• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 17 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 17 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

17

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Kepuasan Komunikasi Organisasi 2.1.1. Pengertian Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi menurut Zalabak-Shockley (2006) adalah

“Organizational communication is a process through which organizations are created and in turn create shape events. The process can be understood as a combination of process, people, message, meaning, and purpose”. Hal ini berarti komunikasi organisasi dimaknai sebagai sebuah proses penting didalam sebuah organisasi, karena merupakan kombinasi diantara orang dalam organisasi tersebut, pesan, arti serta tujuan.

Komunikasi organisasi berhubungan dengan kompetensi individu, field of experience, konteks komunikatif dan efek atau hasil dari sebuah interaksi.

Komunikasi organisasi merupakan komunikasi yang lebih dari sekedar interaksi sehari-hari individu dengan perusahaan (Zalabak-Shockley, 2009). Zalabak- Shockley dalam bukunya yang berjudul Fundamentals of Organizational Communication : Knowledge, Sensitivity, Skills, Values. 7th Edition mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai interaksi yang kompleks antara proses, orang, pesan, makna dan tujuan.

Organizational communication as process. Komunkasi organisasi merupakan proses yang terus berjalan tanpa awal dan akhir yang jelas. Proses tersebut mengandung pola interaksi yang mencakup seluruh anggota organisasi baik internal maupun eksternal dan bagaimana interaksi ini dapat membentuk organisasi. Proses yang terus berkelanjutan dalam pembuatan dan penyampaian pesan dalam organisasi merefleksikan hasil dari pertukaran pesan yang ada sebelumnya dengan pesan yang baru. Proses ini juga termasuk pembuatan strategi, planning, pembuatan keputusan dan penjabaran kinerja dalam organisasi. Proses ini juga tetap berjalan dalam krisis yang tidak terduga, perubahan di lingkungan eksternal organisasi dan interaksi dengan kompetitor. Proses juga terjadi antara performa kerja individu sehari-hari dan termasuk pesan yang tersebar luas kepada

(2)

18

Universitas Kristen Petra

karyawan, customer dan stakeholders. Semua interaksi tersebut bertujuan untuk menciptakan dan membentuk organisasi (Zalabak-Shockley, 2009).

Organizational communication as people. Setiap orang yang masuk ke dalam perusahaan memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat berpengaruh terhadap bagaimana sebuah pesan dipahami. Komunikasi organisasi berperan dalam membentuk hubungan antara individu dengan organisasi dalam pencapaian beragam tujuan. Komunikasi organisasi juga terjalin antara orang-orang yang berbeda secara geografis, orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang berbeda dan yang memiliki perbedaan perspektif budaya (Zalabak-Shockley, 2009).

Organizational communication as messages. Komunikasi organisasi adalah penciptaan dan pertukaran pesan. Sebuah proses transmisi perilaku verbal dan non-verbal dan pembagian informasi mengenai perusahaan. Komunikator dalam komunikasi organisasi saling terhubung, dan pesan yang terpengaruh dari frekuensi penyampaian pesan, jumlah pesan dan tipe dari pesan tersebut. Pesan dalam komunikasi organisasi adalah penyampaian pesan yang termediasi yaitu menggunakan teknologi untuk pertukaran pesan, menjangkau letak geografis yang jauh, waktu yang berbeda dan menyatukan partisipan dalam proses komunikasi (Zalabak-Shockley, 2009).

Organizational communication as meaning. Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terus berlanjut sehingga menyatukan individu-individu yang ada didalamnya dalam sebuah interaksi sosial. Komunikasi organisasi tidak menyebabkan sebuah set of meanings terhadap anggota organisasi namun interaksi yang terjadi dalam komunikasi organisasi sering membentuk beberapa persepsi yang berbeda, sehingga menyebabkan adanya pemaknaan secara umum (Zalabak-Shockley, 2009).

Organizational communication as purpose. Komunikasi organisasi adalah pengorganisasian, pembuatan keputusan, merancang, mengkontrol dan mengkoordinasi. Komunikasi organisasi kerap berusaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam lingkungan. Ketidakpastian tersebut berhubungan dengan orang, pesan dan makna. Sehingga tujuan dari komunikasi organisasi adalah

(3)

19

Universitas Kristen Petra

mengurangi ketidakpastian dengan orang, pesan dan makna selaku lingkungan dari organisasi tersebut (Zalabak-Shockley, 2009).

2.1.2. Pendekatan Komunikasi Organisasi

Studi Komunikasi Organisasi dalam Miller (2009) dapat dikaji melalui 6 pendekatan, antara lain :

a. Pendekatan Klasik adalah sebuah pendekatan yang memetaforakan fungsi sebuah organisasi layaknya sebuah mesin yang memiliki banyak komponen. Komponen yang dimaksud dalam suatu organisasi adalah karyawan dari divisi-divisi tertentu yang diharuskan memiliki spesialisasi dan standarisasi masing-masing.

b. Pendekatan Human Relations adalah hal-hal yang berkaitan untuk memotivasi orang-orang dalam organisasi dengan tujuan mengembangkan kerjasama tim yang efektif untuk memenuhi kebutuhan mereka serta mengarahkan mereka pada pencapaian tujuan organisasi.

c. Pendekatan Human Resource adalah pendekatan yang mengakui bahwa individu-individu dalam organisasi memiliki ide-ide ataupun masukan yang harus dipertimbangkan. Selain itu pendekatan ini mengakui bahwa individu tenaga kerja adalah unsur penting untuk memenuhi tujuan organisasi. Jadi, di dalam pendekatan ini ada penekanan pada kontribusi karyawan melalui pikiran dan ide-ide mereka.

d. Pendekatan Sistem adalah sebuah organisasi mungkin merupakan bagian paling penting menjalankan organisasi itu. Katz dan Hkakan dalam buku The Social Psychology of Organization mengatakan bahwa organisasi seharusnya memiliki konsep sebagai sistem yang terbuka, dimana sistem ini membutuhkan interaksi antar komponennya dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya untuk dapat bertahan hidup.

e. Pendekatan Kultur adalah pendekatan yang mempertimbangkan budaya eksternal organisasi untuk dapat dilakukan penyesuaian terhadap budaya dari organisasi itu sendiri.

(4)

20

Universitas Kristen Petra

f. Pendekatan Kritikal adalah pendekatan yang cenderung mengkaji perilaku masyarakat sebagai satu aturan sosial oleh kuasa maupun penindasan terhadap masyarakat. Pendekatan ini menganggap organisasi sebagai sebuah medan dominasi antara pihak yang berkuasa dengan pihak yang diperintah.

Dalam penelitian ini, peneliti menjelaskan lebih lanjut mengenai pendekatan human resources karena kepuasan komunikasi organisasi terdapat dalam pendekatan ini. Perbandingan antara human resources dengan beberapa pendekatan lain dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2.1. Pendekatan Komunikasi Organisasi

Classic approach

Human Relations Approach

Human Resources Approach Communication

Content Task

Task and social

Task, social, and

inovation Communication

Direction

Vertical (downward)

Vertical and horizontal

All

directions, team based Communication

Channel

Usually Written

Often face to

face All channels Communication

style Formal Informal Both

Sumber: Miller, 2009.

Human resources menyadari bahwa setiap individu dalam suatu organisasi memiliki pemikiran yang harus dipertimbangkan sebagai komponen penting untuk mencapai goal organisasi. Teori ini melihat kontribusi karyawan secara kognitif yang dilakukan dengan pemikiran dan ide karyawan. (Miller, 2009).

Prinsip dari pendekatan human resources adalah dengan memiliki pemikiran yang baik terhadap karyawan, memperlakukan karyawan dengan pekerjaan yang penuh dengan tantangan, dan memenuhi kebutuhan mereka dalam pengembangan diri serta aktualisasi diri, organisasi dapat menciptakan sebuah iklim dimana karyawan merasakan kepuasan dan produktivitas akan meningkat.

(Miller, 2009).

(5)

21

Universitas Kristen Petra

Perbedaan pandangan yang cukup jelas dari model pendekatan human relations dengan human resources adalah menurut pendekatan human relations kepuasan karyawan menyebabkan produktivitas yang meningkat. Sedangkan beberapa penelitian dalam pendekatan human relations menyangkal hal tersebut.

Karyawan yang puas belum tentu menjadi karyawan yang produktif karena hal- hal lain yang mempengaruhi yaitu adanya motivasi untuk bekerja keras seperti penghargaan finansial atau hukuman (Brief,1998; Cote, 1999 dalam Miller, 2009)

2.1.3. Kepuasan Komunikasi Organisasi

Terdapat beberapa definisi kepuasan komunikasi organisasi adalah sebagai berikut:

Menurut Down dan Hazen (1977), kepuasan komunikasi adalah keadaan emosional yang menyenangkan bagi karyawan dalam memandang komunikasi perusahaan untuk meningkatkan kemampuan kerja mereka. Sedangkan kepuasan komunikasi organisasi menurut Pace dan Faules (2006) adalah reaksi afektif individu atas hasil-hasil yang diinginkan yang berasal dari komunikasi yang terjadi dalam organisasi. Sementara menurut Redding dalam Masmuh (2010) yang dimaksud kepuasan komunikasi organisasi adalah semua tingkat kepuasan seorang karyawan mempersepsi lingkungan komunikasi secara keseluruhan.

Dapat disimpulkan bahwa kepuasan komunikasi organisasi merupakan tingkatan kepuasan anggota-anggota organisasi mengenai lingkungan komunikasi organisasi secara keseluruhan yang mampu meningkatkan kemampuan kinerja mereka. Kepuasan dalam komunikasi berarti individu nyaman dalam keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi karyawan yang memunculkan reaksi afektif individu atas hasil komunikasi yang terjadi dalam organisasi.

2.1.4. Dimensi Kepuasan Komunikasi Organisasi

Dimensi kepuasan komunikasi ini digunakan peneliti sebagai acuan dalam penyusunan kuesioner dan menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana

(6)

22

Universitas Kristen Petra

pengaruh kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan di Eden Hotel Kuta Bali.

Menurut Downs dan Hazen (1977) dan Downs (1990) dalam Varona (1996) , terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan komunikasi:

1. Perspektif Organisasi (Organizational Perspective)

Faktor ini berkaitan dengan berbagai informasi mengenai organisasi sebagai suatu kesatuan. Perspektif organisasi mencakup pemberitahuan mengenai perubahan, informasi mengenai keuangan organisasi, informasi mengenai keseluruhan peraturan dan tujuan dari organisasi.

2. Umpan Balik Personal (Personal Fedback)

Faktor ini menyatakan bahwa karyawan memiliki hak untuk mengetahui bagaimana sistem penilaian kinerja mereka dan bagaimana kinerja mereka diapresiasi oleh organisasi.

3. Integrasi Organisasi (Organizational Integration)

Karyawan mendapatkan informasi mengenai lingkungan yang berlangsung disekitarnya. Hal ini mencakup derajat kepuasan karyawan terhadap informasi rencana departemen, ketentuan dalam pekerjaan mereka dan beberapa informasi personal.

4. Komunikasi Atasan (Supervisory Communication)

Komunikasi atasan menyangkut aspek komunikasi baik keatas maupun kebawah dengan atasan. Hal-hal yang dianggap penting dalam komunikasi atasan adalah seberapa besar kesediaan atasan untuk terbuka menerima masukan-masukan dari bawahan, bagaimana atasan mendengar dan memberikan perhatian terhadap saran dan keluhan bawahannya, dan bagaimana atasan menawarkan bantuan kepada bawahannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

(7)

23

Universitas Kristen Petra

5. Iklim Komunikasi (Communication Climate)

Iklim komunikasi menggambarkan komunikasi di dua sisi yaitu organisasi dan personal. Di satu sisi, iklim komunikasi termasuk sejauh mana komunikasi dalam organisasi memotivasi dan menstimulasi karyawan untuk bekerja sesuai dengan tujuan organisasi dan sejauh mana iklim komunikasi dapat membuat mereka memahami organisasi itu sendiri.

Iklim organisasi mencakup apakah komunikasi yang terjalin dalam organisasi merupakan komunikasi yang sehat.

6. Komunikasi Horisontal (Horizontal Communication)

Faktor ini mencakup sejauh mana komunikasi yang terjadi antara rekan kerja selevel atau komunikasi informal terjadi secara akurat dan bebas.

Komunikasi horisontal juga mencakup kepuasan terhadap keaktifan dari desas-desus yang ada.

7. Kualitas Media (Media Quality)

Kualitas media berbicara mengenai sejauh mana pertemuan atau meeting dilaksanakan dengan baik, petunjuk tertulis dibuat dengan jelas dan singkat, dan komunikasi yang terjadi memiliki jumlah yang tepat.

8. Komunikasi Bawahan (Subordinate Communication)

Komunikasi bawahan menyangkut aspek komunikasi baik ke atas maupun kebawah dengan bawahan. Dalam hal tersebut hanya atasan yang mempunyai keleluasaan untuk merespon komunikasi bawahan dan sejauh mana bawahan memulai komunikasi keatas.

9. Komunikasi Manajemen Puncak (Top Management Communication) Komunikasi manajemen puncak mengevaluasi komunikasi antara manajemen puncak dengan anggota organisasi. Faktor ini termasuk dalam sikap manajemen puncak terhadap keterbukaan ide-ide baru, kepedulian dan kemauan untuk mendengarkan.

(8)

24

Universitas Kristen Petra

10. Komunikasi Antar Departemen (Interdepartmental Communication) Komunikasi antar departemen berkaitan dengan komunikasi yang dibutuhkan antara departemen satu dengan yag lain dalam organisasi untuk terciptanya efisiensi dalam pekerjaan. Komunikasi antar departemen mencakup pemecahan masalah, kerja sama dan komunikasi antar manager.

(Downs & Hazen, 1977 dan Downs 1990 dalam Varona, 1996)

2.2. Loyalitas

Menurut Allen dan Geyskens dalam Omar, Jussoff & Hussin (2010), loyalitas karyawan dapat dimengerti sebagai sebuah komitmen yang afektif.

Komitmen afektif berarti kemauan karyawan untuk melanjutkan sebuah hubungan dengan organisasi karena adanya kenyamanan dari hubungan tersebut demi kebaikan dirinya sendiri, terpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan upah atau bayaran dan karena karyawan merasakan sendiri nilai kesetiaan dan menjadi bagian dari sebuah organisasi.

Mehta (2010) mengatakan dalam jurnalnya bahwa loyalitas memiliki dua dimensi yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal adalah komponen emosional yang terdiri dari perasaan peduli, kasih sayang dan komitmen. Dimensi eksternal adalah bagaimana loyalitas itu dimunculkan secara nyata. Dimensi eksternal berkaitan dengan perilaku yang menunjukkan komponen emosional (dimensi internal) dan merupakan bagian yang paling merubah tingkat loyalitas.

Terdapat beberapa variabel operasional dari loyalitas karyawan menurut Omar, Jussoff & Hussin (2010) dalam jurnalnya “Employee Motivation and its Impact on Employee Loyalty”.

a. Reward and Compensations

Variabel ini adalah variabel terpenting mengapa karyawan memiliki loyalitas terhadap organisasi. Para peneliti mengatakan bahwa uang dapat menjadi motivator yang bagus karena uang adalah bagian dari kebutuhan manusia. Bagi orang yang berasal dari ekonomi rendah

(9)

25

Universitas Kristen Petra

menggambarkan adanya peningkatan kebahagian saat penghasilannya meningkat (Diener, R. Dalam Omar, 2010).

b. Working Environment and Peer Coopereation

Tempat bekerja (workplace) merupakan tempat dimana orang datang setiap harinya untuk hidup didalamnya, melakukan pekerjaan dan hidup sesuai dengan peraturan dari organisasi (Goodlad S. Dan B. Hirst dalam Omar, Jussoff & Hussin, 2010). Lingkungan kerja adalah kesatuan dari orang-orang yang memiliki perbedaan kepribadian, kesukaan dan lifestyles yang berkumpul menjadi satu untuk satu tujuan.

Pekerja yang bahagia membentuk lingkungan kerja yang kondusif, efisien dan nyaman. Orang yang nyaman dalam bekerja akan lebih membentuk lingkungan kerja yang positif. Perusahaan atau organisasi juga harus dapat menghindari adanya konflik (Omar, Jussoff & Hussin, 2010).

c. Position and Titles

Posisi atau jabatan yang dimiliki oleh karyawan mendeskripsikan tugas yang harus mereka laksanakan dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Beberapa pandangan menyatakan bahwa posisi atau jabatan yang dimiliki karyawan akan memotivasi mereka untuk melaksanakan tugas yang diberikan (Pankaj A. Dalam Omar, Jussoff & Hussin, 2010).

Karyawan berpindah kerja ke perusahaan lain yang memberikan penawaran lebih besar dan memberikan posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Terdapat beberapa orang yang beranggapan bahwa posisi atau jabatan merepresentasikan pendapatan yang tinggi dan respect dalam organisasi.

d. Employee Benefits

Employee benefits termasuk pendapatan, biaya kompensasi, insiden dan rencana pemenuhan kebutuhan karyawan (makanan dan minuman).

(10)

26

Universitas Kristen Petra

Karyawan mengharapkan setidaknya terdapat tanggungan kesehatan, biaya pensiun dan pembayaran cuti.

Manager yang tidak memberikan benefits kepada karyawan akan sulit untuk mendapatkan karyawan yang berkualitas. Hal-hal tersebut diatas apabila diberikan oleh organsiasi akan menjaga karyawan untuk tetap memiliki loyalitas. Dalam dunia bisnis, benefit yang diberikan kepada karyawan akan berbeda dalam satu perusahaan dengan perusahaan lain (Tharp C.G. dalam Omar, Jussoff & Hussin, 2010). Perusahaan yang memberikan benefits terbaik akan lebih menarik bagi calon karyawan di pasaran.

e. Relationship with Superior/Supervisors.

Hubungan yang positif dengan manajemen puncak (top management) dapat membantu mempertahankan komitmen organisasi.

Top management mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kepercayaan karyawan (Therkelsen D.J. dan C.L. Fiebich., dan Yuki G. dalam Omar, Jussoff & Hussin, 2010). Koneksi dan komunikasi antara pemimpin dan bawahan yang dikembangkan dengan benar dapat menjadi isu yang krusial dalam manajemen organisasi.

2.3. Kepuasan Komunikasi Organisasi dan Loyalitas

Menurut Koning (2007), di dalam organisasi yang pekerjanya merasakan kepuasan komunikasi, ada peningkatan dalam performa, produktivitas, kemampuan mendatangkan keuntungan bagi organisasi, dan orientasi eksternal customer. Di sisi lain, tingkat stres pekerja, staff turnover, dan jumlah ketidakhadiran karyawan dapat turun (p.3).

Menurut Reichheld, semakin tinggi loyalitas para karyawan di suatu organisasi, maka semakin mudah bagi organisasi itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemilik organisasi (Utomo, 2002). Sedangkan sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas karyawannya rendah

(11)

27

Universitas Kristen Petra

akan lebih sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Ketidakpuasan karyawan menyebabkan adanya maksud untuk meninggalkan perusahaan tingkat turnover potensial tinggi (Lovelock, 1996).

Dalam kasus yang sama, tingkat turnover karyawan yang rendah dapat dihubungkan dengan kepuasan karyawan yang tinggi. Menurut Pambudi, di masa lalu atau masa sebelumnya, loyalitas para karyawan hanya diukur dari jangka waktu lamanya karyawan tersebut bekerja bagi sebuah organisasi. Namun saat ini, ukuran loyalitas para karyawan telah sedikit bergeser ke arah yang lebih kualitatif, yaitu yang disebut sebagai komitmen. Komitmen itu sendiri dapat diartikan sebagai seberapa besar seseorang mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi orgnanisasi selama dia bergabung di dalam organisasi tersebut (Utomo, 2002).

(12)

28

Universitas Kristen Petra

2.4. Nisbah Antar Konsep

Kepuasan komunikasi organisasi merupakan tingkatan kepuasan anggota- anggota organisasi mengenai lingkungan komunikasi organisasi secara keseluruhan yang mampu meningkatkan kemampuan kinerja mereka. Kepuasan dalam komunikasi berarti individu nyaman dalam keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi karyawan yang memunculkan reaksi afektif individu atas hasil komunikasi yang terjadi dalam organisasi.

Dengan adanya tingkat kepuasan komunikasi organisasi dari karyawan, akan mempengaruhi tingkat kenyamanan karyawan dalam suatu organisasi yang berdampak pada tingkat loyalitas individu pada suatu organisasi. Loyalitas karyawan dapat diartikan sebagai kesetiaan karyawan kepada perusahaan tempat karyawan bekerja. Apabila perusahaan memberikan fasilitas yang sesuai dengan tanggung jawab yang dijalankan, maka kesetiaan karyawan kepada perusahaan akan semakin besar dan timbul dorongan yang menyebabkan karyawan melakukan pekerjaan yang lebih baik lagi.

Pemahaman mengenai loyalitas pada masa sekarang bukan lagi sekedar fisik dari karyawan yang berada di dalam sebuah organisasi atau seberapa lama karyawan telah bekerja dalam suatu perusahaan, tetapi loyalitas telah menjadi sesuatu yang lebih mendalam yang disebut dengan komitmen. Komitmen Komitmen itu sendiri dapat diartikan sebagai seberapa besar seseorang mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi orgnanisasi selama dia bergabung di dalam organisasi tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba meneliti bagaimana pengaruh dari kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan yang diukur dari segala aspek komunikasi (ke atas, bawah atau horizontal) yang terjadi antar individu yang terjalin di Eden Hotel Kuta Bali.

(13)

29

Universitas Kristen Petra

2.5. Kerangka Pemikiran

Kepuasan Komunikasi

Kepuasan komunikasi adalah keadaan emosional yang menyenangkan bagi karyawan dalam memandang komunikasi perusahaan untuk meningkatkan kemampuan kerja mereka (Downs & Hazen, 1977).

Fenomena Penelitian

Hambatan komunikasi di Eden Hotel yaitu tidak adanya wadah penyampaian aspirasi, tidak meratanya informasi yang diterima oleh karyawan, kurangnya kepekaan karyawan terhadap hal-hal baru

Permasalahan kontrak kerja karyawan yang berbenturan dengan peraturan daerah. Peraturan daerah Badung memberlakukan sistem kontrak setelah tiga bulan kerja kepada warga lokal namun perusahaan memiliki pertimbangan lain. Sehingga muncul komplain dari karyawan lain.

Tingkat turnover karyawan yang tinggi selama periode Januari – Maret 2016. Sebelumnya di Eden Hotel tidak pernah mengalami turnover karyawan hingga lebih dari dua karyawan dalam satu bulan. Namun pada periode ini, turnover meningkat.

Loyalitas Karyawan

Menurut Allen dan Geyskens dalam Omar, Jussoff & Hussin (2010), loyalitas karyawan dapat dimengerti sebagai kemauan karyawan untuk melanjutkan sebuah hubungan dengan organisasi karena adanya kenyamanan, terpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan upah atau bayaran dan karena karyawan merasakan sendiri nilai kesetiaan dan menjadi bagian dari sebuah organisasi

1

(14)

30

Universitas Kristen Petra

Bagan 2.1. Kerangka Pemikiran Sumber : Hasil olahan peneliti

2.6. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini :

a. H0 : Tidak ada pengaruh (regresi) kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan di Eden Hotel Kuta Bali.

b. H1 : Ada pengaruh (regresi) kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan di Eden Hotel Kuta Bali.

Variabel Kepuasan Komunikasi Indikator Kepuasan Komunikasi Organisasi

1. Perspektif Organisasi 2. Umpan Balik Personal 3. Integrasi Organsiasi 4. Komunikasi Atasan 5. Iklim Komunikasi 6. Komunikasi Horisontal 7. Kualitas Media 8. Komunikasi Bawahan

9. Komunikasi Manajemen Puncak 10. Komunikasi Antar Departemen.

(Downs & Hazen, 1977, Downs, 1990 dalam Varona, 1996)

Variabel Loyalitas Karyawan Tolok ukur Loyalitas Karyawan 1. Reward and Compensations 2. Working Environment and Peer Coopereation

3. Position and Titles 4. Employee Benefits 5. Relationship with Superior/Supervisors.

(Omar, Jussoff & Hussin, 2010)

H0:

Tidak ada pengaruh kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan di Eden Hotel Kuta

Bali

H1:

Ada pengaruh kepuasan komunikasi organisasi terhadap loyalitas karyawan

di Eden Hotel Kuta Bali

1

Rumusan Masalah

Pengaruh Kepuasan Komunikasi Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan di Eden Hotel Kuta Bali

Gambar

Tabel 2.1. Pendekatan Komunikasi Organisasi

Referensi

Dokumen terkait

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali

Para konsumen yang ingin memperoleh doorprize di akhir acara, tentu akan berusaha mendapatkan kupon undian doorprize sebanyak mungkin dengan cara berbelanja sebanyak

Sebagai alternatif kedua dari tujuan promosi yang akan dilakukan oleh perusahaan adalah mempengaruhi dan membujuk pelanggan atau konsumen sasaran agar mau membeli

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa media digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran karena media memiliki kemampuan untuk memperlihatkan konsep materi

External failure cost merupakan biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen atau pengguna yang mengalami ketidaksesuaian atau kecacatan seperti biaya terhadap

Fungsi utama lainnya dari sistem informasi akuntansi dalam siklus penggajian adalah menyediakan pengendalian yang memadai agar dapat terpenuhinya tujuan-tujuan

Pada proses ini perusahaan memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

Posisi kerja yang cocok untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan area kerja sebatas jangkauan tangan, tidak membutuhkan gaya yang besar dalam bekerja dan