DAYLIGHTING UNTUK PERUMAHAN SEDERHANA Suprapto1, Sodikin2
1 Program Studi Teknik Industri, 2 Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Veteran Bangun Nusantara
Jl. Letjend. S. Humardani No. 1 Kampus Jombor Telp. (0271) 593156 Sukoharjo 57521 e-mail: 1[email protected], 2[email protected]
ABSTRACT
As developing global warming issue, the human's awareness to keep the earth long lasting life is more improve too. The use of daylight for settlement with the wide space by the wall of building opening is more easy it is compared with the house that has limited space, for instead settlement that build stuck together so which is caused the sunlight couldn't enter the house, so it made the house didn't get enough light. This research aims are hoped to use as a nature light that saving energy. This research consists of 1) making of the room model; 2) Construction of the light collector; 3) making the line transportation of light; 4) the construction of light diffuser; 5) installation; 6) measuring daylighting's work. The result showed that the intensity of light which continued to the room for daylight 2nd model (pyramid) 2,09 % is better than daylight 1st model (rectangle) which is 1,69 %. The minimal light intensity that continued to the room for 2nd model 209 lux is better than model 1st which is only 128 lux. By looking at both of those daylight models, they can be used as a room light that suitable with the level of lightless which is recommended according to SNI that is 120-150 lux. The light intensity can be continued by daylighting model which is influenced by the weather condition and sun light.
Keywords: daylighting, settlement, simple. PENDAHULUAN
Seiring dengan makin berkembangnya isu global warming, kesadaran manusia untuk menjaga kelestarian bumi juga semakin meningkat. Manusia semakin sadar bahwa eksistensinya tidak akan pernah bisa lepas dari dukungan sumber daya alam sekitarnya. Sumber daya alam pada dasarnya dibedakan menjadi sumber daya yang dapat diperbarui dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui.
Pemanfaatan pencahayaan siang hari (daylight) pada rumah tinggal dengan lahan yang cukup luas melalui bukaan pada dinding bangunan adalah lebih mudah jika dibandingkan dengan kondisi rumah dengan lahan yang sangat terbatas seperti pada perumahan dengan bangunan berdempetan satu sama lain dengan tetangga sehingga pemanfaatan sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan rumah sangat terbatas. Hal ini berdampak pada kurangnya penggunaan pencahayaan alami dan lebih sering menggunakan pencahayaan buatan untuk menerangi rumah bahkan disiang hari (Kurniasih, 1990).
Berbagai upaya untuk mengurangi konsumsi energi listrik pada pencahayaan dengan energi matahari telah dilakukan, misalnya dengan menggunakan atap kaca, dan memodifikasi jendela. Namun solusi penerangan dengan cara tersebut memiliki aspek akumulasi panas dari sumber cahaya matahari dan mengakibatkan peningkatan suhu ruangan. Usaha untuk menerapkan berbagai teknik dan teori dalam rangka melakukan penghematan energi pada bangunan rumah maka faktor penerangan akan sangat mempengaruhi kinergi bagi para penghuni dan penghematan energi bagi bangunan rumah tinggal maupun bangunan komersial (Sodikin, 2012)
Penerangan pada bangunan rumah umumnya dilakukan dengan menggunakan penerangan aktif dan penerangan pasif. Penerangan aktif yaitu penerangan buatan dengan mengandalkan berbagai jenis lampu dari sumber listrik. Sedangkan penerangan pasif yaitu penerangan alami yang disebut daylighting yaitu penerangan dengan mengandalkan berbagai strategi dan teknik pemantulan sinar dari matahari ke dalam bangunan guna memperkuat atau mereduksi pemakaian energi dari sinar matahari untuk bisa digunakan sebagai penerangan ruang (Hastings, S.R., 1994)
Pemanfaatan sinar matahari untuk penerangan atau pencahayaan ruang dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan sinar dengan dipantulkan, dibelokkan, diteruskan ataupun disebarkan
dengan bantuan sebuah bidang datar, cembung, atau cekung. Bidang-bidang tersebut dapat berupa lembaran metal, cermin, lensa, lembaran plastik tipis, fiber optik, solid acrylic bahkan kaca prisma atau diamond (Mintorogo, 1999).
Indonesia terletak di daerah garis katulistiwa sehingga mendapatkan sinar matahari yang berlimpah, namun pemanfaatannya bagi penerangan ruangan atau bagunan masih kurang optimal. Umumnya masyarakat lebih cenderung untuk memanfaatkan penerangan dengan energi listrik. Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk tidak memanfaatkan penerangan di siang hari (daylightng) lebih disebabkan karena pengetahuan yang terbatas terhadap alat atau konstruksi
daylighting.
Oleh karena itu perlu dirancang model daylighting untuk penerangan ruang khususnya perumahan dengan biaya konstruksi yang sangat murah dan dapat dibuat sendiri oleh masyarakat secara luas dengan menggunakan bahan-bahan yang sederhana yang ada di sekitar kita. Model
daylighting diharapkan dapat memanfaatkan sinar matahari sebagai penerangan alami rumah sehingga dapat mengurangi penggunaan energi listrik.
Pencahayaan buatan dimulai sejak ditemukannya bola lampu oleh Thomas Alfa Edison tahun 1979. Hingga saat ini berbagai jenis dan tipe lampu terus berkembang dan digunakan. Tetapi hal ini membuat cahaya alami seolah dapat digantikan keberadaannya dalam ruang. Padahal, ada berbagai keuntungan yang disediakan pencahayaan alami yang tidak dimiliki pencahayaan buatan, salah satunya adalah penghematan energi yang mendukung desain yang ramah lingkungan (Dora dan Nilasari, 2011).
Pencahayaan alami adalah pemanfaatan cahaya yang berasal dari benda penerang alam seperti matahari, bulan, dan bintang sebagai penerang ruang. Karena berasal dari alam, cahaya alami bersifat tidak menentu, tergantung pada iklim, musim, dan cuaca. Diantara seluruh sumber cahaya alami, matahari memiliki kuat sinar yang paling besar sehingga keberadaannya sangat bermanfaat dalam penerangan dalam ruang. Cahaya matahari yang digunakan untuk penerangan interior disebut dengan daylight.
Daylight memiliki fungsi yang sangat penting dalam karya arsitektur dan interior. Distribusi cahaya alami yang baik dalam ruang berkaitan langsung dengan konfigurasi arsitektural bangunan, orientasi bangunan, kedalaman, dan volume ruang. Oleh sebab itu daylight harus disebarkan merata dalam ruangan. Menurut Sir John Soane, daylight dapat memberikan suasana ruang dalam yang lebih
hangat. Sir John berhasil membuktikan bahwa daylight apabila dikelola dengan baik akan
menimbulkan dampak suasana yang menyenangkan (Honggowidjaja, 2003).
Menurut Frazier pencahayaan alami sangat baik bagi interior ruang apabila dipantulkan ke berbagai arah. Pemantulan salah satunya dapat dipengaruhi oleh finishing bahan. Permukaan mengkilap (glossy) memantulkan cahaya lebih baik dari pada permukaan yang tidak mengkilap (doff). Prinsip ini berlaku juga untuk pencahayaan buatan. Pencahayaan alami yang datangnya langsung dapat diterapkan di koridor, ruang makan, dan ruang keluarga. Namun, sangat tidak disarankan untuk ruang kerja karena dapat menimbulkan kontras berlebih/silau (Dora dan Nilasari, 2011).
Penerangan ruang dalam rumah menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) guna mendukung fungsi ruang dan mengukur kecukupan cahaya dalam ruang (Tabel 1).
Tabel 1. Tingkat Pencahayaan yang Direkomendasikan Fungsi Ruang Tingkat Pencahayaan (Lux)
Teras 60 Ruang Tamu 120 - 150 Ruang Makan 120 - 150 Ruang Kerja 120 - 150 Kamar Tidur 120 - 150 Kamar Mandi 250 Dapur 250 Garasi 60 Sumber: SNI-03-6197-2000
Cahaya yang dihasilkan oleh sumber cahaya sebelum ditangkap oleh mata mempunyai karakteristik yang menarik. Sifat pancaran dan perilaku cahaya ditentukan oleh sifat-sifat permukaan benda yang dijumpainya (Taruna dkk, 2010)
Gambar 1. Sifat pancaran dan perilaku cahaya
Menurut DS Mintorogo (1999), bahwa elemen-elemen strategi daylight klasik dapat berupa:
a. Light Shelf (bidang datar sebagai pemantul cahaya/sinar matahari, dapat dilakukan secara
ekterior maupun interior, atau menerus.
Sumber : SunWorld, Vol.10, No. 1, p.11, 1986 Gambar 2. Variasi Sistem Light Shelf
b. Reflektor (cermin pemantul/pengumpul/penyebar cahaya/sinar matahari); dapat dilakukan pada
Teknik reflektor ini dapat juga dikatakan sebagai strategi penggunaan bidang datar/cekung/cembung untuk meneruskan sinar matahari secara langsung ke segala penjuru dalam bangunan atau ruangan, karena menggunakan cermin-cermin reflektor yang memantulkan sinar/cahaya matahari ke alat penerus atau penyebar cahaya. Intensitas sinar yang masuk selain tergantung pada sudut penempatan reflektor, juga mengandalkan sinar dari luar yang secara langsung masuk ke dalam tabung (Rillie, 2008).
Nilai intensitas cahaya yang baik secara umum berdasarkan dengan jenis pekerjaan (Tabel 2). Berdasarkan Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja, khususnya pasal 14 menyebutkan bahwa untuk berbagai tingkatan ketelitian kegiatan disyaratkan intensitas minimal sebesar 5 lux (0,5 ft. candles), 20 lux (2 ft. candles), 50 lux (5 ft. candles), 100 lux (10 ft. candles), 300 lux (30 ft. candles), antara 500 sampai 1000 lux (50 sampai 100 ft candles), dan 1000 lux (100 ft candles).
Tabel 2. Intensitas Penerangan Berdasarkan Pekerjaan
Jenis Pekerjaan Intensitas Penerangan (Lux) Contoh Pekerjaan
Tidak Teliti 80 – 170 Penimbunan barang
Agak Teliti 170 – 350 Pemasangan (tidak teliti)
Teliti 350 – 700 Membaca, menggambar
Sangat Teliti 700 – 1.000 Pemasangan (teliti) Sumber: Yuliani S. (Gempur Santoso, 2004)
METODE PENELITIAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Alat pengukur intensitas cahaya yaitu Lux meter ( 2 unit)
2. Alat pendukung berupa: 1) Model ruangan; 2) Model daylighting (persegi panjang dan limas) Tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 3. Alur tahapan penelitian PEMBAHASAN
1. Model Ruangan
Ruangan sebagai model yang digunakan dibuat sesuai dengan bentuk ruang yang ada pada rumah tinggal (perumahan) dengan ukuran 3m x 3m x 2,5 m (p x l x t).
Perancangan dan pembuatan model daylighting Persiapan Kesimpulan Pengukuran kinerja daylighting Analisis dan pembahsan
Gambar 4. Model ruangan 2. Perakitan Kolektor Sinar Matahari (skylights)
Kolektor yang dipilih adalah jenis conventional skylights dimana bahan yang digunakan adalah genteng kaca sebagai penerus cahaya dan kaca cermin sebagai pemantul maupun pembelok arah cahaya matahari. Genteng kaca yang digunakan sejumlah 4 buah dipasang membentuk segi empat dengan ukuran 40 cm x 40 cm.
Gambar 5. Genteng kaca sebagai kolektor 3. Jalur Transportasi Cahaya
Jalur transportasi cahaya digunakan bangun segi empat dari bahan multiplek yang sisi dalamnya dilapisi dengan kaca cermin yang berfungsi memantulkan dan membelokkan cahaya menuju penyebar cahaya (diffuser). Jalur transportasi cahaya berfungsi sebagai penerus cahaya dari sinar matahari untuk diteruskan ke dalam ruang dengan arah yang tetap walaupun arah sinar matahari selalu bergeser dari timur ke barat. Ukuran segi empat menyesuaikan dengan ukuran genteng kaca maupun jumlah genteng kaca yang diinginkan. Dalam penelitian ini ukuran persegi panjang (model I) dalah 40 cm x 40 cm dengan panjang ± 80 cm (gambar 6.a) sedangkan untuk limas (model II) dengan ukuran pada ujung yang pertama 40 cm x 40 cm dan pada ujung yang kedua 80 cm x 80 cm dan panjang ± 80 cm (gambar 6.b). Semakin besar ukurannya diharapkan akan semakin besar intensitas cahaya matahari yang masuk. Sedangkan ukuran tinggi bangun persegi panjang dan limas disesuaikan dengan jarak dari atap genting ke plafon.
(a) (b)
Gambar 6. Bangun transportasi cahaya (a) Persegi panjang (model I) ; (b) Limas (model II)
4. Instalasi
Instalasi merupakan pemasangan model daylighting sesuai dengan kontruksi atap dan plafon rumah.
Gambar 7. Rangkaian instalasi daylighting 5. Perakitan Diffuser Cahaya
Diffuser atau penyebar cahaya yang digunakan dari jenis kaca doff atau bermotif sehingga hasil cahaya yang diperoleh lebih indah, menarik dan tidak silau (glare).
Gambar 8.Diffuser cahaya 6. Pengukuran kinerja model daylighting
Untuk mengetahui kinerja model daylighting, dilakukan pengujian atau pengukuran dengan alat pengukur intensitas cahaya yaitu lux meter sejumlah 2 unit.
Gambar 9. Luxmeter
Pengukuran intensitas cahaya dilakukan untuk menguji kinerja daylighting secara langsung pada model ruangan yaitu yang memenuhi kriteria bahwa ruangan tersebut pada siang hari membutuhkan penerangan. Pengukuran dilakukan untuk model I maupun model II pada jam dan menit yang sama. Hasil pengukuran di luar dan di dalam ruangan dibandingkan sehingga dapat
diketahui besarnya intensitas cahaya yang dapat diteruskan ke dalam ruangan dan sejauh mana intensitas tersebut dapat memenuhi kebutuhan minimal untuk penerangan ruangan.
Gambar 10.Kinerja daylighting
Hasil pengukuran intensitas cahaya di luar dan di dalam ruang pengujian seperti ditunjukkan pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 3. Hasil pengukuran intensitas cahaya daylighting model I No Pukul Luar ruangan Dalam ruangan Intensitas Cahaya (Lux) %
1 07 : 00 30.300 130 0,43% 2 07 : 20 39.600 147 0,37% 3 07 : 40 48.600 184 0,38% 4 08 : 00 59.100 232 0,39% 5 08 : 20 66.600 263 0,39% 6 08 : 40 75.900 304 0,40% 7 09 : 00 77.800 320 0,41% 8 09 : 20 88.900 387 0,44% 9 09 : 40 94.700 450 0,48% 10 10 : 00 101.200 3.214 3,18% 11 10 : 20 109.200 3.485 3,19% 12 10 : 40 80.700 358 0,44% 13 11 : 00 97.000 705 0,73% 14 11 : 20 116.000 3.950 3,41% 15 11 : 40 118.800 4.280 3,60% 16 12 : 00 117.800 4.230 3,59% 17 12 : 20 110.300 3.910 3,54% 18 12 : 40 105.010 3.650 3,48% 19 13 : 00 100.000 3.376 3,38% 20 13 : 20 96.200 810 0,84% 21 13 : 40 88.500 790 0,89% 22 14 : 00 75.700 470 0,62% 23 14 : 20 72.300 450 0,62% 24 14 : 40 62.800 415 0,66% 25 15 : 00 60.100 400 0,67% 26 15 : 20 49.500 300 0,61% 27 15 : 40 37.700 260 0,69% 28 16 : 00 32.900 280 0,85% 29 16 : 20 19.800 153 0,77% 30 16 : 40 12.200 134 1,10% 31 17 : 00 8.100 128 1,58% Jumlah 2.253.310 38.165 1,69% Rata-rata 72.687 1.231 1,69% Maksimum 118.800 4.280 3,60% Minimum 8.100 128 0,37%
Tabel 4. Hasil pengukuran intensitas cahaya daylighting model II No Pukul Luar ruangan Dalam ruangan Intensitas Cahaya (Lux) %
1 07 : 00 39.200 745 1,90% 2 07 : 20 51.400 893 1,74% 3 07 : 40 61.000 1.089 1,79% 4 08 : 00 47.000 825 1,76% 5 08 : 20 55.000 948 1,72% 6 08 : 40 61.900 1.015 1,64% 7 09 : 00 71.800 1.155 1,61% 8 09 : 20 76.100 1.245 1,64% 9 09 : 40 80.900 1.537 1,90% 10 10 : 00 84.100 1.621 1,93% 11 10 : 20 100.700 3.720 3,69% 12 10 : 40 115.100 3.840 3,34% 13 11 : 00 67.200 1.145 1,70% 14 11 : 20 47.100 965 2,05% 15 11 : 40 47.250 971 2,06% 16 12 : 00 54.200 1.039 1,92% 17 12 : 20 50.300 1.024 2,04% 18 12 : 40 46.000 913 1,98% 19 13 : 00 43.200 904 2,09% 20 13 : 20 52.300 1.033 1,98% 21 13 : 40 62.000 1.134 1,83% 22 14 : 00 79.100 1.539 1,95% 23 14 : 20 67.300 1.202 1,79% 24 14 : 40 63.300 1.158 1,83% 25 15 : 00 58.500 1.112 1,90% 26 15 : 20 46.300 914 1,97% 27 15 : 40 38.500 823 2,14% 28 16 : 00 27.900 654 2,34% 29 16 : 20 19.400 481 2,48% 30 16 : 40 10.700 312 2,92% 31 17 : 00 8.400 209 2,49% Jumlah 1.733.150 36.165 2,09% Rata-rata 55.908 1.167 2,09% Maksimum 115.100 3.840 3,69% Minimum 8.400 209 1,61%
Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil kinerja daylighting model I untuk intensitas cahaya dalam ruangan rata-rata sebesar 1,69% dari intensitas cahaya di luar ruangan. Hal ini berarti bahwa intensitas cahaya yang mampu diteruskan dari luar ke dalam ruangan hanya sebesar 1,69 % dari pukul 07.00 sampai dengan 17.00 WIB. Intensitas cahaya yang tinggi terjadi pada pukul 10.00 s.d 10.20 WIB dan pukul 11.20 s.d 12.00 WIB. Intensitas cahaya minimum di dalam ruangan untuk daylighting
model I sebesar 128 lux (pukul 17.00 WIB).
Pada Tabel 4, kinerja daylighting model II menunjukkan intensitas cahaya dalam ruangan rata-rata sebesar 2,09% dari intensitas cahaya di luar ruangan dari pukul 07.00 sampai dengan 17.00 WIB. Intensitas cahaya yang tinggi terjadi pada pukul 10.00 s.d 10.20 WIB. Intensitas cahaya minimum untuk model daylighting model II sebesar 209 lux (pukul 17.00 WIB).
Jika dibandingkan antara daylighting model I dengan model II, daylighting model II yaitu bentuk limas lebih baik dibandingkan dengan daylighting model I (persegi panjang). Intensitas cahaya yang dapat teruskan ke ruangan untuk daylighting model II (2,09%) lebih besar dari pada daylighting
model I (1,69%). Hal ini menunjukkan bahwa daylighting model II memiliki kemampuan meneruskan cahaya yang lebih baik sehingga kemampuan untuk memberikan penerangan ruangan juga lebih baik dari pada dengan daylighting model I. Intensitas cahaya minimum untuk daylighting model II (209 lux) juga lebih baik dari pada daylighting model I (128 lux). Dari kedua model daylighting
berdasarkan intensitas cahaya minimum, secara umum dapat digunakan sebagai penerangan ruang dalam rumah sesuai dengan tingkat pencahayaan yang direkomendasikan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) guna mendukung fungsi ruang dan mengukur kecukupan cahaya dalam ruang (Tabel 1).
Tingkat intensitas cahaya yang mampu diteruskan oleh kedua model daylighting sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan kuat sinar matahari. Jika cuaca terik/cerah maka penggunaan
daylighting akan berfungsi dengan baik dan sebaliknya jika cuaca mendung atau hujan maka penggunaan daylinghting kurang baik (tidak maksimal). Semakin tinggi instensitas cahaya di luar maka intensitas cahaya yang diteruskan oleh model daylighting juga akan semakin tinggi.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Intensitas cahaya yang dapat teruskan ke ruangan untuk daylighting model II (limas) sebesar 2,09% lebih besar dari pada daylighting model I (persegi panjang) yang hanya sebesar 1,69%.
2. Model daylighting dapat digunakan sebagai penerangan ruang sesuai dengan tingkat pencahayaan yang direkomendasikan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) guna mendukung fungsi ruang dan mengukur kecukupan cahaya dalam ruang.
3. Tingkat intensitas cahaya yang mampu diteruskan oleh model daylighting sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan kuat sinar cahaya matahari.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada DP2M Dikti, Pimpinan Univeritas, Fakultas dan LPPM Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional. 2000. SNI-03-6197-2000 Konservasi Energi Pada Sistem Pencahayaan. Carroll, Debra D. and Everett D. Howe., 1986, SunWorld, Victoria, International Solar Energy
Society, Vol. 10, No.1, 1986.
Dora, P.E. dan Nilasari, P.F, 2011 Pemanfaatan Pencahayaan Alami Pada Rumah Tinggal Tipe Townhouse Di Surabaya, Universitas Kristen Petra
Http://Repository.Petra.Ac.Id/15247/5/Pemanfaatan_Cahaya_Alami_Pada_Rumah_Tinggal_Tip e_ Townhouse_Di_Perkotaan_Padat_Penduduk.Pdf. Diakses tanggal 25 April 2013
Gempur, Santoso, 2004, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Prestasi Pustaka, Jakarta Hastings, S.R., 1994, Passive Solar Commercial and Institutional Buildings, A Sourcebook of
Examples and Design Insights, New York, John Wiley & Sons, 1994.
Honggowidjaja, Stephanus P. 2003, Pengaruh Signifikan Tata Cahaya Pada Desain Interior. Dimensi Interior. 1 (1). 1-15 12
Kurniasih, S., 2009, Pengaruh Penggunaan Kombinasi Skylight dan Ventilasi Atap Terhadap Kenyamanan Pada Pengembangan Rumah Sederhana Tanpa Bukaan Samping, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDQ QFjAB& url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F128901-T%252026704-pengaruh% 2520penggunaan-Lampiran.pdf&ei=bkKAUaK0Ko3PrQfL4oHgDw&usg=AFQjCNEAuCgMei9tJVIN
5800GAq0RnWuw&bvm=bv.45921128,d.bmk Diakses tanggal 24 April 2013
Mintorogo, DS, 1999, Strategi Daylighting pada Bangunan Multi-lantai Di atas dan Di bawah Permukaan Tanah, Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Volume 27, No. 1, Juli 1999, Halaman 64-75, Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Kristen Petra
Rillie, DW. at.al, 2008, Skylight Domes with Relections. United States Patent, Date of Patent: Januari 29 2008, Patent No: 7.322.156 BI
Sodikin, Suprapto dan Widiyanto, 2012, Tabung Daylighting Berbahan Sederhana untuk Penerangan Pasif pada Bangunan Rumah Tinggal, Proceeding Seminar Hasil Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Veteran Bangun Nusantara Tanggal 15 September 2012 ISBN: 978-602-99172-7-7
Taruna, O.,Asri, I.R.D dan Wikantarti, T, 2010, Bab 2 Cahaya, Diktat Kuliah Fisika Bangunan 1, Gunadarma. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/fisika-bangunan_1/bab2_cahaya.pdf. Diakses tanggal 25 April 2013