• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah bencana geologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah bencana geologi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

BENCANA GEOLOGI (GEOLOGICAL HAZARDZ)

OLEH :

SHENDY BACHTERA 072.11.110

TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2014

▸ Baca selengkapnya: rpph gejala alam gunung meletus

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Bencana Geologi (Geological Hazards)” ini dengan tepat waktu.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Bencana Geologi. Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Afiat Anugerahadi selaku dosen mata kuliah Bencana Geologi.

Isi laporan ini diselesaikan berdasarkan berbagai sumber pada halaman google. Penulis sadar, makalah ini masih belum sempurna. Karenanya kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 28 April 2014

(3)

BAB I

BENCANA GEOLOGI

Pengertian Bencana

Bencana adalah peristiwa atau serangkaian peristiwa yang menyebabkan gangguan serius pada masyarakat sehingga menyebabkan korban jiwa serta kerugian yang meluas pada kehidupan manusia baik dari segi materi, ekonomi maupun lingkungan dan melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasinya dengan menggunakan sumberdaya yang mereka miliki.

Bencana dapat dikategorikanmenjadi tiga, yaitu bencana alam, bencana sosial dan bencana campuran. 1. Bencana alam disebabkan oleh kejadian-kejadian alamiah seperti gempa bumi, tsunami, letusan

gunung api, dan angin topan.

2. Bencana sosial atau bencana buatan manusia, yaitu hasil dari tindakan langsung maupun tidak langsung manusia seperti perang, konflik sosial, terorisme dan kegagalan teknologi.

3. Bencana dapat terjadi karena alam dan manusia sekaligus yang dikenal sebagai bencana campuran / kompleks, seperti banjir dan kekeringan.

Jika dilihat dari tempo kejadiannya, ancaman bencana dapat terjadi secara mendadak, berangsur atau musiman. Bencana yang terjadi secara mendadak adalah gempa bumi, tsunami, dan banjir bandang. Ancaman yang berlangsung secara perlahan-lahan atau berangsur adalah banjir genangan, rayapan, kekeringan dan ancaman yang terjadi musiman adalah banjir (di musim hujan), kekeringan (di musim kemarau) dan suhu dingin.

Jenis bencana alam

Bencana alam dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu bencana alam yang bersifat meteorologis, bencana alam yang bersifat geologis, wabah dan bencana ruang angkasa.

 Bencana alam meteorologi

Bencana alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim. Bencana ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus, walaupun ada daerah-daerah yang menderita banjir musiman, kekeringan atau badai tropis (siklon, hurikan, taifun) dikenal terjadi pada daerah-daerah tertentu. Bencana alam bersifat meteorologis seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi di seluruh dunia

(4)

Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus. Gempa bumi dan gunung meletus terjadi hanya sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau lantai samudera. Gempa bumi terjadi karena gerakan lempeng tektonik. Gempa bumi pada lantai samudera dapat memicu gelombang tsunami ke pesisir-pesisir yang jauh, tinggi gelombang tsunami dapat melampaui 10 meter.

Gunung meletus diawali oleh suatu periode aktivitas vulkanis seperti hujan abu, semburan gas beracun, banjir lahar dan muntahan batu-batuan. Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur atau kombinasi lumpur dan debu yang disebabkan mencairnya salju di puncak gunung, atau dapat disebabkan hujan lebat dan akumulasi material yang tidak stabil.

 Bencana alam dari ruang angkasa

Bencana dari ruang angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau gangguan badai matahari. Meskipun dampak langsung asteroid yang berukuran kecil tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga berkemungkinan besar untuk menabrak bumi. Bencana ruang angkasa seperti asteroid dapat menjadi ancaman bagi negara-negara dengan penduduk yang banyak seperti Cina, India, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Tenggara.

 Wabah/Penyakit Menular

Wabah atau epidemi adalah penyakit menular yang menyebar melalui populasi manusia di dalam ruang lingkup yang besar, misalnya antar negara atau seluruh dunia. Contoh wabah terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah pandemi flu, cacar dan tuberkulosis.

 Tanah Longsor

Terjadinya pergerakan tanah atau bebatuan dalam jumlah besar secara tiba-tiba atau berangsur-angsur yang pada umumnya terjadi di daerah lereng yang gundul atau kondisi tanah dan bebatuan yang rapuh. Biasanya daerah yang pernah mengalami longsor sebelumnya, merupakan daerah gundul dan aliran air hujan adalah daerah yang rawan tanah longsor.

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan.

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan.

Siklus Manajemen Bencana

(5)

diperlukan antisipasi menghadapinya dengan manajemen bencana sebagai berikut:

 Respon Terhadap Bencana; fase ini adalah melakukan tindakan yang segera diambil ketika sebelum bencana, selama bencana terjadi dan setelah terjadi bencana dan mencoba untuk memperkecil dampak buruk aikbat bencana.

 Pemulihan Bencana; berbagai langkah yang dilakukan untuk menormalisir kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan setelah bencana baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

 Kesiapan Menghadapi Bencana; kesiapan yang dilakukan sebelum terjadinya bencana. Kegiatan ini untuk membangun kemampuan lembaga dan manajemen dalam menghadapi waktu-waktu yang krisis setelah bencana.

Dampak Bencana

Persiapan LKM Menghadapi Bencana

Pengalaman beberapa LKM yang beroperasi di beberapa daerah rawan bencana, telah menunjukkan bahwa akses ke layanan keuangan mikro dapat mendukung kesiap siagaan LKM menghadapi bencana dan pengurangan risiko dan membantu mengurangi kerentanan nasabah yang menjadi korban bencana. Penyediaan jasa keuangan LKM selama krisis, hanya mungkin dilakukan jika LKM siap menghadapi kemungkinan adanya bencana.

Sejak kejadian bencana alam terus meningkat secara global, banyak institusi telah mengidentifikasi kebutuhan untuk mempersiapkan kemungkinan ini untuk mereka sendiri dan nasabahnya. Beberapa LKM merusaha untuk meningkatkan usahanya dan juga meningkatkan perekonomian para nasabahnya.

(6)

Cara yang mereka lakukan adalah menyediakan layanan yang memungkinkan nasabah untuk mempersiapkan menghadapi krisis di masa depan, dan juga mengurangi dampak kebrangkutan nasabah mereka. Dan ini adalah merupakan salah satu unsur utama dalam menjalankan visi/misi LKM.

Beberapa LKM memang memberikan pelayanan di daerah yang rawan bencana. Banyak diantara LKM tersebut memiliki kebijakan dan panduan menghadapi bencana. Panduan ini sangat membantu mereka untuk menilai apakah mereka telah melakukan persiapan dengan benar dan mengisi setiap celah apapun dalam menghadapi bencana.

Setelah LKM membuat keputusan untuk mempersiapkan diri jika terjadi bencana alam, maka mereka memerlukan sebuah rencana dan panduan yang komprehensif. Panduan ini diharapkan dapat membantu LKM dalam mendefinisikan strategi kelembagaan untuk kesiap siagaan bencana alam. Panduan ini meletakkan langkah-langkah untuk menilai potensi risiko bencana, kebutuhan nasabah dan kapasitas kelembagaan untuk menjawab sejauh mana LKM telah siap menghadapi bencana. Selain itu panduan ini juga memberikan referensi untuk alat dan pedoman yang digunakan LKM untuk menetapkan strategi mereka dalam menghadapi bencana.

Panduan ini dapat membantu LKM menilai risiko bencana, kebutuhan nasabah mereka dan kapasitas LKM sendiri untuk merespon bencana. Urutan dalam panduan tersebut adalah: 1. Penilaian Resiko Bencana, 2. Kesiapan Lembaga, 3. Kesiapan Nasabah, 4. Tanggap Darurat.

1. Penilaian Risiko Bencana: mendapatkan informasi dari Otoritas Pemerintahan Lokal atau nasional yang bertanggung jawab menyimpan catatan-catatan mengenai bencana. Informasi ini juga bisa diperoleh dari lembaga-lembaga lain seperti PMI yang ikut terlibat dalam setiap terjadinya bencana, atau BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang juga memiliki catatan atau laporan bencana dari daerah tersebut. Langkah berikutnya adalah melihat sektor-sektor apa saja yang berpotensi terkena dampak bencana dan apakah LKM beroperasi didaerah rawan bencana.

2. Kesiapan Lembaga : LKM mengembangkan sebuah rencana kesiapan menghadapi bencana dan dimungkinkan untuk membuat suatu perjanjian manajemen bersama untuk mengatur manajemen bencana. LKM dapat menyelenggarakan pemetaan resiko agar lebih baik dalam memahami kerentanan debitur dan penabung terhadap bencana dan mengurangi resiko melalui diversifikasi geografis, yakni letak dari wilayah operasional LKM. Disamping itu karyawan LKM akan memahami prinsip-prinsip dan praktek dasar manajemen bencana, dan lebih spesifik mengetahui mengenai berbagai rencana pertolongan bencana yang tersedia untuk wilayah kerja mereka.

3. Kesiapan nasabah: LKM melakukan penilaian sejauh mana nasabah LKM telah melakukan persiapan menghadapi bencana. Dari hasil penilaian tersebut, LKM dapat merancang produk/jasa keuangan yang dibutuhkan nasabahnya. Kegiatan ini akan membantu LKM dalam melakukan aktivitas yang dapat dipergunakan ketika sebelum bencana dan juga setelah terjadinya bencana.

4. Tanggap darurat: Ketika terjadi bencana, LKM harus melakukan Reaksi Tanggap Darurat (Emergency Respond). Segera membentuk Satuan Tugas Krisis, Inevntarisasi Asset Fisik dan

(7)

Non Fisik, Inventarisasi Nasabah, Analisa dan Evaluasi Lingkungan. LKM harus melindungi dirinya sendiri dan juga masyarakat/nasabahnya. LKM harus berkolaborasi dengan lembaga-lembaga yang menangani bencana alam dan LKM lainnya. Fokus LKM adalah kepada kebutuhan keuangan nasabah ketika terjadi bencana.

Produk/Jasa Keuangan Pasca Bencana

LKM yang telah mempersiapkan produk untuk menghadapi bencana tentunya telah siap menghadapi situasi pasca bencana. LKM perlu memberikan solusi kepada nasabah yang terkena dampak bencana, karena dalam keadaan seperti ini lebih baik mempertahankan nasabah dan melindungi LKM dari kredit macet dibandingkan memaksakan mendapatkan pendapatan. Solusi yang ditawarkan LKM kepada nasabahnya pasca bencana harus benar-benar dapat meringankan nasabah dan akan berdampak positif. Dimata nasabah, LKM tidak hanya semata-mata mencari keuntungan finansial semata, tetapi memang sesuai visi dan misinya membantu masyarakat. Nasabah akan semakin loyal kepada LKM jika saja LKM benar-benar nyata membantu mereka keluar dari keterpurukan pasca bencana. Beberapa solusi ini dapat dipertimbangkan oleh LKM:

1. Pinjaman Dalam Keadaan Darurat; diberikan kepada nasabah untuk memulihkan asset-aset produktifnya dan asset rumah tangga yang penting.

2. Pinjaman Konstruksi, diberikan kepada nasabah untuk memperbaiki aset-aset produktif.

3. Hibah; LKM dapat bekerja sama dengan beberapa donor atau LSM yang menyakurkan bantuan kepada masyarakat pasca bencana.

4. Keringanan pinjaman; memberikan keringanan angsuran kepada nasabah yang terkena dampak bencana.

5. Modifikasi Produk; dipertimbangkan melakukan modifikasi produk dari produk pinjaman kelompok menjadi pinjaman individu jika sebagian anggota telah melunasi kewajibannya dan membutuhkan segera pinjaman baru untuk membangun usahanya kembali.

Beberapa jenis bantuan non finansial

1. Pelatihan dan sosialisasi menghadapi resiko

 Bagaimana menghindari penyakit selama bencana seperti; malaria, kolera, ispa, disentri dll.

 Membangun struktur rumah yang aman/tahan gempa.

 Melakukan diversifikasi asset agar tidak semua asset terkena dampak bencana.

 Pelatihan strategi mitigasi bahaya bencana (dapat bekerjasama dengan PMI) 2. Penyebaran Informasi:

 Layanan darurat yang tersedia dan bagaimana mengaksesnya.

 Update tentang kemajuan bencana dan rekomendasi dari pemerintah untuk evakuasi atau tindakan lainnya.

(8)

BNPB : Bencana Geologi Sulit Diprediksi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan bencana geologi seperti gempa dan tsunami sulit diprediksi.

“Bencana gempa bumi dan tsunami tidak dapat diprediksi karena bencana tersebut bersifat mendadak,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pada "Evaluasi

Penanggulangan Bencana Tahun 2012 dan Prediksi serta Atisipasi Bencana 2013," Kamis (20/12). Ia juga menambahkan erupsi gunung api tidak dapat diprediksikan untuk jangka panjang. "Apalagi beberapa watak letusan gunung api telah berubah,” ujar Sutopo.

Sutopo menuturkan terdapat 386 kabupaten/kota di Indonesia dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan bahaya gempa bumi dengan sumber gempa berasal dari daerah subduksi dan sesar di daratan. Sedangkan potensi tsunami terdapat pada 233 kabupaten/kota dengan penduduk 5 juta jiwa berada pada daerah rawan tsunami di Indonesia.

“Tsunami sangat ditentukan oleh gempa bumi baik magnitude, kedalaman, dan sumbernya. Sumber tsunami di Indonesia disebabkan zona subduksi, intra plate, erupsi gunung di laut, ataupun akibat tsunami dari luar wilayah Indonesia” kata Sutopo.

Sutopo mengatakan selama tahun 1629-2012 terdapat sekitar 172 tsunami di Indonesia dan saat ini terdapat enam gunung berstatus Siaga atau level III, yaitu Gunung Raung, Gunung Rokatenda, Gunung Sangeangapi, Gunung Lokon, Gunung Karang Etang, dan Gunung Ijen; 13 gunung berstatus Waspada atau Level II yaitu Gunung Gamalama, Gunung Bromo, Gunung Talang, Gunung Krakatau, Gunung Kerinci, Gunung Gamkonora, Gunung Ibu, Gunung Papandayan, Gunung Ili Lewotolo, Gunung Sinabung, Gunung Dukono, Gunung Semeru, dan Gunung Marapi.

“Gunung Lokon diperkirakan masih memiliki energi untuk terjadi letusan seperti yang terjadi selama ini,” kata Sutopo. Dia juga mengatakan, untuk melakukan antisipasi atau penanggulangan bencana tahun 2013, semua kegiatan dilakukan baik untuk kesiapsiagaan dan pencegahan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas

BNPB/BPBD.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (bahasa Inggris: Centre of Volcanology and Geological Hazard Mitigation) (disingkat PVMBG) adalah salah satu unit di lingkungan Badan

(9)

Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertugas melaksanakan perumusan kebijaksanaan, standardisasi, bimbingan teknis dan evaluasi bidang vulkanologi dan mitigasi bencana alam geologi. Lembaga ini bertujuan pengelolaan informasi potensi kegunungapian dan pengelolaan mitigasi bencana alam geologi, sedangkan misi yang diemban adalah meminimalkan korban jiwa manusia dan kerugian harta benda dari bencana geologi.

Lembaga ini dibentuk setelah meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur tahun 1919. Pada tanggal 16 September 1920 dibentuk Vulkaan Bewakings Dients (Dinas Penjagaan Gunungapi) di bawah Dients Van Het Mijnwezen. Pada tahun 1922 diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek (VO), yang kemudian pada tahun 1939 dikenal sebagai Volcanological Survey.

Dalam kurun waktu tahun 1920-1941, Volcanologische Onderzoek membangun sejumlah pos

penjagaan gunung api, yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau Panjang, Pos Gunung Tangkuban Perahu, Pos Gunung Papandayan, Pos Kawah Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan, Krinjing, Plawangan, Ngepos), Pos Gunung Kelud, Pos Gunung Semeru, serta Pos Kawah Ijen. Selama pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi ditangani oleh Kazan Chosabu.

Setelah Indonesia merdeka, dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan. Tahun 1966 diubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi. Pada tahun 1976 berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.

Pada tahun 1978 dibentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi. Tahun 1992 dibentuk Direktorat Vulkanologi di bawah

Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral.

Pada tahun 2001, urusan gunungapi, gerakan tanah, gempabumi, tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Setelah bergabung dengan Badan Geologi, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berubah nama institusinya menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Di dunia internasional, PVMBG dikenal dengan sebutan Volcanology Survey Indonesia (VSI). Saat ini dipimpin oleh M. Hendrasto dan berkantor pusat di Bandung.

Tanda-tanda akan terjadinya longsor saat musim penghujan

TRIBUNJOGJA.COM – Sleman

(10)

bencana longsor di Jombang dan Kudus beberapa waktu lalu yang menelan korban juga bisa mengancam daerah lain. Pasalnya pemukiman rumah penduduk yang berada di daerah lereang perbukitan memiliki resiko terkena ancaman longsor.

Guru Besar Jurusan Teknik Geologi UGM, Dwikorita Karnawati mengimbau agar masyarakat waspada terhadap bencana tanah lonsor. Menurutnya, kejadian longsor disebabkan oleh gerakan tanah disertai dengan suara gemuruh atau suara gemeretak dari arah atas lereng, yang pada awalnya dapat disertai batu-batu kecil atau kerikil yang menggelinding ke arah bawah lereng.

"Apabila mendengar suara gemuruh ini, jangan segera menghampiri lokasi gerakan tanahatau bahkan berkerumun pada lokasi tersebut dan segera menghubungi aparat pemerintah setempat dan mencari bantuan penyelamatan," kata Dwikorita kepada Tribunjogja.com, Minggu (9/2/2014).

Saat curah hujan tinggi, masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan atau di sekitar lereng untuk segera berusaha lari menghindar sementara hingga menunggu hujan berhenti. "Bila mendengar suara gemuruh, segera menuju ke lahan yang lebih datar dan jauh dari lereng yang rentan, dan jauh dari lembah sungai," sarannya.

Guna mewaspadai gejala awal tanah longsor akibat gerakan tanah atau batuan sebagai peringatan dini, bisa dilihat dengan miringnya pohon-pohon dan tiang-tiang pada lereng, muncul retakan-retakan tanah berbentuk lengkung memanjang berbentuk tapal kuda pada lereng. Selain itu, lereng tiba-tiba terlihat menggembung, "Biasanya muncul rembesan-rembesan air pada lereng, dan apabila rembesan makin deras dan airnya menjadi keruh, maka diperkirakan lereng segera akan bergerak dan terjadi longsor," kata peneliti longsor ini.

Selain itu, naiknya muka air sungai beberapa sentimeter, dan air sungai menjadi keruh lebih keruh, atau tiba-tiba terjadi aliran lumpur atau aliran pasir pada lembah sungai, bisa sebagai penanda terkjadi longsor. Sedangkan dari sisi bangunan rumah ditandai dengan munculnya retakan pada lantai dan tembok bangunan. "Amblesnya sebagian lantai konstruksi bangunan ataupun amblesnya tanah pada lereng. Lalu pintu atau jendela bangunan tiba-tiba tidak dapat dibuka," jelasnya.

Setelah musim hujan berlalu, untuk menghindari ancaman longsor bagi mereka yang sudah terlanjur menempati rumahnya, dia menyarankan agar segera melakukan upaya perbaikan lereng dan lingkungan. Masyarakat diharapkan dapat memperbaiki geometri lereng, melancarkan saluran-saluran air pada lereng, membuat perkuatan lereng dan menanami lereng dengan vegetasi yang tepat.

Di lain pihak, Dwikorita menghimbau kepada pemerintah untuk melakukan penataan tata ruang dengan melakukan pemetaan geologi untuk mengetahui daerah zona rawan longsor. "Daerah yang rawan ini sebetulnya sudah dipetakan namun belum didetilkan atau dimasukkan dalam tata ruang penataan lahan," bebernya.

(11)

Menurut Rita, demikian ia akrab disapa, umumnya pembangunan tata ruang di beberapa daerah tidak memperhatikan aspek daerah risiko zona tanah bergerak. "Misalnya tol Cipularang tanahnya tetap terus bergerak, beban kendaraan akan memperepat pergerakan tanah namun bisa diperkuat drainase tapi tidak bisa dikurangi," paparnya.

Dia menyarankan agar daerah pemukiman yang berada di zona tanah bergerak perlu dipertimbangkan pembangunan tata ruangnya untuk menghindari jatuhnya korban saat terjadi bencana longsor tiba. "Yang jadi masalah penegakan hukun tata ruang sering tidak diterapkan dan selalu dilanggar. Aspek hukum, sosial, rekayasa geologi, perlu dirumuskan bersama dengan segera," tutupnya. (*)

Peranan Ahli Geologi Di Nusa Tenggara Barat Dalam Mitigasi Bencana Geologi

Kusnadi, Radyus Ramli Hindarman, Muhamaddin, Heryadi Rachmat IAGI NUSRA Jl. Majapahit No. 40 Mataram

Wilayah Nusa Tenggara Barat menempati posisi tatanan geologi yang kompleks dimana terjadi

benturan antara dua lempeng bumi Indo-Australia dan Eurasia yang terus bergerak membentuk wilayah Nusa Tenggara Barat mengalami proses geologi yaitu sedimentasi, pengangkatan, perlipatan dan patahan. Proses geologi ini selain menyebabkan Nusa Tenggara Barat memiliki sumberdaya mineral dan panas

bumi, juga mengakibatkan wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki gunung api aktif, memiliki pusat – pusat gempa bumi, dan memiliki sebaran potensi rentan tanah longsor. Hal ini menyebabkan wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki potensi untuk terkena bencana geologi yaitu letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami dan tanah longsor.

Selama kurun waktu lebih kurang tiga puluh tahun wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), telah kerap kali mengalami bencana geologi yang berupa gempa bumi dan tsunami, letusan gunungapi, tanah longsor, dan amblesan tanah (subsidence). Bencana geologi ini telah menimbulkan korban jiwa

maupun kerusakan harta benda, antara lain : gempa bumi/tsunami (Lunyuk 1979, Lombok Barat 1979, 2004 dan Dompu 2003), letusan gunungapi (Rinjani 1994, 2004, 2009 dan Sangeang Api 1985, 1997, 2009) dan tanah longsor (Cerorong 1994, Pusuk 2000, dan Dusun Kerujuk Pamenang), penurunan tanah (Dusun Terangtawah, Pamenang Lombok Barat 200),serta banjir bandang (Sumbawa dan

Lombok Barat 2009). Bencana alam berupa letusan gunungapi, gempabumi/tsunami, tanah longsor dan penurunan tanah, merupakan bencana yang tidak dapat dicegah dengann ilmu pengetahuan serta

teknologi yang ada sekarang dan sampai saat ini belum mampu memprediksi secara tepat kapan bencana tersebut dapat terjadi untuk itu, ahli geologi di Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam IAGI Pemda NTB telah melakukan kegiatan mitigasi bencana geologi mulai dari identifikasi, pemetaan

(12)

daerah rawan bencana, dan penyusunan rencana strategi (penyuluhan, publikasi dll). Hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari bencana alam tersebut.

Untuk kelancaran kegiatan mitigasi bencana geologi juga di butuhkan sinergitas dari berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat maupun lembaga yang terkait

BAB II

GEOLOGICAL HAZARDS

(13)

Geological hazards are natural phenomena that cause major problems all over the world. The expansion and development of cities leads into an increase in impact and damage due to geological hazards. In general, most of geological hazards associated with desert environments are related to natural conditions, although some may due to human activities. Potential geological hazards that may occur under desert conditions include erosion and deposition associated with sand drifting and dune movement, corrosion, low bearing capacity of sediments, sabkha zones that are unsuitable for construction, land subsidence due to loose oil, salt domes, rock falls, landslides, earth fissures and sinkholes, subsidence, and many more.

Objectives

In order to serve the community, the Geological Hazards Team of the Saudi Geological Survey started a program to study and monitor geological hazards, whether natural or man-made, throughout the Kingdom of Saudi Arabia. The teams evaluate the different geological hazards, predict their origin and mode of formation and calculate the risk from these hazards on lives and property, as well as on the surrounding environment. Many technical reports have been published by the Department on flooding and other geohazards in the Kingdom. The locations of geological hazards in Saudi Arabia are shown

in the map below.

Examples of Geological Hazards

Some examples of geological hazards that have been investigated and documented by the Geological Hazards Department are as follows:

(14)

Although the average rainfall in the coastal areas of the Kingdom is very small, rainstorms on the nearby mountains can generate flash floods that damage properties and result in loss of life. The Geological Hazards Team has investigated several wadis between Jizan and Jeddah and is continuing studies of other wadis.

The aim is to prepare detailed hydrological studies of the wadis in order to determine the potential danger from the floods and to recommend suitable remedial measures.

2. Rock Fall Hazards

Landslides are rock, earth, or debris flows on slopes due to gravity. They can occur on any terrain given the right conditions of soil, moisture, and the angle of slope. Integral to the natural process of the earth's surface geology, landslides serve to redistribute soil and sediments in a process that can be in abrupt collapses or in slow gradual slides. Also known as mud flows, debris flows, earth failures, and slope failures, they can be triggered by rain, floods, earthquakes, and other natural causes as well as human-made causes, such as grading, terrain cutting and filling, excessive development, and so on. The factors affecting landslides can be geological or by man-made, and can occur in developed or undeveloped areas, or in areas where the terrain has been altered for roads, houses, utilities, buildings and mining activities.

The Saudi Geological Survey is studying landslides in order to mitigate the risks. Landslides may be more devastating than all other natural hazards combined, and can affect utilities, transportation, and public and private infrastructure. Most of the rock slopes along the descents between the Arabian Shield mountains and the Red Sea coast that cut through the escarpment are subject to slope instability and rock falls, especially after rain storms.

3. Karst Hazards

Different types of sinkholes have been recognized in Saudi Arabia. The sinkholes are of various sizes, shapes and occur at different depths. Their presence may cause a direct risk to infrastructure such as urban areas, roads, areas being developed, and farmland. Some sinkholes have also appeared in barren uninhabited areas. In recent years more than eight large sinkholes or ground collapses have occurred to the west of Al Khafji and in the An Nu’ayriyah area (northeast Saudi Arabia) due to dissolution of the underlying limestone.

(15)

4. Earth Fissures

Earth fissures can result from several geodynamic processes. Earthquakes can form fissures as was the case along the coast to the south of Haql in 1995. Earth fissures can also be formed due to excessive groundwater withdrawal, as occurred at Tabah, An Naiy and Al Yutamah. The Geohazards and Engineering Geology Teams are monitoring the movement across earth fissures and producing hazard zonation maps.

5. Problematic Soils and Rocks

Some problematic soils and rocks may pose a danger to anything constructed on them. Soils such as sabkha may collapse and react with foundations while loess can also collapse. Clayey soils and weak rocks such as claystone and shale may swell. The Geohazards and Engineering Geology Teams are investigating the sabkha soils in Jeddah, Jazan, Yanbu and Al Jubail and swelling rocks at Al Qasim.

5-1. Sabkha Hazards

Sabkha in general forms due to variations in the rate of evaporation of salt water in the soil. Engineers classify sabkha into four common types: 1) Sabkha, 2) Playa, 3) Salt Playa, and 4) Saline. After the evaporation of saline water from a lake a crust of salt is formed. Coastal sabkha is formed from continental sediments that are mixed with sea water during regression of the sea level. The mineral composition of coastal sabkha is characterized by the presence of aragonite, calcite, gypsum, and dolomite. These sabkha soils have a negative impact on infrastructure causing problems in buildings. The degree of damage depends on the characteristics of the sabkha, the degree of subsidence, and the bearing capacity of the sabkha. A technical report about the characteristics of the Jizan sabkha has been produced by the Department.

a) Subsidence and tension cracks in an asphalt area; b) Sinkhole in front of a building.

(16)

5-2. Loess Soil

Loess soil is an unconsolidated well-sorted clastic deposit. It is relatively homogeneous, seemingly non-stratified, and extremely porous. Loess has different definitions, but is generally considered to be wind-blown (aeolian) silt where the sediments were transported by wind. Loess soil mainly consists of quartz, feldspar and mica grains that are angular showing little polishing or rounding. Because the grains are angular, loess often retains the shape of banks for many years without slumping. The soil characteristic called vertical cleavage allows the formation of cave dwellings. Loess may be readily eroded by water, wind and seismic activity. Loess soil occurs in various areas in the Kingdom such as in Jizan city.

5-3. Sand Dunes

Drifting sand and dune movement are some of the most serious natural problems facing the Arabian Peninsula due to the expansion of cities, roads, industries, and agricultural development. If not controlled, movement of sand dunes creates problems for industrial plants, residential areas, roads, power lines, and pipelines. Problems that have been studied within active dunes include closing of roads, as well as other problems that affect the development of various areas.

5-4. Salt Domes

Problems related to salt domes occur in many locations in the Jizan area, especially in the old city of Jizan. Lenses of salt extend away from the salt domes at depths that range from a few meters to tens of meters under the flat areas. These cause problems that include damage to buildings and infrastructure or even collapses, with building failures, fractures, and tilting, road cracks, an undulating ground surface, and tilting of posts and electricity poles.

Environmental Geology

(17)

environmental issues. As a multidisciplinary science involving human interaction with, and impact on, the environment – earth, air and water – it shares close ties with engineering geology, which applies geologic knowledge to engineering practice. This page is dedicated to the memory of two geologists, Cathy Schulten Wellendorf and Dr. Troy L. Péwé of Arizona State University, who contributed greatly to environmental geology studies here in Arizona.

Environmental geology is a broad field that draws upon a number of geologic sub-disciplines: hydrology (surface water and groundwater resources and management), geomorphology and the study of processes that shape the earth’s surface, waste containment and pollution of air, water, and soil, and oil and gas resource management. Perhaps the best known application of environmental geology is to manage and mitigate geologic hazards that threaten people, their property and infrastructure. This includes hazards such as floods – both flash floods and regional floods, earthquakes, landslides (avalanche, rock fall, slump and creep), karst features (sinkholes and fissures), debris flows, volcanic activity (pyroclastic flows, lava flows and lahars), earth fissures, and radon gas among other geologic hazards.

For a cogent description of geologic hazards in Arizona, and some advice on how to avoid or minimize their impacts, see AZGS’s A Home Buyers Guide to Geologic Hazards in Arizona, a volume in our Down-to-Earth popular geology series that was dedicated to Dr. Troy L. Péwé. Geologic hazards encountered in Arizona are briefly described below.

Earth fissures

Earth fissures are associated with basin subsidence that accompanies extensive ground water withdrawal. In Arizona, fissures were first noted near Eloy in 1929. The physical appearance of fissures varies greatly, but they may be more than a mile in length, up to 15 feet wide, and 100s of feet deep. Fissures erode rapidly during torrential rains to form extensive gullies that present a substantial hazard to people and infrastructure. Importantly, fissures potentially provide a ready conduit to deliver runoff and contaminated waters to basin aquifers. Rapid population growth in southern Arizona has increasingly juxtaposed suburban development and fissures.

(18)

The Earth’s crust in the Western U.S. is riddled with faults. When crustal rocks move abruptly along the fault, earthquakes occur. Deaths and injuries from earthquakes usually stem from collapse of buildings, roads and bridges, or due to cascading events such as fires, landslides, or tsunami. Arizona has experienced historical earthquakes, and has many faults that have generated large prehistoric earthquakes.

In October 2012, Arizona joined California, Utah and states in the Western U.S. to host a shakeout earthquake preparedness drill – in our case, the Great Arizona Shakeout. Some important Arizona earthquake resources are available at our earthquake page.

Floods & debris flowsBack to list

Floods constitute the most commonly encountered geologic hazard both nationally and regionally. Arizona’s monsoon season, with its predilection for sudden, torrential and localized rainfall, coupled with a landscape incised by thousands of washes and gullies, is ripe for dangerous flash floods. Of particular concern from a floodplain-management perspective is flooding on alluvial fans, where channels diverge downstream and broad areas outside of channels may be inundated in large floods. Arizona’s major rivers and streams are more likely to swell and flood during the sustained regional storms that occur in the fall and winter seasons.

Debris flows are mixtures of water and debris (typically 80% solids and 20% water) that move downslope under the influence of gravity. They entrain and transport particles ranging from clays, silt, and sand to boulders tens of feet in maximum dimension. They resemble slurry of wet concrete as they rush down gradient in channels or stream valleys. In Arizona, they are particularly prevalent during monsoon storms in areas recently scorched by wildfires, e.g., debris flows on the east flank of the San Francisco Peaks following the Schultz wildfire of summer 2010.

The Arizona landscape is a beautiful and bedazzling collage of mountains, valleys, canyons, plateaus, mesas, rivers, washes, and volcanoes. But the natural features that make Arizona so magnificent are rife with geologic hazards that threaten Arizonan’s and their property. To assist homeowners – and home buyers – in understanding the nature and scope of geologic hazards throughout the State, the Arizona Geological Survey (AZGS) is providing free “The Homeowner's Online Guide to Geologic Hazards in Arizona.”

(19)

In 2002, AZGS geoscientists, Ray Harris and Phil Pearthree, set out to identify geologic hazards that threaten Arizona property. They explored the geologic literature, examined maps, and conducted field investigations. Their efforts resulted in, A Home Buyer’s Guide to Geologic Hazards in Arizona, describing the geologic hazards common to Arizona: floods, earth fissures and subsidence, earthquakes, debris flows, landslides, karst formations, swelling or collapsing soils, and even volcanic eruptions. The Home Buyer’s Guide is one of three AZGS publications comprising this online compendium of resources. The second, “Radon: A Geologic Hazard in Arizona,” was published in 1992 by AZGS Senior Geoscientist, Jon Spencer. It is a marvelous primer on the origin and hazards of radon gas, which is second only to tobacco as a cause of lung cancer in the U.S. Spencer uses maps, graphs, and descriptive text to finger radon hot spots in Arizona.

The third publication, “Land Subsidence and Earth Fissures in Arizona” was written by geologist Steven Slaff. Subsidence is a growing problem in the valleys of south-central Arizona. Slaff draws on maps, photos, line drawings, and an easy-to-read text to illustrate how and why subsidence occurs. If you want to understand this anthropogenic-caused geologic problem, and its byproduct – earth fissures, this is the place to start.

This online guide is part of our continuing effort to inform the Arizona public about geologic hazards that could impact their lives. These publications, now available as PDF downloads, describe Arizona’s major geologic hazards and include maps to show where these hazards are prevalent.

DAFTAR PUSTAKA

(20)

http://www.azgs.az.gov/hazards.shtml http://www.azgs.az.gov/homeownersguide.shtml http://geology.utah.gov/maps/geohazmap/ http://www.aegweb.org/students-educators/student-resources/aeg-for-students/geologic-hazards http://www.dcnr.state.pa.us/topogeo/hazards/index.htm http://www.mtu.edu/peacecorps/programs/geo-mitigation/ http://geosurvey.state.co.us/hazards/Pages/Hazards%20Welcome.aspx http://gsa.state.al.us/gsa/geologichazards/index.htm http://www.ibnurusydy.com/geo-bencana/ http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Vulkanologi_dan_Mitigasi_Bencana_Geologi http://micra-indo.org/article/ifdol_mahyudin__microfinance_institutions_preparedness_on_disaster http://www.slideshare.net/hermansatmoko/mitigasi-bahaya-geologi-dalam-pengembangan-lapangan-panas-bumi http://www.iagi.or.id/paper/peranan-ahli-geologi-di-nusa-tenggara-barat-dalam-mitigasi-bencana-geologi

Referensi

Dokumen terkait

menganalisa faktor-faktor tambahan apa saja yang merupakan persyaratan, yang mempengaruhi pemilihan pemenang yang ditunjuk oleh ULP dan persentase perbandingan antara

of fuel and electricity energy costs for pyro-metallurgy-based mines plotted against mine- depth and ore grade data with values for open-pit mines ( blue ), underground mines ( green

Karena dalam sudut pandang mereka (Pan dan Kosciki) framing ialah sebuah ide yang disangkut pautkan dengan format berbeda dalam sebuah naskah berita, kutipan berita,

Adapun judul skripsi ini adalah “Evaluasi Pelaksanaan Program Beras untuk Keluarga Miskin di Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan” yang merupakan

Perubahan Rencana Kerja (Renja) Bappelitbangda Kabupaten Purwakarta Tahun 2020 disusun dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017

Dari penerapan nilai-nilai as Sunah, privasi antara pemilik rumah, anak kos dan pihak luar seperti tamu, tetangga maupun kerabat kurang dapat terjaga dikarenakan arah hadap

TSK Aspek Toleransi adalah tes yang bertujuan mengukur tingkat kedewasaan anda dalam  bertoleransi (menerima dan membantu) orang lain yang sedang mengalami

KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, dengan tujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan kinerja keuangan dalam hal ini underwriting ratio, solvency