• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Inovasi

2.1.1 Pengertian Inovasi

Definisi inovasi sendiri berbeda-beda tergantung dari pendekatan yang digunakan. Menurut Drucker (2012) dalam Makmur dan Thahier (2015), inovasi adalah alat spesifik bagi perusahaan dimana dengan inovasi dapat mengeksplorasi atau memanfaatkan perubahan yang terjadi sebagai sebuah kesempatan untuk menjalankan suatu bisnis yang berbeda. Hal ini dapat dipresentasikan sebagai sebuah disiplin, pembelajaran, dan dipraktekkan.

Inovasi adalah perubahan metode atau teknologi bersifat positif yang berguna dan berangkat dari cara-cara yang sudah ada sebelumnya dalam melakukan sesuatu.

Untuk inovasi sendiri terdiri dari dua tipe yaitu inovasi proses dan inovasi produk.

Proses inovasi adalah perubahan yang mempengaruhi cara output dalam produksi, sedangkan inovasi produk sendiri memiliki definisi sebaliknya yaitu inovasi produk adalah perubahan dalam output aktual baik itu barang maupun jasa itu sendiri (Bateman

& Snell, 2009, p. 610).

Menurut Makmur dan Thahier (2015, p. 9), inovasi berasal dari Bahasa Inggris innovation yang berarti perubahan sehingga inovasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia dalam menemukan sesuatu yang baru yang berkaitan dengan input, proses, dan output, serta dapat memberi manfaat dalam kehidupan manusia. Inovasi yang berkaitan dengan input diartikan sebagai pola-pola pemikiran atau ide manusia yang disumbangkan pada temuan terbaru. Untuk inovasi yang berkaitan dengan proses lebih banyak berorientasi pada metode, teknik, ataupun cara bekerja dalam rangka menghasilkan sesuatu yang baru. Inovasi yang berkaitan dengan output berdasarkan definisi tersebut ditunjukkan pada hasil yang telah dicapai terutama penggunaan pola pemikiran dan metode atau teknik kerja yang telah dilakukan. Ketiga elemen dalam inovasi tersebut sesungguhnya membentuk suatu kesatuan yang utuh.

(2)

Definisi dari inovasi sendiri meliputi mengenai pengembangan dan implementasi sesuatu yang baru. Istilah 'baru' di sini bukan berarti produk yang masih orisinal tetapi lebih mengarah pada newness (kebaruan). Arti kebaruan ini, mengartikan bahwa inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu yang telah ada menjadi satu kombinasi yang baru. 'Kebaruan' sendiri terkait dengan dimensi ruang dan waktu (Makmur & Thahier, 2015, p. 11).

“Kebaruan” terikat dengan dimensi ruang. Artinya, suatu produk atau jasa akan dipandang sebagai sesuatu yang baru di suatu tempat tetapi bukan barang baru lagi di tempat yang lain. Namun demikian, dimensi jarak ini telah dijembatani oleh kemajuan teknologi informasi yang sangat dahsyat sehingga dimensi jarak dipersempit.

Implikasinya, ketika suatu penemuan baru diperkenalkan kepada suatu masyarakat tertentu, maka dalam waktu yang singkat, masyarakat dunia akan mengetahuinya.

Dengan demikian 'kebaruan' relatif lebih bersifat universal. 'Kebaruan' terikat dengan dimensi waktu yang artinya, kebaruan di jamannya (Makmur & Thahier, 2015, p. 11).

Istilah inovasi berorientasi pada pemikiran dan perbuatan manusia. Perubahan yang berhubungan dengan binatang, alam, angkasa, mesin, dan benda-benda lainnya tidak tepat dikatakan ungkapan inovasi, kecuali manusia yang layak diberikan julukan simbol berinovasi. Perubahan di sini terutama berhubungan dengan bentuk, warna, waktu dan sebagainya dimana proses perubahan berkembang secara alamiah.

Berdasarkan argumentasi di atas, mengungkapkan bahwa perubahan dalam kebaruan tidak selamanya diindikasikan sebagai inovasi. Sesuatu dapat dikatakan sebagai inovasi apabila pembaruan yang terjadi karena proses pemikiran atau tindakan manusia dengan menggunakan atau memanfaatkan kemampuan sehingga menemukan sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia (Makmur & Thahier, 2015, pp. 9-10).

Inovasi adalah penciptaan kombinasi antara produk,teknologi,dan teknologi organisasi baru. Definisi ini menunjukkan bahwa ada tiga elemen kunci (Boer &

During, 2001):

• Inovasi adalah sebuah proses dan harus dikelola seperti itu. Kegiatan utama dalam manajemen inovasi adalah: perumusan tujuan, merancang dan mengatur

(3)

proses, memantau kemajuan dan, jika perlu, menyesuaikan tujuan, proses dan / atau organisasinya.

• Hasilnya setidaknya ada satu elemen baru dalam kombinasi produk-teknologi- teknologi-organisasi (PMTO) perusahaan. Inovasi produk, misalnya, melibatkan pengembangan, produksi dan komersialisasi produk baru dan mungkin memerlukan pengembangan teknologi proses baru atau segmen pasar.

Inovasi teknologi, yaitu pengembangan in-house dari teknologi proses baru, atau adopsi dan implementasi teknologi yang dikembangkan di tempat lain, biasanya juga memerlukan adaptasi organisasi, namun tidak perlu dikaitkan dengan produk baru atau pengembangan pasar baru.

• Sejauh mana inovasi itu baru dapat berkisar dari inovasi langkah kecil dan bertahap, melalui inovasi sintetis, yaitu rekombinasi kreatif teknik, gagasan atau metode yang ada, inovasi inovasi kuantum yang terputus-putus, radikal.

2.1.2 Tujuan Inovasi

Menurut Makmur dan Thahier (2015, p. 26), tujuan inovasi secara umum adalah sesuatu bentuk kebutuhan yang ingin diwujudkan melalui kegiatan mengkontruksi pemikiran dengan diimplementasikan dalam tindakan nyata atau pekerjaan nyata untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan yang diinginkan. Sedangkan tujuan inovasi secara spesifik berdasarkan jenis profesi sebagai pengusaha adalah menciptakan suatu kondisi agar bidang usahanya dapat berkembang dengan baik.

Tujuan inovasi berdasarkan empat sisi pandang adalah (Makmur & Thahier, 2015, p. 28):

1. Perspektif anggaran atau finansial, yaitu terus menerus mencari sebuah inovasi untuk menemukan cara baru dimana menggunakan anggaran yang relatif kecil, tetapi mendapatkan hasil yang banyak.

2. Perspektif pelanggan, yaitu semua elemen dalam perusahaan yang terus menerus berinovasi untuk mencari pelanggan yang banyak dan memberikan layanan yang terbaik.

(4)

3. Perspektif pengelolaan bisnis internal, yaitu secara realita bahwa setiap unsur manajemen harus memiliki inovasi untuk menciptakan suasana kondusif internal perusahaan.

4. Perspektif pertumbuhan atau perluasan bidang usaha.

2.1.3 Tipe-Tipe Inovasi

Menurut Manual OECD Oslo (2005), terdapat empat jenis inovasi yaitu inovasi produk, inovasi proses, inovasi pemasaran dan inovasi organisasi (dalam Gunday, Guhan et al).

• Inovasi produk: pengenalan layanan yang baik yang baru atau meningkat secara signifikan sehubungan dengan karakteristik atau penggunaan yang digarisbawahi, termasuk peningkatan yang signifikan dalam spesifikasi teknis, komponen dan material, perangkat lunak incoporated, keramahan pengguna atau karakteristik fuctional lainnya.

• Inovasi proses: penerapan metode produksi atau pengiriman yang baru atau lebih baik.

• Inovasi pemasaran: penerapan metode pemasaran baru yang melibatkan perubahan signifikan dalam desain produk atau pengemasan, penempatan produk, promosi produk, atau penetapan harga.

• Inovasi organisasi: penerapan metode organisasi baru dalam praktik bisnis perusahaan, organisasi kerja atau hubungan eksternal

2.1.4 Prinsip Inovasi

Menurut Kuratko dan Hodgetts (2007), inovasi memiliki beberapa prinsip, yaitu:

• Be action oriented

Inovator harus selalu aktif menciptakan ide-ide baru, peluang, atau sumber inovasi.

• Membuat produk, proses, atau jasa yang sederhana dan mudah dipahami orang dengan cepat memahami bagaimana inovasi bekerja.

• Memulai dari yang kecil

(5)

Inovator harus memulai dari yang kecil, kemudian memiliki ide untuk membangun, mengembangkan, dan memungkinkan untuk bertumbuh pada perencanaan dan ekspansi yang tepat dengan cara yang benar pada waktu yang tepat.

• Tujuan yang tinggi

Inovator harus memiliki tujuan yang tinggi untuk mencapai kesuksesan dan mencari kedudukan yang sesuai di pasar.

• Try/test/revise

Inovator harus mengikuti aturan yaitu mencoba, menguji, dan merevisi. Ini sangat membantu pekerjaan apapun kelemahan dalam produk, proses, atau jasa.

• Belajar dari kesalahan

Inovasi tidak dapat menjamin kesuksesan. Bahkan dari kegagalan dapat menciptakan inovasi.

2.1.5 Macam-Macam Inovasi

Menurut Stamm (2008, p. 6), terdapat tiga model inovasi, yang pertama adalah melakukan modifikasi sederhana pada produk dan tidak menghilangkan sifat aslinya, kedua melakukan pembuatan produk yang baru dengan memiliki keunikan dan berbeda dengan produk sebelumnya, dan juga memiliki sifat yang baru, dan yang terakhir memiliki kreativitas dalam menciptakan produk yang baru atau memodifikasi produk yang sudah ada sebelumnya serta membuat dan mengubah bentuk atau desain agar dapat mencapai keunggulan yang kompetitif .

Menurut Abernathy dan Clark (1985) dan Tidd (1993) dalam Stamm (2008,p.

8) terdapat empat macam inovasi, yaitu:

• Market Niche Innovation

Inovasi tersebut memiliki untuk membuka peluang pasar yang baru melalui teknologi yang berdampak pada sistem produksi dan teknis, serta menjaga dan memperkuat desain yang ditetapkan.

(6)

• Regular Innovation

Inovasi tersebut melibatkan perubahan berdasarkan pada kemampuan teknis dan produksi yang diberlakukan pada pasar dan pelanggan yang ada. Dampak dari perubahan ini untuk menjaga keterampilan dan sumber daya yang ada.

• Revolutionary Innovation

Inovasi tersebut mengganggu dan membuat pendirian teknis dan kemampuan produksi menjadi using.

2.2 Produk

2.2.1 Pengertian produk

Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, atau dikonsumsikan sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar yang termasuk produk adalah benda nyata yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan. Karena produk adalah benda nyata, maka jenisnya cukup banyak (M.Tohar, 2000).

Penyelidikan ini menyimpulkan bahwa faktor-faktor berikut penting bagi kesuksesan produk baru (Cooper & Kleinschmidt, 1986) :

• Keuntungan diferensial produk: produk unggulan dan unik di mata pelanggan;

rasio kinerja terhadap biaya tinggi; dan keuntungan ekonomi (cost-benefit) kepada pelanggan.

• Pemahaman akan kebutuhan, keinginan, dan preferensi pengguna, dan orientasi pasar yang kuat, dengan input input berperan penting dalam membentuk konsep dan desain produk.

• Upaya peluncuran yang kuat: penjualan, promosi, dan distribusi.

• Kekuatan dan sinergi teknologi: kecocokan teknologi dan sumber daya perusahaan.

• Sinergi pemasaran: kesesuaian antara kebutuhan pasar, tenaga penjualan, dan distribusi produk dan sumber daya pemasaran dan ketrampilan perusahaan.

(7)

• Pasar yang menarik untuk produk baru: pasar dengan pertumbuhan tinggi, pasar yang besar, dan pasar dengan potensi jangka panjang yang tinggi; pasar dengan persaingan yang lemah dan persaingan yang tidak kompetitif.

• Dukungan dan komitmen manajemen puncak.

2.2.2 Jenis produk

Menurut Tohar (2000), jenis-jenis produk dapat di kategorikan menjadi dua jenis, yaitu produk konsumsi dan produk industri. Produk konsumsi adalah barang yang dipergunakan oleh konsumen dengan maksud tidak untuk dibisniskan atau dijual lagi melainkan untuk digunakan atau dikonsumsi. Barang-barang yang termasuk jenis produk konsumsi ini antara lain sebagai berikut:

Barang kebutuhan sehari-hari (convenience goods), yaitu barang yang umumnya sering kali dibeli, segera dan memerlukan usaha yang sangat kecil untuk memilikinya, misalnya barang kelontong, baterai, dan sebagainya.

Barang belanja (shopping goods), yaitu barang yang dalam proses pembelian dibeli oleh konsumen dengan cara membandingkan berdasarkan kesesuaian mutu, harga, dan model, misalnya pakaian, sepatu, sabun, dan lain sebagainya.

Barang khusus (speaciality goods), yaitu barang yang memiliki ciri-ciri unik atau merek kas dimana kelompok konsumen berusaha untuk memiliki atau membelinya, misalnya mobil, kamera, dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Tohar (2000), produk industri adalah barang yang akan menjadi begitu luas dipergunakan dalam program pengembangan pemasaran. Barang industri juga dapat dirinci lebih lanjut jenisnya antara lain sebagai berikut:

a) Bahan mentah, yaitu barang yang akan menjadi bahan baku secara fisik untuk memproduksi produk lain, seperti hasil hutan, gandum, dan lain sebagainya.

b) Bahan baku dan suku cadang pabrik, yaitu barang industri yang digunakan untuk suku cadang yang aktual bagi produk lain, misalnya mesin, pasir, dan lain sebagainya.

c) Perbekalan operasional, yaitu barang kebutuhan sehari-hari bagi sektor industri, misalnya alat-alat kantor, dan lain-lain.

(8)

2.2.3 Tingkatan Produk

Berdasarkan tingkatannya, produk dapat dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu:

Manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Bentuk dasar dari suatu produk yang dapat dirasakan oleh panca indera.

Serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-kondisi yang diharapkan oleh pembeli pada saat membeli suatu produk.

Sesuatu yang membedakan antara produk yang ditawarkan oleh badan usaha dengan produk yang ditawarkan oleh pesaing.

Semua argumentasi dan perubahan bentuk yang dialami oleh suatu produk dimasa datang.

Dalam merencanakan penawaran suatu produk, pemasar perlu memahami lima tingkatan produk, yaitu (Tjiptono, 2004):

Produk utama atau inti (core benefit), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan akan dikonsumsi pelanggan setiap produk.

Produk generik, produk dasar yang memenuhi fungsi produk paling dasar/rancangan produk minimal dapat berfungsi.

Produk harapan (expected product) yaitu produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal diharapkan dan disepakati untuk dibeli.

Produk pelengkap (equipmented product) yaitu berbagai atribut produk yang dilengkapi/ditambahi berbagai manfaat dan layanan sehingga dapat menentukan tambahan kepuasan dan dapat dibedakan dengan produk asing.

Produk potensial yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk di masa yang akan datang

2.2.4 Atribut Produk

Menurut Kotler dan Amstrong (2018, p. 250), unsur-unsur atribut produk yang cukup penting yaitu:

Merek

Kemasan

Pemberian label

(9)

Layanan

Jaminan

Kemudian menurut Ribhan (2006), unsur-unsur atribut produk meliputi aspek produk dan non-produk dari suatu produk yang ditawarkan. Aspek produk meliputi variasi produk, kualitas, nama merek, logo, warna, slogan, simbol, kemasan, dan desain produk itu sendiri. Aspek non produk meliputi fitur dan layanan yang ditawarkan (dalam Wahyono, 2013).

a) Variasi Produk

Variasi produk yang dimaksud tidak hanya menyangkut jenis produk dan lini produk tetapi juga menyangkut kualitas, desain, bentuk, merek, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan dan pengembalian yang harus diperhatikan oleh perusahaan secara seksama terhadap keanekaragaman (variasi) produk yang dihasilkan secara keseluruhan.

b) Kualitas Produk

Kualitas produk adalah mutu yang dimiliki oleh sebuah produk guna memberikan kepuasan kepada konsumen dalam memenuhi kebutuhannya

c) Nama Merek

Nama merek adalah suatu label produk dari penjual yang membedakannya dari produk lainnya atau produk pesaing.

d) Warna Produk

Warna adalah salah satu elemen yang memiliki daya tarik visual tinggi dan yang mampu meningkatkan kemungkinan produk tersebut dipilih oleh konsumen.

Warna produk membantu mengurangi hambatan penjualan dan ini merupakan faktor vital dalam menciptakan desain grafis yang menjual.

e) Slogan Produk

Pernyataan atau susunan kata tertentu yang menjelaskan singkat suatu produk atau jasa layanan yang diulang-ulang sehingga mudah diingat publik.

f) Simbol produk

Simbol produk adalah sebuah icon yang mewakili sekumpulan nilai yang melekat pada produk yang dihasilkan.

(10)

g) Kemasan

Kemasan dapat didefinisikan sebagai seluruh kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus atau kemasan suatu produk.

h) Desain Produk

Desain adalah totalitas dari keistimewaan yang dimiliki dari segi penampilan dan fungsi suatu produk dalam hal kebutuhan langganan.

i) Fitur

Fitur adalah suatu kelebihan yang dimiliki oleh sebuah produk yang menjadi alat persaingan untuk membedakan produk perusahaan terhadap produk sejenis yang menjadi pesaingnya.

j) Layanan

Layanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan kepada pelanggan yang telah membeli produknya baik ketika konsumen masih melihat-lihat, ketika proses pembelian, dan setelah proses pembelian yang berupa layanan garansi atau perbaikan.

2.3 Inovasi Produk

2.3.1 Pengertian Inovasi Produk

Istilah inovasi memiliki pengertian yang berbeda-beda bagi beberapa ahli.

Menurut Thompson, inovasi produk adalah konsep yang luas, mencakup ide-ide dan pelaksanaan/implementasi ide terhadap suatu produk baru (Indriani & Prasetyowati, 2008). Menurut Amabile, et al (1973) , inovasi produk sebagai implementasi sukses dari sebuah ide kreatif mengenai produk baru dalam sebuah perusahaan (dalam Indriani

& Prasetyowati, 2008). Menurut Johne (1999), inovasi produk terkait dengan pengembangan desain produk, tambahan fitur, segala atribut produk sehingga menghasilkan produk yang unik dan berbeda dengan produk pesaing lain yang telah ada (dalam Nursiah & Radhi, 2009).

Menurut Trott (2008), inovasi produk adalah produk baru atau perbaikan dari produk yang telah ada baik di pasar atau yang dihasilkan perusahaan sendiri

(11)

dibandingkan sebelumnya, perbaikan untuk mengganti produk lama, dan penurunan biaya produksi.

Inovasi produk sendiri dibagi menjadi dua macam atau jenis berdasarkan kecepatan perubahannya, menurut Sya'roni dan Sudirham (2012) yaitu:

• Inovasi radikal

merupakan inovasi yang dilakukan secara besar-besaran terhadap perubahan suatu produk, yang biasanya dilakukan oleh para ahli dalam bidangnya dan dikelola oleh departemen penelitian dan pengembangan;

• Inovasi Inkremental

merupakan inovasi dengan cara melakukan perbaikan dalam skala kecil terhadap perubahan suatu produk.

2.3.2 Bentuk-bentuk inovasi produk

Menurut Lukas dan Ferrel (2000), inovasi produk dibedakan menjadi tiga kategori dasar, yaitu :

• Product line extensions

Produk yang relatif baru di pasar namun tidak baru bagi perusahaan.

• Me to products

Produk yang relatif baru bagi perusahaan namun relatif sudah dikenal di pasar.

• New to the world product.

Produk baru baik bagi perusahaan maupun bagi pasar.

2.3.3 Tingkatan Inovasi Produk

Menurut Heany (1983) penting bagi pengusaha untuk melihat inovasi produk sebagai sebuah spektrum terdapat lima tipe inovasi produk yang dapat dijabarkan sebagai berikut (dalam Wilemon &, Millson, 2006) :

• Style change

Tipe inovasi produk yang paling sederhana karena perubahan dilakukan pada fitur estetika sebuah produk.

• Product-line Extension

(12)

Tipe inovasi yang tidak membutuhkan modifikasi serius dalam perilaku dalam produknya karena tujuannya adalah untuk terus memenuhi kebutuhan konsumen yang saat ini telah disegmentasi dengan mengeluarkan produk baru dalam kategori produk yang sama seperti melakukan penambahan variasi rasa atau penambahan ukuran kemasan.

• Product Improvement

Tipe inovasi yang mengubah beberapa karakteristik dari produk pada pasar yang saat ini sedang dilayani.

• Start-up Business

Tipe inovasi yang terdiri dari produk baru untuk pasar yang sudah berkembang, jadi konsumen yang dilayani sudah menggunakan produk dengan fungsi yang sama dengan produk tawaran perusahaan.

• Major Innovation

Tipe inovasi yang menawarkan produk baru dengan ukuran serta pertumbuhan pangsa pasar yang tidak dapat dihitung Karena sebenarnya mereka belum ada.

2.3.4 Proses Inovasi Produk

Menurut Kuczmarski (1992), proses inovasi produk memiliki tahap-tahap berikut:

a) Tahap pemunculan ide

Proses pengembangan produk baru dimulai dengan pencarian ide atau gagasan yang berasal dari sejumlah sumber.

b) Tahap Penyaringan

Ditunjukkan untuk mengeliminasi atau mengevaluasi konsep baru.

c) Analisa Bisnis

Analisa bisnis memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran sekomprehensif mungkin tentang dampak dari finansial yang dapat diambil melalui memperkenalkan produk yang baru.

d) Tahap Pengembangan

Beberapa ide yang muncul harus diubah menjadi sesempurna mungkin dengan konsep yang diuji terlebih dahulu oleh perusahaan.

(13)

e) Tahap pengujian

Tahap ini memberikan penilaian lebih terperinci terhadap peluang sukses produk baru, mengidentifikasikan penyesuaian akhir yang suatu produk butuh kan dan menetapkan elemen penting program pemasaran yang digunakan untuk memperkenalkan produk baru .

f) Tahap Komersialisasi

Tahapan ini memiliki sangkut paut dengan perencanaan dan pelaksanaan strategi peluncuran produk baru, yaitu memiliki beberapa komponen: waktu yang tepat untuk meluncurkan produk baru, pemberian merek pada produk baru, koordinasi dengan program pemasaran yang mendukung introduksi produk baru.

(14)

2.4 Kerangka Penelitian

Penelitian ini dibuat menggunakan jenis penelitian analisa deskriptif kualitatif mengenai Analisa Deskriptif Inovasi Produk Ice cream Pada La Ricchi Ice Cream Surabaya. Pertama akan menjelaskan tentang tahapan pengembangan produk kemudian membahas tentang pengimplemtasiannya ke dalam produk.

Gambar 2.3 Kerangka penelitian La Ricchi Ice cream Sumber: Kuczmarski (1992); Ribhan (2006)

Impelementasi

La Ricchi ice cream

Inovasi produk:

A. Pemunculan ide D. Tahap pengembangan B. Penyaringan ide E. Tahap pengujian C. Analisa bisnis F. Tahap komersialisasi

Atribut produk

Variasi produk Design produk Kualitas Kemasan

Merek Layanan

Fitur Simbol produk Warna Slogan produk

Gambar

Gambar 2.3 Kerangka penelitian La Ricchi Ice cream  Sumber: Kuczmarski (1992); Ribhan (2006)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Veronika Whardana (2009, p. 3), “display merupakan fasilitas untuk memamerkan sebuah produk atau tampilan yang dipamerkan dalam toko untuk membuat suatu ruangan

Sengketa pajak dapat berupa sengketa pajak formal maupun sengketa pajak material, yang dimaksud dengan sengketa pajak formal yaitu sengketa yang timbul apabila Wajib Pajak

Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang

Suatu proyek konstruksi yang berskala besar dituntut adanya manajemen yang baik agar menghasilkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, di mana proyek merupakan suatu

2.6.1 Metode Persentase Penyelesaian (Percentage-of-Completion Method) Berdasarkan sifat usahanya, pengakuan pendapatan pada usaha jasa konstruksi dilakukan

Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan bahwa value relevance informasi akuntansi yang tinggi dapat diindikasikan dengan adanya hubungan yang erat antara EPS dan BVPS

untuk kayu masif dan 16% untuk produk-produk kayu yang dilem; serta batas bawah kadar air setimbang tahunan rerata adalah 6%. b) Nilai tahanan acuan berlaku untuk kondisi

Sejalan dengan itu, maka struktur dari Corporate Governance menjelaskan distribusi hak-hak dan tanggung jawab dari masing - masing pihak yang terlibat dalam sebuah bisnis, yaitu