FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI
MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014
TESIS
Oleh
WINDY MAIDESI 127032176/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
THE RISK FACTORS OF HIV/ AIDS ON THE SHEMALE GROUP AT SEXUALLY TRANSMITTED INFECTIONS (STIs)
AT BESTARI CLINIC IN THE CITY OF MEDAN 2014
THESIS
By
WINDY MAIDESI 127032176/IKM
MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI
MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Megister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
WINDY MAIDESI 127032176/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Tesis : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014
Nama Mahasiswa : Windy Maidesi Nomor Induk Mahasiswa : 127032176
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi
Menyetujui Komisi Pembimbing
Tanggal Lulus : 26 Juni 2014
(drh. Hiswani, M.Kes) Anggota
(dr. Rahayu Lubis, M.Kes Ph.D) Ketua
Dekan
Telah Diuji
pada Tanggal : 26 Juni 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D Anggota : 1. drh. Hiswani, M.Kes
PERNYATAAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI K LINIK INFEKSI
MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam pustaka.
Medan, Juli 2014
ABSTRAK
HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia Tahun 1987. Kasus HIV/ADS terus bertambah dan telah menyebar di 33 Provinsi serta 300 Kabupaten/Kota. Akumulasi data penderita HIV sampai dengan akhir tahun 2012 tercatat sebanyak 92.251 kasus. Kasus HIV pada waria di Klinik IMS Bestari dari 15 waria didapatkan ada 3 penderita HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko HIV/AIDS terhadap kelompok waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014.
Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan desain case
control. Populasi adalah seluruh waria yang datang ke klinik IMS Bestari Kota
Medan pada bulan Januari sampai Desember 2013 yang berjumlah 192 orang, sampel berjumlah 36 orang untuk kelompok kasus dan 36 orang untuk kelompok kontrol (Buku Register Klinik IMS Bestari Kota Medan 2013). Analisis data yaitu univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.
Hasil analisis bivariat menunjukkan variable yang memiliki hubungan dengan kejadian HIV/AIDS adalah pengetahuan (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), sikap (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), dan tindakan (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan terhadap kejadian HIV/AIDS pada kelompok waria adalah sikap, dimana waria bersikap kurang baik berisiko terkena HIV/AIDS 3,59 kali lebih besar dibanding dengan waria yang bersikap baik terhadap kejadian HIV/AIDS.
Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk memperkuat layanan
VCT(Voluntary Counseling and Testing) dalam rangka pencarian kasus HIV/AIDS
agar mengurangi risiko penularan dan perilaku yang berisiko. Klinik IMS Bestari Kota Medan diharapkan meningkatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat melalui media elektronik, media massa serta meningkatkan kualitas KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) dan penggunaan kondom pada kelompok beresikotinggi.
ABSTRACT
Since first discoveredin 1987, the HIVAIDS cases have been increasedin 33 provinces and300 districts/cities of Indonesia. The accumulation of HIV/AIDS up to the end of 2012 were92,251cases. Three of the 15 shemales at Sexually Transmitted Infection (STI) Bestari Clinic are found to have suffered from HIV/ AIDS. The purpose of this study was to find out the factors in fluencing the risk of HIV/AIDS on shemale group at STI at Bestari Clinic in the City of Medan in 2014.
The population of this observational analytic study with case control design was192 shemales visited the STI Bestari Clinic in the City of Medan, from January to December 2013. And 36 of them were selected to be the sample in the case group and 36 to be in the control group. The data obtained were analyzed through univariately, bivariately and multivariate analysis by using multiple logistic regression tests.
The results of bivariate analysis showed that the variable of knowledge (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), attitude (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), and action (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200) had in fluence on the incidence of HIV/AIDS in the shemale group. The result of multivariate analysis showed that the dominant variable influenced the incidence of HIV/AIDS in the shemale group was attitude, where the shemales with unfavorable attitude had 3,59 times more risky to be suffered from HIV/AIDS than those with favorable attitude
Medan City Health Service is expected to strengthen the VCT services in order to find the cases of HIV/ AIDS to reduce the risk of transmission and risky behaviors. STI Bestari Clinic in the City of Medan is expected to improve theextension on HIV/ AIDS forthe community through electronic media, mass media as well as improving the quality of IEC and the use of condom among high-risk groups.
.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan Rahmat dan Hidayah serta Karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014 ”.
Penyusunan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar Magister Kesehatan (M.Kes) pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara dengan Minat Studi Administrasi Kesehatan
Komunitas/Epidemiologi.
Proses penulisan tesis dapat terwujud berkat dukungan, bimbingan, arahan,
bantuan, dan kemudahan dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimaksih kepada :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu
4. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D selaku Ketua Komisi Pembimbing tesis yang
telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam penulisan tesis ini.
5. drh. Hiswani, M.Kes selaku Anggota Komisi Pembimbing tesis yang telah
banyak memberikan arahan dan masukan dalam penulisan tesis ini.
6. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M selaku Ketua Penguji yang telah banyak
memberikan masukan dan saran guna penyempurnaan tesis ini.
7. dr. Mhd Makmur Sinaga, M.S selaku Anggota Penguji yang telah banyak
memberikan masukan dan saran guna penyempurnaan tesis ini.
8. Drg. H. Usma Polita Nst, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan
yang telah memberikan izin penelitian di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota
Medan.
9. dr. H. Indra Gunawan selaku Kepala Puskesmas Bestari Kota Medan yang telah
memberikan izin penelitian di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Medan.
10. dr. Siti Hatati Surjantini, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Utara yang telah memberi izin penulis untuk Pendidikan Pasca Sarjana
IKM-FKM USU
11. Ayahanda Drs. M. Ilyas dan Ibunda Trimey, selaku orang tua yang telah banyak
memberikan dukungan motivasi dan doa selama penulis menyelesaikan
Pendidikan Program Pasca Sarjana.
12. Putriku tercinta Cindy Octavia Siregar, terima kasih atas doa dan kesabaran
13. Saudara-saudaraku dr. Verdy Vernando, dr. Anthon Vermana, Sp.An, Dicky
Andrea, dan Arnold Yananta terima kasih atas pengorbanan baik moril, materil
dan spiritual yang telah diberikan selama penulis mengikuti pendidikan.
14. Seluruh Dosen Epidemiologi yang sudah member ilmu dan senantiasa rela
memberikan waktu untuk berdiskusi baik formal maupun non formal.
15. Rekan-rekan mahasiswa di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Minat Studi Administrasi
Kesehatan Komunitas/Epidemiologi.
Akhirnya kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materi, penulis ucapkan
terima kasih semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya.
Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam tesis ini masih jauh dari
sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak, semoga tesis ini dapat
bermanfaat.
Medan, Juli 2014 Penulis
RIWAYAT HIDUP
Windy Maidesi, lahir pada tanggal 25 Desember 1973, anak pertama dari
lima bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. M.Ilyas dan Ibunda Trimey.
Pendidikan formal penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi
Rantau Prapat tahun 1980, sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri No. 142423
Padang Sidempuan (Tapsel) selesai tahun 1986, Sekolah Menengah Pertama di
SMP Negeri 1 Padang Sidempuan (Tapsel) selesai tahun 1989, Sekolah Menengah
Atas di SMA Swasta UISU Medan selesai tahun 1992, dan Program Studi
Kedokteran Umum (FK) di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
Medan selesai tahun 2002.
Penulis bekerja di Praktek Dokter dan Klinik Bersalin Mustika Hati
Tangerang-Banten tahun 2003 sampai 2005, bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten
Pasaman Barat (Sumatera Barat) tahun 2005 sampai 2010, dan bekerja di Dinas
DAFTAR ISI
1.5. ManfaatPenelitian ... 12
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1. HIV/AIDS ... 13
2.1.1. DefinisiHIV/AIDS ... 13
2.1.2. Epidemi HIV/AIDS ... 15
2.1.3. EtiologidanPatofisiologi ... 18
2.1.4. Risiko HIV/AIDS ... 20
2.1.5. Tahapan-Tahapan HIV/AIDS ... 22
2.1.6. GejalaKlinis HIV/AIDS ... 23
2.1.7. Penularan HIV/AIDS ... 25
2.1.8. KelompokResikoTinggiTertular HIV/AIDS ... 28
2.1.9. Cara Pencegahan HIV/AIDS ... 29
2.1.10.Pengobatan HIV/AIDS ... 30
2.1.11.Usaha yang DilakukanApabilaTerinfeksi HIV/AIDS 32
2.2. Waria ... 33
2.2.1. PengertianWaria ... 33
2.2.2. JenisWaria ... 36
2.2.3. Ciri-ciriWaria ... 37
2.3. FaktorRisiko HIV/AIDS padaKelompokWaria ... 38
2.3.1. Umur ... 38
2.3.2. Pendidikan ... 39
2.3.3. Pekerjaan ... 39
2.4. PerilakuKesehatan ... 41
2.4.1. DefinisiPerilakuKesehatan ... 41
2.4.2. DeterminanPerilakuKesehatan ... 42
2.4.3. DeterminanPerilakuTerkaitPenelitian ... 44
2.5. LandasanTeori ... 47
2.6. KerangkaKonsep ... 49
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 50
3.1. JenisdanDesainPenelitian ... 50
3.2. LokasidanWaktuPenelitian ... 51
3.2.1. LokasiPenelitian ... 51
3.2.2. WaktuPenelitian ... 51
3.3. PopulasidanSampelPenelitian ... 51
3.3.1. PopulasiPenelitian ... 51
3.3.2. SampelPenelitian ... 52
3.3.3. PengambilanSampel ... 53
3.4. MetodePengumpulan Data ... 53
3.5. UjiValiditasdanUjiReliabilitas ... 54
3.6. DefenisiOperasional ... 56
3.7. AspekPengukuran ... 57
3.8. MetodeAnalisa Data ... 58
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 60
4.1. DeskriptifLokasiPenelitian ... 60
4.1.1. KeadaanGeografi ... 60
4.1.2. JumlahPenduduk ... 61
4.1.3. KeadaanKlinik IMS Bestari ... 61
4.2. AnalisisUnivariat ... 62
4.2.1. DeterminanBerdasarkan Host ... 62
4.2.2. Pengetahuan ... 63
4.2.3. Sikap ... 63
4.2.4. Tindakan ... 64
4.3. AnalisisBivariat ... 65
4.3.1. HubunganUmurdenganKejadian HIV/AIDS ... 65
4.3.2. HubunganPendidikandenganKejadian HIV/AIDS ... 66
4.3.3. HubunganPekerjaandenganKejadian HIV/AIDS ... 66
4.3.4. HubunganPengetahuandenganKejadian HIV/AIDS ... 67
4.3.5. HubunganSikapdenganKejadian HIV/AIDS ... 67
4.3.6. HubunganTindakandenganKejadian HIV/AIDS ... 68
4.4. AnalisisMultivariat ... 69
BAB 5. PEMBAHASAN ... 73
5.1. PengaruhantaraKarakteristikterhadapKejadian HIV/AIDSdiKlinik IMS Bestari Medan ... 73
5.1.1. Umur ... 73
5.1.2. Pendidikan ... 75
5.1.3. Pekerjaan ... 77
5.2. PengaruhantaraPerilakuterhadapKejadian HIV/AIDSdiKlinik IMS Bestari Medan ... 80
5.2.1. Pengetahuan ... 80
5.2.2. Sikap ... 85
5.2.3. Tindakan ... 89
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 94
6.1. Kesimpulan ... 94
6.2. Saran ... 94
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
3.1 Rencana Waktu Penelitian ... 54
3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengetahuan ... 54
3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Sikap ... 55
3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Tindakan ... 56
3.4 Aspek Pengukuran Variabel Independen dan Variabel Dependen ... 57
4.1. Distribusi Frekuensi di Klinik IMS Bestari Medan Berdasarkan Karakteristik Waria (Umur, Pendidikan dan Pekerjaan) ... 62
4.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 63
4.3 Distribusi Frekuensi Sikap Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 64
4.4 Distribusi Frekuensi Tindakan Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 64
4.5 Distribusi Frekuensi Kejadian HIV/AIDS padaWaria di Klinik IMS Bestari Medan ... 65
4.6 Hubungan Umur dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 66
4.7 Hubungan Pendidikan dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 66
4.9 Hubungan Sikap dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari
Medan ... 68
4.10 Hubungan Tindakan dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS
Bestari Medan ... 68
4.11 Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat (Kandidat)... 69
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1.1. Deskripsi Penyebaran HIV dari 1 Orang HIV+ ... 2
1.2. Regional Overview HIV/AIDS ... 4
2.1. Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun ... 17
2.2. Cara Penularan Virus HIV/AIDS dalamTubuh ... 21
2.3. Virus Penyebab HIV/AIDS ... 23
2.4. Sumber Risiko Pemicu Epidemi HIV di Indonesia ... 25
2.5. Persentase AIDS Dilaporkan Menurut Faktor RisikoTahun 2012 ... 28
2.6. Bagan Precede Lawrence W. Green ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Informed Consent ... 99
2. Kuesioner ... 100
3. POA ... 104
4. Master Data ... 105
5. Hasil Uji Statistik ... 106
6. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 133
7. Dokumentasi Penelitian ... 139
7. Surat Izin Uji Kuesioner Klinik IMS Veteran Kota Medan... 142
8. Surat Izin Pendahuluan Dinkes Kota Medan ... 143
9. Surat Izin Penelitian Puskesmas Bestari Kota Medan ... 144
ABSTRAK
HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia Tahun 1987. Kasus HIV/ADS terus bertambah dan telah menyebar di 33 Provinsi serta 300 Kabupaten/Kota. Akumulasi data penderita HIV sampai dengan akhir tahun 2012 tercatat sebanyak 92.251 kasus. Kasus HIV pada waria di Klinik IMS Bestari dari 15 waria didapatkan ada 3 penderita HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko HIV/AIDS terhadap kelompok waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014.
Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan desain case
control. Populasi adalah seluruh waria yang datang ke klinik IMS Bestari Kota
Medan pada bulan Januari sampai Desember 2013 yang berjumlah 192 orang, sampel berjumlah 36 orang untuk kelompok kasus dan 36 orang untuk kelompok kontrol (Buku Register Klinik IMS Bestari Kota Medan 2013). Analisis data yaitu univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.
Hasil analisis bivariat menunjukkan variable yang memiliki hubungan dengan kejadian HIV/AIDS adalah pengetahuan (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), sikap (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), dan tindakan (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan terhadap kejadian HIV/AIDS pada kelompok waria adalah sikap, dimana waria bersikap kurang baik berisiko terkena HIV/AIDS 3,59 kali lebih besar dibanding dengan waria yang bersikap baik terhadap kejadian HIV/AIDS.
Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk memperkuat layanan
VCT(Voluntary Counseling and Testing) dalam rangka pencarian kasus HIV/AIDS
agar mengurangi risiko penularan dan perilaku yang berisiko. Klinik IMS Bestari Kota Medan diharapkan meningkatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat melalui media elektronik, media massa serta meningkatkan kualitas KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) dan penggunaan kondom pada kelompok beresikotinggi.
ABSTRACT
Since first discoveredin 1987, the HIVAIDS cases have been increasedin 33 provinces and300 districts/cities of Indonesia. The accumulation of HIV/AIDS up to the end of 2012 were92,251cases. Three of the 15 shemales at Sexually Transmitted Infection (STI) Bestari Clinic are found to have suffered from HIV/ AIDS. The purpose of this study was to find out the factors in fluencing the risk of HIV/AIDS on shemale group at STI at Bestari Clinic in the City of Medan in 2014.
The population of this observational analytic study with case control design was192 shemales visited the STI Bestari Clinic in the City of Medan, from January to December 2013. And 36 of them were selected to be the sample in the case group and 36 to be in the control group. The data obtained were analyzed through univariately, bivariately and multivariate analysis by using multiple logistic regression tests.
The results of bivariate analysis showed that the variable of knowledge (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), attitude (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), and action (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200) had in fluence on the incidence of HIV/AIDS in the shemale group. The result of multivariate analysis showed that the dominant variable influenced the incidence of HIV/AIDS in the shemale group was attitude, where the shemales with unfavorable attitude had 3,59 times more risky to be suffered from HIV/AIDS than those with favorable attitude
Medan City Health Service is expected to strengthen the VCT services in order to find the cases of HIV/ AIDS to reduce the risk of transmission and risky behaviors. STI Bestari Clinic in the City of Medan is expected to improve theextension on HIV/ AIDS forthe community through electronic media, mass media as well as improving the quality of IEC and the use of condom among high-risk groups.
.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency
Syndrome) merupakan masalah kesehatan di dunia sejak tahun 1981, penyakit ini
berkembang secara pandemik. Obat dan vaksin untuk mengatasi masalah tersebut
belum ditemukan, yang dapat mengakibatkan kerugian tidak hanya di bidang
kesehatan tetapi juga di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan demografi
(DepKes RI, 2010).
HIV adalah epidemi yang sudah berkembang menjadi krisis global. Penyakit
ini juga memiliki “window periode” dan fase asimptomatik (tanpa gejala) yang relatif
panjang dalam perjalanan penyakitnya Hal tersebut diatas menyebabkan pola
perkembangannya seperti Fenomena Gunung Es (iceberg phenomena).
Di seluruh dunia lebih dari 20 juta orang telah meninggal karenanya, dan
menurut data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) hingga
September 2008 tercatat 32,3 juta orang terjangkit HIV/AIDS. Diperkirakan tidak
kurang dari 6800 orang terinfeksi HIV setiap harinya dan lebih dari 5700 orang
meninggal karena AIDS. HIV/AIDS merupakan ancaman yang sangat serius bagi
pertumbuhan sosio-ekonomi, stabilitas dan keamanan di negara-negara berkembang
Berdasarkan case report United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS)
tahun 2011 jumlah orang yang terjangkit HIV di dunia sampai akhir tahun 2010
terdapat 34 juta orang, dua pertiganya tinggal di Afrika kawasan Selatan Sahara, di
kawasan itu kasus infeksi baru mencapai 70%, di Afrika Selatan 5,6 juta orang
terinfeksi HIV, di Eropa Tengah dan Barat jumlah kasus infeksi baru HIV/AIDS
sekitar 840 ribu, di Jerman secara Kumulasi ada 73 ribu orang, kawasan Asia Pasifik
merupakan urutan kedua terbesar di dunia setelah Afrika Selatan dimana terdapat 5
juta penderita HIV.
Gambar 1.1. Deskripsi Penyebaran HIV dari 1 Orang HIV+
Menurut WHO di laporkan bahwa pada tahun 2011 terdapat 3,5 juta orang di
Asia Tenggara hidup dengan HIV/AIDS. Beberapa Negara seperti Myanmar, Nepal
dan Thailand menunjukkan Tren penurunan untuk infeksi baru HIV, hal ini
melalui program Condom use 100 persen (CUP). Tren kematian yang disebabkan
oleh AIDS antara tahun 2001 sampai 2010 berbeda disetiap bagian Negara. Di Eropa
Timur dan Asia Tengah sejumlah orang meninggal karena AIDS meningkat dari
7.800 menjadi 90.000, di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat dari 22.000
menjadi 35.000, di Asia Timur juga meningkat dari 24.000 menjadi 56.000 (WHO,
Progress Report 2011).
Situasi masalah HIV-AIDS Triwulan IV (Oktober-Desember) tahun 2012
yaitu laporan HIV dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2012 jumlah infeksi
baru HIV yang dilaporkan sebanyak 6.139 orang. Persentase infeksi HIV tertinggi
dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (61,6%), diikuti kelompok umur ≥50
tahun (20,1%), dan kelompok umur 20-24 tahun (12,5%). Rasio HIV antara laki-laki
dan perempuan adalah 1:1. Persentase faktor risiko HIV tertinggi hubungan seks
berisiko pada heteroseksual (52,8%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada
penasun (10,3%), dan LSL (lelaki seks lelaki) (7,7%). Berdasarkan laopran AIDS
bahwasanya dari bulan Oktober sampai Desember 2012 jumlah AIDS yang
dilaporkan sebanyak 2.145 orang. Persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur
30-39 tahun (35,05%) diikuti kelompok umur 20-29 tahun (24,8%) dan kelompok
umur 40-49 tahun (17,6%). Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
Jumlah AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Jawa Tengah (486), Bali (429),
Papua (416), DIY (176) dan Sulawesi Selatan (156). Persentase faktor risiko AIDS
anak (4,1%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (3,8%) dan (lelaki
seks lelaki) (2,8%) (Kemenkes, 2013).
Gambar 1.2. Regional Overview HIV/AIDS
Penderita HIV pertama di Indonesia dilaporkan adalah seorang wisatawan
Belanda yang mengunjungi Bali pada tahun 1987. Pada tahun 1987, di Indonesia
hanya ada sembilan kasus HIV kemudian jumlah ini terus bertambah setiap tahun.
Kasus HIV di Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan. Jika pada tahun 2005
terdapat 2.639 kasus HIV, akhir tahun 2010 angkanya sudah meningkat tajam
menjadi 4.158 kasus. Secara kumulatif kasus HIV sejak 1 Januari 1987 sampai
dengan 30 September 2012 sebanyak 92.251 kasus pada 33 provinsi dan 300
kabupaten/kota. Rate kumulatif kasus HIV Nasional sampai dengan September 2012
adalah 16,59 per 100.000 penduduk (berdasarkan data BPS 2011, jumlah penduduk
Indonesia 238.893.400 jiwa) dengan rasio kasus HIV antara laki-laki dan perempuan
adalah 3:1 (Depkes RI, 2012).
Desember 2008 tercatat jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS sebanyak
di Jawa Barat tercatat 2975 orang terinfeksi HIV/AIDS dengan prevalensi 4,3 per
100.000 populasi dengan tambahan 230 kasus baru setiap tahunnya (Depkes RI,
2008).
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV yang telah meluas seperti yang
telah terjadi di Papua adalah dampaknya pada indikator demografi. Karena tingginya
proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini,
dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Karena semakin
banyak orang yang diperkirakan hidup dalam jangka waktu yang lebih pendek,
kontribusi yang diharapkan dari mereka pada ekonomi nasional dan perkembangan
sosial menjadi semakin kecil dan kurang dapat diandalkan. Pada tingkat makro,
sumber daya yang seharusnya digunakan untuk aktivitas produktif terpaksa dialihkan
pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota keluarga
yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat (KPA, 2007).
Hingga saat ini HIV masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat utama di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai
dengan tahun 2011, kasus HIV tersebar diseluruh (33) Propinsi di Indonesia yaitu 368
(73,9%) dari 498 total penderita HIV/AIDS. Propinsi pertama kali ditemukannya
adanya kasus HIV adalah Provinsi Bali (1987), sedangkan yang terakhir melaporkan
adanya kasus HIV (2011) adalah Provinsi Sulawesi Barat (Kemenkes, 2012).
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), menyatakan bahwa hasil kajian para
ahli epidemiologi Indonesia tentang kecenderungan epidemi HIV, maka pada tahun
pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Penularan
dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus
berlanjut Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV secara
kumulatif pada lebih dari 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinfeksi
HIV (Komunitas AIDS Indonesia, 2011).
Walaupun HIV/AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme, namun ternyata dalam penyebarannya sangat dipengaruhi oleh pola
perilaku dan gaya hidup seseorang (Laksana, 2010). Upaya pencegahan HIV/AIDS
terutama didasarkan pada upaya untuk melakukan perubahan perilaku seksual
seseorang yang beresiko tertular dan promosi penggunaan kondom (DepKes RI,
2010).
Tiga kelompok populasi yang menduduki peringkat teratas dalam pembagian
populasi yang terinfeksi HIV/AIDS adalah heteroseksual, IDU (Injecting Drug User)
dan homoseksual. Homoseksual adalah laki-laki yang melakukan hubungan seks
dengan sesama laki-laki dan waria atau transgender, merupakan salah satu golongan
yang berisiko tinggi dalam penyebaran HIV/AIDS. Waria sering kali dianggap rendah
dan disisihkan dari masyarakat. Perilaku marginalisasi tersebut mengakibatkan
komunitas waria dan homoseksual seringkali bersifat tertutup, sehingga sangat sulit
untuk mengadakan komunikasi untuk mensosialisasikan informasi dan
program-program menyangkut HIV/AIDS (Ardian, 2006).
Masalah HIV/AIDS adalah masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan
setiap tahunnya sangat meningkat secara signifikan. Di tanah Papua epidemi HIV
sudah masuk kedalam masyarakat (generalized epidemic), dengan prevalensi HIV
dipopulasi dewasa sebesar 2,4%. Sedangkan dibanyak tempat lainnya dalam kategori
terkonsentrasi dengan prevalensi HIV >5% pada populasi waria. Apabila dilihat
berdasarkan jenis kelamin, kasus AIDS dilaporkan banyak ditemukan pada laki-laki
yaitu 74,5%, sedangkan pada perempuan 25% (DepKes RI, 2008).
Kaum waria merupakan suatu paparan nyata yang tidak dapat ditolak
eksistensinya dimasyarakat. Pada tahun 1920 muncul komunitas homoseksual di kota
besar Hindia – Belanda. Pada tahun 1969 berlangsung pertikaian antara waria dan gay
dengan polisi yang dikenal dengan istilah huru hara stonewall, yang terjadi di
NewYork Amerika. Kejadian tersebut menjadi langkah awal bagi waria dan gay
dalam mempublikasikan keberadaan mereka (Ardian, 2006).
Pada tahun yang sama mulai muncul organisasi waria yang bernama
Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD). Pada tahun 2009 berdasarkan data Yayasan
Srikandi Sejati (Hamid, 2011) sebuah lembaga yang mengurusi masalah waria,
jumlah waria Indonesia mencapai 6.000.000 orang. Waria merupakan salah satu
kelompok risiko tinggi penyebar HIV/AIDS yang keberadaannya saat ini cukup
mengkhawatirkan karena aktivitas yang melekat dalam kesehari-harian mereka.
Aktivitas seksual pada waria sebagai pekerja seksual dianggap beresiko tinggi karena
mereka mempunyai banyak pasangan seksual pria dan kemungkinan besar pasangan
belum menikah. Kelompok ini bahkan besar kemungkinan atau risikonya lebih tinggi
tertular penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.
Seperti kita ketahui keberadaan kaum transgender seperti waria di Indonesia
masih dilihat sebelah mata. Tidak sedikit dari kita yang menganggap jijik dan sinis.
Padahal transgender ini amat rentan mengalami diskriminasi dan tindak kekerasan.
Mereka kerap menjadi korban kekerasan dan pembunuhan, baik oleh perorangan ,
aparat hukum, atau kelompok anti waria atas dasar kebencian dan prasangka buruk.
Para waria di Indonesia banyak kita temui dipinggir jalan sebagai pengamen atau
pekerja seks.
Bila kita bandingkan dengan keberadaan waria di Thailand sangatlah berbeda
360 derajat. Di Thailand sulit kita membedakan para waria dengan wanita asli.Berkat
kecanggihan teknologi operasi disana, para waria akhirnya mempunyai kulit mulus,
wajah cantik, badan langsing, payudara montok, dan berjari lentik. Berbeda sekali
dengan para waria di Indonesia yang berbadan kekar, berkulit kasar dan sedikit
seram.
Di Thailand waria justru menjadi primadona industri hiburan. Mereka tidak
hanya cantik tapi juga kreatif dalam unjuk kebolehan. Pemerintah disana pun
memberikan dukungan atas kreativitas para waria tersebut dengan dijadikan sebagai
objek wisata dan pemilihan waria Thailand seperti layaknya kontes pemilihan putri
kecantikan. Para pemenang akan menjadi model dalam pertunjukan cabaret digedung
Alcazar. Pada akhir pertunjukan biasanya para penonton diberi kesempatan untuk
tambahan uang untuk para waria. Mereka tidak perlu bersusah payah merayu seperti
para waria di Indonesia, karena dengan sendirinya para penonton membayar.
Sebaliknya dengan keberadaan waria di Indonesia yang melekat stigma dan
diskriminasi. Tak jarang para waria selalu berurusan dengan Satpol Pamong Praja.Hal
ini berpengaruh pada rendahnya pendapatan waria di Indonesia sehingga banyak dari
mereka yang mengamen dan turun kejalan mengakibatkan rentan terhadap
HIV/AIDS. Perilaku marginalisasi yang diderita oleh kaum waria dan homoseksual
ini memaksa mereka untuk berlaku heteroseksual dipermukaan untuk melepaskan diri
dari status marginal atau tersisih. Keadaan ini berdampak buruk pada laju penyebaran
HIV/AIDS di masyarakat karena mereka akan melakukan hubungan seks dengan
laki-laki dan juga dengan istri sah mereka (Iis, 2008).
Kasus Kumulatif HIV/AIDS yang dilaporkan di kabupaten Brebes tercatat 60
yang terdeteksi sejak tahun 2010 sampai April 2013., di Kota Tegal dilaporkan 211
yang terdeteksi sejak 2008 sampai Oktober 2012 yang terdiri atas 117 HIV dan 94
AIDS, dan di Kabupaten Pemalang 61 HIV dan 26 AIDS dengan 19 kematian karena
waria dinilai memiliki risiko besar penularan HIV/AIDS (Kemenkes, 2012).
Paparan penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara terus meningkat. Setidaknya
hingga Juli 2012 jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS mencapai 3.684 orang. Dari
data Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat peningkatan jumlah
penderita HIV/AIDS berkisar 200 penderita setiap tahunnya. Dari data Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Medan menyatakan bahwa Kecamatan Medan
kecamatan Medan Sunggal dengan 245 gay, dan peringkat ketiga ditempati Medan
Petisah dengan 208 gay. Untuk waria, Medan Baru menduduki tempat pertama
dengan 161 waria, Medan Johor di posisi kedua dengan 134 waria, dan Medan
Petisah di posisi ketiga dengan 93 waria. Dari survey awal yang dilakukan di Klinik
IMS Bestari Medan Kota peneliti mendapatkan data di bulan Desember 2013 bahwa
dari 15 waria yang mendatangi klinik IMS didapatkan hasil rata-rata setiap bulannya
ada 3 penderita HIV/AIDS dari kelompok waria yang berobat di Klinik IMS Bestari
Kota Medan (Dinkes, 2013).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merasa perlu melakukan
penelitian tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan tahun
2014.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis ingin mengetahui “Apakah
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di
Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014?”.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV.AIDS
terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Umur di klinik Infeksi Menular Seksual
(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.
1.3.2.2. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Pendidikan di klinik Infeksi Menular Seksual
(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.
1.3.2.3. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Pekerjaan di klinik Infeksi Menular Seksual
(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.
1.3.2.4. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Pengetahuan di klinik Infeksi Menular
Seksual (IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.
1.3.2.5. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Sikap di Klinik Infeksi Menular Seksual
(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.
1.3.2.6. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap
Kelompok Waria berdasarkan Tindakan menggunakan kondom di Klinik
1.4. Hipotesis
Ada pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Tindakan untuk mencegah Risiko
HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS)
Bestari Kota Medan Tahun 2014.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan serta Pemerintah
Kota Medan dalam menentukan kebijakan untuk pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS.
1.5.2. Sebagai bahan masukan bagi KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota
Medan dan LSM dalam pencarian kasus HIV/AIDS dan penanggulangan
HIV/AIDS.
1.5.3. Sebagai bahan masukan bagi instansi dan stakeholder terkait dalam
memberikan penyuluhan terutama perilaku beresiko untuk penggunaan
kondom di kalangan beresiko terkena HIV/AIDS juga sebagai referensi dalam
perencanaan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
1.5.4. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. HIV/AIDS
2.1.1. Definisi HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk dalam
family lentivirus. Dua jenis HIV yang secara genetiknya berbeda tetapi sama dari
antigennya berhubungan yaitu 1 dan 2 diisolasi dari penderita AIDS.
HIV-1 lebih banyak dijumpai pada penderita AIDS di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika
Tengah, manakala HIV-2 lebih banyak dijumpai di Afrika Barat, HIV-1 lebih mudah
ditransmisi berbanding HIV-2. Periode antara infeksi pertama kali dengan timbul
gejala penyakit adalah lebih lama dan penyakitnya lebih ringan pada infeksi HIV-2
(WHO, 2008).
Menurut Green (2007), HIV merupakan singkatan dari Human
Immunnedeficiency Virus. Disebut human (manusia) karena virus ini hanya dapat
menginfeksi manusia, immunodeficiency karena efek virus ini adalah melemahkan
kemampuan system kekebalan tubuh untuk melawan segala penyakit yang menyerang
tubuh, termasuk golongan virus karena salah satu karakteristiknya adalah tidak
mampu memproduksi diri sendiri, melainkan memanfaatkan sel-sel tubuh. Sel darah
putih manusia sebagai sel yang berfungsi untuk mengendalikan atau mencegah
HIV yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terserang
penyakit (Nursalam, 2011).
HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat
berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk system
kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit,
tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita
dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang
terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan
waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berubah
menjadi AIDS yang mematikan (WHO, 2008).
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
Acquired artinya di dapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan. Immuno berarti
sistem kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan, sedangkan Syndrome adalah
kumpulan gejala. AIDS adalah sekumpulan gejala yang didapatkan dari penurunan
kekebalan tubuh akibat kerusakan system imun yang disebabkan oleh infeksi HIV.
Penularan virus HIV dapat terjadi melalui darah, air mani, hubungan seksual, atau
cairan vagina. Namun virus ini tidak dapat menular lewat kontak fisik biasa, seperti
berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV
2.1.2. Epidemi HIV/AIDS a. Epidemi Global
Sejarah tentang HIV/AIDS dimulai ketika tahun 1979 di Amerika Serikat
ditemukan seorang gay muda dengan Pneumocytis Carinii dan dua orang gay muda
dengan Sarcoma Kaposi. Pada tahun 1981 ditemukan seorang gay muda dengan
kerusakan system kekebalan tubuh. Pada tahun 1980 WHO mengadakan pertemuan
yang pertama tentang AIDS.
Prevalensi AIDS pada tahun 1993 sebesar 900.000. Sedangkan pada akhir
tahun 2000 sebanyak 2 juta orang. Pada tahun 2001 insidensi infeksi HIV baru pada
anak sebanyak 800.000 dengan 580.000 kematian akibat HIV/AIDS. Dari 800.000
anak, 65.000 kasus terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sampai akhir tahun
2002 terdapat 42 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dari jumlah ini 28,5 juta (68%)
hidup di Afrika sub-Sahara dan 6 juta (14%) berada di Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Pada tahun 2002 terdapat 5 juta orang baru terinfeksi HIV dan 3,1 juta
orang meninggal karena HIV/AIDS.
Di Amerika Utara dan Inggris, epidemic pertama terjadi pada kelompok
laki-laki homoseksual, selanjutnya dan pada saat ini epidemi terjadi juga pada pengguna
obat suntik dan pada populasi heteroseksual. Di Afrika ditemukan bahwa HIV
disebarkan terutama melalui hubungan seksual heteroseksual, seks tanpa kondom
adalah modus utama penularan HIV di Karibia. Survey menunjukkan persentase
prevalensi HIV pada beberapa kelompok yaitu : 80-90% PSK, 30% kelompok
penyakit menular seksual, 10% pada pendonor darah dan 10% pada kelompok wanita
yang diperiksa di klinik perawatan antenatal. Di San Fransisco dan New York, AIDS
saat ini merupakan penyebab utama kematian premature pada laki-laki usia muda.
Sampai dengan tahun 2010 jumlah penderita HIV di seluruh dunia sebanyak 34 juta
orang (UNAIDS, 2011).
Men Sex Men (MSM) Report World Bank (2011) melaporkan di seluruh dunia
diperkirakan bahwa seks antar laki-laki termasuk kelompok penyumbang kejadian
infeksi HIV, situasinya bervariasi antar Negara, tahun 2008 di Equador (15,9%), Peru
(13,80%), Uruguay (18,90%), Argentina (12,10%), Panama (10,60%), Elsavador
(7,90%), Nicaragua (9,30%), Mexico (25,60%), Jamaica (31,80%), di Brazil tahun
2003 sampai 2008 sebesar 8,2%, pada tahun 2002 sampai 2009 di Peru (13,30%),
Ukraina (10,60%), Kenya (15,20%), Thailand (23,00%), Rusia (3,4%), India (16,5%),
pada tahun 2005 di Thailand tepatnya di Bangkok (28,3%). Penelitian yang lain di
Indonesia (4%), Bangladest (7,5%), Srilanka (7,5%), Nepal (7,5%) (UNAIDS, 2011).
Studi laki-laki gay Afrika menunjukkan bahwa seks anal tanpa kondom
adalah biasa, prevalensi HIV diantara laki-laki dibeberapa daerah di Afrika Barat
yang berhubungan seks dengan laki-laki sebesar 25,3%, di Kenya 43%, di Afrika
Selatan dimana seks antara laki-laki adalah legal, prevalensi HIV antara 20% dan
40% (UNAIDS, 2011).
b. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia
Di Indonesia, HIV pertama kali dilaporkan di Bali pada bulan April 1987,
635 kasus HIV dan 183 kasus baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan
kasus HIV dan AIDS secara signifikan di Indonesia. Kasus AIDS tahun 2000 tercatat
255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada tahun 2003. Kasus HIV meningkat
cepat tahun 2005 (859 kasus), tahun 2006 (7.195 kasus), tahun 2007 (6.048 kasus),
tahun 2008 (10.362 kasus), tahun 2009 (9.793 kasus), tahun 2010 (21.591 kasus),
tahun 2011 (21.031 kasus). Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai
dengan tahun 2011 sebanyak 76.879 kasus. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI
Jakarta (19.899 kasus), diikuti Jawa Timur (9.950 kasus), Papua (7.085 kasus), Jawa
Barat (5.741 kasus) dan Sumatera Utara (5.027 kasus).
Gambar 2.1. Grafik Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun
Kasus AIDS sampai dengan tahun 2004 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan
sebanyak 2.682 kasus, tahun 2005 (2.639 kasus), tahun 2006 (2.873 kasus), tahun
2007 (2.947 kasus), tahun 2008 (4.969 kasus), tahun 2009 (3.863 kasus), tahun 2010
(5.774 kasus), tahun 2011 (4.162 kasus). Jumlah kumulatif kasus AIDS yang
tertinggi yaitu DKI Jakarta (5.177 kasus), diikuti Jawa Timur (4.598 kasus), Papua
(4.449 kasus), Jawa Barat (3.939 kasus) dan Bali (2.428 kasus). Persentase kasus
AIDS pada laki-laki sebanyak 70,8% dan perempuan 28,2%. Angka kematian (CFR)
menurun dari 40% pada tahun 1987 menjadi 2,4% pada tahun 2011.
2.1.3. Etiologi dan Patofisiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV, virus ini ditemukan oleh
Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang
mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala Limfadenopati, sehingga pada
waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), Gallo (National
Institute of Health, USA 1984) menemukan virus HTL-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan
bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International
Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberikan nama resmi HIV
(Widoyono, 2005).
HIV termasuk kelompok retrovirus, virus yang mempunyai enzim (protein)
yang dapat merubah RNA, materi genetiknya menjadi DNA. Kelompok retrovirus
karena kelompok ini membalik urutan normal yaitu DNA diubah (replikasi) menjadi
RNA. Setelah menginfeksi RNA HIV berubah menjadi DNA oleh enzim yang ada
dalam virus HIV yang dapat mengubah RNA virus menjadi (reversetranscriptase)
sehingga dapat disisipkan kedalam DNA sel-sel manusia. DNA itu kemudian dapat
digunakan untuk membuat virus baru (virion), yang menginfeksi sel-sel baru, atau
seperti limfosit sel-sel CD4 (Sel-T Pembantu) yang istirahat sebagai target paling
penting dalam penyerangan virus ini (Nursalam, 2011).
Sel CD4 adalah salah satu tipe dari sel darah putih yang bertanggung jawab
untuk mengendalikan atau mencegah infeksi oleh banyak virus yang lain, bakteri,
jamur, dan parasit dan juga beberapa jenis kanker. Kemampuan HIV untuk tetap
tersembunyi dalam DNA dari sel-sel manusia yang hidup lama, tetap ada seumur
hidup membuat infeksi menyebabkan kerusakan sel-sel CD4 dan dalam waktu
panjang, jumlah sel-sel CD4 menurun menjadi masalah yang sulit untuk ditangani
bahkan dengan pengobatan efektif (Liu dkk, 2005).
Apabila sudah banyak sel T4 yang hancur, terjadi gangguan imunitas seluler,
daya kekebalan penderita menjadi terganggu sehingga kuman yang tadinya tidak
berbahaya atau dapat dihancurkan oleh tubuh sendiri (infeksi oportunistik) akan
berkembang lebih leluasa dan menimbulkan penyakit yang serius yang pada akhirnya
penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apabila sudah masuk kedalam darah, HIV
dapat merangsang pembentukan antibody dalam waktu 3-8 minggu setelah terinfeksi
pada Periode sejak seseorang terinfeksi HIV sampai terbentuk antibody disebut
periode jendela (window period). Periode jendela ini sangat perlu diketahui oleh
karena sebelum antibody terbentuk di dalam tubuh, HIV sudah ada didalam darah
penderita dan keadaan ini juga sudah dapat menularkan kepada orang lain (Yayasan
Pelita Ilmu, 2012).
Cara pemeriksaan yang umum dipakai ialah dengan pemeriksaan darah
pemeriksaan penentu dengan tekhnik Western Blot. Pertama kali dilakukan tes
ELISA, apabila hasil negative berarti tidak terinfeksi HIV walaupun hasil itu negative
bila baru saja terinfeksi belum lama berselang.
Bila tes memberi hasil positif laboratorium melakukan tes kedua dengan
Western Blot (WB), bila kedua hasil terlihat positif maka penderita tersebut
seropositif atau HIV positif. Jika pemeriksaan ELISA positif dan Western Blot tidak
dapat menentukan dengan pasti atau tidak sepenuhnya negative namun tidak positif
juga ada dua kemungkinan penyebab tes tidak dapat menentukan dengan pasti yaitu
pertama kemungkinan baru terinfeksi dan dalam masa pengembangan serologi positif
(seroconverting) dan dilakukan tes ulangan tidak lama berselang akan menjadi
sepenuhnya positif dalam waktu 1 bulan. Kedua kemungkinan negative tetapi hasil
tes tidak pasti dengan alasan yang tidak akan pernah diketahui dan bila tes tetap tidak
pasti selama 1 sampai 3 bulan berarti tidak terinfeksi, hasil positif 97% dalam waktu
3 bulan dan 100% dalam waktu 6 bulan (Liu dkk, 2005).
2.1.4. Risiko HIV/AIDS
Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang mempunyai resiko kematian yang
tinggi. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan jenis virus yang
menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS merupakan kumpulan tanda dan gejala
penyakit akibat hilangnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Penyakit ini menyerang
sistem kekebalan tubuh sehingga penderita tidak mempunyai kekebalan terhadap
Seseorang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan
penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat.
AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat
atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang yang terinfeksi AIDS
akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang
disekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderita itu akan bertambah
lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya
system kekebalan tubuh, sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak
berbahayapun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.
2.1.5. Tahapan-tahapan HIV Menjadi AIDS
Perkembangan HIV pada tubuh penderita setelah 5-10 tahun terinfeksi HIV.
Tahapan-tahapan HIV menjadi AIDS memiliki gejala-gejala sebagai berikut :
1. Tahap Awal Terinfeksi HIV, gejala mirip influenza (demam, sendi terasa nyeri,
rasa lemah, lesu, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini
akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
2. Tahap Tanpa Gejala, meskipun tanpa gejala tetapi dites darah ditemukan
antibody HIV (HIV +). Masa ini berlangsung 5-7 tahun.
3. Tahap ARC (AIDS Related Complex), muncul gejala-gejala awal AIDS. ARC
adalah istilah yang didapati 2 atau lebih gejala yang berlangsung.
Gejala-gejalanya yaitu : demam selama 3 bulan atau lebih disertai keringat dingin di
malam hari, berat badan turun drastis lebih dari 10%, badan lesu, pembesaran
kelenjar secara lebih luas, diare/mencret terus menerus dalam waktu lama tanpa
sebab yang jelas, batuk dan gejala sesak nafas lebih dari 1 bulan, kulit gatal
bercak-bercak kebiruan, sakit tenggorokan, pendarahan yang tidak jelas
penyebabnya.
4. Tahap AIDS, muncul infeksi lain yang berbahaya seperti TBC, infeksi paru-paru,
infeksi jamur dirongga mulut, tumor kulit/kanker kulit (kaposis sarcoma,
bercak-bercak kemerahan pada kulit) dan pembengkakan kelenjar getah bening.
5. Tahap Gangguan Otak, pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak
dan gangguan mental berupa damensia (gangguan daya ingat), penurunan
2.1.6. Gejala Klinis HIV/AIDS
Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup
dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak akan menunjukkan gejala penyakit namun
terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak
setelah lebih 3 bulan.
Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah : berat badan turun dengan
drastis, demam yang berkepanjangan lebih dari 38ºc, pembesaran kelenjar dileher,
diketiak dan lipatan paha yang timbul tanpa sebab, mencret atau diare yang
berkepanjangan, timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit
atau Kaposi Sarcoma), sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan, sariawan yang
tidak sembuh-sembuh. Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada
penderita AIDS yang lama kelamaan akan berakhir dengan kematian.
Menurut MFMER (Mayo Foundation for Medical Education and Research)
(2008), gejala klinis HIV/AIDS dibagi menjadi 3 fase, yaitu :
a. Fase Infeksi Akut (Acute Retroviral Syndrome)
Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang
menghasilkan virus-virus baru (virion) jumlah berjuta-juta virion. Begitu banyaknya
virion tersebut memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip
semacam flu. Diperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 70% orang yang terinfeksi HIV
mengalami sindrom infeksi akut (ARS) selama 3 sampai 8 minggu setelah terinfeksi
virus.
b. Fase Infeksi Laten
Pembentukan respon imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam Sel
Dendritik Folikuler (SDF) dipusat perrminativum kelenjar limfe menyebabkan virion
dapat dikendalikan, gejala hilang dan mulai memasuki fase laten (tersembunyi). Pada
fase ini jarang di temukan virion diplasma sehingga jumlah virion diplasma menurun
karena sebagian besar virus terakumulasi dikelenjar limfe dan terjadi replikasi di
kelenjar limfe sehingga penurunan limfosit T terus terjadi walaupun virion diplasma
jumlahnya sedikit. Pada fase ini jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga sekitar 500
sampai 200 sel/mm3. Meskipun telah terjadi seropositif individu umumnya belum
menunjukkan gejala klinis (asipmtomatis) fase ini berlangsung sekitar rata-rata 8-10
c. Fase Infeksi Kronis
Selama berlangsungnya fase ini di dalam kelenjar limfe terus terjadi replikasi
virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi
kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus
dicurahkan kedalam darah. Pada fase ini terjadi terjadi peningkatan jumlah virion
secara berlebihan didalam sirkulasi sistemik. Respon imun tidak mampu meredam
jumlah virion yang berlebihan tersebut. Limfosit semakin tertekan karena intervensi
HIV yang semakin banyak. Terjadi penurunan limfosit T ini mengakibatkan system
imun menurun dan pasien semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit infeksi
sekunder. Perjalanan penyakit semakin progesif yang mendorong kea rah AIDS,
infeksi sekunder yang sering menyertai adalah pneumonia, TBC, sepsis, diare, infeksi
virus herpes, infeksi jamur kadang-kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker
yaitu kanker kelenjar getah bening.
2.1.7. Penularan HIV/AIDS
Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular seperti virus influenza. Kita
tidak perlu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan
menular dengan cara-cara seperti : hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak
mengadakan hubungan seksual), bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita,
bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS, makan dan
minum, gigitan nyamuk dan serangga lain, sama-sama berenang dikolam renang.
Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan AIDS adalah : melakukan
hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang
mengandung virus HIV, melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang
sudah dipakai orang yang mengidap virus HIV/AIDS, hubungan prenatal yaitu
pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV/AIDS kepada janin yang
di kandungnya.
a. HIV/AIDS di Tubuh Manusia
HIV/AIDS masuk kedalam tubuh manusia melalui aliran darah penderita.
HIV/AIDS sangat mudah mati di luar tubuh manusia (dengan air panas, sabun dan
bahan-bahan pencuci yang lain), karena itu HIV/AIDS tidak dapat menular melalui
udara. HIV/AIDS dalam tubuh manusia bersarang disalah satu sel darah putih, yaitu
bernama Limfosit yang berada dicairan tubuh. HIV/AIDS awalnya melakukan
penempelan dengan CD-4 reseptor yang ada dipermukaan Limfosit, lalu virus
memasukkan DNA virusnya kedalam inti selnya Limfosit. Virus ini juga dapat
b. Masa Inkubasi HIV/AIDS
Masa inkubasi adalah masa dimana setelah terjadinya penularan sampai
dengan timbulnya gejala penyakit. Ketika mulai masa inkubasi, jumlah sel limfosit
berkurang sampai setengahnya. Dalam kondisi ini, kekebalan masih berfungsi dan
dapat bertahan 9-10 tahun. Tapi setelah 9-10 tahun kekebalan tubuh menjadi tidak
berfungsi lagi dan penderita menjadi penderita AIDS. Gejalanya berupa demam,
keringat dingin dimalam hari, badan lesu, nafsu makan menurun, badan kurus, mudah
terserang flu, mencret, bercak-bercak putih dan timbul penyakit paru-paru.
c. Cara Penularan HIV/AIDS
1. Hubungan Kelamin
Ini disebabkan karena penularan virus HIV terjadi melalui cairan sperma dan
cairan vagina. WHO memperkirakan 70% pengidap AIDS tertular melalui
hubungan kelamin.
2. Transfusi Darah
Ketika darah yang terinfeksi HIV masuk kedarah orang yang sehat, maka
terjadilah penularan virus HIV.
3. Alat-alat Medis
Alat-alat medis seperti jarum suntik, baik untuk pengobatan imunisasi,
menindik, tato, akupuntur, atau yang digunakan untuk pecandu obat bius
4. Ibu Hamil
Apabila ibu hamil tertular virus HIV, maka bayi dalam kandungan berpotensi
tertular virus HIV juga. Dan juga akan menularkan virus HIV melalui air
susu ibu.
5. Cairan Tubuh
Cairan tubuh seperti cairan sperma, cairan vagina, darah, dan ASI menjadi
media penularan virus HIV/AIDS
6. Donor Organ (Transplantasi)
Transplantasi adalah pemindahan jaringan organ tubuh, seperti ginjal, hati
dan lain-lain. Ketika organ tubuh dari orang terkena virus HIV di berikan
kepada orang yang bersangkutan, maka orang yang menerimanya pun
terkena virus HIV.
2.1.8. Kelompok Resiko Tinggi Tertular HIV/AIDS
Mereka yang sering melakukan hubungan seksual diluar nikah, seperti wanita
dan pria tuna susila dan pelanggannya, mereka yang mempunyai banyak pasangan
seksual misalnya : Homo seks (melakukan hubungan dengan sesama laki-laki),
Biseks (melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita), waria dan mucikari,
penerima transfusi darah, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap virus
HIV/AIDS, pecandu narkotika suntikan, pasangan dari pengidap AIDS.
2.1.9. Cara Pencegahan HIV/AIDS
Hindarkan hubungan seksual diluar nikah, usahakan hanya berhubungan
dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain,
pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual, ibu
yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus HIV hendaknya jangan
hamil karena akan memindahkan virus HIV/AIDS kepada janinnya, kelompok resiko
tinggi tidak dianjurkan menjadi donor darah, penggunaan jarum suntik dan alat
lainnya (akupuntur, tato, tindik) harus dijamin ke sterilannya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk
mencegah penularan HIV/AIDS yaitu misalnya: memberikan penyuluhan-penyuluhan
atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan
dengan HIV/AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran
brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan HIV/AIDS, ataupun melalui
iklan di berbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik,
penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan
AIDS sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa
menimbulkan terjadinya virus HIV/AIDS.
Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah
penularan virus HIV melalui perubahan perilaku seksual yang terkenal dengan istilah
“ABC” yang telah terbukti mampu menurunkan percepatan penularan HIV, terutama
di Uganda dan beberapa Negara Afrika lain. Prinsip “ABC” ini telah dipakai dan
dibakukan secara international, sebagai cara paling efektif mencegah HIV lewat
hubungan seksual. Prinsip “ABC” itu adalah:
“A” : Anda jauhi seks sampai anda kawin atau menjalin hubungan jangka panjang
dengan pasangan (Abstinesia)
“B” : Bersikap saling setia dengan pasangan dalam hubungan perkawinan atau
hubungan jangka panjang tetap (Be faithful)
“C” : Cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk penjaja seks
atau orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B (Condom)
Untuk pencegahan penularan non seksual berlaku prinsip “D” dan “E” yaitu :
“D” : Drug, “say no to drug” atau katakan tidak pada napza atau narkoba.
“E” : Equipment “No sharing” jangan memakai alat suntik secara bergantian.
2.1.10. Pengobatan HIV/AIDS
Sampai sekarang belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan
penderita HIV/AIDS. Obat yang ada sekarang hanya sebagai obat penambah daya
tahan tubuh atau memperpanjang umur penderita. Berikut ini obat-obat yang dikenal
1. AZT (Azidothymidine)
Obat ini berfungsi penahan perkembangan virus, namun mengandung efek
samping yaitu kerusakan tulang sum-sum dan anemia berat.
2. DDI (Diseoxycitidine)
Cara kerja obat ini tidak jauh berbeda dengan AZT, tapi telah diuji cobakan
tidak menimbulkan efek samping.
3. DDC (Zalcitabine)
Seperti AZT dan DDI, obat ini juga dapat menahan perkembangan virus. Lalu
para ahli Jepang menemukan obat-obatan HIV/AIDS sebagai berikut :
- M.HDA (Meiji Humin Deritivize Al-Bumin)
Obat ini gabungan Carbadimine Humin dan Succiny Lated Human
Al-Bumin yang terkandung dalam darah. Obat ini kabarnya dapat
menyingkirkan sel-sel limfosit yang digerogoti oleh HIV dengan tidak
membahayakan limfosit normal.
- Tachyplesin
Adalah cairan kimia yang diambil dari sejenis kepiting Tachyplens
tridentotus yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diuji cobakan pada
tikus dengan hasil yang memuaskan, namun masih mengandung efek
samping seperti AZT.
Para ahli Inggris juga menemukan ramuan yang digunakan untuk mengobati
penderita HIV/AIDS, yaitu So 221 dan GLO 223, kedua obat ini masih menimbulkan
tradisional dari Cina, yaitu Milingwang yang diuji cobakan pada 158 pasien AIDS
yang hasilnya paling tidak bisa memperpanjang hidup.
2.1.11. Usaha yang Dilakukan Apabila Terinfeksi HIV/AIDS
Usaha-usaha yang dilakukan apabila terinfeksi virus HIV/AIDS disebut juga
dengan penerapan strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV/AIDS sangat
penting mengetahui dinamika HIV, serta perjalanan penyakit (pathogenesis) sehingga
dapat melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu. Beberapa harapan dan kabar
baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di Kanada saat ini cukup
banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Beberapa obat
penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk mendapat
izin.
Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral Load” yang prosesnya lebih
mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Semua usaha di atas
seharusnya ditunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi
mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi terkena HIV/AIDS selalu
memeriksakan darahnya secara teratur, paling sedikit 3-6 bulan sekali, demi
keselamatan pasangan seksualnya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dengan
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu dengan melaksanakan
ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya,
agar penderitaan yang dirasakannya tidak terlalu berat.
Bagi masyarakat hendaknya jangan menjauhi, mengucilkan mereka yang
misalnya : melalui nasehat-nasehat yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri,
sehingga mereka yang telah mengidap virus HIV/ AIDS tidak putus asa dalam
menjalani hidupnya. Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah HIV/AIDS
dapat diatasi, paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi
dari semua pihak (Ardian, 2006).
2.2. Waria
2.2.1. Pengertian Waria
Waria merupakan kependekan dari wanita pria, atau yang lebih lazim dikenal
banci alias bencong. Waria adalah pria yang jiwa dan tingkah lakunya seperti wanita.
Menurut Salviana (2005), mengatakan bahwa transeksual adalah gejala merasa
memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya.
Waria adalah suatu fenomena yang semakin menjamur di Indonesia. Dilayar
kaca kerap kali kita disuguhi tontonan yang berbau waria. Sebut saja sosok Dorce
Gamalama, waria bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi termasuk artis yang serba bisa
dan masih banyak lagi waria lainnya yang sudah diakui eksistensinya
(keberadaannya) (Nadia, 2005).
Transeksual merupakan keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota
kelompok lawan jenis, biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman atau tidak sesuai
dengan jenis kelamin anatominya, dan menginginkan untuk membedah jenis kelamin
serta menjalani terapi hormonal agar tubuhnya sepadan mungkin dengan jenis
dan mencintai sesama jenis, dan individu-individu yang ikut serta dalam sebuah
komunitas khusus yang para anggotanya memahami bahwa jenis kelamin sendiri
itulah yang merupakan objek seksual yang paling menggairahkan (Koeswinarno,
2005).
Transisi Waria dan gay merupakan salah satu kelompok tinggi risiko tinggi
(risti) untuk tertular IMS dan HIV/AIDS. Dari pengalaman pendamping waria dan
gay diketahui bahwa sebagian besar waria diKota Medan bekerja sebagai pekerja
seks. Aktifitas seks mereka umumnya adalah anal seks dan oral seks. Seks anal atau
melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus, jika
pasangan seks terkena IMS atau HIV maka akan lebih mudah ditularkan dimana
tingkat penggunaan kondom juga masih rendah, demikian juga halnya dengan
informasi tentang penularan IMS dan HIV/AIDS (Nadia, 2005).
Waria memiliki permasalahan yang kompleks terutama dalam masalah
kesehatan dan kependudukan. Banyak kasus menunjukan waria enggan untuk datang
ketempat layanan kesehatan umum karena berbagai alasan. Secara sadar atau tidak
mereka malas memeriksakan diri keklinik VCT, karena VCT merupakan program
Pemerintah untuk kepentingan penyedia layanan ini. Mereka beranggapan bahwa
Pemerintah hanya setengah hati dan tidak tulus dalam menjalankan program.Bentuk
resistensi yang mereka lakukan adalah dengan meminta bayaran ketika petugas
kesehatan yang melakukan Mobile Clinic datang ke lokasi mereka mangkal.
Homoseksual jadi life style khususnya Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau gay kini
trend atau life style karena mengikuti gaya hidup para selebritis dimana akibat
dampak dari pada transisi epidemiologi, misalnya Ricky Martin yang menikah
dengan seorang dokter yang juga tampan. Bahkan kaum gay sudah semakin berani
menampilakan diri secara terbuka kekhalayak ramai .
Gay, Biseksual dan Transeksual ini pun semakin lebih terorganisir tak lain
karena banyaknya dukungan dari foundation di luar negeri yang memperjuangkan
kesamaan hak mereka dengan demikian mereka sudah dianggap normal. Ada banyak
penyebab homoseksualitas, biasanya para gay belajar dari pengalaman seksual
pertama yang nmereka alami. Jika pengalaman seksual pertama yang pertama itu
menyenangkan itu dengan sesama jenis, maka mereka cenderung akan menikamti
hubungan tersebut dan menjadi homoseksualitas (Irma Minauli, uma/mag-11).
Akibat perilaku seksual yang menyimpang tersebut merupakan risiko bisa
menjadi penyebab HIV/AIDS seperti juga halnya waria karena perilaku anal seks
yang diperparah tanpa menggunakan kondom. Jumlah gay di Medan sudah mencapai
1.699 orang sedang jumlah waria 664 orang (KPA Kota Medan). Komunitas gay
termasuk tertutup namun ketika dipetakan jumlahnya 1.699 orang dengan profesi
beraneka ragam. Banyak juga yang memiliki keluarga (anak-isteri) namun memiliki
pasangan gay (KPA, 2007). Secara kasat mata LSL atau gay sukar dibedakan oleh
karena penampilan mereka terlihat seperti pria normal lainnya. Hal ini sangat bertolak
belakang sekali dengan penampilan waria yang nyentrik dengan dandananya. Waria
berpenampilan berhias layaknya seperti wanita dengan menggunakan lipstick, bedak,