• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULASI EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynuss (L.) Merr) DALAM SEDIAAN SABUN MANDI CAIR INTISARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FORMULASI EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynuss (L.) Merr) DALAM SEDIAAN SABUN MANDI CAIR INTISARI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

FORMULASI EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynuss (L.) Merr) DALAM SEDIAAN SABUN MANDI CAIR

Marini1*, Anis Rosyida2

STIKES Muhammadiyah Kuningan *Email: marinizakhra18@gmail.com

INTISARI

Daun katuk (Sauropus androgynuss (L.) Merr.) mengandung senyawa kimia flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan sabun mandi cair dari zat aktif ekstrak etanol daun katuk dengan konsentrasi 0,02 g (F1); 0,04 g (F2) dan 0,06 g (F3) yang sesuai dengan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-4085-1996. Pengujian terhadap sediaan sabun cair disesuaikan dengan syarat ketentuan SNI yang meliputi uji organoleptik, pH, tinggi dan kestabilan busa dan bobot jenis.

Dari hasil evaluasi menunjukan bahwa pada uji organoleptik, pH serta tinggi dan kestabilan busa memenuhi syarat (SNI,1996) pada konsentrasi 0,02, 0,04 dan 0,06 sedangkan pada pengujian bobot jenis pada konsentrasi 0,02, 0,04 dan 0,06 tidak memenuhi peryaratan (SNI,1996). Sehingga sediaan formulasi ektrak etanol daun katuk dengan konsentrasi 0,02 gram adalah sediaan sabun cair ektrak etanol daun katuk yang terbaik.

Kata Kunci : Daun katuk (Sauropus androgynuss (L.) Merr.), antioksidan, flavonoid, sabun mandi cair.

ABSTRACT

Katuk leaves (Sauropus androgynuss (L.) Merr.) Contain chemical compounds flavonoids which have antioxidant activity. The aim of this study was to make a formulation of liquid bath soap preparation from the active ingredient of katuk leaves extract with a concentration of 0,02 g (F1); 0,04 g (F2) and 0,06 g (F3) which are in accordance with the criteria of the Indonesian National Standard (SNI) 06-4085-1996. Tests on liquid soap preparations are adjusted to the requirements of SNI requirements which include organoleptic test, pH, height and stability of foam and specific gravity.

From the evaluation results showed that the organoleptic, pH and height tests and foam stability met the requirements (SNI, 1996) at concentrations of 0,02, 0,04 and 0,06 while testing the specific gravity at concentrations of 0,02, 0,04 and 0,06 does not fulfill the requirements (SNI, 1996). So the preparation of the katuk leaf extract formulation with a concentration of 0,02 gram was the best liquid soap preparation of the ethanol extract of the katuk leaf.

Keywords: Leaf katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.), Antioxidant, flavonoid, liquid bath soap.

(2)

PENDAHULUAN

Tanaman obat di Indonesia memiliki potensi yang baik untuk pengembangan agroindustri. Salah satu tanaman yang memiliki potensi untuk pengembangan agroindustri adalah daun katuk (Sauropus adrogynus) (Sari., et al, 2017).Daun katuk mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, salah satu khasiat tanaman katuk yang telah diketahui masyarakat adalah untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Hasil penelitian Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia menunjukkan bahwa tanaman katuk mengandung beberapa senyawa kimia, antara lain alkaloid, papaverin, protein, lemak, vitamin, mineral, saponin, flavonoid dan tannin. Beberapa senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman katuk diketahui berkhasiat sebagai obat. (Rashati, 2016). Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa resiko penyakit kronis akibat senyawa radikal bebas dapat dikurangi dengan memanfaatkan peran senyawa antioksidan seperti vitamin C, E, A, karoten, asam-asam fenol, polifenol dan flavonoid. (Prakash, 2001).

Antioksidan dapat dihasilkan dari produk alami, salah satunya adalah daun katuk merupakan tanaman yang mengandung vitamin C dan senyawa flavonoid sebagai antioksidan. Dalam Jurnal Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 80% Dan 96% Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) Volume 2 No. 2 Tahun 2013 dikatakan bahwa ekstrak etanol 80% daun katuk memiliki nilai IC50813,09 ppm dan untuk ekstrak etanol

96% sebesar 1024,27 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 80% lebih baik sebagai peredam radikal bebas dibandingkan ekstrak etanol 96% daun katuk yang mana menunjukkan bahwa ada kemungkinan senyawa yang berperan sebagai antioksidan lebih bersifat polar sehingga lebih banyak terekstrak pada pelarut etanol 80%.(Arista, 2013). Semakin kecil nilai IC50 berarti semakin tinggi aktivitas antioksidan.

(Tussakdiah, 2016).

Sabun mandi cair merupakan produk yang strategis, karena saat ini masyarakat modern lebih suka produk yang praktis dan ekonomis. Ada 2 jenis sabun yang dikenal, yaitu sabun padat (batangan) dan sabun cair (Hambali et al. 2005). Sabun mandi merupakan salah satu produk turunan dari minyak dihasilkan dari reaksi antara minyak atau lemak dengan basa KOH atau NaOH. (Sari, 2017).

Dilihat dari khasiat daun katuk, maka penelitian ini dilakukan pembuatan formulasi sediaan sabun mandi cair dari ekstrak daun katuk dengan tujuan untuk mengetahui evaluasi pengujian sediaan sabun mandi cair dari ektrak daun katuk dan mengetahui formulasi sabun mandi cair yang paling baik secara fisik.

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2018 di Laboratorium Teknologi Farmasi STIKES Muhammadiyah Kuningan

B. Alat dan Bahan

(3)

pengering, timbangan analitik, pengayak mesh 60, botol, pot, waterbath, hotplate, blender, alat gelas, pipet tetes, tabung reaksi, erlenmeyer 250 ml, pHmeter, piknometer 10 ml, dan stopwatch

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest, daun katuk, etanol 80%, oleum olivae/minyak zaitun, kalium hidroksida (KOH), natrium karboksimetil selulosa(CMC Na), sodium lauril sulfat (SLS), asam stearat, butyl hidroksi anisol (BHA), oleum rosae/minyak mawar (pengaroma).

C. Jalannya penelitian Determinasi

Determinasi dilakukan di Herbarium Jatinangor, Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA UNPAD, determinasi dilakukan untuk memastikan identitas dari sampel yang digunakan sebagai sampel penelitian.

Pembuatan Serbuk Simplisia

Sampel diambil dari Desa Babakanmulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kemudian ditimbang dan dicuci bersih dengan air untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada daun katuk, dikeringkan dengan cara diangin-anginkan (tanpa terkena sinar matahari langsung). Daun katuk yang telah kering kemudian dihaluskan dan diserbukan, diayak dengan menggunakan mesh 60 hingga diperoleh serbuk halus.

Ekstraksi Sampel

100 gram serbuk daun katuk yang telah dikeringkan dan dihaluskan dengan derajat kehalusan tertentu di maserasi kinetik dengan menggunakan pelarut etanol 80% secukupnya (volume etanol terukur), dan biarkan selama 10 menit agar terjadi proses pembasahan simplisia, kemudian ditambahkan pelarut etanol 80% sampai seluruh serbuk simplisia terendam. Diamkan selama 24 jam sambil sesekali diaduk,kemudian disaring dan dipisahkan ampas dan filtratnya. Filtrat yang diperoleh ditampung dalam wadah. Pada ampas dilakukan maserasi kinetik ulang sampai ekstrak cair (filtrat) yang diperoleh hampir tidak berwana. Ukur volume filtrat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan evaporator sampai diperoleh ekstrak kental. Formulasi Sabun Mandi Cair

Formulasi sabun mandi cair yang akan dibuat berbeda pada penambahan konsentrasi ekstrak etanol daun katuk yaitu: tanpa ekstrak etanol daun katuk (Basis sabun cair); 0,02 g (F1); 0,04 g (F2) dan 0,06 g (F3).

(4)

Bahan Basis sabun cair Formula I Formula II Formula III Ekstrak Etanol Daun Katuk TEEDK 0,02 g 0,04 g 0,06 g

Minyak Zaitun 15 ml 15 ml 15 ml 15 ml KOH 8 ml 8 ml 8 ml 8 ml CMC Na 0,5 g 0,5 g 0,5 g 0,5 g SLS 0,5 g 0,5 g 0,5 g 0,5 g Asam Stearat 0,25 g 0,25 g 0,25 g 0,25 g BHA 0,5 g 0,5 g 0,5 g 0,5 g

Pengaroma (Oleum Rosae) 1 ml 1 ml 1 ml 1 ml

Aquadest Ad 50 ml Ad 50 ml Ad 50 ml Ad 50 ml

Keterangan : TEEDK : Tanpa Ekstrak Etanol Daun Katuk Pembuatan Sediaan

Semua bahan yang akan digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan takaran yang dianjurkan, masukkan minyak zaitun sebanyak 15 ml ke dalam gelas kimia,tambahkan larutan KOH 40% sebanyak 8 ml sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dan dipanaskan pada suhu 50°C hingga mendapatkan sabun pasta, Sabun pasta ditambahkan dengan kurang lebih 15 ml aquadest,diaduk hingga homogen.Masukkan natrium karboksimetil selulosa (CMC Na) yang telah dikembangkan dalam aquadest panas, tambahkan asam stearat tambahkan sodium lauril sulfat (SLS) yang telah dilarutkan dengan aquadest panas secukupnya, diaduk hingga homogen. Ditambahkan butyl hidroksi anisol (BHA), lalu diaduk hingga homogen. Masukkan ekstrak daun katuk, diaduk hingga homogeny, tambahkan pengaroma oleum rosae, diaduk hingga homogen.

D. Evaluasi Sediaan Uji Organoleptik

Dilakukan pengamatan visual terhadap bentuk, bau, dan warna dari tiap formula sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol daun katuk tersebut.

Uji pH

Satu gram sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan aquadest hingga 10 ml dalam wadah sampel yang telah dikalibrasi. Kemudian celupkan pH meter ke dalam wadah sampel tersebut. Pemeriksaan pH dilakukan sebanyak tiga kali replikasi (SNI 06-4085-1996).

Uji Tinggi dan Kestabilan Busa

Sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol daun katuk ditimbang sebanyak 1 g, dimasukkan ke dalam tabung reaksi,tambahkan aquadest sampai 10 ml, dikocok selama 20 detik dengan cara membolak-balikkan tabung reaksi secara beraturan. Tinggi busa yang dihasilkan dicatat pada menit ke-0 dan ke-5 dengan skala pengukuran 0,1 cm = 1 mm menggunakan penggaris. Nilai ketahanan busa didapatkan dari selisih tinggi busa pada menit ke-0 (t0) dan ke-5 (t5). Menurut

(5)

tinggi busa yang dihasilkan berada dalam kisaran 13-220 mm, Sedangkan menurut Dragon et.al (1968) dalam Sameng (2013) kriteria stabilitas busa yang baik yakni apabila dalam waktu 5 menit stabilitas busa yang diperoleh berkisar 60-70%.

Uji Bobot Jenis

Piknometer yang sudah bersih dan kering ditimbang ( ). Selanjutnya aquadest dan sabun cair masing-masing dimasukkan ke dalam piknometer dengan menggunakan pipet tetes. Piknometer ditutup, volume cairan yang terbuang dibersihkan dengan menggunakan tisu dan dimasukkan ke dalam pendingin sampai suhunya menjadi 25˚C. Kemudian piknometer didiamkan pada suhu ruang selama 15 menit dan ditimbang bobot piknometer yang berisi air (b) dan piknometer yang berisi sabun cair (c) (SNI, 1996).

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Organoleptik

Hasil pengamatan organoleptik dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Organoleptik Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Dari pengamatan organoleptik, dihasilkan sabun mandi cair yang berbentuk kental dan homogen, aroma khas parfum oleum rosae. Penggunaan pengaroma ini dimaksudkan untuk memberi aroma yang harum pada sabun mandi cair serta untuk menutupi bau khas dari ekstrak etanol daun katuk. Warna kehijauan pada sabun mandi cair formula I, II, dan III adalah warna khas daun katuk mengindikasikan adanya kandungan ekstrak etanol daun katuk yang tampak berbeda dari basis sabun yaitu kuning. Semakin tinggi jumlah konsentrasi ekstrak etanol daun katuk yang digunakan, maka warnanya menjadi semakin terlihat kehijauan pekat khas daun katuk.

B. Hasil Uji pH

Formula Organoleptik

Bentuk Warna Bau

Standar SNI (1996) Cairan

Homogen Khas Khas

Basis Sabun Cair Cairan homogen Khas Kuning Khas Oleum Rosae Formula I Cairan homogen Khas daun katuk Khas Oleum

Rosae Formula II Cairan homogen Khas daun katuk Khas Oleum

Rosae Formula III Cairan homogen Khas daun katuk Khas Oleum

(6)

Hasil uji pengukuran pH sabun mandi cair ekstrak etanol daun katuk dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji pH Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Data hasil pengujian menunjukan nilai rata-rata formula sabun mandi cair yang memenuhi kriteria SNI (1996) yaitu : Basis sabun cair dengan pH 10,3; formula 1 dengan pH 10; dan fomula III dengan pH 10. Sedangkan formula II memiliki rata-rata pH 11,3 yang melebihi batas ketentuan kriteria pH sabun mandi cair yaitu pH 8-11 (SNI,1996). Nilai rata-rata pH pada formula II cenderung yang paling bersifat basa karena kurangnya penambahan aquadest dalam proses penyesuaian volume formula sabun mandi cair hingga batas kalibrasi volume 50 ml, hal ini disebabkan pengadukan yang terlalu cepat atau lama terhadap sediaan sabun mandi cair formula II sehingga menghasilkan busa/gelembung dengan jumlah banyak yang menyebabkan volume sediaan sabun mandi cair tidak dapat ditentukan dengan tepat. Penambahan ekstrak etanol daun katuk pada formula I, II, dan III dibandingkan dengan basis sabun cair, diketahui adanya penurunan nilai pH formula sabun mandi cair menjadi semakin kecil atau cenderung mendekati pH netral. Produk kosmetika yang memiliki pH yang sangat tinggi dapat menambah daya absorpsi kulit sehingga menyebabkan kulit iritasi.

Hasil Uji Tinggi dan Kestabilan Busa

Pengujian tinggi busa merupakan salah satu cara untuk mengontrol suatu produk deterjen atau surfaktan agar menghasilkan sediaan yang memiliki kemampuan dalam menghasilkan busa.Menurut Fakhrunnisa (2016), syarat tinggi buih/busa dari sabun mandi cair yaitu 13-220 mm. Sedangkan menurut Dragon et.al (1968) dalam Sameng (2013) kriteria stabilitas busa yang baik yakni apabila dalam waktu 5 menit stabilitas busa yang diperoleh berkisar 60-70%. Hasil pengujian tinggi dan Kestabilan busa dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji Tinggi Busa Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Menit Formula (mm)

Basis Sabun Cair F I F II F III

Ke-0 75 90 115 111 80 99 113 113 100 100 138 108 Rata-rata 85 96,3 122 110,7 Ke-5 59 65 79 76 72 69 76 75 75 70 90 72

Formula Pengukuran pH Rata-rata Standar SNI

(1996) pH Uji 1 Uji 2 Uji 3

Basis Sabun Cair 11 10 10 10.3 8-11

Formula I 10 10 10 10

Formula II 11 12 11 11,3

(7)

Data hasil rata-rata uji kemampuan tinggi busa yang didapat pada menit ke-0 adalah basis sabun cair setinggi 85 mm, formula I tinggi busa yang didapat 96,3 mm, formula II tinggi busa yang didapat 122 mm, dan formula III tinggi busa yang didapat 110,7 mm. Semua formula sabun mandi cair memenuhi kriteria tinggi busa berada antara 13-220 mm. Penambahan ekstrak etanol daun katuk pada formula I, II, dan III dibandingkan dengan basis sabun cair, diketahui dapat meningkatkan produksi busa yang dihasilkan sabun. Semakin tinggi jumlah konsentrasi ekstrak etanol daun katuk yang digunakan, maka kemampuan sabun menghasilkan busa menjadi lebih meningkat, kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya kandungan saponin yang ada pada daun katuk.

Tabel 5. Hasil Uji Kestabilan Busa Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Hasil pengujian tinggi busa menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol daun katuk yang ditambahkan dalam formula sabun mandi cair, maka nilai persentase kestabilan busa akan semakin kecil jika dibandingkan dengan basis sabun mandi cair yang memiliki nilai rata-rata stabilitas busa 81,22%. Sediaan formula I memiliki nilai rata-rata stabilitas busa 70,64% lebih kecil dari nilai stabilitas busa basis sabun cair. Pada penelitian kali ini, formula sabun mandi cair yang memenuhi kriteria stabilitas busa antara 60-70% adalah sabun mandi cair ekstrak etanol daun katuk formula II dan formula III. Formula II memiliki nilai rata-rata stabilitas busa 67,06% yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata stabilitas busa pada formula III yaitu 67,17%. Hal ini terjadi terkait dengan ketidaktepatan volume akhir pembuatan sabun mandi cair formula II dalam penambahan aquadest hingga batas kalibrasi volume 50 ml. Sediaan formula II terkesan menjadi lebih bersifat pekat dan cenderung lebih basa.

Kestabilan busa dapat dipengaruhi oleh bahan lainnya, seperti CMC Na. Selain sebagai agen pengental sediaan, CMC Na juga memiliki kemampuan dalam mempertahankan stabilitas busa yaitu dengan cara menguatkan dinding busa dan menurunkan aliran air sehingga busa yang dihasilkan semakin padat.

Hasil Uji Bobot Jenis

Pengujian bobot jenis dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi sabun cair yaitu bahan yang terdapat dalam formula terhadap bobot jenis sabun yang dihasilkan. Berdasarkan SNI (1996) standar bobot

Formula

Kestabilan Busa (%)

Rata-rata (%)

Uji 1 Uji 2 Uji 3

Basis Sabun Cair 78,67 90 75 81,22

Formula I 72,22 69,70 70 70,64

Formula II 68,69 67,26 65,22 67,06

(8)

jenis pada sabun cair yaitu 1,01 – 1,10 g/cm3. Pengujian bobot jenis dilakukan

hanya satu kali replikasi menggunakan piknometer berukuran volume 10 ml. Hasil pengamatan bobot jenis sabun mandi cair dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Bobot Jenis Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Dari hasil pengamatan diperoleh bobot jenis dari basis sabun mandi cair 0,67 g/cm3,

bobot jenis sabun formula I 0,89 g/cm3, bobot jenis sabun formula II0,81 mg/cm3,

bobot jenis sabun formula III 0,87 g/cm3. Bobot jenis dari masing-masing

konsentrasi memiliki perbedaan yang jelas. Hasil pengamatan bobot jenis kali ini pada basis sabun cair, formula I, II, dan III tidak ada yang sesuai dan lebih kecil dibandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh SNI (1996) yaitu 1,01 – 1,1 g/cm3. Hasil bobot jenis pada sabun mandi cair formula I, II, dan III cenderung

lebih tinggi dibandingkan dengan bobot jenis basis sabun cair.Dapat disimpulkan bahwa bobot jenis sabun mandi cair yang mendekati nilai sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh SNI (1996) dalam sabun formula Isebesar 0,89 yang memiliki konsentrasi ekstrak etanol daun katuk sebesar 0,02 gram. Nilai bobot jenis dipengaruhi suatu bahan penyusunnya dan sifat fisiknya. Kebanyakan bahan-bahan seperti gula dan garam menyebabkan peningkatan bobot jenis, tetapi bobot jenis dapat pula turun jika terdapat lemak atau etanol dalam larutan. (Gaman dan Sherington,1990)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun katuk dapat diformulasikan menjadi sabun mandi cair dengan konsentrasi 0,02, 0,04 dan 0,06. Hasil pengujian mutu sabun mandi cair ekstrak daun katuk yang memenuhi persyaratan sesuai dengan standar SNI (1996) adalah uji organoleptik, pH, tinggi dan kestabilan busa dengan konsentrasi formula sabun yang bervariasi. Sedangkan hasil uji bobot jenis menunjukkan masih belum dapat memenuhi standar SNI (1996). Ekstrak etanol daun katuk dengan konsentrasi 0,02 gram adalah konsentrasi terbaik dalam bentuk sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol daun katuk.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1996, Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-4085-1996, Standar Mutu Sabun Mandi Cair, Dewan Standar Nasional-DSN, Jakarta

Arista, M., 2013, Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 80% dan 96% Daun Katuk (Sauropus androgynus (L) Merr), Jurnal ilmiah mahasiswa universitas Surabaya, vol. 2, Surabaya

Formula Bobot Jenis (g/cm3) Standar SNI (1996)

(g/cm3)(5)

Basis Sabun Cair 0,67 1,01-1,10

Formula I 0,89

Formula II 0,81

(9)

Fakrunnisa, 2016, Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Sebagai Antibakteri Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 2592, Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Gaman, P.M. dan K.B. Sherington, 1990, The Science of Food, 3nded.,Pergamon Press,

Oxford

Hambali, E., Ani S., Mira R., 2005, Membuat Sabun Transparan, Cimanggis: Penebar Plus +,Hal 19-23

Prakash, A., 2001, Antioxidant Activity, Medallion Laboratories Analytical Progress, Vol. 19

Rashati, D. dan Eryani, M.C., 2016, Pengaruh Konsentrasi HPMC terhadap Mutu Fisik dan Stabilitas Sediaan Shampo Ekstrak Etanol Daun Katuk (Sauropus androgynus (L) Merr), Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol.1 (2), Jember : Akademi Farmasi Jember

Sameng, Mr., Wanhuseng, 2013, Formulasi Sediaan Sabun Padat Sari Beras (Oryza sativa) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis, Fakultas Farmasi Universitas Muhammmadiyah, Surabaya

Sari, R., Ferdinan, A., 2017, Pengujian Aktivitas Antibakteri Sabun Cair Ekstrak Kulit Daun Lidah Buaya, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Tussakdiah, N.H., 2016, Pembuatan Sabun Padat dengan Variasi Konsentrasi Naoh dan Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus ammaryllifolius Roxb) sebagai Antioksidan, Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.

Gambar

Tabel 2.  Hasil Uji Organoleptik Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk
Tabel 4. Hasil Uji Tinggi Busa Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk
Tabel 5. Hasil Uji Kestabilan Busa Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk
Tabel 6. Hasil Uji Bobot Jenis Sabun Mandi Cair Ekstrak Etanol Daun Katuk

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uji statistik dengan SPSS 24 menunjukan bahwa variasi konsentrasi cocamide DEA berpengaruh terhadap stabilitas busa, pH, bobot jenis dan viskositas sediaan sabun mandi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur dari sabun cair yang mengandung ekstrak etanol daun ketepeng cina dan mengetahui pengaruh konsentrasi

Pada penelitian ini dilakukan uji stabilitas fisik dan aktivitas sediaan dari formulasi sabun mandi cair yang telah dibuat dari bahan aktif ekstrak etanol daun

Optimasi formula sabun mandi cair ekstrak etanol rimpang jahe merah dilakukan menggunakan metode Simplex Lattice Design untuk dua variabel bebas (campuran dua komponen),

Optimasi formula sabun mandi cair ekstrak etanol rimpang jahe merah dilakukan menggunakan metode Simplex Lattice Design untuk dua variabel bebas (campuran dua komponen),

Pada formula krim ekstrak daun katuk dengan konsentrasi basis setil alkohol yang bervariasi mendapatkan hasil bahwa formula 4 dengan konsentrasi ekstrak daun katuk

Panjang rambut semua formula sediaan hair tonic ekstrak etanol daun katuk lebih besar dibandingkan dengan kontrol normal, sehingga semua formula sediaan hair tonic dapat meningkatkan

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ekstrak etanol daun jambu kaliang dapat diformulasi dalam bentuk sediaan sabun mandi cair dan memiliki aktivitas antioksidan... Kata kunci :