• Tidak ada hasil yang ditemukan

IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) DESA BAUMATA TIMUR KABUPATEN KUPANG MELALUI PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN UNTUK CAMPURAN PAKAN AYAM BIBIT LOKAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) DESA BAUMATA TIMUR KABUPATEN KUPANG MELALUI PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN UNTUK CAMPURAN PAKAN AYAM BIBIT LOKAL"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

203

IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) DESA BAUMATA TIMUR KABUPATEN KUPANG MELALUI PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN

UNTUK CAMPURAN PAKAN AYAM BIBIT LOKAL

Ni Nengah Suryani, N.G.A.Mulyantini, I Made S. Aryanta

Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang NTT Jl. Adisucipto Penfui Kupang NTT

Email : [email protected]

Ringkasan Eksekutif

Masyarakat di kelompok tani ternak Nekabua, Desa Baumata Timur, Taebenu, Kupang, Nusa Tenggara Timur dalam memelihara ayam lokal, menghadapi permasalahan yakni produksinya masih rendah, akibat teknologi dan manajemen pembibitan masih rendah. Penetasan masih secara alami, sehingga waktu produksi lama sehingga produksi menjadi sedikit per tahunnya. Jumlah peliharaan masih kecil (< 10 ekor induk) karena masalah kurangnya persediaan pakan. Sebagian besar bahan pakan yang digunakan adalah bahan pakan komersial. Ipteks yang diterapkan adalah pengolahan limbah RPH dan pencampuran pakan. Teknologi penetasan telur dengan mesin tetas. Metode yang digunakan adalah metode latihan (in house training, dengan menerapkan teknologi inovatif yakni penyuluhan, praktek, pendampingan dan evaluasi tentang manajemen pembibitan, manajemen pengolahan limbah rumah potong (isi rumen, darah dan tulang), pencampuran ransum, penanganan mesin tetas, penanganan anak baru menetas dan pemeliharaan anak ayam sampai remaja. Hasil yang diperoleh penyuluhan dan praktek berhasil dari kehadiran dan keaktifan, produksi telur rata-rata 66,76 butir/ekor selama 6 bulan, teknologi penetasan dapat diterapkan secara benar dengan daya tetas: rata-rata 85,85% (periode I) dan ; 73,7% (periode II); 67% (periode III), dengan rata-rata 75,68%, mortalitas ayam umur 2 minggu 3,76 %. Mortalitas umur 4 bulan 0,68% dan bobot badan umur 4 bulan rata-rata 975,3 gram. Kesimpulan: Kelompok tani ternak mampu mengolah limbah RPH sebagai campuran pakan ayam local, mampu memelihara ayam pembibitan dengan benar, dan produksi telur mencapai standar pemeliharaan intensif, melakukan penetasan telur dengan mesin tetas dengan baik sesuai dengan urutan prosedur yang benar, menghasilkan anak ayam lebih banyak dalam waktu lebih singkat dan mampu memelihara anak ayam sampai ayam remaja dengan lebih baik.

Kata kunci : pembibitan, ayam lokal, penetasan. limbah rumah potong hewan Executive Summary

Farmer group of Nekabua, East Baumata Village, Taebenu, Kupang, East Nusa Tenggara raise local chickens, but they have not been able to meet the market demand because production is still low. This is because there is no technology in breeding practices. Hatching is done naturally, so the production takes more time and production per year is low. The number of chickens breeder is still low (<10 chickens) because of feed shortage. Most of the feed used is the feed which compete with human consumption.

(2)

204

Therefore, they have to find alternativefeed ingredients that are beneficial to the local poultry. Slaughterhouse waste (RPH) from abattoir waste has a useful nutrient for livestock, and does not contain hazardous materials. The method used is technically practical method. This activities design applying innovative technology to do the extension, practice, mentoring and result evaluation of breeder management, handling management of slaughterhouse (rumen contents, blood and bone), mixing ration, handling the incubator, handling day old chicks and raising chicks until finisher period. The result showed that average of egg production was 66.76 egg/chicken for six months, hatch technology could be implemented correctly with average of hatchability was 85.85% (period I) and; 73.7% (period II); 67% (period III), with an average of 75.68%, mortality rate of 2 weeks old chickens was 3.76%. Mortality rate of 4 months old chickens was 0.68% with average body weight of 975.3 grams. It can be concluded that the community services programs was very essential tool for profitable and sustainable local chickens farming system in East Baumata village. The group of farmer is able to treat RPH waste as a part of local chicken feed. Also, they able to raise breeder chicken properly, and egg production reached the same standard as intensive system. Furthermore, the farmers can hatch chickens eggs using the incubator properly in accordance with the correct procedure, and produces more DOC (day old chicks) in short time and they able to raise the DOC until finisher period.

Keywords :breeder, local chickens, hatching, slaughterhouse waste

A. PENDAHULUAN

Fakta yang menginspirasi untuk melaksanakan kegiatan pengabdian bagi masyarakat di Desa Baumata Timur Kabupaten Kupang NTT ini adalah potensi pengembangan ayam bibit lokal di daerah tersebut sebetulnya cukup baik, dilihat dari beberapa aspek. Dari aspek permintaan masyarakat akan ayam lokal cukup tinggi. Selain itu, dari segi lokasi yaitu dekat dengan pasar, dan tempat wisata. Namun peternak menghadapi beberapa kendala, diantaranya masalah biaya pakan, dan ketersediannya. Masalah ketersediaan bahan pakan sebagai campuran ransum masih terbatas. Kondisi peternakan ayam di Desa Baumata Timur Kabupaten Kupang yaitu ayam berkembang sangat lambat, jumlah ayam siap jual sedikit dan produksi telur

jauh dari mencukupi permintaan pasar yang tinggi. Hal ini disebabkan: 1) induk-induk ayam masih mengerami telurnya, dan mengasuh anaknya 2). Persediaan bahan pakan terbatas, ransum yang dicampur harganyamahal, menyebabkan keuntungan kecil.

Hal lain yang menginspirasi untuk melaksanakan kegiatan pengabdian ini yaitu limbah rumah potong hewan (RPH) di Kabupaten Kupang banyak tersedia tapi tidak dimanfaatkan. Potensi isi rumen di RPH dengan pemotongan 200-300 ekor/hari dapat menghasilkan isi rumen 0,9 ton per hari.Oleh karena itu, perlu dibantu dengan penerapan ipteks yang murah dan mudah dilaksanakan, dinataranya pemanfaatan limbah RPH berupa isi rumen, darah dan tulang untuk campuran pakan ayam. Selain itu,

(3)

205

dengan penerapan teknologi mesin tetas. Menurut Rasyid (1981) kandungan isi rumen sapi meliputi : protein 8,86%, lemak 2,6%, serat kasar 28,78%, Ca 0,53%, P 0,55%, BETN 41,24%, abu 18,54% dan air 10,92%. Isi rumen dapat digunakan 12% dalam ransum ayam broiler, meningkatkan pertambahan bobot badan, konsumsi dan menekan konversi (Sanjaya, 1955 dalam

http://komporblodspot. tgl 19/04/2014).

Lee et al. (2002) menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim selulase, amilase, protease, mannanase, xilanase, dan pitase. Enzim-enzim ini mampu mencerna serat kasar yang ada dalam bahan pakan ternak unggas, sehingga zat-zat makanan dalam saluran pencernaan ayam lebih mudah dicerna dan diserap. Tulang juga merupakan limbah di RPH yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber mineral kalsium dan posfor serta magnesium (Sihombing (1997).

Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk memanfaatkan limbah rumah potong hewan untuk campuran pakan ayam bibit lokal, dan untuk meningkatkan produktivitas ayam dengan menggunakan mesin tetas. Sehingga peternak di Desa Baumata Timur Kabupaten Kupang dapat membuat pakan ayam bibit yang murah, mudah di dapat dan banyak tersedia. Selain itu dapat meningkatkan produktivitas ayam bibit yang dipeliharanya.

B. SUMBER INSPIRASI

Persoalan yang dihadapai masyarakat di kelompok tani ternak Desa Baumata, Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur adalah lambatnya perkembangan usaha ayam lokal yang dikelolanya. Persoalan ini disepakati untuk dilakukan penerapan teknologi penetasan telur dan pembuatan pakan dari bahan pakan alternatif limbah Rumah Potong Hewan (RPH) berupa isi rumen, darah dan tulang. Dengan demikian masyarakat di kelompok ini membutuhkan alat penetas telur dan bahan serta peralatan pembuatan pakan untuk menunjang pengembangan usaha ayam lokal tersebut.

C. METODE PELAKSANAAN

Penyuluhan, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, tentang teknologi manajemen pemeliharaan ayam bibit, manajemen penanganan telur tetas, seleksi dan sanitasi telur tetas, manajemen penanganan mesin penetasan, manajemen penanganan anak ayam yang baru menetas dan manajemen pengolahan limbah RPH menjadi pakan ternak.Keberhasilan penyuluhan diukur dari hasil wawancara sebelum dan sesudah penyuluhan.

Pelatihan: dilakukan dengan melakukan demontrasi dan melatih mencampur pakan dan menggunakan mesin tetas.

Substitusi Ipteks: melakukan perubahan baru dalam pembibitan ayam dari mengerami telur menjadi

(4)

206

penetasan menggunakan mesin tetas sederhana. Merubah cara pemberian pakan yang ekstensif menjadi intensif dengan mengolah limbah menjadi sumber pakan berkualitas.

Evaluasi kegiatan dengan mengukur: jumlah produksi telur selama 6 bulan, daya tetas (%), mortalitas dan bobot badan.

 Pembuatan bahan pakan. Adapun komposisi bahan pakan yang dipraktekkan dalam kegiatan IbM ini adalah seperti terlihat pada table 1 dan 2.

Tabel 1. Komposisi dan nutrisi bahan pakan Bahan pakan Komposisi (%) ME (kkal/kg) PK (%) Jagung giling 30,50 1046,15 2,87 Dedak padi 30,50 579,50 3,96 Tepung ikan 10,00 272,00 5,30 Bonggol pisang 8,00 260,56 0,36 Tepung isi rumen 12,00 330,00 0,51 Tepung darah 3,00 82,50 2,40 Tepung tulang 2,00 0 0 Minyak kelapa 4,00 344,00 0 Total 100,00 2914,71 15,40

Tabel 2. Komposisi dan kandungan nutrisi ransum anak ayam umur 2 minggu-remaja

Bahan Pakan Komposisi (%) ME (Kkal/kg) PK (%)

jagung giling 25 857,50 2,35 dedak padi 30 870,00 3,9 CP 11 35 1085,00 6,3 limbah ikan 10 272,00 5,3 Total 100 3084,5 17,85 D. KARYA UTAMA

Penerapan pengetahuan dan teknologi yang telah dilakukan menghasilkan:

Gambar 1. Mesin tetas semi modern kapasitas 100 butir

Gambar 2. Anak ayam lokal hasil penetasan

Gambar 3. Kelompok mitra

(5)

207

Gambar 4. Penimbangan ayam bibit.

Gambar. 5 Mengolah Limbah Rumah Potong Hewan menjadi campuran pakan ayam

D. KESIMPULAN

Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi pembibitan ayam lokal berhasil dilakukan oleh masyarakat kelompok mitra, yang ditandai dengan :

 Telah mampu mengolah limbah RPH sebagai campuran pakan ayam lokal  Mampu memelihara ayam pembibitan

dengan benar, dan produksi telur mencapai standar pemeliharaan intensif (meningkat 167% dibandingkan dengan pemeliharaan

ekstensif dan meningkat 16% dibandingkan dengan semi-intensif)  Mampu melakukan penetasan telur

dengan mesin tetas dengan baik sesuai dengan prosedur yang benar

 Menghasilkan DOC (anak ayam umur sehari) lebih banyak dalam waktu lebih singkat

 Mampu memelihara DOC sampai ayam remaja dengan lebih baik.

G. DAMPAK DAN MANFAAT

(6)

208

 Peningkatan cara pengelolaan pembukuan, pengelolaan kesehatan ternak ayam dengan vaksinasi. Vaksinasi dan kesehatan lingkungan sekitar usaha ternak memegang peranan penting dalam keberlanjutan daripada usaha ternak ayam ini.  Perkembangan perekonomian terjadi

dengan adanya peningkatan pendapatan dari dua kelompok masyarakat (enam orang) rata-rata memelihara 10 induk dalam enam bulan dapat menghasilkan DOC rata-rata 315 ekor dan ayam remaja 298 ekor siap jual. Hal ini disebabkan masyarakat kelompok mitra mampu mengelola usaha ternak ayamnya setelah mendapat IPTEK yang diberikan dalam program IbM. Kalau diuangkan omzet yang diperoleh : Rp. 100.000 x 298 ekor=Rp 29.800.000, selama enam bulan, Rp 4.966.000,-per orang

H. DAFTAR PUSTAKA

http://bppmenlu.blogspot. 19/04/2014

.pemanfaatan isi rumen sapi untuk pakan ternak.

Ledo, M., Sabarta Sembiring, R.D.H. Likadja dan Ni N. Suryani. 2010. Pengaruh Level Pemberian Tepung Suweg dalam Ransum yang Mengandung Pellet Limbah RPH (Isi rumen, Darah dan Tulang) terhadap Retensi Mineral Ca dan P pada Ternak Babi Peranakan VDL Sapihan. Skripsi. Fapet Undana. Mitra Jaya Company. 2014. Buku

Panduan Praktis. Mesin Penetas

Telur Otomatis. Malang Jawa TImur.

Radja Kota, P., U. Ginting, M., U. S. Rosnah dan Ni N. Suryani. 2003. Penggunaan Limbah Rumah Potong Hewan (Isi Rumen, Darah dan Tulang) terhadap konsumsi, Pertambahan bobot badan, Konversi Ransum Babi Peranakan VDL Sapihan. Skripsi. Fapet Undana. Rasyaf, M. 1999. Memelihara Ayam

Buras. Penerbit Kanisius.

Redaksi Trubus. 2000. Hasilkan DOC Buras Berkualitas. Trubus No. 367 Edisi Juni.

Suci Pramudyati, Y. 2009. Petunjuk Teknis Beternak Ayam Buras. GTZ Merang REED PILOT PROJECT kerja sama dengan BPTP Sumsel. Sudaryani, T., H. Santosa. 1995.

Pembibitan Ayam Buras. Penebar Swadaya.

Suryani, N. N. dan I. M. S. Aryanta. 1998. Pengaruh Penggunaan Isi Rumen yang Mendapat Perlakuan Alkalis (larutan Air Abu Sekam) Pada Ternak babi Peranakan Banpres. Buletin Nutrisi. Vol. 1 no. 2. Fapet Undana.

PERSANTUNAN

Ucapan terima kasih kepada

:Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada MasyarakatDirektorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penugasan Program Pengabdian kepada Masyarakat Nomor:

(7)

209

027/SP2H/PPM/DIT.LITABMAS/II/2015 , Tanggal : 5 Februari 2015. Universitas Nusa Cendana Kupang.

Gambar

Gambar 1. Mesin tetas semi modern  kapasitas 100 butir
Gambar 4. Penimbangan ayam bibit.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas maka tujuan yang akan di capai pada penelitian ini adalah menentukan metode Statistical Quality Control (SQC) dengan tekhnik control

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan keterpaduan perangkat pembelajaran berupa SSP Mata Pelajaran IPA yang dapat mengembangkan karakter peserta didik kelas 2 sekolah

[r]

Definisi pendidikan menurut Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yaitu pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar diproses

Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi sarana untuk mengetahui keefektivan dari model simulasi menggunakan media PhET dalam pembelajaran fisika untuk

Desa Sendangrejo merupakan wilayah yang terdiri dari 4 kelurahan, yaitu Kelurahan Nyangkringan, Tobayan, Nglengking, dan Ngagul Agulan. Berdasarkan

masing Badan Usaha sebagaimana dimaksud point 1 diatas diselenggarakan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan Republik Indonesia. Dalam hal belum ada

Seiring dengan dinamika perkembangan masyarakat, maka tarif retribusi pelayanan kesehatan pada RSUD yang diatur dalam Perauran Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 7 Tahun