LAPORAN PENELITIAN OPEN GOVERNANCE
JUDUL :
ANALISIS PRINSIP TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG TERBUKA (OPEN
GOVERNANCE) DITINJAU DARI PARADIGMA TRANSPARANSI, PARTISIPASI
DAN AKUNTABILITAS DALAM STRATEGI RPJMD PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN 2008-2013
Penulis :
Ringkasan Eksekutif
Amandemen UUD 1945 pasca reformasi telah membawa perubahan mendasar terhadap sistem pemerintahan di Indonesia, diantaranya adalah diperkuatnya sistem desentralisasi dalam kerangka otonomi daerah. Dalam konteks ini pemerintah daerah memiliki kewenangan luas untuk mengatur sendiri tata kelola pemerintahannya (UU No. 23/2014).
Pada satu sisi, kewenangan luas yang dimiliki pemerintah daerah telah membuka peluang besar bagi setiap kepala daerah untuk berinovasi menciptakan cara-cara baru/program-program yang bersifat out of the box dalam upaya mewujudkan kesejahteraan serta meningkatkan kualitas hidup seluruh elemen masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Namun pada sisi lain, hal ini juga membuka peluang besar bagi setiap kepala daerah untuk menyalahgunakan wewenang, seperti membuat kebijakan yang ditujukan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, serta tidak berpihak pada kepentingan masyarakat secara keseluruhan (korupsi, kolusi dan nepotisme). Untuk menghindari potensi penyalahgunaan wewenang serta untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat, diperlukan penerapan sistem tata kelola pemerintahan yang terbuka (open governance) sebagai jalan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih (clean goverment). Secara garis besar, sistem tersebut tersusun atas 3 (tiga) paradigma, yakni paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. Ketiga paradigma tersebut bersifat saling melengkapi dan tidak dapat dipandang secara parsial.
Adapun cara untuk melakukan penelitian ini adalah dengan melakukan telaah terhadap paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dengan menempatkan ketiga paradigma tersebut di dalam kerangka sistem pembangunan daerah yang mengacu pada UU No. 25/2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No.23/2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Kemudian dirumuskan kriteria-kriteria yang melandasi masing-masing paradigma tersebut. Selanjtunya dilakukan verifikasi kriteria-kriteria yang telah terbentuk dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013. Dalam tahap ini dapat diketahui kriteria mana saja yang telah terakomodasi dalam strategi RPJMD, untuk kemudian dilakukan simplifikasi menjadi paradigma apa yang telah terakomodasi dalam pembangunan Jawa Barat.
Bab I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang Pe elitia ………... 8
I.2 Pertanyaan Penelitian... 11
I.3 Konsep Pe elitia ………... 11
I.4 Ke a faata Pe elitia ………... 12
I.5 Unsur Kebaruan Pe elitia ………... 13
I.6 Asumsi Penelitian... 13
Bab II Temuan Penelitian 2.1 Open Governance dalam Pembangunan Daerah... 14
2.2 Identifikasi Kriteria-Kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas... 20
2.3 Gambaran Singkat RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 26
2.4 Verifikasi Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 28
2.4.1 Proses verifikasi kriteria-kriteria dari Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 28
2.4.2 Rekapitulasi hasil verifikasi dari kriteria-kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 36
2.4.3 Contoh Penjabaran Kriteria Paradigma Transparansi, Akuntabilitas dan Partisipasi ke dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 37
2.5 Analisis Implementasi kriteria-kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas yang terakomodasi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013... 40
Bab III Penutup 3.1 Kesimpulan... 51
3.2 Rekomendasi... 52
DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF... 2
DAFTAR ISI... 4
DAFTAR SINGKATAN... 5
DAFTAR SINGKATAN
APBD = Anggaran Pembangunan Daerah
APK = Angka Partisipasi Kasar
DPRD = Dewan Perwakilan Daerah
LPPD = Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Musrenbang = Musyawarah Pembangunan
N/A = Not Avaliable
PP = Peraturan Pemerintah
Perda = Peraturan Daerah
RAPBD = Rancangan Anggaran Pembangunan Daerah
Renstra = Rencana Strategis
Renja = Rencana Kerja
RKA = Rancangan Kerja Anggaran
RKPD = Rencana Kerja Pemerintah Daerah
RPJPN = Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
RPJMN = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RPJPD = Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
RPJMD = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
SPPN = Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
SKPD = Satuan Kerja Perangkat Daerah
OPD = Organisasi Perangkat Daerah
UU = Undang-undang
DISKOMINFO = Dinas Komunikasi dan Informatika
BPPT = Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
BKPPMD = Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah
DISPENDA = Dinas Pendapatan Daerah
UPTD = Unit Pelaksana Teknis Daerah
BPMPD = Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa
SATPOL PP = Satuan Polisi Pamong Praja
HUMASPROTUM = Hubungan Masyarakat dan Protokoler Umum
KPID = Komisi Penyiaran Indonesia Daerah
BKD = Badan Kepegawaian Daerah
BADIKLAT-DA = Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah
BAPPEDA = Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
DINSOS = Dinas Sosial
DINKES = Dinas Kesehatan
DISKRIMRUM = Dinas Pemukiman dan Perumahan
ADMBANG = Administrasi Pembangunan
ASS ADM = Assisten Administrasi
BIRO ORG = Biro Organisasi
Kata Pengantar
Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Pertama tama perkenankan penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT, atas limpahan rah at da karu ia ya sehi gga pe elitia ya g erjudul Analisis Prinsip Tata Kelola Pemerintahan
Yang Terbuka (Open Governance) Ditinjau Dari Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas Dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 dapat diselesaika .
Mengawali kata pengantar ini, penulis mengutip cerita Sang Proklamator yang mudah-mudahan dapat menginspirasi. Ketika Bung Karno bertemu dengan Jenderal Yamamoto Moichiro, beliau bertanya pada sang jenderal, mengapa Tentara Nipon menggunakan sepatu dengan ujung yang terbagi dua, mengapa berbeda dengan yang digunakan Tentara Inggris atau Belanda? Kemudian sang jenderal menjelaskan kepada Bung Karno bahwa telapak kaki orang Jepang lebih lebar dari orang Eropa, sehingga jika Tentara Nipon menggunakan sepatu seperti Tentara Belanda, maka dipastikan akan sangat menghambat langkah Tentara Nipon. Melalui cerita ini, Sang Proklamator memberi pesan kepada kita bahwa kesesuaian/kecocokan itu penting, segala sesuatu yang berasal bukan dari bangsa kita harus disesuaikan dengan budaya dan karakteristik Bangsa Indonesia.
Dalam konteks tata kelola pemerintahan yang terbuka (open governance) pun demikian, seyogyanya konsep yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir dari negara asing ini harus ditempatkan dalam kerangka sistem pemerintahan di Indonesia, karena sistem pemerintahan dan budaya kerja di setiap negara pasti memiliki perbedaan. Jika tidak, maka potensi kegagalan dalam mengimplementasikan konsep open governance sangat besar, atau konsep tersebut menjadi tidak relevan.
Dengan demikian bantuan dana penelitian yang diberikan oleh Kemitraan ini sangat tepat untuk mendukung pengembangan konsep open governance agar benar-benar dapat diimplementasikan lebih efektif di Indonesia. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Kemitraan atas hal ini. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan masukan yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan. Akhir kata semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi Bangsa Indonesia. Wassalamualaikum.
Peneliti
Bab I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang Penelitian
Amandemen UUD 1945 pasca reformasi telah membawa perubahan mendasar terhadap sistem pemerintahan di Indonesia, diantaranya adalah diperkuatnya sistem desentralisasi dalam kerangka otonomi daerah. Sebagaimana tercantum dalam penjelasan UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian diperbaharui menjadi UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa dasar pemikiran diperkuatnya sistem desentralisasi dalam kerangka otonomi daerah adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat dengan memperhatikan asas demokrasi, pemerataan, keadilan dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsekuensi logis dari penguatan sistem desentralisasi dalam kerangka otonomi daerah ialah diberikannya kewenangan yang luas bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerahnya masing-masing.
Dalam konteks ini pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengatur sendiri tata kelola pemerintahannya, yang meliputi kewenangan dalam mengelola sendiri urusan pemerintahan, memilih kepala daerah; mengelola aparatur daerah; mengelola kekayaan daerah; memungut pajak daerah dan retribusi daerah; mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah; mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan mendapatkan hak-hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 21 UU No. 32/2004).
Secara garis besar, sistem tata kelola pemerintahan yang terbuka terdiri dari 3 hal pokok, yaitu: transparansi akan informasi publik sebagai fondasi utama tata kelola yang baik; partisipasi untuk memastikan adanya keterlibatan dari seluruh stakeholder pembangunan; serta akuntabilitas dalam pengertian seluruh pihak dapat dan wajib mempertanggungjawabkan keputusan dan aksi yang diambil.
Dalam upaya menciptakan tata kelola pemerintahan yang terbuka, idealnya ketiga hal pokok tersebut ditempatkan sebagai paradigma yang terdiri dari konsep-konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/membangun sistem/model solusi efektif (Ahimsa, 2009). Ditinjau dalam perspektif pembangunan daerah, sistem tata kelola pemerintahan yang terbuka dapat dibangun dan diimplementasikan oleh setiap kepala daerah terpilih sebagai pemegang kekuasaan di daerah. Sistem tersebut dapat dijabarkan sebagai strategi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang merupakan pedoman pembangunan daerah dan agenda kerja kepala daerah selama 5 tahun, untuk kemudian diturunkan menjadi program-program tahunan.
Hal ini sebagaimana diatur dalam UU No. 25 /2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), dimana masing-masing kepala daerah (baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota) memiliki hak dan kewajiban untuk menentukan agenda kerja dan prioritas apa saja yang akan dituju dalam melaksanakan pembangunan selama satu periode (5 tahun). Namun demikian, karena tidak ada peraturan yang mengatur tentang kriteria kompetensi seorang kepala daerah dalam memahami dan menerapkan konsep open governance, maka tidak ada jaminan bahwa setiap kepala daerah dapat menempatkan sistem tata kelola pemerintahan yang terbuka sebagai strategi prioritas dalam RPJMD daerahnya. Dokumen RPJMD memiliki kedudukan yang sangat strategis, karena dokumen ini menjadi dasar acuan bagi kepala daerah beserta satuan kerja perangkat daerah-nya (SKPD) dalam menentukan rencana kerja tahunan (selama lima tahun). Dengan kata lain, program – program pembangunan yang diimplementasikan setiap tahunnya (yang tertuang dalam renstra setiap SKPD) harus mengacu pada RPJMD, sehingga program-program tersebut memiliki landasan hukum yang kuat (Perda).
apakah suatu pemerintahan daerah telah memiliki strategi-strategi dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang terbuka. Dalam penelitian ini digunakan strategi RPJMD Jawa Barat Tahun 2008-2013 sebagai objek penelitian. Menurut UU SPPN No. 25/2004 Pasal 1 butir 14, strategi didefinisikan sebagai langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan.
Saat ini Provinsi Jawa Barat secara nasional masih menempati posisi ke-3 sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak (4,38 Juta Orang, BPS 2013) dan di posisi yang sama sebagai provinsi dengan jumlah pengangguran terbesar (1,8 Juta Orang, BPS 2013). Selain itu Jawa Barat juga masih memiliki 2 (dua) kabupaten dan 60 desa yang masuk dalam kategori daerah tertinggal (KPDT, 2013), padahal lokasi Jawa Barat relatif dekat dengan Ibukota Negara. Kondisi tersebut yang menjadi dasar mengapa penulis tertarik untuk mengambil Jawa Barat sebagai objek dalam penelitian ini. Adapun kerangka pemikiran latar belakang penelitian ini disajikan dalam bentuk visualisasi skematik pada Gambar I.1 di bawah ini.
I.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas telah terakomodasi dalam strategi pembangunan RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
2. Bagaimana implementasi paradigma yang telah terakomodasi dalam strategi pembangunan RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
1.3 Konsep Penelitian
Adapun konsep penelitian ini dijabarkan dalam visualisasi skematik alur pikir penelitian pada Gambar I.2.
Secara garis besar metodologi penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan telaah terhadap paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dengan menempatkan ketiga paradigma tersebut di dalam kerangka sistem pembangunan daerah yang mengacu pada UU No. 25/2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No.23/2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Kemudian dirumuskan kriteria-kriteria yang melandasi masing-masing paradigma tersebut.
2. Untuk memberikan gambaran mengenai pembangunan daerah dalam perspektif RPJMD, dijabarkan secara singkat visi, misi, tujuan, persoalan, arah kebijakan dan strategi pembangunan RPJMD Jawa Barat Tahun 2008-2013.
3. Selanjutnya dilakukan verifikasi terhadap kriteria-kriteria pembentuk paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dalam strategi RPJMD Jawa Barat Tahun 2008-2013. Dalam tahap ini dapat diketahui kriteria mana saja yang telah terakomodasi dalam strategi RPJMD, untuk kemudian dilakukan simplifikasi menjadi paradigma apa yang telah terakomodasi dalam pembangunan Jawa Barat. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan verifikasi adalah tabel (matriks).
4. Setelah tahap verifikasi, dilakukan analisis implementasi pada kriteria yang terakomodasi dalam RPJMD. Analisis dilakukan berdasarkan strategi (yang mewujudkan kriteria), kemudian menjabarkan program dan indikator program, untuk kemudian menampilkan target dan capaian indikator dari masing-masing strategi. Penelaahan data untuk kebutuhan analisis mencakup dokumen LKPJ, LPPD, Lakip, Jawa Barat Dalam Angka (2009-2013) dan sumber lainnya (media).
I.4 Kemanfaatan Penelitian
Penelitian ini memiliki kemanfaatan sebagai berikut:
1. Memberikan kontribusi informasi mengenai pemetaan paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
yang ditujukan untuk menciptakan open governance, berdasarkan kriteria-kriteria paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas.
I.5 Unsur Kebaruan Penelitian
Dalam penelitian ini unsur kebaruan terletak pada identifikasi jaringan interaksi paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dalam sistem pembangunan daerah yang mengacu pada UU No.23/2014 dan UU No. 25/2004, serta pembentukan kriteria dari masing-masing paradigma yang kemudian diverifikasi ke dalam strategi RPJMD.
I.6 Asumsi Penelitian
BAB 2 Temuan Penelitian
2.1 Open Governance dalam Pembangunan Daerah
Pasca reformasi tahun 1998, istilah tata kelola pemerintahan yang terbuka (open governance) kerap didengungkan oleh berbagai organisasi internasional (World Bank, IMF, OECD, dsb) dan digunakan oleh banyak orang di Indonesia, baik oleh LSM, akademisi, politikus, budayawan, rohaniawan, masyarakat umum, bahkan birokrat, untuk merespon persoalan-persoalan di arena pemerintahan, seperti buruknya pelayanan publik, maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Persoalan tersebut menjadi hambatan utama dalam mewujudkan tujuan pembangunan, yang menurut Todaro (2005) terdiri dari 3 hal pokok, yaitu :
1) Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan perlindungan keamanan.
2) Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang kesemuanya itu tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materil, melainkan juga menumbuhkan jati diri pribadi dan bangsa yang bersangkutan.
3) Perluasan pilihan – pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap menghamba dan ketergantungan, bukan hanya terhadap orang atau negara bangsa lain, namun juga terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai – nilai kemanusiaan mereka.
Gambar II.1 Keterkaitan antara Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas
Pada intinya transparansi informasi tidak memiliki arti ketika masyarakat tidak secara aktif merespon informasi tersebut (masyarakat cenderung apatis), atau dengan kata lain tidak terdapat feedback berupa ide, gagasan, kritik dan saran dari masyarakat untuk pemerintah. Begitu pula sebaliknya ketika masyarakat aktif berpartisipasi, namun kualitas informasi yang tersedia dari pemerintah kurang baik (tidak menjelaskan fungsi, wewenang pemerintah dan keputusan apa yang dilakukan pemerintah, serta tidak menjelaskan alasan dari putusan tersebut sehingga dapat dikatakan tidak valid/tidak dapat dipertanggungjawabkan) atau dengan kata lain tidak akuntabel, maka keterbukaan informasi dan partisipasi masyarakat akan menjadi suatu hal yang sia-sia.
Dalam konteks pembangunan daerah, telah diamanatkan bahwa perencanaan pembangunan daerah harus dirumuskan secara transparan, akuntabel dan partisipatif (Permendagri No 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah). Adapun masing-masing definisi menurut peraturan tersebut adalah sebagai berikut :
Transparansi
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
Akuntabilitas
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e, yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Partisipasi
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf f, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok masyarakat rentan termarginalkan, melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan.
Tra spara si
Partisipasi
Aku ta ilitas
Namun demikian, dalam implementasinya belum ada peraturan yang menjelaskan secara spesifik mengenai posisi paradigma transparansi, akuntabilitas dan partisipasi di dalam sistem desentralisasi dan otonomi daerah yang dijalankan di Indonesia. Sehingga pemerintah daerah memaknai implementasi dari ketiga paradigma tersebut hanya sebatas kegiatan mengunggah informasi perencanaan pembangunan dan keuangan daerah, serta menyediakan kolom pengaduan di situs Pemda. Hal ini tentu tidak dapat disalahkan. Namun, pemaknaan dan kegiatan tersebut sangat kurang dalam upaya menciptakan partisipasi aktif dari seluruh stakeholder (pemerintah, masyarakat, institusi pendidikan, sektor swasta, dsb) untuk memberi ide, gagasan, serta mengawasi kegiatan pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, sehingga bermuara pada terciptanya pemerintahan yang bersih dan tercapainya tujuan pembangunan. Sebagai ilustrasi, meskipun saat ini seluruh Pemda telah memiliki situs yang memuat informasi terkait pembangunan, namun tetap saja banyak kepala daerah dan perangkat daerahnya yang ditangkap Jaksa atau KPK karena penyalahgunaan anggaran. Menurut Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan, sudah terdapat 325 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi (Mei 2014) (Republika, 9 Mei 2014).
Gambar II.2 Contoh Program Pembangunan yang berorientasi target dan berorientasi proyek
Gambar II.3 Skema sistem pembangunan daerah
Tabel II.1 Jaringan interaksi Paradigma Transparansi, Akuntabilitas dan Partisipasi yang harus terbentuk dalam Sistem Pembangunan Daerah
1 2
Paradigma Interaksi Paradigma Transparansi (biru), Akuntabilitas (merah), Partisipasi
(hitam) yang harus terbentuk dalam sistem pembangunan daerah.
1. Transparansi.
Mengacu pada definisi yang telah disebutkan sebelumnya, diketahui
bahwa masyarakat memiliki hak
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara.
Dalam konteks pemerintahan
daerah, proses penyelenggaraan
negara mencakup seluruh jaringan
interaksi sebagaimana yang
tercantum dalam kolom 2. Sehingga keseluruhan interaksi tersebut harus bersifat transparan.
2. Akuntabilitas
Mengacu pada definisi yang telah disebutkan sebelumnya, diketahui
bahwa setiap kegiatan dan hasil
akhir dari perencanaan
pembangunan daerah harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat/rakyat. Dengan
demikian, seluruh individu yang terlibat dalam proses pembangunan daerah (kolom disamping) harus
dapat mempertanggungjawabkan
setiap hal yang dikerjakannya.
3.Partisipasi
Mengacu pada definisi yang telah disebutkan sebelumnya, diketahui
bahwa partisipasi mencakup hak
Berdasarkan penjelasan di atas, setiap garis menandakan relasi dan negosiasi antar aktor, atau aktor dengan dokumen-dokumen sebagai artefak. Sedangkan warna dari setiap garis menandakan posisi ketiga paradigma yang harus terbentuk dalam interaksi tersebut. Diketahui bahwa terdapat 27 garis biru (transparansi), 28 garis merah (akuntabilitas), dan 12 garis hitam (partisipasi). Jaringan interaksi yang tertera pada Tabel II.1 di atas selanjutnya dijadikan dasar untuk membentuk kriteria masing-masing paradigma yang dibahas pada sub bab 2.2 selanjutnya.
2.2 Identifikasi Kriteria-Kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas
Pada sub bab sebelumnya telah dijabarkan peta yang menunjukan posisi ketiga paradigma dalam sistem pembangunan daerah. Kemudian pada sub bab ini dijabarkan kriteria-kriteria yang terbentuk dari masing-masing paradigma berdasarkan peta tersebut. Kriteria setiap paradigma bersifat saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk sistem untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang terbuka.
Tabel II.2 Identifikasi Kriteria-Kriteria Paradigma Transparansi dalam Sistem Pembangunan Daerah
1 2 3
Peta Jaringan Interaksi Paradigma Transparansi dalam Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
A. Terdapat sosialisasi
mengenai tahapan dan tata cara melakukan perencanaan
pembangunan daerah
kepada masyarakat.
Dalam konteks ini masyarakat harus diberikan sosialisasi tentang tahapan dan tata cara melakukan perencanaan pembangunan daerah sebagaimana yang tercantum dalam peta jaringan pada kolom 1. Hal ini untuk menciptakan pemahaman kepada masyarakat, bahwa setelah memilih kepala daerah dan
wakilnya, pelaksanaan pembangunan harus dilakukan melalui serangkaian cara dan tahapan yang kompleks dan sangat menentukan hasil dari pembangunan. Oleh karena itu masyarakat harus turut mengawasi dan bersikap kritis terhadap pelaksanaan dari tahapan-tahapan tersebut.
B. Terdapat sosialisasi
mengenai peran dan
tanggung jawab kepala
daerah beserta perangkat daerah-nya (SKPD) kepada masyarakat.
Dalam kolom 1 dapat teramati bahwa relasi kuasa kepala daerah sangat tinggi. Seorang kepala daerah memiliki kewenangan penuh dalam menentukan arah pembangunan daerah, serta bertanggung jawab terhadap kualitas setiap kepala SKPD beserta jajarannya (dalam hal ini kepala daerah memiliki kewenangan dalam menentukan setiap kepala SKPD yang menjadi perangkat kerja-nya). Jenis informasi tersebut dan informasi spesifik lainnya terkait hal itu harus diperlakukan secara transparan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengawasi dengan seksama proses pembangunan daerah berdasarkan peran dan tanggung jawab kepala daerah beserta perangkatnya (memudahkan masyarakat untuk mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas suatu persoalan (jika ada persoalan)).
C. Terdapat sosialisasi
program kerja kepala daerah
(tahunan/periode) kepada
masyarakat.
Undang-undang mengamanatkan bahwa pembangunan ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sehingga program kerja kepala daerah secara umum yang tercantum dalam dokumen RPJMD, yang kemudian dijabarkan lebih spesifik ke dalam Renstra SKPD yang di dalamnya tercantum rincian anggaran biaya pembangunan, harus ditujukan semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat pula. Dengan demikian informasi program kerja tersebut harus diperlakukan dengan transparan, hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
D. Terdapat informasi terkait proses pelaksanaan program
Dalam kolom 1 dapat teramati bahwa tindak lanjut (pelaksanaan) dari apa yang telah disusun oleh kepala daerah beserta Bappeda dalam RPJMD, Keterangan :
Garis biru menandakan interaksi paradigma
1 2 3 Peta Jaringan Interaksi Paradigma Transparansi dalam
Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
pembangunan yang lengkap, mudah dijangkau dan tepat waktu kepada masyarakat.
kemudian dijabarkan menjadi Renstra oleh setiap SKPD, harus terinformasikan secara lengkap, tepat waktu, kepada masyarakat disertai akses informasi yang mudah. Dengan mengetahui pelaksanaan program pembangunan, dapat
terbentuk sense of belonging masyarakat terhadap pelaksanaan tersebut,
sehingga masyarakat turut memantau pelaksanaanya. Dengan demikian mempersempit celah setiap oknum yang ingin memanipulasi pelaksanaan dari seluruh rencana pembangunan.
E. Terdapat informasi terkait
hasil dan evaluasi
pembangunan yang lengkap, mudah dijangkau dan tepat waktu kepada masyarakat.
Dalam kolom 1 dapat teramati bahwa kepala daerah menyerahkan 3 jenis laporan terkait hasil dari program pembangunan, yakni menyerahkan LKPJ kepada DPRD, LPPD kepada mendagri, kemudian menyerahkan laporan ke publik. Kemudian setiap tahunnya Bappeda melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan yang disampaikan kepada kepala daerah. Seluruh
proses tersebut harus diperlakukan secara transparan kepada masyarakat daerah, sehingga masyarakat dapat mengetahui penilaian, tanggapan, atau koreksi yang diberikan DPRD dan Mendagri atas hasil dari program pembangunan yang telah dijalankan.
F. Terdapat Informasi kepada
masyarakat tentang harta
kekayaan kepala daerah
beserta perangkat daerahnya (SKPD).
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang
Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme menentukan bahwa penyelenggara negara termasuk kepala daerah wajib melaporkan harta kekayaanya kepada publik sebelum, selama dan sesudah menjabat. Kemudian Surat Edaran Nomor: SE/03/M.PAN/01/2005 Tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) mewajibkan pejabat Eselon II untuk melaporkan hal yang sama (kepala SKPD di pemerintah daerah merupakan pejabat Eselon II).
G. Terdapat Informasi terkait
dengan pelayanan publik
Tabel II.3 Identifikasi Kriteria-Kriteria Paradigma Akuntabillitas dalam Sistem Pembangunan Daerah
1 2 3
Peta Jaringan Interaksi Paradigma Akuntabilitas dalam Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
A. Adanya penetapan target
tahunan pada seluruh
indikator pembangunan.
Dalam kolom 1 terdapat interaksi mengenai penetapan target tahunan pada indikator pembangunan yang disusun oleh masing-masing SKPD beserta Bappeda dan disetujui oleh Kepala Daerah. Uraian mengenai target tersebut harus tercantum pada seluruh dokumen perencanaan (RPJPD, RPJMD dan
Renstra setiap SKPD). Fungsi dari penetapan target adalah sebagai salah satu acuan berhasil/tidaknya pelaksanaan program pembangunan. Dengan demikian, keseluruhan program pembangunan harus memiliki target yang jelas dan terukur pada setiap indikatornya. Hal ini melibatkan seluruh SKPD yang menentukan setiap target, serta Bappeda yang menyusun target tersebut dan Kepala Daerah yang menyetujuinya.
B. Adanya laporan kinerja
setiap SKPD yang
dipublikasikan ke masyarakat.
Dalam jaringan interaksi dalam kolom 1, jajaran SKPD merupakan unsur yang memiliki kedudukan penting. Kualitas kinerja SKPD sangat menentukan kualitas proses pelaksanaaan pembangunan, mulai dari perencanaan, implementasi hingga kualitas output. Dengan demikian seluruh individu yang merupakan
bagian dari SKPD dituntut untuk memiliki performance kerja yang baik.
Sehingga perlu ada penilaian kinerja setiap SKPD yang dipublikasikan ke masyarakat.
C. Adanya pelatihan dan
pendidikan clean government
bagi PNS di lingkungan
Pemda.
Dalam menciptakan sistem tata kelola pemerintahan yang terbuka, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana menumbuhkan budaya kerja birokrat yang akuntabel, dimana setiap individunya dituntut harus memiliki integritas dan tanggungjawab dalam melakukan setiap pekerjaan. Untuk itu, birokrat perlu menginternalisasikan tujuan dari penerapan sistem ini, sehingga masing-masing individu berorientasi untuk menciptakan pemerintahan yang bersih (clean government). Hal ini dapat dilakukan dengan menyelenggarakan pelatihan pendidikan mengenai clean government.
D. Adanya laporan-laporan
program pembangunan yang
mengacu pada targetnya.
Dalam setiap dokumen yang menjelaskan hasil pelaksanaan program pembangunan (laporan evaluasi, LKPJ, LPPD, dan laporan ke publik) harus dicantumkan apakah realisasi target tersebut tercapai atau tidak, beserta alasanya (jika tidak tercapai). Dengan demikian implementasi program-program Keterangan :
1 2 3 Peta Jaringan Interaksi Paradigma Akuntabilitas dalam
Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
pembangunan dapat dipertanggungjawabkan.
E. Adanya peraturan yang
menjelaskan konsekuensi
pelanggaran yang dilakukan
oleh perangkat daerah terkait
kinerja.
Untuk menciptakan jaringan interaksi yang akuntabel sebagaimana tergambar dalam kolom 1, dituntut komitmen seluruh birokrat sebagai motor penggerak pemerintahan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai prosedur dan dengan penuh tanggungjawab. Untuk meminimalkan potensi kelalaian birokrat dalam melaksanakan pekerjaan, perlu dibuat sanksi yang jelas dan spesifik, yang dapat menimbulkan efek jera, bukan hanya sekedar sanksi administratif yang tertutup dari pengamatan publik. Sebagai contoh, foto wajah birokrat yang melakukan penyimpangan/kelalaian dapat ditampilkan di instansi tempat kerjanya.
Tabel II.4 Identifikasi Kriteria-Kriteria Paradigma Partisipasi dalam Sistem Pembangunan Daerah
1 2 3
Peta Jaringan Interaksi Paradigma Partisipasi dalam Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
A. Adanya media yang
memfasilitasi masyarakat
untuk berpartisipasi dalam
proses perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan.
Dalam konteks pembangunan daerah saat ini, media yang secara konkret memfasilitasi partisipasi masyarakat hanya pemilukada dan musrenbang, proses itupun memiliki banyak celah untuk direkayasa/dimanupulatif oleh
oknum yang berkepentingan. Dengan demikian perlu media partisipasi yang lebih banyak, yang menjangkau proses-proses penting seperti tergambar dalam kolom 1, namun tetap dalam batasan dimana masyarakat masih bisa berbagi ide, gagasan, kritik dan saran dalam proses tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat media yang memungkinkan interaksi masyarakat kepada kepala daerah, SKPD, termasuk Bappeda yang melakukan evaluasi perencanaan pembangunan baik secara langsung atau virtual. Kepala daerah
1 2 3 Peta Jaringan Interaksi Paradigma Partisipasi dalam
Sistem Pembangunan Daerah
Kriteria Yang Terbentuk Penjelasan
B. Adanya media yang
memungkinkan publik
merespon (memberikan
feedback) hasil dan evaluasi dari pembangunan.
Seluruh hasil implementasi dari kegiatan perencanaan pembangunan yang di ilustrasikan dalam kolom 1 harus dapat direspon oleh masyarakat. Sebagai contoh harus ada media yang dapat memfasilitasi masyarakat dalam menindaklanjuti/merespon laporan pertanggungjawaban tahunan kepala daerah. Kemudian, karena Bappeda setiap tahunnya berkewajiban melakukan evaluasi implementasi dari rencana pembangunan, maka harus ada juga media yang memfasilitasi masyarakat untuk merespon hasil evaluasi tersebut. Kepala daerah dapat membentuk tim khusus atau menunjuk SKPD yang relevan untuk
menjadi pelaksana teknisnya, hal ini sangat mungkin dilakukan. C. Adanya peraturan yang
mengatur partisipasi
masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pembangunan, melainkan juga dapat menjadi penghambat pelaksanaan pembangunan, jika dilakukan tanpa regulasi yang
jelas. Dengan demikian, untuk menciptakan partisipasi yang baik, setiap pemerintah daerah memiliki hak untuk menentukan batasan-batasan masyarakat dalam berpartisipasi, tentunya harus bersifat memperluas batasan tersebut sesuai dengan peraturan perundangan.
D. Adanya sosialisasi
mengenai bentuk, peran dan
tata cara partisipasi
masyarakat dalam
pembangunan daerah.
Untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap hak dan kewajibannya
2.3 Gambaran Singkat RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Setelah menjabarkan kriteria-kriteria dari setiap paradigma, kemudian pada bagian ini dibahas secara ringkas mengenai RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2008-2013. Adapun landasan hukum penyusunan dokumen RPJMD disampaikan dalam Tabel II.5 di bawah ini.
Tabel II.5 Landasan hukum RPJMD
No. Landasan Hukum RPJMD
1. UU 25/2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN) 2. UU 17/ 2003 tentang keuangan Negara
3. UU 32/2004 tentang pemerintahan daerah
4. UU 33/2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
5. PP 58/2005 tentang pengelolaan keuangan daerah
6. PP65/2005 tentang pedoman penyusunan dan penetapan standar pelayanan minimal
7. Permendagri 6/2007 tentang petunjuk teknis penyusunan dan penetapan standar pelayanan minimal
8. SE Mendagri 050/2020/SJ Tahun 2005 tentang petunjuk penyusunan dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah Kabupaten/Kota
9. SEB MenPPN/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri
0008/M.PPN/01/2007/050/264A/SJ tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007
10. Permendagri 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah 11. PP 8/2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana
Pembangunan Daerah
Sumber : RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Dalam perspektif perencanaan pembangunan daerah, RPJMD didefinisikan sebagai dokumen resmi rencana pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan selama 5 (lima) tahun. RPJMD berisi penjabaran visi, misi, tujuan dan permasalahan pembangunan yang kemudian dituangkan ke dalam arah kebijakan dan strategi yang akan digunakan. Kemudian strategi yang tercantum dalam RPJMD dijabarkan oleh setiap SKPD ke dalam program tahunan (RPJMD menjadi pedoman pembuatan program tahunan setiap SKPD). Dengan kata lain, program-program yang diimplementasikan setiap tahunnya harus menginduk pada strategi yang telah ditetapkan dalam RPJMD.
151
Berdasarkan penjabaran struktur RPJMD pada Gambar II.4 dapat diketahui bahwa terdapat 1 visi, 5 misi dan 151 strategi (151 strategi dijabarkan dalam lampiran) untuk mencapai visi, misi tersebut. Selanjutnya dilakukan verifikasi kriteria-kriteria paradigma transparansi, akuntabilitas dan partisipasi yang telah terbentuk dalam 151 strategi tersebut. Uraian ini dibahas pada sub bab selanjutnya.
2.4 Verifikasi Kriteria dari Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam Strategi
RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Pada Sub Bab 2.2 telah teridentifikasi kriteria dari masing-masing paradigma, dan pada Sub Bab 2.3 telah diketahui bahwa dalam RPJMD Jawa Barat tahun 2008-2013 terdapat 151 strategi untuk mewujudkan visi pembangunan Jawa Barat tahun 2008-2013. Kemudian pada sub bab ini disajikan uraian mengenai verifikasi kriteria-kriteria paradigma dalam strategi RPJMD.
2.4.1 Proses Verifikasi Kriteria dari Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam
Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Sebelum masuk pada tahap verifikasi, terlebih dahulu disajikan penjelasan singkat mengenai kedudukan kriteria-kriteria paradigma dalam dokumen RPJMD. Pada dasarnya kriteria-kriteria yang dimaksud merupakan hal-hal yang dijabarkan dalam sasaran (Gambar II.5). Sasaran tersebut adalah kondisi yang diharapkan terwujud sebagai akibat dari diterapkannya suatu strategi, atau dengan kata lain strategi merupakan langkah untuk mencapai sasaran tersebut. Strategi direalisasikan dalam bentuk program-program dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya kriteria-kriteria paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas, dilakukan penelaahan terhadap strategi-strategi dalam RPJMD yang mendorong terwujudnya kriteria yang dimaksud. Dalam hal ini dicari strategi-strategi yang bertujuan untuk mewujudkan kriteria-kriteria tersebut.
Gambar II.5 Kedudukan kriteria-kriteria paradigma dalam dokumen RPJMD
Lebih lanjut penjabaran tahap verifikasi paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 disajikan secara berurutan dalam Tabel II.6
Visi Mis Tujua Sasaran Strategi
Kriteria-kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas
Tabel II.6 Verifikasi kriteria-kriteria Paradigma Transparansi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
1. Paradigma Transparansi
Kriteria-kriteria
Adakah Strategi RPJMD
Provinsi Jawa Barat
A. Terdapat sosialisasi mengenai tahapan
dan tata cara melakukan perencanaan
pembangunan daerah kepada
masyarakat.
X _
B. Terdapat sosialisasi mengenai peran dan
tanggung jawab kepala daerah beserta
perangkat daerah-nya (SKPD) kepada
masyarakat.
X _
C. Terdapat sosialisasi program kerja kepala
daerah (tahunan/periode) kepada
masyarakat.
X _
D. Terdapat informasi terkait proses
pelaksanaan program pembangunan
yang lengkap, mudah dijangkau dan
tepat waktu kepada masyarakat.
X _
E. Terdapat informasi terkait hasil dan
evaluasi pembangunan yang lengkap,
mudah dijangkau dan tepat waktu
kepada masyarakat.
X _
F. Terdapat Informasi kepada masyarakat
tentang harta kekayaan kepala daerah
beserta perangkat daerahnya (SKPD).
X _
G. Terdapat Informasi terkait dengan
pelayanan publik (pembuatan imb,
pelayanan pajak, kependudukan, dll)
yang lengkap, mudah dijangkau dan
tepat waktu.
∨
Hal ini didukung dengan adanya 3 (tiga) strategi yang mendorong terwujudnya kriteria tersebut :
Mengembangkan data dan
informasi spasial Jawa Barat yang
handal, efektif dan efisien,
Meningkatnya penggunaan
1. Paradigma Transparansi
Kriteria-kriteria
Adakah Strategi RPJMD
Provinsi Jawa Barat
dalam pelayanan publik menuju
cyber province,
Meningkatnya sarana dan
prasarana untuk mendukung
pelayanan kepada masyarakat,
antara lain melalui pengembangan
pilihan layanan bergerak (Mobile
Services Option). Keterangan: 1. Simbol checklist (V) = Ada (+)
2. Simbol (X) = Tidak (-)
Berdasarkan Tabel II.6 di atas, diketahui bahwa dalam RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 hanya ditemukan 3 strategi yang dapat mendorong mewujudkan satu kriteria dalam paradigma transparansi, yakni kriteria G (Terdapat Informasi terkait dengan pelayanan publik (pembuatan imb, pelayanan pajak, kependudukan, dll) yang lengkap, mudah dijangkau dan tepat waktu). Sementara itu tidak ditemukan strategi yang dapat mendorong terwujudnya kriteria A, B, C, D, E, dan F. Adapun penjelasan mengenai 3 strategi yang mendorong mewujudkan kriteria G adalah sebagai berikut:
Strategi dalam RPJMD :
publik menuju cyber province.
service (pembuatan IMB, pelayanan pajak, kependudukan, dll). Dengan demikian strategi ini mendorong terwujudnya kriteria G dalam paradigma transparansi.
Strategi peningkatan infrastruktur pelayanan masyarakat melalui layanan bergerak sudah tentu akan menciptakan informasi tentang pelayanan publik yang lebih menjangkau masyarakat desa, karena tidak semua wilayah dapat dijangkau oleh jaringan listrik dan internet, sehingga layanan yang bersifat mobile akan sangat mendorong distribusi informasi kepada masyarakat. Dengan demikian strategi ini mendorong terwujudnya kriteria G dalam paradigma transparansi.
Tabel II.7 Verifikasi kriteria-kriteria Paradigma Akuntabilitas dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
A. Adanya penetapan target tahunan pada
seluruh indikator pembangunan.
X _
B. Adanya laporan kinerja setiap SKPD
yang dipublikasikan ke masyarakat.
∨
Hal ini didukung dengan adanya 2 (dua)
strategi yang mendorong terwujudnya
kriteria tersebut:
Mewujudkan kelembagaan pemerintah
daerah yang ideal
Mewujudkan pengelolaan keuangan
2. Paradigma Akuntabilitas strategi yang mendorong terwujudnya kriteria tersebut :
Meningkatnya kinerja aparatur;
Meningkatnya disiplin aparatur;
Mantapnya budaya aparatur yang
profesional dan cerdas.
D. Adanya laporan-laporan program
pembangunan yang mengacu pada
targetnya.
X _
E. Adanya peraturan yang menjelaskan
konsekuensi pelanggaran yang
dilakukan oleh perangkat daerah terkait
kinerja.
X _
Keterangan: 1. Simbol checklist (V) = Ada (+) 2. Simbol (X) = Tidak (-)
2 (dua) strategi yang mendorong mewujudkan kriteria B
Karena pemerintah daerah merupakan lembaga yang dibiayai dari uang rakyat, idealnya seluruh program dilaksanakan secara efektif dan efisien, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Dengan demikian strategi di samping ini mendorong terwujudnya kriteria B dalam paradigma akuntabilitas.
Mewujudkan pengelolaan
keuangan daerah yang akuntabel
Setiap lembaga pemerintahan di daerah sebagai pengguna anggaran pembangunan dapat melaksanakan program sesuai dengan target yang ditetapkan jika didukung dengan adanya pengelolaan keuangan yang akuntabel. Dengan demikian kinerja setiap lembaga sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara lembaga tersebut mengelola anggaran pembangunan. sehingga strategi ini mendorong terwujudnya kriteria B dalam paradigma akuntabilitas.
3 (tiga) strategi yang mendorong mewujudkan kriteria C
Strategi dalam RPJMD : Meningkatnya kinerja
aparatur.
Penjelasan naratif:
Meningkatnya kinerja, disiplin serta mantapnya budaya aparatur yang profesional dan cerdas merupakan modal untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih (clean government). Peningkatan kualitas ketiga unsur tersebut tentu tidak dapat diwujudkan secara instan, melainkan melalui proses gradual, dimana memerlukan pendekatan edukatif yang bersifat pembinaan. Sehingga pemahaman aparatur dan perubahan yang terjadi bersifat longterm. Dengan demikian ketiga strategi di samping ini mendorong terwujudnya kriteria C dalam paradigma akuntabilitas. Meningkatnya disiplin
aparatur.
Mantapnya budaya aparatur
Tabel II.8 Verifikasi kriteria-kriteria Paradigma Partisipasi yang dikaitkan dengan strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
3. Paradigma Partisipasi
masyarakat untuk berpartisipasi dalam
proses perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan.
∨
Hal ini didukung dengan adanya 5 (lima) strategi yang mendorong terwujudnya kriteria tersebut :
Meningkatnya partisipasi masyarakat
dalam Pemilu;
Meningkatnya frekuensi keterlibatan
masyarakat dalam penetapan
kebijakan;
Mewujudkan kemitraan pemerintah,
swasta dan masyarakat dalam
pembangunan;
Meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam tramtibmas.
B. Adanya media yang memungkinkan
publik merespon (memberikan
feedback) hasil dan evaluasi dari
D. Adanya sosialisasi mengenai bentuk,
peran dan tata cara partisipasi
masyarakat dalam pembangunan
daerah.
X _
Berdasarkan Tabel II.8 di atas, diketahui bahwa dalam RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 hanya ditemukan 4 (empat) strategi yang dapat mendorong mewujudkan satu kriteria dalam paradigma partisipasi, yakni kriteria A (Adanya media yang memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan). Sementara itu tidak ditemukan strategi yang dapat mendorong terwujudnya kriteria B, C, dan D. Adapun penjelasan mengenai empat strategi yang mendorong mewujudkan kriteria A adalah sebagai berikut:
Strategi dalam RPJMD : Meningkatnya partisipasi
masyarakat dalam Pemilu;
Penjelasan naratif:
Peningkatan partisipasi masyarakat dalam Pemilu tentu dapat terwujud dengan adanya keragaman jenis media yang digunakan sebagai sarana masyarakat dalam berpartisipasi. Pemilu sendiri merupakan rangkaian dari proses pembangunan, sehingga strategi ini mendorong terwujudnya kriteria A dalam paradigma partisipasi. Meningkatnya frekuensi
keterlibatan masyarakat dalam penetapan kebijakan;
Strategi di samping, sudah tentu mendukung terwujudnya proses partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Kemudian, karena terdapat perbedaan kemampuan masyarakat dalam menjangkau media partisipasi, maka strategi peningkatan frekuensi partisipasi ini tentu mendorong penggunaan media yang beragam (media tatap muka, media virtual, dll). Dengan demikian strategi di samping ini mendorong terwujudnya kriteria A dalam paradigma partisipasi.
Mewujudkan kemitraan
pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pembangunan;
Strategi disamping tentu akan mendorong terciptanya keragaman media yang digunakan sebagai sarana untuk memfasilitasi kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Dengan terwujudnya kemitraan tersebut, pihak swasta dan masyarakat dapat berperan lebih dalam proses pembangunan, dalam hal ini peran partisipatif akan lebih besar. Dengan demikian strategi di samping ini mendorong terwujudnya kriteria A dalam paradigma partisipasi.
Meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam tramtibmas.
2.4.2 Rekapitulasi Hasil Verifikasi dari Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam
Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Mengacu pada Tabel II.6, Tabel II.7 dan Tabel II.8 dalam sub bab sebelumnya, diperoleh hasil bahwa kriteria paradigma transparansi yang terakomodasi dalam Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 sebanyak 1 (satu) kriteria dari 7 (tujuh) kriteria, kemudian paradigma partisipasi terakomodasi 1 (satu) kriteria dari 4 (empat) kriteria, sedangkan paradigma akuntabilitas terakomodasi 2 (dua) dari 5 (lima) kriteria.
Setelah diketahui hasil tersebut, tahap selanjutnya dilakukan penyederhanaan. Penyederhanaan ini ditentukan dengan cara melihat dominasi dari kumpulan kriteria yang terakomodasi dari masing-masing paradigma.Adapun langkahpenyederhanaan ini dijabarkan sebagai berikut:
a) Pada paradigma transparansi, hasil yang terbentuk adalah 1 positif dan 6 negatif. Karena dominasi yang terbentuk adalah negatif, maka paradigma transparansi tidak terakomodasi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
b) Pada paradigma partisipasi, hasil yang terbentuk adalah 1 positif dan 3 negatif. Karena dominasi yang terbentuk adalah negatif, maka paradigma partisipasi tidak terakomodasi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
c) Pada paradigma akuntabilitas, hasil yang terbentuk adalah 2 positif dan 3 negatif. Karena dominasi yang terbentuk adalah negatif, maka paradigma akuntabilitas tidak terakomodasi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
Tabel II.9 Hasil penyederhanaan tahap verifikasi kriteria ketiga paradigma dengan strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
No Paradigma Strategi RPJDM Provinsi Jawa
Barat Tahun 2008-2013
1 Transparansi X
2 Partisipasi X
3 Akuntabilitas X
Keterangan:
2.4.3 Contoh Penjabaran Kriteria Paradigma Transparansi, Akuntabilitas dan Partisipasi ke dalam
Strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Dalam pembahasan sub bab 2.4.1 tentang verifikasi kriteria paradigma transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013, diketahui bahwa terdapat beberapa kriteria yang tidak terakomodasi ke dalam strategi. Pada pembahasan sub bab ini diuraikan contoh penjabaran kriteria yang tidak terakomodasi tersebut ke dalam strategi RPJMD.
1. Paradigma Transparansi Kriteria:
A. Terdapat sosialisasi e ge ai tahapa da tata ara elakuka pere a aa pe a gu a daerah kepada asyarakat , dapat dija arka ke dala strategi sebagai berikut:
Melakukan difusi mengenai tahapan dan tata cara pembangunan daerah kepada seluruh
elemen masyarakat dengan menggunakan media/instrumen yang efektif dan efisien. Mengukur indeks pemahaman masyarakat terhadap tahapan dan tata cara perencanaan
pembangunan daerah.
B. Terdapat sosialisasi e ge ai pera da ta ggu g ja a kepala daerah eserta pera gkat daerah- ya “KPD kepada asyarakat , dapat dija arka ke dala strategi se agai erikut: Menjadikan PNS daerah sebagai petugas Public Relation Pemda yang dapat menjelaskan
informasi-informasi dasar terkait peran dan tanggung jawab kepala daerah beserta perangkat daerahnya kepada masyarakat.
C. Terdapat sosialisasi progra kerja kepala daerah tahu a /periode kepada asyarakat , dapat dijabarkan ke dalam strategi sebagai berikut:
Menjamin terciptanya pemahaman masyarakat terhadap program kerja kepala daerah.
D. Terdapat i for asi terkait proses pelaksa aa progra pe a gu a ya g le gkap, udah dija gkau da tepat aktu kepada asyarakat , dapat dijabarkan ke dalam strategi
sebagai berikut:
Mengoptimalkan sistem informasi daerah sebagai media updating informasi seluruh
proses pelaksanaan pembangunan daerah.
Mengkoordinasikan SKPD untuk melakukan update informasi per caturwulan terkait
E. Terdapat i for asi terkait hasil da e aluasi pe a gu a ya g le gkap, udah dija gkau dan tepat waktu kepada masyarakat , dapat dija arka ke dala strategi se agai erikut:
Menjamin adanya publikasi segala bentuk laporan evaluasi pembangunan kepada
masyarakat dengan menggunakan media yang efektif dan efisien.
F. Terdapat I for asi kepada asyarakat te ta g harta kekayaan kepala daerah beserta pera gkat daerah ya “KPD , dapat dija arka ke dala strategi se agai erikut:
Menjalin kerjasama dengan media massa lokal dalam menyebarkan informasi terkait
harta kekayaan pejabat daerah setiap semester kepada masyarakat selama satu periode kepemimpinan kepala daerah.
2. Paradigma Akuntabilitas
Kriteria:
A. Ada ya pe etapa target tahu a pada seluruh i dikator pe a gu a , dapat dija arka ke dalam strategi sebagai berikut:
Meningkatkan kerjasama setiap SKPD dengan perguruan tinggi dan LSM dalam
merumuskan program-program beserta penetapan target yang terukur dan realistis sesuai dengan sumberdaya SKPD.
Memastikan tercantumnya target tahunan pada seluruh indikator yang dapat
dipertanggung jawabkan.
B. Ada ya lapora ki erja setiap “KPD ya g dipu likasika ke asyarakat , dapat dija arka ke dalam strategi sebagai berikut:
Menjamin adanya publikasi laporan evaluasi tahunan kinerja dari seluruh SKPD yang
disampaikan kepada masyarakat.
D. Adanya laporan-lapora progra pe a gu a ya g e ga u pada target ya , dapat dijabarkan ke dalam strategi sebagai berikut:
Memastikan bahwa realisasi program di setiap SKPD mengacu pada target yang telah
ditentukan.
Memastikan adanya penjelasan logis dan rasional dari setiap SKPD jika terdapat laporan
Intensifikasi kerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat dalam merumuskan
kebijakan reward and punishment bagi PNS daerah.
Responsif dalam menindak pelanggaran pegawai serta responsif dalam memberi reward
atas prestasi pegawai.
3. Paradigma Partisipasi
Kriteria:
B. Adanya media yang memungkinkan publik merespon (memberikan feedback) hasil dan evaluasi dari pe a gu a , dapat dija arka ke dala strategi se agai erikut:
Menjamin adanya respon terhadap seluruh feedback dari masyarakat terkait hasil
evaluasi dari program pembangunan.
C. Ada ya peratura ya g e gatur partisipasi asyarakat , dapat dija arka ke dalam strategi sebagai berikut:
Membangun regulasi tentang bentuk partisipasi masyarakat yang dapat mengurangi
potensi penyalahgunaan wewenang pemerintah daerah, potensi kesalahan pembuatan kebijakan dan dapat mendorong kemajuan pembangunan daerah.
D. Adanya sosialisasi mengenai bentuk, peran dan tata cara partisipasi masyarakat dalam pe a gu a daerah , dapat dija arka ke dala strategi se agai erikut:
Meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap bentuk tindakan partisipatif yang tertib,
2.5 Analisis Implementasi kriteria-kriteria Paradigma Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas
yang terakomodasi dalam strategi RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013
Pada pembahasan sub bab 2.4 telah diketahui bahwa dalam paradigma transparansi dan partisipasi masing-masing terdapat 1 (satu) kriteria yang terakomodasi, sedangkan dalam paradigma akuntabilitas terdapat 2 (dua) kriteria yang terakomodasi. Hal ini ditandai dengan adanya strategi-strategi dalam RPJMD yang mendukung terwujudnya kriteria-kriteria tersebut. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa strategi kemudian direalisasikan ke dalam bentuk program-program dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, untuk mengetahui implementasi kriteria-kriteria paradigma yang terakomodasi dalam RPJMD, pada sub bab ini dijabarkan mengenai program-program dari strategi, dan indikator (target, realisasi) yang telah ditetapkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam kurun waktu tahun 2009-2013. Adanya data realisasi indikator mengindikasikan bahwa program tersebut telah diimplementasikan, sementara itu jika tidak ditemukan data realisasi indikator, maka program tidak diimplementasikan. Kemudian dengan membandingkan realisasi dengan target indikator, dapat diketahui bagaimana kinerja pemerintah dalam mengimplementasikan program-program dari strategi tersebut (Permendagri 54/2010). Untuk membantu memahami keterkaitan tahap ini dengan tahapan sebelumnya, disajikan penjelasan pada Gambar II.6 di bawah ini.
Gambar II.6 Ilustrasi tahapan identifikasi, verifikasi dan analisis implementasi
program tersebut. Program dan indikator ini telah ditetapkan dalam dokumen RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 pada Bab VII tentang Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah, sehingga perlu digaris bawahi, bahwa apa yang telah ditetapkan dalam RPJMD menjadi kewajiban untuk dijalankan dan memiliki keterikatan baik secara administratif (anggaran dan SKPD penanggung jawab) maupun secara hukum (Perda).
Kemudian pada kolom 4 dalam Tabel II.10 disajikan target dan capaian indikator kinerja. Target yang dimaksud tercantum dalam dokumen RPJMD, menyatu dengan penjelasan program dan indikator, sedangkan capaian indikator merupakan hasil dari pelaksanaan program yang seharusnya tercantum dalam dokumen-dokumen laporan hasil pembangunan Jawa Barat tahun 2009-2013 (LAKIP, LPPD, LKPJ, Jabar Dalam Angka) jika program yang dimaksud benar-benar diimplementasikan oleh pemerintah daerah. Isi dari masing-masing dokumen tersebut dijelaskan secara singkat berikut ini:
Lakip
Memuat laporan yang membandingkan perencanaan dan hasil. Lakip bermanfaat sebagai dokumen evaluasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah terhadap instansinya sendiri sehingga pimpinan instansi tersebut dapat mengevaluasi kinerja dari instansi yang dipimpinnya selama 1 tahun anggaran.
LPPD
Memuat (a) ringkasan RKPD, kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaan; (b) penyelenggaraan urusan wajib; (c) penyelenggaraan urusan pilihan.
LKPJ
Adalah laporan informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran atau akhir masa jabatan yang disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD.
JDA
Jabar Dalam Angka adalah publikasi BPS yang menyajikan data dari berbagai bidang baik dari hasil sensus maupun survei serta data sekunder yang dihimpun dinas/instansi/ perusahaan yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Paradigma Transparansi
Tabel II.10 Penjabaran strategi ke program, serta capaian indikator kinerja pada kriteria paradigma transparansi yang terakomodasi dalam RPJMD
1 2 3 4
Paradigma Transparansi
Program
Indikator
Kinerja
Target dan Capaian Indikator Kinerja
Kriteria yang
terakomodasi
Strategi 2009 2010 2011 2012 2013
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
G. Terdapat
menuju cyber province.
Meningkatnya sarana
(Mobile Services Option).
Dalam Tabel II.10 terlihat bahwa program dari strategi-strategi yang mewujudkan kriteria G pada paradigma transparansi tidak diimplementasikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal ini karena tidak ditemukannya data realisasi terkait program tersebut dalam dokumen LKPJ, LPPD, Lakip dan JDA tahun 2009-2013. Sementara itu informasi yang ditemukan hanyalah pencantuman target indikator pada tahun 2010, 2011, 2012 pada dokumen RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.
Kondisi ini sangat ironis, mengingat di dalam dokumen RPJMD hanya terdapat 3 (tiga) strategi yang mendorong terwujudnya kriteria paradigma transparansi, dan program dari ketiga strategi itupun ternyata tidak di implementasikan. Sehingga menjadi suatu hal yang wajar jika Forum Advokasi Keterbukaan Infomasi Jawa Barat, menggelar unjuk rasa untuk menyuarakan kurangnya transparansi pelaksanaan pembangunan di Jawa Barat. Ben Satriana selaku ketua forum mengatakan "keterbukaan yang dilakukan pemerintah Jawa Barat sangat minim, padahal sebagai lembaga publik, mereka wajib menyampaika i for asi kepada asyarakat Gala edia. o , 9/9/ 4 . Bahkan DPRD Provinsi Jawa Barat pun mengeluhkan sulitnya mengakses informasi terkait penggunaan anggaran oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Deden Hermawan sebagai anggota banggar e gataka DP‘D saja sulit e gakses daftar pelaksa aa a ggara , apalagi asyarakat u u (Antara.com, 29/8/2014).
Beberapa hal penyebab tidak transparannya pelaksanaan pembangunan di Provinsi Jawa Barat antara lain adalah;
1. Terdapat kekeliruan pemahaman konsep transparansi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal ini dapat diketahui berdasarkan Perda No.11/2011 Tentang Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam pasal 11 disebutkan bahwa untuk dapat memperoleh informasi publik, masyarakat harus mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada penyelenggara pemerintah daerah dengan cara tertulis atau tidak tertulis, dengan melengkapi identitas diri disertai dengan alasan permohonan.
pelaksanaan pembangunan dengan mudah dan cepat, atau dengan kata lain peraturan tersebut membatasi akses masyarakat untuk mengawasi proses pembangunan. Misalnya, bagaimana para petani di Jawa Barat dapat mengetahui keseluruhan informasi spesifik realisasi anggaran program-program pertanian jika harus melalui tahapan permohonan seperti itu?
Kemudian dalam perspektif pendidikan masyarakat Jawa Barat yang masih masih rendah, (Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi sebesar 15,19% (2012), Angka Partisipasi Kasar SMA sebesar 67% (2012)), seharusnya pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan transparansi yang inklusif dengan prinsip menyebarkan informasi publik. Bahkan idealnya melakukan difusi terhadap berbagai informasi publik, yang tidak terbatas pada data-data, melainkan juga meliputi pengetahuan tentang sistem perencanaan pembangunan, hasil-hasil evaluasi kinerja setiap SKPD, evaluasi tahunan rencana pembangunan, evaluasi mid-term rencana pembangunan dan informasi lainnya kepada masyarakat. Hal tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan sense of belonging masyarakat terhadap pemerintah daerah, yang kemudian terbentuk masyarakat yang kritis, aktif dan responsif dalam proses pembangunan.
2. Kurangnya komitmen dari kepala daerah selaku pemegang kekuasaan eksekutif yang memiliki kewenangan luas menentukan arah pembangunan daerah serta memiliki control penuh terhadap seluruh jajaran SKPD untuk menjadikan transparansi sebagai isu prioritas dan menjabarkannya menjadi sasaran, strategi dan program konkret ke dalam RPJMD.
Paradigma Akuntabilitas
Tabel II.11 Penjabaran strategi ke program, serta capaian indikator kinerja pada kriteria paradigma akuntabilitas yang terakomodasi dalam RPJMD
1 2 3 4
Paradigma Akuntabilitas
Program Indikator Kinerja
Target dan Capaian Indikator Kinerja
Kriteria yang
terakomodasi Strategi
2009 2010 2011 2012 2013
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
Dalam tabel II.11 dapat diketahui bahwa program dari strategi-strategi yang mendorong terwujudnya kritria B dan C pada paradigma akuntabilitas tidak diimplementasikan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya data realisasi indikator program tersebut dalam dokumen LKPJ, LPPD, Lakip, dan JDA tahun 2009-2013. Kondisi tersebut sejalan dengan adanya pemberian predikat CC (skor 63,98) dari Menpan dalam hal akuntabilitas kinerja pembanguan Jawa Barat tahun 2013 yang bermakna belum berkinerja baik. Asisten Daerah bidang Administrasi Setda Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa mengatakan bahwa terdapat beberapa catatan dari Menpan terkait predikat yang diberikan kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat, antara lain: (1) belum dilakukannya pemantauan mengenai kemajuan pencapaian kinerja beserta hambatannya; (2) belum dilakukannya evaluasi program dalam rangka menilai keberhasilan program; (3) melengkapi indikator kinerja tujuan, dan target jangka menengah yang akan dipergunakan untuk mengukur keberhasilan; (4) menyempurnakan rumusan indikator kinerja dalam dokumen perencanaan di tingkat SKPD agar lebih terukur dan menggambarkan hasil; (5) menggunakan RPJMD sebagai acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan tahunan dan Penetapan kinerja; (6) melakukan pemantauan secara berkala terhadap pencapaian target-target kinerja yang telah diperjanjikan (inilah.com, 21/12/2014).
Paradigma Partisipasi
Tabel II.12 Penjabaran strategi ke program, serta capaian indikator kinerja pada kriteria paradigma partisipasi yang terakomodasi dalam RPJMD
1 2 3 4
Paradigma Partisipasi
Program Indikator
Kinerja
Target dan Capaian Indikator Kinerja
Kriteria yang
terakomodasi Strategi
2009 2010 2011 2012 2013
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi