PEMODELAN CABUT SERAT NYLON 600
BERBASIS FRAKTUR
!
" #$% & # %
#'% (
#)% (
* + ,
# δ% #σ−ε%
#-% (
.
.
!
/00
$-1$ '$
0 23 2- $$4
$)32 $) 5 .
* + # δ%
#σ−ε% ,
'3 0 =
ε ν=0-1
6
7 )0 /0
, δ #
% σ−ε # %
, δ # % σ−ε # %
# %
" # %
5 /00
,
# % # %
5 /00
# %
5 /00
&.
,
# %
. = C
& 5
! '001 !
* +
B
. . !
* +
! 8 . ! A =
&
! 8 (
! ! ( 8 ,
& . C .
! B
( . , & 8 D6@= #
%
, &
! 8 E
, & . !
! 8 < !
. .F ! C A ! C ! 6
= = 8 ! B D E
( ! B & (
, 8 & = & ! &
! ( E
, & . 8 (
E . F
( . 8
D6@=8 A ! = (
6 = ! 8
. , &
8
!
.
FG F .6 C . !
8 B B . .@
8
H B 6 A 8
D6 . . ! A .
.)
. : D . 5 /00
; * +
. = '003
! " # $
$ % " $ #
" $ $ % " $
&
% ' (
) ' *$ % " $ +
* %
% ) ' *$
, +
% - .
/
/ % '
, % 0 / !#
. *% % ) ' *$
% ) ' *$ ( !+
( % ) ' *$
% ) ' *$ ( 1#
! . , +1
! 2 % &
! % " &
# " !
Beberapa Penelitian penelitian Terdahulu tentang
Cabut Serat 29 32
Variasi campuran untuk matriks 36
Jenis dan standar/rujukan pengujian 36
Rancangan Percobaan Spesimen Uji Sifat Material dan Spesimen Uji Mekanis Material 37
Rancangan percobaan cabut serat dan cabut serat fraktur 37
Hasil uji sifat sifat material 50
Hasil uji tekan dan modulus elastisitas tekan matriks 51
Hasil uji tarik dan modulus elastisitas tarik matriks 52
Hasil uji angka Poisson matriks 52
Hasil uji tarik serat nylon 55
Kisaran nilai modulus elastisitas serat nylon hasil uji eksperimental 56
Angka Poisson serat nylon hasil uji eksperimental 56
Rekapitulasi beban dan perpindahan hasil uji eksperimental spesimen cabut serat 58
Rangkuman perpindahan selip akhir (δs akhir) dan perpindahan transisi (δtr) hasil uji eksperimental cabut serat fraktur 62
Rekapitulasi beban hasil uji eksperimental spesimen cabut serat fraktur 64
Rekapitulasi perpindahan hasil uji eksperimental spesimen cabut serat fraktur 64
Perpindahan selip (δs akhir) dan perpindahan transisi (δtr) hasil uji eksperimental cabut serat fraktur 70
Kisaran Es, Eps, dan Epr untuk model cabut serat 95
Kisaran Es, Eps, Etr, dan Epr untuk model cabut serat fraktur 100
Nilai Integral J kritis untuk tahap pengerasan regangan 120
!
! "
D
!
! !
! ! !
! ! !
!
!
"
# #
$ $$ $$$
% #
"
&
α ' σ −ε
β ' ν−ε
γ ' σ −σ
&
δ δ δ
δ δ δ δ ε
ε
"
ε
" σ −εε
σ −εε 1/ν−ε
ε( ( 1/ν−ε
ε"
ε ε
ε
ε
ν
ν σ
σ)) )
σ"
σ
σ σ σ
σ 1/ν−ε
σ ( ( 1/ν−ε
σ * * 1/ν−ε
σ
"
σ
" σ −εσ
σ −εσ
σ σ σ σ
σ
σ
*+ ** ,-* . ,-**
/0( /01
!! " #
$ % #
# &
# # ' #
# $
$
$ # $ % #
(
)**
+
$ % $
# %
' % $
% %
% # & )***
" #
# %
"
$
# , +# )**- .
%
" #
$
$ # #
$ % #
+ & " %
& #
% # % ,
& % $ % * )/#* 0
% & * 1#* 2 .
% #
& . $ %
$ % )**3#
0**3 $ 4 % % $
5 6 4 &#δ # σ−ε #
%
& # %
# # % $
5 6 4 #
$ $ & " $
$ % # '
% # $ $ %
% # %
7 $
$ &
) 8 % # # $
0 8 % $ 5 6 5 6 4 #
&#δ # σ−ε #
% # 1 8 % $
$ $
. #
# # $
.
# # $ % %
' $ 9 #:
$ ;
% $
& # # $
$ $ % %
# # # $
$
'
$ .
# % -**
% $ %
%
# # $
" 7
$ #
) %
0 % %
#
%
4
2 8 σ $ &
% ν
σ
=
( )
ν
- < $ % $ #
/ & $ $
% $
$ %
$ & %
) , $ σ
$ %
! "
& 7
, $ $ % #
# $
) , # #
$ %
0 , %
4 &#δ #
σ−δ # #
# $
(
# % -**
% $ ' %
# # $ 4
&#δ # &
4 δ , #
# $
% &
& "
# # $ %
$ $ % % #
) & # # $
% # &
# 0 % 7 #
) 0
# $ 1 % 7
# ) 0 1
% $ 5 6 4 %
# < 5 6 $
$ % % %
#
0 . % -**
9 % $
. # % -**
4
%
' (
7
6
99 % #
# #
% %
999 % %
#
# $
9; %
; % # # $
% " # #
# $
$ $ % % #
7 # # $
;9 % % $
# # $ =
%
# # $ = 4
;99 % 9 #: $
% $
;999 %
% $
=
Ide untuk memperkuat bahan getas ( ) telah dilakukan sejak
jaman Mesir purba antara lain dengan menambahkan serat tumbuhan atau surai
kuda pada adukan bata. Pada era dimulainya konstruksi perumahan, Cina dan
Jepang juga telah menggunakan serat tumbuhan sebagai perkuatan (Li, 2002).
Pada era modern, perkembangan penambahan serat anorganik pada beton dimulai
sekitar tahun 1960$an dengan aplikasi serat baja lurus (Balaguru dan Sah, 1992;
Li, 2002). Aplikasi serat baja menunjukkan kinerja keliatan$fraktur, kuat$lentur,
daktilitas, dan absorpsi energi (Balaguru dan Shah, 1992). Pada tahun 1970$an,
serat polimer sintetis mulai digunakan secara komersial dengan tujuan antara lain
sebagai kontrol retak awal, diikuti dengan serat kaca yang tahan alkali pada tahun
1980$an, dan serat karbon pada awal 1990$an, yang memiliki kuat tarik dan
modulus elastisitas yang lebih tinggi dibandingkan serat polimer sintetis
(Balaguru dan Shah, 1992; Li, 2002a,b). Seiring perkembangan teknologi serat
anorganik, inovasi serat organik atau serat alam ( ) menjadi suatu
pilihan karena ketersediaannya, dapat diperbarui, relatif murah, dan diproduksi
dengan teknologi terkini (Mohr, et. al, 2004).
Serat memegang peranan penting dalam komposit karena turut
menentukan kinerja komposit secara keseluruhan. Komposit yang memiliki serat
sebagai salah satu unsur pokok penyusunnya disebut “Komposit Sementitis
Berserat” ( ), selanjutnya disebut dengan
KSB. Pada awalnya, KSB terutama digunakan pada struktur perkerasan dan
lantai$industri. Pada perkembangan selanjutnya, KSB mulai diaplikasikan pada
jembatan, terowongan dan kanal, struktur hidrolis, pipa, struktur bahan$ledak, dan
lain$lain (Balaguru dan Shah, 1992; Li, 2002a,b). Selama ini sebagian KSB
ditujukan pada aplikasi non$struktural atau semi$struktural, namun pada awal
tahun 2000$an KSB mulai ditujukan pada aplikasi struktural dengan kapasitas
konstruksi (ECL) pada terowongan untuk lintasan kereta
bawah tanah Ojiya di Jepang (Li, 2002a,b).
Perilaku tegangan$regangan tarik pada bahan sementitis (Fischer dan Li, 2004)
KSB dibedakan menurut karakteristik tegangan$regangan dan respon
pasca$retaknya (Gambar 2.1), meliputi beton tanpa serat dan beton serat (
, ), serta komposit sementitis kinerja tinggi (
). Termasuk di
dalam golongan beton serat kinerja tinggi adalah “Komposit Sementitis
Terekayasa”, KST, yang dikenal dengan sebutan ECC (
). KST merupakan jenis KSB dengan perilaku deformasi pengerasan$
regangan atau pelunakan$regangan (Stang dan Li, 2004) yang terus berkembang,
antara lain dengan desain pemodelan analitis (Kabele, 2003) dan pemodelan
mekanika$mikro (Li, Wu, dan Chan, 1996), serta desain dan aplikasi tegangan$
lebar retak (Stang, Li, dan Krenchel, 1995) untuk peningkatan kinerja KSB.
Salah satu peranan serat dalam KSB adalah menentukan kinerja antar$
muka ( ) antara serat dan matriks. Istilah lain untuk merepresentasikan
antar$muka adalah zona transisi antar$muka ( ). Bentur,
et. al, (1996) menyatakan bahwa zona transisi antar$muka, ZTA, merupakan ! "
"
# $ "
lapisan pembatas tipis (50$100 m) yang memisahkan serat dan matriks (Gambar
2.2). Kinerja ZTA berkaitan erat dengan interaksi antara serat dan matriks, yang
lazim disebut dengan “lekatan” ( ). ZTA dapat diasumsikan dengan berbagai
jenis morfologi, tergantung pada komposisi serta, geometri, keadaan permukaan,
komposisi matriks, dan proses produksi komposit. Kinerja ZTA pada komposit
simentitis berserat sangat tergantung pada geometri serat, yaitu: (a) serat$makro
(penampang serat lebih besar dari penampang butiran semen, diameter
penampang berkisar 0.1$1 m), (b) serat$mikro (diameter penampang berkisat 5$
40 m), dan (c) serat$bundel ( , biasanya berupa yang terdiri
dari ratusan atau ribuan helai serat$mikro yang dijadikan satu, kadang$kadang
jenis serat ini dapat terlarut menjadi serat$mikro helai$tunggal).
Struktur ZTA pada serat$makro baja
(a) deskripsi skematis (b) pengamatan pemindaian elektron mikroskopi (SEM) (Bentur, et. al, 1996)
Menurut Bentur, et. al (1996), ZTA merupakan bagian yang lemah.
Pelepasan ZTA tidak dapat dijelaskan sebagai kegagalan yang sederhana karena
berawal dari retak$mikro dan peralihan geser yang berkembang hingga 40$70 m.
Pengaruh umur, “ ”, dan kepadatan berperan dalam kinerja ZTA (Chan
dan Li, 1997a,b). Kinerja ZTA sangat mempengaruhi penjalaran retak (Mobasher
dan Li, 1996) dan penjembatanan$retak KSB (Kanda dan Li, 1999; Lin, Kanda,
dan Li, 1999). Untuk memperkaya efisiensi lekatan pada ZTA, diupayakan
kepadatan struktur mikro ZTA meningkat, ditambahkan , digunakan
* +
Serat polimer sintesis ( ), atau yang lazim disebut
serat sintesis saja, telah banyak digunakan sebagai perkuatan dalam struktur
beton. Serat sintesis merupakan hasil dari penelitian dan pengembangan di bidang
petrokimia industri tekstil. Termasuk dalam golongan serat sintesis antara lain
polypropylene, polyethylene, polyester, nylon, aramid, acrylic, dan PVA
(Balaguru dan Shah, 1992). Menurut Hummel (1998), dalam sejarahnya, sejak
serat alami mulai digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia, pada tahun 1880$
an telah dimulai upaya membuat serat sutera sintesis dari serat selulosa (yang
diperoleh melalui pelarutan kayu lunak), disebut atau rayon (ditemukan
oleh JW. Swan dari Inggris pada tahun 1879 dan mulai dipabrikasi di Jerman
tahun 1910). Setelah penemuan ‘ibu mertua dari sutera’ (sebutan untuk ,
kaos kaki sangat tipis, terbuat dari bahan rayon) tersebut, dimulai era produksi
serat sintesis yang kebanyakan dibuat dari batu bara dan minyak bumi, antara lain
n.
,Relasi tegangan$regangan untuk material polimer thermoplastis (Hummel, 1998)
Nylon merupakan nama generik dari (Hummel, 1998),
termasuk jenis material polimer thermoplastis yang mempunyai kinerja tegangan$
regangan seperti diperlihatkan Gambar 2.3. Seperti halnya serat polimer lain
(rayon, bakelite, dan serat polimer tinggi lainnya), nylon memiliki struktur
Sifat material nylon memiliki kekhususan yang unik dan menarik, seperti
dijelaskan dalam Nadai (1950). Pada kondisi tidak diregangkan, helaian (atau
lembaran) nylon yang terdiri dari molekul dengan rantai panjang akan berorientasi
acak. Bila helaian nylon tersebut memikul beban tarik yang dimulai dari nol,
helaian nylon tidak akan terlalu meregang pada awalnya. Saat beban kritis
tercapai, rantai molekul panjang tadi akan tiba$tiba mengatur dirinya sendiri
menjadi paralel terhadap sumbu helaian nylon. Seketika itu juga terjadi
penyempitan ( ) yang tajam pada profil helaian seperti yang disajikan
Gambar 2.4. Sesaat kemudian, bagian yang menyempit tersebut memanjang, dan
dua muka ‘gelombang’ yang terbentuk berpindah ke arah yang berlawanan
dengan bentuk yang sama dan sebangun ( t) dengan bagian yang
menyempit. Peristiwa yang unik ini dinamakan ‘perpanjangan titik leleh’ (
), yang besarnya mencapai 200%$300% dari panjang helaian
semula. Saat hal tersebut terjadi, beban akan konstan, dan molekul pada bagian
yang baru saja terbentuk mengatur dirinya kembali. Bagian yang menyempit pada
helaian nylon disebut dengan ‘panjang kerja’ ( ), l, seperti yang
disajikan Gambar 2.5. Pada saat panjang kerja dan kedua gelombang berpindah di
sepanjang helaian nylon, bagian lain yang belum meleleh akan turut memanjang
dan menyempit dengan intensitas yang lebih kecil oleh karena sifat nylon yang
‘viskus’, kental ( ). Fenomena ini akan lebih jelas diperlihatkan oleh
pengujian dengan laju pembebanan rendah, di mana helaian nylon akan lebih
panjang teregang. Akibat viskusitas ( ) dari material nylon, beban yang
semula konstan akan sedikit menurun. Penurunan beban tersebut diakibatkan oleh
berkurangnya laju regangan secara berangsur$angsur bila kedua ujung helaian
nylon berpindah dengan kecepatan konstan yang relatif satu sama lain, dan pada
0 Penyempitan ( ) pada helaian nylon saat diregangkan (Nadai, 1950)
1 Panjang kerja ( ) pada helaian nylon saat diregangkan (Nadai, 1950)
Fenomena perpanjangan titik leleh yang dialami helaian nylon di atas juga
analog dengan yang dialami oleh batang baja lunak, (Nadai, 1950).
Perbedaan yang signifikan di antara kedua jenis material tersebut di satu sisi
adalah modulus elastisitas nylon yang jauh lebih besar dibandingkan modulus
elastisitas baja lunak akan mengakibatkan penyempitan pada helaian nylon dan di
). Kedua jenis perubahan tersebut akan berangsur$angsur berkembang seiring
meningkatnya tegangan.
Kurva relasi P$δ (beban$perpindahan) dan σ−ε (tegangan$regangan) uji
tarik serat nylon memperlihatkan fenomena ‘bergerigi’ yang dapat dijelaskan oleh
fenomena perpanjangan titik leleh tersebut di atas. Adanya peningkatan beban
diikuti oleh penurunan beban merupakan implikasi fenomena perpanjangan titik
leleh akibat sifat viskusitas material nylon. Averett (2004) menyampaikan hasil uji
tarik serat nylon 6.6 dengan fenomena ‘bergerigi’ yang dijumpai pada kurva relasi
P$δ (beban$perpindahan) dan σ−ε (tegangan$regangan) seperti yang diperlihatkan
Gambar 2.6 berikut.
0
Relasi σ−ε (tegangan$regangan) dari hasil uji tarik serat nylon 6.6 (Averett, 2004)
Seperti telah didiskusikan sebelumnya, baja lunak mengalami fenomena
perpanjangan titik leleh yang analog dengan serat nylon, namun dengan intensitas
yang jauh lebih kecil, yaitu 3%$5% saja (Nadai, 1950). Dengan demikian, tidak
heran bila fenomena ‘bergerigi’ akan dapat dijumpai pada kurva relasi P$δ (beban$
perpindahan) dan σ−ε (tegangan$regangan) dari hasil uji tarik baja lunak. Uji tarik
baja lunak yang dilakukan Manjoine (Nadai, 1950) juga memperlihatkan adanya
fenomena ‘bergerigi’ pada kurva relasi σ−%ε (tegangan$%regangan) seperti yang
disajikan pada Gambar 2.8. Pada kurva relasi σ−%ε (tegangan$%regangan),
setelah regangan tertentu tercapai, yaitu sekitar 4%$8%, fenomena ‘bergerigi’
Relasi σ−%ε (tegangan$%regangan) dari hasil uji tarik baja lunak (Nadai, 1950)
Perlu dicatat bahwa fenomena ‘bergerigi’ tersebut juga dijumpai pada
material campuran aluminium ( ). Elam (Nadai, 1950) menemukan
fenomena ‘bergerigi’ tersebut pada kurva relasi P$δ (beban$perpindahan) seperti
yang disajikan Gambar 2.9.
) Relasi P$δ (beban$perpindahan) tanpa skala dari hasil uji campuran aluminum
(Nadai, 1950)
fenomena ‘bergerigi’
2
Produksi serat sintetis untuk aplikasi pada KSB telah dikenal sejak
beberapa dekade terakhir. Balaguru dan Shah (1992) mencatat bahwa serat
sintesis umumnya tersedia dalam bentuk ! (helai$tunggal)
atau (dapat terlarut dalam air) dengan kinerja kuat tarik tinggi (berkisar
29$525 MPa), namun modulus elastisitas rendah (berkisar 3.5$19.6 GPa), kecuali
jenis Aramid (berkisar 62$117 GPa). Pada awalnya aplikasi serat sintesis pada
KSB lebih ditujukan pada kontrol retak, namun pada saat ini serat sintesis lebih
memiliki keuntungan aplikasi struktur. Nilai lebih kinerja serat sintesis makin
meningkat dengan adanya penemuan$penemuan dan produksi serat sintesis kinerja
tinggi, yaitu dengan kuat tarik dan modulus elastisitas yang tinggi, serta berbagai
ragam jenis permukaan serat (Li, Chan, dan Wu, 1994). Bahkan, saat ini beberapa
produsen serat menyatakan telah mampu membuat serat sintesis dengan kinerja
yang sama atau lebih baik dari pada serat baja (Clements, 2002).
Kinerja serat sintesis pada KSB dan beton serat telah banyak dikaji melalui
berbagai penelitian. Dalam hal kontrol retak, Shah, Sarigaputi, dan Karaguler
(1994) telah meneliti kinerja serat sintesis polypropylene terhadap kontrol retak$
susut dibandingkan dengan serat baja dan jaring$jaring kawat ( ). Hasil
uji retak$susut terkekang menunjukkan bahwa spesimen dengan serat
polypropylene memiliki kinerja yang baik dengan lebih sedikit jumlah retak
dibandingkan dengan spesimen berserat baja, serat selulosa dan jaring$jaring serat.
Keawetan ( ) serat sintetis lebih ditujukan pada lingkungan
agresif, seperti halnya lingkungan alkali. Hannant, 1989 (Balaguru dan Shah,
1992), membuktikan kinerja keawetan serat polypropylene yang baik pada
lingkungan alkali yang telah diekspos pada lingkungan dan laboratorium dalam
jangka waktu 10 tahun. Khajuria, Bohra, dan Balaguru, 1991 (Balaguru dan Shah,
1992) membuktikan keawetan serat nylon, polyester, dan polypropylene terhadap
lingkungan alkali dengan uji akselerasi. Metoda “ " " ” untuk mencapai keawetan KSB berserat sintetis yang baik dikemukakan Li
(1992a).
Wang, Li, dan Backer (1990, 1991) mengembangkan sebuah cara
langsung, diperoleh relasi tegangan$lebar retak dari spesimen bertakik dengan
material serat aramid (Kevlar 49), polyethylene mutu tinggi (Spectra 900),
polypropylene (Herculon PP), yang diperjelas dengan pemindaian mikroskop
elektron, SEM ( ) (Nemati, 1997). Uji tarik$belah
dilakukan untuk menghitung kuat retak spesimen, yang dinyatakan dengan kuat
tarik belah. Dari penelitian berbagai jenis serat sentitis tersebut, diperoleh
mekanisme kegagalan untuk tiap$tiap jenis serat, yang berkaitan erat dengan
parameter karakteristik serat dan antar$muka serat matriks.
Wang, Backer, Li, (1987) meneliti indeks keliatan tak$berdimensi,
, DTI20, hasil uji beberapa spesimen tarik$kompak
(CTS, ). Metoda DTI20 ini didasarkan pada penentuan
LOP ( ) dari kurva beban$perpindahan. Tegangan
maksimum dari beton berserat sintetis menunjukkan peningkatan yang berarti
dibandingkan beton polos. Efek positif dari penambahan serat pada beton,
khususnya pada spesimen tarik$kompak menunjukkan bahwa rasio antara energi
total untuk keruntuhan beton serat dibandingkan beton polos berkisar 1$2.
Perilaku respon tegangan$regangan yang non$linier cenderung terjadi pada
sebagian besar jenis serat sintetis kecuali jenis Aramid (Wang, Backer, dan Li,
1987). Fraksi volume serat sintetis terhadap komposit dengan nilai kecil (2$6.5%)
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ketahanan spesimen terhadap
keruntuhan (Wang, Backer, dan Li, 1987). Hal ini ditunjukkan hasil uji tarik$
kompak, uji tarik$belah, dan uji balok lentur empat$titik dengan menggunakan
material serat sintetis acrylic, polyester dan aramid.
Wang, Backer dan Li (1987) mengadakan studi tentang kinerja beton
berserat acrylic, polyester, dan aramid, dengan fraksi volume berkisar antara 2
sampai 6.5%. Kinerja lekatan, tarik, dan lentur, dikaji melalui uji lekatan, uji
balok lentur, uji tarik$belah, dan uji spesimen tarik$kompak. Penelitian ini
membuktikan bahwa kinerja daktilitas beton sangat meningkat akibat kontribusi
serat.
Perlakuan pada permukaan serat sangat mempengaruhi kinerja ketahanan
perilaku kurva$R model balok kantilever$ganda berserat berdasarkan data
eksperimental uji cabut$serat nylon bergeometri (berlekuk). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pada permukaan serat nylon tersebut
mampu meningkatkan kinerja keliatan komposit.
Seperti halnya serat baja, serat sentetis mampu memberikan kinerja
perkuatan ( ) pasca retak dengan menghambat penjalaran retak
(Clements, 2002). Menurut Clements, KSB berserat sintetis menunjukkan
loncatan setelah retak pertama yang diikuti perilaku pengerasan$regangan. Kinerja
pengerasan$regangan merupakan keunikan dan nilai lebih serat sintetis, yang
diakibatkan abrasi yang terjadi pada permukaan serat setelah terjadi pelepasan
serat penuh ( ). Hal ini dibuktikan oleh Li, Chan, Wu, (1994) yang
menunjukkan adanya abrasi pada ketiga segmen dari serat nylon setelah terjadi
pelepasan. Ujung akhir serat tertanam mengalami selip yang besar dan terjadi
abrasi yang cukup parah, yang menyebabkan serat terdesak dan beban$cabut
meningkat. Desain KSB dengan pengerasan$regangan untuk memperoleh kinerja
yang optimal telah dilakukan Li, et. al (1995), Li, Obla (1992a,b), Kanda, Li
(1999).
Selain nilai lebih, serat sintetis memiliki keterbatasan antara lain
rendahnya nilai adhesi dan kebasahan ( ) yang diakibatkan oleh
dan rendahnya energi permukaan (Li, Chan, dan Wu, 1994).
Rendahnya kinerja lekatan antar$muka serat sintetis menimbulkan upaya
meningkatkan mekanisme lekatan antar$muka serat sintetis. Perbaikan mutu
lekatan dilakukan antara lain dengan mereduksi porositas dengan menambahkan
pengisi mikro ( ) pada komposit, membentuk serat (dengan cara
dan ), serta memodifikasi permukaan serat, antara lain dengan
dan peminyakan (Li, et.al, 1994, 1995, 1996, 2002, 2004; Wu
dan Li, 1998; Redon, et. al, 2001; Li, et. al, 2002).
Pemanfaatan serat sintetis lokal (buatan Indonesia) beton serat telah diteliti
oleh Suseno, et, al, (2000a,b). Serat sintetis yang digunakan adalah senar pancing
buatan Indonesia, dengan geometri serat senar pancing yang
sebesar 60, dan fraksi volume sebesar 0.25%, 0.425%, dan 0.65%. Hasil uji
eksperimental spesimen balok lentur menunjukkan bahwa kuat lentur beton serat
lebih besar dibandingkan beton polos. Penelitian tersebut juga menunjukkan
bahwa lebar retak yang lebih besar dijumpai pada beton serat dengan geometri
serat lurus. Penelitian Suseno, et. al (2000b) menunjukkan peningkatan kinerja
kuat tarik$belah beton serat dibandingkan dengan beton polos.
Kemajuan teknologi pada dua tahun terakhir telah menghadirkan inovasi
terbaru dari aplikasi serat nylon pada KSB. Dengan teknologi iradiasi
( ) dengan sinar gamma, Martinez$Barera (2006) telah memodifikasi
permukaan serat nylon 6.12 dengan dosis 5, 10, 50, dan 100 kGy gamma. Serat
nylon 6.12 yang sudah dimodifikasi tersebut kemudian digunakan sebagai salah
satu penyusun campuran beton serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat
tekan beton dengan campuran serat yang sudah dimodifikasi lebih tinggi (122.2
MPa) dibandingkan kuat tekan beton dengan campuran serat tanpa modifikasi (35
MPa). Hasil penelitian menegaskan bahwa perlakuan modifikasi permukaan serat
dengan iradiasi sinar gamma dapat meningkatkan kinerja kuat$tekan beton serat.
, " % " ! ! !" 3 - ' !
Beton adalah material yang lemah kinerja tariknya sehingga keruntuhan
beton biasanya diakibatkan oleh penjalaran retak tarik (Shah, et. al, 1996).
Terjadinya kegagalan struktur pada beton dan Komposit Sementitis Berserat, KSB
ditengarai sebagai akibat dari berlangsungnya mekanika kerusakan (
) dan mekanika fraktur ( ) selama terjadinya proses
pembebanan. Mekanika kerusakan dan mekanika fraktur yang terjadi pada beton
dan KSB dijelaskan oleh Shah, et. al (1995) pada Gambar 2.10 Kegagalan pada
beton dan KSB dapat dicirikan dengan lokalisasi regangan. Mekanika kerusakan
terjadi pada tahapan awal sampai tercapainya titik B. Mekanika kerusakan sangat
tepat digunakan untuk memodelkan respon tegangan$regangan beton sebelum
terjadinya lokalisasi regangan karena retak yang terjadi biasanya acak dan
terisolasi distribusinya, serta memiliki nilai distribusi regangan yang nyaris
*
material, terjadi mekanika fraktur, yang diyakini dapat mensimulasikan perilaku
beton pasca lokalisasi regangan (Shah, et. al, 1995).
*Tahapan mekanika kerusakan dan mekanika fraktur (Shah, et. al, 1995)
Penambahan serat pada matriks sementitis akan meningkatkan tegangan
puncak dan keliatan (Shah, et. al, 1996; Li, 1989; Li dan Maalej, 1996). Bila serat$
mikro ditambahkan pada matriks sementitis, maka serat$mikro akan
‘menyeberangi’ retak$mikro (disebut juga dengan penjembatan retak,
), sehingga timbul tegangan penjembatanan ( ). Tegangan
penjembatan tersebut akan menghambat terjadinya pita retak$mikro (
) yang terjadi pada tahap ketiga, yaitu wilayah BC pada kurva Gambar 2.10,
dengan demikian keliatan material dapat ditingkatkan.
Kajian mengenai kegagalan struktur ( ) banyak dapat
dilakukan dengan pendekatan berbasis fraktur. Studi mengenai mekanisme fraktur
yang terjadi pada struktur ditujukan terutama untuk mengkaji proses fraktur secara
komprehensif dan memperoleh kriteria fraktur (Broek, 1982). Istilah fraktur
( ) biasanya diidentikkan dengan retak ( ), meskipun sesungguhnya
kedua hal tersebut berbeda. Merujuk pada Broek (1982), bila suatu badan ( ) ft
+
mekanika kerusakan
mekanika fraktur permulaan lokalisasi
regangan
'
mengalami retak ( ). Retak tersebut terus menerus bertambah hingga pada
akhirnya terjadi fraktur ( ). Sebagai contoh, bila terjadi suatu retak dengan
ukuran tertentu akibat ‘kelelahan’ ( # ) atau korosi tegangan ( ), maka selanjutnya akan terjadi fraktur dalam bentuk fraktur$belah
( ) atau fraktur$daktail ( ) yang akan dijelaskan
pada paragraf berikut.
Fenomena fraktur yang terjadi pada material secara garis besar dapat
dibagi menjadi 2 golongan utama (Nadai, 1950; Broek, 1982; Timoshenko, 1976),
yaitu fraktur$getas ( ), yang dikenal juga dengan istilah fraktur$
belah ( ), atau fraktur$kohesif ( ), serta fraktur$
daktail ( ), yang sering disebut dengan fraktur$geser (
). Fraktur$getas biasanya dipahami sebagai fraktur dengan deformasi
plastis kecil, namun juga dapat mengakibatkan perilaku daktail ( )
pada saat terjadi pemisahan ( ) pada material, sedangkan fraktur$daktail
merupakan jenis fraktur dengan deformasi plastis. Pada komposit sementitis, Li
dan Hashida (1993) mengemukakan bahwa jenis fraktur yang biasa dijumpai
adalah fraktur$getas, pada material pasta semen keras, dan fraktur$kuasi getas
(# ), pada beton dan beton serat.
Fraktur getas yang terjadi pada material getas dapat dijelaskan sebagai
berikut (Nadai, 1950; Timoshenko, 1976; Karihaloo, 1995). McAdam (Nadai,
1950) mengemukakan bahwa suatu material getas akan mengalami kegagalan
( ) pada saat salah satu dari ketiga tegangan utamanya adalah tegangan tarik
dan mencapai nilai maksimum tertentu. Pendapat McAdam tersebut berpijak pada
“Teori Tegangan Maksimum”, $ % & , (Nadai, 1950;
Timoshenko, 1976) yang mengatakan bahwa tegangan utama maksimum pada
suatu material akan menentukan kegagalan material tersebut.
Berbagai penelitian awal tentang fenomena fraktur (Owen dan Fawkes,
1983) akan dirangkum sebagai berikut. Penelitian terdahulu tentang fenomena
fraktur diawali oleh Leonardo da Vinci dengan studi tentang kegagalan kekuatan
pada kabel dengan diameter tertentu namun bervariasi panjangnya. Penelitian
) pada batangan besi. Pengembangan selanjutnya dikerjakan oleh Anderegg
pada serat dan tali kaca. Kajian tentang pengaruh ukuran terhadap retak dalam
material dilakukan Weibull dengan teknik statistik. Pendekatan matematis
pertama kali dilakukan oleh Inglis dengan analisis lubang berbentuk elips pada
pelat yang ditarik. Inglis menegaskan bahwa material hanya dapat menanggung
tegangan hingga ( ). Komponen yang telah mengalami retak tidak akan
mampu menanggung beban lagi akibat tegangan yang tinggi pada ujung retak.
Pendapat Inglis tersebut dirasionalkan oleh Griffith yang mengaplikasikan
prinsip$prinsip konservasi energi untuk kasus pelat kaca yang telah mengalami
retak tepat pada pusatnya. Griffith berpendapat bahwa suatu retak akan menjadi
tak stabil bila laju pelepasan energi regangan elastis selama pertumbuhan retak
melebihi peningkatan laju energi permukaan saat permukaan retak baru terbentuk.
Kriteria energi Griffith tentang fraktur pada material getas menyatakan bahwa
pada badan getas, akan terjadi fraktur pada ujung retak di mana terjadi tegangan
tak$hingga ( ), dan pada bagian lain badan tersebut akan tetap elastis
(Karihaloo, 1995). Pendapat Griffith tersebut tidak meliputi distribusi tegangan di
sekitar ujung retak. Keterbatasan ini dicoba diatasi oleh Irwin dan Orowan dengan
mengembangkan formulasi Griffith yang memperhitungkan deformasi plastis
terbatas pada ujung retak. Irwin menyatakan bahwa terdapat tiga perpindahan
kinematis bebas dari permukaan retak atas dan bawah yang dapat digolongkan
menjadi tiga buah ragam, yaitu: (a) Ragam I atau ragam bukaan, (b) Ragam II
atau ragam geser, dan (3) Ragam III atau ragam sobekan. Besarnya tegangan yang
terjadi pada ujung retak terkait dengan ketiga ragam tersebut dinyatakan dengan
faktor intensitas tegangan ( ). Rice (dalam Owen dan Fawkes,
1983) mengembangkan masalah faktor intensitas tegangan dengan
memformulasikannya sebagai jejak ( ) dari integral bebas yang disebut sebagai
integral$J.
Pendekatan berbasis fraktur juga diimplementasikan pada permasalahan
cabut$serat. Perlu dicatat bahwa pendekatan berbasis fraktur dalam disertasi ini
tidak mengkhususkan diri pada prinsip$prinsip konservasi energi seperti pada
mekanika fraktur ( ), melainkan pendekatan yang mendasarkan
cabut$serat. Dengan demikian, permasalahan cabut$serat akan menjadi salah satu
bagian dari Tinjauan Pustaka dalam disertasi ini.
Permasalahan cabut$serat sangat erat hubungannya dengan mekanisme
lekatan ( ) pada antar$muka ( ) serat$matriks semen. Lekatan pada
antar$muka serat$matriks semen merupakan salah satu faktor penting dalam
meningkatkan kinerja komposit beton serat (Kawamura dan Igarashi, 1995).
Menurut Li dan Stang (1997), kriteria kegagalan lekatan ( )
merupakan persyaratan dasar yang harus dipenuhi dalam pemodelan pelepasan
antar$muka. Bila kriteria pelepasan tertentu terpenuhi, maka zona pelepasan akan
terbentuk dan berkembang, serta akan terjadi gelincir gesek ( )
dengan konstanta tegangan gesek, τi.
Interaksi serat$matriks pada matriks tak retak (a) tanpa beban (b) beban tarik (c) beban tekan
(Balaguru dan Shah, 1992)
Fenomena fraktur yang terjadi pada matriks tak retak ( x)
dijelaskan oleh Balaguru dan Shah (1992) dengan sebuah sistem serat$matriks
sederhana berserat tunggal (Gambar 2.11). Pemindahan tegangan elastis akan
terjadi pada komposit tak retak selama matriks dan serat masih berada dalam batas
elastis. Respon tegangan$regangan pada matriks dapat memperlihatkan perilaku
non$linier dan non$elastis yang dapat mengakibatkan terjadinya fraktur.
Balaguru dan Shah (1992) juga menjelaskan interaksi pada matriks retak
(Gambar 2.12). Pada saat matriks retak, serat akan memindahkan beban melintasi
retak. Bila beban yang dapat dipikul serat cukup untuk dapat melintasi serat, maka
akan terbentuk lebih banyak retak di sepanjang spesimen, yang disebut dengan "
0
tahap multi$retak. Interaksi antara serat dan matriks pada matriks retak akan turut
menentukan kapasitas pikul beban dari komposit serta perilaku beban$
deformasinya. Perilaku lekatan antara serat dan matriks dapat ditinjau melalui uji
langsung (dengan spesimen tarik atau lentur) atau uji langsung (dengan spesimen
cabut$serat). Menurut Balaguru dan Shah (1992), uji cabut$serat dapat digunakan
untuk memprediksi sifat$sifat antar$muka, kekuatan lekatan rerata, dan perilaku
beban$selip.
Interaksi serat$matriks pada matriks retak (Balaguru dan Shah, 1992)
Mekanika fraktur memegang peranan penting dalam sejarah desain
material dan struktur. Dengan pendekatan mekanika fraktur, akan diperoleh solusi
yang baik untuk mencegah kegagalan serius dari struktur. Selama ini keunggulan
mekanika fraktur telah terbukti berupa faktor keamanan yang lebih baik dan nilai
ekonomis yang lebih tinggi sejalan dengan diperolehnya keuntungan struktural.
Dalam konteks analisis fraktur, Integral$J kritis menjadi kriteria fraktur untuk
analisis linier maupun non$linier. Integral$J kritis harus diperhitungkan sebagai
kriteria fraktur untuk material dengan perilaku pengerasan$regangan seperti
halnya serat nylon 600 yang tertanam dalam matriks sementitis.
Masalah fraktur menjadi perhatian serius dalam hal struktur beton.
Menurut Bazant (1992), kegagalan struktur beton tidak lepas dari masalah
pelunakan$regangan ( ) maupun pengerasan$regangan (
) yang berhubungan erat dengan distribusi retak, di mana retak yang
terlokalisasi dapat berkembang menjadi fraktur dan kemudian runtuh. Untuk
menekan timbulnya fraktur pada struktur beton, upaya meningkatkan keliatan
Falam analisis fraktur, “Integral$J” sering digunakan sebagai kriteria fraktur di samping laju pelepasan energi, G, (Broek, 1982). Integral$J
diaplikasikan oleh Rice (1968) untuk masalah retak, yang merupakan
seperti ditunjukkan Gambar 1 (Broek, 1982; Shah, et. al, 1995) dan
dirumuskan sebagai berikut:
∫
Γ = kontur yang berhubungan dengan permukaan retak$makro W = kerapatan energi regangan
T = vektor traksi tegak lurus terhadap Γ u = vektor peralihan
ds = panjang elemen lengkung sepanjang Γ
σij = komponen tensor tegangan
nj = komponen vektor satuan tegak lurus terhadap Γ
, Kontur di sekitar retak pada Integral$J (Shah, et. al, 1995)
Dalam analisis mekanika fraktur elastis$linier, besarnya integral$J adalah
sama dengan laju pelepasan energi regangan (J = G). Integral$J juga lazim
diimplementasikan pada material elastis non$linier (Shah et. al, 1995), di mana
besarnya laju pelepasan energi, Gq, adalah sama dengan Integral$J. Implementasi
Integral$J juga dijumpai dalam pendekatan desain material pada KSB dengan
analisis pertumbuhan retak tunak ( ) dan mekanika$mikro
modelan cabut serat dan cabut serat fraktur yang melibatkan fenomena
fraktur yang terjadi selama berlangsungnya proses cabut serat merupakan kajian
yang sangat menarik untuk diteliti lebih dalam. Alur penelitian telah dibuat untuk
penelitian ini seperti yang disajikan pada Gambar 3.1.
Penelitian diawali dengan penelusuran dan telaah pustaka, dengan
mengumpulkan dan mengkaji buku buku, artikel jurnal, dan berbagai rujukan
yang terkait dengan pemodelan cabut serat dan cabut serat fraktur serta fenomena
fraktur pada proses cabut serat. Kegiatan penelusuran dan telaah pustaka
dilanjutkan dengan kegiatan eksperimental dengan uji sifat material dan mekanis
material, pembuatan spesimen serta uji cabut serat dan cabut serat fraktur dengan
mesin uji universal. Setelah spesimen spesimen tersebut dirawat, maka kegiatan
eksperimental diakhiri dengan melakukan uji cabut serat dan cabut serat fraktur.
Tahap yang mengikuti kegiatan eksperimental adalah pemodelan teoritis yang
dilanjutkan dengan pemodelan komputer. Setelah dilakukan validasi dengan hasil
uji eksperimental, disampaikan kesimpulan atas pemodelan cabut serat dan cabut
Diagram alir penelitian
δ
δ
! ! "
Penelitian dalam buku ini menerapkan metode penelitian yang terdiri dari:
(a) pengujian eksperimental, (b) pemodelan teoritis, dan (c) pemodelan komputer.
Metode metode tersebut dijelaskan secara garis besar sebagai berikut.
! # "$%
Metode eksperimental diimplementasikan dalam bentuk perancangan dan
produksi spesimen cabut serat dan spesimen cabut serat fraktur, uji sifat dan
mekanis material, serta uji tarik uniaksial untuk spesimen cabut serat dan cabut
serat fraktur. Detail pengujian eksperimental disajikan pada Bab IV.
$& $& ' !!
Pemodelan teoritis diawali dengan kajian tentang dasar dasar pemodelan
teoritis cabut serat dan cabut serat fraktur. Pemodelan teoritis dilakukan untuk
menghasilkan model teoritis cabut serat dan model teoritis cabut serat fraktur.
Hasil pemodelan teoritis selanjutkan diformulasikan. Pemodelan analitis
dilakukan untuk menghitung parameter fraktur Integral J kritis. Integral J kritis ini
juga dilakukan dengan perangkat lunak ADINA (
) versi 8.2. Formulasi dari pemodelan teoritis cabut serat dan
cabut serat fraktur akan digunakan dalam pemodelan komputer. Detail pemodelan
teoritis disajikan pada Bab V.
" %
Pemodelan komputer dalam disertasi ini bertujuan untuk melakukan
pemodelan teoritis cabut serat dan cabut serat fraktur dengan sarana program
komputer agar dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan efisien. Model
komputer yang disusun menggunakan perangkat pengembang Delphi versi 7.
Pemodelan komputer dalam disertasi ini akan menghasilkan dua buah model
komputer yaitu model cabut serat dan model cabut serat fraktur. Model model
komputer tersebut dibandingkan dengan hasil uji eksperimental. Validasi
dilakukan dengan jalan memasukkan data masukan dari hasil uji eksperimental ke
dalam model model komputer. Pemodelan komputer dengan selengkapnya
- ' !" ! $
( 0
'"! '"+ '"- '"' "
$) # # $
$) # -#
4
$) # # $
( 1 3 2 1
0 '", '" '"9 "
$) # 5# 3 1
$) # /# 1 0
& 7 " & % !" # $ % &
. )
!" $ 1$ =
+" ; 0 0
0 0
"
$ 1 1 0
-" $ ? 1 +5
'" $ 1 1 0
&
% % # 1 2 8 % % ' # "
% % # 1! %9 "2 "
$ 0 0
/ % '"+" ;
$ &
1 1 0 &
1 '"!' '"!,"
2 0 & @ %
) ,
0 0
" & 1
)
!" ; 0 0
" ; '"6
" ; $ '"!
" ; '"!!
" ; '"!+
" ; $
'"!-+" ; 1 '"!'
K )
!"3 +" #
-" # '" $
," #? "
9" $ 5" =
6" ( ! " $
!!" # !+"
!-" ? !'" 2
!," ! " $
!9" 8 !5" $
!6" . + "
+!" $ ++" $
$) # 4% 1
&
$) # % 1
&
$) # -% 1
5
% $
A 3
$) # % 1 $ &
!
1 2 " ! $ ' ) %9! # % % "
1)2 " ! $ ' ) %9! # % % "
$) # % 1 1
& ! #
$
/
$) # 5% 1 1 0 &
- % ' # "
-1 1 )
!" ; 0 0
" ; )
" ; ) 1
" ; $ )
" ; ) 1
+" ; 1 ) 1
" $
! 0/ +/
"
$ 1
" $ 1 1
"
#
" : !
0/ +/
"+ / " ; 1 1 0
? "
$ $ ?
"
-$
? "
A
1 & "
$ $
!
& "
-$ 0
/ % '"+"
$ $ 3#% 4' 6
- ! & !" # $ % & 8 $) : !
- ! & 8 & ! ! 0 %9! 0 % % # & ! #% !
H s 0 1 0
% '", "
) & 5@ 0 1 0
*
! #
" - 59 >/
-" ? !!9"5
" +,"-- C
+ $
" +",
" 5"' C
" '"!- C
"
" -" +
- #
!---9"5 >/
-@ %
'" D '"5" @ ? &
) ) !)!) " &
" @ &
'5"!+ $ ? &
'6" ' $ E !"9, $
& !"9! $ " $ &
'"! % '"9
!'-'",+ $ " &
5
!69"--+5 -6"'9 +-+9 %8>1# '6 !!++ 5"5 ''"6!
%8>1# '69 !!!6' ", ''"95 %8>1# '65 !-5999"5 ,,",+ %8>1# ,- ! 6''!", '-"95
& & & & &
'
()($*$
) & / H s
-"'+,6 !"9! !,+5"-6
%(81# '9 + 6+"- !"9'
%(81# ,! +! 9 !"9
-"'66' !"9, !'-'",+
5
' + '
'
'+
(),()-.
$) # /( $1δ 1
' + ' +
& & &' & &+ &
'+
(),()-.
'
& & + &' &' &'' &' &'+
1)2D !
$) # 3( σ−ε 1
@ 0
?
5'"!!C % '"6 0 1
& 1 '"!9 '"!5 " $
'"!9 '"!5 ? ?
0
' > 0 εB " !
'"!9 "
# ' >
0 1 0 F G
0
"
F G "
A '"!5 1
55
& σ−ε 1 " 2 32 4A
" 3 24 A= &
" 2 24
A= 1
" $
0 &
" 8 &
'"!5 0 " A ?
"
@ ?
5'"!!C !-65"!- >
'"!9" %
!'9!"+! $ "56
'"!5"
) & 4@
*
1;2 1 2 1 2
%(81#$ '5 5 "' !+,'"' !-!6"6
%(81#$ ,!, 9 ", !,!'"!
!,6-"+-%(81#$ ,!9 56"- !'+,"6 !, "'+
5'"!! !-65"!- !'9!"+!
@ ?
0 0 0
F G & $1δ σ−ε. F G
232
> !6 - " #
> !6 - F G
& σ−ε 0 &
0
m ? =
& σ−ε" @
= % '"! "
) & 68
5 5 5 / 36
* * * * * *
ε εε ε
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1 " ! , 9+,"- 111 ,'95-," 111 ,9- !,", 111 , 1
" ! 1 "! ''+," ! 6 ",, +'!5"6, 6+"56 ''",! 99-"'+ 6 1 ',
"! 1 "+ +'! "6+ ,!," ! -++", 95 !"66 !99-"56 65 "95 - 1 5
"+ 1 "- +,6'"96 + 5",, ! !!+"5' ++9'"9, !'99 " ! ',"! + 1 ! ,
"- 1 "' '+!'"!+ +!'5"-9 + 9 9" ++ '", !, 9"9- 5' " 9 5 1 ',
"' 1 "9 !6+,"!9 !+ 5"' 9- "56 6 +-"! !!+'"!' 9-"-9 1 6,
"9 1 "6 !5!6"5 +-"9+ 5'-"+9 9- ",6 65+"!! !-+"56 ! 1 +
F G 0
" @ $ 0
0 1
232 *"
) & 3 $
*
* *
1ε2 1ε 2 1ν2
$< ##<> 1 #$ +5 "-! "56 "'9
$< ##<> 1 #$ - "+ "56 "'9
$< ##<> 1 #$ -! "+5 "56 "'
$< ##<> 1 #$ -+ "-! "56 "'5
$< ##<> 1 #$ -, "-! "56 "'5
5/
# $
"' % !669
? $
"'9 % '"!! " @ % '"!!
? ε= "+6
$ ν = "'9" @
ε >
ε ν=ν" A & ν−ε
'"!6" A ? $
1 "
& & & & &' & &
& & & & &' & & & &+ &/ &
ε εε ε
νννν
+
()($*$
$) # 4( ν−ε $ 1
- - ! & 8 & ! ! + ) %9 # %
( 1
% '"!+ " 8 & $1δ 1 σ−ε 1
1
) & -(
1
*
1$$2 1 2 1 2 1$$2 1$$2
- ' ' !"5 ' !"5 +'"'' +'"''
- '! '! ", '! ", +-"+' +-"+'
' '- '! ", '- "! + "' + "'
' ', '!!" '!!" +!"+ +!"+
' '9 '+ "- '+ "- + " + "
, '5 '-!"+ '-!"+ + "'5 + "'5
, '6 '-!"+ '-!"+ !6"5 !6"5
, ,! '-!"+ '-!"+ + "- +
"-- ''!" ''!" +6"-+ +6"-+
-5 '-!"+ '-!"+ - "+5 - "+5
-6 '+ "- '+ "- ' "+' ' "+'
9 - ' '-!"+ ,5-"! -,"-
5!"-! +-5 ' !"5 !!'!"9 5"+' 66"'5
! +-5! '+ "- 6 ,"- +'"- ! "!
! +-5+ '! ", 6+ "! !!"9 6 "'
!! +-5' '+!"' ! " -" 5 !!!"5
!, ! +, '-!"+ ! +"- '"- !' " 5
!, ! '! '! ", !,'5"' -"9 !,'"9
!5 +'-5 '!!" !'! "! +"5 !6 "+
# & $1δ 1
σ−ε 1 1
54
' + '
' +
+
+
+
$) # -6( $−δ 1
0B !
$) # - A ! '"+
1 $−δ
1
δδδδ $
$
1 $
δ ?
δ δ
$
($"(! %
$ %# !
! # %
# 1
1 0 &
$1δ 1 σ−ε 1 " %
) % 1 % - % 1
"
% 1 & "
A 1 & $1δ 1
'"+!" 2 $ 1
$
$ $=$ +$ " '"+! ? $
$ δ " #
$ ?
δ ? " (
0 " 2 $ ?
$
δ " $ 0
" 8 & $1δ 1
? ?
δ δ
? " 2 "
A ! 1 & σ−ε 1
'"+-" '"+- ?
σ σ ε
" # σ ?
ε ? " % σ ?
σ " #
& " 8 &
( 1
'"+-" @ ?
1
% '"!+ '"+- " #
0 B - ' ,
:!"!1:!"5 : ! " ; 1
' 1', >" #
0B 9 ! !! !,
!5 :!"61:!"! : ! " # 1
! 1+ >"
@ ?
1 " #
0H
0I '"+'"
' + ' + '
' + ' +
-)($* *)(0$%1* -)($*
5
# '"+, 1 '"+5 &
$1δ 1 σ−ε 1 1
0B !+ "
' + ' +
'
1 2 ( $−δ 9-+
9--' + '
& & &' & &+ & & &'
1)2A ! 9-+
$) # -5( $−δ 1 0
$) # - A ! '"+,
1 $−δ
1 0
' + ' +
& & &' & &+ & & &' & &+
1 2 ( σ−ε 9-+
9--δ δ δ δ
$ ?
$
$
1
δ δ ?
δ
$ ($"(! %
$ %# !
! # % δ
H s 1 0
1 0 &
$1δ 1 σ−ε 1 " %
) % 1 % % '
% 1 "
# 1 1
& "
A ! 1 & $1δ 1
'"+, '"+ " # $ 1
δ " 2 $
1 $ $
$ $
$= + " '"+ ? $
$ δ " #
" (
0
" # δ ?
? " $ ? $
? δ ? " 2 $ ?
$ " $
δ
0 0 " ;
δ " # & $1δ
1 1 & $1δ
1 1 0
? δ δ ? "
8 & 1 0
?
4
A ! 1 σ−ε 1
'"+5" 8 & σ−ε 1
? σ σ ε
" #
" %
σ ? ε ? " % σ ?
σ
ε " # &
" $ ε
ε
" 0
0 0 "
%
" @
" %
&
" 8
" @
1
" %
1 "
# 0 1
? ?
" % 1
0 F G
1 "
# 1 1
/ $ & ! ! 8 ! & !" # $ % &
A 1 1 0
)
!" @ ?
!'9!"+! $
"56
5'"!!C !-65"!- >" #
0 F G
0 & " A
0 F G
=" @
? ε= "+6
$ ν = "'9"
+" @ ? 1
" #
0 B
- ' ,
0 B 9 ! !!
!, !5 "
-" @ 1
1 ) % 1
% - % 1
0 F G" 2 1
' 1'- > 1
"! " $
' 1'- >
-1- " 8 1 1
! 1+ >" @
? 1
'" $ 1
0 H
0I
," @ 1 0 ?
1 0 " %
1 0
0B ! !+ + - "
" @ 1 0
1 0
& $1δ 1 σ−ε 1 "
% ) % 1 % %
' % 1
0 F G" $ 1
!+ 1- > 1
! " $
! 1- > !1!"9, "
2 ! 1, >
!"9,1+, " $ 1
! "# ! "# $ % #
Pemodelan cabut serat meru akan suatu kajian yang menarik. Pada Bab
IV, telah disajikan hasil uji eksperimental untuk spesimen cabut serat dan cabut
serat fraktur. Hasil uji eksperimental untuk spesimen cabut serat dan cabut serat
fraktur tersebut telah menyajikan berbagai fenomena yang perlu dikaji lebih
dalam dan menjadi dasar dasar pemodelan teoritis cabut serat maupun cabut serat
fraktur, yaitu:
a. Hasil uji eksperimental memperlihatkan bahwa kapasitas fraktur
( ) dari serat tertanam adalah merupakan fungsi
dari angka Poisson serat.
b. Terjadinya beberapa tahapan dalam proses cabut serat dan cabut
serat fraktur, yaitu: (1) tahap pra selip, tahap selip, dan tahap
pengerasan regangan untuk proses cabut serat; serta (2) tahap pra
selip, tahap selip, tahap transisi, dan tahap pengerasan regangan
untuk proses cabut serat fraktur.
c. Terjadinya fenomena ‘bergerigi’ pada bagian kurva pengerasan
regangan untuk relasi P δ (beban perpindahan) maupun σ−ε
(tegangan regangan) selama proses cabut serat. Fenomena
‘bergerigi’ tersebut disebabkan oleh sifat material nylon.
d. Terdapat fenomena yang spesifik untuk masalah cabut serat dan
cabut serat fraktur. Fenomena tersebut adalah terjadinya proses
fraktur tak stabil dan proses fraktur stabil dalam proses cabut serat.
Untuk dapat memahami fenomena tersebut secara lebih mendalam, perlu
disusun dasar dasar pemodelan teoritis cabut serat maupun cabut serat fraktur
yang akan dijelaskan pada paragraf paragraf berikut.
Kajian awal dari pemodelan cabut serat adalah memahami fenomena yang
terjadi pada mekanisme cabut serat, yaitu fenomena fraktur tak stabil dan
fenomena fraktur stabil. Satu hal penting yang menjadi hipotesis dalam disertasi
meru akan fungsi dari angka Poisson serat. Untuk itu, ditinjau relasi ν−εs (angka
Poisson regangan) dari serat nylon. Kurva relasi ν−εs (angka Poisson regangan
serat) dari serat nylon dari Gambar 4.18 terdahulu akan disajikan kembali secara
umum (tanpa skala) sebagai berikut pada Gambar 5.1 berikut.
' " Relasi ν−εs (angka Poisson regangan) dari serat nylon
Gambar 5.1 menunjukkan bahwa angka Poisson mencapai nilai kritis
padaν, sedangkan regangan serat akan mencapai nilai kritis pada ε. Saat εs <ε,
maka nilai ν akan meningkatkan nilai εs, sedangkan bila εs =ε, maka akan
dicapai nilaiν. Setelah tercapainya nilai nilai kritis, kondisi εs >ε tidak akan
meningkatkan nilai ν.
Mengkaji pendapat beberapa peneliti mengenai pentingnya peranan
lekatan selama berlangsungnya proses cabut serat, lekatan antara serat dan
matriks tentu menjadi faktor penting dalam disertasi ini. Lekatan antara serat dan
matriks direpresentasikan oleh adesif (tarik menarik antara dua jenis unsur tak
sejenis) antara serat dan matriks tersebut. Ditinjau Gambar 5.2 yang
mendeskripsikan tegangan matriks σm pada suatu spesimen cabut serat saat terjadi
retak. Pada sepanjang tepi matriks akan terdistribusi tegangan matriks σm.
Tegangan matriks σm berorientasi ke arah atas (berarti tarik, positif). Dalam
disertasi ini, tegangan matriks σm disebut juga dengan tegangan adesif tarik
( ) σtad karena menarik matriks dari serat. Tegangan matriks σm
akan dilawan oleh tegangan dari serat yang berupa tegangan adesif yang bekerja
ke arah bawah ( ). Fenomena tersebut dijelaskan oleh
Gambar 5.2 dengan mendeskripsikan adanya tegangan adesif ke arah atas.
ν
εs
ν
ε
ε1
ν1
Selanjutnya, tegangan adesif ke arah vertikal atas ( ) saat
terjadinya retak ini disebut dengan kapasitas lekatan ( )
σ
m. Dengandemikian, kapasitas lekatan
σ
m merupakan tegangan matriks σm saat terjadinyaretak. Besarnya kapasitas regangan fraktur σf ( )
ditentukan oleh tegangan matriks σm yang merupakan fungsi dari angka Poisson
ν.
' " (Tegangan adesif tarik σtad pada spesimen cabut serat yang sudah mengalami retak
' " Relasi σm−εs (tegangan matriks regangan serat)
Kajian tersebut di atas menegaskan bahwa terdapat relasi antara angka
Poisson serat dan tegangan matriks σm. Relasi ν−εs (angka Poisson regangan
serat) dari serat nylon akan analog dengan relasi σm−εs (tegangan matriks
regangan serat) seperti yang dijelaskan Gambar 5.3 berikut. Bila
σ
f<
σ
m( )
ν
,maka akan terjadi retak yang diikuti proses fraktur. Untuk kondisi
σ
f=
σ
m( )
ν
,maka akan terjadi bifurkasi ( ). Sedangkan bila terjadi
σ
f>
σ
m( )
ν
,maka titik B pada Gambar 5.2 akan bertindak sebagai pembatas ( ). Bila
ditinjau kembali Gambar 5.1, maka ε1 pada saat terjadi fraktur stabil akan
σm
serat matriks
εs m
σ
ε
σm1
ε1
menentukan besarnya σm1 pada Gambar 5.3. Dengan demikian, tegangan matriks
σm akan mencapai nilai kritis pada
σ
m saat tercapainya regangan serat kritis ε.Untuk memperoleh gambaran mengenai lekatan pada proses cabut serat,
dilakukan studi dengan analisis elemen hingga sederhana yang disajikan Gambar
5.4. Spesimen cabut serat dimodelkan dengan model elemen hingga dengan
panjang serat tertanam, lf = 60 mm. Beban P sebesar 400 N bekerja pada ujung
bebas serat dan bagian tengah pada tepi kanan matriks (titik B) dikekang ( ).
Pada kasus ini belum terjadi retak pada spesimen cabut serat. Analisis elemen
hingga dikerjakan dengan alat bantu ADINA (
) versi 8.3.1 (ADINA, 2004). Model tersebut
mengimplementasikan elemen bidang datar isoparametrik kuadrilateral dengan
empat nodal. Pada pemodelan material, digunakan model material homogen
isotropis dan elastis linier untuk matriks. Pada model ini pengaruh angka Poisson
ditiadakan dengan mengimplementasikan model material untuk serat juga sebagai
homogen isotropis dan elastis linier.
Analisis elemen hingga untuk model pada Gambar 5.4 menghasilkan nilai
tegangan arah ZZ (σZZ) di sepanjang serat tertanam yang diplot pada kurva
tegangan σZZ. Kurva tegangan σZZ pada Gambar 5.4a bergerak dari titik S hingga
B, yang merefleksikan tegangan σZZ di sepanjang serat dari titik S hingga B. Pada
daerah SA, tegangan σΖΖ adalah nol. Bergerak ke arah kanan, daerah AT tegangan
σΖΖ adalah tekan (negatif), sedangkan nilai tegangan σZZ untuk daerah TB adalah
tarik (positif). Tegangan σZZ pada tepi matriks (pada titik B) adalah sebesar 51.01
MPa dan regangan sebesar 0.18. Mencermati kurva tegangan σΖΖ, dapat dilihat
bahwa nilai tegangan adesif σad ( ) dapat diintrepretasikan dari
kurva tegangan σΖΖ tersebut. Kurva tegangan σΖΖ memperlihatkan
bahwa tegangan adesif tarik σtad bernilai positif pada daerah TB dan tegangan
adesif tekan σcad bernilai negatif pada daerah AT. Bila dicermati lebih lanjut,
tegangan adesif σad ( ) adalah tegangan yang terjadi di sepanjang
matriks yang melekat pada serat, yang dalam disertasi ini disebut dengan tegangan
sebesar 51.01 MPa, maka kapasitas tarik fraktur ( ) dan
kapasitas lekatan ( ) yang akan tercapai adalah sebesar nilai tersebut.
* +
*"+
' " &Tegangan σZZ hasil analisis elemen hingga dari proses cabut serat saat bagian tengah dari tepi kanan matriks spesimen belum retak
Proses selanjutnya dari analisis elemen hingga untuk spesimen cabut serat
dapat dilihat pada Gambar 5.5. Pada tahap ini retak ( ) telah terjadi, sehingga
kekangan pada titik B dilepaskan. Untuk kasus ini, pemodelan material untuk
matriks adalah model material homogen isotropis dan elastis linier. Pada model
ini pengaruh angka Poisson diperhitungkan dengan mengimplementasikan model
material untuk serat sebagai model material Ogden.
Hasil analisis elemen hingga untuk Gambar 5.5 menunjukkan bahwa nilai
tegangan matriks σm maksimum yang sebelumnya (pada Gambar 5.4) berada pada ! " " !" #$ %&' ##
σ σ σ σ
titik B di tepi matriks (pada titik B) telah bergeser ke kiri sejauh 50 mm ke titik Q.
Pada titik Q terjadi penurunan nilai tegangan matriks σm maksimum menjadi
sebesar 41.18MPa dengan regangan sebesar 0.80. Titik T pada Gambar 5.4 kini
bergeser ke kiri sejauh 50 mm, sedangkan titik A bergeser ke kiri sejauh 50 mm.
Bila proses cabut serat dilanjutkan, nilai tegangan matriks σm akan terus
bertambah hingga pada suatu saat akan mencapai nilai kritisnya pada
σ
m. Padamodel elemen hingga yang disajikan Gambar 5.5, telah terjadi retak ( ) yang
disusul fraktur ( ). Dengan demikian, disertasi ini mendefinisikan fraktur
( ) sebagai fenomena yang terjadi menyusul timbulnya retak ( ) akibat
matriks terlepas dari serat.
(
* +
*"+
' " Tegangan σZZ hasil analisis elemen hingga dari proses cabut serat saat bagian tengah dari tepi kanan matriks spesimen mengalami retak
! " " !" #$ %&' ##
!
σ σ σ σ
-Besarnya kapasitas lekatan yang disebut juga dengan tegangan matriks σm
menentukan besarnya kapasitas regangan fraktur σf. Relasi antara kapasitas
lekatan σm dengan tegangan serat σs pada saat terjadinya retak dapat dijelaskan
sebagai berikut. Hasil analisis elemen hingga menunjukkan bahwa pada saat
terjadi retak, tercapai nilai tegangan matriks kritis
σ
m pada titik Q sebesar41.18
m
=
σ
MPa dan regangan kritis ε sebesarε=0.80. Dengan demikian relasiantara kapasitas lekatan σm dengan regangan serat εs pada saat terjadinya retak
dapat diperlihatkan oleh Gambar 5.6 berikut.
* + *"+
' " )Relasi σm−εs (tegangan matriks regangan serat) dan relasi ν−εs (angka Poisson regangan serat) saat terjadi retak
Gambar 5.6a memperlihatkan relasi antara kapasitas lekatan σm dengan
regangan serat εs yang disusun dalam persamaan berikut:
α ε =
σm stg (5.1)
Dengan:
σm = tegangan matriks pada ujung retak (MPa)
εs = regangan serat
tgα = kemiringan kurva relasi σm−εs (tegangan matriks regangan serat)
Persamaan (5.1) dapat juga dinyatakan sebagai:
Dengan demikian, tegangan serat σs dirumuskan dalam persamaan berikut:
Es = modulus elastisitas serat (MPa)
Bila persamaan (5.2) disubstitusikan ke dalam persamaan (5.3), maka diperoleh:
m
Sehingga pada saat tercapai kapasitas lekatan
σ
m diperoleh persamaan:m
σ = tegangan kritis serat saat terjadi fraktur pada lekatan (MPa)
m
σ
= tegangan kritis matriks saat terjadi retak (MPa)Gambar 5.6b menunjukkan relasi ν−ε (angka Poisson regangan) dari serat nylon
yang dapat dinyatakan dengan persamaan:
β
Persamaan (5.6) dapat dinyatakan dengan persamaan:
β
Bila persamaan (5.7) disubstitusikan ke dalam persamaan (5.1) maka diperoleh: