• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH SISTEM PENCERNAAN IKAN Dan Kelenjar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH SISTEM PENCERNAAN IKAN Dan Kelenjar"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BIOKIMIA

SISTEM PENCERNAAN IKAN

MAKALAH

Kelompok 10

Egi Sahril 230110140089 Mencari Bahan Makalah Ayunani Agustina 230110140095 Mencari Bahan Makalah

dan Meyusun Makalah Intan Nadifah 230110140096 Mencari Bahan Makalah Rifqi Abdurohman 230110140114 Membuat Bab I

Pendahuluan

Rizki Ayu R 230110140121 Mencari Bahan Makalah Ivan Maulana Putra 230110140124 Membuat Power Point

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI PERIKANAN

JATINANGOR

(2)

i KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami

dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Sistem Pencernaan Ikan”. Tujuan

penulisan laporan praktikum ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas

praktikum mata kuliah Biokimia.

Makalah ini membahas mengenai sistem pencernaan ikan meliputi saluran

pencernaan dan kelenjar pencernaan, serta proses pencernaan dan penyerapan

sari-sari makanan. Selain itu juga membahas mengenai kelompok-kelompok ikan

berdasarkan jenis makanannya.

Pada kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dosen mata kuliah Biokimia ;

2. Seluruh anggota kelompok 10 ;

3. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Demikianlah harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi

kami dan juga pembaca tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca

untuk perbaikan makalah selanjutya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.

Jatinangor, Oktober 2015

(3)

ii DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 4

2.1 Sistem Pencernaan Ikan ... 4

2.1.1 Saluran Pencernaan ... 5

2.1.2 Kelenjar Pencernaan... 13

2.2 Mekanisme Pencernaan ... 15

2.3 Mekanisme Penyerapan Sari-Sari Makanan ... 16

2.4 Kelompok Ikan Berdasarkan Jenis Makanannya ... 17

BAB III KESIMPULAN ... 20

(4)

2 BAB I

PENDAHULUAN

Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat

poikilotermis (berdarah dingin), memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang

dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan

memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip

untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau

gerakan air yang disebabkan oleh arah angin.

Ikan membutuhkan materi (nutrien) dan energi untuk aktifitas

kehidupannya. Nutrien yang dibutuhkan dalam hal ini berupa protein, lemak, dan

karbohidrat. Selain itu, ikan juga membutuhkan vitamin dan mineral dalam

jumlah yang memadai. Sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral

diperoleh ikan dari luar, yaitu dengan mengkonsumsi makanan (pakan). Untuk

mengkonsumsi makanan maka ikan memerlukan sistem pencernaan agar bahan

tersebut dapat diproses. Layaknya hewan pada umumnya ikan juga mepunyai

sistem pencernaan sesuai dengan makanan dan lingkungannya.

Pencernaan adalah prosess penyederhanaan makanan melalui mekanisme

fisik dan kimiawi sehingga makanan menjadi bahan yang mudah diserap dan

diedarkan keseluruh tubuh melalui sistem peredaran darah. Pencernaan secara

fisik atau mekanik dimulai dibagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi

dalam proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik

ini dilanjutkan ke segmen lambung dan usus yaitu dengan adanya gerakan

kontraksi otot. Pencernaan mekanik pada segmen ini terjadi secara efektif karena

adanya aktivasi cairan digestif.

Ikan ada yang tergolong dalam herbivora atau pemakan tumbuhan, ada

pula yang karivora yaitu pemakan daging, bahkan ikan pula ada yang omnivora

yang memakan keduanya. Tentu perbedaan tersebut menyebabkan sistem

pencernaan yang berbeda di setiap ikan yang jenis makanannya berbeda.

Spesialisasi sistem pencernaan : 1). Ikan Herbivora mempunyai gigi dan

kemampuan tapis insang yang lembut, dapat menyaring fitoplankton dari air. Ikan

(5)

3 jaringan otot, mengekskresikan asam, mudah mengembang, terdapat pada bagian

muka alat pencernaan makanan. 2). Ikan Karnivora mempunyai gigi untuk

menyerap, menahan, merobek mangsa. Dan jari tapis insangnya menyesuaikan

untuk menahan, memegang, memarut, dan menggilas mangsa. Memiliki lambung

yang sesungguhnya, palsu dan usus pendek yang tebal dan efatis. 3). Ikan

(6)

4 BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistem Pencernaan Ikan

Gambar 1. Sistem Pencernaan Ikan

Ikan membutuhkan materi (nutrien) dan energi untuk aktifitas

kehidupannya. Nutrien yang dibutuhkan dalam hal ini berupa protein,

lemak, dan karbohidrat. Selain itu, ikan juga memerlukan vitamin dan

mineral dalam jumlah yang memadai. Sebagai organisme heterotrof, ikan

membutuhkan semua itu yang berasal dari makanan. Mencari makanan

bagi ikan merupakan kegiatan rutin keseharian, bahkan sebagian ikan

menghabiskan waktu untuk kegiatan ini. Sebagian besar ikan

mengembangkan organ agar dapat menemukan dan mendapatkan

makanan.

Pencernaan adalah suatu proses penyederhanaan makanan melalui

mekanisme fisik dan kimiawi sehingga menjadi bahan yang mudah diserap

dan disebarkan ke seluruh tubuh melalui sistem perdaran darah. Sistem

pencernaan meliputi organ yang berhubungan dengan pengambilan

makanan, mekanismenya, dan penyediaan bahan-bahan kimia, serta

pengeluaran sisa-sisa makanan yang tidak tercernakan keluar dari tubuh.

Dalam sistem pencernaan, terdapat organ-organ yang terlibat

dalam proses pencernaan makanan. Dilihat dari fungsinya, organ

pencernaan ikan dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu saluran

pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan adalah

(7)

5 makanan, sedangkan kelenjar pencernaan adalah organ-organ yang

berperan dalam menghasilkan cairan digestif yang digunakan dalam proses

pencernaan, yakni hati dan pankreas.

2.1.1 Saluran Pencernaan

Gambar 2. Saluran Pencernaan Ikan

Bila diurut secara berurutan dari awal makanan masuk ke

mulut sampai ke proses pencernaan dan selanjutnya sisa makanan

yang tidak dicerna dibuang dalam bentuk feses melalui anus, maka

organ yang termasuk saluran pencernaan terdiri atas mulut, rongga

mulut, tekak, kerongkongan, lambung, pylorus, usus, dan anus.

a) Mulut

Organ pertama yang berhubungan langsung dengan

makanan adalah mulut. Organ ini merupakan bagian depan

dari saluran pencernaan, berfungsi untuk mengambil

makanan yang biasanya ditelan bulat-bulat tanpa ada

perubahan. Lendir yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar dari

(8)

6 memperlancar proses penelanan makanan yang dibantu

oleh kontraksi otot dinding mulut.

Pada umumnya mulut ikan terletak di ujung depan

kepala, yang dinamakan tipe terminal. Pada ikan yang lain,

mulut terletak pada bagian atas (tipe superior), di bagian

bawah kepala (tipe inferior), dan ada pula dekat ujung

bagian kepala (tipe subterminal). Selain letak yang

berbeda-beda, bentuk mulut pun bermacam-macam. Bentuk dan

letak mulut ini sangat erat kaitannya dengan macam

makanan yang menjadi kesukaan ikan. Mulut tipe superior

mendapatkan makanan dari permukaan atau menunggu

pada dasar perairan untuk menangkap mangsa yang lewat

di atasnya.

Gambar 2. Tipe-Tipe Mulut Ikan :

A. Terminal; B. Subterminal; C. Superior

Ukuran mulut ikan dapat memberikan petunjuk

terhadap kebiasaan makan, terutama bila dikaitkan dengan

ukuran dan tempat gigi berada. Ikan-ikan cucut dilengkapi

dengan mulut yang lebar dan gigi tajam, yang menandakan

mereka termasuk golongan predator terhadap mangsa yang

berukuran agak besar yang mungkin bisa ditelan seutuhnya.

Beberapa ikan cucut mempunyai pengaturan gigi yang

menjadikan mereka dapat menggigit gumpalan besar

binatang yang terlalu besar untuk ditelan begitu saja.

Demikian pula dengan ikan baraccuda ( Sphyraena) dan

(9)

7 Ikan yang menelan sepotong kecil makanan

biasanya mempunyai bibir yang relative kecil tanpa

modifikasi. Pada ikan yang mendapatkan makanan dengan

cara mengisap, mereka mempunyai mulut tipe inferior dan

bibir yang berdaging tebal. Bibir pengisap ikan perenang

bebas berfungsi sebagai organ pencekram batu atau benda-

benda lain pada sungai berarus deras misalnya,

Glyptosternus, Gyrinocheilus, dan beberapa anggota family

Loricariidae (Lagler et al., 1997). Pada ikan lamprey yang

parasitic, mulut pengisap tak berahang bertindak sebagai

sebagai alat pencengkram agar menempel pada inangnya

dan mengambil makanan dari inangnya.

Gambar 3. Berbagai Bentuk Mulut Ikan : A. Mulut yang dapat

disembulkan; B. Mulut Gergaji; C. Mulut Tabung

Mulut seringkali dilengkapi dengan sungut yang

bentuk dan jumlahnya sangat bervariasi. Sungut ini

berfungsi sebagai alat peraba ketika ikan tersebut mencari

makan. Sungut dilengkapi dengan saraf, untuk menemukan

makanan di antara material yang ada.

Adaptasi terhadap makanan juga terjadi pada gigi.

(10)

8 gigi sebenarnya, sebab hewan ini mempunyai gigi tanduk

yang dihasilkan oleh epidermis. Gigi sebenarnya homolog

dengan sisik placoid, yang mungkin timbul dari sisik yang

menutupi bibir seperti pada ikan hiu muda (Squaliformes)

dimana sisik placoid menjadi gigi pada rahang.

Osteichtheys mempunyai tiga jenis gigi berdasarkan tempat

tumbuhnya: rahang, rongga mulut, dan pharyngeal.

Di daerah rahang gigi tumbuh pada premaxilla,

maxilla, dan dentary. Pada langit-langit rongga mulut, gigi

terdapat pada vover, palatine, pterygoid, dan

parasphenoid. Gigi pharyngeal terdapat pada elemen

lengkung insang pada banyak species ikan. Gigi pharyngeal

family Cyprinidae dibedakan menjadi beberapa bentuk

yaitu: Cardiform, villiform, canine, incisor, comb-like

teeth, dan molariform. Gigi cardiform berbentuk pendek,

tajam dan runcing. Bentuk ini didapatkan pada family

Ichtaluridae dan Serranidae. Gigi villiform mirip dengan

gigi cardiform, hanya lebih panjang dan memberikan

gambaran seperti rumbai-rumbai, misalnya pada Belone

dan Pterois. Gigi canine menyerupai gigi anjing,

seringkali berbentuk taring; bentuknya panjang dan

mengerucut, lurus atau melengkung dipergunakan untuk

mencengkram. Gigi incisor mempunyai pinggiran yang

tajam yang disesuaikan untuk memotong. Bentuk gigi

yang mempunyai permukaan rata digunakan untuk

menumbuk dan menggerus, termasuk gigi molariform.

Bentuk gigi ini misalnya dipunyai oleh Raja Holocephali

(11)

9 Gambar 4. Tipe-Tipe Gigi Ikan

b) Tekak

Tekak terletak antara mulut bagian belakang dan

insang bagian belakang. Pada sisi kanan dan kiri tekak

terdapat insang. Pada dinding atas dan bawah tekak,

biasanya terdapat gigi tekak.

c) Insang

Insang terletak tepat di belakang rongga mulut, di

dalam pharynx. Umumnya terdapat empat pasang pada ikan

bertulang sejati, sedangkan pada ikan Chodrichthyes

mempunyai lima sampai tujuh pasang lengkung insang.

Tapis insang melindungi filamen insang yang lembut dari

kikisan material makanan yang dimakan keluar melalui

insang.

Ikan-ikan yang memakan mangsa besar, mempunyai

tapis insang yang berukuran besar dan jumlahnya sedikit.

Pada ikan-ikan pemakan plankton, tapis insangnya

ramping, memanjang, dan jumlahnya banyak. Jari-jari tapis

(12)

10 omnivora. Tampak adanya kaitan yang erat antara jenis

makanan dengan bentuk dan jumlah jari-jari tipis insang.

d) Kerongkongan

Esophagus ikan biasa disebut kerongkongan.

Bentuknya pendek dan mempunyai kemampuan untuk

menggelembung. Organ ini merupakan lanjutan pharinx,

bentuknya seperti kerucut dan terdapat di belakang daerah

insang. Kemampuan menggelembung organ ini tampak

jelas pada ikan predator yang mampu menelan makanan

yang relative besar ukurannya. Sedangkan ikan-ikan

pemakan jasad kecil mempunyai kemampuan untuk

menggelembung yang kurang dibanding dengan ikan

predator. Karena adanya kemampuan menggelembung

inilah, maka jarang terjadi seekor ikan sampai mati bila

makan suatu makanan yang melalui mulutnya tetapi tidak

dapat ditelan.

Pinggiran esophagus terdiri dari epithelium yang

berlapis-lapis dan columnar, dengan sejumlah sel atau

kelenjar lendir. Dinding esophageal delengkapi secara

khusus dengan lapisan otot yang berhubungan dengan

esophagus. Kantung esophageal berfungsi sebagai

penghasil lendir, gudang makanan, dan penggilingan

makanan. Pada ikan belut, Monopterus albus, esophageal

dimodifikasimenjadi alat pernapasan tambahan.

e) Lambung

Lambung (ventriculus) atau perut besar adalah

lanjutan dari esophagus. Lambung menunjukkan beberapa

adaptasi, diantaranya adalah adaptasi dalam bentuknya.

Pada ikan pemakan ikan, lambung semata-mata berbentuk

memanjang seperti pada ikan gar (Lepisosteus), bowfi

(Amia), pike (Esox), barracuda (Sphyraena ) dan striped

(13)

11 lambung terbentuk seperti kantung. Pada ikan belanak

(Mugil), lambung bermodifikasi menjadi alat penggiling.

Lambung tersebut berukuran kecil, tetapi dindingnya tebal

dan berotot. Pada Saccopharyngidae dan Eupharyngidae,

lambung mempunyai kemampuan menggelembung yang

besar sehingga memungkinkan ikan-ikan ini memakan

mangsa yang relative besar.

Sebagain besar ikan mempunyai lambung. Namun,

lambung tidak terdapat pada lamprey, hagfish, chimaera

dan beberapa ikan bertulang sejati (Cyprinidae,

Scomberesocoidae , dan Scaridae). Pada ikan-ikan tersebut

kelenjar lambung tidak ada, dan makanan dari esophagus

langsung ke usus. Adanya lambung dapat dicirikan oleh

rendahnya pH dan adanya pepsine di antara getah

pencernaan. Pada beberapa ikan seringkali bagian depan

ususnya membesar menyerupai lambung sehingga bagian

ini dinamakan lambung palsu, misalnya pada ikan mas

(Cyprinus carpio).

Pada beberapa spesies tertentu, pada akhir

ventrikulus terdapat tonjolan-tonjolan sebagai kantong

buntu disebut appendices pyloricae, yang berguna untuk

memperluas permukaan dinding ventriculus agar

pencernaan dan penyerapan makanan dapat lebih sempurna.

f) Pilorik

Di antara lambung dan usus terdapat pilorik yang

merupakan penyempitan saluran pencernaan. Pada bagian

ini terdapat penebalan otot licin melingkar. Pilorik

berfungsi mengatur pengeluaran makanan dari lambung dan

masuk ke usus. Pada beberapa jenis ikan, seperti Mugilidae,

di bagian depan usus terdapat kantung menjari yang

dinamakan pilorik kaeka. Struktur histologis organ ini sama

(14)

12 pencernaan dan penyerapan makanan terutama lemak.

Pilorik kaeka merupakan sumber lipase yang memecah

lemak menjadi asam lemak dan gliserin. Jumlah bentuk

pilorik kaeka sangat bervariasi.

g) Usus

Usus berada di antara pilorik dan rektum. Usus

terdiri atas beberapa lapisan yakni mukosa, submukosa,

muskulus, dan serosa. Pada lapisan lukosa terdapat sel

goblet (mucocyte) yang memiliki mikrovilli pada bagian

permukaannya. Fungsi usus sebagai organ untuk mencerna

makanan, juga sebagai tempat penyerapan makanan.

Efektifitas penyerapan meningkat dengan semakin luasnya

area penyerapan.

Usus merupakan suatu bagian dari saluran

pencernaan mulai dari pylorus sampai di kloaka atau anus.

Usus mempunyai banyak variasi pula, umumnya berbentuk

seperti pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya,

berakhir dan bermuara keluar, sebagai lubang anus. Usus

diikat (difixer) oleh suatu alat penggantung, mesentrum

yang merupakan derivat dari pembungkus rongga perut

(peritonium).

h) Rektum dan anus

Di belakang usus terdapat segmen rektum. Rektum

ini terletak di antara katup rektum (rektal valveI) dan anus.

Katup rektum yang merupakan penyempitan saluran

pencernaan akibat penebalan otot licin melingkar, mengatur

pengeluaran makanan yang tidak tercerna dari bagian usus

ke bagian rektum. Rektum mempunyai struktur histologis

yang serupa dengan usus, namun pada lapisan mukosanya

banya terdapat sel mucus dan di bagian belakang dekat anus

lapisan otonya terdiri atas otot bergaris. Fungsi utama

(15)

13 lendir untuk mempermudah pengeluaran makanan tak

tercerna.

Bagian terakhir dari saluran pencernaan adalah

anus, yang berfungsi untuk mengeluarkan tinja. Bagian ini

terletak di belakang sirip ventral dan tepat di depan sirip

anal.

2.1.2 Kelenjar Pencernaan

Kelenjar pencernaan atau glandula digestoria berfungsi

dalam proses pencernaan terdiri atas hati, pankreas dan kantong

empedu.

Gambar 5. Kelenjar Pencernaan pada Ikan

a) Hati

Hati adalah salah satu kelenjar pencernaan. Organ

ini umumnya terletak di depan lambung di bawah

kerongkongan memanjang sampai di belakang usus. Hati

atau hepar besar, berwarna merah kecoklatan.

Hati termasuk organ yang besar pada ikan, bahkan

pada ikan cucut dan ikan pari biasa mencapai 20 % bobot

tubuhnya. Biasanya hati berjumlah dua buah, tetapi

mungkin hanya satu seperti pada ikan salmon, atau tiga

seperti pada mackerel. Pada hati terdapat kantung empedu

yang mengeluarkan cairan empedu. Cairan empedu ini

masuk ke dalam saluran pencernaan makanan pada daerah

(16)

14 Fungsi hati yaitu sekresi empedu. Selain itu, hati

juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan lemak dan

glikogen. Fungsi selanjutnya adalah dalam perusakan sel

darah merah dan kimiawi darah seperti pembentukan urea

dan senyawa yang berhubungan dengan ekskresi nitrogen

dan menetralkan racun serta menghasilkan panas.

b) Pankreas

Pankreas merupakan organ yang berperan penting

dalam proses pencernaan. Pankreas mensekresikan

beberapa enzim yang berfungsi dalam proses pencernaan

makanan yakni protease (tripsin) dan karbohidrase (amilase

dan lipase). Sebenarnya pankreas merupakan organ yang

memiliki fungsi ganda, sebagai organ eksokrin dan organ

endokrin. Sebagai organ eksokrin, pankreas mengeluarkan

enzim pencernaan; dan sebagai organ endokrin, pankreas

memiliki kelompok sel (pulau-pulau Langerhans) yang

mensekresikan hormon insulin.

c) Kantung empedu

Kantung empedu berupa kantung tipis yang

berisikan empedu. Kantung ini menempel pada bagian

bawah hati. Kantung empedu atau vesica velea bila penuh

bentuknya membulat dengan warna kehijau-hijauan. Fungsi

dari kantong empedu ini untuk menampung atau

menyimpan empedu (bilus) dan mencurahkannya ke dalam

usus, bila diperlukan. Empedu yang berasal dari kantung

empedu mengandung pigmen empedu (bilirubin dan

biliverdin) yang berasal dari perombakan sel hemoglobin.

Selain itu, empedu juga berisikan garam empedu

pengemulsi lemak yang membantu dalam pengubahan

(17)

15 2.2 Mekanisme Pencernaan

Sebelum makanan disambar dan ditelan, terlebih dahulu telah

timbul rangsangan berupa nafsu untuk makan. Nafsu untuk makan ini

dapat dirangsang melalui penglihatan, bau, dan rabaan. Begitu ada nafsu

untuk makan, maka alat-alat pencernaanya segera bersiap-siap untuk

menerima makanan dan selanjutnya mencerna makanan tersebut. Setelah

makanan digigit, untuk menelannya diperlukan bahan pelicin yaitu air liur.

Selain sebagai pelicin, air liur juga mengandung enzim ptialin yang

merupakan enzim pemecah karbohidrat menjadi maltosa yang kemudian

dilanjutkan menjadi glukosa. Tapi karena ikan tidak mengunyah makanan,

padahal pemecahan karbohidrat membutuhkan waktu yang lama, maka

ptialinnya baru dapat bekerja aktif setelah makanan sampai di lambung.

Selain mengandung enzim ptialin, air liur juga mengandung senyawa

penyangga derajat keasaman (bufer) yang berguna untuk memecah

terjadinya penurunan pH agar proses pencernaan dapat berjalan normal.

Apabila makanan telah masuk ke dalam saluran pencernaan, maka

dinding saluran pencernaannya akan terangsang untuk menghasilkan

hormon gastrin. Hormon ini akan memacu pengeluaran asam klorida

(HCL) dan pepsinogen. HCL akan mengubah pepsinogen menjadi pepsin

yang merupakan enzim pencernaan akif, yaitu sebagai pemecah protein

menjadi pepton (polipeptida). Apabila makanannya banyak mengandung

lemak, maka akan dihasilkan juga hormon entergastron.

Di dalam usus, makanan itu sendiri akan merangsang keluarnya

hormon kolsistokinin. Hormon ini kemudian akan memacu keluarnya

getah empedu dari hati. Getah empedu itu sebenarnya dibuat dari sel-sel

darah merah yang telah rusak di dalam hati. Pengeluaran getah empedu

tersebut melalui pembuluh hepatikus yang kemudian ditampung di dalam

kantong empedu. Fungsi getah empedu tersebut adalah memeperhalus

butiran-butiran lemak menjadi emulsi sehingga mudah larut dalam air dan

diserap oleh usus.

Dinding usus juga mengeluarkan hormon sekretin dan

(18)

16 pankreas. Getah penkreas ini mengandung enzim amilase, lipase dan

protase. Sedangkan hormon pankreozinin menyebabkan rangsangan untuk

mempertinggi produksi getah pankreas.

Enzim amilase akan memecah karbohidrat menjadi glukosa. Enzim

lipase memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Sedangkan

protase memecah protein menjadi asam amino. Ketiga enzim tersebut

dapat mencapai puncak keaktifan apabila kadar protein dalam makanan

antara 40-60%. Apabila kadar proteinnya berubah maka untuk mencapai

puncak keaktifan, enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk

menyseuaikan diri.

2.3 Mekanisme Penyerapan Sari Makanan

Makanan yang sudah dicerna halus sekali kemudian sari-sarinya

akan diserap oleh dinding usus. Sebenarnya di dalam lambung juga sudah

mulai penyerapan, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Penyerapan yang

utama terjadi di dalam usus. Untuk menyerap sari makanan tersebut,

dinding usus mempunyai jonjot-jonjot agar permukaannya lebih luas.

Melalui pembuluh darah rambut pada jonjot usus tersebut, sari makanan

akan diserap ke dalam darah.

Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, yaitu glukosa,

galaktosa, fruktosa dan lain-lain. Proses penyerapannya dipengaruhi oleh

hormon insulin. Hormon tersebut dihasilkan oleh kelenjar pankreas.

Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Di dalam lapisan

lendir dinding usus, asam lemak dan gliserol bersatu lagi, untuk kemudian

diedarkan keseluruh tubuh melalui limfe (70%) dan melalui pembuluh

darah (30%). Sedangkan protein diserap dalam bentuk asam amino yang

dibawa ke hati dulu untuk diubah menjadi protein lagi, akan tetapi yang

telah disesuaikan dengan kebutuhan tubuh ikan yang bersangkutan.

Zat-zat makanan yang telah diserap oleh darah kemudian diedarkan

ke seluruh tubuh untuk keperluan metabolisme, yaitu anabolisme dan

katabolisme. Anabolisme adalah pembentukan zat-zat yang lebih

(19)

17 protein dan asam-asam amino. Sedangkan katabolisme adalah pemecahan

zat-zat yang merupakan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga, misalnya

pemecahan karbohidrat menjadi tenaga, air, dan karbondioksida.

Pada hewan-hewan darat, yang digunakan sebagai sumber tenaga

pertama-tama adalah karbohidrat kemudian disusul oleh lemak sebagai

sumber nomor dua dan terakhir protein. Sedangkan pada ikan adalah

kebalikan dari hewan darat, yaitu protein, lemak dan karbohidrat.

2.4 Kelompok Ikan Berdasarkan Jenis Makanan

Jenis ikan dapat digolongkan menjadi lima kelompok menurut

jenis makanannya, walaupun harus juga diingat bahwa beberapa jenis pola

makannya berubah sesuai dengan perubahan umur, musim, dan

ketersediaan makanan. Perbedaan golongan ikan menurut jenis

makanannya ini berkaitan antara satu golongan dengan golongan lain.

Penggolongan berdasarkan jenis makanannya yaitu :

Herbivora

Ikan herbivora merupakan golongan ikan yang memakan bahan tumbuhan

yang hidup di air atau di dalam lumpur, misal alga, hifa jamur, alga biru.

Ikan golongan ini tidak mempunyai gigi dan mempunyai tapis insang yang

lembut sehingga dapat menyaring fitoplankton. Ikan ini tidak mempunyai

lambung yang benar yaitu bagian usus yang mempunyai jaringan otot yang

kuat, mengekskresi asam, mudah mengembang, dan terdapat di bagian

muka alat pencerna makanannya. Bentuk usus ikan golongan ini panjang

berliku-liku dan dindingnya tipis. Contoh ikan herbivora yaotu ikan tawes

(Puntius javanucus), ikan nila (Osteochilus hasseli), ikan bandeng (Chanos

chanos).

A B

(20)

18 Karnivora

Ikan golongan ini sumber makanan utamanya berasal dari bahan-bahan

hewani. Saluran pencernaan ikan karnivora lebih pendek dari saluran ikan

herbivora karena daging yang dimakan memiliki dinding sel tipis berupa

selaput sehingga lebih mudah dicerna. Saluran pencernaan pada ikan

karnivora hanya sepanjang tubuh saja sedangkan pada ikan herbivora

dapat mencapai tiga kali panjang tubuhnya. Lambung ikan karnivora

membesar dan berdinding tebal yang kuat mirip dengan ampel pada ayam.

Contoh ikan karnivora yaitu ikan belut (Monopterus albus), ikan lele

(Clarias batrachus), ikan kakap (Lates calcarifer).

A B

Gambar 7. Ikan Karnivora: a. Lele; b. Belut

Omnivora

Ikan omnivora merupakan golongan ikan yang memakan bahan makanan

yang berasal dari binatang dan tumbuhan. Ikan golongan ini mempunyai

sistem pencernaan antara bentuk herbivora dan karnivora. Ikan omnivora

memiliki lambung dengan menyerupai bentuk kantung dan usus sedang

5-6 kali panjang tubuh. Contoh ikan omnivora adalah ikan mujair (Tilapia

mossambica), ikan mas (Ciprinus carpio), dan ikan gurami (Ospronemus

goramy).

A B

(21)

19 Tabel 1. Perbedaan Organ Pencernaan Ikan Herbivora, Ikan Karnivora,

dan Ikan Omnivora

Pemakan plankton

Ikan golongan ini sepanjang hidupnya selalu memakan plankton, baik

fitoplankton atau zooplankton misalnya ikan terbang (Exocoetus volitans)

dan ikan cucut (Rhinodon typicus).

Gambar 8. Ikan Pemakan Plankton: Terbang

Pemakan detritus

Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari sisa-sisa hancuran

bahan organik yang telah membusuk dalam air, baik yang berasal dari

tumbuhan maupun hewan. Contohnya ikan belanak (Mugil sp.).

(22)

20 BAB V

KESIMPULAN

Ikan membutuhkan materi (nutrien) dan energi untuk aktifitas

kehidupannya. Nutrien yang dibutuhkan dalam hal ini berupa protein, lemak, dan

karbohidrat, serta vitamin dan mineral. Sebagai organisme heterotrof, ikan

membutuhkan semua itu yang berasal dari makanan.

Pencernaan adalah suatu proses penyederhanaan makanan melalui

mekanisme fisik dan kimiawi sehingga menjadi bahan yang mudah diserap dan

disebarkan ke seluruh tubuh melalui sistem perdaran darah. Sistem pencernaan

meliputi organ yang berhubungan dengan pengambilan makanan, mekanismenya,

dan penyediaan bahan-bahan kimia, serta pengeluaran sisa-sisa makanan yang

tidak tercernakan keluar dari tubuh.

Dalam sistem pencernaan, terdapat organ-organ yang terlibat dalam proses

pencernaan makanan. Dilihat dari fungsinya, organ pencernaan ikan dapat

dibedakan atas dua bagian, yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.

Saluran pencernaan yaitu mulut, rongga mulut, tekak, kerongkongan, lambung,

pylorus, usus, dan anus. Sedangkan kelenjar pencernaan terdiri dari hati, pankreas,

dan kantung empedu.

Sebelum makanan disambar dan ditelan, terlebih dahulu telah timbul

rangsangan berupa nafsu untuk makan. Nafsu untuk makan ini dapat dirangsang

melalui penglihatan, bau, dan rabaan. Begitu ada nafsu untuk makan, maka

alat-alat pencernaanya segera bersiap-siap untuk menerima makanan dan selanjutnya

mencerna makanan tersebut. Makanan yang sudah dicerna halus sekali kemudian

sari-sarinya akan diserap oleh dinding usus. Sebenarnya di dalam lambung juga

sudah mulai penyerapan, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Penyerapan yang

utama terjadi di dalam usus.

Jenis ikan dapat digolongkan menjadi lima kelompok menurut jenis

makanannya, walaupun harus juga diingat bahwa beberapa jenis pola makannya

berubah sesuai dengan perubahan umur, musim, dan ketersediaan makanan.

Penggolongan berdasarkan jenis makanannya yaitu ikan herbivora, karnivora,

(23)

21 DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, M.F., dkk. 2011. IKTIOLOGY. Bandung: Lubuk Agung.

Affandi, Dr. Ir. Ridwan., dan Dr. Ir. Usman Muhammad Tang, MS. 2002.

FISIOLOGI HEWAN AIR. Pekanbaru: Unri Press.

http://fpik.bunghatta.ac.id/files/downloads/E-book/Sistem%20Organ%20Ikan/bab_5__sistem__pencernaan.pdf diakses

pada 14 Oktober 2015.

Anonim. 2015. Sistem Pencernaan Ikan.

http://www.informasi-pendidikan.com/2015/03/sistem-pencernaan-ikan.html diakses pada 14

Oktober 2015.

Eksata. 2013. Sistem Pencernaan pada Ikan.

http://www.pustakasekolah.com/sistem-pencernaan-pada-ikan.html diakses

Gambar

Gambar 1. Sistem Pencernaan Ikan
Gambar 2. Saluran Pencernaan Ikan
Gambar 3. Berbagai Bentuk Mulut Ikan : A. Mulut yang dapat
Gambar 4. Tipe-Tipe Gigi Ikan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pencernaan lemak di usus halus terutama terjadi di duodenum dimana terdapat muara saluran cairan empedu yang berasal dari hati atau kantung empedu.. Lemak makanan setelah

pencernaan dan mengalami pemecahan lebih lanjut. Organ yang berperan dalam tahapan ini adalah faring, esophagus dan ventrikulus. Zona Degresif adalah zona saat makanan

Pada rongga mulut terdapat beberapa bagian yang berperan dalam proses pencernaan yakni gigi, lidah, dan kelenjar ludah2. Makanan dipotong dengan gigi seri, dirobek gigi dengan

Unggas memiliki system pencernaan, yaitu: paruh atau mulut, crop (tembolok), esophagus ( kerongkongan), perut kelenjar (proventriculus), gizzard (empedal), usus halus

Diantara sel-sel mukus ke lenjar pilorus terdapat sel-sel gastrin (G) yang berfungsi mengeluarkan hormone gastrin. Gastrin berfungsi merangsang pengeluaran asam lambung

 pencernaan makanan terjadi dalam vakuola makanan. 7akuola makanan merupakan organel yang ber*ungsi untuk menerima makanan, mencerna makanan, dan mengedarannya ke seluruh

Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia terjadi di sepanjang saluran pencernaan dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam

Organ pencernaan makanan pada