• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TEORI PENUNJANG. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TEORI PENUNJANG. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Nilai Masing-masing Konsep

Beberapa teori yang digunakan sebagai acuan dan dasar dari penelitian ini adalah tentang restoran, persaingan, strategi bersaing, strategi pemasaran, analisa SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats), dan matriks IE (Internal – Eksternal).

2.1.1. Restoran

“Restoran adalah suatu usaha komersial yang menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman bagi masyarakat umum dan dikelolah secara profesional.” (Soekresno, 1991, pp. 16-17)

Restoran adalah usaha bisnis yang menyediakan makanan dan minuman untuk dijual kepada konsumen. (Foster, 1993)

Restoran dibagi menjadi dua kategori:

1. Non komersial

Contoh restoran non komersial seperti kantin pegawai di rumah sakit, pabrik, hotel.

2. Komersial

Ada 5 jenis restoran komersial, antara lain:

a. Classical Restaurant, restoran ini menekankan pada gourmet-style cuisine.

Dalam bahasa perancis diartikan sebagai seni dalam menyiapkan makanan.

Restoran ini didesain dan dioperasikan dalam tradisi Eropa dan dikhususkan pada konsumen yang mau membayar lebih mahal karena menu restoran yang ditawarkan harganya relatif lebih mahal.

b. Occasional Restaurant, restoran ini dapat berbentuk formal ataupun informal, dengan harga kelas menengah keatas.

c. Specialty Restaurant, restoran ini termasuk restoran etnik, seperti restoran Cina, Italia, Jepang. Juga termasuk steak house, sea food restaurant. Ciri dari restoran ini adalah menu dan dekorasinya dipusatkan pada tema.

d. Family-style Restaurant, restoran ini memiliki suasana dan menu yang sederhana. Seperti, coffee shop, kafetaria.

(2)

e. Fast Food Restaurant, restoran ini dirancang untuk efisiensi dan kenyamanan dengan self-service counter, menu yang terbatas dan harga yang murah.

Kata restoran mencakup serangkaian operasi jasa makanan. Istilah ini berasal dari kata Perancis “restaurant” yang berarti “restorers of energy” atau pemulihan tenaga. Restoran melayani baik kebutuhan sosial maupun biologis.

Orang-orang makan di restoran karena berbagai macam alasan. Antara lain:

melepaskan diri dari kebosanan, untuk bersosialisasi, merasakan makanan yang berbeda dari yang disajikan di rumah, ataupun untuk menghindari pekerjaan yang membosankan. Restoran dapat dibagi berdasarkan pangsa pasar. Antara lain:

(Power, 1999)

1. Dining Market, adalah restoran yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan sosial. Jenis-jenisnya, antara lain:

a. Fine Dining Restaurant: restoran yang kapasitas muatannya kurang dari 100 orang. Restoran ini memiliki karyawan yang sudah terlatih. Harga yang ditawarkan cukup tinggi.

b. Casual Dining: restoran yang cenderung ke suasana santai, ceria, dan menyenangkan. Sebagian besar restoran ini memiliki tema yang bersifat menyeluruh dalam hal desain makanan, minuman, dekorasi interior dan eksterior.

c. Specialty Restaurant: restoran ini memiliki ciri yang terdapat pada menu dan dekorasinya yang ditawarkan berpusat pada tema. Contohnya: restoran Cina, Italia, Jepang. Juga termasuk steak house, sea food restaurant.

d. Ethnic Restaurants: restoran yang menjual suasana yang berbeda, berdasarkan etnis tertentu dengan menu yang khas dari daerah tertentu.

Biasanya pemilik dari restoran yang bersangkutan berasal dari etnis yang sama dengan apa yang ditawarkan restorannya.

2. Eating Market, adalah restoran yang lebih mengutamakan pemenuhan akan kebutuhan biologis saja. Jenis-jenisnya, antara lain:

a. Cafetarias: di kafetaria, konsumen dapat memilih makanan yang ditawarkan di papan menu. Pelayanannya self-service yang artinya pelanggan mengambil sendiri dan mengantarkan makanannya sendiri.

(3)

b. Take-out and Delivery: makanan yang dibeli dapat dibawa pulang dan juga menyediakan layanan antar.

c. Drive-through: bagian dari restoran cepat saji, menu yang ditawarkan sangat sederhana.

2.1.2. Persaingan

Pesaing adalah mereka yang berusaha memuaskan pelanggan dan kebutuhan yang sama dan mengajukan penawaran yang sama. Persaingan, ada empat tingkat persaingan: (Kotler, 1997)

1. Persaingan merek, terjadi bila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah perusahaan lain yang menawarkan produk atau jasa yang serupa pada pelanggan yang sama, dengan harga yang sama.

2. Persaingan industri, terjadi bila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang membuat produk atau kelas produk yang sama.

3. Persaingan bentuk, terjadi bila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang memproduksi produk yang memberi jasa yang sama.

4. Persaingan generik, terjadi bila suatu perusahaan menganggap para pesaingnya adalah semua perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan dolar konsumen yang sama.

Persaingan dapat diidentifikasikan berdasarkan sudut pandang:

1. Sudut pandang industri

Industri adalah sekelompok perusahaan yang menawarkan suatu produk atau kelas produk yang merupakan substitusi dekat satu sama lain. Substitusi dekat adalah produk dengan elastisitas-silang permintaan yang tinggi, maksudnya jika permintaan atas suatu produk meningkat sebagai akibat dari kenaikan harga suatu produk lain.

Empat jenis struktur industri, yaitu:

a. Monopoli murni: terjadi apabila hanya ada satu perusahaan yang menyediakan suatu produk atau jasa tertentu dalam negara atau wilayah tertentu, contohnya perusahaan listrik daerah.

(4)

b. Oligopoli: suatu struktur industri dimana sejumlah kecil perusahaan besar memproduksi produk mulai dari yang sangat terdiferensiasi hingga yang terstandarisasi, contohnya perusahaan mobil. Diferensiasi tersebut dapat terjadi dalam kualitas, kelengkapan, mode, atau pelayanan.

c. Persaingan monopolistik: terdiri dari banyak pesaing yang mampu membedakan penawaran mereka secara keseluruhan atau sebagian, contohnya restoran. Banyak dari pesaing yang memusatkan perhatian pada pasar, dimana mereka dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.

d. Persaingan Murni: terdiri dari banyak pesaing yang menawarkan produk dan jasa yang sama, contohnya: bursa efek, karena tidak ada dasar bagi diferensiasi, harga pesaing akan sama.

2. Sudut pandang pasar

Perusahaan mengamati kepuasan konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap hasil dari suatu produk dan harapan-harapannya. Kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan harapan. Jika kinerja berada di bawah harapan, konsumen tidak puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang.

2.1.3. Strategi Bersaing

“Strategi berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepemimpinan (leadership), strategi adalah keseluruhan tindakan-tindakan yang ditempuh oleh sebuah organisasi untuk mencapai sasaran-sasarannya.” (Winardi, 1989, p. 46)

Strategi bersaing adalah kombinasi antara tujuan yang diperjuangkan oleh perusahaan dengan kebijaksanaan atau alat di mana perusahaan berusaha sampai kesana. Tujuan dari strategi bersaing adalah untuk menemukan posisi dalam industri tersebut, di mana perusahaan dapat melindungi diri sendiri dengan sebaik-baiknya terhadap tekanan persaingan. Strategi bersaing dapat diperoleh melalui strategi pemasaran yang baik. Perumusan strategi bersaing harus mempertimbangkan empat faktor utama yang menentukan batas-batas yang dapat dicapai oleh perusahaan agar berhasil, antara lain: (Porter, 1980)

(5)

1. Kekuatan dan kelemahan perusahaan merupakan profil dari kekayaan dan keterampilannya relative terhadap pesaing yang meliputi sumber daya keuangan, posisi teknologi, identifikasi merek, dan lain-lain.

2. Nilai-nilai pribadi dari organisasi, merupakan motivasi dan kebutuhan para eksekutif kunci dan personel lain yang harus menerapkan strategi yang sudah dipilih.

3. Peluang dan ancaman industri dan lingkungan persaingan, dengan resiko serta imbalan potensial yang menyertainya.

4. Harapan masyarakat, mencerminkan dampak dari hal-hal seperti kebijakan pemerintah, kepentingan sosial, adat istiadat yang berkembang dan banyak lagi yang lain terhadap perusahaan.

Keempat faktor ini perlu dipertimbangkan sebelum suatu bisnis dapat mengembangkan perangkat tujuan dan dapat diterapkan.Sebelum strategi bersaing dirumuskan, perusahaan memerlukan sejumlah informasi yang dapat mendukung dalam menentukan strategi persaingan.

Strategi bersaing yang efektif meliputi tindakan-tindakan ofensif ataupun defensif guna menciptakan posisi yang aman terhadap persaingan. Secara luas, ini mencakup sejumlah pendekatan yang mungkin:

1. Menempatkan perusahaan dalam posisi sedemikian sehingga kemampuannya memberikan pertahanan yang terbaik untuk menghadapi rangkaian kekuatan persaingan yang ada.

2. Mempengaruhi keseimbangan kekuatan melalui gerakan strategis, dan karenanya memperbaiki posisi relative perusahaan.

3. Mengantisipasi pergeseran pada faktor-faktor yang menjadi penyebab kekuatan persaingan dan menanggapinya, sehingga karenanya memanfaatkan perubahan dengan memilih strategi yang cocok dengan keseimbangan persaingan yang baru sebelum lawan menyadarinya.

Satu pendekatan yang luas adalah dengan menggunakan keunggulan sumber daya dan kemampuan untuk memaksa agar hasilnya sesuai dengan kepentingan perusahaan, mengatasi dan bertahan terus dalam perang persaingan, ini dapat disebut sebagai pendekatan kekuatan yang brutal. Pendekatan ini hanya mungkin jika perusahaan mempunyai keunggulan yang nyata, dan ini akan stabil hanya

(6)

selama perusahaan mempertahankan keunggulannya dan selama pesaing tidak salah menafsirkan serta secara tidak tepat berusaha mengubah posisi mereka.

2.1.4. Strategi Pemasaran

Setiap perusahaan mempunyai tujuan untuk dapat tetap hidup dan berkembang; tujuan tersebut dapat dicapai melalui usaha mempertahankan dan meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan. Usaha ini hanya dapat dilakukan, apabila perusahaan dapat mempertahankan dan meningkatkan penjualannya, melalui usaha mencari dan membina konsumen, serta usaha menguasai pasar.

Yaitu dengan cara apabila bagian pemasaran perusahaan melakukan strategi yang sesuai dalam mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, menggunakan peluang yang ada dalam pemasaran, dan berusaha menghindari ancaman, sehingga posisi perusahaan di pasar dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Oleh karena itu strategi pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting umumnya untuk keberhasilan usaha dan khususnya dibidang pemasaran.

Dengan demikian strategi pemasaran harus dapat memberi gambaran yang jelas dan terarah tentang apa yang akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan setiap peluang pada pasar. Strategi pemasaran merupakan dasar tindakan yang mengarahkan kegiatan atau usaha pemasaran dari suatu perusahaan, dalam kondisi persaingan dan lingkungan yang selalu berubah, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menerapkan strategi pemasaran yang akan dijalankan, suatu perusahaan haruslah lebih dulu melihat situasi dan kondisi pasar serta menilai posisinya di pasar. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan tergantung pada kemampuan atau tersediannya sumber daya perusahaan, keragaman produk dan pasar, serta strategi pemasaran perusahaan dalam menghadapi pesaingnya. (Assauri, 1996)

Dalam strategi pemasaran terdapat tujuh strategi dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan, antara lain: (Kotler, 1997)

1. Strategi produk

Strategi produk dalam hal ini adalah menetapkan cara dan penyediaan produk yang tepat bagi pasar yang dituju, sehingga dapat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan, melalui

(7)

peningkatan penjualan dan peningkatan pangsa pasar. Adapun faktor-faktor yang terkandung dalam suatu produk, yaitu mutu/kualitas, penampilan, pilihan yang ada, gaya, merek, pengemasan, ukuran, jaminan, dan pelayanan. Produk tidak hanya dilihat dari wujud fisiknya, tetapi mencakup pelayanan, harga, dan penyalurannya, yang semuanya diharapkan oleh konsumen dapat memenuhi keinginannya.

2. Strategi harga

Harga merupakan unsur dalam menghasilkan penerimaan penjualan dan merupakan unsur biaya. Peranan penetapan harga akan menjadi sangat penting terutama pada keadaan persaingan yang semakin tajam. Penetapan harga mempengaruhi kemampuan bersaing perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam mempengaruhi konsumen. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penetapan harga adalah harga bahan baku, biaya produksi, biaya pemasaran, peraturan pemerintah, dan harga produk para pesaing. Sedangkan tujuan dari penetapan harga itu adalah untuk memperoleh laba maksimum, menguasai pangsa pasar, mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum, mencapai keuntungan yang ditargetkan, dan untuk mempromosikan produk.

3. Strategi saluran distribusi

Di dalam usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran perusahaan di bidang pemasaran, setiap perusahaan melakukan kegiatan penyaluran. Penyaluran merupakan kegiatan penyampaian produk sampai ke tangan konsumen. Saluran distribusi diperlukan oleh setiap perusahaan, karena produsen menghasilkan produk dengan memberikan kegunaan bagi konsumen setelah sampai ke tangannya. Dengan demikian, setiap produsen dalam menghasilkan produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen sebaiknya disesuaikan dengan kapan dan di mana produk itu diperlukan serta oleh siapa saja produk itu dibutuhkan.

Penyaluran sebenarnya mulai berfungsi sejak barang dan jasa yang dihasilkan selesai diproduksi sampai dengan saat produk tersebut dikonsumsi.

4. Strategi promosi

Suatu produk betapapun bermanfaatnya akan tetapi jika tidak dikenal oleh konsumen, maka produk tersebut tidak akan diketahui manfaatnya dan mungkin tidak dibeli oleh konsumen. Oleh karena itu, perusahaan harus

(8)

berusaha mempengaruhi para konsumen, untuk dapat menciptakan permintaan atas produk tersebut, dan kemudian dipelihara dan dikembangkan. Usaha tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan promosi. Kegiatan promosi yang dilakukan harus sejalan dengan rencana pemasaran secara keseluruhan.

Kegiatan promosi terdiri dari:

a. Advertensi, merupakan suatu bentuk penyajian dan promosi dari gagasan, barang dan jasa yang dibiayai oleh suatu sponsor tertentu yang bersifat non- personal. Media yang digunakan dalam advertensi adalah radio, televisi, majalah, surat kabar, dan billboard.

b. Personal selling, merupakan penyajian secara lisan dalam suatu pembicaraan dengan seseorang atau lebih calon pembeli dengan tujuan agar dapat terealisirnya penjualan.

c. Sales promotion, merupakan segala kegiatan pemasaran yang merangsang pembelian oleh konsumen dan keefektifan agen seperti pameran, pertunjukan, demonstrasi dan segala usaha penjualan yang tidak dilakukan secara teratur atau berkelanjutan.

d. Publicity, merupakan usaha untuk merangsang permintaan dari suatu produk secara non-personal dengan membuat berita yang bersifat komersial tentang produk tersebut di dalam media cetak atau tidak, maupun hasil wawancara yang disiarkan dalam media tersebut.

5. Strategi presentasi

Dalam presentasi tidak hanya menyangkut bangunan gedung, tata letak ruangan, dan dekorasi ruangan, tetapi juga termasuk segala macam usaha perusahaan untuk membuat suasana bisa sesuai dengan tema yang telah ditetapkan.

6. Strategi sumber daya manusia

Dalam industri jasa, orang memegang peranan penting, sebab proses konsumsi terjadi bersamaan dengan proses produksi. Terutama sumber daya manusia yang terlibat dengan konsumen sebenarnya merupakan bagian dari jasa yang dijual karena sumber daya manusia adalah mereka yang memproduksi jasa tersebut secara langsung.

(9)

7. Strategi proses

Proses merupakan langkah yang harus dilalui seseorang konsumen pada waktu menikmati suatu jasa, dimana jasa tersebut harus benar-benar diperhatikan. Dalam hal ini meliputi pelayanan atau servis, penyajian, rasa hidangan, dan suasana sekitar.

2.1.5. Analisa SWOT

Analisa strategi merupakan proses memilih strategi yang mencoba menetapkan macam tindakan alternatif yang terbaik bagi perusahaan dalam usaha mencapai misi dan sasaran perusahaan. Analisa SWOT mengembangkan empat tipe strategi, yaitu: kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman atau hambatan (threats). Strategi SO (strengths- opportunities) atau strategi kekuatan-peluang menggunakan faktor internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal. Strategi WO (weakness- threats) atau strategi kelemahan-peluang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi ST (strengths–threats) atau strategi kekuatan-ancaman menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Strategi WT (weakness–threats) atau strategi kelemahan-ancaman merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman lingkungan.

Untuk menyelaraskan strategi dan mengetahui strategi apa yang cocok bagi perusahaan, maka digunakan matriks SWOT. Ada delapan langkah yang diperlukan unruk menyusun matriks SWOT: (David, 2002)

1. Menuliskan kekuatan internal perusahaan.

2. Menuliskan kelemahan internal perusahaan.

3. Menuliskan peluang eksternal perusahaan.

4. Menuliskan ancaman eksternal perusahaan.

5. Mencocokkan kekuatan internal dengan peluang eksternal perusahaan dan mencatat hasil strategi SO.

6. Mencocokkan kelemahan internal dengan peluang eksternal perusahaan dan mencatat hasil strategi WO.

(10)

7. Mencocokkan kekuatan internal dengan ancaman eksternal perusahaan dan mencatat hasil strategi ST.

8. Mencocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal perusahaan dan mencatat hasil strategi WT.

FaktorInternal

Faktor Eksternal

Kekuatan (Strengths)

Kelemahan (Weakness)

Peluang (Opportunities)

Strategi SO Gunakan kekuatan untuk

memanfaatkan peluang

Strategi WO Atasi kelemahan dengan

memanfaatkan peluang

Ancaman (Threats)

Strategi ST Gunakan kekuatan untuk

menghindari ancaman

Strategi WT Meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Gambar 2.1. Analisa SWOT

2.1.6. Matriks Internal Eksternal (Matriks IE)

Matriks ini menempatkan bisnis dari suatu organisasi dalam sembilan sel yang mana hampir serupa dengan matriks BCG (Boston Consultative Groups) dalam arti keduanya menempatkan berbagai bisnis dalam diagram skematis.

Terdapat perbedaan antara matriks BCG dan matriks IE. Pertama, sumbunya berbeda dan disamping itu matriks IE lebih banyak memerlukan informasi mengenai bisnis dari pada matriks BCG. Kebiasaan praktis untuk mengembangkan matriks BCG dan matriks IE untuk masa kini dan kemudian mengembangkan matriks yang diproyeksikan yang mencerminkan harapan di

(11)

masa depan. Analisa sebelum dan sesudah meramalkan pengaruh keputusan strategis yang diharapkan pada portfolio divisi organisasi.

I II III

IV V VI

VII VIII IX

3,0 2,0 1,0

3,0

2,0

1,0 Tinggi 4,0 3,0-4,0

Sedang 2,0-2,99

Rendah 1,0-1,99

Kuat 3,0-4,0

Rata-rata 2,0-2,99

Lemah 1,0-1,99 TOTAL NILAI IFE YANG DIBERI BOBOT

TOTAL NILAI EFE YANG DIBERI BOBOT

Tumbuh dan bina

Pertahankan dan pelihara Panen atau divestasi

Gambar 2.2. Matriks IE

Matrik IE didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu total nilai IFE (Internal Factor Evaluation) yang diberi bobot pada sumbu x dan total nilai EFE (External Factor Evaluation) yang diberi bobot pada sumbu y. Setiap bisnis dari suatu organisasi harus menyusun matriks IFE dan matriks EFE untuk bagian operasi tersebut. Dari total nilai yang diberi bobot setiap bisnis matriks IE ditingkat korporasi dapat disusun. Di dalam matriks IE, pada sumbu x total nilai IFE diberi bobot 1,0 sampai 1,99 menunjukkan posisi internal yang lemah, pada bobot 2,0 sampai 2,99 dianggap sedang, dan bobot 3,0 sampai 4,0 adalah kuat. Demikian juga pada sumbu y total nilai EFE yang diberi bobot 1,0 sampai 1,99 dianggap rendah, bobot 2,0 sampai 2,99 sedang, dan bobot 3,0 sampai 4,0 adalah tinggi.

Matriks IE dibagi tiga bagian utama yang mempunyai dampak strategi berbeda.

Pertama, bisnis yang masuk dalam sel I, II, IV dapat disebut tumbuh dan bina, strategi intensif yaitu penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk, atau strategi integratif yaitu integrasi ke depan, integrasi ke belakang, dan

(12)

integrasi horisontal, mungkin paling tepat untuk bisnis ini. Kedua, bisnis yang masuk dalam sel III, V, VII dapat disebut pertahankan dan pelihara, penetrasi pasar dan pengembangan produk merupakan strategi yang terbanyak dilakukan.

Ketiga, bisnis yang masuk dalam sel VI, VIII, IX adalah panen atau divestasi.

(David, 2002)

Disebut sebagai strategi intensif karena semuanya memerlukan usaha intensif untuk memperbaiki posisi bersaing perusahaan dengan produk yang sudah ada, meliputi: (David, 2002)

1. Penetrasi pasar

Strategi penetrasi pasar berusaha meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa yang sudah ada di pasar lewat usaha pemasaran yang lebih gencar. Biasanya penetrasi pasar dicapai dengan menaikkan tingkat usaha pemasaran, termasuk menambah jumlah wiraniaga, menambah belanja iklan, menawarkan barang promosi penjualan ekstensif, atau menambah usaha publisitas, dan menurunkan harga.

2. Pengembangan pasar

Pengembangan pasar termasuk memperkenalkan produk atau jasa yang sudah ada ke wilayah geografi baru. Biasanya manajemen akan menggunakan strategi ini jika peningkatan penjualan susah untuk dicapai.

3. Pengembangan produk

Pengembangan produk adalah strategi yang mencari peningkatan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang sudah ada. Pengembangan produk biasanya memerlukan pengeluaran yang besar untuk penelitian dan pengembangan.

Strategi integratif dapat membuat perusahaan mengendalikan distributor, pemasok, dan pesaing. Strategi ini meliputi:

1. Integrasi ke depan

Integrasi ke depan termasuk memperoleh kepemilikan atau meningkatkan kendali pada distributor atau pengecer.

(13)

2. Integrasi ke belakang

Baik usaha manufaktur ataupun pengecer membeli material yang diperlukan dari pemasok. Integrasi ke belakang adalah strategi yang mencari kepemilikan atau kendali lebih besar pada perusahaan pemasok.

3. Integrasi horisontal

Integrasi horisontal merujuk pada strategi mencari kepemilikan dari kendali lebih besar atas perusahaan pesaing.

2.2. Hubungan Antar Konsep

Restoran adalah suatu usaha komersial yang menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman bagi masyarakat umum dan dikelolah secara profesional.

Dengan adanya berbagai jenis restoran berdasarkan kebutuhan masyarakat, yaitu kebutuhan sosial dan kebutuhan biologis, maka tidaklah mengherankan apabila terdapat berbagai jenis restoran yang berdiri dengan berbagai macam menu dan suasana yang ditawarkan. Munculnya restoran-restoran ini menyebabkan persaingan antar restoran menjadi semakin ketat. Masing-masing restoran berlomba-lomba meningkatkan usahanya dan pelayanannya untuk dapat menarik konsumen. Oleh karena itu para pengusaha restoran dituntun untuk merumuskan strategi bersaing yang dapat dijadikan senjata dalam perang persaingan restoran.

Tujuan dari strategi bersaing yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan adalah untuk mempertahankan posisi bersaing dalam industri tersebut, di mana perusahaan dapat melindungi diri sendiri dengan sebaik-baiknya terhadap tekanan persaingan. Strategi bersaing dapat diperoleh melalui strategi pemasaran yang baik, antara lain dengan memperhatikan keputusan produk, penetapan harga, penetapan saluran distribusi, promosi, presentasi, sumber daya manusia, dan proses. Sebelum merancang strategi bersaing yang akan dilakukan, seorang pengusaha harus tahu posisi bersaing perusahaannya. Untuk dapat mengetahui posisi bersaing perusahaan, dapat dilakukan dengan analisa SWOT yang merupakan analisa terhadap faktor internal perusahaan yaitu kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), serta faktor eksternal perusahaan, yaitu peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Analisa SWOT yang di dapat ini dapat digunakan dalam menganalisa matriks IE. Matriks IE dilakukan dengan cara

(14)

memberikan pembobotan dan penilaian pada tiap-tiap komponen yang terdapat dalam faktor internal dan faktor eksternal perusahaan. Dari hasil pemberian bobot dan nilai ini, maka akan menghasilkan titik koordinat untuk total nilai IFE dan total nilai EFE. Dengan total nilai IFE dan total nilai EFE inilah akan diketahui posisi bersaing perusahaan, yaitu dengan cara memasukkan titik koordinat total nilai IFE dan EFE ke dalam gambar matriks IE, maka akan terlihat posisi bersaing perusahaan saat itu. Terdapat 3 posisi bersaing, antara lain tumbuh dan bina, pertahankan dan pelihara, dan panen atau divestasi. Sehingga para pengusaha dapat dengan mudah merumuskan strategi bersaing yang akan digunakan dalam perang persaingan.

2.3. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.3. Kerangka Pemikiran Restoran Kayu Enam

Analisa SWOT

Strategi Bersaing Penentuan Posisi Bersaing

Matriks IE Total Nilai IFE / EFE Faktor Internal:

1. Kekuatan 2. Kelemahan

Faktor Eksternal:

1. Peluang 2. Ancaman

(15)

Tujuan dari didirikannya Restoran Kayu Enam adalah ingin menawarkan restoran yang menyajikan makanan tradisional yaitu menyajikan makanan khas Pulau Lombok. Selain menyajikan makanan khas Lombok, restoran ini juga menyuguhkan suasana khas yang santai dan nyaman dari pulau tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, di Surabaya mulai bermunculan restoran-restoran baru yang menyebabkan adanya persaingan antar restoran. Untuk bersaing dengan restoran lain, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui posisi bersaing Restoran Kayu Enam saat ini. Yaitu dengan cara melakukan analisa SWOT yang merupakan analisa terhadap faktor internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, dan faktor eksternal, yaitu peluang dan ancaman restoran. Kemudian masing-masing faktor internal dan faktor eksternal diberi bobot dan nilai yang akan menghasilkan total nilai evaluasi faktor internal dan total nilai evaluasi faktor eksternal. Dengan total nilai yang didapat dari evaluasi faktor internal dan eksternal, dapat digunakan di dalam matriks IE sehingga dapat diketahui posisi bersaing perusahaan saat itu, yaitu berada di posisi tumbuh-bina, pertahankan-pelihara, atau panen-divestasi. Dengan melihat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, peluang yang ada, ancaman yang mungkin akan dihadapi, dan posisi restoran saat ini, maka pemilik dari restoran tersebut dapat menyusun strategi bersaing yang sesuai dalam menghadapi restoran-restoran pesaingnya serta dapat menyusun rencana dalam menguasai pasar.

Referensi

Dokumen terkait

Store atmosphere bisa dipahami sebagai penataan ruang dalam (instore) dan ruang luar (outstore) yang dapat menciptakan kenyamanan bagi pelanggan (Sutisna, 2001,

Tujuan dari sebuah purchasing yang efektif mempunyai hubungan yang sangat erat dalam tujuan utama dari sebuah hotel atau usaha catering, yaitu supplier food and beverage

Konsumen yang mempunyai loyalitas yang tinggi dapat dilihat dari penggunaan layanan tertentu secara terus – menerus meskipun ada layanan pesaing yang ditawarkan dengan

Tujuan penelitian ini adalah membantu obyek penelitian dalam menetapkan strategi bersaing yang paling tepat bagi perusahaan agar tetap dapat bersaing dalam industri siaran radio. 1.4

Jika EXEN2 = 1, maka terjadi mode capture atau reload sebagai hasil dari transisi negatif pada T2EX (bila Timer 2 tidak digunakan sebagai clock pada serial port).. Jika EXEN2 =

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui strategi Keunggulan bersaing yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk lebih meningkatkan posisi perusahaan melalui

(2) Penyampaian bakal calon Kepala Sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a

Sedangkan dari hasil penelitian Francisco Soler, Jose M Gil, Mercedes Sanchez (2002) menyatakan ada 4 macam respon konsumen terhadap makanan organik, yang pertama mereka akan