KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY
COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN TAHUN 2009
T E S I S
Oleh :
WAHYUDDIN 057013028/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY
COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN
TAHUN 2009
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi Rumah Sakit
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh :
WAHYUDDIN 057013028/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
Judul Tesis : KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN
Nama Mahasiswa : Wahyuddin Nomor Induk Mahasiswa : 057013028
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit
Menyetujui
Komisi Pembimbing :
(Dr. Fikarwin Zuska) (Dra. Syarifah, M.S) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S) (dr. Ria Masniari Lubis, M.Si)
Telah diuji
Pada Tanggal : 17 Maret 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Fikarwin Zuska
Anggota : 1. Dra. Syarifah, M.S
2. Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si
PERNYATAAN
KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY
COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN
TAHUNN 2009
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan Maret 2010
ABSTRAK
Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi untuk tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Syndrome/Acquired
Immunune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Estimasi Komisi Penanggulangan
AIDS Nasional Daerah Sumatera Utara tahun 2008, diperkirakan jumlah waria di Kota Medan ada 790 orang, dengan kliennya sebanyak 11.230 orang. Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan sejak Februari 2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari 455 kunjungan. Survey pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tahun 2009 di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, hanya 47% waria yang melakukan VCT dari 100 jumlah kunjungan waria ke Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.
Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS. Kajian ini juga berusaha memahami latar belakang waria terkait dengan proses pengambilan keputusan melakukan tes HIV/AIDS. Informan kunci adalah waria yang telah melakukan konseling dan tes HIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik content analysis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam diri yang memengaruhi keputusan waria dalam melakukan tes HIV/AIDS adalah tekanan sosial, karakteristik gender, pengaruh orang lain, kebudayaan, kepentingan waria sendiri dan pengalaman, dan faktor luar adalah pelayanan Klinik IMS dan VCT Veteran yang merupakan layanan yang paling sering diakses komunitas waria.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mendirikan klinik IMS dan VCT berbasis komunitas waria yang didasarkan kepada kebutuhan, data dan bukti dari waria itu sendiri dan memberdayakan ODHA untuk menjangkau waria lainnya
ABSTRACT
The transvestite and gay as one of group with a highly risk contracted by a sexually transmitted infections (STIs) and Human Immunodeficiency Syndrome/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). National AIDS Commission Preventive for North Sumatra Region in 2008, estimated there were 790 transvestites in Medan City, with the number of clients as much as 11,230 people. The data from STI and VCT Veteran Clinics of Medan mentioned since February 2008 up to June 2009, there were only 187 transvestites who had HIV test from 455 visits. A preliminary survey was conducted by the researcher in 2009 at the STI and VCT Veteran Clinics of Medan, found that only 47% of the transvestites who had visit the VCT from 100 visiting.
The purpose of this study was to analyze the factors influencing the transvestites decision to have HIV/AIDS test. This study also tried to understand the background of the transvestites decision-making processed to have HIV/AIDS test. The key informants were transvestites who had attended counseling and got HIV/AIDS test. Type of this research was descriptive qualitative with content analysis techniques.
The result of research showed that the internal factors that influence decision as the transvestites to have the HIV/AIDS test such as social pressure, gender characteristic, influence of other people, cultures, the transvestite own interest and experience, and external factors such as clinical serviced by STI and VCT Veteran Clinics as most frequently to access by transvestites as community.
It suggested to the District of Health of Medan City to establish a STI and VCT Clinics base on the transvestites community according to the needs, the data and the evidence from the transvestites themselves, and empower people living with HIV/AIDS to reach the other transvestites.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan
rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Keputusan Waria Melakukan
Tes HIV/AIDS Pasca Konseling di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan”.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat
Studi Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara.
Penulis dalam menyusun tesis ini, mendapat bantuan, dorongan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Yaitu Prof.
dr. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp. A(K).
Terima kasih kepada dr. Ria Masniari Lubis, M.Si, selaku Dekan Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Dr. Drs. Surya Utama, M.S
selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, dan juga kepada Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si
selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Fikarwin Zuska, selaku ketua
komisi pembimbing dan Dra. Syarifah, M.S, selaku anggota komisi pembimbing
yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan
meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan
tesis selesai.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si dan Dr.
Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M selaku penguji tesis yang dengan penuh perhatian
dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk
membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis ini
Selanjutnya terima kasih juga kepada dr. Yuli selaku Koordinator Klinik IMS
dan VCT Veteran Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk
melakukan penelitian di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.
Terima kasih juga kepada para dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2
Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
Ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada Ayahanda Drs. H. Ridwan
Sulaiman dan Ibunda Hj. Nurhayati Gultom atas segala jasanya sehingga penulis
selalu mendapatkan pendidikan terbaik.
Teristimewa buat istri tercinta dr. Fathul Jannah dan ananda tersayang
cinta yang dalam setia menunggu, memotivasi dan memberikan dukungan moril agar
bisa menyelesaikan pendidikan ini.
Akhirnya penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan
kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan
harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan,
dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, Maret 2010
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Wahyuddin lahir pada tanggal 23 April 1981 di kota Banda Aceh, anak sulung
dari dua bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. H. Ridwan Sulaiman dan Ibunda
Hj. Nurhayati Gultom.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah
Dasar Negeri No. 2 Banda Aceh selesai tahun 1993, Sekolah Menengah Pertama di
SMP Negeri satu Banda Aceh selesai tahun 1996, Sekolah Menengah Umum Negeri I
Banda Aceh selesai tahun 1999, melanjutkan S-1 di Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Sumatera Utara Medan selesai tahun 2006.
Mulai bekerja sebagai Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada Puskesmas
Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mulai
1 September 2006 sampai 28 Februari 2007. Sebagai Konselor Program Aksi Stop
AIDS (ASA) dan Dokter di LSM Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Medan
sejak 2007 sampai 2008. Sebagai Dokter di RS. Muhammadiyah Medan November
2008 sampai Maret 2009. Sebagai Manager Kasus Program Aksi Stop AIDS di LSM
Gerakan Sehat Masyarakat (GSM) Medan sejak Maret 2009 sampai Desember 2009.
Sebagai Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Aceh Tamiang mulai Januari 2010 sampai
sekarang.
Tanggal 26 Agustus tahun 2006, penulis menikah dengan dr. Fathul Jannah
anak pertama dari tujuh bersaudara anak dari Bapak H. Asrul Amiruddin dengan Hj.
Astuti, dan penulis dikaruniai seorang puteri bernama Tanisha Rayhan. Tahun 2005
penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat, minat Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat
DAFTAR ISI
2.1. Pengambilan Keputusan... 12
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
4.1.3. Pengambilan Keputusan Tes HIV... 42
4.1.4. Pelayanan Klinik VCT ... 47
4.2. Informan Pangkal – 2 (Yani) ... 51
4.2.1. Deskripsi Diri ... 51
4.2.2. Sejarah Hidup ... 52
4.2.3. Pengambilan Keputusan Tes HIV... 55
4.2.4. Pelayanan Klinik VCT ... 59
4.3. Tenaga Kesehatan Klinik ... 63
BAB V PEMBAHASAN ... 68
5.1. Faktor-Faktor yang memengaruhi Pengambilan Keputusan dari dalam diri ... 70
5.2. Analisis Pelayanan Klinik VCT... 86
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 98
6.2. Saran ... 99
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1. Alur Pelayanan VCT ... 17
2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Persepsi ... 27
3. Kerangka Pikir Penelitian ... 30
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
ABSTRAK
Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi untuk tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Syndrome/Acquired
Immunune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Estimasi Komisi Penanggulangan
AIDS Nasional Daerah Sumatera Utara tahun 2008, diperkirakan jumlah waria di Kota Medan ada 790 orang, dengan kliennya sebanyak 11.230 orang. Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan sejak Februari 2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari 455 kunjungan. Survey pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tahun 2009 di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, hanya 47% waria yang melakukan VCT dari 100 jumlah kunjungan waria ke Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.
Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS. Kajian ini juga berusaha memahami latar belakang waria terkait dengan proses pengambilan keputusan melakukan tes HIV/AIDS. Informan kunci adalah waria yang telah melakukan konseling dan tes HIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik content analysis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam diri yang memengaruhi keputusan waria dalam melakukan tes HIV/AIDS adalah tekanan sosial, karakteristik gender, pengaruh orang lain, kebudayaan, kepentingan waria sendiri dan pengalaman, dan faktor luar adalah pelayanan Klinik IMS dan VCT Veteran yang merupakan layanan yang paling sering diakses komunitas waria.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mendirikan klinik IMS dan VCT berbasis komunitas waria yang didasarkan kepada kebutuhan, data dan bukti dari waria itu sendiri dan memberdayakan ODHA untuk menjangkau waria lainnya
ABSTRACT
The transvestite and gay as one of group with a highly risk contracted by a sexually transmitted infections (STIs) and Human Immunodeficiency Syndrome/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). National AIDS Commission Preventive for North Sumatra Region in 2008, estimated there were 790 transvestites in Medan City, with the number of clients as much as 11,230 people. The data from STI and VCT Veteran Clinics of Medan mentioned since February 2008 up to June 2009, there were only 187 transvestites who had HIV test from 455 visits. A preliminary survey was conducted by the researcher in 2009 at the STI and VCT Veteran Clinics of Medan, found that only 47% of the transvestites who had visit the VCT from 100 visiting.
The purpose of this study was to analyze the factors influencing the transvestites decision to have HIV/AIDS test. This study also tried to understand the background of the transvestites decision-making processed to have HIV/AIDS test. The key informants were transvestites who had attended counseling and got HIV/AIDS test. Type of this research was descriptive qualitative with content analysis techniques.
The result of research showed that the internal factors that influence decision as the transvestites to have the HIV/AIDS test such as social pressure, gender characteristic, influence of other people, cultures, the transvestite own interest and experience, and external factors such as clinical serviced by STI and VCT Veteran Clinics as most frequently to access by transvestites as community.
It suggested to the District of Health of Medan City to establish a STI and VCT Clinics base on the transvestites community according to the needs, the data and the evidence from the transvestites themselves, and empower people living with HIV/AIDS to reach the other transvestites.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini di berbagai belahan bumi mengalami masalah kesehatan
masyarakat yang sangat kompleks dan menjadi beban ganda dalam pembiayaan
pembangunan bidang kesehatan. Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai
206 juta jiwa (Sensus penduduk, 2000), dihadapkan pada masalah kesehatan yang
tidak jauh berbeda. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar
adalah infeksi menular seperti tuberkulosis paru, infeksi saluran pernafasan akut
(ISPA), malaria, diare dan penyakit kulit, namun pada waktu yang bersamaan terjadi
peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,
diabetes melitus dan kanker, selain itu Indonesia juga menghadapi emerging diseases
seperti HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency
Syndrome).
Sejak HIV/AIDS teridentifikasi pada tahun 1982, yang dikenal sebagai Gay
Related Immune Deficiency (GRID), yakni penurunan kekebalan tubuh yang
dihubungkan dengan kaum gay, HIV/AIDS telah menjadi pandemi dan problem
kesehatan utama di dunia hingga saat ini. WHO pada tahun 2003 mengestimasikan
37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2005 akhir, estimasi menjadi 53,6
juta orang terinfeksi, tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang. Infeksi baru per
tahun meningkat drastis dari 4 juta menuju 8 juta (UNAIDS 2008).
Pandemi HIV/AIDS di Indonesia terjadi sejak kasus pertama ditemukan tahun
1987, walaupun sebenarnya sudah menjadi isu sejak 1986, dengan meninggalnya
seorang pasien di sebuah rumah sakit, bahkan sejak tahun 1983, pada kelompok
waria, beberapa dari mereka CD4 sangat rendah (Djoerban, 2000). Pasien angka
kesakitan terhadap penyakit ini terus meningkat, karena di samping belum ditemukan
obat dan vaksin pencegahan, penyakit ini juga memiliki window period dan fase
asimtomatik yang relatif panjang. Hal tersebut di atas menyebabkan pola
perkembangannya seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena.
Indonesia tergolong negara dengan tingkat epidemi HIV/AIDS yang
terkonsentrasi, yaitu prevalensi kurang dari 1% pada populasi umum tetapi lebih dari
5% pada populasi tertentu (Depkes, 2006). Kelompok berisiko tinggi tersebut adalah;
1. Pengguna napza suntik (injection drug users / IDU), 2. Pekerja seks komersil.
Kelompok terakhir ini meliputi; pekerja seks perempuan, waria dan pekerja seks
laki-laki. Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku berisiko yang cukup aktif
menularkan penyakit di suatu sub populasi tertentu.
Komite Penanggulangan HIV/AIDS Nasional menyatakan status darurat
terhadap bahaya penularan HIV/AIDS, artinya, bahaya HIV/AIDS dan bagaimana
pencegahannya sudah sangat mendesak untuk diketahui masyarakat. Saat ini saja
positif. Jumlah ini diperkirakan hanya 10% dari seluruh orang yang terinfeksi HIV di
Indonesia (KPA Nasional, 2008).
Berdasarkan data estimasi, kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara lebih kurang
12.000 hingga 13.000 orang. Data terakhir Dinas Kesehatan Sumut sejak tahun 1992
hingga Juni 2008 kasus HIV/AIDS sebanyak 1316 dengan rincian 771 kasus HIV dan
545 kasus AIDS, berarti baru 10 persen kasus yang ditemui dari perkiraan. Padahal
Sumut merupakan peringkat ketujuh penderita HIV/AIDS di Indonesia (Ditjen
PP&PL Depkes RI, 2008).
Kota Medan memiliki jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di antara
seluruh kabupaten/kota di Sumut, hingga Juni 2008, jumlah kumulatif penderita
HIV/AIDS adalah 968, dengan rincian HIV (+) sebanyak 620 orang, dan AIDS
sebanyak 348 orang (Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2008).
Problem yang sangat mengancam, selain melalui hubungan seksual timbulnya
HIV/AIDS adalah efek penggunaan NAPZA melalui jarum suntik. Di Indonesia hal
ini merupakan sebuah fenomena baru, dideteksi 3 – 4 tahun terakhir, jika fenomena
ini timbul, maka akan terjadi second explossion of HIV/AIDS epidemic. Di Thiland
pola HIV/AIDS dimulai dari IDU tapi di Indonesia pola HIV/AIDS dimulai dari seks,
baru beberapa tahun terakhir pemakaian NAPZA melalui jarum suntik mulai menjadi
pola penyebab timbulnya HIV/AIDS. Penularan secara cepat terjadi karena
pemakaian jarum suntik bersama. Para penyalah guna NAPZA suntik ini dapat pula
berkisar antara 50 sampai 90% . Penggunaan NAPZA suntik biasanya dilakukan
dengan cara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak mudah memperkirakan pengguna
NAPZA suntik di Indonesia.
Hubungan seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual adalah model
utama penularan HIV. Tidak dapat dipungkiri perilaku seksual di kelompok risiko
tinggi komunitas waria memberikan kontribusi penularan HIV/AIDS yang signifikan.
Yayasan Riset AIDS Amerika, AMFAR menyimpulkan, MSM (Man that have Sex
with Man) dan waria ternyata berisiko 19 kali lebih besar tertular penyakit HIV
ketimbang masyarakat umum, AMFAR mengeluarkan kesimpulan ini setelah
melakukan penelitian di 129 negara. Hasil penelitian itu ternyata tidak berbeda jauh
dengan hasil penelitian badan AIDS PBB yang menyebutkan 44% dari warga negara
yang terkena AIDS adalah kaum gay dan biseksual (UNAIDS, 2008)
Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun
2007 adalah 20.960 hingga 35.300 orang. Prevalensi HIV di kalangan waria
berdasarkan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP), sejak tahun 1995 yang
hanya 0,3%, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2%, dan 6% di tahun 1997. Estimasi
Populasi KPAND Sumatera Utara 2008, untuk Kota Medan, diperkirakan jumlah
waria 790 orang, Klien waria 11.230 orang.
Beberapa faktor menyebabkan kelompok ini mudah terserang HIV, di
antaranya adalah migrasi dan mobilitas yang tinggi, mereka sering berpindah dari
dan akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan (Hawari, 2001). Orang yang
terjangkit virus HIV pada tahap awal, biasanya tak merasakan tanda berarti secara
fisik, sehingga mereka enggan memeriksakan dirinya ke layanan kesehatan.
Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi (risti) untuk
tertular IMS dan HIV/AIDS. Dari pengalaman penulis dalam pendampingan waria
dan gay diketahui bahwa sebagian besar waria di Kota Medan bekerja sebagai pekerja
seks. Aktivitas seks mereka umumnya adalah seks anal dan oral. Seks anal atau
melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus
(karena anus tidak elastis), sehingga dengan adanya luka di daerah anus, jika
pasangan seks terkena IMS dan HIV maka akan lebih mudah ditularkan. Tingkat
penggunaan kondom juga masih rendah, demikian juga halnya dengan informasi
tentang penularan IMS dan HIV/AIDS (Gerakan Sehat Masyarakat, 2009).
Waria memiliki permasalahan yang kompleks, terutama dalam masalah
kesehatan dan masalah kependudukan. Banyak kasus menunjukkan waria enggan
untuk datang ke tempat pelayanan kesehatan umum karena berbagai alasan.
Berdasarkan pengamatan penulis selama mendampingi waria, secara sadar atau tidak
mereka mengungkapkan enggan memeriksakan diri ke klinik VCT, karena VCT
merupakan program yang diadakan pemerintah untuk kepentingan penyedia layanan
ini. Mereka beranggapan pemerintah hanya setengah hati dan tidak tulus dalam
menjalankan program. Bentuk resistensi yang mereka lakukan adalah meminta
mangkal mereka. Anggapan sebagian dari mereka adalah petugas kesehatan
mendapatkan rupiah setiap sample darah yang diambil dari mereka. Demikian juga
dalam masalah kependudukan, sebagian besar waria tidak memiliki kartu identitas,
tidak jarang mereka menemui kesulitan mengurus kartu tanda penduduk (KTP) atau
kartu identitas lainnya.
HIV/AIDS memiliki dampak besar pada penderita dan keluarga. Pencegahan
penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dan
dukungan pada penderita HIV/AIDS dan keluarganya. Voluntary Counselling and
Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya tersebut. VCT merupakan strategi
efektif pencegahan dan perawatan HIV (Depkes RI, 2006). VCT terutama ditujukan
bagi kelompok risti HIV/AIDS dan keluarganya. Tetapi layanan VCT ini juga dapat
dilakukan masyarakat umum yang ingin mengetahui status HIV melalui tes.
Mereka yang menggunakan layanan VCT di dalam dirinya ada perasaan kuat
tentang tata nilai, aktivitas seksual, diagnosis dan seringkali mereka betul-betul
menurunkan perilaku berisikonya. VCT memberikan keuntungan baik bagi mereka
yang positif maupun bagi mereka yang negatif. VCT dapat mengurangi kegelisahan,
meningkatkan persepsi mereka tentang faktor risiko terkena infeksi HIV,
mengembangkan perubahan perilaku, secara dini mengarahkan mereka menuju ke
program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi anti retroviral, serta
Tim monev Sekretariat KPAN pada tahun 2007 mencatat jumlah cakupan
program populasi kelompok risiko tinggi seksual yang mendapat pelayanan VCT
pada WPS 69,95%, waria 50%, laki-laki suka laki-laki (LSL) 53,64%. Masalah yang
kemudian timbul adalah masih sedikit waria yang mau melakukan tes HIV/AIDS,
meskipun telah mendapatkan informasi baik melalui proses konseling maupun media
lainnya, dalam artian masih rendahnya pemanfaatan klinik VCT yang tersedia, baik
klinik VCT yang ada di rumah sakit maupun yang berdiri sendiri. Padahal VCT
merupakan salah satu bagian kecil dari rumah sakit, sehingga untuk meningkatkan
mutu pelayanan rumah sakit secara umum seyogyanya terlebih dahulu dimulai dari
unit-unit kecil tersebut, salah satunya adalah klinik VCT.
Rendahnya pemanfaatan VCT diperkirakan karena VCT berbasis pada
kebutuhan dan memerlukan persetujuan (informed consent) dari orang yang akan
dites, dalam artian tes HIV harus selalu atas keputusan klien. Terkait dengan
keputusan, Starr (1981) menyebutkan bahwa keputusan yang diambil seseorang yang
berlaku umum unsur-unsur atau komponennya adalah:
1. Tujuan harus ditegakkan dalam pengambilan keputusan.
2. Identifikasi alternatif.
3. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya.
4. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai.
Robbins (2003) menyebutkan dalam mengambil keputusan, kualitas dari
tidak selalu mengikuti proses rasional yang diracik cermat. Ketika individu
memandang ke objek tertentu dan coba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran
itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu pelaku persepsi itu.
Selanjutnya Robbins mengemukakan bahwa faktor yang memengaruhi persepsi
adalah faktor pada pemersepsi, faktor dalam situasi, dan faktor pada target. Faktor
pada pemersepsi, adalah sikap, motif, kepentingan, pengalaman, dan pengharapan.
Variabel dalam situasi adalah waktu, keadaan lingkungan, keadaan sosial. Adapun
faktor pada target meliputi hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang dan
kedekatan. Perbedaan ini menggambarkan bahwa persepsi individu tidak sama antara
satu individu dengan individu lainnya.
Hubungan persepsi dengan pengambilan keputusan, merujuk penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Nurjannah (2003), tentang persepsi dengan keputusan
pembelian obat penurun panas anak yang diiklankan media elektronik di Jakarta,
menjelaskan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi dan sikap
konsumen terhadap keputusan pembelian. Kristiyanto dkk (2003) tentang faktor
psikologis yang berpengaruh pada pengambilan keputusan nasabah untuk menjadi
anggota BMT, menyimpulkan terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara
variabel persepsi dengan pengambilan keputusan untuk menjadi anggota.
Klinik IMS dan VCT Veteran merupakan salah satu layanan kesehatan yang
dapat melakukan pemeriksaan HIV di Kota Medan. Walaupun terdapat klinik IMS
Klinik IMS dan VCT Veteran merupakan satu–satunya klinik di bawah Dinas
Kesehatan Propinsi yang khusus melayani pemeriksaan IMS dan VCT (Dinas
Kesehatan Propinsi, 2008). Klinik ini juga dirasa kelompok waria memiliki lokasi
strategis dan cukup nyaman untuk mengungkapkan status dibandingkan tempat
pemeriksaan lainnya.
Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan dari bulan Februari
2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari
455 kunjungan. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan penulis terhadap
100 orang waria yang mengunjungi Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, setelah
diberikan pra tes konseling, hanya 47% dari mereka yang bersedia diambil sample
darahnya untuk dilakukan tes HIV, padahal secara nasional sepertiga dari kelompok
risiko tinggi ini merupakan HIV positif (KPAN, 2008). Atas realitas tersebut penulis
menganggap penting untuk memahami lebih dalam mengenai waria,
kebutuhan-kebutuhan atau dorongan yang mengarahkan dan memberi energi pada waria,
tekanan-tekanan yang dialami, konflik-konflik yang terjadi, hingga bagaimana
mekanisme pertahanan diri yang digunakan oleh waria tersebut. Cara yang paling
tepat adalah dengan mempelajari dinamika kepribadian beserta faktor-faktor yang
memengaruhi perjalanan hidupnya, dimana hal ini dapat diketahui dengan
menghubungkan masa lalu, masa kini dan antisipasi masa depan orang tersebut
1.2. Perumusan Masalah
Layanan VCT merupakan bagian dari promosi dan organ dalam mengurangi
laju epidemi HIV/AIDS. Insiden HIV positif di komunitas waria, yang merupakan
kelompok risiko tinggi terpapar, salah satunya disebabkan rendahnya pemanfaatan
layanan VCT yang mensyaratkan dilakukan tes HIV/AIDS, Penyebab sementara
dirumuskan karena anggapan negatif terhadap pemerintah sebagai penyedia layanan
VCT, resistensi kecil–kecilan terhadap penyedia layanan, pengalaman yang buruk
dari waria lainnya, hasil tes yang berbeda dari harapan, pendidikan maupun aspek
lainnya seperti orientasi seksual yang terkait dengan kemauan waria melakukan tes
HIV/AIDS.
Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, dirumuskan masalah penelitian
yakni bagaimana pengambilan keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca
konseling HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi
keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca konseling HIV/AIDS di Klinik IMS
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan rumah sakit yang memiliki klinik
IMS dan VCT untuk mengembangkan konsep penanggulangan HIV/AIDS
dalam perspektif waria.
2. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan manajemen Klinik IMS dan VCT
Veteran Medan dalam mengembangkan layanan VCT berbasis komunitas
waria.
3. Sebagai bahan masukan konseling yang efektif guna menambah informasi,
pengetahuan dan pemahamam tentang proses pengambilan keputusan waria
melakukan VCT.
4. Sebagai penambah wawasan bagi penulis untuk melatih diri berpikir secara
ilmiah pada bidang sumber daya manusia dan bekal pengetahuan dan
pengalaman untuk penerapan di lingkungan kerja.
5. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi penulis selanjutnya yang
memfokuskan penelitian pada masalah yang sama di masa yang akan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan
pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain
dikesampingkan, Morgan dan Cerullo dalam Salusu (2003). Dalam hal ini yang
dimaksud dengan pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau
alternatif (Salusu, 2003). McGrew dan Wilson (1985) lebih melihat kaitannya dengan
proses, yaitu bahwa suatu keputusan ialah keadaan akhir dari suatu proses yang lebih
dinamis yang diberi label pengambilan keputusan. Ia dipandang sebagai proses
karena terdiri atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai
tindakan bijaksana. Dari berbagai definisi keputusan tersebut dapat di simpulkan
bahwa keputusan adalah kesimpulan yang diambil dari suatu pertimbangan yang telah
melewati sebuah proses dari beberapa alternatif.
Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak
dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi (Salusu, 2003). Sehubungan
dengan itu, Inbar dalam Salusu (2003) menyatakan pengambilan keputusan
hendaknya dipahami dalam dua pengertian, yaitu; 1. Penetapan tujuan yang
merupakan terjemahan dari cita-cita, aspirasi, dan 2. Pencapaian tujuan melalui
sebenarnya ia bukan keputusan, tetapi lebih tepat dikatakan suatu hasrat atau niat,
Drucker, Holy dalam Salusu (2003).
Keputusan dibuat dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh
sembarangan. Masalahnya terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan
jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari
alternatif-alternatif yang disajikan (Syamsi, 1989). Individu berpikir dan menalar
sebelum bertindak. Karena inilah suatu pemahaman bagaimana orang-orang
mengambil keputusan dapat membantu menjelaskan dan meramalkan perilaku
mereka (Robbins, 2003).
2.2. Waria
Salviana (2005) menjelaskan waria adalah orang yang secara jasmaniah
laki-laki, namun berpenampilan dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan
orientasi seksnya homoseks (menyukai sesama jenis). Secara fisik waria, baik yang
berperan sebagai laki-laki maupun perempuan adalah bagian dari homoseksual.
Namun demikian, ada suatu hal yang membatasi secara jelas antara kaum homoseks
dan kaum waria. Misalnya saja dalam berpakaian, seorang homoseks tidak merasa
perlu berpenampilan sebagaimana perempuan. Sebaliknya, seorang waria merasa
bahwa dirinya adalah perempuan, sehingga harus berpenampilan sebagaimana
Menurut Nadia (2005), dilihat dari cara berpakaian, waria dapat
dikategorikan menjadi dua, yaitu sebagai transvestime dan transeksualisme.
Transvestisme adalah hawa nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari lawan
jenis kelaminnya. Pada transvestisme yang lebih ditonjolkan adalah kepuasan seks
seseorang yang didapat dari cara berpakaian yang berlawanan dengan jenis kelamin
yang melekat dalam dirinya. Jika seseorang itu berjenis kelamin laki-laki, maka ia
akan mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian perempuan. Sebaliknya,
jika seseorang itu berjenis kelamin perempuan, ia akan mendapatkan kepuasan seks
hanya dengan memakai pakaian laki-laki. Pada waria sebagai seorang transeksualis
memiliki karakteristik yang berbeda. Seorang transeksualis secara jenis kelamin
sempurna dan jelas, tetapi secara psikis cenderung menampilkan ciri sebagai lawan
jenis.
2.2.1. Pembagian Waria
Menurut Benny D.Setianto yang dikutip Salviana (2005) empat kategori
kewariaan adalah; 1. Pria menyukai pria. 2. Kelompok yang secara permanen
mendandani dirinya sebagai seorang perempuan. 3. Kelompok yang karena desakan
ekonomi harus mencari nafkah dengan berdandan dan beraktivitas sebagai
perempuan. 4. Kelompok coba-coba atau memanfaatkan keberadaan kelompok
sebagai bagian dari kehidupan seksual mereka. Faktor –faktor penyebab terjadinya
disebabkan bukan hanya oleh faktor biologis saja, melainkan dipengaruhi oleh faktor
psikologi, sosiobudaya termasuk di dalamnya pola asuh lingkungan yang
membesarkannya. c) mempunyai pengalaman sangat hebat dengan lawan jenis
sehingga mereka berhayal dan memuja lawan jenis sebagai idola dan ingin menjadi
seperti lawan jenis (Salviana, 2005).
2.2.2. Masalah yang Dihadapi Waria
Berperilaku menjadi waria memiliki banyak risiko. Waria dihadapkan pada
berbagai masalah: penolakan keluarga, kurang diterima atau bahkan tidak diterima
secara sosial, dianggap lelucon, hingga kekerasan baik verbal maupun non verbal.
Penolakan terhadap waria tersebut terutama dilakukan oleh masyarakat strata sosial
atas. Oetomo (2000) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa masyarakat strata
sosial atas ternyata lebih sulit memahami eksistensi waria, mereka memiliki
pandangan negatif terhadap waria dan enggan bergaul dengan waria dibanding
masyarakat strata sosial bawah yang lebih toleran. Karena belum diterimanya waria
dalam kehidupan masyarakat, maka kehidupan waria menjadi terbatas terutama pada
kehidupan hiburan seperti ngamen, ludruk, atau pada dunia kecantikan dan kosmetik
dan tidak menutup kemungkinan sesuai realita yang ada, beberapa waria menjadi
pelacur untuk memenuhi kebutuhan materil maupun biologis. Pakar kesehatan
masyarakat dan pemerhati waria, Gultom (2002) setuju dengan pendapat seorang
Penolakan terhadap waria tidak terbatas rasa “jijik”, mereka juga ditolak untuk
mengisi ruang-ruang aktivitas, dari pegawai negeri, karyawan swasta, atau berbagai
profesi lain. Bahkan dalam mengurus KTP, persoalan waria juga mengundang
penolakan dan permasalahan, maka sebagian besar akhirnya turun dijalanan untuk
mencari kebebasan (Kompas, 7 April 2007).
Keadaan yang dialami waria merupakan awal dari berbagai permasalahan
dalam masyarakat. Dalam perjalanan hidupnya, waria melewati konflik batin yang
panjang. Permasalahan besar yang dihadapi oleh waria salah satunya adalah penyakit
kelamin. Kehidupan waria banyak didominasi oleh perilaku seks yang umumnya
mengandung risiko cukup tinggi. Waria memiliki risiko lebih besar dibandingkan
dengan heteroseksual karena waria memiliki frekuensi berganti-ganti pasangan lebih
tinggi dibanding yang lain. Bahkan jika dibandingkan dengan pelacuran wanita,
kejangkitan penyakit kelamin di kalangan waria lebih tinggi. Kehidupan mereka yang
identik dengan pelacuran tentu saja sering berganti pasangan.
Perilaku hubungan seks berisiko tinggi tersebutlah yang mengundang
berbagai penularan penyakit kelamin. Waria rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS
dan berisiko tinggi dikarenakan mobilitas kaum tersebut tergolong tinggi. Waria
sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Selain mobilitas yang tinggi, umumnya banyak waria yang enggan
2.3. VCT
Voluntary Counseling and testing (VCT), dalam Bahasa Indonesia disebut
konseling dan tes sukarela, merupakan gabungan dua kegiatan, yaitu konseling dan
tes HIV secara sukarela dalam satu pelayanan terpadu. Layanan konseling sendiri
terbagi dua, yaitu konseling pra tes dan konseling pasca tes yang keduanya selalu
disertai konseling (Depkes, 2006).
Gambaran pelayanan VCT dapat dijelaskan sebagaimana ditunjukkan dalam
gambar di bawah ini.
Konseling Tes HIV/AIDS Konseling
Pra tes Pasca tes
Sumber: Depkes, 2006
Gambar 1.
Alur Pelayanan VCT
Pendekatan VCT tidak dapat dilakukan massal seperti penyuluhan atau edukasi
massal, melainkan harus : 1. Terfokus pada klien satu persatu. 2. Melakukan
penilaian risiko personal dan menurunkan risiko. 3. Menggali kemampuan diri dan
mengarahkan rencana ke depan. 4. Meneguhkan keputusan tes. 5. Menindaklanjuti
2.3.1. Konseling
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara
etimologis berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasihat. Menurut Rogers
yang dikutip Hallens (2005), counseling is a series of direct contacts with the
individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior.
(Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan
untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya). Konseling
merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di mana proses pemberian
bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung
dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar klien mampu
memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu mengarahkan
dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang
optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan kemanfaatan sosial.
Wilis (2004) mengemukakan konseling adalah upaya bantuan yang diberikan
seseorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman terhadap individu yang
membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal,
mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan
yang selalu berubah. Konseling HIV/AIDS merupakan proses dengan tiga tujuan
1. Menyediakan dukungan psikologik, misalnya dukungan yang berkaitan dengan
kesejahteraan emosi, psikologik, sosial dan spiritual seseorang yang mengidap
virus HIV atau virus lainnya.
2. Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku
berisiko (seperti melakukan seks berganti pasangan atau penggunaan jarum
bersama) dan membantu orang dalam mengembangkan keterampilan pribadi yang
diperlukan untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek yang lebih aman.
3. Memastikan efektifitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui
pemecahan masalah kepatuhan berobat (Depkes, 2006).
2.3.1.1. Konseling Pra tes
Konseling pra tes yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang
yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk
mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap
setelah mengetahui hasil tes. Konseling pra tes bermanfaat untuk meyakinkan orang
terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila
hasilnya nanti positif (Depkes, 2006).
2.3.1.2. Konseling Pasca tes
Konseling pasca tes yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes
untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara
menghidnari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin
hidup secara positif. Bagi mereka yang hasilnya HIV negatif, konseling pasca tes
bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa
datang (Depkes, 2006).
2.3.2. Tes HIV
Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah
seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi
adanya antibody HIV di dalam sample darahnya. Hal ini perlu dilakukan setidaknya
agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama
menyangkut risiko dari perilakunya selama ini. Tes darah yang dilakukan biasanya
menggunakan tes rapid ataupun tes ELISA (enzyme linked immunosorbent assay)
yang memiliki sensitivitas tinggi, namun spesifikasinya rendah. Bila pada saat tes
ELISA hasilnya positif, maka harus dikonfirmasi dengan tes Western Blot, yaitu jenis
tes yang mempunyai spesifikasi tinggi namun sensitifitasnya rendah. Karena sifat
kedua tes ini berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang
akurat. Selain ketiga jenis tes tadi, ada juga jenis tes lain yang mampu mendeteksi
antigen (bagian dari virus), yaitu NAT (nucleic acid amplification technologies) dan
Tes HIV harus bersifat sukarela, artinya bahwa seseorang yang akan
melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas
paksaan atau tekanan orang lain. Ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk dites
setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan
kerugian dari testing, serta apa saja impilkasi dari hasil positif atau pun hasil negatif,
dan rahasia. Artinya, apa pun hasil tes ini nantinya (baik positif maupun negatif)
hasilnya hanya boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Tidak
boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua, pasangan, atasan atau siapapun
(Nasution; Anwar; Putra, 2000).
Pertemuan pertama dengan individu yang potensial menderita HIV, seorang
tenaga kesehatan profesional harus mencoba untuk mencapai beberapa tujuan yang
spesifik. Pertemuan yang dilakukan bukan hanya berupa pemeriksaan atau tes, tetapi
juga termasuk diskusi dan konseling baik sebelum dan sesudah pemeriksaan.
(Muma, 2007).
2.4. HIV / AIDS 2.4.1. Pengertian HIV
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang
suatu retrovirus RNA yang memiliki genom yang dapat mengkode enzim transverse
transcriptase yaitu enzim yang memungkinkan virus untuk mengubah informasi
genetiknya yang berbeda dalam RNA menjadi bentuk DNA dan kemudian
diintegrasikan ke dalam informasi genetik sel limfosit yang diserang. Human
Immunodeficiency Virus menyerang limfosit T-helper yang mempunyai reseptor CD4
pada permukaannya (Depkes, 2006).
2.4.2. Pengertian AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu
menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi HIV
(Human Immunodeficiency Virus). Seseorang yang terinfeksi HIV dapat dengan
mudah terserang berbagai penyakit, termasuk penyakit yang dalam keadaan normal
sebenarnya tidak terlalu berbahaya, tetapi bagi mereka yang telah terinfeksi HIV,
penyakit tersebut justru dapat bertambah parah. Hal ini disebabkan karena rendahnya
daya kekebalan tubuh dan dapat berakhir dengan kematian (Nasution, 2000).
AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai Human T-cell Lymphotric
Virus Type III (HTLV-III), atau Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). HTLV-
III adalah retrovirus. Ini adalah tipe unik virus yang mengandung RNA yang mampu
menghasilkan DNA dalam sel yang terinfeksi. Virus tersebut menulari sel darah yang
dikenal sebagai limfosit, yang bertanggung jawab atas sistem imunitas tubuh dan
HTLV-III sehingga sistem imunitas rusak. Selanjutnya, hal ini menimbulkan infeksi
dan kanker tertentu yang terbentuk di dalam tubuh (Weber, 2006).
2.4.3. Cara Penularan
Virus penyebab AIDS adalah HIV yang terdapat dalam darah dan cairan
tubuh seseorang yang telah tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukkan
keluhan atau gejala penyakit. HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara-cara
tertentu tanpa melihat status, kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat
pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksual (Nasution, 2000).
Tiga cara penularan HIV yang paling sering terjadi adalah :
a. Hubungan seksual.
Ada beberapa cara untuk melakukan hubungan seksual, yaitu vaginal (lewat
vagina), anal (menggunakan dubur), oral (menggunakan mulut) dan mano-genital
(menggunakan tangan). Dari keempat cara tersebut, risiko terbesar untuk dapat
tertular HIV adalah apabila melakukan hubungan seksual secara anal dan vaginal.
80% sampai dengan 90% kasus HIV ditemukan pada mereka yang melakukan
kegiatan seksual secara anal. Hal ini disebabkan karena lapisan kulit di sekitar dubur
cukup tipis, sehingga dapat mengakibatkan luka yang mengeluarkan darah dan dapat
terjadi kontak antar cairan tubuh.
b. Kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik
Transfusi darah/produk darah yang tercemar HIV merupakan risiko tertinggi
penularan HIV yaitu mencapai lebih dari 90%. Namun demikian, kasus penularan
HIV melalui transfusi darah ini hanya dijumpai 3 - 5% dari total kasus penularan HIV
sedunia. Selain itu, pemakaian jarum suntik yang tidak steril ataupun pemakaian
jarum suntik secara bersama terutama seperti yang dilakukan oleh para pecandu
narkotik. Cara ini mengandung risiko 0,5 – 1% dan telah ditemukan pada 5 - 10%
dari total kasus sedunia.
c. Secara vertikal.
Secara vertikal maksudnya yaitu dari ibu hamil kepada bayi yang
dikandungnya, dimana penularan bisa saja terjadi pada waktu kehamilan, melahirkan
ataupun sesudah melahirkan (ketika menyusui). Risiko penularan lewat cara ini
adalah 25 - 40% dan telah ditemukan pada kurang dari 0,1% dari total kasus sedunia
(Nasution, 2000).
2.4.4. Gejala AIDS
Seorang dewasa (>12 tahun) dianggap menderita AIDS apabila menunjukkan
tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang–kurangnya
didapatkan 2 gejala mayor yang berkaitan dan 1 gejala minor serta gejala ini bukan
a. Gejala minor yang mungkin akan timbul adalah :
1. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan.
2. Dermatitis generalisata.
3. Adanya herpes zooster multi segmental dan herpes zooster berulang.
4. Kandidiasis orofaringeal.
5. Herpes simpleks kronis progresif.
6. Limpadenopati generalisata.
7. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.
8. Retinitis virus sitomegalo.
b. Gejala mayor yang muncul setelah sistem kekebalan tubuh menurun yaitu:
1. Penurunan berat badan lebih dari 10 % dalam satu bulan.
2. Demam berkepanjangan lebih dari satu bulan.
3. Diare kronis lebih dari satu bulan.
4. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis.
5. Demensial/HIV ensefalopati.
c. Gejala AIDS yang lengkap adalah gejala minor dan mayor disertai satu atau lebih
penyakit oportunistik, yaitu :
1. Pneumocystis Cariini merupakan infeksi parasit pada paru–paru.
2. Sarkoma Kaposi merupakan kanker yang tersebar pada kulit/mulut.
3. Tuberkulosis.
5. Infeksi gastrointestinal (Cryptosporidiosis)
6. Diare kronis dengan penurunan berat badan.
7. Infeksi neurologik (Cryptococcal atau meningitis sub akut).
8. Demam tanpa sebab yang jelas
9. Kelainan neurologis
2.5. Persepsi 2.5.1. Pengertian
Persepsi merupakan proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan
dan menafsirkan kesan indera yang dimiliki agar memberi makna kepada lingkungan.
Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah
diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang
berasal dari dalam diri individu (Robbins, 2003).
Menurut J.P Chaplin yang dikutip Dzakiey (2005), persepsi adalah proses
mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera atau
menafsirkan stimulus yang telah ada di otak. Faktor yang memengaruhi persepsi
adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan
(ekspektasi). Dalam lingkup yang lebih luas, persepsi merupakan suatu proses yang
melibatkan pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterpretasikan
stimulus yang ditunjukan oleh panca indera. Dengan kata lain, persepsi merupakan
sendiri (pengetahuan sebelumnya). Persepsi memberikan makna pada stimuli (sensor
stimuli). Persepsi juga merupakan pengalaman tentang objek atau hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Robbins, 2003).
Gambaran faktor–faktor yang memengaruhi persepsi dapat dijelaskan
sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut ini.
2.5.2. Faktor yang Memengaruhi Persepsi
1. Sikap, adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan,
baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan
manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan
untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang.
Menurut Notoatmodjo (2003) dengan mengutip Cardno mendefenisikan sikap
sebagai : attitude entails an existing predisposition to response to social
objects which in interaction with situational and other dispositional variables,
guides and direct the overt behavior of the individual. Sikap terbentuk dari
adanya interaksi sosial yang dialami individu. Beberapa faktor yang
memengaruhi pembentukan sikap, yakni (1) Pengalaman pribadi. (2) Pengaruh
orang lain yang dianggap penting. (3) Pengaruh kebudayaan. (4) Media massa.
(5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama. (6) Pengaruh faktor emosional.
2. Motif, adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan
bekerja seseorang; setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai
(Hasibuan, 2007). Motif mengandung semua alat penggerak alasan atau
dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Sebuah
motif adalah suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan
secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir.
3. Kepentingan, individu berbeda satu sama lain. Apa yang dicatat satu orang di
4. Pengalaman. Pengalaman seseorang tentang objek, peristiwa, atau hubungan
yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang
telah diterima sebelumnya. Kemudian dihubungkan dengan hal yang terjadi
sekarang.
5. Pengharapan. Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu
tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan bisa dilihat.
2.6. Landasan Teori
Keputusan adalah sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan
pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain
dikesampingkan.
Waria adalah orang yang secara jasmaniah laki-laki, namun berpenampilan
dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan orientasi seksnya homoseks
(menyukai sesama jenis).
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana
proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian
pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar
klien mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu
mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kearah
perkembangan yang optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan
Telaah tentang pengambilan keputusan waria melakukan tes HIV, mengacu
kepada Robins (2003), pengambilan keputusan yang optimal bersifat rasional, namun
ketika individu memandang ke obyek tertentu dan mencoba menafsirkan apa yang
dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh pelaku pemersepsi, dalam objek
atau target yang dipersepsikan
2.7. Kerangka Pikir
Faktor Pemersepsi
- Sikap Keputusan
- Motif Persepsi Melakukan Tes
- Kepentingan HIV/AIDS
- Pengalaman
- Pengharapan
Gambar 3.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini mengenai keputusan waria pasca konseling pra tes HIV/AIDS
dalam melakukan tes HIV/AIDS. Pengambilan keputusan dipengaruhi persepsi.
Persepsi yang dimiliki bervariasi pada setiap orang dan terkait dengan penghayatan
subjektif. Oleh sebab itu, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.
Menurut Sugiyono (2008) penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian
yang memungkinkan penulis memahami permasalahan individu secara lebih
mendalam dan kompleks, memberikan gambaran secara holistik, disusun dari
kata-kata, mendapatkan informasi rinci yang diperoleh dari informan dan berada dalam
setting alamiah. Merupakan metode yang didalam penelitiannya tidak mencari atau
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi tetapi
menggambarkan pengamatan secara langsung dan melukiskan gejala berdasarkan
fakta-fakta yang ada dan bagaimana adanya. Penelitian deskriptif ditujukan untuk :
1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang
ada.
2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang
berlaku.
4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang
sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan
keputusan pada waktu yang akan datang.
3.2. Lokasi dan Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan di Klinik IMS dan VCT Veteran dengan asumsi
kelompok waria merasa nyaman dan sering mendatangi klinik ini. Pelaksanaan
penelitian direncanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2009.
3.3. Informan
Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini adalah berdasarkan
purposive sampling. Informan dipilih berdasarkan dengan permasalahan dan tujuan
penelitian, Hal ini dilakukan agar partisipasi benar representatif terhadap fenomena
yang dipelajari (Sugiyono, 2006). Jumlah informan tergantung situsi dan kondisi di
lapangan.
Informan dalam penelitian dimaksudkan sebagai pintu masuk pendukung
fakta lapangan dan bukan sebagai data mutlak. Informasi lain didapat dari berbagai
sumber (informan) lain seperti peserta FGD, koordinator pelayanan, pegawai Klinik
IMS dan VCT Veteran dan sumber lain yang dianggap relevan dengan tema
3.4. Definisi Istilah
Keputusan adalah kesimpulan yang diambil dari suatu pertimbangan yang
telah melewati sebuah proses dari beberapa alternatif
Pengambilan Keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak
dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi.
Waria adalah orang yang secara jasmaniah laki-laki, namun berpenampilan
dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan orientasi seksnya homoseks
(menyukai sesama jenis).
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana
proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian
pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar
klien mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu
mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah
perkembangan yang optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan
kemanfaatan sosial.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dari informan adalah
Fokus Grup Diskusi (FGD), wawancara mendalam (depth interview) dan observasi
pada saat wawancara dilakukan. Wawancara mendalam sebagai metode primer.
Masyarakat (LSM) yang mendampingi waria, selanjutnya melalui informan ini dapat
ditanyakan informan selanjutnya, begitu seterusnya, sehingga dari satu informan
semakin lama semakin bertambah banyak, dan disesuaikan dengan kebutuhan
informasi yang diinginkan.
Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih
luas dan mendalam tentang keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca
konseling HIV/AIDS dalam melakukan tes HIV/AIDS. Jenis wawancara yang
digunakan adalah wawancara tidak berstruktur, sehingga pewawancara bebas
memvariasikan urutan dan kata-kata dalam setiap pertanyaan, dan dapat menggali
informasi lebih mendalam karena dapat mengajukan pertanyaan tambahan guna
mendapatkan jawaban yang lebih spesifik dan akurat.
Pertanyaan yang digunakan hanya sebagai pintu masuk untuk membuka
wacana sehingga informan bebas mengekspresikan diri, menentukan jenis dan
banyaknya informasi yang akan diberikan serta menyatakan apa yang mereka pikir
penting dan informasi penting yang sebelumnya tidak terpikir oleh penulis.
FGD diarahkan untuk mendapatkan informan yang dianggap layak dan
memberikan second opinion terhadap data yang didapat dari wawancara mendalam.
Observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat dan
mencatat fenomena yang muncul, sebagai bagian dari penelitian yang berlangsung
dalam konteks alamiah (Sugiyono, 2006). Nasution dalam Permanasari (2003)
tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Dalam penelitian ini
observasi digunakan hanya sebagai metode sekunder untuk memperoleh gambaran
tentang reaksi informan saat pengambilan data dilakukan.
3.6. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah live history
method, disebabkan penulis ingin menganalisis data yang didapatkan dari sejarah dan
latar belakang kehidupan informan yang dibentuk dari kehidupan masa lalu dan masa
kini, namun dmempunyai kaitan dengan tujuan penelitian. Seluruh hasil wawancara
dengan para informan dituang dalam bentuk verbatim. Kemudian dilakukan koding
pada verbatim berdasarkan tema yang muncul dari respon atau jawaban yang
diberikan informan. Dengan melakukan koding, data yang diperoleh dapat
memunculkan gambaran tentang topik yang diteliti dan penulis akan mendapatkan
makna dari data tersebut.
Catatan selama FGD berlangsung disusun kembali dengan membuat transkrip,
dalam menyusun catatan dibantu dengan mendengarkan kembali tape recorder untuk
bagian yang terlewatkan. Data observasi, depth interview dan FGD yang telah
dikelompokkan kemudian dianalisis berdasarkan tema yang muncul untuk kemudian
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini melibatkan 2 (dua) orang informan pangkal, yaitu waria yang
telah mengikuti proses VCT secara menyeluruh di Klinik IMS dan VCT Veteran
Medan. Penelitian ini juga melibatkan koordinator pelayanan Klinik IMS dan VCT
Veteran, konselor, tenaga laboratorium dan dokter pemeriksa. Petugas outreach
lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, beberapa peserta fokus grup diskusi
(FGD) yang merupakan waria dalam komunitas informan sebagai pengontrol untuk
mendapatkan secondary opinion dari informan pangkal.
Penulis memandang penting untuk menggambarkan deskripsi diri dan sejarah
hidup informan. Karena dinamika kehidupan waria yang sangat kompleks sehingga
dalam pengambilan keputusan, persepsi yang terbentuk oleh informan sebagai waria
sangat terkait dengan kehidupan masa lalu, lingkungan masyarakat dan orang lain
yang berhubungan dengan kehidupannya.
Penelitian ini juga bermaksud menggambarkan realitas sosial sebagai bagian
yang tidak lepas dari individu dan maknanya. Bagaimana dan mengapa individu
Tabel 1. berikut adalah gambaran umum dari kedua informan pangkal tersebut.
Informan-1 Informan-2
Nama (bukan yang sebenarnya)
Sari Yani
Usia 29 tahun 32 tahun
Pendidikan terakhir SMU SMK
Pariwisata
Suku bangsa Batak Jawa
Agama Kristen Islam
Pekerjaan Utama Pekerja Seks Pemilik Salon Kecantikan
4.1. Informan Pangkal – 1 (Sari) 4.1.1. Deskripsi Diri
Perawakan tubuh kurus dan tinggi dengan kulit sawo matang, waria yang
telah melakukan operasi perubahan pada hidung yang tampak mancung, namun
sedikit kurang proporsional. Beberapa bagian wajah seperti dagu, bibir dan pipi juga
tampaknya dilakukan operasi sederhana. Terlihat dada yang lebih besar dari laki-laki
umumnya, sehingga tampak menyerupai buah dada. Rambut hitam, panjang sebahu
untuk menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Tampak raut wajah yang
sedikit cemas dengan maksud kedatangan penulis, sering mengernyitkan dahi dan
pandangan menerawang jauh seperti menyembunyikan sesuatu. Berkali-kali ia
meminta agar identitas aslinya tidak dipublikasikan. Sari takut orang tua atau salah
seorang anggota keluarganya ada yang mengetahui keberadaan dan keadaannya saat
ini.
Walaupun pada awalnya Sari cenderung tertutup, tetapi lama kelamaan dia
mulai terbuka, interaksi berjalan cukup lancar, kebalikannya dia sering menjawab
sesuatu yang diluar lingkup pertanyaan, tampaknya Sari butuh teman untuk berbagi.
Sebenarnya dia ingin keluarganya menerima dia kembali, kerinduan itu beberapa kali
diungkapkan kepada penulis, hanya dia takut akan dipukul dan diusir kembali oleh
bapaknya. Perasaan tertekan demikian kuat memengaruhi jalannya wawancara.
Beberapa kali wawancara ditunda karena Sari lebih banyak menangis. Emosinya
mudah sekali terpancing dalam menanggapi sesuatu yang ditanyakan penulis
mengenai kehidupan masa lalunya. Dua hal yang bertolak belakang tentang
perasaannya sering muncul di awal pertemuan, terlebih ungkapan perasaannya
terhadap bapaknyanya. Lebih dari lima kali pertemuan pembicaraan dua arah lebih
efektif. Sari menganggap penulis cukup sabar mendampinginya, sehingga
4.1.2. Sejarah Hidup
Terlahir 2 November 1980, dengan nama asli pemberian orang tua seperti
kebanyakan laki-laki lain pada umumnya. Sari terlahir dari keluarga yang agamis.
Keluarganya merupakan keluarga besar, dia memiliki lima saudara laki-laki (enam
dengan dirinya) dan satu saudara perempuan. Kalau ingin cerita dia cenderung lebih
terbuka dengan saudara perempuannya. Dia memiliki masa kecil yang agak berbeda
dengan anak-anak pada umumnya. Sari lebih suka bermain dengan perempuan dan
sudah kelihatan genit, dia tidak suka bermain dengan laki-laki.
”Yang membedakan dengan teman-teman laki-laki lain, aku kalau main-main lebih suka dengan perempuan dan mainannya suka yang berbau-bau perempuan, seperti bunga-bungaan. Anehnya orang tua aku waktu itu membiarkan”
Perilaku masa kecilnya tersebut tumbuh kembang sampai dia benar-benar
menjadi seorang waria. Orang tua Sari tidak sadar kalau apa yang dilakukan anaknya
itu memengaruhi perkembangan dia selanjutnya. Mereka berpikir kalau anaknya
bermain dengan perempuan akan lebih aman, karena kalau bermain dengan laki-laki
ditakutkan akan berkelahi. Masyarakat yang melihat gaya Sari yang lentik dan suka
bermain dengan perempuan, banyak yang memanggil dia dengan sebutan banci.
Lama-kelamaan Sari merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Sari
mulai merasakan berbeda dengan orang lain, pada saat berusia 12 tahun, ketika duduk
di bangku Sekolah Dasar, Sari sering ikut kakaknya sebagai penyanyi gereja dan
penyanyi hajatan di daerah asalnya. Pada saat manggung di acara pesta pernikahan
dia sudah mulai berdandan seperti perempuan. Dia sangat suka akan perannya
sebagai perempuan, tetapi kalau melihat laki-laki berdandan selayaknya perempuan
dia tidak suka (padahal saat itu, dia sudah berjalan megal-megol). Setelah pentas
tersebut, Sari sering sembunyi-sembunyi memakai pakaian dan berdandan selayaknya
perempuan. Saat itu dia belum sepenuhnya sadar akan keadaan dirinya. Lama
kelamaan dia merasa lebih tertarik dengan laki-laki. Seperti apa yang diceritakannya.
”Aku kalau melihat laki-laki itu ada getaran yang lain, tapi kalau sama perempuan biasa saja. Aku merasa kalau melihat perempuan, ya itu lah aku.. tapi kalau berteman dengan lelaki ada perasaan malu. Demikian juga kalau melihat guru yang ganteng, aku tertarik, namun kalau melihat lawan jenis aku tidak tertarik sama sekali”.
Dia bercerita dengan menunjukkan kelentikannya sebagai seorang waria.
Orang tua Sari pada awalnya membiarkan saja karena dianggap masih anak-anak.
Seiring dengan bertambahnya usia, Sari merasakan bahwa apa yang dikatakan
orang-orang bahwa dirinya banci adalah benar. Setelah mengetahui dan mengerti apa
sebenarnya yang terjadi pada dirinya, dia memutuskan jalan hidup yang dianggapnya
sebenarnya. Dia mengambil keputusan itu karena dia tidak ingin membohongi diri
sendiri, dengan cara sembunyi-sembunyi dia merasa telah menyakiti diri sendiri,
walaupun dulu dia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjadi seorang waria.
“Waktu dulu sebenarnya aku juga tidak menghendaki jadi penyanyi yang berdandan perempuan. Waktu itu ada hubungannya dengan agama yang kental dalam keluarga kami. Harus banyak pertimbangan waktu itu. Aku merasa dosa. Ya Tuhan Yesus..dosa, ya Tuhan alak lai (laki-laki) kenapa jadi boru (perempuan). Saat itu antara iya dan tidak, di dalam hati aku berkeinginan menjadi seorang laki-laki sejati, tapi aku kan gak kayak laki-laki istilahnya kan aku keperempuanan, apa yang harus aku lakukan ?”.
Itu merupakan problema yang luar biasa saat dia akan memutuskan menjadi
seorang waria karena seluruh keluarga menentang keputusannya. Terutama bapaknya
yang sangat keras mendidik anak-anaknya. Namun Sari berkeyakinan dengan
membuka jati diri sebenarnya, batinnya akan lebih tenang. Keputusan itu membuat
orang tua mengusirnya dari rumah dengan alasan membuat aib keluarga, Sari
dianggap anak durhaka. Dia berusaha menjelaskannya kepada bapaknya, namun tidak
digubris.