• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TEORI PENUNJANG. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. TEORI PENUNJANG. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Nalar masing-Masing Konsep 2.1.1. Restoran

Menurut Sugiarto (1999, p. 77) “Restoran adalah suatu tempat yang identik dengan jajaran meja-meja yang tersusun rapi, dengan kehadiran orang, timbulnya aroma semerbak dari dapur dan pelayanan pramusaji, berdentingnya bunyi-bunyian kecil karena persentuhan gelas-gelas kaca, porselin, menyebabkan suasana hidup di dalamnya.” Pengertian restoran tersebut merupakan deskripsi dari sebuah suasana dalam sebuah restoran, dimana restoran pada dasarnya adalah suatu bentuk usaha dengan memberikan pelayanan makanan dan minuman dengan pelayanan dari seorang atau lebih pramusaji.

Bramastya (2002, p. 3) menyatakan: “Restoran adalah sebuah usaha manufaktur dan jasa dengan komoditas yang ditawarkan makanan dan minuman siap saji, usaha ini telah menerapkan konsep manajamen dengan membagi tugas berdasarkan spesialisasi masing-masing bagian. Selain itu, semua orang yang bekerja di situ dengan mengenakan seragam yang mengidentifikasikan restoran bersangkutan.” Pendapat tersebut merupakan pendapat yang menunjukkan bahwa restoran pada dasarnya adalah sebuah usaha jasa dan manufaktur dengan menekankan pada konsep pelayanan. Pendapat ini juga mampu membedakan antara restoran dan rumah makan, dimana restoran telah mengenal prinsip manajemen tidak seperti halnya rumah makan dengan penataan ruang yang lebih artistik.

Berdasarkan dua pendapat tersebut, pada dasarnya dapat dipahami bahwa

restoran adalah sebuah usaha yang menawarkan produk makanan dan minuman

siap saji dengan memberikan pelayanan yaitu pramusaji. Restoran ini telah

didesain dengan sebuah system sebagaimana layaknya sebuah usaha kontemporer

yaitu dengan menerapkan kosep manajemen yang terpadu.

(2)

2.1.2. Store atmosphere

Store atmosphere bisa dipahami sebagai penataan ruang dalam (instore) dan ruang luar (outstore) yang dapat menciptakan kenyamanan bagi pelanggan (Sutisna, 2001, p. 164). Desain instore maupun outstore restoran bisa diposisikan sebagai pembentuk diferensiasi pada restoran bersangkutan. Store atmosphere merupakan sebuah konsep yang dapat diterapkan tidak hanya untuk usaha store, namun juga usaha sejenis lainnya termasuk restoran. Antara store dan restoran mempunyai kesamaan karakteristik karena diantaranya sama-sama menjajakan produk, hanya saja spesifikasi produk yang dijajakan berbeda. Store hanya menjual produk-produk kemasan atau produk lain yang tidak untuk dikonsumsi oleh seseorang. Untuk itu strategi store atmosphere dapat digunakan sebagai acuan dari suatu restoran untuk memenangkan suatu persaingan dengan mendasarkan alasan bahwa kemenangan dari persaingan bermula dari hasrat dan keputusan konsumen untuk melakukan pembelian. Melalui pembenahan store atmosphere memungkinkan mampu memberikan daya tarik yang dapat memikat keputusan konsumen untuk melakukan pembelian. Cakupan strategi store atmosphere bisa dikelompokkan menjadi instore dan outstore (Sutisna, 2001, p.

163).

Menurut pendapat Sutisna (2001, p. 164) menyatakan bahwa “store atmosphere meliputi hal-hal yang bersifat luas seperti halnya tersedianya pengaturan udara (AC), tata ruang store, penggunaan warna cat, penggunaan jenis karpet, warna karpet, bahan-bahan rak penyimpanan barang, bentuk rak dan lain- lain.”

Berdasar pendapat Mowen sebagaimana dikutip oleh Sutisna (2001, p.

164) menyatakan bahwa “store atmosphere merupakan salah satu komponen dari citra store.” Berbagai faktor yang dikombinasikan untuk membentuk citra store tersebut menurut Mowen (1995, p. 44) adalah produk yang dijual (jenis dan merek), pelayanan store, pelanggan, store sebagai tempat untuk menikmati kesenangan hidup, aktivitas promosi store, dan store atmosphere.

Sebagaimana diungkapkan oleh Sutisna (2001, p. 164) menyatakan bahwa

“Store atmosphere mempengaruhi keadaan emosi pembeli yang menyebabkan

(3)

atau mempengaruhi pembelian. Keadaan emosional akan akan membuat dua perasaan yang dominan yaitu perasaan senang dan membangkitkan keinginan.”

Menurut Levi dan Weitz (2001, p.118), store atmosphere terdiri dari dua yaitu instore atmosphere dan outstore atmosphere.

(a) Instore atmosphere

Instore atmosphere adalah pengaturan-pengaturan di dalam ruangan yang menyangkut:

1) Layout internal merupakan pengaturan dari berbagai fasilitas dalam ruangan yang terdiri dari tata letak meja kursi pengunjung, tata letak meja kasir, dan tata letak lampu, pendingin ruangan, sound.

2) Suara merupakan keseluruhan alunan suara yang dihadirkan dalam raungan untuk menciptakan kesan rileks yang terdiri dari live music yang disajikan restoran dan alunan suara musik dari sound system

3) Bau merupakan aroma-aroma yang dihadirkan dalam ruangan untuk menciptakan selera makan yang timbul dari aroma makanan dan minuman dan aroma yang ditimbulkan oleh pewangi ruangan.

4) Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan untuk meja dan kursi dalam ruangan dan dinding ruangan.

5) Desain interior bangunan adalah penataan ruang-ruang dalam restoran kesesuaian meliputi kesesuaian luas ruang pengunjung dengan ruas jalan yang memberikan kenyamanan, desain bar counter, penataan meja, penataan lukisan-lukisan, dan sistem pencahayaan dalam ruangan.

(b) Outstore atmosphere

Outstore atmosphere adalah pengaturan-pengaturan di luar ruangan yang menyangkut:

1) Layout eksternal yaitu pengaturan tata letak berbagai fasilitas restoran di luar raungan yang meliputi tata letak parkir pengunjung, tata letak papan nama, dan lokasi yang strategis.

2) Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan

bangunan maupun fasilitas di luar ruangan yang meliputi tekstur dinding

bangunan luar ruangan dan tekstur papan nama luar ruangan.

(4)

3) Desain eksterior bangunan merupakan penataan ruang-ruang luar restoran meliputi desain papan nama luar rungan, penempatan pintu masuk, bentuk bangunan dilihat dari luar, dan sistem pencahayaan luar ruangan

Menurut Berman and Joel R. Ervans (1997, p. 362): “The creation of an image depends heavily on the atmosphere that the store develops. Atmosphere refers to the physical characteristics of the store that are used to develop an image and to draw customers. It is major component of image.” Penciptaan suatu citra untuk sebuah store tergantung pada penyesuaian kombinasi fisik yang mengarah pada kemampuan untuk mengembangkan nilai artistik dari lingkungan store sehingga mampu memicu daya tarik bagi konsumen.

Menurut Berman and Joel R. Ervans (1997, p. 362): “Atmosphere can be divided into several elements: exterior, general interior, store layout, and displays” Cakupan store atmosphere ini meliputi lingkungan eksternal, lingkungan internal, tata letak store, dan display dari sebuah store bersangkutan.

2.1.2.1. Pola Hubungan Antara Atmosfer, Tanggapan Emosional dan Perilaku Diantara ketiga variabel tersebut satu sama lainnya saling terkait dan saling mempengaruhi, adapun ilustrasi dari pola hubungan yang dimaksud disajikan dalam gambar 2.1. berikut:

Komponen

Atmosfer Komponen Tanggapan

Emosional Tipe-Tipe Perilaku

• Layout • Senang • Meningkatkan/menurunkan

waktu yang dikeluarkan dalam store

• Suara • Tidak senang • Kecenderungan untuk

menggabungkan diri dengan orang lain

• Bau • Membangkitkan / tidak

membangkitkan • Tindakan pembelian

• Tekstur

• Desain Bangunan

Gambar 2.1. Pola Hubungan Antara Atmosfer, Tanggapan Emosional dan Perilaku

Sumber: Sutisna, Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, Erlangga,

Jakarta, 2001, p. 163

(5)

2.1.2.2. Strategi Store atmosphere

Berdasar pendapat dari Rusdian (1999, p. 44) menyatakan bahwa strategi store atmosphere adalah “Suatu strategi dengan melibatkan berbagai atribut store untuk menarik keputusan pembelian konsumen.”

Dengan demikian strategi store atmosphere bisa dilakukan dengan pengaturan instore maupun outstore atmosphere pada store yang dimungkinkan mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen atas berbagai produk yang ditawarkan oleh store yang dimaksud.

2.1.3. Keputusan Pembelian Konsumen

Menurut Sutisna (2001, p. 10) bahwa pengambilan keputusan konsumen merupakan komponen sentral dari model perilaku konsumen, oleh karena itu sangat penting untuk memahami bagaimana proses pengambilan keputusan konsumen terkait keinginan untuk mengetahui kecenderungan perilaku konsumen.

Proses keputusan membeli seseorang dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan.

2.1.3.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian

Perilaku konsumen selalu berubah-ubah, hal tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu perusahaan harus selalu dapat mengikuti perubahan perilaku konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian supaya produk yang dihasilkan selalu dapat diterima oleh konsumennya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen itu meliputi faktor internal dan eksternal (Sutisna, 2001, p. 11):

a. Faktor-faktor internal

Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri individu yang mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap proses pengambilan keputusan individu. Pengaruh yang dimaksud adalah berkaitan dengan penilaian individu terhadap suatu alternatif produk yang ada yang mengarahkan seseorang untuk mengambil keputusan membeli suatu produk, meliputi:

a) Motivasi

Istilah internal berhubungan dengan rangsangan internal psikologis seseorang

(6)

memulai perilaku mereka, menurut Sciffman and Kanuk (1991, p. 69),

“motivation can be decribed as driving force within individuals that impels them to action”. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan penggerak dalam diri individu yan memaksanya untuk bertindak.

b) Persepsi

Istilah persepsi itu berkaitan dengan cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal, baik itu produk, iklan maupun lingkungan. Maka Winardi (1991, p. 123) mengatakan bahwa persepsi adalah: “Proses menafsirkan sensasi-sensasi dan memberikan arti pada stimuli”. Dari berbagai uraian diatas dapat dikatakan bahwa persepsi itu ada karena adanya suatu sensasi yang digunakan untuk memberikan arti pada stimuli.

c) Kepribadian

Definisi kepribadian menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1997, p. 367) adalah: “Respon yang konsisten terhadap stimuli lingkungan perilaku konsumen” Kepribadian itu juga didasarkan pada karakteristik psikologis yang agak langgeng dan kepribadian kadang dihubungkan dengan konsep diri yang ideal, yang diinginkan oleh individu didalam suatu lingkungan.

d) Belajar

Belajar terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Jadi, pernyataan “ lebih tua lebih bijak” memang mengandung kebenaran tertentu, karena orang-orang yang berusia lanjut, mendapatkan kesempatan belajar dari aneka macam pengalaman yang dialami mereka. Maka, Winardi (1991, p. 130), mengatakan bahwa belajar adalah: “Memperoleh dan memiliki sesuatu hal, yang sebelumnya belum kita miliki”.

e) Sikap

Sciffman and Kanuk (1991, p. 227),” an attitude is a learned persdipositition

to behave in a consistently favorable or unfavorable way with respect to a

given object”. Dari definisi diatas sikap adalah kecederungan untuk bertindak

dalam suatu maksud yang konsisten untuk menerima atau menolak suatu

obyek atau ide yang ditawarkan. Menurut Winardi (1991, p. 136) sikap

adalah: “Suatu predisposisi yang dipelajari untuk bereaksi dengan cara yang

positif atau positif secara konsisten sehubungan dengan obyek tertentu”. Sikap

(7)

itu berkaitan dengan perilaku, dalam arti sikap merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman belajar. Sehingga sikap merupakan keadaan yang berlangsung lama dan bukanlah keadaan yang bersifat sementara.

b. Faktor-faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu, yang sangat mempengaruhi perilaku seorang individu karena manusia tidak dapat berdiri sendiri, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga perilakunya juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Dengan adanya lingkungan yang berbeda-beda menyebabkan manusia memiliki pandangan, sikap dan kebutuhan yang berbeda-beda. Faktor-faktor eksternal itu terdiri dari:

a) Kebudayaan

Budaya melengkapi orang dengan rasa identitas dan pengertian budaya itu berkaitan dengan perilaku yang dapat diterima didalam masyarakat, sehingga, menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1997, p. 65), mengatakan bahwa:

“Kebudayaan itu mengacu pada seperangkat nilai, gagasan, artefak dan simbol bermakna lainnya yang membantu individu berkomunikasi, membuat taksiran dan melakukan evaluasi sebagai anggota masyarakat”. Budaya itu tidak mencakupi naluri dan tidak pula mencakup perilaku idionsinkratik yang terjadi sebagai pemecahan sekali saja untuk suatu masalah yang unik.

b) Kelas Sosial

Kelas sosial berkaitan dengan kelompok status yang mencerminkan suatu harapan komunitas akan gaya hidup dikalangan masing-masing kelas dan juga estimasi sosial yang positif atau negatif mengenai kehormatan yang diberikan kepada masing-masing kelas, jadi menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1997, p. 121), kelas sosial itu mengacu pada: “Pengelompokan orang yang sama dalam perilaku mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka dipasar”.

c) Keluarga.

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1997, p. 94), definisi keluarga

adalah: “Kelompok yang terdiri dari dua atau lebih orang yang berhubungan

melalui darah, perkawinan atau adopsi dan tinggal bersama”. Dari definisi

diatas dapat dikatakan bahwa keluarga itu terdiri dari keluarga inti, merupakan

(8)

sedangkan keluarga besar merupakan keluarga inti ditambah keluarga- keluarga yang lain seperti nenek, kakek, paman dan bibi.

d) Proses

Winardi (1991, p. 51), menyatakan perilaku konsumen sebagai suatu proses merupakan: “Perencanaan, pembelian dan mengkonsumsi produk-produk”.

Jadi membeli merupakan kegiatan tertentu dari proses tersebut.

2.1.3.2. Proses Keputusan Pembelian Konsumen

Proses keputusan membeli bukan sekedar didasarkan pada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pembeli, melainkan didasarkan pada peranan dalam pembelian dan keputusan untuk membeli. Menurut Assael (1992, p. 16), dalam mengambil keputusan membeli seseorang harus dapat memainkan lima peranan, yaitu:

1) Initiator yaitu individu yang mempunyai wewenang atau inisiatif pembelian obyek tertentu atau mempunyai wewenang untuk melakukan dan memutuskan sendiri.

2) Influencer yaitu individu yang memutuskan untuk membeli baik sengaja atau tidak sengaja.

3) Decider yaitu individu yang memutuskan membeli atau tidak membeli, apa yang akan dibeli, bagaimana cara membeli, kapan dan dimana membelinya.

4) Buyer individu yang timbul untuk melaksanakan transaksi pembelian sesungguhnya.

5) User individu yang menggunakan produk jasa yang dibeli.

Diantara berbagai peranan yang dimainkan tersebut terkait erat dengan

perilaku konsumen itu sendiri. Adapun proses pengambilan keputusan untuk

membeli pada setiap orang sama, hanya seluruh proses tersebut tidak selalu

dipaksakan oleh setiap orang. Hal ini penting yang berkaitan dengan model

prilaku konsumen adalah proses keputusan membeli karena kegiatan membeli

yang nampak satu kali merupakan salah satu tahap dari seperangkat tahap dalam

proses keputusan membeli.

(9)

2.2. Hubungan Antar Konsep

Hubungan antar konsep ini merangkaian teori-teori yang menyatakan hubungan antara restoran, store atmosphere, dan keputusan pembelian.

Menurut Bramastya (2002, p. 3) menyatakan: “Restoran adalah sebuah usaha manufaktur dan jasa dengan komoditas yang ditawarkan makanan dan minuman siap saji, usaha ini telah menerapkan konsep manajamen dengan membagi tugas berdasarkan spesialisasi masing-masing bagian. Selain itu, semua orang yang bekerja di situ dengan mengenakan seragam yang mengidentifikasikan restoran bersangkutan.” Sedangkan pengertian mengenai store atmosphere adalah sebagai bentuk penataan ruang dalam (instore) dan ruang luar (outstore) yang dapat menciptakan kenyamanan bagi pelanggan (Sutisna, 2001, p. 164).

Sedangkan keputusan pembelian adalah realisasi keinginan konsumen untuk memiliki sebuah produk untuk dikonsumsi.

Berdasarkan pendapat tersebut, bisa dipahami bahwa terdapat hubungan antara restoran dengan store atmosphere dan keputusan pembelian karena store atmosphere mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Untuk itu, dipahami bahwa antara konsep restoran, store atmosphere, dan keputusan pembelian konsumen saling berkorelasi karena diantara setiap variabel ini saling mempengaruhi hingga mampu membentuk sebuah keputusan pembelian konsumen.

2.3. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dari penelitian ini dapat diilustrasikan dalam gambar

berikut:

(10)

Resto Nine

Store atmosphere

Instore atmosphere:

- Layout internal - Suara - Bau - Tekstur

- Desain interior bangunan

Outstore atmosphere:

- Layout eksternal - Suara

- Desain eksterior bangunan

Keputusan pembelian konsumen

Gambar 2.2. Kerangka Berpikir.

Keterangan:

→ = menunjukkan dipengaruhi atau mempengaruhi.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, dipahami bahwa instore dan outstore atmosphere mempengaruhi terhadap keputusan pembelian konsumen (Sutisna, 2001, p.164). Namun besarnya pengaruh untuk tiap konsumen atas instore maupun outstore atmosphere dimungkinkan berbeda Untuk itu, dalam penelitian ini ingin dikupas mengenai pengaruh antara instore atmosphere dan outstore atmosphere terhadap keputusan pembelian konsumen pada Resto Nine Surabaya.

2.4. Hipotesa

1. Diduga instore dan outstore secara bersamaan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen pada Resto Nine Surabaya.

2. Diduga instore dan outstore secara parsial mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada Resto Nine Surabaya.

3. Diduga instore berpengaruh lebih dominan daripada outstore dalam keputusan

pembelian konsumen pada Resto Nine Surabaya.

Gambar

Gambar 2.1.  Pola Hubungan Antara Atmosfer, Tanggapan Emosional dan Perilaku
Gambar 2.2. Kerangka Berpikir.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun beberapa persyaratan dalam persiapan makanan, yaitu (Departemen Kesehatan Indonesia, 2001, p. Memperhatikan peralatan yang akan dipakai untuk memasak. Seperti

Tujuan dari sebuah purchasing yang efektif mempunyai hubungan yang sangat erat dalam tujuan utama dari sebuah hotel atau usaha catering, yaitu supplier food and beverage

Konsumen yang mempunyai loyalitas yang tinggi dapat dilihat dari penggunaan layanan tertentu secara terus – menerus meskipun ada layanan pesaing yang ditawarkan dengan

Untuk menarik sasaran mereka, maka pihak restoran harus mengambil beberapa keputusan penting yang berkaitan dengan menu, harga, kualitas makanan, service, dan suasana.. Keputusan

Sedangkan dari hasil penelitian Francisco Soler, Jose M Gil, Mercedes Sanchez (2002) menyatakan ada 4 macam respon konsumen terhadap makanan organik, yang pertama mereka akan

Menurut The American Marketing Association, green marketing adalah usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk memproduksi, mempromosikan, memberi kemasan dan memperbarui produk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh Store Atmosphere yang terdiri dari Instore dan Outstore baik secara parsial maupun simultan terhadap

Dari ide ini cara tersebut dapat digunakan pada pengenalan pada wajah, dimana pada proses pengenalan, setelah dilakukan pengenalan pada objek tertentu (dalam hal ini adalah