PENGARUH LA
BROTOWALI (
T
ANALGESIK
Di Mem
LAMA PRAPERLAKUAN INFUSA
Tinospora crispa
(L) Miers.) TERHA
IK PARASETAMOL PADA MENCIT
GALUR SWISS
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Belyana Maria Sidebang
NIM : 078114099
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2011
SA BATANG
HADAP DAYA
Di Mem
i
GALUR SWISS
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Belyana Maria Sidebang
NIM : 078114099
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
”
IA MEMBUAT SEGALA SESUATU
INDAH PADA WAKTUNYA”
(Pengkhotbah 3:11)
Kupersembahkan skripsi ini untuk
Tuhan Yesus dan Bunda Maria, bunda pelindungku
Keluarga tercinta atas semangat, kasih sayang dan cinta
Semua sahabatku
vii
Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas
berkat, kasih dan penyertaan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan penyusunan skripsi berjudul “Pengaruh Lama Praperlakuan Infusa
Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers.) terhadap Daya Analgesik
Parasetamol pada Mencit Betina Galur Swiss”. Skripsi ini merupakan salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi, Universitas,
Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dosen Pembimbing atas
semangat, bimbingan, pengarahan dan dukungan selama penelitian sampai
penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dosen Penguji yang telah
memberikan saran dan kritik hingga skripsi ini tersusun.
4. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M. Si., selaku Dosen Penguji yang telah
memberikan saran dan kritik hingga skripsi ini tersusun.
5. Mama dan Bapak tercinta atas seluruh kasih sayang, doa, dukungan moral
maupun finansial, nasihat, semangat, dan perhatiannya selama ini.
6. Adik-adik penulis tersayang, Flori, Ucok, Elda, Ester, dan Jonathan. Semoga
penulis bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian.
7. Seseorang yang telah sabar, setia, dan selalu memberikan semangat dan
viii
9. Teman-teman penelitian, Nani dan Ivone. Teman kelas penulis semenjak
semester 1 dan teman kos selama empat tahun ini. Kalian adalah sahabat yang
berharga. Terima kasih buat dukungan dan bantuannya selama ini.
10. Sahabat-sahabat penulis, Bebhe (Mince), Ama, Mayan, Rani, Itha, Ridho,
Febri, dan Marvel. Terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini.
11. Teman-teman FKK B 2007. Terima kasih buat tawa dan tangis yang pernah
kita lalui bersama. Kenangan bersama kalian takkan terlupa.
12. Kakak-kakak beserta teman-teman doa dan pelayanan di Komunitas San’t
Egidio, yang mengajarkan banyak hal. Terima kasih buat dukungannya.
13. Bapak dan Ibu “Kos Pelangi” yang seperti orang tua penulis di kota
Yogyakarta ini. Terima kasih buat bantuan dan nasihatnya selama ini.
Penulis menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun demi
kemajuan di masa mendatang. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, Juni 2011
ix
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PRAKATA... vii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
INTISARI... xviii
ABSTRACT... xix
BAB I PENGANTAR ... 1
A. Latar Belakang ... 1
1. Permasalahan... 3
2. Keaslian penelitian ... 3
3. Manfaat penelitian... 4
B. Tujuan Penelitian ... 4
1. Tujuan umum ... 4
2. Tujuan khusus ... 4
BAB II PENELAAHAN PUSTAKA... 5
A. Interaksi Obat ... 5
x
B. Nyeri... 9
1. Pengertian nyeri ... 9
2. Jenis nyeri ... 9
3. Mekanisme nyeri ... 10
C. Analgesik ... 13
1. Analgesik non-narkotik... 13
2. Analgesik narkotik ... 14
D. Parasetamol ... 16
1. Farmakokinetik ... 16
2. Indikasi ... 16
3. Efek-efek yang tidak diinginkan ... 17
4. Dosis... 17
E. Brotowali... 17
1. Keterangan botani ... 17
2. Morfologi ... 17
3. Kandungan kimiawi ... 18
4. Apigenin... 18
5. Khasiat dan manfaat ... 19
6. Kontraindikasi ... 19
7. Toksikologi ... 19
F. Metode Uji Daya Analgesik... 19
1. Golongan analgesik narkotika... 20
2. Golongan analgesik non-narkotik ... 22
xi
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 25
B. Variabel dan Definisi Operasional ... 25
1. Variabel bebas ... 25
2. Variabel tergantung... 25
3. Variabel pengacau ... 25
4. Definisi Operasional ... 26
C. Bahan atau Materi Penelitian ... 27
1. Bahan utama... 26
2. Bahan kimia ... 27
D. Alat atau Instrumen Penelitian ... 27
E. Tata Cara Penelitian ... 28
1. Pengumpulan bahan ... 28
2. Pembuatan simplisia batang brotowali... 28
3. Pembuatan infusa batang brotowali ... 30
4. Penetapan dosis infusa batang brotowali ... 30
5. Pembuatan larutan asam asetat 1% ... ….29
6. Pembuatan larutan CMC Na 1% ... 29
7. Pembuatan suspensi parasetamol dalam larutan CMC Na 1% ... 29
8. Pemilihan kontrol negatif... 30
9. Penetapan dosis asam asetat... 30
10. Penetapan dosis parasetamol... 30
11. Penetapan selang waktu pemberian asam asetat ... 31
12. Pemilihan hewan uji... 31
xii
F. Analisis Hasil ... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Pembuatan Simplisia Batang Brotowali... 34
B. Pembuatan Infusa Batang Brotowali... 34
C. Penentuan Kriteria Geliat ... 35
D. Penetapan Dosis Asam Asetat... 35
E. Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat ... 37
F. Penetapan Dosis Parasetamol... 39
G. Uji Praperlakuan Infusa Batang Brotowali terhadap Daya Analgesik Parasetamol ... 41
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 51
A. Kesimpulan ... 51
B. Saran... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
LAMPIRAN... 55
xiii
Tabel I. Hasil pembuatan infusa batang brotowali... 35
Tabel II. Rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit pada penentuan dosis asam
asetat ... 36
Tabel III. Hasil uji Scheffedata geliat mencit pada uji pendahuluan penetapan
dosis asam asetat... 37
Tabel IV. Rata-rata jumlah geliat pada berbagai selang waktu pemberian asam
asetat 50 mg/kgBB ... 38
Tabel V. Hasil uji Scheffe jumlah geliat untuk penetapan selang waktu
pemberian asam asetat ... 39
Tabel VI. Hasil uji daya analgesik pada penentuan dosis parasetamol untuk
mencit ... 40
Tabel VII. Hasil ujiScheffepenentuan dosis parasetamol... 40
Tabel VIII. Rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit pada semua kelompok
perlakuan, % proteksi nyeri, dan perubahan % proteksi terhadap
mencit betina... 42
Tabel IX. Hasil uji Scheffe % proteksi nyeri pada semua kelompok
xiv
Halaman
Gambar 1. Penggolongan interaksi obat berdasar perubahan efek ... 7
Gambar 2. Proses pembentukan eicosanoid dari asam arakhidonat melalui jalur siklooksigenase dan lipooksigenase... 12
Gambar 3. Penghambatan sintesiseicosanoidoleh analgesik ... 15
Gambar 4. Struktur parasetamol ... 16
Gambar 5. Struktur apigenin ... 18
Gambar 6. Skema kerja penelitian proteksi nyeri ... 32
Gambar 7. Diagram batang rata-rata jumlah geliat untuk penentuan dosis asam asetat... 36
Gambar 8. Grafik menit untuk pemberian asam asetat vs rata-rata jumlah geliat ... 38
Gambar 9. Histogram untuk penentuan dosis parasetamol ... 40
Gambar 10. Histogram % proteksi nyeri semua kelompok perlakuan... 43
Gambar 11. Batang brotowali segar... 59
Gambar 12. Serbuk batang brotowali... 59
Gambar 13.Heaterdan panci infusa... 59
Gambar 14. Infusa batang brotowali dalam labu ukur dan gelas beker ... 59
Gambar 15. Timbangan elektrik ... 60
Gambar 16. Kotak kaca tempat pengamatan... 60
Gambar 17. Lemari pengeringan... 60
Gambar 18. Mesin penyerbuk ... 60
Gambar 19. Mencit yang dipuasakan... 61
xvi
Lampiran 1. Surat keterangan simplisia batang brotowali dari “Merapi
Farma Herbal”……….. 57
Lampiran 2. Surat keterangan penyerbukan batang brotowali dari LPPT
UGM……… 58
Lampiran 3. Batang brotowali segar, serbuk batang brotowali, alat
pembuat infusa, dan hasil pembuatan infusa batang
brotowali………...……… 59
Lampiran 4. Timbangan elektrik, box pengamatan, lemari pengeringan,
dan mesin penyerbuk……….……... 60
Lampiran 5. Mencit yang dipuasakan, mencit yang telah dikelompokkan,
dan kriteria geliat mencit……… 61
Lampiran 6 Hasil analisis statistik jumlah geliat pada penetapan dosis
asam asetat……… 62
Lampiran 7. Hasil analisis statistik jumlah geliat pada penetapan selang
waktu pemberian………. 63
Lampiran 8. Hasil analisis statistik jumlah geliat penetapan dosis
parasetamol……… 65
Lampiran 9. Hasil analisis statistik jumlah geliat pada uji praperlakuan
infusa batang brotowali terhadap daya analgesik
parasetamol…………... 67
Lampiran 10. Analisis % proteksi geliat pada uji praperlakuan infusa
xvii
xviii
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya analgesik parasetamol akibat praperlakuan infusa batang brotowali (Tinospora crispa (L) Miers.) pada mencit betina menggunakan metode rangsang kimia.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni rancangan acak lengkap pola searah. Mencit dibagi dalam 10 kelompok secara acak. Kelompok I sebagai kontrol negatif menggunakan aquadest 0,5 ml. Kelompok II sebagai kontrol positif menggunakan parasetamol 91 mg/kgBB. Kelompok III-VI sebagai kelompok kontrol perlakuan yang diberi infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama hari ke 1, 3, 5, dan 7. Kelompok VII-X sebagai kelompok interaksi infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama hari ke 1, 3, 5, dan 7 dan parasetamol dosis 91 mg/kgBB. Rangsang asam asetat diberikan secara intraperitonial kemudian geliat mencit diamati dan dicatat dalam waktu 5 menit selama 60 menit. Jumlah geliat digunakan untuk menghitung % proteksi menurut persamaan Hendershot-Forsaith. Distribusi data dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dilanjutkan ANOVA satu arah dan ujiScheffedengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praperlakuan infusa batang brotowali pada hari ke-7 dapat mempengaruhi daya analgesik parasetamol berupa peningkatan daya analgesik parasetamol. Nilai % proteksi kelompok III-X berturut-turut adalah 64,2; 56,9; 61,8; 64,2; 63,4; 62,6; 62,6; dan 84,5%.
xix
paracetamol as result of the pretreatment of brotowali stem infusion into female mice using chemical stimulation method.
This research was a pure experimental reserach of a complete random design of one-way pattern. The mice were divided randomly into 10 groups. Group 1, as the negative control group, used 0,5 ml of aquadest. Group 2, as the positive control group, used 91 mg/kgBW of paracetamol. Group 3-6, as the treatment control groups, were given the infusion of brotowali stem with the dose of 2,400 mg/kgBW during 1st, 3rd, 5th, and 7thday. Groups 7-10, as the interaction of brotowali stem infusion were given the infusion of brotowali stem with the dose 2,400 mg/kgBW during 1st, 3rd, 5th, and 7th day and paracetamol with the dose of 91 mg/kgBW. The acetic acid stimulation was given intraperitoneally. Then the mice’s stretch was observed and recorded in 5 minutes for 60 minutes. The number of stretches was used to calculate the protection percentage according Hendershot-Forsaith equation. The data distribution was analyzed using Kolmogorov-Smirnov test, followed by the one-way ANOVA and Scheffe test with a 95% trust level.
The result of the research showed that the pretreatment of the infusion of brotowali stem on 7th day could increase the analgesic potency of paracetamol. The protection percentage of groups 3-10 were 64.2; 56.9; 61.8; 64.2; 63.4; 62.6; 62.6; and 84.5% respectively.
1 BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang
Nyeri merupakan suatu keadaan yang tidak nyaman dan menyiksa bagi
penderitanya. Namun terkadang nyeri dapat digunakan sebagai tanda adanya
kerusakan jaringan. Tumbuhan telah banyak digunakan sejak lama untuk
obat-obatan dalam penyembuhan berbagai penyakit. Negara seperti Cina, Mesir, dan
India kaya akan pengetahuan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan.
Penyelidikan farmakologi terhadap tumbuhan menunjukkan berbagai aktivitas,
seperti analgesik, antihipertensi, antipiretik, kardiovaskular, dan efek terhadap
sistem saraf pusat. Contoh tumbuhan yang biasa dimanfaatkan untuk mengatasi
rasa nyeri adalah brotowali.
Brotowali (Tinospora crispa(L) Miers.) merupakan salah satu dari sekian
banyak tumbuhan Indonesia yang berkhasiat obat. Alasan digunakan batang
brotowali adalah karena secara turun-temurun, brotowali sudah banyak dijadikan
obat demam, sakit perut, sakit punggung, sakit pinggang, serta gatal-gatal yang
sulit disembuhkan. Pada awal abad ke-20, diketahui bahwa ekstrak brotowali,
terutama bagian batangnya, mengandung suatu senyawa kimia yang berkhasiat
menurunkan kadar gula darah. Sejak saat itu, brotowali semakin banyak dicari
orang (Kresnady dan Tim Lentera, 2003).
Handara (2006) memastikan infusa batang brotowali memiliki efek
diperoleh dari infusa batang brotowali pada dosis 300; 600; 900; 1.200; dan 2.400
adalah 26,25%; 39,92%; 48,44%; dan 54,40%.
Menurut review dari Dweck dan Cavin (2006), secara tradisional,
brotowali digunakan untuk mengencangkan kulit. Selain itu, banyak digunakan
untuk antiinflamasi, diuretik, mengatasi kolera dan gigitan ular. Infusa dari batang
brotowali digunakan untuk sebagaivermifugeatau untuk mengatasi cacing parasit
terutama di usus. Di Indonesia, infusa batang brotowali dimanfaatkan untuk
mengatasi demam dan malaria.
Parasetamol termasuk salah satu obat analgesik yang banyak digunakan
pada nyeri ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, sakit gigi, otot, dan
lain-lain. Parasetamol termasuk analgesik golongan non-narkotik yang bekerja dengan
mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran karena
tidak mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP). Salah satu keunggulan dari
parasetamol adalah karena tidak menyebabkan ketergantungan (Tjay dan
Rahardja, 2002).
Salah satu bentuk obat tradisional yang digunakan sebagai terapi
pengobatan adalah infusa. Selain hanya mengkonsumsi infusa secara berkala
untuk pengobatan, ada juga sebagian masyarakat yang setelah mengkonsumsi
infusa secara berkala juga mengkonsumsi obat jadi. Penggunaan infusa dan obat
jadi dapat menimbulkan interaksi.
Interaksi dari obat yang diberikan bersamaan dapat menyebabkan efek
meningkat atau menurun (Webster, 2001). Interaksi obat tersebut dapat memberi
banyak diketahui, tetapi interaksi obat jadi dengan obat alam belum banyak
diketahui.
Dalam penelitian ini, penulis tertarik melakukan penelitian untuk melihat
pengaruh keberadaan infusa batang brotowali terhadap daya analgesik
parasetamol. Dipilih infusa batang brotowali dan parasetamol, karena keduanya
sering dikonsumsi oleh masyarakat dan mudah diperoleh.
1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka permasalahan yang
diteliti adalah:
a. Apakah praperlakuan infusa batang brotowali dapat mempengaruhi daya
analgesik parasetamol pada mencit betina galur Swiss?
b. Seberapa besar pengaruh praperlakuan infusa batang brotowali terhadap daya
analgesik parasetamol?
2. Keaslian penelitian
Sepanjang penelusuran yang dilakukan penulis, sudah cukup banyak
penelitian mengenai khasiat batang brotowali. Namun, penelitian tentang
pengaruh praperlakuan infusa batang brotowali terhadap daya analgesik
parasetamol pada mencit belum pernah dilakukan. Penelitian yang sudah pernah
dilakukan adalah efek analgesik infusa batang brotowali pada mencit putih betina
(Handara, 2006).
Kemudian, penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian dari
Ibrahim, I’zzah, Narimah, Asyikin, Shafinas dan Froemming (2011) adalah
Selanjutnya, Kadir, Othman, Abdulla, Hussan, dan Hassandarvish (2011)
melihat efek brotowali terhadap sirosis hati tikus yang diinduksi tioasetamid.
3. Manfaat penelitian
a. Manfaat teoritis. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk
perkembangan ilmu kefarmasian tentang infusa batang brotowali yang dapat
bermanfaat sebagai analgesik.
b. Manfaat praktis. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai pengaruh lama praperlakuan infusa batang brotowali dengan
parasetamol terkait interaksi yang terjadi.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh praperlakuan infusa batang brotowali
terhadap daya analgesik parasetamol.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui apakah praperlakuan infusa batang brotowali berpengaruh
terhadap daya analgesik parasetamol.
b. Untuk mengetahui seberapa besar perubahan daya analgesik parasetamol
5 BAB II
PENALAAHAN PUSTAKA
A. Interaksi Obat
1. Pendahuluan
Obat dapat memberikan efek farmakologi apabila obat mampu melewati
tiga tahap penting, yaitu tahap farmasetika, farmakokinetika dan
farmakodinamika. Tahap farmasetika bertugas menyediakan obat dalam bentuk
yang siap untuk diserap dari tempat penyerapan tertentu ke dalam peredaran
sistemik. Karena itu luarannya disebut ketersediaannya farmasetis. Dalam tahap
farmakokinetika, obat tersedia untuk bereaksi (ketersediaan hayati). Tahap
farmakodinamika mencakup kerja obat di tempat kerja bersangkutan, yang
luarannya berupa efek farmakologi yang diharapkan (Ariens dan Simonis 1992
cit.,Donatus, 1995).
Hasil bersihan dari ketiga proses tersebut berupa derajat farmakologi yang
meliputi awal kerja (onset), masa kerja (durasi), dan kekuatan (intensitas) efek.
Dengan begitu, faktor yang mempengaruhi salah satu atau keseluruhan fase-fase
tersebut, kemungkinan besar juga dapat mempengaruhi derajat efek farmakologi
atau toksikologi obat bersangkutan. Salah satu faktor tersebut adalah interaksi
Dapat dikatakan interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat
lainnya. Kerja obat yang diubah dapat menjadi lebih atau kurang aktif (Harkness,
1989).
Sementara itu, Donatus (1995), mengatakan ada 2 definisi interaksi obat
yang perlu ditelaah maknanya. Pertama, interaksi obat didefinisikan ketika efek
obat tertentu diubah oleh obat lain yang diberikan sebelum atau bersama-sama
dengannya. Kedua, berdasarkan mekanisme kerjanya, interaksi obat didefinisikan
sebagai peristiwa yang terjadi saat dua obat diberikan bersama-sama, saling
mempengaruhi proses farmakokinetika, dan atau farmakodinamika
masing-masing obat.
2. Ruang lingkup
Ada beberapa istilah yang dapat digunakan untuk menjelaskan obat, yakni:
homoergi (sepasang obat menimbulkan efek yang benar-benar sama), heteroergi
(sepasang obat hanya salah satu yang menimbulkan efek tertentu), homodinami
(sepasang obat homoergi dengan mekanisme kerja yang sama), dan heterodinami
(sepasang obat homoergi dengan mekanisme kerja yang berbeda) (Fingl dan
Woodbury, 1970; Martin, 1971cit., Donatus, 1995).
Berdasarkan sifat efek pasangan obat di atas, pada hakikatnya interaksi
obat dapat digolongkan menjadi interaksi homoergi-homodinami dengan luaran
atau akibat efek penambahan (infra, sederhana atau supra), serta
homoergi-heterodinami dan heteroergi dengan luaran efek penghambatan atau penguatan
(Donatus, 1995). Ringkasan penggolongan interaksi berdasarkan efek dapat
Gambar 1. Penggolongan interaksi obat berdasar perubahan efek (Donatus, 1995) EFEK
sama
Penambahan infra
(< penjumlahan sederhana/ sumasi)
Penambahan sederhana (= penjumlahan sederhana)
Penambahan supra
(> penjumlahan sederhana)
Interaksi obat selalu dikaitkan dengan mekanisme yang menyebabkan
interaksi tersebut terjadi. Mekanisme-mekanisme tersebut secara garis besar
dikelompokkan dalam dua bagian meliputi mekanisme interaksi pada tahap
farmakokinetik dan farmakodinamik (Walker dan Edwards, 1999).
a. Interaksi farmakokinetik; merupakan interaksi yang dapat terjadi melalui suatu
mekanisme dengan jalan suatu obat mengubah absorpsi, distribusi,
metabolisme atau eliminasi obat lain (Walker dan Edwards, 1999). Hal ini
dapat membuat kadar plasma obat lain atau obat kedua tersebut meningkat
atau menurun. Akibatnya, terjadi peningkatan toksisitas atau penurunan
efektivitas obat tersebut (Setiawati, 1999).
b. Interaksi farmakodinamik; merupakan interaksi antara obat yang bekerja pada
sistem reseptor tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi
efek aditif, sinergistik, atau antagonistik (Setiawati, 1999).
3. Sifat
Pada dasarnya interaksi obat dapat bersifat merugikan atau
menguntungkan. Dikatakan menguntungkan apabila akibat yang ditimbulkan
mampu memperbaiki terapi yang berupa batas aman yang lebih besar, awal kerja
atau masa kerja yang lebih sesuai, ketoksikan berkurang dan potensi yang
bertambah besar dengan efek samping yang berkurang. Lalu, dikatakan merugikan
apabila efek obat pada penderita diperkuat atau dihambat oleh suatu antaraktan
(obat lain) sehingga respon yang diperoleh adalah tidak menguntungkan. Wujud
toksisitas secara nyata (Martin, 1971cit., Donatus, 1995; Ross dan Gilman, 1985
cit., Donatus, 1995).
B. Nyeri
1. Pengertian nyeri
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan suatu perasaan
yang subjektif dan ambang toleransinya berbeda-beda pada tiap individu. Ambang
nyeri didefinisikan sebagai tingkat atau lebel saat nyeri dirasakan pertama kali
atau intensitas rangsang yang terendah saat seseorang merasakan nyeri. Rasa nyeri
dalam kebanyakan hal merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat
bahaya tentang adanya gangguan pada jaringan, seperti peradangan, infeksi, dan
kejang otot (Tjay dan Rahardja, 2002).
Setelah penderita diterapi, rasa nyeri biasanya hilang. Tetapi, terakadang
rasa nyeri itu berlangsung selama minggu, bulan, atau bahkan tahunan. Kondisi
tersebut disebut nyeri kronis. Nyeri kronis disebabkan oleh penyebab yang
berkelanjutan, seperti kanker atau arthritis atau terkadang penyebabnya tidak
diketahui. Ada banyak cara untuk mengatasi nyeri. Pengobatan bervariasi
tergantyung pada penyebab rasa nyeri, seperti obat penghilang rasa nyeri,
akupuntur, dan operasi (Dugdale, 2009).
2. Jenis nyeri
DiPiro, Tabert, Yee, Matzke, Wells, dan Posey (2008) menggolongkan
a. Nyeri akut
Nyeri akut dapat menjadi proses peringatan fisiologis individu dari adanya
penyakit dan kondisi berbahaya. Secara umum nyeri akut terjadi akibat
pembedahan, penyakit akut, trauma, aktivitas dan prosedur medis.
b. Nyeri kronik
Pada kondisi normal, nyeri akut dapat menghilang dengan cepat karena
adanya proses penyembuhan dengan mengurangi produksi rangsangan nyeri.
Namun, dalam beberapa kasus, nyeri tetap terjadi selama berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun, yang mengarah ke keasaan nyeri kronis dengan karakteristik
berbeda dengan nyeri akut.
3. Mekanisme nyeri
Menurut DiPiro et al. (2008) proses penghantaran nyeri terdiri atas 4
tahap, yaitu stimulasi, transmisi, persepsi nyeri, dan modulasi.
a. Stimulasi
Sensasi nyeri diawali dengan pembebasan reseptor nyeri akibat adanya
rangsangan mekanis, panas, dan kimia. Adanya rangsangan tersebit (noxius
stimluli) akan menyebabkan lepasnya mediator-mediator seperti bradikinin, K+,
prostaglandin, histamin, leukotrien, serotonin, dan substansi P. Aktivasi reseptor
menimbulkan aksi potensial yang ditransmisikan sepanjang serabut saraf aferen
menuju sumsum tulag belakang (DiPiroet al., 2008).
b. Transmisi
melepaskan berbagai neurotransmitter termasuk glutamate, substansi P, dan
kalsitonin (DiPiroet al., 2008).
c. Perserpsi nyeri
Perserpsi nyeri merupakan titik utama transmisi impuls nyeri. Otak akan
mengartikan sinyal nyeri dengan batas tertentu, sedangkan fungsi kognitif dan
tingkah laku akan memodifikasi nyeri sehingga tidak lebih parah. Relaksasi,
pengalihan, meditasi, dan berkhayal dapat mengurangi rasa nyeri. Sebaliknya,
perubahan biokimia saraf yang terjadi pada keasaan seperti depresi dan stres dapat
memperparah rasa nyeri (DiPiroet al., 2008).
d. Modulasi
Modulasi nyeri melalui sejumlah proses yang kompleks. Telah diketahui
bahwa sistem opiat endogen terdiri atas neurotransmiter-neurotransmiter (seperti
enkhepalin, dinorfin, dan β-endorfin) dan reseptor-reseptor (seperti µ, δ, dan κ) yang ditemukan dalam sistem saraf pusat. Opioid endogen berikatan dengan
reseptor opioid dan mengantarkan transmisi rangsang nyeri (DiPiroet al., 2008).
Eicosanoid terlibat dalam mengatur proses fisiologi dan beberapa
diantaranya merupakan mediator yang sangat penting dalam menimbulkan nyeri.
Menurut Rang, Dale, Ritter, dan Flower (2007), eicosanoid yang pokok yaitu
prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. Sel yang mengalami kerusakan dapat
menstimulus pelepasan eicosanoid. Pembentukan eicosanoid dari asam
Gambar 2. Proses pembentukan eicosanoid dari asam arakhidonat melalui jalur siklooksigenase dan lipooksigenase (Rang dkk, 2007)
LTA4
LTB4(kemotaksin)
LTC4(bronkokonstriktor)
LTD4
LTE4
PGE2(vasodilator,
hiperalgesik) PGD2(menghambat
agregasi platelet, vasodilator) PGF2α(bronkokonstriksi,
kontraksi myometrial) 12-HETE
(kemotaksin)
Lipoksin A dan B Siklik endoperoksid
PG2(vasodilator, hiperalgesik,
menghambat agregasi platelet)
Tromboksan A2(trombotik,
vasokonstriktor)
5-HPETE Fosfolipid
Fosfolipase A2
Asam arakhidonat
12-Lipoksigenase
15-Lipoksigenase
Siklooksigenase
Asam arakhidonat dimetabolisme melalui beberapa jalur yaitu:
a) metabolisme oleh siklooksigenase (COX) yang terdiri dari dua bentuk
yaitu COX-1 dan COX-2. Enzim ini akan menginisiasi biosintesis
prostaglandin dan tromboksan.
b) metabolisme oleh lipoksigenase yang akan menginisiasi sintesis
leukotrien daneicosanoidlain (Rang dkk, 2007).
COX-1 diekspresikan terus-menerus dalam sebagian besar jaringan dan
dianggap melindungi mukosa lambung. COX-2 diekspresikan terus-menerus di
dalam otak dan ginjal serta diinduksi pada tempat yang mengalami inflamasi.
COX-1 terdapat dalam platelet, tetapi COX-2 tidak (Stringer, 2006).
C. Analgesik
Analgesik adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau
mengurangi rasa nyeri. Efek ini dapat dicapai melalui beberapa cara, seperti
menekan kepekaan reseptor terhadap rangsang nyeri mekanik, termik listrik, atau
kimiawi di pusat atau dengan cara menghambat pembentukan prostaglandin
sebagai mediator sensasi nyeri (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto
Medika, 1991).
Menurut Roach (2004), obat yang digunakan dalam mengatasi nyeri terdiri
dari dua kelompok yaitu analgesik non-narkotik dan analgesik narkotik.
1. Analgesik non-narkotik
Obat-obat ini meringankan rasa nyeri tanpa menurunkan kesadaran dan
Analgesik non-narkotik terdiri dari senyawa golongan salisilat, non-salisilat
(seperti asetaminofen) dan obat antiinflamasi non steroid. Obat ini digunakan
untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang (Roach, 2004).
2. Analgesik narkotik
Analgesik narkotik disebut juga opioid, yaitu zat yang bekerja pada
reseptor opioid khas di sistem saraf pusat, hingga persepsi nyeri dan respon
emosional terhadap nyeri berkurang (Tjay dan Rahardja, 2002).
Tjay dan Rahardja (2002) mengatakan bahwa rasa nyeri dapat dilawan
dengan (1) merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri
perifer oleh analgesik perifer atau anastetika lokal, (2) merintangi penyaluran
rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anastetika lokal,
(3) blokade dari pusat nyeri dalam sistem saraf sentral dengan analgesik
sentral (narkotika) atau dengan anastetika umum. Penghambatan sintesis
Gambar 3. Penghambatan sintesiseicosanoidoleh analgesik (Rang dkk, 2007)
LTA4
LTB4(kemotaksin)
LTC4(bronkokonstriktor)
LTD4
LTE4
PGE2(vasodilator,
hiperalgesik) PGD2(menghambat
agregasi platelet, vasodilator) PGF2α(bronkokonstriksi,
kontraksi myometrial) 12-HETE
(kemotaksin)
Lipoksin A dan B Siklik endoperoksid
PG2(vasodilator, hiperalgesik,
menghambat agregasi platelet)
Tromboksan A2(trombotik,
vasokonstriktor)
5-HPETE Fosfolipid
Fosfolipase A2
Asam arakidonat sintesis TXA2
Antagonis TXA2
D. Parasetamol
Parasetamol (Gambar 4) merupakan salah satu obat yang paling penting
untuk mengobati nyari ringan sampai sedang bilamana efek antiinflamasi tidak
diperlukan (Katzung, 2002). Parasetamol termasuk obat analgesik yaitu zat-zat
yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran
(perbedaan dengan anastetika umum) (Tjay dan Rahardja, 2002). Struktur
parasetamol tersaji pada gambar 4 berikut.
Gambar 6. Struktur parasetamol (Non-steroidal Anti-inflammatory Analgesic Drugs, 2006)
1. Farmakokinetik
Parasetamol diberikan per oral. Penyerapan dihubungkan dengan tingkat
pengosongan perut dan kadar puncak di darah biasanya terjadi dalam 30-60 menit.
Parasetamol sedikit terikat pada protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh
enzim mikrosomal hati serta diubah menjadi parasetamol sulfat dan parasetamol
glukoronida, yang secara farmakologi tidak aktif (Katzung, 2002).
2. Indikasi
Walaupun setara dengan aspirin sebagai analgesik dan antipiretik yang
efektif, parasetamol berbeda karena tidak adanya sifat antiinflamasi. Parasetamol
trombosit. Obat ini berguna bagi nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala
dan mialgia. Untuk analgesik ringan, parasetamol merupakan obat yang lebih
disukai pada pasien yang alergi aspirin atau jika salisilat tidak dapat ditoleransi
(Katzung, 2002).
3. Efek-efek yang tidak diinginkan
Dalam dosis terapi, sedikit peningkatan enzim-enzim hati kadang-kadang
bisa terjadi. Dengan dosis yang lebih besar, pusing-pusing, ketegangan dan
disorientasi bisa terlihat. Menelan 15 g parasetamol bisa fatal, kematian
disebabkan oleh hepatotoksisitas dengan nekrosis lobulus sentral. Parasetamol
harus digunakan hati-hati pada penderita sakit hati (Katzung, 2002).
4. Dosis
Nyeri akut dan demam dapat ditatalaksana dengan 325-500 mg empat kali
sehari dan secara proporsional dikurangi untuk anak-anak (Katzung, 2002).
E. Brotowali
1. Keterangan botani
Brotowali termasuk famili Menispermaceae, dikenal dengan nama daerah
antawali (Bali), putrawali, daun gadel (Jawa), dan andawali (Sunda) (AgroMedia
Pustaka, 2008).
2. Morfologi
Merupakan tanaman perdu yang merambat. Batang sebesar jari kelingking,
berbentuk seperti jantung atau hati, panjang 7-12 cm dan lebar 5-10 cm. Seluruh
bagian tanaman rasanya sangat pahit (Sastroamidjojo, 2001).
3. Kandungan kimiawi
Brotowali banyak mengandung senyawa kimia yang berkhasiat
menyembuhkan penyakit. Kandungan senyawa kimia berkhasiat obat tersebut
terdapat di seluruh bagian tanaman, dari akar, batang, sampai daun (Dewani dan
Sitanggang, 2006). Brotowali mengandung damar lunak, pati, glikosida
pikroretosid, zat pahit pikroretin, harsa, flavonoid, alkaloid berberin, dan palmitin.
Akar mengandung alkaloid berberin dan kolumbin (Dalimartha, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Handara (2006), dikatakan bahwa infusa
batang brotowali benar memiliki efek analgesik. Persen proteksi terhadap
rangsang kimia yang diberikan pada dosis 300; 600; 1.200; dan 2.400 mg/kg BB
yaitu sebesar 26,25; 39,92; 48,44; dan 54,40%.
4. Apigenin
Seperti yang telah disebutkan di atas, brotowali memiliki banyak
kandungan senyawa kimia. Senyawa yang terkandung di dalamnya yang memiliki
aktivitas analgesik adalah alkaloid dan flavonoid. Alkaloid dalam batang
brotowali yang telah teridentifikasi adalah tinospiridin dan tinosporin. Sementara
itu, ada beberapa flavonoid yang baru diisolasi dari batang brotowali, salah
satunya adalah apigenin (gambar 5).
5. Khasiat dan manfaat
Batang brotowali berkhasiat menghilangkan rasa sakit (analgesik),
menurunkan panas (antipiretik), dan merangsang nafsu makan. Daunnya dapat
digunakan sebagai pencahar, obat luka, dan antidiabetes (AgroMedia Pustaka,
2008).
Di Sabah (Kalimantan), masyarakat menggunakan brotowali untuk
kencing manis, darah tinggi, dan lumbago (nyeri tulang punggung) (Agoes, 2010).
6. Kontraindikasi
Dilarang penggunaannya untuk perempuan hamil dan menyusui (Agoes,
2010).
7. Toksikologi
Studi toksikologi akut ekstrak etanol pada mencit menunjukkan dosis oral
maksimal 4 g/kg BB (Agoes, 2010).
F. Metode Uji Daya Analgesik
Metode-metode pengujian aktivitas analgesik dilakukan dengan menilai
kemampuan zat uji untuk menekan atau menghilangkan rasa nyeri yang diinduksi
pada hewan percobaan. Secara umum, daya analgesik pada hewan dinilai dengan
menggunakan besarnya peningkatan stimulus nyeri yang harus diberikan sampai
ada respon nyeri atau juga persamaan frekuensi respon nyeri (Yayasan
Penggolongan metode pengujian daya analgesik berdasarkan jenis
analgesiknya menurut Turner (1965) adalah:
1. Golongan analgesik narkotika
a. Metode jepitan ekor. Sekelompok tikus diinjeksi dengan senyawa uji pada
dosis tertentu secara subkutan (s.c) maupun intravena (i.v) dan 30 menit
kemudian jepit dipasang pada pangkal ekor tikus yang dilapisi karet tipis
selama 30 detik. Tikus yang tidak diberi analgesik akan berusaha untuk
melepaskan diri dari kekangan karet dengan cara menggigiti jepitan, tetapi
tikus yang diberi analgesik akan mengabaikan kekangan tersebut (karena rasa
sakit tidak begitu dirasakannya). Respon positif adanya daya analgesik dapat
dicatat jika tidak ada usaha dari tikus untuk melepaskan diri dari jepitan
(selama 15 detik).
b. Metode pengukuran tekanan. Alat yang digunakan adalah sebuah alat untuk
mengukur tekanan yang diberikan pada tikus secara seragam. Alat tersebut
terdiri dari 2syringe yang dihubungkan ujung dengan ujungnya yang rata-rata
bersifat elasatis, fleksibel, dan terdapat pipa plastik yang diisi sebuah cairan.
Sisi pipa dihubungkan dengan manometer. Manometer akan membaca ketika
tikus memberikan respon. Respon tikus yang pertama adalah meronta-ronta
kemudian akan mengeluarkan suara (mencicit) kesakitan.
c. Metode rangsang panas. Alat yang digunakan adalah lempeng panas (hot
plate) yang terdiri dari silinder untuk mengendalikan. Hot plate bersuhu
sekitar 500-550C, dilengkapi dengan penangas yang berisi campuran sebanding
larutan secara subkutan atau peroral, diletakkan pada hot plate yang sudah
disiapkan. Reaksi tikus adalah menjilat-jilat kakinya lalu akan melompat dari
silinder. Hewan uji yang dibutuhkan tiap kelompok berjumlah 5 ekor.
d. Metode potensi petidin. Metode ini kurang baik karena dibutuhkan hewan uji
dalam jumlah besar untuk melakukan uji ini. Tiap kelompok tikus terdiri dari
20 ekor, setengah dari kelompok dibagi menjadi 3 bagian diberi petidin
dengan dosis berturut-turut 2, 4, dan 8 mg/kg. Setengah kelompok yang lain
diberi petidin dengan senyawa uji dengan dosis 25% dari LD50. Persen
analgetik dihitung dengan bantuan metode rangsang panas.
e. Metode antagonis nalorfin.Uji analgetika dengan metode ini dibuat untuk
menunjukkan aksi dari obat-obat seperti morfin. Hewan uji yang biasa
digunakan dalam metode ini adalah tikus, mencit, anjing. Hewan uji diberi
obat dengan dosis toksik kemudian segera diikuti pemberian nalorfin (0,5-10,0
mg/kgBB) secara intravena. Sebuah obat yaitu pirinitramid dapat
menyebabkan respon seperti hilangnya refleks yang benar pada refleks corneal
dan refleks bradipnea. Efek tersebut dapat dilawan dengan pemberian nolorfin
1,25 mg/kg BB yang disuntikkan secara intravena. Teori menyebutkan bahwa
nalorfin dapat menggantikan ikatan morfin dengan reseptornya. Peristiwa
tersebut menyebabkan ikatan antara morfin dengan reseptornya terlepas,
sehingga meniadakan efek morfin.
f. Metode kejang okstitosin. Oksitoksin adalah hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar pituitary posterior, dapat menyebabkan kontraksi uterin sehingga
sehingga menarik pinggang dan kaki ke belakang. Penurunan kejang diamati,
dan ED50dapat diperkirakan. Selain morfin senyawa analgesik yang bisa diuji
dengan metode ini adalah heroina, metadon, kodein, dan meperidina.
g. Metode pencelupan pada air panas. Tikus disuntik secara intraperitonial
dengan senyawa uji, kemudian ekor tikus dicelupkan dalam air panas (suhu
580C). Respon tikus dilihat dari hentakan ekornya yang menghindari air panas.
Munculnya reaksi yang khas yaitu sentakan ekor yang keras, dicatat
waktunya. Uji ini diulang kembali setiap 30 menit setelah 15 menit
penyuntikan. Jika mencit tetap tidak bereaksi dalam waktu 6 detik, mencit
diangkat dari penangas.
2. Golongan analgesik non-narkotika
a. Metode rangsang kimia. Dalam metode ini, rasa nyeri yang timbul berasal dari
rangsang kimia yang disebabkan oleh zat kimia yang diinjeksikan secara
intraperitonial pada hewan uji. Beberapa zat yang sering dipergunakan untuk
menimbulkan rasa nyeri dipakai dalam metode ini yaitu asam asetat dan fenil
kuionon. Metode ini cukup peka untuk pengujian senyawa-senyawa analgesik
yang mempunyai daya analgesik lemah. Metode ini telah sering digunakan
oleh banyak peneliti dan bisa direkomendasikan sebagai metode penapisan
sederhana (Vogel, 2002). Pemberian analgesik akan mengurangi rasa nyeri
atau menghilangkan rasa nyeri sehingga jumlah geliat yang terjadi berkurang
sampai tidak terjadi geliat sama sekali. Ini tergantung pada daya analgesik
senyawa yang digunakan. Efek analgesik dapat dievaluasi menggunakan
% proteksi = 100 – (P/K x 100%)
Keterangan:
P: Jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi perlakuan K: Jumlah kumulatif geliat mencit kontrol negatif
Jumlah mencit yang digunakan untuk satu kelompok adalah 6 ekor. Penetapan
daya analgesik dengan metode geliat dapat dilakukan dengan
bermacam-macam hewan uji diantaranya anjing, marmot, tikus, merpati, dan mencit.
Respon mencit yang bisa diamati adalah lompatan dan kontraksi perut dengan
disertai tarikan kaki ke belakang (rentangan) yang disebut geliat.
b. Metode pedodolorimeter. Metode ini menggunakan aliran listrik untuk
mengukur besarnya daya analgesik. Alas kandang tikus terbuat dari kepingan
metal yang bisa mengalirkan listrik. Tikus diletakkan pada kandang tersebut
kemudian dialiri aliran listrik. Respon ditandai dengan teriakan dari tikus
tersebut. Pengukuran ini dilakukan setiap 10 menit selama 1 jam.
c. Metode rektodolorimeter. Tikus diletakkan dalam sebuah kandang yang dibuat
khusus dengan alas tembaga yang dihubungkan dengan sebuah penginduksi
yang berupa gulungan. Ujing lain dari gulungan tersebut kemudian
dihubungkan dengan silinder elektroda tembaga. Sebuah voltmeter yang
sensitif untuk mengubah 0,1 volt dihubungkan dengan kondukutor yang
berada di gulungan di atas. Tegangan yang sering digunakan untuk
G. Landasan Teori
Brotowali mengandung damar lunak, pati, glikosida pikroretosid, zat pahit
pikroretin, harsa, flavonoid, alkaloid berberin, dan palmitin. Menurut Handara
(2006), melalui penelitiannya dengan menggunakan metode rangsang kimia, dosis
infusa batang brotowali sebanyak 2.400 mg/kg BB memiliki persen proteksi
54,40% pada mencit putih betina.
Parasetamol digunakan untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang.
Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat biosintetis prostaglandin.
Berdasarkan khasiat infusa batang brotowali sebagai analgesik dan juga
parasetamol yang berkhasiat sebagai analgesik, pemberian parasetamol yang
didahului dengan praperlakuan infusa batang brotowali kemungkinan dapat
menyebabkan interaksi, berupa meningkatnya daya analgesik.
H. Hipotesis
Praperlakuan infusa batang brotowali akan meningkatkan daya analgesik
25 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental murni dengan rancangan
acak lengkap pola searah.
B. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel bebas
Lama praperlakuan infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB.
2. Variabel tergantung
Jumlah geliat mencit.
3. Variabel pengacau
a. Variabel pengacau terkendali.
1) Hewan uji adalah mencit galur Swiss.
2) Jenis kelamin hewan uji adalah betina.
3) Umur hewan uji adalah 2-3 bulan.
4) Berat badan hewan uji adalah 20 sampai 30 gram.
5) Cara pemberian bahan uji, yaitu per oral.
6) Rangsang nyeri diberikan secara intraperitoneal.
7) Waktu penelitian antara jam 08.00-15.00 WIB.
9) Tempat pemanenan batang brotowali adalah di “Merapi Farma Herbal”,
Jalan Kaliurang km 21,5.
b. Variabel Pengacau Tak Terkendali.
1) Kekebalan tubuh hewan uji.
2) Status patologi hewan uji.
3) Diameter batang brotowali.
4. Definisi Operasional
a. Geliat adalah keadaan saat hewan uji merenggangkan kaki depan dan
belakangnya hingga batas maksimalnya sehingga tampak suatu gerakan.
b. Jumlah geliat adalah banyaknya geliat yang ditimbulkan oleh mencit akibat
induksi nyeri oleh rangsangan kimia selama 5 menit dalam waktu 60 menit.
c. Metode rangsang kimia adalah metode uji efek analgesik yang tidak spesifik,
bisa untuk menguji analgesik perifer tetapi analgesik pusat juga terlihat
efeknya. Efek tersebut dilihat dari banyak sedikitnya geliat. Semakin sedikit
geliat semakin baik efek analgesiknya.
d. Durasi pemberian: lama masa praperlakuan infusa batang brotowali yang
meliputi satu, tiga, lima, dan tujuh hari.
e. Daya analgesik: kemampuan mengurangi nyeri, digambarkan oleh % proteksi.
C. Bahan atau Materi Penelitian
1. Bahan utama
a. Infusa batang brotowali: merupakan bahan uji utama dalam penelitian ini.
infusa batang brotowali. Sediaan infusa dibuat baru setiap kali hendak
disuntikkan pada mencit.
b. Hewan uji: yang digunakan adalah mencit putih betina galur Swiss dengan
berat badan 20-30 gram dengan umur 2-3 bulan. Hewan uji diperoleh dari
Laboratorium Farmakalogi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta dan Lembaga Pusat Penelitian dan Teknologi (LPPT) Universitas
Gajah Mada Yogyakarta.
2. Bahan Kimia
a. Parasetamol: yang digunakan dalam penelitian ini adalah parasetamol kualitas
farmasetis.
b. CMC-Na; digunakan sebagai bahan pensuspensi parasetamol, juga sebagai
kontrol negatif.
c. Asam asetat; yang digunakan adalah asam asetat kualitas proanalisa produksi
Merck, digunakan sebagai senyawa penginduksi nyeri.
d. Aquadest; diperoleh dari Laboratorium Kimia Organik Fakultas Farmasi USD.
Digunakan sebagai pelarut untuk membuat infusa batang brotowali.
D. Alat atau Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Neraca analitik (merk Mettler-Toledo)
2. Timbangan elektrik (merk Adventurer-Pro)
3. Kotak kaca tempat pengamatan geliat
5. Spuit untuk pemberian oral dengan ujung bulat
6. Spuit injeksi untuk pemberian secara intraperitoneal dengan ujung runcing (merk
Terumo)
7. Mesin penyerbuk (produksi dalam negri, milik LPPT UGM)
8. Lemari untuk pengeringan (produksi dalam negri, milik LPPT UGM)
9. Alat-alat gelas (beaker glass, gelas ukur dan labu ukur merk Pyrex)
10. Alat-alat pembuat infusa (heater, panci lapis alumunium, pengaduk, termometer,
corong, kain flanel)
E. Tata Cara Penelitian
1. Pengumpulan bahan
Batang brotowali yang digunakan berasal dari tanaman siap panen di
“Merapi Farma Herbal” yang bertempat di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Batang
brotowali segar berwarna coklat tua. Pemanenan dilakukan bulan Februari 2011.
2. Pembuatan simplisia batang brotowali
Batang yang akan digunakan dibersihkan dengan cara dicuci di air
mengalir, ditiriskan dan dipotong kecil-kecil. Potongan batang brotowali tersebut
dikeringkan dengan suhu ±450C selama 3 hari lalu diserbuk menggunakan mesin
penyerbuk. Serbuk dimasukkan di dalam kemasan plastik tertutup agar selama
penyimpanan tidak tercemar lingkungan sekitar, seperti oleh polusi dan mikroba.
Selain itu, kondisi penyimpanan adalah di tempat yang kering, untuk mencegah
berlebihan. Pembuatan simplisia batang brotowali dilakukan di LPPT UGM
Yogyakarta.
3. Pembuatan infusa batang brotowali
Sediaan infusa batang brotowali dibuat berdasarkan DepKes RI (1995),
yaitu 10 gram simplisia kering ditambah 100 ml air dalam panci dipanaskan
selama 15 menit terhitung mulai suhu 900C sambil sesekali diaduk. Lalu diserkai
menggunakan kain flannel selagi panas hingga diperoleh volume infusa 100 ml.
4. Penetapan dosis infusa batang brotowali
Dosis yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2.400 mg/kgBB.
Penentuan dosis ini berdasarkan penelitian sebelumnya (Handara, 2006).
5. Pembuatan larutan asam asetat 1%
Pembuatan larutan asam asetat 1% dari larutan asam asetat pekat 100%
menggunakan rumus volume1 x konsentrasi1 = volume2 x konsentrasi2. Dengan
rumus ini, larutan asam asetat 1% dibuat dengan mengambil asam asetat 100%
sebanyak 0,25 ml menggunakan aquadest sampai diperoleh volume 25,0 ml.
6. Pembuatan larutan CMC Na 1%
Serbuk CMC Na ditimbang seksama sebanyak 250,0 mg kemudian
dilarutkan dalam sejumlah air panas sambil terus diaduk sampai semuanya terlarut
dan larutan menjadi jernih. Larutan dituang ke dalam labu ukur 25 ml dan
7. Pembuatan suspensi parasetamol dalam larutan CMC Na 1%
Suspensi parasetamol dalam larutan CMC Na 1% dibuat dengan cara
menimbang 100,0 mg parasetamol, lalu ditambahkan larutan CMC Na 1% sedikit
demi sedikit hingga volumenya 10,0 ml.
8. Pemilihan kontrol negatif
Kontrol negatif adalah zat yang tidak memiliki efek analgesik sehingga
dapat digunakan sebagai pembanding terhadap zat yang diuji. Kontrol negatif
yang diuji adalah aquadest, yang merupakan pelarut dalam pembuatan infusa
batang brotowali.
9. Penetapan dosis asam asetat
Asam asetat yang digunakan adalah asam asetat 1% dengan dosis 25, 50,
dan 75 mg/kgBB yang disuntikkan kepada mencit secara intraperitoneal sebagai
penginduksi nyeri. Melalui ketiga dosis tersebut, ditentukan dosis optimal dalam
menghasilkan geliat.
10. Penetapan dosis parasetamol
Dosis lazim parasetamol adalah 500 mg atau 0,5 gram. Dosis tersebut
dikonversikan dengan pedoman orang Eropa adalah 70/50 x 0,5 = 0,7 g.
Kemudian dikonversi ke mencit dengan 20 g adalah 0,0026x 0,7 g = 1,82 x 10-3g.
Jadi dosis yang digunakan untuk mencit adalah 1000/20 x 1,82 x 10-3g/ kg BB =
0,91 g/ kg BB (91 mg/ kg BB). Menurut Soehardjono (1990), faktor konversi
dosis dari manusia 70 kg ke mencit 20 g adalah 0,0026.
Untuk menetapkan dosis parasetamol digunakan tiga peringkat dosis.
lainnya adalah 250 mg dan 750 mg, yang juga dikonversikan terlebih dahulu ke
dosis untuk mencit, yaitu dosis 250 mg menjadi 45,5 mg/kgBB dan dosis 750 mg
menjadi 136,5 mg/kgBB.
11. Penetapan selang waktu pemberian asam asetat
Tahap ini berguna untuk mengetahui selisih waktu yang paling baik antara
pemberian senyawa uji dan obat dengan penyuntikan asam asetat. Waktu yang
dipilih untuk penetapan waktu pemberian asam asetat 1% adalah 5, 10 dan, 15
menit. Waktu tersebut merupakan selang waktu setelah pemberian suspensi
parasetamol ataupun infusa batang brotowali secara oral. Dosis asam asetat yang
digunakan merupakan dosis efektif yang diperoleh pada saat penetapan dosis
asam asetat.
12. Pemilihan hewan uji
Hewan uji yang digunakan adalah mencit putih betina galur Swiss umur
2-3 bulan dengan berat badan antara 20-2-30 gram. Sebelum diperlakukan, mencit
diadaptasikan pada tempat dan kondisi yang sama sekitar 2 minggu.
13. Penetapan kriteria geliat
Pedoman gerakan mencit yang dianggap sebagai geliat adalah apabila
mencit menarik kaki belakang dengan mengempiskan perutnya sehingga
permukaan perut menempel pada alas tempat berpijak mencit tersebut.
14. Pengelompokan dan perlakuan pada hewan uji
Hewan uji dalam penelitian ini dibagi secara acak menjadi 10 kelompok,
dimana tiap-tiap kelompok terdiri dari 6 mencit betina. Semua hewan uji
mencit diamati geliatnya, terlebih dahulu mencit dipuasakan selama 24 jam untuk
meminimalkan variabel-variabel pengacau. Mencit yang sedang dipuasakan
diletakkan pada kandang terpisah, tidak diberi alas, namun tetap diberikan minum.
Kelompok perlakuan dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 6. Skema kerja penelitian proteksi nyeri
Setelah 5 menit
Diberi larutan asam asetat 1 % dosis 50 mg/kg BB secara i.p.
Dihitung jumlah geliat tiap 5 menit selama 60 menit
15. Penentuan daya analgesik
Data yang diperoleh melalui penelitian adalah berupa jumlah kumulatif
geliat mencit pada masing-masing kelompok sehingga dapat dihitung persen
proteksi geliat. Besarnya penghambatan jumlah geliat dihitung dengan
menggunakan persamaanHendershot-Forshait, yaitu:
% proteksi geliat = 100-(P/K x 100%)
Keterangan:
P = Jumlah kumulatif geliat hewan uji perlakuan
K = Jumlah rata-rata kumulatif geliat hewan uji kontrol negatif
Perubahan persen proteksi geliat terhadap kontrol positif menggunakan
rumus:
Perubahan % proteksi geliat =( ) x 100 %
Keterangan:
P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan KP = rata-rata % proteksi geliat pada kontrol positif
Kriteria suatu obat dikatakan memiliki aktivitas analgesik apabila mampu
menghambat geliat ≥50% (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medika, 1991).
F. Analisis Hasil
Setelah diperoleh hasil, data dianalisis dengan Kolmogorov-Smirnov
untuk melihat distribusi data. Analisis diteruskan dengan ANOVA satu arah
dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antar
kelompok. Selanjutnya dilakukan ujiScheffeuntuk mengetahui perbedaan tersebut
34 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembuatan Simplisia Batang Brotowali
Batang brotowali segar yang diperoleh sebanyak 516,12 gram, dibersihkan
dengan cara dicuci di air mengalir. Kemudian dipotong kecil-kecil dengan tujuan
agar proses pengeringan berlangsung dengan sempurna. Untuk mengurangi kadar
air yang masih tersisa di batang brotowali, potongan batang brotowali tersebut
dikeringkan dengan suhu 450C selama 3 hari lalu diserbuk menggunakan mesin
penyerbuk. Serbuk halus batang brotowali yang didapatkan adalah sebanyak
107,55 gram. Serbuk berwarna kecoklatan.
B. Pembuatan Infusa Batang Brotowali
Sebanyak 10 gram simplisia batang brotowali ditambah 100 ml air.
Campuran tersebut dimasukkan ke dalam panci infusa dan dipanaskan di atas
heater pada suhu 900C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Waktu 15 menit
dapat dihitung setelah campuran mencapai suhu 900C. Selama pemanasan, panci
dalam keadaan tertutup, agar suhu saat pemanasan tidak terpengaruh oleh suhu
lingkungan atau suhu kamar. Campuran diserkai menggunakan kain flannel selagi
panas hingga diperoleh volume infusa 100 ml. Bila belum mencapai volume 100
ml, dapat ditambahkan air panas melalui ampas. Hasil pembuatan infusa dapat
Tabel I. Hasil pembuatan infusa batang brotowali
C. Penentuan Kriteria Geliat
Penentuan kriteria geliat yang digunakan perlu dilakukan agar pada
pengambilan data diperoleh geliat yang relatif sama sehingga pengamatan lebih
mudah dan data yang didapatkan lebih spesifik. Pedoman gerakan mencit yang
dapat dianggap sebagai geliat adalah apabila mencit menarik kedua kakinya ke
belakang dengan mengempiskan perutnya sehingga permukaan perut menempel
pada alas tempat berpijak mencit tersebut. Rangsang kimia yang digunakan
sebagai penginduksi nyeri supaya dapat menimbulkan respon geliat pada mencit
yaitu pemberian asam asetat 1%.
D. Penetapan Dosis Asam Asetat
Tujuan penentuan dosis asam asetat adalah untuk memperoleh dosis
optimal asam asetat yang dapat menimbulkan nyeri. Penelitian ini menggunakan
metode rangsang kimia, yaitu hewan uji diberi zat kimia berupa asam asetat yang
dapat menimbulkan nyeri. Adanya ion H+ akan mengiritasi jaringan lokal
sehingga muncul nyeri.
Pada uji pendahuluan digunakan asam asetat dosis 25 mg/kgBB; 50
mg/kgBB; dan 75 mg/kgBB secara intraperitoneal, sedangkan konsentrasi asam
asetat yang digunakan yaitu 1% karena pada penelitian-penelitian terdahulu
No Ciri organoleptis Infusa batang brotowali
1. Bentuk Cairan agak kental
2. Warna Hijau kecoklatan
3. Bau Tidak berbau
dikatakan bahwa konse
mencit (subyek uji). Me
konsentrasi 1-3% di
pengujian daya analg
rata-rata jumlah kum
pada tabel II berikut ini
Tabel II. Rata-rata jum asetat
Keterangan:
X :Mean(rata-ra SE :Standar error
Gambar 7. Di a
Data diolah
mengetahui apakah ada
0
konsentrasi 1% asam asetat sudah dapat membe
. Menurut Williamson, Okpako, dan Evans (1996
digunakan sebagai irritant yang menyebabk
algesik dengan metode geliat. Dari pengujian,
kumulatif geliat mencit pada masing-masing dosi
kut ini.
jumlah kumulatif geliat mencit pada penent
rata) ror
Diagram batang rata-rata jumlah geliat untuk asam asetat
h secara statistik menggunakan anova sa
ada perbedaan pada ketiga kelompok dosis. Be
25 50 75
Dosis Asam Asetat (mg/kg BB)
Penetapan Dosis Asam Aseta
s asam asetat g/kg BB)
berikan nyeri pada
1996), asam asetat
babkan nyeri pada
an, diperoleh nilai
dosis yang tersaji
entuan dosis asam
uk penentuan dosis
satu arah untuk
uji menunjukkan nilai probabilitas <0,05 yang menunjukkan terdapat perbedaan.
Pengujian data dilanjutkan dengan uji Scheffe untuk mengetahui apakah
perbedaan yang diperoleh signifikan atau tidak. Data dan analisisnya dapat dilihat
pada tabel III.
Tabel III. Hasil uji Scheffe data geliat mencit pada uji pendahuluan penetapan dosis asam asetat
Kelompok dosis (mg/kg BB)
25 50 75
25 - B B
50 B - B
75 B B
-Keterangan:
B : Berbeda bermakna (p≤0,05) TB : Berbeda tidak bermakna (p>0,05)
Melalui tabel III, dapat dilihat bahwa antar dosis memberikan hasil yang
berbeda bermakna. Dosis 50 mg/kgBB dianggap sudah untuk pengamatan yang
selanjutnya akan digunakan dalam penelitian.
E. Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat
Penetapan selang waktu pemberian asam asetat bertujuan untuk memberi
kesempatan zat uji yang diberikan secara peroral untuk terabsorbsi sebelum asam
asetat disuntikkan secara intraperitoneal. Diharapkan pada selang waktu tersebut,
zat uji telah terabsorbsi sehingga memberikan aktivitas analgesik yang diinginkan.
Selang waktu yang diujikan adalah 5, 10, dan 15 menit dengan zat uji parasetamol
dosis 91 mg/kgBB. Melalui hasil uji pendahuluan diperoleh rata-rata jumlah
kumulatif geliat mencit pada masing-masing selang waktu yang tersaji pada tabel
Tabel IV. Rata-rata jumlah geliat pada berbagai selang waktu pemberian asam asetat 50 mg/kgBB
Kelompok Rata-rata jumlah geliat
(X±SE)
5 menit 10,3± 0,7
10 menit 19,7 ± 1,5
15 menit 24,0 ± 0,6
Keterangan:
X :Mean(rata-rata) SE :Standar error
Gambar 8. Grafik menit untuk pemberian asam asetat vs rata-rata jumlah geliat
Melalui tabel IV, dapat dilihat bahwa selang waktu 15 menit memiliki
jumlah geliat yang yang paling banyak bila dibandingkan selang waktu pada 5 dan
10 menit. Uji variansi satu arah dan ujiScheffedilakukan untuk melihat perbedaan
antar kelompok. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel V.
10,3
Tabel V. Hasil uji Scheffejumlah geliat untuk penetapan selang waktu pemberian asam asetat
Keterangan:
B : Berbeda bermakna (p≤0,05) TB : Berbeda tidak bermakna (p>0,05)
Melalui hasil uji di atas, dapat dilihat bahwa selang waktu selama 5 menit
berbeda dengan 10, dan 15 menit. Namun, selang waktu selama 10 menit berbeda
tidak bermakna dengan selang pemberian 15 menit. Oleh sebab itu dipilih selang
waktu 5 menit dalam penelitian ini.
F. Penetapan Dosis Parasetamol
Penentuan dosis parasetamol bertujuan untuk mendapatkan dosis
parasetamol yang paling optimal aktivitas analgesiknya. Umumnya, dosis terapi
yang digunakan pada manusia dewasa adalah 500 mg (DepKes RI, 1979).
Berdasarkan pedoman dosis lazim parasetamol maka dosis 500 mg dipakai
sebagai dosis tengah, dua dosis lainnya diperoleh dengan menaikkan dan
menurunkan dosis tengah sebesar 250 mg sehingga diperoleh tiga peringkat dosis
yaitu 250, 500, dan 750 mg. Ketiga dosis tersebut dikonversikan ke mencit dan
diperoleh dosis 45,5; 91,0; dan 136,5 mg/kgBB. Hasil uji yang diperoleh dapat
dilihat pada tabel VI berikut.
Selang waktu pemberian (menit) 5 10 15
5 - B B
10 B - TB
-Tabel VI. Hasil uji daya analgesik pada penentuan dosis parasetamol untuk mencit
Gambar 9. Histogram untuk penentuan dosis parasetamol
Dari tabel VI dapat dilihat, dosis 45,5 mg/kgBB mempunyai jumlah geliat
yang banyak bila dibandingkan dengan dosis 91 mg/kgBB dan 136,5 mg/kgBB.
Untuk hasil ujiScheffedapat dilihat pada tabel VII di bawah ini.
Tabel VII. Hasil ujiScheffepenentuan dosis parasetamol
Keterangan:
B : Berbeda bermakna (p≤0,05) TB : Berbeda tidak bermakna (p>0,05)
Melalui tabel VII, dapat dilihat bahwa kelompok dosis 45,5 mg/kgBB
memiliki jumlah geliat yang berbeda bermakna dengan kelompok dosis 91 Dosis parasetamol
(mg/kgBB)
Rata-rata jumlah geliat (X±SE)
45,5 22,3±3,5
91,0 10,7±0,3
136,5 3,7±0,7
Dosis parasetamol (mg/kg BB)
45,5 91 136,5
45,5 - B B
91 B - TB
-mg/kgBB, dan 136,5 mg/kgBB. Lalu, kelompok 91 mg/kgBB berbeda tidak
bermakna dengan kelompok 136,5 mg/kgBB. Dari data tersebut dapat diketahui
bahwa dosis 91 mg/kgBB berbeda bermakna dengan kedua kelompok yang lain.
Oleh sebab itu dosis 91 mg/kgBB dipilih dalam penelitian ini.
G. Uji Praperlakuan Infusa Batang Brotowali terhadap Daya Analgesik
Parasetamol
Setelah dilakukan tahap uji pendahuluan, selanjutnya dilanjutkan aktivitas
analgesik untuk masing-masing kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh praperlakuan infusa batang brotowali terhadap daya
analgesik parasetamol.
Uji analgesik dilakukan untuk melihat kemampuan bahan uji dalam
menghambat rasa nyeri yang pada penelitian ini disebabkan oleh pemberian asam
asetat. Parameter yang digunakan adalah geliat mencit. Geliat mencit diamati
selama satu jam untuk menghitung persen proteksi. Perubahan persen proteksi
diperoleh dari persen proteksi tiap kelompok perlakuan yang dibandingkan
dengan parasetamol sebagai kontrol positif, sehingga melalui perubahan persen
proteksi dapat diketahui apakah praperlakuan infusa batang brotowali
mempengaruhi daya analgesik parasetamol atau tidak. Parasetamol digunakan
sebagai kontrol positif karena merupakan faktor akibat yang akan dilihat kenaikan
Tabel VIII. Rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit pada semua kelompok perlakuan, % proteksi nyeri dan perubahan % proteksi terhadap mencit betina
Keterangan:
I : kontrol negatif (aquadest 0,5 ml)
II : kontrol positif (parasetamol 91 mg/kgBB)
III : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 1 hari IV : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 3 hari V : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 5 hari VI : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 7 hari VII : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 1 hari ditambah
parasetamol dosis 91 mg/kgBB
VIII : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 3 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
IX : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 5 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
X : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 7 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
Dari data di atas, hasil persen proteksi nyeri semua kelompok perlakuan
terhadap kontrol negatif disajikan dalam bentuk histogram pada gambar 10. Kelompok perlakuan Jumlah
kumulatif geliat
I 24,6±0,6 0,0±2,4 -100,0
II 8,4±0,6 65,9±2,4
-III 8,8±0,7 64,2±3,0 -2,6 IV 10,6±0,9 56,9±3,5 -13,7
Gambar 10. Histogram % proteksi nyeri semua kelompok perlakuan
Data yang diperoleh berupa % proteksi dari masing-masing kelompok
diuji dengan Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi hasil penelitian. Jika
distribusi data hasil penelitian normal, dapat dilanjutkan dengan analisis ANOVA
satu arah. Hasil pengolahan statistik menggunakan uji Kolmogorov-Smirnovpada
distribusi data dari persen proteksi semua kelompok menunjukkan bahwa
distribusi data normal (lampiran 10). Dari data (lampiran 10) dapat diketahui
bahwa antara kelompok terdapat perbedaan yang bermakna (p≤0,05). Untuk mengetahui perbedaan persen proteksi antar tiap-tiap kelompok, dilakukan uji
Tabel IX. Hasil ujiScheffe% proteksi nyeri pada semua kelompok perlakuan
Keterangan:
B : berbeda bermakna ( p≤0,05) TB : berbeda tidak bermakna (p>0,05) I : kontrol negatif (aquadest 0,5 ml)
II : kontrol positif (parasetamol 91 mg/kgBB)
III : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 1 hari IV : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 3 hari V : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 5 hari VI : kontrol perlakuan infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 7 hari VII : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 1 hari ditambah
parasetamol dosis 91 mg/kgBB
VIII : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 3 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
IX : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 5 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
X : interaksi infusa brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 7 hari ditambah parasetamol dosis 91 mg/kgBB
Menurut Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medika (1991),
adanya aktivitas analgesik pada metode rangsang kimia ditunjukkan adanya
kemampuan menghambat geliat ≥50% dibandingkan kelompok kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kelompok perlakuan dan kelompok
interaksi memiliki aktivitas analgesik karena memiliki persen proteksi atau
kemampuan menghambat geliat≥50%.
Handara (2006) dalam penelitiannya mengatakan bahwa infusa batang
Sementara itu, dalam penelitian ini, nilai persen proteksi infusa batang brotowali
dosis 2.400 mg/kgBB yang mirip dengan penelitian Handara (2006) tersebut
adalah pada pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama 3
hari, yaitu sebesar 56,9%.
Melalui tabel VIII, terlihat bahwa lama perlakuan pemberian infusa batang
brotowali selama sehari, tiga hari, lima hari, dan tujuh hari tidak berbanding lurus
dengan peningkatan % proteksi nyeri pada mencit betina. Selain itu, dapat dilihat
bahwa perubahan persen proteksi pada pemberian infusa batang brotowali selama
hari 1, 3, 5, dan 7 dan juga pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400
mg/kgBB dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB selama 1, 3, dan 5 hari bernilai
negatif. Hal ini menunjukkan kelompok kontrol perlakuan dan kelompok interaksi
tersebut memiliki % proteksi yang lebih rendah daripada kontrol positif
parasetamol. Kenaikan terjadi hanya pada kelompok pemberian infusa batang
brotowali dosis 2.400 mg/kgBB dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB selama 7
hari, yaitu sebesar 28,2%.
Berdasarkan hasil analisis terhadap kontrol negatif (aquadest 0,5 ml),
dapat diamati bahwa pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB
selama 1, 3, 5, dan 7 hari terdapat perbedaan yang bermakna. Hal ini
menunjukkan bahwa pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB
memiliki proteksi nyeri. Aquadest tidak memiliki nilai persen proteksi
(0,0±2,4%), sehingga dapat dipastikan bahwa aquadest tidak memiliki proteksi
Melalui hasil analisis terhadap kontrol positif (parasetamol dosis 91
mg/kgBB), dapat diamati bahwa pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400
mg/kgBB selama 1, 3, 5, dan 7 hari terdapat perbedaan yang tidak bermakna. Hal
ini menunjukkan bahwa pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB
pemberian selama 1, 3, 5, dan 7 hari mempunyai proteksi nyeri yang sama dengan
parasetamol dosis 91 mg/kgBB.
Pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB dengan
parasetamol dosis 91 mg/kgBB selama satu hari menunjukkan adanya perbedaan
bermakna terhadap kontrol negatif. Perbedaan ini dapat diartikan bahwa
kelompok ini memiliki proteksi nyeri. Proteksi nyeri yang dimiliki berasal dari
parasetamol dosis 91 mg/kgBB dan infusa batang brotowali dosis 2.400
mg/kgBB.
Sementara itu, pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB
dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB selama satu hari menunjukkan perbedaan
yang tidak bermakna terhadap kontrol positif. Pemberian infusa batang brotowali
dosis 2.400 mg/kgBB dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB selama satu hari
menghasilkan proteksi nyeri sebesar 63,4% yang hampir sama dengan proteksi
nyeri kontrol positif sebesar 65,9%. Jika dibandingkan terhadap hasil pemberian
infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama satu hari, terdapat
perbedaan yang tidak bermakna. Terjadi peningkatan proteksi nyeri dari
pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB selama satu hari
terhadap pemberian infusa batang brotowali dosis 2.400 mg/kgBB dengan