• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT

4.1. Pengetahuan, Kesadaran dan Kepedulian terhadap Penyelamatan Terumbu Karang

4.1.2. Pengetahuan dan Sikap tentang Alat Tangkap

Tabel 4.3. mengungkapkan bahwa hampir semua responden mengetahui bahwa bom dan bius (racun sianida atau potas) merusak terumbu karang. Penggunaan bom menghancurkan karang, sedangkan bius menyebabkan kematian karang. Karang yang hancur dan mati menyebabkan berkurangnya ikan-ikan karang, terutama ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti: napoleon, kerapu dan sunu. Lebih dari dua pertiga responden mengatakan bahwa penggunaan trawl atau pukat harimau juga merusak sumber daya laut. Namun penggunaan alat ini tidak secara langsung merusak terumbu karang, melainkan menyebabkan adanya tangkap lebih, karena semua ikan dan biota laut terangkut pada saat penangkapan. Hal ini berkaitan dengan ukuran mata jaring pukat harimau yang sangat kecil, sehingga anak-anak ikan dan biota laut lain yang masih kecil-kecil juga ikut terangkut. Berbeda dengan bom dan bius, sebagian besar responden mengatakan bahwa bubu tidak merusak terumbu karang. Walaupun bubu di pasang di sekitar karang, tetapi mereka mempercayai penggunaan bubu ‘aman’ untuk karang, karena mereka meletakkan bubu diantara batu-batu agar bubu tersebut tidak hanyut. Nelayan juga meletakkan patahan-patahan bunga karang di atas bubu, sebagai pemberat dan upaya untuk menarik ikan-ikan dan biota laut lainnya.

Pandangan negatif terhadap penggunaan bubu berawal dari nelayan ‘nakal’ yang memanfaatkan alat tangkap bubu untuk penggunaan bius (potas). Kasus ini terutama terjadi di Desa Sededap dimana sebagian kecil nelayan berusaha mengecoh penduduk sebagai nelayan bubu. Sepertinya mereka adalah nelayan bubu, tetapi ketika di dalam air mereka menggunakan bius. Akibatnya, nelayan bubu di desa ini seringkali dicurigai sebagai nelayan bius. Hal ini berdampak negatif terhadap nelayan yang benar-benar menggunakan bubu untuk menangkap ikan. Untuk menghindari pandangan negatif ini, hampir semua nelayan bubu beralih alat tangkap, karena mereka tidak mau dicurigai sebagai pembius ikan.

Dari tabel 4.3. juga terungkap bahwa bahan dan alat tangkap lain umumnya aman terhadap terumbu karang. Hanya sebagian kecil responden yang mengatakan bahwa penggunaan tombak, bagan tancap, jaring apung dan pancing merusak terumbu karang. Tombak dan bagan tancap tidak digunakan nelayan di ketiga desa penelitian. Sedangkan jaring apung dan pancing, tingkat kerusakannya sangat kecil dan lebih

mengarah pada kerusakan karena pelemparan jangkar dari pompong-pompong nelayan.

Tabel 4.3.

Pengetahuan Responden Mengenai Bahan Dan Alat Tangkap Yang Merusak Terumbu Karang Di Kawasan Pulau Tiga, Tahun 2005

Persentase No. Bahan dan Alat Tangkap

Ya Tidak Total 1. Bom 97 3 100 2. Sianida/racun 91 9 100 3. Trawl/pukat harimau 72 28 100 4. Bubu 30 70 100 5. Tombak/panah 10 90 100 6. Bagan tancap 8 92 100 7. Jaring apung 7 93 100 8. Pancing 4 96 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Pengetahuan responden mengenai bahan dan alat yang merusak ini paralel dengan pengetahuan mereka mengenai adanya larangan pemerintah akan penggunaan bahan dan alat tangkap tersebut (lihat tabel 4.4). Sebagian besar responden mengetahui adanya larangan penggunaan bom dan potas. Tetapi persentasi pengetahuan responden ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pengetahuan tentang kerusakan yang diakibatkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan tentang kerusakan terumbu karang yang menggunakan bahan dan alat tangkap tersebut diperoleh dari pengamatan mereka di lapangan dari pada pengetahuan formal dari pihak pemerintah yang berwenang.

Dari tabel 4.4. juga dapat diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai larangan penggunaan trawl atau pukat harimau lebih rendah jika dibandingkan dengan larangan penggunaan bom dan potas. Hampir 30 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak mengetahi adanya larangan penggunaan trawl. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan banyaknya trawl yang beroprasi di sekitar lokasi penelitian yang dilakukan oleh nelayan Thailand dan kegiatan ini diketahui pihak pemerintah, terutama Angkatan Laut.

Tabel 4.4.

Pengetahuan responden mengenai adanya larangan penggunaan bahan dan alat yang merusak terumbu karang, tahun 2005

Persentase No. Bahan dan Alat Tangkap

Ya Tidak Total 1. Bom 89 11 100 2. Sianida/potas/bius 82 18 100 3. Trawl/pukat harimau 72 28 100 4. Pengambilan & perusakan

Karang

60 40 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Sedangkan pengetahuan responden mengenai adanya larangan pengambilan dan perusakan karang paling rendah jika dibandingkan bom, potas dan trawl, walaupun lebih dari separuh responden mengetahui adanya larangan tersebut. Selama ini pengambilan karang dilakukan untuk keperluan pribadi dan keperluan umum, seperti fondasi rumah, pembuatan jalan desa dan pelabuhan. Pengambilan karang untuk tujuan komersil masih sangat minim. Di Desa Sabang Mawang, misalnya, hanya beberapa orang saja yang mengambil karang untuk di jual. Meskipun jumlah dan volumenya masih terbatas, usaha ini perlu mendapat perhatian, utamanya untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar dari kegiatan tersebut.

Pengetahuan responden mengenai adanya larangan penggunaan bahan dan alat tangkap kebanyakan berkorelasi positif dengan pendapat mereka, kecuali untuk bius (potas). Umumnya mereka mengetahui dan menyetujui larangan penggunaan bom, trawl dan pengambilan karang, karena kegiatan ini merusak terumbu karang (lihat tabel 4.5).

Tetapi untuk kasus larangan penggunaan bius, ternyata pengetahuan akan adanya larangan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pendapat mereka yang menyetujui larangan tersebut. Walaupun responden mengetahui bahwa potas merusak terumbu karang dan penggunaan bius itu dilarang pemerintah, tetapi sekitar sepertiga responden tidak menyetujui larangan tersebut. Keadaan ini erat kaitannya dengan kegiatan dan kehidupan ekonomi penduduk di kawasan Pulau Tiga dan daerah-daerah lain di sekitarnya (penjelasan secara mendalam dapat dilihat pada bab VI).

Tabel 4.5.

Pendapat responden mengenai larangan penggunaan bahan dan alat tangkap yang merusak terumbu karang, tahun 2005

Persentase No. Bahan dan Alat Tangkap

yang Merusak Setuju Tidak Setuju Tidak Berpendapat Total 1. Bom 83 16 1 100 2. Sianida/potas/bius 68 31 1 100 3. Trawl/pukat harimau 86 14 0 100 4. Pengambilan & Perusakan Karang Hidup 83 15 2 100

Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI, 2005

Khusus untuk pengambilan karang, pendapat responden bervariasi antara pengambilan karang hidup dan karang mati. Sebagian besar responden tidak menyetujui pengambilan karang yang masih hidup, karena akan merusak terumbu karang. Tetapi untuk karang mati, pendapat yang setuju dan tidak setuju hampir berimbang. Sekitar separuh responden berpendapat bahwa pengambilan karang mati dapat dilakukan dan tidak merusak karang dan separuh lagi menyatakan tidak setuju dan tidak berpendapat (lihat tabel 4.6.).

Tabel 4.6.

Pendapat responden mengenai pengambilan karang, tahun 2005

Persentase No. Pengambilan Karang

Setuju Tidak Setuju Tidak Berpendapat Total 1. Pengambilan karang hidup 6 89 5 100 2. Pengambilan karang mati 52 37 11 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Pengetahuan responden mengenai bahan dan alat serta larangan penggunaan bahan dan alat yang merusak terumbu karang diiringi oleh pengetahuan mereka tentang adanya nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat tersebut (lihat tabel 4.7.). Lebih dari separuh responden mengetahui adanya nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang. Persentase responden tersebut

sepertinya kurang mencerminkan pengetahuan yang sebenarnya, karena walaupun tahu akan adanya nelayan yang menggunakan bahan dan alat yang merusak, mereka cenderung tidak mau mengatakannya dengan alasan mereka tidak mau membuka keterlibatan orang lain, mengingat bahan dan alat tersebut di larang pemerintah. Sehingga agar mereka ‘aman’, banyak responden menjawab tidak tahu adanya nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang.

Tabel 4.7.

Pengetahuan responden mengenai adanya nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang di Kawasan

Pulau Tiga dalam setahun terakhir

Persentase No. Penggunaan Bahan

dan Alat Tangkap

yang Merusak Ya Tidak Tidak Menjawab

Total

1. Bom 56 43 1 100 2. Sianida/potas/bius 64 34 2 100 3. Trawl/pukat harimau 63 37 0 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Dari tabel 4.7. juga dapat diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai penggunaan bom oleh nelayan lain, persentasenya paling rendah jika dibandingkan dengan trawl dan potas. Hal ini berkaitan erat dengan semakin berkurangnya penggunaan bom di sekitar perairan Desa Sabang Mawang dan Desa Pulau Tiga, sebagai akibat adanya larangan penggunaan bom untuk menangkap ikan.

Berbeda dengan nelayan lain yang menggunakan bahan dan alat yang merusak serta pengambilan karang, persentase responden yang menggunakan bahan dan mengambil karang sangat kecil. Hanya dua orang responden yang mengakui bahwa mereka masih menggunakan bom dalam satu tahun terakhir. Pengakuan ini cukup berani mengingat nelayan tersebut mengetahui adanya larangan penggunaan bom. Kecilnya persentase ini dapat dipahami karena penggunaan bom sudah tidak ada lagi di perairan Desa Sabang Mawang dan Desa Pulau Tiga dan sudah sangat berkurang di perairan Desa Sededap.

Tetapi berdasarkan wawancara mendalam dengan informan kunci, penggunaan bom masih dilakukan oleh nelayan di lokasi penelitian. Beberapa nelayan Desa Sabang Mawang mengalihkan lokasi pengeboman ke lokasi lain dimana pengawasan dan penyuluhan larangan penggunaan bom masih sangat terbatas. Sedangkan di Desa

Sededap, beberapa nelayan lokal masih menggunakan bom di sekitar perairan desa, walaupun lokasinya sudah menjauhi pulau tempat permukimanan penduduk.

Tabel 4.8.

Responden yang menggunakan bahan dan alat yang merusak terumbu karang dan pengambilan karang dalam satu tahun terakhir

Persentase No. Penggunaan Bahan dan Alat

Tangkap & Pengambilan Karang

Ya Tidak Total 1. Bom 2 98 100 2. Sianida/potas/bius 7 93 100 3. Trawl/pukat harimau 0 100 100 4. Pengambilan Karang Hidup 2 98 100 5 Pengambilan Karang Mati 18 82 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Seperti penggunaan bom, responden yang mengaku menggunakan bius (sianida/potas) juga sedikit, walaupun persentasenya sedikit lebih tinggi dari penggunaan bom. Rendahnya persentase responden yang menggunakan bius ini kemungkinan berkaitan dengan informasi adanya larangan penggunaan bius yang merusak terumbu karang dan penyuluhan untuk melestarikan terumbu karang, terutama di Desa Sabang Mawang. Larangan ini telah membuat sebagian nelayan menghentikan penggunaan bius. Di samping itu, rendahnya persentase mungkin juga berkaitan dengan keengganan responden untuk secara terbuka mengakui penggunaan potas yang dilarang tersebut.

Dari tabele 4.8 juga terungkap bahwa tidak satupun responden yang menggunakan alat tangkap trawl dalam satu tahun terakhir. Umumnya trawl digunakan oleh nelayan luar, terutama nelayan dari Thailand. Sedangkan nelayan di ketiga desa penelitian tidak menggunakan alat tangkap ini. Tidak seperti bom dan bius, nelayan di lokasi penelitian tidak tertarik untuk mencoba alat tangkap trawl, walaupun alat ini sudah beroperasi di sekitar kawasan Pulau Tiga dalam waktu yang cukup lama. Responden mengakui bahwa mereka juga mengambil karang, tetapi persentasenya juga sangat kecil untuk karang hidup dan cukup besar untuk karang mati. Semua responden yang mengambil karang hidup mengatakan bahwa karang tersebut digunakan untuk keperluan sendiri. Sedangkan pengambilan karang mati mempunyai tujuan yang bervariasi, sebagian besar mengemukakan untuk digunakan sendiri dan hampir seperlima responden mengatakan tujuan pengambilan karang adalah untuk dijual (komersil), sisanya digunakan sendiri dan dijual serta untuk kepentingan umum (lihat tabel 4.9.).

Tabel 4.9.

Tujuan pengambilan karang hidup dan karang mati di Kawasan Pulau Tiga, tahun 2005

No. Tujuan Karang Hidup (%) Karang Mati (%) 1. Dijual - 17 2. Digunakan sendiri 100 61 3. Dijual dan digunakan sendiri - 17 4. Untuk kepentingan umum - 5 Total 100 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005

Nelayan yang menggunakan bahan dan alat tangkap yang ilegal akan mendapatkan sanksi. Sebagian besar responden mengetahui adanya sanksi hukum bagi para pelanggar (tabel 4.10). Tetapi dalam pelaksanaannya, sanksi tersebut tidak diberlakukan, karena itu kegiatan yang dilarang ini masih terus berlangsung.

Tabel 4.10.

Pengetahuan responden mengenai sanksi bagi pelanggar yang menggunakan bahan dan alat yang merusak dan pengambilan karang,

tahun 2005

Persentase No. Sanksi Bagi Pelanggar

yang Menggunakan Bahan dan Alat Tangkap yang Merusak dan Pengambilan Karang Ya Tidak Tidak Menjawab Total 1. Bom 73 22 5 100 2. Sianida/potas/bius 82 18 0 100 3. Trawl/pukat harimau 56 43 1 100 4. Pengambilan & Perusakan

Karang

58 40 8 100 Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang, PPK-LIPI,

2005