• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian ini akan menguraikan mengenai potret penduduk dan tingkat kesejahteraaan masyarakat di Kawasan Pulau Tiga. Sumber datanya

3.2. Kualitas Sumber Daya Manusia

3.2.1. Pendidikan dan Keterampilan

Mayoritas penduduk desa di kawasan Pulau Tiga memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah, yaitu lebih dari 75 persen berpendidikan tamat SD ke bawah. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat desa tidak terlepas dari ciri masyarakat pesisir yang jauh dari pendidikan. Bila dibedakan berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan perempuan lebih rendah daripada tingkat pendidikan laki-laki khususnya pada tingkat pendidikan tamat SD ke bawah. Namun tidak sebaliknya pada tingkat pendidikan tamat SMP ke atas proporsi penduduk laki-laki dan perempuan yang menamatkan SMP atau SMA ke atas memperlihatkan perbedaan yang signifikan diantara keduanya. Hal tersebut dapat memperlihatkan tingkat partisipasi perempuan dengan laki-laki pada tingkatan SD adalah sama, akantetapi tingkat partisipasi laki-laki pada tingkat pendidikan SMP ke atas cenderung lebih tinggi. Keadaan ini mengindikasikan adanya perbedaaan jender untuk melanjutkan pendidikan. Pada umumnya anak perempuan lebih disarankan oleh orang tuanya untuk tetap di rumah membantu mengurus rumah tangga.

Tabel 3.2.

Penduduk berusia 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan

Jenis kelamin

Laki-laki Perempuan Total Pendidikan tertinggi yang

ditamatkan n=179 n=157 n=336 Belum/tidak sekolah 2.79 6.37 4.46 Belum/tidak tamat SD 23.46 24.20 23.81 SD tamat 53.07 54.78 53.87 SMP tamat 14.53 10.19 12.50 SMA tamat ke atas 6.15 4.46 5.36

100.00 100.00 100.00

Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK LIPI 2005.

Kecenderungan yang terjadi di kawasan Pulau Tiga adalah adanya perbedaan tingkat pendidikan antara generasi, yaitu generasi muda relatif memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada generasi tua. Dari hasil survei, mayoritas penduduk yang berusia 30 tahun ke atas memiliki pendidikan tamat SD (61 persen laki-laki dan 64 persen perempuan) dan kurang dari 15 persen yang memiliki pendidikan tamat SMP dan SMA ke atas. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung

peningkatan pendidikan masyarakat, yaitu sarana dan prasarana pendidikan, aksesibilitas, dan motivasi keluarga. Faktor pendukung pertama, keberadaan fasilitas pendidikan tingkat SD di setiap desa, bahkan hampir di semua dusun menciptakan tingkat partisipasi masyarakat untuk bersekolah semakin tinggi. Sejak itu, angka putus sekolah di kawasan Pulau Tiga semakin lama semakin menurun dengan kondisi sekarang, angka putus sekolah pada tingkat SD adalah nol karena hampir 100 persen muridnya menyelesaian pendidikannya. Berdirinya SMP pada tahun 2000 di Desa Pulau Tiga semakin memudahkan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan menjadi 9 tahun. Padahal sebelumnya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP harus bersekolah di Kecamatan Sedanau atau Kota Ranai sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar pula. Adanya Program Pemerintah Wajar 9 tahun dan perhatian yang baik dari aparat desa untuk terus mendorong masyarakat menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMP dengan memanfaatkan fasilitas yang ada menjadi faktor yang saling berkaitan. Faktor kedua adalah kemudahan aksesibilitas transportasi penghubung antar desa, pulau, kabupaten bahkan provinsi semakin memicu masyarakat khusus generasi muda untuk bisa bersekolah lebih tinggi, tidak hanya pada tingkat menengah tapi juga sampai ke perguruan tinggi di Pekanbaru, Kalimatan Barat, dan Tanjung Pinang. Faktor ketiga adalah dukungan dari semua pihak, orang tua dan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Motivasi orang tua menyekolahkan anaknya adalah cukup tinggi. Anak-anak diberikan motivasi dan kemudahan untuk melanjukan pendidikan setinggi-tingginya dan orang tua bertugas untuk mencari nafkah membiayai keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Anak diberikan kebebasan untuk memilih sendiri bidang yang diminatinya, disesuaikan dengan kemampuan personal.

Di samping pendidikan formal, beberapa anggota masyarakat desa di kawasan Pulau Tiga juga meningkatkan keterampilannya melalui pendidikan non formal, seperti khursus bahasa Inggris dan keterampilan mengetik, pembinaan keagamaan dan kader kepemimpinan. Kegiatan peningkatan keterampilan diprakarsai oleh kelompok Forum Peduli yang beraggotakan pemuda dan pemudi desa. Namun dalam perjalannya, kegiatan tersebut tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak penyelenggara adalah keterbatasan dana dan minat yang kurang di pihak masyarakat. Kegiatan yang sampai saat ini masih eksis adalah pembinaan keagamaan dan kader kepimpinan. Kedua kegiatan ini bertahan karena tidak memerlukan biaya yang terlalu besar dengan sifat kegiatan keagamaan sukarela sedangkan kader kepemimpinan hanya dilakukan setahun sekali.

Dalam upaya pengembangan kemampuan, usaha peningkatan keterampilan lebih mengarah pada usaha informal sehingga dapat menjadi sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melihat dari hasil alam di kawasan Pulau Tiga, maka dapat dibedakan menjadi dua jenis pemanfaatan, yaitu pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya laut. Pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di darat, yang memiliki nilai tambah adalah pengolahan hasil kelapa, dan kerajinan tangan. Pengelolahan hasil kebun kelapa, yaitu kopra dan minyak kelapa. Dalam perkembangan beberapa tahun terakhir ini, produksi kopra mulai memperlihatkan penurunan karena umur kelapa yang telah tua. Salah satu alasan penurunan produksi tersebut adalah nilai tukar kopra yang sangat rendah sehingga banyak masyarakat yang berahli profesi dari petani kelapa menjadi petani cengkeh atau nelayan. Memproduksi minyak kelapa merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Secara umum, hasil produksi minyak kelapa hanya digunakan untuk kepentingan rumah tangga, namun juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan rumah tangga. Masyarakat juga mendapatkan keterampilan mengenai pembuatan minyak kelapa dan Sari Kelapa dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Natuna. Bentuk keterampilan lainnya yang dimiliki oleh masyarakat adalah membuat anyaman dari pandan, berupa tikar, tudung saji, topi dan lain-lain. Keterampilan kerajinan tangan ini merupakan keterampilan yang diturunkan secara turun-temurun dari orang tua. Kegiatan keterampilan ini, umumnya dimiliki oleh kaum ibu untuk mengisi waktu luang

Pemanfaatan hasil laut yang melimpah, keterampilan yang dikembangkan di desa-desa adalah membuat krupuk ikan. Usaha krupuk ikan juga dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga baik secara individu ataupun berkelompok. Pemasaran hasil produksinya masih berada di tingkat lokal yaitu warung-warung di sekitar desa. Hasil usaha ini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan rumah tangga. Produk lainnya dari hasil laut adalah ikan asin bilis yang banyak terdapat di Desa Pulau Tiga, tepatnya Kampung Sepasir - Desa Sededap. Ikan Bilis merupakan hasil tangkapan sendiri. Pemasaran ikan bilis dimulai dari tingkat desa, sampai dipasarkan langsung ke pasar di Sedanau. Selain untuk dikonsumsi manusia, ikan bilis dalam kondisi buruk juga bermanfaat sebagai pakan ternak ayam. Selain ikan asin bilis, produk lainnya dari ikan bilis adalah pedak 3 yang merupakan makanan tradisional masyarakat desa di Kawasan Pulau Tiga. Tidak berbeda dengan usaha lainnya, pemasaran pedak juga masih berada di tingkat desa. Dalam proses pengelolaannya, yang terlibat adalah ibu rumah tangga umumnya

3

Cara membuat pedak adalah membiarkan ikan bilis tersebut berfregmentasi didalam toples yang tertutp selama kurang lebih 7 hari

yang memiliki anggota rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan ikan bilis.

Secara formal, masyarakat pernah beberapa kali mendapatkan penyuluhan dari tingkat Kabupaten Natuna. Penyuluhan tersebut adalah penyuluhan pelestarian terumbu karang, beserta cara membuat terumbu karang buatan. Kegiatan penyuluhan ini diselenggarakan di desa yang dihadiri oleh penjabat-pejabat desa. Selain bidang perikanan, desa di Kawasan Pulau Tiga juga pernah mendapatkan pelatihan pemberatasan hama cengkeh oleh Dinas Pertanian. Pelatihan ini memberikan hasil dan disambut gembira oleh masyarakat, namun karena keterbatasan obat, sampai sekarang masalah hama cengkeh masih menjadi penghambat produksi.