1
PENJELASAN PPT
MATA KULIAH PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DI PAUD/SD
TOPIK 1: The Nature of EYL
There is a theory called the Critical Period Hypothesis, proposed in 1959 by an American neurologist. Teori ini meyakini bahwa there is a period of time in human life in which learning language can be very easy and fast. That period of time is before adolescence (before puberty).
Teori inilah yang memberikan kita landasan bahwa it's really okay, no problem at all to start introducing a foreign language kepada YLL (young language learners). Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara memperkenalkan bahasa asing, in this case English, kepada YLL?
Di slide berikutnya, kita diketengahkan dengan istilah language acquisition (LA) dan language learning (LL). Kalian secara umum sudah paham bedanya. LA adalah proses yang dilalui seseorang utk memahami bahasa ibunya (bahasa pertamanya). Ciri dari LA adalah proses tsb bersifat alami, melalui pengalaman sehari-hari, lewat bahasa lisan terlebih dulu, tanpa rasa takut/tertekan. Bayangkan saja ketika seorang ibu berbicara pada anaknya, penuh kasih sayang kan, tanpa ada tekanan. Ciri berikutnya, LA terjadi secara tanpa disadari. Maksudnya tanpa disadari adalah si anak dibombardir secara bahasa dengan bahasa tertentu oleh orang- orang di sekelilingnya, maka tanpa ia sadari ia ‘menangkap’ makna dan pola bahasa tersebut hingga akhirnya bisa menggunakan/berkomunikasi dalam bahasa tersebut padahal ia tidak pernah secara sadar belajar bahasa tersebut.
Sebaliknya LL adalah proses yang ditempuh seseorang untuk bisa menguasai bahasa lewat pembelajaran formal seperti di sekolah. Makanya cirinya adalah seperti yang ada di slide ini (lihat slide 7).
Para ahli pembelajaran bahasa meyakini bahwa kecakapan berbahasa kedua/bahasa diperoleh lewat kombinasi antara LA dan LL. Ambillah saya sebagai contoh. Bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia. Saya sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia bahkan sebelum saya masuk TK/SD. Tapi ketika di SD, saya tetap harus mengikuti matapel Bhs. Indonesia walaupun saya sudah bisa menggunakannya. Bahkan sampai jenjang universitas pun saya tetap mendapat matkul bhs. Indonesia. Lewat belajar di bangku sekolah inilah saya menjadi tau tentang tata bahasa, kosa kata, ejaan, tanda baca, cara membuat tulisan, dll. yang lebih ditujukan ke penguasaan gramatika bahasa Indonesia.
Kalian taukah mengapa kotak LA saya buat lebih besar dari LL? Itu karena LA punya pengaruh yang lebih besar daripada LL dalam membuat seseorang cakap dalam suatu bahasa. Oleh karena itulah, guru bahasa Inggris harus mampu mengadopsi karakteristik LA ke dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Apa contohnya? Guru harus mampu menggunakan full English (sama seperti seorang ibu berinteraksi dgn anaknya, ibu pasti menggunakan full
2 mother-tongue. Guru juga harus memulai dgn bahasa lisan lewat pengalaman sehari-hari, misalnya menggunakan bahasa Inggris ketika membuka, menutup pelajaran, dll., dan guru juga harus penuh kasih sayang. Selain itu, guru juga harus mengikuti urut-urutan proses LA, yaitu listening, then speaking, then reading, the last one is writing.
Tadi kan guru bahasa Inggris harus menggunakan full English di kelas... Bagaimana caranya atuh? Nanti siswanya bingung bin stress. Nah, agar siswa tidak bingung, maka tingkat kesukaran bahasa Inggris yang digunakan guru di kelas rumusnya harus i+1 yaitu hanya 1 level di atas bahasa yang dikuasai siswa saat itu. Bahasa Inggris yang digunakan guru di kelas haruslah i+1, hanya slightly above, sedikit di atas kemampuan bahasa Inggris siswa, tidak boleh i+2, apalagi i+5. Misalnya, jika siswa belum menguasai bahasa Inggris sama sekali, berarti guru harus menggunakan bahasa Inggris sangat sederhana dan hindari kalimat-kalimat panjang dengan kosakata yang tidak familiar didengar anak. Guru juga sangat boleh menggunakan broken English. Jangan lupa guru juga harus menggunakan gesture, facial expression, demonstration, dan movement untuk mempermudah siswa menangkap maksud guru. Dan terakhir, guru harus mampu mencipatakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bebas dari tekanan (roughly tuned and anxiety free), persis seperti komunikasi ibu kepada anaknya. Dalam kehidupan nyata, mungkin kalian akan menghadapi siswa-siswa yang bingung dengan ucapan kalian, sama sekali tidak paham maksud kalian. Jangan panik, tetap konsisten berbahasa Inggris, dan hindari menggunakan bahasa ibu. Lama kelamaan anak-anak pasti bisa. Toh tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SD bukan untuk mencapai target kurikulum tertentu dan pun termasuk matapel muatan lokal. Jadi fokus saja pada tujuan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di SD adalah untuk menumbuhkan kesan bahasa Inggris adalah pelajaran yang mudah dan menyenangkan, easy and fun, sehingga nanti pada saat anak-anak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak ada rasa takut dan tidak suka pada mata pelajaran ini.
Perhatikan video-video di bawah ini sebagai contoh bahwa full English really works even to very young language learners.
https://www.youtube.com/watch?v=SKtDkjTG2CY&t=284s https://youtu.be/zl_ppO5zKAI
(Slide 14) Matapel bahasa Inggris pertama kali diajarkan sebagai muatan lokal di Sekolah Dasar pada tahun 1994 melalui SK MENDIKBUD NO. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993. Sesuai namanya muatan lokal, maka penyelenggaraan mapatel bhs. Inggris tergantung dari lokal masing-masing. Nah, yang disebut lokal ini bisa dari tingkat proponsi, kecamatan, kelurahan, bahkan di tingkat unit sekolah. Dengan kata lain, penyelenggaraan matapel bhs. Inggris sebagai muatan lokal disesuaikan dengan sikon masing-masing propinsi sampai masing- masing sekolah. Bisa saja pemprov DKI menjadikan matapel bhs. Inggris sebagai matapel mulok wajib. Mengapa? Karena Jakarta adalah ibukota, pusat pemerintahan, pusat bisnis, jadi warganya harus bisa berbahasa Inggris dengan aktif.
3 Nah, ini ya Class, dasar hukum bahasa Inggris sebagai matapel mulok. Lalu standar kompetensi lulusannya mencakup semua skill (listening, speaking, reading, writing), namun masih pada konteks sangat sederhana.
When is the most suitable time to start teaching English to young learners in Indonesia (slide 15)? Kapankah waktu yang paling tepat untuk mulai memperkenalkan bahasa Inggris pada anak? Tentu sekali lagi jawabannya adalah tergantung sikon, tergantung kebutuhan dan kesiapan masing-masing daerah. Kebutuhan dan kesiapan masing-masing daerah tentu berbeda. Hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: ada tidak guru yang mumpuni, siap tidak kurikulumnya, ada tidak dananya, mendukung tidak socio-culture-nya. Contoh:
mahasiswa saya yang sekarang sdh menjadi alumni, kini mengajar sebagai guru matapel bhs.
Inggris di sebuah SD negri di dekat kampus. Dan dia digaji sesuai UMR Jakarta, yaitu 4jutaan.
Sementara, mahasiswa saya yang lain melaporkan bahwa yang mengajar matapel bahasa Inggris di SMP tempat dia mengajar (lokasi di Bekasi) adalah guru yang bukan berlatar pendidikan bahasa Inggris. Bisa dibayangkan ya. Mengajar materi SMP tapi bukan guru berlatar pendidikan bhs. Inggris, itu ceritanya di Bekasi. Berarti, dibandingkan Bekasi, Jakarta masih lebih siap dalam hal ketersediaan SDM yang mumpuni.
Jadi, salah satu faktor mengapa sampai sekarang ini bhs. Inggris masih belum menjadi muatan wajib adalah karena ketersediaan SDM yang mumpuni, yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Kasian daerah-daerah yang SDM-nya terbatas. Jika dipaksakan, tentu dampaknya tidak hanya ke guru dan sekolah, tapi terutama ke siswa. Makanya, bahasa Inggris dijadikan sebagai matapel mulok atau ekskul. Tapi, di sisi lain, daerah yang SDM-nya mencukupi, misalnya di kota-kota besar, boleh saja menjadikan bahasa Inggris sebagai mulok bahkan mulok wajib atau bahkan matapel muatan wajib. Itu sah saja, selama semuanya terpenuhi. Gurunya ada, kurikulumnya siap, dananya siap, dll. Dan satu lagi, selama tidak mengurangi matapel muatan wajib yang sudah distandarkan pemerintah. Dulu saya pernah mengajar matapel Bahasa Inggris di SDIT di Condet selama 6 tahun. Karena SDIT itu termasuk sekolah menengah ke atas dan full dari pagi sampai sore, maka ada penambahan jampel untuk matapel agama dan bahasa Inggris. Itu boleh-boleh saja selama matapel wajibnya tidak dikurangi.
Nah, jika sekolah memutuskan bhs. Inggris harus tetap ada/diselenggarakan, yang kemudian harus diperhatikan adalah bagaimana cara memperkenalkan bahasa Inggris pada anak agar anak merasa senang. Ingat, salah satu fokus terpenting pembelajaran bhasa Inggris pada anak adalah menumbuhkan kesan positif bahwa matapel ini adalah matapel yang fun and easy.
Dengan demikian ke depannya, kesan positif itulah yang dibawa anak.
Ini adalah kesimpulan how English should be taught to young learners..
1. Harus lewat proses language acquisition (LA)
Guru bahasa Inggris wajib mengadopsi karakteristik LA dlm proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Apa contohnya? Dia harus menggunakan full English (sama seperti seorang ibu berinteraksi dengan anaknya, menggunakan full mother-tongue) sehingga si anak terbombardir dengan bahasa target (dalam hal ini bahasa Inggris). Guru juga harus
4 memulai dengan bahasa lisan lewat pengalaman sehari-hari, misalnya menggunakan bahasa Inggris ketika membuka, menutup pelajaran, dll. Guru juga harus melengkapi penggunaan bahasa Inggris tadi itu dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah, gerakan, dll.
yang dapat memudahkan anak untuk menangkap maksud guru.
2. Bahasa Inggris yang digunakan guru harus berada dalam zona Zone of Proximal Development-nya siswa.
Supaya guru dan siswa tidak bingung, maka tingkat kesukaran bahasa Inggris yang digunakan guru rumusnya harus i+1 yaitu hanya 1 level di atas bahasa Inggris yang dikuasai siswa saat itu.
3. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, bebas dari rasa takut/tertekan (anxiety free), persis seperti seorang ibu berbicara pada anaknya, tanpa rasa takut/tertekan. Bayangkan saja ketika seorang ibu berbicara pada anaknya, penuh kasih sayang kan? Atau di sini ada yang ibunya galak, suka bentak-bentak sejak kalian bayi? Wah, sabar yaaaa.
4. Satu lagi, jika suasana belajar rileks dan menyenangkan, siswa akan jauh lebih mudah menerima informasi. Otak manusia harus berada dalam gelombang alfa agar mampu menyerap informasi secara maksimal. Ciri otak dlm gelombang alfa adalah ketika seseorang sedang rileks dan tenang tetapi bukan tidur. Kalau kita tidur, otak kita juga rileks dan tenang (dgn catatan tidak sedang mimpi dikejar-kejar mba kunti ya, hehe). Tapi tidur itu bukan gelombang alfa. Rileks dan tenangnya seperti tidur, tetapi tetap dalam kondisi sadar, tidak tidur. Nah, itulah ciri otak dlm gelombang alfa.
(Slide 13) Slide berikutnya menjelaskan tentang karakteristik anak sbg pembelajar bahasa:
1. They use their mother tongue as their point of reference.
Maksudnya, jangan coba-coba mengenalkan konsep dalam bhs. Inggris jika konsep tersebut belum dikuasai anak dalam bahasa ibunya. Misal: anak baru masuk SD (PG) diajarkan tentang konsep jam dalam bhs. Inggris. Tidak semua siswa SD sudah paham tentang konsep jam. Berarti jangan mengajarkan itu dulu. Ajarkan bahasa Inggris dari konsep yang mereka sudah tau dalam bahasa ibunya.
2. Language learning is still a matter of experiencing language rather than commuting information, such as grammar patterns, to memory.
Belajar bahasa bagi anak bukan tentang menghafal tata bahasa atau sederetan kosa kata.
Belajar bahasa bagi anak adalah tentang experiencing the language, 'mengalami' bahasa, yaitu mendengar bahasa itu diucapkan gurunya (the students listen), lalu mereproduksi bahasa yang ia dengar (the students speak). Reading dan writing yang aga kompleks nanti saja belakangan di kelas-kelas atas. Untuk awalan di SD cukup mengasah listening speaking dan menumbuhkan kesukaan thd belajar bhs. Inggris.
3. Their ability to imitate is so good that sometimes they are indistinguishable from native speakers
Jangan salah ya, children are perfect imitators. Masih ingat teori the Critical Period Hypothesis? Nah, iya. Jadi kalau dari usia dini si anak tidak terekspos dengan bhs. Inggris yang benar, bisa dipastikan nanti pas ke sana2nya, pronunciation-nya tdk akan sebagus penutur asli.
5 4. They want immediate result.
Maksudnya, anak2 itu cenderung ingin hasil yang instan, baru belajar sehari maunya lgsg bisa ngomong. Nah, makanya gurunya hrs mengajar pakai classroom language yang sudah kita pelajari. Pasti udah ngelotok dong ya. Pas gurunya bernyanyi, "Hello Budi, hi how are you?", si Budi kan jawab (sambil nyanyi) "I'm fine... I'm fine..." Nah, ini nih yang bikin Budi kesenengan. Walaupun baru bisa menjawab begitu, tapi bagi Budi itu hal yang luar biasa dan dia akan pamer sama org rumah atau teman-temannya di rumah.. Makanya, guru kalau mengajar wajib pakai classroom language yaaa...
5. Children do not all learn at the same speed or in the same manner.
Ini pahami sendiri maksudnya ya 😉
TOPIK 2. Teaching Vocabulary and Pronunciation to YLL
Intisari dari pembelajaran English vocabulary untuk YLL adalah sbb.:
1. Perkenalkan kosakata yang sangat familiar dengan anak terlebih dahulu. Kosakata ini biasanya merupakan basic level words. Misalnya: kenalkan kata ‘chair’ dulu, jangan kata
‘furniture’ (kata umum) atau kata ‘rocking chair’ (kata khusus). Jadi yang dikenalkan chair dulu baru furniture dan rocking chair (itupun nanti saja).
2. YLL cenderung lebih mudah belajar kosakata dalam kategori yang sama, misalnya: sesama names of fruit, sesama days of the week, sesama parts of body, dst. Jadi ketika guru memperkenalkan kata Monday, guru tidak disarankan memperkenalkan kata apple karena tidak sama kategorinya.
3. Untuk level YLL, sebaiknya guru membatasi jumlah kosakata yang diajarkan dalam 1x tatap muka. Usahakan tidak lebih dari 7 kosakata.
4. Karena bahasa Inggris adalah bahasa asing, maka guru harus men-drilling (mengulang- ulang) kosa kata baru tersebut, namun tetap dengan cara yang menyenangkan, yaitu dengan gambar, realia (objek nyata), lagu, dan gerakan.
5. Memperkenalkan kosakata pada YLL pun ada tahap-tahapannya, yaitu: (1) putuskan dulu apa saja dan berapa banyak kosa kata yang mau kita ajarkan, ingat ya, maksimal 7; (2) perkenalkan kosakata baru itu dengan cara yang menyenangkan tadi; (3) buat latihan sederhana untuk mengukur kemampuan siswa kita.
6. Pada saat guru memperkenalkan kosakata baru, pastikan guru hanya memperlihatkan gambar atau benda nyatanya saja tanpa perlu ada tulisannya. Misalnya: apple cukup gambar/benda nyatanya saja, jangan diberi tulisan. Mengapa? Karena jika diberi tulisan, khawatir nanti fokus anak akan pecah dan bagi yang sudah bisa membaca, dia nantinya akan bingung karena tulisan dan cara membacanya berbeda. Kalian masih ingat urutan language acquisition kan? Nah, iya, listening dulu, baru speaking, baru reading.
Nah, sekarang kita ke pronunciation ya. Bagaimana caranya siswa YLL belajar pronunciation, belajar pelafalan? Salah satu caranya adalah lewat pembelajaran kosakata. Jadi, pada saat guru memperkenalkan kosakata baru, pastikan kata itu dilafalkan dengan pronunciation yang benar. Lalu, jika tidak tau pelafalan yang benar bagaimana? Cek di kamus! Cek di kamus yang menyediakan audio, di google translate bisa. Kamus yang benar kamus apalagi, misalnya:
6 kamus webster, oxford, dll, tinggal googling saja. Jangan malas melihat kamus ya karena akibatnya sangat fatal.
Selain lewat pembelajaran kosakata, pronunciation yang benar juga dapat dilatih lewat kegiatan chant/rhyme. Chant/rhyme adalah sejenis lagu pendek yang memiliki rima. Saya sudah pernah memberikan contohnya ya. Selain lewat chant/rhyme, pronunciation juga dapat dilatih lewat lagu. Perhatikan slide 18, 19. Saya sudah nyanyikan juga ya.
TOPIK 3. Teaching Grammar to YLL
Belajar grammar dapat dilakukan melalui expanding chunks in classroom routines. Chunks adalah potongan-potongan kalimat. Chunks dapat dipasangkan dengan chunks yang berbeda-beda untuk menghasilkan kalimat baru. Check slide 3. Misalnya: give out the scissors dapat diperluas menjadi give out the books, give out the paper, collect the scissors, collect the books, collect the paper, dst.
Pembelajaran grammar utk YLL harus dilakukan secara inductif dan tidak boleh secara eksplisi.
Yang dimaksud pembelajaran grammar secara induktif adalah guru tidak memberikan pola- pola bahasa secara eksplisit, misalnya guru menuliskan pola kalimat simple present di papan tulis, ini namanya secara eksplisit. Kalau secara induktif, guru membuat siswa figure out the rules by themselves dengan cara menyajikan secara lisan dan menggunakan media berbagai kalimat yang menggunakan pola tertentu itu tadi. Misalnya: di kelas 5,6, guru mengatakan, “I go to school everyday. Rani goes to school everyday too. Budi does too. Budi goes to school everyday”. Nah, dengan memberikan contoh2 kalimat yang menggunakan berbagai pola simple present, diharapkan siswa dengan sendirinya dapat menyimpulkan bahwa, “Ooh, kalo she dan he pakai goes yaaa”.. Ini yang namanya inductive teaching. Siswa menyimpulkan sendiri lewat berbagai contoh kalimat yang diucapkan guru dalam konteks yang sesuai.
Pembelajaran grammar utk YLL harus berpedoman pada prinsip-prinsip pembelajaran yang natural yang mengadopsi proses pemerolehan bahasa ibu. Jadi, bagaimana seseorang bisa menguasai bahasa ibunya, proses itulah yang kemudian diadopsi dlm pembelajaran bahasa asing. Masih ingat kah kalian tentang pemerolehan bahasa atau language acquisition (LA)?
Pembelajaran grammar to YLL tetap harus dilakukan. Namun ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan karena pendekatan pembelajaran grammar to YLL tidak selalu sama dengan remaja atau dewasa.
Prinsip2 teaching grammar to YLL:
Guru mengajarkan grammar harus di dalam konteks grammar itu sendiri. Misalnya: Guru mau mengajarkan kalimat, “Do you like spinach? Yes, I do. I like spinach”. Nah, guru harus membuat situasi yang memungkinkan kalimat tersebut diucapkan, misalnya guru membawa gambar spinach, lalu bertanya secara lisan ke siswa dan guru menjawab sendiri dengan raut wajah senang ketika menjawab suka atau dengan raut wajah yang jelek ketika menjawab tidak suka.
Secara tdk lgsg, siswa pasti bisa menebak, oooh maksudnya menanyakan suka/tdk suka…
Oooh, kalau suka jawabnya Yes, I do. I like spinach… Oooh, kalo gak suka jawabnya No, I don’t.
7 Idont like spinach… Ini adalah contoh konteks ya, membuat situasi yang memungkinkan kalimat tersebut diucapkan.
Guru tidak boleh mengajarkan grammar secara eksplisit, seperti yang tadi saya sampaikan di atas. Misalnya: guru berkata, “Class, today, we’re going to study about like and dislike. Kalau kalian mau bertanya tentang like and dislike, gunakan kalimat ini”, lalu guru menulis kalimat di papan tulis. Ini salah ya gaess. Jangan ditiru, ini tidak cocok utk YLL.
Teaching grammar to YLL sangat bisa dilakukan lewat songs, chants/rhymes, chunks, classroom languages, story telling, dst. Intinya, teaching grammar to YLL tidak melulu harus dilakukan terjadwal secara sadar menggunakan papan tulis. Slide 9 adalah contoh lagu yang dibuat khusus utk mengajarkan pola kalimat tertentu (like and dislike). Saya nyayikan ya..
Bagaimana? Baguskan suara saya, hehe… nah, guru juga harus bisa menciptakan lagu-lagu sperti ini, disebutnya specially-written song, utk mempermudah anak menguasai grammar tertentu. Ingat, children tend to respond better with songs.
Look at slide 13. Secara umum, setidaknya ada 3 tahap pembelajaran grammar, yaitu (1) presentation, (2) controlled practice, (3) production.
Tahap presentation adalah tahap di mana the new language item is presented. Misalnya: guru mempresentasikan kalimat, “What’s your name?”. Caranya adalah, guru menciptakan kondisi di mana kalimat “What’s your name?” itu digunakan. Guru bisa saja langsung menanyakan ke siswa, “What’s your name?”. Itu sah2 saja. Yang penting syaratnya adalah harus berulang2, harus bermakna, dan harus full_English. Supaya bermakna bagaimana caranya? Itu tadi, seperti yang saya bilang, guru bertanya lgsg ke siswa “What’s your name?”. Lalu siswa kan bingung ya, guru bertanya apa, dan saya harus menjawab apa… pada saat itulah, guru lgsg menjawab dengan memberi contoh dirinya sendiri, “My name is Nita. What’s your name?”. Begitu aja terus diulang2 sampai siswa paham sendiri bahwa “What’s your name?” itu sebenarnya nanyain nama loh dan begitu loh cara jawabnya. Ini namanya bermakna, full-English, dan karena diulang2, siswa jadi dapat stimulasi yang cukup yang ia butuhkan untuk mampu mendengar, menyerap, dan menangkap tidak hanya pelafalan, tapi juga arti kalimat tersebut.
Contoh kegiatan presentation yang tidak bermakna adalah, guru menyampaikan dalam bahasa ibu siswa, “Anak2, hari ini kita akan belajar cara menanyakan nama dalam bahasa Inggris. Jadi, kalau mau bertanya nama, kita ucapkan, “What’s your name?”. lalu jawabnya, “My name is Nita”. Ini haram ya gaess, hehe… Oya, jangan lupa, karena siswa kita adalah YLL, maka pada saat presentasi, sangat2 disarankan menggunakan media lain, misalnya lagu, boneka tangan, gambar, flascard, dll.
Nah, stlh tahap 1, kita masuk ke tahap (2) practice. Tahap ini adalah tahap di mana siswa diminta untuk mengulang-ulang kata/kalimat yang tadi di tahap 1 untuk memastikan pelafalannya sudah benar. Jadi ingat, kalau di tahap (1) presentattion, yang mengulang2 kata/kalimat adalah guru. Tp kalau di tahap (2) practice, yang mengulang2 adalah siswa.
Kegiatan mengulang-ulang kata/kalimat ini disebut drillings. Yang perlu diingat adalah, drilling mmg bermanfaat, salah satunya utk melatif pronunciation/pelafalan, apalagi bahasa Inggris msh merupakan bahasa asing. Namun, perlu diingat bahwa drilling adalah kegiatan yang
8 membosankan, oleh karena itu, jangan lama-lama ya, cukup maksimal 5 menit atau jika dirasa 5 menit masih kurang, boleh diselingi dengan energizer dulu sebelum lanjut drilling lagi.
Tahap terakhir adalah production stage. Pada tahap ini, siswa diberi kesempatan untuk freer language use, untuk menggunakan kalimat yang sudah dilatih tadi untuk komunikasi secara lebih bebas. Misalnya: guru meminta siswa untuk saling bertanya nama teman-temannya.
Setiap dia berhasil bertanya dengan baik, temannya akan memberikan bintang. Dan setiap temannya berhasil menjawab dengan baik, dia juga akan memberikan bintang. Di akhir, guru dan siswa dapat menghitung bersama siapa yang bintangnya paling banyak. Tp ingat, tidak ada yang kalah dan menang ya, tekankan bahwa semua adalah juara, semua keren dan hebat karena sudah mau berusaha.
Satu lagi, guru juga bisa menstimulasi speaking siswa lewat bahasa-bahasa yang rutin diucapkan sehari-hari dan dihafalkan sebagai satu kesatuan, seperti, Good morning!/ How are you today?/Are you ready to study?/dst. Bahasa2 ini disebut pre-fabricated language.
Contoh2 kegiatan yang dapat digunakan di tahap presentation, practice, dan production dapat kalian lihat di slide 14, 15, dan 16 ya.
Slide 18 adalah contoh routines chunk yang bisa diperluas untuk pembelajaran grammar.
Dan terakhir slide 19 adalah contoh speacially-written-song utk mengajarkan grammar tertentu. Ini bunyi lagunya. Menurut kalian, grammar apa yang diajarkan lewat lagu ini ya?
TOPIK 4. Teaching Listening to YLL
Our discussion is about “Teaching Listening and Speaking to Young Learners”.
Pertama, tentang teaching listening to young learners. Ada banyak cara untuk menstimulasi listening skill pada YLL. Salah satunya adalah dengan menggunakan kaset yang dipakai di buku paket, ini kalau guru menggunakan buku paket yang menyediakan kaset sebagai media tambahan. Tapi masalahnya, kaset ini belum tentu sesuai dengan kebutuhan siswa kita. Jika sesuai, silahkan digunakan. Jika tidak, guru harus memodifikasinya agar lebih sesuai dengan kebutuhan.
Cara kedua untuk menstimulasi listening skill pada YLL adalah dengan menggunakan kaset yang dijual bebas di pasaran. Cara ini susah2 gampang, sekali lagi tidak mudah menemukan kaset di pasaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa kita. Bisa jadi kaset tsb terlalu sulit, terlalu mudah, atau materinya tidak pas. Cara ketiga adalah dengan membuat kaset sendiri (home-made tape). Dulu ketika saya masih jadi guru SD, saya sering membuat home-made tape di lab bahasa. Saya merekam suara saya sendiri dengan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa saya. Home-made tape ini sebenarnya paling cocok ketimbang menggunakan kaset2 di luaran. Tapi masalahnya, tidak semua guru mau dan mampu membuat home-made tape. Tapi sekarang kan sudah canggih ya, di hape pun ada alat perekam dan kualitas hasil rekamannya cukup baik, itu bisa digunakan utk membuat home- made tape.
9 Nah, jika sumber belajar sangat minim, misalnya tidak bisa mengusahakan kaset dari manapun, maka the best listening source sebenarnya adalah teacher’s voice. Jadi, selama gurunya konsisten menggunakan bahasa Inggris di kelas, sebenarnya itu sudah merupakan bagian dari stimulasi listening skill, tidak harus melulu pakai kaset/audio. Apalagi siswa YLL kan mudah sekali ‘terpesona’ oleh guru. Bahasa Inggris gurunya biasa2 saja pun, bagi dia sudah luar biasa.
Ini harus dimanfaatkan oleh guru. Jadi, sebenarnya cukup suara gurunya saja. Malah, akan menjadi kurang efektif jika kaset tersedia banyak tapi guru tidak pernah menggunakan bahasa Inggris di kelas (guru selalu menggunakan bahasa ibu siswa). Dengan begitu, siswa jadi kurang terekspos dengan bahasa Inggris.
Nah, jadi please use English ya, try your best. Remember! The more you speak in English, the more your students are exposed, the faster language acquisition happens. Tapi ingat, bahasa Inggris kalian juga harus i+1 (Input Hypothesis), bukan i+2, apalagi i+3. Bahasa Inggris guru harus slightly above, sedikit saja di atas kemampuan siswa saat itu. Broken English is welcome, hindari kalimat2 yang terlalu panjang dengan kosa kata yang tidak familiar di telinga siswa.
Dan jangan lupa, guru juga harus ‘mempersenjatai’ dirinya dengan gesture (bahasa tubuh), facial expression (mimik wajah), demonstrasi, dan movements (gerakan) untuk memudahkan siswa menangkap maksud si guru. Daaan… satu lagi, guru juga harus mengajar dengan kasih sayang, murah senyum, menyenangkan sehingga siswa merasa relax dan lebih mudah menerima informasi (persis seperti komunikasi ibu pada anaknya). Jadi sebenarnya bisa bangeeeet menggunakan monolingual (full-English) di kelas, selama syarat2nya terpenuhi.
Lanjut… di slide 11, kalian bisa melihat beberapa contoh listening activities yang hanya bermodalkan suara guru. Salah satunya adalah issuing classroom instruction. Maksudnya adalah guru harus menggunakan classroom language (CL) dlm bhs. Inggris. Guru harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Jadi, pastikan classroom language guru disampaikan dalam bahasa Inggris. Mengecek kehadiran, memberikan materi, menutup pelajaran, dll harus dalam bahasa Inggris.
Contoh listening activities berikutnya yang hanya bermodalkan suara guru adalah Total Physical Response. Total Physical Response adalah kegiatan pembelajaran di mana siswa merespon ucapan/ perintah guru dengan mengulanginya lewat perbuatan, seperti kegiatan
“Listen and Do”. Misalnya guru berkata “Please stand up!”, lalu siswa merepon dengan berdiri.
Guru berkata, “Walk to the door!”, lalu siswa merespon dengan berjalan ke arah pintu.
Berikutnya, playing listening games. Salah satu contoh listening games adalah permainan BINGO. Dalam permainan ini, siswa mendengar deskripsi yang diberikan guru (misalnya tentang animal/fruit) dan memberi tanda silang pada gambar yang sesuai dengan deskripsi guru. Misalnya: guru berkata, “This is an aminal. This animal can fly”, lalu siswa memberi silang pada gambar burung. Begitu seterusnya mengikuti aturan permainan BINGO secara umum.
Selain BINGO, listening games sederhana juga bisa dilakukan lewat permainan “Simon Says”.
Misalnya, guru berkata, “Simon says, touch your eyes!”, lalu siswa melakukan perintah guru dengan menyentuh matanya. Tapi jika guru berkata hanya “Touch your eyes!” (tanpa kalimat Simon says), maka siswa tidak boleh memperagakan perintah guru. Jadi, siswa benar2 harus mendengarkan dengan seksama.
10 Terakhir adalah modelling. Walaupun saya mantan model di rumah, suka berlenggak-lenggok tiap pagi (alias ngepel, hehe..), tapi modelling yang ini gak ada kaitannya sama lenggak- lenggok ya. Modelling berarti kegiatan yang di dalamnya guru meminta siswa untuk mendengarkan dan menirukan pelafalan/pronunciation suatu kata (listen and say). Misalnya, guru mengatakan “Class, listen and say, cucumber”, lalu siswa menirukan secara lisan dengan mengucapkan, “cucumber”.
Penjelasan di atas tadi hanya beberapa contoh saja ya. Sisanya bisa dilihat di file yang sdh saya share tadi.
TOPIK 5. Teaching Speaking to YLL
Kita lanjut ya, teaching speaking to YLL. Sebelumnya kita sdh membahas bahwa secara umum, anak-anak Indonesia masih menganggap bahasa Inggris sbg bahasa asing. Oleh karena itulah, diperlukan kegiatan drilling (kegiatan mengulang-ngulang suatu kata atau kalimat). Ada di slide 3. Di mana letaknya kegiatan drilling? Yuk, kita lihat tahapannya satu per satu.
Secara umum, setidaknya ada 3 tahap pembelajaran speaking, yaitu (1) presentation, (2) practice, (3) production.
Tahap presentation adalah tahap di mana the new language item is presented. Misalnya: guru mempresentasikan kalimat, “What’s your name?”. Caranya adalah, guru menciptakan kondisi di mana kalimat “What’s your name?” itu digunakan. Misalnya: guru langsung menanyakan ke siswa, “What’s your name?”. Begitu saja sudah benar. Yang penting syaratnya adalah harus berulang2, harus bermakna, dan harus full-English. Supaya bermakna bagaimana caranya?
Seperti yang saya sampaikan, guru bertanya lgsg ke siswa “What’s your name?”. Lalu misalnya siswa bingung guru bertanya apa dan siswa harus menjawab apa… pada saat itulah, guru lgsg menjawab dengan memberi contoh dirinya sendiri, “My name is Nita. What’s your name?”.
Begitu saja terus diulang2 sampai siswa paham sendiri bahwa “What’s your name?” itu sebenarnya menanyakan nama dan begitu cara menjawabnya. Ini yang dimaksud dengan bermakna, full-English, dan karena diulang2, siswa jadi dapat stimulasi yang cukup yang ia butuhkan untuk mampu mendengar, menyerap, dan menangkap tidak hanya pelafalan, tapi juga arti kalimat tersebut. Dan itu semua dilakukan tanpa guru menggunakan bahasa Indonesia sedikit pun.
Contoh kegiatan presentation yang tidak bermakna adalah, guru menyampaikan dalam bahasa ibu siswa, “Anak2, hari ini kita akan belajar cara menanyakan nama dalam bahasa Inggris. Jadi, kalau mau bertanya nama, kita ucapkan, “What’s your name?”, yang artinya siapakah namamu. Lalu jawabnya seperti ini, “My name is Nita”, yang artinya nama saya adalah Nita. Jadi Ini haram ya gaess, hehe… Ini sangat jauh dari meaningfulness dan karenanya sangat tidak disarankan. Oya, jangan lupa, karena siswa kita adalah YLL, maka pada saat presentasi, sangat2 disarankan menggunakan media lain, misalnya lagu, boneka tangan, gambar, flascard, dll.
Nah, stlh tahap 1, kita masuk ke tahap ke-2 pembelajaran speaking, yaitu practice. Tahap ini adalah tahap di mana siswa diminta untuk mengulang2 kata/kalimat yang tadi di tahap 1 untuk
11 memastikan pelafalannya sudah benar. Jadi ingat, kalau di tahap (1) presentattion, yang mengulang2 kata/kalimat adalah guru. Tp kalau di tahap (2) practice, yang mengulang2 adalah siswa. Kegiatan mengulang2 kata/kalimat ini disebut drillings. Yang perlu diingat adalah, drilling mmg bermanfaat, salah satunya utk melatif pronunciation/pelafalan, apalagi bahasa Inggris msh merupakan bahasa asing. Namun, perlu diingat bahwa drilling adalah kegiatan yang membosankan, oleh karena itu, jangan lama2 ya, cukup maksimal 5 menit atau jika dirasa 5 menit masih kurang, boleh diselingi dengan energizer dulu sebelum lanjut drilling lagi.
Tahap terakhir adalah production stage. Ciri tahap ini bisa dilihat di slide 16. Intinya adalah siswa diberi kesempatan untuk freer language use, untuk menggunakan kalimat yang sudah dilatih tadi untuk komunikasi secara lebih bebas. Misalnya: guru meminta siswa untuk saling bertanya nama teman2nya. Setiap dia berhasil bertanya dengan baik, temannya akan memberikan bintang. Dan setiap temannya berhasil menjawab dengan baik, dia juga akan memberikan bintang. Di akhir kegiatan, guru dan siswa dapat menghitung bersama siapa yang bintangnya paling banyak. Tp ingat, tidak ada yang kalah dan menang ya, tekankan bahwa semua adalah juara, semua keren dan hebat karena sudah mau berusaha.
Satu lagi, guru juga bisa menstimulasi speaking siswa lewat bahasa-bahasa yang rutin diucapkan sehari-hari dan dihafalkan sebagai satu kesatuan, seperti, Good morning!/ How are you today?/Are you ready to study?/dst. Bahasa2 ini disebut pre-fabricated language.