• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lets Run The Numbers Menguji Klaim Antar (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Lets Run The Numbers Menguji Klaim Antar (1)"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

Menguji klaim antara energi nuklir dan

“energi terbarukan”

Let’s Run the Numbers

(2)
(3)

LET’S RUN THE NUMBERS

Menguji klaim antara energi nuklir dan “energi terbarukan”

(4)

Daftar Isi

Pendahuluan – 1

Apakah “Energi Terbarukan” Lebih Ekonomis Dibandingkan Energi Nuklir? – 5

Berapa Biaya Investasi Energi Nuklir dan “Energi Terbarukan”? – 29 Bagaimana Cara Elektrifikasi Paling Feasible? – 54

Energiewende, Realistis Atau Khayalan Belaka? – 69 Referensi – 88

(5)

Pendahuluan

Saya tidak tahu sejak kapan konflik antara energi nuklir dan “energi terbarukan” muncul. Saya pun awalnya tidak punya masalah dengan “energi terbarukan”. Energi panas bumi, hidro, bayu, surya, saya anggap semua itu oke-oke saja dan layak dikembangkan untuk mendukung pemanfaatan energi bersih.

Sampai kemudian saya menyadari penentangan keras orang-orang pro-“energi terbarukan” terhadap energi nuklir.

Pertama-tama yang saya lihat adalah dari Greenpeace. Ya, saya sejak lama memang tidak senang dengan organisasi pseudosains ini. Tapi saat saya menyadari (yang cenderung telat) sikap mereka yang senang sekali membenturkan energi nuklir dan “energi terbarukan”, saya mulai menyadari ada yang tidak beres.

(6)

menyerukan “energi terbarukan” sembari secara konsisten melakukan demonisasi terhadap energi nuklir.

Saya menggunakan tanda petik pada “energi terbarukan” karena saya menganggap istilah ini tidak ada maknanya. Tidak ada hal yang benar-benar terbarukan, semua ada limitasi. Secara fisika, limitasi itu diungkapkan dalam istilah entropi. Sementara, secara teknis, instalasi “energi terbarukan” tidak tumbuh di pepohonan. Instalasi itu dibuat dari material yang terbatas, bisa habis, utamanya logam tanah jarang. Satu-satunya alasan kenapa saya masih pakai terminologi ini (walau diperi tanda petik) adalah untuk mempermudah penyampaian.

Nah, propaganda-propaganda negatif yang mereka lontarkan terhadap energi nuklir sedikit banyak membentuk persepsi buruk tentang nuklir di tengah masyarakat. Mulai dari isu bahaya sampai ekstra mahal. Ini diperparah dengan sebagian kalangan nuklir yang justru bersikap defensif-apologetik. Jadilah propagandis menyesatkan ini merasa di atas angin.

(7)

pengusaha energi fosil, tapi secara esensial memang seharusnya kita mengubah haluan, sebelum bumi makin terpolusi dan perubahan iklim membawa masalah besar pada planet ini.

Sayangnya, propaganda menyesatkan para pemuja “energi terbarukan” justru membuat usaha mengubah haluan ini (sangat) terancam gagal. Mengingat, energi nuklir adalah satu dari sekian bentuk energi bersih. Lebih dari itu, energi nuklir adalah bentuk energi paling bisa diandalkan, bahkan dibanding energi fosil sekalipun!

Nahas, energi nuklir malah terus menerus disudutkan dan “energi terbarukan” senantiasa didewakan. Seolah-olah “energi terbarukan” adalah panasea. Obat segala penyakit sebagaimana yang sering digembar-gemborkan tukang jualan herbal. Lebih buruk lagi, terminologi “energi terbarukan” dibatasi hanya pada panel surya dan turbin angin saja. Energi hidro dan panas bumi jarang sekali dibahas. Yang lucu, beberapa organisasi “hijau” ‘mengutuk’ energi hidro hampir sama kerasnya dengan mereka ‘melaknat’ energi nuklir.

(8)

sering menunjukkan angka-angka tertentu tapi tidak pernah diungkapkan maknanya apa.

Saya tidak mau melakukan cara kotor. Saya menguji sesuai dengan data apa adanya yang tersedia di lapangan. Dengan begini, saya ingin menunjukkan realitas dari aspek ekonomi energi nuklir dan “energi terbarukan”. Analisis ini pernah saya tulis di blog, tapi ternyata ada beberapa data dan asumsi yang kurang akurat. Perbaikannya saya tulis di sini. Saya tidak menjamin akurasi perhitungan hingga 100%. Tapi memang bukan itu yang saya ingin tunjukkan, melainkan gambaran besar yang tidak terlalu sulit dipahami kalangan non-profesional.

Tidak, saya tidak anti “energi terbarukan”. Saya menulis ini cuma untuk menunjukkan pada pemuja “energi terbarukan”, apakah klaim yang sering mereka kemukakan benar adanya atau cuma pepesan kosong. Walau sebenarnya saya ragu apa yang saya sampaikan ini bisa mengubah pemikiran mereka, setidaknya orang-orang lain yang membaca bisa mempertimbangkan dengan lebih baik dan rasional.

Semua kalkulasi yang saya lakukan bisa diulang. Prinsipnya pun tidak terlalu susah. Tapi memang butuh pendetailan lumayan. Prinsip-prinsipnya saya berikan di Lampiran.

(9)

Bagian 1

Apakah “Energi Terbarukan” Lebih Ekonomis Dari

Nuklir?

Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan dari Tim Kajian Nuklir PPI Se-Dunia mengirimkan kliping koran di grup WhatsApp. Isinya berita seminar dari salah satu kampus di Jakarta yang cenderung tendensius dan menyerang teknologi nuklir fisi, walau judulnya dibalut dengan “dukungan” terhadap reaktor fusi. Mengingat salah satu pembicaranya dari Dewan Energi Nasional, yang terkenal sebagai salah satu pihak yang paling getol menggembosi teknologi energi nuklir di negeri ini, sebenarnya itu tidak terlalu mengherankan.

Walau begitu, tetap saja ada klaim yang membuat saya tergelitik. Mereka mengklaim, pada tahun 2030, “energi terbarukan” sudah lebih murah daripada energi nuklir dan fosil. Selain itu, pernyataan soal “ketergantungan” teknologi impor, impor bahan bakar dan limbah radioaktif dipenuhi cacat logika dan tidak berdasarkan data.

Di bagian ini, saya mau menguji klaim soal “energi terbarukan” bisa lebih murah dari energi nuklir.

(10)

Argumen pembicara yang mengklaim bahwa pada tahun 2030 “energi terbarukan” bisa lebih murah dari energi nuklir, dalam hemat saya, dibangun atas setidaknya tiga kesalahan logika. Pertama, mereka kemungkinan besar menyamakan harga energi nuklir antara di Eropa

dan Amerika Utara dengan di Asia, khususnya Indonesia. Kalau di dua tempat pertama, nuklir memang relatif mahal karena berbagai faktor, diantaranya politik anti-sains yang lebih meng-anak emas-kan “energi terbarukan” dan, mengutip istilah Prof. Bernard Cohen, “regulatory ratcheting”. Regulasi yang makin ketat dan ketat tapi tidak pernah melonggar, walau tidak ada bukti pengetatan regulasi itu membantu apa-apa dalam meningkatkan level keselamatan reaktor. Di grup LinkedIn, saya sering mengamati diskusi dari orang-orang yang sudah puluhan tahun terlibat di industri nuklir, dan mereka rerata sepakat bahwa regulasi dan beban sistem keselamatan di dunia Barat terlalu ketat tapi tidak memberi efek apa-apa. Lagi-lagi, regulatory ratcheting

ini diakibatkan oleh politik anti-sains.

World Nuclear Association mengumpulkan data rentang overnight cost

(11)

Gambar 1. Rentang overnight cost PLTN di berbagai area di dunia, dalam satuan USD/kW

Tampak jelas bahwa Amerika Utara dan Eropa memang memiliki rentang biaya yang tinggi. Adapun Asia, nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun PLTN justru paling rendah. Jika Amerika Utara dan Eropa bisa mencapai USD 4000-5000/kW, maka di Asia hanya USD 2200-2800/kW. Bahkan tren menunjukkan angka lebih rendah lagi, dimana pembangunan PLTN di Korea Selatan dan Cina angkanya tidak sampai USD 2000/kW!

(12)

pembicara itu. Realitanya, Badan Tenaga Nuklir Nasional memperkirakan biaya pembangunan PLTN di Indonesia setara dengan di Korea Selatan.

Yang kedua, mereka kemungkinan besar mengasumsikan bahwa teknologi energi nuklir itu stagnan. Kalau benar begitu, ini kesalahan fatal. Tidak ada teknologi yang stagnan. Teknologi energi nuklir saat ini sedang bergerak menuju Generasi IV, atau reaktor maju. Dibandingkan PLTN konvensional, reaktor maju memiliki keunggulan intrinsik lebih baik, yang mengakibatkan reaktor maju lebih murah, selamat dan reliabel. Aspek murah didukung dengan fakta bahwa reaktor maju memiliki desain lebih simpel dan memiliki fitur keselamatan melekat lebih baik, sehingga mengurangi komponen keselamatan super mahal yang dibutuhkan pada PLTN konvensional, yang sebenarnya juga tidak mahal-mahal amat.

Bukan cuma “energi terbarukan” saja yang teknologinya berkembang. Nuklir berkembang dengan kecepatan lebih tinggi lagi. “Energi terbarukan” hanya sedikit diuntungkan dengan kebijakan politik anti-sains yang lebih cenderung pada turbin angin dan panel surya saja.

(13)

yang dianggap feasible untuk teknologi Liquid Fluoride Thorium Reactor

(LFTR) adalah USD 2000/kW dengan harga listrik USD 3 sen/kWh. Mungkin bisa lebih rendah lagi, tapi angka ini yang bisa dibilang realistis.

Panel surya dan turbin angin harganya memang terus jatuh, tapi seberapa besar akan terus turun? Saya akan terkesan kalau tahun 2030 harganya bisa turun sampai setengah dari harga sekarang. Saat ini, panel surya memiliki biaya berkisar USD 1000-2000/kW, sementara turbin angin antara USD 2000-4000/kW. Bisa turun sampai setengahnya itu luar biasa.

2. Menguji Klaim

Okelah, anggap harga panel surya dan turbin angin bisa turun sampai setengahnya. Sekarang, coba kita mainkan angka-angkanya. Kita uji kebenaran klaim tersebut, dengan mengomparasinya dengan energi nuklir. Untuk pemodelan, saya komparasi PLTS, PLTB, PLTN konvensional dan PLTN maju. Masing-masing pemodelan saya pakai proyeksi saat ini dan perkiraan proyeksi di masa depan. Dalam pemodelan ini, biaya penuh diperhitungkan. Tidak boleh yang sudah disubsidi dan segala insentif lainnya. Tujuannya, supaya memberi angka yang benar-benar adil dan terbuka bagi masyarakat yang ingin tahu.

(14)

bisa lebih murah daripada energi fosil, jadi saya pakai yang di sana. PLTS yang diambil sebagai model adalah PLTS Cadiz, memiliki daya terpasang 132,5 MWe dan menelan biaya USD 200 juta. Dimodelkan kondisi saat ini dan kondisi setengah harga.

Gambar 2. PLTS Cadiz, Filipina

Untuk PLTB, kebetulan di Indonesia sudah ada proyeknya, yaitu PLTB Jeneponto di Sulawesi Selatan. PLTB ini dicanangkan memiliki daya 62,5 MWe dan menelan biaya USD 135 juta. Sama seperti PLTS, saya modelkan kondisi saat ini dan setengah harga.

(15)

ini masuk kategori Timur Tengah, tapi tidak apa-apa. Toh masih di benua Asia juga), memakan biaya USD 20,4 milyar untuk daya 5600 MWe. Beda biayanya dua kali lipat, jadi saya kira sudah mewakili.

Gambar 3. PLTN Barakah, Uni Emirat Arab (dalam pembangunan)

(16)

Untuk PLTN maju, saya ambil model ThorCon dan LFTR. ThorCon diambil karena mereka berencana membangun reaktor maju mereka di Indonesia pada awal dekade 2020-an, dan teknologinya dianggap paling matang untuk konsep reaktor maju yang ada. Proyeksi batas atas dan bawah ThorCon adalah USD 1200/kW dan USD 800/kW, walau dalam executive summary-nya direncanakan yang lebih ambisius, yakni USD 600/kW. Saya agak toleran dengan tidak mengambil rencana paling ambisius ini. Untuk LFTR, sengaja diambil sebagai proyeksi ideal reaktor maju, dengan biaya USD 2000/kW. Pemodelan masa depannya diasumsikan konservatif, yaitu USD 1500/kW.

Pada dasarnya, saya anti ekonomi ribawi dan menolak keras segala sesuatu yang berbau bunga dan riba. Walau begitu, nyatanya model ekonomi inilah yang digunakan dalam industri saat ini, termasuk teknologi energi. Untuk sebatas pemodelan riil dengan kondisi yang ada saat ini, tidak apalah memperhitungkan laju bunga. Dalam perhitungan ini digunakan laju bunga/interest rate 10% per tahun. Dibuat juga pemodelan tanpa bunga.

(17)

pembangkit daya. Biaya dihitung dalam satuan USD, karena data lebih banyak tersedia dalam kurs ini.

Untuk menghitung biaya pembangkitan listrik, utamanya ada tiga faktor, yaitu capital cost recovery (CCR), biaya operasional dan perawatan (O&M) serta biaya bahan bakar. CCR dihitung dengan menggunakan fitur PMT pada Microsoft Excel. Untuk biaya O&M, diasumsikan sama pada USD 1 sen/kWh, walau realitanya beda-beda. Sementara, bahan bakar hanya berlaku untuk PLTN. Proyeksi untuk PLTN konvensional berdasarkan harga uranium jangka panjang dan pengayaan saat ini adalah USD 0,4614 sen/kWh, sementara untuk ThorCon adalah USD 0,4237 sen/kWh. Harga uranium relatif stabil, sementara biaya pengayaan makin lama makin turun dengan ditutupnya fasilitas pengayaan difusi gas pada tahun 2013 lalu. Agak sulit memperkirakan biaya uranium pada tahun 2030, jadi saya menyamakannya dengan harga saat ini. Adapun LFTR, biaya bahan bakarnya nyaris tidak signifikan, yakni diasumsikan pada USD 0,00051 sen/kWh. Sebabnya, LFTR diproyeksikan hanya menggunakan thorium dengan jumlah sangat sedikit.

(18)

Tabel 1. Komponen pembiayaan dasar (model pembiayaan saat ini) Biaya investasi untuk PLTN ThorCon paling rendah untuk mendapatkan daya terpasang setara. PLTS Jeneponto sendiri ternyata termahal kedua, walau bedanya dengan PLTN Barakah jomplang sekali. PLTS Cadiz jadi termurah kedua.

Berikutnya, untuk pemodelan dasar “masa depan”, hasilnya jadi seperti ini.

(19)

Lantas, bagaimana dengan biaya dasar pembangkitan listriknya?

(20)
(21)
(22)

Apa yang bisa disimpulkan dari tabel di atas?

Ternyata overnight cost mahal tidak lantas berarti harga listriknya juga mahal. Sebab, ada faktor lain dalam perhitungan biaya pembangkitan listrik, yakni faktor kapasitas dan usia pakai. Kalau diperhatikan pada tabel, faktor kapasitas PLTN mencapai 90%, sementara PLTB hanya 30% dan PLTS 20%. Artinya, PLTN bisa beroperasi hingga 90% dari waktu dalam setahun, sementara PLTB dan PLTS hanya 30% dan 20% waktu setahun. Dikonversi ke jam, PLTN mampu beroperasi hingga 7884 jam setahun, sementara PLTB 2628 jam dan PLTS 1752 jam.

Kenapa bisa begitu? Ini kelemahan “energi terbarukan” yang hampir tidak pernah diungkap oleh para penggiatnya. Angin tidak berembus tiap saat dan matahari tidak selalu bersinar. Angin hanya berembus pada sekitar 30% waktu, sementara sinar matahari yang bisa diandalkan hanya sekitar 20% waktu. Ini angka optimis, walau nyatanya faktor kapasitasnya bisa lebih rendah lagi. Apalagi, mengutip pernyataan Ricky Elson (ya, Ricky Elson yang itu), angin di Indonesia itu

nanggung. Kencang sekali tidak, lambat juga tidak. Faktor kapasitas sebenarnya bisa lebih rendah lagi.

(23)

Belum lagi kalau misalnya mendung atau hujan, praktis tidak ada produksi listrik sama sekali. Saat malam hari, mau menghasilkan listrik dari mana?

Semakin rendah faktor kapasitas, semakin mahal harga listriknya. Biaya dasar “energi terbarukan” di tabel yang saya tampilkan cenderung optimis.

Sementara, PLTN tidak memiliki kendala seperti itu. PLTN bisa beroperasi terus menerus tanpa gangguan cuaca. Itulah keunggulan pembangkit listrik base load, operasinya tidak tergantung kondisi alam. Angka patokan untuk faktor kapasitas PLTN saat ini mencapai 90%. Nyatanya, ThorCon dan LFTR bisa meraih angka lebih tinggi lagi, mengingat sifatnya yang tidak perlu mematikan reaktor untuk mengganti bahan bakar. Di sini, saya sebatas mengambil angka konservatif.

Selain itu, waktu operasi PLTN lebih lama, bisa mencapai 40 bahkan 60 tahun. PLTB dan PLTS sulit mencapai angka 25 tahun, apalagi lebih. Bahkan bisa saja kurang dari 20 tahun. Di executive summary-nya, ThorCon diproyeksikan beroperasi selama 32 tahun, tapi di website-nya diungkapkan bisa beroperasi hingga 80 tahun. Saya mengambil angka konservatif saja.

(24)

PLTB Jeneponto mencapai USD 10,5 sen/kWh dan PLTS Cadiz justru paling mahal, USD 10,964 sen/kWh! Sementara, ThorCon menjadi kampiun, dengan USD 2,95 sen/kWh.

CCR merupakan aspek sensitif terhadap interest rate. Jadi, ketika investasi menggunakan uang yang sama sekali bebas bunga, hasilnya jadi bergeser. LFTR menjadi kampiun dengan USD 1,423 sen/kWh, menggeser ThorCon yang biayanya USD 1,677 sen/kWh.

Bagaimana dengan “energi terbarukan”? Tetap saja paling mahal. PLTB Jeneponto jadi USD 5,11 sen/kWh dan PLTS Cadiz jadi USD 5,308 sen/kWh! Dibandingkan PLTN Barakah saja, yang biaya dasarnya USD 2,223 sen/kWh, “energi terbarukan” tetap lebih mahal.

Jadi, apakah “energi terbarukan” lebih ekonomis dibandingkan nuklir? Tidak.

Tapi itu, kan, pemodelan sekarang! Bagaimana dengan pemodelan masa depan? Harga panel surya dan turbin angin bisa turun sampai setengahnya!

(25)
(26)
(27)

Apa yang bisa disimpulkan dari kedua tabel di atas?

Pada interest rate 10%, “energi terbarukan” ternyata hanya bisa lebih murah daripada PLTN Barakah! Sementara, melawan PLTN Shin Kori, LFTR dan ThorCon, keduanya kalah telak, dengan ThorCon lagi-lagi menjadi paling digdaya. Padahal, kalau mengacu pada Tabel 2,

overnight cost dari “energi terbarukan” hanya USD 755-1080/kW.

Sementara, dengan interest rate 0%, “energi terbarukan” makin nelangsa. Masih kalah murah dengan PLTN Barakah sekalipun! Di sini, kembali LFTR mengambil alih mahkota dengan menjadi yang paling murah, sekitar sepertiga dari biaya dasar “energi terbarukan”.

Bagaimana dengan skenario mustahil?

Ada, ketika harga panel surya dan turbin angin jatuh sampai seperempat harga sekarang. Pada kondisi itu, dengan interest rate

(28)

Perhitungan di atas belum mempertimbangkan backup atau penyimpanan daya berupa baterai untuk “energi terbarukan”. Kalau dimasukkan dalam perhitungan, biaya dasar bisa melonjak berkali lipat dari angka yang saya masukkan di tabel.

Untuk gambaran penyimpanan daya, saya pakai contoh paling ambisius, yakni “Taman Baterai” Schwerin di Jerman. Info ini saya dapat dari salah satu laman facebook terkait nuklir. Saya coba cari data dari sumber primernya, tapi ternyata lamannya sudah dihapus. Untungnya, laman Clean Technica (salah satu laman propagandis “energi terbarukan”) mengungkapkan biaya dan kapasitasnya.

Gambar 5. Taman Baterai Schwerin

(29)

atau USD 280. Ini relatif murah, karena biasanya baterai memiliki biaya ~ USD 500/kWh. Baterai seperti ini hanya bagus untuk 1000 siklus isi ulang. Round-trip efficiency (RTE) diasumsikan 90%.

Untuk komparasi lain, coba kita lihat Tesla Power Pack, yang diklaim menjadi breakthrough dari teknologi penyimpanan daya. Baterai ini menggunakan lithium-ion alih-alih asam timbal seperti yang umumnya digunakan. Tesla mengklaim baterai ini bisa tahan selama 5000 siklus. Saya tidak tahu ini realistis atau tidak, jadi anggap saja seperti itu. Daya yang bisa disimpan sebesar 210 kWh dengan biaya USD 145 ribu. Tesla Powerwall sendiri didesain tahan lama, yang artinya mengorbankan efisiensi. Angka 92% yang diklaim pabrikan cenderung meragukan, Catalytic Engineering menganggap angka RTE yang lebih reasonable itu 87%. Tidak apa-apa, anggap saja sama-sama 90%.

(30)

Dari sana, kita hitung biaya penyimpanan ini.

Tabel 7. Perhitungan biaya penyimpanan, model konvensional. Moda penyimpanan Schwerin Battery Park Tesla Power Pack

Biaya (USD) 1,4 juta 145 ribu Kapasitas penyimpanan (kWh) 5000 210

Siklus 1000 5000 tahu juga seberapa realistis target itu, tapi anggap saja klaim itu benar. Asumsikan harga baterai bisa turun hingga dalam rentang tersebut. Pemodelan Schwerin saya turunkan hingga setengahnya, jadi memiliki biaya USD 140/kWh. Sementara, harga Tesla Power Pack diturunkan hingga seperempatnya, menjadi USD 173/kWh.

Hasilnya di tabel berikut.

Tabel 8. Perhitungan biaya penyimpanan daya, model “masa depan” Moda penyimpanan Schwerin Battery Park Tesla Power Pack

Biaya (USD) 645 ribu 32,5 ribu Kapasitas penyimpanan (kWh) 5000 210

Siklus 1000 5000

Efisiensi 90% 90%

(31)

Jadi, untuk menyimpan daya saja, biayanya setara bahkan lebih mahal daripada biaya pembangkitan listrik dari PLTN! Sama-sama menggunakan skenario “masa depan”, Tesla Power Pack mungkin lebih rendah daripada PLTN Barakah dan Shin Kori dengan interest rate 10%, tapi lebih mahal ketimbang LFTR dan ThorCon. Bahkan dibanding pemodelan LFTR dan ThorCon konvensional sekalipun, Power Pack masih lebih mahal. Pada interest rate 0%, Tesla Power Pack kalah mutlak dibanding semua model PLTN, baik dalam model konvensional maupun “masa depan”.

Ditambah dengan biaya pembangkitan listriknya, biaya pembangkitan lisrik dalam skenario paling mustahil dan interest rate 10% adalah USD 7,331 sen/kWh untuk PLTS Cadiz dan USD 7,216 sen/kWh untuk PLTB Jeneponto. Masih lebih mahal ketimbang PLTN Barakah. Sementara, skenario mustahil dan interest rate 0%, biaya listrik PLTS Cadiz menjadi 5,917 sen/kWh dan PLTB Jeneponto 5,867 sen/kWh. Hampir dua kali lipat PLTN Barakah dengan interest rate 0% dan hanya sedikit lebih murah dengan interest rate 10%.

Bagaimana dengan Schwerin? Tidak usah dipikirkan. Mahalnya tidak ketulungan.

3. Kesimpulan

(32)

“Energi terbarukan” memiliki keterbatasan alamiah yang

menghalanginya menjadi pilihan energi yang murah.

Ketergantungannya pada kondisi alam membuat “energi terbarukan” menjadi moda energi paling tidak reliabel dan paling mahal yang pernah ada. Secanggih apapun teknologinya, ada batasan saintifik dan

engineering yang tidak bisa ditabrak. Semurah apapun panel surya dan turbin angin, tidak ada yang bisa memprediksi fluktuasi angin maupun mengubah kondisi siang dan malam. Semurah apapun baterai, ketahanan kimiawinya tidak bisa diperpanjang tanpa batas. It’s simply impossible.

Ini pil pahit yang mau tidak mau harus ditelan para pemuja “energi terbarukan”. Performa energi nuklir masih jauh melampaui apa yang bisa dilakukan “energi terbarukan”. Bahkan, dalam beberapa skenario, teknologi nuklir “stagnan” masih lebih unggul daripada “energi terbarukan” yang dianggap berkembang dan maju.

(33)

Bagian 2

Berapa Biaya Investasi Energi Nuklir dan “Energi

Terbarukan”?

Di bagian sebelumnya, saya membahas soal biaya produksi listrik dari energi nuklir dan “energi terbarukan”. Di sana, saya mementahkan habis-habisan anggapan bahwa “energi terbarukan” bisa lebih murah dari energi nuklir. Tidak, energi nuklir akan tetap menjadi opsi energi bersih termurah. Kalkulasi objektif manapun bisa menemukan fakta itu dengan mudah.

Tapi bagaimana dengan biaya investasinya? Bukankah biaya investasi nuklir mahal?

(34)

Tapi benarkah overnight cost tinggi ini membuat biaya investasi total untuk energi nuklir jadi kelewat tinggi juga?

Kalau mengamati biaya produksinya yang realitanya lebih rendah, sih, seharusnya bisa dipahami bahwa sebenarnya biaya investasinya juga lebih rendah dari “energi terbarukan”. Tapi untuk lebih meyakinkan, seperti soal biaya pembangkitan listrik sebelumnya, saya buat juga kalkulasinya.

1. Pemodelan

Untuk simulasi, diambil proyeksi energi Indonesia. Tahun 2050, diproyeksikan konsumsi listrik per kapita mencapai 7000 kWh. Ini setara dengan konsumsi listrik rerata di Eropa, walau lebih rendah dari Amerika Serikat dan Skandinavia. Tidak masalah, toh konsumsi terlalu tinggi juga buat apa? Lalu, diproyeksikan bahwa penduduk Indonesia pada tahun 2050 bertambah hingga mencapai 300 juta orang.

(35)

sampah ke sungai sementara kita relatif lebih sedikit, bukan berarti kita boleh terus membuang sampah ke sungai. Logika seperti itu bodoh sekali.

Di artikel lain, saya buat proyeksi bahwa energi bersih itu baurannya

harusnya mencapai 90% energi nasional. Tapi untuk argumen di sini, saya proyeksikan saja energi bersih itu memenuhi setengah dari konsumsi listrik per kapita, yakni 3500 kWh. Angka ini harus dipenuhi menggunakan tiga opsi: energi nuklir, energi bayu, atau energi surya.

Kenapa saya tidak membuat kombinasi dari ketiganya? Pertama, untuk simplisitas perhitungan. Terlalu banyak kombinasi cuma bikin pusing dan bisa jadi poin pentingnya malah tidak dapat. Kedua, untuk menunjukkan argumen pada para pemuja “energi terbarukan”, yang biasanya menganggap “energi terbarukan” saja sudah cukup, tidak perlu nuklir.

(36)

Oke, kembali ke topik. Jadi, energi nuklir, energi bayu dan energi surya. Mana yang paling murah dari ketiganya?

Untuk pemodelan nuklir, saya mengambil batas atas, median dan bawah. Batas atas saya ambil dari PLTN Barakah, Uni Emirat Arab. Proyek ini memakan biaya USD 20,4 milyar untuk daya 5600 MWe. Pemodelan median, saya ambil PLTN Shin Kori unit 3 dan 4, Korea Selatan. Proyek ini memakan USD 5 milyar untuk daya 2700 MWe. Pemodelan bawah, ThorCon dijadikan contoh. Proyeksi dari Martingale Inc., ThorCon berdaya 1000 MWe butuh biaya USD 1,2 milyar.

Untuk pemodelan energi bayu, diambil PLTB Jeneponto, Indonesia. Turbin angin berdaya 62,5 MWe dibangun dengan biaya USD 135 juta. Ini pemodelan standar. Untuk pemodelan rendah, dianggap biaya pembangunannya setengah dari biaya model standar. Sementara untuk pemodelan energi surya, diambil PLTS Cadiz, Filipina. Biaya yang ditelan mencapai USD 200 juta, untuk daya 135 MWe.

Jadi, pada dasarnya pemodelan di sini mirip dengan bagian sebelumnya.

2. Tunggu Dulu!

(37)

Lho, kok? Kenapa?

Sifat dari “energi terbarukan” itu tidak reliabel (jujur saja, tidak usah bermanis mulut). Keluaran dayanya tidak stabil, fluktuatif, tergantung ada-tidaknya angin atau sinar matahari. Kalau listrik tidak stabil ini yang dialirkan, bisa rusak jaringan listrik dan perangkat elektronik lainnya.

Bayangkan sungai yang alirannya deras dan turbulen. Kadang tenang, kadang deras sekali. Perahu yang melaju di sungai itu akan gampang sekali terbalik bahkan hancur (kecuali untuk arung jeram, tapi itu cerita lain). Nah, seperti itulah aliran listrik dari “energi terbarukan”.

Supaya aliran listriknya stabil, tidak merusak jaringan listrik, energi yang dihasilkan mesti disimpan dulu di moda penyimpanan. Nanti listriknya dialirkan dari sini ke jaringan listrik, sehingga alirannya jadi lebih halus dan stabil.

Persoalan lain, karena “energi terbarukan” tidak mungkin menghasilkan listrik tiap saat, dan seringkali produksi maksimalnya bukan ketika beban daya sedang tinggi-tingginya, listrik ini mesti disimpan di penyimpanan daya, untuk kemudian dialirkan ketika beban daya tinggi atau sedang tidak ada produksi listrik akibat ketiadaan angin atau sedang malam hari. Tidak ada yang mau, kan, malam hari tidak ada listrik karena tidak ada sinar matahari?

(38)

Ada beberapa jenis moda penyimpanan, diantaranya pump hydro dan baterai. Yang pertama butuh dua reservoir air dengan ketinggian berbeda. Mirip dengan PLTA. Persoalan utama dari pump hydro adalah tempatnya terbatas. Di Indonesia, ada satu proyek pump hydro di Cisokan, Jawa Barat. Pump hydro ini menelan biaya USD 800 juta, memiliki volume reservoiratas 14 juta m3 (10 juta m3 yang bisa dipakai)

dengan beda ketinggian antara dua reservoir 276 m. Kalau dihitung, volume ini dapat menampung daya hingga 7,5 GWh. Artinya, sejumlah 7,5 GWe bisa disimpan selama satu jam. Atau 1 GWe disimpan selama 7,5 jam. Sama saja.

Gambar 7. Skema pump hydro

(39)

sebelumnya, pump hydro Cisokan saja hanya bisa menampung daya selama 7,5 jam. Padahal itu sudah memakan lahan luas sekali, mencapai 1.400 hektar. Tidak feasible kalau harus sampai seminggu.

Alternatif lain pakai baterai. Ini dianggap menjadi breakthrough bagi penggembar “energi terbarukan”. Penggunaan “energi terbarukan” dan penyimpanan daya berupa baterai dianggap mampu untuk menggantikan sepenuhnya energi fosil dan nuklir, serta makin lama makin murah. Kita uji saja.

Ada beberapa jenis baterai, tapi yang umumnya dipakai adalah baterai asam timbal, karena paling murah. Walau begitu, baterai lithium-ion makin sering digunakan. Beberapa proyek penyimpanan daya besar menggunakan baterai lithium-ion.

Contoh paling ambisius di Eropa ada di “Taman Baterai” Schwerin, Jerman. Digunakan baterai yang mampu menampung 5 MWh dengan biaya USD 1,4 juta. Ada baterai lain yang lebih besar kapasitas penyimpanannya, tapi tidak ada data yang diberikan soal biaya dan sebagainya. Jadi saya pakai yang ini saja. Katanya, pada tahun 2030, biaya baterai ini akan turun sampai setengahnya. Oke, saya dengan polos dan tanpa dosa memotong biaya jadi setengahnya, USD 700 ribu.

(40)

Ada alternatif baterai lain? Ada.

Tarararam! Tesla Power Pack!

Well, Elon Musk tampaknya serius soal menggunakan baterai sebagai suplemen bagi “energi terbarukan”. Jadi perusahaannya, Tesla, membuat baterai untuk penyimpanan daya tinggi. Beda dengan baterai biasa, Tesla menggunakan lithium-ion. Diklaim bisa tahan sampai 5000 siklus. Katanya. Tapi anggap saja ini benar. Tesla Power Pack punya daya 210 kWh, dengan biaya sekitar USD 145 ribu. Untuk batas bawah, saya potong setengahnya juga. Kedua baterai ini bisa dimodelkan untuk bisa menjadi backup daya selama seminggu.

Yah, ini juga sama dengan bagian sebelumnya. Saya cuma mereplikasi biar perbandingannya pas.

3. Maaf, Tidak Ada Makan Siang Gratis. Salah Semesta.

Pump hydro dan baterai tidak bisa mengonversi seluruh potensi energi yang dimilikinya menjadi listrik. Kira-kira, hanya 70-90% energi disimpan yang bisa dikembalikan dalam bentuk listrik. Istilahnya adalah

round-trip-efficiency (RTE). Jadi, untuk menghasilkan daya sebagaimana dikeluarkan oleh penyimpanan daya, turbin angin dan panel surya mesti ditingkatkan jumlahnya.

(41)

Oke, berarti ada beberapa komponen yang kita nilai. PLTN model atas, median dan bawah. Lalu PLTS model median dan bawah, serta PLTB model median dan bawah. Keempat ini masing-masing dikombinasikan lagi dengan penyimpanan daya—baterai Schwerin model median dan bawah, baterai Powerpack model median dan bawah, serta pump hydro. Banyak juga, ya.

Hasilnya bagaimana?

Kita cek dulu overnight cost-nya. Pertama, untuk PLTN.

Tabel 1. Overnight cost PLTN

Pembangkit daya PLTN atas PLTN median PLTN bawah Biaya (USD) $ 20,4 milyar $ 5 milyar $ 1,2 milyar Daya (MW) 5600 2700 1000

Overnight cost

(USD/kW) 3643 1852 1200

Lalu untuk PLTB dan PLTS.

Tabel 2. Overnight cost PLTB dan PLTS

Pembangkit daya median PLTB bawah PLTB median PLTS bawah PLTS

Biaya (USD) $ 135 juta $ 67,5 juta $ 200 juta $ 100 juta Daya (MW) 62.5 62.5 132,5 132,5

Overnight cost

(USD/kW) 2160 1080 1509 755

(42)

Ups, tunggu dulu. Bagaimana dengan moda penyimpanannya?

Tabel 3. Biaya per kWh penyimpanan daya

Moda Schwerin median Schwerin bawah Power Pack median Power Pack bawah Pump hydro Mengingat semua baterai mesti impor, agak sulit membayangkan biayanya berbeda antara di dalam dan luar negeri.

Nah, bagaimana dengan biaya investasi dasarnya?

Untuk nuklir, biaya investasinya sebagai berikut.

Tabel 4. Biaya investasi PLTN

PLTN atas PLTN median PLTN bawah Overnight cost/kW $ 3.643 $ 1.851 $ 1.200 Daya dibutuhkan (GW) 133,1811263 133,1811263 133,1811263

Dibulatkan 133 133 133 Biaya investasi $ 484,5 milyar $ 246,2 milyar $ 159,6 milyar

(43)

Sementara, untuk “energi terbarukan”, berikut biaya investasinya.

Tabel 5. Biaya investasi dasar PLTB dan PLTS

PLTB median PLTB bawah PLTS median PLTS bawah Overnight cost/kW $ 2160 $ 1080 $ 1509 $ 741

Kebutuhan

(kWh/kapita) 3500 Penduduk (orang) 300 juta

Daya listrik

(kWh/tahun) 1,05 trilyun

Faktor kapasitas 30% 30% 20% 20% Daya dibutuhkan

(GW) 399,543 399,543 599,315 599,315 Dibulatkan 400 400 600 600 Biaya investasi $ 864 milyar $ 432 milyar $ 905,4 milyar $ 453 milyar

Usia pakai 20 20 20 20

Ups. Saya belum memperhitungkan RTE dari penyimpanan daya. Pump hydro cuma punya efisiensi ~80%, sementara baterai ~90%. Jadi, daya yang dibutuhkan mesti dibagi dengan RTE itu.

(44)

Tabel 6. Biaya investasi dasar PLTB dan PLTS, backup pump hydro

PLTB median PLTB bawah PLTS median PLTS bawah Overnight cost/kW $ 2160 $ 1080 $ 1509 $ 741

Tabel 7. Biaya investasi dasar PLTB dan PLTS, backup baterai

(45)

Oke, bedanya jomplang sekali bahkan sebelum memperhitungkan moda penyimpanan daya. Dan itu cuma buat 20 tahun! Untuk disetarakan dengan PLTN, ya harus dikali tiga. Hasilnya, untuk yang menggunakan penyimpanan daya pump hydro,

Tabel 8. Biaya investasi dasar PLTB dan PLTS, backup pump hydro, penyetaraan 60 tahun

PLTB median PLTB bawah PLTS median PLTS bawah Overnight cost/kW $ 2160 $ 1080 $ 1509 $ 755

Kebutuhan

(kWh/kapita) 3500 Penduduk (orang) 300 juta

Daya listrik

(kWh/tahun) 1,05 trilyun

Faktor kapasitas 30% 30% 20% 20% Daya dibutuhkan

(GW) 499,43 499,43 749,144 749,144 Dibulatkan 500 500 750 750 Biaya investasi $ 3,24 trilyun $ 1,62 trilyun $ 3,4 trilyun $ 1,7 trilyun

Usia pakai 60 60 60 60

(46)

Tabel 9. Biaya investasi dasar PLTB dan PLTS, backup baterai, penyetaraan 60 tahun PLTB median PLTB bawah PLTS median PLTS bawah

Overnight cost/kW $ 2160 $ 1080 $ 1509 $ 755

Mesti dicatat, ini mengasumsikan faktor kapasitas PLTB dan PLTS memang setinggi itu. Kalau ternyata faktor kapasitas lebih rendah, artinya butuh lebih banyak turbin angin dan panel surya, menambah bengkak pengeluaran dan bikin pemerintah makin stres.

Ini fakta yang mau tidak mau harus dihadapi propagandis “energi terbarukan”, bahwa reliabilitasnya rendah. Dari waktu yang tersedia selama setahun, hanya sedikit yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik.

(47)

daripada PLTN. Walau kapasitas daya terpasang sama-sama 1 GWe, produksi listrik yang dihasilkan sama sekali berbeda.

Nah, bagaimana dengan penyimpanan dayanya?

(48)
(49)

Sementara, kalau menggunakan pump hydro, ini hasilnya.

Tabel 11. Biaya investasi pump hydro

Jenis penyimpanan Pump hydro

Kapasitas penyimpanan (kWh) 7,5 juta

RTE 80%

Biaya $ 800 juta Biaya per GWh-hari $ 2,55 milyar Kebutuhan penyimpanan (GWh-hari) 2876,71

Kebutuhan unit 3,2 Biaya investasi $ 7,343 trilyun

Oh (lagi).

Baterai Schwerin model murah sekalipun butuh biaya investasi setara dengan biaya termahal dari pembangkitan energinya. Walau tidak secara otomatis membuat biaya per kWh jadi lebih murah daripada Powerpack, tapi ini lumayan bikin anggaran tekor. Sementara, untuk menyediakan pump hydro saja, sudah makan hampir 48 kali lipat APBN Indonesia tahun 2016!

(50)

Dari sini, coba kita deretkan berapa pembiayaan total dari masing-masing pembangkit listrik.

Tabel 12. Biaya investasi total PLTN

(51)
(52)
(53)

Dari sini, kita bisa lihat bahwa biaya investasi “energi terbarukan” yang paling murah, yaitu PLTB batas bawah dengan penyimpanan pump hydro itu 18,5 kali lebih mahal daripada biaya investasi nuklir yang paling mahal!

4. Itu Juga Kalau Sumber Dayanya Cukup

Inilah kenapa saya menganggap “energi terbarukan” tidak ada maknanya. Sumber daya untuk membangun instalasinya terbatas. Sorotan lebih khusus ada pada moda penyimpanannya, baik baterai maupun pump hydro.

Menilik cadangan terbukti timbal dan lithium di planet ini, saya tidak yakin bahwa semua itu cukup untuk membangun unit baterai yang dibutuhkan untuk keperluan Indonesia dalam pemodelan ini. Apalagi untuk keperluan belahan bumi lainnya.

Cadangan timbal yang ekonomis untuk diekstrak adalah 89 juta ton. Baterai asam timbal memiliki kapasitas energi spesifik antara 33-42 Wh/kg. Anggaplah baterai yang dimodelkan di sini punya energi spesifik paling tinggi. Komposisi timbal mencapai 60% dari berat baterai. Dari sini, ditemukan bahwa kita butuh 288,4 juta ton timbal. Sekitar 3,24 kali lebih banyak daripada cadangan timbal terbukti dunia.

(54)

Indonesia mencapai seperempat estimasi total. Sementara yang mau pakai baterai bukan cuma Indonesia saja. Belum lagi penggunaan di sektor non-pembangkitan listrik. Dan itu juga kalau memang

cadangannya terbukti segitu adanya.

Baterai lithium-ion sama saja. Cadangan lithium terbukti dunia mencapai 13 juta ton, dengan estimasi total 39 juta ton. Penggunaan lithium dalam tiap-tiap baterai berbeda, tergantung pabrikan. Namun, salah satu penelitian menunjukkan bahwa butuh 565 g lithium per kWh daya yang disimpan. Dimodelkan dengan kebutuhan penyimpanan daya seminggu, hasilnya butuh 11,408 juta ton lithium. Sekitar 87,76% dari cadangan terbukti lithium dunia dan 29,25% estimasi cadangan lithium total. Masa’ iya kita mau menggunakan lithium sebanyak ini cuma untuk baterai?

Lithium bisa diekstrak dari air laut, tapi prosesnya butuh energi sangat tinggi sehingga tidak ekonomis. Apalagi kalau menggunakan “energi terbarukan”.

Bagi saya, lithium lebih baik digunakan sebagai garam pelarut di LFTR daripada harus dihabiskan untuk baterai yang mahal dan tidak efisien. Penggunaan lithium di LFTR mampu membangkitkan energi jutaan kali lebih besar daripada yang bisa dibangkitkan dalam baterai.

(55)

setidaknya 9.179 pump hydro setara Cisokan. Artinya, untuk butuh luas area 12,85 juta hektar. Itu setara dengan luas Pulau Jawa! Bayangkan saja membangun dua reservoir air seluas Jawa, memangnya lahannya cukup?

Seluruh potensi energi hidro negeri ini sudah bisa dipastikan tidak cukup untuk menjadi backup “energi terbarukan”.

Bagaimana kalau tidak usah pakai backup saja? Ya silakan. Tapi risiko jaringan listrik jadi rusak, perangkat elektronik gampang jebol dan suplai listrik ala kadarnya dengan harga ekstra mahal ditanggung sendiri. Sebagai orang yang masih punya common sense, saya tidak mau yang seperti itu.

5. Kesimpulan

Untuk menentukan moda energi, selain dari biaya pembangkitan listrik, biaya investasi juga mesti diperhatikan. Economics wise, kalau ada moda energi yang bisa dipasang dengan biaya investasi lebih murah, kenapa harus memilih yang lebih mahal? Apalagi kalau lebih mahal sampai puluhan kali dengan level komplikasi jauh lebih tinggi.

(56)

“Energi terbarukan” memiliki densitas energi paling rendah yang pernah ada. Keterbatasan ini memang dari sananya, sudah hukum Fisika seperti itu. Akibatnya, untuk mengekstrak energinya, butuh lahan dan material luar biasa besar. Reliabilitasnya yang rendah (lagi-lagi sudah secara hukum Fisika begitu) meniscayakan “energi terbarukan” mesti dibantu dengan penyimpanan daya untuk bisa beroperasi secara semestinya. Nahas, moda penyimpanan daya ini tidak juga bisa cukup efektif maupun efisien untuk menunjang peradaban industri saat ini.

Kombinasi seperti ini berimbas pada biaya investasi yang ekstra tinggi. Bahkan sekalipun mimpi bahwa biaya “energi terbarukan” dan penyimpanan daya bisa terpangkas menjadi setengahnya bisa terwujud, tetap saja butuh biaya investasi lebih besar dari teknologi nuklir konvensional yang dianggap stagnan dan kelewat mahal.

Ironis bahwa energi nuklir yang sudah terbukti performa dan biayanya ditinggalkan, sementara “energi terbarukan” yang performanya tidak meyakinkan dan biayanya ekstra tinggi malah dikejar-kejar setengah mati. Saya tidak tahu common sense macam apa yang bisa membenarkan ini.

(57)
(58)

Bagian 3

Bagaimana Cara Elektrifikasi Paling Feasible?

Sejak dimulainya revolusi industri pada abad 18, bahan bakar fosil menjadi tulang punggung ekonomi dan industri dunia. Pada sektor transportasi, minyak bumi menjadi penyuplai utama bahan bakar kendaraan bermotor, baik dalam bentuk bensin (petrol/gasoline) maupun bahan bakar Diesel. Di tataran rumah tangga, penggunaan minyak tanah dan liquefied petroleum gas (LPG) menggantikan kayu bakar untuk keperluan masak memasak. Dari segi energi, bahan bakar minyak (BBM) relatif baik karena memiliki densitas energi cukup tinggi dan mudah untuk ditransportasikan.

Sementara dari segi iklim, penggunaan BBM secara masif mengundang bencana bagi iklim dunia. Emisi CO2 dan metana yang dilepaskan, baik

dalam proses pengolahan maupun pembakaran, memicu efek rumah kaca berlebih yang kemudian dapat berimbas pada pemanasan global dan perubahan iklim. Persoalan ini seharusnya membuat orang-orang berpikir, bagaimana kita memenuhi keperluan transportasi dan rumah tangga tanpa harus merusak iklim?

(59)

menghasilkan energi termal diganti dengan perangkat elektrik. Kendaraan bermotor, kompor, ketel dan lain sebagainya tidak lagi menggunakan sistem fuel combustion, tapi menggunakan listrik. Ketiadaan sistem fuel combustion meniscayakan tidak ada emisi yang terlepas secara langsung.

Persoalannya, elektrifikasi ini tidak cukup berguna juga kalau sumber listriknya berasal dari energi fosil. Tetap saja mengganggu iklim, mengingat lebih banyak batubara dan gas alam yang dibakar untuk menghasilkan listrik untuk substitusi BBM dan LPG. Karenanya, perlu infrastruktur energi bersih untuk memastikan proses elektrifikasi ini berjalan dengan semestinya, yaitu mengeliminasi polusi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Bicara soal energi bersih, berarti pilihannya hanya ada dua, energi nuklir atau “energi terbarukan”. Tidak ada opsi lain. Pertanyaannya, mana yang lebih feasible untuk elektrifikasi sektor tranportasi dan rumah tangga?

1. Perspektif

(60)

pada truk dan kapal ukuran besar, mengingat tidak praktis untuk membawa baterai berukuran jumbo di kompartemennya. Begitu juga untuk pesawat terbang. Substitusi nol karbon untuk yang tidak bisa di-elektrifikasi ini tentu saja ada, tapi tidak dibahas di sini. Topik di bagian ini dibatasi pada elektrifikasi untuk yang bisa di-elektrifikasi.

Kedua, perilaku konsumsi BBM di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya tata kota yang tidak efisien, penduduk yang terlalu padat, kurang memadainya fasilitas transportasi umum yang memancing orang-orang untuk lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, serta kultur masyarakat cenderung malas bergerak. Faktor-faktor ini khususnya banyak terjadi di Pulau Jawa yang padat penduduk.

Ketiga, distribusi BBM sendiri tidak benar-benar merata di seluruh daerah. Wilayah luar Jawa, khususnya, seringkali mengalami kelangkaan BBM. Salah satu masalahnya ada pada jalur distribusi yang sulit. Mungkin juga dikarenakan konsumsi BBM di Pulau Jawa yang terlampau tinggi, berimbas pada produksi kurang memadai untuk mencakup seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, ada kemungkinan soal penimbunan BBM yang menyebabkan kelangkaan.

(61)

konsumsi BBM di negeri ini tetap, tidak diturunkan apalagi dinaikkan. Alasannya, dianggap bahwa distribusi BBM merata bagi seluruh penduduk. Elektrifikasi membuat kendala pada distribusi BBM lenyap, digantikan oleh kendala transmisi listrik yang persoalannya lebih lokal kedaerahan, sehingga dianggap tidak sepelik level nasional.

Karena itu, kalkulasi ini kemungkinan besar tidak akurat untuk menggambarkan kebutuhan energi bersih untuk menggantikan BBM dan LPG. Akan tetapi, sekadar untuk membandingkan mana yang lebih

feasible antara energi nuklir dan “energi terbarukan” untuk elektrifikasi, tetap akurat.

2. Berapa Konsumsi BBM dan LPG Kita?

Informasi online mengenai data konsumsi BBM dan LPG tidak terlalu memadai. Laman Kementerian ESDM dan BPS sudah lama tidak diperbarui, terakhir data yang tersedia tahun 2014. Outlook BPPT juga tidak terlalu membantu, lagi-lagi datanya masih tahun 2014. Oleh sebab itu, data tahun 2014 menjadi rujukan.

(62)

Konsumsi LPG di tahun 2014, menurut BPPT, sebesar 6,09 juta ton. Minyak tanah sendiri masih digunakan, walau sudah sangat berkurang dibanding sebelum adanya peralihan ke LPG. Tahun 2014, konsumsi minyak tanah sebesar 971.434 kiloliter.

3. Berapa Besar Energi Listrik Yang Diperlukan?

Untuk tahu berapa banyak listrik yang diperlukan, pertama mesti diketahui dulu berapa kebutuhan bersih energi yang dibutuhkan. BBM dan kompor LPG tidak bekerja dengan efisiensi 100%, sehingga ada energi yang terbuang begitu saja. Baterai di mobil listrik sebenarnya juga tidak 100% efisien, tapi nilai efisiensinya lebih tinggi. Kompor listrik dan sejenisnya tidak mengalami masalah seperti itu.

Dalam perhitungan ini, diasumsikan bahwa mesin bensin memiliki efisiensi 30%, mesin Diesel 50%, kompor gas 53% dan kompor minyak 40%.

(63)

Dari sini, bisa ditemukan konsumsi energi yang dibutuhkan per tahun dari masing-masing bahan bakar. Untuk mempermudah, penggunaan energi dinyatakan dalam satuan terawatt-hour (TWh).

Tabel 1. Konsumsi energi BBM Jenis bahan

bakar (kiloliter) Volume Densitas energi (MJ/liter) Efisiensi energi (TWh) Konsumsi Bensin 30.924.810 34,2 30% 88,1 Solar (Diesel) 32.673.230 35,8 50% 162,5 Minyak tanah 971.434 37,4 40% 4

Tabel 2. Konsumsi energi LPG Jenis bahan

bakar Volume (ton) Densitas energi (MJ/kg) Efisiensi energi (TWh) Konsumsi LPG 6.090.000 46,4 53% 41,6

Dari dua tabel di atas, bisa kita temukan bahwa kebutuhan energi total sebesar 296,2 TWh, masing-masing 250,6 TWh untuk transportasi dan 45,6 TWh untuk kebutuhan rumah tangga.

Pertanyaan berikutnya, seberapa besar kebutuhan energi bersih untuk menutupi kebutuhan ini?

(64)

Berikutnya adalah kapasitas pembangkit daya yang diperlukan. Opsi yang dipilih adalah energi nuklir, energi bayu dan energi surya. Pasalnya, hanya ketiga moda ini saja yang bisa diekspansi tanpa terlalu tergantung tempat, seperti yang terjadi pada energi panas bumi dan energi hidro. Selain itu, energi bayu dan surya sendiri seringkali dianggap panasea oleh pendukung “energi terbarukan”. Faktor gayut waktu pada kedua moda “energi terbarukan” tidak diperhitungkan, jadi hanya mempertimbangkan total energi listrik yang dibangkitkan.

Dalam menghitung kapasitas terpasang, faktor yang mesti dipertimbangkan adalah faktor kapasitas. Di sini, digunakan asumsi faktor kapasitas nuklir sebesar 90%, bayu 30% dan surya 20%. Dua angka terakhir cenderung optimis, seringkali realisasinya tidak sebesar itu.

Berangkat dari asumsi ini, ditemukan kapasitas terpasang pembangkit listrik yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Kapasitas daya dibutuhkan untuk substitusi BBM

Pembangkit daya Faktor kapasitas RTE Kapasitas terpasang (GW) Nuklir 90% 90% 35,3

Bayu 30% 90% 105,9 Surya 20% 90% 158,8

(65)

Untuk menghitung biaya, diasumsikan bahwa PLTN memiliki overnight cost sebesar USD 2000/kW untuk wilayah Indonesia. Sementara, diasumsikan PLTB memiliki overnight cost serupa dan PLTS memiliki

overnight cost USD 1500/kW.

Dari sana, biaya investasi yang dibutuhkan untuk infrastruktur pengganti BBM adalah sebagai berikut.

Tabel 4. Biaya investasi substitusi BBM Pembangkit

daya Kapasitas (GW) Overnight cost(/kW) Biaya investasi Nuklir 35,3 USD 2000 USD 70,6 milyar

Bayu 105,9 USD 2000 USD 211,7 milyar Surya 158,8 USD 1500 USD 238,2 milyar

Memanfaatkan energi nuklir untuk menghasilkan listrik, biaya investasi untuk menyediakan suplai listrik yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibanding energi bayu dan surya. Lagi-lagi, ini seharusnya tidak menjadi pertanyaan, mengingat performa PLTN jauh lebih bisa diandalkan ketimbang “energi terbarukan”, yang meniscayakan lebih sedikitnya unit yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik untuk kendaraan bermotor.

(66)

fokus di sini dibatasi hanya pada substitusi LPG dan minyak tanah untuk keperluan dapur.

Asumsi yang digunakan sama, hanya mengabaikan RTE yang tidak diperlukan pada peralatan dapur yang menggunakan listrik. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Tabel 5. Kapasitas daya substitusi LPG dan minyak tanah

Pembangkit daya Faktor kapasitas RTE Kapasitas terpasang (GW) Nuklir 90% 90% 5,8

Bayu 30% 90% 17,4

Surya 20% 90% 26

Sementara, biaya investasi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

Tabel 6. Biaya investasi substitusi LPG dan minyak tanah Pembangkit

daya Kapasitas terpasang (GW) Overnight cost(/kW) Biaya investasi Nuklir 5,8 USD 2000 USD 11,6 milyar

Bayu 17,4 USD 2000 USD 34,7 milyar Surya 26 USD 1500 USD 39 milyar

Sehingga, kapasitas daya terpasang dan biaya investasi total yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

Tabel 7. Biaya investasi substitusi total

Pembangkit daya Kapasitas terpasang (GW) Biaya investasi Nuklir 41,1 USD 82,1 milyar

Bayu 123,2 USD 246,5 milyar Surya 184,8 USD 277,3 milyar

(67)

membuat kebijakan konversi kalau ternyata biayanya malah lebih mahal dari pakai BBM. Jadi, perlu dihitung biaya listrik yang dihasilkan oleh masing-masing pembangkit daya untuk kemudian dikomparasi dengan BBM fosil.

Tabel 8. Biaya dasar pembangkitan listrik

Pembangkit daya Nuklir Bayu Surya Laju bunga 10% 10% 10%

(68)

Bagaimana perbandingannya? Untuk komparasi, digunakan mobil elektrik model Chevrolet Spark EV (Electric Vehicle) keluaran tahun 2014, dengan daya mesin 132 horse-power (hp). Model ini dibandingkan dengan Honda Jazz keluaran tahun 2014 juga, dengan daya mesin 118 hp. Untuk komparasi, dibandingkan biaya yang dibutuhkan untuk mencapai jarak 100 km.

Gambar 8. Chevrolet Spark EV 2014

(69)

Untuk mencapai jarak 100 km, menurut data US EPA, Chevrolet Spark EV butuh listrik 18 kWh. Ini untuk kondisi jalan beragam. Karena menggunakan baterai, maka RTE mesti diperhitungkan, dalam perhitungan ini diasumsikan 90%. Sementara, berdasaran pengujian salah satu majalah otomotif lokal, Honda Jazz mampu mencapai jarak 16,8 km dengan 1 liter Pertamax. Artinya, perlu 5,95 liter Pertamax untuk mencapai jarak 100 km. Saat ini, harga Pertamax yaitu IDR 8050/liter.

Dari sini, kemudian dihitung biaya per 100 km untuk masing-masing tipe kendaraan. Berikut untuk mobil listrik.

Tabel 9. Biaya listrik per 100 km Sumber listrik Kebutuhan listrik per 100

km Biaya per kWh Biaya per 100 km Bahan bakar Kebutuhan BBM per 100

km Biaya per liter Biaya per 100 km Pertamax 5,95 IDR 8.050 IDR 47.916,67

(70)

Bagaimana dengan substitusi LPG?

Telah diketahui densitas energi LPG sebesar 46,4 MJ/kg. LPG 3 kg (subsidi) saat ini harganya sekitar IDR 19.000/tabung. Artinya, LPG ini menampung energi sebesar 38,7 kWh, dengan biaya per kWh sebesar IDR 491. Namun, kompor gas tidak 100% efisien. Efisiensi kompor gas hanya sekitar 53%. Artinya, energi final yang dimanfaatkan hanya 20,5 kWh, menghasilkan biaya per kWh sebesar IDR 927.

Sementara, harga listrik termurah dari energi nuklir adalah IDR 800/kWh. Kompor listrik bekerja dengan efisiensi jauh lebih tinggi, hingga 90%. Maka, biaya listrik finalnya adalah IDR 889/kWh. Dengan demikian, menggunakan listrik dari nuklir untuk urusan dapur, biayanya kompetitif bahkan lebih murah. Apalagi jika dibandingkan dengan LPG non subsidi, dengan harga IDR 129.000 per tabung (wilayah Jabodetabek), yang biaya per kWh-nya mencapai IDR 1574. Nuklir jelas jauh lebih murah.

(71)

Sementara, jika dibandingkan dari ketiga sumber listrik, tampaklah bahwa energi nuklir tetap menjadi opsi paling economics wise untuk mensubstitusi BBM dan LPG. Apalagi, kalkulasi ini belum memperhitungkan kebutuhan backup/penyimpanan daya untuk “energi terbarukan”, yang notabene sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan suplai listrik. Biayanya akan sangat melonjak. Untuk substitusi LPG pun jadi tidak lagi kompetitif.

Bukan berarti “energi terbarukan” tidak punya peran, tentu saja. Toh realitanya pasti akan dipakai-pakai juga. Walau begitu, kemungkinan besar “energi terbarukan” ini akan lebih difokuskan di daerah-daerah pelosok yang agak sulit tersambung dengan jaringan listrik.

Bagaimana teknis eksistensial pembangkit daya yang digunakan untuk mensubstitusi BBM dan LPG ini? Dengan asumsi jaringan listrik utama sudah berasal dari energi besih, ya tidak usah dibuat secara khusus, gabungkan saja dengan jaringan listrik yang sudah ada. Tinggal dialirkan listriknya ke stasiun-stasiun pengisian baterai. Sementara untuk substitusi LPG, jaringan listriknya terintegrasi dengan listrik perumahan.

4. Kesimpulan

(72)

di atas, jelas sekali bahwa energi nuklir merupakan opsi paling

economics wise untuk program elektrifikasi. Baik biaya investasi maupun biaya listrik, energi nuklir paling murah untuk memberdayai mobil listrik dan mensubstitusi LPG. Walau dalam asumsi ini biaya listriknya belum bisa kompetitif dengan LPG subsidi, tapi penyesuaian skema pembiayaan dan teknologi reaktor maju dapat membuat listrik nuklir kompetitif dengan LPG subsidi.

(73)

Bagian 4

Energiewende, Realistis atau Khayalan Belaka?

Urusan sains dan teknologi, Jerman itu rajanya. Baik dari ilmu fisika modern sampai teknologi kendaraan darat dan udara, negara ini secara konstan berada di tataran tertinggi dunia. Dari Mercedes-Benz sampai Siemens, tidak ada yang meragukan kecanggihan teknologi Jerman.

Tapi untuk urusan politik, tidak begitu ceritanya.

Pasca kecelakaan Fukushima tahun 2011 kemarin, Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengambil keputusan ekstrem dengan menyatakan akan menutup seluruh PLTN di negaranya pada tahun 2022. Pada tahun 2011 pula, delapan unit PLTN yang mulai beroperasi sebelum tahun 1980 di-shutdown. Jerman kehilangan 8,336 GWe energi bersihnya dalam sekejap. Bulan Juni 2015, PLTN Grafenrheinfeld ditutup, melenyapkan 1,275 GWe listrik bersih mereka. Lalu rencananya, pada akhir 2017, PLTN Gundremmingen Unit B juga akan ditutup. Sisanya akan ditutup pada tahun 2019, 2021 dan terakhir 2022.

(74)

“revolusi energi” dari energi fosil dan energi nuklir menuju “energi terbarukan”, yang berarti mengandalkan energi bayu, surya, biomassa dan hidro. Istilah resminya adalah Energiewende.

Bagi kalangan pemuja “energi terbarukan” dan anti-nuklir, proyek Energiewende menjadi angin segar untuk menunjukkan bahwa “energi terbarukan” bisa menggantikan peran energi fosil dan nuklir. Energiewende dijadikan contoh “kebijakan hijau” yang selayaknya ditiru. Beberapa kalangan bersikap lebih jauh lagi; terpukau dengan kehebatan teknologi Jerman sehingga merasa Jerman tidak mungkin salah dalam kebijakannya, sehingga balik menyerang orang-orang yang mengkritik Energiewende menggunakan logical fallacy ad hominem.

Saya termasuk yang mengkritik Energiewende dan meragukan kemungkinannya untuk berhasil. Tapi apa gunanya keraguan tanpa ditunjukkan dalam angka?

1. Apa Itu Energiewende?

(75)

2022. Uniknya, rencana untuk phase out PLTU batubara malah belum ada.

Implikasinya, Jerman merasa bisa menyuplai energi untuk lebih dari 80 juta warganya tanpa memerlukan energi fosil maupun nuklir. Cukup dengan panel surya, turbin angin dan biomassa1 saja. Selain itu,

konsumsi energi diturunkan dengan membuat penggunaan lebih efisien. Sebagian targetnya, pada tahun 2050, 80% listriknya berasal dari “energi terbarukan”, konsumsi listrik turun 25% dari level tahun 2008 dan reduksi gas rumah kaca hingga 90% dari level tahun 1990.

Pertanyaannya kemudian, apakah target seperti ini realistis atau cuma khayalan politikus Partai Kristen Demokrat dan Partai Liberal Demokrat Jerman saja?

2. Jerman Hari Ini

Pada tahun 2016, listrik yang dibangkitkan di Jerman sebesar 648 TWh, dengan permintaan sebesar 593 TWh dan 55,5 TWh diekspor. Dari total produksi ini, 150 TWh dihasilkan dari batubara tipe lignite2, 110 TWh

dari hard coal, 85 TWh dari nuklir, 79 TWh dari gas alam, 80 TWh dari energi bayu dan 111 TWh dari “energi terbarukan” lain (surya, hidro, biofuel, biomassa, sampah).

(76)

Beberapa PLTU batubara ditutup sejak tahun 2011, tapi 10,7 GWe PLTU baru mulai beroperasi pada rentang tahun 2011-2015. Di sisi lain, penutupan PLTU batubara terpaksa dikompensasi dengan lebih tingginya penggunaan gas alam. Konsumsi gas alam naik 16,5% dari tahun 2015, secara efektif menihilkan konsumsi batubara yang hanya turun 12,2%.

Estimasi penduduk Jerman sejumlah 82.175.700 jiwa. Artinya, konsumsi listrik per kapita Jerman sebesar 7216 kWh. Angka ini normal untuk wilayah Eropa Barat. Adanya program efisiensi energi meniscayakan konsumsi ini turun pada tahun 2050.

Tahun 2016, emisi CO2 Jerman mencapai 916 juta ton. Naik dari tahun

2009 yang sebesar 906 juta ton. Agak ironis, menilik sudah begitu besarnya upaya untuk meningkatkan bauran “energi terbarukan” di jaringan energi nasionalnya. Di sisi lain, tarif listrik Jerman naik 47% dari tahun 2006, sekarang berkisar EUR 30 sen/kWh.

Dari sini, coba kita lihat apa yang harus dilakukan Jerman untuk meraih target Energiewende.

3. Analisis Kelayakan dan Ekonomis

(77)

segala macam kompensasi untuk operator PLTU, PLTG dan PLTN yang terganggu karena proses transisi ini.

Analisis feasibility dan penurunan emisi CO2 dibatasi pada sektor

kelistrikan. Basis tahun untuk penurunan kadar CO2 adalah tahun 1990.

Pada tahun itu, emisi sektor energi sebesar 466 juta ton CO2.

Rencana energi efisiensi meniscayakan konsumsi listrik pada saat ini (harus) turun. Basis yang digunakan adalah tahun 2008, di mana konsumsi listrik tahun itu 587 TWh. Diharapkan pada tahun 2050 ada penghematan hingga 25%. Artinya, konsumsi listrik turun menjadi 440 TWh, setara dengan konsumsi 5357 kWh/kapita. Saya tidak tahu apakah target efisiensi ini bisa diterealisasi, mengingat saya tidak mempelajari teknologi efisiensi energi. Tapi untuk kalkulasi, anggaplah itu bisa dilakukan.

Bauran “energi terbarukan” untuk sektor kelistrikan adalah 80%. Mengasumsikan efisiensi energi, maka total yang harus disediakan oleh “energi terbarukan” adalah 352,2 TWh. Emisi yang dihasilkan harus tinggal 10% dari level tahun 1990, yakni 46,6 juta ton CO2.

(78)

yang dianggap panasea oleh penggemar “energi terbarukan”. Ditambah dengan sejumlah kecil biomassa dan hidro.

Dari 352,2 TWh yang mesti disediakan, diasumsikan 32,2 TWh dari biomassa, yang dominannya diambil dari sampah, dan 20 TWh dari hidro. Sementara, 300 TWh sisanya mesti dipenuhi oleh energi bayu dan surya, di sini saya ambil proporsi energi bayu 240 TWh dan surya 60 TWh.

Mengingat ketergantungan sangat tinggi terhadap “energi terbarukan” yang bersifat intermittent, eksistensi penyimpanan energi menjadi kebutuhan mutlak untuk mampu menyediakan listrik secara kontinu. Tidak ada yang mau listrik mati ketika angin tidak berembus atau matahari terhalang awan, begitu juga tidak ada yang mau mendapat suplai listrik lebih besar dari yang dibutuhkan sehingga bikin perangkat elektronik jebol.

Satu-satunya opsi penyimpanan energi untuk Jerman adalah baterai.

Pump hydro tidak bisa digunakan, kecuali kalau mereka mengandalkan energi hidro yang ada di Swedia dan Norwegia. Itupun kemungkinan kapasitas yang bisa dipakai tidak terlalu besar. Teknologi penyimpanan daya lain pun sedang dipelajari, tapi tidak ada yang cukup besar untuk skala jaringan listrik.

(79)

Yang pertama, soal feasibility. Di sini akan dibahas juga soal aspek ekonomisnya. Di Jerman, rekam jejak performa energi bayu dan surya relatif buruk. Faktor kapasitas turbin angin hanya mampu mencapai 19%, sementara panel surya lebih buruk lagi, hanya 11%. Menilik kebutuhan di atas, maka bisa dikonversi kebutuhan kapasitas terpasang sebagai berikut.

Tabel 1. Kebutuhan daya terpasang pada tahun 2050

Moda energi Energi (TWh) Faktor kapasitas Kapasitas terpasang (GWe)

Bayu 220 19% 144,1

Surya 60 11% 62,22

(80)

Tabel 2. Kebutuhan penambahan kapasitas

Dibanding tahun 2015, kapasitas energi bayu dan surya meningkat masing-masing 5 dan 1 GWe. Kalau dilihat dari sini saja, kelihatannya tidak ada masalah dengan ekspansinya. Kalau bukan fakta bahwa Jerman mulai “mengerem” laju pertumbuhan “energi terbarukan” mereka. Persoalannya, anggaran pemerintah untuk subsidi sudah luar biasa tinggi dan memberatkan, tahun 2014 mencapai USD 16,8 milyar. Selain itu, masalah ada pada jaringan listrik yang belum benar-benar disesuaikan untuk mengakomodir listrik dari “energi terbarukan”. tahun 2015, operator jaringan listrik mesti membayar total EUR 1 milyar pada operator PLTB yang listriknya tidak digunakan. Pertumbuhannya diperlambat menjadi 3,7 GWe untuk energi bayu dan 0,6 GWe untuk energi surya pada tahun 2020.

(81)

energi surya, yang mana ada selisih negatif antara yang diperlukan dengan limitasi.

Nah, ini semua mengasumsikan bahwa kondisi cuaca benar-benar optimal. Ketika cuaca tidak optimal, berarti produksi lebih rendah dari seharusnya. Untuk negara empat musim seperti Jerman, yang seperti ini menjadi perhatian besar, khususnya di musim dingin. Ketika cuaca di suatu tahun tidak sebaik tahun sebelumnya, masalah akan muncul. Seperti yang terjadi di tahun 2016.

Environmental Progress melaporkan bahwa, pada tahun 2016, produksi listrik dari energi bayu hanya naik 0,6 TWh walau kapasitasnya naik 5 GWe. Energi surya lebih nelangsa, produksi listriknya turun 0,4 TWh walau memasang panel surya baru berdaya 1 GWe! Tidak peduli sebaik apapun penyimpanan daya, itu tidak bisa membuat cuaca lebih berangin atau awan lebih sedikit menutupi matahari.

Karena itu, kapasitas yang dipasang mesti lebih tinggi daripada proyeksi standar. Kemungkinan besar ini akan menambah komplikasi masalah dari segi supply and demand, tapi itu diabaikan dulu di sini. Kedua moda energi kapasitasnya dinaikkan 10% sehingga energi bayu menjadi 158,2 GWe dan energi surya menjadi 76,63 GWe.

(82)

Tabel 3. Kebutuhan penambahan kapasitas, over capacity

Dari sini, tampak adanya selisih antara limitasi dari pemerintah Jerman dan kebutuhan. Untuk energi bayu, karena limitasinya akan dinaikkan pada tahun 2021 dan 2026, hal ini mungkin tidak terlalu masalah lagi. Tinggal di energi surya yang kemungkinan besar akan tertinggal jika menggunakan kondisi limitasi seperti ini.

Walau begitu, secara umum, target seperti ini dapat dikejar, dengan catatan pemerintah Jerman masih mampu memancing investor untuk berinvestasi di “energi terbarukan” yang performanya tidak bisa diandalkan dan mahal.

Pertanyaan berikutnya, seberapa ekonomis opsi Energiewende?

(83)

Tabel 4. Biaya dibutuhkan, “energi terbarukan”

Ini belum termasuk untuk penyesuaian jaringan, kompensasi jaringan dan lain sebagainya.

Sekadar komparasi, kalau menggunakan nuklir, seberapa besar yang dibutuhkan?

Menggunakan asumsi yang mirip dengan yang tadi, energi bayu dan surya coba diganti dengan nuklir sepenuhnya. Asumsi yang diambil, PLTN memiliki faktor kapasitas 90%. Untuk mendapat 300 TWh, butuh

38,03 GWe secara keseluruhan. Kalau seluruh PLTN yang sudah

di-shutdown dinyalakan kembali (karena belum dekomisioning, ini sangat mungkin dilakukan), maka total ada 20,339 GWe kapasitas nuklir yang sudah beroperasi. Maka, Jerman hanya kurang 17,69 GWe saja.

Pembangunan PLTN lama, bisa 5-7 tahun. Diasumsikan Jerman mampu membangun PLTN dalam waktu lima tahun. Maka, tiap tahun diperlukan pembangunan PLTN baru berdaya 0,71 GWe. Atau sekitar

3,55 GWetiap periode pembangunan. Tidak terlalu banyak dan mudah dilakukan untuk level teknologi setara Jerman.

(84)

Patokan overnight cost PLTN untuk wilayah Eropa rerata USD 5000/kW. Patut dicatat juga bahwa teknologi reaktor maju yang mulai eksis dekade 2020-2030-an akan menghasilkan biaya kurang dari setengah biaya ini, tapi di perhitungan ini tidak dimasukkan.

Maka, biaya yang dibutuhkan untuk membangun PLTN dengan daya

Dibandingkan dengan “energi terbarukan”, biaya ini hanya sepertiganya saja!

Belum lagi kalau kita bicara soal penyimpanan daya. Untuk memperhalus alira listrik sekaligus sebagai cadangan, perlu baterai. Di sini, dimodelkan cadangan untuk seminggu. Yang menjadi contoh adalah Taman Baterai Schwerin, berbiaya USD 1,4 juta untuk penyimpanan 5 MWh.

(85)

memakan lithium sebesar 3,5 juta ton. Hampir setengah dari cadangan terbukti lithium dunia sebesar 8 juta ton.

Total, butuh USD 2,054 trilyun untuk menjalankan proyek Energiewende sesuai dengan harapan. Minus kompensasi, subsidi, penyesuaian jaringan listrik dsb. Pengeluaran EUR 27,5-42,5 milyar

mesti digunakan untuk penyesuaian jaringan listrik untuk menerima suplai listrik dari “energi terbarukan”. Juga tidak memperhitungkan bahwa secara praktis mustahil menghabiskan nyaris setengah lithium dunia cuma untuk keperluan satu negara. Pada tahun 2013, Peter Altmaiter, menteri lingkungan Jerman, menyatakan bahwa pada tahun 2030, Jerman bisa menghabiskan lebih dari EUR 1 trilyun untuk Energiewende, sebagian besar untuk subsidi, yang pada tahun 2020 akan mencapai EUR 680 trilyun. Total, bisa lebih dari USD 2,1 trilyun

yang mesti dikeluarkan untuk “menyukseskan” Energiewende. Kalau benar-benar sukses.

Sementara, jika seluruh “energi terbarukan” itu diganti saja dengan nuklir, biayanya hanya 4,33% dari biaya total Energiewende dan ekspansinya bisa lebih cepat!

Gambar

Gambar 1. Rentang overnight cost PLTN di berbagai area di dunia, dalam satuan
Gambar 2. PLTS Cadiz, Filipina
Gambar 4. PLTN Shin Kori, Korea Selatan
Tabel 2. Komponen pembiayaan dasar (model pembiayaan masa depan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian ini digunakan untuk melihat signifikan atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara smultan terhadap varabel terkat. Pengujan n dgunakan untuk membuktkan hpotess

• ALAT DAN BAHAN: SAMA DENGAN ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMASANG PEMBALUT PADA LUKA HANYA DITAMBAH GUNTING ANGKAT JAHITAN... PROSEDUR KERJA: •

Minyak esensial gaharu merupakan hasil olahan resin gaharu yang potensial digunakan dalam terapi pengobatan karena memiliki aktivitas antioksidan, antibakterial,

Data gambar lengan, kerah dan gambar depan kaos dapat diganti atau diperbarui oleh admin, dengan kata lain aplikasi terkoneksi dengan database sehingga admin

peranan penting dalam komunikasi kita. Makna bagi Blumer berdasarkan interaksionis simbolik bertumpu pada: 1) manusia bertindak terhadap sesuatu bagi mereka; 2) makna tersebut

 Tunggakan Pajak adalah jumlah pokok pajak yang belum dilunasi berdasarkan Surat Tagihan Pajak yang didalamnya terdapat pokok pajak yang terutang, Surat Ketetapan Pajak

Anda akan membayar jumlah ansuran yang lebih rendah kerana kami akan melanjutkan tempoh pinjaman anda sehingga 10 tahun.Contohnya, sekiranya anda memohon untuk program