RPP IPS Kelas 7 Kurikulum 2013 Bab 1 Semester Ganjil

17  121 

Teks penuh

(1)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nomor : 4

Sekolah : SMP Negeri 2 Balongan

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Materi Pokok : Interaksi Sosial dan Lembaga Sosial

: 3. Proses-proses Disosiatif Kelas / Semester : VII/ Ganjil

Alokasi Waktu : 1 X pertemuan ( 2 x 40 JP )

A. KOMPETENSI INTI

KI. 1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

KI. 2 Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

KI. 3 Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KI. 4 Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai,memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B. KOMPETENSI DASAR

KD. 3.2 Menganalisis interaksi sosial dalam ruang dan pengaruhnyaterhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya dalam nilai dan norma, serta kelembagaan sosial budaya

KD. 4.2 Menyajikan hasil analisis tentang interaksi sosial dalam ruangdan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya dalam nilai dan norma, serta kelembagaan sosial budaya

C. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI ( IPK ) 3.2.4 Menjelaskan pengertian disosiatif

3.2.5 Mengidentifikasi 3 bentuk proses Disosiatif

Fokus Penguatan Karakter

(2)

D. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan, peserta didik diharapkan dapat :

1. menjelaskan pengertian proses Disosiatif

2. mengidentifikasi 3 Bentuk proses Disosiatif

E MATERI PEMBELAJARAN

1. Materi Reguler 1. Interaksi Sosial

a. Pengertian dan Syarat Interaksi Sosial b. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

2. Pengaruh Interaksi Sosial Terhadap Pembentukan Lembaga Sosial 3. Lembaga Sosial

a. Pengertian Lembaga Sosial b. Jenis dan Fungsi Lembaga Sosial

2. Materi Remedial 1) Penyampaian Materi regular dan Pemberian tes ulang dengan penyederhanaan.

2) Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, baik dipandu langsung oleh guru atau teman sebaya yang terlebih dahulu mencapai ketuntasan belajar yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran.

3. Materi Pengayaan 1) Pengayaan dilaksanakan sebagai tindak lanjut analisis hasil penilaian bagi peserta didik yang sudah tuntas

2) Pengayaan dilakukan dengan cara perserta didik diminta untuk mengidentifikasi / menganalisis sumber daya alam Indonesia

F. MATERI PEMBELAJARAN

3. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ( Proses-proses social disosiatif )

G. PENDEKATAN DAN MODEL PEMBELAJARAN

1. Pendekatan : Saintifik

2. Model Pembelajaran : Project Based Learning (PJBL)

3. Sumber Belajar : Buku Siswa IPS kelas VII, Buku IPS lain yangrelevan, internet, narasumber, lingkungan sekitar, dan sumber lain yang relevan

(3)

1. Mengomunikasik

an.

a.

Peserta didik dalam kelompok diminta

mempresentasikan hasil simpulan dari

jawaban atas pertanyaan yang telah

dirumuskan.

b.

Kelompok lain diminta memberi

tanggapan atas hasil simpulan kelompok

yang dipresentasikan.

c. Tiap kelompok membuat laporan dari hasil

diskusi

d.

Peserta didik bersama guru mengambil

simpulan atas jawaban dari pertanyaan.

20

Catatan :

Selama pembelajaran berlangsung, guru mengamati sikap peserta didik dalam pembelajaran yang meliputi sikap: disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan)

KEGIATAN PENUTUP 10 menit

Peserta Didik

Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan

hal-hal yang belum dipahami.

Guru

2.

Guru memberikan penjelasan atas pertanyaan yang

disampaikan oleh peserta didik.

PERTEMUAN 4

KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit

 Peserta didik bersama guru menyampaikan salam dan berdoa.  Peserta didik bersama guru mengondisikan kelas.

 Guru memberi motivasi kepada peserta didik.

 . Guru menanyakan tentang materi pembelajaran berkaitan dengan pengertian dan syarat interaksi sosial, misalnya : Mengapa persaingan ( khususnya di kelas VII C ) sering menimbulkan konflik!

 Peserta didik menerima informasi tentang topik dan tujuan pembelajarandari guru. Sintak Model

Pembelajaran KEGIATAN PEMBELAJARAN 60 Menit 1. Mengamati Peserta didik diminta mengamati tentang contoh gambar

berkaitan dengan proses Disosiatif yang disediakan oleh guru. Guru dapat menunjukkan gambar proses Disosiatif yang terjadi dalam masyarakat di sekitar.

(4)

F. PENILAIAN HASIL BELAJAR :

1. Teknik

penilaian

a) Kompetensi Sikap: Observasi bentuk lembar observasi b) Kompetensi Pengetahuan: Tes tertulis bentuk uraian

c) Kompetensi Keterampilan: Observasi bentuk lembar observasi

2. Instrumen

penilaian dan pedoman penskoran

a) Pertemuan Pertama (terlampir) b) Pertemuan Kedua (terlampir) c) Dan seterusnya, …

G. SUMBER BELAJAR

1. Buku IPS Kelas VII Semester 1; penerbit : kemendikbud RI tahun 2016

2. Print out Power point tentang bentuk-bentuk interaksi social ( proses social disosiatif)

3. Worksheet ( lembar bahan ajar ) ( lampiran 1 )

H. MEDIA DAN ALAT PEMBELAJARAN

Media : Peta Indonesia, Peta Dunia dan Globe Alat : Komputer/Notebook, LCD

I. PENILAIAN HASIL BELAJAR

1 Penilaian Pengetahuan ( tes tertulis/uraian )

Teknik : Penugasan Lembar Kerja Peserta DIDIK (LKPD)

Instrumen : Lembar LKPD (lampiran 3)

Kriteria : assessment for learning

( lampiran 2 )

2 Penilaian Ketrampilan ( mempersenatasikan )

Teknik : Penilaian Kinerja (lampiran 5)

Instrumen : Kisi-kisi penilaian kinerja

Rubrik : - Rubrik Penskoran Penilaian Proses (Diskusi)

- Rubrik Penskoran Penilaian Produk

( lampiran 3 )

4. Pembelajaran Pengayaan

dilkasanakan sebagai tindak lanjut analisis hasil penilaian. pengayaan dilakukan dengan cara peserta didik untuk membuat kliping sederhana yang brisi tentang gambar dan artikel tentang lembaga social.

( lampiran 6 )

4 Pembelajaran Remedial ( lampiran 7 )

Balongan , 12 April 2017

Kepala Sekolah

Guru Mata Pelajaran,

(5)

Lampiran 1

BAHAN AJAR

Kompetensi Dasar (KD):

KD 3.2

Menganalisis interaksi sosial dalam ruang dan pengaruhnya terhadap

kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya dalam nilai dan norma, serta kelembagaan sosial

budaya.

KD 4.2. Menyajikan hasil analisis tentang interaksi sosial dalam ruang dan

pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya dalam nilai dan norma,

serta kelembagaan sosial budaya.

Uraian materi:

B.

Interaksi Sosial

1 2. Disosiatif

Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :

a. Persaingan

Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.

Persaingan antar operator handphone.

Contoh : Pada gambar disamping terjadi persaingan antara dua produsen operator selular, Telkomsel

vs XL

(6)

b. Kontravensi

Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud

kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan

yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan

tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi

pertentangan atau konflik.

Kasus Ariel-Luna

Contoh : Penyebaran isu video Lunamaya-Ariel ini disebut Kontravensi intensif

c. Konflik

Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan

paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau

jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

Demo anti pornografi.

(7)

Lampiran 2

INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP

(LEMBAR OBSERVASI)

JURNAL PERKEMBANGAN SIKAP

Nama Sekolah

: SMPN 2 Balongan

Kelas/Semester : VII/ganjil

Tahun Pelajaran : 2016/2017

Guru

: Angga Febriyanto, S.Pd.

No.

Waktu

Nama

Peserta

Didik

Catatan Perilaku

Butir Sikap

Tindak

Lanjut

1.

12/07/16

A...

Menolong orang lanjut usia

untuk menyeberang jalan di

depan sekolah.

Kepedulian

Apresiasi

2.

26/08/16

B...

Berbohong ketika ditanya

alasan tidak masuk sekolah di

ruang guru.

Kejujuran

Teguran

3.

25/09/16

C...

Menyerahkan dompet yang

ditemukannya di halaman

sekolah kepada Satpam

sekolah.

Kejujuran

Apresiasi

4.

07/09/16

D...

Tidak menyerahkan surat ijin

tidak masuk dari orang

tuanya kepada guru

upacara di sekolah.

Kedisiplinan

Teguran

6.

15/12/16

F...

Mempengaruhi teman untuk

tidak masuk sekolah.

Kedisiplinan

Teguran

7.

08/12/16

G...

Memungut sampah yang

berserakan di halam

sekolah.

Kebersihan

untuk korban bencana

alam.

(8)

Lampiran 3

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

(LKPD)

KD 3.2

A.

Tujuan

Setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan, peserta didik diharapkan dapat :

1. menjelaskan pengertian proses Disosiatif

2. mengidentifikasi 3 Bentuk proses Disosiatif

B.

Sumber, Alat dan Bahan

Buku siswa kurikulum 2013 revisi 2016

Browsing di internet tanggal 12 april 2017 jam 14.21 WIB

C.

Cara Kerja

1. Bentuk kelompok 5-6 kelompok

2.

Jawablah bahan diskusi berikut bersama kelompok masing-masing!

3.

Setiap kelompok membagi kelompoknya menjadi 2 sub kelompok, subkelompok tetap

tinggal dalam kelompok untuk menerima tamu, dan subkelompok 2 sebagai kelompok

yang berkunjung ke kelompok lain.

D.

Bahan Diskusi

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang tepat!

1. Faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya tawuran antar pelajar! 2. Dampak apa saja yang di timbulkan dari tawuran antar pelajar !

3. Upaya apa saja yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dan keluarga untuk mencegah tawuran antar pelajar!

Lampiran 4

INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN

KISI-KISI PENULISAN BUTIR SOAL

Nama Sekolah

: SMPN 2 Balongan

Kelas/Semester : VII/1

Tahun Pelajaran

: 2016/2017

Mata Pelajaran : IPS

No Kompetensi Dasar

Sub Materi

Materi/

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Jumlah

Soal

1

3.2 Menganalisis

interaksi

Interaksi

1.

menjelaskan

(9)

sosial dalam

1

Faktor Penyebab Terjadinya Tawuran Pelajar di Indonesia

Faktor penyebab terjadinya tawuran pelajar – Tawuran adalah perkelahian yang melibatkan banyak anggota, tawuran bisa terjadi antar kelompok, sekolah, desa, dan etnis. Tawuran suatu kegiatan yang menyimpang.

Biasanya tawuran terjadi antar pelajar yang duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) sederajat. Tawuran menjadi gejala sosial yang menyimpang, selain itu tawuran juga berdampak negatif bukan hanya kepada pelajar akan tetapi kepada negara.

Permasalahan tawuran di kalangan pelajar biasanya disebabkan oleh konflik perorangan yang akhirnya mengajak peserta didik lainnya untuk membantunya dan bagi peserta didik yang tidak ikut dikatakan tidak setiakawan, tidak mempunyai solidaritas dan tidak mempunyai keberanian atau penakut.

Perkelahian antar pelajar ini sangat merugikan, pasalnya setelah kejadian ini ada saja fasilitas umum yang rusak bahkan tawuran juga dapat mengganggu aktivitas warga. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar, berikut penjelasan nya.

Factor keluarga:

Biasanya pelajar yang mengikuti tawuran atau menjadi provokator terjadinya perkelahian antar sekolah memiliki keluarga yang broker, di mana keharmonisan keluarga, perhatian dan kasih sayang orang tua tidak iya dapatkan dan untuk mencari perhatian dia mengikuti kegiatan di luar norma. Keharmonisan dalam keluarga sangat penting, inilah yang menjadi faktor utama dalam psikologis pemikiran anak. Peran orang tua dalam mendidik anaknya menjadi penyebab perilaku dan pola pikir anak, oleh karena itu ini

(10)

menjadi penyebab utama pada anak. Factor pergaulan:

Pada sekolah biasanya terbentuk beberapa kelompok peserta didik, di mana ada kelompok peserta didik yang rajin, yang sering menjadi juara kelas, yang menjadi perwakilan sekolah dalam berbagai ajang lomba dan ada juga sekelompok peserta didik yang salah dalam pergaulan yang sering sekali melanggar norma-norma yang ada di sekolah.

Ada juga peserta didik yang biasa-biasa saja, peserta didik ini biasanya asyik dengan kehidupan nya sendiri dan hanya bergaul sekadarnya saja, peserta didik yang satu ini biasanya tidak begitu aktif dalam sekolahnya, kelompok ini adalah peserta didik yang biasanya suka bermain game tapi tidak menutup kemungkinan termasuk ke dalam dua kelompok di atas.

Peserta didik yang sering melanggar peraturan sekolah biasanya membentuk sebuah kelompok dengan sendirinya, kelompok ini mempunyai solidaritas yang kuat pada kelompok ini jugalah yang menjadi ujung tombak terjadinya perkelahian antar pelajar.

Peserta didik laki-laki yang biasanya mempunyai gengsi jika tidak mengikuti kegiatan yang satu ini, bagi peserta didik yang tidak ikut akan dianggap bahwa dia adalah peserta didik yang lemah, penakut, dan akan menjadi bahan ejekan bagi peserta didik yang lainnya.

Gengsi yang tertanam di jiwa peserta didik laki-laki sangat besar, tawuran juga biasa dijadikan aksi unjuk gigi dan ajang kuat-kuatan, siapa saja yang berhasil menaklukkan lawan akan disegani oleh peserta didik lainnya, gengsi seperti ini harus dihilangkan.

Faktor lingkungan:

Keadaan urban dengan kondisi lingkungan di Indonesia yang di mana masyarakat nya banyak yang menengah ke bawah menjadi rentan akan kekerasan dan kejahatan. Lingkungan yang sering dirasakan oleh peserta didik di tempat tinggalnya sangat berpengaruh kepada peserta didik.

Seringnya terjadi keributan di lingkungan tempat tinggalnya membuat pola pikir anak berubah, bahwa masalah yang seharusnya bisa di selesaikan dengan kekeluargaan akan tetapi di selesaikan dengan cara kekerasan dan adu otot. Factor sekolah :

Faktor penyebab terjadinya tawuran pelajar selanjutnya adalah sekolah, sekolah jua ikut berperan dalam penyebab terjadinya tawuran antar pelajar. Sekolah dapat memberikan peraturan-peraturan dan akan memberikan sangsi tegas kepada peserta didik yang melanggar.

(11)

memberikan pendidikan yang khusus terhadap kelompok peserta didik yang sering melanggar.

Pihak sekolah juga mempunyai tanggung jawab tidak hanya pada jam sekolah, banyak peserta didik yang bolos dan melakukan kegiatan yang negatif tampan diketahui oleh pihak sekolah, kegiatan di luar sekolah lah yang menjadi cela bagi sekelompok peserta untuk melakukan tawuran.

Faktor Sejarah Sekolah

Salah satu yang menjadi faktor terjadinya tawuran antar pelajar adalah sekolah yang mereka tempati memiliki hubungan yang kurang baik dengan sekolah lain, hubungan kurang baik ini biasanya sudah berlangsung sudah lama dan dijadikan sebagai rivalitas.

Jika sudah begini terjadinya tawuran antar sekolah sangat sering terjadi dan sulit untuk di selesaikan, apa lagi jika ada perlombaan per tandingan yang mempertemukan dua sekolah yang sejak dulu memiliki hubungan buruk maka bisa terjadi tawuran.

Factor agama:

Agama menjadi faktor yang paling penting dan utama, jika diurutkan agama menjadi faktor di atas pendidikan orang tua dan keluarga. Peserta didik yang kurang dalam menjalankan ibadah dan cenderung untuk bermain dari pada mengikuti pengajian-pengajian.

Minimnya waktu pembelajaran di sekolah menjadi penyebab pengetahuan peserta didik tentang agama minim juga, sebenarnya peran orang tua dalam mengajari anaknya tentang agama juga sangat besar oleh karena itu baiknya sekolah kan di Pesantren.

Jadi jawaban dari Apa Faktor Penyebab Terjadinya Tawuran Pelajar? Pada intinya permasalahan ini hanya terinti pada pendidikan agama dan moral jika peserta didik sudah jauh dari agama dan moral akan muncul penyebab lainnya. Share artikel ini agar kita bisa mencegah terjadinya dan meminimalisir terjadinya tawuran.

2

Akibat dari tawuran yaitu luka-luka karena terkena batu yang dilempar oleh musuh atau terkena ikat pinggang salah satu musuh. Tawuran juga menimbulkan dampak berupa hukuman dari sekolah. Hukuman dari sekolah dapat memberian efek jera bagi para pelajar, seperti skorsing atau bahkan dikeluarkan dari sekolah atau Drop Out (D.O). Masuk penjara juga merupakan akibat dari tawuran. Jika tertangkap polisi dan dianggap membahayakan maka akan terkena Pasal 351 ayat 3 dengan hukuman 7 tahun penjara, Pasal 170 ayat 2 ketiga E dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, dan yang paling parah Pasal 338 dengan ancaman 15 tahun penjara. Lebih parah akibat dari tawuran yaitu kehilangan nyawa. Sudah banyak korban-korban yang kehilangan nyawa akibat mengikuti tawuran.

20

3

 Peran keluarga terutama orangtua memang sangat penting dalam meredam peningkatan kasus tawuran di kalangan remaja. Bila tidak segera

(12)

ditanggulangi, bahaya tawuran akan menghancurkan dunia

pendidikan,merugikan banyak pihak dan dapat menelan banyak korban. Semua pihak yang terkait, berkewajiban mengatasi masalah remaja yang satu ini terutama pihak sekolah, namun peran aktif orangtualah yang harus diutamakan karena di dalam keluarga, anak akan memperoleh pendidikan dasar sebagai landasan pembentuk karakter yang baik sebagai bekalnya bertumbuh dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Lalu, bagaimana caranya orangtua dapat berperan aktif terkait masalah tawuran yang terjadi pada anak remaja mereka?

 Selalu jalin komunikasi yang baik dengan anak

Komunikasi dua arah antara orangtua dan anak sangat penting. Sesibuk-sibuknya orangtua, kita harus mempunyai waktu untuk bersosialisasi, mengobrol santai, berdiskusi,memberi nasihat, menyampaikan pendapat atau sekedar mendengar seruan atau pengalaman anak yang dialaminya. Dengan begitu anak akan merasa mendapatkan perhatian. Remaja saat ini, kurang terbuka kepada orangtuanya tentang apa yang dirasakannya. Mereka lebih suka berbagi cerita dengan teman sebayanya. Mengapa itu bisa terjadi? Karena terkadang kita sebagai orangtua tidak bisa menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak kita. Saat anak mengeluarkan uneg-uneg, dengarkan dan beri masukan yang positif, dengan begitu anak tidak akan menyalurkan sikap yang anarkis.

 Orangtua bisa dijadikan panutan

Orangtua hendaknya menjadi contoh yang baik dalam keluarga. Remaja cenderung akan memberontak saat keadaan keluarga berantakan dan bermasalah. Tunjukkanlah sikap, tutur kata dan perilaku yang sepantasnya. Orangtua yang baik akan menurunkan teladan yang baik pula terhadap perkembangan anak. Dengan begitu, anak remaja kita tidak akan mudah terpengaruh untuk melakukan tawuran.

 Orangtua harus bisa menghargai orang lain atau anggota keluarga yang lain

Setiap orangtua harus bisa menunjukkan rasa saling menghormati dan menghargai di dalam keluarga dan lingkungan. Tanpa kita sadari, anak akan bersikap seperti apa yang ia lihat dan alami. Jangan bertengkar dengan pasangan kita apalagi sampai terjadi kekerasan. Itu akan berdampak buruk bagi mental anak dan kemungkinan anak akan melakukan hal yang sama kepada teman atau orang yang dianggapnya musuh.

 Bekali anak dengan pendekatan agama yang benar

(13)

tidak ikut terlibat dalam aksi tawuran yang dilakukan anak-anak lainnya.  Melakukan pengawasan

Pengawasan ketat orangtua bukan karena over protektif. Tidak ada salahnya, orangtua melakukan pengawasan atau memantau keberadaan anak saat jam pelajaran telah usai. Anda bisa memastikan anak berada dalam lingkungan yang aman.

Bertindaklah cepat, jangan sampai anak kita menjadi salah satu pelaku atau korban dari aksi tawuran remaja.

Menghindari Tawuran

Cara menghindari tawuran yaitu, tidak terpengaruh lingkungan sekitar, menolak ajakan teman yang ingin kita mengikuti tawuran; hindari senior yang suka mengajak tawuran, menghindar jika bertemu atau melihat senior yang suka mengajak tawuran; sepulang sekolah langsung pulang ke rumah, jika bel pulang sekolah sudah berbunyi, jangan terlalu sering kumpul bersama teman-teman; melakukan kegiatan positif, seperti mengikuti ekstrakurikuler.

Jumlah Skor

100

Pedoman Penskoran Tugas

Lampiran 5

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN

KISI-KISI PENILAIAN KINERJA

(14)

Kelas/ Semester : VII/ I

Tahun Pelajaran : 2016/2017

Mata Pelajaran : IPS

NO

Kompetensi Dasar

Materi

Indikator

Penilaian

Teknik

1.

Menyajikan hasil analisis

tentang interaksi sosial

dalam

ruang

dan

pengaruhnya

terhadap

kehidupan sosial, ekonomi

dan budaya dalam nilai dan

norma, serta kelembagaan

sosial budaya

pengertian interaksi

sosial

2.

menyebutkan 2

syarat interaksi sosial

3.

menyebutkan 4

faktor terjadinya

proses

interaksi

sosial

4.

menyebutkan 4

ciri-ciri interaksi sosial

5. menyebutkan 3 jenis

aturan

interaksi

sosial

Penugasan

LKPD

A. RUBRIK PENSKORAN PENILAIAN PROSES (DISKUSI)

N

o

Nama Peserta

Didik

Mengkomunik

1. Nilai terentang antara 1-4

1 = Kurang

2 = Cukup

3 = Baik

4 = Amat Baik

2. Nilai = Jumlah Nilai dibagi 3

Skor Maksimal tiap peserta didik 4 X 4 = 16

B. RUBRIK PENSKORAN PENILAIAN PRODUK

(15)

1

2

3

4

1

Aspek Perencanaan

Persiapan

Perumusan Judul

Kelengkapan bahan alat

2.

Aspek Kegiatan Kinerja

Sistematika dalam melaksanakan kegiatan

Keakuratan Informasi

Kuantitas Sumber Data

Analisis Data

.

Penarikan Kesimpulan

3

Aspek Pelaporan

Performance

Penguasaan Materi

Keterpaduan

Kelengkapan Laporan

Penggunaan Referensi

Jumlah

Skor Maksimal

Keterangan:

1. Nilai terentang antara 1-4

1 = Kurang

2 = Cukup

3 = Baik

4 = Amat Baik

2. Nilai = Jumlah Nilai dibagi 3

Skor Maksimal tiap peserta didik 13 X 4 = 52

(16)

Dari gambar diatas jawablah pertanyaan di bawah ini

4. Faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya tawuran antar pelajar! 5. Dampak apa saja yang di timbulkan dari tawuran antar pelajar !

6. Upaya apa saja yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dan keluarga untuk mencegah tawuran antar pelajar!

jawab

1. ……… ……… ……… ……… ………

2. ……… ……… ……… ……… ………

3. ……… ……… ……… ………... ... ...

Nama kelompok :

Nama Anggota :

(17)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...