• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Supervisi - Hubungan Supervisi Kepala Ruangan dengan Pelaksanaan Prinsip “Enam Benar” Pemberian Obat yang Dilakukan Perawat di RSUD Dr. Pirngadi Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Supervisi - Hubungan Supervisi Kepala Ruangan dengan Pelaksanaan Prinsip “Enam Benar” Pemberian Obat yang Dilakukan Perawat di RSUD Dr. Pirngadi Medan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Supervisi

2.1.1. Pengertian Supervisi

Supervisi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka

pemantauan disertai dengan pemberian bimbingan, penggerakan atau

motivasi dan pengarahan (Depkes, 2008). Supervisi adalah melakukan

pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap

pekerjaan yang dilakukan bawahan dan jika ditemukan masalah, segera

diberikan bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Suarli

dan Bahtiar, 2009).

Supervisi merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber

yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dalam rangka pencapaian

tujuan yang telah ditetapkan. Supervisi memungkinkan seorang

manajer dapat menemukan berbagai kendala yang dihadapi dalam

pelaksanaan tugas bawahan (Arwani dan Supriyatno, 2005).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan

bahwa kegiatan supervisi adalah tindakan pengamatan ataupun

pengawasan yang dilakukan oleh atasan meliputi penilaian kinerja

bawahan sesuai standar prosedur, memberikan bimbingan dan bantuan

apabila terdapat masalah serta dukungan sehingga tujuan organisasi

(2)

2.1.2. Tujuan dan Manfaat Supervisi

Kegiatan supervisi mengusahakan seoptimal mungkin kondisi

kerja yang kondusif dan nyaman yang mencakup lingkungan fisik,

atmosfer kerja, dan jumlah sumber-sumber yang dibutuhkan untuk

memudahkan pelaksanaan tugas. Tujuan supervisi diarahkan pada

kegiatan mengorientasikan staf dan pelaksana keperawatan,

memberikan arahan dalam pelaksanaan kegiatan sebagai upaya untuk

menimbulkan kesadaran dan mengerti peran serta fungsinya sebagai

staf, dan difokuskan pada pemberian pelayanan dan pelaksana

keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan (Arwani dan

Supriyatno, 2005).

Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh

banyak manfaat. Manfaat tersebut adalah dapat lebih meningkatkan

efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja ini erat hubungannya

dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta

makin terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis

antara atasan dan bawahan. Manfaat selanjutnya adalah dapat lebih

meningkatkan efisiensi kerja. Peningkatan efisiensi kerja ini erat

kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan yang dilakukan

bawahan, sehingga pemakaian sumber daya (tenaga, harta, dan sarana)

(3)

2.1.3. Sasaran Supervisi

Arwani dan Supriyatno (2005) menyatakan bahwa supervisi

yang dilakukan memiliki target tertentu yang akan dicapai. Setiap

sasaran dan target dilaksanakan sesuai dengan pola yang disepakati

berdasarkan struktur dan hierarki tugas. Dengan demikian, sasaran yang

menjadi target dalam kegiatan supervisi adalah terbentuknya staf yang

berkualitas yang dapat dikembangkan secara sistematis dan

berkesinambungan , penggunaan alat yang efektif dan ekonomis,

tersedianya sistem dan prosedur yang tidak menyimpang, adanya

pembagian tugas dan wewenang yang proporsional, dan tidak terjadinya

penyelewengan kekuasaan, kedudukan, dan keuangan.

Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang

dilakukan oleh bawahan, serta bawahan yang melakukan pekerjaan. Di

sini terlihat lebih jelas bahwa bawahan yang melaksanakan pekerjaan

akan disupervisi, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kinerja

pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan (Suarli dan Bahtiar, 2009).

2.1.4. Prinsip-Prinsip Pokok Dalam Supervisi

Tobing dan Napitupulu (2011) menyatakan bahwa ada 8

prinsip-prinsip pokok supervisi, yaitu:

a. Supervisor harus mengerti dengan jelas hal-hal yang diharapkan dari

pekerjaan tersebut seperti tujuan/sasaran, sifat/kriteria, anggaran, dan

(4)

b. Supervisor harus mengetahui pedoman dan prosedur dalam

menjalankan pekerjaan.

c. Supervisor harus mengakui pekerjaan yang baik yang telah dilakukan

bawahannya dan memberikan pekerjaan kepada yang dipimpinnya.

d. Supervisor harus memberikan tanggung jawab pekerjaan kepada

bawahannya.

e. Supervisor harus memotivasi orang-orang yang dipimpinnya untuk

memperbaiki kesalahan-kesalahannya dan memberi kritik yang

konstruktif.

f. Supervisor harus mempunyai gaya dan fungsi kepemimpinan sebagai

teladan bagi bawahannya.

g. Supervisor harus mampu mengarahkan, berkomunikasi dengan baik,

dan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan diri.

h. Supervisor harus memberikan suasana bekerja dalam lingkungan

yang sehat, nyaman, dan aman.

Arwani dan Supriyatno (2005) menyatakan bahwa seorang

manajer keperawatan yang melakukan kegiatan supervisi harus

mengetahui prinsip-prinsip supervisi yaitu didasarkan atas hubungan

profesional dan bukan hubungan pribadi, kegiatan harus direncanakan

secara matang, bersifat edukatif, memberikan rasa aman pada perawat

pelaksana, harus mampu membentuk suasana kerja yang demokratis,

dilakukan secara objektif dan mampu memacu terjadinya penilaian diri

(5)

masing-masing orang yang terlibat, bersifat progresif, inovatif, fleksibel,

konstruktif dan kreatif dalam mengembangkan diri disesuaikan dengan

kebutuhan, dan supervisi harus dapat meningkatkan kinerja bawahan

dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

Suarli dan Bahtiar (2009) menyatakan prinsip pokok supervisi

secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatkan kinerja

bawahan, bukan untuk mencari kesalahan. Peningkatan kinerja ini

dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap

pekerjaan bawahan, untuk kemudian apabila ditemukan masalah,

segera diberikan petunjuk atau bantuan untuk mengatasinya.

b. Sejalan dengan tujuan utama yang ingin dicapai, sifat supervisi harus

edukatif dan sportif, bukan otoriter.

c. Supervisi harus dilakukan secara teratur dan berkala.

d. Supervisi harus dapat dilaksanakan sedemikian rupa sehingga terjalin

kerja sama yang baik antara atasan dan bawahan, terutama pada saat

proses penyelesaian masalah, dan untuk lebih mengutamakan

kepentingan bawahan.

e. Strategi dan tata cara supervisi yang akan dilakukan harus sesuai

dengan kebutuhan masing-masing bawahan secara individu.

Penerapan strategi dan tata cara yang sama untuk semua kategori

(6)

f. Supervisi harus dilaksanakan secara fleksibel dan selalu disesuaikan

dengan perkembangan.

2.1.5. Pelaksana Supervisi

Depkes (2008) menyatakan bahwa pelaksana supervisi di rumah

sakit dapat dilakukan oleh:

a. Kepala Ruangan

Bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan untuk

klien. Kepala ruangan sebagai ujung tombak penentu tercapai

tidaknya tujuan pelayanan keperawatan dan mengawasi perawat

pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan.

b. Pengawas Perawatan

Beberapa ruang atau unit pelayanan berada dibawah unit pelaksana

fungsional (UPF). Pengawas bertanggung jawab dalam supervisi

pelayanan keperawatan pada areanya yaitu beberapa kepala ruangan

yang di UPF bersangkutan.

c. Kepala Seksi

Beberapa UPF digabung dalam satu pengawasan kepala seksi

(Kasie). Kepala seksi mengawasi pengawas UPF dalam

melaksanakan tugasnya secara langsung dan seluruh perawat secara

tidak langsung.

d. Kepala Bidang

Kepala bidang bertanggung jawab untuk supervisi kepala seksi

(7)

supervisi berkaitan dengan struktur organisasi yang menggambarkan

garis tanggung jawab siapa yang menjadi supervisor dan siapa yang

disupervisi.

Pelaksana supervisi adalah manajer yang langsung mengelola

karyawan yang memiliki pengalaman dalam supervisi, mengikuti

pelatihan sistemik, serta memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan.

Apabila supervisor tidak memiliki keterampilan tersebut dapat

dipastikan kinerja unit kerja mereka akan menjadi korban (Dharma,

2003).

Suarli dan Bahtiar (2009) menyatakan bahwa yang bertanggung

jawab untuk melaksanakan supervisi adalah atasan yang memiliki

kelebihan dalam organisasi. Idealnya, kelebihan tersebut tidak hanya

dari aspek status dan kedudukan, tetapi juga pengetahuan dan

keterampilan. Untuk dapat menjadi pelaksana supervisi yang baik

manajer juga perlu mengikuti pendidikan dan pelatihan yang bersifat

khusus. Pelaksana supervisi yang baik membutuhkan bekal yang

banyak, termasuk bekal dalam melakukan komunikasi, motivasi,

pengarahan, bimbingan, dan juga kepemimpinan.

2.1.6. Teknik Supervisi

Supervisi dapat dilakukan melalui 2 cara dalam prosesnya,

(8)

2.1.6.1. Cara Langsung

Supervisi langsung adalah ketika supervisor

bertanggung jawab secara langsung terhadap asuhan

keperawatan. Supervisi dilakukan pada saat kegiatan

berlangsung dan supervisor melakukan observasi kepada

perawat pelaksana saat melakukan asuhan keperawatan

(Nursing and Midwifery Board of Australia, 2013). Observasi

dilakukan dengan membandingkan hasil pengamatan dengan

standar program (Muninjaya, 2004). Pada kondisi ini, umpan

balik dan perbaikan dapat sekaligus dilakukan dimana bawahan

tidak merasakannya sebagai suatu beban dan selama proses

supervisi, supervisor dapat memberikan dukungan,

reinforcement, dan petunjuk, kemudian supervisor dan perawat

pelaksana melakukan diskusi untuk menguatkan yang telah

sesuai dengan apa yang direncanakan dan memperbaiki segala

sesuatunya yang dianggap masih kurang (Arwani dan

Supriyatno, 2005).

Suarli dan Bahtiar (2009) menyatakan 3 hal yang perlu

diperhatikan saat melakukan supervisi langsung, yaitu:

a. Sasaran pengamatan

Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya

merupakan pengamatan yang tidak efektif, karena pelaksana

(9)

Pencegahan yang dapat dikerjakan dalam situasi tersebut

adalah perlu ditetapkan sasaran pengamatan, yakni ditujukan

pada sesuatu yang bersifat pokok dan strategis (selective

supervision).

b. Objektivitas pengamatan

Pengamatan langsung yang tidak terstandardisasi dapat

menggangu objektivitas.Pengamatan langsung perlu dibantu

dengan suatu daftar isian (check list) agar lebih objektivitas.

Daftar tersebut dipersiapkan untuk setiap pengamatan secara

lengkap dan apa adanya.

c. Pendekatan pengamatan

Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak

dan kesan negatif, misalnya rasa takut dan tidak senang, atau

kesan mengganggu kelancaran pekerjaan. Pengamatan

langsung harus dilakukan sedemikian rupa sehingga

berbagai dampak atau kesan negatif tersebut tidak muncul.

Pengamatan tersebut dapat dilakukan secara edukatif dan

suportif, bukan menunjukkan kekuasaan atau otoritas.

2.1.6.2. Cara Tidak Langsung

Supervisi tidak langsung memungkinkan terjadinya

salah pengertian (misunderstanding) dan salah persepsi

(misperception) karena supervisor tidak melihat secara

(10)

Supriyatno, 2005). Nursing and Midwifery Board of Australia

(2013) menyatakan bahwa supervisi tidak langsung adalah

ketika supervisor berada dalam fasilitas ataupun organisasi

yang sama dengan yang disupervisi namun tidak melakukan

observasi langsung. Supervisor harus tersedia saat dibutuhkan

baik via telepon ataupun email.

Muninjaya (2004) menyatakan bahwa supervisi tidak

langsung dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu:

a. Laporan lisan

Supervisor dapat memperoleh data langsung tentang

pelaksanaan suatu program dengan mendengarkan laporan

lisan staf atau pengaduan masyarakat. Supervisor hanya

memperoleh informasi terbatas tentang kemajuan program

atau laporan kasus penyalahgunaan wewenang oleh staf dari

laporan masyarakat, sehingga supervisor harus peka dengan

raut wajah staf dan cara mereka melapor, jika seandainya

laporan yang diterima tidak benar apalagi jika tidak

ditunjang dengan data (fakta).

b. Laporan tertulis

Staf penanggung jawab program diminta membuat laporan

singkat tentang hasil kegiatannya. Informasinya hanya

terbatas pada hal-hal yang dianggap penting oleh staf.

(11)

pelaporan program yang secara rutin dibuat oleh staf dapat

dimanfaatkan untuk mengembangkan program asalkan

laporan tersebut sudah dianalisis dengan baik.

Wiyana (2008) menyatakan bahwa supervisi tidak

langsung dapat dilakukan dengan melihat hasil dokumentasi

pada buku rekam medik perawat dengan memilih satu

dokumen asuhan keperawatan, kemudian memeriksa

kelengkapan dokumentasi sesuai dengan standar

dokumentasi asuhan keperawatan yang ditetapkan rumah

sakit. Setelah itu memberikan penilaian atas dokumentasi

yang di supervisi dengan memberikan tanda bila ada yang

masih kurang dan berikan cacatan tertulis pada perawat yang

mendokumentasikannya.

2.2. Prinsip Enam Benar Pemberian Obat 2.2.1. Benar Pasien

Pemberian obat pada pasien yang benar dapat dipastikan

dengan memeriksa gelang identifikasi pasien, dan meminta pasien

menyebutkan namanya sendiri, jika pasien tidak mampu berespon

secara verbal, dapat digunakan cara non-verbal seperti

menganggukkan kepala (Kee dan Hayes, 1996 ).

Ketika memberikan obat pada pasien perawat harus mengecek

(12)

akan diberikan obat, mengecek identitas pasien pada papan/kardeks di

tempat tidur pasien (Kozier, Erb, Berman, Snyder, 2010).

Perawat harus memastikan obat diberikan kepada pasien yang

tepat dengan meminta pasien untuk menyebutkan nama lengkapnya

dan nomor jaminan sosialnya atau nama lengkap dan tanggal lahirnya

(Vaughans, 2013).

Pemberian obat pada pasien yang salah dapat terjadi pada saat

pemesanannya lewat telepon, pasien yang masuk bersamaan, kasus

penyakitnya sama, ataupun adanya pindahan pasien dari ruang yang

satu keruang yang lainnya. Perawat harus mengidentifikasi pasien

dengan menanyakan nama lengkap pasien, melihat identitas pasien

dalam bracelet ataupun mengidentifikasi melalui papan nama pada

tempat tidur pasien untukmengurangi kejadian pemberian obat pada

pasien yang tidak tepat (Wijayaningsih, 2013).

2.2.2. Benar Obat

Obat yang benar berarti pasien menerima obat yang telah

diresepkan. Label obat harus dibaca 3 kali untuk menghindari

kesalahan, yaitu: saat melihat botol atau kemasan, sebelum menuang

obat,setelah menuang obat. Perawat juga harus menyadari bahwa

obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya hampir sama dan

ejaannya mirip. Jika ada keraguan, perawat dapat menghubungi

(13)

Benar obat dapat dilakukan dengan mengecek program terapi

pengobatan dari dokter, menanyakan ada tidaknya alergi obat,

mengecek label obat, menanyakan keluhan pasien sebelum dan setelah

memberikan obat, perawat juga harus mengetahui efek samping obat

(Kozier, et al., 2010).

Vaughans (2013) menyatakan bahwa perawat harus

memastikan obat yang akan diberikan kepada pasien benar dengan

cara:

a) Mengecek inkonsistensi antara obat yang diresepkan dan riwayat

medis pasien, termasuk kontraindikasi, alergi, diagnosis medis, dan

hasil laboratorium. Perawat harus memverifikasi ketidakjelasan

medikasi yang dipesan atau inkonsisten dengan penilaian informasi

yang diperoleh selama proses persiapan.

b) Mengecek adanya ketidakcocokan antara obat yang diresepkan dan

obat yang diberikan. Ada kesamaan tampilan, kesamaan bunyi

dalam medikasi (misal, Xanax dan Zantac) yang dapat berakibat

pada medikasi yang salah pada pasien.

c) Jika pasien tidak yakin untuk meminum obat yang telah diresepkan,

verifikasi bahwa pemberi resep telah memesan obat yang tepat.

Obat diberikan dengan benar dapat dipastikan dengan melihat

label atau etiket dan harus dibaca dengan teliti setiap akan memberikan

obat. Hal yang perlu diperhatikan antara lain : nama obat, sediaan,

(14)

pemberian obat sering terjadi jika perawat memberikan obat yang

disiapkan oleh perawat lain atau pemberian obat melalui wadah (spuit)

tanpa identitas atau label yang jelas (Wijayaningsih, 2013).

2.2.3. Benar Dosis

Benar dosis diperhatikan melalui penulisan resep dengan

dosis yang disesuaikan dengan keadaan pasien. Beberapa kasus

yang ditemui di lapangan, terdapat banyak obat yang

direkomendasikan dalam bentuk sediaan. Perawat harus teliti

menghitung dosis masing-masing obat dan mempertimbangkan adanya

perubahan dosis dari penulis resep. Yang perlu diperhatikan oleh

perawat dalam pemberian dosis yang benar adalah tidak mengubah

dosis asli, menghitung dan memeriksa dosis obat dengan benar.

Jika ada keraguan, dosis obat harus dihitung ulang dan diperiksa

oleh perawat lain, serta menghubungi apoteker atau penulis resep

sebelum pemberian dilanjutkan. Jika pasien meragukan dosis, periksa

kembali dosis obat. Apabila sudah mengkonsultasikan dengan

apoteker atau penulis resep namun tetap rancu, obat tidak boleh

diberikan, beritahu penanggung jawab unit atau ruangan dan

penulis resep beserta alasannya (Kee dan Hayes, 1996).

Benar dosis dapat dipastikan dengan mengecek dosis yang

diresepkan sesuai dengan kebutuhan pasien, mencari tahu dosis obat

yang biasa digunakan pasien, dan memeriksa kembali perhitungan

(15)

Memberikan obat dengan dosis yang tepat pada pasien

merupakan hal yang harus dipastikan oleh perawat. Memberikan

jumlah yang lebih sedikit dari yang diresepkan berakibat pada tidak

memadainya perlakuan terhadap pasien dan akan menunda pemulihan

dari sakit, juga menyebabkan resistensi terhadap obat tertentu di masa

yang akan datang. Memberikan obat dengan dosis yang berlebih dari

yang seharusnya dapat menciptakan masalah baru bagi pasien,

beberapa diantaranya dapat mengakibatkan kematian (Vaughans,

2013).

Dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan terapi

atau timbulnya efek berbahaya. Kesalahan dosis sering terjadi pada

anak-anak, lansia, atau pada orang obesitas. Perawat perlu memeriksa

dosis obat sesuai kebutuhan pasien dan jika ragu dapat berkonsultasi

dengan dokter yang menulis resep (Wijayaningsih, 2013).

2.2.4. Benar Waktu

Waktu yang benar adalah saat obat yang diresepkan harus

diberikan. Jika obat harus diminum sebelum makan untuk memperoleh

kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan, jika obat

harus dimakan sesudah makan maka harus diberi sesudah pasien

makan. Perawat juga harus memeriksa tanggal kadaluarsa obat (Kee

dan Hayes, 1996).

Benar waktu dapat diterapkan dengan memberikan obat pada

(16)

resep. Obat yang diberikan dalam 30 menit sebelum atau sesudah

waktu yang dijadwalkan dianggap memenuhi waktu standar yang

benar (Kozier, et al., 2010).

Benar waktu meliputi interval yang benar dan juga waktu yang

tepat setiap harinya. Memberikan obat dengan frekuensi lebih sering

atau kurang dari yang telah diresepkan berpotensi mempengaruhi efek

yang diharapkan dari obat tersebut. Selain itu, beberapa obat harus

diberikan di waktu tertentu pada hari tersebut. Sebagai contoh,

diueretik (obat yang diberikan untuk mengurangi kelebihan cairan dari

tubuh) biasanya diberikan pagi hari. Pemberian jenis obat ini di malam

hari akan mengganggu pasien beristirahat (Vaughans, 2013).

Obat yang dikonsumsi secara berulang lebih berpotensi

menimbulkan kesalahan dalam waktu pemberiannya. Misalnya pada

kasus gawat darurat henti jantung, epinefrin diberikan setiap 3-5 menit,

jika tidak dipatuhi akan menghasilkan kadar obat yang tidak sesuai dan

dapat menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan. Selain itu,

perawat juga perlu memperhatikan dalam pemberian obat berupa

injeksi ataupun infus (Wijayaningsih, 2013).

2.2.5. Benar Rute

Rute yang benar perlu untuk absorbsi yang tepat dan memadai.

Obat diberikan melalui rute yang berbeda, tergantung keadaan

(17)

dan fisik obat) serta tempat kerja yang diinginkan. Rute pemberian

obat dapat dibagi menjadi:

a) Oral, obat yang masuk melalui mulut, dapat diabsorpsi melalui

rongga mulut (sublingual atau bukal).

b) Topikal, terdiri dari krim, salep, lotion, liniment dan sprei. Obat

ini digunakan pada permukaan luar badan untuk melindungi,

melumasi, atau sebagai vehikel untuk menyampaikan obat ke

daerah tertentu pada kulit atau membran mukosa,

c) Rektal,rute ini dapat diberikan melalui enema atau supositoria.

Pemberian obat pada rektal digunakan untuk efek lokal, seperti

konstipasi atau hemoroid.

d) Pesarri, obat ini menyerupai supositoria, tetapi bentuknya

dirancang khusus untuk vagina

e) Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan,

f) Parenteral, pemberian obat diluar usus atau saluran cerna, yaitu

melalui vena (Kee dan Hayes, 1996).

Perawat harus memberikan obat sesuai dengan rute yang telah

ditetapkan dan memastikan bahwa rute tersebut aman dan sesuai untuk

pasien. Perawat juga harus mengecek cara pemberian pada

label/kemasan obat (Kozier, et al., 2010).

Rute pemberian obat mempengaruhi tubuh memproses obat.

Perawat harus memastikan bahwa rute pemberian obat yang

(18)

tidak terdapat kontraindikasi untuk memastikan bahwa efek yang

diharapkan tercapai. Sebagai contoh, suatu obat yang diresepkan

dengan rute mulut dapat kontraindikatif jika pasien baru saja

melakukan bedah mulut atau mungkin tidak efektif jika pasien

mengalami muntah. Selanjutnya, tidak akan tepat untuk tetap

memberikan obat tanpa lebih dahulu berkonsultasi dengan pemberi

resep atau mengecek untuk melihat jikalau obat tersebut juga dipesan

untuk suatu rute alternatif lain (Vaughans, 2013).

Jalur atau rute pemberian obat adalah jalur obat masuk ke

dalam tubuh. Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan

obat yang masuk ke dalam tubuh, sehingga merupakan penentu

keberhasilan terapi atau kemungkinan timbulnya efek yang merugikan

(Wijayaningsih, 2013).

2.2.6. Benar Dokumentasi

Perawat harus segera mendokumentasi tindakanpemberian obat

pada pasien yang meliputi nama, dosis, rute, waktu dan tanggal

pemberian obat serta inisial dan tanda tangan perawat. Respon pasien

terhadap pengobatan juga perlu didokumentasikan. Penundaan dalam

mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan atau

perawat lain memberikan obat yang sama kembali (Kee dan Hayes,

1996).

Dokumentasikan pemberian obat setelah memberikan obat

(19)

pemberian obat berbeda dari waktu yang ditentukan ataupun ada

perubahan dari pemberian obat yang sudah diresepkan dan yang

diberikan pada pasien segera didokumentasikan dan mencantumkan

alasannya dengan jelas (Kozier, et al., 2010).

Mendokumentasikan pemberian obat merupakan tambahan atas

lima benar pemberian obat, dan ini juga harus benar. Penting bagi

anggota tim kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien untuk

mengetahui jumlah, waktu, dan rute medikasi yang diberikan pada

pasien. Penting juga bagi anggota tim kesehatan lain untuk mengetahui

bagaimana medikasi mempengaruhi pasien (Vaughans, 2013).

Dokumentasi meliputi nama pasien, nama obat, dosis, jalur

pemberian, tempat pemberian, alasan kenapa obat diberikan, dan tanda

tangan orang yang memberikan. Hal ini diperlukan perawat sebagai

pertanggunggugatan secara legal tindakan yang dilakukan

Referensi

Dokumen terkait

Uji Wilcoxon dari kedua kelompok pada H-21 dan H-42 dibandingkan H-0 didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) yang berarti ada beda signifikan antara rerata nilai SGOT pada tengah

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka diperlukan sebuah sistem penunjang keputusan (SPK) yang dapat membantu orang tua dalam menentukan pilihan masuk ke

Tetapi pada saat tanggal transaksi, sistem ini menilai STRIP pada nilai cash flow (harga pasar) secara discount sementara bond- nya sendiri dinilai pada nilai tanggal pelunasan,

Pertimbangan Pertamina dalam program ini adalah jika di suatu wilayah yang menjadi target konversi masih ada yang menggunakan minyak tanah bersubsidi dan tetap tidak mau beralih

(s) jika anda membenarkan atau memberikan kuasa kepada mana-mana orang lain untuk menggunakan, meminjamkan, membuat pembayaran, menyumbang atau selainnya

Dalam hal dosis obat rendah, kaolin dapat ditambahkan sebagai pengisi hingga 90% atau lebih ke dalam bahan aktif tablet atau kapsul untuk menambah volume,

Hasil penelitian adalah kemampuan praktik peserta didik pada kelompok Eksperimen (E) yang menggunakan pendekatan kontekstual lebih tinggi daripada kelompok Kontrol (K) yang

Perhitungan dengan paket program MCNP5 dari satuan perangkat perangkat bahan bakar di dalam teras reaktor APR1400 yang terdiri dari cluster bahan bakar dengan susunan square