PERAN MEDIA DALAM PROSES PEMBAGUNAN BANGSA DAN KARAKTER BANGSA
Dini Safitri
ABSTRACT
The subjects of this study is the role of media in the process of nation building and national character. The data obtained from focus group research and literature study. The results showed that the public realize that the media has a vital role in shaping the development of the nation and national character, because they expect the role of the media who represented the institution of the press should have the mission of enlightenment to the community through informative presentation that includes aspects of the community needs and contain the applicative value of education to support nation building and national character.
Key word: media, media effect, nation building, national character.
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan dianugerahi kekayaan maritim yang melimpah ruah. Bila Indonesia dikelola secara bijaksana, maka ia akan menjadi Gudang Pangan, Gudang Protein Dunia (dari laut), Pusat Pariwisata Dunia, Paru-paru Dunia, Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Kebumian dan Hayati, Kelautan dan Pusat Rekayasa Wilayah pesisir.
Kenyataan hari ini menunjukan kenyataan sebaliknya. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33 persen). (Newsletter BPS No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010).
Media yang hadir kini, justru dinilai tidak lagi sesuai dengan istilah jurnalisme yang mengilhami lahirnya beragam media di dunia khususnya Indonesia. Menurut Kovach dan Rosenstiel (2003:11), Jurnalisme hadir untuk membangun kewargaan (citizenship). Jurnalisme ada untuk memenuhi hak-hak warga negara. Jurnalisme ada untuk demokrasi. Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri.
Praktisi media yang juga Direktur Utama Trans TV, Ishadi SK, mengatakan bahwa isi berita di semua saluran televisi, radio, surat kabar, dan majalah adalah‘ bad news’. “Media cetak, radio dan televisi di isi dengan berita kecelakaan, perkelahian, bentrok fisik, demo dengan kekerasan, pemogokan, gempa, bencana alam, gagal panen, bunuh diri, perampokan,pembunuhan, keracunan, wabah flu burung dan lain sebagainya”
Padahal pengaruh negatif dari ‘bad news’ bisa menghancurkan bangsa dan karakter bangsa. Dalam ‘bad news’ yang dipermainkan adalah hasrat dan nafsu yang mengelora setelah khalayak mendapatkan informasi, sehingga menimbulkan ekses yang negatif. Penonjolan ‘bad news’, oleh media, menurut Ishadi terjadi karena informasi saat ini telah menjadi komoditas yang bisa diperjual belikan seperti komoditas yang lainnya, yang dipertegas dengan credojurnalis di seluruh dunia ‘bad news is good news’.
“ Dunia penyiaran adalah dunia bisnis yang mengandalkan tiga hal. Pertama adalah marketing rules the show. Kedua adalah mengandalkan rating dan audience sharedan ketiga adalah pendekatan kepuasan penonton”
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis melihat bahwa terjadi pertentangan antara idealisme dan bisnis dalam institusi pers baik itu media massa cetak maupun elektronik. Pertentangan tersebut mengakibatkan beberapa ekses negatif. Salah satunya adalah kecenderungan media untuk memborbadir masyarakat dengan ‘bad news’yang berselera instrisik rendah. Besar kemungkinan bila ekses negatif ini tidak segera di tanggulangi, maka akan terjadi proses penghancuran dalam pembangunan bangsa dan karakter bangsa, salah satunya adalah hilangnya ‘a sign of hope’ yang bisa didapat bila media lebih menonjolkan‘good news’.
TEORI
masyarakat tidak hanya lewat mesin cetak yang kemudian melahirkan istilah pers, namun berkembang menjadi media radio dan televisi. Perkembangan teknologi komunikasi menjadikan istilah komunikasi bermedia berkembang. Diantara perkembangan tersebut kemudian munculah istilah komunikasi massa.
Effendy (2000:1) mengungkap komunikasi massa adalah sebagai berikut:
“Komunikasi melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum. Massa adalah kumpulan orang yang sangat heterogen, yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda, dengan kebudayaan yang beragam, berasal dari beragam lapisan masyarakat, mempunyai pekerjaan berjenis-jenis dan berbagai kepentingan berbeda pula”
Secara singkat, Effendy (2000: 32) menjelaskan ciri-ciri Komunikasi Massa sebagai berikut:
a. Komunikasi massa berlangsung satu arah
b. Komunikator pada komunikasi massa melembaga c. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum d. Media massa menimbulkan keserempakan
e. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen
Berdasarkan ciri-ciri diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa komunikan dari komunikasi massa adalah masyarakat. Menurut Iver dan Page yang dimaksud dengan masyarakat adalah:
“Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan tingkah laku, serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial. Dan masyarakat selalu berubah” (Soekanto, 1990:26)
Menurut Soekanto (1990: 23) masyarakat terdiri atas unsur-unsur berikut: a. Manusia yang hidup bersama
b. Bercampur untuk waktu yang cukup lama
c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan
d. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama ini, kemudian menimbulkan kebudayaan.
McQuail (1994:53) menjelaskan bahwa ada hubungan antara komunikasi bermedia dengan masyarakat. Hubungan tersebut terletak dari peran media yang merepresentasikan keadaan masyarakat sesunguhnya. Secara lebih jelas, McQuail mengungkapkan bahwa ada tujuh peran media yang mengambarkan keadaan masyarakat, yaitu:
a. Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan dan memungkinkan kita untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak
b. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisahkan dan kurang jelas
c. Pembawa atau pengatur informasi atau pendapat
d. Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui berbagai macam umpan balik. Papan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukan arah, memberikan bimbingan atau instruksi e. Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi
perhatian khusus dan menyisakan aspek pengalaman lainnnya, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak
f. Cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyrakat itu sendiri, biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan atau distorsi karena ada penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat para anggota masyarakat atau seringkali pula segi yang ingin mereka hakimi atau cela
g. Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau penilain dari suatu kenyataan(escapism)
Berdasarkan peran media diatas, maka sudah selayaknya media berhati-hati dan bersikap bijak dalam membuat suatu berita. Sebuah berita yang disebarluaskan kepada khalayak seyogyanya haruslah diramu dengan matang, melalui tahapan dan kegiatan jurnalistik yang sesuai dengan etika profesi seorang jurnalis.
patokan unsur-unsur terhadap nilai berita yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Lalu yang kemudian menjadi masalah adalah kebutuhan masyarakat yang amat beragam. Oleh karena itu media yang ada juga beragam, sehingga media berperan aktif memberikan sajian yang disesuaikan dengan selera masyarakat.
Secara umum, media mempunyai empat fungsi utama. Effendy (2000:9) membagi fungsi pers menjadi empat bagian. Fungsi-fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Fungsi menyiarkan informasi. Menyiarkan informasi adalah fungsi yang pertama dan utama.
2. Fungsi mendidik. Sebagai sarana pendidikan massa (mass education), media memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan sehingga khalayak bertambah pengetahuannya.
3. Fungsi menghibur. Hal-hal yang bersifat hiburan sering dimuat untuk mengimbangi berita-berita (hard news) yang berbobot.
4. Fungsi mempengaruhi. Fungsi ini menyebabkan media memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Pers nasional mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan lembaga ekonomi. Sayangnya dewasa ini fungsi lembaga ekonomi lebih dominan sehingga media hanya menyuguhkan berita yang cenderung menuhankan rating dan share. Dan ironinya, berita yang mendapat rating dan share tinggi, dinilai banyak pengamat, terutama akademisi, merupakan berita yang memiliki nilai instrisik yang rendah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif (Creswell, 2002: 1) merupakan suatu proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik lengkap yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informasi secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar alamiah.
PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan hasil FGD dari enam orang informan mahasiwa jurnalistik fikom Unpad: GT, UC, PP, ND, DS, UL. Menurut UL, hubungan antara komunikasi massa dengan khalayak merupakan hubungan yang timbal balik, walaupun kadang-kadang seolah-olah hubungan tersebut hanya sepihak.
“Isi pesan media massa juga terkait dengan karakteristik media yang ternyata juga mempunyai khalayak atau massa yang karakteristiknya sama seperti isi media”. UL menambahkan, dia sempat membaca sebuah penelitian yang menemukan bahwa penduduk Indonesia menonton televisi 50 jam per minggu, anak-anak Indonesia menonton televisi selama 20 jam per minggu.
“ Jadi, ga salah kalau tayangan televisi sangat berpengaruh pada pemikiran dan mentalitas masyarakat Indonesia. Padahal tayangan televisi Indonesia saat ini bisa dibilang hampir 70 % hanya berupa drama, termasuk reality show, itu juga drama dan bukan tayangan yang mendidik”
Mengenai tayangan drama di televisi, UC juga punya pendapatnya sendiri,
“Yang ditampilkan televisi saat ini kebanyakan melulu pada tema kekerasan, kejahatan, mistik dan pelecehan (seksual maupun profesi). Jika tayangan televisi Indonesia terus minim kualitas pendidikan seperti saat ini, akal dan mental bangsa pun ikut minim. Oleh karena itu, media perlu pagar atau frame yang mengatur kebebasan media yang seringkali kebablasan”
Menurut GT, frame media yang kurang mendidik dikarenakan fungsi bisnis media saat ini mendapat porsi yang lebih besar daripada yang lain,
“media massa hidup dari iklan, baik itu sponsor produk atau kegiatan promosi lainnya, sehingga media selalu mencari isi yang menarik pengiklan”.
Sementara itu, PP mengomentari fungsi ekonomi media sebagai suatu usaha media massa yang telah menjadi kekuatan ekonomi tersendiri yang berpengaruh dan punya serangkaian usaha di berbagai bidang,
“Dengan menjamurnya perusahaan media yang memiliki beberapa usaha group media, maka peran media hari ini, mengalami pergeseran fungsi yang semuanya mengerucut kepada sebuah tujuan yaitu profit oriented. Media berorientasi profit. Sehingga terjadi proses eliminasi idealisme media massa”.
ND, mengomentari pergeseran fungsi informasi dan pendidikan media,
pendidikan yang dangkal dan tidak mendasar sehingga tujuan untuk mencerdaskan bangsa tidak tercapai”.
UC mengatakan bahwa slogan media, “Bad news is good news” merupakan masalah tersendiri yang harus dapat diatasi .
“ Siaran TV yang menampilkan keberingasan masyarakat, lewat tayangan kriminal, hanyalahthe screaming minority, sedangkan thesilent majority,masyarakat Indonesia yang baik, berbudi, ramah dan jujur itu banyak. Jadi “Bad news is good news” itu hanya realitas di tayangan kriminal. Sayangnya tayangan itu kini menjamur dan digemari”.
DS berharap bahwa suatu saat media akan menyebarluaskan paket-paket yang bersifat edukatif. Ada tiga usulan paket pengetahuan yang ia diproduksi media, “mmm, yang aku sempat terpikir, diantaranya paket mengenai karakter bangsa, seperti acara tayangan anak seribu pulau, yang dulu banget sempat ada di tv. Sayangnya sekarang jarang ya. Bahkan nyaris hilang. Kedua, tayangan mengenai keunikan Benua Maritim Indonesia (BMI), sebetulnya tayangan jenis ini sudah banyak yang produksi, namun belum seluruh saluran punya, hanya televisi tertentu yang memang punya paket acara seperti itu. Ketiga, tayangan yang penuh dengan semangat Nasionalisme Indonesia di abad ke-21. Ini yang kayaknya jarang banget, kalo saya liat-liat, baru tayangan seperti eagle award yang bikin, tapi itu kan buat lomba ya?”
Pendapat enam informan diatas, senada dengan Oetama. Menurut Oetama dalam sebuah makalah seminar mengenai peran media (2006), mengatakan bahwa subyektivitas yang merupakan jabaran dari visi, sikap dan media policy-kebijaksanaan atau “politik” media itu justru ikut memberikan peran penting.
“Misalnya mempengaruhi perumusan dan aktualisasi pilihan tema. Pilihan prioritas liputan serta proses dan cara meramu dan menyajikan liputan. Persoalan apa yang mendesak bagi bangsa kita; masuk ke dalam ke dalam frame serta policy media itu yaitu terlihat dari penjabaran dalam memilih liputan dan cara menyajikannya. Hadirnya pendidikan ditengah masyarakat seharusnya menjadi sentral agar bermuara pada kemajuan dan kesejahteraan warga dan bangsa selain pendidikan, kita juga perlu mereformasi ekonomi pasar menjadi pasar negara kesejahteraan serta memberi tempat, peran serta kepercayaan kepada para pelaku bisnis”.
Selain hal di atas, menurut Jakob untuk membangun karakter bangsa, ada sejumlah nilai yang harus dimiliki oleh seluruh warga masyarakat, tak terkecuali para praktisi media. Jakob menyebutkan setidaknya harus ada sebelas peran nilai, sikap dan budaya dalam kemajuan suatu bangsa, yaitu:
b. Menghargai waktu c. Disiplin
d. Pendidikan sentral e. Hemat
f. Seksama
g. Pandai mengelola uang
h. Bersih saling percaya (trust, social trust) i. Menghargai prestasi
j. Taat Hukum k. Kerja keras
Oetama juga mengaku sering mengugat diri bahwa mengapa terhadap banyak hal media cenderung bersikap kritis negatif, bukan kritis konstruktif. Hal ini juga di-amien-kan oleh Ishadi S.K yang berbicara dalam seminar yang sama (2006), menurutnya rasanya aneh kalau media tidak memberitakan hal yang kritis terhadap yang dilakukan pemerintah.
“ Kritik kerap kali personal, menuduh tanpa didukung oleh fakta dan bukti yang kuat atau menampilkan judul yang kerap kali diluar kerangka etika. Sudah tidak ada lagi pre assumption of innocent. Kalimat sinis dan tuduhan tajam sudah menjadi hal yang lumrah-biasa. Tajam dan inusiatif sudah menjadi kalimat yang halal bahkna kepada seorang kepala Negara sekalipun. Seperti “ Mega lebih Kejam dari Sumanto”.
Menurut Ishadi, walaupun kondisi media hari ini seperti yang ia ungkapkan di atas, namu nia tetap melihat ada peluang-peluang untuk membangun sebuah habitat baru kecil-kecilan untuk mendapat harapan baru sedikit-sedikit.
“Sudah waktunya kita memproklamirkan media lebih banyak menyiarkan berita baik -good news untuk menunjukan bahwa masih ada setitik harapan di tengah keterpurukan. Lebih selektif dalam mengutip pernyataan-pernyataan elit politik atau pihak-pihak yang selalu ingin mengembangkan dan menyampaikan pernyataan-pernyataan yang tidak berbobot dan sekadar mementingkan sekelompok kecil bahkan personal interestnya sendiri”.
karakter bangsa. Salah satunya adalah dengan menampilkan berita dengan Jurnalisme Presisi.
Menurut Meyer (1973:505-506) kegiatan jurnalistik seharusnya juga tidak menyampingkan penggunaan metode ilmu pengetahuan sosial, seperti prosedur pemilihan sampel dan penganalisaannya, sebagai alat untuk memvaliditaskan akumulasi fakta agar mendekati ketetapan dan keakuratan objektivitas pemberitaan. Menurut Meyer jurnalisme seperti ini dinamakan jurnalisme presisi. Jurnalisme seperti ini penting, karena merupakan sebuah ilmu sosial yang selalu dipenuhi oleh perubahan dan perkembangan.
Menurut Fedler (1978: 401-407) jurnalisme presisi merupakan kegiatan jurnalistik yang menekankan ketepatan memaknai informasi sebagai sebuah pola kerja pencarian data yang tertuju pada target membentuk ukuran ketetapan informasi empirik. Pola kegiatan jurnalisme yang memakai nilai kredibilitas akademis ketika hendak diinterpretasi wartawan dalam menilai sebuah peristiwa kemasyarakatan.
Jadi, jurnalisme presisi mengunakan rancangan penelitian sistematis dan terencana. Rancangan sistematikanya antara lain yaitu mengunakan metode penelitian seperti perumusan masalah, penetapan tujuan, identifikasi hipotesis, pengumpulan dan pengolahan serta penginterpretasian data; walau tidak sekonsisten riset kaum akademisi. Dengan menerapkan konsep yang seperti ini, kerja jurnalisme akan memakai patokan nilai prinsip keilmuan dan menghindar dari bias hasil kerja liputan yang terlalu tinggi, sehingga data dan fakta yang tersajikan merupakan hasil analisis dan intrepetasi dari sebuah wacana pesan jurnalistik.
Menurut Strentz (1993:151) dengan jurnalisme presisi, pelbagai dimensi peristiwa kemanusiaan menjadi terkalkulasi ke dalam hitungan kuantitatif sosial. Dramaturgi peristiwa berita kecelakaan dapat didekati melalui pendekatan matematik, yaitu menghitung angka kelalaian pengemudi kendaraan. Konsistensi pemakaian teknik riset ilmu sosial ini mengakibatkan sampaian pesan jurnalisme mengedepankan reabilitas dan validitas.
Pendefinisian isu menyangkut kegiatan penganalisisan aktualitas persoalan dalam agenda setting masyarakat. Hal ini berkaitan dengan tugas pers sebagai penyampai pemberitaan kejadian masyarakat yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, budaya lingkungan hidup, peristiwa internasional dan sebagainya.
Pencarian acuan literatur teori seperti mencari kerangka rujukan teori dan kepustakaan dilakukan dengan tujuan untuk menghitung kontuinitas, relevansi dan aktualitas. Pergerakan rancangan liputan yaitu berupa pencarian dan pengumpulan fakta primer dan sekunder. Fakta primer yaitu fakta yang dicari dan dibutuhkan serta berkaitan langsung dengan topik liputan. Fakta sekunder yaitu fakta pendukung seperti publikasi pers internasional, jurnal ilmiah, lembaga statistika, instansi pemerintah atau swasta dan berbagai infromasi dari internet.
Pengolaha dan pembahasan fakta meliputi kegiatan penganalisisan kumpulan fakta yaitu dimulai dari proses pengeditan, pengodingan, pentranskripan, dan pemerifikasian. Semua kegiatan ini ditujukan untuk menjelaskan realitas yang tengah menjadi fenomena. Penggunaan metode kualitatif dilaksanakan untuk mendapatkan reabilitas penganalisisan katagorisasi fakta. Pengintrepretasian ditujukan untuk pencapaian temuan dasar pandangan aktual atau kesimpulan umum yang menguatkan pemikiran khusus sebelumnya.
Tahap kedua merupakan tahapan kerja penulisan. Berbagai informasi hasil liputan sebelumnya di format ke dalam wacana pelaporan. Pelaporan jurnalistik merupakan kerja yang memaki kaidah penulisan berita yaitu berupa pemerian kelengkapan atribut narasumber, keseimbagan melaporkan pihak yang berkonflik, keobjektifan fakta-berita dan kejelasa,keringkasan serta kesederhanaan penyajian fakta-berita. Dalam pelaksanaannya, teknik penulisan berita feature sering dipakai.
Jadi, melalui kegiatan jurnalisme presisi, seorang jurnalis tidak lagi berada di spektrum fakta-fakta, melainkan telah mempunyai kemampuan dalam meganalisis, memprespektif dan menyimpulkan realitas sosial yang dicermatinya. Komplesitas permasalahan masyarakat modern dijadikan dasar pikiran sebagai pedoman institusi pers dalam mengikuti dimanika masyarakat.
KESIMPULAN
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan dianugerahi kekayaan maritim yang melimpah ruah. Akan tetapi kenyataan hari ini menunjukan sebaliknya, penduduk Indonesia saat ini seperti sedang menghadapi sebuah layar kaca yang lebar, dimana mereka hanya dapat menyaksikan dan mendapati negerinya sebagai kepulaun yang papa (Islands of Poverty).
Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri. Namun kenyataan hari ini suguhan karya jurnalistik membuat warga tidak dapat hidup merdeka dan mengatur dirinya sendiri. Salah satunya karena penerapan credo jurnalistik ‘bad news is good news’yang diterjemahkan secara hitam putih. Padahalcredo ini seharusnya ditentang oleh media karena kuncinya adalah bagaimana media bisa menyeimbangkan antara idealisme dan bisnis.
Penulis menilai bahwa idealisme dan bisnis adalah dua momok yang belum bisa diseimbangkan oleh para praktisi media saat ini. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan beberapa ekses negatif. Salah satunya adalah kecenderungan media untuk memborbadir masyarakat dengan ‘bad news’yang berselera instrisik rendah. Sementara itu, Pers nasional mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi sebagai media informasi, fungsi sebagai pendidikan, fungsi sebagai hiburan, fungsi sebagai kontrol sosial dan fungsi sebagai lembaga ekonomi. Sayangnya dewasa ini fungsi lembaga ekonomi lebih dominan sehingga media hanya menyuguhkan berita yang cenderung menuhankanratingdanshare. Praktisi media di Indoensia seakan lupa bahwa mereka mempunyai sembilan elemen jurnalis yang diakui oleh praktisi pers internasional sebagai sebuah panduan normatif dalam mengaplikasikan kegiatan jurnalistik di lapangan.
memprespektif dan menyimpulkan realitas sosial yang dicermatinya. Dengan demikian jurnalisme presisi ada untuk tujuan memberikan pencerahan kepada masyakarat sehingga masyarakat dapat tumbuh menjadi insan-insan intelektual yang membangun bangsa dan karakter bangsa Indonesia menuju abad Kecerahan Bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Effendy, Onong Uchjana. (2000).Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya; Bandung.
Fedler, Fred. (1978).An Introduction to The Mass Media. New York: Hoarcout Brace Javonich.
Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. (2003). The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. USA: Crown
McQuail, Denis. (1994).Mass Communication Theory by Denis McQuail. USA: Sage Pubns
Meyer, Philip. (1973).Precision Journalism: A Reporter’s Introduction to Social Scinece Methods.New York: McGrawHill.
Santana, Septiawan. (2003):Jurnalisme Investigasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Soekanto, Soerjono. (1990).Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Strentz, Herbert. (1993).Reporter dan Sumber Berita: persekongkolan dan mengemas dan menyesatkan berita.Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.
Makalah Seminar
K, Ishadi.S. (2006).Memproklamirkan A Sign of Hope ditengah keterpurukan Indonesia. ITB: Seminar sehari Peran Media dalam Proses Pembangunan Bangsa dan Karakter Bangsa.
Oetama, Jakob.(2006).Membangun Karakter Bangsa; Peran Media.ITB: Seminar sehari Peran Media dalam Proses Pembangunan Bangsa dan Karakter Bangsa.
Newsletter
Newsletter BPS No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010
Data Penulis