DATA DASAR ASPEK SOSIAL
TERUMBU KARANG INDONESIA
Kawasan Pulau Tiga, Kecamatan Bunguran Barat,
DATA DASAR ASPEK SOSIAL
TERUMBU KARANG INDONESIA
Kawasan Pulau Tiga, Kecamatan Bunguran Barat,
Kabupaten Natuna
Oleh :
Deny Hidayati
Devi Asiati
Dewi Harfina
COREMAP – LIPIPUSAT PENELITIAN KEPENDUDUKAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
(PPK-LIPI) 2005
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
RINGKASAN
Studi aspek sosial terumbu karang ini bertujuan untuk mengumpulkan data dasar kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang berkaitan dengan pemanfaatan terumbu karang dan sumber daya laut lainnya. Hasil studi diharapkan menjadi bahan masukan untuk perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program COREMAP, khususnya di kawasan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna.
Kawasan Pulau Tiga yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan mempunyai potensi sumber daya laut, khususnya perikanan tangkap, yang tinggi. Potensi yang cukup mencolok adalah ekosistem terumbu karang dengan keberagaman ikan dan biota yang hidup di sekitarnya. Pada umumnya sumber daya laut di kawasan ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh penduduk lokal, karena sebagian besar nelayan masih melaut di bagian tepi dan hanya sebagian kecil yang beroperasi di laut lepas. Tetapi di sekitar kawasan terumbu karang, kegiatan perikanan tangkap sudah dilakukan secara intensif oleh nelayan lokal dan nelayan luar menggunakan bahan peledak (bom) dan beracun (bius/potas), sehingga telah menyebabkan degradasi ekosistem tersebut.
Hanya sebagian kecil wilayah yang merupakan daratan, berupa pulau-pulau kecil dengan tiga pulau-pulau yang menjadi pusat permukiman penduduk, yaitu Pulau Sabung (Desa Sabang Mawang), Pulau Batang (Desa Pulau Tiga) dan Pulau Selapi (Desa Sededap). Ketiga pulau ini mempunyai topografi yang dominasi oleh bukit dengan kelerengan yang sangat curam. Bukit di ke tiga pulau ini dulunya merupakan hutan yang hampir seluruhnya sudah dikonversi menjadi kebun kelapa dan cengkeh. Usaha perkebunan kelapa sudah dikembangkan lama, sejak zaman penjajahan, pohon-pohon kelapa yang ada saat ini sudah tidak produktif lagi karena sudah sangat tua. Sedangkan perkebunan cengkeh sudah berkembang sejak tahun 1970-an, tetapi perkebunan ini tidak dikelola secara baik, sehingga produksinya juga mengalami penurunan.
Gambaran Kondisi Penduduk
Kawasan Pulau Tiga dihuni oleh lebih dari seribu kepala keluarga atau sekitar 4.500 jiwa. Penduduk di kawasan ini kebanyakan adalah migran dari Sedanau yang merupakan keturunan suku melayu asal Serawak Malaysia, Bugis, Buton, Jawa dan lainnya. Sebagian penduduk mempunyai tingkat pendidikan yang relatif rendah, sekitar 75 persen
iv
berpendidikan SD ke bawah. Kebanyakan penduduk, atau 52 persen responden, menggantungkan kehidupannya pada sumber daya laut, terutama sebagai nelayan, sedangkan sisanya bekerja sebagai petani, pedagang dan tenaga jasa. Keberagaman mata pencaharian memberikan peluang yang cukup besar bagi penduduk untuk memiliki pekerjaan lebih dari satu, seperti nelayan dan sekaligus petani.
Pekerjaan mempunyai relevansi dengan pendapatan penduduk di kawasan Pulau Tiga. Sebagian besar pendapatan bersumber dari perikanan tangkap dan budidaya. Rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp 782.000 per rumah tangga atau Rp 228.000 per kapita. Jumlah pendapatan tersebut berada di atas garis kemiskinan untuk Provinsi Kepulauan Riau (Rp 134.000 per kapita per bulan). Pendapatan rumah tangga juga bervariasi antar musim, dimana pada waktu musim ikan, rata-rata pendapatan per bulan hampir lima kali lipat jika dibandingkan dengan musim sulit ikan.
Jenis pekerjaan dan besarnya pendapatan berkaitan erat dengan kepemilikan aset rumah tangga. Hasil survei mengungkapkan rata-rata nilai aset rumah tangga cukup besar, sekitar Rp 25.496.000, tetapi variasi antar rumah tangga juga sangat tinggi. Besarnya nilai aset terutama berasal dari nilai rumah, barang elektronik dan perhiasan. Sedangkan aset alat produksi kontribusinya paling rendah, karena banyak rumah tangga yang tidak mempunyai alat produksi.
Kegiatan Kenelayanan
Kegiatan nelayan di kawasan Pulau Tiga bervariasi menurut jenis ikan yang ditangkap, alat tangkap dan musim. Berdasarkan jenis ikan, nelayan dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu: nelayan ikan mati yang biasa disebut dengan nelayan tongkol (nongkol) dan nelayan ikan hidup. Nelayan ikan mati adalah nelayan yang menangkap ikan terutama ikan tongkol pada musim utara yaitu bulan November sampai dengan Februari/Maret. Di samping tongkol, nelayan juga menangkap ikan lainnya, seperti: krisi bali, kakap dan tenggiri.
Setelah angin kencang berakhir, jumlah ikan tongkol dan ikan lainnya berkurang, karena itu nelayan ikan mati beralih menjadi nelayan penangkap ikan hidup (ikan karang). Penangkapan ikan hidup biasanya dilakukan pada musim teduh. Umumnya nelayan menggunakan pancing di sekitar terumbu karang. Ikan hidup merupakan ikan target bagi nelayan karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai ikan ekspor, terutama napoleon, kerapu dan sunu, dengan pasar yang utama adalah pasar Hongkong.
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
Kegiatan penangkapan ikan mati dan ikan hidup dilakukan nelayan di kawasan Pulau Tiga dan perairan sekitarnya di Kabupaten Natuna. Untuk ikan mati, terutama tongkol, wilayah tangkap bervariasi. Pada musim angin kencang wilayah tangkap terbatas pada wilayah perairan sekitar Kecamatan Bunguran Barat, Bunguran Timur, Kecamatan Siantan dan Kecamatan Midai. Sedangkan pada musim teduh, nelayan menangkap pada wilayah yang lebih luas mencapai laut lepas pada jalur pelayaran kapal tanker ke Singapura dan Malaysia. Sedangkan penangkapan ikan hidup terkonsentrasi di kawasan-kawasan yang kaya akan terumbu karang. Mulanya nelayan hanya menangkap di kawasan karang sekitar Pulau Sabung, Pulau Batang dan Pulau Selapi, tetapi dengan semakin terbatasnya ikan karang di kawasan ini, maka nelayan menangkap ikan hidup pada wilayah yang lebih luas, meliputi kawasan karang di Kecamatan Bunguran Barat, Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Serasan, Kecamatan Midai dan Kecamatan Siantan.
Secara umum teknologi tangkap nelayan di kawasan Pulau Tiga masih sederhana, diindikasikan dari armada tangkap berupa perahu motor (pompong) dengan kapasitas yang terbatas. Sebagian besar nelayan mempunyai mesin perahu berkapasitas hanya 0 – 5 GT dan hanya sebagian kecil yang kapasitasnya 5 – 10 GT dengan muatan mencapai 3 ton per pompong. Masih terbatasnya pompong nelayan mencerminkan terbatasnya kemampuan perahu nelayan. Hanya sebagian kecil pompong yang mampu melaut pada wilayah yang cukup jauh sampai mencapai ke tengah laut yang menjadi wilayah tangkap kapal-pakal ikan dari luar daerah, seperti: dari Tegal, Kalimantan Barat, Batam, Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun dan Medan.
Armada tangkap nelayan kawasan Pulau Tiga juga dilengkapi oleh alat tangkap dan bahan yang bervariasi. Sebagian besar nelayan menggunakan alat tangkap yang sederhana, seperti pancing, jaring, bubu, kelong dan cedok dan hanya beberapa yang mengusahakan bagan. Dengan peralatan yang sederhana ini, kemampuan nelayan menangkap ikan (mati dan hidup) juga terbatas, padahal jumlah nelayan semakin banyak, tidak hanya nelayan lokal melainkan juga nelayan luar. Untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak, maka banyak nelayan lokal meniru nelayan luar dengan menggunakan bahan peledak (bom) dan bahan beracun (bius/potas).
Produksi dan Pemasaran
Produksi bervariasi antar musim. Pada musim angin teduh produksi ikan cukup tinggi dan sebaliknya ketika musim angin kencang produksi ikan berkurang separuh sampai hanya sepertiga dari produksi pada musim teduh. Produksi perikanan mengalami peningkatan setelah adanya
vi
permintaan ikan dari luar pada awal tahun 1990-an. Produksi ikan mati meningkat secara gradual dengan semakin banyaknya nelayan dan penggunaan bahan peledak (bom) oleh nelayan lokal. Ikan mati di jual kepada pedagang pengumpul (pabrik es) yang kemudian memasarkannya ke Tanjung Pinang dan Batam, dan kapal-kapal ikan Kalimantan untuk pemasaran di Kalimantan Barat.
Sedangkan produksi ikan hidup meningkat secara substantial dengan masuknya kapal ikan Hongkong secara berkala di kawasan ini. Sebagai komoditi ekspor, ikan hidup, terutama jenis kerapu, sunu dan napoleon, mempunyai nilai jual yang tinggi, disesuaikan dengan harga pasar international di Hongkong. Penentuan harga ditentukan oleh agen tunggal yang memonopoli pemasaran ikan hidup di kawasan ini. Tingginya nilai ekonomis ikan hidup menyebabkan aktivitas penangkapan ikan tersebut semakin intensif, tidak hanya dilakukan nelayan lokal melainkan juga nelayan dari luar. Untuk memenuhi permintaan, nelayan menggunakan bahan ilegal berupa bius/potas.
Kerusakan Sumber Daya Laut
Eksploitasi sumber daya laut di kawasan Pulau Tiga menyebabkan degradasi sumber daya laut di kawasan ini, menurut sebagian besar responden dan informan yang kerusakan sudah mencapai kondisi yang memprihatinkan. Pendapat ini didukung oleh data survei ekologi yang dilakukan P2O-LIPI tahun 2005 yang menggambarkan bahwa tujuh dari delapan titik sampling mempunyai tutupan karang di bawah 50 persen. Tutupan karang terendah (27,8 persen) berada di kawasan karang Desa Pulau Tiga. Kerusakan terumbu karang berdampak negatif terhadap ketersediaan ikan dan biota laut di kawasan Pulau Tiga. Hal ini dapat diketahui dari penurunan produksi ikan-ikan karang secara substansial, terutama ikan yang mempunyai nilai jual yang tinggi, seperti berbagai jenis kerapu dan sunu, sedangkan ikan napoleon telah mengalami kelangkaan.
Penggunaan alat tangkap dan bahan ilegal diklaim sebagai faktor utama penyebab kerusakan. Hampir semua responden menyebutkan pengeboman dan pembiusan dilakukan di kawasan Pulau Tiga dan perairan di sekitarnya. Kegiatan pengeboman yang dilakukan nelayan lokal dan nelayan luar sudah berlangsung lebih dari 30 tahun dan masih berlangsung, walaupun frekuensi dan jumlahnya sudah berkurang secara signifikan. Sedangkan pembiusan sudah berlangsung belasan tahun sejak awal 1990-an dan masih terus berlangsung, juga dilakukan oleh nelayan lokal dan nelayan luar. Di samping bom dan bius, pukat harimau atau trawl juga di digunakan di kawasan Pulau Tiga dan perairan sekitarnya. Kegiatan ini khususnya dilakukan oleh nelayan luar,
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
terutama nelayan Thailand yang beroperasi di tengah laut, tetapi seringkali melakukan kegiatan di bagian pesisir yang menjadi wilayah tangkap nelayan lokal. Masih berlangsungnya kegiatan-kegiatan ilegal ini mengindikasikan bahwa penegakan hukum masih lemah.
Keberadaan kapal-kapal ikan Thailand ini telah meresahkan masyarakat di kawasan Pulau Tiga. Ijin operasi kapal-kapal tersebut masih dipertanyakan, walapun menurut pihak Lanal, mereka mempunyai ijin dari pemerintah pusat, sedangkan pihak-pihak lain menyangsikan ijin tersebut. Keresahan masyarakat tidak hanya didasarkan pada terancamnya kelestarian sumber daya ikan saja, melainkan juga keberadaan kapal-kapal tersebut mengganggu kegiatan dan ketentraman/kenyamanan nelayan dan penduduk di kawasan Pulau Tiga. Masyarakat di kawasan ini bahkan sudah membentuk Forum Peduli dan telah menyampaikan keberatan mereka kepada pihak pemerintah dan lembaga legislatif di tingkat kabupaten. Permasalahan tersebut juga sudah disampaikan ke pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan sebagai respon Menteri DKP pernah datang ke Natuna, tetapi tindak lanjut dari kedatangan tersebut belum optimal.
Pengelolaan Sumber Daya Laut
Hasil studi ini menggambarkan bahwa selama ini pengelolaan sumber daya laut terfokus pada pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap di kawasan terumbu karang dan perairan laut di wilayah Pulau Tiga dan sekitarnya. Kegiatan perikanan tangkap berkembang secara alami yang dilakukan oleh nelayan lokal dan nelayan dari luar. Di samping itu, perikanan budidaya, terutama karamba (kamp atau ternak) ikan hidup, juga mulai berkembang di kawasan ini.
Banyaknya nelayan, baik lokal maupun dari luar, yang beroperasi di kawasan ini berimplikasi pada tingginya kompetisi dalam memperebutkan SDL di kawasan tersebut. Keadaan ini menimbulkan perbedaan kepentingan dan tumpang tindih wilayah tangkap, sehingga menimbulkan konflik antar nelayan. Konflik antara nelayan lokal dan nelayan Thailand berkaitan erat dengan penggunaan alat tangkap pukat harimau (trawl) oleh nelayan Thailand dan masuknya nelayan asing itu ke wilayah tangkap nelayan lokal dan sebaliknya, sebagian kecil nelayan lokal juga mengembangkan wilayah tangkap ke tengah lautan. Kompetisi perebutan sumber daya laut, khususnya ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, seperti: kerapu, sunu dan napoleon, juga terjadi antara nelayan lokal dan nelayan luar (seperti: nelayan Midai dan Tarempa) untuk ikan hidup dan ikan mati dengan nelayan dari Tanjung Balai Karimun, Batam, Tegal, Medan dan Kalimantan Barat. Dengan armada
viii
tangkap yang masih sederhana, nelayan lokal tentu saja kalah bersaing dan sangat dirugikan dengan keberadaan nelayan asing dan nelayan lain dari luar kawasan yang umumnya dilengkapi dengan armada tangkap yang jauh lebih besar kapasitasnya.
Selama ini kegiatan pemerintah, khususnya dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna, yang berkaitan dengan pengembangan SDL terbatas pada program PEM dari pemerintah pusat dan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang didanai oleh APBD. Tetapi, program tersebut belum berjalan optimal, hanya segelintir anggota masyarakat, khususnya yang mempunyai kedekatan dengan pihak yang berwenang di tingkat desa yang mendapatkan manfaat. Sebagian masyarakat juga mengklaim bahwa kegiatan ini juga kurang mendapat bimbingan dari instansi yang berwenang, baik secara teknis maupun non-teknis. Permasalahan ini perlu mendapat perhatian dan menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kegiatan COREMAP.
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
KATA PENGANTAR
Buku Laporan Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang di Kawasan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna ini merupakan salah satu hasil penelitian dari Pusat Penelitian Kependudukan (PPK-LIPI) bekerja sama dengan COREMAP-LIPI. Penelitian dilakukan di 10 lokasi COREMAP di Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kepulauan Riau. Buku laporan ini berisi data dasar dan kajian tentang kondisi demografi dan sosial-ekonomi penduduk yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut, khususnya di Kawasan Pulau Tiga. Hasil kajian ini merupakan bahan yang dapat dipakai oleh para perencana dan pengelola dalam merancang, melaksanakan dan memantau program COREMAP. Di samping itu, data dasar ini juga dapat digunakan oleh
stakeholders (users) sebagai bahan pembelajaran dalam pemanfaatan
sumber daya laut, khususnya terumbu karang.
Terlaksananya kegiatan penelitian dan penulisan laporan melibatkan berbagai pihak. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada narasumber, informan dan semua responden yang telah menyediakan waktu untuk diwawancarai dan memberikan informasi yang sangat bermanfaat dalam studi ini. Penghargaan kami berikan kepada pimpinan dan aparat Desa Sabang Mawang, Desa Pulau Tiga dan Desa Sededap serta para pewawancara yang telah memberikan informasi dan membantu kelancaran kegiatan penelitian. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada CRITC, Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Natuna yang telah memfasilitasi kegiatan penelitian ini. Selain itu, terima kasih juga ditujukan kepada rekan-rekan dari bagian kerjasama dan keuangan yang telah memperlancar kegiatan penelitian serta dari bagian komputer yang telah membantu dalam pengolahan data dan lay-out buku ini.
Pada akhirnya, kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna meskipun tim peneliti telah berusaha sebaik mungkin dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan laporan ini.
Jakarta, September, 2005
Kepala PPK-LIPI,
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
DAFTAR ISI
Ringkasan iii Kata Pengantar ix Daftar Isi xi Daftar Tabel xvDaftar Peta xvii
Daftar Bagan xix
Daftar Ilustrasi xxi
BAB I. PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Tujuan 3 1.3. Metodologi 4 1.4. Organisasi Penulisan 7
BAB II. PROFIL KAWASAN PULAU TIGA 9
2.1. Keadaan Geografis 9
2.2. Keadaan Sumber Daya Alam 11
2.2.1. Sumber Daya Laut 11
2.2.2. Sumber Daya Darat 12
2.3. Kondisi Kependudukan 13
2.4. Sarana dan Prasarana Sosial-Ekonomi 15
2.4.1. Sarana Transportasi 15
2.4.2. Sarana Perikanan 17
2.4.3. Sarana Ekonomi 18
2.4.4. Sarana Pendidikan 20
2.4.5. Sarana Kesehatan 20
2.4.6. Sarana Air Bersih dan MCK 21 2.4.7. Sarana Penerangan dan Informasi 22
2.5. Kelembagaan Sosial-Ekonomi 22
BAB III. POTRET PENDUDUK KAWASAN PULAU TIGA 25
3.1. Jumlah dan Komposisi 25
3.2. Kualitas Sumber Daya Manusia 27 3.2.1. Pendidikan dan Keterampilan 28
3.2.2. Derajat Kesehatan 31
3.2.3. Pekerjaan 32
3.3. Kesejahteraan Masyarakat 42
3.3.1. Pendapatan Rumah Tangga :
Dua Lapangan Pekerjaan Mayoritas 42 3.3.2. Pengeluaran Rumah Tangga 50
xii
3.3.3. Strategi Pengelolaan Keuangan
Rumah Tangga 56
3.3.4. Pemilikan Aset Rumah Tangga 59 3.3.5. Kondisi Pemukiman dan Sanitasi
Lingkungan 65
BAB IV. PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT 69
4.1. Pengetahuan, Kesadaran dan Kepedulian terhadap Penyelamatan Terumbu
Karang 69
4.1.1. Pengetahuan dan Sikap tentang
Terumbu Karang 69
4.1.2. Pengetahuan dan Sikap tentang
Alat Tangkap 73
4.2. Wilayah Pengelolaan 79
4.2.1. Penangkapan Ikan Mati 80 4.2.2. Penangkapan Ikan Hidup 81 4.2.3. Penangkapan Ikan Menurut Musim
‘Kalender Waktu Melaut’ 83
4.3. Teknologi Penangkapan 85
4.3.1. Armada Tangkap 86
4.3.2. Teknologi Pasca Tangkap 93 4.4. Stakeholders yang Terlibat dalam Pengelolaan SDL 94
4.4.1. Nelayan 94
4.4.2. Penampung Ikan 95
4.4.3. Agen Penampung dan Eksportir Ikan Hidup 96 4.4.4. Pengelola Pabrik Es dan Penampung
Ikan Mati 98
4.4.5. Forum Peduli (Nelayan Asing) 98
4.4.6. COREMAP 99
4.4.7. Nelayan Luar 100
4.5. Hubungan Kerja dalam Pengelolaan SDL 102 4.5.1 Pemilik dan Penumpang Pompong 102 4.5.2. Nelayan dan Pabrik Es/Pengumpul
Ikan Mati 102
4.5.3. Nelayan dan Pedagang Pengumpul &
Agen Penampung Ikan Hidup 103 4.5.4. Hubungan Sektor Relevan dalam
Pengelolaan SDL 104
BAB V. PRODUKSI DAN PEMANFAATAN SDL 107
5.1. Produksi Sumber Daya Laut di Kawasan
Pulau Tiga 107
5.1.1. Produksi ikan hidup 108
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
5.1.3. Ikan Bilis 122
5.1.4. Biota dan Hasil Laut Lainnya 123 5.2. Pengolahan Sumber Daya Laut 124
5.2.1. Ikan Asin 125
5.2.2. Ikan Pedak 126
5.2.3. Kerupuk Ikan 126
5.2.4. Kerupuk Atom 127
5.3. Pemasaran Sumber Daya Laut 127 5.3.1. Pemasaran Ikan Hidup
(Kerapu dan Sunu) 128
5.3.2. Pemasaran Ikan Mati
(Tongkol dan Tamban) 132
5.3.3. Pemasaran Ikan Bilis 136 BAB VI. DEGRADASI SDL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
BERPENGARUH 137 6.1. Kerusakan Sumber Daya Laut 137
6.2. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap
Kerusakan 138
6.2.1. Bahan dan Alat Tangkap yang Merusak 139 6.2.2. Lemahnya Penegakan Hukum 146 6.3. Konflik Kepentingan antar Stakeholders 149 6.3.1. Nelayan Lokal Versus Nelayan Luar 149 6.3.2. Nelayan dan Pengusaha Perikanan 152 6.3.3. Masyarakat dan Pemerintah 153
BAB VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 157
7.1. Kesimpulan 157
7.2. Rekomendasi 167
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Jumlah penduduk desa di Kawasan Pulau Tiga,
tahun 2004 13
Tabel 3.1. Penduduk berusia 15 tahun ke atas menurut
jenis kegiatan 27
Tabel 3.2. Penduduk berusia 10 tahun ke atas menurut tingkat
pendidikan yang ditamatkan 28
Tabel 3.3. Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja
menurut pekerjaan utama 33
Tabel 3.4. Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja
menurut pekerjaan tambahan 40
Tabel 3.5. Pendapatan rumah tangga per bulan desa di
Kawasan Pulau Tiga 43
Tabel 3.6. Pendapatan rumah tangga menurut pekerjaan
kelapa rumah tangga 44
Tabel 3.7. Besar pendapatan dari perikanan menurut musim 45 Tabel 3.8. Pengeluaran rumah tangga desa-desa Kawasan
Pulau Tiga 51
Tabel 3.9. Pengeluaran pangan rumah tangga menurut jenis
pengeluaran 53 Tabel 3.10. Pengeluaran non pangan rumah tangga menurut
jenis pengeluaran 56
Tabel 3.11. Strategi rumah tangga mengatasi kesulitan
kebutuhan utama 57
Tabel 3.12. Strategirumah tangga mengatasi kesulitan
kebutuhan utama 59
Tabel 3.13. Kepemilikan aset produksi perikanan 61 Tabel 3.14. Kepemilikanaset pertanian dan aset lain 65 Tabel 3.15. Kondisi sanitasi lingkungan rumah tangga 66 Tabel 4.1. Pengetahuan responden mengenai terumbu karang dan fungsinya, Kawasan Pulau Tiga, tahun 2005
xvi
Tabel 4.2. Kondisi terumbu karang di Kawasan Pulau Tiga,
tahun 2005 72
Tabel 4.3. Pengetahuan responden mengenai bahan dan alat tangkap yang merusak terumbu karang di Kawasan
Pulau Tiga, tahun 2005 74
Tabel 4.4. Pengetahuan responden mengenai adanya larangan penggunaan bahan dan alat yang merusak terumbu
karang, tahun 2005 75
Tabel 4.5. Pendapat responden mengenai larangan penggunaan bahan dan alat tangkap yang merusak terumbu
karang, tahun 2005 76
Tabel 4.6. Pendapat responden mengenai pengambilan karang,
tahun 2005 76
Tabel 4.7. Pengetahuan responden mengenai adanya nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang di Kawasan Pulau Tiga
dalam setahun terakhir 77 Tabel 4.8. Responden yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang dan pengambilan karang
dalam satu tahun terakhir 78
Tabel 4.9. Tujuan pengambilan karang hidup dan karang mati di Kawasan Pulau Tiga, tahun 2005 79 Tabel 4.10. Pengetahuan responden mengenai sanksi bagi
pelanggar yang menggunakan bahan dan alat yang merusak dan pengambilan karang,
tahun 2005 79
Tabel 4. 11. Armada tangkap di Kawasan Pulau Tiga, tahun 2005 86 Tabel 5.1. Produksi ikan hidup di Kecamatan Bunguran
Barat, Maret-Desember 2004 109
Tabel 5.2. Perkiraan produksi ikan mati di Kawasan Pulau Tiga 116 Tabel 5.3. Daftar harga ikan hidup pada Pedagang Pengumpul 130 Tabel 5.4. Daftar harga ikan di pabrik es Desa Sabang Mawang,
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
DAFTAR PETA
Peta 2.1. Kawasan Pulau Tiga dan lokasi terumbu karang
dan mangrove 10
Peta 4.1. Wilayah penangkapan ikan mati (tongkol) 80 Peta 4.2. Wilayah penangkapan ikan hidup 83 Peta 6.1. Kondisi tutupan terumbu karang kawasan
perairan Pulau Tiga 138
Peta 6.2. Wilayah Pengeboman di Kawasan
Pulau Tiga dan Sekitarnya 140
Peta 6.3. Wilayah Pembiusan di Kawasan
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1. Komposisi penduduk desa di Kawasan Pulau Tiga 26 Bagan 5.1. Rantai pemasaran ikan hidup, tahun 2005 128 Bagan 5.2. Rantai pemasaran ikan tongkol di tingkat lokal,
tahun 2005 133
Bagan 5.3. Rantai pemasaran ikan tambak di tingkat lokal 133 Bagan 5.4. Rantai pemasaran ikan tongkol di tingkat domestik 134
Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Kawasan Pulau Tiga
DAFTAR ILUSTRASI
Ilustrasi 3.1. Perhitungan Pendapatan Nelayan Tongkol 46 Ilustrasi 3.2. Perhitungan Pendapatan Cengkeh 50 Ilustrasi 3.3. Pengeluaran Rumah Tangga 54 Ilustrasi 5.1. Perkiraan produksi ikan hidup di Kecamatan
Bunguran Barat Berdasarkan Penjualan ke Kapal
Hongkong. 110 Ilustrasi 5.2: Perkiraan produksi ikan hidup hasil tangkapan
nelayan Kawasan Pulau Tiga 113
Ilustrasi 5.3. Biaya melaut ikan hidup 113 Ilustrasi 5.4. Perkiraan produksi ikan tongkol di Kawasan
Pulau Tiga 119
Ilustrasi 5.5. Biaya sekali melaut 119
Ilustrasi 5.6. Perkiraan produksi ikan tamban di Kawasan
Pulau Tiga 121
Ilustrasi 5.7. Biaya menangkap ikan di bagan dalam
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kabupaten Natuna mempunyai Sumber Daya Laut (SDL) yang sangat potensial, diindikasikan dari sebagian besar wilayah, 138.600 km2 atau 97 persen, merupakan lautan. Kabupaten ini terdiri dari wilayah kepulauan dengan tiga pulau besar (Bunguran, Jemaja dan Serasan) dan 271 pulau-pulau kecil (BPS Kabupaten Natuna, 2004). Natuna dikenal sangat kaya akan terumbu karang dengan berbagai jenis karang, ikan dan biota yang hidup di sekitarnya.
Terumbu karang merupakan aset yang penting dalam pembangunan Kabupaten Natuna. Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan fungsi ekologi untuk keseimbangan lingkungan. Dari aspek ekonomi, terumbu karang merupakan sumber penghasilan masyarakat dan devisa daerah. Ikan-ikan karang, seperti napoleon, kerapu dan sunu, merupakan ikan-ikan ekspor dengan harga jual yang sangat tinggi. Terumbu karang merupakan bahan dasar pembuatan obat-obatan dan kosmetika yang belum dikembangkan. Keindahan terumbu karang dan biota laut bawah laut sangat potensial sebagai objek wisata bahari. Dari aspek ekologi, terumbu karang merupakan ‘rumah’ ikan, tempat tumbuh dan berkembang biaknya ikan-ikan karang. Terumbu karang juga berfungsi melindungi pantai dan pulau-pulau kecil dari hantaman badai dan ombak besar.
Kekayaan SDL di Kabupaten Natuna belum dimanfaatkan secara optimal, tetapi di beberapa wilayah telah mengalami degradasi dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Di kawasan perairan Pulau Tiga, Kecamatan Bunguran Barat, misalnya, telah terjadi kerusakan terumbu karang. Hasil survei ekologi Puslit Oceanografi LIPI mengungkapkan sebagian besar kawasan perairan Pulau Tiga mempunyai tutupan karang kurang dari 50 persen. Di beberapa kawasan karang, terutama sekitar Desa Pulau Tiga, tutupan karangnya hanya mencapai 27-28 persen (P2O-LIPI, 2005).
Kerusakan terumbu karang erat kaitannya dengan perilaku manusia yang merusak, di samping faktor alami, seperti gempa dan badai. Kegiatan penangkapan ikan karang hidup dengan menggunakan bahan peledak (bom) dan bahan beracun (bius/potas) yang dilakukan oleh nelayan lokal dan nelayan dari luar kawasan Pulau Tiga diklaim sebagai penyebab kerusakan. Hal ini berkaitan erat dengan motif ekonomi, untuk
mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya, dan non-ekonomi, terutama masih kurangnya pengetahuan dan kepedulian akan pentingnya pelestarian terumbu karang.
Dalam upaya merehabilitasi dan mengelola terumbu karang, pemerintah Indonesia berinisiatif mengimplementasikan COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program). Tujuan utama program adalah pemanfaatan terumbu karang secara berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, khususnya di lokasi COREMAP. Untuk mencapai tujuan ini, maka COREMAP menjadikan Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) menjadi sentral dalam kegiatan. Kegiatan PBM dilaksanakan di tingkat
grassroot yaitu di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan
keterlibatan langsung dari nelayan dan masyarakat pesisir. Agar kegiatan PBM dapat berjalan baik, maka perlu didukung oleh komponen lain, yaitu: peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pengelolaan terumbu karang (PA), pengawasan dan penegakan hukum (MCS) dan pusat riset, informasi dan training (CRITCs).
Pelaksanaan COREMAP dilakukan seirama dengan arah kebijakan kelautan Provinsi Kepulauan Riau. Pengembangan SDL menjadi prioritas kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara: (1) pemanfaatan SDL secara optimal melalui kegiatan penangkapan ikan, budidaya dan pariwisata, dan (2) menekan kegiatan yang merusak sumber daya alam ini, sebaliknya mendukung kegiatan konservasi dan pelestarian SDL (CRITC Riau, 2002).
Pelaksanaan COREMAP direncanakan dalam 3 fase. Fase I dimulai sejak diluncurkannya program ini tahun 2000 oleh Presiden Abdul Rahman Wahid dan berakhir tahun 2002/2003. Hasil evaluasi lembaga independen yang diketuai oleh IUCN, mengungkapkan bahwa COREMAP Fase I cukup berhasil, dengan demikian program ini dapat dilanjutkan. Saat ini COREMAP Fase II sudah dimulai dan akan berlangsung selama 6 tahun. Untuk itu persiapan-persiapan dan pembuatan design COREMAP di masing-masing daerah sedang dilakukan.
Pada fase II ini, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, termasuk sebagai salah satu lokasi COREMAP. Pada tahap ini, kegiatan COREMAP terpusat pada kawasan perairan Pulau Tiga, Kecamatan Bunguran Barat. Design COREMAP di Kabupaten Natuna, khususnya kawasan Pulau Tiga, sedang disiapkan sesuai dengan potensi daerah, kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Design yang ramah penduduk dan lingkungan ini sangat diperlukan agar program ini dapat diimplementasikan sesuai dengan tujuan COREMAP. Untuk itu diperlukan data dan informasi yang berkaitan dengan: potensi wilayah,
keadaan sosial ekonomi penduduk, pemanfaatan terumbu karang dan SDL, kerusakan terumbu karang, stakeholders yang terlibat dan bentuk keterlibatan dalam pengelolaan terumbu karang dan upaya merubah perilaku masyarakat dari kegiatan yang merusak menjadi kegiatan yang mendukung pelestarian terumbu karang serta upaya peningkatan kesejahteraan penduduk. Data dan informasi ini sangat diperlukan tidak hanya untuk merancang program COREMAP, melainkan juga untuk memantau dan mengevaluasi program tersebut.
1.2. Tujuan Tujuan Umum
Kajian aspek sosial ekonomi terumbu karang bertujuan untuk memberikan gambaran umum (data dasar) kondisi demografi, sosial dan ekonomi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, khususnya dilokasi COREMAP Fase II. Data dan informasi ini secara langsung maupun tidak langsung berkaitan erat dengan pemanfaatan dan pelestarian sumber daya laut (SDL), khususnya ekosistem terumbu karang.
Tujuan Khusus
Untuk mendapatkan gambaran kondisi demografi, sosial dan ekonomi masyarakat, maka secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk:
- Menggambarkan profil desa dan penduduk di lokasi penelitian, termasuk letak dan kondisi geografi, potensi sumber daya alam, baik di daratan maupun lautan, kharakteristik demografi penduduk, sarana dan prasarana serta kelembagaan sosial dan budaya yang ada di lokasi tersebut, terutama kelembagaan yang berpotensi mendukung dan/atau menghambat kegiatan COREMAP
- Mendiskripsikan kondisi sumber daya laut (SDL), terutama yang berkaitan dengan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya. Diskripsi meliputi potensi SDL, pola dan wilayah pemanfaatan, teknologi yang digunakan dalam perusakan dan pelestarian, produksi dan pemasaran hasil laut
- Mengidentifikasi dan menganalisa kondisi sumber daya manusia (SDM), dari aspek kuantitas maupun kualitas, dan aspek ekonomi, termasuk pendapatan dan pengeluaran serta keberadaan aset rumah tangga. Gambaran ini dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan penduduk di lokasi penelitian. Studi ini juga mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang potensial untuk dijadikan mata pencaharian alternatif, agar penduduk dapat merubah kegiatannya dari kegiatan yang
merusak terumbu karang menjadi kegiatan yang mendukung pelestarian sumber daya laut
- Mengidentifikasi dan menganalisa pengetahuan masyarakat tentang fungsi ekonomi dan ekologi terumbu karang, sikap dan kepedulian mereka akan kerusakan sumber daya ini serta pentingnya upaya pengelolaan agar sumber daya laut tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan
- Mengidentifikasi dan menganalisa stakeholders yang berkaitan dengan pengelolaan terumbu karang, baik stakeholders yang merusak maupun yang berpotensi melestarikan ekosistem terumbu karang. Di samping itu, studi ini juga mengkaji potensi konflik antar stakeholders
dan upaya mengatasi serta merubah konflik menjadi hubungan kolaboratif antar dan intra stakeholders, utamanya untuk mencapai pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan
- Mengidentifikasi dan menganalisa alternatif mata pencaharian yang mempunyai nilai ekonomi dan tidak merusak sumber daya laut, dan upaya pengelolaan SDL yang sesuai dengan potensi, kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Luaran
Luaran dari penelitian ini adalah laporan aspek sosial ekonomi terumbu karang yang berisi data dasar dan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi para perencana untuk merancang program COREMAP. Dengan demikian program ini dapat diimplementasikan sesuai dengan potensi, kebutuhan dan aspirasi penduduk. Dalam penelitian ini juga dikaji variabel-variabel yang dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan COREMAP, yaitu pemanfaatan terumbu karang secara berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di lokasi COREMAP dan sekitarnya. Data dari hasil kajian ini dapat dijadikan sebagai titik awal dan perlu dipantau secara berkala agar dapat diketahui tingkat keberhasilan dari COREMAP.
1.3. Metodologi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasan Pulau Tiga, perairan laut Kabupaten Natuna. Kawasan ini mencakup tiga desa, yaitu Desa Sabang Mawang, Desa Pulau Tiga dan Desa Sededap, yang termasuk ke dalam Kecamatan Bunguran Barat. Lokasi ini dipilih secara purposive karena sudah direncanakan oleh pemerintah daerah dan Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai lokasi COREMAP Fase II di Kabupaten Natuna.
Pengumpulan Data
Penelitian aspek sosial ekonomi terumbu karang ini menggunakan kombinasi dari beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survei, sedangkan pendekatan kualitatif menggunakan wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD) dan observasi lapangan.
- Survei
Survei dilakukan terhadap 100 responden rumah tangga atau sekitar 10 persen dari jumlah kepala keluarga (KK) di ketiga desa penelitian (Sabang Mawang, Pulau Tiga dan Sededap). Dari ke tiga desa ini di pilih tiga dusun (Dusun Tanjung Batang, Tanjung Kumbik dan Balai) yang mempunyai penduduk yang padat, intensitas pemanfaatan SDL oleh penduduk tinggi, kehidupan ekonomi dan sosial yang bervariasi serta degradasi terumbu karang yang cukup tinggi. Kemudian dari tiga dusun ini dipilih 100 responden rumah tangga.
Kuesioner yang digunakan dalam survei terdiri dari dua set, yaitu: pertanyaan rumah tangga dan pertanyaan individu. Pertanyaan rumah tangga ditanyakan kepada 100 responden rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan kondisi demografi, sosial dan ekonomi rumah tangga. Sedangkan pertanyaan individu lebih terfokus pada pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya laut, khususnya terumbu karang. Mengingat keterbatasan waktu, kegiatan survei dilakukan oleh 9 pewawancara yang dipilih dari lokasi penelitan, terutama mereka yang mempunyai pengalaman melakukan pendataan dengan Kantor Statistik, guru, tokoh pemuda dan aparat desa. Sebelum melakukan wawancara, peneliti melakukan training terlebih dahulu kepada pewawancara untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, isi dan cara mengisi kuesioner serta bagaimana melaksanakan survei.
- Data Kualitatif
Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti PPK-LIPI melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci yang dipilih secara
purposive, termasuk dari kelompok nelayan, pengusaha perikanan
(pedagang pengumpul dan agen penampung, tokoh pemuda, kelompok ibu-ibu, pimpinan formal dan informal) di ke tiga desa penelitian. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara yang berisi poin-poin penting berkaitan dengan pemanfaatan, perusakan dan upaya pengelolaan sumber daya laut, khususnya terumbu karang. Poin-poin
pertanyaan ini kemudian di gali dan didalami dengan melakukan cek dan ricek antara informan yang satu dengan lainnya, sehingga peneliti mendapatkan informasi dan pemahaman yang solid dan komprehensif dari aspek sosial ekonomi terumbu karang.
Di samping wawancara mendalam, data kualitatif juga dikumpulkan dengan cara melakukan diskusi dengan kelompok (FGD) di ketiga desa penelitian. Hasil FGD menambah informasi dan pemahaman peneliti terhadap topik kajian. Selain itu, peneliti juga melakukan pengamatan (observasi) terhadap informan dan masyarakat serta lingkungan di sekitarnya.
- Pengumpulan Data Sekunder
Di samping pengumpulan data primer melalui survei dan pengumpulan data kualitatif, data dan informasi juga dikumpulkan melalui data sekunder. Data sekunder berasal dari berbagai sumber, seperti: monografi desa, data statistik yang dikeluarkan Kantor Statistik Kabupaten Natuna dan dokumen-dokumen yang relevan dengan pengelolaan SDL dan program COREMAP. Di samping itu, untuk mendapatkan gambaran tentang kerusakan terumbu karang di kawasan Pulau Tiga, kajian ini juga memanfaatkan hasil survei ekologi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oceanografi (P2O-LIPI).
Analisa Data
Sesuai dengan pendekatan penelitian, analisa data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif:
- Analisa kuantitatif didasarkan dari hasil survei dan data sekunder yang dikemas dalam bentuk diskripsi, tabel dan tabulasi silang beberapa variabel yang relevan
- Analisa situasi dengan pendekatan kontekstual yang menggambarkan kondisi di lokasi penelitian. Analisa ini penting untuk mendukung analisa kuantitatif dan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan terpadu mengenai:
o Potensi dan kondisi daerah penelitian
o Keadaan SDM dan tingkat kesejahteraan masyarakat
o Stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan terumbu
karang, bentuk keterlibatan, konflik kepentingan antar
stakeholders serta upaya merubah konflik menjadi
o Pengelolaan terumbu karang, termasuk potensi dan permasalahan serta alternatif pemecahan masalah yang dapat mempengaruhi pemanfaatan terumbu karang secara berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
1.4. Organisasi Penulisan
Laporan aspek sosial ekonomi terumbu karang ini terdiri dari 7 bab. Bab pertama merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang perlunya kajian ini, tujuan penelitian, metode dan analisa data yang digunakan. Bab ke dua menggambarkan profil kawasan Pulau Tiga yang meliputi keadaan geografis, kondisi sumber daya alam, sarana dan prasarana serta kelembagaan sosial ekonomi. Bab selanjutnya terfokus pada potret penduduk, seperti jumlah dan komposisi, kondisi pendidikan, kesehatan dan pekerjaan penduduk. Di samping itu, pada bab ini juga dikaji tingkat kesejahteraan penduduk yang diindikasikan dari pendapatan, pengeluaran, strategi dalam pengelolaan keuangan, pemilikan aset rumah tangga serta kondisi perumahan dan sanitasi lingkungan. Pemaparan selanjutnya terkonsentrasi pada pengelolaan sumber daya laut. Bab ini diawali dengan analisa tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepedulian terhadap pelestarian terumbu karang, kemudian diikuti oleh ulasan mengenai wilayah tangkap, kalender dan teknologi penangkapan, stakeholders yang terlibat, bentuk keterlibatan dan hubungan kerja dalam pengelolaan SDL. Setelah pemahaman mengenai pengelolaan SDL di kawasan Pulau Tiga, maka bab berikutnya mendiskusikan produksi, pemanfaatan dan pemasaran hasil produksi, baik pasar dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan yang berlebihan telah menimbulkan kerusakan terumbu karang dan SDL. Permasalahan ini dikaji pada bab VI. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, selain penjelasan mengenai tingkat kerusakan, bab ini mendiskusikan juga faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan dan konflik kepentingan antar stakeholders. Bab terakhir merupakan rangkuman hasil penelitian dan rekomendasi yang dapat dipakai sebagai bahan masukan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan program COREMAP.
BAB II
PROFIL KAWASAN PULAU TIGA
Kawasan Pulau Tiga merupakan sebagian kecil gugus pulau yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna, yang terdiri dari tiga pulau berpenghuni yaitu Pulau Sabung, Pulau Batang, dan Pulau Selapi. Sebelum tahun 1980-an ketiga pulau ini merupakan satu desa dengan nama Desa Pulau Tiga, yang kemudian mengalami pemekaran menjadi tiga, yaitu Desa Sabang Mawang, Desa Sededap dan Desa Pulau Tiga. Desa Sabang Mawang terletak di Pulau Sabung, Desa Sededap di Pulau Selapi dan Desa Pulau Tiga terletak di Pulau Batang. Secara administrasi, wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Bunguran Barat dengan ibukota Kecamatan terdapat di Sedanau. Dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Natuna, kawasan Pulau Tiga ini akan dimekarkan lagi menjadi kecamatan tersendiri dengan sebutan Kecamatan Pulau Tiga. Sesuai dengan undang-undang, maka rencana pemekaran tersebut akan realisasikan pada akhir bulan April 2005.
2.1. Keadaan Geografis
Berdasarkan letak geografis, kawasan Pulau Tiga berada di 3o 40’ LU – 3 o38’ LU dan 108 00’ BT – 108 10’ BT. Ketiga pulau ini terletak saling berhadapan antara satu dengan lainnya. Desa Sabang Mawang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bunguran Timur, Desa Pulau Tiga, Desa Sededap, Desa Pulau Tiga berbatasan langsung dengan Desa Sabang Mawang, Desa Mekar Jaya dan Desa Sededap, sedangkan Desa Sededap berbatasan langsung dengan Desa Pulau Tiga dan Desa Sabang Mawang (Lihat Gambar 2.1). Desa Sabang Mawang terdiri dari 3 dusun (kampung), yaitu Dusun I Tanjung Batang, Balai, Dusun II Seratas, dan Dusun III Tanjung Bale. Desa Pulau Tiga, terdiri dari 4 dusun, yaitu Dusun I Setumuk, Dusun II Seladeng, Dusun III Tanjung Kumbik dan Dusun 4 Sepasir. Desa Sededap, terbagi dua dusun, yaitu Dusun 1 (Teluk Dedap), dan Dusun 2 Teluk Labuh. Masing-masing pemerintahan desa berpusat di Dusun Bale, Tanjung Kumbik dan Teluk Dedap.
Untuk sampai di kawasan Pulau Tiga dari Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, harus menempuh perjalanan darat selama 2 jam tiba di Pelabuhan Selat Lampa. Dari pelabuhan ini perjalanan dilanjutkan untuk menyebrang Pulau Besar dengan menggunakan perahu motor (pompong) dengan kekuatan 5 – 15 PK membutuhkan waktu sekitar 20
– 45 menit. Untuk menuju ibukota kecamatan Sedanau memerlukan waktu 2 – 2 ½ jam dengan menggunakan pompong, sedangkan untuk mencapai ibukota Kabupaten Natuna membutuhkan waktu + 5 jam. Dilihat dari topografinya, sebagian besar wilayah ketiga desa penelitian adalah berbukit dan bergunung batu yang dimanfaatkan masyarakat desa untuk berkebun. Sifat keadaan tanah yang berongga sehingga tumbuhan yang dapat berkembang adalah jenis tanaman keras, seperti kelapa, cengkeh, dan durian. Selain itu, ada beberapa tanaman lain yang cukup banyak tumbuh di wilayah tersebut pandan berduri, bambu, dan singkong.
Berdasarkan kondisi pantai di kawasan Pulau Tiga, pada umumnya ketiga desa ini memiliki pantai yang berbatu yang merupakan hasil pembentukan karang-karang ratusan tahun yang silam. Hanya sebagian wilayah di Pulau Batang dan Pulau Selapi memiliki pantai berpasir putih dan bersih. Apabila kondisi pantai tersebut dikaitkan dengan resiko tsunami, maka kawasan Pulau Tiga memiliki resiko relatif rendah karena di ketiga pulau tersebut memiliki daratan tinggi yang cukup luas sehingga wilayah tersebut dapat menjadi tempat berlindung penduduk. Iklim di kawasan Pulau Tiga sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Ada dua Musim kemarau biasanya terjadi dari Bulan Maret sampai dengan Mei, ketika arah angin bertiup dari utara. Sedang musim hujan terjadi dari Bulan September sampai dengan Februari ketika arah angin bergerak dari timur dan selatan. Rata-rata curah dan bulan hujan di kawasan Pulau Tiga adalah 2.000 m3 dan 3 bulan dengan kelembaban udara sekitar 85 persen dengan temperatur udara berkisar 21°C – 34°C.
Peta 2.1.
Kawasan Pulau Tiga dan lokasi terumbu karang dan mangrove
Sumber : Survei Data Dasar Apsek Ekologi Terumbu Karang, COPEMAP, 2005
P. Tiga
Sabang Mawang Sededap
2.2. Kondisi Sumber Daya Alam
Kawasan Pulau Tiga, yang terdiri tujuh pulau tidak berpenghuni dan tiga pulau berperhuni, yaitu Pulau Selapi, Pulau Sabung, dan Pulau Batang masing-masing memiliki luas wilayah 80 km2, 120 km2 dan 180 km2. Pada umumnya, masyarakat desa di Kawasan Pulau Tiga tidak sepenuhnya menggantungkan hidupnya dari pengelolaan dan pemanfaatan hasil sumber daya laut saja. Mayoritas masyarakat memiliki dua profesi sekaligus, yaitu sebagai nelayan dan petani. Dengan demikian, potensi sumber daya alam dapat dibedakan menjadi potesi sumber daya alam laut dan darat.
2.2.1. Sumber Daya Laut
Penduduk di Desa Sabang Mawang, Desa Pulau Tiga dan Desa Sededap menfaatkan sumber daya laut sebagai sumber mata pencaharian. Berdasarkan hasil survei data dasar ekologi Terumbu Karang COREMAP, 2005 memiliki luas terumbu karang yang cukup luas (Lihat Gambar 2.1) dengan kondisi karang yang relatif cukup baik walaupun tidak semua lokasi. Jenis biota yang cukup banyak ditemukan di sekitar pemukiman desa, adalah bulu babi, akar bahar (baur), bulu seribu (pahan), bintang laut (cangkang), ubur-ubur (bubur), tripang
(kuyong) dan berbagai jenis karang seperti kipas laut, karang otak
(jerangau), karang lunak (karang jeulat), spoge dan lain-lain .
Potensi sumber daya laut merupakan salah satu sumber mata pencaharian penduduk. Sumber daya laut yang tersedia merupakan potensi besar dengan nilai ekonomi tinggi bagi pengembangan ekonomi di Kawasan Pulau Tiga. Hasil sumber daya laut yang banyak dimanfaatkan masyarakat adalah ikan sunuk, kerapu bebek, kerapu tiger, dan napoleon memiliki nilai jual ekonomis yang cukup tinggi, sedangkan ikan permukaan seperti ikan tongkol, anggoli (krisbali), cumi-cumi, sotong, tamban, gembung, mayuk, lingkis (gelais) tohai, jahan, baronang, ketambak dan lain-lain merupakan jenis ikan banyak ditangkap oleh penduduk.
Wilayah kawasan Pulau Tiga juga memiliki potensi budidaya rumput laut yang sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman, pengembangan budidaya rumput laut di wilayah Pulau Tiga menghasilkan rumput laut berkualitas dalam kuantitas yang cukup besar. Adanya kendala pemasaran hasil rumput laut di tingkat lokal menyebabkan kegiatan budidaya tersebut banyak ditinggalkan oleh penduduk. Namun apabila kendala tersebut dapat diatasi dengan harga jual yang sebanding dengan hasil pekerjaan, maka minat masyarakat untuk berbudidaya rumput laut sangatlah tinggi.
2.2.2. Sumber Daya Darat
Sumber daya darat di kawasan Pulau Tiga, dibedakan menjadi dua, yaitu hutan dan batu gunung. Hutan yang terdapat dikawasan ini pada awalnya ditumbuhi pohon meranti, rengas, merbau, resak, dan lain-lain. Dengan berdatangan penduduk untuk menetap di kawasan tersebut maka hutan mengalami konversi menjadi perkebunan kelapa. Sejak saat itu kelapa menjadi komoditi utama di wilayah ini. Komoditi perkebunan lainnya yang juga dimanfaatkan oleh penduduk adalah cengkeh dan durian. Pemasaran kelapa dan cengkeh dapat dilakukan langsung di desa melalui seorang pengumpul, atau dengan menjual langsung ke Sedanau. Saat ini, produksi perkebunan kelapa telah mengalami penurunan akibat dari usia perkebunan semakin tua dan nilai ekonomis yang rendah. Produksi cengkeh lebih memberikan keuntungan bagi masyarakat karena nilai jual yang relatif tinggi dibandingkan dengan produksi kelapa. Pemanfaatan lahan untuk perkebunan durian masih dilakukan oleh segelintir penduduk dan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan selain cengkeh dan kelapa. Potensi sumber daya alam darat lainnya adalah daun pandan yang banyak terdapat di sekitar pemukiman desa. Jenis daun pandan di kawasan ini adalah jenis raksasa dengan ukuran daun yang lebar dan panjang serta memiliki sisi berduri. Sebagian besar masyarakat khususnya kaum ibu-ibu rumah tangga, memanfaatkan daun pandan sebagai bahan anyaman membuat berbagai macam peralatan rumah tangga, seperti tudung saji, tikar, tas dan lain-lain.
Batu gunung merupakan sumber daya alam yang sangat banyak dan melimpah. Pemanfaatan batu gunung masih tergantung dengan ijin dari desa. Untuk memenuhi pembangunan pelabuhan di Selat Lampa, batu dan pasirnya bersumber dari desa-desa di Kawasan Pulau Tiga. Pemanfaatannya masih bersifat subsistem sesuai kebutuhan masyarakat setempat dalam kapitasitas yang relatif lebih terbatas. Selain kekayaan flora, kawasan ini memiliki kekayaan fauna yang cukup beragam, yaitu bubut, ternggiling, Tupai Raya (raksasa), Kekah, Burung Enggang, Kokas, Berak dan Buaya. Saat ini, jenis-jenis fauna tersebut telah mengalami kelangkaan dan telah sulit dijumpai oleh masyarakat akbiat sebagian besar habitat telah mengalami konversi menjadi perkebunan.
Selain itu, masyarakat desa di Kawasan Pulau Tiga menyadari memilki potensi wisata yang cukup potensial karena memiliki pemandangan indah tidak hanya di laut namun juga di daratan. Dua pulau yang sangat indah dan tidak berpenghuni yaitu Pulau Sehati dan Pulau Setahu yang memiliki pasir putih. Selama ini kedua pulau tersebut masih terbatas sebagai tempat rekrearsi bagi masyarakat desa. Di perairan tersebut juga terdapat gua di dasar laut yang dapat menembus daratan Pulau besar. Daerah lainnya memiliki potensial tinggi untuk wisata adalah air
dekuk “selat antara Pulau Komang dan Pulau Besar” memiliki kondisi perairan yang jernih dan tenang, dan terdapat banyak ikan hias dengan kondisi terumbu karang yang kondisinya masih baik.
2.3. Kondisi Kependudukan
Menurut monografi ketiga desa di kawasan Pulau Tiga tahun 2004, terdiri dari 1065 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk adalah 4.477 jiwa. Dilihat dari jumlah penduduk, Desa Sabang Mawang merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk terpadat dibandingkan dengan dua desa lainnya, sedangkan Desa Sededap merupakan desa memiliki jumlah penduduk yang paling rendah. Jumlah penduduk berbanding lurus dengan tingkat kepadatan penduduk, sehingga Desa Sabang Mawang masih merupakan desa dengan tingkat kepadatan tertinggi (18,8 jiwa/km2). Dilihat dari jenis kelamin, penduduk laki-laki Desa Sededap lebih banyak daripada perempuan namun tidak berbeda jauh (53 persen laki-laki dan 47 persen perempuan). Begitu pula pada Desa Sabang Mawang dengan masing-masing proporsi 54 persen laki-laki dan 46 persen perempuan. Akan tetapi keadaan tersebut berbanding terbalik untuk Desa Pulau Tiga, jumlah penduduk laki-laki (48 persen) lebih sedikit dari pada perempuan (52 persen). Dengan demikian sex ratio Desa Sededap dan Desa Sabang Mawang masing-masing sebesar 115 dan 119, yang berarti setiap 100 peremupan terdapat 115 laki-laki dan 119 laki-laki. Nilai ratio jenis kelamin Desa Pulau Tiga lebih rendah dari desa lainnya, yaitu 100 perempuan terdapat 91 laki-laki.
Tabel 2.1.
Jumlah penduduk desa di Kawasan Pulau Tiga, tahun 2004
Jumlah Penduduk Rasio JK Desa Jumlah Dusun Jumlah RT Lk Pr Total Kepadatan Penduduk (jiwa/km2 ) Sededap 2 165 383 334 717 115 9,0 Sabang Mawang 3 625 1229 1031 2260 119 18,8 Pulau Tiga 5 272 715 785 1500 91 14,3
Sumber : Monografi Desa, 2005
Kondisi penduduk kawasan Pulau Tiga dibandingkan dengan penduduk di tingkat kecamatan, mencapai lebih dari 28 persen berada di kawasan tersebut. Proporsi tertinggi penduduk terdapat di Kelurahan Sedanau sebagai pusat kecamatan Sedanau mencapai 37 persen. Apabila dibandingkan dengan kecamatan lainnya yang terdapat di Kabupaten Natuna, Kecamatan Bunguran Barat memiliki tingkat kepadatan cukup
rendah (24,45 jiwa/km2) dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Midai (99,74 jiwa/km2) bahkan lebih padat daripada ibukota Kabupaten Natuna (Monografi Kecamatan Sedanau, 2003 dan BPS Kabupaten Natuna, 2004).
Perkembangan penduduk di kawasan Pulau Tiga sangat berkaitan dengan perkembangan desa. Penduduk asli wilayah Pulau Tiga sampai dengan Sedanau adalah keturunan Serawak Malaysia, yang kemudian diikuti dengan pendatang-pendatang lainnya, seperti suku Bugis, Buton, Jawa dan lain-lain. Sebelum masa penjajahan Jepang, penduduk Sedanau dan Kampar yang berjumlah + 20 orang datang ke Pulau Tiga untuk membuka pemukiman dan lahan perkebunan kelapa. Pada saat itu pemasaran hasil perkebunan kelapa Pulau Tiga (sebutan untuk ketiga Pulau Sabung, Pulau Batang dan Pulau Selapi) sampai ke Singapura dengan menggunakan mata uang dollar. Begitupula halnya pada pemenuhan kebutuhan pangan dan non pangan, seperti beras dan gula juga berasal dari Singapura. 1 Berlakunya mata uang dolar di wilayah ini, menjadi daya tarik bagi suku lain untuk masuk ke wilayah tersebut. Suku pendatang lainnya adalah suku Buton dan Bugis, jawa, dan lain-lain. Pada tahun 1963 setelah Rupiah dinyatakan secara resmi sebagai mata uang yang berlaku di wilayah tersebut, maka penduduk Sedanau dan Kampar memutuskan untuk kembali pulang ke daerah asalnya, sedangkan pedatang lainnya seperti Bugis dan Buton memilih untuk tetap menetap di wilayah tersebut. Sejak saat itu, lahan di daerah tersebut dikuasai oleh pendatang lain, sedangkan pemilik kebun (Orang Sedanau dan Kampar) hanya datang sesekali untuk mengambil hasil perkebunannya.
Semakin terbukanya akses ke luar wilayah Pulau Tiga, yaitu adanya Kapal Penumpang PELNI tujuan Tanjung Pinang dan Tanjung Balai Karimun dan semakin lancar akses darat ke ibukota Kabupaten Natuna mendorong mobilitas penduduk semakin tinggi untuk melakukan migrasi. Proses masuknya penduduk lain ke daerah ini disebut migrasi ke dalam dan proses berpindahnya penduduk dari desa ke luar disebut migrasi ke luar. Ada beberapa alasan penduduk melakukan migrasi ke luar, yaitu pendidikan, kesejahteraan dan keluarga. Pada umumnya penduduk yang melakukan migrasi dengan tujuan pendidikan adalah penduduk berusia sekolah yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, seperti SMA sederajat, Diploma ataupun perguruan tinggi. Untuk Desa Pulau Tiga saja, tercatat jumlah penduduk yang sedang melanjutkan berada di bangku kuliah sebanyak 15 orang pada perguruan tinggi yang terdapat di Pekanbaru, Kalimantan Barat, dan Tanjung Pinang. Ketidaklengkapan sarana dan prasarana
1
Pada saat itu, untuk mencapai Singapura, mereka harus menempuh perjalanan dua hari dua malam melalui Tanjung Pinang.
pendidikan merupakan faktor utama terjadinya migrasi tersebut. Alasan kesejahteraan, yaitu keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan tujuan peningkatan pendapatan dan status ekonomi merupakan motivasi bagi penduduk angkatan kerja untuk bermigrasi. Selain terjadi migrasi ke luar, namun juga terjadi migrasi ke dalam. Salah satu alasan melakukan migrasi ke dalam dikarenakan tugas pemerintahan yang mengharuskan menetap wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu, seperti tenaga medis (mantri/bidan), guru, TNI AL dan lain-lain. Selain alasan tugas, tak jarang alasan pribadi juga menjadi pendorong untuk berkeinginan menetap di wlayah Pulau Tiga.
2.4. Sarana dan Prasarana Sosial-Ekonomi
Pada bagian ini akan digambarkan sarana dan prasarana ekonomi dan sosial yang ada di kawasan Pulau Tiga, termasuk sarana transportasi, perikanan, pasar/warung, pendidikan, kesehatan, air bersih dan MCK serta penerangan dan informasi. Di samping itu, studi ini juga mengidentifikasi kelembagaan sosial ekonomi yang berkembang di masyarakat, utamanya untuk mengetahui potensi dan kendala dari aspek kelembagaan untuk pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat.
2.4.1. Sarana Transportasi
Kawasan Pulau Tiga terdiri dari tiga pulau, yaitu Pulau Selapi, Pulau Sabung dan Pulau Batang yang terletak saling berdekatan satu sama lain. Kawasan ini dapat dicapai dari ibukota Kabupaten Natuna (Ranai) menggunakan jalan darat menuju Pelabuhan Selat Lampa di Pulau Bunguran. Selanjutnya dari pelabuhan menyeberang laut menuju Kawasan Pulau Tiga. Sementara dari ibukota Kecamatan Bunguran Barat (Sedanau) yang terletak di kepulauan sebelah utara kawasan, dapat dicapai menggunakan transportasi laut yaitu pompong (perahu motor) selama 45 menit sampai 1 jam perjalanan. Prasarana jalan dari Ranai ke pelabuhan cukup bagus dengan waktu tempuh sekitar ½ - 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Kemudian dari pelabuhan menuju Kawasan Pulau Tiga menggunakan transportasi laut yaitu pompong dengan jarak tempuh antara ½ - 1½ jam. Desa Sabang Mawang terletak paling dekat dari pelabuhan dan Desa Sededap adalah desa yang paling jauh.
Sarana transportasi dari kawasan ke ibukota kabupaten melalui pelabuhan maupun ke kota kecamatan sangat minim. Letaknya yang ditengah laut membutuhkan sarana transportasi laut, seperti perahu motor untuk mencapai ketiga pulau dan sebagai penghubung antar pulau. Pada saat ini belum ada angkutan laut yang secara regular
membawa penduduk ke ibukota kabupaten melalui pelabuhan maupun ke ibukota kecamatan. Begitu juga sarana transportasi regular antar pulau belum tersedia. Selama ini masyarakat yang akan menyebarang ke pelabuhan menggunakan perahu motor sendiri atau menyewa perahu motor milik nelayan setempat. Bagi pendatang yang pertama kali ke kawasan ini merasakan akses untuk mencapai Kawasan Pulau Tiga pada hari-hari biasa cukup sulit karena tidak ada sarana transportasi regular dari dan ke kawasan. Namun bagi masyarakat setempat hal ini sudah biasa karena mereka dapat menumpang perahu motor siapa saja yang kebetulan lewat dan mempunyai tujuan yang sama.
Pada tahun 1990-an mulai beroperasi Kapal Bukit Raya yaitu kapal regular yang menjadi alat transportasi antar pulau dari Tanjung Pinang - Sedanau – Selat Lampa – Pontianak. Setiap dua minggu pada hari Senin dan Minggu Kapal Bukit Raya singgah di Pelabuhan Selat Lampa untuk menurunkan dan menaikkan penumpang serta bongkar muat barang. Keberadaan Kapal Bukit Raya sangat penting bagi masyarakat karena dapat membuka akses bagi masyarakat ke luar Natuna seperti ke Tanjung Pinang maupun ke Pontianak. Kemudian pelabuhan juga berfungsi sebagai pasar bagi masyarakat untuk menjual barang produksi masyarakat desa seperti makanan, minyak kelapa dan sebagainya Masyarakat juga dapat memanfaatkan kesempatan kerja bongkar muat di pelabuhan.
Pada hari kedatangan kapal, akses menuju Kawasan Pulau Tiga sangat mudah karena banyak sarana transportasi dari Kawasan Pulau Tiga ke pelabuhan maupun sebaliknya. Perahu motor nelayan yang biasanya dibawa menangkap ikan kelaut, digunakan sebagai sarana transportasi masyarakat dari Kawasan Pulau Tiga ke pelabuhan. Perahu motor (pompong) nelayan yang dialihkan fungsinya menjadi sarana angkutan penumpang cukup banyak dilihat dari banyaknya pompong yang mengangkut penumpang dari desa ke pelabuhan serta banyaknya kapal pompong yang tertambat di pelabuhan menunggu penumpang kapal yang akan balik ke desa. Penumpang yang dibawa selain penumpang kapal atau mereka yang mengantar dan menjempaut penumpang kapal, juga masyarakat desa yang membawa hasil produksi sendiri untuk dijual di pelabuhan. Biaya transportasi dibedakan antara penumpang biasa dengan masyarakat yang membawa barang dagangan untuk dijual di pelabuhan. Untuk penumpang biasa, ongkos sekali jalan dari Desa Sabang Mawang atau Desa Pulau Tiga ke pelabuhan adalah sebesar Rp. 5.000 per orang sedang untuk pedagang lebih mahal. Dari Desa Sededap ke pelabuhan ongkosnya lebih mahal karena jarak pelabuhan ke Desa Sededap lebih jauh yaitu 45 menit perjalanan.
Menurut Kepala Desa Pulau Tiga, sekarang sedang diusahakan sarana transportasi antar pulau yaitu pompong untuk masyarakat maupun anak sekolah. Pada saat ini anak sekolah SLTP yang berasal dari luar Desa
Pulau Tiga menggunakan pompong salah seorang guru yang tinggal di Desa Sabang Mawang. Pagi hari pompong dibawa pergi mengajar bersama anak-anak sekolah dan sore hari pergi melaut sampai malam. Prasarana jalan yang ada pada ketiga desa di Kawasan Pulau Tiga dapat menghubungkan satu dusun dengan dusun lainnya dalam satu desa Kondisi jalan dalam keadaan bagus dan dapat dilalui. Jalan desa dibangun pada tahun 1999 melalui program pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten Natuna berupa jalan semen beton yang menggunakan batu karang yang diambil di sekitar kawasan. Prasarana dermaga kapal tempat pendaratan perahu motor yang permanen menggunakan beton hanya ada di sebagian desa yaitu di Dusun Spasir, Desa Sabang Mawang dan Desa Sededap. Sedang dermaga kapal di dusun lainnya masih belum permanen dan terbuat dari kayu.
2.4.2. Sarana Perikanan
Nelayan di kawasan Pulau Tiga memiliki armada kapal mulai dari kapal tanpa mesin (perahu) sampai kapal motor dengan kekuatan mesin mulai dari 2-3 GT, 4-5 GT, 6-10 GT dan 10-15 GT. Secara keseluruhan jumlah perahu tanpa motor (2-3 GT) di Kawasan Pulau Tiga adalah 164 buah dan perahu motor (mesin 15 PK keatas) berjumlah lebih dari 700 buah. Mayoritas nelayan di kawasan ini adalah nelayan pancing menggunakan perahu motor dengan mesin berkekuatan 10-15 GT. Kapal motor ini cocok untuk keperluan nelayan memancing pulang hari dengan wilayah tangkap sekitar 6-25 mil dari pantai. Jumlah kapal motor berkekuatan 10-15 GT di kawasan Pulau Tiga sebanyak 10-150 buah.
Selain perahu motor 10-15 GT, sebagian nelayan menggunakan perahu motor berkekuatan mesin 2-3 GT dengan jangkauan yang lebih dekat ke pantai seperti mengambil ikan di kelong dan sebagainya. Perahu motor berkekuatan mesin besar biasanya dimiliki oleh nelayan pengumpul yang mempunyai beberapa orang tenaga kerja menangkap pada wilayah tangkap yang lebih jauh. Sementara speed boat hanya dimiliki oleh dua orang pedagang pengumpul yang cukup besar.
Mayoritas nelayan di kawasan ini adalah nelayan pancing dan alat tangkap yang digunakan adalah pancing. Alat tangkap pancing digunakan untuk menangkap ikan hidup dan ikan mati sesuai dengan jenis pancing dan mata pancingnya. Jenis pancing yang digunakan terdiri dari pancing ulur, pancing tonda dan pancing rawai. Diantara ketiga jenis pancing tersebut, pancing ulur paling banyak dimiliki nelayan di kawasan Pulau Tiga yaitu sekitar 350 buah diikuti pancing tonda sebanyak 200 buah dan pancing rawai sebanyak 4 buah. Kebutuhan peralatan pancing diperoleh dari Sedanau dan sebagian dapat diperoleh di toko yang ada di desa. Selain pancing, kepemilikan jaring oleh
nelayan masih sedikit. Jaring hanya digunakan oleh nelayan di Desa Sededap yaitu jaring pukat tirai sebanyak 15 buah.
Prasarana kenelayanan lainnya yang dimiliki nelayan adalah bagan. Jumlah bagan di Kawasan Pulau Tiga relatif sedikit yaitu sebanyak 5 buah. Hal ini disebabkan mahalnya biaya pembuatan sebuah bagan sehingga tidak semua nelayan mampu memiliki bagan. Begitu juga dengan kelong, jumlahnya sedikit yaitu 5 buah. Pembuatan kelong membutuhkan suatu keahlian khusus dan tidak semua nelayan memiliki keahlian dalam membuat kelong. Sementara jumlah kepemilikan bubu di Kawasan Pulau Tiga cukup banyak yaitu lebih dari 200 buah yang dimiliki oleh lebih dari 24 orang nelayan.
2.4.3. Sarana Ekonomi
Di kawasan Pulau Tiga belum tersedia fasilitas ekonomi seperti pasar dan tempat pelelangan ikan (TPI). Sarana ekonomi yang ada masih terbatas pada sarana yang mendukung kegiatan perdagangan seperti toko dan warung sembako. Masyarakat membeli barang kebutuhan sehari-hari dari toko atau warung sembako yang banyak terdapat di desa. Toko dan warung biasanya menyediakan bahan makanan yang tahan lama seperti minyak, gula dan sebagainya. Jumlah warung sembako cukup banyak terutama yang mempunyai omzet skala kecil. Kebanyakan warung tersebut berada dan menjadi bagian dari rumah. Sementara toko mempunyai omzet lebih besar dan volume barang yang dijual cukup besar mulai dari barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan kebutuhan peralatan nelayan untuk melaut. Bahkan di Desa Pulau Tiga terdapat toko dengan omzet dan volume penjualan sangat besar. Disamping menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari, toko ini juga memasok barang-barang kebutuhan Kapal Tanjung Balai Karimun, mulai dari kebutuhan sehari-hari para awak kapal sampai menyediakan bahan bakar minyak untuk kapal –kapal tersebut.
Kebutuhan sayur-sayuran didatangkan dari luar pulau, yaitu dari Tanjung Ubi, daerah pemukiman transmigran di Ranai. Lahan di Kawasan Pulau Tiga tidak cocok ditanami sayuran. Pedagang dari lokasi transmigran datang membawa sayuran untuk dijual pada masyarakat atau ke diwarung sembako yang ada di desa. Begitu juga masyarakat desa yang menjual ikan ke daerah transmigran, biasanya saat pulang membawa sayur-sayuran untuk dijual di desa. Pedagang dari luar juga menjual barang-barang seperti pakaian dan peralatan rumah tangga pada masyarakat dengan cara menjual keliling desa dengan cara kredit atau cash. Hasil produksi masyarakat seperti ikan asin, krupuk ikan dan minyak kelapa, selain dijual di desa atau antar pulau juga dijual di ibukota Kecamatan Sedanau. Biasanya penjualan ke Sedanau dilakukan dalam jumlah besar agar ongkos perjalanan ke Sedanau dapat tertutupi.
Pada saat kedatangan kapal, mereka menjual hasil produksi di pelabuhan.
Selain kebutuhan sehari-hari, kebutuhan bahan bakar minyak dapat di beli dari toko-toko yang ada di kawasan Pulau Tiga. Hanya saja permasalahannya adalah jumlah bahan bakar minyak terutama minyak tanah dibatasi yaitu 100 liter per hari untuk satu desa. Padahal kebutuhan minyak tanah untuk satu desa adalah sebanyak 5 ton per bulan. Terbatasnya jumlah minyak tanah menyebabkan minyak yang dapat dibeli masyarakat juga dibatasi yaitu 5 liter per keluarga. Sebelumnya ada satu orang agen minyak tanah yang mensuplai kebutuhan bahan bakar minyak untuk kawasan Pulau Tiga tapi sekarang sudah tidak ada. Kelangkaan minyak tanah juga berdampak pada kegiatan kenelayanan, seperti pada nelayan ikan bilis di Dusun Spasir. Untuk menangkap ikan bilis dibutuhkan bahan bakar minyak tanah untuk menghidupkan lampu dan lampu sangat penting untuk menggiring ikan bilis ke pinggir pantai. Dengan jatah 10 liter per keluarga per bulan hanya cukup untuk kelaut selama 3 sampai 4 hari. Kelangkaan bahan bakar minyak merupakan masalah yang cukup besar bagi masyarakat di Kawasan Pulau Tiga.
Tempat pelelangan ikan belum ada di Kawasan Pulau Tiga. Ikan hasil tangkapan nelayan langsung dijual pada masyarakat maupun pedagang pengumpul yang ada pada masing-masing desa. Pedagang pengumpul ikan hidup di Kawasan Pulau Tiga yang berskala besar ada 3 orang. Selanjutnya mereka menjual ikan pada agen pengumpul di Sedanau. Sementara pedagang pengumpul ikan mati ada dua, yaitu pabrik es dan Kapal Kalimantan. Dengan demikian, nelayan tidak mempunyai masalah dalam memasarkan ikan hasil tangkapan. Selanjutnya, kebutuhan es batu untuk menyimpan ikan selama melaut dapat diperoleh dari Pabrik Es yang ada di Desa Sabang Mawang. Pabrik Es menjual batu es untuk semua nelayan di Kawasan Pulau Tiga, bahkan nelayan yang berasal dari luar seperti Kapal Tanjung Balai Karimun dan Kapal Kalimantan. Dalam sehari Pabrik Es dapat membuat batu es sebanyak 10 ton, dimana sebanyak 8 ton dijual dan 2 ton untuk keperluan membuat es besok harinya.
Selain membeli ikan, pedagang pengumpul juga membeli hasil kebun, seperti cengkeh dan kopra. Masyarakat menjual cengkeh dan kopra pada salah seorang pedagang pengumpul yang ada di Desa Sabang Mawang. Cengkeh dan kopra selanjutnya dipasarkan ke Semarang. Dengan demikian, meskipun tidak ada pasar di Kawasan Pulau Tiga namun kebutuhan hidup masyarakat setempat dapat dipenuhi dari warung dan toko yang ada. Bahkan toko tersebut juga membeli hasil kebun cengkeh dan kopra dari kawasan Pulau Tiga.
2.4.4. Sarana Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada di kawasan Pulau Tiga terdiri dari sekolah mulai dari tingkat SD sampai SMP. Masing-masing desa memiliki sekolah SD, bahkan di Desa Pulau Tiga terdapat 3 buah SD dan sebuah SMP. Fasilitas pendidikan untuk tingkat SD yang ada disetiap desa dan sekolah SMP yang didirikan pada tahun 2000, menyebabkan partisipasi anak sekolah anak usia wajib belajar 9 tahun cukup tinggi. Hal ini didukung oleh aspirasi orang tua cukup tinggi untuk menyekolahkan anak mereka minimal sampai ke tingkat SMP.
Jarak yang relatif dekat dan tersedianya sarana transportasi antar pulau bagi anak sekolah menyebabkan anak usia sekolah bisa bersekolah sampai SMP. Untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMA, mereka harus ke luar Kawasan Pulau Tiga, seperti ke Sedanau, Ranai dan Tanjung Pinang. Begitu juga untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ke Batam, Tanjung Pinang, Pekan Baru dan Kalimantan. Biasanya selama sekolah mereka tinggal disana. Besarnya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA dan Perguruan Tinggi menyebabkan anak usia sekolah yang tidak melanjutkan ke tingkat SMA cukup banyak. Namun bagi mereka yang cukup mampu berhasil menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana. Sebagai contoh, di Desa Pulau Tiga sebanyak 15 orang sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.
2.4.5. Sarana Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di kawasan Pulau Tiga terbatas pada puskesmas pembantu. Pada masing-masing desa terdapat fasilitas puskesmas pembantu dan seorang bidan. Tetapi puskesmas pembantu kelihatannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan hanya ada bangunan saja. Begitu juga bidan desa sering tidak berada ditempat. Pada saat penelitian hanya ada satu orang bidan di Desa Pulau Tiga yang melayani masyarakat di tiga desa. Keberadaan bidan desa ini dimanfaatkan oleh masyarakat Kawasan Pulau Tiga dalam mencari pengobatan karena akses ke bidan di Desa Pulau Tiga cukup mudah dan dapat ditempuh dengan sarana yang ada. Kebutuhan obat-obatan didatangkan sekali sebulan dari Puskesmas di Sedanau.
Selain bidan, keberadaan mantri dan dukun cukup penting bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. Mantri dan dukun ada di masing-masing desa. Biasanya kalau ada masyarakat yang butuh pengobatan, maka mantri atau dukun yang lebih dulu didatangi. Kemudian jika penyakitnya belum sembuh baru pergi ke bidan untuk berobat. Masyarakat pergi ke mantri untuk penyakit cacar, mencret dan malaria dan pergi ke dukun kalau sakit panas dan patah tulang. Jenis penyakit