• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI

MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014

TESIS

Oleh

WINDY MAIDESI 127032176/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

THE RISK FACTORS OF HIV/ AIDS ON THE SHEMALE GROUP AT SEXUALLY TRANSMITTED INFECTIONS (STIs)

AT BESTARI CLINIC IN THE CITY OF MEDAN 2014

THESIS

By

WINDY MAIDESI 127032176/IKM

MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI

MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Megister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

WINDY MAIDESI 127032176/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(4)

Judul Tesis : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014

Nama Mahasiswa : Windy Maidesi Nomor Induk Mahasiswa : 127032176

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

Tanggal Lulus : 26 Juni 2014

(drh. Hiswani, M.Kes) Anggota

(dr. Rahayu Lubis, M.Kes Ph.D) Ketua

Dekan

(5)

Telah Diuji

pada Tanggal : 26 Juni 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D Anggota : 1. drh. Hiswani, M.Kes

(6)

PERNYATAAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO HIV/AIDS TERHADAP KELOMPOK WARIA DI K LINIK INFEKSI

MENULAR SEKSUAL (IMS) BESTARI KOTA MEDAN TAHUN 2014

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam pustaka.

Medan, Juli 2014

(7)

ABSTRAK

HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia Tahun 1987. Kasus HIV/ADS terus bertambah dan telah menyebar di 33 Provinsi serta 300 Kabupaten/Kota. Akumulasi data penderita HIV sampai dengan akhir tahun 2012 tercatat sebanyak 92.251 kasus. Kasus HIV pada waria di Klinik IMS Bestari dari 15 waria didapatkan ada 3 penderita HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko HIV/AIDS terhadap kelompok waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014.

Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan desain case

control. Populasi adalah seluruh waria yang datang ke klinik IMS Bestari Kota

Medan pada bulan Januari sampai Desember 2013 yang berjumlah 192 orang, sampel berjumlah 36 orang untuk kelompok kasus dan 36 orang untuk kelompok kontrol (Buku Register Klinik IMS Bestari Kota Medan 2013). Analisis data yaitu univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.

Hasil analisis bivariat menunjukkan variable yang memiliki hubungan dengan kejadian HIV/AIDS adalah pengetahuan (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), sikap (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), dan tindakan (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan terhadap kejadian HIV/AIDS pada kelompok waria adalah sikap, dimana waria bersikap kurang baik berisiko terkena HIV/AIDS 3,59 kali lebih besar dibanding dengan waria yang bersikap baik terhadap kejadian HIV/AIDS.

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk memperkuat layanan

VCT(Voluntary Counseling and Testing) dalam rangka pencarian kasus HIV/AIDS

agar mengurangi risiko penularan dan perilaku yang berisiko. Klinik IMS Bestari Kota Medan diharapkan meningkatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat melalui media elektronik, media massa serta meningkatkan kualitas KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) dan penggunaan kondom pada kelompok beresikotinggi.

(8)

ABSTRACT

Since first discoveredin 1987, the HIVAIDS cases have been increasedin 33 provinces and300 districts/cities of Indonesia. The accumulation of HIV/AIDS up to the end of 2012 were92,251cases. Three of the 15 shemales at Sexually Transmitted Infection (STI) Bestari Clinic are found to have suffered from HIV/ AIDS. The purpose of this study was to find out the factors in fluencing the risk of HIV/AIDS on shemale group at STI at Bestari Clinic in the City of Medan in 2014.

The population of this observational analytic study with case control design was192 shemales visited the STI Bestari Clinic in the City of Medan, from January to December 2013. And 36 of them were selected to be the sample in the case group and 36 to be in the control group. The data obtained were analyzed through univariately, bivariately and multivariate analysis by using multiple logistic regression tests.

The results of bivariate analysis showed that the variable of knowledge (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), attitude (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), and action (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200) had in fluence on the incidence of HIV/AIDS in the shemale group. The result of multivariate analysis showed that the dominant variable influenced the incidence of HIV/AIDS in the shemale group was attitude, where the shemales with unfavorable attitude had 3,59 times more risky to be suffered from HIV/AIDS than those with favorable attitude

Medan City Health Service is expected to strengthen the VCT services in order to find the cases of HIV/ AIDS to reduce the risk of transmission and risky behaviors. STI Bestari Clinic in the City of Medan is expected to improve theextension on HIV/ AIDS forthe community through electronic media, mass media as well as improving the quality of IEC and the use of condom among high-risk groups.

.

(9)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang

telah memberikan Rahmat dan Hidayah serta Karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014 ”.

Penyusunan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh

gelar Magister Kesehatan (M.Kes) pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara dengan Minat Studi Administrasi Kesehatan

Komunitas/Epidemiologi.

Proses penulisan tesis dapat terwujud berkat dukungan, bimbingan, arahan,

bantuan, dan kemudahan dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimaksih kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu

(10)

4. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D selaku Ketua Komisi Pembimbing tesis yang

telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam penulisan tesis ini.

5. drh. Hiswani, M.Kes selaku Anggota Komisi Pembimbing tesis yang telah

banyak memberikan arahan dan masukan dalam penulisan tesis ini.

6. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M selaku Ketua Penguji yang telah banyak

memberikan masukan dan saran guna penyempurnaan tesis ini.

7. dr. Mhd Makmur Sinaga, M.S selaku Anggota Penguji yang telah banyak

memberikan masukan dan saran guna penyempurnaan tesis ini.

8. Drg. H. Usma Polita Nst, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan

yang telah memberikan izin penelitian di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota

Medan.

9. dr. H. Indra Gunawan selaku Kepala Puskesmas Bestari Kota Medan yang telah

memberikan izin penelitian di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Medan.

10. dr. Siti Hatati Surjantini, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

Sumatera Utara yang telah memberi izin penulis untuk Pendidikan Pasca Sarjana

IKM-FKM USU

11. Ayahanda Drs. M. Ilyas dan Ibunda Trimey, selaku orang tua yang telah banyak

memberikan dukungan motivasi dan doa selama penulis menyelesaikan

Pendidikan Program Pasca Sarjana.

12. Putriku tercinta Cindy Octavia Siregar, terima kasih atas doa dan kesabaran

(11)

13. Saudara-saudaraku dr. Verdy Vernando, dr. Anthon Vermana, Sp.An, Dicky

Andrea, dan Arnold Yananta terima kasih atas pengorbanan baik moril, materil

dan spiritual yang telah diberikan selama penulis mengikuti pendidikan.

14. Seluruh Dosen Epidemiologi yang sudah member ilmu dan senantiasa rela

memberikan waktu untuk berdiskusi baik formal maupun non formal.

15. Rekan-rekan mahasiswa di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Minat Studi Administrasi

Kesehatan Komunitas/Epidemiologi.

Akhirnya kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materi, penulis ucapkan

terima kasih semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya.

Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam tesis ini masih jauh dari

sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik

dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak, semoga tesis ini dapat

bermanfaat.

Medan, Juli 2014 Penulis

(12)

RIWAYAT HIDUP

Windy Maidesi, lahir pada tanggal 25 Desember 1973, anak pertama dari

lima bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. M.Ilyas dan Ibunda Trimey.

Pendidikan formal penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi

Rantau Prapat tahun 1980, sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri No. 142423

Padang Sidempuan (Tapsel) selesai tahun 1986, Sekolah Menengah Pertama di

SMP Negeri 1 Padang Sidempuan (Tapsel) selesai tahun 1989, Sekolah Menengah

Atas di SMA Swasta UISU Medan selesai tahun 1992, dan Program Studi

Kedokteran Umum (FK) di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Medan selesai tahun 2002.

Penulis bekerja di Praktek Dokter dan Klinik Bersalin Mustika Hati

Tangerang-Banten tahun 2003 sampai 2005, bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten

Pasaman Barat (Sumatera Barat) tahun 2005 sampai 2010, dan bekerja di Dinas

(13)

DAFTAR ISI

1.5. ManfaatPenelitian ... 12

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1. HIV/AIDS ... 13

2.1.1. DefinisiHIV/AIDS ... 13

2.1.2. Epidemi HIV/AIDS ... 15

2.1.3. EtiologidanPatofisiologi ... 18

2.1.4. Risiko HIV/AIDS ... 20

2.1.5. Tahapan-Tahapan HIV/AIDS ... 22

2.1.6. GejalaKlinis HIV/AIDS ... 23

2.1.7. Penularan HIV/AIDS ... 25

2.1.8. KelompokResikoTinggiTertular HIV/AIDS ... 28

2.1.9. Cara Pencegahan HIV/AIDS ... 29

2.1.10.Pengobatan HIV/AIDS ... 30

2.1.11.Usaha yang DilakukanApabilaTerinfeksi HIV/AIDS 32

2.2. Waria ... 33

2.2.1. PengertianWaria ... 33

2.2.2. JenisWaria ... 36

2.2.3. Ciri-ciriWaria ... 37

(14)

2.3. FaktorRisiko HIV/AIDS padaKelompokWaria ... 38

2.3.1. Umur ... 38

2.3.2. Pendidikan ... 39

2.3.3. Pekerjaan ... 39

2.4. PerilakuKesehatan ... 41

2.4.1. DefinisiPerilakuKesehatan ... 41

2.4.2. DeterminanPerilakuKesehatan ... 42

2.4.3. DeterminanPerilakuTerkaitPenelitian ... 44

2.5. LandasanTeori ... 47

2.6. KerangkaKonsep ... 49

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 50

3.1. JenisdanDesainPenelitian ... 50

3.2. LokasidanWaktuPenelitian ... 51

3.2.1. LokasiPenelitian ... 51

3.2.2. WaktuPenelitian ... 51

3.3. PopulasidanSampelPenelitian ... 51

3.3.1. PopulasiPenelitian ... 51

3.3.2. SampelPenelitian ... 52

3.3.3. PengambilanSampel ... 53

3.4. MetodePengumpulan Data ... 53

3.5. UjiValiditasdanUjiReliabilitas ... 54

3.6. DefenisiOperasional ... 56

3.7. AspekPengukuran ... 57

3.8. MetodeAnalisa Data ... 58

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 60

4.1. DeskriptifLokasiPenelitian ... 60

4.1.1. KeadaanGeografi ... 60

4.1.2. JumlahPenduduk ... 61

4.1.3. KeadaanKlinik IMS Bestari ... 61

4.2. AnalisisUnivariat ... 62

4.2.1. DeterminanBerdasarkan Host ... 62

4.2.2. Pengetahuan ... 63

4.2.3. Sikap ... 63

4.2.4. Tindakan ... 64

(15)

4.3. AnalisisBivariat ... 65

4.3.1. HubunganUmurdenganKejadian HIV/AIDS ... 65

4.3.2. HubunganPendidikandenganKejadian HIV/AIDS ... 66

4.3.3. HubunganPekerjaandenganKejadian HIV/AIDS ... 66

4.3.4. HubunganPengetahuandenganKejadian HIV/AIDS ... 67

4.3.5. HubunganSikapdenganKejadian HIV/AIDS ... 67

4.3.6. HubunganTindakandenganKejadian HIV/AIDS ... 68

4.4. AnalisisMultivariat ... 69

BAB 5. PEMBAHASAN ... 73

5.1. PengaruhantaraKarakteristikterhadapKejadian HIV/AIDSdiKlinik IMS Bestari Medan ... 73

5.1.1. Umur ... 73

5.1.2. Pendidikan ... 75

5.1.3. Pekerjaan ... 77

5.2. PengaruhantaraPerilakuterhadapKejadian HIV/AIDSdiKlinik IMS Bestari Medan ... 80

5.2.1. Pengetahuan ... 80

5.2.2. Sikap ... 85

5.2.3. Tindakan ... 89

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 94

6.1. Kesimpulan ... 94

6.2. Saran ... 94

(16)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1 Rencana Waktu Penelitian ... 54

3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengetahuan ... 54

3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Sikap ... 55

3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Tindakan ... 56

3.4 Aspek Pengukuran Variabel Independen dan Variabel Dependen ... 57

4.1. Distribusi Frekuensi di Klinik IMS Bestari Medan Berdasarkan Karakteristik Waria (Umur, Pendidikan dan Pekerjaan) ... 62

4.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 63

4.3 Distribusi Frekuensi Sikap Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 64

4.4 Distribusi Frekuensi Tindakan Waria terhadap Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 64

4.5 Distribusi Frekuensi Kejadian HIV/AIDS padaWaria di Klinik IMS Bestari Medan ... 65

4.6 Hubungan Umur dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 66

4.7 Hubungan Pendidikan dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari Medan ... 66

(17)

4.9 Hubungan Sikap dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS Bestari

Medan ... 68

4.10 Hubungan Tindakan dengan Kejadian HIV/AIDS di Klinik IMS

Bestari Medan ... 68

4.11 Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat (Kandidat)... 69

(18)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1.1. Deskripsi Penyebaran HIV dari 1 Orang HIV+ ... 2

1.2. Regional Overview HIV/AIDS ... 4

2.1. Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun ... 17

2.2. Cara Penularan Virus HIV/AIDS dalamTubuh ... 21

2.3. Virus Penyebab HIV/AIDS ... 23

2.4. Sumber Risiko Pemicu Epidemi HIV di Indonesia ... 25

2.5. Persentase AIDS Dilaporkan Menurut Faktor RisikoTahun 2012 ... 28

2.6. Bagan Precede Lawrence W. Green ... 43

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Informed Consent ... 99

2. Kuesioner ... 100

3. POA ... 104

4. Master Data ... 105

5. Hasil Uji Statistik ... 106

6. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 133

7. Dokumentasi Penelitian ... 139

7. Surat Izin Uji Kuesioner Klinik IMS Veteran Kota Medan... 142

8. Surat Izin Pendahuluan Dinkes Kota Medan ... 143

9. Surat Izin Penelitian Puskesmas Bestari Kota Medan ... 144

(20)

ABSTRAK

HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia Tahun 1987. Kasus HIV/ADS terus bertambah dan telah menyebar di 33 Provinsi serta 300 Kabupaten/Kota. Akumulasi data penderita HIV sampai dengan akhir tahun 2012 tercatat sebanyak 92.251 kasus. Kasus HIV pada waria di Klinik IMS Bestari dari 15 waria didapatkan ada 3 penderita HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko HIV/AIDS terhadap kelompok waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014.

Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan desain case

control. Populasi adalah seluruh waria yang datang ke klinik IMS Bestari Kota

Medan pada bulan Januari sampai Desember 2013 yang berjumlah 192 orang, sampel berjumlah 36 orang untuk kelompok kasus dan 36 orang untuk kelompok kontrol (Buku Register Klinik IMS Bestari Kota Medan 2013). Analisis data yaitu univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.

Hasil analisis bivariat menunjukkan variable yang memiliki hubungan dengan kejadian HIV/AIDS adalah pengetahuan (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), sikap (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), dan tindakan (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan terhadap kejadian HIV/AIDS pada kelompok waria adalah sikap, dimana waria bersikap kurang baik berisiko terkena HIV/AIDS 3,59 kali lebih besar dibanding dengan waria yang bersikap baik terhadap kejadian HIV/AIDS.

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk memperkuat layanan

VCT(Voluntary Counseling and Testing) dalam rangka pencarian kasus HIV/AIDS

agar mengurangi risiko penularan dan perilaku yang berisiko. Klinik IMS Bestari Kota Medan diharapkan meningkatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat melalui media elektronik, media massa serta meningkatkan kualitas KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) dan penggunaan kondom pada kelompok beresikotinggi.

(21)

ABSTRACT

Since first discoveredin 1987, the HIVAIDS cases have been increasedin 33 provinces and300 districts/cities of Indonesia. The accumulation of HIV/AIDS up to the end of 2012 were92,251cases. Three of the 15 shemales at Sexually Transmitted Infection (STI) Bestari Clinic are found to have suffered from HIV/ AIDS. The purpose of this study was to find out the factors in fluencing the risk of HIV/AIDS on shemale group at STI at Bestari Clinic in the City of Medan in 2014.

The population of this observational analytic study with case control design was192 shemales visited the STI Bestari Clinic in the City of Medan, from January to December 2013. And 36 of them were selected to be the sample in the case group and 36 to be in the control group. The data obtained were analyzed through univariately, bivariately and multivariate analysis by using multiple logistic regression tests.

The results of bivariate analysis showed that the variable of knowledge (OR=3,250;95%CI 1,217-8,676), attitude (OR=3,500;95%CI 1,260-9,724), and action (OR=3,750;95%CI 1,379-10,200) had in fluence on the incidence of HIV/AIDS in the shemale group. The result of multivariate analysis showed that the dominant variable influenced the incidence of HIV/AIDS in the shemale group was attitude, where the shemales with unfavorable attitude had 3,59 times more risky to be suffered from HIV/AIDS than those with favorable attitude

Medan City Health Service is expected to strengthen the VCT services in order to find the cases of HIV/ AIDS to reduce the risk of transmission and risky behaviors. STI Bestari Clinic in the City of Medan is expected to improve theextension on HIV/ AIDS forthe community through electronic media, mass media as well as improving the quality of IEC and the use of condom among high-risk groups.

.

(22)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

Syndrome) merupakan masalah kesehatan di dunia sejak tahun 1981, penyakit ini

berkembang secara pandemik. Obat dan vaksin untuk mengatasi masalah tersebut

belum ditemukan, yang dapat mengakibatkan kerugian tidak hanya di bidang

kesehatan tetapi juga di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan demografi

(DepKes RI, 2010).

HIV adalah epidemi yang sudah berkembang menjadi krisis global. Penyakit

ini juga memiliki “window periode” dan fase asimptomatik (tanpa gejala) yang relatif

panjang dalam perjalanan penyakitnya Hal tersebut diatas menyebabkan pola

perkembangannya seperti Fenomena Gunung Es (iceberg phenomena).

Di seluruh dunia lebih dari 20 juta orang telah meninggal karenanya, dan

menurut data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) hingga

September 2008 tercatat 32,3 juta orang terjangkit HIV/AIDS. Diperkirakan tidak

kurang dari 6800 orang terinfeksi HIV setiap harinya dan lebih dari 5700 orang

meninggal karena AIDS. HIV/AIDS merupakan ancaman yang sangat serius bagi

pertumbuhan sosio-ekonomi, stabilitas dan keamanan di negara-negara berkembang

(23)

Berdasarkan case report United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS)

tahun 2011 jumlah orang yang terjangkit HIV di dunia sampai akhir tahun 2010

terdapat 34 juta orang, dua pertiganya tinggal di Afrika kawasan Selatan Sahara, di

kawasan itu kasus infeksi baru mencapai 70%, di Afrika Selatan 5,6 juta orang

terinfeksi HIV, di Eropa Tengah dan Barat jumlah kasus infeksi baru HIV/AIDS

sekitar 840 ribu, di Jerman secara Kumulasi ada 73 ribu orang, kawasan Asia Pasifik

merupakan urutan kedua terbesar di dunia setelah Afrika Selatan dimana terdapat 5

juta penderita HIV.

Gambar 1.1. Deskripsi Penyebaran HIV dari 1 Orang HIV+

Menurut WHO di laporkan bahwa pada tahun 2011 terdapat 3,5 juta orang di

Asia Tenggara hidup dengan HIV/AIDS. Beberapa Negara seperti Myanmar, Nepal

dan Thailand menunjukkan Tren penurunan untuk infeksi baru HIV, hal ini

(24)

melalui program Condom use 100 persen (CUP). Tren kematian yang disebabkan

oleh AIDS antara tahun 2001 sampai 2010 berbeda disetiap bagian Negara. Di Eropa

Timur dan Asia Tengah sejumlah orang meninggal karena AIDS meningkat dari

7.800 menjadi 90.000, di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat dari 22.000

menjadi 35.000, di Asia Timur juga meningkat dari 24.000 menjadi 56.000 (WHO,

Progress Report 2011).

Situasi masalah HIV-AIDS Triwulan IV (Oktober-Desember) tahun 2012

yaitu laporan HIV dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2012 jumlah infeksi

baru HIV yang dilaporkan sebanyak 6.139 orang. Persentase infeksi HIV tertinggi

dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (61,6%), diikuti kelompok umur ≥50

tahun (20,1%), dan kelompok umur 20-24 tahun (12,5%). Rasio HIV antara laki-laki

dan perempuan adalah 1:1. Persentase faktor risiko HIV tertinggi hubungan seks

berisiko pada heteroseksual (52,8%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada

penasun (10,3%), dan LSL (lelaki seks lelaki) (7,7%). Berdasarkan laopran AIDS

bahwasanya dari bulan Oktober sampai Desember 2012 jumlah AIDS yang

dilaporkan sebanyak 2.145 orang. Persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur

30-39 tahun (35,05%) diikuti kelompok umur 20-29 tahun (24,8%) dan kelompok

umur 40-49 tahun (17,6%). Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.

Jumlah AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Jawa Tengah (486), Bali (429),

Papua (416), DIY (176) dan Sulawesi Selatan (156). Persentase faktor risiko AIDS

(25)

anak (4,1%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (3,8%) dan (lelaki

seks lelaki) (2,8%) (Kemenkes, 2013).

Gambar 1.2. Regional Overview HIV/AIDS

Penderita HIV pertama di Indonesia dilaporkan adalah seorang wisatawan

Belanda yang mengunjungi Bali pada tahun 1987. Pada tahun 1987, di Indonesia

hanya ada sembilan kasus HIV kemudian jumlah ini terus bertambah setiap tahun.

Kasus HIV di Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan. Jika pada tahun 2005

terdapat 2.639 kasus HIV, akhir tahun 2010 angkanya sudah meningkat tajam

menjadi 4.158 kasus. Secara kumulatif kasus HIV sejak 1 Januari 1987 sampai

dengan 30 September 2012 sebanyak 92.251 kasus pada 33 provinsi dan 300

kabupaten/kota. Rate kumulatif kasus HIV Nasional sampai dengan September 2012

adalah 16,59 per 100.000 penduduk (berdasarkan data BPS 2011, jumlah penduduk

Indonesia 238.893.400 jiwa) dengan rasio kasus HIV antara laki-laki dan perempuan

adalah 3:1 (Depkes RI, 2012).

Desember 2008 tercatat jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS sebanyak

(26)

di Jawa Barat tercatat 2975 orang terinfeksi HIV/AIDS dengan prevalensi 4,3 per

100.000 populasi dengan tambahan 230 kasus baru setiap tahunnya (Depkes RI,

2008).

Salah satu efek jangka panjang endemi HIV yang telah meluas seperti yang

telah terjadi di Papua adalah dampaknya pada indikator demografi. Karena tingginya

proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini,

dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Karena semakin

banyak orang yang diperkirakan hidup dalam jangka waktu yang lebih pendek,

kontribusi yang diharapkan dari mereka pada ekonomi nasional dan perkembangan

sosial menjadi semakin kecil dan kurang dapat diandalkan. Pada tingkat makro,

sumber daya yang seharusnya digunakan untuk aktivitas produktif terpaksa dialihkan

pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota keluarga

yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat (KPA, 2007).

Hingga saat ini HIV masih merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat utama di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai

dengan tahun 2011, kasus HIV tersebar diseluruh (33) Propinsi di Indonesia yaitu 368

(73,9%) dari 498 total penderita HIV/AIDS. Propinsi pertama kali ditemukannya

adanya kasus HIV adalah Provinsi Bali (1987), sedangkan yang terakhir melaporkan

adanya kasus HIV (2011) adalah Provinsi Sulawesi Barat (Kemenkes, 2012).

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), menyatakan bahwa hasil kajian para

ahli epidemiologi Indonesia tentang kecenderungan epidemi HIV, maka pada tahun

(27)

pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Penularan

dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus

berlanjut Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV secara

kumulatif pada lebih dari 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinfeksi

HIV (Komunitas AIDS Indonesia, 2011).

Walaupun HIV/AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi

mikroorganisme, namun ternyata dalam penyebarannya sangat dipengaruhi oleh pola

perilaku dan gaya hidup seseorang (Laksana, 2010). Upaya pencegahan HIV/AIDS

terutama didasarkan pada upaya untuk melakukan perubahan perilaku seksual

seseorang yang beresiko tertular dan promosi penggunaan kondom (DepKes RI,

2010).

Tiga kelompok populasi yang menduduki peringkat teratas dalam pembagian

populasi yang terinfeksi HIV/AIDS adalah heteroseksual, IDU (Injecting Drug User)

dan homoseksual. Homoseksual adalah laki-laki yang melakukan hubungan seks

dengan sesama laki-laki dan waria atau transgender, merupakan salah satu golongan

yang berisiko tinggi dalam penyebaran HIV/AIDS. Waria sering kali dianggap rendah

dan disisihkan dari masyarakat. Perilaku marginalisasi tersebut mengakibatkan

komunitas waria dan homoseksual seringkali bersifat tertutup, sehingga sangat sulit

untuk mengadakan komunikasi untuk mensosialisasikan informasi dan

program-program menyangkut HIV/AIDS (Ardian, 2006).

Masalah HIV/AIDS adalah masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan

(28)

setiap tahunnya sangat meningkat secara signifikan. Di tanah Papua epidemi HIV

sudah masuk kedalam masyarakat (generalized epidemic), dengan prevalensi HIV

dipopulasi dewasa sebesar 2,4%. Sedangkan dibanyak tempat lainnya dalam kategori

terkonsentrasi dengan prevalensi HIV >5% pada populasi waria. Apabila dilihat

berdasarkan jenis kelamin, kasus AIDS dilaporkan banyak ditemukan pada laki-laki

yaitu 74,5%, sedangkan pada perempuan 25% (DepKes RI, 2008).

Kaum waria merupakan suatu paparan nyata yang tidak dapat ditolak

eksistensinya dimasyarakat. Pada tahun 1920 muncul komunitas homoseksual di kota

besar Hindia – Belanda. Pada tahun 1969 berlangsung pertikaian antara waria dan gay

dengan polisi yang dikenal dengan istilah huru hara stonewall, yang terjadi di

NewYork Amerika. Kejadian tersebut menjadi langkah awal bagi waria dan gay

dalam mempublikasikan keberadaan mereka (Ardian, 2006).

Pada tahun yang sama mulai muncul organisasi waria yang bernama

Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD). Pada tahun 2009 berdasarkan data Yayasan

Srikandi Sejati (Hamid, 2011) sebuah lembaga yang mengurusi masalah waria,

jumlah waria Indonesia mencapai 6.000.000 orang. Waria merupakan salah satu

kelompok risiko tinggi penyebar HIV/AIDS yang keberadaannya saat ini cukup

mengkhawatirkan karena aktivitas yang melekat dalam kesehari-harian mereka.

Aktivitas seksual pada waria sebagai pekerja seksual dianggap beresiko tinggi karena

mereka mempunyai banyak pasangan seksual pria dan kemungkinan besar pasangan

(29)

belum menikah. Kelompok ini bahkan besar kemungkinan atau risikonya lebih tinggi

tertular penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Seperti kita ketahui keberadaan kaum transgender seperti waria di Indonesia

masih dilihat sebelah mata. Tidak sedikit dari kita yang menganggap jijik dan sinis.

Padahal transgender ini amat rentan mengalami diskriminasi dan tindak kekerasan.

Mereka kerap menjadi korban kekerasan dan pembunuhan, baik oleh perorangan ,

aparat hukum, atau kelompok anti waria atas dasar kebencian dan prasangka buruk.

Para waria di Indonesia banyak kita temui dipinggir jalan sebagai pengamen atau

pekerja seks.

Bila kita bandingkan dengan keberadaan waria di Thailand sangatlah berbeda

360 derajat. Di Thailand sulit kita membedakan para waria dengan wanita asli.Berkat

kecanggihan teknologi operasi disana, para waria akhirnya mempunyai kulit mulus,

wajah cantik, badan langsing, payudara montok, dan berjari lentik. Berbeda sekali

dengan para waria di Indonesia yang berbadan kekar, berkulit kasar dan sedikit

seram.

Di Thailand waria justru menjadi primadona industri hiburan. Mereka tidak

hanya cantik tapi juga kreatif dalam unjuk kebolehan. Pemerintah disana pun

memberikan dukungan atas kreativitas para waria tersebut dengan dijadikan sebagai

objek wisata dan pemilihan waria Thailand seperti layaknya kontes pemilihan putri

kecantikan. Para pemenang akan menjadi model dalam pertunjukan cabaret digedung

Alcazar. Pada akhir pertunjukan biasanya para penonton diberi kesempatan untuk

(30)

tambahan uang untuk para waria. Mereka tidak perlu bersusah payah merayu seperti

para waria di Indonesia, karena dengan sendirinya para penonton membayar.

Sebaliknya dengan keberadaan waria di Indonesia yang melekat stigma dan

diskriminasi. Tak jarang para waria selalu berurusan dengan Satpol Pamong Praja.Hal

ini berpengaruh pada rendahnya pendapatan waria di Indonesia sehingga banyak dari

mereka yang mengamen dan turun kejalan mengakibatkan rentan terhadap

HIV/AIDS. Perilaku marginalisasi yang diderita oleh kaum waria dan homoseksual

ini memaksa mereka untuk berlaku heteroseksual dipermukaan untuk melepaskan diri

dari status marginal atau tersisih. Keadaan ini berdampak buruk pada laju penyebaran

HIV/AIDS di masyarakat karena mereka akan melakukan hubungan seks dengan

laki-laki dan juga dengan istri sah mereka (Iis, 2008).

Kasus Kumulatif HIV/AIDS yang dilaporkan di kabupaten Brebes tercatat 60

yang terdeteksi sejak tahun 2010 sampai April 2013., di Kota Tegal dilaporkan 211

yang terdeteksi sejak 2008 sampai Oktober 2012 yang terdiri atas 117 HIV dan 94

AIDS, dan di Kabupaten Pemalang 61 HIV dan 26 AIDS dengan 19 kematian karena

waria dinilai memiliki risiko besar penularan HIV/AIDS (Kemenkes, 2012).

Paparan penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara terus meningkat. Setidaknya

hingga Juli 2012 jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS mencapai 3.684 orang. Dari

data Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat peningkatan jumlah

penderita HIV/AIDS berkisar 200 penderita setiap tahunnya. Dari data Komisi

Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Medan menyatakan bahwa Kecamatan Medan

(31)

kecamatan Medan Sunggal dengan 245 gay, dan peringkat ketiga ditempati Medan

Petisah dengan 208 gay. Untuk waria, Medan Baru menduduki tempat pertama

dengan 161 waria, Medan Johor di posisi kedua dengan 134 waria, dan Medan

Petisah di posisi ketiga dengan 93 waria. Dari survey awal yang dilakukan di Klinik

IMS Bestari Medan Kota peneliti mendapatkan data di bulan Desember 2013 bahwa

dari 15 waria yang mendatangi klinik IMS didapatkan hasil rata-rata setiap bulannya

ada 3 penderita HIV/AIDS dari kelompok waria yang berobat di Klinik IMS Bestari

Kota Medan (Dinkes, 2013).

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merasa perlu melakukan

penelitian tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan tahun

2014.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis ingin mengetahui “Apakah

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di

Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014?”.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV.AIDS

terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota

(32)

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Umur di klinik Infeksi Menular Seksual

(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.

1.3.2.2. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Pendidikan di klinik Infeksi Menular Seksual

(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.

1.3.2.3. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Pekerjaan di klinik Infeksi Menular Seksual

(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.

1.3.2.4. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Pengetahuan di klinik Infeksi Menular

Seksual (IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.

1.3.2.5. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Sikap di Klinik Infeksi Menular Seksual

(IMS) Bestari Kota Medan tahun 2014.

1.3.2.6. Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV/AIDS terhadap

Kelompok Waria berdasarkan Tindakan menggunakan kondom di Klinik

(33)

1.4. Hipotesis

Ada pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Tindakan untuk mencegah Risiko

HIV/AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS)

Bestari Kota Medan Tahun 2014.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan serta Pemerintah

Kota Medan dalam menentukan kebijakan untuk pencegahan dan

penanggulangan HIV/AIDS.

1.5.2. Sebagai bahan masukan bagi KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota

Medan dan LSM dalam pencarian kasus HIV/AIDS dan penanggulangan

HIV/AIDS.

1.5.3. Sebagai bahan masukan bagi instansi dan stakeholder terkait dalam

memberikan penyuluhan terutama perilaku beresiko untuk penggunaan

kondom di kalangan beresiko terkena HIV/AIDS juga sebagai referensi dalam

perencanaan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

1.5.4. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan

(34)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HIV/AIDS

2.1.1. Definisi HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk dalam

family lentivirus. Dua jenis HIV yang secara genetiknya berbeda tetapi sama dari

antigennya berhubungan yaitu 1 dan 2 diisolasi dari penderita AIDS.

HIV-1 lebih banyak dijumpai pada penderita AIDS di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika

Tengah, manakala HIV-2 lebih banyak dijumpai di Afrika Barat, HIV-1 lebih mudah

ditransmisi berbanding HIV-2. Periode antara infeksi pertama kali dengan timbul

gejala penyakit adalah lebih lama dan penyakitnya lebih ringan pada infeksi HIV-2

(WHO, 2008).

Menurut Green (2007), HIV merupakan singkatan dari Human

Immunnedeficiency Virus. Disebut human (manusia) karena virus ini hanya dapat

menginfeksi manusia, immunodeficiency karena efek virus ini adalah melemahkan

kemampuan system kekebalan tubuh untuk melawan segala penyakit yang menyerang

tubuh, termasuk golongan virus karena salah satu karakteristiknya adalah tidak

mampu memproduksi diri sendiri, melainkan memanfaatkan sel-sel tubuh. Sel darah

putih manusia sebagai sel yang berfungsi untuk mengendalikan atau mencegah

(35)

HIV yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terserang

penyakit (Nursalam, 2011).

HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat

berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk system

kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit,

tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita

dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang

terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan

waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berubah

menjadi AIDS yang mematikan (WHO, 2008).

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.

Acquired artinya di dapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan. Immuno berarti

sistem kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan, sedangkan Syndrome adalah

kumpulan gejala. AIDS adalah sekumpulan gejala yang didapatkan dari penurunan

kekebalan tubuh akibat kerusakan system imun yang disebabkan oleh infeksi HIV.

Penularan virus HIV dapat terjadi melalui darah, air mani, hubungan seksual, atau

cairan vagina. Namun virus ini tidak dapat menular lewat kontak fisik biasa, seperti

berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV

(36)

2.1.2. Epidemi HIV/AIDS a. Epidemi Global

Sejarah tentang HIV/AIDS dimulai ketika tahun 1979 di Amerika Serikat

ditemukan seorang gay muda dengan Pneumocytis Carinii dan dua orang gay muda

dengan Sarcoma Kaposi. Pada tahun 1981 ditemukan seorang gay muda dengan

kerusakan system kekebalan tubuh. Pada tahun 1980 WHO mengadakan pertemuan

yang pertama tentang AIDS.

Prevalensi AIDS pada tahun 1993 sebesar 900.000. Sedangkan pada akhir

tahun 2000 sebanyak 2 juta orang. Pada tahun 2001 insidensi infeksi HIV baru pada

anak sebanyak 800.000 dengan 580.000 kematian akibat HIV/AIDS. Dari 800.000

anak, 65.000 kasus terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sampai akhir tahun

2002 terdapat 42 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dari jumlah ini 28,5 juta (68%)

hidup di Afrika sub-Sahara dan 6 juta (14%) berada di Asia Selatan dan Asia

Tenggara. Pada tahun 2002 terdapat 5 juta orang baru terinfeksi HIV dan 3,1 juta

orang meninggal karena HIV/AIDS.

Di Amerika Utara dan Inggris, epidemic pertama terjadi pada kelompok

laki-laki homoseksual, selanjutnya dan pada saat ini epidemi terjadi juga pada pengguna

obat suntik dan pada populasi heteroseksual. Di Afrika ditemukan bahwa HIV

disebarkan terutama melalui hubungan seksual heteroseksual, seks tanpa kondom

adalah modus utama penularan HIV di Karibia. Survey menunjukkan persentase

prevalensi HIV pada beberapa kelompok yaitu : 80-90% PSK, 30% kelompok

(37)

penyakit menular seksual, 10% pada pendonor darah dan 10% pada kelompok wanita

yang diperiksa di klinik perawatan antenatal. Di San Fransisco dan New York, AIDS

saat ini merupakan penyebab utama kematian premature pada laki-laki usia muda.

Sampai dengan tahun 2010 jumlah penderita HIV di seluruh dunia sebanyak 34 juta

orang (UNAIDS, 2011).

Men Sex Men (MSM) Report World Bank (2011) melaporkan di seluruh dunia

diperkirakan bahwa seks antar laki-laki termasuk kelompok penyumbang kejadian

infeksi HIV, situasinya bervariasi antar Negara, tahun 2008 di Equador (15,9%), Peru

(13,80%), Uruguay (18,90%), Argentina (12,10%), Panama (10,60%), Elsavador

(7,90%), Nicaragua (9,30%), Mexico (25,60%), Jamaica (31,80%), di Brazil tahun

2003 sampai 2008 sebesar 8,2%, pada tahun 2002 sampai 2009 di Peru (13,30%),

Ukraina (10,60%), Kenya (15,20%), Thailand (23,00%), Rusia (3,4%), India (16,5%),

pada tahun 2005 di Thailand tepatnya di Bangkok (28,3%). Penelitian yang lain di

Indonesia (4%), Bangladest (7,5%), Srilanka (7,5%), Nepal (7,5%) (UNAIDS, 2011).

Studi laki-laki gay Afrika menunjukkan bahwa seks anal tanpa kondom

adalah biasa, prevalensi HIV diantara laki-laki dibeberapa daerah di Afrika Barat

yang berhubungan seks dengan laki-laki sebesar 25,3%, di Kenya 43%, di Afrika

Selatan dimana seks antara laki-laki adalah legal, prevalensi HIV antara 20% dan

40% (UNAIDS, 2011).

b. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia

Di Indonesia, HIV pertama kali dilaporkan di Bali pada bulan April 1987,

(38)

635 kasus HIV dan 183 kasus baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan

kasus HIV dan AIDS secara signifikan di Indonesia. Kasus AIDS tahun 2000 tercatat

255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada tahun 2003. Kasus HIV meningkat

cepat tahun 2005 (859 kasus), tahun 2006 (7.195 kasus), tahun 2007 (6.048 kasus),

tahun 2008 (10.362 kasus), tahun 2009 (9.793 kasus), tahun 2010 (21.591 kasus),

tahun 2011 (21.031 kasus). Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai

dengan tahun 2011 sebanyak 76.879 kasus. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI

Jakarta (19.899 kasus), diikuti Jawa Timur (9.950 kasus), Papua (7.085 kasus), Jawa

Barat (5.741 kasus) dan Sumatera Utara (5.027 kasus).

Gambar 2.1. Grafik Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun

Kasus AIDS sampai dengan tahun 2004 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan

sebanyak 2.682 kasus, tahun 2005 (2.639 kasus), tahun 2006 (2.873 kasus), tahun

2007 (2.947 kasus), tahun 2008 (4.969 kasus), tahun 2009 (3.863 kasus), tahun 2010

(5.774 kasus), tahun 2011 (4.162 kasus). Jumlah kumulatif kasus AIDS yang

(39)

tertinggi yaitu DKI Jakarta (5.177 kasus), diikuti Jawa Timur (4.598 kasus), Papua

(4.449 kasus), Jawa Barat (3.939 kasus) dan Bali (2.428 kasus). Persentase kasus

AIDS pada laki-laki sebanyak 70,8% dan perempuan 28,2%. Angka kematian (CFR)

menurun dari 40% pada tahun 1987 menjadi 2,4% pada tahun 2011.

2.1.3. Etiologi dan Patofisiologi

AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV, virus ini ditemukan oleh

Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang

mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala Limfadenopati, sehingga pada

waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), Gallo (National

Institute of Health, USA 1984) menemukan virus HTL-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan

bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International

Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberikan nama resmi HIV

(Widoyono, 2005).

HIV termasuk kelompok retrovirus, virus yang mempunyai enzim (protein)

yang dapat merubah RNA, materi genetiknya menjadi DNA. Kelompok retrovirus

karena kelompok ini membalik urutan normal yaitu DNA diubah (replikasi) menjadi

RNA. Setelah menginfeksi RNA HIV berubah menjadi DNA oleh enzim yang ada

dalam virus HIV yang dapat mengubah RNA virus menjadi (reversetranscriptase)

sehingga dapat disisipkan kedalam DNA sel-sel manusia. DNA itu kemudian dapat

digunakan untuk membuat virus baru (virion), yang menginfeksi sel-sel baru, atau

(40)

seperti limfosit sel-sel CD4 (Sel-T Pembantu) yang istirahat sebagai target paling

penting dalam penyerangan virus ini (Nursalam, 2011).

Sel CD4 adalah salah satu tipe dari sel darah putih yang bertanggung jawab

untuk mengendalikan atau mencegah infeksi oleh banyak virus yang lain, bakteri,

jamur, dan parasit dan juga beberapa jenis kanker. Kemampuan HIV untuk tetap

tersembunyi dalam DNA dari sel-sel manusia yang hidup lama, tetap ada seumur

hidup membuat infeksi menyebabkan kerusakan sel-sel CD4 dan dalam waktu

panjang, jumlah sel-sel CD4 menurun menjadi masalah yang sulit untuk ditangani

bahkan dengan pengobatan efektif (Liu dkk, 2005).

Apabila sudah banyak sel T4 yang hancur, terjadi gangguan imunitas seluler,

daya kekebalan penderita menjadi terganggu sehingga kuman yang tadinya tidak

berbahaya atau dapat dihancurkan oleh tubuh sendiri (infeksi oportunistik) akan

berkembang lebih leluasa dan menimbulkan penyakit yang serius yang pada akhirnya

penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apabila sudah masuk kedalam darah, HIV

dapat merangsang pembentukan antibody dalam waktu 3-8 minggu setelah terinfeksi

pada Periode sejak seseorang terinfeksi HIV sampai terbentuk antibody disebut

periode jendela (window period). Periode jendela ini sangat perlu diketahui oleh

karena sebelum antibody terbentuk di dalam tubuh, HIV sudah ada didalam darah

penderita dan keadaan ini juga sudah dapat menularkan kepada orang lain (Yayasan

Pelita Ilmu, 2012).

Cara pemeriksaan yang umum dipakai ialah dengan pemeriksaan darah

(41)

pemeriksaan penentu dengan tekhnik Western Blot. Pertama kali dilakukan tes

ELISA, apabila hasil negative berarti tidak terinfeksi HIV walaupun hasil itu negative

bila baru saja terinfeksi belum lama berselang.

Bila tes memberi hasil positif laboratorium melakukan tes kedua dengan

Western Blot (WB), bila kedua hasil terlihat positif maka penderita tersebut

seropositif atau HIV positif. Jika pemeriksaan ELISA positif dan Western Blot tidak

dapat menentukan dengan pasti atau tidak sepenuhnya negative namun tidak positif

juga ada dua kemungkinan penyebab tes tidak dapat menentukan dengan pasti yaitu

pertama kemungkinan baru terinfeksi dan dalam masa pengembangan serologi positif

(seroconverting) dan dilakukan tes ulangan tidak lama berselang akan menjadi

sepenuhnya positif dalam waktu 1 bulan. Kedua kemungkinan negative tetapi hasil

tes tidak pasti dengan alasan yang tidak akan pernah diketahui dan bila tes tetap tidak

pasti selama 1 sampai 3 bulan berarti tidak terinfeksi, hasil positif 97% dalam waktu

3 bulan dan 100% dalam waktu 6 bulan (Liu dkk, 2005).

2.1.4. Risiko HIV/AIDS

Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang mempunyai resiko kematian yang

tinggi. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan jenis virus yang

menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS merupakan kumpulan tanda dan gejala

penyakit akibat hilangnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Penyakit ini menyerang

sistem kekebalan tubuh sehingga penderita tidak mempunyai kekebalan terhadap

(42)

Seseorang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan

penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat.

AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat

atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang yang terinfeksi AIDS

akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang

disekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderita itu akan bertambah

lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya

system kekebalan tubuh, sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak

berbahayapun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.

(43)

2.1.5. Tahapan-tahapan HIV Menjadi AIDS

Perkembangan HIV pada tubuh penderita setelah 5-10 tahun terinfeksi HIV.

Tahapan-tahapan HIV menjadi AIDS memiliki gejala-gejala sebagai berikut :

1. Tahap Awal Terinfeksi HIV, gejala mirip influenza (demam, sendi terasa nyeri,

rasa lemah, lesu, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini

akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

2. Tahap Tanpa Gejala, meskipun tanpa gejala tetapi dites darah ditemukan

antibody HIV (HIV +). Masa ini berlangsung 5-7 tahun.

3. Tahap ARC (AIDS Related Complex), muncul gejala-gejala awal AIDS. ARC

adalah istilah yang didapati 2 atau lebih gejala yang berlangsung.

Gejala-gejalanya yaitu : demam selama 3 bulan atau lebih disertai keringat dingin di

malam hari, berat badan turun drastis lebih dari 10%, badan lesu, pembesaran

kelenjar secara lebih luas, diare/mencret terus menerus dalam waktu lama tanpa

sebab yang jelas, batuk dan gejala sesak nafas lebih dari 1 bulan, kulit gatal

bercak-bercak kebiruan, sakit tenggorokan, pendarahan yang tidak jelas

penyebabnya.

4. Tahap AIDS, muncul infeksi lain yang berbahaya seperti TBC, infeksi paru-paru,

infeksi jamur dirongga mulut, tumor kulit/kanker kulit (kaposis sarcoma,

bercak-bercak kemerahan pada kulit) dan pembengkakan kelenjar getah bening.

5. Tahap Gangguan Otak, pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak

dan gangguan mental berupa damensia (gangguan daya ingat), penurunan

(44)

2.1.6. Gejala Klinis HIV/AIDS

Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup

dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak akan menunjukkan gejala penyakit namun

terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak

setelah lebih 3 bulan.

Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah : berat badan turun dengan

drastis, demam yang berkepanjangan lebih dari 38ºc, pembesaran kelenjar dileher,

diketiak dan lipatan paha yang timbul tanpa sebab, mencret atau diare yang

berkepanjangan, timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit

atau Kaposi Sarcoma), sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan, sariawan yang

tidak sembuh-sembuh. Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada

penderita AIDS yang lama kelamaan akan berakhir dengan kematian.

(45)

Menurut MFMER (Mayo Foundation for Medical Education and Research)

(2008), gejala klinis HIV/AIDS dibagi menjadi 3 fase, yaitu :

a. Fase Infeksi Akut (Acute Retroviral Syndrome)

Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang

menghasilkan virus-virus baru (virion) jumlah berjuta-juta virion. Begitu banyaknya

virion tersebut memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip

semacam flu. Diperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 70% orang yang terinfeksi HIV

mengalami sindrom infeksi akut (ARS) selama 3 sampai 8 minggu setelah terinfeksi

virus.

b. Fase Infeksi Laten

Pembentukan respon imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam Sel

Dendritik Folikuler (SDF) dipusat perrminativum kelenjar limfe menyebabkan virion

dapat dikendalikan, gejala hilang dan mulai memasuki fase laten (tersembunyi). Pada

fase ini jarang di temukan virion diplasma sehingga jumlah virion diplasma menurun

karena sebagian besar virus terakumulasi dikelenjar limfe dan terjadi replikasi di

kelenjar limfe sehingga penurunan limfosit T terus terjadi walaupun virion diplasma

jumlahnya sedikit. Pada fase ini jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga sekitar 500

sampai 200 sel/mm3. Meskipun telah terjadi seropositif individu umumnya belum

menunjukkan gejala klinis (asipmtomatis) fase ini berlangsung sekitar rata-rata 8-10

(46)

c. Fase Infeksi Kronis

Selama berlangsungnya fase ini di dalam kelenjar limfe terus terjadi replikasi

virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi

kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus

dicurahkan kedalam darah. Pada fase ini terjadi terjadi peningkatan jumlah virion

secara berlebihan didalam sirkulasi sistemik. Respon imun tidak mampu meredam

jumlah virion yang berlebihan tersebut. Limfosit semakin tertekan karena intervensi

HIV yang semakin banyak. Terjadi penurunan limfosit T ini mengakibatkan system

imun menurun dan pasien semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit infeksi

sekunder. Perjalanan penyakit semakin progesif yang mendorong kea rah AIDS,

infeksi sekunder yang sering menyertai adalah pneumonia, TBC, sepsis, diare, infeksi

virus herpes, infeksi jamur kadang-kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker

yaitu kanker kelenjar getah bening.

2.1.7. Penularan HIV/AIDS

(47)

Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular seperti virus influenza. Kita

tidak perlu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan

menular dengan cara-cara seperti : hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak

mengadakan hubungan seksual), bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita,

bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS, makan dan

minum, gigitan nyamuk dan serangga lain, sama-sama berenang dikolam renang.

Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan AIDS adalah : melakukan

hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang

mengandung virus HIV, melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang

sudah dipakai orang yang mengidap virus HIV/AIDS, hubungan prenatal yaitu

pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV/AIDS kepada janin yang

di kandungnya.

a. HIV/AIDS di Tubuh Manusia

HIV/AIDS masuk kedalam tubuh manusia melalui aliran darah penderita.

HIV/AIDS sangat mudah mati di luar tubuh manusia (dengan air panas, sabun dan

bahan-bahan pencuci yang lain), karena itu HIV/AIDS tidak dapat menular melalui

udara. HIV/AIDS dalam tubuh manusia bersarang disalah satu sel darah putih, yaitu

bernama Limfosit yang berada dicairan tubuh. HIV/AIDS awalnya melakukan

penempelan dengan CD-4 reseptor yang ada dipermukaan Limfosit, lalu virus

memasukkan DNA virusnya kedalam inti selnya Limfosit. Virus ini juga dapat

(48)

b. Masa Inkubasi HIV/AIDS

Masa inkubasi adalah masa dimana setelah terjadinya penularan sampai

dengan timbulnya gejala penyakit. Ketika mulai masa inkubasi, jumlah sel limfosit

berkurang sampai setengahnya. Dalam kondisi ini, kekebalan masih berfungsi dan

dapat bertahan 9-10 tahun. Tapi setelah 9-10 tahun kekebalan tubuh menjadi tidak

berfungsi lagi dan penderita menjadi penderita AIDS. Gejalanya berupa demam,

keringat dingin dimalam hari, badan lesu, nafsu makan menurun, badan kurus, mudah

terserang flu, mencret, bercak-bercak putih dan timbul penyakit paru-paru.

c. Cara Penularan HIV/AIDS

1. Hubungan Kelamin

Ini disebabkan karena penularan virus HIV terjadi melalui cairan sperma dan

cairan vagina. WHO memperkirakan 70% pengidap AIDS tertular melalui

hubungan kelamin.

2. Transfusi Darah

Ketika darah yang terinfeksi HIV masuk kedarah orang yang sehat, maka

terjadilah penularan virus HIV.

3. Alat-alat Medis

Alat-alat medis seperti jarum suntik, baik untuk pengobatan imunisasi,

menindik, tato, akupuntur, atau yang digunakan untuk pecandu obat bius

(49)

4. Ibu Hamil

Apabila ibu hamil tertular virus HIV, maka bayi dalam kandungan berpotensi

tertular virus HIV juga. Dan juga akan menularkan virus HIV melalui air

susu ibu.

5. Cairan Tubuh

Cairan tubuh seperti cairan sperma, cairan vagina, darah, dan ASI menjadi

media penularan virus HIV/AIDS

6. Donor Organ (Transplantasi)

Transplantasi adalah pemindahan jaringan organ tubuh, seperti ginjal, hati

dan lain-lain. Ketika organ tubuh dari orang terkena virus HIV di berikan

kepada orang yang bersangkutan, maka orang yang menerimanya pun

terkena virus HIV.

2.1.8. Kelompok Resiko Tinggi Tertular HIV/AIDS

(50)

Mereka yang sering melakukan hubungan seksual diluar nikah, seperti wanita

dan pria tuna susila dan pelanggannya, mereka yang mempunyai banyak pasangan

seksual misalnya : Homo seks (melakukan hubungan dengan sesama laki-laki),

Biseks (melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita), waria dan mucikari,

penerima transfusi darah, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap virus

HIV/AIDS, pecandu narkotika suntikan, pasangan dari pengidap AIDS.

2.1.9. Cara Pencegahan HIV/AIDS

Hindarkan hubungan seksual diluar nikah, usahakan hanya berhubungan

dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain,

pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual, ibu

yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus HIV hendaknya jangan

hamil karena akan memindahkan virus HIV/AIDS kepada janinnya, kelompok resiko

tinggi tidak dianjurkan menjadi donor darah, penggunaan jarum suntik dan alat

lainnya (akupuntur, tato, tindik) harus dijamin ke sterilannya.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk

mencegah penularan HIV/AIDS yaitu misalnya: memberikan penyuluhan-penyuluhan

atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan

dengan HIV/AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran

brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan HIV/AIDS, ataupun melalui

iklan di berbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik,

penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan

(51)

AIDS sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa

menimbulkan terjadinya virus HIV/AIDS.

Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah

penularan virus HIV melalui perubahan perilaku seksual yang terkenal dengan istilah

“ABC” yang telah terbukti mampu menurunkan percepatan penularan HIV, terutama

di Uganda dan beberapa Negara Afrika lain. Prinsip “ABC” ini telah dipakai dan

dibakukan secara international, sebagai cara paling efektif mencegah HIV lewat

hubungan seksual. Prinsip “ABC” itu adalah:

“A” : Anda jauhi seks sampai anda kawin atau menjalin hubungan jangka panjang

dengan pasangan (Abstinesia)

“B” : Bersikap saling setia dengan pasangan dalam hubungan perkawinan atau

hubungan jangka panjang tetap (Be faithful)

“C” : Cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk penjaja seks

atau orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B (Condom)

Untuk pencegahan penularan non seksual berlaku prinsip “D” dan “E” yaitu :

“D” : Drug, “say no to drug” atau katakan tidak pada napza atau narkoba.

“E” : Equipment “No sharing” jangan memakai alat suntik secara bergantian.

2.1.10. Pengobatan HIV/AIDS

Sampai sekarang belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan

penderita HIV/AIDS. Obat yang ada sekarang hanya sebagai obat penambah daya

tahan tubuh atau memperpanjang umur penderita. Berikut ini obat-obat yang dikenal

(52)

1. AZT (Azidothymidine)

Obat ini berfungsi penahan perkembangan virus, namun mengandung efek

samping yaitu kerusakan tulang sum-sum dan anemia berat.

2. DDI (Diseoxycitidine)

Cara kerja obat ini tidak jauh berbeda dengan AZT, tapi telah diuji cobakan

tidak menimbulkan efek samping.

3. DDC (Zalcitabine)

Seperti AZT dan DDI, obat ini juga dapat menahan perkembangan virus. Lalu

para ahli Jepang menemukan obat-obatan HIV/AIDS sebagai berikut :

- M.HDA (Meiji Humin Deritivize Al-Bumin)

Obat ini gabungan Carbadimine Humin dan Succiny Lated Human

Al-Bumin yang terkandung dalam darah. Obat ini kabarnya dapat

menyingkirkan sel-sel limfosit yang digerogoti oleh HIV dengan tidak

membahayakan limfosit normal.

- Tachyplesin

Adalah cairan kimia yang diambil dari sejenis kepiting Tachyplens

tridentotus yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diuji cobakan pada

tikus dengan hasil yang memuaskan, namun masih mengandung efek

samping seperti AZT.

Para ahli Inggris juga menemukan ramuan yang digunakan untuk mengobati

penderita HIV/AIDS, yaitu So 221 dan GLO 223, kedua obat ini masih menimbulkan

(53)

tradisional dari Cina, yaitu Milingwang yang diuji cobakan pada 158 pasien AIDS

yang hasilnya paling tidak bisa memperpanjang hidup.

2.1.11. Usaha yang Dilakukan Apabila Terinfeksi HIV/AIDS

Usaha-usaha yang dilakukan apabila terinfeksi virus HIV/AIDS disebut juga

dengan penerapan strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV/AIDS sangat

penting mengetahui dinamika HIV, serta perjalanan penyakit (pathogenesis) sehingga

dapat melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu. Beberapa harapan dan kabar

baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di Kanada saat ini cukup

banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Beberapa obat

penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk mendapat

izin.

Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral Load” yang prosesnya lebih

mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Semua usaha di atas

seharusnya ditunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi

mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi terkena HIV/AIDS selalu

memeriksakan darahnya secara teratur, paling sedikit 3-6 bulan sekali, demi

keselamatan pasangan seksualnya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dengan

mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu dengan melaksanakan

ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya,

agar penderitaan yang dirasakannya tidak terlalu berat.

Bagi masyarakat hendaknya jangan menjauhi, mengucilkan mereka yang

(54)

misalnya : melalui nasehat-nasehat yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri,

sehingga mereka yang telah mengidap virus HIV/ AIDS tidak putus asa dalam

menjalani hidupnya. Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah HIV/AIDS

dapat diatasi, paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi

dari semua pihak (Ardian, 2006).

2.2. Waria

2.2.1. Pengertian Waria

Waria merupakan kependekan dari wanita pria, atau yang lebih lazim dikenal

banci alias bencong. Waria adalah pria yang jiwa dan tingkah lakunya seperti wanita.

Menurut Salviana (2005), mengatakan bahwa transeksual adalah gejala merasa

memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya.

Waria adalah suatu fenomena yang semakin menjamur di Indonesia. Dilayar

kaca kerap kali kita disuguhi tontonan yang berbau waria. Sebut saja sosok Dorce

Gamalama, waria bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi termasuk artis yang serba bisa

dan masih banyak lagi waria lainnya yang sudah diakui eksistensinya

(keberadaannya) (Nadia, 2005).

Transeksual merupakan keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota

kelompok lawan jenis, biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman atau tidak sesuai

dengan jenis kelamin anatominya, dan menginginkan untuk membedah jenis kelamin

serta menjalani terapi hormonal agar tubuhnya sepadan mungkin dengan jenis

(55)

dan mencintai sesama jenis, dan individu-individu yang ikut serta dalam sebuah

komunitas khusus yang para anggotanya memahami bahwa jenis kelamin sendiri

itulah yang merupakan objek seksual yang paling menggairahkan (Koeswinarno,

2005).

Transisi Waria dan gay merupakan salah satu kelompok tinggi risiko tinggi

(risti) untuk tertular IMS dan HIV/AIDS. Dari pengalaman pendamping waria dan

gay diketahui bahwa sebagian besar waria diKota Medan bekerja sebagai pekerja

seks. Aktifitas seks mereka umumnya adalah anal seks dan oral seks. Seks anal atau

melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus, jika

pasangan seks terkena IMS atau HIV maka akan lebih mudah ditularkan dimana

tingkat penggunaan kondom juga masih rendah, demikian juga halnya dengan

informasi tentang penularan IMS dan HIV/AIDS (Nadia, 2005).

Waria memiliki permasalahan yang kompleks terutama dalam masalah

kesehatan dan kependudukan. Banyak kasus menunjukan waria enggan untuk datang

ketempat layanan kesehatan umum karena berbagai alasan. Secara sadar atau tidak

mereka malas memeriksakan diri keklinik VCT, karena VCT merupakan program

Pemerintah untuk kepentingan penyedia layanan ini. Mereka beranggapan bahwa

Pemerintah hanya setengah hati dan tidak tulus dalam menjalankan program.Bentuk

resistensi yang mereka lakukan adalah dengan meminta bayaran ketika petugas

kesehatan yang melakukan Mobile Clinic datang ke lokasi mereka mangkal.

Homoseksual jadi life style khususnya Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau gay kini

(56)

trend atau life style karena mengikuti gaya hidup para selebritis dimana akibat

dampak dari pada transisi epidemiologi, misalnya Ricky Martin yang menikah

dengan seorang dokter yang juga tampan. Bahkan kaum gay sudah semakin berani

menampilakan diri secara terbuka kekhalayak ramai .

Gay, Biseksual dan Transeksual ini pun semakin lebih terorganisir tak lain

karena banyaknya dukungan dari foundation di luar negeri yang memperjuangkan

kesamaan hak mereka dengan demikian mereka sudah dianggap normal. Ada banyak

penyebab homoseksualitas, biasanya para gay belajar dari pengalaman seksual

pertama yang nmereka alami. Jika pengalaman seksual pertama yang pertama itu

menyenangkan itu dengan sesama jenis, maka mereka cenderung akan menikamti

hubungan tersebut dan menjadi homoseksualitas (Irma Minauli, uma/mag-11).

Akibat perilaku seksual yang menyimpang tersebut merupakan risiko bisa

menjadi penyebab HIV/AIDS seperti juga halnya waria karena perilaku anal seks

yang diperparah tanpa menggunakan kondom. Jumlah gay di Medan sudah mencapai

1.699 orang sedang jumlah waria 664 orang (KPA Kota Medan). Komunitas gay

termasuk tertutup namun ketika dipetakan jumlahnya 1.699 orang dengan profesi

beraneka ragam. Banyak juga yang memiliki keluarga (anak-isteri) namun memiliki

pasangan gay (KPA, 2007). Secara kasat mata LSL atau gay sukar dibedakan oleh

karena penampilan mereka terlihat seperti pria normal lainnya. Hal ini sangat bertolak

belakang sekali dengan penampilan waria yang nyentrik dengan dandananya. Waria

berpenampilan berhias layaknya seperti wanita dengan menggunakan lipstick, bedak,

Gambar

Gambar 1.1. Deskripsi Penyebaran HIV dari 1 Orang HIV+
Gambar 1.2. Regional Overview HIV/AIDS
Gambar 2.1. Grafik Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun
Gambar 2.2. Cara Penularan Virus HIV/AIDS dalam tubuh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi berjudul Gaya Hidup Seksual “Ayam Kampus” dan Dampaknya terhadap Risiko Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) ” (Studi Kualitatif pada Mahasiswi di Kecamatan

Skripsi berjudul Gaya Hidup Seksual “Ayam Kampus” dan Dampaknya terhadap Risiko Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) ” (Studi Kualitatif pada Mahasiswi di Kecamatan

Dari diatas dapat disimpulkan bahwa waria adalah suatu gangguan pada diri seseorang dimana seseorang tersebut merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan keadaan jenis

Dengan memperhatikan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh sosialisasi dan konseling tentang Infeksi Menular

Gambaran Perilaku Seksual Waria Penderita Penyakit Infeksi Menular di Kota Semarang Tahun 2011.. Semarang: Artikel IKM Universitas

Pelayanan Skrining Infeksi Menular Seksual (IMS) pada Waria di Kota Yogyakarta sebagai salah satu syarat mencapai derajat Magister Program Studi Kesehatan Masyarakat.. Tiada

1 April 2023 © The Authors 2023 HUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN, DAN RIWAYAT INFEKSI MENULAR SEKSUAL IMS DENGAN KEJADIAN HIV/AIDS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PENURUNAN KOTA BENGKULU

Tidak semua IMS ditularkan hanya melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat menular melalui kontak langsung dengan alat- alat yang tercemar seperti handuk, termometer, jarum