• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar - RUCHIE MARETA SARI BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar - RUCHIE MARETA SARI BAB II"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar

Kegiatan belajar merupakan kegiatan pokok dalam setiap proses pendidikan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang belajar. Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010:2). Sedangkan terhadap masalah belajar, Gagne (dalam Slameto, 2010:13), memberikan dua definisi yaitu: (1) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku; (2) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

(2)

hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai. Manusia tanpa belajar akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak lain juga merupakan produk kegiatan berpikir manusia-manusia pendahulunya. Dalam Sudjana (2010:28), belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Dari beberapa pengertian mengenai belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang secara sadar, agar memperoleh pengetahuan dan keterampilan, sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri seseorang itu, karena berinteraksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa yang akan datang.

b. Pengertian Pembelajaran

(3)

pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Berdasarkan beberapa pengertian pembelajaran diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah serangkaian interaksi dan kegiatan antara peserta didik dengan pendidik yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada peserta didik/siswa untuk pencapaian tujuan belajar tertentu.

c. Pengertian Hasil Belajar

(4)

mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harrow mencakup aspek kognitif, afektif dan psikotomotor. Lebih lanjut, Purwanto (2011:46) menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena siswa mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu berupa perubahan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan beberapa pengertian hasil belajar diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami pembelajaran sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor.

d. Tipe Hasil Belajar

(5)

Tipe hasil belajar aspek kognitif meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian. (1) pengetahuan berkaitan dengan kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari, (2) pemahaman berkaitan dengan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep, (3) aplikasi berkaitan dengan kemampuan menggunakan atau menerapkan suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru, (4) analisis berkaitan dengan kemampuan memecah, mengurai suatu integritas dan mampu memahami hubungan antar unsur/bagian sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti, (5) sintesis berkaitan dengan kemampuan menyatukan unsur/bagian menjadi satu kesatuan yang bermakna, dan (6) penilaian berkaitan dengan kemampuan memberikan pertimbangan nilai tentang sesuatu berdasarkan kriteria yang dimilikinya.

(6)

Tabel 2.1

Hasil Belajar Aspek Kognitif Pada Materi Luas Bangun Datar

No Indikator Aspek

Kognitif Soal

1. Menjelaskan rumus luas

(7)

keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Mengenai aspek afektif, dalam Kemendiknas (2010:6) pendidikan adalah suatu proses enkulturasi yang berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan. Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter tersebut menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Lebih lanjut dalam Kemendiknas (2010:2), pendidikan budaya dan karakter bangsa disesuaikan dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang menjadi dasar dalam pengembangannya, sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang menyebutkan bahwa:

(8)

Sedangkan tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah: 1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia

dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;

2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;

3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa;

4. mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan

5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity) (Kemendiknas, 2010:7).

Berdasarkan uraian diatas, hasil belajar aspek afektif pada penelitian ini meliputi receiving atau penerimaan, responding atau memberi respon/jawaban, valuing atau penilaian dan organisasi yang berkaitan pula dengan karakter bangsa, dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.2

Hasil Belajar Aspek Afektif Pada Materi Luas Bangun Datar

No Perilaku

Berkarakter Indikator

Aspek Afektif 1. Disiplin Mematuhi petunjuk dan

perintah guru Penerimaan

2. Tanggung jawab Mengerjakan LKS dan tugas

(9)

Tipe hasil belajar aspek psikomotor adalah penilaian terhadap penampilan siswa. Hasil belajar psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan bertindak seseorang. Dalam Jihad dan Haris (2010:18-19), ada lima tingkatan keterampilan, yaitu (1) menirukan, apabila ditunjukkan suatu tindakan yang dapat diamati, maka siswa akan mulai membuat suatu tiruan sesuai tindakan, (2) manipulasi, siswa dapat menampilkan tindakan seperti yang diajarkan dan tidak hanya seperti yang diamati, (3) keseksamaan, meliputi kemampuan siswa dalam penampilan yang telah sampai pada tingkat lebih tinggi dalam mereproduksi suatu kegiatan, (4) artikulasi, dapat mengkoordinasikan serentetan tindakan dengan urutan secara tepat, (5) naturalisasi, siswa telah melakukan secara alami suatu tindakan. Dalam penelitian ini mengenai aspek psikomotor yaitu keterampilan siswa dalam membuat dan menggunakan alat peraga, dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.3

Hasil Belajar Aspek Psikomotor Pada Materi Luas Bangun Datar

No Indikator Aspek

Psikomotor Kegiatan

1. Mengubah alat peraga

(10)

2. Matematika

a. Pengertian Matematika

(11)

kemampuan berpikir atau bernalar serta dalam mempelajarinya memerlukan kemampuan berpikir atau bernalar pula.

b. Tujuan Matematika

Secara umum, tujuan diberikannya matematika di sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran yang logis, rasional dan kritis. Dalam peraturan menteri pendidikan nasional RI nomor 22 tahun 2006, dijelaskan bahwa tujuan pelajaran matematika di sekolah adalah agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut (Masykur, 2008:52-53).

1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau alogaritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah;

2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika;

3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh;

4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah;

(12)

mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

c. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD)

Menurut Masykur dan Fathani (2008:52), untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Atas dasar itu, pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa sejak sekolah dasar (SD), untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan kemampuan bekerja sama. Siswa memerlukan kompetensi tersebut agar mampu memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk kehidupannya. Sedangkan menurut Suwangsih dan Tiurlina (2006:15), matematika adalah ilmu deduktif, formal hierarki dan menggunakan bahasa simbol yang memiliki arti yang padat. Karena adanya perbedaan karakteristik antara matematika dan anak usia SD, maka matematika akan sulit dipahami oleh anak SD jika diajarkan tanpa memperhatikan tahap berpikir anak SD.

Pembelajaran matematika di SD memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suwangsih dan Tiurlina, 2006:25-26).

(13)

2) Pembelajaran matematika bertahap, materi yang disampaikan bertahap yaitu dimulai dari konsep sederhana menuju konsep yang lebih sulit. Pembelajaran matematika pun dimulai dari yang konkrit, semi konkrit dan akhirnya pada konsep abstrak.

3) Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif, meskipun matematika merupakan ilmu deduktif namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif.

4) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi, kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten yaitu tidak ada pertentangan antara satu kebenaran dengan kebenaran yang lain. Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan pada pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya. Meskipun dalam pembelajaran matematika di SD menggunakan metode induktif, namun pada tahap selanjutnya generalisasi suatu konsep dilakukan secara deduktif.

5) Pembelajaran matematika hendaknya bermakna, yaitu mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian dari pada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan, sifat dan dalil-dalil ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.

(14)

mengkondisikan siswa untuk melakukan penemuan, berfokus pada pemecahan masalah, guru memperhatikan penguasaan materi prasyarat, serta membimbing siswa untuk mengenal masalah yang sesuai dengan situasi sehari-hari. Dalam melakukan penemuan, guru mengkondisikan siswa untuk menemukan kembali rumus, konsep atau prinsip dalam matematika melalui bimbingan guru agar siswa terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu. Kemudian mengenai fokus pemecahan masalah dapat dilakukan dengan keterampilan memahami soal, menggunakan pendekatan pemecahan, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi (Suwangsih dan Tiurlina, 2006:28).

d. Penilaian Pembelajaran Matematika di SD

(15)

balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar, (3) dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya.

Penilaian hasil belajar juga memiliki tujuan, baik tujuan umum maupun khusus. Dalam BSNP (2007:5), tujuan umum penilaian hasil belajar adalah (1) menilai pencapaian kompetensi siswa; (2) memperbaiki proses pembelajaran; (3) sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa. Sedangkan tujuan khusus penilaian hasil belajar adalah untuk (1) mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa; (2) mendiagnosis kesulitan belajar; (3) memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar; (4) penentuan kenaikan kelas; (5) memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan. Lebih lanjut, dalam BSNP (2007:5), fungsi penilaian hasil belajar sebagai berikut (1) bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas; (2) umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar; (3) meningkatkan motivasi belajar siswa; (4) evaluasi diri terhadap kinerja siswa.

(16)

matematika adalah mengutamakan proses sekaligus hasil belajar matematika. Karena itu, penilaian pembelajaran matematika selain menilai hasil akhir dari pembelajaran juga harus menilai proses dalam memperoleh hasil akhir tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian pembelajaran matematika merupakan sebuah proses pengumpulan dan pengolahan informasi dengan pemberian nilai untuk menentukan pencapaian hasil belajar matematika siswa berdasarkan suatu kriteria tertentu. Penilaian dalam hal ini berfungsi sebagai (1) alat untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan instruksional; (2) umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar; dan (3) dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa. Sedangkan tujuan penilaian hasil belajar dalam hal ini dapat disimpulkan bertujuan untuk (1) mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa; (2) memperbaiki proses pembelajaran; dan (3) sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa.

3. Materi Pembelajaran Geometri

(17)

Tabel 2.4

Pemetaan Kompetensi Dasar dan Materi Pelajaran

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran 3.1Menghitung luas trapesium dan

layang-layang

3.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar

 Luas trapesium  Luas layang-layang  Luas persegi panjang

Setiap materi pembelajaran dijabarkan lebih lanjut ke dalam uraian materi pembelajaran atau lazim disebut uraian materi. Uraian materi ini harus memuat fakta, konsep, prinsip, dan operasi pengerjaan.

a. Fakta, fakta adalah sembarang semufakatan dalam matematika. Fakta matematika meliputi istilah (nama), notasi (lambang), dan semufakatan. Dalam hal ini, adalah lambang “L” untuk menyatakan luas.

b. Konsep, konsep adalah pengertian yang dapat digunakan atau memungkinkan seseorang untuk mengelompokkan/menggolongkan sesuatu objek. Suatu konsep dapat dibatasi dengan suatu ungkapan yang disebut definisi. Dalam hal ini, adalah konsep luas trapesium dan layang-layang.

c. Prinsip, prinsip adalah rangkaian konsep beserta hubungannya. Umumnya prinsip berupa pernyataan yang disebut teorema, dalil, sifat-sifat atau langkah kerja. Dalam hal ini, adalah rumus luas trapesium dan layang-layang.

(18)

yang tinggi. Dalam hal ini, adalah menentukan luas trapesium dan layang-layang.

Berdasarkan fakta, konsep, prinsip, dan operasi (pengerjaan) ini, maka uraian materi pada penelitian ini dijabarkan dari materi pembelajaran matematika mengenai luas bangun datar trapesium dan layang-layang sebagai berikut:

Tabel 2.5

Pemetaan Materi Pelajaran dan Uraian Materi

Materi Pelajaran Uraian Materi

 Luas trapesium  Luas layang-layang  Luas persegi panjang

 Lambang luas

 Menemukan rumus luas trapesium dan layang-layang dengan pendekatan luas persegi panjang

 Menentukan luas trapesium dan layang-layang

 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan materi pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah:

a. Luas Bangun Datar

1) Menemukan luas trapesium dengan pendekatan luas persegi panjang 2) Menemukan luas layang-layang dengan pendekatan luas persegi

panjang

b. Memecahkan Masalah Berkaitan dengan Luas Bangun Datar

(19)

4. Motode Penemuan

Metode pembelajaran menurut Uno (2011:65), merupakan cara-cara yang digunakan pengajar atau instruktur untuk menyajikan informasi atau pengalaman baru, menggali pengalaman peserta belajar, menampilkan unjuk kerja peserta belajar dan lain-lain. Dalam Djamarah (2005:19), metode adalah suatu cara yang diperguanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan tugas guru sangat jarang menggunakan satu metode, tetapi selalu memakai lebih dari satu metode. Karena karakteristik metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan menuntut guru untuk menggunakan metode yang bervariasi.

(20)

rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya, proses mengetahuinya tidak melalui pemberitahuan namun sebagian atau seluruhnya ditemukan oleh siswa sendiri. Pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan berpusat pada siswa. Dalam metode penemuan tidak berarti sesuatu yang ditemukan oleh siswa merupakan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan sebenarnya sudah diketahui oleh orang yang lain atau guru. Berdasarkan jenisnya, metode penemuan dibagi dalam tiga jenis yaitu penemuan murni, penemuan terbimbing dan penemuan laboratory. Jenis metode penemuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penemuan terbimbing. a. Metode Penemuan Terbimbing

Metode penemuan merupakan metode pembelajaran yang memungkinkan anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya, dengan tidak melalui pemberitahuan melainkan sebagian atau seluruhnya ditemukan oleh siswa sendiri. Pada pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing guru mengarahkan mengenai materi pelajaran, kemudian membimbing siswa agar dapat menyimpulkan sesuai dengan rancangan guru. Bentuk bimbingan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, arahan, pertanyaan, langkah-langkah kegiatan, dan lain sebagainya.

b. Langkah-langkah Penemuan Terbimbing

(21)

1) Adanya masalah yang akan dipecahkan

2) Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa

3) Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh siswa melalui kegiatan tersebut perlu dikemukaan dan ditulis secara jelas

4) Harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan

5) Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam kegiatan belajar mengajar 6) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mengumpulkan data

7) Guru harus menggunakan jawaban dengan cepat dan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan siswa.

c. Kelebihan Metode Penemuan

Kelebihan atau kebaikan metode penemuan dalam Suryosubroto (2009:185-186) diantaranya sebagai berikut:

1) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan prosese kognitif siswa; 2) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan

mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; 3) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa;

4) Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri;

(22)

6) Dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan; 7) Strategi ini berpusat pada anak.

Selain beberapa kelebihan metode penemuan tersebut, dalam Hawa (2008:13), manfaat belajar penemuan adalah:

1) Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna;

2) Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tertinggal lama dan mudah diingat;

3) Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam belajar agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima;

4) Transfer dapat ditingkatkan dimana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh siswa dari pada disajikan dalam bentuk jadi;

5) Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi siswa;

6) Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.

d. Kekurangan Metode Penemuan Terbimbing

(23)

(2009:186-187), kekurangan atau kelemahan metode penemuan adalah sebagai berikut:

1) Disyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini;

2) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar;

3) Harapan yang ditumbuhkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisonal;

4) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan;

5) Dalam beberapa ilmu fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada;

6) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses dibawah pembinaannya.

5. Alat Peraga

(24)

matematika digunakan untuk meningkatkan minat serta keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Minat belajar merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses pembelajaran matematika. Dengan adanya minat belajar pada anak dapat memudahkan membimbing dan mengarahkan anak untuk belajar matematika. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menumbuhakan minat anak dalam belajar matematika adalah dengan menggunakan alat peraga terutama alat peraga yang dapat membangkitkan aktivitas anak.

a. Pengertian Alat Peraga

Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memiliki arti yang sama dengan medium yang memiliki arti antara lain adalah perantara atau perantaraan. Dengan demikian media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan belajar. Sering kita temukan istilah lain yang serupa atau mempunyai makna yang sama yaitu “alat peraga” dan “alat bantu belajar”. Suatu sumber belajar dikatakan alat peraga jika fungsinya sebagai alat bantu pembelajaran sedangkan media tidak sekedar alat bantu, namun dapat merupakan sarana utama dalam penyampaian pesan (Widyantini, 2010:6).

(25)

pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang riil sehingga memperjelas pengertian pebelajar. Dari beberapa pengertian mengenai alat peraga diatas, maka dapat disimpulkan alat peraga pembelajaran adalah suatu alat bantu atau sarana yang dapat dijadikan perantara antara pendidik dengan siswa dalam penyampaian informasi yang dapat memperjelas sesuatu yang nyata dan memungkinkan siswa menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

(26)

informasi/pengetahuan, (5) untuk membangkitkan motivasi, (6) untuk membantu menjelaskan fakta-fakta, konsep, prinsip dan keterampilan. b. Alat Peraga Bongkar Pasang

(27)

kognitif anak agar pengetahuan dapat diinternalisasi dalam pikiran. Proses internalisasi terjadi jika pengetahuan dipelajari dalam tiga model tahapan, yang dikenal dengan teori Belajar Bruner (dalam Hawa, 2008:6), yang diuraikan sebagai berikut:

1) Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar suatu pengetahuan yang dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata. Anak akan memahami sesuatu dari berbuat atau melakukan sesuatu.

2) Model Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran mengolah pengetahuan dengan cara diwujudkan dalam bentuk bayangan visual, gambar, atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret yang terdapat pada tahap enaktif. Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek yang dimanipulasinya.

3) Model Tahap Simbolis

(28)

Pada tahap simbolis ini, pembelajaran diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, yaitu simbol-simbol yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal, lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.

Penggunaan alat peraga juga menyesuaikan tahap-tahap tersebut. Pada tahap enaktif atau konkrit digunakan alat peraga bongkar pasang luas bangun datar. Pada tahap ikonik atau semi konkrit dengan menggunakan gambar bangun datar pada kertas dengan petak-petak yang digunakan untuk mengetahui luasnya serta mengembangkan aspek psikomotor siswa dalam membuat alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Sedangkan tahap terakhir yaitu tahap simbolis, dilakukan dengan menerjemahkan hasil penemuan yaitu menggunakan simbol-simbol berupa rumus luas bangun datar.

(29)

dimana letak kepingan puzzle agar menjadi suatu bentuk yang diharapkan; (4) Melatih kesabaran, bongkar pasang atau puzzle dapat melatih kesabaran dalam menyelesaikan tantangan; (5) Pengetahuan, dari puzzle dapat membantu belajar mengenai konsep dasar melalui bimbingan dari orang lain yang mendampinginya.

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

(30)

C. Kerangka Berpikir

Metode penemuan terbimbing dalam penelitian ini diupayakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi luas bangun datar kelas V semester I SD Negeri 1 Brobot dengan kerangka berpikir sebagai berikut:

Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir Penelitian

Dalam model Penemuan Terbimbing siswa diberi petunjuk dalam menemukan suatu konsep rumus matematika, dalam hal ini yaitu rumus luas trapesium dan layang-layang yang harus dipahami mengenai cara menentukannya, petunjuk penemuan tersebut tertulis dalam lembar kerja siswa (LKS). Dengan LKS tersebut siswa diminta untuk melaksanakan petunjuk yang diberikan serta menganalisis, mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan sebagai upaya menemukan rumus yang dimaksud. Kemudian, setelah siswa menemukan rumus yang dimaksud, siswa dihadapkan pada penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pelajaran sekaligus masalah sehari-hari agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Permasalahan

Hasil belajar siswa rendah Kondisi awal

Tindakan Guru menggunakan metode

penemuan terbimbing

Pelaksanaan Siklus dengan metode penemuan terbimbing dan alat

peraga bongkar pasang

Hasil belajar matematika

(31)

yang diberikan adalah permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tujuannya adalah agar siswa dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan dapat mengembangkan suatu gagasan sebagai upaya menemukan cara penyelesaian masalah yang ada.

Dapat dikemukakan bahwa kerangka berpikir dalam penelitian ini secara garis besar adalah:

1) Metode Penemuan Terbimbing pada mata pelajaran matematika pokok bahasan Geometri dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek kognitif. 2) Metode Penemuan Terbimbing mata pelajaran matematika pokok bahasan

Geometri dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek afektif.

3) Metode Penemuan Terbimbing pada mata pelajaran matematika pokok bahasan Geometri dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek psikomotor.

D. Hipotesis Tindakan

Gambar

Tabel 2.1 Hasil Belajar Aspek Kognitif Pada Materi Luas Bangun Datar
Tabel 2.2 Hasil Belajar Aspek Afektif Pada Materi Luas Bangun Datar
Tabel 2.3 Hasil Belajar Aspek Psikomotor Pada Materi Luas Bangun Datar
Pemetaan Kompetensi Dasar dan Materi PelajaranTabel 2.4
+4

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran matematika materi pecahan:.. 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswanya

Dengan banyaknya metode pembelajaran, tidak semua metode itu sama efektifnya untuk semua bidang studi, maka guru sebagai pengelola pembelajaran perlu memperhatikan

Keunggulan metode pembelajaran kooperatif sebagai suatu metode pembelajaran diantarannya adalah sebagai berikut: (1) melalui metode pembelajaran kooperatif peserta didik

Sehingga siswa akan menjadi lebih aktif kreatif serta mandiri dan menambah pengetahuan dan wawasan berpikir siswa.Harapan peneliti dengan menggunakan metode

melalui metode bermain peran dapat meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar Bahasa Indonesia materi memerankan tokoh drama pada siswa kelas V SD Negeri

Ciri-ciri tahap analitik adalah: Siswa menganalisis bangun berdasarkan sifat-sifat dari komponen dan hubungan antar komponen, menyusun sifat-sifat pada sebuah

Berdasarkan landasan teori di atas, maka dapat dikemukakan bahwa dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar dibutuhkan inovasi dalam pembelajaran. Model

Berdasarkan hasil penelitian yang relevan tersebut, maka penelitian tindakan kelas ini juga akan memilih pendekatan RME untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika pada