DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
6.2. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kerusakan
6.2.1. Bahan dan Alat Tangkap yang Merusak Pengeboman
Kegiatan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak (bom) sudah dilakukan sejak lama, yaitu sejak tahun 1970-an, dan masih dilakukan pada saat penelitian ini dilakukan pada bulan April 2005. Tetapi, frekuensi pengeboman sudah sangat berkurang, jika dibandingkan dengan 10 tahun terakhir. Beberapa aparat desa, seperti di Desa Pulau Tiga, bahkan mengatakan bahwa pengeboman sudah tidak dilakukan lagi di desanya, walaupun informan yang lain mengatakan bahwa kegiatan ini masih tetap dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan di luar perairan desa yang bersangkutan, yaitu perairan desa lain di sekitar kawasan Pulau Tiga.
Penangkapan ikan menggunakan bom dimulai oleh nelayan Pulau Tiga setelah mereka mengetahui penggunaan bahan ini dari anak buah kapal (ABK)14 kapal-kapal penangkap ikan dari Singapura yang beroperasi di kawasan perairan Pulau Tiga. ABK tersebut dipekerjakan untuk membantu kegiatan penangkapan ikan, khususnya untuk mencari tempat-tempat yang banyak terumbu karang yang merupakan sumber ikan. Mereka belajar dari nelayan di kapal-kapal ikan tersebut, bagaimana cara menggunakan bom. Pengetahuan ini kemudian disebar-luaskan dan diterapkan oleh nelayan-nelayan di ketiga desa yang terletak di kawasan ini.
Walaupun kegiatan pengeboman sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, nelayan belum segera merasakan dampaknya. Pada awalnya, lokasi pengeboman dilakukan di perairan yang jaraknya cukup jauh dari permukiman, yaitu sekitar 2-3 mil dari pantai. Karena itu ikan-ikan di sekitar kawasan masih cukup banyak belum berkurang secara signifikan. Kegiatan pengeboman terus berlangsung seirama dengan perjalanan waktu, jumlah pengebom juga semakin banyak paralel dengan semakin banyaknya nelayan yang menangkap ikan di kawasan Pulau Tiga. Nelayan tidak saja berasal dari ke tiga desa di perairan kawasan Pulau Tiga, melainkan juga nelayan-nelayan dari luar kawasan dan luar daerah, seperti dari Batam dan Medan. Hal ini berdampak pada lokasi pengeboman yang juga semakin mendekat kearah pantai dan permukiman penduduk, sehingga ledakan bom dapat dengan jelas didengar oleh penduduk.
Kegiatan pengeboman ikan berlangsung terus karena adanya pasokan bom dari luar. Menurut informan, pasokan bom ini difasilitasi oleh ‘bos’ ikan dan ‘oknum nakal’ dari angkatan laut yang bertugas di sekitar
14
ABK adalah pemuda-pemuda yang berasal dari kawasan Pulau Tiga yang direkrut oleh kapal-kapal ikan Singapura
kawasan. Hal ini juga sudah diketahui masyarakat secara umum, tetapi sulit untuk melacak kebenaran keterlibatan mereka, karena oknum-oknum tersebut secara reguler dirotasi ke tempat tugas lainnya.
Walaupun kegiatan pengeboman dilarang pemerintah, tetapi penggunaan bom masih terus berlangsung. Meningkatnya jumlah nelayan yang melakukan kegiatan pengeboman menyebabkan semakin luasnya wilayah pengeboman ikan sampai perairan pantai dan mendekati permukiman penduduk. Lokasi penangkapan ikan menggunakan bom di kawasan perairan Pulau Tiga dapat dilihat pada peta 6.2.
Semakin intensif dan ekstensifnya kegiatan pengeboman menimbulkan dampak negatif terhadap hasil tangkapan nelayan di kawasan Pulau Tiga. Penggunaan bom, menurut informan dan sebagian masyarakat, menghancurkan terumbu karang di sekitar kawasan, padahal terumbu karang merupakan ‘rumah ikan’. Dengan rusaknya terumbu karang, ikan-ikan yang berkumpul di sekitar karang juga semakin berkurang. Kondisi ini menyebabkan produksi ikan hasil tangkapan juga berkurang secara signifikan.
Di sisi lain, larangan penggunaan bahan peledak ini semakin gencar dilaksanakan oleh pemerintah, diindikasikan dari sebagian besar nelayan mengetahui adanya larangan tersebut. Larangan penggunaan bom juga berlaku di ke tiga desa di kawasan Pulau Tiga. Di Desa Pulau
Tiga larangan tersebut disepakati oleh masyarakat dan dicantumkan dalam Surat Keputusan (SK) Desa Pulau Tiga tahun 2004. Di dalam SK tersebut juga disertakan sanksi berupa pembakaran kapal dan penyitaan alat tangkap bagi nelayan yang tertangkap basah. Demikian juga dengan Desa Sabang Mawang dan Desa Sededap, larangan penggunaan bom juga diberlakukan, walaupun belum secara tertulis.
Semakin gencarnya larangan penggunaan bom mempunyai dampak yang cukup signifikan. Di samping itu, pada awal tahun 1990-an, nelayan mulai mengenal penggunaan bahan kimia berupa racun potassium sianida (potas) untuk menangkap ikan hidup (secara jelas lihat bagian pembiusan). Larangan penggunaan bom dan adanya alternatif bahan kimia (racun sianida) untuk menangkap ikan menyebabkan kegiatan pengeboman dan jumlah nelayan pengebom ikan berkurang secara substansial di kawasan Pulau Tiga.
Tetapi, kegiatan pengeboman masih terus berlangsung. Di Desa Sededap kegiatan pengeboman masih berlangsung di perairan dekat permukiman. Seorang informan mengatakan bahwa beliau masih mendengar bunyi bom dari Teluk Labuh dua hari sebelum wawancara dilakukan dan 4 hari sebelumnya (seminggu sebelum wawancara) beliau juga mendengar 4 kali bunyi bom (dalam kurun waktu 30 menit) yang berasal dari dekat pantai di Dusun II. Di Desa Sabang Mawang masih terdapat nelayan yang melakukan pengeboman, jumlahnya sudah turun drastis, di satu dusun tinggal 5 orang dan beberapa di dusun yang lain. Kegiatan pengeboman masih dilakukan terutama pada saat kegiatan penangkapan ikan menggunakan pancing lagi sepi. Nelayan yang semula menggunakan pancing untuk menangkap ikan, beberapa beralih menggunakan bom untuk mendapatkan ikan. Hal ini terutama terjadi di Desa Sededap.
Dampak Penggunaan Bom
Kegiatan pengeboman ikan berdampak langsung dan signifikan terhadap terumbu karang dan biota yang ada di sekitarnya. Terumbu karang menjadi hancur lebur setelah adanya pengeboman. Menurut Suharsono (1998), sebuah bom dengan berat 0,5 kg menghancurkan terumbu karang dan membinasakan semua makhluk hidup yang ada di kawasan dengan radius 1 – 3 meter dari pusat ledakan. Dari estimasi ini dapat dikatakan bahwa dampak kegiatan pengeboman di kawasan Pulau Tiga sangat besar, mengingat kegiatan ini sudah dilakukan dalam kurun waktu yang lama, sekitar tiga dekade terakhir.
Pembiusan
Kegiatan pembiusan ikan menggunakan bahan kimia potassium sianida (potas) sudah dilakukan sejak akhir tahun 1980-an (1988/89) oleh nelayan asing, terutama menggunakan kapal-kapal Hongkong yang beroperasi di sekitar kawasan perairan Pulau Tiga. Pada mulanya nelayan lokal dari kawasan ini hanya mengetahui bahwa nelayan kapal-kapal Hongkong tersebut menggunakan teknologi yang ‘ajaib’. Mereka ‘menembak ikan (menyemprotkan potas ke arah ikan-ikan karang), ikan yang ditembak mati dan anehnya dapat hidup kembali setelah mendapatkan suntikan di kapal’. Nelayan lokal sangat kagum dengan teknologi yang canggih ini, tetapi pada saat itu mereka belum belajar teknologi apa dan bagaimana cara melakukannya, karena informasinya masih tertutup. Baru empat sampai lima tahun kemudian (tahun 1993) ada penduduk yang bekerja di kamp penampungan ikan, mulai mengetahui ‘rahasia kapal-kapal ikan tersebut’. Nelayan kapal-kapal Hongkong tersebut menggunakan potas untuk membuat ikan-ikan karang pingsan dan setelah beberapa waktu kemudian, ikan-ikan ini akan kembali segar. Dengan pengetahuan ini, mulailah nelayan lokal menggunakan potas atau bius untuk menangkap ikan-ikan hidup, terutama ikan karang dengan nilai ekonomi yang tinggi, seperti napoleon, kerapu dan sunu.
Penangkapan ikan menggunakan potas semakin meningkat di kawasan Pulau Tiga. Peningkatan ini berkaitan erat dengan semakin banyaknya permintaan akan ikan hidup dan tersedianya potas di kawasan ini. Kegiatan pembiusan semakin gencar dilakukan, karena dengan pembiusan, nelayan dapat menangkap ikan-ikan hidup dalam jumah yang banyak dalam waktu yang pendek. Dengan demikian, nelayan dapat memenuhi permintaan ikan hidup dari kapal-kapal Hongkong yang secara regular (4 kali per bulan) datang ke kawasan ini dan berlabuh di pelabuhan Sedanau, ibukota Kecamatan Bunguran Barat.
Kegiatan pembiusan ikan semakin meluas di kawasan Pulau Tiga dan kawasan-kawasan yang kaya dengan terumbu karang di sekitarnya. Semakin banyak nelayan yang menggunakan bius, baik nelayan lokal dari tiga desa di kawasan Pulau Tiga (Desa Sabang Mawang, Desa Pulau Tiga dan Desa Sededap) dan nelayan-nelayan dari luar kawasan, seperti nelayan Midai dan nelayan Tarempa. Wilayah yang menjadi pusat pembiusan, antara lain Tanjung Kumbik, Balai dan Teluk labuh (lihat peta 6.3.).
Semakin banyaknya nelayan yang menggunakan bius (potas) berkaitan erat dengan tersedianya akses dan kemudahan nelayan untuk mendapatkan potas. Pada mulanya akses tersebut disediakan oleh agen penampung ikan hidup yang menyediakan potas bagi nelayan pembius. Kemudian, untuk lebih memudahkan nelayan mendapatkan bius, akses terhadap bahan ilegal tersebut juga disediakan oleh pedagang-pedagang pengumpul ikan hidup yang mendapatkan supply dari agen penampung ikan. Akhir-akhir ini akses untuk mendapatkan potas semakin terbuka luas, karena telah melibatkan masyarakat, terutama pedagang-pedagang, termasuk ibu-ibu penjual pakaian, yang mengambil dagangannya di Kalimantan Barat, seperti di Kota Pontianak dan Singkawang serta Kota Jambi.
Kegiatan penjualan potas merupakan bisnis yang menguntungkan bagi pedagang. Kegiatan ini merupakan usaha sampingan, disamping memasok kain dan baju dari Pontianak atau kota-kota lainnya, para pedagang termasuk ibu-ibu, juga membawa potas. Pada waktu penelitian bulan April 2005, di lokasi penelitian harga potas sebesar Rp 75.000 yang dibeli di Pontiak dengan harga Rp 40.000. Pedagang tersebut mendapatkan untung yang cukup besar, karena biaya transportasi yang cukup murah.
Di samping tersedianya potas, pedagang pengumpul dan agen penampung ikan juga menyediakan akses alat yang perlukan untuk kegiatan pembiusan. Mereka ‘membantu’ sebagian nelayan pembius dengan menyediakan kompressor dan baju selam. Dengan peralatan ini, nelayan dapat melakukan kegiatannya di bawah laut dalam jangka waktu
yang lebih lama dan wilayah laut yang lebih dalam. Dengan peralatan tersebut, nelayan dapat menangkap lebih banyak ikan-ikan hidup di kawasan terumbu karang di kawasan perairan Pulau Tiga dan sekitarnya. Sampai dengan tahun 2002 kegiatan pembiusan dilakukan secara terbuka, dimana nelayan melakukan kegiatannya secara terang-terangan di muka umum dan pihak-pihak yang berwajib. Tetapi setelah itu, kegiatan ini sudah mulai berkurang dan kegiatan pembiusan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena sebagian besar pembius dan agen atau pedagang potas mengetahui bahwa kegiatan ini dilarang pemerintah, karena merusak karang dan sumber daya laut.
Agen ikan hidup dan beberapa pedagang pengumpul ikan hidup untuk sementara ini juga tidak lagi menyediakan potas bagi nelayan, termasuk nelayan anak-buahnya. Seorang pedagang pengumpul ikan di Desa Pulau Tiga yang sebelumnya menyediakan potas bagi nelayan anak buahnya menyatakan:
“Sekarang susah karena sudah tidak boleh kerja15 daripada dikejar-kejar keluarganya – sudah 6 bulan tidak kerja .. rencananya mau kerja lagi di Midai”
Mengingat gencarnya informasi larangan penggunaan bius (potas), sebagian nelayan pembius mengalihkan kegiatan mereka ke luar kawasan Pulau Tiga. Sebagai contoh, mereka menangkap ikan di Pulau Timau yang terletak di Kecamatan Midai, masih di wilayah Kabupaten Natuna. Pulau ini sekarang menjadi salah satu pusat kegiatan pembiusan ikan di Kabupaten Natuna.
Dampak Penggunaan Bius
Walaupun penggunaan potas dapat meningkatkan produksi tangkapan ikan hidup nelayan, bahan kimia ini menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap kerusakan terumbu karang dan keselamatan nelayan pembius. Dari sisi kerusakan terumbu karang, menurut informan dan sebagian masyarakat di lokasi penelitian, penggunaan bius lebih berbahaya dari penggunaan bahan peledak (bom). Kerusakan terumbu karang yang disebabkan penggunaan bius (potas) juga lebih besar jika dibandingkan dengan penggunaan bom. Kawasan terumbu karang yang terkena bius akan lebih luas dari kawasan yang hancur karena bom, karena air laut yang terkena bius akan terkontaminasi dan mengalir ke hilir pada kawasan yang lebih luas. Terumbu karang yang terkena bius akan memutih dan akhirnya mati. Sedangkan penggunaan bom akan menghancurkan terumbu karang pada kawasan yang lebih kecil.
15
Walaupun karang yang di bom hancur lebur, tetapi karang-karang tersebut akan tumbuh kembali setelah beberapa waktu.
Kerusakan terumbu karang berimplikasi pada jumlah dan keanekaragaman ikan dan biota yang hidup di kawasan terumbu karang. Menurut informan kunci dan sebagian nelayan, jumlah ikan-ikan karang, terutama ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi sudah mengalami penurunan secara signifikan. Beberapa spesies ikan dan biota laut, seperti ikan mengkait (napoleon), ikan pitong, sabung, penyu sisik dan hijau, bahkan sudah mencapai kondisi yang kritis dan langka. Penurunan ini sangat signifikan sejak pertengahan tahun 1990-an. Untuk mendapatkan hasil tangkap yang lebih banyak, maka sebagian nelayan melakukan penangkapan ikan ke kawasan terumbu karang yang kondisinya masih cukup baik yang terletak di luar kawasan perairan Pulau Tiga, seperti Pulau Timau di Kecamatan Midai.
Di samping dampaknya pada kerusakan terumbu karang dan penurunan jumlah dan keanekaragaman ikan dan biota laut, penggunaan bius juga berdampak negatif terhadap keselamatan dan kehidupan nelayan. Di Kecamatan Bunguran Barat, setidaknya 5-6 nelayan meninggal dunia ketika sedang melakukan kegiatan pembiusan. Malapetaka ini terutama dikarenakan nelayan-nelayan tersebut mengalami kram, saat melakukan pembiusan pada kedalaman 40 – 60 meter di bawah permukaan laut.
Jaring Pukat Harimau
Penggunaan jaring pukat harimau (trawl) mulai dioperasikan di perairan laut Natuna, termasuk sekitar kawasan Pulau Tiga sejak akhir tahun 1970-an oleh nelayan Thailand dengan menggunakan kapal-kapal ikan khas Thailand. Kegiatan ini mulai marak tahun 1980-an dan masih terus berlangsung. Walaupun penggunaan trawl dilarang di Indonesia (Keputusan Presiden No.39 tahun 1980), jumlah kapal-kapal Thailand yang beroperasi di kawasan ini semakin banyak, mencapai ratusan kapal. Tetapi sejak tahun 2004, komplain masyarakat terhadap keberadaan kapal-kapal Thailand sangat mencolok, sehingga jumlah kapal mulai berkurang. Pada waktu penelitian dilakukan bulan April 2005, jumlah kapal ikan Thailand diperkirakan masih berkisar 40 kapal.
Keberadaan kapal-kapal Thailand di perairan Kabupaten Natuna belum begitu jelas. Sebagian informan mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut mempunyai ijin dari Jakarta. Tetapi sebagian lagi mengatakan kegiatan kapal-kapal tersebut ilegal, diindikasikan dari penggunaan bendera Indonesia di kapal-kapal ikan Thailand tersebut ketika beroperasi di perairan Natuna dan dengan nama kapal yang diganti menjadi nama Indonesia, seperti: Mina 1 s/d Mina 10, Alam 1 dan Alam 2. Namun demikian, dari bentuk kapal yang khas, penduduk mengetahui secara
jelas bahwa kapal-kapal tersebut adalah kapal Thailand, karena tidak ada kapal nelayan lokal atau nelayan Indonesia yang bentuknya seperti kapal Thailand. Di samping itu, dari anak buah kapal (ABK) dapat diketahui bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Thai.
Dampak Penggunaan Trawl
Penggunaan trawl oleh kapal-kapal Thailand ini memberikan dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya ikan di sekitar kawasan Pulau Tiga, khususnya, dan Natuna pada umumnya. Penggunaan trawl merusak habitat dan membinasakan ikan dan biota laut yang bukan menjadi target penangkapan. Hal ini terutama dikarenakan semua ikan dan biota laut yang terperangkap dalam jaring pukat, termasuk ikan-ikan dan biota yang masih kecil-kecil, ikut terangkat. Anak-anak ikan tersebut tidak dapat dimanfaatkan, sehingga dibuang lagi ke laut. Padahal ikan-ikan ini seharusnya tumbuh dan berkembang. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan, sekitar 80 persen hasil tangkap trawl tidak dimanfaatkan, dan karena itu dibuang lagi ke laut.
Penangkapan menggunakan trawl juga merusak habitat, terutama kondisi fisik dasar laut. Kerusakan ini berkaitan dengan adanya kerusakan sedimen di bagian permukaan. Lumpur yang dihasilkan dari kerusakan sedimen tersebut menyebabkan meningkatnya bentik (benthic organisms).
Di kawasan Pulau Tiga dan perairan di sekitarnya, penggunaan trawl berdampak signifikan terhadap populasi ikan dan biota laut lainnya. Penggunaan trawl yang dilakukan secara intensif dan ekstensif menyebabkan penurunan secara substantial produksi ikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hal ini terutama berkaitan dengan banyaknya kegiatan trawl yang dilakukan oleh kapal-kapal Thailand yang jumlahnya besar, mencapai ratusan kapal. Di samping itu, kegiatan penangkapan menggunakan trawl sudah dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama (mulai tahun 1977 dan marak sejak tahun 1980-an).