DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
6.3. Konflik Kepentingan antar Stakeholders
6.3.1. Nelayan Lokal Versus Nelayan Luar
Banyaknya nelayan, baik lokal maupun dari luar daerah, yang beroperasi di kawasan Pulau Tiga dan perairan sekitarnya mengindikasikan banyaknya kegiatan pemanfaatan dan kepentingan nelayan. Keadaan ini
berimplikasi pada perbedaan kepentingan dan tumpang tindih wilayah tangkap, sehingga dapat menimbulkan konflik antar nelayan. Pada dasarnya konflik antar nelayan ini dapat dikelompokkan ke dalam 2 bagian, yaitu: konflik antara nelayan lokal dengan nelayan Thailand, dan antara nelayan lokal dengan nelayan dari luar kawasan Pulau Tiga.
• Nelayan Lokal dan Nelayan Thailand
Penggunaan trawl oleh nelayan Thailand dalam jumlah yang besar (lihat penjelasan sebelumnya) sangat mengganggu nelayan lokal di kawasan perairan Pulau Tiga dan sekitarnya. Beberapa informan dan sebagian nelayan bahkan menyatakan penggunaan trawl tersebut telah menjadi ancaman bagi nelayan lokal. Ancaman ini didasarkan dari beberapa alasan, seperti: tumpang tindih wilayah tangkap, penggunaan alat yang ilegal, terancamnya keselamatan nelayan dan penurunan hasil tangkap. Banyaknya kapal ikan Thailand yang beroperasi di kawasan Pulau Tiga dan perairan di sekitarnya telah mengganggu wilayah tangkap nelayan lokal. Kapal-kapal tersebut seringkali masuk ke wilayah tangkap nelayan lokal, bahkan menurut beberapa informan dan sebagian nelayan, mereka telah mendekati lokasi permukiman penduduk. Masuknya kapal-kapal Thailad ke wilayah tangkap nelayan lokal ini sudah berlangsung 3-4 tahun terakhir. Sebaliknya dalam kurun waktu yang sama, kegiatan nelayan lokal semakin meluas, sebagian kecil nelayan juga menangkap ikan pada wilayah laut lepas (lebih ke tengah laut) yang sebelumnya merupakan wilayah dimana kapal-kapal Thailand biasa menangkap ikan. Sampai akhir tahun 1990-an, kapal-kapal Thailand masuk ke wilayah sekitar kasawasan Pulau Tiga secara terang-terangan. Tetapi sejak terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999, komplain terhadap keberadaan kapal-kapal asing ini semakin marak dibicarakan. Sebagai respon, nelayan Thailand merubah pola kegiatan, siang hari beroperasi pada wilayah laut lepas (agak ke tengah), tetapi pada malam hari kapal-kapal tersebut mulai menepi ke pantai.
Penangkapan ikan pada wilayah yang sama ini menimbulkan kompetisi dalam memperebutkan sumber daya laut. Dalam kompetisi ini nelayan lokal tentu saja sangat dirugikan, karena adanya ‘persaingan’ yang tidak seimbang dengan nelayan Thailand, terutama (1) kapasitas armada tangkap nelayan Thailand jauh lebih besar dari armada nelayan lokal (lihat poto), dan (2) jumlah kapal yang beroperasi juga cukup banyak.
Kapal ikan Thailand Pompong nelayan lokal Masuknya kapal-kapal Thailand berdampak substansial pada hasil tangkap nelayan lokal. Dengan kapasitas kapal yang besar dan alat tangkap trawl yang ‘menyapu’ semua ikan dan biota laut, nelayan Thailand mampu menangkap ikan dengan jumlah yang besar. Sebaliknya dengan nelayan lokal, kebanyakan masih menggunakan pompong dengan kapasitas yang sangat terbatas dan alat tangkap utama pancing tonda, kemampuan tangkap mereka jauh lebih rendah. Ketimpangan ini tentu saja sangat merugikan nelayan lokal. Sebagai ilustrasi, nelayan Thailand dapat menangkap ikan puluhan ton per hari, sedangkan nelayan lokal sulit untuk mendapatkan ikan 100 kg per hari. Di samping ketimpangan hasil tangkap, masuknya kapal ikan Thailand ke wilayah tangkap nelayan lokal dan meluasnya kegiatan nelayan lokal sampai ke laut lepas (lebih ke tengah laut) juga berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan nelayan lokal. Beberapa informan dan nelayan mengungkapkan keberadaan kapal-kapal Thailand ‘menakutkan’, terutama ketika nelayan lokal sedang melakukan kegiatan sendiri tanpa berkelompok. Dengan kapasitas armada tangkap yang sederhana, keselamatan nelayan lokal terancam ketika berdekatan dengan armada tangkap nelayan Thailand. Kehidupan di laut membuat nelayan Thailand digambarkan nelayan lokal sebagai nelayan yang ‘garang’ dan tega membinasakan temannya sendiri, seperti dikemukakan nelayan lokal berikut ini:
“Nelayan lokal takut dengan kapal Thailand – ABKnya banyak dan kapalnya main tabrak, ABK mereka sendiri di buang ke laut”
Komplain nelayan lokal terhadap nelayan Thailand di kawasan ini semakin memuncak karena nelayan lokal mengetahui penggunaan trawl dilarang pemerintah. Tetapi masyarakat tidak mempunyai kewenangan dan daya untuk ‘mengusir’ kapal-kapal tersebut. Mereka menganggap aparat pemerintah yang berwenang, seperti Marinir dan Lanal, seakan-akan membiarkan kegiatan ilegal tersebut. Hal ini diindikasikan dari patroli yang dilakukan oleh pihak yang berwenang di tingkat lokal tidak membuahkan hasil, sehingga kapal-kapal Thailand tersebut masih bebas beroperasi.
• Nelayan Lokal dan Nelayan Luar Kawasan Pulau Tiga
Selain nelayan Thailand, kompetisi dalam memperebutkan sumber daya laut, khususnya ikan dan biota laut bernilai ekonomi tinggi, juga terjadi antara nelayan lokal dengan nelayan dari luar kawasan perairan Pulau Tiga. Pada bab IV sudah dijelaskan nelayan-nelayan dari luar kawasan yang masuk kawasan perairan Pulau Tiga cukup banyak, mulai yang berasal dari luar kecamatan dalam Kabupaten Natuna (seperti: nelayan Midai dan Tarempa), nelayan dari luar kabupaten, tetapi masih dalam Provinsi Kepulauan Riau (misalnya, nelayan Tanjung Balai Karimun dan Batam), nelayan dari luar provinsi dan luar pulau (seperti: nelayan Tegal dari Jawa, nelayan Medan dan nelayan dari Kalimantan Barat).
Seperti halnya dengan nelayan Thailand, kompetisi antara nelayan lokal dengan nelayan luar, terutama dari luar kabupaten dan luar provinsi, tidak seimbang, karena kapasitas armada tangkap nelayan lokal lebih rendah dan wilayah tangkapnya juga lebih terbatas dari nelayan luar tersebut. Akibatnya, nelayan lokal tidak dapat bersaing dengan nelayan luar, sehingga hasil tangkap mereka juga jauh lebih rendah, jika dibandingkan dengan nelayan luar. Sebagai gambaran, produksi kapal ikan Tanjung Balai Karimun sebanyak 0,5 – 1 ton per hari, padahal jumlah kapal yang beroperasi cukup banyak (sekitar 70-an kapal). Namun demikian, persaingan terselubung ini tidak sampai menimbulkan konflik terbuka antara nelayan lokal dan nelayan luar. Baik nelayan lokal maupun nelayan luar menanggap bahwa mereka sama-sama mencari ikan untuk menopang kehidupan keluarga. Tetapi hal ini perlu mendapat perhatian dan perlu diantisipasi, karena perbedaan hasil tangkap yang mencolok tersebut dapat menimbulkan ‘kecemburuan’ yang menjadi embrio terjadinya konflik antar stakeholders tersebut.