PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT
4.5. Hubungan Kerja dalam Pengelolaan SDL
Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan banyaknya stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan SDL. Masing-masing stakeholder berkaitan satu dengan lainnya. Keterkaitan ini dapat dilihat dari hubungan kerja antar stakeholders yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam 4 bagian.
4.5.1. Pemilik dan Penumpang Pompong
Hubungan kerja yang umum berlaku dikalangan nelayan kawasan Pulau Tiga adalah kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan bersama-sama dengan sistem bagi hasil. Sesuai dengan kapasitas armada dan alat tangkap, kegiatan penangkapan ikan biasanya dilakukan oleh 2 (dua) nelayan per armada (pompong), baik untuk penangkapan ikan hidup maupun mati. Hasil tangkapan dibagi tiga: motor pompong mendapat satu bagian, sedangkan 2 nelayan mendapat masing-masing satu bagian. Apabila pemilik motor juga melakukan kegiatan penangkapan, maka pemilik motor tersebut akan mendapatkan dua bagian. Pembagian dilakukan setelah pendapatan kotor dikurangi biaya operasional selama melaut.
Hubungan kerja dengan sistem pembagian hasil seperti ini juga berlaku untuk alat tangkap bubu. Mengingat kegiatan bubu menggunakan sampan (perahu tanpa motor), maka perhitungan yang biasa dipakai adalah: sampan dan bubu mendapat satu bagian, dan pekerja masing-masing satu bagian. Jika yang bekerja 2 orang, maka pendapatan bersih akan di bagi tiga.
Kebiasaan yang berlaku di kawasan Pulau Tiga ini mengindikasikan hubungan kerja yang seimbang dengan sistem pembagian hasil yang proporsional dan saling menguntungkan antara pemilik armada dengan nelayan yang bekerja. Hubungan yang setara ini juga dicerminkan dari cara penduduk menyebut nelayan yang ikut menangkap ikan di pompong atau sampan nelayan lain dengan sebutan ‘numpang’. Mekanisme kerja sangat sederhana, nelayan yang ingin bekerja mengutarakan keinginannya untuk ikut – bersama-sama menangkap ikan menggunakan pompong, keinginan ini direspon dengan persetujuan pemilik. Mereka kemudian menentukan waktu melaut dan wilayah tangkap.
4.5.2. Nelayan dan Pabrik Es / Pengumpul Ikan Mati
Keterkaitan antara nelayan dan pabrik es / pengumpul ikan mati (Kapal Kalimantan) adalah hubungan dagang – jual beli. Nelayan membeli es yang digunakan untuk pembekuan ikan selama melaut dan menjual hasil
tangkapannya kepada pabrik es. Sebaliknya, pabrik es/ pengumpul ikan mati menjual es dan membeli ikan dari nelayan. Harga es dan ikan ditentukan oleh pihak pabrik es/pengumpul ikan, sedangkan nelayan tidak mempunyai posisi tawar atau bargaining position. Keadaan ini merugikan nelayan, karena pihak pabrik/pengumpul ikan cenderung untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, terutama karena monopoli penyediaan es dan agen pemasaran ikan mati di kawasan Pulau Tiga dan Kecamatan Bunguran Barat.
4.5.3. Nelayan dan Pedagang Pengumpul & Agen Penampung Ikan Hidup
Seperti hubungan nelayan dan pabrik es / pengumpul ikan hidup, hubungan nelayan dan pedagang pengumpul & agen penampung ikan hidup adalah hubungan dagang – jual beli. Ke dua stakeholders ini mempunyai ketergantungan satu dengan lainnya, nelayan memerlukan pedagang pengumpul & agen penampung ikan untuk menjual hasil tangkapan mereka dan sebaliknya pedagang & agen memerlukan ikan dari nelayan agar dapat meneruskan usahanya.
Saling ketergantungan ini memberikan keuntungan bagi ke dua pihak, namun keuntungan tersebut lebih dominan diterima pedagang & agen penampung ikan. Hal ini terutama dikarenakan harga ikan hidup ditentukan oleh agen penampung yang memonopoli perdagangan ekspor ikan ke Hongkong. Di samping itu, agen penampung juga memfasilitasi penyediaan sarana penangkapan ikan dan kebutuhan nelayan, seperti motor dan peralatan pompong, bahan dan alat tangkap serta kebutuhan lainnya. Bagi nelayan agen merupakan ‘penolong’ yang setiap saat dapat memberikan bantuan pinjaman kepada nelayan yang memerlukan. ‘Bantuan’ ini dapat diperoleh langsung dari agen, tetapi bagi nelayan yang tidak mempunyai akses langsung ke agen tersebut, nelayan dapat meminjam melalui pedagang pengumpul, yang bekerjasama dan sebagian besar modalnya juga berasal dari agen. Tetapi, mereka kurang menyadari kalau sebenarnya agen dan pedagang pengumpul tersebut mengeruk keuntungan dari nelayan.
Di samping hubungan yang memberikan dampak positif bagi kehidupan semua pihak, hubungan kerja sama antar stakeholders ini juga menimbulkan dampak negatif, terutama terhadap kelestarian terumbu karang dan sumber daya laut di kawasan Pulau Tiga. Dampak negatif ini terutama diindikasikan dari kegiatan penangkapan ikan secara ilegal, seperti pembiusan yang difasilitasi oleh pedagang pengumpul dan agen penampung ikan hidup. Sebagian besar (sekitar 70 persen) hasil tangkapan ikan hidup di kawasan ini, menurut beberapa informan dan nelayan, ditangkap menggunakan bius (potas) yang mereka dapatkan dari pedagang dan agen tersebut serta akhir-akhir ini bius juga diperoleh
dari pedagang lainnya, seperti pedagang kain dan pakaian di kawasan Pulau Tiga.
4.5.4. Hubungan Sektor Relevan dalam Pengelolaan SDL
Instansi pemerintah yang berkaitan erat dengan pengelolaan sumber daya laut (SDL) di kawasan Pulau Tiga dan Kabupaten Natuna adalah Lanal (Pangkalan Angkatan Laut) dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Kedua instansi ini idealnya mempunyai peran penting yang saling melengkapi satu dengan lainnya dalam pengelolaan SDL. Lanal mempunyai tugas untuk mengamankan wilayah perbatasan dan pelanggaran di laut. Di kawasan Pulau tiga terdapat dua pos, yaitu Pos Marinir yang berkonsentrasi pada wilayah perbatasan, anggotanya langsung berasal dari pusat Mabes TNI dan post Kamla yang menangani pelanggaran laut di bawah komando operasi Lanal. Dengan adanya ke dua pos tersebut seharusnya dapat mengamankan kawasan Pulau Tiga dari pelanggaran yang berdampak negatif terhadap kelestarian SDL, seperti penggunaan bahan peledak (bom) dan bahan beracun (bius/potas) serta trawl dalam penangkapan ikan. Tetapi dalam pelaksanaannya, kegiatan pembiusan, pengeboman dan penggunaan trawl masih terus berlangsung, meskipun intensitas dan frekuensinya sudah berkurang.
Keberadaan Angkatan laut di kawasan Pulau Tiga seharusnya dapat membantu tugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Natuna yang berkewajiban mengelola SDL secara berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kegiatan Dinas DKP yang sudah dilakukan adalah Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PEM) yang didanai oleh pemerintah pusat dan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan yang didanai oleh APBD II tahun 2002-2004. Ke dua kegiatan ini bertujuan meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir dengan cara pemanfaatan SDL secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut belum dapat berjalan optimal, karena beberapa kendala, seperti: penduduk yang mendapatkan dana tidak melakukan kegiatan sesuai dengan proposal yang diajukan dan sebagian memanfaatkan dana untuk keperluan konsumtif (pembelian TV dan VCD). Di samping itu, Dinas Kelautan dan Perikanan juga kurang memberikan bimbingan dan pemantauan dalam pelaksanaan program. Karena itu, sebagian penerima dana tidak dapat atau tidak bersedia mengembalikan dana tersebut. Saat penelitian dilakukan, Dinas Kelautan dan Perikanan sedang mempersiapkan program COREMAP (Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang) yang merupakan program nasional. Kegiatan penyuluhan akan pentingnya pelestarian terumbu karang sudah mulai dilaksanakan di Desa Sabang Mawang. Pembagian kelompok kerja (pokja) yang akan
terlibat dalam program ini juga sudah dilakukan di ke tiga desa penelitian, tetapi pokja-pokja tersebut belum memulai kegiatannya.
Bab ini menggambarkan pengelolaan sumber daya laut (SDL) di kawasan Pulau Tiga masih didominasi oleh eksploitasi SDL, terutama perikanan tangkap, sedangkan upaya perlindungan dan konservasi masih sangat terbatas. Sebagian besar responden mengetahui fungsi ekologi terumbu karang dan larangan penggunaan bius, bom dan trawl, tetapi banyak nelayan masih menggunakan bahan dan alat yang ilegal tersebut. Nelayan lokal yang semula menggunakan pancing untuk menangkap ikan, karena pengaruh dan persaingan dengan nelayan dari luar, mereka juga menggunakan bahan dan alat yang ilegal tersebut serta memperluas wilayah tangkap. Hal ini berkaitan erat dengan banyaknya permintaan terhadap ikan hidup dari pasar internasional, khususnya Hongkong, dan ikan mati dari pasar domestik, menyebabkan dan semakin banyaknya nelayan yang beroperasi di kawasan ini, baik nelayan lokal maupun nelayan dari luar dan nelayan asing. Keadaan ini mengindikasikan semakin banyak dan kompleksnya stakeholders yang beroperasi di kawasan ini.