• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian ini akan menguraikan mengenai potret penduduk dan tingkat kesejahteraaan masyarakat di Kawasan Pulau Tiga. Sumber datanya

3.2. Kualitas Sumber Daya Manusia

3.2.2. Derajat Kesehatan

Derajat kesehatan desa di Kawasan Pulau Tiga relatif tinggi, karena kesadaran masyarakat untuk berobat dan memanfaatkan tenaga medis yang ada sangat tinggi. Hampir di semua kampung (dusun) memiliki satu atau dua orang bidan yang menetap di sana walaupun tidak semua bidan betah untuk tinggal di pulau dan tidak sedikit juga yang memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala masyarakat untuk memanfaatkan tenaga medis yang ada karena aksesibilitas yang terjangkau antara satu desa dengan desa lainnya. Angka kematian bayi di ketiga desa relatif rendah, karena setiap kelahiran selalu dibantu dengan seorang bidan atau dukun terlatih yang bersesuaian dengan komposisi penduduk berusia 0 – 5 tahun (balita) relatif tinggi (lihat Bagan 3.1.).

Jenis-jenis penyakit yang umumnya diderita masyarakat adalah malaria, demam, batuk,dan pilek, cacar air dan mencret. Bagi masyarakat di Kawasan Pulau Tiga, penyakit malaria merupakan penyakit yang sudah biasa dialami oleh penduduk. Cara pencegahan penyakit ini dengan cara tradisional yaitu dengan memakan yang mengandung pahit, seperti daun dan bunga pepaya. Sedangkan tahap pencegahan penyakit seperti deman, batuk dan pilek dengan mengobatinya dengan meminum obat dari warung. Apabila kondisi semakin parah, masyarakat akan mendatangi dukun/bidan/mantri untuk berobat. Di salah satu desa pernah mengalami wabah muntaber namun tidak memakan korban. Jenis penyakit yang berhubungan dengan aktivitas melaut dan banyak terjadi di kawasan Pulau Tiga adalah kram yang menyebabkan kelumpuhan bahkan sampai kematian. Kram terjadi akibat nelayan menyelam terlalu dalam di luar batas kemampuan manusia sehingga menyebabkan keseimbangan tubuh dan peredarannya darah terganggu. Berdasarkan pengakuan masyarakat, selama ini, penyakit tersebut telah

menelan korban + 10 orang meninggal dunia sedangkan yang menderita kelumpuhan mencapai lebih dari 20 orang. Munculnya penyakit tersebut bersamaan dengan munculnya harga jual tinggi pada ikan karang hidup.

3.2.3. Pekerjaan

Mata pencahariaan penduduk kawasan Pulau Tiga sangat beragam baik yang bersumber dari laut maupun darat. Untuk mengakomodasi beragam jenis pekejaan penduduk tersebut, maka pekerjaan dibedakan menjadi dua yaitu pekerjaan utama dan tambahan. Pekerjaan utama adalah pekerjaan yang biasanya dilakukan selama satu tahun terakhir dengan menyita waktunya paling banyak, sedangkan pekerjaan sampingan adalah pekerjaan tambahan atau sampingan di luar pekerjaan utama yang juga menyita waktu cukup banyak. Baik pekerjaan utama dan tambahan tersebut dirincikan berdasarkan jenis, status dan lapangan pekerjaan.

Penduduk kawasan Pulau Tiga memiliki jenis pekerjaan yang beraneka ragam. Berdasarkan hasil survei dan observasi, jumlah penduduk yang mengantungkan diri kehidupannya dari sumber daya laut mencapai 52 persen sedangkan sisanya bekerja sebagai petani (13,2 persen), berdagang (13,2 persen), tenaga jasa (11,8 persen), usaha rumah (4,2 persen) dan buruh kasar (5,6 persen). Pekerjaan sebagai nelayan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki (65,2 persen) sedangkan jenis pekerjaan lainnya didominasi oleh kaum perempuan. Berdasarkan status pekerjaan penduduk, mayoritas bekerja sendiri (81,1 persen), buruh (13,3 persen) dan berusaha dengan anggota rumah tangga atau dengan buruh tetap (5,6 persen). Mengingat ragamnya pekerjaan penduduk, studi ini membatasi dua jenis pekerjaan yang dapat dikatagorikan sebagai pekerjaan utama yaitu nelayan untuk laki-laki dan petani untuk laki-laki maupun perempuan. (Lihat Tabel 3.3).

Tabel 3.3.

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut Pekerjaan Utama

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Total Rincian Pekerjaan Utama

n=115 n=29 n=144 Jenis Nelayan 65.2 - 52.1 Petani 12.2 17.2 13.2 Pedagang 7.8 34.5 13.2 Tenaga jasa 9.6 20.7 11.8 Tenaga industri - 20.7 4.2 Tenaga kasar 5.2 6.9 5.6 Status Berusaha sendiri 83.5 72.4 81.3 Berusaha dengan anggota

keluarga 0.9 10.3 2.8 Berusaha dengan buruh tidak

tetap 3.5 - 2.8 Buruh 12.2 17.2 13.2 Lapangan Perikanan 65,2 3.4 52,8 Pertanian 12.2 17.2 13.2 Perdagangan (ikan+warung) 6.1 41.4 13.2 Jasa publik (guru, staf desa) 7.0 13.8 8.3 Industri rumah tangga 0.9 24.1 5.6 Lainnya 8.7 - 6.9

TOTAL 100 100 100

Sumber : Survei Data Dasar Aspesk Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK – LIPI 2005.

Kegiatan Kenelayanan

Bekerja sebagai nelayan sangat bergantung dari musim yang berlaku di daerah tersebut. Secara umum, Kawasan Pulau Tiga memiliki empat musim (lihat lebih detail pada Bab VI). Berdasarkan musim dan jenis ikan yang ditangkap, maka kegiatan kenelayanan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penangkapan ikan segar (mati) dan penangkapan ikan hidup. Penangkapan ikan mati bertujuan untuk menangkap jenis ikan tongkol, anggoli (krisi bali), kakap merah dan lain-lain. Sedangkan,

yang dimaksud dengan penangkapan ikan hidup adalah menangkap jenis-jenis ikan karang seperti kerapu, sunu, napoleon, dan lain-lain. Dengan tingginya nilai jual ikan hidup, mayoritas masyarakat lebih mengutamakan untuk menangkap ikan jenis tersebut. Menurut jenis alat tangkapnya, nelayan dapat dibedakan sebagai nelayan pancing, bubu, kelong dan bagan. Selain keempat jenis nelayan tersebut, nelayan yang cukup banyak terdapat di kawasan tersebut adalah nelayan ikan bilis. Nelayan pancing merupakan nelayan yang menangkap dua jenis penangkapan yaitu ikan segar (mati) dan ikan hidup. Yang membedakan kedua jenis penangkapan ini adalah alat yang digunakan, cara penangkapan dan hasil tangkapannya. Nelayan yang menangkap ikan mati sering dikenal dengan sebutan nelayan tongkol (nongkol) sedangkan nelayan mancing adalah nelayan yang menangkap ikan hidup dengan menggunakan pancing ulur. Kedua kegiatan tersebut dilakukan pada musim yang berbeda. Penangkapan ikan tongkol umumnya dilakukan pada musim utara, dengan frekuensi melaut selama satu minggu adalah 2 – 3 kali. Nongkol dimulai sejak pukul 3 dini hari sampai dengan pukul 8 atau 9 pagi, kecuali pada hari Jum’at ketika tidak adanya aktivitas melaut. Dua jenis alat tangkap pancing yang umum digunakan oleh nelayan tongkol adalah pancing tonda dan rawai4. Kegiatan nongkol hanya bisa dilakukan minimal oleh dua orang, dengan satu orang bertugas sebagai pengemudi pompong dan satu orang lainnya memegang mengangkat dan menurunkan pancing (Nonda). Untuk satu buah pancing tonda dapat terdiri dari 20 -25 mata pancing dengan tali rafia sebagai umpan. Wilayah penangkapan ikan tongkol berjarak 3 – 4 mil dari batas desa sehingga tidak jauh dari lokasi pemukiman. Berdasarkan jumlah hasil tangkapannya, nelayan akan menjual hasil tangkapannya langsung ke pabrik es atau pengumpul apabila hasil tangkapan dalam kapasitas besar, namun sebaliknya apabila hasil tangkapan sedikit hanya untuk komsumsi keluarga atau diperjualbelikan kepada tetangga sekitarnya.

Menangkap ikan hidup dilakukan musim timur dan selatan dengan jenis ikan tangkapan adalah ikan kerapu, kerapu tiger, kerapu bebek (sunu), Napoleon (mengkait), dan jenis ikan karang lainnya. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat hanya menangkap ikan tongkol dan ikan karang kurang diminati oleh msayarakat. Masuknya penampung yang hanya menerima hasil tangkapan ikan karang dalam kondisi hidup dan berdirinya Camp ikan di Desa Sabang Mawang, menyebabkan masyarakat berlomba-lomba menangkap ikan karang hidup karena memiliki pasar dan nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan ikan lainnya. Dan sejak saat itu, masyarakat lebih mengutamakan untuk

4 Tonda jenis pancing yang terdiri dari satu mata pancing, sedangkan rawai adalah jenis pancing yang terdiri dari ratusan mata pancing sehingga harga satu buah rawai dapat mencapai Rp. 150.000 – 300.000.

menangkap ikan hidup dibandingkan dengan ikan jenis lainnya. Kegiatan penangkapan ikan hidup, pada umumnya dilakukan secara beregu yang dipimpin oleh satu orang sebagai ketua regu (bos). Setiap regunya terdiri dari 4 – 8 buah pompong sangat tergantung dengan kemampuan bos, dengan masing-masing pompong terdiri 2 orang nelayan. Fungsi bos adalah ,menyediakan segala kebutuhan untuk perlengkapan memancing (tali dan mata pancing) serta bahan bakar dan ransum bagi semua anggotanya. Seorang bos juga memiliki keterkaitan dengan tauke (di Sedanau) yang memberikan pinjaman kepada bos untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Melaut secara beregu ini umumnya dilakukan sejak musim teduh tiba dengan frekuensi penjualan hasil tangkapan seminggu sekali di kota Sedanau. Dilihat dari wilayah tangkapannya, untuk menangkap ikan hidup relatif lebih luas dari wilayah tangkap ikan jenis lainnya. Selain itu, untuk wilayah yang berada di sekitar pemukiman sudah jarang sekali menemukan ikan karang. Sistem kerjanya sama dengan sistem yang ada yaitu bagi usaha, dengan rincian si pemilik pompong mendapat satu bagian dan tenaga kerja mendapat satu bagian. Apabila pemilik pompong juga bekerja maka ia akan mendapatkan dua bagian sedangkan nelayan lainnya mendapatkan satu bagian. Nilai yang dibagikan tersebut merupakan keuntungan bersih setelah dikurangi biaya opersional, seperti alat tangkap, bahan bakar dan ransum.

Nelayan kelong dan bubu adalah cara menangkap ikan karang. Kedua kegiatan ini banyak dilakukan pada musim timur dan selatan. Kelong merupakan salah satu cara menangkap ikan secara tradisional di masyarakat desa Kawasan Pulau Tiga, istilah yang lebih akrab disebut dengan “belat”. Sejak dahulu, penduduk asli desa menangkap ikan dengan menggunakan belat untuk mencukupi pemenuhan kebutuhan keluarga tanpa mempermasalahkan jenis ikan yang tertangkap. Namun, pengetahuan untuk membuat belat hanya dimiliki oleh segelitir masyarakat dan pengetahuan tersebut diperoleh langsung dari orang tua–orang tua mereka. Pengikisan pengetahuan cara membuat belat tercermin dari jumlah belat yang sangat sedikit, apabila dibandingkan dengan 20 sampai dengan 25 tahun yang lalu, disekitar garis pantai banyak terdapat belat. Proses pembuatan belat harus mengikuti arah arus air dan musim, sehingga biasanya setiap setahun sekali belat harus diperbaiki dan diubah dan digeser sesuai dengan arahnya arus air agar ikan dapat masuk ke sarang. Setiap pagi hari ketika air laut surut, ikan yang terperangkap di sarang belat harus segera diambil, jika tidak kemungkinan besar ikan tersebut dapat ataupun terlepas kembali. Dengan proses demikian, jenis ikan hasil tangkap dari satu belat sangatlah beragam tergantung dari ikan-ikan yang masuk dan musim. Kegaitan nelayan bubu hanya dilakukan pada musim selatan ketika ikan karang banyak keluar dari rumah-rumahnya. Alat tangkap bubu di desa kawasan Pulau Tiga merupakan jenis bubu dasar yang diletakan di

dasar laut dengan menggunakan karang sebagai pemberat. Lokasi peletakan bubu berada 1 – 2 km dari sekitar pemukiman penduduk. Kegiatan pemasangan bubu dilakukan pada pagi hari berkisar pukul 8, kemudian setelah 3 jam dilakukan pemantauan ulang ke lokasi apabila bubu berhasil menangkap ikan maka segera dikeluarkan dari perangkap. Peletakan bubu di sekitar kumpulan karang dengan bantuan samaran bunga karang yang diambil dari kumpulan karang-karang tersebut. Setelah dua hari tidak menghasilkan, maka bubu dipindahkan ke lokasi lainnya, akantetapi apabila berhasil menangkap ikan maka bubu kembali diletakan. Pada umumnya kegiatan nelayan bubu dilakukan bersama dengan anggota keluarga atau tenaga kerja yang terdiri dari 2 orang dengan sistem pengupahannya adalah bagi hasil. Dengan rician bagian, yaitu satu bagian untuk pemilik bubu, sampan dan tenaga kerjanya. Minimnya pendapatan dari hasil bubu sehingga bagian tenaga kerja yang dihitung hanya satu bagian walaupun yang bekerja ada dua orang sehingga bagian tenaga kerja lainnya akan diperoleh dari pemilikan sampan.

Nelayan bagan merupakan sebagian kecil nelayan di kawasan Pulau Tiga dengan jenis bagan adalah bagan apung. Berdasarkan data monografi desa, ketiga desa di kawasan Pulau Tiga memiliki jumlah bagan sebanyak lima buah yang terdapat di Desa Sabang Mawang dan Desa Pulau Tiga. Pada umumnya, kegiatan nelayan jenis ini tidak mengenal musim setiap bulannya dapat melaut yang membedakannya adalah hasil tangkapannya. Dalam sebulan nelayan bagan melaut setiap harinya kecuali pada masa bulan terang (purnama) selama + 10 hari nelayan bagan tidak melaut. Setiap harinya bagan ditarik sebanyak 3 – 5 kali tergantung dari jumlah tangkapan yang diperoleh. Pengangkatan pertama pada pukul 21.00 wib sampai dengan menjelang subuh. Setelah seminggu bagan dipindahkan ke lokasi lainnya, sebelum menempatkan bagan di suatu lokasi, terlebih dahulu lokasi tersebut di letakkan rumpon5 sebagai pemancing untuk datangnya ikan-ikan ke lokasi tersebut. Setalah seminggu rumpon berada di dasar laut kemudian bagan ditarik dekat dengan rumpon tersebut. Dalam satu hari kerja, kegiatan nelayan bagan membutuhkan 5 – 6 orang tenaga kerja. Sistem pembagian pengupahnya adalah bagi hasil, setiap satu orang tenaga kerja dan pemilik pompom mendapatkan satu bagian sama sedangkan pemilik bagan mendapatkan dua bagian. Jenis ikan yang ditangkap dengan bagan adalah ikan tongkol, selayang, tamban dan cumi-cumi.

Budidaya ikan atau lebih dikenal dengan istilah ternak ikan merupakan usaha pembesaran ikan karang, seperti ikan kerapu sunu, napoleon, dan kerapu tiger. Pada umumnya masyarakat yang memiliki ikan ternak

5 Rumpon terbuat dari daun-daun bambu, kelapa dan waring. Daun-daun tersebut diikat dengan tali kemudian dijatuhkan ke dasar laut dengan memberikan pemberat jangkar yang ditandai dengan pelampung.

bibitnya diperoleh dari alam, yaitu ditangkap dengan pancing ataupun bubu. Saat ini karena nilai ikan karang yang sangat tinggi dan permintaan pasar akan ikan karang juga tinggi, berternak ikan merupakan suatu investasi bagi masyarakt desa di Kawasan Pulau Tiga. Jenis yang paling banyak dipeliharaan adalah ikan sunu. Untuk memelihara ikan kerapu Sunu diperlukan waktu 8 bulan untuk dapat siap dijual (panen) sedangkan ikan mengkait memerlukan waktu yang lebih lama yaitu dua tahun. Dibandingkan dari segi fisiknya, ikan kerapu relatif lebih rentan dibandingkan Ikan napoleon, namun bibitnya sudah sulit ditemukan di wilayah perairan Pulau Tiga. Umpan makanan ikan ternak umumnya diperoleh dari hasil melaut atau jika tdak memiliki ikan segar dapat dibeli di pengumpul “pencangkau”.

Nelayan ikan bilis

Nelayan ikan bilis banyak terdapat di Desa Sededap dan sebagian kampung di Desa Pulau Tiga, khususnya Kampung Sepasir. Kegiatan melaut ikan bilis dimulai pukul 19.00 wib kadang-kadang sampai subuh tergantung arus laut. Pada umumnya, menangkap ikan bilis hanya pada 6 hari bulan sampai dengan 18 hari bulan di musim selatan. Perlengkapan melaut ikan bilis adalah sampan, lampu serungking (teplok) dan cedok 6. Sistem kerja menangkap ikan bilis adalah secara beregu, satu regu terdiri dairi 6 – 8 sampan, dengan masing-masing sampan terdiri dari 2 orang. Tiga buah sampan bertugas menunggu di tepi pantai dan bersiap-siap untuk menyerok ikan bilis dengan menggunakan cedok, sedang sampan lainnya bertugas berputar-putar mencari ikan di tengah laut dengan jarak dari tepi kurang lebih ½ km. Setelah ikan ditemukan maka ikan digiring secara bersama-sama ke arah tepi menuju sampan penunggu yang kemudian bertugas menyerok ikan bilis setelah ikan-ikan tersebut berada di tepi. Sistem pembagian hasil tergantung dari jumlah ikan bilis yang ditangkap, setiap sampan memperoleh bagian yang sama, kemudian dari satu sampan dibagi berdasarkan bagiannya, yaitu lampu dan minyak mempunyai dua bagian, sampan dan tenaga kerja masing-masing satu bagian.

Kegiatan Non Kenelayanan

Kawasan Pulau Tiga merupakan daerah yang memiliki alternatif pekerjaan yang cukup banyak, karena memiliki sumber daya alam lainnya selain laut. Sumber daya alam yang cukup besar adalah hutan

6

Cedok merupakan alat tangkap ikan bilis yang berbentuk segitiga, dua sisinya adalah kayu dengan panjang masing 5 meter dan sisi lainnya adalah jarring dengan lebar sisi juga 5 meter. Di ujung dua sisi kayu terdapat kantung yang berfungsi untuk menampung ikan bilis yang telah diserok.

yang dikonversi menjadi kebun kelapa dan cengkeh. Jenis pekerjaan selain kenelayanan adalah berkebun kelapa atau cengkeh, jasa publik dan perdagangan.

Berdasarkan kegunaan lahan desa di kawasan Pulau Tiga, dua per tiga luas wilayah daratan merupakan perkebunan kelapa dan cengkeh, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk pemukiman dan sarana dan prasarana desa. Perkebunan kelapa di desa Kawasan Pulau Tiga telah ada sejak masa penjajahan Belanda. Pemilik pertama kebun kelapa adalah kaum bangsawan yang kemudian memperjualbelikan kepada keturunan Cina yang menetap di Sedanau sehingga sekarang hanya sebagian kecil pekebunan kelapa yang merupakan milik masyarakat setempat, sedangkan sebagian masyarakat lainya adalah buruh kebun. Saat ini, masyarakat yang pekerjaan utamanya sebagai berkebun sudah tidak banyak (13,2 persen). Berkurangnya profesi petani lebih disebabkan oleh produktivitas kelapa yang mengalami penurunan akibat usia pohon yang sudah tua, di samping meningkatnya nilai jual ikan hidup. Usia pohon yang sudah tua dan tidak adanya peremajaan kembali menyebabakan kegiatan mengolahan kebun juga mengalami pengurangan.

Kegiatan berkebun kelapa adalah pemeliharaan, panen dan pasca panen. Kegiatan pemeliharaan hanya dilakukan dua kali setahun ketika menjelang panen akan tiba, seperti menyiang rumput di sekitar pohon yang dilakukan oleh laki-laki dan/atau perempuan. Tahap kegiatan berikutnya adalah panen, sampai saat ini panen masih bergantung dengan tenaga manusia (laki-laki) sehingga dengan semakin tinggi pohon resiko pemanjat juga semakin besar, sedangkan perempuan membantu mengumpulkan buah kelapa yang jatuh (cauke). Kegiatan pasca panen adalah pengolahan kelapa menjadi kopra 7. Kopra merupakan salah satu komoditi utama kawasan Pulau Tiga. Dari 300 – 350 buah kelapa dapat menghasilkan 1 kwintal kopra (+100 kg) dengan harga jual kopra adalah Rp. 120.000/kwintal di tingkat pengumpul desa ataupun di Sedanau di kerjakan selama 3 – 4 hari. Rendahnya harga kopra yang menyebabkan anggota banyak masyarakat yang meninggalkan pembuatan kopra, karena tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan ongkos yang diterima.

Berdasarkan proses kegiatan tersebut, maka sistem pendapatan terbagi menjadi dua, yaitu sistem bagi hasil dan upahan. Sistem bagi hasil dilakukan bagi tenaga kerja yang terlibat mulai dari pemeliharaan sampai dengan pengolahan kelapa menjadi kopra. Pemilik dan bekerja masing-masing akan mendapat satu bagian. Besar bagian yang diterima buruh

7 Cara mengelola kopra, yaitu kelapa dibelah yang kemudian diuapkan dengan api. Setelah itu isi kelapa dipisahkan dengan tempurungnya yang kemudian isinya dijemur hingga kering.

kebun kelapa sangat tergantung dari jumlah hasil produksi kelapa dan penjulan kopra. Sistem lainnya adalah sistem upah, yaitu sebesar Rp 25.000 per hari tidak termasuk biaya makan. Besarnya upah yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil perkebunan, sehingga kebanyakan kegiatan perkebunan dilakukan pemiliki kebun dan anggota keluarga sendiri untuk memperkecil biaya opersional.

Perkebunan cengkeh telah ada sejak tahun 1970-an, yang ditanam di sekitar perkebunan kelapa seizin pemilik perkebunan kelapa dengan modal pribadi (bibit cengkeh). Oleh sebab itu, hampir semua rumah tangga memiliki kebun cengkeh, tetapi tidak semuanya ditanam di lahan milik pribadi. Biaya penanaman pohon cengkeh berusia satu tahun adalah Rp 5,000 per pohon. Rata-rata rumah tangga mempunyai satu hektar kebun cengkeh yang terdiri dari 153 pohon. Kegiatan pemeliharaan kebun cengkeh tidak berbeda dengan pemeliharaan kelapa, yaitu hanya dilakukan setahun sekali menjelang panen tiba. Menurut masyarakat desa kawasan Pulau Tiga, pemeliharaan cengkeh cenderung tidak memerlukan biaya yang besar karena sistem pemeliharaan yang sangat minim dengan biaya tenaga kerja yang tidak diperhitungkan karena dilakukan oleh pemilik atau anggota rumah tangga. Pemeliharaan menjelang panen tersebut adalah pembersihan rumput-rumput di sekitar pohon yang banyak dikerjakan oleh kaun ibu. Dengan cara pemeliharaan yang seadanya tersebut tentunya mempengaruhi hasil produksi pohon cengkeh. Produksi perkebunan cengkeh yang efektif adalah dua kali per tahun dengan panen terakhir terjadi pada Bulan Februari 2005, tetapi setahun terakhir ini jumlah panen perkebunan cengkeh mengalami penurunan menjadi sekali. Panen biasanya dikerjakan oleh kaum laki-laki, dan dilanjutkan dengan pembuangan tangkai dan pengeringan oleh ibu-ibu rumah tangga. Seperti halnya dengan kebun kelapa, sistem pengupahan perkebunan cengkeh juga terbagi dua, yaitu berdasarkan pengupahan hasil panen yang diperoleh Rp. 2,000/kilogram dan sistem bagi hasil. Sistem pengupahan tersebut sangat tergantung dari kemampuan pemilik kebun. Jenis pekerjaan lain adalah berdagang. Pekerjaan ini cukup banyak dilakukan penduduk dan erat kaitannya dengan kegiatan kenelayanan. Berdagang di desa Kawasan Pulau Tiga berdasarkan lokasinya dibedakan menjadi pedagang keliling, dan menetap. Pada umumnya, barang yang diperjualbelikan pedagang keliling adalah kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran, ikan dan makanan jajanan. Pedagang menetap menjual segala kebutuhan pokok seperti beras, minyak tanah, gula, teh, kopi, solar dan bahan lainnya. Meningkatnya perekonomi masyarakat menyebabkan jumlah pedagang pun mengalami peningkatan. Secara tidak langsung, peningkatan jumlah pedagang berarti meningkatnya jumlah saingan yang juga akan mempengaruhi jumlah omset. Menurut pengakuan salah satu pedagang di Desa Sabang

Mawang, rata-rata omset per harinya berkisar Rp. 40.000 – 70.000 dengan jenis kebutuhan yang paling sering dibutuhkan adalah minyak tanah. Dalam sehari jumlah pemasaran minyak tanah dapat mencapai 100 liter, dengan jatah untuk masing-masing pembeli sebanyak 5 liter. Penjatahan tersebut dilakukan untuk menghindari penimbunan minyak tanah pada seseorang karena keterbatasan pasokan minyak tanah yang dari pihak pertamina kepada pendistributor.

Tenaga jasa yang terdapat di kawasan Pulau Tiga adalah aparatur desa, guru, dan pengurus sekolah, baik berstatus PNS atau pun non PNS yang bergerak dibidang pelayanan masyarakat (11,8 persen). Kegiatan pelayanan publik lebih didominasi oleh kaum perempuan, akantetapi bukan berarti laki-laki tidak ada namun dalam proporsi yang lebih kecil. Salah satu penyebab meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja di jasa publik adalah adanya pemekaran desa, yang dulunya Desa Pulau Tiga terdiri dari tiga pulau menjadi tiga desa dengan sistem administrasi