BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. HIV/AIDS
2.1.1. Definisi HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. Dua jenis HIV yang secara genetiknya berbeda tetapi sama dari antigennya berhubungan yaitu 1 dan 2 diisolasi dari penderita AIDS. HIV-1 lebih banyak dijumpai pada penderita AIDS di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika Tengah, manakala HIV-2 lebih banyak dijumpai di Afrika Barat, HIV-1 lebih mudah ditransmisi berbanding HIV-2. Periode antara infeksi pertama kali dengan timbul gejala penyakit adalah lebih lama dan penyakitnya lebih ringan pada infeksi HIV-2 (WHO, 2008).
HIV yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terserang penyakit (Nursalam, 2011).
HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk system kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berubah menjadi AIDS yang mematikan (WHO, 2008).
2.1.2. Epidemi HIV/AIDS a. Epidemi Global
Sejarah tentang HIV/AIDS dimulai ketika tahun 1979 di Amerika Serikat ditemukan seorang gay muda dengan Pneumocytis Carinii dan dua orang gay muda dengan Sarcoma Kaposi. Pada tahun 1981 ditemukan seorang gay muda dengan kerusakan system kekebalan tubuh. Pada tahun 1980 WHO mengadakan pertemuan yang pertama tentang AIDS.
Prevalensi AIDS pada tahun 1993 sebesar 900.000. Sedangkan pada akhir tahun 2000 sebanyak 2 juta orang. Pada tahun 2001 insidensi infeksi HIV baru pada anak sebanyak 800.000 dengan 580.000 kematian akibat HIV/AIDS. Dari 800.000 anak, 65.000 kasus terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sampai akhir tahun 2002 terdapat 42 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dari jumlah ini 28,5 juta (68%) hidup di Afrika sub-Sahara dan 6 juta (14%) berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 2002 terdapat 5 juta orang baru terinfeksi HIV dan 3,1 juta orang meninggal karena HIV/AIDS.
penyakit menular seksual, 10% pada pendonor darah dan 10% pada kelompok wanita yang diperiksa di klinik perawatan antenatal. Di San Fransisco dan New York, AIDS saat ini merupakan penyebab utama kematian premature pada laki-laki usia muda. Sampai dengan tahun 2010 jumlah penderita HIV di seluruh dunia sebanyak 34 juta orang (UNAIDS, 2011).
Men Sex Men (MSM) Report World Bank (2011) melaporkan di seluruh dunia diperkirakan bahwa seks antar laki-laki termasuk kelompok penyumbang kejadian infeksi HIV, situasinya bervariasi antar Negara, tahun 2008 di Equador (15,9%), Peru (13,80%), Uruguay (18,90%), Argentina (12,10%), Panama (10,60%), Elsavador (7,90%), Nicaragua (9,30%), Mexico (25,60%), Jamaica (31,80%), di Brazil tahun 2003 sampai 2008 sebesar 8,2%, pada tahun 2002 sampai 2009 di Peru (13,30%), Ukraina (10,60%), Kenya (15,20%), Thailand (23,00%), Rusia (3,4%), India (16,5%), pada tahun 2005 di Thailand tepatnya di Bangkok (28,3%). Penelitian yang lain di Indonesia (4%), Bangladest (7,5%), Srilanka (7,5%), Nepal (7,5%) (UNAIDS, 2011).
Studi laki-laki gay Afrika menunjukkan bahwa seks anal tanpa kondom adalah biasa, prevalensi HIV diantara laki-laki dibeberapa daerah di Afrika Barat yang berhubungan seks dengan laki-laki sebesar 25,3%, di Kenya 43%, di Afrika Selatan dimana seks antara laki-laki adalah legal, prevalensi HIV antara 20% dan 40% (UNAIDS, 2011).
b. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia
635 kasus HIV dan 183 kasus baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS secara signifikan di Indonesia. Kasus AIDS tahun 2000 tercatat 255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada tahun 2003. Kasus HIV meningkat cepat tahun 2005 (859 kasus), tahun 2006 (7.195 kasus), tahun 2007 (6.048 kasus), tahun 2008 (10.362 kasus), tahun 2009 (9.793 kasus), tahun 2010 (21.591 kasus), tahun 2011 (21.031 kasus). Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan tahun 2011 sebanyak 76.879 kasus. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta (19.899 kasus), diikuti Jawa Timur (9.950 kasus), Papua (7.085 kasus), Jawa Barat (5.741 kasus) dan Sumatera Utara (5.027 kasus).
tertinggi yaitu DKI Jakarta (5.177 kasus), diikuti Jawa Timur (4.598 kasus), Papua (4.449 kasus), Jawa Barat (3.939 kasus) dan Bali (2.428 kasus). Persentase kasus AIDS pada laki-laki sebanyak 70,8% dan perempuan 28,2%. Angka kematian (CFR) menurun dari 40% pada tahun 1987 menjadi 2,4% pada tahun 2011.
2.1.3. Etiologi dan Patofisiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV, virus ini ditemukan oleh Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala Limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), Gallo (National Institute of Health, USA 1984) menemukan virus HTL-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberikan nama resmi HIV (Widoyono, 2005).
seperti limfosit sel-sel CD4 (Sel-T Pembantu) yang istirahat sebagai target paling penting dalam penyerangan virus ini (Nursalam, 2011).
Sel CD4 adalah salah satu tipe dari sel darah putih yang bertanggung jawab untuk mengendalikan atau mencegah infeksi oleh banyak virus yang lain, bakteri, jamur, dan parasit dan juga beberapa jenis kanker. Kemampuan HIV untuk tetap tersembunyi dalam DNA dari sel-sel manusia yang hidup lama, tetap ada seumur hidup membuat infeksi menyebabkan kerusakan sel-sel CD4 dan dalam waktu panjang, jumlah sel-sel CD4 menurun menjadi masalah yang sulit untuk ditangani bahkan dengan pengobatan efektif (Liu dkk, 2005).
Apabila sudah banyak sel T4 yang hancur, terjadi gangguan imunitas seluler, daya kekebalan penderita menjadi terganggu sehingga kuman yang tadinya tidak berbahaya atau dapat dihancurkan oleh tubuh sendiri (infeksi oportunistik) akan berkembang lebih leluasa dan menimbulkan penyakit yang serius yang pada akhirnya penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apabila sudah masuk kedalam darah, HIV dapat merangsang pembentukan antibody dalam waktu 3-8 minggu setelah terinfeksi pada Periode sejak seseorang terinfeksi HIV sampai terbentuk antibody disebut periode jendela (window period). Periode jendela ini sangat perlu diketahui oleh karena sebelum antibody terbentuk di dalam tubuh, HIV sudah ada didalam darah penderita dan keadaan ini juga sudah dapat menularkan kepada orang lain (Yayasan Pelita Ilmu, 2012).
pemeriksaan penentu dengan tekhnik Western Blot. Pertama kali dilakukan tes ELISA, apabila hasil negative berarti tidak terinfeksi HIV walaupun hasil itu negative bila baru saja terinfeksi belum lama berselang.
Bila tes memberi hasil positif laboratorium melakukan tes kedua dengan Western Blot (WB), bila kedua hasil terlihat positif maka penderita tersebut seropositif atau HIV positif. Jika pemeriksaan ELISA positif dan Western Blot tidak dapat menentukan dengan pasti atau tidak sepenuhnya negative namun tidak positif juga ada dua kemungkinan penyebab tes tidak dapat menentukan dengan pasti yaitu pertama kemungkinan baru terinfeksi dan dalam masa pengembangan serologi positif (seroconverting) dan dilakukan tes ulangan tidak lama berselang akan menjadi sepenuhnya positif dalam waktu 1 bulan. Kedua kemungkinan negative tetapi hasil tes tidak pasti dengan alasan yang tidak akan pernah diketahui dan bila tes tetap tidak pasti selama 1 sampai 3 bulan berarti tidak terinfeksi, hasil positif 97% dalam waktu 3 bulan dan 100% dalam waktu 6 bulan (Liu dkk, 2005).
2.1.4. Risiko HIV/AIDS
Seseorang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang yang terinfeksi AIDS akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang disekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderita itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya system kekebalan tubuh, sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahayapun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.
2.1.5. Tahapan-tahapan HIV Menjadi AIDS
Perkembangan HIV pada tubuh penderita setelah 5-10 tahun terinfeksi HIV. Tahapan-tahapan HIV menjadi AIDS memiliki gejala-gejala sebagai berikut :
1. Tahap Awal Terinfeksi HIV, gejala mirip influenza (demam, sendi terasa nyeri, rasa lemah, lesu, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
2. Tahap Tanpa Gejala, meskipun tanpa gejala tetapi dites darah ditemukan antibody HIV (HIV +). Masa ini berlangsung 5-7 tahun.
3. Tahap ARC (AIDS Related Complex), muncul gejala-gejala awal AIDS. ARC adalah istilah yang didapati 2 atau lebih gejala yang berlangsung. Gejala-gejalanya yaitu : demam selama 3 bulan atau lebih disertai keringat dingin di malam hari, berat badan turun drastis lebih dari 10%, badan lesu, pembesaran kelenjar secara lebih luas, diare/mencret terus menerus dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas, batuk dan gejala sesak nafas lebih dari 1 bulan, kulit gatal bercak-bercak kebiruan, sakit tenggorokan, pendarahan yang tidak jelas penyebabnya.
4. Tahap AIDS, muncul infeksi lain yang berbahaya seperti TBC, infeksi paru-paru, infeksi jamur dirongga mulut, tumor kulit/kanker kulit (kaposis sarcoma, bercak-bercak kemerahan pada kulit) dan pembengkakan kelenjar getah bening.
2.1.6. Gejala Klinis HIV/AIDS
Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak akan menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah lebih 3 bulan.
Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah : berat badan turun dengan drastis, demam yang berkepanjangan lebih dari 38ºc, pembesaran kelenjar dileher, diketiak dan lipatan paha yang timbul tanpa sebab, mencret atau diare yang berkepanjangan, timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit atau Kaposi Sarcoma), sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan, sariawan yang tidak sembuh-sembuh. Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS yang lama kelamaan akan berakhir dengan kematian.
Menurut MFMER (Mayo Foundation for Medical Education and Research) (2008), gejala klinis HIV/AIDS dibagi menjadi 3 fase, yaitu :
a. Fase Infeksi Akut (Acute Retroviral Syndrome)
Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang menghasilkan virus-virus baru (virion) jumlah berjuta-juta virion. Begitu banyaknya virion tersebut memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip semacam flu. Diperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 70% orang yang terinfeksi HIV mengalami sindrom infeksi akut (ARS) selama 3 sampai 8 minggu setelah terinfeksi virus.
b. Fase Infeksi Laten
c. Fase Infeksi Kronis
Selama berlangsungnya fase ini di dalam kelenjar limfe terus terjadi replikasi virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus dicurahkan kedalam darah. Pada fase ini terjadi terjadi peningkatan jumlah virion secara berlebihan didalam sirkulasi sistemik. Respon imun tidak mampu meredam jumlah virion yang berlebihan tersebut. Limfosit semakin tertekan karena intervensi HIV yang semakin banyak. Terjadi penurunan limfosit T ini mengakibatkan system imun menurun dan pasien semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit infeksi sekunder. Perjalanan penyakit semakin progesif yang mendorong kea rah AIDS, infeksi sekunder yang sering menyertai adalah pneumonia, TBC, sepsis, diare, infeksi virus herpes, infeksi jamur kadang-kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker yaitu kanker kelenjar getah bening.
2.1.7. Penularan HIV/AIDS
Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular seperti virus influenza. Kita tidak perlu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan menular dengan cara-cara seperti : hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak mengadakan hubungan seksual), bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita, bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS, makan dan minum, gigitan nyamuk dan serangga lain, sama-sama berenang dikolam renang.
Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan AIDS adalah : melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang mengandung virus HIV, melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah dipakai orang yang mengidap virus HIV/AIDS, hubungan prenatal yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV/AIDS kepada janin yang di kandungnya.
a. HIV/AIDS di Tubuh Manusia
b. Masa Inkubasi HIV/AIDS
Masa inkubasi adalah masa dimana setelah terjadinya penularan sampai dengan timbulnya gejala penyakit. Ketika mulai masa inkubasi, jumlah sel limfosit berkurang sampai setengahnya. Dalam kondisi ini, kekebalan masih berfungsi dan dapat bertahan 9-10 tahun. Tapi setelah 9-10 tahun kekebalan tubuh menjadi tidak berfungsi lagi dan penderita menjadi penderita AIDS. Gejalanya berupa demam, keringat dingin dimalam hari, badan lesu, nafsu makan menurun, badan kurus, mudah terserang flu, mencret, bercak-bercak putih dan timbul penyakit paru-paru.
c. Cara Penularan HIV/AIDS 1. Hubungan Kelamin
Ini disebabkan karena penularan virus HIV terjadi melalui cairan sperma dan cairan vagina. WHO memperkirakan 70% pengidap AIDS tertular melalui hubungan kelamin.
2. Transfusi Darah
Ketika darah yang terinfeksi HIV masuk kedarah orang yang sehat, maka terjadilah penularan virus HIV.
3. Alat-alat Medis
4. Ibu Hamil
Apabila ibu hamil tertular virus HIV, maka bayi dalam kandungan berpotensi tertular virus HIV juga. Dan juga akan menularkan virus HIV melalui air susu ibu.
5. Cairan Tubuh
Cairan tubuh seperti cairan sperma, cairan vagina, darah, dan ASI menjadi media penularan virus HIV/AIDS
6. Donor Organ (Transplantasi)
Transplantasi adalah pemindahan jaringan organ tubuh, seperti ginjal, hati dan lain-lain. Ketika organ tubuh dari orang terkena virus HIV di berikan kepada orang yang bersangkutan, maka orang yang menerimanya pun terkena virus HIV.
2.1.8. Kelompok Resiko Tinggi Tertular HIV/AIDS
Mereka yang sering melakukan hubungan seksual diluar nikah, seperti wanita dan pria tuna susila dan pelanggannya, mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual misalnya : Homo seks (melakukan hubungan dengan sesama laki-laki), Biseks (melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita), waria dan mucikari, penerima transfusi darah, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap virus HIV/AIDS, pecandu narkotika suntikan, pasangan dari pengidap AIDS.
2.1.9. Cara Pencegahan HIV/AIDS
Hindarkan hubungan seksual diluar nikah, usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain, pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual, ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus HIV hendaknya jangan hamil karena akan memindahkan virus HIV/AIDS kepada janinnya, kelompok resiko tinggi tidak dianjurkan menjadi donor darah, penggunaan jarum suntik dan alat lainnya (akupuntur, tato, tindik) harus dijamin ke sterilannya.
AIDS sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan terjadinya virus HIV/AIDS.
Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan virus HIV melalui perubahan perilaku seksual yang terkenal dengan istilah “ABC” yang telah terbukti mampu menurunkan percepatan penularan HIV, terutama di Uganda dan beberapa Negara Afrika lain. Prinsip “ABC” ini telah dipakai dan dibakukan secara international, sebagai cara paling efektif mencegah HIV lewat hubungan seksual. Prinsip “ABC” itu adalah:
“A” : Anda jauhi seks sampai anda kawin atau menjalin hubungan jangka panjang dengan pasangan (Abstinesia)
“B” : Bersikap saling setia dengan pasangan dalam hubungan perkawinan atau hubungan jangka panjang tetap (Be faithful)
“C” : Cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk penjaja seks atau orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B (Condom)
Untuk pencegahan penularan non seksual berlaku prinsip “D” dan “E” yaitu : “D” : Drug, “say no to drug” atau katakan tidak pada napza atau narkoba. “E” : Equipment “No sharing” jangan memakai alat suntik secara bergantian. 2.1.10. Pengobatan HIV/AIDS
1. AZT (Azidothymidine)
Obat ini berfungsi penahan perkembangan virus, namun mengandung efek samping yaitu kerusakan tulang sum-sum dan anemia berat.
2. DDI (Diseoxycitidine)
Cara kerja obat ini tidak jauh berbeda dengan AZT, tapi telah diuji cobakan tidak menimbulkan efek samping.
3. DDC (Zalcitabine)
Seperti AZT dan DDI, obat ini juga dapat menahan perkembangan virus. Lalu para ahli Jepang menemukan obat-obatan HIV/AIDS sebagai berikut :
- M.HDA (Meiji Humin Deritivize Al-Bumin)
Obat ini gabungan Carbadimine Humin dan Succiny Lated Human Al-Bumin yang terkandung dalam darah. Obat ini kabarnya dapat menyingkirkan sel-sel limfosit yang digerogoti oleh HIV dengan tidak membahayakan limfosit normal.
- Tachyplesin
Adalah cairan kimia yang diambil dari sejenis kepiting Tachyplens tridentotus yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diuji cobakan pada tikus dengan hasil yang memuaskan, namun masih mengandung efek samping seperti AZT.
tradisional dari Cina, yaitu Milingwang yang diuji cobakan pada 158 pasien AIDS yang hasilnya paling tidak bisa memperpanjang hidup.
2.1.11. Usaha yang Dilakukan Apabila Terinfeksi HIV/AIDS
Usaha-usaha yang dilakukan apabila terinfeksi virus HIV/AIDS disebut juga dengan penerapan strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV/AIDS sangat penting mengetahui dinamika HIV, serta perjalanan penyakit (pathogenesis) sehingga dapat melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu. Beberapa harapan dan kabar baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di Kanada saat ini cukup banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Beberapa obat penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk mendapat izin.
Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral Load” yang prosesnya lebih mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Semua usaha di atas seharusnya ditunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi terkena HIV/AIDS selalu memeriksakan darahnya secara teratur, paling sedikit 3-6 bulan sekali, demi keselamatan pasangan seksualnya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya, agar penderitaan yang dirasakannya tidak terlalu berat.
misalnya : melalui nasehat-nasehat yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga mereka yang telah mengidap virus HIV/ AIDS tidak putus asa dalam menjalani hidupnya. Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah HIV/AIDS dapat diatasi, paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak (Ardian, 2006).
2.2. Waria
2.2.1. Pengertian Waria
Waria merupakan kependekan dari wanita pria, atau yang lebih lazim dikenal banci alias bencong. Waria adalah pria yang jiwa dan tingkah lakunya seperti wanita. Menurut Salviana (2005), mengatakan bahwa transeksual adalah gejala merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya.
Waria adalah suatu fenomena yang semakin menjamur di Indonesia. Dilayar kaca kerap kali kita disuguhi tontonan yang berbau waria. Sebut saja sosok Dorce Gamalama, waria bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi termasuk artis yang serba bisa dan masih banyak lagi waria lainnya yang sudah diakui eksistensinya (keberadaannya) (Nadia, 2005).
dan mencintai sesama jenis, dan individu-individu yang ikut serta dalam sebuah komunitas khusus yang para anggotanya memahami bahwa jenis kelamin sendiri itulah yang merupakan objek seksual yang paling menggairahkan (Koeswinarno, 2005).
Transisi Waria dan gay merupakan salah satu kelompok tinggi risiko tinggi (risti) untuk tertular IMS dan HIV/AIDS. Dari pengalaman pendamping waria dan gay diketahui bahwa sebagian besar waria diKota Medan bekerja sebagai pekerja seks. Aktifitas seks mereka umumnya adalah anal seks dan oral seks. Seks anal atau melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus, jika pasangan seks terkena IMS atau HIV maka akan lebih mudah ditularkan dimana tingkat penggunaan kondom juga masih rendah, demikian juga halnya dengan informasi tentang penularan IMS dan HIV/AIDS (Nadia, 2005).
Waria memiliki permasalahan yang kompleks terutama dalam masalah kesehatan dan kependudukan. Banyak kasus menunjukan waria enggan untuk datang ketempat layanan kesehatan umum karena berbagai alasan. Secara sadar atau tidak mereka malas memeriksakan diri keklinik VCT, karena VCT merupakan program Pemerintah untuk kepentingan penyedia layanan ini. Mereka beranggapan bahwa Pemerintah hanya setengah hati dan tidak tulus dalam menjalankan program.Bentuk resistensi yang mereka lakukan adalah dengan meminta bayaran ketika petugas kesehatan yang melakukan Mobile Clinic datang ke lokasi mereka mangkal.
trend atau life style karena mengikuti gaya hidup para selebritis dimana akibat dampak dari pada transisi epidemiologi, misalnya Ricky Martin yang menikah dengan seorang dokter yang juga tampan. Bahkan kaum gay sudah semakin berani menampilakan diri secara terbuka kekhalayak ramai .
Gay, Biseksual dan Transeksual ini pun semakin lebih terorganisir tak lain karena banyaknya dukungan dari foundation di luar negeri yang memperjuangkan kesamaan hak mereka dengan demikian mereka sudah dianggap normal. Ada banyak penyebab homoseksualitas, biasanya para gay belajar dari pengalaman seksual pertama yang nmereka alami. Jika pengalaman seksual pertama yang pertama itu menyenangkan itu dengan sesama jenis, maka mereka cenderung akan menikamti hubungan tersebut dan menjadi homoseksualitas (Irma Minauli, uma/mag-11).
Pada bulan Februari 2012 Pertemuan Terpadu dengan Komunitas Waria DKI Jakarta. Pertemuan ini bertujuan untuk menginformasikan program kegiatan tentang Peningkatan Kesejahteraan Sosial Waria melalui usaha Kemandiriaan kepada instansi,LKS dan Komunitas Waria untuk mendapat dukungan pada kegiatan yang akan dilaksanakan. Di Yogyakarta 60 persen waria bekerja sebagai pengamen dan pekerja seks. Ikatan waria Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah DIY menggelar pelatihan ketrampilan agar mereka beralih pada pekerjaan yang lebih layak.
Dari diatas dapat disimpulkan bahwa waria adalah suatu gangguan pada diri seseorang dimana seseorang tersebut merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan keadaan jenis kelaminnya, sehingga untuk mencapai suatu kepuasan, penderita melakukan perubahan sesuai dengan yang dia inginkan (pria-wanita) baik dalam bentuk perilaku maupun secara fisik (Nadia, 2005).
2.2.2. Jenis Waria
Menurut Nadia (2005), membagi jenis-jenis waria sebagai berikut :
1. Transeksual aseksual, adalah seorang transeksual yang tidak berhasrat atau tidak mempunyai gairah seksual yang kuat.
2. Transeksual homoseksual, adalah seorang transeksual yang memiliki kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum ia sampai ketahap transeksual murni.
2.2.3. Ciri-ciri Waria
Waria dianggap memiliki gangguan identitas jender (Gender Identity Disorder), transeksual memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap lawan jenis 2. Pada anak-anak, terdapat empat atau lebih dari ciri, yaitu :
a. Berulang kali menyatakan keinginan atau memaksakan diri untuk menjadi lawan jenis.
b. Lebih suka memakai pakaian lawan jenis.
c. Lebih suka berperan sebagai lawan jenis dalam bermain atau berfantasi menjadi lawan jenis terus menerus.
d. Lebih suka melakukan permainan lawan jenis.
e. Lebih suka bermain dengan teman-teman dari lawan jenis.
3. Pada remaja dan orang dewasa, simtom-simtom seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah kekelompok lawan jenis, ingin diperlakukan sebagai lawan jenis, keyakinan bahwa emosinya adalah tipikal lawan jenis.
4. Rasa tidak nyaman yang terus menerus dengan jenis kelamin biologisnya atau rasa terasing dari peran jender jenis kelamin tersebut.
2.2.4. Faktor-faktor Pembentukan Diri Waria
a. Faktor Biologis
Kelainan pada diri individu yang disebabkan adanya pengaruh hormon maupun genetik.
b. Faktor Psikologis
Motivasi yang muncul dari dalam individu untuk melakukan suatu perilaku tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu.
c. Faktor Sosiologis
Pengaruh lingkungan yang membawa dampak pada perubahan tingkah laku
2.3. Faktor Resiko HIV/AIDS pada Kelompok Waria 2.3.1. Umur
Fakta diatas menunjukkan kesadaran waria muda untuk mencegah penularan HIV/AIDS sangat rendah. Kondisinya kian runyam karena pemakai jasa waria yaitu laki-laki heteroseksual, dalam kehidupan sehari-hari mereka ini bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, lajang atau duda, juga tidak mau memakai kondom jika kencan dengan waria. Maka tidak mengherankan kalau kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada waria. Waria muda biasanya melakukan hubungan seksual pertama dengan waria yang lebih tua dari mereka. Inilah salah satu faktor yang mendorong penularan HIV karena waria yang lebih tua dari mereka sudah lebih dulu melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti (Iis, 2008).
2.3.2. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu karakteristik individu yang menjadi variabel yang paling sering dihubungkan dengan kejadian suatu penyakit, termasuk HIV/AIDS. Tingkat pendidikan seseorang diduga dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku, namun tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku sehat (Becker, Marshal, 1974). Pada studi Case-Control tahun 1991-1994 di Tanzania. Afrika, pada kelompok pria, pendidikan memiliki hubungan proteksi terhadap infeksi HIV/AIDS.
2.3.3. Pekerjaan
jalan dan bersinggungan dengan HIV/AIDS. Selain itu terbatasnya lahan kerja juga membuat banyak dari waria terpaksa melakukan pekerjaan yang rentan terhadap penyakit yang menyerang imun tubuh tersebut. Oleh karenanya, wariapun akan terus lahir dan meningkat jumlahnya (Ardian, 2006).
Selain itu, diskriminasi terhadap keberadaan waria di kehidupan agaknya menjadi suatu hal yang terlihat jelas dilakukan oleh masyarakat luas. Kebanyakan dari mereka menilai waria adalah suatu bentuk negatif yang melenceng dari seharusnya dan dapat disembuhkan. Padahal, waria bukan merupakan penyakit, sehingga tidak seharusnya disembuhkan.
2.4. Perilaku Kesehatan
2.4.1. Definisi Perilaku Kesehatan
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-Respon. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2010) :
a. Perilaku Tertutup (Covert Behavior)
b. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Berdasarkan pembagian Domain oleh Bloom, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi tingkat ranah perilaku sebagai berikut (Notoatmodjo, 2010):
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
b. Sikap (Attitude)
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.
c. Tindakan atau Praktik (Practice)
Seperti telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.
2.4.2. Determinan Perilaku Kesehatan
terdiri atas faktor pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai. Kedua faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik seperti ketersediaan sarana/fasilitas, informasi. Ketiga faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku kelompok referens, seperti petugas kesehatan, kepala kelompok atau peer group.
Gambar 2.6. Bagan Precede Lawrence W. Green
Didalam proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-Pendidikan
Kesehatan
Predisposing Factors - Kebiasaan
- Kepercayaan - Tradisi - Pengetahuan - Sikap
Enobling Factors - Ketersediaan fasilitas - Ketercapaian fasilitas
Reinforcing Factors - Sikap dan perilaku
petugas
- Peraturan Pemerintah
Perilaku Masalah Kesehatan
faktor tersebut antara lain : susunan saraf pusat, persepsi, emosi, proses belajar, lingkungan dan sebagainya. Perilaku diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman seseorang serta faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan), baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak dan akhirnya terjadilah perwujudan niat yang berupa perilaku (Notoatmodjo, 2010). 2.4.3. Determinan Perilaku terkait Penelitian
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni, melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
1. Tahu (Know)
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan pengaplikasian atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi ataun penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS dapat menjadi pedoman untuk melakukan tindakan pencegahan yang benar agar tidak tertular oleh HIV/AIDS. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Pengetahuan menjadi landasan penting untuk menentukan suatu tindakan. Pengetahuan, sikap dan perilaku akan kesehatan merupakan faktor yang menentukan dalam mengambil suatu keputusan (Notoatmodjo, 2010).
b. Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yakni (Notoatmodjo, 2005) :
1. Menerima (Receiving)
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti yang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
c . Tindakan
Tindakan adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun tindakan itu membutuhkan koordinasi gerak teliti dan kesadaran yang tinggi. Dengan demikian objek yang melakukan gerakan motorik dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil.
2.5. Landasan Teori
masyarakat yaitu faktor predisposisi berupa : pengetahuan, keyakinan, nilai dan sikap. Faktor lain dapat kemungkinana berupa ketersediaan dan keterjangkauan sarana kesehatan, selain itu ada beberapa faktor penguat seperti keluarga, teman sebaya, guru, majikan dan petugas kesehatan yang dalam hal ini berperan sebagai motivator dalam suatu masalah baik itu pengobatan maupun pencegahan terhadap suatu penyakit sehingga tidak menyebabkan tingginya prevalensi penyakit disuatu daerah.
berlaku. Faktor penguat terkait dengan lingkungan sosial seperti sikap dan perilaku petugas sosial, petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
2.6. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini merupakan penyederhanaan dari kerangka teori yang ada. Dalam hal ini tidak semua variabel yang tercantum dalam kerangka teori dilakukan pengukuran dalam penelitian. Variabel yang diteliti sebagai variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan tindakan. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah faktor risiko HIV/AIDS pada kelompok waria.
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.7 Kerangka Konsep Penelitian Sosio Demografi :
-Umur -Pendidikan -Pekerjaan
Kejadian HIV/AIDS pada Waria
Perilaku : - Pengetahuan - Sikap