• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN MEDIA BANTU PENAMPANG JANGKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGGUNAAN MEDIA BANTU PENAMPANG JANGKA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN MEDIA BANTU

PENAMPANG JANGKA SORONG DALAM

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

KELAS VII A SMP NEGERI 10 PROBOLINGGO

Oleh:

LILIS INDAYANI, S.Pd

NIP. 132145486

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO DINAS PENDIDIKAN

(2)

Tahun 2007

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam Permendiknas nomor 22 th 2006 (Standar Isi) disebutkan bahwa Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SMP/MTs merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

SKL IPA SMP/MTs no. 1 “Melakukan pengamatan dengan peralatan yang sesuai, melaksanakan percobaan sesuai prosedur, mencatat hasil pengamatan dan pengukuran dalam tabel dan grafik yang sesuai, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikannya secara lisan dan tertulis sesuai dengan bukti yang diperoleh” (Permendiknas nomor 23 Th 2006 - Standar Kompetensi Lulusan)

(3)

mata pelajaran lainnya serta membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam teknologi (Depdikbud, 1993 : 1)

Banyak cara untuk menyampaikan materi pelajaran sains yang telah dikembangkan oleh pakar perancang pembelajaran. Pengajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika khususnya materi pelajaran yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Sehingga dengan model pengajaran langsung diharapkan pemahaman pengetahuan prosedural dan deklaratif siswa dapat meningkat.

Pengajaran langsung didasarkan pada prinsip-prinsip belajar perilaku dan teori belajar sosial. Pengajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang proses belajar yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang telah terstruktur dengan baik. Model pengajaran langsung ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan selangkah demi selangkah (Arends, 1997).

Pada materi IPA kelas VII semester 1 siswa mempelajari materi IPA dengan Standar Kompetensi 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan. Kompetensi Dasar 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada KD 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari siswa mempelajari cara menggunakan dan membaca hasil pengukuran beberapa jenis alat ukur yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Sehingga pembelajaran pada materi Pengukuran ini cocok menggunakan model pengajaran langsung.

(4)

dan mikrometer. Untuk pengukuran besaran massa siswa diajarkan cara menggunakan Neraca Ohaus. Sedangkan pengukuran besaran waktu siswa diajarkan cara menggunakan stop watch.

Banyaknya alat ukur yang digunakan pada kegiatan, dan banyaknya alat yang belum siswa kenal, menyebabkan dibutuhkannya waktu yang cukup banyak untuk membahas materi tersebut. Permasalahan yang dihadapi ternyata tidak hanya itu, karena jumlah alat yang dimiliki sekolah juga mempengaruhi berapa lama waktu yang diperlukan untuk membahas materi dan kedalaman materi yang dapat/mampu diserap oleh siswa.

Untuk membantu siswa dalam proses transfer pengetahuan yang baru mereka kenal seperti pengenalan alat ukur, kebutuhan adanya alat ukur yang digunakan mutlak diperlukan. Namun keterbatasan jumlah alat yang dimiliki sekolah, seharusnya tidak mempengaruhi semangat guru dalam kegiatan belajar mengajar.

Dengan keterbatasan kondisi peralatan laboratorium sekolah, guru dituntut untuk lebih kreatif. Guru harus dapat berinovasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih materi Pengukuran (KD 1.3) khususnya tentang jangka sorong untuk kegiatan penelitian. Pemilihan ini didasarkan pada banyaknya pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural dalam materi tersebut. Penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang PENGGUNAAN MEDIA BANTU PENAMPANG JANGKA SORONG DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 10 PROBOLINGGO

2. Perumusan Masalah

(5)

Pertama, Nilai Ujian Tengah semester yang dicapai siswa khususnya pada pembacaan alat ukur jangka sorong rendah.

Kedua, Siswa tidak dapat atau tidak terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik.

Ketiga, Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka sorong terbatas (ada 2).

Keempat, Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam Silabus dan RPP kurang atau tidak sebanding dengan jumlah alat ukur yang dimiliki sekolah,

Dalam penelitian ini peneliti membatasi pada cakupan yang memungkinkan dilaksanakan. Adapun keterbatasan yang dimaksud adalah : 1) Penelitian dilakukan pada materi Pengukuran dan di khususkan pada

penggunaan dan cara membaca hasil pengukuran Jangka sorong.

2) Sasaran penelitian terbatas pada siswa kelas VII-A di SMP Negeri 10 Probolinggo.

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang diidentifikasi di atas, penelitian ini bertujuan agar :

(6)

2) Siswa dapat atau terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran

jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik.

3) Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka

sorong bias ditambah.

4) Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam

Silabus dan RPP ditambah.

B. PEMBAHASAN

1. Kajian Teori

Fisika adalah bagian dari IPA atau Sains yang pada hakekatnya merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fakta, hasil pemikiran para ahli dan hasil-hasil eksperimen yang dilakukan para ahli. Perkembangan sains ditunjukkan oleh produk ilmiah berupa fakta, teori, konsep dan generalisasi.

Fungsi pembelajaran fisika di SMP juga mencakup komponen-komponen produk ilmiah, metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode dan sikap ilmiah tersebut meliputi : (1) mengembangkan dan menggunakan ketrampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep fisika ; (2) melatih siswa menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapinya ; (3) memupuk daya kreasi dan kemampuan bernalar ; (4) menunjang mata pelajaran IPA lain (Biologi) dan mata pelajaran lainnya serta membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam teknologi (Depdikbud, 1993 : 1).

(7)

Untuk menyampaikan materi pelajaran telah dikembangkan berbagai model pembelajaran oleh pakar perancang pembelajaran. Berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan dan banyak digunakan antara lain : model pembelajaran kooperative (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), dan model pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction).

Pengajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika khususnya materi pelajaran yang mempunyai karakteristik pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Dengan model pengajaran langsung diharapkan pemahaman pengetahuan prosedural dan deklaratif siswa dapat meningkat. Pengajaran langsung adalah pembelajaran yang dirancang khusus untuk membimbing siswa belajar pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang diajarkan langkah demi langkah (Arends, 1997).

Pengajaran langsung didasarkan pada prinsip-prinsip belajar perilaku dan teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, ada empat fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase reproduksi (reproduction phase) dan fase motivasi (motivasi phase).

Pengajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang proses belajar yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang telah terstruktur dengan baik. Model pengajaran langsung ini dapat diajarkan dengan pola kegiatan selangkah demi selangkah (Arends, 1997).

Ada lima fase atau langkah penting dalam pengajaran langsung. Lima fase model pengajaran langsung itu diikhtisarkan sebagaimana tabel berikut :

(8)

Fase Perilaku Guru

Fase 3: Memberi latihan terbimbing

Fase 4: Mengecek pemahaman dan member umpan balik.

Fase 5: Memberi latihan lanjutan dan transfer.

Guru mengkomunikasikan garis besar tujuan pelajaran tersebut, member informasi latar belakang, dan menjelaskan mengapa pelajaran itu penting. Mempersiapkan siswa untuk belajar.

Guru mempresentasikan pengetahuan tersebut dengan benar atau

mendemonstrasikan ketrampilan langkah demi langkah.

Guru memberi dan membimbing latihan awal.

Guru mengecek untuk mencari tahu apakah siswa melakukan tugas dengan benar dan memberi umpan balik.

Guru mempersiapkan kondisi untuk latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer ketrampilan tersebut ke situasi-situasi lebih kompleks.

2. Proses Pembelajaran Inovasi

Pada kegiatan pembelajaran awal (sebelum dilakukan inovasi

pembelajaran) siswa telah mengikuti proses pembelajaran sebagaimana telah dituliskan dalam RPP. Namun tidak semua kelompok menerima alat secara lengkap, karena keterbatasan peralatan laboratorium yang dimiliki oleh sekolah.

(9)

Tabel Ketersediaan alat Laboratorium IPA untuk KD 1.3

Dengan kondisi peralatan yang terbatas maka siswa dibagi dalam lima kelompok, dimana masing-masing kelompok berjumlah delapan siswa. Pada pembahasan Neraca Ohauss dan Stop watch tidak terlalu bermasalah karena jumlah peralatan masih mencukupi untuk setiap kelompok. Namun pada pembahasan alat ukur panjang yaitu pada materi jangka sorong dan micrometer skrup tidak dapat dilakukan kegiatan sesuai dengan RPP karena keterbatasan peralatan yang ada. Pada materi jangka sorong siswa dilatih secara bergantian dan bergiliran secara berkelompok.

Karena hanya dua jangka sorong yang ada maka pembelajaran untuk materi jangka sorong kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa kelas VII A untuk materi jangka sorong pada Ulangan Tengah Semester hanya 37,5.

Dengan keterbatasan peralatan itu maka perlu dilakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran jangka sorong, sehingga semua siswa dapat melakukan kegiatan secara bersama. Sebagai pengganti jangka sorong yang digunakan siswa dalam pembelajaran dibuatlah media bantu Penampang Jangka sorong.

Penampang Jangka sorong dapat dibuat menggunakan plastic transparan untuk presentasi guru di depan kelas. Dan juga dapat dibuat dengan menggunakan kertas sebagaimana gambar terlampir yang dapat dipakai siswa untuk belajar membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong.

(10)

membaca hasil pengukuran. Untuk membuat dan menggunakan Penampang Jangka Sorong diperlukan peralatan sebagai berikut :

1. Plastik Transparan 2. Spidol

3. OHP

Dalam membuat Penampang Jangka Sorong, pada plastik transparan digambar Penampang Jangka Sorong yang terdiri dari dua macam skala, yaitu skala utama dan skala nonius yang dibuat pada plastik transparan atau kertas yang berbeda, agar dapat digerakkan atau dipindahkan sesuai dengan keinginan kita.

Untuk menggunakan Penampang Jangka Sorong diperlukan OHP dan Layar, Cara menggunakannya :

 Letakkan Skala Utama Penampang Jangka Sorong pada OHP

 Letakkan skala Nonius diatas skala utama.

 Geser skala nonius sesuai dengan pengukuran yang dilakukan

 Hasil pengukuran diperoleh dengan menggabungkan penunjukkan skala utama dengan skala nonius.

Dengan menggunakan media bantu penampang jangka sorong, akan mempermudah bagi guru dalam mempresentasikan pada siswa bagaimana cara pembacaan skala jangka sorong dengan lebih jelas, dan sekaligus untuk seluruh siswa di kelas. Jika tidak menggunakan media bantu penampang jangka sorong maka guru akan kesulitan menjelaskan kepada seluruh kelas secara langsung dan bersama karena alat ukur jangka sorong yang berukuran kecil.

Setelah siswa belajar membaca skala jangka sorong menggunakan media bantu, siswa secara bergantian dapat menerapkan lansung

menggunakan alat ukur yang sebenarnya

(11)

Setelah melakukan presentasi cara membaca skala jangka sorong menggunakan media bantu, dan siswa telah mencoba menerapkan lansung menggunakan alat ukur yang sebenarnya, untuk melihat hasil yang dicapai siswa dalam belajar maka siswa mengerjakan soal – soal berikut :

TULISLAH HASIL PENGUKURAN PANJANG MENGGUNAKAN JANGKA SORONG BERDASARKAN GAMBAR BERIKUT !

3 4

0 5 10

0 1

0 5 10

1 2

0 5 10

6

7

0

10

5

2 3

0 5 10

1 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.

2 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.

3 Hasil pembacaan panjang benda yang diukur adalah…….. … cm.

(12)

4. Laporan Hasil Akhir Pembelajaran

Dengan menggunakan format penilaian diatas maka diperoleh hasil penilaian sebagaimana data berikut :

Tabel Hasil Penilaian Siswa Kelas VII A

NO NAMA NILAI SISWA

SEBELUM SESUDAH

1 ALVIN WAHYU ANGGRIANTO 80 80

2 ANGGUN ALIFIA UMMA 20 100

3 ARI SUBAKTI 80 80

4 BAYU ANDIKA CAHYO 20 80

5 CANDRA BINTARA YUDI 80 80

6 DESI RATNA LISTYA 10 66

7 DIMAS ADRI WICAKSONO 80 72

8 DIMAS ANGGA AFRIANTO 80 80

9 DWI CAHYO NUGROHO 20 96

10 DWI MEGA APRILIA 20 68

11 DWI YULIAN 0 78

12 EGA SUKMA PRATAMA 10 76

13 ERIKA YULIANTI 80 68

14 HENDRIATI PERTIWI 80 66

15 INDRA YULIANTOKO PUTRA 80 80

16 INTAN 80 60

17 IQBAL RAMADHAN 80 76

18 JEFRY ASISTIA 80 72

19 KURNIA ANGGI PRADANAN P 20 80

(13)

20 LAKSAMANA CAESAR P 20 80

21 LINA PURNAMA SARI 20 86

22 LUKMAN RASIDI 10 80

23 MAHAPUTRI ADE PRADANI N 10 80

24 MAYTRIKE RISKY WIDYA A 20 92

25 MEGA FAJARWATI 20 84

26 MUHAMMAD JAELANI 80 80

27 NINE DESSY HOSPITA WATIE 20 76

28 NUGROHO TRI MULYONO 80 80

29 NURAINI HUSNIYAH 20 80

30 NURLAILA 10 96

31 NURUL HUDA 20 96

32 REZITA EFRILLA DEBBI S 10 80

33 RISQI ARIF HADI PUTRA 0 96

34 ROFITA AYU NINGRUM 10 100

35 ROY SETYO NUGROHO 20 96

36 SISKA WULANDARI 80 42

37 SITI FATIMAH 20 80

38 SITI IRA AGUSTININGSIH 10 96

39 TITIS HARUMMANING ATI 0 76

40 YUDHI TRI LAKSONO 20 72

(14)

C. PENUTUP

Kesimpulan

Berdarkan Uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :

1) Nilai Ujian/test siswa khususnya pada pembacaan alat ukur jangka sorong dapat meningkat.

2) Siswa dapat atau terampil menggunakan dan membaca hasil pengukuran jangka sorong untuk kegiatan pengamatan atau percobaan dengan baik. 3) Jumlah alat ukur yang dimiliki laboratorium sekolah terutama jangka

sorong harus ditambah, agar pembelajaran siswa lebih lancer dan mencapai hasil yang lebih maksimal.

4) Waktu yang diperlukan untuk membahas materi Pengukuran dalam

Silabus dan RPP ditambah, agar penguasaan siswa terhadap

masing-masing alat ukur dapat menjadi lebih baik.

5) Keterbatasan alat yang dimiliki sekolah seharusnya tidak menghalangi

siswa dalam kegiatan belajar, tapi menuntut kreatifitas guru dalam

(15)

DAFTAR RUJUKAN

Mohammad Nur, Prof. Dr.,Guru yang Berhasil dan Model Pengajaran Langsung, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2005

Mohammad Nur, Prof. Dr.,Pembelajaran Kooperatif, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2005

Tri Waluyo, M.Pd. Drs.,Teori-Teori Belajar, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, 2006

Ali Saukah,M.A., Ph.D.,Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, IKIP Malang, 1993

Wartono,Materi Pelatihan Terintegrasi Mata Pelajaran Sains, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004

(16)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23, Standar Kompetensi Lulusan,

2006

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

Sekolah : SMP Negeri 10 Probolinggo Kelas / Semester : VII (tujuh) / Semester 1

Mata Pelajaran : IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

Standar Kompetensi : 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan.

Kompetensi Dasar : 1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator : 1. Mengukur besaran fisika secara baik dan benar dengan menggunakan alat ukur

2. Memperhatikan dan menerapkan keselamatan kerja dalam pengukuran.

Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat:

(17)

2. Mengetahui cara menentukan besaran massa suatu benda dengan menggunakan neraca Ohaus dan neraca elektronik.

3. Mengetahui cara menentukan besaran waktu dengan menggunakan stopwatch.

4. Mengetahui cara menentukan volume benda padat yang bentuknya teratur dan tidak teratur.

Materi Pembelajaran : Pengukuran

Metode Pembelajaran : Model:

- Direct Instruction (DI) - Cooperative Learning Metode:

- Diskusi kelompok - Eksperimen

Waktu : 4 X 40’

Langkah-langkah Kegiatan

PERTEMUAN PERTAMA

a. Kegiatan Pendahuluan

Motivasi dan apersepsi

- Bagaimana cara mengukur volume sebuah batu atau benda yang bentuknya tak beraturan?

- Bagaimana mendapatkan hasil pengukuran yang tepat? Prasyarat pengetahuan

- Apakah Satuan Internasional (SI) dari besaran panjang, massa dan waktu? - Bagaimana mengkonversi satuan dari hasil pengukuran ke dalam Satuan

Internasional (SI) ? Pra eksperimen

(18)

b. Kegiatan Inti

. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.

. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk mengambil mistar, jangka sorong dan mikro-meter sekrup.

. Guru mempresentasikan bagian-bagian mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup dan menunjukkannya kepada peserta didik.

. Guru meminta salah satu peserta didik untuk melakukan hal yang sama seperti yang ditunjukkan oleh guru, jika ada kesalahan langsung diberi umpan balik.

. Guru mendemonstrasikan langkah-langkah penggunaan alat ukur, pengukuran suatu objek, cara membaca skala, menentukan nilai dan membandingkan tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup.

. Guru juga melakukan hal yang sama terhadap alat ukur neraca Ohaus, neraca elektronik dan stopwatch.

. Peserta didik mengerjakan lembar kerja yang sudah disiapkan oleh guru.

. Guru memeriksa kegiatan pengukuran yang dilakukan peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

c. Kegiatan Penutup

. Guru memberikan penghargaan pada kelompok dengan kinerja baik.

. Peserta didik (dibimbing oleh guru) merangkum kegiatan yang telah dilaksanakan.

. Uji kompetensi lisan:

(19)

- Sebutkan tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup.

PERTEMUAN KEDUA

a. Kegiatan Pendahuluan . Motivasi dan apersepsi

- Bagaimana mengukur volume dari benda berbentuk teratur dan benda tidak teratur?

- Bagaimana cara menggunakan alat-alat di laboratorium dengan aman?

. Prasyarat pengetahuan

- Bagaimana rumus untuk menghitung volume bangun ruang?

- Bagaimana cara mengetahui volume benda yang berbentuk tidak teratur? - Alat-alat apa sajakah yang ada di laboratorium?

. Pra eksperimen

- Berhati-hatilah menggunakan peralatan yang di gunakan dalam pengukuran!

b. Kegiatan Inti

. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.

. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk mengambil jangka sorong, gelas ukur, tiga buah benda yang bentuknya tidak teratur dan beberapa balok yang terbuat dari kayu, aluminium dan besi.

. Peserta didik dalam setiap kelompok mengukur panjang (p), lebar (l) dan tinggi (t) dari bebe-rapa balok dengan menggunakan jangka sorong.

. Peserta didik dalam kelompok menghitung volume balok yang telah diukur

dengan menggunakan rumus V = p l t .

(20)

. Guru mendemonstrasikan langkah-langkah untuk menghitung volume balok secara langsung dan beberapa benda tidak teratur berdasarkan selisih volume cair pada gelas ukur.

. Guru meminta seorang peserta didik untuk melakukan hal yang sama seperti telah ditun-jukkan oleh guru; jika ada kesalahan langsung diberi umpan balik.

. Peserta didik mengerjakan lembar kerja yang sudah disiapkan oleh guru.

. Guru memeriksa kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

. Guru mempresentasikan alat-alat laboratorium yang lain beserta fungsinya dan menunjuk-kannya kepada peserta didik.

c. Kegiatan Penutup

. Guru memberi penghargaan pada kelompok dengan kinerja baik.

. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.

. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.

Sumber Belajar

a. Buku IPA Terpadu Jl.1A (Esis) halaman 43-66 b. Buku kerja

c. Alat-alat ukur

Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian: - Tes unjuk kerja - Tes tertulis b. Bentuk Instrumen:

- Uji petik kerja produk - Uraian

(21)

- Instrumen eksperimen

Menentukan volume benda padat yang bentuknya tidak teratur dengan menggunakan gelas ukur.

Benda Volume air Volume benda + air

1. Panjang sebuah benda diukur dengan menggunakan jangka sorong seperti pada gambar di bawah ini.

2. Perhatikan gambar berikut ini!

Massa gelas ukur kosong (gb. 1) adalah 40 gram, massa zat cair dan gelas ukur (gb. 2) adalah 176 gram. Berdasarkan data pada gambar di atas hitunglah : (tulis lengkap dengan caranya)

(22)

Gambar

Tabel Hasil Penilaian Siswa Kelas VII A
gambar di atas hitunglah : (tulis

Referensi

Dokumen terkait

semua berita mengenai Telkom, liputan kegiatan, kebijakan-kebijakan baru yang dibuat oleh perusahaan, atau sekedar untuk melakukan komunikasi dengan sesama

Maka dari itu tam-tam ini dapat digunakan sebagai media alat bantu dalam kegiatan pembelajaran penjas pada siswa SD, dengan mengkombinasikan ketukan alat musik tam-tam

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Oleh Karena itu perlu diadakanya pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada guru-guru dan karyawana yang ada di sekolah dasar negeri 23 palembang dengan tujuan memberi wawasan bagi