUSNIYAH 20 80
30 NURLAILA 10 96
31 NURUL HUDA 20 96
32 REZITA EFRILLA DEBBI S 10 80
33 RISQI ARIF HADI PUTRA 0 96
34 ROFITA AYU NINGRUM 10 100
35 ROY SETYO NUGROHO 20 96
36 SISKA WULANDARI 80 42
37 SITI FATIMAH 20 80
38 SITI IRA AGUSTININGSIH 10 96
39 TITIS HARUMMANING ATI 0 76
40 YUDHI TRI LAKSONO 20 72
C. PENUTUP
Kesimpulan
Berdarkan Uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :
1) Nilai Ujian/test siswa khususnya pada pembacaan alat ukur jangka sorong dapat meningkat.
2) Siswa dapat atau terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik. 3) Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka
sorong harus ditambah, agar pembelajaran siswa lebih lancer dan mencapai hasil yang lebih maksimal.
4) Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam
Silabus dan RPP ditambah, agar penguasaan siswa terhadap
masing-masing alat ukur dapat menjadi lebih baik.
5) Keterbatasan alat yang dimiliki sekolah seharusnya tidak menghalangi
siswa dalam kegiatan belajar, tapi menuntut kreatifitas guru dalam
DAFTAR RUJUKAN
Mohammad Nur, Prof. Dr.,Guru yang Berhasil dan Model Pengajaran Langsung, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2005
Mohammad Nur, Prof. Dr.,Pembelajaran Kooperatif, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2005
Tri Waluyo, M.Pd. Drs.,Teori-Teori Belajar, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2006
Ali Saukah,M.A., Ph.D.,Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, IKIP Malang, 1993
Wartono,Materi Pelatihan Terintegrasi Mata Pelajaran Sains, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23, Standar Kompetensi Lulusan,
2006
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
Sekolah : SMP Negeri 10 Probolinggo Kelas / Semester : VII (tujuh) / Semester 1
Mata Pelajaran : IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
Standar Kompetensi : 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan.
Kompetensi Dasar : 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator : 1. Mengukur besaran fisika secara baik dan benar dengan menggunakan alat ukur
2. Memperhatikan dan menerapkan keselamatan kerja dalam pengukuran.
Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat:
2. Mengetahui cara menentukan besaran massa suatu benda dengan menggunakan neraca Ohaus dan neraca elektronik.
3. Mengetahui cara menentukan besaran waktu dengan menggunakan stopwatch.
4. Mengetahui cara menentukan volume benda padat yang bentuknya teratur dan tidak teratur.
Materi Pembelajaran : Pengukuran
Metode Pembelajaran : Model:
- Direct Instruction (DI) - Cooperative Learning Metode:
- Diskusi kelompok - Eksperimen
Waktu : 4 X 40’
Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
a. Kegiatan Pendahuluan
Motivasi dan apersepsi
- Bagaimana cara mengukur volume sebuah batu atau benda yang bentuknya tak beraturan?
- Bagaimana mendapatkan hasil pengukuran yang tepat? Prasyarat pengetahuan
- Apakah Satuan Internasional (SI) dari besaran panjang, massa dan waktu? - Bagaimana mengkonversi satuan dari hasil pengukuran ke dalam Satuan
Internasional (SI) ? Pra eksperimen
b. Kegiatan Inti
. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk mengambil mistar, jangka sorong dan mikro-meter sekrup.
. Guru mempresentasikan bagian-bagian mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup dan menunjukkannya kepada peserta didik.
. Guru meminta salah satu peserta didik untuk melakukan hal yang sama seperti yang ditunjukkan oleh guru, jika ada kesalahan langsung diberi umpan balik.
. Guru mendemonstrasikan langkah-langkah penggunaan alat ukur, pengukuran suatu objek, cara membaca skala, menentukan nilai dan membandingkan tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup.
. Guru juga melakukan hal yang sama terhadap alat ukur neraca Ohaus, neraca elektronik dan stopwatch.
. Peserta didik mengerjakan lembar kerja yang sudah disiapkan oleh guru.
. Guru memeriksa kegiatan pengukuran yang dilakukan peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
c. Kegiatan Penutup
. Guru memberikan penghargaan pada kelompok dengan kinerja baik.
. Peserta didik (dibimbing oleh guru) merangkum kegiatan yang telah dilaksanakan.
. Uji kompetensi lisan:
- Sebutkan tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup.
PERTEMUAN KEDUA
a. Kegiatan Pendahuluan . Motivasi dan apersepsi
- Bagaimana mengukur volume dari benda berbentuk teratur dan benda tidak teratur?
- Bagaimana cara menggunakan alat-alat di laboratorium dengan aman?
. Prasyarat pengetahuan
- Bagaimana rumus untuk menghitung volume bangun ruang?
- Bagaimana cara mengetahui volume benda yang berbentuk tidak teratur? - Alat-alat apa sajakah yang ada di laboratorium?
. Pra eksperimen
- Berhati-hatilah menggunakan peralatan yang di gunakan dalam pengukuran!
b. Kegiatan Inti
. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk mengambil jangka sorong, gelas ukur, tiga buah benda yang bentuknya tidak teratur dan beberapa balok yang terbuat dari kayu, aluminium dan besi.
. Peserta didik dalam setiap kelompok mengukur panjang (p), lebar (l) dan tinggi (t) dari bebe-rapa balok dengan menggunakan jangka sorong.
. Peserta didik dalam kelompok menghitung volume balok yang telah diukur
dengan menggunakan rumus V = p l t .
. Guru mendemonstrasikan langkah-langkah untuk menghitung volume balok secara langsung dan beberapa benda tidak teratur berdasarkan selisih volume cair pada gelas ukur.
. Guru meminta seorang peserta didik untuk melakukan hal yang sama seperti telah ditun-jukkan oleh guru; jika ada kesalahan langsung diberi umpan balik.
. Peserta didik mengerjakan lembar kerja yang sudah disiapkan oleh guru.
. Guru memeriksa kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
. Guru mempresentasikan alat-alat laboratorium yang lain beserta fungsinya dan menunjuk-kannya kepada peserta didik.
c. Kegiatan Penutup
. Guru memberi penghargaan pada kelompok dengan kinerja baik.
. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
Sumber Belajar
a. Buku IPA Terpadu Jl.1A (Esis) halaman 43-66 b. Buku kerja
c. Alat-alat ukur
Penilaian Hasil Belajar
a. Teknik Penilaian: - Tes unjuk kerja - Tes tertulis b. Bentuk Instrumen:
- Uji petik kerja produk - Uraian
- Instrumen eksperimen
Menentukan volume benda padat yang bentuknya tidak teratur dengan menggunakan gelas ukur.
Benda Volume air Volume benda + air
1. Panjang sebuah benda diukur dengan menggunakan jangka sorong seperti pada gambar di bawah ini.
2. Perhatikan gambar berikut ini!
Massa gelas ukur kosong (gb. 1) adalah 40 gram, massa zat cair dan gelas ukur (gb. 2) adalah 176 gram. Berdasarkan data pada gambar di atas hitunglah : (tulis lengkap dengan caranya)