• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keputusan Waria Melakukan Tes HIV/AIDS Pasca Konseling Di Klinik Infeksi Menular Seksual Dan Voluntary Counselling And Testing Veteran Medan Tahun 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Keputusan Waria Melakukan Tes HIV/AIDS Pasca Konseling Di Klinik Infeksi Menular Seksual Dan Voluntary Counselling And Testing Veteran Medan Tahun 2009"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY

COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN TAHUN 2009

T E S I S

Oleh :

WAHYUDDIN 057013028/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

(2)

KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY

COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN

TAHUN 2009

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi Rumah Sakit

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh :

WAHYUDDIN 057013028/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

(3)

Judul Tesis : KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN

Nama Mahasiswa : Wahyuddin Nomor Induk Mahasiswa : 057013028

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit

Menyetujui

Komisi Pembimbing :

(Dr. Fikarwin Zuska) (Dra. Syarifah, M.S) Ketua Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S) (dr. Ria Masniari Lubis, M.Si)

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 17 Maret 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Fikarwin Zuska

Anggota : 1. Dra. Syarifah, M.S

2. Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si

(5)

PERNYATAAN

KEPUTUSAN WARIA MELAKUKAN TES HIV/AIDS PASCA KONSELING DI KLINIK INFEKSI MENULAR SEKSUAL DAN VOLUNTARY

COUNSELLING AND TESTING VETERAN MEDAN

TAHUNN 2009

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan Maret 2010

(6)

ABSTRAK

Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi untuk tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Syndrome/Acquired

Immunune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Estimasi Komisi Penanggulangan

AIDS Nasional Daerah Sumatera Utara tahun 2008, diperkirakan jumlah waria di Kota Medan ada 790 orang, dengan kliennya sebanyak 11.230 orang. Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan sejak Februari 2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari 455 kunjungan. Survey pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tahun 2009 di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, hanya 47% waria yang melakukan VCT dari 100 jumlah kunjungan waria ke Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.

Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS. Kajian ini juga berusaha memahami latar belakang waria terkait dengan proses pengambilan keputusan melakukan tes HIV/AIDS. Informan kunci adalah waria yang telah melakukan konseling dan tes HIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik content analysis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam diri yang memengaruhi keputusan waria dalam melakukan tes HIV/AIDS adalah tekanan sosial, karakteristik gender, pengaruh orang lain, kebudayaan, kepentingan waria sendiri dan pengalaman, dan faktor luar adalah pelayanan Klinik IMS dan VCT Veteran yang merupakan layanan yang paling sering diakses komunitas waria.

Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mendirikan klinik IMS dan VCT berbasis komunitas waria yang didasarkan kepada kebutuhan, data dan bukti dari waria itu sendiri dan memberdayakan ODHA untuk menjangkau waria lainnya

(7)

ABSTRACT

The transvestite and gay as one of group with a highly risk contracted by a sexually transmitted infections (STIs) and Human Immunodeficiency Syndrome/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). National AIDS Commission Preventive for North Sumatra Region in 2008, estimated there were 790 transvestites in Medan City, with the number of clients as much as 11,230 people. The data from STI and VCT Veteran Clinics of Medan mentioned since February 2008 up to June 2009, there were only 187 transvestites who had HIV test from 455 visits. A preliminary survey was conducted by the researcher in 2009 at the STI and VCT Veteran Clinics of Medan, found that only 47% of the transvestites who had visit the VCT from 100 visiting.

The purpose of this study was to analyze the factors influencing the transvestites decision to have HIV/AIDS test. This study also tried to understand the background of the transvestites decision-making processed to have HIV/AIDS test. The key informants were transvestites who had attended counseling and got HIV/AIDS test. Type of this research was descriptive qualitative with content analysis techniques.

The result of research showed that the internal factors that influence decision as the transvestites to have the HIV/AIDS test such as social pressure, gender characteristic, influence of other people, cultures, the transvestite own interest and experience, and external factors such as clinical serviced by STI and VCT Veteran Clinics as most frequently to access by transvestites as community.

It suggested to the District of Health of Medan City to establish a STI and VCT Clinics base on the transvestites community according to the needs, the data and the evidence from the transvestites themselves, and empower people living with HIV/AIDS to reach the other transvestites.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan

rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan

penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Keputusan Waria Melakukan

Tes HIV/AIDS Pasca Konseling di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan”.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk

menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat

Studi Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

Penulis dalam menyusun tesis ini, mendapat bantuan, dorongan dan

bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Yaitu Prof.

dr. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp. A(K).

Terima kasih kepada dr. Ria Masniari Lubis, M.Si, selaku Dekan Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Dr. Drs. Surya Utama, M.S

selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara, dan juga kepada Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si

selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

(9)

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Fikarwin Zuska, selaku ketua

komisi pembimbing dan Dra. Syarifah, M.S, selaku anggota komisi pembimbing

yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan

meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan

tesis selesai.

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Ida Yustina, M.Si dan Dr.

Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M selaku penguji tesis yang dengan penuh perhatian

dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk

membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis ini

Selanjutnya terima kasih juga kepada dr. Yuli selaku Koordinator Klinik IMS

dan VCT Veteran Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk

melakukan penelitian di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.

Terima kasih juga kepada para dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2

Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara.

Ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada Ayahanda Drs. H. Ridwan

Sulaiman dan Ibunda Hj. Nurhayati Gultom atas segala jasanya sehingga penulis

selalu mendapatkan pendidikan terbaik.

Teristimewa buat istri tercinta dr. Fathul Jannah dan ananda tersayang

(10)

cinta yang dalam setia menunggu, memotivasi dan memberikan dukungan moril agar

bisa menyelesaikan pendidikan ini.

Akhirnya penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan

kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan

harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan,

dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, Maret 2010

Penulis

(11)

RIWAYAT HIDUP

Wahyuddin lahir pada tanggal 23 April 1981 di kota Banda Aceh, anak sulung

dari dua bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. H. Ridwan Sulaiman dan Ibunda

Hj. Nurhayati Gultom.

Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah

Dasar Negeri No. 2 Banda Aceh selesai tahun 1993, Sekolah Menengah Pertama di

SMP Negeri satu Banda Aceh selesai tahun 1996, Sekolah Menengah Umum Negeri I

Banda Aceh selesai tahun 1999, melanjutkan S-1 di Fakultas Kedokteran Universitas

Islam Sumatera Utara Medan selesai tahun 2006.

Mulai bekerja sebagai Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada Puskesmas

Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mulai

1 September 2006 sampai 28 Februari 2007. Sebagai Konselor Program Aksi Stop

AIDS (ASA) dan Dokter di LSM Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Medan

sejak 2007 sampai 2008. Sebagai Dokter di RS. Muhammadiyah Medan November

2008 sampai Maret 2009. Sebagai Manager Kasus Program Aksi Stop AIDS di LSM

Gerakan Sehat Masyarakat (GSM) Medan sejak Maret 2009 sampai Desember 2009.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Aceh Tamiang mulai Januari 2010 sampai

sekarang.

Tanggal 26 Agustus tahun 2006, penulis menikah dengan dr. Fathul Jannah

anak pertama dari tujuh bersaudara anak dari Bapak H. Asrul Amiruddin dengan Hj.

Astuti, dan penulis dikaruniai seorang puteri bernama Tanisha Rayhan. Tahun 2005

penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat, minat Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat

(12)

DAFTAR ISI

2.1. Pengambilan Keputusan... 12

(13)

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

4.1.3. Pengambilan Keputusan Tes HIV... 42

4.1.4. Pelayanan Klinik VCT ... 47

4.2. Informan Pangkal – 2 (Yani) ... 51

4.2.1. Deskripsi Diri ... 51

4.2.2. Sejarah Hidup ... 52

4.2.3. Pengambilan Keputusan Tes HIV... 55

4.2.4. Pelayanan Klinik VCT ... 59

4.3. Tenaga Kesehatan Klinik ... 63

BAB V PEMBAHASAN ... 68

5.1. Faktor-Faktor yang memengaruhi Pengambilan Keputusan dari dalam diri ... 70

5.2. Analisis Pelayanan Klinik VCT... 86

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 98

6.2. Saran ... 99

(14)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

(15)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1. Alur Pelayanan VCT ... 17

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Persepsi ... 27

3. Kerangka Pikir Penelitian ... 30

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

(17)

ABSTRAK

Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi untuk tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Syndrome/Acquired

Immunune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Estimasi Komisi Penanggulangan

AIDS Nasional Daerah Sumatera Utara tahun 2008, diperkirakan jumlah waria di Kota Medan ada 790 orang, dengan kliennya sebanyak 11.230 orang. Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan sejak Februari 2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari 455 kunjungan. Survey pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tahun 2009 di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, hanya 47% waria yang melakukan VCT dari 100 jumlah kunjungan waria ke Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.

Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS. Kajian ini juga berusaha memahami latar belakang waria terkait dengan proses pengambilan keputusan melakukan tes HIV/AIDS. Informan kunci adalah waria yang telah melakukan konseling dan tes HIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik content analysis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam diri yang memengaruhi keputusan waria dalam melakukan tes HIV/AIDS adalah tekanan sosial, karakteristik gender, pengaruh orang lain, kebudayaan, kepentingan waria sendiri dan pengalaman, dan faktor luar adalah pelayanan Klinik IMS dan VCT Veteran yang merupakan layanan yang paling sering diakses komunitas waria.

Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mendirikan klinik IMS dan VCT berbasis komunitas waria yang didasarkan kepada kebutuhan, data dan bukti dari waria itu sendiri dan memberdayakan ODHA untuk menjangkau waria lainnya

(18)

ABSTRACT

The transvestite and gay as one of group with a highly risk contracted by a sexually transmitted infections (STIs) and Human Immunodeficiency Syndrome/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). National AIDS Commission Preventive for North Sumatra Region in 2008, estimated there were 790 transvestites in Medan City, with the number of clients as much as 11,230 people. The data from STI and VCT Veteran Clinics of Medan mentioned since February 2008 up to June 2009, there were only 187 transvestites who had HIV test from 455 visits. A preliminary survey was conducted by the researcher in 2009 at the STI and VCT Veteran Clinics of Medan, found that only 47% of the transvestites who had visit the VCT from 100 visiting.

The purpose of this study was to analyze the factors influencing the transvestites decision to have HIV/AIDS test. This study also tried to understand the background of the transvestites decision-making processed to have HIV/AIDS test. The key informants were transvestites who had attended counseling and got HIV/AIDS test. Type of this research was descriptive qualitative with content analysis techniques.

The result of research showed that the internal factors that influence decision as the transvestites to have the HIV/AIDS test such as social pressure, gender characteristic, influence of other people, cultures, the transvestite own interest and experience, and external factors such as clinical serviced by STI and VCT Veteran Clinics as most frequently to access by transvestites as community.

It suggested to the District of Health of Medan City to establish a STI and VCT Clinics base on the transvestites community according to the needs, the data and the evidence from the transvestites themselves, and empower people living with HIV/AIDS to reach the other transvestites.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini di berbagai belahan bumi mengalami masalah kesehatan

masyarakat yang sangat kompleks dan menjadi beban ganda dalam pembiayaan

pembangunan bidang kesehatan. Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai

206 juta jiwa (Sensus penduduk, 2000), dihadapkan pada masalah kesehatan yang

tidak jauh berbeda. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar

adalah infeksi menular seperti tuberkulosis paru, infeksi saluran pernafasan akut

(ISPA), malaria, diare dan penyakit kulit, namun pada waktu yang bersamaan terjadi

peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,

diabetes melitus dan kanker, selain itu Indonesia juga menghadapi emerging diseases

seperti HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

Syndrome).

Sejak HIV/AIDS teridentifikasi pada tahun 1982, yang dikenal sebagai Gay

Related Immune Deficiency (GRID), yakni penurunan kekebalan tubuh yang

dihubungkan dengan kaum gay, HIV/AIDS telah menjadi pandemi dan problem

kesehatan utama di dunia hingga saat ini. WHO pada tahun 2003 mengestimasikan

37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2005 akhir, estimasi menjadi 53,6

(20)

juta orang terinfeksi, tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang. Infeksi baru per

tahun meningkat drastis dari 4 juta menuju 8 juta (UNAIDS 2008).

Pandemi HIV/AIDS di Indonesia terjadi sejak kasus pertama ditemukan tahun

1987, walaupun sebenarnya sudah menjadi isu sejak 1986, dengan meninggalnya

seorang pasien di sebuah rumah sakit, bahkan sejak tahun 1983, pada kelompok

waria, beberapa dari mereka CD4 sangat rendah (Djoerban, 2000). Pasien angka

kesakitan terhadap penyakit ini terus meningkat, karena di samping belum ditemukan

obat dan vaksin pencegahan, penyakit ini juga memiliki window period dan fase

asimtomatik yang relatif panjang. Hal tersebut di atas menyebabkan pola

perkembangannya seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena.

Indonesia tergolong negara dengan tingkat epidemi HIV/AIDS yang

terkonsentrasi, yaitu prevalensi kurang dari 1% pada populasi umum tetapi lebih dari

5% pada populasi tertentu (Depkes, 2006). Kelompok berisiko tinggi tersebut adalah;

1. Pengguna napza suntik (injection drug users / IDU), 2. Pekerja seks komersil.

Kelompok terakhir ini meliputi; pekerja seks perempuan, waria dan pekerja seks

laki-laki. Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku berisiko yang cukup aktif

menularkan penyakit di suatu sub populasi tertentu.

Komite Penanggulangan HIV/AIDS Nasional menyatakan status darurat

terhadap bahaya penularan HIV/AIDS, artinya, bahaya HIV/AIDS dan bagaimana

pencegahannya sudah sangat mendesak untuk diketahui masyarakat. Saat ini saja

(21)

positif. Jumlah ini diperkirakan hanya 10% dari seluruh orang yang terinfeksi HIV di

Indonesia (KPA Nasional, 2008).

Berdasarkan data estimasi, kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara lebih kurang

12.000 hingga 13.000 orang. Data terakhir Dinas Kesehatan Sumut sejak tahun 1992

hingga Juni 2008 kasus HIV/AIDS sebanyak 1316 dengan rincian 771 kasus HIV dan

545 kasus AIDS, berarti baru 10 persen kasus yang ditemui dari perkiraan. Padahal

Sumut merupakan peringkat ketujuh penderita HIV/AIDS di Indonesia (Ditjen

PP&PL Depkes RI, 2008).

Kota Medan memiliki jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di antara

seluruh kabupaten/kota di Sumut, hingga Juni 2008, jumlah kumulatif penderita

HIV/AIDS adalah 968, dengan rincian HIV (+) sebanyak 620 orang, dan AIDS

sebanyak 348 orang (Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2008).

Problem yang sangat mengancam, selain melalui hubungan seksual timbulnya

HIV/AIDS adalah efek penggunaan NAPZA melalui jarum suntik. Di Indonesia hal

ini merupakan sebuah fenomena baru, dideteksi 3 – 4 tahun terakhir, jika fenomena

ini timbul, maka akan terjadi second explossion of HIV/AIDS epidemic. Di Thiland

pola HIV/AIDS dimulai dari IDU tapi di Indonesia pola HIV/AIDS dimulai dari seks,

baru beberapa tahun terakhir pemakaian NAPZA melalui jarum suntik mulai menjadi

pola penyebab timbulnya HIV/AIDS. Penularan secara cepat terjadi karena

pemakaian jarum suntik bersama. Para penyalah guna NAPZA suntik ini dapat pula

(22)

berkisar antara 50 sampai 90% . Penggunaan NAPZA suntik biasanya dilakukan

dengan cara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak mudah memperkirakan pengguna

NAPZA suntik di Indonesia.

Hubungan seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual adalah model

utama penularan HIV. Tidak dapat dipungkiri perilaku seksual di kelompok risiko

tinggi komunitas waria memberikan kontribusi penularan HIV/AIDS yang signifikan.

Yayasan Riset AIDS Amerika, AMFAR menyimpulkan, MSM (Man that have Sex

with Man) dan waria ternyata berisiko 19 kali lebih besar tertular penyakit HIV

ketimbang masyarakat umum, AMFAR mengeluarkan kesimpulan ini setelah

melakukan penelitian di 129 negara. Hasil penelitian itu ternyata tidak berbeda jauh

dengan hasil penelitian badan AIDS PBB yang menyebutkan 44% dari warga negara

yang terkena AIDS adalah kaum gay dan biseksual (UNAIDS, 2008)

Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun

2007 adalah 20.960 hingga 35.300 orang. Prevalensi HIV di kalangan waria

berdasarkan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP), sejak tahun 1995 yang

hanya 0,3%, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2%, dan 6% di tahun 1997. Estimasi

Populasi KPAND Sumatera Utara 2008, untuk Kota Medan, diperkirakan jumlah

waria 790 orang, Klien waria 11.230 orang.

Beberapa faktor menyebabkan kelompok ini mudah terserang HIV, di

antaranya adalah migrasi dan mobilitas yang tinggi, mereka sering berpindah dari

(23)

dan akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan (Hawari, 2001). Orang yang

terjangkit virus HIV pada tahap awal, biasanya tak merasakan tanda berarti secara

fisik, sehingga mereka enggan memeriksakan dirinya ke layanan kesehatan.

Waria dan gay merupakan salah satu kelompok risiko tinggi (risti) untuk

tertular IMS dan HIV/AIDS. Dari pengalaman penulis dalam pendampingan waria

dan gay diketahui bahwa sebagian besar waria di Kota Medan bekerja sebagai pekerja

seks. Aktivitas seks mereka umumnya adalah seks anal dan oral. Seks anal atau

melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus

(karena anus tidak elastis), sehingga dengan adanya luka di daerah anus, jika

pasangan seks terkena IMS dan HIV maka akan lebih mudah ditularkan. Tingkat

penggunaan kondom juga masih rendah, demikian juga halnya dengan informasi

tentang penularan IMS dan HIV/AIDS (Gerakan Sehat Masyarakat, 2009).

Waria memiliki permasalahan yang kompleks, terutama dalam masalah

kesehatan dan masalah kependudukan. Banyak kasus menunjukkan waria enggan

untuk datang ke tempat pelayanan kesehatan umum karena berbagai alasan.

Berdasarkan pengamatan penulis selama mendampingi waria, secara sadar atau tidak

mereka mengungkapkan enggan memeriksakan diri ke klinik VCT, karena VCT

merupakan program yang diadakan pemerintah untuk kepentingan penyedia layanan

ini. Mereka beranggapan pemerintah hanya setengah hati dan tidak tulus dalam

menjalankan program. Bentuk resistensi yang mereka lakukan adalah meminta

(24)

mangkal mereka. Anggapan sebagian dari mereka adalah petugas kesehatan

mendapatkan rupiah setiap sample darah yang diambil dari mereka. Demikian juga

dalam masalah kependudukan, sebagian besar waria tidak memiliki kartu identitas,

tidak jarang mereka menemui kesulitan mengurus kartu tanda penduduk (KTP) atau

kartu identitas lainnya.

HIV/AIDS memiliki dampak besar pada penderita dan keluarga. Pencegahan

penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dan

dukungan pada penderita HIV/AIDS dan keluarganya. Voluntary Counselling and

Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya tersebut. VCT merupakan strategi

efektif pencegahan dan perawatan HIV (Depkes RI, 2006). VCT terutama ditujukan

bagi kelompok risti HIV/AIDS dan keluarganya. Tetapi layanan VCT ini juga dapat

dilakukan masyarakat umum yang ingin mengetahui status HIV melalui tes.

Mereka yang menggunakan layanan VCT di dalam dirinya ada perasaan kuat

tentang tata nilai, aktivitas seksual, diagnosis dan seringkali mereka betul-betul

menurunkan perilaku berisikonya. VCT memberikan keuntungan baik bagi mereka

yang positif maupun bagi mereka yang negatif. VCT dapat mengurangi kegelisahan,

meningkatkan persepsi mereka tentang faktor risiko terkena infeksi HIV,

mengembangkan perubahan perilaku, secara dini mengarahkan mereka menuju ke

program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi anti retroviral, serta

(25)

Tim monev Sekretariat KPAN pada tahun 2007 mencatat jumlah cakupan

program populasi kelompok risiko tinggi seksual yang mendapat pelayanan VCT

pada WPS 69,95%, waria 50%, laki-laki suka laki-laki (LSL) 53,64%. Masalah yang

kemudian timbul adalah masih sedikit waria yang mau melakukan tes HIV/AIDS,

meskipun telah mendapatkan informasi baik melalui proses konseling maupun media

lainnya, dalam artian masih rendahnya pemanfaatan klinik VCT yang tersedia, baik

klinik VCT yang ada di rumah sakit maupun yang berdiri sendiri. Padahal VCT

merupakan salah satu bagian kecil dari rumah sakit, sehingga untuk meningkatkan

mutu pelayanan rumah sakit secara umum seyogyanya terlebih dahulu dimulai dari

unit-unit kecil tersebut, salah satunya adalah klinik VCT.

Rendahnya pemanfaatan VCT diperkirakan karena VCT berbasis pada

kebutuhan dan memerlukan persetujuan (informed consent) dari orang yang akan

dites, dalam artian tes HIV harus selalu atas keputusan klien. Terkait dengan

keputusan, Starr (1981) menyebutkan bahwa keputusan yang diambil seseorang yang

berlaku umum unsur-unsur atau komponennya adalah:

1. Tujuan harus ditegakkan dalam pengambilan keputusan.

2. Identifikasi alternatif.

3. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya.

4. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai.

Robbins (2003) menyebutkan dalam mengambil keputusan, kualitas dari

(26)

tidak selalu mengikuti proses rasional yang diracik cermat. Ketika individu

memandang ke objek tertentu dan coba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran

itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu pelaku persepsi itu.

Selanjutnya Robbins mengemukakan bahwa faktor yang memengaruhi persepsi

adalah faktor pada pemersepsi, faktor dalam situasi, dan faktor pada target. Faktor

pada pemersepsi, adalah sikap, motif, kepentingan, pengalaman, dan pengharapan.

Variabel dalam situasi adalah waktu, keadaan lingkungan, keadaan sosial. Adapun

faktor pada target meliputi hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang dan

kedekatan. Perbedaan ini menggambarkan bahwa persepsi individu tidak sama antara

satu individu dengan individu lainnya.

Hubungan persepsi dengan pengambilan keputusan, merujuk penelitian

terdahulu yang dilakukan oleh Nurjannah (2003), tentang persepsi dengan keputusan

pembelian obat penurun panas anak yang diiklankan media elektronik di Jakarta,

menjelaskan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi dan sikap

konsumen terhadap keputusan pembelian. Kristiyanto dkk (2003) tentang faktor

psikologis yang berpengaruh pada pengambilan keputusan nasabah untuk menjadi

anggota BMT, menyimpulkan terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara

variabel persepsi dengan pengambilan keputusan untuk menjadi anggota.

Klinik IMS dan VCT Veteran merupakan salah satu layanan kesehatan yang

dapat melakukan pemeriksaan HIV di Kota Medan. Walaupun terdapat klinik IMS

(27)

Klinik IMS dan VCT Veteran merupakan satu–satunya klinik di bawah Dinas

Kesehatan Propinsi yang khusus melayani pemeriksaan IMS dan VCT (Dinas

Kesehatan Propinsi, 2008). Klinik ini juga dirasa kelompok waria memiliki lokasi

strategis dan cukup nyaman untuk mengungkapkan status dibandingkan tempat

pemeriksaan lainnya.

Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menyebutkan dari bulan Februari

2008 sampai dengan Juni 2009, hanya 187 orang waria yang melakukan tes HIV dari

455 kunjungan. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan penulis terhadap

100 orang waria yang mengunjungi Klinik IMS dan VCT Veteran Medan, setelah

diberikan pra tes konseling, hanya 47% dari mereka yang bersedia diambil sample

darahnya untuk dilakukan tes HIV, padahal secara nasional sepertiga dari kelompok

risiko tinggi ini merupakan HIV positif (KPAN, 2008). Atas realitas tersebut penulis

menganggap penting untuk memahami lebih dalam mengenai waria,

kebutuhan-kebutuhan atau dorongan yang mengarahkan dan memberi energi pada waria,

tekanan-tekanan yang dialami, konflik-konflik yang terjadi, hingga bagaimana

mekanisme pertahanan diri yang digunakan oleh waria tersebut. Cara yang paling

tepat adalah dengan mempelajari dinamika kepribadian beserta faktor-faktor yang

memengaruhi perjalanan hidupnya, dimana hal ini dapat diketahui dengan

menghubungkan masa lalu, masa kini dan antisipasi masa depan orang tersebut

(28)

1.2. Perumusan Masalah

Layanan VCT merupakan bagian dari promosi dan organ dalam mengurangi

laju epidemi HIV/AIDS. Insiden HIV positif di komunitas waria, yang merupakan

kelompok risiko tinggi terpapar, salah satunya disebabkan rendahnya pemanfaatan

layanan VCT yang mensyaratkan dilakukan tes HIV/AIDS, Penyebab sementara

dirumuskan karena anggapan negatif terhadap pemerintah sebagai penyedia layanan

VCT, resistensi kecil–kecilan terhadap penyedia layanan, pengalaman yang buruk

dari waria lainnya, hasil tes yang berbeda dari harapan, pendidikan maupun aspek

lainnya seperti orientasi seksual yang terkait dengan kemauan waria melakukan tes

HIV/AIDS.

Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, dirumuskan masalah penelitian

yakni bagaimana pengambilan keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca

konseling HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi

keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca konseling HIV/AIDS di Klinik IMS

(29)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan rumah sakit yang memiliki klinik

IMS dan VCT untuk mengembangkan konsep penanggulangan HIV/AIDS

dalam perspektif waria.

2. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan manajemen Klinik IMS dan VCT

Veteran Medan dalam mengembangkan layanan VCT berbasis komunitas

waria.

3. Sebagai bahan masukan konseling yang efektif guna menambah informasi,

pengetahuan dan pemahamam tentang proses pengambilan keputusan waria

melakukan VCT.

4. Sebagai penambah wawasan bagi penulis untuk melatih diri berpikir secara

ilmiah pada bidang sumber daya manusia dan bekal pengetahuan dan

pengalaman untuk penerapan di lingkungan kerja.

5. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi penulis selanjutnya yang

memfokuskan penelitian pada masalah yang sama di masa yang akan

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengambilan Keputusan

Keputusan adalah sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan

pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain

dikesampingkan, Morgan dan Cerullo dalam Salusu (2003). Dalam hal ini yang

dimaksud dengan pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau

alternatif (Salusu, 2003). McGrew dan Wilson (1985) lebih melihat kaitannya dengan

proses, yaitu bahwa suatu keputusan ialah keadaan akhir dari suatu proses yang lebih

dinamis yang diberi label pengambilan keputusan. Ia dipandang sebagai proses

karena terdiri atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai

tindakan bijaksana. Dari berbagai definisi keputusan tersebut dapat di simpulkan

bahwa keputusan adalah kesimpulan yang diambil dari suatu pertimbangan yang telah

melewati sebuah proses dari beberapa alternatif.

Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak

dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi (Salusu, 2003). Sehubungan

dengan itu, Inbar dalam Salusu (2003) menyatakan pengambilan keputusan

hendaknya dipahami dalam dua pengertian, yaitu; 1. Penetapan tujuan yang

merupakan terjemahan dari cita-cita, aspirasi, dan 2. Pencapaian tujuan melalui

(31)

sebenarnya ia bukan keputusan, tetapi lebih tepat dikatakan suatu hasrat atau niat,

Drucker, Holy dalam Salusu (2003).

Keputusan dibuat dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh

sembarangan. Masalahnya terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan

jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari

alternatif-alternatif yang disajikan (Syamsi, 1989). Individu berpikir dan menalar

sebelum bertindak. Karena inilah suatu pemahaman bagaimana orang-orang

mengambil keputusan dapat membantu menjelaskan dan meramalkan perilaku

mereka (Robbins, 2003).

2.2. Waria

Salviana (2005) menjelaskan waria adalah orang yang secara jasmaniah

laki-laki, namun berpenampilan dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan

orientasi seksnya homoseks (menyukai sesama jenis). Secara fisik waria, baik yang

berperan sebagai laki-laki maupun perempuan adalah bagian dari homoseksual.

Namun demikian, ada suatu hal yang membatasi secara jelas antara kaum homoseks

dan kaum waria. Misalnya saja dalam berpakaian, seorang homoseks tidak merasa

perlu berpenampilan sebagaimana perempuan. Sebaliknya, seorang waria merasa

bahwa dirinya adalah perempuan, sehingga harus berpenampilan sebagaimana

(32)

Menurut Nadia (2005), dilihat dari cara berpakaian, waria dapat

dikategorikan menjadi dua, yaitu sebagai transvestime dan transeksualisme.

Transvestisme adalah hawa nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari lawan

jenis kelaminnya. Pada transvestisme yang lebih ditonjolkan adalah kepuasan seks

seseorang yang didapat dari cara berpakaian yang berlawanan dengan jenis kelamin

yang melekat dalam dirinya. Jika seseorang itu berjenis kelamin laki-laki, maka ia

akan mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian perempuan. Sebaliknya,

jika seseorang itu berjenis kelamin perempuan, ia akan mendapatkan kepuasan seks

hanya dengan memakai pakaian laki-laki. Pada waria sebagai seorang transeksualis

memiliki karakteristik yang berbeda. Seorang transeksualis secara jenis kelamin

sempurna dan jelas, tetapi secara psikis cenderung menampilkan ciri sebagai lawan

jenis.

2.2.1. Pembagian Waria

Menurut Benny D.Setianto yang dikutip Salviana (2005) empat kategori

kewariaan adalah; 1. Pria menyukai pria. 2. Kelompok yang secara permanen

mendandani dirinya sebagai seorang perempuan. 3. Kelompok yang karena desakan

ekonomi harus mencari nafkah dengan berdandan dan beraktivitas sebagai

perempuan. 4. Kelompok coba-coba atau memanfaatkan keberadaan kelompok

sebagai bagian dari kehidupan seksual mereka. Faktor –faktor penyebab terjadinya

(33)

disebabkan bukan hanya oleh faktor biologis saja, melainkan dipengaruhi oleh faktor

psikologi, sosiobudaya termasuk di dalamnya pola asuh lingkungan yang

membesarkannya. c) mempunyai pengalaman sangat hebat dengan lawan jenis

sehingga mereka berhayal dan memuja lawan jenis sebagai idola dan ingin menjadi

seperti lawan jenis (Salviana, 2005).

2.2.2. Masalah yang Dihadapi Waria

Berperilaku menjadi waria memiliki banyak risiko. Waria dihadapkan pada

berbagai masalah: penolakan keluarga, kurang diterima atau bahkan tidak diterima

secara sosial, dianggap lelucon, hingga kekerasan baik verbal maupun non verbal.

Penolakan terhadap waria tersebut terutama dilakukan oleh masyarakat strata sosial

atas. Oetomo (2000) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa masyarakat strata

sosial atas ternyata lebih sulit memahami eksistensi waria, mereka memiliki

pandangan negatif terhadap waria dan enggan bergaul dengan waria dibanding

masyarakat strata sosial bawah yang lebih toleran. Karena belum diterimanya waria

dalam kehidupan masyarakat, maka kehidupan waria menjadi terbatas terutama pada

kehidupan hiburan seperti ngamen, ludruk, atau pada dunia kecantikan dan kosmetik

dan tidak menutup kemungkinan sesuai realita yang ada, beberapa waria menjadi

pelacur untuk memenuhi kebutuhan materil maupun biologis. Pakar kesehatan

masyarakat dan pemerhati waria, Gultom (2002) setuju dengan pendapat seorang

(34)

Penolakan terhadap waria tidak terbatas rasa “jijik”, mereka juga ditolak untuk

mengisi ruang-ruang aktivitas, dari pegawai negeri, karyawan swasta, atau berbagai

profesi lain. Bahkan dalam mengurus KTP, persoalan waria juga mengundang

penolakan dan permasalahan, maka sebagian besar akhirnya turun dijalanan untuk

mencari kebebasan (Kompas, 7 April 2007).

Keadaan yang dialami waria merupakan awal dari berbagai permasalahan

dalam masyarakat. Dalam perjalanan hidupnya, waria melewati konflik batin yang

panjang. Permasalahan besar yang dihadapi oleh waria salah satunya adalah penyakit

kelamin. Kehidupan waria banyak didominasi oleh perilaku seks yang umumnya

mengandung risiko cukup tinggi. Waria memiliki risiko lebih besar dibandingkan

dengan heteroseksual karena waria memiliki frekuensi berganti-ganti pasangan lebih

tinggi dibanding yang lain. Bahkan jika dibandingkan dengan pelacuran wanita,

kejangkitan penyakit kelamin di kalangan waria lebih tinggi. Kehidupan mereka yang

identik dengan pelacuran tentu saja sering berganti pasangan.

Perilaku hubungan seks berisiko tinggi tersebutlah yang mengundang

berbagai penularan penyakit kelamin. Waria rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS

dan berisiko tinggi dikarenakan mobilitas kaum tersebut tergolong tinggi. Waria

sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Selain mobilitas yang tinggi, umumnya banyak waria yang enggan

(35)

2.3. VCT

Voluntary Counseling and testing (VCT), dalam Bahasa Indonesia disebut

konseling dan tes sukarela, merupakan gabungan dua kegiatan, yaitu konseling dan

tes HIV secara sukarela dalam satu pelayanan terpadu. Layanan konseling sendiri

terbagi dua, yaitu konseling pra tes dan konseling pasca tes yang keduanya selalu

disertai konseling (Depkes, 2006).

Gambaran pelayanan VCT dapat dijelaskan sebagaimana ditunjukkan dalam

gambar di bawah ini.

Konseling Tes HIV/AIDS Konseling

Pra tes Pasca tes

Sumber: Depkes, 2006

Gambar 1.

Alur Pelayanan VCT

Pendekatan VCT tidak dapat dilakukan massal seperti penyuluhan atau edukasi

massal, melainkan harus : 1. Terfokus pada klien satu persatu. 2. Melakukan

penilaian risiko personal dan menurunkan risiko. 3. Menggali kemampuan diri dan

mengarahkan rencana ke depan. 4. Meneguhkan keputusan tes. 5. Menindaklanjuti

(36)

2.3.1. Konseling

Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara

etimologis berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasihat. Menurut Rogers

yang dikutip Hallens (2005), counseling is a series of direct contacts with the

individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior.

(Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan

untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya). Konseling

merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di mana proses pemberian

bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung

dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar klien mampu

memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu mengarahkan

dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang

optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan kemanfaatan sosial.

Wilis (2004) mengemukakan konseling adalah upaya bantuan yang diberikan

seseorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman terhadap individu yang

membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal,

mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan

yang selalu berubah. Konseling HIV/AIDS merupakan proses dengan tiga tujuan

(37)

1. Menyediakan dukungan psikologik, misalnya dukungan yang berkaitan dengan

kesejahteraan emosi, psikologik, sosial dan spiritual seseorang yang mengidap

virus HIV atau virus lainnya.

2. Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku

berisiko (seperti melakukan seks berganti pasangan atau penggunaan jarum

bersama) dan membantu orang dalam mengembangkan keterampilan pribadi yang

diperlukan untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek yang lebih aman.

3. Memastikan efektifitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui

pemecahan masalah kepatuhan berobat (Depkes, 2006).

2.3.1.1. Konseling Pra tes

Konseling pra tes yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang

yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk

mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap

setelah mengetahui hasil tes. Konseling pra tes bermanfaat untuk meyakinkan orang

terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila

hasilnya nanti positif (Depkes, 2006).

2.3.1.2. Konseling Pasca tes

Konseling pasca tes yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes

(38)

untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara

menghidnari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin

hidup secara positif. Bagi mereka yang hasilnya HIV negatif, konseling pasca tes

bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa

datang (Depkes, 2006).

2.3.2. Tes HIV

Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah

seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi

adanya antibody HIV di dalam sample darahnya. Hal ini perlu dilakukan setidaknya

agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama

menyangkut risiko dari perilakunya selama ini. Tes darah yang dilakukan biasanya

menggunakan tes rapid ataupun tes ELISA (enzyme linked immunosorbent assay)

yang memiliki sensitivitas tinggi, namun spesifikasinya rendah. Bila pada saat tes

ELISA hasilnya positif, maka harus dikonfirmasi dengan tes Western Blot, yaitu jenis

tes yang mempunyai spesifikasi tinggi namun sensitifitasnya rendah. Karena sifat

kedua tes ini berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang

akurat. Selain ketiga jenis tes tadi, ada juga jenis tes lain yang mampu mendeteksi

antigen (bagian dari virus), yaitu NAT (nucleic acid amplification technologies) dan

(39)

Tes HIV harus bersifat sukarela, artinya bahwa seseorang yang akan

melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas

paksaan atau tekanan orang lain. Ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk dites

setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan

kerugian dari testing, serta apa saja impilkasi dari hasil positif atau pun hasil negatif,

dan rahasia. Artinya, apa pun hasil tes ini nantinya (baik positif maupun negatif)

hasilnya hanya boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Tidak

boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua, pasangan, atasan atau siapapun

(Nasution; Anwar; Putra, 2000).

Pertemuan pertama dengan individu yang potensial menderita HIV, seorang

tenaga kesehatan profesional harus mencoba untuk mencapai beberapa tujuan yang

spesifik. Pertemuan yang dilakukan bukan hanya berupa pemeriksaan atau tes, tetapi

juga termasuk diskusi dan konseling baik sebelum dan sesudah pemeriksaan.

(Muma, 2007).

2.4. HIV / AIDS 2.4.1. Pengertian HIV

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang

sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang

(40)

suatu retrovirus RNA yang memiliki genom yang dapat mengkode enzim transverse

transcriptase yaitu enzim yang memungkinkan virus untuk mengubah informasi

genetiknya yang berbeda dalam RNA menjadi bentuk DNA dan kemudian

diintegrasikan ke dalam informasi genetik sel limfosit yang diserang. Human

Immunodeficiency Virus menyerang limfosit T-helper yang mempunyai reseptor CD4

pada permukaannya (Depkes, 2006).

2.4.2. Pengertian AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu

menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi HIV

(Human Immunodeficiency Virus). Seseorang yang terinfeksi HIV dapat dengan

mudah terserang berbagai penyakit, termasuk penyakit yang dalam keadaan normal

sebenarnya tidak terlalu berbahaya, tetapi bagi mereka yang telah terinfeksi HIV,

penyakit tersebut justru dapat bertambah parah. Hal ini disebabkan karena rendahnya

daya kekebalan tubuh dan dapat berakhir dengan kematian (Nasution, 2000).

AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai Human T-cell Lymphotric

Virus Type III (HTLV-III), atau Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). HTLV-

III adalah retrovirus. Ini adalah tipe unik virus yang mengandung RNA yang mampu

menghasilkan DNA dalam sel yang terinfeksi. Virus tersebut menulari sel darah yang

dikenal sebagai limfosit, yang bertanggung jawab atas sistem imunitas tubuh dan

(41)

HTLV-III sehingga sistem imunitas rusak. Selanjutnya, hal ini menimbulkan infeksi

dan kanker tertentu yang terbentuk di dalam tubuh (Weber, 2006).

2.4.3. Cara Penularan

Virus penyebab AIDS adalah HIV yang terdapat dalam darah dan cairan

tubuh seseorang yang telah tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukkan

keluhan atau gejala penyakit. HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara-cara

tertentu tanpa melihat status, kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat

pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksual (Nasution, 2000).

Tiga cara penularan HIV yang paling sering terjadi adalah :

a. Hubungan seksual.

Ada beberapa cara untuk melakukan hubungan seksual, yaitu vaginal (lewat

vagina), anal (menggunakan dubur), oral (menggunakan mulut) dan mano-genital

(menggunakan tangan). Dari keempat cara tersebut, risiko terbesar untuk dapat

tertular HIV adalah apabila melakukan hubungan seksual secara anal dan vaginal.

80% sampai dengan 90% kasus HIV ditemukan pada mereka yang melakukan

kegiatan seksual secara anal. Hal ini disebabkan karena lapisan kulit di sekitar dubur

cukup tipis, sehingga dapat mengakibatkan luka yang mengeluarkan darah dan dapat

terjadi kontak antar cairan tubuh.

(42)

b. Kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik

Transfusi darah/produk darah yang tercemar HIV merupakan risiko tertinggi

penularan HIV yaitu mencapai lebih dari 90%. Namun demikian, kasus penularan

HIV melalui transfusi darah ini hanya dijumpai 3 - 5% dari total kasus penularan HIV

sedunia. Selain itu, pemakaian jarum suntik yang tidak steril ataupun pemakaian

jarum suntik secara bersama terutama seperti yang dilakukan oleh para pecandu

narkotik. Cara ini mengandung risiko 0,5 – 1% dan telah ditemukan pada 5 - 10%

dari total kasus sedunia.

c. Secara vertikal.

Secara vertikal maksudnya yaitu dari ibu hamil kepada bayi yang

dikandungnya, dimana penularan bisa saja terjadi pada waktu kehamilan, melahirkan

ataupun sesudah melahirkan (ketika menyusui). Risiko penularan lewat cara ini

adalah 25 - 40% dan telah ditemukan pada kurang dari 0,1% dari total kasus sedunia

(Nasution, 2000).

2.4.4. Gejala AIDS

Seorang dewasa (>12 tahun) dianggap menderita AIDS apabila menunjukkan

tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang–kurangnya

didapatkan 2 gejala mayor yang berkaitan dan 1 gejala minor serta gejala ini bukan

(43)

a. Gejala minor yang mungkin akan timbul adalah :

1. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan.

2. Dermatitis generalisata.

3. Adanya herpes zooster multi segmental dan herpes zooster berulang.

4. Kandidiasis orofaringeal.

5. Herpes simpleks kronis progresif.

6. Limpadenopati generalisata.

7. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

8. Retinitis virus sitomegalo.

b. Gejala mayor yang muncul setelah sistem kekebalan tubuh menurun yaitu:

1. Penurunan berat badan lebih dari 10 % dalam satu bulan.

2. Demam berkepanjangan lebih dari satu bulan.

3. Diare kronis lebih dari satu bulan.

4. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis.

5. Demensial/HIV ensefalopati.

c. Gejala AIDS yang lengkap adalah gejala minor dan mayor disertai satu atau lebih

penyakit oportunistik, yaitu :

1. Pneumocystis Cariini merupakan infeksi parasit pada paru–paru.

2. Sarkoma Kaposi merupakan kanker yang tersebar pada kulit/mulut.

3. Tuberkulosis.

(44)

5. Infeksi gastrointestinal (Cryptosporidiosis)

6. Diare kronis dengan penurunan berat badan.

7. Infeksi neurologik (Cryptococcal atau meningitis sub akut).

8. Demam tanpa sebab yang jelas

9. Kelainan neurologis

2.5. Persepsi 2.5.1. Pengertian

Persepsi merupakan proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan

dan menafsirkan kesan indera yang dimiliki agar memberi makna kepada lingkungan.

Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah

diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang

berasal dari dalam diri individu (Robbins, 2003).

Menurut J.P Chaplin yang dikutip Dzakiey (2005), persepsi adalah proses

mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera atau

menafsirkan stimulus yang telah ada di otak. Faktor yang memengaruhi persepsi

adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan

(ekspektasi). Dalam lingkup yang lebih luas, persepsi merupakan suatu proses yang

melibatkan pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterpretasikan

stimulus yang ditunjukan oleh panca indera. Dengan kata lain, persepsi merupakan

(45)

sendiri (pengetahuan sebelumnya). Persepsi memberikan makna pada stimuli (sensor

stimuli). Persepsi juga merupakan pengalaman tentang objek atau hubungan yang

diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Robbins, 2003).

Gambaran faktor–faktor yang memengaruhi persepsi dapat dijelaskan

sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut ini.

(46)

2.5.2. Faktor yang Memengaruhi Persepsi

1. Sikap, adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan,

baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan

manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan

untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang.

Menurut Notoatmodjo (2003) dengan mengutip Cardno mendefenisikan sikap

sebagai : attitude entails an existing predisposition to response to social

objects which in interaction with situational and other dispositional variables,

guides and direct the overt behavior of the individual. Sikap terbentuk dari

adanya interaksi sosial yang dialami individu. Beberapa faktor yang

memengaruhi pembentukan sikap, yakni (1) Pengalaman pribadi. (2) Pengaruh

orang lain yang dianggap penting. (3) Pengaruh kebudayaan. (4) Media massa.

(5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama. (6) Pengaruh faktor emosional.

2. Motif, adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan

bekerja seseorang; setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai

(Hasibuan, 2007). Motif mengandung semua alat penggerak alasan atau

dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Sebuah

motif adalah suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan

secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir.

3. Kepentingan, individu berbeda satu sama lain. Apa yang dicatat satu orang di

(47)

4. Pengalaman. Pengalaman seseorang tentang objek, peristiwa, atau hubungan

yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang

telah diterima sebelumnya. Kemudian dihubungkan dengan hal yang terjadi

sekarang.

5. Pengharapan. Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu

tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan bisa dilihat.

2.6. Landasan Teori

Keputusan adalah sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan

pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain

dikesampingkan.

Waria adalah orang yang secara jasmaniah laki-laki, namun berpenampilan

dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan orientasi seksnya homoseks

(menyukai sesama jenis).

Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana

proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian

pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar

klien mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu

mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kearah

perkembangan yang optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan

(48)

Telaah tentang pengambilan keputusan waria melakukan tes HIV, mengacu

kepada Robins (2003), pengambilan keputusan yang optimal bersifat rasional, namun

ketika individu memandang ke obyek tertentu dan mencoba menafsirkan apa yang

dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh pelaku pemersepsi, dalam objek

atau target yang dipersepsikan

2.7. Kerangka Pikir

Faktor Pemersepsi

- Sikap Keputusan

- Motif Persepsi Melakukan Tes

- Kepentingan HIV/AIDS

- Pengalaman

- Pengharapan

Gambar 3.

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini mengenai keputusan waria pasca konseling pra tes HIV/AIDS

dalam melakukan tes HIV/AIDS. Pengambilan keputusan dipengaruhi persepsi.

Persepsi yang dimiliki bervariasi pada setiap orang dan terkait dengan penghayatan

subjektif. Oleh sebab itu, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.

Menurut Sugiyono (2008) penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian

yang memungkinkan penulis memahami permasalahan individu secara lebih

mendalam dan kompleks, memberikan gambaran secara holistik, disusun dari

kata-kata, mendapatkan informasi rinci yang diperoleh dari informan dan berada dalam

setting alamiah. Merupakan metode yang didalam penelitiannya tidak mencari atau

menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi tetapi

menggambarkan pengamatan secara langsung dan melukiskan gejala berdasarkan

fakta-fakta yang ada dan bagaimana adanya. Penelitian deskriptif ditujukan untuk :

1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang

ada.

2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang

berlaku.

(50)

4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang

sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan

keputusan pada waktu yang akan datang.

3.2. Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan di Klinik IMS dan VCT Veteran dengan asumsi

kelompok waria merasa nyaman dan sering mendatangi klinik ini. Pelaksanaan

penelitian direncanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2009.

3.3. Informan

Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini adalah berdasarkan

purposive sampling. Informan dipilih berdasarkan dengan permasalahan dan tujuan

penelitian, Hal ini dilakukan agar partisipasi benar representatif terhadap fenomena

yang dipelajari (Sugiyono, 2006). Jumlah informan tergantung situsi dan kondisi di

lapangan.

Informan dalam penelitian dimaksudkan sebagai pintu masuk pendukung

fakta lapangan dan bukan sebagai data mutlak. Informasi lain didapat dari berbagai

sumber (informan) lain seperti peserta FGD, koordinator pelayanan, pegawai Klinik

IMS dan VCT Veteran dan sumber lain yang dianggap relevan dengan tema

(51)

3.4. Definisi Istilah

Keputusan adalah kesimpulan yang diambil dari suatu pertimbangan yang

telah melewati sebuah proses dari beberapa alternatif

Pengambilan Keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak

dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi.

Waria adalah orang yang secara jasmaniah laki-laki, namun berpenampilan

dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan orientasi seksnya homoseks

(menyukai sesama jenis).

Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana

proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian

pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar

klien mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadapnya dan mampu

mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah

perkembangan yang optimal sehingga mampu mencapai kebahagian pribadi dan

kemanfaatan sosial.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dari informan adalah

Fokus Grup Diskusi (FGD), wawancara mendalam (depth interview) dan observasi

pada saat wawancara dilakukan. Wawancara mendalam sebagai metode primer.

(52)

Masyarakat (LSM) yang mendampingi waria, selanjutnya melalui informan ini dapat

ditanyakan informan selanjutnya, begitu seterusnya, sehingga dari satu informan

semakin lama semakin bertambah banyak, dan disesuaikan dengan kebutuhan

informasi yang diinginkan.

Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih

luas dan mendalam tentang keputusan waria melakukan tes HIV/AIDS pasca

konseling HIV/AIDS dalam melakukan tes HIV/AIDS. Jenis wawancara yang

digunakan adalah wawancara tidak berstruktur, sehingga pewawancara bebas

memvariasikan urutan dan kata-kata dalam setiap pertanyaan, dan dapat menggali

informasi lebih mendalam karena dapat mengajukan pertanyaan tambahan guna

mendapatkan jawaban yang lebih spesifik dan akurat.

Pertanyaan yang digunakan hanya sebagai pintu masuk untuk membuka

wacana sehingga informan bebas mengekspresikan diri, menentukan jenis dan

banyaknya informasi yang akan diberikan serta menyatakan apa yang mereka pikir

penting dan informasi penting yang sebelumnya tidak terpikir oleh penulis.

FGD diarahkan untuk mendapatkan informan yang dianggap layak dan

memberikan second opinion terhadap data yang didapat dari wawancara mendalam.

Observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat dan

mencatat fenomena yang muncul, sebagai bagian dari penelitian yang berlangsung

dalam konteks alamiah (Sugiyono, 2006). Nasution dalam Permanasari (2003)

(53)

tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Dalam penelitian ini

observasi digunakan hanya sebagai metode sekunder untuk memperoleh gambaran

tentang reaksi informan saat pengambilan data dilakukan.

3.6. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah live history

method, disebabkan penulis ingin menganalisis data yang didapatkan dari sejarah dan

latar belakang kehidupan informan yang dibentuk dari kehidupan masa lalu dan masa

kini, namun dmempunyai kaitan dengan tujuan penelitian. Seluruh hasil wawancara

dengan para informan dituang dalam bentuk verbatim. Kemudian dilakukan koding

pada verbatim berdasarkan tema yang muncul dari respon atau jawaban yang

diberikan informan. Dengan melakukan koding, data yang diperoleh dapat

memunculkan gambaran tentang topik yang diteliti dan penulis akan mendapatkan

makna dari data tersebut.

Catatan selama FGD berlangsung disusun kembali dengan membuat transkrip,

dalam menyusun catatan dibantu dengan mendengarkan kembali tape recorder untuk

bagian yang terlewatkan. Data observasi, depth interview dan FGD yang telah

dikelompokkan kemudian dianalisis berdasarkan tema yang muncul untuk kemudian

(54)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini melibatkan 2 (dua) orang informan pangkal, yaitu waria yang

telah mengikuti proses VCT secara menyeluruh di Klinik IMS dan VCT Veteran

Medan. Penelitian ini juga melibatkan koordinator pelayanan Klinik IMS dan VCT

Veteran, konselor, tenaga laboratorium dan dokter pemeriksa. Petugas outreach

lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, beberapa peserta fokus grup diskusi

(FGD) yang merupakan waria dalam komunitas informan sebagai pengontrol untuk

mendapatkan secondary opinion dari informan pangkal.

Penulis memandang penting untuk menggambarkan deskripsi diri dan sejarah

hidup informan. Karena dinamika kehidupan waria yang sangat kompleks sehingga

dalam pengambilan keputusan, persepsi yang terbentuk oleh informan sebagai waria

sangat terkait dengan kehidupan masa lalu, lingkungan masyarakat dan orang lain

yang berhubungan dengan kehidupannya.

Penelitian ini juga bermaksud menggambarkan realitas sosial sebagai bagian

yang tidak lepas dari individu dan maknanya. Bagaimana dan mengapa individu

(55)

Tabel 1. berikut adalah gambaran umum dari kedua informan pangkal tersebut.

Informan-1 Informan-2

Nama (bukan yang sebenarnya)

Sari Yani

Usia 29 tahun 32 tahun

Pendidikan terakhir SMU SMK

Pariwisata

Suku bangsa Batak Jawa

Agama Kristen Islam

Pekerjaan Utama Pekerja Seks Pemilik Salon Kecantikan

4.1. Informan Pangkal – 1 (Sari) 4.1.1. Deskripsi Diri

Perawakan tubuh kurus dan tinggi dengan kulit sawo matang, waria yang

telah melakukan operasi perubahan pada hidung yang tampak mancung, namun

sedikit kurang proporsional. Beberapa bagian wajah seperti dagu, bibir dan pipi juga

tampaknya dilakukan operasi sederhana. Terlihat dada yang lebih besar dari laki-laki

umumnya, sehingga tampak menyerupai buah dada. Rambut hitam, panjang sebahu

(56)

untuk menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Tampak raut wajah yang

sedikit cemas dengan maksud kedatangan penulis, sering mengernyitkan dahi dan

pandangan menerawang jauh seperti menyembunyikan sesuatu. Berkali-kali ia

meminta agar identitas aslinya tidak dipublikasikan. Sari takut orang tua atau salah

seorang anggota keluarganya ada yang mengetahui keberadaan dan keadaannya saat

ini.

Walaupun pada awalnya Sari cenderung tertutup, tetapi lama kelamaan dia

mulai terbuka, interaksi berjalan cukup lancar, kebalikannya dia sering menjawab

sesuatu yang diluar lingkup pertanyaan, tampaknya Sari butuh teman untuk berbagi.

Sebenarnya dia ingin keluarganya menerima dia kembali, kerinduan itu beberapa kali

diungkapkan kepada penulis, hanya dia takut akan dipukul dan diusir kembali oleh

bapaknya. Perasaan tertekan demikian kuat memengaruhi jalannya wawancara.

Beberapa kali wawancara ditunda karena Sari lebih banyak menangis. Emosinya

mudah sekali terpancing dalam menanggapi sesuatu yang ditanyakan penulis

mengenai kehidupan masa lalunya. Dua hal yang bertolak belakang tentang

perasaannya sering muncul di awal pertemuan, terlebih ungkapan perasaannya

terhadap bapaknyanya. Lebih dari lima kali pertemuan pembicaraan dua arah lebih

efektif. Sari menganggap penulis cukup sabar mendampinginya, sehingga

(57)

4.1.2. Sejarah Hidup

Terlahir 2 November 1980, dengan nama asli pemberian orang tua seperti

kebanyakan laki-laki lain pada umumnya. Sari terlahir dari keluarga yang agamis.

Keluarganya merupakan keluarga besar, dia memiliki lima saudara laki-laki (enam

dengan dirinya) dan satu saudara perempuan. Kalau ingin cerita dia cenderung lebih

terbuka dengan saudara perempuannya. Dia memiliki masa kecil yang agak berbeda

dengan anak-anak pada umumnya. Sari lebih suka bermain dengan perempuan dan

sudah kelihatan genit, dia tidak suka bermain dengan laki-laki.

”Yang membedakan dengan teman-teman laki-laki lain, aku kalau main-main lebih suka dengan perempuan dan mainannya suka yang berbau-bau perempuan, seperti bunga-bungaan. Anehnya orang tua aku waktu itu membiarkan”

Perilaku masa kecilnya tersebut tumbuh kembang sampai dia benar-benar

menjadi seorang waria. Orang tua Sari tidak sadar kalau apa yang dilakukan anaknya

itu memengaruhi perkembangan dia selanjutnya. Mereka berpikir kalau anaknya

bermain dengan perempuan akan lebih aman, karena kalau bermain dengan laki-laki

ditakutkan akan berkelahi. Masyarakat yang melihat gaya Sari yang lentik dan suka

bermain dengan perempuan, banyak yang memanggil dia dengan sebutan banci.

(58)

Lama-kelamaan Sari merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Sari

mulai merasakan berbeda dengan orang lain, pada saat berusia 12 tahun, ketika duduk

di bangku Sekolah Dasar, Sari sering ikut kakaknya sebagai penyanyi gereja dan

penyanyi hajatan di daerah asalnya. Pada saat manggung di acara pesta pernikahan

dia sudah mulai berdandan seperti perempuan. Dia sangat suka akan perannya

sebagai perempuan, tetapi kalau melihat laki-laki berdandan selayaknya perempuan

dia tidak suka (padahal saat itu, dia sudah berjalan megal-megol). Setelah pentas

tersebut, Sari sering sembunyi-sembunyi memakai pakaian dan berdandan selayaknya

perempuan. Saat itu dia belum sepenuhnya sadar akan keadaan dirinya. Lama

kelamaan dia merasa lebih tertarik dengan laki-laki. Seperti apa yang diceritakannya.

”Aku kalau melihat laki-laki itu ada getaran yang lain, tapi kalau sama perempuan biasa saja. Aku merasa kalau melihat perempuan, ya itu lah aku.. tapi kalau berteman dengan lelaki ada perasaan malu. Demikian juga kalau melihat guru yang ganteng, aku tertarik, namun kalau melihat lawan jenis aku tidak tertarik sama sekali”.

Dia bercerita dengan menunjukkan kelentikannya sebagai seorang waria.

Orang tua Sari pada awalnya membiarkan saja karena dianggap masih anak-anak.

Seiring dengan bertambahnya usia, Sari merasakan bahwa apa yang dikatakan

orang-orang bahwa dirinya banci adalah benar. Setelah mengetahui dan mengerti apa

sebenarnya yang terjadi pada dirinya, dia memutuskan jalan hidup yang dianggapnya

(59)

sebenarnya. Dia mengambil keputusan itu karena dia tidak ingin membohongi diri

sendiri, dengan cara sembunyi-sembunyi dia merasa telah menyakiti diri sendiri,

walaupun dulu dia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjadi seorang waria.

“Waktu dulu sebenarnya aku juga tidak menghendaki jadi penyanyi yang berdandan perempuan. Waktu itu ada hubungannya dengan agama yang kental dalam keluarga kami. Harus banyak pertimbangan waktu itu. Aku merasa dosa. Ya Tuhan Yesus..dosa, ya Tuhan alak lai (laki-laki) kenapa jadi boru (perempuan). Saat itu antara iya dan tidak, di dalam hati aku berkeinginan menjadi seorang laki-laki sejati, tapi aku kan gak kayak laki-laki istilahnya kan aku keperempuanan, apa yang harus aku lakukan ?”.

Itu merupakan problema yang luar biasa saat dia akan memutuskan menjadi

seorang waria karena seluruh keluarga menentang keputusannya. Terutama bapaknya

yang sangat keras mendidik anak-anaknya. Namun Sari berkeyakinan dengan

membuka jati diri sebenarnya, batinnya akan lebih tenang. Keputusan itu membuat

orang tua mengusirnya dari rumah dengan alasan membuat aib keluarga, Sari

dianggap anak durhaka. Dia berusaha menjelaskannya kepada bapaknya, namun tidak

digubris.

Gambar

gambar di bawah ini.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, faktor isyarat untuk bertindak yang dirasakan oleh kelompok risiko HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan bukan

Rika Hesti Bangun : Persepsi Kelompok Risiko Tinggi Tertular Hiv/Aids Tentang Klinik Infeksi Menular Seksual (Ims) Dan Voluntary Counseling & Testing (Vct) Di Puskesmas

Akibatnya perilaku seksual waria sangat beresiko pada penularan HIV/AIDS, yaitu melakukan seks oral dan anal dengan banyak pasangan, tanpa menggunakan kondom dan pelicin, sehingga

Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan

Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko HIV.AIDS terhadap Kelompok Waria di Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) Bestari Kota Medan Tahun 2014..

Strategi komunikasi dalam kampanye HIV/AIDS yang digunakan oleh duta Ikatan Waria Malang ialah melalui pendekatan Interpersonal, dimana dalam pendekatan ini,

Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan AIDS adalah : melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang mengandung virus HIV, melalui alat

Latar Belakang Strategi penanggulangan HIV-AIDS ditujukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penularan HIV,meningkatkan kualitas hidup ODHA,serta mengurangi dampak social dan