• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAJU KERUSAKAN KARANG OLEH BINTANG LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAJU KERUSAKAN KARANG OLEH BINTANG LAUT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Laju Kerusakan Terumbu Karang Akibat Bintang Laut Berduri (Acanthaster planci) di Perairan Rendani Kabupaten Manokwari

Ridwan Sala, Tresia Tururaja, dan Welem Samberi

Jurusan Ilmu Kelautan, FPPK, Universitas Negeri Papua, Manokwari Jl. Gunung Salju Amban Manokwari 98314

Telp. 0986-211675, Hp 081344042688, 085244334180 email : [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Kepadatan Acanthaster planci di Perairan Rendani, Manokwari berkisar antara 0.01–0.04% individu/m² sedangkan di Pulau Lemon 0.01–0.02% individu/m². Kelimpahan individu A. planci pada kedua lokasi ini dapat membahayakan ekosistem terumbu karang meskipun masih tergolong rendah. Hal ini diduga karena kurangnya jenis-jenis karang yang disukai oleh A. planci di Rendani dan Pulau Lemon.

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Rendani Kelurahan Wosi Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat pada bulan September-November 2010. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui laju kerusakan terumbu karang akibat bintang laut berduri (A. planci) terhadap karang jenis Acropora sp., Montipora sp.,

dan Porites sp.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pengamatan langsung (observasi lapangan). Variabel-variabel pengamatan yang diamati adalah luas kerusakan karang Acropora sp., Montipora sp., dan Porites sp.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas kerusakan karang Acropora sp. lebih besar jika dibandingkan dengan Montipora sp. dan Porites sp. Namun luas kerusakan karang Acropora dan Montipora tidak berbeda jauh. Hal ini diduga A. planci yang lebih menyukai karang bercabang dari marga Acropora dari pada karang yang berbentuk bongkahan seperti dari marga Porites.

Kata kunci : Acanthaster planci, Perairan Rendani, laju pemangsaan karang, Manokwari

Pendahuluan

Bintang laut berduri Acanthaster planci merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pengelolaan terumbu karang. A. planci adalah pemangsa karang yang paling berbahaya ketika terjadi peledakan populasi sehingga hampir seluruh karang hidup dimangsa oleh organisme ini.

Acanthaster planci atau bintang laut berduri merupakan salah satu jenis bintang laut raksasa dengan jumlah duri yang banyak. Pada permukaan tubuh bagian bawah A. planci mempunyai sebuah mulut tengah yang besar dan

sederetan kaki pipa dengan penghisapnya tersusun sebagai alur pada masing-masing lengan. Terdapat juga papulae yaitu kantung-kantung kecil yang

This article should be cited as:

(2)

berbentuk seperti jari, terdapat dibagian permukaan tubuh dan berfungsi sebagai alat untuk bernapas dan sirkulasi air (Sukmara dan Rotinsulu, 2001).

Kecepatan tumbuh A. planci pada kondisi normal adalah 26 mm per bulan untuk individu yang memakan alga. Pertumbuhan individu muda yang memakan karang mempunyai pertumbuhan yaitu 16.7 mm per bulan. Diameter tubuh A. planci juga bertambah sesuai pertambahan umur (Moran, 1986).

Menurut Suharsono (1998) kepadatan normal A. planci artinya jumlah yang belum dianggap berbahaya untuk dapat merusak komunitas karang adalah berkisar antara 14–20 individu/km². Kepadatan A. planci di Rendani antara 0.01– 0.04 individu/m² sedangkan di Pulau Lemon antara 0.01–0.02 individu/m² (Tappi, 2008). Kelimpahan individu A. planci pada kedua lokasi ini tergolong membahayakan.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pemangsaan beberapa jenis karang Acropora sp., Montipora sp., dan Porietes sp. oleh bintang laut berduri A. planci.

Bahan dan Metode

Penelitian ini berlokasi di Rendani, Kelurahan Wosi Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari Propinsi Papua Barat pada bulan September-November 2010. Perairan Rendani merupakan daerah yang memiliki ekosistem perairan yang lengkap yaitu ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang.

Alat yang digunakan dalam penelitian yaitu masker dan snorkel, refraktometer, GPS, meteran, plastik transparan, kurungan, thermometer, dan perahu. Pengambilan data parameter fisik perairan seperti suhu, dan salinitas dilakukan bersamaan pada saat pengambilan sampel pada lokasi pengamatan.

Dalam penelitian ini objek yang diamati adalah luasan karang yang dimakan oleh A. planci. A. planci yang digunakan dalam pengamatan memiliki ukuran berat dan diameter tubuh yang tidak terlalu jauh berbeda. Ukuran

diameter tubuh A. planci berkhisar antara 90-115 mm dengan berat badan 475-510 g (Tabel 1).

(3)

Tabel 1. Berat badan dan diameter tubuh A. planci yang dijadikan sampel

No Spesies Berat badan A.planci (g) Diameter badan A planci (mm)

1 1 475 90

2 2 480 93

3 3 480 95

4 4 496 97

5 5 510 115

6 6 497 98

7 7 499 100

8 8 490 95

9 9 496 97

Karang yang digunakan sebagai obyek pengamatan terdiri dari 3 spesies yakni Acropora sp., Montipora sp. dan Porites sp.

Metode

Pengumpulan data karang dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pemilihan objek sampel karang yang diamati yaitu meliputi tiga jenis karang

dari marga Acropora sp, Montipora sp, Porietes sp. Pemilihan ketiga sampel yang diamati didasarkan karena ketiga jenis karang tersebut merupakan jenis karang yang disukai oleh A. planci sebagai makanannya (Tapii, 2008). 2. Meletakkan A. planci diatas permukaan karang yang diamati. A. planci yang

dipilih memiliki ukuran yang hampir seragam.

(4)

Gambar 1. Bentuk kurungan yang digunakan dalam pengamatan untuk mengurung A. planci

4. Waktu pengamatan yang dilakukan setiap 24 jam (1 hari sekali pengamatan) pada jam 08.00 wit.

5. Pengukuran untuk luasan karang yang dimakan dilakukan setiap hari selama 11 hari.

Teknik pengukuran kerusakan karang oleh A. planci

1. Pengukuran luas kerusakan permukaan karang oleh A. planci

(5)

2. Teknik Perhitungan Luas Kerusakan

Gambar 2. Contoh teknik pengukuran luas kerusakan

Perhitungan luas kerusakan dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut (Gambar 2) :

1. Daerah yang rusak yang tergambar di plastik transparan, dibagi atas beberapa bagian yang sama, (sumbu x).

2. Kemudian diukur panjang bagian yang kearah sumbu Y.

3. Data hasil pengukuran tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rumus luas kerusakan untuk mengetahui luas kerusakan. Rumus tersebut merupakan model integral, dimana semakin kecil nilai X maka hasil perhitungan akan semakin mendekati luasan yang sebenarnya. Dalam penelitian ini digunakan jarak X maksimum adalah 2 mm.

(6)

Metode analisa data

Data kerusakan karang oleh A. planci dianalisis menggunakan uji-t untuk melihat perbedaan laju kerusakan antara ketiga jenis karang yang diamati. Laju kerusakan karang oleh A. planci ditampilkan secara grafik untuk melihat pola kerusakan berdasarkan waktu, selain itu dilakukan uji statistik (uji-t).

Hasil Dan Pembahasan

Gambaran Keadaan Oseanografi Lokasi Penelitian

Kondisi oseanografi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan karang dan A. planci adalah salah satu organisme yang hidupnya sangat bergantung pada ekosistem terumbu karang. Hasil pengukuran kondisi oseanografi salinitas dan suhu di lokasi penelitian ditampilkan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Pengukuran Parameter Fisik dan Kimia Perairan Rendani STASIUN Posisi Suhu °C Salinitas % 1 00 50' 06.5" LS ; 134 03' 057" BT 32,0 36 2 00 ˚54’04,7” LS ; 134 03' 031" BT 32,0 36 3 00˚ 54’044” LS ; 134 03' 033" BT 31,6 36 4 00 ˚54’ 041” LS ; 134 03' 036" BT 31,0 35 5 00˚ 54’043” LS ; 134 03' 042" BT 31,0 35 6 00˚ 54’085” LS ; 134 03 126 " BT 31,4 35 7 00 ˚54’019” LS ; 134 03' 074 " BT 31,2 34 8 00˚ 53’451” LS ; 134 03' 074" BT 31,1 34 9 00 ˚53’514” LS ; 134 03' 126 " BT 31,2 34

(7)

Salinitas di perairan Rendani bervariasi antara 34-36‰. Salinitas terendah terdapat pada stasiun 7-9 (34‰), diduga akibat lokasinya dekat dengan telaga sehingga ada aliran air tawar yang masuk kedalam perairan. Salinitas tertinggi terdapat pada stasiun 1-3 (36‰). Salinitas di Perairan Rendani dan Pulau Lemon berkhisar 32-36‰ (Tapi, 2008). Dengan demikian dapat dikatakankan bahwa salinitas yang ada di Rendani termasuk dalam kategori baik untuk pertumbuhan karang.

Perkembangan luas kerusakan karang oleh A. Panci

Dampak peledakan populasi A. planci di ekosistem terumbu karang dapat parah dan tahan lama. Banyak faktor yang berdampak pada ukuran dan tingkat peledakan populasi A. planci. Penyebab pasti peledakan tersebut belum diketahui dengan pasti dan mungkin sebenarnya bervariasi, tergantung pada faktor-faktor tertentu. Saat ini ada dianggap penyebab terjadinya peledakan tersebut yaitu dengan adanya penghapusan predator. Menurut pandangan ini penurunan angka kematian melalui perburuan predator seperti ikan dan kerang (yaitu triton raksasa) memungkinkan A. planci dewasa dapat bertahan dan membangun dalam jumlah yang banyak diterumbu. Sebagai contoh beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perburuan predator merupakan faktor penentu penting bagi tingkat kelangsungan hidup A. planci dewasa (Keesing dan Halford, 1992).

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan di Perairan Rendani diketahui bahwa pada dasarnya A. planci tidak memangsa karang secara aktif setiap hari dan proses makannyapun tidak terus berada pada tempat awal dimana hewan tersebut mulai melakukan aktifitas makannya tetapi akan berpindah pada posisi tempat makan yang lainnya.

(8)

Luas kerusakan terumbu karang akibat pemangsaan A. planci terhadap jenis karang Montipora sp selama pengamatan, terjadi peningkatan luasan kerusakan jenis karang Montipora (Gambar 4). Pada pengamatan hari pertama kerusakan adalah 2633 mm² ± 91 mm² dan setelah sebelas hari kerusakan menjadi 10051 mm² ± 3000 mm².

Gambar 3. Perkembangan rata-rata dan standar deviasi oleh kerusakan karang Acropora sp. oleh A. planci selama sebelas hari pengamatan.

(9)

Luas kerusakan karang akibat A. planci terhadap karang jenis Porites sp selama pengamatan, terjadi peningkatan luasan kerusakan jenis karang Porites (Gambar 5). Pada pengamatan hari pertama kerusakan 934 m² ± 674 m² dan setelah sebelas hari kerusakan menjadi 4457 mm² ± 1063 mm².

Gambar 5. Perkembangan rata-rata dan standar deviasi kerusakan karang Porites sp oleh A. planci selama sebelas hari pengamatan.

Perilaku makan dari A. planci terhadap jenis karang yang diamati selama di lapangan diketahui perbedaan besar luasan kerusakan dari karang tersebut. Perbedaan luas kerusakan dari ketiga jenis karang yang diamati menunjukkan besar luasan yang berbeda. Perbedaan luasan makan pada karang tersebut di dasarkan pada kesukaan makan dari A. planci terhadap jenis karang yang dimakan.

Berdasarkan hasil pengamatan (Gambar 6), diketahui bahwa laju kerusakan karang yang disebabkan oleh A. planci terhadap tiga jenis karang yaitu Acropora sp, Montipora sp. dan Porites sp. tidak sama antara jenis karang satu dengan lainnya dimana laju kerusakan karang Acropora sp. lebih cepat dari Montipora sp. dan Porites sp. Namun laju kerusakan antara karang Acropora sp.

(10)

Gambar 6. Laju kerusakan karang Acropora sp. Montipora sp. Dan Porites sp oleh A. planci selama 11 hari pengamatan

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji-t terhadap luas rata-rata kerusakan akibat A. planci terhadap ketiga jenis karang Acropora sp. dan Montipora sp. selama sebelas hari pengamatan tidak berbeda nyata (p>0,05). Sedangkan perbandingan laju kerusakan akibat A. planci terhadap karang jenis Acropora sp dan Porites sp selama sebelas hari pengamatan berbeda nyata (p < 0,05). Hal yang sama, perbandingan rata-rata kerusakan akibat pemangsaan A. planci terhadap karang jenis Montipora sp. dan Porites sp. selama sebelas hari pengamatan berbeda berbeda nyata (p < 0,05).

Hasil penelitian tersebut diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya A planci lebih menyukai karang bercabang dari marga Acropora sp. dan Montipora

sp. untuk dimakan. Diduga karena pada saat A. planci memangsa polip karang, hewan ini menggunakan lengannya untuk berpegangan dan menempel kuat pada karang yang dimangsa sehingga A. planci menempel lebih kuat pada karang bercabang dari marga Acropora sp. dan Montipora sp. dari pada karang yang berbentuk bongkahan besar dari marga Porites..

(11)

menunjukkan kesukaan makan untuk karang tersebut. Secara keseluruhan, temuan ini relatif konsisten di semua terumbu yang disurvei, menunjukkan bahwa kesukaan makan pada A. planci sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepadatan bintang laut atau ukuran, waktu, atau kedalaman (De’ath dan Moran 1998 ) .

Kesukaan makan dari A. planci dikaji dalam serangkaian percobaan laboratorium berbasis makan dimana A. planci disediakan beberapa jenis karang yang berbeda. Urutan dimana karang yang dikonsumsi kemudian digunakan untuk memastikan kesukaan makan dari A. planci dari hasil percobaan ini menunjukkan bahwa jenis karang yang paling disukai adalah jenis karang dari marga Acropora sp, kemudian diikuti oleh Montipora undata, dan damicornis Pocillopora. A. planci juga mengkonsumsi Lobata goniopora, Fungites fungia,

Retiformes goniastrea, dan Kaktus pavona namun hanya setelah semua

Acropora dan Montipora (Family Acroporidae) sudah habis dimakan (Pratchett,

2005).

(12)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa umumnya A. planci di perairan Rendani lebih menyukai karang bercabang dari marga Acropora sp. dan Montipora sp. Rata-rata luas kerusakan karang bercabang dari marga Acropora sp. adalah 1049,5.±98,5 mm²/hari dan Montipora sp. adalah 955,7±342,7 mm²/hari lebih besar luas kerusakannya jika dibandingkan dengan karang yang berbentuk bongkahan dari marga Porites sp, 405,2 ± 96,6 mm²/hari.

DAFTAR PUSTAKA

Ayhuan, H.V & K. Yuanike. 2008. Kajian Kualitas Air pada Beberapa Estuari di Perairan Teluk Doreri Manokwari. Jurnal Perikanan dan Kelautan Manokwari 4(1):65-72.

De'ath, G. and P. J. Moran. 1998. Factors affecting the behaviour of crown-of-thorns starfish (Acanthaster planci L.) on the Great Barrier Reef: 2: Feeding preferences. J. Exp. Mar. Biol. Ecol 220:107–126

Keesing, J.K, and A.R. Halford. 1992. Field measurement of survival rates of juvenile planci: techniques and preliminary results. Mar Ecol Prog Ser 85: 107-114.

Moran, P.J. 1986. The Acanthaster Phenomenon Oceanorg. Mar. Bio. Ann Rev. 24:379 – 480.

Moran, 1990. Distribusi of Acanthaster planci Outbreks On The Greet Barrier Reef. Between 1966 and 1989. Coral Reef 9;97 – 103.

Pratchett, M. S. 2005. Dynamics of an outbreak population of Acanthaster planci at Lizard Island, northern Great Barrier Reef (1995–1999). Coral Reefs 24:453–462.

Suharsono, 1998. Kesadaran Masyarakat Tentang Terumbu Karang. Jakarta. Sukmara, A. A. J dan C. Rotinsulu, 2001. Panduan Pemantauan Terumbu

Karang Berbasis Masyarakat. Proyek Pesisir.

Talakua, S. 2009. Komunitas Makroalga dan Lamun di Pesisir Pantai Arowi Kabupaten Manokwari. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Manokwari. 5 (1 ) : 81-92.

Gambar

Tabel 1. Berat badan dan diameter tubuh A. planci yang dijadikan sampel
Gambar 1. Bentuk kurungan yang digunakan dalam pengamatan untuk mengurung A.  planci
Gambar 2. Contoh teknik pengukuran luas kerusakan
Tabel 2. Hasil Pengukuran Parameter Fisik dan Kimia Perairan Rendani
+4

Referensi

Dokumen terkait

Jenis karang batu yang ditemukan di pantai barat di dominasi oleh jenis acropora dan monticora3. Ilustrasi 4.1: Jenis Terumbu Karang: Acropora

Jurnlah jenis karang batu di lndonesia yang tercatat berjurnlah 362 jenis, yang didominasi oleh karang dari genus Acropora (62 jenis), Montipora (29 jenis) dan Porites ( I 4

Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Karang Acropora nobilis dan Montipora altasepta , Hasil Transplantasi di Pulau Karya, Kepulauan Seribu. Dibawah bimbingan Ario

- Kerusakan karang akibat penurunan jangkar kapal wisata yang sembarangan atau terijak-injak oleh wisatawan yang berkunjung kedaerah terumbu karang, termasuk kegiatan selam yang

Hubungan antara kegiatan manusia baik di darat maupun di pesisir dan laut selama ini sangat erat kaitannya dengan kerusakan ekosistem terumbu karang dan kerusakan terumbu

Pada wilayah timur laut terlihat paling berbeda dengan wilayah lain akibat persentase terumbu karang hidup sangat sedikit dan terumbu karang yang sudah mati sangat banyak..

Jenis terumbu karang pada musim Peralihan I di Perairan Menjangan Kecil yang terinfeksi penyakit yaitu Acropora, Porites, Montipora, dan Favites. Acropora dan Porites

Studi tentang penyebab kerusakan terumbu karang dan upaya penanggulangannya agar ekosistem laut tetap lestari di